Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖

 

 

 

 

 

Iklan

#22 Catatan Seoul : Tertarik Islam karena Mayat

Ibu Farida atau Moon Hyun Joo, cukup lancar berbahasa Indonesia. Beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia dan menjadi istri orang Indonesia.

Feby, bu Farida, Sinta

Feby , bu Farida (Moon Hyun Joo), Sinta

Bagi orang Korea, agama tidaklah penting.

Berbeda dengan Jepang , kuil dan candi ditemukan hampir di setiap kota. Maka di Korea Selatan, nyaris tak ada tempat peribadatan warga setempat yang menunjukkan ciri religiusitas. Ajaran khas Konfusianisme masih dipegang teguh terkait kesederhanaan dan kedisplinan namun ajaran agama yang merasuk di relung hati, tak banyak diyakini masyarakat Korea Selatan.

Setelah suaminya meninggal, ibu Farida atau Moon Hyun Joo merasa kehilangan pegangan. Ia mencari pegangan dari satu demi satu agama yang dipelajarinya. Ucapan bismillah dan alhamdulillah dilakukannya ketika mengendarai mobil.

Asean 8

Prof Koh Young Hun, Feby, Sinta

Lalu kami bertemu dengannya, ketika saya dan Feby menghadiri acara Profesor Koh Young Hun di gedung Asean Korea Centre, Press Centre, Junggu – Seoul City Hall. Kami lalu mencari tempat nyaman untuk diskusi.

 

 

 

 

ASean6

Menjelaskan tentang sastra Indonesia terkini di ASEAN KOREA CENTRE

 

Ada hal-hal yang membuat Moon Hyun Joo tertarik pada Islam :

Adzan

Setiap kali mendengar adzan, hatinya merasa sangat senang, bahkan beliau berkespresi sambil mengatakan, “hati saya senaaaaang….sekali setiap dengar adzan!” sembari tangannya melekat di dada. Seolah-olah menggambarkan ekspresi kebahagiaan luarbiasa tiap mengingat ucapan adzan yang magis. Ingat tulisan saya tentang muallaf  Maryam Itaewon ?

 

Prosesi penguburan.

Ketika suaminya meninggal, hanya selembar kafan yang menyelimuti. Moon Hyun Joo masih ingat, ia sempat marah dengan prosesi penguburan itu. Mengapa tidak ada barang yang boleh dibawa? Bahkan putrinya, Diana, ingin menyelipkan sebuah surat berisi ungkapan cinta kepada ayahnyapun tak diizinkan?

“Masa sih bawa sebuah surat aja nggak boleh?” kata Moon Hyun Joo.

Ada ungkatan unik darinya, “tapi entah mengapa ya, setelah kematian suami, kita seperti dilahirkan kembali. Kita seperti berada di kehidupan yang kedua. Setiap ajaran suami, setiap kata-katanya terngiang.”

Prosesi penguburan yang sederhana membekas di benak Moon Hyun Joo dan ia menyadari memang tidak ada yang perlu dibawa manusia ketika mati nanti. Bagi Moon Hyun Joo, hanya Islamlah satu-satunya ajaran yang ia kenal, memperlakukan mayat dengan cara sangat berbeda. Hampir semua agama yang dikenalnya dan saat ini ia coba untuk pelajari; memperlakukan mayat seperti manusia hidup. Didandani, diberikan bekal pakaian dan harta. Seolah-olah kehidupan di alam kubur menyerupai alam dunia yang serba berdimensi materi.

Islam berbeda. Islam mudah.

Begitu seorang manusia berstatus sebagai mayat, tak ada lagi bahan kecil berdimensi materi yang dapat menyertai, apalagi menyelamatkannya. Hanya entitas-entitas ruhani, ukhrawi dan keghaiban yang menyertai perjalanan rahasia manusia menemui TuhanNya.

