Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling WRITING. SHARING.

Seperti apa sosok Sofia di novel Sirius Seoul?

 

 

Aku teringat sepenggal percakapanku dengan Profesor Robin Kirk, pakar cerita anak yang juga ikut residensi penulis di Seoul Juli 2018 tempo hari.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ketika menulis novel untuk remaja, terlebih settingnya Jepang dan Korea?”

cover Sirius Seoul
Cover Sirius Seoul. Cantik , ya? 🙂

Kuceritakan bahwa anak muda Indonesia  menggemari Jepang dan Korea. Film-filmnya, animasi, komik, drama, musik, kuliner dan seterusnya. Banyak pertanyaan muncul di hatiku : kok bisa ya buat film sekeren itu padahal plot dan settingnya sederhana? Oh, ternyata ada kekuatan di karakter tokohnya. Kok bisa ya K-pop sekeren itu? Oh ternyata mereka tahan banting, masuk karantina bertahun-tahun sebelum debut. Filosofi han sudah mendarah daging dalam diri mereka. Yang mau sukses, harus sabar dan tahan banting.

Sosok di Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul, masih sama. Sofia, si anak yatim piatu yang merantau ke Fukuoka, nebeng hidup dan kerja di pamannya yang super galak tapi baik hati. Di Sirius Seoul, Sofia menghabiskan liburan musim panasnya di Seoul, menikmati konser boyband dan mengunjungi tempat-tempat eksotis sembari mencari jejak sepupunya yang belum pernah dikenalnya, Ninef.

Sofia yang kesasar ketika naik bis di Seoul (kiri) . Sofia dan Ninef saling bertukar cerita (kanan)

 

 

Seperti apa sosok Sofia?

  1. Energik
  2. Suka berdebat terutama dengan si Om
  3. Karena gak punya ayah, agak-agak gimana kalau ketemu cowok . Kata si Om ,”kamu jangan genit kalau ketemu cowok!”
  4. Suka makan telur. Sampai-sampai Jie Eun, Rei dan Umeko bosen lihat menu makan Sofia.
  5. Punya jiwa altruist tinggi. Kali aja dia punya kepribadian tipe A- Agreeableness, salah satu dari Big Five Personality ya?
  6. Suka pakai baju batik. Karena batik itu melambangkan budaya Indonesia yang cantik banget.
  7. Rajin kalau lagi mood
  8. Bisa tidur masih pakai jilbab dan kaos kaki kalau udah kecapekan hahaha…
  9. Kalau lagi malas, mirip banget sama Gudetama, tokokh telur dalam kartun Jepang!
  10. Bodynya atletis –bukan tipis- , maklum angkut-angkut barang di toko si Om. Lari kesana kemari dari apatonya di Fukuoka dan kampusnya di Kitakyushu. Apalagi si Om nggak suka dengan karyawan yang klemar klemer, banyak alasan
  11. Wajahnya manis, tapi jangan dibayangkan seperti Jie Eun yang mirip Rose – Blakcpink atau adiknya , Yi Kyung yang mirip Jisoo.
  12. Suka nolong orang, tapi suka ngutang ke si Om dan tantenya, Nanda yang judes tapi kindhearted.

 

Selebihnya baca sendiri aja yaaa

 

(meski Sofia masih amat sangat gaul, gak bisa lepas dari IG dan boyband girlband pujaannya; diam-diam dia terus belajar mencari jati diri. Satu yang ingin kutampilkan di novel Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul : betapa istimewanya gadis Indonesia karena mereka dikenal mandiri, baik hati dan suka menolong . Jadi, banggalah jadi gadis dan perempuan Indonesia!)

 

Mohon  doa di hari baik, bulan baik ini, agar novel Sirius Seoul lancer terbit. Barakah dan bermanfaat bagi masyarakat luas, pembaca menemukan pencerahan, serta keunggulan Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia.

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Hikmah KOREA Mancanegara Oase

Persiapan buat ke Korea

“Aduh, mahalnya!”

“Aduh gak punya uang…”

Itu kalimat yang haram dikatakan kalau kita punya cita-cita. Nenekku, bulik-bulikku, dan mamaku selalu bilang kalau kita punya keinginan, nggak usah bilang hal-hal negatif. Duh mahal. Duh nggak cukup duitku. Saat punya keinginan  langsung aja bilang, “ya Allah , mudahkan rezekiku untuk terwujudnya keinginanku.”

 

Aku aja nggak nyangka bisa ke Seoul ini. Nanti aku bahas keajaiban menjelang berangkat ke Seoul ya…

 

Kita bicara persiapan dulu. Kalau kamu mau ke Korea (baca luar negeri). Bisa jadi peraturan di Korea dan negara lain itu beda-beda.

  1. Paspor. Buat paspor jauh-jauh hari. Perkara kita mau berangkat ke LN atau nggak, urusan nanti. Sama seperti kamu punya KTP. Emang karena mau nikah baru ngurus KTP? Enggak kan? Paspor juga gitu. Kalau buat jauh-jauh hari, kita nggak gelisah karena harus nembak. Buat paspor murah, 355 ribu, asal syaratnya lengkap. Tapi kalau nembak bisa 1,2 juta, 1,5 juta, 1,9 juta sampai 4 juta!

