Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Topik Penting WRITING. SHARING.

Film Cuties (Mignonnes) : Seperti Itukah Keluarga (Muslim) Modern?

Tanyakan pada diri sendiri setelah menonton cuplikan trailer Cuties : seperti itukah gambaran keluarga muslim? Lebih luas lagi, apakah semua keluarga modern pun menyetujui apa yang Amy (tokoh utama, 11 tahun)  lakukan? Cuties tayang di Sundance Film Festival dan rencananya akan edar di Netflix mulai September tahun ini, ditulis dan disutradarai oleh Maimouna Deocoure. Debut Maimouna, langsung menuai kecaman dunia! Bahkan posternya saja langsung dihujat!

Cuties bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Amy yang terlahir di tengah keluarga muslim Senegal, imigran di Perancis. Lahir di tengah keluarga muslim yang taat (well…orang akan mengatakan konservatif, orthodox, fundamentalis) membuat Amy tertekan. Amy dipaksa untuk berpakaian, bertingkah laku dengan cara orang muslim yang seharusnya. Padahal ternyata Amy ingin ikut kontes tari modern. Di sinilah konflik dan kritik pedas terhadap film produksi Netflix bermunculan .

Cuties diharapkan akan menjadi film coming of age yang mengesankan. Film coming of age adalah film-film yang menggambarkan masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang sering digambarkan sebagai masa penuh konflik, namun juga masa sangat dinamis dan kreatif. Tak lepas pula petualangan-petualangan mendebarkan dalam proses pencarian jati diri. Banyak film coming of age yang laris di pasar : Little Women dan Flip berawal dari buku legendaris. Shazam yang bertema superhero, Princess’s Diary yang melambungkan nama Anna Hathaway dan Parents’s Trap yang melambungkan Lindsay Lohan. Alih-alih menjadi film manis yang mencuri perhatian pemirsa, Cuties justru melukai wajah keluarga muslim dan wajah orangtua keluarga modern pada umumnya.

  1. Gambaran keluarga muslim. Banyak keluarga muslim konservatif. Tapi banyak keluarga muslim yang moderat. Kenapa yang konservatif (plus si ibu memukul/menampar anak ketika anak membangkang bab pakaian) yang diangkat? Apalagi keluarga imigran, Senegal, black moslem , sangat kaku ; benar-benar stereotype keluarga muslim. Memang banyak keluarga yang masih konservatif dan memegang teguh prinsip, tapi untuk dipertentangkan dengan sudut pandang Amy kecil, rasanya kurang bijak. Apalagi penggambaran ibu menampar wajah Amy. Saya banyak mengenal keluarga muslim konservatif, tapi untuk memukul anak di wajah; rasanya digambarkan terlalu berlebihan. Alangkah lebih baik bila dimunculkan perdebatan-perdebantan sengi tantara ibu-anak khas keluarga pada umumnya.
  2. Pilihan tarian. Amy dan teman-teman perempuannya Angelica, Coumba,  Jess, Yasmine, membentuk grup The Cuties untuk kontes menari. Dunia musik dan menari memang dekat dengan anak muda, terutama anak-anak seperti Amy dkk yang beralih dari kanak ke remaja. Tapi tarian twerking? Dengan kostum mini sangat ketat – hotpants dan croptop? Baiklah, kita ingin menampilkan anak gadis di tengah keluarga muslim yang memberontak terhadap nilai yang belum dipahaminya sebagai jalan hidup. Sutradara bisa memilihkan tarian yang lebih “sopan” , dinamis, atraktif untuk anak-anak usia 11 tahun seperti Amy dkk.

Melihat Amy dan teman-teman gadis kecilnya melakukan tarian ala orang dewasa, rasanya risih sekali. Jika dalam kontes menari, Amy dkk ditampilkan mementaskan tarian yang lebih anak-anak dengan kostum yang lebih sesuai untuk usia mereka; maka film ini lebih layak untuk ditonton.

3. Benturan budaya. Islam dan modern dibenturkan sedemikian jeleknya. Tentu, banyak reviewers film yang membela dan sebaliknya, banyak youtubers yang menghujat Cuties. Adegan Amy harus mengenakan busana panjang untuk pesta pernikahan ayahnya yang akan menikah untuk kedua kali ; benar-benar tampak tak manusiawi! Seolah dunia menari twerking dengan kostum pendek itu jauh lebih manusiawi bagi kondisi psikologis Amy dibandingkan dia harus jadi pengiring pengantin untuk pernikahan ayahnya yang kedua! Tidak adakah setting lain yang bisa dipilih? Misal, ayah dan ibu Amy yang hidup sangat sederhana sebagai imigran Senegal di Perancis; sulit untuk membiayai les menari, mendaftar kontes dan menyewa kostum. Uang itu kalaupun ada lebih baik untuk tabungan kuliah Amy kelak.

4. Gambaran keluarga. Kenapa harus keluarga muslim yang menjadi deskripsi keluarga Amy? Tampilkan saja keluarga pada umumnya, tak peduli Jewish or Christian.  Kita akan melihat respon keluarga-keluarga di dunia. Apakah setiap keluarga modern akan mengizinkan anak seusia Amy, 11 tahun , menari dengan gerakan twerking di depan orang dewasa dengan kostum seperti itu? Sangat disayangkan bahwa penulis dan sutradaranya sendiri adalah Maimouna Deocoure yang seharusnya membawa pesan positif yang universal terkait kehidupan kaum muslimin.

5. Rating. Film Cuties kategori TV- MA (mature accompanied/ mature audiences). Berarti untuk orang dewasa, tapi pemainnya anak-anak 11 tahun dengan konstum dan tarian dewasa! Beberapa kritikus dengan pedas menyatakan bahwa film itu mengajak pada sebuah orientasi seksual yang menjadikan anak-anak sebagai pemuas nafsu.

Saya pikir, wajar bila dunia marah terhadap film ini. Sebetulnya, wajar saja banyak gadis kecil yang berpikir & bermimpi , “hei, seperti apa sih rasanya jadi perempuan dewasa?” Mereka membayangkan dalam gaun, kosmetik, sepatu ala orang dewasa. Tapi seorang sineas harus mampu memilah mana yang pikiran, perasaan, perilaku yang harus dimunculkan ke layar lebar. Film akan membawa banyak pengaruh bagi penontonnya.

Bahkan negeri-negara penganut liberalism sekulerisme sendiri merasa jengah terhadap film yang menampilkan gadis cilik dengan kostum ‘sangat terbuka’ dengan tarian yang lebih pantas diperagakan oleh dan untuk orang dewasa. Apalagi keluarga muslim, rasanya perlu ambil suara.

Kalau film ini ditujukan untuk anak-anak, aneh saja adegan dan dialog yang dimunculkan.

Kalau film ini ditujukan untuk dewasa, aneh saja dengan pemainnya yang masih anak-anak dan beradegan demikian.

Beberapa petisi sudah diunggah untuk meminta film ini turun dari layar Netflix. Anda berminat ikut?

https://www.change.org/p/parents-of-young-children-petition-to-remove-cuties-from-netflix/psf/promote_or_share

Kategori
Artikel/Opini Cerita Lucu Hikmah Jepang mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Sirius Seoul WRITING. SHARING.

Orang Tua Tumbuh Lebih Baik : Anime Mirai no Mirai

Ngakak. Ketawa seru. Tapi juga ada haru.
Satu lagi film anime yang mencuri hatiku. Sudah lama pingin nonton film ini tapi gak sempat-sempat, barulah sekitar sepekan lalu sempat nonton dan baru sekarang sempat pula buat reviewnya.

👶👧👩‍🦳👨‍🦳

Film ini buat anak-anak atau orangtua, sih?
Jawabku : segala umur.
Kenapa?
Bisa ditonton anak TK karena animasinya imajinatif dan ala-ala anak-anak banget. Adegan Kun bertemu si “pangeran” , Mirai dari masa depan dan naik kereta menuju Pulau Penyendiri; ini tema yang imajinatif banget karena cuma anak-anak yang punya imajinasi tak terbendung macam itu.
Bisa ditonton orangtua, sebab diskusi yang terbangun antara suami istri benar-benar menarik. Bagaimana sepasang suami istri , orangtua Kun, belajar menjadi ayah dan ibu dari 2 orang anak. Belajar bagaimana berkomunikasi sebagai suami istri.

🎥📹Review singkatnya :
Kun, seorang bocah 2-3 tahun sangat suka mengkoleksi kereta-keretaan. Di suatu hari yang indah, ia dan neneknya sedang beberes mainan. Nenek berkata bahwa hari itu mereka akan punya tamu/ teman baru. Kun sangat menanti-nantinya.
Papa mama pergi sekitar seminggu.
Dan pulang dengan membawa hadiah baru : seorang bayi cantik, imut , berpipi ranum.
Kun senang banget dengan kehadiran si imut.
“Kamu mau kasih nama siapa?” tanya si papa.
“Nozomi,” kata Kun, mengingatkanku pada salah satu tokoh penting dalam novel Polaris Fukuoka & Sirius Seoul hahahah.
“Nama lain?”
“Tsubame,” Kun menyebutkan nama kereta.

