#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

“Nak, ada uang?”

“Dek, sudah gajian?”

“Anak kita butuh sepeda motor.”

“Rumah kita mau disita.”

Beribu  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman –dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606

LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587

Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yang  mereka korbankan.

“Saya sadar saya salah, Mbak,” ungkap X. “Makanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagai  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.”

“Ibu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.”

“Suami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.”

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI  itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI  bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya  demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama seperti  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029

Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetap  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.

 

#15 Catatan Seoul : Apa saja Kegiatan Ramadan di Seoul?

 

Meski Ramadan di negeri orang pasti tidak sama dengan negeri sendiri, banyak hal unik yang dapat kita temui disana. Justru, tantangan untuk berpuasa lebih terasa sebab minoritas jumlah kaum muslimin menyebabkan masyarakat umum tidak menyadari kita tengah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Untuk muslimah, ada acara pertemuan muslimah muslim Indonesia sehari sebelum Ramadan. Materi tentang bagaimana tetap produktif di bulan Ramadan.

muslimah itaewon

Acara dengan muslimah Indonesia di Itaewon, menyambut Ramadan 1437 H

 

Acara yang meriah untuk anak-anak adalah Pesantren Ramadan di musholla Al Falah Yeungdongpo.  Kak Feby, Kak Annisa, Kak Adel, Kak Fathiya   dan kakak-kakak lain begitu heboh mengajar adik-adik.

Acara yang lain yang ditunggu-tunggu di bulan Ramadan adalah buka puasa bersama di KBRI yang terletak di Saetgang. Hari berikutnya, buka puasa di kediaman mbak  Yanti, suami mbak Yanti staf KBRI yang tinggal di apartemen Lotte Castle Ivy, di daerah Saetgang juga. Bertemu dengan sop, soto betawi, krupuk, sambal, siomay…..rasanyaaaaa!

Selanjutnya acara-acara kajian muslimah yang dilakukan via skype.

Selain itu, tentu muslim dan muslimah punya agenda masing-masing. Ada yang kerja, ada yang kuliah, ada yang menjadi ibu rumahtangga. Yang pasti, tinggal di negeri orang harus mampu mengatur pola waktu serta mengatur kesehatan agar tidak mudah sakit.

#12 Catatan Seoul : Ramadan~ Dibutuhkan Niat Lebih untuk Ibadah Ramadan

꾸미기_Kalender ramadan seoul

Jadwal puasa Korea 1437 H

Puasa dari jam 3 pagi hingga jam 8 malam butuh tantangan tersendiri. Bagi saya bukan puasanya yang berat,tapi bagaimana mengisi malam yang pendek dari jam 8 PM ke 3 AM. Apalagi  Isya sekitar jam 10 malam.

Sahur Seoul.JPG

Sahur hari pertama, dapat kiriman nasi kuning. Ada sambalnyaaa …manyuss

 

 

 

 

Hari ke-4 Ramadan kegiatan saya melebihi hari-hari biasa. Nyuci nyeterika. Oho, kalau bab ini harus turun gunung ke kantor  Seoul Art Space Yeonhui di bawah, sementara paviliun saya Deullim Building paling mencit di ujung, di puncak bukit. Hosh –hosh-hosh.

Ujian kedua adalah komputer di ruang komunal Kkeullim Building sedang direparasi, jadi ternyata saya harus mondar mandir ke Hollim Building, tempat 8 penulis Korea bermukim dan meminjam komputer serta printer di gedung #2. Komputer dan printer serta dapurnya adalah milik bersama, jadi nggak masalah saya mau pakai komputer yang mana. Mondar mandirnya itu…

Seoul Art Space Yeonhui berada di dataran mirip gunung jadi antara satu area dengan area lain turun naik, dengan tangga atau jalan beraspal.

Acara pertemuan dengan para penulis Korea berlangsung jam 2 PM sampai jam 4 PM. Kami selaku International Writers harus presentasi di depan peserta dan melayani tanya jawab terkait sekian ragam perkembangan literasi di negeri masing-masing.

Sesudah acara masih ada yang harus didiskusikan antara saya dengan pak Pankaj Dubey dari India dan Profesor Batkhuyag dari Mongolia.  Dan saya masih harus mengerjakan sesuatu di komputer Hollim Building.

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag

Prof. Batkhuyag, Sinta, PD

Maka, tiba di paviliun sendiri jam 6 PM. Rasanya sudah mau tidur aja sampai maghrib. Tapi nanti makan apa? Alhasil cuci piring dulu sambil masak nasi, oseng lombok ijo dan memanaskan rendang. Jemur-jemur baju yang tadi pagi belum terurus. Dan tibalah adzan Maghrib. Saking capeknya, hanya sanggup makan kurma beberapa biji, makan nasi serta minum air . Sudah nggak sanggup ngunyah apa-apa lagi.

Ya Tuhan, Isya masih jam 10 kurang. Mata dan tubuh sudah nggak mau kompromi. Bahkan meletakkan piring di dapur udah sambil nyeret kaki hiks…hikss….. Nyuci piring satu aja udah gak ada energi.

Saya nyungsep ke kasur yang nyaman. Gak sanggup lagi  nahan kantuk. Jauh di lubuk hati, terselip keinginan, tarawih bagaimana ya? Masa Ramadan tarawih bolong. Belum lagi nanti kepotong haidh. Keinginan ada, namun tenaga tak tersedia. Alarm yang biasa saya setel jam 2.30 karena Subuh sekitar jam 3.15; saya coba geser jam 2.15.

Biasanya malam masih bangun untuk BAK, tapi ini sama sekali pulas.

Alarm jam 2.15 berbunyi. Tubuh masih lunglai banget. Kali ini, makan lebih sedikit  dari buka. Hiks….capeknyaaa. 2.30 bawaannya udah pingin tidur lagi. Teringat semalam  bahkan saking capeknya nggak sikat gigi , maka sahur harus sikat gigi. Karena nggak kuat ke kamar mandi, saya sikat gigi di tempat cuci piring.

Eh, ada rasa takut, ntar Subuh gimana kalau tidur lagi? Bablas dong. Apalagi meski musim panas, saya nggak kuat sama hawa dinginnya Seoul di waktu malam. Jadi sekalian wudhu pas sikat gigi.

Entah mengapa, ketika melihat jam masih 2.30, seketika pikiran dan hasrat menyatu. Aha, masih bisa tarawih nih meski hanya menggunakan surat-surat pendek. Dan alhamdulillah banget, malam itu bisa menyempurnakan tarawih di hari ke 4 Ramadan. Subuh pun tak telat .

Kalau ingat betapa lelahnya  fisik kemarin, rasanya nggak sanggup tarawih. Apa rahasianya?

Ah, mungkin Allah masih memberikan kenikmatan ibadah dan suntikan tenaga, sebab di saat-saat menjelang jatuh tertidur semalam, saya sempatkan menggeser jam yang biasanya 2.30 jadi 2.15.

Pelajaran berharga : niat baik sekecil apapun, akan dibantu olehNya untuk diwujudkan.