Takudar III : The Road to The Empire

vlcsnap-86773

Mencari akar sejarah Islam, merunut dan menuliskannya adalah pekerjaan panjang yang mebutuhkan keuletan dan kerja keras. Banyak hambatan, kendala, rintangan, seringkali datang dari dalam diri pribadi yang merasa lelah berikut bosan : kok nggak selesai-selesai? Kok menulis sekian lama baru jadi limapuluh  halaman? Kok jalan ceritanya jadi begini sih? Kok dialognya serasa nggak berbobot? 

Thanks to The Almighty God : akhirnya Takudar seri 3 selesai juga. Sekalipun yang ketiga ini insyaAllah jauh lebih berbobot dari yang 1 & 2 , tentu belum ada kepuasan yang sempurna.

Editor buku ini pak Maman S. Mahayana, seorang sastrawan UI yang banyak memberikan kritik saran. Beliau berkata, serial Takudar bisa mengisi kekosongan Kho Ping Hoo sekalipun saya harus belajar banyak tentang detil cerita. Pujian pak Maman melambungkan kepercayaan diri, tapi di akhir revisi beliau memberikan catatan yang buanyaak sekali : kalau ingin Takudar berbobot , harus di perbaiki di sana sini.

Jadilah saya memeras pikiran dan tubuh yang sudah sangat lelah berbulan-bulan menyelesaikan novel ini. Hunting puluhan (mungkin ratusan) situs Mongolia. Jika koneksi internet di rumah ngadat, hunting ke warnet terdekat. Kadang ada keinginan menggeleitik, toh penerbit sudah acc, ngapain repot-repot di revisi lagi? Dah deadline nih! Waktunya menghitung royalti!

Tapi benarkah royalti satu-satunya pedoman kita dalam menghasilkan karya?

Sembari hunting situs2 tentang Mongolia, saya jadi belajar banyak tentang sejarah dunia, mempelajari tokoh2 Islam dan non Islam. Bagaimana Jenghiz Khan dan Hitler bekerja keras menyatukan bangsa mereka demi kebangkitan nasional, bagi orang yang mempunyai cita-cita besar, kerja keras dan disiplin adalah persyaratan mutlak.

Salah satu yang membuat saya bersikeras menyelesaikan novel ini sebaik2nya adalah : sangat sedikit sumber sejarah yang bercerita tentang Takudar Muhammad Khan ( ada yang menuliskan Ahmad Tegude). Beberapa sumber meyebutkan kepemimpinannya 1282-1284 atau 1292-1294, masa yang sangat singkat tetapi itulah sejarah pertama kali Mongolia dipimpin kaisar muslim. Peninggalannya mungkin tak banyak namun memberikan cataan sejarah bermakna bagi kita : nun di sana, di buah negeri Hoh Tenger dengan langit biru yang mempesona, dimana ger dipenuhi ornamen indah, lelaki dan perempuan mengenakan del anekawarna dilengkapi louz di kepala dan gutul di kaki; kaum nomaden yang hanya mengenal pengelanaan dan peperangan, kaum yang kejam ketika menaklukan, adalah kaum yang jujur ketika menemui nilai-nilai kebaikan : lihatlah ketika Islam mulai menyentuh Mongolia. Tiga agama yang menjadi dasar hidup bangsa ini sekarang adalah Shamanisme, Nasrani dan Islam dengan masjid2 yang mempesona.

Semua itu boleh jadi berawal dari perjuangan dan pengorbanan Takudar yang hanya sempat 2 tahun memimpin sebelum terbunuh…..

29 thoughts on “Takudar III : The Road to The Empire

  1. yuliku berkata:

    mba boleh ya bukunya sy resensi tak masukan ke blog sy. tapi setelah sy selesai baca bukunya tentunya🙂

    Mba memangnya ada Takudar 1 dan 2?? wah saya ketinggalan info ya. kira-kira sy bisa dapat bukunya dimana ya?

    Syukron

    Visit My Blog yuliku.wordpress.com

    • sintayudisia berkata:

      Ada dek, tapi beda penerbit dan covernya. Takudar I judulnya Sebuah Janji (GIP), Takudar II judulnya The Lost Prince (GIP). KAyaknya masih ada di toko buku. Kalau kesulitan bisa kontak mbak di 08563229782. Selamat membaca ya…Doakan supaya The Road to The Empire best seller.

  2. Maman S Mahayana berkata:

    Anda hebat! Sesungguhnya, ketika saya mengedit naskah Anda, saya belajar banyak dari novel itu. Puluhan cerita silat (Kho Ping Ho, Gan KL, SD Liong, dan entah siapa lagi) sudah saya baca. Tetapi cerita silat itu kurang sekali bobot sejarahnya. Takudar karya Anda itu sudah berhasil mengisi kekosongan. Selamat ya. Ditunggu karya sejenis yang lebih hebat dengan detail yang tidak dilewatkan.
    Maman S Mahayana

    • sintayudisia berkata:

      Assalamu’alaikumwrwb.
      Pak Maman, saya maluuuu banget kalau ketemu pak Maman. Tanpa bimbingan Bapak, naskah saya amburadul banget. Doakan murid Bapak ini ya biar tetap ikhlas, istiqomah, produktif berkarya untuk ummat. Salam untuk keluarga ya Pak. Azakumullah

      • Iseng-iseng saya membaca kembali novel Mbak Sinta. Jika dulu saya membaca untuk keperluan penerbit, kini untuk kepentingan diri sendiri. Ah, ternyata novel itu kaya informasi, narasinya asyik, bahasanya (menurut istilah HB Jassin) gurih! Betul! Biasanya buku yang sudah dibaca, malas melanjutkan kembali karena sudah tahu isinya. Ini TIDAK! Asal tahu saja, novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, dan sejumlah novel lain (Olenka, Burung-Burung Manyar, Para Priyayi –sekadar menyebut beberapa) saya baca lebih dari tiga kali. Dan selalu mengasyikkan. Novel Mbak, Takudar, ternyata juga masih mengasyikkan. Artinya, novel itu cantik, dan orangtak akan bosan menikmati apa pun yang cantik. Selamat ya! Sekarang saya di Seoul.

