Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG

Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG

Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Iklan

#1 Tempat cantik di Seoul dan Sekelilingnya

Kalau anda bekesempatan berkunjung ke Korea Selatan , tepatnya ke Seoul, ada banyak daerah cantik yang dapat dikunjungi. Saya pilikan 5 dulu ya!

 

  1. Deoksugung Palace (Istana Deoksugung)

Istana ini memang legendaris. Dilengkapi taman, loronglorong, juga danau tempat raja bercengkrama bersama keluarga. Mengingatkan kita pada kisah di serial Great Queen Seon Deok, Dong Yi, Masquerade. Yang fenomenal adalah Gyeongbukgung. Tapi, Deoksugung ini juga tak kalah megahnya.

Sebetulnya, istana-istana kuno yang ada di Indonesia tak kalah megahnya. Istana Maimun di Medan, bekas peninggalan Majapahit di daerah Singosari (biasa dilalui dalam perjalanan Surabaya- Malang), Candi-candi di Jambi, Candi Ratu Boko di Yogyakarta. Sayangnya, transportasi menuju areal pariwisata kita kurang tersedia. Di Korea selatan, angkutan bis dan kereta api tersedia dengan mudah sehingga turis mampu menjangkau area tersebut.

  1. Kuil Bong Eun Sa (Bong Eun Sa Temple)

Kuil ini dilengkapi lampu-lampu kertas dan kolam teratai, dengan bunga-bunga teratai yang jika mekar, cantik sekali sebagai wallpaper .

Menarik sekali bila masjid-masjid kita pun dihias indah tiap kali menyelenggarakaan perayaan seperti Id, Maulid, Muharram. Masjid yang dihias meriah akan membuat masyarakat berduyun-duyun datang. Memang, awalnya mungkin untuk berwisata. Namun sembari menikmati keindahan arsitektur dan perayaan, lama-lama anak dan remaja semakin tertarik untuk menyambangi masjid.

  1. Coex

Coex sebetulnya mirip gedung ekshibisi. Uniknya, gedung ini berdekatan dengan Bong Eun Sa, jadi kita bisa menikmati dunia modern dengan segala pameran di dalamnya sebelum melangkah ke dunia masa lalu di kuil Bong Eun Sa.

Coex ini sebtulnya berupa gedung-gedung dengan ruang besar untuk seminar, workshop dan launching produk. Untuk menarik minat remaja, selalus aja ada pojok berbentuk jantung hati untuk tempat selfie dan wefie.

 

  1. Han River (Sungai Han)

Sungai romantic ini bukan hanya dijaga kebersihannya. Sepanjang tepian dilengkapi taman-taman, kapal pesiar, bunga sakura buatan yang cantik sebagai teman selfie atau wefie.

 

Salah satu penulis kenamaan Seoul, Han Kang, memiliki nama yang berarti sungai Han.

Sebetulnya, sungai-sungai di Indonesia tak kalah menariknya. Di Surabaya sendiri ada sungai Jagir yang melintas, membelah Surabaya hingga menuju laut. Hiks….sungainya dipenuhi sampah dan plastic. Alhamdulillah,w arga sekarang semakin peduli, jadi berusaha menyadari bahwa sampah dapat merusak lingkungan dan merusak pemandangan.

 

  1. Dongdaemun History & Culture Park Station

Gedung berbentuk unik dengan warna kelabu. Bentuknya membuat kita seakan berada di abad futuristic. Di luar gedung ini dilengkapi kebun mawar buatan yang terbuat dari lampu. Lampui-lampu ini dicetak berbentuk mawar , sehingga ketika malam tiba, bersinar bak negeri peri!

 

Seoul, mampu memadukan sisi modern dan tradisional. Sitana Gyeongbukgung dan Deoksugung masih terpelihara, berikut musem nasional di sisi istana yang menyimpan pernak pernih sejarah mulai baju kaisar hingga mata uang, peta dll.

Berkeliling mancanegara membuat saya sadar, Indonesia jauh lebih kaya.

Bila masyarakat Indonesia menyadari kekayaan dan memelihara semua sumber daya, insyaAllah kita melaju melampaui Korea.

Jakarta : Pemimpin gabungan Berber, Visigoth, Corleone dan isyarat Ibnu Khaldun

 

Jakarta  dibangun dari Judi dan Prostitusi?

“Pak Natsir naik helikopter aja kemana-mana. Sebab jalanan Jakarta saya bangun dari duit judi,” sindir Ali Sadikin.

Mohammad Natsir, tokoh petisi 50 dan Mosi Integral, seorang ulama sederhana yang disegani kawan dan lawan. Kesederhanaan beliau, kehati-hatian beliau dalam berinteraksi dengan hal-hal haram bahkan syubhat, membuat sebagian orang risih. Ali Sadikin salah satu diantaranya.

