Spirit 212 : Cinta ini Menyatukan Kita

 

 

Anda pasti pernah dengar istilah reward dan punishment. Istilah ini sangat psikologis sekali. Umumnya orang akan bertahan pada perilakunya bila diberi reward dan akan mengurangi perilakunya bila diberi punishment. Konsep ini berlaku bukan hanya di dunia pendidikan tapi juga di dunia industri organisasi maupun klinis.

Apa saja reward yang kita kenal? Sistem gaji, sistem bonus, hari libur adalah reward. Penjara, sanksi, teguran adalah punishment. Meski tidak selalu demikian. Hukuman suatu saat bisa berubah menjadi reward hingga orang malah senang meningkatkan perilaku yang maladaptif.

Bagi sebuah negara, memiliki kekayaan dan rakyat yang mendukungnya adalah reward atau hadiah luarbiasa. Kekayaan negara berupa hasil pertanian, tambang, kekayaan laut dsb merupakan modal untuk menyelenggarakan kerja-kerja negara sehingga bangsa lain menaruh hormat. Memiliki rakyat yang cerdas, supportif, berakhlaq mulia juga merupakan hadiah Tuhan yang luarbiasa. Bayangkan, bila sebuah negara memiliki rakyat yang brengsek. Tidak taat norma hukum atau negara. Tak dapat kita bayangkan bila rakyat berubah menjadi segerombolan penjarah, perampok, pembunuh, pelaku asusila, pemalas dan pembangkang.

Memiliki rakyat yang baik atau sholih, adalah asset luarbiasa. Anda tentu tak dapat bayangkan bila sebuah negara, memiliki lebih banyak penjara dibanding gedung pendidikan dan perkantoran, bukan?

Aksi 1410, 411, 212 adalah bukti rahmat Tuhan bagi bangsa Indonesia.

Betapa, dalam situasi sangat kritis dan sensitive ketika rakyat berkumpul berdesakan, kedamaian tetap terselenggara. Antrian penjualan handphone model tebaru saja sampai menimbulkan kericuhan dan korban luka-luka, padahal jumlah antriannya tidak sampai puluhan ribu. Konser music dan sepakbola? Aparat dibuat kebat kebit, begitupun rakyat yang ikut menyaksikan. Bagi saya pribadi, bertemu serombongan supporter sepakbola membuat jantung deg-degan. Jangan-jangan mereka berbuat anarkis. Jangan-jangan, kendaraan kita yang tidak bermaksud menyenggol, terkena sasaran amuk. Jangan-jangan, mereka membawa senjata tajam dan melukai siapapun yang dianggap berpihak pada kesebelasan lawan.

Para pemirsa televisi, memandang dengan hati kebat kebit peristiwa 411 dan 212.

Dan, betapa banyak kesalahan pada cara berpikir logis kita, cara pandang rasionalis kita. Tidak semua kejadian di dunia ini digerakkan dengan uang, tidak semua peristiwa hanya mengandalkan neraca laba rugi. Ada, orang-orang yang masih meletakkan keluhuran dan kemuliaan, di atas segala-galanya.

Maka pertimbangan uang, profit benefit, dominasi tidak berlaku disini.

Yang ada adalah orang-orang yang berkumpul karena yakin Tuhan masih bersama Indonesia. Kita pernah melewati masa-masa kritis 1945, 1965, 1998 dan Alhamdulillah…Indonesia tetap melaju sebagai negara dengan segala pahit getirnya.

Akhir 2016 menggoreskan kenangan mendalam bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Berkumpulnya orang-orang, ribuan, ratusan ribu, jutaan; tidak menimbulkan huru hara. Tidak menimbulkan kerusakan. Tidak menimbulkan pencurian, perampokan, penjarahan. Padahal bila mau, hal itu bisa saja dilakukan. Toh, peserta aksi saat itu adalah kelompok dominan dan mayoritas.

Demikianlah, Tuhan mengingatkan negara ini, Dia telah memberikan reward luarbiasa. Harta kekayaan berupa rakyat santun yang ketika berseberangan pendapat dengan pemimpin, memilih berkumpul bersama untuk mendoakan dan mendesak pemerintah melakukan perubahan serta menegakkan keadilan.

Tidakkan reward dari Tuhan ini pantas kita pelihara sebagai salah satu jejak berharga bagi sejarah Indonesia?

JPG 212 kover depan - Copy.jpgForum Lingkar Pena, Suara Muslim, LMI dan Lazis PJB dengan bangga mempersembahkan salah satu buku catatan sejarah yang monumental di akhir 2016. Ditulis oleh para pelaku sejarahnya sendiri, dengan narasi unik ala pelakunya meski inti cerita mereka sama : ketakjuban akan kekuasan Tuhan yang mampu menyatukan hati manusia untuk berkumpul, berbuat kebajikan dan bergandengan tangan satu sama lain.

Buku luarbiasa ini terdiri 40 naskah versi bahasa Indonesia dan 10 naskah versi bahasa Inggris, Jerman dan Korea. Dilengkapi ilustrasi menggugah full colour 12 halaman.