  3. argishoney berkata:

    Mba Inta…

    Takudar ke-4 ada ga??
    Q penasaran banget ni, masa endingnya Almamuchi pergi??

    Terus si Takudar kok baru 2 taun uda meninggal??Emank di bunuh ama siapa??

  4. argishoney berkata:

    Mba Inta…

    Takudar ke-4 ada ga??
    Q penasaran banget ni, masa endingnya Almamuchi pergi??

    Terus si Takudar kok baru 2 taun uda meninggal??Emank di bunuh ama siapa??

    Makasih:)

  5. wassito berkata:

    dalam novel itu ada yang sedikit mau saya tanyakan mengenai sejarah. Takudar Khan adalah penguasa Mongolia dari Dinasti Il Khan yang memerintah daerah persia hingga irak ( coba liat di wikipedia). Beliau adalah putra dari Hulaghu Khan, sang pendiri dinasti ini yang pada tahun 1258 menghancurkan Baghdad. Namun di buku anda ini. Takudar Khan memerintah selama dua tahun yaitu tahun 1282-1284. Ia segera digulingkan karena menganut agama islam. Namun dibuku anda, Takudar menjadi putra dari Tughuq Temur Khan yang merupakan penguasa Mongolia dari dinasti Cagatai Khan yang memerintah pada tahun 1348-1363. Kisah ia bertemu dengan Syeikh Jamaludin, benar adanya. Tapi berbeda dengan yang dikisahkan dibuku anda. Dari sumber di internet yang saya baca. Tugluk Temur Khan akhirnya masuk agama islam beserta pengikut-pengikutnya. Dan terakhir ia kelak dikalahkan oleh Timur Lenk, sang pendiri dinasti Timurid. Jadi bagaimana anda menjelaskan kerancuan sejarah ini?

  6. wassito berkata:

    Dinasti Ilkhan didirikan oleh Hulagu Khan yang merupakan putra dari Tuli Khan. Dinasti ini menguasai Iran, Iraq, Afghanistan, Turkmenistan, Armenia, Azerbaijan, Georgia, Turki, dan Pakistan Barat. Dinasti ini berdiri tahun 1256. Pada tahun 1258, menghancurkan kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad.. Berikut daftar penguasa Dinasti Ilkhan :
    Hulagu Khan (1256-1265)
    Abaqa Khan (1265-1282) : Putra Hulaghu Khan
    Ahmad Tegüder (Takudar Khan) (1282-1284) : Masuk Islam. Putra Hulagu Khan
    Arghun (1284-1291) : Putra Abaqa Khan, menggulingkan Takudar Khan.
    Gaykhatu (1291-1295)
    Baydu (1295)
    Mahmud Ghazan (1295-1304)
    Muhammad Khodabandeh (Oljeitu) (1304-1316)
    Abu Sa’id Bahadur (1316-1335)

    Jadi gimana nih mbak Sinta mengenai fakta sejarah ini.
    Oh ya pasca wafatnya Kubilai Khan: Imperium Mongolia terpecah : 1 Dinasti Yuan yang menguasai Cina, Dinasti Ilkhan, Dinasti Cagatai Khan dan terakhir Golden Horde. Nah Tuqluq Temur Khan merupakan penguasa dari pecahan Cagatai Khan, dan berkuasa pada tahun 1348-1363. Sebelum menjadi Khan, sewaktu mudanya beliau bertemu dengan Syeik Jamaludin, dan berjanji akan masuk islam bila menjadi Khan Moghulistan yang merupakan pecahan dari Cagatai Khanate. Nah sewaktu menjadi Khan Moghulistan putra Syeik Jamaludin menagih janji tersebut. Dan Tuqluqh Temur pun masuk islam yang diikuti oleh pengikut-pengikutnya ( ada yang menyebutkan sebanyak 160.000 orang. Dan putranya bernama Ilyas Khoja, bukan Takudar. Tuqluqh Temur dan putranya ini kemudian dikalahkan oleh Timur Leng. Mulanya Timur Leng itu adalah gubernurnya sendiri.

    Nah jadi gimana nih mbak Shinta…….?

  7. wassito berkata:

    Daftar Penguasa Mongolia
    Khan Besar (Great Khan) :
    1206-1227 Genghis Khan
    1229-1241 Ogedei Khan (Khakhan) – Putra Genghis Khan
    1246-1248 Guyuk Khan (Khakhan) – Putra Ogedei
    1251-1259 Mongke / Mengku Khan (Khakhan) – Putra Tuli
    Setelah wafatnya Mongke, pada tahun 1260, 2 Khakhan terpilih dan saling bersaing dalam Khuriltai : Ariq-Boke (saudara Kubilai), yang memerintah dari Karakorum, dan Kubilai, yang memerintah dari China. Kubilai mengalahkan Ariq-Boke pada tahun 1264, sehingga kepemimpinan mongolia pun tetap tunggal.
    1264-1294 Kubilai Khan (Khakhan)
    Setelah wafatnya Kubilai, Tidak ada lagi pemilihan Khan Besar. Kekaisaran Mongolia terpecah-pecah menjadi negara-negara otonom, yaitu : Dinasti Yuan di Cina, Golden Horde di Rusia, Chagatai Khanate di Asia Tengah, dan Il Khanate di Persia.