Bagaimana Ali Sadikin membangun Jakarta, memang menuai pro dan kontra. Di tangan Ali Sadikin, pembangunan Jakarta di era 70an melaju pesat. Jalan-jalan, TIM (Taman Ismail Marzuki) dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Tahun 1966 Jakarta belum seperti sekarang. Butuh dana besar untuk membangun sarana prasarana. Ali Sadikin mengambil langkah kontroversial dengan melegalkan judi,  kawasan merah Kramat Tuggak; demi menarik pajak daerah. Secara fisik, pembangunan Jakarta melaju cepat di tangan Ali Sadikin. Konon, hanya ada dua gubernur yang dilantik di istana negara : Ali Sadikin dan Ahok. Di kemudian hari, Ali Sadikin beranggapan bahwa membangun Jakarta dari judi dan prostitusi dapat dilakukan di awal kemerdekaan. Ketika orang-orang tulus dan para pejuang yang komitmen dengan cita-cita besar bangsa masih banyak bertebaran. Ia mengatakan hal itu tak dapat terus menerus dilakukan, apalagi bila institusi korup semakin merajalela.

 

Jakarta :  antara Silkroad- Megacities dan  Cordoba

batavia

Batavia lama

Para international writers yang diundang ke Seoul 2016 sebagian mengatakan, salah satu capital city yang indah dan menarik untuk dipandang adalah Jakarta. Bagi kita warga Indonesia yang mendambakan kedamaian serta situasi yang tidak menimbulkan depresi, Jakarta adalah kota yang harus dihindari. Dibandingkan Seoul, ibukota Korea Selatan dan Rabat, ibukota Maroko ; Jakarta memang lebih istimewa. Warna warni hijau masih tersebar dimana-mana, mengingat kata Koes Plus, kayu dilemparpun jadi pohon. Kolam susu menggenang di segala penjuru. Kalau sekarang orang tak menemukan kayu bertransformasi menjadi pohon serta kolam susu sekeruh mangkok kobokan; salahkan saja Jan Pieterszoon Coen yang membangun Batavia. (Hm, sedemikian mudahkah menyalahkan sejarah?)

Apa yang anda bayangkan ketika menyebut ibukota?

han-river-2

Sungai Han, Seoul

Mungkin, saya jenis orang yang terlalu khusyuk berimajinasi. Berkhayal.  Jakarta suatu saat akan memiliki sungai seromantis Han Kang atau sungai Han yang membelah Seoul. Sungai jernih yang menimbulkan sejuta loncatan imajiner setiap kali warga naik subway melintasi Dangsan dan Hapjeong. Sungai yang terpelihara dari anak iseng yang melempar kulit permen. Sungai yang membiarkan remaja berlarian, naik sepeda, melaju dengan otopet, atau menentang riaknya dengan naik kapal pesiar.

 

Bukan sungai yang diberitakan meluap, memecah tanggul, menyerap teriakan orang-orang yang tergusur rumah kardusnya.

Yah, lebih jauh saya membayangkan Jakarta akan seperti salah satu dari 5 of megacities yang dicatat sebagai silkroad– jalur sutra : Xi’an (Changan), Samarkand, Aleppo, Mosul dan Merv. Meski Aleppo dan Mosul saat ini menorehkan luka dalam di hati kaum muslimin, kemegahan kota-kota tersebut tak akan hilang dari jejak sejarah. Apa yang menyebabkan kota mega tersebut menjadi mutiara-mutiara yang berkilau hingga kini menjadi negara modern? Pembangunan fisik yang meliputi masjid, benteng, pasar, observatorium menjadi salah satu keunggulan. Hal lain adalah, para ulama menjadi motor-motor penggerak yang diberikan kebebasan untuk memberikan motivasi kepada khalayak. Ulama, adalah para pewaris Nabi yang bersama mereka, ilmu dan amal menjadi satu kesatuan.  Tentu, tak akan lepas dari catatan sejarah para ulama yang menghasilkan gagasan-gagasan besar : Ibnu Sina dengan the Canon Medicine, Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah, Ibnu Batutah dengan Rihlah, Umar Khayyam sang astronomer dan penyusun Rubaiyyat serta ribuan lagi ulama yang tak akan cukup waktu manusia memelajari kehebatan mereka. Sepanjang ulama memiliki tempat terhormat, sepanjang itu pula sejarah memiliki peradaban tertinggi.

Bisakah Jakarta seperti Cordoba?

Ah, mengapa pula tidak.