 

 

 

#21 Catatan Seoul : Identitas yang Paling Mudah

Bu Widya namanya. Posisi dan pengalaman beliau  tak dapat dijabarkan dengan curriculum vitae seperti biasa. Takdir sebagai pendamping suami membuatnya tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Ketika ditanya, beliau pernah tinggal di negara mana saja, beliau lupa. Sejak kakek nenek, orangtua, hingga beliau suami istri dan kakak adik serta putra putri beliau; melanglang ke berbagai negara. Amerika, Swiss, atau negara-negara Asia Afrika pernah beliau jajagi. Ketika pertemuan keluarga besar, tak lagi dapat dibedakan anak-anak atau cucu-cucu sekarang menggunakan tradisi yang mana. Apakah barat yang egaliter? Apakah timur yang santun dan pemalu? Apakah timur tengah yang sangat strict?

Bu Widya, diusianya yang paruh baya sangat cantik dan sederhana (sayangnya beliau tak bersedia difoto hehe). Gaun lengan panjang dan jilbab kain yang melilit kepala, tanpa beragam perhiasan mencolok bergemerincingan. Diskusi dengannya mengalir mudah di sela-sela buka puasa di Saetgang, KBRI senja itu.

makan di bu yanti

Islam adalah identitas yang paling simple

Satu ungkapan beliau yang simple namun menohok, ketika saya bertanya apakah anak-anak, cucu-cucu, keluarga besar yang tinggal di beragam negara tidak mengalami culture shock atau kejutan budaya?

“Ketika kami tinggal di beragam wilayah negara, atau kembali berkumpul, kami hanya mengenakan identitas Islam. Titik. Itulah identitas yang paling mudah untuk dikenakan.”

Wow.

Identitas Islam.

Betapa indah dan mudah. Ketika kita tinggal di barat yang serba terbuka, egaliter, permisif; Islam menjadi rambu-rambu yang membatasi namun mempersilakan manusia mengambil ilmu seluas-luasnya. Gaya barat yang berbicara terus terang, apa adanya, tak memperhitungkan kasta; tak masalah selama mereka menghormati kebebasan kita beribadah dalam segala aspeknya.

Ketika tinggal di Korea dan Jepang yang dikenal pekerja keras, berbahasa penuh filosofi dan kesantunan layaknya orang timur; tak masalah juga. Selama kita dapat mengikuti karakter bekerja dan belajar tanpa menanggalkan identitas utama.

DSC_1115

Maryam yg istiqomah berhijab

Mau makan roti tawar atau roti ish, mau ditawarkan soyu atau sake, mau sakura Jepang atau kaktus gurun Sahara; ketika waktunya Ramadan ya berpuasa. Ketika waktunya sholat, ya tegakkan. Ketika belanja, belajar, bekerja ya kenakan busana menutup aurat sesuai musim. Ketika menemukan halal haram ya pisahkan.

Tinggal di 4 musim?

Tak perlu bingung dengan baju bulu di musim salju, atau tank top dan hotpants di musim panas, baju musim semi atau musim gugur. Kenakan pakaian seperti biasa, yang menyerap keringat, yang lembut di kulit. Tinggal tambahkan jaket tebal bila musim dingin tiba dan jangan lupa kerudung yang menutup kepala bagi perempuan untuk segala musim. Model, bahan, corak, motif, keluaran butik Indonesia atau italia; terserah saja.

Tak ada benturan Amerika atau Jepang, Indonesia atau Maroko, Malaysia atau Korea; sepanjang indentitas Islam dikenakan. Ketika harus lentur mengikuti karakter budaya tertentu, wajarlah, apalagi bila minoritas berada di tengah mayoritas.

Terkesan pula dengan cerita teman-teman FLP Hong Kong yang semuanya bekerja sebagai BMI. Bagaimana mereka menjelaskan Ramadan kepada majikan.

“Oh, aku sarapan kok, Bos! Cuma lebih pagi. Makan malam seperti biasa. Hanya makan siang aja yang gak dilaksanakan.”