    Wali (Penguasa sementara) menjelang pemilihan Khan Besar.
    1227-1229 Toli – Putra Genghis Khan, Ayah dari Kubilai, Mongke, Ariq boke dan Hulaghu.
    1241-1246 Toregene Khatun – Istri Ogedei, Ibu Guyuk
    1248-1251 Oghul Ghaymish

    *Kaisar Dinasti Yuan (1272-1368) yang menguasai daerah Cina

    1260-1294 Kublai Khan (Shizu)
    1272-Kubilai menggunakan Gelar Dinasti Yuan
    1294-1307 Temur Oljeytu Khan (Chengzong)
    1307-1311 Qayshan Guluk / Hai-Shan (Wuzong
    1311-1320 Ayurparibhadra / Ayurbarwada (Renzong)
    1320-1323 Suddhipala Gege’en / Shidebala (Yingzong)
    1323-1328 Yesun Temur (Taidingdi)
    1328 Arigaba / Aragibag (Tianshundi)
    1328-1329 Jijaghatu Toq-Temür (Wenzong)
    1329 Qoshila / Qutuqtu (Mingzong)
    1329-1332 Jijaghatu Toq-Temür (Wenzong)
    1332-1333 Rinchenpal Irinchibal (Ningzong)
    1333-1368 Toghan-Temür (Shundi )
    Kekuasaan Mongolia di China berakhir pada tahun 1368. Toghan-Temur wafat pada tahun 1370 di Karakorum. Keturunannya memegang kekuasaan di Mongolia sampai wafatnya Titulair Khan (Khakhan) pada 1634

    *Il-Khanate Persia (1260-1335) yang menguasai daerah persia hingga perbatasan Syria (Iran, Iraq, Afghanistan, Turkmenistan, Armenia, Azerbaijan, Georgia, Turkey, dan Pakistan Barat)

    1256-1265 Hülegu (cucu Genghis Khan, adik Kubilai)
    1260-Mengambil langkah politik dengan mendirikan Pemerintahan Il-Khanate
    1265-1282 Abaqa : Putra Hulaghu
    1282-1284 Ahmad Tegüder (Takudar Khan) : Putra Hulaghu dan masuk Islam
    1284-1291 Arghûn : Putra Abaqa, memberontak pada Takudar Khan.
    1291-1295 Gaykhatu
    1295 Baydu
    1295-1304 Mahmûd Ghâzân : Pada masanya Islam menjadi agama negara. Tapi tetap memerangi negeri muslim lainnya. Akhirnya berperang dengan Mesir dan dikalahkan. Dalam pasukan Mesir terdapat Syeikh Ibnu Taimiyah.
    1304-1316 Muhammad Khudâbanda Öljeytü
    1316-1335 Abû Sa’îd
    Il-Khan menjadi lemah setealah wafatnya Abu Said, dan terpecah-pecah menjadi beberapa wilayah yang otonom. Keadaan ini mirip dengan yang terjadi dalam Kekaisaran Mongolia, dimana Keruntuhannya begitu cepat setelah masa keemasannya. Daratan Persia kelak dipersatukan kembali oleh Timur Lenk.

    *Chagatai Khanate yang menguasai daerah Asia tengah yaitu dari daerah selatan Laut Kaspia sampai Pegunungan Altai (daerah perbatasan China dan Mongolia). Termasuk kota Bukhara, Samarkand dan Kabul.

    1227-1244 Chagatai (Putra dari Genghis Khan)
    1244-1246 Qara Hülegü
    1246-1251 Yesü Möngke
    1251-1252 Qara Hülegü (kembali berkuasa)
    1260-1266 Orqina Khâtûn
    1266 Alughu
    1266-1271 Mubârak Shâh
    1271-1272 Baraq Ghiyâth ad-Dîn
    1272-1282 Negübey
    1282-1306 Toqa Temür
    1306-1308 Du’a
    1308-1309 Könchek
    1309 Kebek
    1309-1320 Esen Buqa
    1320-1326 Kebek
    1326 Eljigedey
    1326 Du’a Temür
    1326-1334 Tarmashîrîn ‘Alâ’ adDîn (Masuk Islam yang mengakibatkan terpecahnya kerajaan)
    1333-1368 Taliqu
    1334 Buzan
    1334-1338 Changshi
    1338-1342 Yesün Temür
    1342-1343 Muhammad
    1343-1346 Qazan
    1346-1358 Danishmendji
    1358 Buyan Quli
    1359 Shâh Temür
    1359-1363 Tughluq Temür : Sewaktu mudanya bertemu dengan Syeik Jamaludin dan berjaniji masuk Islam bila sudah menjadi Khan. Janji itu ditepati dibawah bimbingan Syeik Rasidudin (putra Syeik Jamaludin), dan banyaklah pengikutnya yang masuk islam.

