Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Nonfiksi Sinta Yudisia Remaja. Teenager

Cinta x Cinta : Bahas Cinta (lagi?)

Jangan salahkan gravitasi ketika jatuh cinta (Einstein)

Cinta adalah pujangga. Cinta itu politik. Cinta juga perilaku ekonomi. Maka bahasan cinta bukan hanya milik para sastrawan. Cinta masuk ke ranah politik sebagaimana Cleopatra memporak porandakan hati dan hidup Julius Caesar dan Marc Anthony. Cinta itu komoditas ekonomi : apa saja laku keras diberi label cinta. Coklat, fashion, film, café dan lain-lain.

Bukan karena alasan sastra, politik atau ekonomi kembali terbit buku tentang Cinta.
Novel Rinai menyinggung tentang cinta Rinai pada Montaser.

Rinai, novel semi dokumenter ttg Palestina
Rinai, novel semi dokumenter ttg Palestina

Novel Bulan Nararya juga terselip kisah cinta yang mengecewakan antara Nararya, Angga dan Moza.

Bulan Nararya ttg Skizofrenia
Bulan Nararya ttg Skizofrenia

Novel serial Takudar juga dibumbui kisah cinta Takudar, Almamuchi, termasuk Karadiza dan Sarangerel.

Takhta Awan ttg Takudar
Takhta Awan ttg Takudar

Novel ringan remaja Sophia & Pink juga bicara cinta yang diburu Sophia.

Sophia & Pink, novel remaja romantis
Sophia & Pink, novel remaja romantis

Rinai novel semi-dokumenter. Bulan Nararya novel psikologis. Takudar novel sejarah. Cinta adalah bumbu manis yang mampu membawa pembaca lebih dalam ke situasi emosional, konflik, pencapaian, maupun klimaks yang tengah dibangun penulis cerita.

Cinta x Cinta
Cinta x Cinta

Cinta x Cinta bukan buku novel.
Kalau ada pertanyaan terkait Cinta, coba baca Cinta x Cinta
1. Cinta x Cinta boleh dibaca siapa saja?
2. Cinta x Cinta isinya apa?
3. Cinta x Cinta berapa halaman?
4. Cinta x Cinta serius atau populer?
5. Cinta x Cinta diterbitkan siapa?
6. Cinta x Cinta berapa harganya?
7. Cinta x Cinta dapat dibeli dimana?
8. Cinta x Cinta cocokkah untuk hadiah?

Jawabannya :
1. Boleh dibaca kakak, adik, guru, ustadz, ayah, bunda, kakek, nenek, teman, sahabat. Yang lagi pacaran boleh baca? Boleh. Yang jomblo bagaimana? Wah, harus itu!
2. Bahasan ringan namun ilmiah tentang lika liku cinta. Tentang hati, menangkis tembakan, meredakan patah hati, juga kisah-kisah cinta sejati dalam sejarah.
3. Cuma 140 halaman, semi hard cover. Cantik, deh!♥ ♥♥
4. Populer. Ringan tapi tak ditulis sembarangan.
5. Penerbit Indiva
6. Rp.40.000
7. Di toko buku konvensional ada, di toko buku online ada, atau lewat penerbitnya langsung. Mau tanda tangan? Bisa kontak penulisnya di twitter @penasinta
8. Cocok bangettttt! Hadiah ulang tahun, hadiah ortu pada anaknya, hadiah prestasi siswa, hadiah cinta untuk teman. Atau hadiah bagi diri sendiri hehehe…..tentu dong! Setelah berkutat dengan hal-hal serius, coba konsumsi tulisan ringan tapi tetap meninggalkan jejak keilmuan.

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Ada Apa dengan Cinta = Cinta x Cinta (1)

Cinta sesuatu yang legit untuk dibahas.
Sweet like chocolate. Mulai anak SD yang baru menebak-nebak apa itu jatuh cinta, anak SMP yang kenal cinta monyet, anak SMA yang sumpah sehidup semati (meski rela hidup bersama tapi enggan mati bareng), anak kuliah yang mulai berpikir nikah. 20, 30, 40 tahun sampai usia aki nini; cinta tetap nikmat dibahas.
Itu sebabnya, saya pribadi suka menulis tentang cinta.
Novel cinta seperti Bulan Nararya, Rinai, Rose, Lafaz Cinta, Sophia & Pink. Non fiksi cinta seperti Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda dan insyaallah yang akan segera terbit Cinta x Cinta = Agar Masa Remajamu Nggak Sia-sia.