Penjelasan seperti itu membuat si bos mengangguk, dan tidak khawatir pekerjanya mati kelaparan. Identitas Islam tetap dapat dikenakan oleh buruh seperti BMI atau ibu-ibu pejabat seperti bu Widya.

Kalau suatu saat, kita mendapatkan kesempatan melanglang buana dan tinggal di berbagai negara; jangan lupa, identitas Islam adalah identitas yang paling mudah dikenakan.

#20 Seoul Foundation for Art and Culture (3)

 

5) Seoul Creative Spaces, Sindang

Dari semua divisi, bagi saya ini yang paling menarik.

Kenapa? Pasar ini sepanjang 400 meter berisi karya seni. Sebab mata kita dimanjakan oleh beragam produk seni!

 

Pasar seni Sindang berada di bawah tanah (underground) sementara bagian atasnya dipakai untuk pasar tradisional biasa yang menjual beragam jenis barang.

Creative Spaces Sindang, memiliki 40 studio dan toko bagi seniman untuk berkreasi menciptakan sesuatu. Tali, kertas, kawat, lempeng logam dapat menjadi produk olahan seni yang luarbiasa cantiknya. Bahkan, ada studio mini animasi!

Kalau anak-anak saya kemari, pasti mereka senang sekali melihat studio animasi mini : bagaimana cara membuat patung orangnya.

Pengunjung bisa melihat dan belajar bagaimana membuat karya-karya seni tersebut. Mana gurunya cantik-cantik lagi hehe….

Ada kerajinan kertas.

 

 

Ada kerajinan kawat.

Ada kerajinan tali.

tali sindang.JPG

Kerajinan tali

 

 

Ada animasi.

Ada kerajinan yang terinspirasi dari putri kecil seniman yang kreatif! Semua coretan putrinya diolah lagi menjadi karya seni.

#19 Seoul Foundation for Arts and Culture (2)

 

 

  • 3) Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu

 

Divisi ini lebih kepada kantor untuk menyeleksi siapa yang berminat untuk bergabung di SFAC. Sebagai bagian dari seni dan budaya, art space Seogyo punya ruang-ruang yang cantik!

 

  • 4) Seoul Theater Center, Jongno-gu

 

Seoul punya 100 teater!

Dan semuanya aktif. Tempo hari, saya sempat lewat di perhentian bus melihat beragam pamflet pertunjukan teater versi Korea Sweeney Todd!

#18 Catatan Seoul :Seoul Foundation for Arts and Culture (1)

 

Anda harus baca ini!

Bagaimana segala seni dapat memacu kreativitas masyarakat, menjadikan kota jauh lebih indah, energik dan membuka peluang ekonomi.

Seoul, sebuah kota yang maju di wilayah Semenanjung Korea. Kota dengan kontur berbukit-bukit sehingga beberapa distrik memiliki jalan yang sangat curam. Dengan segala dinamikanya, Seoul menjadi salah satu kota yang sangat dinamis dan energik di dunia. Sebagai bagian dari masyarakat modern, Seoul juga mengalami permasalahan layaknya kota besar lain. Kepadatan penduduk, tekanan  kerja, persaingan karier dan akademis, biaya hidup, benturan budaya dan lain-lain.

Untuk dapat meredam segala sisi negatif sebuah kota besar, diperlukan alihan pelimpahan emosi negatif dari masyarakat. Karenanya, Seoul menciptakan ruang-ruang seni untuk dinikmati. Menimbulkan suntikan semangat baru, kelegaan, sudut pandang yang lebih kaya, ketenangan serta kebijaksanaan.

Apa saja ruang yang digagas oleh Seoul Foundation for Arts and Culture?

  1. Seoul Art Space Yeonhui for writers
  2. Seoul Dance Center, Seodaemun-gu
  3. Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu
  4. Seoul Theater Center, Jongno-gu
  5. Seoul Creative Spaces, Sindang

Yuk kita lihat satu –satu!

 

 

Untuk Yeonhui sudah saya tulis di Catatan Seoul . Silakan klik disini.