Pesanan pre order (PO) dibuka mulai hari ini 12 Januari – 22 Januari 2016. Mekanismenya :

Transfer ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dewi Sartika, Jakarta Selatan nomer rekening 703-310-1858 a.n Forum Lingkar Pena. Kontak Wiwiek Sulistyowati di 0812-8747-415 SMS/whatsapp. Harga normal Rp. 100.000 , harga pre order Rp. 85.000

 

 

Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi : bila pemimpin dan militer berupaya menegakkan kebenaran

 

 

Siapa tidak ingin tinggal di Indonesia?

Kolam susu, hutan bakau, laut penuh ikan dan mutiara, udara jernih, daratan dipenuhi bahan tambang dan subur makmur. Sudah sejak lama ekspatriat senang tinggal di Bali yang hangat sementara negara-negara mereka berselimut salju tebal. 13.000 pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke, masih memungkinkan menampung manusia-manusia tinggal dan hidup beranak pinak.

 

Buat usaha sampai mendirikan sekolah

Adalah John Hardy, pria Kanada yang memulai bisnis perhiasan di Bali sejak 1975. Belakangan ia tertarik membangun sekolah dengan konsep alam. Jadilah John Hardy  dan Cynthia Hardy membeli lahan 4,55 hektar di daerah Badung lalu membangun Green School Bali. Kepala sekolah GSB adalah Leslie Medema, berasal dari South Dakota dan telah tinggal 6 tahun di Bali. GSB saat ini terdiri dari 384 siswa dari 33 negara. Anak-anak Nadya Hutagalung , presenter Asia’s Next Top Model bersekolah disini. Daryl Hananh, Tyra Banks, David Copperfield bahkan Ban Ki Moon berkunjung ke GSB dan mengagumi konsep sekolah yang dikelola oleh sepasang suami istri Hardy. Sekolah lokal, sekolah nasional dan internasional bebas tumbuh berkembang di tanah air.

Masyarakat tionghoa pun telah lama tinggal, berinteraksi dan membangun bisnis di Indonesia.

Sejarawan berbeda pendapat tentang asal usul masuknya Islam di Indonesia. Ada yang percaya Islam disebarkan oleh pedagang dari Gujarat, ada yang mengatakan langsung dari Mekkah, ada yang mengatakan dibawa oleh orang-orang Cina Yunnan yang bermadzhab Hanafi. Raden Fatah yang merupakan raja Demak pertama bernama asli Jin Bun. Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo bernama asli Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng, seorang tionghoa suku Hui bermadzab Hanafi.

Di era kuno hingga zaman modern, interaksi antara beragam suku bangsa, budaya, agama, telah biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Bahkan, dalam hal kedekatan aqidah, Islam di Indonesia memiliki pertalian sejarah dengan India, Arab dan Cina. Tak diragukan lagi sumbangsih Walisongo dan kerajaan Demak bagi perjalanan kaum muslim di Indonesia. Bersamaan dengan itu, tak diragukan lagi ikatan iman dan ukhuwah antara kaum muslimin nusantara dengan saudara-saudara muslim dari Cina.

 

Siapa yang meresahkan?

Kasus pedofilia yang pernah marak di Bali, terselubung layanan pariwisata membuat masyarakat resah. Namun, tidak serta merta pemerintah mem black list semua daftar turis asing untuk berkunjung, membuka usaha, menikah dengan warga setempat, atau membeli properti di Indonesia. Tidak kemudian mengusir John Hardy dan Leslie Medema yang membangun GSB sebab menyadari, pedofilia dilakukan oleh oknum. Tidak semua ekspatriat yang tinggal di Bali atau wilayah Indonesia lainnya berniat jahat.

Issue tentang etnis tertentu yang menguasai ekonomi dan politik, juga tidak membuat masyarakat Indonesia atau pemerintah, serta merta memblokade wilayah-wilayah muamalah. Selama dilakukan oknum, maka bukan ras tertentu atau agama tertentu yang menjadi musuh.

Masjid Cheng Ho yang dikelola PITI di Jawa Timur berujud bangunan klenteng, menjadi saksi bagaimana kaum Tionghoa dan masyarakat setempat berinteraksi dengan baik. Halaman masjid tersebut diperuntukkan pemuda-pemuda yang ingin berolah raga, tak terkecuali dari agama berbeda. SMA negeri, universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra; menyelenggarakan aktivitas olahraga di halaman masjid. Saat peletakan batu pertama masjid tersebut di tahun 2001; tokoh-tokoh Tionghoa hadir , dari agama dan latar belakang berbeda. Di antara mereka hadir ketua paguyuban masyarakat Tionghoa Liem Ou Yen, presiden komisaris PT Gudang Garam Tbk Bintoro Tanjung, direktur PT Surya Inti Permata Tbk Henry J. Gunawan, ketua majelis tinggi agama Konghucu Indonesia Bingky Irawan.

masjid_cheng_ho

Masjid Cheng Ho, Surabaya

Masyarakat Indonesia telah terbiasa menerima warga lain yang bukan sesuku, bukan satu ras, bukan satu agama untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup bangsa. Sikap welas asih kaum muslimin pada sesama menyebabkan kita juga terbiasa tepaselira alias tenggang rasa. Dalam bahasa lain, mencoba bersabar dan mengalah terlebih dahulu bila terjadi benturan. Tidak ingin memancing pertikaian.