Cinta
Cinta tak pernah habis dibahas 🙂

Sejak Kapan Manusia Kenal Cinta?
Bayangkan!
Emosi dasar manusia terbentuk di limbic system , sejak ayah bunda melakukan coitus dan berkembang di 25 hari pertama. Baik ayah bunda kemungkinan besar tidak sadar, sedang ada bakal manusia yang mulai terbentuk cikal bakalnya di dinding rahim.
Calon baby yang di detik-detik tersebut berlimpah cinta, ayah bunda rajin bermunajat cinta pada sang Khaliq dan mengungkapkan rasa saling mengasihi sepanjang waktu, akan membentuk limbic system ini dengan bahan baku cinta.
Tapi bila si bunda cemas, apalagi bila kehamilan nggak diinginkan, terlebih (naudzubillah…) married by accident; hari-hari dipenuhi heartbeat bak pacuan mobil : hamil gak hamil gak hamil gak. Celaka, hamil! Maka limbic system dipenuhi bahan baku kebencian sejak awal.

Anak-anak dan Cinta
Anak TK dan SD sekarang juga bicara tentang cinta, lho!
Banyak anak TK dan anak SD yang cerita kepada sang bunda ingin pacaran, jatuh cinta pada teman satu kelas. Setelah ditelusuri, anak-anak ini masih campur aduk antara cinta, admire, sayang, berteman, bersahabat, kagum. Gara-gara sinetron cinta yang bertebarandi televisi mengumbar kata cinta, anak-anak meng analogikan setiap perasaan senagnnya kepada anak lain yang berstatus lawan jenis dengan “jatuh cinta.”
Remaja lain lagi.
Hormon yang juga sedang mengucur, otak bagian prefrontal yang belum matang, stimulus lingkungan yang dipenuhi film-film romansa yang banyak menyajikan adegan ehm-ehm seperti trilogi Twilight dan Fifty Shades of Grey membuat remaja mengartikan cinta lebih dahsyat dari orang-orang dewasa : cinta tidak cukup berkirim puisi atau kata-kata manis. Cinta harus lebih dari itu!

Jatuh Cinta
Jatuh cinta itu rasanya….???

Remaja dan Cinta
Akibat myelin sheath yang belum sempurna menyelubungi sel-sel neuron, pre frontal cortex remaja tak matang hingga usia 20 an tahun. Itu sebabnya remaja suka mengambil perilaku beresiko. Cinta harus diekspresikan lewat sentuhan fisik yang bila out of control, melakukan intercourse yang hanya boleh dilakukan suami istri. Masa muda yang seharusnya diisi hal-hal dinamis seputar akademik, prestasi, hoby, pencarian identitas diri dan mengarungi dunia seluas-luasnya; terpaksa terpuruk.
Gakpapa kan berhubungan asal tidak hamil?
Jalur basic instinct, termasuk perilaku sexual, sudah terbentuk di otak lebih dahulu dibanding jalur-jalur pemenuhan instink yang lain seperti kebutuhan makan, dll. Akibatnya, seseorang yang terkena adiksi pornografi akan sulit mengekang keinginannya untuk tidak lagi mengkonsumsi kecuali timbul azzam yang luar biasa besar. Kebiasaan menonton pornografi softcore, lambat laun menjadi hardcore.
Begitupun perilaku sexual.
Tidak hamil tidak menjamin remaja berhenti melakukan.
Bila terlanjur melakukan, baik cowok atau cewek akan mencoba terus petualangan cinta ini hingga seakan tak berkesudahan bagai rantai setan, naudzubillah. Belum lagi bila emosi ikut terlibat : tak mau kehilangan, terlalu sayang, atau justru keinginan membalas dendam pada lawan jenis sehingga setiap kali menjalin cinta maka akan berakhir dengan seksual intercourse, naudzubillah.

Ayo,Bicara Cinta

Love sweet if
Love is sweet, if…

Sebab energi yang meleda-ledak pada remaja, mari bicara cinta yang sehat.
Boleh kok jatuh cinta, apalagi pada lawan jenis. Itu tandanya manusia normal. Coba perhatikan syair Arab kuno yang berisi petuah bagi orang yang jatuh cinta.