Abdurrahman III, sang pemuda sebatang kara yang selamat dari pembantaian di Rusafa, melarikan diri dari Damaskus. Seluruh dinasti Umayyah dihabisi dinasti Abbasiyyah, hanya Abdurrahman seorang yang tersisa. Keberanian, kecerdasan, ketabahan sang pemuda menjadikan satu wilayah di semenanjung Iberia menjadi sebuah ikon yang disebut sebagai Ornament of the World – hiasan dunia: Cordoba atau Qurtubah. Sebuah kota megah dengan ciri khas air mengalir dan perpustakaan. Konon, khalifah memiliki perpustakaan pribadi dengan 44 jilid katalog ( katalognya saja!) dan 600.000 judul buku disaat raja Eropa hanya memiliki 400 manuskrip. Perpustakaan Abdurrahman III hanya 1 diantara 70 perpustakaan di Cordoba, dan di pasar tersedia 70 penyalin naskah al Quran yang siap mendistribusikan kitab mulia tersebur ke segenap penjuru.

Pembangunan fisik, yang menjadikan Cordoba tak kalah megah dari Damaskus dan Baghdad, menjadikan orang-orang berbondong ingin menikmati Ornament of the World. Sekali lagi, pembangunan fisik. Dan tidak lupa, pendidikan serta peran serta para ulama menjadi kata kunci yang membuat kota tersebut dikenang sepanjang masa. Para pemikir besar lahir dari wilayah Damaskus, Baghdad, Cordoba selain dari Mekkah, Madinah, Palestina tentu. Para ulama menjadi sosok yang dihormati, menempati mimbar elite pemerintah; bukan sekedar di koridor, selasar atau malah emperan sebagai pemanis.

 

Jakarta : siapakah yang berkuasa?

Sebuah kota selalu memiliki 2 pemerintahan.

Luarbiasa cara Mario Puzo menggambarkan dalam bukunya Omerta, “kota, memiliki pemerintahan siang dan malam. Siang hari kalian dikuasai pemerintah formal, malam hari penguasa yang lain menggantikan.”

Mungkin, darah Italia Mario Puzo menjadikannya berpikir demikian. Mafia menguasai segala penjuru kota dan stigma mafia semakin terbentuk sebagaimana film legendaris the Godfather  melambungkan nama Francis Ford Coppola sebagai sutradara serta Marlon Brando sebagai Vito Corleone dan Al Pacino memerankan Michael Corleone. Para keluarga mafia saling bunuh, saling melindungi, dan saling membayar hutang piutang. Terutama hutang jasa. Sekali keluara Corleone mengucap janji, mereka pantang menarik. Mereka melindungi setiap yang bersandar pada keluarga ini dan sebaliknya, mereka menuntut upeti dalam jumlah yang pantas.

Memang, di balik penguasa hebat, berdiri orang-orang kuat.

Abdurrahman III tak akan sukses membangun Cordoba tanpa keikutsertaan suku Berber yang mendiami gunung Atlas, Maroko. Ibu Abdurrahman berdarah Berber, dan nama suku Berber menjadi sanjungan (atau olokan) ketika orang berperilaku sangar : kalian seperti kaum Barbar! Suku Berber dikenal kuat, tegas, berani, tak kenal ampun dan anda akan terbiasa dengan pertengkaran ketika menginjakkan kaki di Maroko.

Semenanjung Iberia tampaknya hanya pantas dikuasai orang-orang kuat seperti kerajaan Visigoth dengan penakluknya Alaric dan  dinasti Umayyah yang memiliki komandan Tariq bin Ziyad.

Bila, sebuah penguasa membutuhkan kekuatan lain di belakangnya, siapakah yang dikatakan sebagai orang kuat? Abdurrahman III memiliki suku Berber, Alaric memiliki Visigoth dan Corleone memiliki mafia.

Apakah pemimpin Jakarta pun harus memiliki orang kuat di belakangnya?

Demikianlah seharusnya. Meski, paradigma ‘orang kuat ‘ ini akan berbeda bagi setiap orang. Bila kita mengambil prinsip Machiavelli dalam Il Principe maka kita akan mengambil pemimpin tipologi ini.

“Jangan memilih pemimpin karena rasa cinta. Pilihlah karena rasa takut. Rasa cinta akan hilang seiring lunturnya kewajiban. Tapi rasa takut, tak pernah gagal.”

Banyak pemimpin seperti yang digambarkan Machiavelli. Hitler, Stalin, Lenin. Membangun kekuasaan dengan kekuatan dan ketakutan. Memang di salah satu titik, tampaknya tak pernah gagal.

Tapi bagaimana pendapat Ibnu Khaldun tentang pemimpin dan  kekuasaan?