Anda tahu Bali, bukan?

Secara geografis wilayah itu disebut minoritas dan terhimpit.

Sebelah timur, NTB dengan suku sasak Lombok yang sangat kental nuansa keagamaannya. Sebelah barat, Jawa Timur dan Madura yang juga sangat kental kehidupan religiusnya, terlebih warga Madura yang demikian taat pada kiai. Beberapa pulau kecil Madura merupakan keturunan pelaut dari Sulawesi yang memiliki temperamen keras.  Di sebelah utara Bali terletak Kalimantan dan Sulawesi, dimana Sulawesi dikenal dengan suku Bugis yang juga kental terikat dengan syariat Islam.

Kalau kaum muslimin yang mayoritas terbiasa mendzalimi kaum lain; sudah sejak dulu Bali tak aman. Kadang-kadang di Bali timbul beberapa kejahatan seperti pencurian dan perampokan, dilakukan suku yang notabene muslim; namun lebih kepada sebab ekonomi atau motivasi kejahatan dibanding cleansing ethnic seperti yang terjadi di negara sebelah, Myanmar.

Suku Batak di Sumatera Utara pun dikepung oleh orang-orang Aceh yang militan dan suku Melayu di bagian timur/selatan yang menjadikan Islam sebagai darah daging. Hampir tak pernah didengar, Batak menghadapi serbuan orang-orang muslim kecuali satu masa dahulu di era kolonial Belanda dimana kaum Paderi pernah memkasakan kehendak pada orang Batak.

Dalam sejarah Islam, memang pernah kerajaan-kerajaan Islam melakukan penaklukan seperti yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih. Peperangan dan pembunuhan tentu ada, satu dua prajurit yang melakukan tindakan kelewat batas mestinya juga terjadi. Namun tidak ada pembantaian yan dikomandokan atas nama agama. Perang Ain Jalut antara Mamluk yang notabene muslim dibawah komando Baybar dan Qutuz, menang atas Kitbuqa dan pasukan Mongolia, terjadi demikian heroik. Berbeda ketika Mongolia menaklukan Baghdad, darah kaum muslimin memerahkan aliran sungai; maka peperangan Ain Jalut murni antar kekuatan bersenjata.

Kembali pada Islam dan Indonesia.

Islam tidak mengenal cleansing ethnic. Justru ketika berhadapan dengan kaum yang tidak mengenal Islam, kewajiban yang utama adalah berdakwah atas kaum tersebut. Jelas sekali dalam the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold; dakwah Islam lebih mengedepankan upaya persuasif.  Pedang atau senjata baru diangkat ketika telah terjadi peperangan di satu wilayah.

Seorang muslim Cina yang menyertai perutusan kaisar Cina ke Jawa sebagai juru bahasa 6 tahun sebelum wafatnya Maulana Ibrahin (1413) menyebut adanya orang-orang Islam di Jawa dalam bukunya Keterangan Umum tentang Pantai dan Lautan :the-preaching-od-islam

“Di negeri ini terdapat 3 golongan penduduk. Penduduk Islam yang datang dari Barat dan telah menjadi penetap, pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Kedua, orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap disini, pakaian dan makanan mereka juga baik-baik, banyak di antaranya yang masuk Islam serta taat melaksanakan amal ibadah agamanya. Ketiga, ialah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tak berpakaian, rambut tak disisir, kaki telanjang dan mereka sangat memuja roh. Negeri inilah yang dikatakan sebagai negeri serba roh didalam buku-buku Buddha.”

Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari pengaruh bangsa Arab, India, Cina dan wilayah Indocina. Persatuan telah terjalin berabad-abad lamanya di nusantara.

Indonesia, memaknai Bhinneka Tunggal Ika sebagai berbeda-beda tetapi satu. Walau Islam mayoritas dan agama yang lain minoritas, bukan berarti sah menindas agama yang berbeda. Walau keterikatan suku dan agama di Indonesia lebih dekat kepada Malaysia sebagai rumpun Melayu; Arab dan sebagian wilayah Afrika dengan ikatan aqidah; bukan berarti Indonesia menolak  warga benua Amerika, Eropa, Australia yang notabene bukan muslim.

Setiap yang ingin tinggal di Indonesia baik WNI atau WNA, muslim atau non muslim, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Satu sama lain harus menghormati, satu sama lain harus menghargai batas-batas.

Memang, adakalanya terjadi benturan interpretasi atau benturan kepentingan antar agama. Ucapan Natal misalnya, sebagian kaum muslimin mengharamkan dan sebagian yang lain masih melakukan. Namun teguran atas ucapan Natal lebih kepada kaum muslimin sendiri; tanpa perlu mencaci maki penganut Kristiani atau mencacai maki gereja serta pendeta/pastor.