 

  1. Visa itu kayak apa sih?  Tiap kali mau masuk negara asing selain Indonesia kita butuh visa. Pas  mau ke Korea, aku gak bisa ngurus visa sendiri. Maka  kukirim pasporku ke Jakarta. Salah satu sahabat yang mengurus visa-visaku adalah Aquila Travel, Jalan Cendrawasih 2 no 11, Cilandak, Jakarta Selaran 12420. Bisa di cek di www.aquilatravel.co.id. Pengalamanku nih…mereka cukup amanah. Buat visa ke Korea itu antara 1-2 juta,tergantung mau sekali masuk atau multiple entry. Nah, 2018 ini aku lolos ke Seoul, pihak Aquila ngecek visaku. Ternyata masih berlaku sampai 2021. Mereka hanya minta biaya admin 200 (padahal untuk orang gaptek seperti aku, mereka bisa aja kasih tarif tinggi kan?)

 

  1. Travel insurance. Untuk Seoul, mereka minta travel insurance. Buat jaga-jaga kalau kita sakit, hilang koper dll. Harganya $75. Jadi kalau nanti mendadak ada apa-apa (moga-moga aja nggak, naudzubillah) kita gak usah keluar uang. Semua udah diurus sama pihak asuransi.
  2. Tiket PP. Sekarang udah banyak banget penerbangan Surabaya-Seoul. 2016 aku ke Korea, nggak ada yang dari Surabaya. Rata-rata dari Jakarta. Semakin banyak aja yang pingin ketemu Oppa Eonni cakep yaaa. Mahal gak tiket PP? Kalau yang mau mahal juga ada, PP 50 juta kwkwkw. Mending buat haji umroh laaah. Tapi kamu bisa terus belajar cari tiket murah. Kamu bisa cari di traveloka,tiket.com, nusatrip dll. Dengan rajin cari info  kita bisa dapat tiket murah.

 

  1. Living cost. Sepanjang di Korea butuh biaya. Tukar uang rupiah kita ke won atau dollar. Berapa sih biaya yang dibutuhkan sepanjang di Korea? Ntar ada tulisan lanjutan ya.

Selamat menikmati perjalanan yang penuh hikmah ya 🙂

 

ㄷ도봐요

Ddo bwayo.

See you later.

 

 

 

Kategori
Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖

 

 

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#22 Catatan Seoul : Tertarik Islam karena Mayat

Ibu Farida atau Moon Hyun Joo, cukup lancar berbahasa Indonesia. Beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia dan menjadi istri orang Indonesia.

Feby, bu Farida, Sinta
Feby , bu Farida (Moon Hyun Joo), Sinta

Bagi orang Korea, agama tidaklah penting.

Berbeda dengan Jepang , kuil dan candi ditemukan hampir di setiap kota. Maka di Korea Selatan, nyaris tak ada tempat peribadatan warga setempat yang menunjukkan ciri religiusitas. Ajaran khas Konfusianisme masih dipegang teguh terkait kesederhanaan dan kedisplinan namun ajaran agama yang merasuk di relung hati, tak banyak diyakini masyarakat Korea Selatan.

Setelah suaminya meninggal, ibu Farida atau Moon Hyun Joo merasa kehilangan pegangan. Ia mencari pegangan dari satu demi satu agama yang dipelajarinya. Ucapan bismillah dan alhamdulillah dilakukannya ketika mengendarai mobil.

Asean 8
Prof Koh Young Hun, Feby, Sinta

Lalu kami bertemu dengannya, ketika saya dan Feby menghadiri acara Profesor Koh Young Hun di gedung Asean Korea Centre, Press Centre, Junggu – Seoul City Hall. Kami lalu mencari tempat nyaman untuk diskusi.

 

 

 

 

ASean6
Menjelaskan tentang sastra Indonesia terkini di ASEAN KOREA CENTRE

 

Ada hal-hal yang membuat Moon Hyun Joo tertarik pada Islam :

Adzan

Setiap kali mendengar adzan, hatinya merasa sangat senang, bahkan beliau berkespresi sambil mengatakan, “hati saya senaaaaang….sekali setiap dengar adzan!” sembari tangannya melekat di dada. Seolah-olah menggambarkan ekspresi kebahagiaan luarbiasa tiap mengingat ucapan adzan yang magis. Ingat tulisan saya tentang muallaf  Maryam Itaewon ?

 

Prosesi penguburan.

Ketika suaminya meninggal, hanya selembar kafan yang menyelimuti. Moon Hyun Joo masih ingat, ia sempat marah dengan prosesi penguburan itu. Mengapa tidak ada barang yang boleh dibawa? Bahkan putrinya, Diana, ingin menyelipkan sebuah surat berisi ungkapan cinta kepada ayahnyapun tak diizinkan?

“Masa sih bawa sebuah surat aja nggak boleh?” kata Moon Hyun Joo.

Ada ungkatan unik darinya, “tapi entah mengapa ya, setelah kematian suami, kita seperti dilahirkan kembali. Kita seperti berada di kehidupan yang kedua. Setiap ajaran suami, setiap kata-katanya terngiang.”

Prosesi penguburan yang sederhana membekas di benak Moon Hyun Joo dan ia menyadari memang tidak ada yang perlu dibawa manusia ketika mati nanti. Bagi Moon Hyun Joo, hanya Islamlah satu-satunya ajaran yang ia kenal, memperlakukan mayat dengan cara sangat berbeda. Hampir semua agama yang dikenalnya dan saat ini ia coba untuk pelajari; memperlakukan mayat seperti manusia hidup. Didandani, diberikan bekal pakaian dan harta. Seolah-olah kehidupan di alam kubur menyerupai alam dunia yang serba berdimensi materi.

Islam berbeda. Islam mudah.

Begitu seorang manusia berstatus sebagai mayat, tak ada lagi bahan kecil berdimensi materi yang dapat menyertai, apalagi menyelamatkannya. Hanya entitas-entitas ruhani, ukhrawi dan keghaiban yang menyertai perjalanan rahasia manusia menemui TuhanNya.

