Saya tidak SARA & cinta Cina

 

 

Teman SMP saya banyak yang Cina. Teman SMA, juga. Teman kuliah di fakultas Psikologi tak terkecuali. Sekarangpun teman dan tetangga saya ada yang Cina. Kompleks perumahan kami bersebelahan persis dengan kompleks perumahan lumayan mewah, yang 95% penghuninya Cina.

Kalau beli kain di Pucang, penjualnya rata-rata Cina.  Beli barang elektronik di Hartono atau Hi Tech Mall, atau Marina, rata-rata penjualnya Cina. Beli alat-alat listrik di dekat rumah, seperti kipas angin, setrika, atau colokan listrik; juga Cina.

Di Surabaya banyak warga Cina muslim, yang aktif di masjid Cheng Ho. Sepupu saya menikah dengan orang Cina, yang menjadi muallaf dan menjadi pendakwah Islam. Pendek kata, bertemu warga Cina dalam lalu lalang kehidupan sehari-hari, adalah hal biasa. Di jalan raya, di perdagangan, di kampus, di dunia kerja. Etnis Cina, Jawa, Madura, Arab, India, Batak; campur aduk tak terpisahkan sebagai satu koloni masyarakat Indonesia.

 

Pengagum Cina

Saya sungguh mengagumi budaya Cina. Lewat film-filmnya, terutama.

Ketika remaja, saya dan suami akrab dengan cerita silat berlatar budaya Cina, karya Asmaraman Kho Ping Ho. Film Pemanah Rajawali, Yoko, dan sederet film Cina saya suka. Once Upon a Time in China adalah film favorit saya dan suami, hingga berseri-seri. Laksamana Cheng Ho dan Wong Fei Hung adalah dua tokoh yang sangat saya kagumi, bahkan terbersit impian untuk membuat cerita Fei Hung versi saya.

Tahu Kungfu Hustle kan?

Kami sekeluarga bolak balik nonton film ini. Seru dan keren, kocak lagi!

Red Cliff 1 dan 2, jangan ditanya! Cursed of Golden Flower, Hero, Warrior Heaven and Earth, Painted Skin, The Guillotine, Call for Heroes; film-film Cina ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka film sejarah. Vicky Zhao, Zhang Ziyi, Chow Yun Fat, Steven Chow, Donnie Yen termasuk bintang film favorit. Belakangan, nama Eddie Peng saya cari-cari di google lantaran aksinya dalam Call for Heroes demikian mengesankan.

Coba tengok rak buku kami.

sam-kok

Dongeng Naga, Sam Kok, dll

Dragon Tales : Sejarah Tiongkok dari Dinasti Tang hingga Dinasti Qing, Kisah Tiga Kerajaan (Sam Kok), Cina Muslim di Jawa Abad XV & XVI, Wild Swan (Jung Chang),  Rahasia Sukses Muslim China ( Wan Seng), Muslim di Amerika dan Cina, Battle Hymne of Tiger Mother (Amy Chua) adalah sedikit dari buku referensi tentang Cina yang kami punya.

Apa yang saya sampaikan ke anak-anak?

“Lihat tuh etos kerja orang Cina! Kalian harus tiru. Mereka hemat dan irit, nggak seperti kita orang Jawa yang suka menghamburkan uang.”

Bahkan saya banggakan teman-teman Cina muslim saya di hadapan anak-anak.

“Kalian tahu kan mas Syauqi dan mbak Levina? Mereka sebentar lagi pindah dekat rumah kita. Tahu nggak apa yang ditanyakan mbak Levina : bunda Sinta, mana sih pasar malam terdekat? Coba lihat, itulah gaya berpikir orang Cina. Bagaimana cara berdagang. Nanti kalau mbak Levina sudah buka toko, kalian belajar kerja sama mbak Levina ya!”

Saya ceritakan kepada anak-anak tentang jalur sutra. 5 kota mega yang pernah menjadi milik kaum muslimin : Xian, Aleppo, Merv, Mosul, Samarkand. Xian berada di Cina. Makam Saad bin Abi Waqqash pun berada di Ghuangzhou , Cina.

Bagi kami sekeluarga, dan saya yakin kaum muslimin pada umumnya, Cina dekat dengan kehidupan kaum muslimin. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina adalah pepatah masyhur, sebagian berpendapat ini hadits Nabi Saw, sebagian berpendapat ini pepatah para ulama.