Perbedaan pendapat terkait Isa as dan Yesus Kristus, atau bagaimana kaum muslimin memandang Maryam binti Imron dan bunda Maria; dibahas di kalangan kaum muslimin sendiri, di masjid atau majelis pengajian. Ataupun ketika ada dialog terbuka  membahas satu hal sensitif  (misal terkait masalah pemurtadan dan pindah agama) dilakukan oleh  pemuka agama masing-masing dalam dialog antar agama.

Akan sangat membingungkan ketika permasalahan lintas agama dibahas di ruang publik, bukan oleh pemuka agama, tidak ada orang kompeten yang mewakili dari agama yang bersangkutan. Indonesia, sebagai negara hukum pun akan berada dalam posisi sulit. Para ahli hukum berikut jajaran kepolisian akan berada dalam situasi serba tak nyaman, sebab ada benturan kepentingan.

Ingin menegakkan keadilan, lalu orang bersuara : apakah ini bukan masalah antar muslim non muslim? Ingin menegakkan kebenaran, lalu orang berpendapat : apakah ini bukan issue SARA, suku non Tinghoa versus Tionghoa?

Kita dapat merasakan beratnya beban polisi, beratnya beban negara, beratnya beban pemerintah. Jika memenangkan salah satu, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan. Dan kerugian mungkin tidak cukup terbilang dalam rupiah.

Masyarakat Indonesia mungkin mudah berteriak : polisi harus membela yang  benar, melayani masyarakat. TNI AD harus mengayomi rakyat Indonesia dan menjaga NKRI. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan interpersonal saja dapat berkembang demikian rumit ketika ada kepentingan-kepentingan terlibat didalamnya (hubungan mahasiswa-dosen, murid-guru, warga-ketua RT dapat sederhana dapat pula ruwet tanpa ujung). Hubungan bawahan-kepala kantor yang seharusnya hanya terbatas di lingkup kerja, harus berkembang menjadi hubungan harmonis antar teman, hubungan tepaselira bila berbeda agama, hubungan supportif bila ingin target kerja tercapai (hubungan supportif termasuk memberi perhatian, memberi bantuan finansial atau non material).

Apalagi, hubungan yang melibatkan institusi besar semacam negara, perusahaan raksasa, pemodal asing, militer bersenjata. Pasti akan jauh lebih banyak yang dipertimbangkan. Pasti akan jauh lebih rumit. Pasti akan menguras energi, emosi, perhatian, tenaga, biaya dan segala macam sumber daya.

 

Nurani bagi Pejabat dan Petinggi Militer

Sejarah, dapat menjadi panduan cemerlang bagi para pemimpin yang sedang dilanda gelisah resah dalam mengambil keputusan.

Kisah dibawah ini semoga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua.

Adalah seorang bernama Najmuddin Ayyub.

Ia seorang dizdar (pemimpin kastil) di Tikrit, menggantikan ayahnya Shadzi ibnu Marwan yang wafat. Shadzi ibnu Marwan memiliki dua putra : Najmuddin Ayyub dan Assaduddin Shirkuh. Perjalanan Shadzi dan dua putranya hingga tiba di Tikrit, Iraq, demikian berliku. Berhubung Shadzi adalah seorang pejabat dan politikus; ia memiliki hubungan rumit dengan banyak orang, banyak kepentingan. Shadzi memiliki hutang budi salah satunya kepada sahabatnya sendiri, Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz. Bihruz banyak membantu Shadzi bukan hanya urusan material namun juga non material. Bihruz bukan hanya berjasa pada Shadzi, namun juga pada dua putranya, Ayyub dan Shirkuh.

Najmuddin Ayyub-lah yang dapat tampil menjadi seorang negarawan yang cakap, bijak, berani mengambil keputusan.

Terjadi beberapa peristiwa penting yang membuat Najmuddin Ayyub harus mengambil keputusan sulit.

Pertama, ia seharusnya mengabdi utuh pada khalifah Abbasiyyah saat itu, Mustarshid Billah. Konflik tajam saat itu memunculkan peperangan antara Khalifah melawan Ghiyatsuddin Masud dan Imaduddin Zanki. Dalam pertempuran, pasukan Imaduddin Zanki terdesak hebat. Najmuddin Ayyub dapat saja menebas leher Zanki dan membawanya ke hadapan khalifah, dengan demikian kedudukannya akan semakin cemerlang, berwibawa dan melesat. Namun Ayyub justru memilih melindungi Zanki yang tertatih-tatih, melarikan diri lewat sungai Tigris menuju Mosul. Tindakan Najmuddin Ayyub menuai kecaman keras dari para petinggi dan pejabat kekhalifahan. Mujahidduddin Bihruz sangat murka dengan pembangkangan Najmuddin Ayyub. “Kamu mendapatkan musuh dalam gengggamanmu; mengapa kamu perlakukan dia dengan baik dan melepaskannya?!”

Kedua, bekas bendahara pemerintahan Saljuq, Azizuddin al Mastaufi, ditahan di Tikrit karena satu tuduhan. Al Mastaufi harus menjalani hukuman mati dan harus dibawa ke Baghdad. Najmuddin Ayyub menolak perintah tersebut sebab ia yakin, al Mastaufi sesungguhnya tak bersalah. Mujahiduddin Bihruz yang akhirnya menjemput al Mastaufi di Tikrit dan menghukum mati dirinya di Baghdad.