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#21 Catatan Seoul : Identitas yang Paling Mudah

Bu Widya namanya. Posisi dan pengalaman beliau  tak dapat dijabarkan dengan curriculum vitae seperti biasa. Takdir sebagai pendamping suami membuatnya tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Ketika ditanya, beliau pernah tinggal di negara mana saja, beliau lupa. Sejak kakek nenek, orangtua, hingga beliau suami istri dan kakak adik serta putra putri beliau; melanglang ke berbagai negara. Amerika, Swiss, atau negara-negara Asia Afrika pernah beliau jajagi. Ketika pertemuan keluarga besar, tak lagi dapat dibedakan anak-anak atau cucu-cucu sekarang menggunakan tradisi yang mana. Apakah barat yang egaliter? Apakah timur yang santun dan pemalu? Apakah timur tengah yang sangat strict?

Bu Widya, diusianya yang paruh baya sangat cantik dan sederhana (sayangnya beliau tak bersedia difoto hehe). Gaun lengan panjang dan jilbab kain yang melilit kepala, tanpa beragam perhiasan mencolok bergemerincingan. Diskusi dengannya mengalir mudah di sela-sela buka puasa di Saetgang, KBRI senja itu.

makan di bu yanti
Islam adalah identitas yang paling simple

Satu ungkapan beliau yang simple namun menohok, ketika saya bertanya apakah anak-anak, cucu-cucu, keluarga besar yang tinggal di beragam negara tidak mengalami culture shock atau kejutan budaya?

“Ketika kami tinggal di beragam wilayah negara, atau kembali berkumpul, kami hanya mengenakan identitas Islam. Titik. Itulah identitas yang paling mudah untuk dikenakan.”

Wow.

Identitas Islam.

Betapa indah dan mudah. Ketika kita tinggal di barat yang serba terbuka, egaliter, permisif; Islam menjadi rambu-rambu yang membatasi namun mempersilakan manusia mengambil ilmu seluas-luasnya. Gaya barat yang berbicara terus terang, apa adanya, tak memperhitungkan kasta; tak masalah selama mereka menghormati kebebasan kita beribadah dalam segala aspeknya.

Ketika tinggal di Korea dan Jepang yang dikenal pekerja keras, berbahasa penuh filosofi dan kesantunan layaknya orang timur; tak masalah juga. Selama kita dapat mengikuti karakter bekerja dan belajar tanpa menanggalkan identitas utama.

DSC_1115
Maryam yg istiqomah berhijab

Mau makan roti tawar atau roti ish, mau ditawarkan soyu atau sake, mau sakura Jepang atau kaktus gurun Sahara; ketika waktunya Ramadan ya berpuasa. Ketika waktunya sholat, ya tegakkan. Ketika belanja, belajar, bekerja ya kenakan busana menutup aurat sesuai musim. Ketika menemukan halal haram ya pisahkan.

Tinggal di 4 musim?

Tak perlu bingung dengan baju bulu di musim salju, atau tank top dan hotpants di musim panas, baju musim semi atau musim gugur. Kenakan pakaian seperti biasa, yang menyerap keringat, yang lembut di kulit. Tinggal tambahkan jaket tebal bila musim dingin tiba dan jangan lupa kerudung yang menutup kepala bagi perempuan untuk segala musim. Model, bahan, corak, motif, keluaran butik Indonesia atau italia; terserah saja.

Tak ada benturan Amerika atau Jepang, Indonesia atau Maroko, Malaysia atau Korea; sepanjang indentitas Islam dikenakan. Ketika harus lentur mengikuti karakter budaya tertentu, wajarlah, apalagi bila minoritas berada di tengah mayoritas.

Terkesan pula dengan cerita teman-teman FLP Hong Kong yang semuanya bekerja sebagai BMI. Bagaimana mereka menjelaskan Ramadan kepada majikan.

“Oh, aku sarapan kok, Bos! Cuma lebih pagi. Makan malam seperti biasa. Hanya makan siang aja yang gak dilaksanakan.”

Penjelasan seperti itu membuat si bos mengangguk, dan tidak khawatir pekerjanya mati kelaparan. Identitas Islam tetap dapat dikenakan oleh buruh seperti BMI atau ibu-ibu pejabat seperti bu Widya.

Kalau suatu saat, kita mendapatkan kesempatan melanglang buana dan tinggal di berbagai negara; jangan lupa, identitas Islam adalah identitas yang paling mudah dikenakan.

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#20 Seoul Foundation for Art and Culture (3)

 

5) Seoul Creative Spaces, Sindang

Dari semua divisi, bagi saya ini yang paling menarik.

Kenapa? Pasar ini sepanjang 400 meter berisi karya seni. Sebab mata kita dimanjakan oleh beragam produk seni!

 

Pasar seni Sindang berada di bawah tanah (underground) sementara bagian atasnya dipakai untuk pasar tradisional biasa yang menjual beragam jenis barang.

Creative Spaces Sindang, memiliki 40 studio dan toko bagi seniman untuk berkreasi menciptakan sesuatu. Tali, kertas, kawat, lempeng logam dapat menjadi produk olahan seni yang luarbiasa cantiknya. Bahkan, ada studio mini animasi!

Kalau anak-anak saya kemari, pasti mereka senang sekali melihat studio animasi mini : bagaimana cara membuat patung orangnya.

Pengunjung bisa melihat dan belajar bagaimana membuat karya-karya seni tersebut. Mana gurunya cantik-cantik lagi hehe….

Ada kerajinan kertas.