😤🤣😡😂

Di sinilah.
Adegan-adegan lucu yang buat perut ngakak. Kita sebagai pemirsa dibawa kelucuan, kegemparan, kehebohan dan ledakan-ledakan perasaan Kun terhadap Mirai. Di sisi lain kita mengerti perasaan yang dialami si papa, terutama si mama (gue banget!) ketika mendapati Kun berulah terhadap Mirai.
“Kuuuun! Bisa nggak kamu bersikap baik sama adikmuuu???!” teriak mama kesal, jengkel setengah mati karena Mirai menangis meraung-raung.
“Dekinaaaai!” teriak Kun. “Nggak bisaaaa!”
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamu???”
“De-ki-naiiiii!!!” teriak Kun sambal menangis dan meraung.
Tapi kita tahu, Kun bukan anak nakal.
Mama yang nggak ngerti jalan pikiran Kun!
Kun suka kereta api. Ia mengkoleksi bermacam jenis kereta api.
Karena sayang dan ingin menghibur Mirai baby imut (yang baru berusia beberapa hari), Kun bercerita tentang kereta api-kereta apinya. Mama sedang beraktivitas membereskan rumah. Hhhh, tahu sendiri kan, gimana kalau lagi punya baby? Saat baby tidur, seorang ibu harus marathon : masak, nyuci, jemur, nyeterika. Kadang belum selesai masak, si baby udah nangis. Bahkan seringkali buat sesuap makanan, ibu harus curi-curi waktu.
Lha ini. Mirai lagi bobo cantik.
Kun mendekati Mirai, menyayanginya, berada di sampingnya dan bercerita tentang kereta. Begitu ekspresifnya si Kun, dia mengelilingi Mirai yang tidur di box dengan…semua mainan keretanya! Alhasil Mirai kesempitan dan terganggu dengan tumpukan kereta yang ada di sekeliling tubuhnya yang mungil.
Nangislah Mirai.
Dan adegan itu,

😤😡😠

“Bisa nggak kamu baik sama adikmuuu???”
Kita akan ngerti kenapa Kun bilang, “nggak bisaaaaa! Dekinaaaai!!”
Mama menyangka Kun nakal.
Kun ingin bilang sebetulnya : “aku nggak bisa baik kepada Mirai seperti yang Mama harapkan karena Mirai itu lucu, nggemasin bangettt!”
Tapi mana bisa anak 2-3 tahun bilang itu? Ia belum bisa berkomunikasi menggunakan bahasa lengkap seperti orang dewasa.
Dan , kita akan diajak pada sebuah dunia lain.
Dunia lewat kacamata Kun : bahwa seorang kakak yang dipaksa dewasa, besar dan harus mengerti semua ; bisa menjadi sangat kesepian dan marah karena orang-orang tidak ada yang mengerti dirinya. Kakek, nenek, papa, mama, teman-teman papa mama; semua memuji Mirai. Kun pun sayang sekali dengan Mirai, tapi tiap kali ia ingin menyayangi Mirai, hasilnya adalah teriakan Mama.
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamuuu???!”

😂🤣

Huhuhu.
Aku ikut sedih dengan gelombang perasaan Kun.
Rasa cintanya diabaikan. Rasa cemburunya diabaikan. Kehadirannya diabaikan. Keinginannya untuk bertanggung jawab diabaikan. Akhirnya, ia jadi marah dan benci pada Mirai. Kun nggak suka Mirai .
Inikan yang namanya “sibling rivalry”?
Kakak adik memiliki perseteruan hebat, kecemburuan dahsyat satu sama lain lantaran orangtuanya yang nggak bisa mendamaikan dan justru memperuncing masalah! Tapi film ini mengajarkan anak-anak (khususnya anak pertama) untuk mencintai adik-adik mereka. Sekaligus mengajari orangtua gimana cara menjadi orangtua yang lebih bijak ketika satu demi satu anak lahir dari rahim si ibu.

▶️Si mama harus kembali bekerja di bulan Maret. Papa kebetulan seorang arsitek yang bekerja di rumah, jadi papa bisa menjaga Kun dan Mirai.
Mama mengeluh kepada nenek ,”aku ingin tetap bekerja. Tapi aku ingin bisa mengasuh anak-anakku dengan baik, menjadi ibu yang baik bagi mereka. Apakah mungkin?”
Diskusi antara mama dan nenek benar-benar mencerahkan.
Hal lucu lainnya, saat si papa mencoba mengurusi Kun dan Mirai, ketika mama sudah kembali bekerja.
Hahahaha. Konyol bangetttt. Dan emang bapak-bapak seperti itu!
Hiks, adegan penutupnya membuatnya terharu. Ketika pada akhirnya Kun kecil dan Mirai baby yang mulai merangkak, akhirnya bisa bersahabat. Keluarga itu akan berangkat piknik. Luarbiasa heboh saat packaging. Dan adegan papa mama yang bercakap-cakap saat packaging itu sangat menyentuh. Kurang lebih demikian percakapan mereka.

👱‍♂️👱‍♀️“Kamu dulu pencemas, suka khawatir, penakut!” kata si papa.
“Kamu juga gak bisa ngurusin rumah. Tapi kalau di hadapan emak-emak suka tampil seolah kamu papa yang hebat,” kata mama.
“Apa aku sudah lebih baik sekarang?” tanya papa.
“Apa aku sudah jadi ibu yang lebih baik?” tanya mama.
“Ya lumayan,” kata papa.
Mereka tertawa.
“Ternyata,” kata mama, “kita sekarang jadi orang yang lebih baik karena anak-anak kita.”
Aku terharu.
Betul-betul terharu dengan kalimat si mama.
Sampai kupeluk anak sulungku yang saat itu menemaniku nonton. Dialah yang ngejar-ngejar aku buat nonton film ini: ayo, Mi! Kapan, Mi! Ummi harus nonton! Film ini keren banget , Mi!

💓Dan aku meresapi betul kata-kata di mama di akhir cerita.
Kita menjadi lebih baik saat ini karena hadirnya anak-anak kita.
Terimakasih Kun-chan. Terimakasih pada para anak pertama atau anak sulung yang seringkali ekspresi cinta dan tanggung jawabnya disalah artikan oleh orangtua.
Terimakasih Mirai-chan. Terimakasih kepada para adik-adik yang berusaha untuk menjembatani konflik yang terjadi antara anak sulung dengan orangtua.

✍️✍️Mirai no Mirai adalah film yang recommended banget. Banget. Bangeeed.
Cocok buat yang lagi cemas karena film ini bikin ketawa, ngakak, heboh , mengocok perut. Tapi tetap menyentuh dengan adegan-adegan romansa keluarga yang akan membuat kita lebih menghargai perjuangan anak-anak dan pasangan.
Maaf kalau spoiler yaaa.
Tapi gak rugi nonton ini.
Aku malah mau nonton lagi nih!

🌿🌱💞🐣

#filmanak #filmkeluarga #filmlucu #reviewfilm #filmbagus #anime #filmjepang #review #film #goodmovie #lucu #funnymovie

Kategori
Artikel/Opini Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

Jangan Usir Keluarga Pasien Covid 19!

Sebuah pesan dari teman nun jauh di sana (bukan Surabaya) , menyampaikan di grup. Sebagai tenaga kesehatan, ia mencari orang dengan nama XXX beralamat YYY yang tengah hamil dan terindikasi reaktif saat rapid test. Pasien hamil tersebut diharapkan dapat melahirkan di RS rujukan covid. Entah bagaimana ceritanya, pasien itu menghilang begitu saja.

Kenapa orang tiba-tiba menghilang atau lari , ketika terindikasi Covid 19? Mari kita bayangkan. Sebelumnya ucapkan dulu, naudzubillahimindzalik. Semoga Allah Swt lindungi kita dan keluarga dari wabah ini.

Sebuah mobil ambulance, berisi 3 atau lebih petugas dengan APD lengkap. Seluruh tubuhnya tertutup baju hazmat warna putih, lengkap dengan sepatu boots dan sarung tangan handscoon. Tak ketinggalan masker N95 dan dan faceshield.

Mereka menjemput seseorang yang terindikasi positif Covid 19.

Instruksinya jelas, very clear : ambil 1 orang, isolasi, karantina, jangan sampai ada satu orangpun yang kena percikan dropletnya. Banyak penderita Covid 19 mendapat stigma dari masyarakat yang sepanjang awal tahun 2020 sudah dihantui berbagai macam ketakutan : kapan virus ini lenyap hingga kembali normal hidup kita sebagai manusia? Mengapa penyakit ini bagai banjir bah melanda setiap negara, tanpa kecuali? Karenanya, ada yang diam membisu, sekalipun dirinya sudah mengalami gejala Covid 19. Bahkan yang ekstrim, sampai melarikan diri.

Pasien Covid 19

Ketika salah seorang sakit dan dirawat di RS, berita di whatsapp beredar, bahkan di facebook. Meminta bantuan doa. Orang ramai-ramai mendoakan. Orang ramai-ramai bersimpati baik dengan uang atau buah tangan.

Pasien Covid? Beranikah ia memberitakan diri di facebook atau grup whatsapp?

“Halo, saya baru saja rapid test. Reaktif. Lalu swab. Hasilnya positif. Doakan saya baik-baik saja, ya.”

Begitukah?

Kecil kemungkinan.

Seringkali, justru pasien akan berkata pada keluarganya,  “jangan bilang siapa-siapa. Biar nanti sendirian saja ke RS , naik kendaraan sendiri.”

Duh, nelangsa banget jadi pasien macam ini. Ia tak ingin menulari keluaga tercinta, tetangga yang ia hormati, teman-teman yang ia sayangi. Sebagai seorang pasien yang tengah sakit lahir batin, pasien Covid justru seringkali berpikir : gimana ya, biar aku nggak menyusahkan orang lain. Siapa aja yang sudah terkontak denganku?

Saya punya teman-teman pahlawan covid 19.

Yang menolak bantuan dari siapapun.

“Cukup saya dan suami yang kena. Saya gak mau orang lain kena.”

Suaminya dirawat. Ia juga sudah mulai meriang. Dan ia mencoba prosedur untuk isolasi mandiri.

Luarbiasa.

Siapa yang mau kena Covid? Nggak ada.

Walau dapat santunan, dapat ganti rugi, ditanggung 100% oleh asuransi bonafid : tetap TIDAK usah kena Covid. Walau pasca kematian, dapat uang ganti rugi yang sangat besar dari perusahaan, tetap TIDAk mau kena covid.

Penyakitnya mematikan.

Saat sakitnya menyengsarakan.

Bahkan ketika baru rapid test pun, sudah sangat menegangkan.