Ketiga, suatu ketika seorang perempuan melewati  benteng Tikrit sembari menangis. Ayyub dan Shirkuh melihatnya dan menanyakan sebab ia bersedih. Perempuan itu menjawab ia telah dilecehkan oleh isfahsalar (pimpinan tentara) beragama Nashrani. Shirkuh marah sekali hingga ia mengambil tombak dan menusuk sang isfahsalar. Atas perbuatannya, Najmuddin Ayyub terpaksa memenjarakan Shirkuh. Sesungguhnya, Ayyub sangat mencintai Shirkuh. Adik lelaki satu-satunya itu telah menemani hidupnya sejak mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit. Keduanya bahu membahu untuk masalah keluarga hingga pertempuran. Agar keadilan tidak timpang sebelah, Ayyub melaporkan kejadian tersebut kepada Mujahiduddin Bihruz.

Dapat diduga, Bihruz murka besar. Meski desas desus beredar, Shirkuh membunuh isfahsalar bukan hanya karena ia melecehkan si perempuan muslimah namun juga ia melecehkan agama Islam. Bihruz, yang telah menolong keluarag Shadzi sejak bertama kali mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit, merasa Najmuddin Ayyub tak tahu membalas terima kasih. Berkali-kali Ayyub membangkang perintah khalifah dan menyulitkan posisi Bihruz. Kali ini, Bihruz mengambil keputusan tak main-main : Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beriktu seluruh keluarga mereka, malam itu juga harus meninggalkan Tikrit. Bila tidak, mereka tak akan bernyawa lagi.

Malam kelam saat itu, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beserta keluarga mereka mengendap keluar dari benteng Tikrit. Pedih hati Ayyub. Bukan karena ia berkecil hati atas kerugian, kesusahan, kesulitan yang menghimpit keluarganya lantaran ia bersikukuh memilih kebenaran atas kebathilan. Tapi karena malam itu, istri Najmuddin Ayyub baru saja  melahirkan. Tubuhnya masih lemah, bayi lelaki di pelukannya merah dan mungil

Di bawah langit kota Tikrit yang dipenuhi gemintang.

Dihadang benteng-benteng sunyi yang menyaksikan sejarah jatuh bangun berulang. Disisi hati yang menangis antara ketakutan, kekhwatiran, namun juga keinginan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Di gang-gang sunyi gelap yang diintai oleh orang-orang khianat dan kemungkinan tertangkap. Najmuddin Ayyub menangisi takdirnya, menangisi bayi lelaki dalam dekapannya yang sekecil itu berada dalam pelarian. Seorang lelaki, pengikutnya, menghiburnya.

Ucapan lelaki itu ternyata dicatat oleh para sejarawan.

Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz yang berkuasa, pintar mencari posisi, kesayangan khailfah dan pejabat-pejabatnya; anak cucunya tak dikenal sebagaimana anak cucu sahabat yang ditolongnya, Shadzi ibnu  Marwan. Shadzi ibnu Marwan mewariskan keberanian, kejujuran, dan ketundukan pada Allah Swt kepada dua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh. Kelak, bayi lelaki merah yang baru saja dilahirkan, yang dilarikan diantara bintang gemintang Tikrit. Di antara bayang-bayang benteng yang tak mampu menahan langkah kaki pelarian menuju Mosul. Bayi lelaki itu mengharumkan nama kakeknya, Shadzi ibnu Marwan dan ayahnya, Najmuddin Ayyub.

Bayi pelarian Tikrit itu bernama, Shalahuddin al Ayyubi.

Bisakah pemimpin dan militer kita seperti Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi, ketika hatinya menyerukan kebenaran maka ia berani menyuarakan pendapat dan bertindak berdasarkan hati nurani?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Referensi :

Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. 1979. Penerbit Widjaya, Jakarta

De Graff, H.J. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI : Antara Historisitas dan Mitos. 2004. Tiara Wacana, Yogya

Alatas, Syed Alwi. Biografi Agung Salahuddin al Ayyubi. 2014. Karya Bestari, Malaysia

Jawa Pos, Sabtu 15 Oktober 2016. Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan : Bikin Penasaran Ban Ki Moon dan David Copperfield.

Jawa Pos, —-. Jejak 14 tahun Masjid Muhamamd Cheng Hoo, Simbol Peratuan dan Toleransi Bangsa : Siang untuk Jumatan, Sore Lapangan Basket

 

Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖

 

 

 

 

 

Kanjeng Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul?

Sayup di tengah malam, dalam keheningan kota Yogyakarta ketika saya kecil; samar terdengar di kejauhan derap langkah kaki pasukan dan gemerincing roda kereta. Suara indah, magis, harmoni dalam senyap dan kemegahan. Orang-orang berkata, terkadang suara yang kita dengar di malam hari, pertanda Nyai Roro Kidul tengah berkunjung ke istana .