 

 

Ada kerajinan kawat.

Ada kerajinan tali.

tali sindang.JPG
Kerajinan tali

 

 

Ada animasi.

Ada kerajinan yang terinspirasi dari putri kecil seniman yang kreatif! Semua coretan putrinya diolah lagi menjadi karya seni.

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#19 Seoul Foundation for Arts and Culture (2)

 

 

  • 3) Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu

 

Divisi ini lebih kepada kantor untuk menyeleksi siapa yang berminat untuk bergabung di SFAC. Sebagai bagian dari seni dan budaya, art space Seogyo punya ruang-ruang yang cantik!

 

  • 4) Seoul Theater Center, Jongno-gu

 

Seoul punya 100 teater!

Dan semuanya aktif. Tempo hari, saya sempat lewat di perhentian bus melihat beragam pamflet pertunjukan teater versi Korea Sweeney Todd!

Kategori
Beasiswa / Scholarship Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#18 Catatan Seoul :Seoul Foundation for Arts and Culture (1)

 

Anda harus baca ini!

Bagaimana segala seni dapat memacu kreativitas masyarakat, menjadikan kota jauh lebih indah, energik dan membuka peluang ekonomi.

Seoul, sebuah kota yang maju di wilayah Semenanjung Korea. Kota dengan kontur berbukit-bukit sehingga beberapa distrik memiliki jalan yang sangat curam. Dengan segala dinamikanya, Seoul menjadi salah satu kota yang sangat dinamis dan energik di dunia. Sebagai bagian dari masyarakat modern, Seoul juga mengalami permasalahan layaknya kota besar lain. Kepadatan penduduk, tekanan  kerja, persaingan karier dan akademis, biaya hidup, benturan budaya dan lain-lain.

Untuk dapat meredam segala sisi negatif sebuah kota besar, diperlukan alihan pelimpahan emosi negatif dari masyarakat. Karenanya, Seoul menciptakan ruang-ruang seni untuk dinikmati. Menimbulkan suntikan semangat baru, kelegaan, sudut pandang yang lebih kaya, ketenangan serta kebijaksanaan.

Apa saja ruang yang digagas oleh Seoul Foundation for Arts and Culture?

  1. Seoul Art Space Yeonhui for writers
  2. Seoul Dance Center, Seodaemun-gu
  3. Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu
  4. Seoul Theater Center, Jongno-gu
  5. Seoul Creative Spaces, Sindang

Yuk kita lihat satu –satu!

 

 

Untuk Yeonhui sudah saya tulis di Catatan Seoul . Silakan klik disini.

Tahun 2016, Yeonhui bekerja sama dengan ASIA journal magazine untuk mengundang penulis internasional. Alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu penulis internasional yang diundang. Ada 3 penulis : Sinta Yudisia – Indonesia, Pankaj Dubey – India dan Prof. Batkhuyag Purukhevuu Mongolia. Sebagai penulis yang diundang kami mendapatkan fasilitas : tiket PP, per diem selama tinggal, serta tempat tinggal gratis selama sebulan lebih.

Apakah anda sebagai penulis ingin tinggal di Seoul, gratis?

Sepanjang tahun, SAS Yeonhui membuka kesempatan seluas-luasnya bagi penulis puisi, cerita pendek, novel untuk tinggal di Yeonhui. Bila lulus screening, penulis dapat tinggal 1 bulan gratis di paviliun indah dan nyaman. Ingat, di Seoul lagi. Harga hotel mahal disini.

Apa saja yang dapat disiapkan?

  1. Aplikasi lamaran dapat dikirim ke yeonhui@sfac.or.kr
  2. Uang tiket PP. Untuk dapat tiket murah,cobalah rajin hunting tiket pesawat. Biasanya, pesawat yang berangkat hari Selasa/ Rabu lebih murah.Pesan juga tiket langsung untuk pulang pergi.
  3. Bawalah bahan baku makanan uk 2 minggu atau sebulan ke depan, demi menghemat pengeluaran. Lihatlah berapa kilo bagasi yang diizinkan pesawat. Jika dapat bagasi sekitar 40 kilo, kita dapat menyiapkan bahan makanan untuk sebulan!
  4. Jangan terlalu royal belanja. Ingat tujuan kita untuk mendapatkan pengalaman berharga. Tapi kalau memang tersedia dana belanja, silakan ke Insadong. Makanan halal tersedia di Itaewon.

 

  • 2) Seoul Dance Center, Seodaemun-gu

 

Divisi ini menyediakan juga international residency untuk penari dari mancanegara. Jadi, bagi yang ingin mendaftar untuk diundang kemari, silakan kirim aplikasi.

Divisi yang menyediakan international residency adalah Yeonhui dan Dance Center. Tidak semua divisi memiliki fasiltias tempat tinggal.

Dance center memiliki ruang-ruang yang menarik! Ruang tidur, communal kitchen, library serta ruang-ruang latihan.

Untuk mendapatkan kesempatan tinggal di international residency for dancing, silakan kirim email ke dancenter@sfac.or.kr atau lihat di https://www.facebook.com/seouldancecenter

(bersambung)

Kategori
Bulan Nararya Catatan Perjalanan Mancanegara Oase Sastra Islam

#17 Catatan Seoul : Profesor Koh Young Hun, Cinta Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)

 

 

Prof Koh Young Hun
Prof. Koh Young Hun & Sinta Yudisia

Saya bertemu Profesor Koh Young Hun, copy darat, baru tanggal 14 Juni 2016. Sebelumnya saya lebih banyak berinteraksi dengan beliau via telepon. Diskusi kami sangat menyenangkan, sebab beliau fasih berbahasa Indonesia.