Dalam kitab megafenomenal Al Muqaddimah, beliau menuliskan banyak bab penting terkait rakyat, kesukuan, pemerintahan, kekuasaan, tabiat-tabiat bangsa serta suatu tabiat kurun waktu.

muqaddimah-ibnu-khaldunPasal Keempat, Bab 3, Kitab Pertama

Kerajaan Memiliki Kekuasaan Kuat Berlandaskan Agama, Baik Melalui Kenabian Maupun Seruan Kebenaran

Sebab kekuasaan hanya dapat diraih dengan penguasaan. Penguasaan ini hanya dapat dilakukan dengan fanatisme. Yakni kesamaan harapan untuk menyuksesan suatu tuntutan. Kesatuan jiwa dan persatuannya hanya dapat terjadi atas pertolongan Allah Swt dengan mendirikan agamaNya.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan firman Allah

“Walaupun engkau membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alalh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana ( Al Anfaal : 62).

Rahasianya , apabila jiwa terdorong untuk melakukan kejahatan dan condong pada kehidupan dunia, maka akan terjadi persaingan dan menimbulkan konflik. Apabila jiwa-jiwa tersebut tunduk pada kebenaran, menolak tipu daya kenikmatan dunia dan berbagai kejahatan yang ada di dalamnya dan menghadap kepada Allah Swt dengan lapang dada maka kondisi itu akan mempersatukan visi dan misi mereka. Dengan kesamaan tujuan ini , rivalitas yang tidak sehat akan lenyap dan konflik akan minimal, yang pada akhirnya akan mempererat kerjasama dan saling membantu.

Dengan persatuan dan kesatuan tersebut maka kerajaan akan semain kuat dan kaya (Muqaddimah, Ibnu Khaldun)        

 

Pemimpin untuk Jakarta

Saya bukan warga Jakarta. Enggan pula tinggal di Jakarta mengingat lingkungan fisik dan sosial ibukota sangat berat untuk tumbuh kembang anak-anak, apalagi bagi remaja. Jakarta bagi orang seperti saya adalah sebuah kota untuk transit ketika harus keluar daerah. Jakarta terasa berdenyut mendebarkan ketika walikota kami, bu Risma, diberitakan akan diboyong kesana. Jakarta terasa menakutkan ketika berita kejahatan lalu lalang di media.

Jauh di lubuk hati, rasanya lelah memikirkan Jakarta.

Betapa ingin ibukota ini setenang Seoul dimana warga bebas hilir mudik hingga larut malam. Anak sekolah dasar dan menengah, masih mengenakan seragam, bebas naik subway atau bis tanpa takut kejahatan. Memang, kejahatan pasti ada seperti kasus pembunuhan di daerah Gangnam beberapa waktu yang lalu.

Betapa ingin Jakarta menjadi Ornament of the World dimana ciri khas air mengalir (betul-betul mengalir) bukan menderas laksana airbah menjadi hiasan sudut-sudut kota. Perpustakaan menjamur, yang berarti industri kertas berkembang pesat berikut kesejahteraan, sebab buku-buku yang tersebar identik dengan kemakmuran masyarakat.

Betapa ingin Jakarta menggantikan kota-kota mega jalur sutra, dimana bukan hanya bangunan fisiknya yang megah menjulang namun juga para ulama menjadi tonggak pemikir masyarakat.

Betapa ingin Jakarta memiliki pemimpin yang memiliki gabungan kekuatan Berber, Visigoth, Corleone namun mampu menjalin hubungan mesra dengan para ilmuwan, pemikir dan pemuka agama.

il-principeDan pada akhirnya saya tidak ingin menjadikan Il Principe sebagai bantal tidur, sebagaimana yang dilakukan para pemimpin diktator lain, sebab ketakutan itu bukan ruh sebuah masyarakat.

The care of human life and happiness and not their destruction, is the first and only object of good goverment (Thomas Jefferson)

Saya membayangkan seorang pemimpin yang diinginkan Machiavelli, akan membuat rakyat berkeringat dingin tiap kali bangun pagi. Ketakutan. Kecemasan. Kekhawatiran. Akan keputusan-keputusan, sikap, juga bahasa yang terasa menggedor-gedor denyut jantung.

Sungguh saya menginginkan hari-hari bahagia dimana seorang pemimpin membuat hati ini nyaman dengan senyuman, kata-kata, sikap dan kebiasaan yang seperti diisyaratkan Thomas Jefferson.

Selamat memilih,warga Jakarta! Semoga anda temukan pemimpin yang dapat menjadikan Jakarta sebagai Ornament of the World.

 

 

Tips Penulis Mancanegara  

 

 

Penulis dan lukisan

Indonesia, Pakistan, India, Turki, Filipina

Bertemu dengan penulis mancanegara ketika menghadiri undangan Seoul Foundation for Arts and Culture Juli 2016 merupakan salah satu pengalaman berharga sebagai penulis. Diskusi dan bertukar pikiran dengan berbagai penulis dari berbagai belahan dunia, membuat saya banyak belajar tentang bagaimana mengasah kemampuan sebagai penulis.