Orang sehat, yang harus bekerja di RS dan pasar, atau tempat umum seperti perbankan dan layanan public, setiap hari harus bertarung dengan kecemasan, dengan ketakutan. Tetapi tugas memanggil dan demi kepentingan banyak pihak, terus berada di medan perang terbuka melawan virus yang tak dapat ditentukan kapan akhirnya. Sampai takdir Tuhan berbicara : bahwa virus Covid 19 menjadi teman bagi sepenggal sejarah hidupnya.

Lalu?

Kita merasa bahwa orang-orang yang terpapar ini adalah orang-orang yang pantas dikucilkan. Warga pendosa yang menulari. Orang seperti itu nggak pantas tinggal di lingkungan sekitar. Ungsikan saja. Pindahkan dia entah ke mana. Suruh ke hotel (peduli amat biayanya!) kalau nggak mau pindah, diusir saja.

Ya Allah.
Begitukah kita?

Padahal, sabda Rasulullah berkata kurang lebih : orang yang dalam kondisi sakit dan teraniaya, bisa naik doanya ke langit tanpa hijab. Teganya kita membiarkan orang-orang macam ini melangitkan doa dalam kepedihan.

Memang, ada orang-orang yang menyembunyikan sakit Covidnya sehingga menulari banyak orang. Tapi yakinlah, orang seperti ini bukan orang jahat yang sengaja berpikiran : aku mau mati, kalian juga harus mati! Tidak. Orang-orang tipe ini adalah ,

Pertama, mereka cemas dengan kelangsungan hidup mereka pribadi. Nanti pekerjaanku gimana? Kalau bosku memPHK gimana? Kalau tetanggaku justru marah gimana? Kalau anak istriku gak bisa makan, bagaimana?

Kedua, mereka tidak memiliki pemahaman utuh bahwa penyakit ini bisa ditanggulangi ketika masih dalam stadium awal. Ketika belum sesak nafas parah, demam tinggi dan tidak perlu ventilator; masih banyak kesempatan sembuh 100%

Ketiga, orang macam ini adalah orang yang mungkin resah dengan pemberitaan bermacam-macam warta yang berseliweran di media koran dan media sosial. Memang kita diminta untuk menyaring. Tapi bahkan kita sesekali bisa termakan hoax, bukan?

Kita juga bukan orang sakti yang bisa menepuk dada : AKU KEBAL TERHADAP COVID 19!!

Kita tidak berharap virus ini menerjang masuk dinding rumah kita.

Tetapi siapa tahu.

Siapa tahu.

Bayangkan ketika sakit itu tiba, entah covid atau apapun.

Lalu seluruh warga mengamuk, mengusir, enggan menyentuh tubuh kita dan ketika matipun enggan memandikan apalagi menyolati. Naudzubillahi mindzalik…

Karenanya, mari bantu dan peduli dengan saudara kita yang terpapar Covid 19!

Cara Mendukung Pasien Covid 19

Ketika salah satu tetangga atau saudara atau teman kita diberitakan terpapar Covid 19 :

  1. Hiburlah ia dan keluarganya. Katakan bahwa ia insyaallah akan sehat dan sembuh, apapun takdir akhirnya
  2. Sampaikan kepada RT dan RW agar berita itu segera dikoordinasikan dan dikonsolidasikan dengan warga
  3. Beri dukungan materi jika bisa. Galang dukungan bersama teman-teman
  4. Kirim makanan ke rumahnya, karena biasanya keluarganya juga terisolasi. Bisa juga mengirim nutrisi seperti madu, probiotik, vitamin C dsb. Bukan kemewahan makanan yang ia harapkan, tapi perhatian dan bantuan, akan sangat melegakan
  5. Kirimkan doa agar ia dan keluarga bisa selamat dari ujian ini dan berkumpul bersama
  6. Tunjukan empati dengan mengirim whatsapp atau menelponnya
  7. Percayalah dengan kata sakti : karma, semesta mendukung (mestakung) , law of attraction, payback, atau apapun itu. Siapa menanam, dia mengetam. Setiap kebaikan yang kita tanam, kita sendiri yang nanti akan memetiknya. Kita membantu orang lain, next time bila terjebak dalam kesulitan, ada aja yang bersedia membantu. Begitupun sebaliknya.

Hentikan perundungan terhadap pasien Covid 19 dan keluarganya!

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Surabaya Tokoh Topik Penting WRITING. SHARING.

Surabaya : Perempuan, Persaingan, Posisi

Lihat berita tentang bu Khofifah dan bu  Risma belakangan ini, jadi geli sendiri. Dua-duanya tokoh yang punya banyak kiprah di tanah air. Kita tahu bu Khofifah dan bu Risma punya kapabilitas untuk mengelola jabatan publik. Akhir-akhir ini, dengan adanya covid 19 dan berbagai kondisi yang mengiringi (PSBB, rapid test, dlsb); di rumah jadi sibuk berdiskusi. Maklum anak-anak kami terdiri dari lelaki dan perempuan, jadi mereka punya pendapat sendiri-sendiri. Di situlah sebagai orangtua kita harus menjembatani, bila ada yang perlu diluruskan dari pola pikir anak-anak kita.

 

👨‍🦰 Begitulah kalau perempuan memimpin, ya. Pasti ada baper-bapernya. Jadi susah kita. Apa perempuan pada akhirnya gak bisa menduduki jabatan tertentu? Karena pasti perasaannya akan kebawa-bawa?

👱‍♀️Eh, ini gak terkait perempuan atau gender tertentu ya. Margaret Tatcher dan Jacinda Arden juga mampu mengelola kursi Perdana Menteri

👨‍🦰Iya, tapi coba lihat pertikaian ini. Ala emak-emak banget. Ada yang ngamuk-ngamuk, ada yang sindir-sindir

👱‍♀️Karena kali ini permasalahannya kompleks, ya kita gak bisa menilai sekilas.

👨‍🦰Lihat, ya. Beberapa pemimpin yang kebetulan perempuan, bertikai kayak anak kecil

👱‍♀️Memang gak semua perempuan bisa memimpin. Tapi ada lho perempuan yang “tough” banget, dan dia bisa memimpin dengan baik tanpa dicampur perasaan.

Asyik kalau dengar anak-anak berdebat.

Lucu dan mengesankan.

Ciri Khas Perempuan

Perempuan memang punya sumber daya emosi yang besar.

Untuk itulah cocok dengan pekerjaan-pekerjaan pengasuhan : guru, dosen, dokter, perawat, petugas sosial dan sejenisnya. Di zaman ini, banyak perempuan yang semakin terlatih dan pintar sehingga tidak lagi hanya berkutat di pekerjaan pengasuhan. Pekerjaan yang membutuhkan resiko besar seperti tentara dan polisi, juga bisa. Yang membutuhkan tantangan besar seperti pengusaha dan politikus, juga oke. Yang penuh masalah dan rintangan seperti kepala daerah, juga hebat.

Masalahnya : jangan bandingkan perempuan dan lelaki dalam perilaku.

Wong cara berpikirnya beda, anatomi tubuhnya beda, anatomi otaknya beda. Jadi perilakunya pun beda ( baca : Kitab Cinta & Patah Hati; juga Seksologi Pernikahan Islami, hehe).

Termasuk dalam pola kepemimpinan, pasti juga beda.

Bukan cuma bu Khofifah dan bu Risma lho, kalau berseteru model emak-emak.  Ada perempuan-perempuan di posisi jabatan tertentu sangat terlihat ciri khas keperempuanannya. Semisal, ketika bersaing dengan rekan kerja yang sama-sama perempuan, tidak berani bersikap fair. Perempuan suka merasa nggak enak hati, malu berterus terang, dan enggan konfrontasi secara frontal.

Beda dengan laki-laki yang bisa main gebrak, main labrak, hantam kromo. Berkelahi terang-terangan, tapi segera baik kembali kalau masalah selesai.

Perempuan?

Tentu beda. Memendam perasaan tak enak, susah mengungkapkan.

Kalau usia anak sekolah SD- SMA, tentu masalahnya tak rumit-rumit amat. Paling masalah persaingan akademis, persaingan cinta, persaingan perhatian guru. Semakin dewasa dan banyak tanggung jawab, tentu banyak pula yang dipertimbangkan.

Misal, seorang atasan perempuan. Ia akan mempertimbangkan anak buahnya, kadang sampai hal yang sekecil-kecilnya. Rumahnya di mana? Transportasinyanya bagaimana? Cukup gak penghasilannya? Nyaman gak dia di tempat kerja? Gimana kalau dia hamil dan sakit? Ciri pengasuhan perempuan tetap menempel di manapun ia berada. Ciri seorang istri, ciri seorang ibu. Karenanya, kadang atasan perempuan lebih cerewet dari atasan lelaki. Karena ciri pengasuhannya memang tampak sekali.

Ia akan memikirkan hal-hal sepele yang bagi atasan lelaki kayaknya gak banget deh. Misal, ada atasan perempuan saat rapat memikirkan menu makan rapatnya apa? Saat family gathering, apa saja menu yang dihidangkan untuk keluarga para bawahannya? Atasan lelaki tentu gak seperti itu. Tinggal nyewa gedung, hotel, plus menu makanan. Beres deh. Mau enak gak enak, yang penting bayar. Selesai.

Bu Khofifah emak yang mau mengayomi se Jawa Timur. Bu Risma emak yang mau mengayomi Surabaya. Waktu masalah mobil PCR, kelihatan kan ciri khas perempuannya?

Perempuan : Maksimal Level Berapa?

Kalau perempuan selalu punya ciri pengasuhan kayak gitu, bisa gak sih sampai level tinggi?

Misalnya orang nomer 1 di perusahaan. Orang nomer 1 di kementrian. Atau orang nomer 1 sebagai kepala daerah, atau kepala negara? Wah, pernyataan itu bisa mengundang polemik yang panjang. Tapi, saya lebih mau ngebahas ke pendekatan psikologi ya. Karena emang tahunya basic ilmu psikologi.

Kepribadian atau personality sangat berpengaruh pada pola pikir dan perilaku seseorang (baca lagi deh Seksologi Pernikahan Islami dan Kitab Cinta Patah Hati 😊). Personality ini panjang banget prosesnya. Intinya, gak ada lho orang yang tahu-tahu lahir jadi pemimpin. Baik lelaki or perempuan.