    1363-1405 Timur Lenk mengambil alih kekuasaan Chagatai Khanate. Pasca wafatnya, Penguasa Chagatai Khanate mengalibil alih kembali. Chagatai Khanate menjadi negara kecil sampai abad ke -18 , yaitu ketika ditakluknan oleh Dinasti Qing.

    *Khans Golden Horde (Kipchak Khanate) (1242-1359) menguasai daerah Rusia,

    Jochi (Putra Genghis Khan) menggunakan Keluaraga Emas
    1242 – 1255 Batu Khan (Putra Jochi)
    1242-Golden Horde secara politik didirikan
    1256 – 1257 Sartak
    1257 Ulagchi
    1257 – 1267 Berke (Saudara Batu Khan) : Masuk Islam dan memerangi Hulaghu Khan atas perbuatannya menghancurkan Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad. Ia juga bersekutu dengan Sultan Baybars dari Kesultanan Mamluk yang menguasai Mesir
    1267 – 1280 Mongke Temur
    1280 – 1287 Tode Mongke
    1287 – 1291 Tole Buqa
    1291 – 1313 Toqta
    1313 – 1341 Muhammad Özbeg
    1341 – 1342 Tonibek
    1342 – 1357 Janibek
    1357 – 1359 Berdibek
    Wafat tanpa pengganti. Golden Horde terpecah ke beberapa faksi.
    1378 – 1395 Tokhtamish (Dari Faksi Blue Horde)
    Penyatuan beberapa faksi dan White Horde pada tahun 1378 berhasil memepertahankan Golden Horde. Dikalahkan oleh Timur Lenk tetapi Timur tidak pernah secara resmi menganeksasi wilayah Golden Horde dalam Kedaulatan Timur. Wafatnya Timur Lenk pada tahun 1405 menciptakan ketidakstabilan politik yang besar.
    1395-1430an (15 Penguasa)
    Pada tahun 1438, Khanate Kazan memisahkan diri dari Golden Horde. Keberadaan Golden horde menjadi dikenal sebagai Great Horde.

    Khans of the White Horde (?-1377)

    1226 – 1280 Orda
    Sangat sedikit diketahui tentang White Horde, meskipun diketahui keberadaanya antara Golden Horde dan Dinasti Yuan.
    1280 – 1302 Kochu
    1302 – 1309 Buyan
    1309 – 1315 Sasibuqa
    1315 – 1320 Ilbasan
    1320 – 1344 Mubarak Khwaja
    1344 – 1374 Chimtay
    1374 – 1376 Urus
    1376 – 1377 Toqtaqiya
    1377 Temur Malik
    White Hordes bergabung dengan Golden Hordenya Tokhtamish pada tahun 1378

    Khans of the The Great Horde (1435-1502)

    1435 – 1465 Kuchuk Muhammad
    Khanate Astrakhan dan Khanate Crimea memisahkan diri dari Great Horde
    1465 – 1481 Kochu
    Ivan III mengusir kekuasaan Mongolia dari Russia pada tahun1480.
    1481 – 1498 Buyan
    1481 – 1499 Sasibuqa
    1499 – 1502 Ilbasan
    Great Horde ditaklukan oleh Khanate Crimea pada tahun 1502, dan secara umum masih disebut sebagai “Golden Horde.” Khanate Crimea bertahan sampai tahun 1783, yaitu ketika dianeksasi oleh Rusia di bawah pimpinan Catherine the Great

    Nah dari data diatas. Terus terang nih, saya jadi dak selera untuk membaca novel mbak ini. Terlalu fatal kesalahannya. Kho Ping ho juga pernah melakuakan hal yang sama pada serial Pendekar Pulau Es. Pada Episode Istana Pulau Es, Dinasti yang berkuasa dicina saat itu adalah Dinasti Sung yang sedang mengalami keruntuhan. Sejarah mencatat Dinasti Sung digantikan oleh Dinasti Yuan. Eh pada episode selanjutnya yaitu yang berjudul Pendekar Super Sakti (Suma Han), dinasti yang berkuasa adalah Dinasti Qing. Dimana Cina saat itu dikuasai bangsa Manchu. Dinasti Sung berakhir sekitar tahun 1279. Dan digantikan Dinasti Yuan yang berbangsa Mongolia. Dinasti Yuan digantikan dinasti Ming yang berdiri tahun 1368 sampai tahun 1644. Nah ditahun 1644 ini lah berdirinya dinasti Qing. coba liat ada berapa ratus tahun cerita itu melompat. Padahal Pendekare super Sakti adalah kelanjutan Istana Pulau Es. Dan tokoh-tokoh dalam istana pulau es pun muncul dalam Pendekar Super Sakti…… Dan ternyata mbak mengulangi kesalahan yang sama…… Memang dari segi sastra, karya mbak sudah dinilai bagus oleh kritikus sastra, tapi mengenai kerancuan sejarah, siapa yang tanggung jawab…… ? Dari segi setting cerita dan penokohan, serta tahun-tahun kejadian, terlalu rancu……

    • sintayudisia berkata:

      Assalamu’alaikumwrwb
      Jazakumullah (mas, pak?) Wassito atas apresiasi & kritiknya yang luarbiasa. Kebetulan koneksi internet di rumah ngadat, jadi baru sekarang saya bisa membalas imel anda. Saya senang sekali dapat masukannya. Perlu saya tekankah bahwa novel bergenre sejarah, sangat berbeda dengan buku ajar sejarah. Menurut Walter Scott & Lukacs, ada beberapa perbedaan interpretasi bagi seorang penulis dan pembaca menikmati novel terutama dengan latar sejarah.
      Bagi saya pribadi, saya sudah mati-matian menggali informasi tetang Mongolia bahkan memburu buku baik versi Indonesia maupun versi luarnegeri. Bahkan sampai sekarang sayapun masih hunting sejarah Genghiz Khan.
      Saya menulis Takudar sejak 2002-2003, dengan bekal sangat minim. Ketika itu novel dengan tema cinta sangat-sangat diminati, salahs atu novel saya Lafaz Cinta jadi best seller dan saya diminta oleh penerbit puluhan kali untuk membuat novel bergenre sama. Tapi saya pribadi, sebagai seorang penulis, merasa punya tanggung jawab untuk menuliskan novel & cerpen dengan tema epik.
      Sebuah keinginan yang ingin saya angkat adalah bagaimana kaum muslimin semakin mengenal tokoh2 Islam mereka baik dalam karya sastra atau tulisan ilmiah lainnya. seperti Sholahuddin al Ayyubi, begitu banyak versi mulai yang mencaci hingga memujanya. Tetapi para pahlawan Islam sangat sedikit yang mengupasnya, padahal masyarakat kita dewasa ini sangat membutuhkan seorang figur. Lalu saya menemukan dalam The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold catatan tetnang Takudar. Maka sejak 2003 saya membuat novel Sebuah Janji & The Lost Prince. Perlu pak wassito ketahui, bahwa 2 novel yang sebelumnya sangat tidak diminati pasar tapi saya berkeyakinan, seorang penulis bukan hanya berorientasi pada royalti dan ketenaran. Maka saya merasa punya tanggung jawab untuk menuliskan para pahlawan Islam dengan beban luarbiasa : beban lelah mencari referensi, bertanyakesana kemari, beban teknis pokoknya….berikut tekanan penerbit : buku anda tidak ada nilai jualnya. Tetapi saya yakin, novel yang terbit kali ini harus membuat orang terhenyak bahwa di tengah perilaku hedonis manusia yang sibuk kesana keamri mencari dunia…kita masih menemukan para pahlawan Islam yang luabiasa.
      Terlepas dari kesalahan tentang Takudar, sebagai manusia saya tentu punya khilaf. Kapan2 saya ceritakan perjalanan panjang ya…berikut apa yang saya sembunyikan dari perjuangan Mongolia yang sesungguhnya. Kalau nanti saya beberkan semua sejarah tentang Mongolia berikut kekejaman terhadap kaum muslimin, saya khawatir akan memicu kebencian pada salah satu kaum ….bagaimanapun terimakasih atas kritiknya. Kepada siapapun, saya selalu meminta doa. Kalaupun anda tidak menyukai novel ini, saya harap anda mendoakannya semoga novel ini barakah. Semoga anak-anak kita, cucu & keturunan kita lebih mengenal Shalahuddin al ayyubi, Thoriq bin Ziyad, Takudar Khan, Ananda Khan, Jabbir al Hayawan..dsb dibandinng naruto, kakashi, tenten, shikamaru dkk; lalu batusai, avatar dsb.
      salam untuk keluarga ya…

      • Maman S Mahayana berkata:

        Mbak Sinta. Jawaban Anda pada kritik Mas Wasita, luar biasa arifnya: bijaksana, dewaa dan matang. Jarang sekali penulis yang berbesar hati menerima kritik pedas. Tapi Anda cool dan menjawabnya dengan kebesaran jiwa.
        Perkara bahan yang Anda olah, memang sangat-sangat-sangat berat. Iulah sebabnya, sedikit sekali orang yang coba mengambil tema sejarah. Dan hasilnya, kerap menimbulkan kontroversi. Di situlah barangkali banyak orang yang cari gampang dan cari selamat: menulis novel tanpa riset dan sekadar mengandalkan imajinasi. Sebagian besar novelis kita cenderung bermain dengan imajinasinya. Itu yang disebut Subagio Sasrowardojo sebagai bakat alam. Novelis –yang serius– memang dituntut tidak sekadar mengandalkan imajinasi. Dan karya-karya yang seperti itu umumnya kemudian menjadi monumen. Lihat saja karya Ibn Thufail, Hayy Ibn Yaqzhan, Perang dan Damai, Toltoy, Ivandenisovitch–Silzinitsyin, atau sebut saja karya Hemingway, Steinbeck, Flaubert, atau para pemenang nobel. Semua (tidak sebagian besar: semua) memperlihatkan sebuah lanskap informasi yang kaya. Pembaca tidak sekadar disodori kisah fiktif belaka, tetapi juga pengetahuan tenang manusia, dll. Itulah yang membedakan novel populer dengan novel serius. Di situ pula fungsi sastra jadi alat yang mengilhami.
        Perkara data sejarah, kelalaian seperti itu sangat lazim, tak tak jadi soal, karena novel bukan buku pelajaran sejarah. Jadi tak apa-apa. Meski data sejarah tetap pening, yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengarang memaknai fakta sejarah itu dan coba menyampaikan sesuai dengan hati nurani, semangat, gagasan, dan ideologinya. Karya-karya Pram, sebut saja misalnya, Arus Balik yang tebal itu, banyak sekali fakta sejarah yang menyimpang. Bagaimana masuknya Islam digambarkan dengan kekerasan dan pembantaian? Jadi, apa yang sudah Anda lakukan adalah sesuatu yang luar biasa yang orang lain tidak sanggup melakukannya, seperti juga Pram. Bukankah Pram juga tetap menjulang sendiri sebagai maestro novelis Indonesia?
        Komentar saya ini sesungguhnya ingin menegaskan: jawaban Anda pada kritik itu menunjukkan jiwa besar Anda. Sastrawan sejati adalah mereka yang berjiwa besar!
        Selamat. Teruslah berkarya!
        Salam
        Maman S Mahayana