Segala peristiwa, berasal dari pandangan
Banyak orang masuk neraka, sebab dosa yang kecil
Bermula pandangan, lalu senyum, lantas beri salam
Kemudian bicara, berikutnya berjanji, sesudahnya adalah pertemuan

Bagaimana mengantisipasi cinta agar tetap dapat menajlani aktivitas sehari-hari dan tidak terjatuh pada perilaku nista?
1. Kenali diri jika sedang jatuh cinta.
2. Jaga pandangan. Jangan sembarang jelalatan.
3. Bila harus bertemu karena kerja kelompok atau tugas organisasi, JANGAN hanya berdua!
4. Jangan berani-berani bertemu berdua tanpa izin orangtua
5. Jauhi tempat romantis yang hanya akan memicu emosi untuk menyentuh dan melakukan hal yang lebih jauh
6. Katakan pada diri sendiri : aku masih muda. Aku masih muda. Aku masih muda. Banyak hal yang harus dilakukan, bukan hanya bercinta.

Selanjutnya, simak buku Cintax Cinta = Biar Masa Remajamu Nggak Sia-sia ya!

Cinta x Cinta
Cinta x Cinta yang membahas bagaimana mengubah energi Cinta, Indiva Publishing

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Bulan Nararya

Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA

Terimakasih kepada teman-teman pembaca yang telah menyediakan waktu untuk mencermati Bulan Nararya dan menyempatkan diri menulis resensinya.

Kritik , masukan dari pembaca insyaAllah akan semakin membuat penulis belajar!

1. https://yuriezhafiera.wordpress.com/2015/03/08/review-bulannararya-128-lembar-mengulik-kesehatan-jiwa/

2. https://blogbukufaraziyya.wordpress.com/2015/03/09/167-bulan-nararya/

3. https://katjamatahati.wordpress.com/2015/03/09/bulan-nararya-novel-dengan-benang-beragam-warna/

4. https://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/11/07/belajar-psikologi-dalam-balutan-karya-seni/

5. http://cerpendikysaputra.blogspot.com/2015/02/resensi-novel-bulan-nararya-dilema.html

6. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/02/27/bulan-nararya/

7. http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/12/bulan-nararya.html
8. http://diannafi.blogspot.com/2015/03/ngemilbaca-bulan-nararya.html

9. http://bintangitukamucinta.blogspot.com/…/belajar-psikologi-lewat-bulan-nararya.html

10. http://anfield-fullofideas.blogspot.com/…/bulan-nararya-open-up-your-soul.html

11. http://www.riawanielyta.com/2014/11/resensi-novel-bulan-nararya.html

12. http://www.lensabuku.com/1657/bulan-nararya-oleh-sinta-yudisia/

13. http://www.media.kompasiana.com/…/resensi-novel-bulan-nararya-karya-sinta-yudisia-
14. http://dhia-citrahayi.blogspot.com/2014/11/bulan-tidak-biasa.html

15. http://smartmomways.com/resensi-cinta-dan-penderita-skizofrenia/

16. http://pecandudongeng.blogspot.com/…/dunia-skizofrenik-semangat-positif.html

copy-bulan-nararya1.jpg

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai, Cerita Gaza di UNAIR, Masjid Nuruzzaman 29/11/’12

Sore hari 29/11/’12 di selasar masjid Nuruzzaman bercerita sedikit ttg Gaza

Rinai, one of my favourite novel that I’ve written 🙂

Menyimak Rinai & Gaza. Selalu, ingin kembali ke Palestina. Tapi, siapkah?

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia ~RINAI~ Sinta Yudisia

Worthy Life with Writing, #Rinai, FLP Jember 28 Okt 2012

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Karyaku Kepenulisan ROSE

IKONISASI BUNGA MAWAR dalam ~ROSE~ karya SINTA YUDISIA

http://langitshabrina.multiply.com/journal/item/160/Ikonisasi_Bunga_Mawar_dalam_Novel_Rose_Karya_Sinta_Yudisia

Judul Buku: Rose
Penulis: Sinta Yudisia
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm
Tebal : 320 hlm
Harga : Rp32.000,-
ISBN : 978-602-8277-46-4
Lini : Novel

Novel ini dijuduli Rose yang mewakili Mawar sebagai tokoh utama. Sebenarnya dalam konstruksi budaya Barat dan Timur tentu berbeda antara Rose dan Mawar. Walaupun dalam kamus Rose dan Mawar menunjuk pada konsep yang sama, cara pandang orang Barat terhadap rose dan cara pandang orang Indonesia terhadap bunga mawar tentu berbeda. Tidak akan ada yang sama persis dalam cara kedua suku bangsa memandang sebuah konsep. Nampaknya penggunaan judul Rose berkaitan dengan strategi marketing. Yang paling pasti, konsep yang sama antara Rose dan Mawar adalah bunga merah yang tetap indah walaupun diselimuti duri.