Ada perempuan yang awalnya gak bagus jadi pemimpin karena sedikit-sedikit baper. Lalu dia mau dikasih kritik, dikasih saran. Dia mau berkembang dan belajar. Nah, dia akan bisa terus melaju mencapai posisi tinggi. Tapi, proses dia mau “mendengarkan saran” itu juga perlu kedewasaan. Dan kadang kedewasaan itu juga bersumber dari personality.

Ada orang yang sepanjang hidupnya gak bisa dewasa. Sampai usia 30, 40, 50 tetap aja kayak anak-anak. Mau lelaki atau perempuan kalau kayak gini emang bikin senewen. Kalau perempuan masih kekanakan di usia dewasa, ya ia akan rewel. Gak peduli apapun posisinya. Kalau lelaki masih kekanakan di usia dewasa, ia akan adiksi sama perhatian. Eeeh, berarti sama-sama adiksi dong : adiksi perhatian. Cuma modelnya beda.

Perempuan yang hamil, punya anak banyak, kalau dia dewasa dan memiliki personality yang matang; dia akan siap menerima beban berat. Jadi pemimpin perusahaan,  kepala kantor, kepala daerah , kepala departemen, dst. Meski dia lagi repot dengan kondisi dirinya yang hamil, yang rempong sama anak dan suami; dia bisa me-manage masalahnya sendiri. Me-manage emosinya sendiri sehingga nggak merembet ke mana-mana.

Tapi perempuan meski anaknya cuma 1, atau bahkan memilih single karena ingin fokus karir, kalau nggak dewasa ya gak akan siap menerima amanah apapun.

So, kalau saya melihat bu Khofifah dan bu Risma, bukan sekedar : ah, emak-enak, baperan! Gak bisa mimpin daerah. Perempuan gak bagus kalau pegang jabatan tinggi! Enggak bisa se-simple itu. Kalau ada konflik, semua pihak pasti akan bersiaga dan waspada. Memanas. Sampai klimaks.

Masalahnya, kita emang belum pernah punya Gubernur dan Walikota perempuan bersamaan. Periode lalu, pakde Karwo yang jadi gubernur Jawa Timur. Jadi kalau konflik antara perempuan – lelaki, kayaknya bakal ada yang ngalah. Bakal ada yang adem. Tapi karena konflik kali ini antar perempuan, mungkin sensitifitasnya meningkat.

Sebagai perempuan saya ngerti kenapa bu Risma ngamuk-ngamuk pas taman Bungkul rusak berantakan. Lha, emak-emak kalau habis ngepel dan anaknya nginjak dengan kaki kotor aja bisa ngamuk! Perihal mobil PCR kelihatan banget kalau pola komunikasi perempuan yang seringkali by symbol dan berharap orang lain memahami, terjadi. Masalahnya, pola komunikasi perempuan di jajaran atas itu akan jadi tontonan nggak enak kalau dikonsumsi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang usia dan status. Semoga ibu-ibu kita tercinta itu segera berkomunikasi dengan baik lalu cari titik temu, ya.

Bagaimana pendapat anda?

Kategori
Artikel/Opini Hikmah My family Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Melawan Anxiety ( Kecemasan) #1

Jam 01.00 dinihari  atau sekitar itu, aku sering terbangun mendadak.

Memandang sekeliling, dan baru tersadar kalau suami terpisah jauh di tanah seberang. Malam hari bukan saat yang menyenangkan dan menenangkan saat ini. Ada banyak kecemasan yang timbul. Ada banyak pertanyaan memenuhi benak dan perasaan. Sampai-sampai, berita-berita di grup tak berani kubuka satu demi satu karena khawatir berita demi berita akan memperburuk kondisi. Bukan hanya aku yang mengalami mimpi buruk. Dua putriku akhir-akhir ini juga sering mengalami mimpi buruk.

⌛️⏳⌛️⏳⌛️⏳

“Kok kalau malam aku mimpi kayak dicekik orang atau semacamnya ya?” keluh salah satu putri kami.

Dengan gadget di tangan, berita dari Surabaya, Jawa Timur, Indonesia hingga Britania Raya dan Amerika sana mudah diakses. Berita tentang covid 19 hingga George Floyd dengan hashtag #BlackLivesMatter bisa dicari tiap detik.

“Kamu mulai cemas, Nak,” kataku. “Jangan buka lagi ya berita-berita di internet.”

Informasi sangat penting diikuti, tapi kalau sudah mulai melukai diri sendiri, harus berhenti dikonsumsi. Setidaknya untuk beberapa saat.

Kupikir, aku kebal terhadap anxiety atau kecemasan. Nyatanya tidak. Malam demi malam mulai terasa menyiksa. Bahkan ketika tubuh dipaksa berbaring sekitar jam 22.00 pun tetap saja terbangun sekitar jam 01.00. Aku sendiri bertanya-tanya. Kenapa ya terbangun jam 01.00 malam dan kemudian hampir tiap setengah jam terjaga?

  1. Peristiwa jam 01.00 malam. Sebelum era lockdown dan masa kami berpisah tempat akibat covid19, suami sempat sakit batuk. Alhamdulillah hasil rapid test negative, foto thorax pun bagus. Ke beberapa spesialis mendapatkan satu diagnose : ada gejala bronchitis. Hari-hari ketika kami bersama, suami sering terbangun sekitar jam 00.00 – 01.00 dini hari. Terbatuk-batuk. Aku ikut terjaga juga. Rupa-rupanya, itulah alam bawah sadar. Bahwa jam 01.00 harus bangun. Bangun! Bangun! Meskipun tak ada suami di dekatku. Meski tak terdengar batuknya. Sekarang kondisi kecemasanku meningkat : suami di seberang sana, apa masih batuk-batuk jam 01.00? Harusnya aku ada di sana! Harusnya suami nggak pergi dari Surabaya! Dan segala macam harusnya, harusnya, harusnya yang membombardir benak.

Setiap orang punya jam kecemasannya sendiri. Ada seorang sahabat yang serangan kecemasan hingga depresinya hadir di bulan X, bulan tertentu saat ia kehilangan putranya. Ada orang yang jam cemasnya sekitar siang, jam ketika ia kecelakaan walau alhamdulillah selamat. Dengan mewaspadai jam kecemasan, kita bisa mewaspadai alarm tubuh. Alarm tubuhku menyuruhku bangun jam 01.00 karena cemas dengan kondisi suami yang biasanya batuk jam dinihari.

Coronavirus married relationship

2. Kebiasaan merusak : ada kebiasaan anxiety yang mulai terbentuk tiap jam 01.00 malam. Dan akhirnya, perilaku buruk mulai menular. Bayangkan, jam 01.00 malam atau sekitar itu me- whatsapp suami. Menanyakan apa dia baik-baik saja. Kalau gak ada jawaban segera, kecemasanku meningkat. Akhirnya suami ikut cemas juga di seberang ; karena aku terlihat tak bisa istirahat nyenyak ketika dini hari. Kecemasan-kecemasan ini menular dengan cepat. Aku jadi kepo pingin tahu kalau malam suami ngapaian aja? Makannya gimana? Kebiasaannya gimana? Ya ampun…perhatian sebagai tanda cinta mungkin menyenangkan. Kalau overdosis, akan sangat mengganggu.

LDR Couple due to corona virus

3. Titik puncak. Suatu malam, sepertinya anxietyku sudah lumayan parah. Gak bisa tidur dari jam 01.00-03.00. Pikiran, perasaan sudah gak keruan. Pada akhirnya kucoba berdiskusi dengan diri sendiri, sebuah percakapan monolog yang pada akhirnya alhamdulillah membabat habis semua anxiety.

+ “Kalau suami sakit di sana, kamu bisa apa, Sinta?”

-“Aku nggak bisa apa-apa.”

+“Terus gimana?”

-“Aku pasrahkan sama Allah saja.”

“Bagus. Lalu gimana dengan dirimu sendiri?”

-“Aku bahkan nggak bisa ngatur nafasku sendiri. Nggak bisa ngatur detak jantungku sendiri. Bahkan diriku sendiri harus dijaga sama Allah.”

+“Kalau kamu cemas seperti ini dan gak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?”

-“Aku akan membaca hafalan Quran yang kupunya, sampai aku tertidur.”

Dalam kondisi kacau, yang terpikir di benak adalah 3 surah terakhir al Baqarah.

Meski hafal surat-surat yang lain, entah mengapa ayat itu yang terngiang.

Kubaca beberapa ayat, lalu jatuh tertidur.

Aku terbangun lagi, masih dengan kecemasan yang sama.

Kubaca lagi 3 ayat tersebut sampai tertidur.

Aku terbangun lagi, dengan kecemasan yang sama.

Kubaca lagi 3 ayat tersebut sampai tertidur.

Aku terbangun lagi dengan kecemasan, tapi dengan perasaan lain yang menyertai. Kebahagiaan. Kelapangan.

🤲🤲🤲

“Ya Allah…betapa sombongnya aku berpikir bisa mengawasi, menjaga, merawat suamiku. Bahkan nafasku saat inipun harus Kau bantu. Jagalah suamiku ya, Robb. Jagalah anak-anakku yang tidur di kamar sebelah. Jagalah orangtuaku.”

Menyadari bahwa kita berada di titik nol, tak punya kekuasaan apapun untuk melawan sesuatu yang di luar jangkauan, justru meredakan kecemasan. Aku pun mencoba menghargai diriku yang semula merasa tak berdaya karena tak bisa berada di samping suami.

🎍💐🎍💐

“Bukan hanya para suami yang sedang berjuang saat ini, jauh terpisah dari keluarga. Mencari nafkah halal. Para istri yang berada di basecamp, menjaga diri dan anak tetap sehat juga tengah berjuang. Dengan segala keterbatasan yang ada. Termasuk keterbatasan kepastian, kapankah bisa bertemu dengan suami. Berkumpul bersama seperti dulu.