Di bawah saya tuliskan rangkuman singkat hasil diskusi dengan penulis yang mewakili kiprah literasi di Negara masing-masing :

  1. Batkhuyag Purevkhuu

Beliau adalah seorang profesor berasal dari Mongolia yang menguasai secara fasih bahasa Russia. Sekalipun diskusi kami dalam bahasa Inggris cukup terkendala, beliau banyak memberikan filosofi hidup sebagai seorang penulis. Sebetulnya, Batkhuyag dapat berbahasa Inggris namun ia khawatir pengucapannya tak cukup lancar maka sepanjang acara resmi beliau senantiasa didampingi penerjemah perempuan, Enkhjargal.

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag

Batkhuyag, Sinta, PD

Bagi saya, ia mewakili bangsa Mongolia yang mengesankan. Saat sesi perkenalan diri, ia begitu bijak membuka pidato dengan mendoakan kami agar menjadi penulis yang semakin sukses di kemudian hari.

Batkhuyag menjelaskan, bagi bangsa Mongolia tak menguasai bahasa Inggris bukan hal yang memalukan. Mereka harus terlebih dahulu menguasai syair-syair asli Mongolia yang berjumpah puluhan ribu kata.

Sastra, membuat perjalanan hidup sebuah negara lebih bermakna. Batkhuyag pernah mengunjungi beberapa Negara dan ia sangat prihatin dengan Taiwan yang minim jejak budaya serta sastra. Nafas manusia berkejaran dalam uang dan materi.

Manusia, seharusnya tidak mengukur kesuksesan hidupnya hanya dari materi. Ada yang diperhatikan, dicapai, diraih di luar ukuran materi. Penulis, adalah salah satu profesi yang bertugas untuk mengingatkan manusia pada makna hidupnya. Sebab, kehidupan seorang penulis yang biasanya penuh komitmen, perjuangan dan kesederhaan mengalir dalam kata-kata yang ditulisnya.

 

  1. Sandra Roldan

Penulis cantik dari Filipina ini merupakan teman diskusi yang hangat dan menyenangkan. Ia punya tiga tips untuk menjadi penulis :

  1. Read and read
  2. Write
  3. Get another job!
Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra

Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra

Baik di Indonesia, Filipina, atau belahan manapun dari dunia ini; ilmu sastra tidaklah mendapatkan penghargaan materi berlimpah sebagaimana sains atau disiplin ilmu lainnya. Menjadi seorang penulis, berarti harus siap dengan kehidupan yang jauh dari standar kecukupan. Maka, alangkah baiknya bila sebagai penulis kita memperkaya diri dengan baca, baca, baca lagi. Menulis, menulis, menulis lagi. Lalu menopang hidup dari pekerjaan selain menjadi penulis. Sandra sendiri menjadi asisten profesor.

 

  1. Pankaj Dubey

Banyak ilmu unik  yang saya dapatkan dari penulis dan sutradara film ini.

Ketika membahas film, PD , panggilan akrab Pankaj Dubey mengatakan : Bollywood tak akan dapat mengejar Hollywood dalam hal teknologi. Ya! Bayangkan saja film James Bond, Bourne, Mission Impossible, atau science fiction macam Interstellar atau The Martian. Film horror nyapun membutuhkan kecanggihan rekayasa seperti Conjuring 1 dan 2, Mama dan Crimson Peak. Film-film imajinasi tak kalah seru mengusung teknologi : Mirror Mirror, Snow White & Huntsman, Haary Potter, Narnia dst.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Bollywood serta sastra India?

Storytelling. Bagaimana mengisahkan sesuatu dengan indah, mendayu, memukau.

Dan fiksi India lebih menggaungkan myths, mitos. Fiksi yang benar-benar fiksi. Khayalan. Tidak harus ada alur cerita yang masuk akal. Bagi PD, bila ingin menulis cerita yang serba masuk akal, tulislah buku motivasi. Fiction is fiction. Keunggulan sebuah fiksi adalah karena unsur-unsur mitos serta hal tak masuk akal yang masuk ke dalam cerita.

 

  1. Shaheen Akhtar.

 

Shaheen Akhtar adalah penulis Bangladesh yang mewakili suara perempuan. Bagi Shaheen kisah-kisah perempuan tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Shaheen memberikan saya sebuah buku luarbiasa Women in Concert, An Anthology of Bengali Muslim Women’s Writings, 1904-1938. Bagaimana perempuan menghadapi polemik hidup terkait busana muslim, kehidupan sosial politik, juga tantangan ekonomi.