Jadi sungguh, Cina, adalah sahabat kaum muslimin. Saudara kaum muslimin. Teman kaum muslimin. Hui, Uyghur, Tajik, Kazakh dan masih banyak lagi adalah suku Cina muslim yang kami cintai.

 

Benci Cina?

Apa kami benci Cina?

Naudzubillahi, tentu tidak! Perasaan saya demikian dekat dengan orang-orang Cina ketika berkesempatan datang ke Hong Kong beberapa kali, meski kata orang Mandarin dan Canton berbeda. Toh tetap Cina juga. Saya sholat di masjid Wanchai, Ammar Saddick, bertukar salam dengan warga Cina muslim. Saya mengagumi pasangan-pasangan tua Cina yang makan di kedai masjid Wancai. Pasangan-pasangan tua Cina demikian setia satu sama lain…ah.

Di rapat RT, beberapa tetangga kami Cina dan kami ngobrol dengan santai terkait masalah syukuran, 17 Agustusan, sampah, paving block dll.

Apakah kami benci orang selain muslim?

Naudzubillahi, sungguh Allah Swt membenci orang yang dzalim dan tidak adil. Bila kaum muslimin bersikap tidak adil terhadap non muslim; sudah jelas, Allah dan RasulNya menjadi  wali bagi orang non muslim yang teraniaya. Maka, ketika terjadi proses pemurtadan terhadap satu wilayah misalnya, bukan kebencian terhadap non-muslim yang muncul. Sebaliknya, kaum muslimin merasa prihatin.

“Yah, gimana lagi. Orang-orang non muslim lebih peduli. Mereka memberi santunan beras, sembako, bantuan pendidikan dan lain-lain. Pantas saja saudara muslim yang miskin menjadi pindah keyakinan.”

Hampir tidak pernah dalam bahasan-bahsan kami muncul kebencian dengan niat mengenyahkan satu agama lain keluar Indonesia, hanya karena mayoritas warga Indonesia muslim. Ketika meletus anti Islam di negara lain, penindasan dan pembunuhan seperti warga Rohingya, tidak serta merta kaum muslimin di Indoensia membenci agama Buddha. Tidak serta merta mengusir warga Cina yang mayoritas berlainan keyakinan dengan kaum muslimin, walau warga Cina sebagian beragama Buddha, dimana para biksu dan warga Buddha di Myanmar menindas kaum muslimin.

Sungguh, kebencian, pengusiran, ejekan, hasutan; bukan menjadi ciri masyarakat muslim. Bila terjadi pemurtadan, pada dai berbondong-bondong turun ke desa menyadarkan dan membantu menyediakan sarana prasarana. Bila terjadi kegaduhan di luar negeri yang menyudutkan masyarakat muslim; kaum muslimin lebih memilih berdemonstrasi dan menggalang dana bantuan.

 

Bila Ahok Muslim

Bahkan, kaum muslimin masih menyelipkan doa-doa terbaik yang dapat disampaikan. Ketika pak presiden Jokowi terkesan tebang pilih, masih ada yang berdoa : semoga pak Jokowi semakin bagus pemahaman keIslamannya. Ketika Ahok menggodam masyarakat Indonesia dengan al Maidah 51 ; masih ada kaum muslimin yang berdoa : ya Allah, semoga Ahok menyadari kesalahannya dan menjadi muslim!

Kaum muslimin mengkritik, menegur Ahok bukan lantaran ia Cina dan non muslim.

Bukan!

Begitu banyak gubernur dan pejabat muslim yang salah pun diseret ke pengadilan. Begitu banyak pula pejabat dan petinggi yang non muslim di meja hijaukan. Siapa berbuat salah, muslim atau non muslim, tetap harus diadili.

Bila Ahok muslim dan menghina al Quran, tetap saja tuntutannya sama.

Kali ini kaum muslimin bersuara sepakat sebab beliau adalah seorang pemimpin ibukota yang menjadi cermin Indonesia. Jakarta, cermin Indonesia, sedang menghadapi pilkada. Dan kita tercengang betul ketika sang pemimpin menggunakan ayat al Quran dengan cara tak terduga.