Kesabaran adalah perjuangan.

Dan kita adalah para pejuang. Termasuk aku.”

Well, setidaknya, kata-kata hiburan itu membuatku tampil sebagai pemenang 😊

Ciri-ciri anxiety atau kecemasan
Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pernikahan “New Normal” & Keluarga “New Normal”

Pernahkah terbayang pisah dari pasangan (suami/istri) lebih dari 3 bulan?Oke, mungkin ada yang terpisah untuk sementara waktu selama 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan 24 bulan. Ada istri yang terpisah dari suami saat suami studi di luar negeri selama 2 tahun, karena beasiswa minim. Tapi itu kondisi extraordinary. Bukan kondisi normal pada umumnya.Ada yang suaminya baru pulang 3 atau 4 bulan sekali karena bekerja di pertambangan pedalaman yang sangat sulit dijangkau kendaraan. Boro-boro mobil. Sinyal saja susah. Tapi itu kondisi extraordinary, bukan kondisi normal pada umumnya.


Ada orangtua yang baru boleh menengok anak di pesantren dengan jadwal ketat 6 bulan sekali, atau bahkan 12 bulan sekali. Tapi tidak semua pesantren atau boarding school memberlakukan jadwal demikian.
Sekarang, sepertinya kita harus mulai merencanakan bahwa bertemu dengan anak-anak atau bertemu dengan istri/ suami, bisa jadi baru terealisasi berbulan-bulan kemudian. Sejak era pandemic, beberapa teman berkata tidak bertemu pasangan lebih dari 1 bulan. Bahkan ada yang sudah 4 bulan tidak bertemu.


Strategi apa yang bisa dilakukan bagi pernikahan dan keluarga “New Normal” agar keluarga kita tak berantakan akibat kehidupan yang tidak dapat diprediksi beberapa waktu ke depan? Finansial, edukasi, bahkan sekedar tatap muka saja menjadi sebuah abnormalitas. Keluarga yang stabil saja bisa berubah labil, apalagi yang sejak awal sudah menghadapi prahara. Bisa-bisa karam sebelum pandemic selesai!


🧕👳‍♂️1. Setiap keluarga harus memiliki guru spiritual yang memahami agama. Entah ustadz/ustadzah, dai/daiyah, Pak Kiai/ Bu Nyai. Buat apa? Ada banyak yang harus kita tanyakan. Misal, banyak pernikahan yang harus diselenggarakan lewat media online. Lalu, bagaimana solusi bagi suami istri yang tidak bisa bertemu lebih dari 3 bulan? Seorang yang faqih dalam agama akan membantu kita untuk memahami hal-hal haram halal, termasuk kondisi kedaruratan.


👩‍🏫👨‍🏫2. Setiap orangtua harus belajar menjadi guru. Ada anak-anak yang bisa disegerakan masuk sekolah ketika nanti jadwal tahun ajaran baru diberlakukan. Tapi ada anak-anak yang rentan secara fisik dan psikis, mungkin harus lebih lama di rumah. Homeschooling, kejar paket, dan pembelajaran sejenis akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi orangtua.


💵💰3. Setiap anggota keluarga harus paham mengelola keuangan. Kondisi finansial setiap keluarga saat ini bukan berada dalam kurva normal. Perusahaan ambruk. Pabrik tutup, karyawan di-PHK. Kerjasama antar anggota keluarga sangat penting. Kalau tidak semua bisa menghasilkan uang, setidaknya setiap orang bisa meminimalisasi pengeluaran.Misal, ketika dulu setiap kamar harus menggunakan AC, maka sekarang anak-anak perlu dikondisikan untuk menggunakan AC bergantian. Atau tidur bersama dalam satu ruang ber-AC di kamar ukuran paling besar, jika memungkinkan. Beberapa teman yang memiliki anak usia kuliah memutuskan untuk cuti dari kuliah dan membantu orangtuanya berbisnis demi mendapatkan pemasukan yang lebih stabil untuk keluarga.


✊💪4. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kekuatan positif.“Jangan lupa untuk Dhuha 4 rakaat,” si Abang mengingatkan saya dan adik2nya. “Aku pernah baca kalau Dhuha 4 rakaat, maka Allah akan menjamin rizqi kita hari itu.”Sebuah afirmasi yang bagus bagi kami untuk lebih giat melakukan 4 rakaat daripada hanya sekedar 2 rakaat.“Saya takut mati. Belum siap. Tiap hari bayang kematian itu begitu dekat,” ucap beberapa klien saya. Kondisi pandemic ini membuat setiap orang merasa maut mengintai. Bagus, jika itu akan meningkatkan kedekatan kita pada Tuhan. Buruk, bila yang meningkat adalah anxiety.Suami saya tak kurang cemasnya. Meng-share berita tentang tingginya angka penderita Covid 19 di Jawa Timur, meng-share berita tentang teman-temannya yang berpulang karena sakit.

Siapapun cemas.

Siapapun tertekan saat ini.

Saya pun juga takut kematian, seperti anda!

Tapi saya tidak boleh menambahkan minyak ke dalam api.“Hayo Mas, kita list siapa saja teman-teman kita yang masih sehat. Yang mau naik haji, yang berprestasi.”Bisa jadi suatu saat saya yang terjebak kecemasan dan suamilah yang harus membesarkan hati saya. Ketahuilah, pikiran positif akan membuat sebuah kesengsaraan lebih lembut terasa. Ketika kita bilang , “insyaallah gak akan jatuh.” Lalu kita terjatuh, pikiran kita akan berkata bahwa itu hanyalah terpeleset kecil.


💗☪️💖5. Setiap keluarga harus memiliki waktu khusus untuk diskusi. Yang di rumah, harus menyempatkan untuk duduk melingkar bersama. Yang terpisah, harus meluangkan untuk zoom atau vidcall. Bahasan penting harus mulai dikaji, ditelaah, didiskusikan dengan kepala dingin. Dua anak kami seharusnya menyelesaikan studi tahun ini. Tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi.“Kalian harus siap ya, kalau ternyata studi kalian lebih lambat selesai.”

💑6. Setiap suami-istri harus berlatih dan memiliki skill komunikasi jarak jauh. Apa saja yang bagus untuk didiskusikan? Apa saja yang sebaiknya dihindari? Pembicaraan humor dan jokes harus lebih sering dilakukan. Hindari perbincangan yang memunculkan perdebatan sengit semisal pro kontra kebijakan PSBB. Haduh, copy darat saja bisa silang pendapat, apalagi kita berdebat lewat vidcall! Termasuk, kita mencoba berhati-hati ketika menyampaikan masalah keluarga.
❌“Anak-anak jadi sulit diatur sejak bapaknya jarang pulang,” misal istri mengeluhkan demikian.Memang, anak yang lama tidak bertemu sosok ayah akan gelisah. Tapi bukan demikian kalimat yang seharusnya dipilih. Karena bisa jadi si suami sekaligus ayah, di seberang sedang rindu dan cemas dengan kondisi dirinya pribadi.
✅Kita bisa memilih :“Ayah…ada gak kalimat semangat yang mau disampaikan untuk si Sulung? Dia lho sekarang yang jadi komandan di rumah.”Maksud hati, kita akan menyampaikan : si Sulung ini berulah. Gak ngerti tanggung jawab. Gak ngerti taat pada orangtua dst! Tapi kita membahasakan dengan kalimat yang lebih positif.Semoga setiap keluarga sukses melewati masa-masa penuh tantangan pandemic Covid 19!

Sinta Yudisia

#stayathomemom

#stayathomewife

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

7 Cara Melawan Kecemasan Akibat Pandemi Covid 19

Mengapa pandemic kali ini diibaratkan medan perang? Karena tak seorangpun tahu berapa intensitasnya, berapa durasinya. Banyak hal tak terduga terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan membombardir benak : apa aku akan dipecat? Apa bisnisku akan gulung tikar? Bagaimana anak istriku? Apakah ada teman atau saudara meninggal? Atau, akankah aku meninggal akibat pandemic ini?Ibarat medan tempur, kita semua adalah prajuritnya. Prajurit sejati tak akan pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana musuh akan menyerang. Ia harus siap, itu saja. Bahkan prajurit paling terlatih sekalipun, pernah mengalami anxiety atau bahkan depresi. Tetapi manusia selalu mampu -atas izinNya- menjadi pemenang dari berbagai pertempuran paling berbahaya di dunia.

Di barat ( co/: Amerika), pandemic Covid 19 menghasilkan situasi parallel yang baru : pandemic kecemasan. Bagi kita , situasi ini perlu diwaspadai dan dicermati. Ibarat prajurit yang baik, semakin mengenal medan dan senjata yang dimiliki, semakin baik melakukan pertempuran dari waktu ke waktu. Mari kita lakukan langkah berikut 😊


1. Aktivasi hati🌞💎

Overthinking menjangkiti sebagian besar warga dunia. Pemikiran yang terlalu berlebihan membuat kita cemas menghadapi hal-hal rutin, apalagi hal besar. Oh, anak sudah hampir masuk sekolah. Ah, suami tak bisa pulang lantaran terjebak lockdowndi seberang sana. Dari mana sumber pikiran berasal? Dari otak dan hati. Otak dan hati yang kosong, akan terisi dengan hal-hal keruh. Karenanya, aktivasi otak dan hati kita dengan terus berdenyut mengingatNya.

Seorang ibu yang memasak bisa mengaktivasi hatinya dengan berkata : Ya Allah, bantu aku agar masakan ini jadi enak. Seorang ayah yang berkubang dengan pekerjaannya mengaktivasi hatinya : Ya Allah, cukupkan rizkiMu. Jagalah istri dan anak-anakku, jaga orangtua kami yang tak dapat kami jenguk lantaran corona virus.Ajarkah anak-anak untuk mengaktivasi hati mereka.