Novel bersampul bunga mawar ini bercerita tentang pembentukan karakter Mawar dalam keluarganya yang taman bunga. Keluarga ini disebut taman bunga karena tokoh-tokoh yang menjadi keluarganya dalam cerita ini diikonkan dengan bunga-bunga: Kusuma, Dahlia, Cempaka, Mawar, Melati, dan Yasmin. Membaca Rose seperti membaca kisah sebuah taman yang ditinggal pergi oleh tukang kebunya. Sosok ayah dalam keluarga Mawar meninggal. Mereka harus menjalani ujian hidup tanpa kepala keluarga. Seperti halnya taman bunga, takada lagi yang menyiram, takada lagi yang memupuk. Ayah sebagai sumber kekuatan mereka meninggal. Perlu banyak penyesuaian, pelipatgandaan kekuatan mental dalam keluarga Mawar. Ujian demi ujian memperlihatkan bagaimana konflik dan tokoh-tokoh di sekitar Mawar membentuk karakternya.

Tidak dapat dielakkan lagi, membaca novel yang menggunakan nama tokoh sebagai judul berarti sedang membaca sajian tentang detail karakter tokoh tersebut. Pertanyaan yang akan muncul: mengapa dia begini? Siapa yang menyebabkan dia mengambil keputusan itu? Apa yang akan dia lakukan menghadapi ini? Akhirnya pembaca akan tertarik pada karakter tokoh utama dan tokoh-tokoh di sekitarnya. Karakter tokoh utama dapat dibaca melalui tuturan pengarang, konflik yang ada dan bagaimana ia menyelesaikannya. Karakter mawar juga dapat dilihat dari bagaimana ia menghadapi tokoh lain dan bagaimana tokoh lain memandangnya.

Bunga Mawar dan Karakter Tokoh Mawar

“Bunga Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter,” (wikipedia.co.id).

Ikonisasi adalah cara untuk menjelaskan tanda yang bentuk fisiknya memiliki kaitan erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya (Sudaryanto, 1989). Ikonisasi kerap dijadikan cara pengarang untuk mengambil inspirasi karakter tokoh-tokoh novelnya. Dalam novel ini bunga mawar dan bagian-bagiannya menandai detail tokoh mawar secara fisik maupun karakter. Tokoh Mawar diikonkan dengan bunga mawar merah. Paling tidak, itulah yang dapat kita lihat pada sampul depannya. Warna merah adalah penanda keberaniannya.

“Terlalu!” umpat Mawar “Dari maghrib gak pulang-pulang. Ngomongin apa sih? Kalau hujan begini tambah malam lagi pulangnya!” (hlm. 13). “Biarin! Biar tahu rasa, tuh, cowok kalau sudah waktunya balik. Dihalusin gak bisa, mending kasarin aja sekalian. Daripada bertele-tele malah bikin perasaan jadi nggak karuan, bikin dosa!” (hlm. 13).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan karakter pemberani, tegas, dan keras tokoh Mawar. Saat itu, Cempaka, kakaknya sedang diapeli oleh beberapa laki-laki hingga larut malam. Karena mengganggu kenyamanan di rumah, Mawar membuat keributan agar membuat lelaki-lelaki itu tidak nyaman dan pergi. Karakter tegas dan keras ini juga dikuatkan oleh tokoh lain yaitu mama atau Kusuma,

“Iya, maaf kalau keadaan rumah agak mengganggu,” sahut Mama lembut. “Maklum rata-rata anak mama berwatak keras. Keturunan ayahnya barangkali.” (hlm.14).

Bunga mawar berduri, untuk melindungin dirinya sendiri. Duri ini tidak menghilangkan keindahan yang ada pada bunga mawar. Ia terlihat indah tapi tidak sembarang orang berani memetiknya. Ikonisasi duri pada mawar ini digambarkan dalam maskulinitas yang ia miliki. “Mawar sendiri bukannya tak cantik. Hanya saja, dulu ayah begitu mendambakan anak lelaki. Begitu terobsesinya sehingga putri ketiganya dididik cara laki-laki. Gesit, keras, rasional, berpikir praktis,” (hlm. 21). “Hanya aku yang jika diganggu teman akan membalas dengan lemparan tempat pensil atau sepatu,” (hlm. 31).