Bagi warga muslim, yang jarang sholat dan paling bermaksiat sekalipun, yang masih terbata baca Quran dan tidak mampu mengeja al Fatihah; kitab suci al Quran selalu diletakkan di bagian terhormat dalam bilik rumah : di ruang tamu, di rak buku, di posisi tinggi. Menjadi mahar, sebagai penanda suci sahnya hubungan lelaki perempuan. Menjadi alat sumpah, yang dipegang saksi dan hakim serta penegak hukum di sidang. Menjadi simbol penguat, bagi para pejabat yang akan diambil sumpah jabatan.

 

Provokator & Penunggang Massa

“Awas kaum muslimin ditunggangi!”

“Awas ada provokator!”

“Nanti diobok-obok biar timbul kerusuhan!”

“Kalau sudah gempar, negara lain akan turun tangan ikut campur!”

Ya.

Kaum muslimin selalu serba salah.

Mau bersuara, dibilang SARA.

Mau mengkritik agama lain atau etnis lain, dibilang perkara sensitif.

Mau berdemo, diancam provokator dan kerusuhan massa.

Akibatnya, kaum muslimin benar-benar takut dan galau ketika ingin mengkritik sesuatu yang bersinggungan dengan agama. Takut fundamentalis. Takut radikal. Takut fanatik. Kaum muslimin Indonesia menyerah dan mengalah begitu saja ketika kerat demi kerat kemerdekaan beragama diserahkan pada pihak lain. Pariwisata diisi dengan hal yang bertentangan dengan agama, yah, biarkanlah, toh ini bukan negara Islam. Panti pijat, bar, karaoke, minuman keras, narkoba, pornografi merayap dengan pasti; yah, gak bisa dong tegas-tegas. Ini kan bukan negara Islam. Pemimpin dan kebijakan tak berpihak pada Islam; yah, demikianlah, kan ini bukan negara Islam.

Sekali saja, kaum muslimin benar-benar ingin bersatu padu membela agama. Membela kalimatullah yang telah ditafsirkan beda. Bukan karena pelakunya etnis tertentu. Bukan karena pelakunya non muslim. Tapi karena benar-benar ingin bersuara; agar warga muslim Indonesia yang mayoritas ini menjadi tuan di tanah sendiri. Membela agama dan kitab suci, dengan cara terhormat dan ksatria. Semoga setiap pihak menyadari bahwa kaum muslimin selalu ingin menyelesaikan perselisihan dengan cara hikmah.

 

Sinta Yudisia

Ibu dan Penulis

Surabaya

 

 

Jakarta : Pemimpin gabungan Berber, Visigoth, Corleone dan isyarat Ibnu Khaldun

 

Jakarta  dibangun dari Judi dan Prostitusi?

“Pak Natsir naik helikopter aja kemana-mana. Sebab jalanan Jakarta saya bangun dari duit judi,” sindir Ali Sadikin.

Mohammad Natsir, tokoh petisi 50 dan Mosi Integral, seorang ulama sederhana yang disegani kawan dan lawan. Kesederhanaan beliau, kehati-hatian beliau dalam berinteraksi dengan hal-hal haram bahkan syubhat, membuat sebagian orang risih. Ali Sadikin salah satu diantaranya.

Bagaimana Ali Sadikin membangun Jakarta, memang menuai pro dan kontra. Di tangan Ali Sadikin, pembangunan Jakarta di era 70an melaju pesat. Jalan-jalan, TIM (Taman Ismail Marzuki) dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Tahun 1966 Jakarta belum seperti sekarang. Butuh dana besar untuk membangun sarana prasarana. Ali Sadikin mengambil langkah kontroversial dengan melegalkan judi,  kawasan merah Kramat Tuggak; demi menarik pajak daerah. Secara fisik, pembangunan Jakarta melaju cepat di tangan Ali Sadikin. Konon, hanya ada dua gubernur yang dilantik di istana negara : Ali Sadikin dan Ahok. Di kemudian hari, Ali Sadikin beranggapan bahwa membangun Jakarta dari judi dan prostitusi dapat dilakukan di awal kemerdekaan. Ketika orang-orang tulus dan para pejuang yang komitmen dengan cita-cita besar bangsa masih banyak bertebaran. Ia mengatakan hal itu tak dapat terus menerus dilakukan, apalagi bila institusi korup semakin merajalela.