      • sintayudisia berkata:

        Jazakumullah pak Maman…atas dukungannya. InsyaAllah saya tetap bersemangat dan berusaha memperbaiki diri. Doa dan dukungan pak Maman semoga terus mengalir ya…salam untuk keluarga

  8. wassito berkata:

    Mbak, Shinta, saya ada usul. coba mbak menulis novel tentang sultan Mahmud dari Ghazni atau juga tentang munculnya dinasti Seljuk…. berikut pahlawan-pahlawannnya seperti Tugril Bek, Alp Arslan, Malik Shah dan sebagainya. Atau tentang perjuangan Imadudin Zanki merebut kembali kota Edessa dari pasukan SAlib yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya : Nurudin Mahmud…… Genrenya bisa mencontoh dengan novel mbak ini…… atau juga gayanya novel TAIKO, yang menceritakan tentang perjalanan Hideyoshi dari seorang prajurit hingga menjadi TAIKO…… bagaimana….?

    • sintayudisia berkata:

      Assalamu’alaikumwrwb. Maaf ya…koneksi internet di rumah error jadi harus nyempetin keluar rumah. Saya senang epik, meski ada ‘ketakutan ‘ juga. Saya pernah menulis cerpen2 pahlawan Islam . “Syair di tepi Natharnagar” dimuat di Annida, sedikit menyinggung tentang Mhamud Ghazni. Masalahnya, Mahmud Ghazni di beberapa sumber justru dianggap menyebarkan Islam dengan keji dan begitu menyukai pertumpahan darah. Begitupun Nuruddin Zanki, sempat berselisih tajam dengan Shalahuddin al Ayyubi, penakluk perang Hattin. Bagaimanapun, saya kemarin termenung juga ketika bertemu Valerie Miner, penulis Amerika. Sebuah cerita bukan hanya punya dua sisi, hitam putih. Tapi ia bisa punya 4000 makna ketika dikisahkan. Artinya, penulis boleh memiliki sudut pandang tersendiri ketika menuliskan sesuatu. Jazakumullah atas masukannya. Jangan lupa doakan saya & keluarga ya, juga FLP yang saya pimpin semoga senantiasa istiqomah di jalanNya

  9. Lidya berkata:

    Assalamualaikum wr. wb

    aduh mbak, gimana ya? saya ini kan baca d road 2 empire nya ajah.., trus saya juga cuma anak sma kls 3 yg memeng hobi baca n lagi fokus buat ujian nas. tapi, semoga aja mbak baca ya??

    Lidya bener2 tertarik sama baginda takubar khan. n shock wkt tau masih ada buku bukunya lg…
    kalo boleh minta, boleh kasih tau judul2nya n masih ada di pasaran nggak tu buku?

    saya pengin deh ni punya sejarah tentang beliau, trus di bunuh ama siapa? menikah nggak? punya anak berapa?? de el el…

    thank a lot ya mbak kalo udah baca…

    mencari saya mah cukup di l_velesia.1991@yahoo.com aja… syukron jazilan!

    Wassalamualaikum wr. wb

    • sintayudisia berkata:

      Assalamu’alaikumwrwb.
      Lidya yang cantik sholihah…makasih dah baca karya mbak ya. Semoga sukses sekolahnya, bisa kuliah dan tercapai cita-citanya amiin. Takudar itu memang sangat sedikit dituliskan sejarahnya, tentang bagaimana jalan hidup dia memang masih ‘remang-remang’. Mbak masih hunting sejarah lengkap Mongolia. Doakan ya…doakan buku mbak barakah & best seller

  10. yenti berkata:

    keren abissssssssss
    baru dua hari yang lalu aku baca buku ini.
    pertama kali aku liat bukuini di pajang di toko buku, aku langsung jatuh hati.dan ternyata bener-bener keren abis. aku seneng banget pas tahu pengarangnya orang indonesia.aku termasuk pncinta novel sejarah terutama tentang tokoh-tokoh islam. karena kurang banget referensi tentang mereka. kalo mbak sinta punya buku sejarah islam atau tokoh islam tolong kasih tahu k email aku yach (chem_1326@yahoo.co.id) judul dan g mana mendapatkannya.maju terus kesusastraan indonesia dan dunia islam.

  11. Asswrwb…………
    Nanda Sinta selamat ya untuk award IBF 4 RoTtEm, maaf aku blum sempet baca baru dikirimin temen sih…….karena masih banyak buku yang ada belum terbaca. Ngantri gitu. Ceritanya aku juga (dulu ) kutu buku, sekarang dah mulai tua sejak pake kacamata jadi mbaca rada lama.
    Tapi senang dah baca dikit2 resensinya, dan hrs beburu buku Takudar 1, 2, 3 abis baru tahu sih. Pensiun 6 bulan lagi aku mau focus baca………..
    Best regard

    • sintayudisia berkata:

      Ibu…Subhanallah…masih rajin membaca ketika mau pensiun? Jadi pingin berkenalan lebih lanjut dengan Ibu. Ibu ada dimana?