Ikonisasi duri pada bunga mawar juga terdapat pada kekuatan karakter tokoh Mawar. Mawar mental dalam menghadapi konflik-konflik dalam kisah ini. Hal ini terdapat dalam percakapan tokoh Rasyid dan Intan. “Mawar orang yang tangguh. Dia pantang menyerah. Sekalipun saat itu tomboy dan metal, dia bisa menjaga diri.” “Aku nggak ngerti bagaimana orang seperti Mawar justru tahan banting terhadap permasalahan.” “Karakter,” Rasyid menambahkan. “Dia seorang pembelajar. Ingin mencari tahu jawaban, jalan keluar dari setiap masalah. Kukira itu yang membuatnya survive.” (hlm. 231).

Selain memiliki duri yang dapat melindungi dirinya sendiri, mawar juga tanaman semak yang memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter, (wikipedia.co.id). Ikonisasi pada bagian ini tidak boleh luput dari perhatian kita. Tokoh mawar dalam novel ini diikonkan dengan mawar langka, spesial, dan jarang ditemui. Mawar langka ini merambat di tanaman lain sampai 20 meter dan melindunginya dengan duri-duri yang menempel pada batangnya. Begitupun tokoh Mawar pada novel ini. Ia menanggung beban untuk mengembalikan kehormatan keluarganya. “Membantu Mama, melindungi keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja mengurus ayam adalah hal yang dipilihnya sendiri. Ia takmenyesal bersusah payah. Sama sekali tak sempat berpikir pamrih atau menonjolkan diri di hadapan siapapun untuk mengatakan: akulah yang paling berkorban untuk keluarga. Ia menyayangi semuanya termasuk cempaka,” (hlm. 211). Mawar berhenti kuliah, memilih beternak ayam untuk menambah penghasilan keluarga. Ia membiayai kuliah Melati, adik bungsunya dan merelakan Melati mendahuluinya menikah.

Tegar di antara Dua Melati

Mawar adalah pusat. Itulah yang bisa ditangkap dari konflik yang ada pada novel ini. Dari sekian banyak konflik yang dialami tokoh Mawar, sebenarnya novel ini hanya menyuguhkan dua konflik besar. Dua konflik ini berkaitan dengan dua melati: tokoh Melati dan Yasmin. Dua tokoh ini pun diikonkan dengan bunga Melati. Dalam bahasa Indonesia, Yasmin berarti melati. Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Melati putih (Jasminum sambac) yang harum melambangkan kesucian dan kemurnian. Bunga ini merupakan suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa dan Sunda (wikipedia.co.id).

Tentang kesucian dan kemurnian, bunga melati diikonkan pada tokoh Yasmin. Walaupun ia adalah anak yang lahir dari hubungan yang tidak senonoh antara Cempaka dan Fani, Yasmin tetap suci dan tidak bersalah. Tokoh mawar bersikeras meminta Cempaka untuk tidak menggugurkannya. Tentang ini tokoh Mawar berujar, “Ia memberiku firasat aneh. Berkali-kali mbak cempaka berusaha membunuhnya dengan minum jamu dan segala makanan berbahaya. Ingat waktu kita menolongnya ketika terjatuh di kos-kosannya dulu?” Melati mengangguk. “Hingga Mbak Cempaa mengalami pendarahan. Seakan-akan Yasmin ditakdirkan dengan kekuatan Allah untuk bertahan terhadap segaka serangan. Anak ini kuat Mel. Semoga kelak ia kuat menghadapi semua kebusukan hidup,” (hlm. 220-221).

Kekuatan tokoh Yasmin ini memberi kekuatan kepada Mawar untuk bertahan membersarkannya. Ini juga menjadi konstruksi karakter yang dilakukan tokoh lain terhadap tokoh utama. Yang satu menguatkan yang lain, dapat kita istilahkan demikian. Kehadiran Yasmin membuat Mawar yang awalnya tomboy berubah 180% menjadi keibuan. Perubahan ini menjadi bukti bahwa konflik dapat membangun karakter tokoh utama menjadi lebih baik.

Melati kedua adalah Melati, adik bungsu Mawar. Melati diikonkan sebagai suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa. Bunga melati yang kecil menjadi ikon tokoh Melati yang bungsu. Hiasan rambut pengantin menjadi ikon konflik kedua yang menimpa tokoh Mawar. Adik bungsunya, Melati meminta izin untuk menikah lebih awal, mendahuluinya. Kepada ibunya Mawar berujar, “Jujur, awalnya Mawar pun sempat kaget dan nggak percaya. Tapi, setelah berpikir jernih, Mawar ikhlas. Kita akan tenang, kan, Ma, melepas orang yang kita cintai ke tangan laki-laki yang salih dan bertanggung jawab?” (hlm. 251).