 

Ada banyak hal yang membuat saya merenung akan pendapat-pendapat beliau. Semoga, hasil diskusi kami membuka mata khalayak, terutama penulis-penulis Indonesia serta para pembaca aktif yang selalu ingin belajar untuk meningkatkan wawasan serta memperluas kebijaksanaan.

Profesor Koh Young Hun adalah pengajar di HUFS atau Hankuk University of Foreign Studies   jurusan Malay Studies (www.hufs.ac.kr) . Beliau mengelola Koreana dan menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut untuk edisi bahasa Indonesia ( www.koreana.or.kr)

Selain itu Profesor Koh mengelola situs Indonesia Culture Center atau Pusat Budaya Indonesia yang berisi segala informasi tentang budaya Indonesia, dalam bahasa Indonesia dan Korea (www.indonesian.co.kr)

 

 

Indonesia = potensial selamanya?

Profesor Koh sangat mengagumi Indonesia. Sebagai negara timur, Indonesia dan Korea memiliki sejarah mirip. Indonesia merdeka 1945, Korea 1950. Kita sama-sama pernah dijajah Jepang. Perbedaannya adalah, karena perih oleh penjajahan Jepang, Korea ingin selalu mengalahkan Jepang dalam segala aspeknya. Semangat itu yang kurang muncul dari bangsa Indonesia. Seolah-olah kita lupa pernah dijajah Jepang dan mengalami kolonialisasi demikian pahitnya.

Kemalasan dan kebodohan masih mewarnai sebagian besar masyarakat Indonesia, pola hidup konsumtif juga. Korupsi, tentu tak ketinggalan. Korupsi akan selalu ada di setiap negara. Tetapi propaganda melawan korupsi harus juga terus berjalan. Slogan-slogan anti korupsi harus digalakkan misal : harta yang berasal dari korupsi tidak akan berkah bagi keluarga.

Profesor Koh prihatin bila sekarang ia mengatakan Indonesia negara potensial dan mahasiswanya sebagian sudah lulus, bekerja, mengajar juga; maka dosen-dosen tersebut yang memiliki rentang waktu 20-30 tahun dengan dirinya masih tetap mengatakan ‘Indonesia potensial’. Seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju dalam kurun waktu 30 tahun.

 

Sastra dan Pengaruh

Tak ada sastra yang baik dan buruk, menurut beliau.

Yang ada hanyalah sastra yang memberikan pegnaruh. Sebuah karya sastra menjadi luarbiasa apabila memiliki pengaruh dahsyat ke masyarakat. Saran beliau untuk penulis-penulis Indonesia, teruslah berkarya.

Saya ingat dalam pertemuan dengan penulis-penulis Korea beberapa waktu lalu di media library, seorang penulis Korea memberikan masukan bagus bahwa betapapun seorang penulis sekarang diharapkan mampu menjual karyanya agar best seller, seorang penulis harus aktif di media sosial dan seterusnya; penulis harus tetap berjuang untuk menulis dan memperhatikan content tulisan. Isi tulisan. Itu yang sangat penting. Saya tidak merasa bahwa tulisan-tulisan saya sudah memberikan pengaruh. Tapi benar sekali, isi tulisan sangat penting. Sebab bila tulsian kita dibaca orang, dan orang tersebut merasa memiliki kesamaan karakter atau alur cerita, ia dapat mencontoh bagaimana endingnya. Semoga karya saya Sedekah Minus membawa pengaruh baik bagi masyarakat internasional bagaimana memahami Islam lebih utuh. Bila, penulis tidak menuliskan isi yang baik dengan cara yang baik, dikhawatirkan kiprahnya di dunia sastra tak dapat bertahan lama (Novel Bunuh Diri?).

Saya pribadi berusaha untuk memasukkan value ke dalam tulisan. Seperti novel Bulan Nararya (Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA) adalah pergulatan psikoterapis dan ternyata, seorang psikolog atau terapis pun jangan dibayangkan lepas dari masalah. Orang harus berjuang sendiri untuk dapat bangkit dari masalahnya.

 

Terjemahan Karya Sastra

Saya mengusulkan ke Profesor Koh Young Hun agar kita sama-sama aktif menerjemahkan karya sastra kedua negara. Karya sastra Korea diterjemahkan ke Indonesia begitupun karya sastra Indonesia diterjemahkan ke Korea. Bukan hanya karya klasik semacam karya Pramudya Ananta Toer yang diterjemahkan, namun juga karya-karya populer yang ringan. Sekalipun ringan, bukan berarti tak memberikan pengaruh. Karya-karya FLP. Forum Lingkar Pena saya rasa sangat layak diterjemahkan ke bahasa Korea untuk memperkaya khazanah sastra di negeri ginseng ini.

* Saya dan Feby, mahasiswi Sastra Korea Modern SNU (Seoul National UNiversity)

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#16 Catatan Seoul : Osulloc 오 설 록, Cafe Teh Hijau Unik dari Jeju 제주Island

 

Untungnya program Seoul Art Space Yeonhui dan ASIA journal magazine ini  diadakan Ramadan. ASIA journal magazine ini yang telah memilih cerpen saya Sedekah Minus untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Korea. Kalau  tidak, wah, sulit rasanya menolak teh aneka rasa serta kue-kue yang lezat dipandang mata dan  sepertinya lezat dikunyah lidah.