 

Jakarta :  antara Silkroad- Megacities dan  Cordoba

batavia

Batavia lama

Para international writers yang diundang ke Seoul 2016 sebagian mengatakan, salah satu capital city yang indah dan menarik untuk dipandang adalah Jakarta. Bagi kita warga Indonesia yang mendambakan kedamaian serta situasi yang tidak menimbulkan depresi, Jakarta adalah kota yang harus dihindari. Dibandingkan Seoul, ibukota Korea Selatan dan Rabat, ibukota Maroko ; Jakarta memang lebih istimewa. Warna warni hijau masih tersebar dimana-mana, mengingat kata Koes Plus, kayu dilemparpun jadi pohon. Kolam susu menggenang di segala penjuru. Kalau sekarang orang tak menemukan kayu bertransformasi menjadi pohon serta kolam susu sekeruh mangkok kobokan; salahkan saja Jan Pieterszoon Coen yang membangun Batavia. (Hm, sedemikian mudahkah menyalahkan sejarah?)

Apa yang anda bayangkan ketika menyebut ibukota?

han-river-2

Sungai Han, Seoul

Mungkin, saya jenis orang yang terlalu khusyuk berimajinasi. Berkhayal.  Jakarta suatu saat akan memiliki sungai seromantis Han Kang atau sungai Han yang membelah Seoul. Sungai jernih yang menimbulkan sejuta loncatan imajiner setiap kali warga naik subway melintasi Dangsan dan Hapjeong. Sungai yang terpelihara dari anak iseng yang melempar kulit permen. Sungai yang membiarkan remaja berlarian, naik sepeda, melaju dengan otopet, atau menentang riaknya dengan naik kapal pesiar.

 

Bukan sungai yang diberitakan meluap, memecah tanggul, menyerap teriakan orang-orang yang tergusur rumah kardusnya.

Yah, lebih jauh saya membayangkan Jakarta akan seperti salah satu dari 5 of megacities yang dicatat sebagai silkroad– jalur sutra : Xi’an (Changan), Samarkand, Aleppo, Mosul dan Merv. Meski Aleppo dan Mosul saat ini menorehkan luka dalam di hati kaum muslimin, kemegahan kota-kota tersebut tak akan hilang dari jejak sejarah. Apa yang menyebabkan kota mega tersebut menjadi mutiara-mutiara yang berkilau hingga kini menjadi negara modern? Pembangunan fisik yang meliputi masjid, benteng, pasar, observatorium menjadi salah satu keunggulan. Hal lain adalah, para ulama menjadi motor-motor penggerak yang diberikan kebebasan untuk memberikan motivasi kepada khalayak. Ulama, adalah para pewaris Nabi yang bersama mereka, ilmu dan amal menjadi satu kesatuan.  Tentu, tak akan lepas dari catatan sejarah para ulama yang menghasilkan gagasan-gagasan besar : Ibnu Sina dengan the Canon Medicine, Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah, Ibnu Batutah dengan Rihlah, Umar Khayyam sang astronomer dan penyusun Rubaiyyat serta ribuan lagi ulama yang tak akan cukup waktu manusia memelajari kehebatan mereka. Sepanjang ulama memiliki tempat terhormat, sepanjang itu pula sejarah memiliki peradaban tertinggi.

Bisakah Jakarta seperti Cordoba?

Ah, mengapa pula tidak.

Abdurrahman III, sang pemuda sebatang kara yang selamat dari pembantaian di Rusafa, melarikan diri dari Damaskus. Seluruh dinasti Umayyah dihabisi dinasti Abbasiyyah, hanya Abdurrahman seorang yang tersisa. Keberanian, kecerdasan, ketabahan sang pemuda menjadikan satu wilayah di semenanjung Iberia menjadi sebuah ikon yang disebut sebagai Ornament of the World – hiasan dunia: Cordoba atau Qurtubah. Sebuah kota megah dengan ciri khas air mengalir dan perpustakaan. Konon, khalifah memiliki perpustakaan pribadi dengan 44 jilid katalog ( katalognya saja!) dan 600.000 judul buku disaat raja Eropa hanya memiliki 400 manuskrip. Perpustakaan Abdurrahman III hanya 1 diantara 70 perpustakaan di Cordoba, dan di pasar tersedia 70 penyalin naskah al Quran yang siap mendistribusikan kitab mulia tersebur ke segenap penjuru.