Tahun 2016, Yeonhui bekerja sama dengan ASIA journal magazine untuk mengundang penulis internasional. Alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu penulis internasional yang diundang. Ada 3 penulis : Sinta Yudisia – Indonesia, Pankaj Dubey – India dan Prof. Batkhuyag Purukhevuu Mongolia. Sebagai penulis yang diundang kami mendapatkan fasilitas : tiket PP, per diem selama tinggal, serta tempat tinggal gratis selama sebulan lebih.

Apakah anda sebagai penulis ingin tinggal di Seoul, gratis?

Sepanjang tahun, SAS Yeonhui membuka kesempatan seluas-luasnya bagi penulis puisi, cerita pendek, novel untuk tinggal di Yeonhui. Bila lulus screening, penulis dapat tinggal 1 bulan gratis di paviliun indah dan nyaman. Ingat, di Seoul lagi. Harga hotel mahal disini.

Apa saja yang dapat disiapkan?

  1. Aplikasi lamaran dapat dikirim ke yeonhui@sfac.or.kr
  2. Uang tiket PP. Untuk dapat tiket murah,cobalah rajin hunting tiket pesawat. Biasanya, pesawat yang berangkat hari Selasa/ Rabu lebih murah.Pesan juga tiket langsung untuk pulang pergi.
  3. Bawalah bahan baku makanan uk 2 minggu atau sebulan ke depan, demi menghemat pengeluaran. Lihatlah berapa kilo bagasi yang diizinkan pesawat. Jika dapat bagasi sekitar 40 kilo, kita dapat menyiapkan bahan makanan untuk sebulan!
  4. Jangan terlalu royal belanja. Ingat tujuan kita untuk mendapatkan pengalaman berharga. Tapi kalau memang tersedia dana belanja, silakan ke Insadong. Makanan halal tersedia di Itaewon.

 

  • 2) Seoul Dance Center, Seodaemun-gu

 

Divisi ini menyediakan juga international residency untuk penari dari mancanegara. Jadi, bagi yang ingin mendaftar untuk diundang kemari, silakan kirim aplikasi.

Divisi yang menyediakan international residency adalah Yeonhui dan Dance Center. Tidak semua divisi memiliki fasiltias tempat tinggal.

Dance center memiliki ruang-ruang yang menarik! Ruang tidur, communal kitchen, library serta ruang-ruang latihan.

Untuk mendapatkan kesempatan tinggal di international residency for dancing, silakan kirim email ke dancenter@sfac.or.kr atau lihat di https://www.facebook.com/seouldancecenter

(bersambung)

#17 Catatan Seoul : Profesor Koh Young Hun, Cinta Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)

 

 

Prof Koh Young Hun

Prof. Koh Young Hun & Sinta Yudisia

Saya bertemu Profesor Koh Young Hun, copy darat, baru tanggal 14 Juni 2016. Sebelumnya saya lebih banyak berinteraksi dengan beliau via telepon. Diskusi kami sangat menyenangkan, sebab beliau fasih berbahasa Indonesia.

 

Ada banyak hal yang membuat saya merenung akan pendapat-pendapat beliau. Semoga, hasil diskusi kami membuka mata khalayak, terutama penulis-penulis Indonesia serta para pembaca aktif yang selalu ingin belajar untuk meningkatkan wawasan serta memperluas kebijaksanaan.

Profesor Koh Young Hun adalah pengajar di HUFS atau Hankuk University of Foreign Studies   jurusan Malay Studies (www.hufs.ac.kr) . Beliau mengelola Koreana dan menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut untuk edisi bahasa Indonesia ( www.koreana.or.kr)

Selain itu Profesor Koh mengelola situs Indonesia Culture Center atau Pusat Budaya Indonesia yang berisi segala informasi tentang budaya Indonesia, dalam bahasa Indonesia dan Korea (www.indonesian.co.kr)

 

 

Indonesia = potensial selamanya?