Osulloc'squote
Filosofi Osulloc

Osulloc 오 설 록 cafe kali ini terletak tak jauh dari  Seoul Foundation for Arts and Culture divisi Teater. SFAC untuk pusat Teater terletak di 3 Daemyong-gil, Jongno-gu, Seoul. Ada 100 jumlah teater di sekitar Seoul dan mereka aktif menyelenggarakan pertunjukan berkualitas. Tak salah panitia mengajak para penulis untuk mencicipi kuliner mancanegara yang pantas dibanggakan Korea Selatan.

 

Osulloc tea and cake
Enak ! Tapi hati-hati dengan kehalalannya ya? Untung Ramadan 🙂

Osulloc 오 설 록 berasal dari kata sol yang berarti salju dan loc yang bermakna teh hijau. Jadi, menikmati teh hijau Jeju seperti menikmati kesegaran salju.

jajaran teh Osulloc
Jajaran teh Osulloc dg beragam rasa 

Untuk sampai ke Jeju 제주, butuh penerbangan 1 jam dan biaya tiket pesawat sekali perjalanan sekitar 50.000 won atau sekitar Rp. 600.000. PP sekitar 100.000 won. Pulau  Jeju 제주  dikenal sebagai pulau yang indah dengan gunung dan laut sehijau zamrud. Saya sendiri belum pernah kesana.

Apa yang unik dari pulau Jeju 제조 ?

Di Jeju island, banyak penyelam-penyelam ikan tradisional yang menyelam ke dalam laut untuk menangkap ikan serta ganggang, tanpa peralatan. Benar-benar penyelam alamai dan…..mereka adalah perempuan! Woman diver di pulau Jeju 제주 sangat tangkas dan berani.

Kembali ke cafe Osulloc, cafe ini sangat nyaman dan menarik dipandang. Ingin beli teh celupnya sebagai oleh-oleh tapi lumayan juga harganya. Selain menyajikan aneka ragam teh, Osulloc 오 술 록 juga menyajikan kue-kue.

Ah, jadi ingin buat cafe teh sendiri seperti Osulloc 오 설 록!

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#15 Catatan Seoul : Apa saja Kegiatan Ramadan di Seoul?

 

Meski Ramadan di negeri orang pasti tidak sama dengan negeri sendiri, banyak hal unik yang dapat kita temui disana. Justru, tantangan untuk berpuasa lebih terasa sebab minoritas jumlah kaum muslimin menyebabkan masyarakat umum tidak menyadari kita tengah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Untuk muslimah, ada acara pertemuan muslimah muslim Indonesia sehari sebelum Ramadan. Materi tentang bagaimana tetap produktif di bulan Ramadan.

muslimah itaewon
Acara dengan muslimah Indonesia di Itaewon, menyambut Ramadan 1437 H

 

Acara yang meriah untuk anak-anak adalah Pesantren Ramadan di musholla Al Falah Yeungdongpo.  Kak Feby, Kak Annisa, Kak Adel, Kak Fathiya   dan kakak-kakak lain begitu heboh mengajar adik-adik.

Acara yang lain yang ditunggu-tunggu di bulan Ramadan adalah buka puasa bersama di KBRI yang terletak di Saetgang. Hari berikutnya, buka puasa di kediaman mbak  Yanti, suami mbak Yanti staf KBRI yang tinggal di apartemen Lotte Castle Ivy, di daerah Saetgang juga. Bertemu dengan sop, soto betawi, krupuk, sambal, siomay…..rasanyaaaaa!

Selanjutnya acara-acara kajian muslimah yang dilakukan via skype.

Selain itu, tentu muslim dan muslimah punya agenda masing-masing. Ada yang kerja, ada yang kuliah, ada yang menjadi ibu rumahtangga. Yang pasti, tinggal di negeri orang harus mampu mengatur pola waktu serta mengatur kesehatan agar tidak mudah sakit.

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Mancanegara Oase

14 Catatan Seoul : Maryam 마럄 Masuk Islam & Jin

Maryam 마럄 namanya.

Perbincangan kami harus dengan bahasa Korea sehingga saya butuh penerjemah dua arah. Untungnya ada Feby, mahasiswi sastra Kroea modern di SNU (Seoul National University). Diskusi kami direkam dengan kamera ponsel merek Sony (apaan lagi, gak ada pesan sponsor kok haha).

DSC_1115
Maryam & Sinta

Kata Maryam , ia masuk Islam setelah mendengar suara adzan  dari ponsel temannya. Airmatanya meleleh tiba-tiba. Ahya, jangankan Maryam. Kita yang muslim saja meleleh bila mendengar adzan atau  suara al Quran. Sejak mendengar adzan, Maryam tertarik dan pada akhirnya memeluk Islam.

Pertanyaannya, apa yang ia dapatkan dari Islam?

 

Hidup yang kembali tertata

Sejak kecil, hidup keluarga Maryam berantakan. Kakaknya lari dari rumah. Iapun juga demikian. Kehidupan mereka serba sulit dan miskin. Setelah masuk Islam, perlahan-lahan kehidupan keluarga mereka tersusun rapi kembali.

Kakak yang terpisah bertahun-tahun, kembali. Maryam merasa ini adalah anugerah Allah.

Tidak hanya itu.

Selama hidupnya, Maryam merasa diikuti dan ditempel oleh jin. Jin ini menurutnya yang membuat keluarganya miskin. Entah benar atau tidak, setelah masuk Islam jin itu pergi. Kehidupan Maryam pun berangsur membaik.

Bagi Maryam, kini solusi hanya satu. Allah dan hanya Allah. Sembahlah Allah dalam segala keadaan. Perkara jin, wallahu a’lam, ini adalah perkara ghaib yang mungkin sangat individual pengalamannya. Anda dan saya pasti pernah punya pengalaman dengan hal-hal supranatural. Kita hanya dapat berbagi cerita, tapi tak mungkin menjalani pengalaman yang sama. Jin, itu menurut sudut pandang Maryam.