“Nak, tiap kali kalian main game, baca bismillah. Tiap kali kalian nge-zoom dengan teman-teman, niatkan silaturrahim mencari ridhoNya. Kalau kalian buka line dan IG, jangan lupa baca bismillah dan shalawat.”Mungkin, konten yang dibaca anak-anak kita tak lazim untuk diawal dengan basmallah dan shalawat. Tapi inilah saatnya, mengaktivasi seluruh hati anggota keluarga untuk terhubung kepadaNya. Siapa tahu dengan demikian, anak-anak akan mengurangi keretergantungannya pada gadget. Suami akan tetap focus pada pekerjaan dan tidak mulai berpikir macam-macam (naudzubillah). Semoga para suami yang telah berpisah lebih dari 3 bulan dengan istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan dan kesabaran.


2. Sibuk, sibuk, sibuk🏃‍♂️🏃‍♀️

Walau di rumah, jangan nganggur.Jangan terlalu banyak tidur dan bolak balik membuka channel yang sama.Sibuk, sibuk, sibuklah. Bongkar lemari. Tata kembali letak baju dan buku. Bongkar isi googlefoto dan bersihkan. Bongkar file-file lama dan rapikan. Bertanam, berkebun, atau memelihara hewan. Sibukkan pikiran, sibukkan hati, sibukkan fisik. Jangan ada kekosongan di benak dan hati; juga jangan biarkan anggota keluarga kosong dengan kelengahan. Rebahlah di pembaringan ketika mengantuk sangat, jangan ketika pikiran masih bisa berkelana dalam lamunan panjang. Pekerjaan yang biasa dilakukan pembantu, bisa diambil alih. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan kita, kerjakan.


3. Ngobrol🗣🗣Anda terjebak sendiri , di perantauan? Mahasiswa atau pekerja?Sesungguhnya, anda butuh sangat teman mengobrol. Tapi, tak selalu ada pihak yang bisa diajak video call dengan whatsapp, line, zoom, google duo. Selain kesibukan, kuota jadi keterbatasan. Mengapa tak mencoba bercakap-cakap dengan Quran? Setiap kali membaca Quran dan mengeluarkan suara, posisi kita seperti orang yang tengah “bercakap-cakap”. Kita bicara, Tuhan Mendengar. Kita mendengar, Tuhan Berbicara.

Hm, kalau sudah berbicara dengan Quran dan ingin pengalaman lain?Baiklah, coba cara ini. Anda harus cari teman mengobrol. Pernah coba google assistant?

Di keluarga kami, pernah melakukannya.“Hi, do you know Siri?”Google assistant menjawab, “Siri works for Apple and I prefer…oranges.”Hahaha…lumayan terhibur!


4. Berkesenian🎥✒️

Tak heran Gal Gadot mencoba menyanyi dan diunggah. Banyak orang mencoba bernyanyi, meski suara mereka auto fals. Banyak orang mencoba kembali bermain musik, meski tak semahir Brian May atau James Hatefield. Kita harus menperhalus rasa dengan berkesenian. Entah menyanyi, memainkan music, menyusun puisi, melukis, membuat kaligrafi, membuat patchwork, membuat food-art, atau mencoba seni-seni popart lain macam Andy Warhol. Seni akan memperhalus budi pekerti seseorang dan membuat kita tidak hanya berpikir hal-hal yang banal atau perifer, tapi yang dalam dan penuh makna.Suami saya mengalihkan energi dengan melukis.Sepanjang pandemic ini sudah 4 lukisan di atas kanvas yang diselesaikan. Awalnya, ia terlihat resah dan panik, seperti orang-orang pada umumnya. Belakangan, wajahnya terlihat ceria dan happy, alhamdulillah. Kata suami, ia bisa beralih dari pemikiran negatif seperti kematian, pandemic, issue ekonomi; ke arah hobi melukis.


5. Pelajari hal baru 👩‍🏫👩‍🍳

Stacko?Uno?Pernah main dua hal di atas?Ada hal-hal baru yang sepertinya nggak terlalu penting tapi bagus untuk dipelajari agar pikiran relaks dan hati gembira. Saya pribadi baru bisa main kartu uno ketika wabah Covid 19 melanda. Bukan bermain kartunya yang penting, tapi ternyata, duduk melingkar berenam sembari bermain kartu membuat kita bisa saling bercerita banyak dalam situasi santai.Mempelajari permainan anak-anak sekarang yang dulu belum dikenal, bisa membangkitkan kegairahan yang baru.Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah juga bagus. Saya dan si bungsu kembali belajar menulis huruf hanacaraka. Dulu saya mahir sekali membuat surat dengan huruf jawa kuno ini, tapi sudah lupa karena berbagai kesibukan. Yang suka Jepang bisa belajar hiragana dan katakana, yang suka Korea bisa belajar hangeul.


6. Dengarkan, ucapkan berulang kalimat yang membawa semangat ✊💪Mendengarkan murottal Quran dan ma’tsurat dari gadget atau komputer adalah langkah terbaik. Saya suka sekali 2 ayat terakhir al Kahfi dan sering mengulang-ulanginya. Seperti sebuah sihir, penghibur, pengingat; ada banyak ilmu Allah yang tidak kita ketahui sama sekali.Kalau anda masih suka mendengarkan lagu-lagu, pilih yang membangkitkan semangat. Jangan yang justru mengulang-ulang kepedihan : patah hati, memory masa lalu yang menyakitkan, kegagalan.

Fight Song (Rachel Platten) bisa membuat lebih semangat terhadap kegagalan. Ulangi kalimat :

I only have one match

But I can make an explosion.

Ya, kita mungkin mengalami banyak kegagalan di era pandemic. Tapi ada masanya suatu saat kita akan membuat ledakan dahsyat dengan prestasi positif yang mencengangkan!

Double Knot (Stray Kids) juga bagus didengar.

Stand up wherever you go

You’ll make it with no trouble..

Cause my life is a five star movies

I am not done yet so

My life, your life are five star movies!


7. Carilah nasehat 💞

Kala kegundahan sudah terlalu parah, kecemasan menggerogoti, anxiety dan depresi menjadi penyakit; tak ada salahnya segera mencari nasehat. Nasehat-nasehat bijak dari guru agama bisa menjernihkan hati. Saya suka mengulang-ulang iklan Zain Ramadan 2020 . Salah satu kalimat yang saya suka, sebuah nasehat berharga :Pandemic ini pasti akan meninggalkan kitaTapi Tuhan tak akan pernah meninggalkan hambaNya

Kategori
Artikel/Opini Cinta & Love Hikmah Karyaku My family Oase Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Referensi Fiksi Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Aku Pernah Merasakan Keajaiban Surat Al Kahfi💔

Pernahkah dikhianati oleh sahabat sendiri?
Ditipu hingga belasan bahkan puluhan juta?
Aku pernah merasakannya. Salah seorang yang kuanggap teman baikku, sahabatku, ternyata menipu sebuah institusi hingga puluhan juta rupiah padahal aku yang memperkenalkan teman baikku pada institusi tersebut. Sudah kulacak bukan hanya lewat whatsapp bahkan kudatangi hingga ke apartemennya di Jakarta. Tapi ia lenyap menghilang begitu saja. Ternyata bukan hanya menipuku, ia juga menipu banyak sekali teman-temanku yang lain.

💔😭
Terus terang, aku tak sampai hati mencaci-maki dan mendoakan yang jelek-jelek, mengingat ia single parent sejak lama. Aku masih berprasangka baik bahwa ia terjebak hutang piutang dan masalah besar sehingga harus menipu sana sini. Meski dari beberapa temanku sudah keluar kata-kata sumpah serapah dan mendoakan ia sejelek-jeleknya, aku hanya bisa berharap suatu saat ia sadar dan mengembalikan semua uang yang dilarikannya. Ia sudah membuat derita banyak orang, tentulah hidupnya sekarang juga sangat menderita; gak usahlah ditambahi lagi dengan doa yang jelek untuknya. Aku tak pernah percaya ada orang yang bisa hidup bahagia di atas derita orang lain! Mungkin ia bahagia dan tertawa, tapi yakinlah hanya sebentar saja.

🧐🧐
Kita pasti pernah mengukur diri sendiri, bukan?
Kalau telat bayar infaq apalagi zakat; ada saja musibah menimpa. Aku pernah menunda-nunda infaq; sepeda motorku bocorlah. Rusaklah. Pompa air meledak. Anak sakit. Pokoknya, keluar uang lebih banyak. Ketika kurenungkan; sayang-sayang uang buat infaq akhirnya malah keluar banyak.
Persepsiku, bakhil infaq saja sudah diperingatkan olehNya. Apalagi memakan uang orang lain , terlebih uang institusi ZISWAF, tentulah merasakan banyak peringatan dari Allah Swt.
Hari-hari awal aku sadar kalau ditipu, rasanya dunia runtuh.
“Masa’ sih? Dia kan sering main ke rumah? Dia kan pernah nginap di rumah? Kami dekat, sering ngobrol. Apa kebutuhannya, kita bantu.”

🏴‍☠️🏴‍☠️
Tidak percaya bahwa seorang sahabat baik bisa menipu sedemikian rupa!
Kalau dibilang nangis, sudah lewat. Marah, ngamuk; sudah nggak bisa dilakukan. Saking getirnya hanya bisa mengucap istighfar. Semoga aku sekeluarga dapat ganti rizqi lebih baik, semoga Lembaga ZISWAF yang ditipunya semakin banyak donatur, dan semoga ia sekeluarga diluruskan kembali oleh Allah Swt.

💗💕🕌🕋
Saat-saat sedih itulah, aku memperbanyak sholat sunnah dan baca Quran. Entah mengapa salah satu surat favoritku adalah al Kahfi. Suatu saat, saking sedihnya aku tertidur. Dalam mimpi, aku melihat ibuku memakai mukena, memelukku dari belakang.
“Al Kahfi,” bisiknya di telingaku.


Aku terbangun.
Terheran.
Bukankah aku sering baca al Kahfi? Bukankah aku senang dengan surat al Kahfi? Meski tak dibilang sangat menguasai tafsirnya; aku tahu isi surat al Kahfi tentang pemuda Kahfi, kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir, juga kisah Dzulkarnain beserta Yajuj Majuj.