Profesor Koh sangat mengagumi Indonesia. Sebagai negara timur, Indonesia dan Korea memiliki sejarah mirip. Indonesia merdeka 1945, Korea 1950. Kita sama-sama pernah dijajah Jepang. Perbedaannya adalah, karena perih oleh penjajahan Jepang, Korea ingin selalu mengalahkan Jepang dalam segala aspeknya. Semangat itu yang kurang muncul dari bangsa Indonesia. Seolah-olah kita lupa pernah dijajah Jepang dan mengalami kolonialisasi demikian pahitnya.

Kemalasan dan kebodohan masih mewarnai sebagian besar masyarakat Indonesia, pola hidup konsumtif juga. Korupsi, tentu tak ketinggalan. Korupsi akan selalu ada di setiap negara. Tetapi propaganda melawan korupsi harus juga terus berjalan. Slogan-slogan anti korupsi harus digalakkan misal : harta yang berasal dari korupsi tidak akan berkah bagi keluarga.

Profesor Koh prihatin bila sekarang ia mengatakan Indonesia negara potensial dan mahasiswanya sebagian sudah lulus, bekerja, mengajar juga; maka dosen-dosen tersebut yang memiliki rentang waktu 20-30 tahun dengan dirinya masih tetap mengatakan ‘Indonesia potensial’. Seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju dalam kurun waktu 30 tahun.

 

Sastra dan Pengaruh

Tak ada sastra yang baik dan buruk, menurut beliau.

Yang ada hanyalah sastra yang memberikan pegnaruh. Sebuah karya sastra menjadi luarbiasa apabila memiliki pengaruh dahsyat ke masyarakat. Saran beliau untuk penulis-penulis Indonesia, teruslah berkarya.

Saya ingat dalam pertemuan dengan penulis-penulis Korea beberapa waktu lalu di media library, seorang penulis Korea memberikan masukan bagus bahwa betapapun seorang penulis sekarang diharapkan mampu menjual karyanya agar best seller, seorang penulis harus aktif di media sosial dan seterusnya; penulis harus tetap berjuang untuk menulis dan memperhatikan content tulisan. Isi tulisan. Itu yang sangat penting. Saya tidak merasa bahwa tulisan-tulisan saya sudah memberikan pengaruh. Tapi benar sekali, isi tulisan sangat penting. Sebab bila tulsian kita dibaca orang, dan orang tersebut merasa memiliki kesamaan karakter atau alur cerita, ia dapat mencontoh bagaimana endingnya. Semoga karya saya Sedekah Minus membawa pengaruh baik bagi masyarakat internasional bagaimana memahami Islam lebih utuh. Bila, penulis tidak menuliskan isi yang baik dengan cara yang baik, dikhawatirkan kiprahnya di dunia sastra tak dapat bertahan lama (Novel Bunuh Diri?).

Saya pribadi berusaha untuk memasukkan value ke dalam tulisan. Seperti novel Bulan Nararya (Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA) adalah pergulatan psikoterapis dan ternyata, seorang psikolog atau terapis pun jangan dibayangkan lepas dari masalah. Orang harus berjuang sendiri untuk dapat bangkit dari masalahnya.

 

Terjemahan Karya Sastra

Saya mengusulkan ke Profesor Koh Young Hun agar kita sama-sama aktif menerjemahkan karya sastra kedua negara. Karya sastra Korea diterjemahkan ke Indonesia begitupun karya sastra Indonesia diterjemahkan ke Korea. Bukan hanya karya klasik semacam karya Pramudya Ananta Toer yang diterjemahkan, namun juga karya-karya populer yang ringan. Sekalipun ringan, bukan berarti tak memberikan pengaruh. Karya-karya FLP. Forum Lingkar Pena saya rasa sangat layak diterjemahkan ke bahasa Korea untuk memperkaya khazanah sastra di negeri ginseng ini.

* Saya dan Feby, mahasiswi Sastra Korea Modern SNU (Seoul National UNiversity)