Dua konflik utama ini membentuk karakter utama pada tokoh Mawar yaitu ikhlas. Satu demi satu konflik ia hadapi untuk membangun keikhlasan dalam dirinya. Perjalanan kehidupannya menggambarkan bahwa ikhlas itu tidak karbitan. Ikhlas lahir dari kemampuan seseorang untuk mengatasi setiap masalah satu demi satu yang ditakdirkan Tuhan. Ikhlas itu manusiawi dan tidak akan melahirkan kata “mengapa?” pada setiap takdir dan ujian apapun.

“Sejak dahulu, Mawar tidak pernah kecewa dan membenci kehidupan yang memiliki corak beragam. Ia tak pernah iri kepada cempaka yang memiliki kecantikan sempurna, takpernah iri pada Dahlia, takpernah iri pada Melati yang seakan mendapatkan kesempatan hidup jauh lebih baik darinya. Ia takpernah merasakan Yasmin adalah baian penghambat kehidupannya sebagai perempuan,” (hlm.292).

Kepasrahan dan keberserahan dalam menghadapi satu demi satu ujiannya membuat Mawar mereguk kenikmatan ikhlas. Keikhlasan ini yang akhirnya menjadi ikon dari aroma bunga mawar yang harum ketika mekar. Pada episode akhir, Mawar menikah dengan Ito, sahabatnya semasa kuliah. Ujian demi ujian seperti pupuk dan air yang menyirami bunga mawar membuatnya semakin mekar merekah, dan dihinggapi kumbang. Tokoh mawarpun demikian. Pada akhir episode, Rasyid datang untuk mewakili Ito melamarnya. Mawar menikah dengan Ito dan lengkaplah kebahagiaan mereka. Seperti novel-novel FLP lainnya, kisah ini berakhir bahagia.

Yang Agak Mengganggu

Bagian yang agak menggangu dalam novel ini adalah kesibukan pengarang mengenakan satu demi satu tokohnya di awal. Seolah mengenalkan karakter tokoh di awal cerita merupakan fardu ain bagi seorang pengarang. Satu demi satu diary tokoh dideretkan. Seolah diberi tugas, setiap tokoh menceritakan karakter masing-masing atau pandangannya terhadap karakter tokoh lain. Tokoh Dahlia ditugasi bercerita tentang karakternya sendiri. Tokoh Cempaka ditugasi menceritakan dirinya, Ayah, dan Mama. Tokoh Mawar ditugasi menceritakan karakternya dan karakter saudara-saudaranya. Tokoh Melati ditugasi menceritakan kebungsuannya dan apa yang ia rasakan. Padahal semua itu dapat dilihat dari konflik yang membangun kisah.

Khatimah

Setelah membaca lengkap buku ini, saya jadi teringat Dr. Wina Meilinawati, Ketua Program Studi Sastra Kontenporer Pascasarjana FIB Unpad yang mengatakan bahwa setiap karya sastra selalu mengaitkan dirinya pada sesuatu. Sesuatu itu bisa ayat pada kitab suci, mitos, atau apapun. Pesan terdalam dari perjalanan hidup tokoh Mawar merangkup makna ayat Al Quran: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 2). Novel ini relatif tipis, hanya 318 halaman. Untuk pembaca yang tidak terlalu akrab dengan novel, Rose tidak terlalu menyesakkan dada. Ia relatif ringan dibandingkan dengan karya-karya Sinta Yudisia yang mayoritas bernuansa sejarah. Selain itu, novel ini sangat berpihak pada perempuan yang memiliki segudang aktivitas. Tokoh-tokohnya yang tidak terlalu banyak dan mudah diingat membuat mahasiswa, ibu rumah tangga, atau para perempuan yang sibuk di kantor dapat membacanya pada satu waktu, menyelanya dengan pekerjaan, lalu melanjutkannya di waktu lain tanpa takut lupa alur ceritanya. Seperti kata Roland Barthes, setelah karya lahir, pengarang telah mati. Dengan demikian pembaca bebas memaknai karya berdasarkan pembacaannya masing-masing. Selamat membaca.

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Jurnal Harian Karyaku Kepenulisan Rahasia Perempuan ROSE

{Ulasan Novel} ~ROSE~ Sinta Yudisia oleh Fauziyyah Arimi

Membaca fiksi dengan tokoh utama yang membawa serta konflik berlapis-lapis dalam kehidupannya dan menjadi alasan perjuangan yang panjang, mungkin bukan hal yang langka. Bila pernah membaca ‘Ketika Mas Gagah Pergi..dan Kembali’ terselip cerita tentang Ita. Cerita yang menghadirkan Ita dengan kesedihan berlapis-lapis -yang sepertinya secara nyata-, kita akan berpikir bahwa mustahil lapis demi lapis kesedihan atau konflik itu sanggup terselesaikan dengan tuntas. Novel ini pun, demikian. Awalnya menggantungkan pertanyaan itu lewat sinopsis di sampul belakangnya.