💤💤
Kenapa aku mimpi ibuku, mengenakan mukena, memelukku dan berbisik al Kahfi? Aku mengikuti makna mimpiku, sebab kata Ibnu Khaldun, mimpi yang teringat terus saat bangun tidur tanpa susah payah diingat merupakan ilham Tuhan. Aku membaca al Kahfi berikut artinya. Aku lupa, entah saat itu Jumat atau tidak.

1️⃣8️⃣ : 8️⃣8️⃣
Kubaca satu demi satu artinya, hingga sampai ke ayat yang ke- 88

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā
Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” ( 18 : 88)
Entah mengapa mataku dan hatiku terpaku pada ayat ini. Kucari-cari tafsirnya, yang kuingat adalah, bahwa setiap berbuat kebaikan kita akan mendapat balasan. Dan kita bisa meminta balasan pada Allah Swt sebesar kebaikan yang kita pernah lakukan.

Aku berdoa pada Allah, seolah pamrih dengan kebaikan yang pernah kulakukan meski sedikit. Aku tahu, kebaikanku, amalku, pahalaku jauh dari layak. Untuk membayar nikmatNya saja tak akan pernah mampu kulakukan. Tetapi, entah mengapa saat itu aku ingin menagih padaNya. Mungkin, menagih hiburan atas kejadian buruk.

Setelah kejadian itu, betapa banyaknya nikmat Allah Swt yang dicurahkan kepadaku. Banyak sekali nikmat-nikmat rahasia yang tak dapat kuperinci satu persatu. Mulai dari novel-novelku yang alhamdulillah lancar terbit, lolos di SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture) dll.

Ohya, karena demikian terkesan oleh surat al Kahfi, secara special surat ini kucantumkan di salam novel 💗Reem💗 yang diterbitkan Pastelbooks, lini Mizan di tahun 2017. Sudah baca, belum? 😊

( renungan di masa pandemi corona virus / covid 19)

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Ramadhan dalam Irama Covid 19 : Sebuah Renungan Pribadi

3  ayat berikut dari surat al Baqarah, rasa-rasanya demikian akrab menjelang kehadiran bulan mulia yang dinantikan sekaligus dicemaskan oleh kaum muslimin di tahun 2020 atau bertepatan dengan 1441 H . 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa  ( 2 : 183)

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( 2 : 184)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur ( 2 : 185)

☹Hari-hari ini, serasa kita tidak berada di ayat 183 atau 185.

Siapa yang hari-hari ini merasa sehat dan kaya? Sepertinya kita merasa sakit oleh gelombang Covid 19 dan merasa miskin karena hantaman ekonomi. Cuaca demikian panas, orang bersin dan batuk di mana-mana. Ya, selama ini  kita terbiasa melihat orang batuk bersin. Sekarang, serasa setiap orang adalah OTG  dan superspread. Melihat orang memakai masker curiga, melihat orang tanpa masker apalagi.

💰💷💶Kaya?

Siapa sekarang orang yang merasa kaya?

PHK, tutupnya toko dan perusahaan, jarangnya orang belanja untuk kebutuhan sekunder tersier; membuat ekonomi lesu dan setiap orang memperketat uang belanja. Ekonomi dunia merosot tajam, pertumbuhan nyaris minus. Ekonomi rumahtangga apalagi.

Tetapi, rasa sakit & miskin ini semoga tidak menghambat kita untuk  menjadi orang beriman dan bertaqwa. Tetap puasa, meski tanpa kolak dan nata de coco. Tetap bergairah puasa, meski tenggorokan rasa tercekat akibat cuaca panas dan virus seperti mengendap-endap menyisir jalan pernafasan.

Panggilan bagi orang beriman ini bertujuan untuk meningkatkan taqwa.

Arti taqwa dalam hadits Arbain ke-18 adalah :

….

عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : «اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

…..dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Betakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia.” HR. At-Tirmidzi

Iringi keburukan dengan kebaikan.

Nabi insani yang begitu manusiawi, memahami psikologis manusia. Seorang konselor, terapis, manusia paling humanis, manusia paling altruist. Motivator yang bukan hanya membangkitkan semangat, tapi tahu cara bertahap. Beliau paham bahwa taqwa adalah ketakutan kepada Allah Swt tetapi bukan berarti menegasikan kesalahan dan kekurangan manusia. Manusia akan selalu salah, lupa, khilaf bahkan khianat. Tapi sifat manusiawi yang kadang lekat dengan ciri syaithani itu harus diiringi dengan sifat mulia para malaikat.

Suka hoax? Ayolah, kenapa tak sesekali menyebar berita positif.  Suka mendebat? Come on, sesekali meredam ego. Konsumtif? Sesekali cobalah gabung di sedekah Jumat. Korupsi, manipulasi, monopoli? Hei, kenapa tidak sekali saja di Ramadan ini berbagi dengan seluruh lapisan rakyat memerangi Covid 19?

Rasulullah Saw tahu; manusia yang sudah bertahun-tahun lekat dengan sifat hedonis dan permisif tidak akan mampu berubah agamis kecuali sedikit-sedikit. Kecuali setahap-setahap. Dan Allah Swt Yang Maha Pemurah menerima kebaikan meski sebelumnya mungkin pelakunya berbuat maksiat.

Ah, pernahkah kau dengar sebuah cerita haru ini?

♥ ♥ ♥ “Aku seorang penjaja seksual. Lebih dari seorang PSK, aku adalah seorang gigolo. Tapi perlu kalian ketahui, semua penjaja seks tahu bahwa pekerjaan ini  haram dilakukan dan jauh di lubuk hati kami didera rasa bersalah. Setiap malam aku bermimpi, mimpi yang membuatku bangun basah berkeringat. Mimpi yang mencekikku. Dalam mimpi itu aku diperlihatkan siksa kubur. Siksa kubur ! Belum siksa Jahannam.

Lalu aku bertanya pada orang-orang : apakah aku masih boleh sholat?

Seorang Ustadz berkata : “Ya, kamu harus tetap sholat.”

Aku bertanya, “Meski aku masih jual diri?”

“Meski masih jual diri!”

Kata Ustadz tersebut, kalau aku sudahi sholat dan baca Quran, maka aku semakin jauh dari Tuhan.

Sejak saat itu aku menggelar sajadah dan sholat Isya , malam hari sebelum menjaja diri. Teman-temanku mentertawakan aku, “ Gila lo! Mau jual diri, masih sholat? Emang diterima??!”

Aku tak peduli. Sholat urusanku dengan Tuhanku. Dan entah mengapa, meski pikiran dan tubuhku tarik menarik antara baik-buruk, baik-buruk; aku sampai pada sebuah kesimpulan : taubat harus segera dilakukan.”♥ ♥♥

Wahai pembaca, tahukah anda? Si gigolo itu lalu bertaubat, dan tak lama sesudahnya ia meninggal, insyaallah husnul khatimah. Ia pergi dengan membawa taubat dan penyesalam dalam.

Iringilah keburukan dengan kebaikan, sekecil apapun. Baiklah, kita tidak bisa berinfaq 100% seperti Abubakar ra. Belum bisa sedekah 50% harta seperti Umar ra. Bahkan, belum bisa memberikan infaq terbaik seperti Utsman ra. Yang kita keluarkan masih sedikit. 100 ribu sedekah seperti banyak sekali, 100 ribu kuota seperti sedikit sekali. Enggan sedekah uang; kita masih bisa sedekah dengan cara lain. Memberikan ucapan selamat kepada orang yang tak kita kenal di media social atas keberhasilannya atau kelahiran anak pertamanya. Walau bahkan tak pernah datang ke pernikahannya , atau tak pernah bertatap muka sama sekali!

Dan pada akhirnya, seperti ayat 185 .

Kita diminta untuk bersyukur.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak mengalami cerebral palsy seperti salah seorang sahabat, sehingga ia tic tremor perlu bersusah payah membuka HP dan mengetiknya.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak low vision seperti salah seorang sahabatku, sehingga perlu mendekatkan HP sejarak 1 cm ke depan mata. 💗🤲Bersyukur masih tidak kehilangan pendengaran, sehingga dapat menikmati spotify baik yang gratis atau premium.

💗🤲Bersyukur tinggal di Indonesia, dimana adzan terdengar di mana-mana. Suatu saat jika ke Jepang atau Korea, hatimu akan tersayat perih merindukan kumandang adzan mengingatkanmu untuk berbuka.

💗🤲Bersyukur meski bosan WFH, bukan kita yang berada di garda depan mengenakan baju APD yang luarbiasa panasnya.  Bersyukur meski bosan dengan makanan yang itu-itu juga; kita bukan driver ojol yang menanti antrian makanan dan mengantarkan ke depan rumah orang yang menyambut dengan senyuman masam.

💗🤲Bersyukur dalam segala kesempitan era Covid 19; bukan tubuh kita yang terbujur kaku, dibalut plastik erat, dimakamkan dalam kesunyian pelayat. Bersyukur bahwa, sekali lagi di Ramadan tahun ini, Tuhan masih mengizinkan kita melakukan kebaikan (sedikit) yang mengiringi keburukan di 11 bulan nyaris tanpa henti!

💗🤲Bersyukur bahwa, di curahan Ramadan ini, kita bisa memanjatkan doa apa saja dan tanpa sadar, doa-doa itu telah dikabulkanNya secara diam-diam.

Akhir Sya’ban 1441 H

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Artikel/Opini Hobby Kepenulisan KOREA My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Tokoh WRITING. SHARING.

Yiruma 이루마 : Korea bukan hanya K-Pop

Awalnya, mau buat video pendek buat ngisi acara parenting sama mengulas beberapa buku. Biasanya mengulas buku atau membuat uraian parenting dengan tulisan; kali ini agar audience gak bosan, aku coba buat video dengan Kinemaster. Pokoknya harus nyoba buat sendiri, karena kalau nggak nyoba, gak pernah tau salah di mana. Meski jelek, gakpapa. Yang jelek itu bisa diperbaiki. Tapi kalau nol sama sekali, malah gak bisa di upgrade.