Pembangunan fisik, yang menjadikan Cordoba tak kalah megah dari Damaskus dan Baghdad, menjadikan orang-orang berbondong ingin menikmati Ornament of the World. Sekali lagi, pembangunan fisik. Dan tidak lupa, pendidikan serta peran serta para ulama menjadi kata kunci yang membuat kota tersebut dikenang sepanjang masa. Para pemikir besar lahir dari wilayah Damaskus, Baghdad, Cordoba selain dari Mekkah, Madinah, Palestina tentu. Para ulama menjadi sosok yang dihormati, menempati mimbar elite pemerintah; bukan sekedar di koridor, selasar atau malah emperan sebagai pemanis.

 

Jakarta : siapakah yang berkuasa?

Sebuah kota selalu memiliki 2 pemerintahan.

Luarbiasa cara Mario Puzo menggambarkan dalam bukunya Omerta, “kota, memiliki pemerintahan siang dan malam. Siang hari kalian dikuasai pemerintah formal, malam hari penguasa yang lain menggantikan.”

Mungkin, darah Italia Mario Puzo menjadikannya berpikir demikian. Mafia menguasai segala penjuru kota dan stigma mafia semakin terbentuk sebagaimana film legendaris the Godfather  melambungkan nama Francis Ford Coppola sebagai sutradara serta Marlon Brando sebagai Vito Corleone dan Al Pacino memerankan Michael Corleone. Para keluarga mafia saling bunuh, saling melindungi, dan saling membayar hutang piutang. Terutama hutang jasa. Sekali keluara Corleone mengucap janji, mereka pantang menarik. Mereka melindungi setiap yang bersandar pada keluarga ini dan sebaliknya, mereka menuntut upeti dalam jumlah yang pantas.

Memang, di balik penguasa hebat, berdiri orang-orang kuat.

Abdurrahman III tak akan sukses membangun Cordoba tanpa keikutsertaan suku Berber yang mendiami gunung Atlas, Maroko. Ibu Abdurrahman berdarah Berber, dan nama suku Berber menjadi sanjungan (atau olokan) ketika orang berperilaku sangar : kalian seperti kaum Barbar! Suku Berber dikenal kuat, tegas, berani, tak kenal ampun dan anda akan terbiasa dengan pertengkaran ketika menginjakkan kaki di Maroko.

Semenanjung Iberia tampaknya hanya pantas dikuasai orang-orang kuat seperti kerajaan Visigoth dengan penakluknya Alaric dan  dinasti Umayyah yang memiliki komandan Tariq bin Ziyad.

Bila, sebuah penguasa membutuhkan kekuatan lain di belakangnya, siapakah yang dikatakan sebagai orang kuat? Abdurrahman III memiliki suku Berber, Alaric memiliki Visigoth dan Corleone memiliki mafia.

Apakah pemimpin Jakarta pun harus memiliki orang kuat di belakangnya?

Demikianlah seharusnya. Meski, paradigma ‘orang kuat ‘ ini akan berbeda bagi setiap orang. Bila kita mengambil prinsip Machiavelli dalam Il Principe maka kita akan mengambil pemimpin tipologi ini.

“Jangan memilih pemimpin karena rasa cinta. Pilihlah karena rasa takut. Rasa cinta akan hilang seiring lunturnya kewajiban. Tapi rasa takut, tak pernah gagal.”

Banyak pemimpin seperti yang digambarkan Machiavelli. Hitler, Stalin, Lenin. Membangun kekuasaan dengan kekuatan dan ketakutan. Memang di salah satu titik, tampaknya tak pernah gagal.

Tapi bagaimana pendapat Ibnu Khaldun tentang pemimpin dan  kekuasaan?