Menulis cerita tentang perempuan dari sudut pandang perempuan, akan menjadi kisah istimewa bagi pembaca dunia.

women in concert, vegetarian, underwear

Women in Concert (Shaheen akhtar), The Vegetarian (Han Kang), Underwear (Kim Nan Il)

  1. Penulis-penulis Korea : Yun Dong Ju, Kim Nan Il, Go San Dol, Han Kang dll

Content.

Isi.

Dalam diskusi dalam ruang laboratorium di Yeonhui serta dalam perjalanan mengunjungi meonumen Yun Dong Ju; penulis-penulis Korea menekankan pada content atau isi tulisan. Tak akan ada publishing, promosi, resensi bila penulis tidak memiliki tulisan dengan isi berbobot. Content adalah bahan bakar. Dengan content, promosi dapat dinyalakan.

Maka, penulis-penulis Korea selalu berusaha menajamkan isi serta cara penulisan dalam setiap karyanya. Kim Nan Il menuliskan Underwear , dengan dialog-dialog yang ringan seputar kehidupan sederhana seorang penulis hingga perseteruan panjang Korea Utara-Korea Selatan. Han Kang menuliskan The Vegetarian , seorang perempuan yang mengubah gaya hidupnya dai penyantap segala menjadi seorang vegan. Peralihan gaya hidup ini menimbulkan kontroversi yang tiada habisnya di tengah keluarga hingga ia harus berhadapan dengan suami, adik, adik ipar serta dokter yang menvonisnya mengalami gangguan jiwa.

 

 

Setelah mendapatkan masukan dari penulis-penulis mancanegara di atas, anda ingin jadi penulis yang seperti apa?

 

Liputan Sinta Yudisia di Chosun Ilbo (조선일보)

 

Alhamdulillah…senang sekali dapat diwawancarai oleh salah satu koran terkemuka di Korea, Chosun Ilbo (조선일보) atau Korean Daily.

Liputan acara Reading Concert di Baseurak Hall. 3 penulis yang diwawancarai adalah Sinta Yudisia (Indonesia), Batkhuyag Purekhvuu (Mongolia), Pankaj Dubey (India)

Sinta, PD, Batkhuyag at Seoul.jpg

입력 : 2016.07.04 03:00

‘아시아 문학 창작 워크숍’ 참석
5월부터 서울 머물며 수필 써… 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실려

아시아 문학이 서울을 향했다. 서울문화재단과 문학 계간지 ‘아시아’·한국작가회의가 초청한 아시아 대표 문인들이 1~3일 ‘아시아 문학 창작 워크숍’에 참석해 문학의 국경을 텄다. 이 중 지난 5월부터 서울 연희문학창작촌에 머물며 서울을 배경으로 한 수필을 완성한 몽골·인도·인도네시아 문인 3인을 만났다. 이 작품들은 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실린다.

초현대 도시 서울에서 작가들이 발견한 것은 오히려 영적(靈的) 기민함이었다. 몽골문화예술대 교수인 시인 겸 소설가 푸릅후 바트호약(41)은 “이곳 사람들은 본능적으로 비와 바람을 감지해내는 것 같다”고 했다. “늘 연희동 주택가에서 햇볕을 쬐던 할아버지가 있었는데, 정확히 날씨를 예측하곤 했어요. 마치 대기(大氣)와 대화를 하고 있는 것 같았습니다.” 지난해 인도네시아 ‘영감을 주는 작가’에 선정된 신따 위스단띠(42)는 “서울에선 다양한 영혼이 인정받는 느낌”이라고 했다. 무슬림인 그녀는 “동네마다 교회·성당이 있고, 도심 한복판(코엑스) 옆에 절(봉은사)이 있는가 하면, 이태원엔 이슬람사원이 있다. 여러 가치가 공존하고 있었다”고 말했다.

서울을 주제로 한 수필을 완성한 아시아 작가 3인이 1일 서울시청 시민청에 전시된 글귀 앞에 섰다. 왼쪽부터 신따 위수단띠, 판카즈 두베이, 푸릅후 바트호약. /장련성 객원기자

인도 뭄바이에서 온 소설가 판카즈 두베이(38)는 다양성 안에 도사린 폐쇄성을 짚었다. “서울은 분명 국제도시지만 아직도 외국인에 대한 경계가 느껴졌다”고 말했다. 이어 “한국 여성과 인도 남성의 결혼에 관한 글을 쓰고 있다”며 “혼인 과정의 갈등을 통해 진짜 다양성에 대해 질문하려 한다”고 덧붙였다.