Dibanding masyarakat Jepang, Korea lebih tidak memiliki sisi religius. Penjelasan dari tim panitia di Seoul Art Space Yeonhui ketika kami tanyakan, mengapa tidak banyak kuil atau candi di Korea? Mereka mengatakan bahwa masyarakat Korea tidak punya sisi religius yang mutlak. Kuil atau candi dapat ditemukan di gunung, tapi tidak di kota-kota terbuka apalagi kota besar.

Satu-satunya kuil yang bisa ditemukan mudah adalah kuil Bong-eun sa 붕 은 사.

Apapun alasan Maryam, ia merasa jauh lebih tenang kini.

Selamat menjalankan ibadah Ramadan, Maryam 마럄   🙂

 

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love Jurnal Harian Mancanegara Oase Pernikahan WRITING. SHARING.

#13 Catatan Seoul : Perkosaan hingga Cinta Pasca Menikah

Diskusi dengan tuan PD atau Pankaj Dubey ini dapat melebar kemana-mana. Mungkin, pembicaraan kami tertolong oleh bahasa Inggris. Saya ingin sekali banyak berdiskusi dengan Profesor Batkhuyag, sayangnya beliau hanya bisa berbahasa Russia dan Mongolia.

Yah, saya hanya bisa berucap : Zdravstvuite, menya zovut Sinta. Priyatno poznakomit’sya.

 

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag
Prof. Batkhuyag, Sinta dan PD

Diskusi dengan PD berkembang ketika ia menyampaikan tentang novelnya To Hell with Love, tentang bagaimana cinta berevolusi bahkan bagi pasangan yang telah menikah. Bagi PD, pasangan yang telah menikah dapat mengalami dua hal : growing up together or growing apart.

Tentang hal-hal cinta sesudah menikah, berpaling dari pasangan, perselingkuhan dan sejenisnya; adalah bahasan yang biasa. Sehingga ketika berdiskusi tentang fenomena tersebut di Indonesia dan India, kami menyimpulkan bahwa globalisasi yang membawa keterbukaan bagi setiap pihak, ada dampak positif dan negatifnya.

Ada yang menarik dari diskusi ini.

Sebab, studi kecil-kecilan untuk novel tersebut , PD menemukan banyak pasangan yang setelah lari, pisah, cerai (atau apalah namanya ) dari pernikahan terdahulunya; ternyata jatuh cinta lagi pada pasangan lamanya.

Ohya? Wah, ini menarik dan harus saya garis bawahi. Sebagai penulis dan psikolog, fakta pasangan-pasangan yang  tergoda orang lain memang tak dapat dipungkiri. Tapi pada akhirnya jatuh cinta pada pasangan lama dan sangat merindukan pernikahan yang terdahulu, itu sangat menarik.

Pada masyarakat yang tidak bersandar pada agama, temuan PD pantas digaungkan. Sebab, ternyata, pasangan lama atau  katakanlah, dengan siapa kita menikah pertama kali ternyata adalah pasangan yang demikian mengesankan. Mungkin ia lebih jelek, lebih miskin, lebih bodoh ; lebih inferior dari pasangan yang baru. Tapi bahwa cinta sejati dan tulus banyak terjadi pada saat pernikahan tengah merayap dalam kesulitan; tak terbantahkan. Kerinduan akan cinta tulus inilah yang memikat pasangan-pasangan yang kelelahan dengan kehidupan cintanya yang baru.

Bagi masyarakat muslim, temuan PD pantas untuk menguatkan sendi-sendi pernikahan kita.

Diskusi menarik kedua adalah tentang perkosaan.

Saya cetuskan terus terang bahwa, saya takut jika suatu saat datang ke India. Sebab berita perkosaan setahun lalu, tentang seorang gadis yang akhirnya koma dan tewas pasca diperkosa, sangat memiriskan hati. Sekarang, Indonesia tengah menghadapi hal yang sama. Bahkan, banyak pelajar dan pasangan hidup yang tinggal di luar negeri; takut kembali ke Indonesia.

Jawaban PD cukup bijaksana : kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan di jalan raya. Tak ada negeri yang benar-benar bebas perkosaan.

Dari diskusi tersebut , setidaknya saya kembali memiliki harapan bagi Indonesia.

Rasanya demikian takut untuk keluar ke jalan, pergi malam untuk beli obat atau  ke dokter; ancaman jambret dan perkosaan mengintai. Tapi benar kata PD, kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan. Yang paling penting adalah terus bersikap waspada, tidak memancing kejahatan, terus bekerjasama dengan beragam pihak dan tentunya tak lepas berdoa.

Meski di  Korea, Jepang, Hongkong yang dikenal aman; para mahasiswa dan pekerja perempuan kita terkadang  pulang malam; tetap saja kewaspadaan harus ditegakkan.

Dan, bukan berarti Indonesia yang tertimpa musibah berkali-kali;  menajdi negeri yang tak pantas ditinggali. Masih banyak orang, keluarga, anak-anak perempuan yang memiliki harapan dan impian untuk tinggal di negara Indonesia.

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Oase WRITING. SHARING.

#12 Catatan Seoul : Ramadan~ Dibutuhkan Niat Lebih untuk Ibadah Ramadan

꾸미기_Kalender ramadan seoul
Jadwal puasa Korea 1437 H

Puasa dari jam 3 pagi hingga jam 8 malam butuh tantangan tersendiri. Bagi saya bukan puasanya yang berat,tapi bagaimana mengisi malam yang pendek dari jam 8 PM ke 3 AM. Apalagi  Isya sekitar jam 10 malam.