Bagaimana bisa Mawar berpikir untuk menanggung anak hasil hubungan diluar pernikahan kakaknya? Lalu memutuskan berhenti kuliah, merintis usaha untuk membantu kakak sulungnya mempertahankan kesejahteraan keluarga? Pun ketika telah matang dan kondisi keluarga membaik, Mawar memilih untuk mendukung adiknya menikah karena memang telah dilamar oleh laki-laki bermartabat. Bagaimana ia tidak mempersoalkan gunjingan ‘perawan tua’ sementara ibunya justru bersedih dan sebenarnya tak ingin ia dilangkahi menikah oleh si bungsu. Dan ketika telah beberapa tahun ia membesarkan Yasmin hingga menjadi anak yang baik dan pintar, bagaimana caranya ia bisa rela menanggapi keinginan kakaknya yang hendak merebut Yasmin dari sisinya?

Bagian awal novel ini, kurang saya nikmati. Karena belum terasa mengalir saat membaca dua episode awal. Tapi itulah, permulaan memang tidak selalu mudah. Selanjutnya, tulisan mba Sinta mengamini antisipasi saya. Bahwa karyanya memang kaya. Tidak ada sudut pandang tokoh yang terlampau dominan, tapi hal tersebut tidak membuat rasanya setengah-setengah. Lalu narasi latar yang tata kalimatnya memikat, indah. Alurnya tidak begitu lambat, tidak pula terlalu cepat. Mungkin tema yang diangkat, sekilas serupa sinetron zaman sekarang. Tetapi toh novel ini tidak dramatis yang lebay, tapi dramatisnya natural. Dramatis yang bisa diterima nalar.

Perubahan menjadi lebih baik yang terjadi pada Mawar, pada Melati maupun keluarganya, tidak instan. Dan itulah, asyiknya. Kita mengalir menyaksikan bertumbuhnya mereka. Pertumbuhan yang tidak mudah. Mawar bukan seorang yang terus lempeng dan lapang. Bahwa satu dua kali bahkan ia bertanya letak keadilan Allah terhadap keluarganya. Ada juga saat dia bertanya sendiri, benarkah tindakan-tindakan yang diambilnya? Transformasinya pun tidak sebentar. Tapi karakternya yang begitu kuat mengalahkan melankolisme akut yang mungkin akan melanda kita bila ada di posisi Mawar.

Sejak pertengahan novel, airmata saya meluruh. Mba Sinta berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Sementara saya terus saja iri pada Mawar yang berkarakter nalaria (istilah mba Sinta). Karena saya tahu persis kelemahan perempuan yang berkarakter melankolis. Bahwa orang berkarakter nalaria lebih memiliki potensi berpikir positif dan cepat bangkit. Lalu saya ingin menjadi seperti Mawar. Mungkin itu juga akan diinginkan pembaca lain.

Mawar bukan tokoh yang beranjak cemerlang secara materiil tapi ia beranjak kaya dalam hatinya hingga tercermin dalam transformasi dirinya. Kedewasaannya menajam, akhlaknya semakin cantik. Segambreng permasalahan yang menghampirinya, seperti pasir-pasir yang ia simpan dalam cangkangnya yang mulanya membuat ia kesakitan tapi kemudian balik menghadiahinya dengan mutiara. Bagaimana bisa tidak iri?

Ketika akhirnya Mawar mendapatkan pasangan, kisahnya tidak seperti Cinderella yang menemukan pangeran berkuda. Mungkin hal ini mematahkan kebiasaan cerpen dengan tema bernada sama, tapi itu nilai relevannya. Lalu tidak semua karakter berhasil mencapai titik balik dan beralih menjadi dominan protagonis. Dan begitulah, tidak selalu mudah memelihara ‘kebenaran’ yang telah Allah titipkan.

Satu hal yang sangat kental, novel ini menyuguhkan rupa pengorbanan. Tak perlu disesali, tak perlu diratapi, karena nantinya pengorbanan tersebutlah harga bagi pendewasaan diri.