Nyai Roro Kidul adalah sosok cantik bergaun hijau, dengan rambut tergerai hitam menutupi punggung. Mengenakan busana kebesaran ratu-ratu Jawa. Terkadang menggunakan kereta kencana, terkadang menunggang lautan membelah samudera. Konon, raja-raja tanah Jawa harus naik takhta dengan restunya. Bila mendapat restu Nyai Roro Kidul, maka aman tentramlah tanah Jawa. Bila tidak, sepanjang masa rakyat bergolak dan raja celaka.

Nyai Roro Kidul

Lukisan Nyai Roro Kidul ~ Basuki Abdullah

Perjanjian Panembahan Senopati dan Sang Ratu

Kapan Ratu Kidul muncul?

Apakah ia telah hadir sejak zaman Majapahit atau lebih awal lagi? Ataukah baru dikenal di zaman Mataram dan sesudahnya? Seperti apa sosok dirinya sesungguhnya, bahkan konon jauh lebih cantik memukau dibanding yang telah kita kenal selama ini?

Ratu KIdul

Versi lain Nyai Roro Kidul

Mengenal Ratu Kidul, berarti menapak tilasi sedikit sejarah berdirinya Mataram Islam.

Sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada dalam memerintah Majapahit, perang saudara menyelimuti tanah Jawa termasuk perang Paregreg yang legendaris. Satu demi satu raja naik takhta, digulingkan, naik yang lain, pemberontakan muncul, raja baru tampil, mati dan begitu seterusnya. Majapahit bahkan pernah kosong selama 3 tahun.

Kemunduran Majapahit disusul munculnya Demak dan Pajang yang didukung oleh para wali.

Singkat cerita, terdapatlah dua saudara kharismatik, Ki Ageng Giring dan Ki Pemanahan. Ki Pemanahan, memiliki beberapa isyarat akan tampil menjadi raja Tanah Jawa karena beberapa kejadian :

  1. Suatu saat , Ki Ageng Giring naik pohon kelapa dan mendapati suara berkata, siapa yang meminum air kelapa yang tengah diambilnya maka keturunannya akan menjadi raja-raja Jawa. Ki Ageng Giring pulang ke rumah, meminta istrinya untuk menjaga buah kelapa tersebut baik-baik. Tak dinyana, Ki Pemanahan tiba-tiba berkunjung untuk silaturrahim dan meminum buah kelapa tersebut. Ki Ageng Giring yang semula menyangka keturunannya yang akan menjadi raja, menyadari bahwa keturunan Ki Pemanahan yang akan menjadi raja-raja terkemuka.
  1. Sultan Pajang, pernah menjanjikan Alas Mentaok kepada Ki Pemanahan atas jasa-jasa dan kesetiaannya. Bertahun-tahun janji tersebut tak dipenuhi, hingga Sunan Kalijaga menegurnya. Sultan Pajang berkilah, bahwa ia ingin memberikan wilayah negara yang lebih makmur kepada Ki Pemanahan, bukan Alas Mentaok yang masih hutan. Sultan Pajang mendapat kabar dari Sunan Giri, siapa saja yang menguasa Alas Mentaok , akan menjadi raja-raja Jawa. Sunan Kalijaga mengingatkan, bagaimanapun, janji harus ditepati. Meski berat hati, Alas Mentaok dihibahkan kepada Ki Pemanahan. Kelak, Alas Mentaok ini berubah nama menjadi Ngeksiganda. Ngeksi = Mata. Ganda = Harum. Ngeksiganda dikenal juga dengan nama Matarum atau Mataram, dalam bahasa India berarti Tanah Air. Ki Pemanahan lalu dikenal sebagai Ki Ageng Mataram.

Ki Pemanahan atau Ki Ageng Mataram memiliki 5 putra, salah satunya bernama Danang Sutawijaya atau kelak dikenal sebagai nama Panembahan Senapati. Ketika Ki Pemanahan wafat, Mataram dalam keadaan stabil namun harus segera menentukan pengganti. Ki Juru Martani, pendamping setia Ki Pemanahan mengajak 5 putra tersebut untuk sowan ke Sultan Pajang; berharap Sultan Pajang akan menetapkan pengganti namun Sultan Pajang tidak punya pilihan istimewa.

Ki Pemanahan & Panembahan Senapati

Lukisan wajah Ki Pemanahan ( Ki Ageng Mataram) &  Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati), di balai pemakaman raja-raja Kotagade

Dari kelima putra, Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati)  yang sering mengikuti perilaku tirakat Ki Pemanahan. Bangun malam, melakukan kontemplasi. Suatu saat, saat sedang menyepi, Panembahan Senopati melihat bintang bersinar terang datang kepadanya dan mengatakan bahwa ialah yang kelak akan menjadi Raja Mataram.

Panembahan Senapati gundah. Nasehat Ki Juru Martani yang kelah mengubah nasibnya.

“Janganlah kamu sombong. Bintang yang berkata-kata tersebut, boleh jadi benar, boleh jadi salah. Kita memohon pada Tuhan, semoga yang sulit dimudahkan. Bila kau memberontak pada Pajang, besar taruhannya. Mari kita berupaya bersama-sama; aku akan naik ke Merapi. Kamu akan ke Penguasa Laut Selatan.”