Nah, gegara buat video inilah, aku butuh suara-suara latar di belakang. Entah lagu atau instrumentalia. Karena referensiku minim, selama ini tahunya instrumentalia ya model Beethoven, Mozart, atau Canon-D Pachbel. Paling kekinian Ievan Pollka yang lazim digunakan untuk Senam Pinguin.

Siapapun suka Beethoven- Fur Elise dan Mozart – Rondo Alla Turca, especially orang-orang macam diriku yang sudah senior hehehe. Tapi kan, kubuat video itu harapannya biar ditonton segala usia? Utamanya remaja dan young adult, gitu. Kalau ada latar instrumentalianya, ya yang indah dan ringan. Gak sangat spektakuler megah kayak Alla Turca.

Lalu cari-cari, entah gimana sampailah pada Yiruma. Kupikir dia orang Jepang. Namanya Yiruma gitu. Seperti Naruto, Tsubata, Noriko. Gitu-gitulah. Eeeh ternyata 이루마 atau  Yi-Ru- Ma. Marga Korea di depan yang popular adalah Kim dan Lee. Kalau Kim (atau Gim) , gak banyak berubah ketika diromanizasikan. Kalau Lee, itu yang banyak diubah agar mudah.

Aslinya adalah 이atau i. Kalau lidah Indonesia biasa aja bilang ‘i’ , tapi tidak dengan lidah luar negeri. Sehingga awalan 이 (i) dalam 이루마  (I-Ru-Ma) ini seringkali diubah menjadi Lee atau Yi. Jadi, nama asli Yiruma ini sebetulnya adalah I-Ru-Ma.

Kembali ke instrumentalia.

Yiruma ini bikin banyak orang komen di videonya. Ada yang bilang kalau jadi kepingin jadi pianist kayak Yiruma. Ada yang bilang kalau permainan musiknya sangat menyentuh. Ada yang bilang kalau di aitu asli Korea, jangan salah sangka kalau dia orang Jepang, ya! Ada beberapa instrumentalia Yiruma yang aku suka dan sudah (dan akan ) kupakai untuk video-videoku.

Mulai rutin buat video 🙂 Youtube Mendampingi Anak di Era Lokcdown
  1. River Flows in You
  2. Reminiscent
  3. May be, dll

Kalau Kiss  the Rain aku gak terlalu suka. Gegara udah keseringan dipakai buat acara motivasi ya kwkwkwk.

Setelah tau Yiruma ini, aku menyadari bahwa industry music Korea bukan hanya KPop yang banyak mempenetrasi pasar dengan lagu-lagu easy listening. Korea benar-benar menyiapkan sumber daya luarbiasa terkait entertainment, terutama seni musik. Selain menggarap anak-anak muda yang suka KPop, para remaja dan dewasa awal yang suka drakor dan film Korea; ternyata orang-orang serius pun menjadi target sasaran Korea dengan menyuguhkan musik-musik apik seperti karya-karya Yiruma 이루마.

Yiruma in header link

Kategori
Artikel/Opini My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Topik Penting WRITING. SHARING.

Manusia Maunya Minum Obat

Pernah dengan efek placebo?

Placebo effect adalah fenomena ketika orang merasakan manfaat setelah mengkonsumsi sesuatu yang sebetulnya hanya merupakan zat inactive saja. Misal ada 90 orang yang sedang diteliti menggunakan obat A sebagai obat flu. 30 orang diberi obat A, 30 orang tidak diberi obat apapun, dan 30 orang lagi diberikan kapsul kosong hanya berisi air tetapi diberitahukan bahwan kapsul tersebut berisi obat A.

Hasilnya?

Orang yang mengkonsumsi obat A sembuh dari flu, orang yang tidak mium obat A tetap sakit. Dan orang yang pura-pura diberi obat A ternyata juga sembuh dari flu! Orang yang pura-pura diberi obat A dan menyatakan diri sembuh, inilah yang disebut efek placebo.

Kita sebetulnya bisa memanfaatkan kasus placebo ini untuk diri sendiri dan keluarga.

Obat Flu Berat

Saya sering flu berat. Mungkin karena begadang malam saat harus menyelesaikan tulisan. Biasanya, yang bisa menyamankan tubuh adalah segelas teh hangat manis dengan irisan lemon.

“Lho, yang manjur ya air jeruk lemon hangat ,” tegur ibu. Beliau seringkali mengkonsumsi kunyit dan lemon sehari-hari.

“Nggak kok,” saya bersikeras. “Teh lemon menyembuhkan juga.”

Dan, teh lemon itu masih ada syaratnya : dibuatkan oleh suami atau anak-anak.

Apakah teh lemon itu yang menyembuhkan? Atau saat sakit saya pingin lebih egois dan manja dan cari-cari perhatian? Ataukah sebetulnya teh lemon itu diganti segelas kopi pans atau susu panas, tetap menyembuhkan; asal yang membuatkan suami dan anak-anak?

Entahlah.

Yang pasti rumus kesembuhan saya adalah minuman panas + dibuatkan orang kesayangan.

Apakah rumus ini berlaku buat anda? Belum tentu. Anda harus cari efek placebo sendiri.

Obat Sakit Perut

Penyakit saya yang lain adalah sakit perut. Kembung karena masuk angin hingga sering diare.

“Lha kamu itu sakit perut kok malah makan rujak, sih?” tegur ibu saya keras.

“Ini bukan bakteri kok, Ma,” jawab saya sok tahu. “Ini masuk angin.”

“Wis karepmu!” kata ibu saya , menyerah. Terserah elo deh!

Kalau masuk angin parah gegara begadang, penyakit yang timbul adalah diare. Kembung parah. Sampai agak muntir-muntir. Kalau sudah begini bisa dipastikan sulit tidur dan nggak doyan makan apapun. Padahal bisa tidur dan bisa makan adalah salah satu kunci kesembuhan. Akhirnya, saya berpikir keras, makanan apa yang merangsang nafsu makan supaya saya doyan makan dan segera sembuh.

Mie instan + telur + cabe, rujak pedas, sambel terasi; kadang malah jadi pintu kesembuhan. Syaratnya yaitu tadi, harus yakin bukan karena penyakit akibat bakteri hehehe.

Secara teori orang sakit perut harus menjaga makanan. Tapi kadang, kalau sudah mulut pahit dan gak doyan makan, saya yakin bahwa makanan ‘unik’ yang saya pilih justru membantu sembuh.

Placebo & Covid 19

Tanpa perlu memandang remeh pada Covid 19; sebagian kita terbagi dalam beberapa kubu. Sangat ketakutan, atau sangat meremehkan. Seharusnya kita berada di tengah-tengah. Tetap waspada, menjaga diri seperti yang disarankan pakar kesehatan, tidak cemas berlebih sehingga menjadi anxiety.

Katakanlah, kita memang sudah membawa virus Covid 19 dalam tubuh kita. Apa yang terjadi ketika kemudian panik setengah mati, merasa sebentar lagi mati, rasa kering di tenggorokan akibat cuaca panas sudah seperti sesak nafas hebat sehingga merasa perlu segera ke RS?

Pandangan “sebentar lagi mati” itu sangat bagus dalam konsep agama. Tapi bukan dihadapi dengan meratap, heboh dan panik. Justru sebaliknya : memperbanyak ibadah, membuat wasiat, memberikan nasehat penting kepada keluarga sekitar, jika masih ada harta disimpan utk ahli waris dan sebagian dibagikan. Bayangkan andai “sebentar lagi mati” justru dihadapi dengan panic buying lantaran takut mati kelaparan.

Bayangkan placebo effect  ini ketika ternyata kita memang terjangkit Covid 19.

  • Meminum kunyit dan meyakininya bahwa kunyit anti inflamasi dan mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tak peduli ada jurnal yang (memang benar) menyatakan kunyit tak ampuh.
  • Meminum lemon dan meyakininya memiliki banyak vitamin C, meski ada yang meyatakan vitamin C tak banyak memberikan pengaruh.
  • Banyak minum air putih, yakin bisa sembuh,  meski ada yang menyakininya tak ada hubungan air putih dengan kekebalan tubuh.
  • Banyak berdiam di rumah dan meyakininya bahwa ini ampuh untuk memutus mata rantai Covid 19, meski berita berkata semua orang di kota besar adalah OTG.
  • Banyak minum air kacang hijau yang banyak mengandung vitamin E dan meyakininya bagus untuk melawan Covid 19 meski jurnal yang menyatakan itu masih sedikit.

Manusia selau butuh obat dan merasa nyaman ketika mengkonsumsi obat yang diyakininya mujarab. Ada orang yang merasa harus beli obat paten, meski isinya mirip dengan generic. Ada orang yang merasa harus minum obat tertentu, meski kunci sebenarnya harus istirahat dan makan bernutrisi.Ada orang-orang yang merasa sakit ketika belum bertemu dokter, dan harus ketemu dokter, dan langsung sembuh ketika dokter bilang, “Anda gakpapa, kok, !”

Meski sekian banyak membaca sumber berita dan tidak ada satupun tanda-tanda sakit yang diderita; rasa-rasanya tubuh tetap sakit dan penyakit “jangan-jangan” timbul tenggelam di benak. Jangan-jangan sudah terjangkit. Jangan-jangan sudah parah. Jangan-jangan sudah positif. Bahkan ketika tubuh tidak tumbang karena Covid 19, orang bisa mati karena rasa cemas dan takutnya yang berlebih.

Manusia butuh obat ketika ia (merasa) sakit.

Kalau kita merasa terus-terusan sakit, obat semahal apapun tidak menyembuhkan. Sebaliknya, bila yakin bahwa obat murah pun  bisa menyembuhkan, tubuh segera pulih.Tentu, ini tanpa mengabaikan saran dan kepakaran ahli medis, ya!

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498