  12. santo berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Salam kenal.
    Menarik juga kisahnya. Kapan terbit lanjutannya. Maksudnya setelah era Takudar berkuasa.

  13. wassito berkata:

    Assalammu’alaikum pak Maman. Ternyata pak Maman belum menangkap point kritikan saya… Yang saya maksud adanya kerancuan sejarah yang tidak masuk akal dalam karya mbak Shinta. Mungkin dalam karya mas Pram bisa diterima oleh logika.. Nah kalau yang ini, nggak bisa diterima logika. Masak Takudar Khan yang dalam fakta sejarah memerintah daerah persia pada tahun 1282-1284 berayahkan Tughluq Temur Khan yang memerintah daerah Moghulistan yang merupakan daerah Chagatai Khanaete dan memeritah tahun 1359-1363. Itu artinya ayah Takudar Khan lahir setelah Takudar meninggal, atau umur ayah Takudar lebih muda dari Takudar. Bagaimana mungkin….? Ini tidak masuk akal. Padahal faktanya Takudar merupakan putra dari Hulaghu Khan. Dan Arghun merupakan keponakan Takudar yang memerintah daerah persia tersebut setelah menggulingkan Takudar pada tahun 1284, bukan adiknya. Ia memerintah antara tahun 1284-1291. Saya hanya memikirkan kepentingan pembaca yang secara tidak langsung mendapatkan informasi yang salah dari novel sejarah ini…… Bagaimana tanggung jawab seorang sastrawan terhadap kerancuan ini… Bagaimana ini pak Maman? Jangan mentang-mentang dosen sastra menganggap hal ini masalah sepele.

    • Iseng-iseng saya membaca kembali novel Mbak Sinta. Jika dulu saya membaca untuk keperluan penerbit, kini untuk kepentingan diri sendiri. Ah, ternyata novel itu kaya informasi, narasinya asyik, bahasanya (menurut istilah HB Jassin) gurih! Betul! Biasanya buku yang sudah dibaca, malas melanjutkan kembali karena sudah tahu isinya. Ini TIDAK! Asal tahu saja, novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, dan sejumlah novel lain (Olenka, Burung-Burung Manyar, Para Priyayi –sekadar menyebut beberapa) saya baca lebih dari tiga kali. Dan selalu mengasyikkan. Novel Mbak, Takudar, ternyata juga masih mengasyikkan. Artinya, novel itu cantik, dan orangtak akan bosan menikmati apa pun yang cantik. Selamat ya! Sekarang saya di Seoul.

      Ini Komentar untuk Mas Wassito:
      1. Dosen sastra itu profesi yang sama dengan profesi lain. Profesi apa pun selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Jadi, tak ada artinya sama sekali, bahkan tak ada niat secuil pun jika saya hendak bertindak mentang-mentang. Terlalu banyak orang hebat di dunia ini. Dan Indonesia salah satu desa di dunia. Jadi, untuk apa mentang-mentang jika saya cuma titis kecil di tengah samudera. Maafkanlah. Sungguh dalam hati saya tak ada menempel sedikit pun kosa kata itu.
      2. Saya selalu menghargai sebuah karya apa pun. Apalagi karya yang dihasilkan oleh olah pikir, kreativitas. Saya meyakini, kreativitas itu representasi dari salah satu sifat Tuhan. Jadi, buat saya, karya tulis tidak sekadar ekspresi dari salah satu sifat Tuhan, tetapi juga salah satu tugas yang memang dianjurtegaskan oleh Tuhan. Saya meyakini ayat pertama (yang diturunkan Tuhan) dalam kitab suci saya. Manusia diperintahkan membaca, tentu itu berkaitan dengan kerja menulis. Jadi, dasarnya itu, mengapa saya selalu menghargai karya apa pun itu.
      3. Karya sastra itu fiksional. Mengangkat fakta menjadi fiksi. Ketika seseorang mengangkat fakta sejarah, tentu saja segala perkara yang berkaitan dengan fakta sejarah –seyogianya–diperhatikan. Tetapi, tidak jarang sastrawan melakukan kelalaian manusiawi. Jika benar novel Takudar melakukan kelalaian, novel itu bukan satu-satunya novel yang melakukan itu. Sejarah Melayu yang monumental itu juga membuat apa yang disebut uncronicle (peristiwa yang tidak sezaman ditempatkan sezaman). Merari Siregar, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Adinegoro, Pramoedya, Ahmad Tohari, dan sederet panjang pengarang Indonesia tak terhindarkan, dalam satu dua peristiwa, juga melakukan hal yang seperti itu. Tetapi tokh kesalahan kecil itu tidak harus merontokkan keseluruhan karya itu. Tak ada karya yang sempurna! Bahwa data sejarah itu penting, ya tentu saja penting. tetapi novel tetaplah novel dan bukan karya sejarah. Jika sastrawan dituntut harus sesuai menggambarkan karakter, keadaan masyarakat, fakta sejarah, fakta ilmu pengetahuan dan seterusnya, luar biasa hebatnya sastrawan itu. Bukankah kelalaian dalam Sejarah Melayu atau karya-karya Abdullah Munsyi, tidak serta merta membuat Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, luluhlantak dan masyarakatnya tersesat.
      4. Jika ada novel atau karya sastra lain yang melakukan kelalaian seperti itu lagi, tempatkan saja itu sebagai karya sastra yang memang fiksional. Karya sastra bukan karya sejarah, bukan dogma agama, bukan karya sosiologi, dst. Tempatkan pada kotaknya sebagai karya sastra. TITIK. Jadi, tak perlu kita nyinyir seperti nenek kehilangan tempat sirihnya, atau jangan pula memperlakukan diri bagai kakek kebakaran jenggot. Tempatkan segalanya dalam proporsinya, pada tempatnya, secara proporsional. Bukankah masih banyak perkara lain dalam hidup ini yang harus kita jalankan. Jika masih juga belum puas atas sebuah karya Catat: bikin karya yang lebih baik dari itu, yang lebih tebal lagi. Bikin sekarang juga!
      5. Dalam sejarah novel Indonesia sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang, catat: belum ada karya yang berbicara tentang mongolio sebagaimana novel Takudar. Jadi, novel itu yang pertama dan mungkin satu-satunya yang mengangkat peristiwa seputar Takudar. Nah!