Kanjeng Ratu Kidul : manusia, peri, atau jin?

Menurut Ki Polo, salah satu juru kunci pemakaman Girilaya Imogiri terdapat perbedaan yang harus diluruskan di tengah masyarakat terkait tiga nama berikut :

  1. Kanjeng Ratu Kidul
  2. Nyai / Nyi Roro Kidul
  3. Ni Roro Kidul

Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa wilayah Pantai Selatan. Nama aslinya hingga kini masih misteri. Ia adalah perempuan bangsawan biasa , yang jatuh cinta pada rakyat jelata dan diharuskan hidup menyepi karena keputusannya. Lambat laun, karena mumpuni dalam hal pemerintahan, ia menjadi penguasa wilayah Pantai Selatan dan memiliki banyak bawahan. Raja-raja kecil di wilayah Selatan tunduk pada sosok yang dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul hanya terjadi antara Panembahan Senapati, dan perjanjian tersebut bukan berupa ikatan pernikahan namun perjanjian bahwa Kanjeng Ratu Kidul sepenuhnya mendukung baik logistik dan pasukan kepada Panembahan Senapati.

Bagaimana dengan Ki Juru Martani?

Wilayah Merapi juga dipenuhi dengan penguasa-penguasa kecil. Ucapan Ki Juru Martani bahwa beliau akan meminta bantuan pada Penguasa Merapi bukan dalam artian beliau memohon pasukan gaib namun beliau bergerilya mengumpukan satu demi satu kekuatan agar Mataram mendapatkan dukungan penuh dari dua penjuru mata angin : Merapi dan Pantai Selatan.

Siapakah Nyai Roro Kidul dan Ni Roro Kidul?

Sejarah masuknya Islam di Jawa harus menghadapi kultur budaya Hindu yang sangat erat melekat hingga ke tulang sumsum bagi masyarakat. Dakwah 9 Wali memang belum tuntas dan harus dieteruskan oleh generasi demi generasi sesudahnya. Namun peletakan dasar para wali tersebut juga bukan perkara remeh dan gampang.

Sunan Kalijaga, adalah salah satu wali yang sering disalahartikan perilaku beliau menyerempet-nyerempet agama Hindu. Padahal, penggunaan istilah-istilah yang digunakan para Wali adalah agar agama Islam lebih dapat diterima di kalangan masyarakat Hindu. Istilah tersebut antara lain :

  1. Pusaka atau jimat. Masyarakat Hindu sangat mengagumi pusaka atau jimat. Seolah tanpa pusaka atau jimat, hidup tak akan tenteram. Apakah Islam punya pusaka atau jimat? Tentu. Gelar-gelar raja Jawa seperti Panembahan Senapati Ing Alaga Sayyidin Panatagama Kalifatullah dan seterusnya adalah gelar yang menunjukkan bahwa sang Penguasa Jawa tersebut dibekali dengan pusaka dan jimat sakti tiada dua. Kalifatullah hingga sekarang masih dikenakan oleh Hamengkubuwono X, merupakan nama pusaka yang terdiri atas 2 jenis : Kiai Kanjeng Al Quran dan Sajadah.

Masih ingat dengan sepasang keris Kiai Naga Sastra dan Kiai Sabuk Inten? Pusaka dan jimat konon kabarnya harus sepasang. Hilang satu, maka pertanda petaka. Quran dan Sajadah  adalah sepasang jimat pusaka yang harus mengiringi sang Penguasa dimanapun ia berada.

  1. Kebiasaan masyarakat Hindu untuk menyepi, bertapa, sering digunakan oleh Ki Pemanahan, Panembahan Senapati yang sekilas terlihat sama. Orang-orang yang ingin menajamkan mata batinnya dengan berjaga-jaga sepanjang malam, melakukan sholat malam dan tilawah al Quran.
  2. Tapa telanjang. Beberapa penguasa melakukan hal ini. Ratu Kalinyamat salah satunya, yang bertapa telanjang hingga keinginannya untuk mengalahkan Aria Penangsang tercapai. Tapa telanjang ini bukanlah bertapa dengan kondisi tanpa busana, namun sang Ratu menanggalkan semua pakaian kebesarannya sebagai bangsawan saat tengah berkhidmah pada Sang Pencipta.

Para sastrawan sering menggunakan bahasa-bahasa indah dan sanepo (perlambang) untuk menggambarkan kedalaman makna. Jalaluddin Rumi menggambarkan asyik masyuknya berdua dengan Ilahi Robbi, menggunakan terminologi mabuk dan jatuh cinta.  Bahasa-bahasa perlambang sering digunakan dalam masyarakat yang dekat dengan nilai-nilai sastrawi seperti Persia dan Hindu. Hubungan Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul dikabarkan sangat “mesra” hingga Mataram Islam berdiri. Kemesraan ini sering diartikan sebagai ikatan cinta.

Kebiasaan Tapabrata dan mencari Pusaka terus berlangsung hingga murid-murid para wali, keturunan Ki Pemanahan dan seterusnya sampai saat ini. Sebagian murid-murid atau pengikut yang masih kental nuansa Hindunya, benar-benar melakukan tapabrata.