Sahur Seoul.JPG
Sahur hari pertama, dapat kiriman nasi kuning. Ada sambalnyaaa …manyuss

 

 

 

 

Hari ke-4 Ramadan kegiatan saya melebihi hari-hari biasa. Nyuci nyeterika. Oho, kalau bab ini harus turun gunung ke kantor  Seoul Art Space Yeonhui di bawah, sementara paviliun saya Deullim Building paling mencit di ujung, di puncak bukit. Hosh –hosh-hosh.

Ujian kedua adalah komputer di ruang komunal Kkeullim Building sedang direparasi, jadi ternyata saya harus mondar mandir ke Hollim Building, tempat 8 penulis Korea bermukim dan meminjam komputer serta printer di gedung #2. Komputer dan printer serta dapurnya adalah milik bersama, jadi nggak masalah saya mau pakai komputer yang mana. Mondar mandirnya itu…

Seoul Art Space Yeonhui berada di dataran mirip gunung jadi antara satu area dengan area lain turun naik, dengan tangga atau jalan beraspal.

Acara pertemuan dengan para penulis Korea berlangsung jam 2 PM sampai jam 4 PM. Kami selaku International Writers harus presentasi di depan peserta dan melayani tanya jawab terkait sekian ragam perkembangan literasi di negeri masing-masing.

Sesudah acara masih ada yang harus didiskusikan antara saya dengan pak Pankaj Dubey dari India dan Profesor Batkhuyag dari Mongolia.  Dan saya masih harus mengerjakan sesuatu di komputer Hollim Building.

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag
Prof. Batkhuyag, Sinta, PD

Maka, tiba di paviliun sendiri jam 6 PM. Rasanya sudah mau tidur aja sampai maghrib. Tapi nanti makan apa? Alhasil cuci piring dulu sambil masak nasi, oseng lombok ijo dan memanaskan rendang. Jemur-jemur baju yang tadi pagi belum terurus. Dan tibalah adzan Maghrib. Saking capeknya, hanya sanggup makan kurma beberapa biji, makan nasi serta minum air . Sudah nggak sanggup ngunyah apa-apa lagi.

Ya Tuhan, Isya masih jam 10 kurang. Mata dan tubuh sudah nggak mau kompromi. Bahkan meletakkan piring di dapur udah sambil nyeret kaki hiks…hikss….. Nyuci piring satu aja udah gak ada energi.

Saya nyungsep ke kasur yang nyaman. Gak sanggup lagi  nahan kantuk. Jauh di lubuk hati, terselip keinginan, tarawih bagaimana ya? Masa Ramadan tarawih bolong. Belum lagi nanti kepotong haidh. Keinginan ada, namun tenaga tak tersedia. Alarm yang biasa saya setel jam 2.30 karena Subuh sekitar jam 3.15; saya coba geser jam 2.15.

Biasanya malam masih bangun untuk BAK, tapi ini sama sekali pulas.

Alarm jam 2.15 berbunyi. Tubuh masih lunglai banget. Kali ini, makan lebih sedikit  dari buka. Hiks….capeknyaaa. 2.30 bawaannya udah pingin tidur lagi. Teringat semalam  bahkan saking capeknya nggak sikat gigi , maka sahur harus sikat gigi. Karena nggak kuat ke kamar mandi, saya sikat gigi di tempat cuci piring.

Eh, ada rasa takut, ntar Subuh gimana kalau tidur lagi? Bablas dong. Apalagi meski musim panas, saya nggak kuat sama hawa dinginnya Seoul di waktu malam. Jadi sekalian wudhu pas sikat gigi.

Entah mengapa, ketika melihat jam masih 2.30, seketika pikiran dan hasrat menyatu. Aha, masih bisa tarawih nih meski hanya menggunakan surat-surat pendek. Dan alhamdulillah banget, malam itu bisa menyempurnakan tarawih di hari ke 4 Ramadan. Subuh pun tak telat .

Kalau ingat betapa lelahnya  fisik kemarin, rasanya nggak sanggup tarawih. Apa rahasianya?

Ah, mungkin Allah masih memberikan kenikmatan ibadah dan suntikan tenaga, sebab di saat-saat menjelang jatuh tertidur semalam, saya sempatkan menggeser jam yang biasanya 2.30 jadi 2.15.

Pelajaran berharga : niat baik sekecil apapun, akan dibantu olehNya untuk diwujudkan.

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#11 Catatan Seoul : Deoksugung Palace

 

 

Istana dari Joseon Dynasty ini sangat luas, indah dan terpelihara. Akses kesana pun sangat mudah bisa naik subway atau naik bus .

Kalau dibandingkan dengan kemegahan candi-candi kita, kalah jauh. Membayangkan Borobudur, Prambanan, Singosari yang bangunannya jauh lebih rumit ; istana Deoksugung yang bahkan terbesar ini, masih kalah.

Yang dapat dibanggakan masyarakat Korea adalah karena istana ini demikian terpelihara hingga taman-tamannya. Sejarah dinasti dapat dipelajari di gedung sebelah. Akses ke istana ini pun lewat subway  yang mudah.dan, bagi pengunjung yang mengenakan hanbuk, konon gratis masuknya!

Tapi saya belum nyewa hanbuk. Masalahnya sewa hanbuk 30.000 won sementara biaya masuk hanya 3.000 won.

Cantik ya ,perempuan yang pakai hanbuk? Lebih cantik daripada yang pakai celana dan rok pendek haha…