초원과 대륙, 섬에서 온 작가들이 포착한 서울의 속도도 제각각이었다. 바트호약은 “서울의 발걸음은 울란바토르보다 훨씬 급했다. 사람들이 실시간으로 살아가고 있다는 생각을 했다”고 했다. 항구 도시 수라바야(Surabaya)에서 온 위스단띠는 서울의 교통망을 칭찬하면서 “지하철 2호선 당산~합정 구간의 창밖 풍경은 사랑하지 않을 수 없었다”고 말했다.

이들은 한국 문학에 높은 관심을 표했다. 특히 위스단띠는 윤동주 시인의 ‘하늘과 바람과 별과 시’를 한글로 발음하며 엄지를 치켜세웠다. 그녀는 “인도네시아에도 하이릴 안와르(Chairil anwar) 등 일제에 저항한 시인이 있지만 윤동주만큼 크게 조명되고 있진 않다”며 “한국의 문인 대접에 감명을 받았다”고 했다.

서울에서 보낸 1448시간의 여정. 이제 각자의 도시로 돌아가는 이 세 사람은 덕담을 잊지 않았다. “서울이 경제적 발전을 넘어 아시아 문학의 허브가 되길 바랍니다. 고향에 돌아가서도 서울이 선물한 문학적 영감을 이어갈 겁니다.”

 

  • Copyright ⓒ 조선일보 & Chosun.com

[출처] 본 기사는 조선닷컴에서 작성된 기사 입니다

#22 Catatan Seoul : Tertarik Islam karena Mayat

Ibu Farida atau Moon Hyun Joo, cukup lancar berbahasa Indonesia. Beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia dan menjadi istri orang Indonesia.

Feby, bu Farida, Sinta

Feby , bu Farida (Moon Hyun Joo), Sinta

Bagi orang Korea, agama tidaklah penting.

Berbeda dengan Jepang , kuil dan candi ditemukan hampir di setiap kota. Maka di Korea Selatan, nyaris tak ada tempat peribadatan warga setempat yang menunjukkan ciri religiusitas. Ajaran khas Konfusianisme masih dipegang teguh terkait kesederhanaan dan kedisplinan namun ajaran agama yang merasuk di relung hati, tak banyak diyakini masyarakat Korea Selatan.

Setelah suaminya meninggal, ibu Farida atau Moon Hyun Joo merasa kehilangan pegangan. Ia mencari pegangan dari satu demi satu agama yang dipelajarinya. Ucapan bismillah dan alhamdulillah dilakukannya ketika mengendarai mobil.

Asean 8

Prof Koh Young Hun, Feby, Sinta

Lalu kami bertemu dengannya, ketika saya dan Feby menghadiri acara Profesor Koh Young Hun di gedung Asean Korea Centre, Press Centre, Junggu – Seoul City Hall. Kami lalu mencari tempat nyaman untuk diskusi.

 

 

 

 

ASean6

Menjelaskan tentang sastra Indonesia terkini di ASEAN KOREA CENTRE

 

Ada hal-hal yang membuat Moon Hyun Joo tertarik pada Islam :

Adzan

Setiap kali mendengar adzan, hatinya merasa sangat senang, bahkan beliau berkespresi sambil mengatakan, “hati saya senaaaaang….sekali setiap dengar adzan!” sembari tangannya melekat di dada. Seolah-olah menggambarkan ekspresi kebahagiaan luarbiasa tiap mengingat ucapan adzan yang magis. Ingat tulisan saya tentang muallaf  Maryam Itaewon ?

 

Prosesi penguburan.

Ketika suaminya meninggal, hanya selembar kafan yang menyelimuti. Moon Hyun Joo masih ingat, ia sempat marah dengan prosesi penguburan itu. Mengapa tidak ada barang yang boleh dibawa? Bahkan putrinya, Diana, ingin menyelipkan sebuah surat berisi ungkapan cinta kepada ayahnyapun tak diizinkan?

“Masa sih bawa sebuah surat aja nggak boleh?” kata Moon Hyun Joo.

Ada ungkatan unik darinya, “tapi entah mengapa ya, setelah kematian suami, kita seperti dilahirkan kembali. Kita seperti berada di kehidupan yang kedua. Setiap ajaran suami, setiap kata-katanya terngiang.”

Prosesi penguburan yang sederhana membekas di benak Moon Hyun Joo dan ia menyadari memang tidak ada yang perlu dibawa manusia ketika mati nanti. Bagi Moon Hyun Joo, hanya Islamlah satu-satunya ajaran yang ia kenal, memperlakukan mayat dengan cara sangat berbeda. Hampir semua agama yang dikenalnya dan saat ini ia coba untuk pelajari; memperlakukan mayat seperti manusia hidup. Didandani, diberikan bekal pakaian dan harta. Seolah-olah kehidupan di alam kubur menyerupai alam dunia yang serba berdimensi materi.

Islam berbeda. Islam mudah.