Ingatkah nasehat Ki Juru Martani terkait suara Bintang Jatuh yang datang kepada Panembahan Senapati? Kebijaksanaan Ki Juru Martani sungguh tepat, mengingatkan Panembahan Senapati untuk tidak mempercayai suara tersebut 100%. Ucapan beliau agar Panembahan Senapati justru harus semakin mendekatkan diri pada Allah agar diberikan jalan keluar sekaligus menambahkan, “…suara gaib tak dapat dipercaya sebagaimana engkau mempercayai lidah manusia.”

Murid dan penerus dari pelaku-pelaku sejarah ini yang melakukan tapabrata dan ritual-ritual Islam-Hindu mendapatkan suara-suara gaib seperti Bintang Jatuh ; terkadang dalam 2 bentuk Nyai Roro Kidul atau Ni Roro Kidul. Baik keduanya adalah bangsa jin yang seperti digambarkan Ki Juru Martani : tak dapat dipercayai sebagaimana kita dapat  mempercayai manusia.

Masyarakat umum, terutama masyarakat Jawa semakin sulit memisahkan antara Kanjeng Ratu Kidul yang hanya sekali saja melakukan perjanjian dengan Panembahan Senapati ( bukan turun temurun, apalagi dalam bentuk pernikahan, sebab Kanjeng Ratu Kidul juga tua dan mati); dengan Nyai Roro Kidul dan Ni Roro Kidul yang berasal dari kalangan jin.

Sebagaimana Quran surah ke 72 yang mengupas tuntas tengan Jin, Allah memberitahukan bahwa selalu ada segolongan manusia yang melakukan perjanjian, meminta pertolongan kepada bangsa Jin. Dan tidaklah bangsa Jin tersebut membantu apalagi memuliakan manusia kecuali justru melakukan yang sebaliknya : menjadikan manusia tersesat dan semakin lemah tak berdaya.

Nyai Roro Kidul sangat cantik?

Tentang Kanjeng Ratu Kidul, Nyai Roro Kidul atau Ni Roro Kidul yang sesungguhnya merupakan 3 sosok berbeda; masyarakat hanya mendapatkan gambaran visual dari 1 pihak : pelukis Basuki Abdullah.

Basuki Abdullah adalah pelukis yang menyukai gaya erotis-sensual. Lihatlah penggambaran Jaka-Tarub dan Bidadari atau tentang gadis Sunda. Penikmat seni tentu sepakat bahwa keindahan tubuh wanita yang menjadi point of view Basuki Abdullah. Demikian pula penggambaran Basuki Abdullah terkait Nyai Roro Kidul.

Cantik, bertubuh indah, rambut hitam terurai panjang, mengenakan busana hijau.

Ki Polo dari Imogiri menyampaikan : belum tentu Nyai Roro Kidul seperti itu. Saat manusia berkhayal, membayangkan, dan mengadakan persekutuan dengan makhluk ghaib; maka demikianlah bangsa jin akan menyesatkan. Kecantikan Nyai Roro Kidul menjadi legenda, mitos, cerita rakyat, kepercayaan turun temurun padaham belum tentu ia seperti itu. Bukankah bangsa jin adalah makhluk ghaib yang dikabarkan mampu berubah wujud menjadi ular atau binatang melata?

Ki Polo

Ki Polo, paling kanan dan anak-anak

Sungguh disayangkan bila Kanjeng Ratu Kidul yang sesungguhnya, pendukung heroisme Panembahan Senapati digambarkan dengan tidak tepat. Disembah, diberikan sesaji, mengamuk penuh angkara murka bila tak dinikahi raja Jawa. Pun, raja-raja Jawa yang cikal bakalnya dididik oleh para Wali yang agung, ternyata tunduk pada makhluk gaib. Sungguh mengecilkan peran Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Giri, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati. Pada akhirnya, kitapun akan mengecilkan peran para raja-raja yang dimakamkan di Imogiri; raja-raja tangguh yang kedigdayaannyan ditakuti oleh penguasa seantero dunia.

Bayangkan saja.

Seberapa kuat Nyai Roro Kidul mendukung Sultan Agung Hanyokrokusumo yang disegani Raja Aceh, Palembang, Turki hingga Syam? Bila saja memang Nyai Roro Kidul sekuat dan sesakti yang dibayangkan orang-orang, tentu Indonesia termasuk raja-raja yang masih tersisa dapat mudah menguasai Eropa, Amerika, dan seterusnya.

QS 72 (Al Jinn) : 6 :

“dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada bangsa jin, tetapi mereka (jin) menjadikan manusia bertambah sesat.”

 

Sinta Yudisia

Surabaya, 28 Juli 2015

 

Referensi :

  1. Heryanto, Mas Fredy. Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 2010. Warna Publishing
  2. Martohastono, RNg. Riwayat Pesarean Mataram I Kota Gede
  3. Nitinagoro, Hamaminata KRA. Sejarah Keraton Mataram. 2013. Grafika Citra Mahkota
  4. Wawancara dengan Ki Polo, Imogiri, Juli 2015