Dalam kitab megafenomenal Al Muqaddimah, beliau menuliskan banyak bab penting terkait rakyat, kesukuan, pemerintahan, kekuasaan, tabiat-tabiat bangsa serta suatu tabiat kurun waktu.

muqaddimah-ibnu-khaldunPasal Keempat, Bab 3, Kitab Pertama

Kerajaan Memiliki Kekuasaan Kuat Berlandaskan Agama, Baik Melalui Kenabian Maupun Seruan Kebenaran

Sebab kekuasaan hanya dapat diraih dengan penguasaan. Penguasaan ini hanya dapat dilakukan dengan fanatisme. Yakni kesamaan harapan untuk menyuksesan suatu tuntutan. Kesatuan jiwa dan persatuannya hanya dapat terjadi atas pertolongan Allah Swt dengan mendirikan agamaNya.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan firman Allah

“Walaupun engkau membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alalh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana ( Al Anfaal : 62).

Rahasianya , apabila jiwa terdorong untuk melakukan kejahatan dan condong pada kehidupan dunia, maka akan terjadi persaingan dan menimbulkan konflik. Apabila jiwa-jiwa tersebut tunduk pada kebenaran, menolak tipu daya kenikmatan dunia dan berbagai kejahatan yang ada di dalamnya dan menghadap kepada Allah Swt dengan lapang dada maka kondisi itu akan mempersatukan visi dan misi mereka. Dengan kesamaan tujuan ini , rivalitas yang tidak sehat akan lenyap dan konflik akan minimal, yang pada akhirnya akan mempererat kerjasama dan saling membantu.

Dengan persatuan dan kesatuan tersebut maka kerajaan akan semain kuat dan kaya (Muqaddimah, Ibnu Khaldun)        

 

Pemimpin untuk Jakarta

Saya bukan warga Jakarta. Enggan pula tinggal di Jakarta mengingat lingkungan fisik dan sosial ibukota sangat berat untuk tumbuh kembang anak-anak, apalagi bagi remaja. Jakarta bagi orang seperti saya adalah sebuah kota untuk transit ketika harus keluar daerah. Jakarta terasa berdenyut mendebarkan ketika walikota kami, bu Risma, diberitakan akan diboyong kesana. Jakarta terasa menakutkan ketika berita kejahatan lalu lalang di media.

Jauh di lubuk hati, rasanya lelah memikirkan Jakarta.

Betapa ingin ibukota ini setenang Seoul dimana warga bebas hilir mudik hingga larut malam. Anak sekolah dasar dan menengah, masih mengenakan seragam, bebas naik subway atau bis tanpa takut kejahatan. Memang, kejahatan pasti ada seperti kasus pembunuhan di daerah Gangnam beberapa waktu yang lalu.

Betapa ingin Jakarta menjadi Ornament of the World dimana ciri khas air mengalir (betul-betul mengalir) bukan menderas laksana airbah menjadi hiasan sudut-sudut kota. Perpustakaan menjamur, yang berarti industri kertas berkembang pesat berikut kesejahteraan, sebab buku-buku yang tersebar identik dengan kemakmuran masyarakat.

Betapa ingin Jakarta menggantikan kota-kota mega jalur sutra, dimana bukan hanya bangunan fisiknya yang megah menjulang namun juga para ulama menjadi tonggak pemikir masyarakat.

Betapa ingin Jakarta memiliki pemimpin yang memiliki gabungan kekuatan Berber, Visigoth, Corleone namun mampu menjalin hubungan mesra dengan para ilmuwan, pemikir dan pemuka agama.

il-principeDan pada akhirnya saya tidak ingin menjadikan Il Principe sebagai bantal tidur, sebagaimana yang dilakukan para pemimpin diktator lain, sebab ketakutan itu bukan ruh sebuah masyarakat.

The care of human life and happiness and not their destruction, is the first and only object of good goverment (Thomas Jefferson)

Saya membayangkan seorang pemimpin yang diinginkan Machiavelli, akan membuat rakyat berkeringat dingin tiap kali bangun pagi. Ketakutan. Kecemasan. Kekhawatiran. Akan keputusan-keputusan, sikap, juga bahasa yang terasa menggedor-gedor denyut jantung.

Sungguh saya menginginkan hari-hari bahagia dimana seorang pemimpin membuat hati ini nyaman dengan senyuman, kata-kata, sikap dan kebiasaan yang seperti diisyaratkan Thomas Jefferson.

Selamat memilih,warga Jakarta! Semoga anda temukan pemimpin yang dapat menjadikan Jakarta sebagai Ornament of the World.