Begitu seorang manusia berstatus sebagai mayat, tak ada lagi bahan kecil berdimensi materi yang dapat menyertai, apalagi menyelamatkannya. Hanya entitas-entitas ruhani, ukhrawi dan keghaiban yang menyertai perjalanan rahasia manusia menemui TuhanNya.

 

 

 

#21 Catatan Seoul : Identitas yang Paling Mudah

Bu Widya namanya. Posisi dan pengalaman beliau  tak dapat dijabarkan dengan curriculum vitae seperti biasa. Takdir sebagai pendamping suami membuatnya tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Ketika ditanya, beliau pernah tinggal di negara mana saja, beliau lupa. Sejak kakek nenek, orangtua, hingga beliau suami istri dan kakak adik serta putra putri beliau; melanglang ke berbagai negara. Amerika, Swiss, atau negara-negara Asia Afrika pernah beliau jajagi. Ketika pertemuan keluarga besar, tak lagi dapat dibedakan anak-anak atau cucu-cucu sekarang menggunakan tradisi yang mana. Apakah barat yang egaliter? Apakah timur yang santun dan pemalu? Apakah timur tengah yang sangat strict?

Bu Widya, diusianya yang paruh baya sangat cantik dan sederhana (sayangnya beliau tak bersedia difoto hehe). Gaun lengan panjang dan jilbab kain yang melilit kepala, tanpa beragam perhiasan mencolok bergemerincingan. Diskusi dengannya mengalir mudah di sela-sela buka puasa di Saetgang, KBRI senja itu.

makan di bu yanti

Islam adalah identitas yang paling simple

Satu ungkapan beliau yang simple namun menohok, ketika saya bertanya apakah anak-anak, cucu-cucu, keluarga besar yang tinggal di beragam negara tidak mengalami culture shock atau kejutan budaya?

“Ketika kami tinggal di beragam wilayah negara, atau kembali berkumpul, kami hanya mengenakan identitas Islam. Titik. Itulah identitas yang paling mudah untuk dikenakan.”

Wow.

Identitas Islam.

Betapa indah dan mudah. Ketika kita tinggal di barat yang serba terbuka, egaliter, permisif; Islam menjadi rambu-rambu yang membatasi namun mempersilakan manusia mengambil ilmu seluas-luasnya. Gaya barat yang berbicara terus terang, apa adanya, tak memperhitungkan kasta; tak masalah selama mereka menghormati kebebasan kita beribadah dalam segala aspeknya.

Ketika tinggal di Korea dan Jepang yang dikenal pekerja keras, berbahasa penuh filosofi dan kesantunan layaknya orang timur; tak masalah juga. Selama kita dapat mengikuti karakter bekerja dan belajar tanpa menanggalkan identitas utama.

DSC_1115

Maryam yg istiqomah berhijab

Mau makan roti tawar atau roti ish, mau ditawarkan soyu atau sake, mau sakura Jepang atau kaktus gurun Sahara; ketika waktunya Ramadan ya berpuasa. Ketika waktunya sholat, ya tegakkan. Ketika belanja, belajar, bekerja ya kenakan busana menutup aurat sesuai musim. Ketika menemukan halal haram ya pisahkan.

Tinggal di 4 musim?

Tak perlu bingung dengan baju bulu di musim salju, atau tank top dan hotpants di musim panas, baju musim semi atau musim gugur. Kenakan pakaian seperti biasa, yang menyerap keringat, yang lembut di kulit. Tinggal tambahkan jaket tebal bila musim dingin tiba dan jangan lupa kerudung yang menutup kepala bagi perempuan untuk segala musim. Model, bahan, corak, motif, keluaran butik Indonesia atau italia; terserah saja.

Tak ada benturan Amerika atau Jepang, Indonesia atau Maroko, Malaysia atau Korea; sepanjang indentitas Islam dikenakan. Ketika harus lentur mengikuti karakter budaya tertentu, wajarlah, apalagi bila minoritas berada di tengah mayoritas.

Terkesan pula dengan cerita teman-teman FLP Hong Kong yang semuanya bekerja sebagai BMI. Bagaimana mereka menjelaskan Ramadan kepada majikan.

“Oh, aku sarapan kok, Bos! Cuma lebih pagi. Makan malam seperti biasa. Hanya makan siang aja yang gak dilaksanakan.”

Penjelasan seperti itu membuat si bos mengangguk, dan tidak khawatir pekerjanya mati kelaparan. Identitas Islam tetap dapat dikenakan oleh buruh seperti BMI atau ibu-ibu pejabat seperti bu Widya.

Kalau suatu saat, kita mendapatkan kesempatan melanglang buana dan tinggal di berbagai negara; jangan lupa, identitas Islam adalah identitas yang paling mudah dikenakan.