      • Assalamu’alaikumwrwb.
        Pak Maman yang saya hormati…betul kata baginda Rasul Saw, ruh itu seperti sekumpulan burung-burung. Saya kangen sekali sama Bapak, kangen dengan wejangan & kritikannya. Sebagai pengobat rindu, saya pajang 9 Jawaban Sastra Indonesia di samping laptop, yg hanya berpindah ke rak buku sekali-sekali saja, sudah itu saya baca-baca lagi sebagai oase ilmu.
        Pak Maman…insyaAllah saya sedang menyelesaikan Takudar yang berikutnya. Semoga Bapak berkenan pula membacanya yang pertama kali. Semua kritikan yang masuk saya coba untuk memperbaiki. Saya mencoba belajar bagaimana John Shors menuliskan Taj Mahal, BAgaimana Pramoedya menuliskan Bumi Manusia, Gadis Pantai; bagaimana Ferdowsi dg Shahnameh, bagaimana Amin Malouf dengan Samarkand. Saya tahu, tulisan ini masih jauh dari sempurna tetapi hati ini terlanjur jatuh cinta pada pahlawan Islam yang nama dan pengorbanannya terkubur dalam-dalam dalam timbunan sejarah.

        Sebetulnya saya ingin sekali sperti ES Ito yang bisa menjelajah tempat demi tempat untuk mendapatkan deskripsi asli. Banyak kendala ketika saya harus ke Mongolia🙂 Semoga suatu saat Allah SWT mengijinkan saya dan juga Bapak menginjakkan kaki ke Bukhara, salah satu tempat dalam novel saya. Seorang teman backpacker sudah mengajak bertualang ke Mongolia tetapi saya masih harus menyiapkan diri dan dana juga tentunya.
        Jangan pernah bosan menasehati penulis pemula seperti saya…

        Rasanya…bahagia sekali melihat pak Maman kembali berkunjung ke blog saya. Jazakumullah pak…semoga amal Bapak, tulisan Bapak, menjadi timbangan yang senilai dengan darah syuhada. Amiin.

        Wassalamwrwb

  14. Mbak Sinta yang hebat. Tersanjung rasanya buku saya jadi “obat rindu”. Terima kasih. Buku itu sesungguhnya untuk obat tidur. Jika tidak bisa tidur, baca buku itu, niscayaakan segera tidur nyenyak!
    Mbak Sinta, bahagialah saya jika mendapat kehormatan sebagai pembaca pertama novelmu yang berikutnya. Saya tunggu sampai titik darah yang penghabisan!
    Mbak Sinta. Saya membaca tentang Mongolia, Cina, Jepang, Mesir, dst waktu Sekolah Dasar. Sampai sekarang, keinginan untuk menginjakkan kaki itu di negeri-negeri belum hilang. Jika Allah mengizinkan, Insya Allah, rasanya sudah makin dekat, terutama Jepang, dan Cina. Saya juga ingin sekali ke sana. Dari pengalaman saya, keinginan itu juga sering kali berbuah jadi doa yang makbul–terkabul. Dalam hal ini, saya kerap sangat percaya pada kekuatan gaib. Dan karya yang telah dihasilkan itu juga punya mukzijat, punya nasibnya sendiri yang membawa penulisnya entah ke mana. Jadi, saya yakin, Takudar-mu itu juga sangat mungkin membawa kita (saya juga, maksudnya) ke Mongolia. Sekarang saya di Seoul. Perjalanan ke Jepang hanya 60 menit, ke Cina -dan Mongol– hanya 90 — 120 menit. Naik kapal laut sekitar 6–8 jam dengan ongkos yang dari Seoul sangat terjangkau. Rasanya ingin juga saya dapat mengundang Anda ke Korea (mudah-mudahan masih ada program itu).Dari situ, siapa tahu, saya bisa ikut jalan-jalan ke Cina dan Mongol. Kalau tidak ada masalah, Insya Allah, saya selesai kontrak tahun 2011 atau 2012. Doakan saja, semoga saya juga kecipratan aura Takudar ya.
    Salam juga untuk Masmu (salam kenal) dan putra-putrinya.
    Seoul menjelang turun salju
    MSM

    • Jazakumullah pak Maman, atas nasehat yang senantiasa menyirami semangat saya. Semoga perjalanan Bapak barokah, Bapak bisa kembali ke tanah air untuk berbagi ilmu dengan kami. Saling mendoakan ya Pak….(saya kadang spechless kalau ketemu Bapak :-))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s