Rose, adalah fiksi yang dipikirkan dengan matang. Diniatkan untuk mencerahkan. Begitu kan, mba Sinta? 😛

Ah ya, banyak kuotasi yang bersepakat dalam nalar dan begitu diterima oleh hati. Seperti:

“Tetaplah mencari ilmu tentang kebenaran hingga ia berpijak diatasnya dengan teguh. Sampai nanti kita sudah salih pun, tetaplah belajar. Karena hidayah itu secara sunnatullah harus dipelajari dan dipelihara.” –halaman 167

“..Tapi, semakin kamu mencari jawaban diluar agama, semakin akan hancur hidup kita. Kita akan semakin terbentur-bentur pada persoalan yang makin tak terurai karena kusutnya.” –halaman 171

“Kata orang, berdoa adalah katarsis. Mencurahkan semua beban hingga tanpa sisa kepada pendengar, tanpa interupsi. Siapa lagi pendengar yang mampu menampung segala tanpa bertanya (kecuali Allah)?” –halaman 246

Bahkan ada kalimat filosofis tentang anak-anak: “Anak-anak tak pernah merasa lelah, tak pernah menyimpan keburukan di hati, tak pernah merasa dieksploitasi. Anak-anak adalah rancangan alami siklus kehidupan. Permata yang menghiasi rantai kebosanan kehidupan orang-orang dewasa, zamrud yang memberikan pendar kecantikan. Aroma wangi yang menyempurnakan bunga tercipta.” –halaman 70

Baiklah teman, akhirul kalam, Selamat Membaca 🙂

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia TAKHTA AWAN Takudar The Road to the Empire

Sinta Yudisia : Bedah Buku Takhta Awan & Kang Abik : Movie Seminar, Malang 3 Des 2011

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Kepenulisan Perjalanan Menulis TAKHTA AWAN Takudar The Road to the Empire

Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :Sisi Positif (dan Negatif) Menulis -MIggu 18/09/11

 

Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :

Sisi Positif (dan Negatif) Menulis

 

            Adakah sisi negative seorang penulis?

            Tentu ada.

            Saat menulis , dikejar deadline, ide pas lagi muncul….wah, nevermind pekerjaan lain. Malas keluar rumah, ngobrol sama tetangga. Maunya bercengkrama dengan laptop melulu. Bukan hanya itu. Kondisi fisik menurun, malam-malam berlalu tanpa istirahat, pembuluh darah membengkak baik di kaki maupun di bagian (maaf : belakang). Meja kerja berantakan, tak menjawab SMS apalagi telefon yang masuk.Ada yang mau main ke rumah? Aduuh, jangan dulu deh. Lagi dikejar deadline, ntar editor ngamuk atau pendaftarann lomba tutup!

            Selalu ada sisi negative meski tak sama.

            Tetapi banyak pula sisi positif.

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan FLP Wilayah Jawa Timur Jurnal Harian Kepenulisan mother's corner My family

Siapakah Agus Sofyan, di balik FLP Jawa Timur?

 

Aneh rasanya, jika saya pada akhirnya tidak memperkenalkan sosok yang satu ini, setelah saya menuliskan tentang Lutfi Hakim alias Adam Muhmmad. Sungguh, bukan kampanye premature atau penggalanganmassa. Saya sering merasa sangat berterima kasih kepada para Maskulin di FLP : ustadz Fathoni, ustadz Syukur Mirhan, Aferu Fajar, Faishal, Syahrizal, Faris Khoirul Anam, Mashdar Zainal, Lukman Hadi, Muhsin, mas Bahtiar, mas Haikal…(mohon maaf jika ada yg lupa). Kalau kaum Feminin di FLP sangat banyak, bahkan FLP sempat dijuluki Forum Lingkar Perempuan. Maka kaum Maskulin di FLP ibarat penguat sendi2 FLP alias masih ada tenaga untuk dimintai angkut-angkut barang atau antar jemput kesana kemari 😀

            Suatu saat, ada acara ke yogya.

            Seorang teman muslimah pernah bertanya bertahun lalu : ”…suami mbak gakpapa mbak pergi jauh tanpa anak-anak sama sekali?” begitulah kira-kira.

            Tanpa diminta, sang muslimah tersebut bercerita bla-bla-bla tentang suaminya.

Enaknyaaaaa….

            “Wah, pak Agus tuh setia banget ya, nganter jemput bu Sinta.”

            “Aku mau juga punya suami kayak gitu!”

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Perjalanan Menulis TAKHTA AWAN Takudar The Road to the Empire

Bedah Buku Takhta Awan di Perpustakaan Kota, 16 Juli 2011