Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi : bila pemimpin dan militer berupaya menegakkan kebenaran

 

 

Siapa tidak ingin tinggal di Indonesia?

Kolam susu, hutan bakau, laut penuh ikan dan mutiara, udara jernih, daratan dipenuhi bahan tambang dan subur makmur. Sudah sejak lama ekspatriat senang tinggal di Bali yang hangat sementara negara-negara mereka berselimut salju tebal. 13.000 pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke, masih memungkinkan menampung manusia-manusia tinggal dan hidup beranak pinak.

 

Buat usaha sampai mendirikan sekolah

Adalah John Hardy, pria Kanada yang memulai bisnis perhiasan di Bali sejak 1975. Belakangan ia tertarik membangun sekolah dengan konsep alam. Jadilah John Hardy  dan Cynthia Hardy membeli lahan 4,55 hektar di daerah Badung lalu membangun Green School Bali. Kepala sekolah GSB adalah Leslie Medema, berasal dari South Dakota dan telah tinggal 6 tahun di Bali. GSB saat ini terdiri dari 384 siswa dari 33 negara. Anak-anak Nadya Hutagalung , presenter Asia’s Next Top Model bersekolah disini. Daryl Hananh, Tyra Banks, David Copperfield bahkan Ban Ki Moon berkunjung ke GSB dan mengagumi konsep sekolah yang dikelola oleh sepasang suami istri Hardy. Sekolah lokal, sekolah nasional dan internasional bebas tumbuh berkembang di tanah air.

Masyarakat tionghoa pun telah lama tinggal, berinteraksi dan membangun bisnis di Indonesia.

Sejarawan berbeda pendapat tentang asal usul masuknya Islam di Indonesia. Ada yang percaya Islam disebarkan oleh pedagang dari Gujarat, ada yang mengatakan langsung dari Mekkah, ada yang mengatakan dibawa oleh orang-orang Cina Yunnan yang bermadzhab Hanafi. Raden Fatah yang merupakan raja Demak pertama bernama asli Jin Bun. Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo bernama asli Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng, seorang tionghoa suku Hui bermadzab Hanafi.

Di era kuno hingga zaman modern, interaksi antara beragam suku bangsa, budaya, agama, telah biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Bahkan, dalam hal kedekatan aqidah, Islam di Indonesia memiliki pertalian sejarah dengan India, Arab dan Cina. Tak diragukan lagi sumbangsih Walisongo dan kerajaan Demak bagi perjalanan kaum muslim di Indonesia. Bersamaan dengan itu, tak diragukan lagi ikatan iman dan ukhuwah antara kaum muslimin nusantara dengan saudara-saudara muslim dari Cina.

 

Siapa yang meresahkan?

Kasus pedofilia yang pernah marak di Bali, terselubung layanan pariwisata membuat masyarakat resah. Namun, tidak serta merta pemerintah mem black list semua daftar turis asing untuk berkunjung, membuka usaha, menikah dengan warga setempat, atau membeli properti di Indonesia. Tidak kemudian mengusir John Hardy dan Leslie Medema yang membangun GSB sebab menyadari, pedofilia dilakukan oleh oknum. Tidak semua ekspatriat yang tinggal di Bali atau wilayah Indonesia lainnya berniat jahat.

Issue tentang etnis tertentu yang menguasai ekonomi dan politik, juga tidak membuat masyarakat Indonesia atau pemerintah, serta merta memblokade wilayah-wilayah muamalah. Selama dilakukan oknum, maka bukan ras tertentu atau agama tertentu yang menjadi musuh.

Masjid Cheng Ho yang dikelola PITI di Jawa Timur berujud bangunan klenteng, menjadi saksi bagaimana kaum Tionghoa dan masyarakat setempat berinteraksi dengan baik. Halaman masjid tersebut diperuntukkan pemuda-pemuda yang ingin berolah raga, tak terkecuali dari agama berbeda. SMA negeri, universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra; menyelenggarakan aktivitas olahraga di halaman masjid. Saat peletakan batu pertama masjid tersebut di tahun 2001; tokoh-tokoh Tionghoa hadir , dari agama dan latar belakang berbeda. Di antara mereka hadir ketua paguyuban masyarakat Tionghoa Liem Ou Yen, presiden komisaris PT Gudang Garam Tbk Bintoro Tanjung, direktur PT Surya Inti Permata Tbk Henry J. Gunawan, ketua majelis tinggi agama Konghucu Indonesia Bingky Irawan.

masjid_cheng_ho

Masjid Cheng Ho, Surabaya

Masyarakat Indonesia telah terbiasa menerima warga lain yang bukan sesuku, bukan satu ras, bukan satu agama untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup bangsa. Sikap welas asih kaum muslimin pada sesama menyebabkan kita juga terbiasa tepaselira alias tenggang rasa. Dalam bahasa lain, mencoba bersabar dan mengalah terlebih dahulu bila terjadi benturan. Tidak ingin memancing pertikaian.

Anda tahu Bali, bukan?

Secara geografis wilayah itu disebut minoritas dan terhimpit.

Sebelah timur, NTB dengan suku sasak Lombok yang sangat kental nuansa keagamaannya. Sebelah barat, Jawa Timur dan Madura yang juga sangat kental kehidupan religiusnya, terlebih warga Madura yang demikian taat pada kiai. Beberapa pulau kecil Madura merupakan keturunan pelaut dari Sulawesi yang memiliki temperamen keras.  Di sebelah utara Bali terletak Kalimantan dan Sulawesi, dimana Sulawesi dikenal dengan suku Bugis yang juga kental terikat dengan syariat Islam.

Kalau kaum muslimin yang mayoritas terbiasa mendzalimi kaum lain; sudah sejak dulu Bali tak aman. Kadang-kadang di Bali timbul beberapa kejahatan seperti pencurian dan perampokan, dilakukan suku yang notabene muslim; namun lebih kepada sebab ekonomi atau motivasi kejahatan dibanding cleansing ethnic seperti yang terjadi di negara sebelah, Myanmar.

Suku Batak di Sumatera Utara pun dikepung oleh orang-orang Aceh yang militan dan suku Melayu di bagian timur/selatan yang menjadikan Islam sebagai darah daging. Hampir tak pernah didengar, Batak menghadapi serbuan orang-orang muslim kecuali satu masa dahulu di era kolonial Belanda dimana kaum Paderi pernah memkasakan kehendak pada orang Batak.

Dalam sejarah Islam, memang pernah kerajaan-kerajaan Islam melakukan penaklukan seperti yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih. Peperangan dan pembunuhan tentu ada, satu dua prajurit yang melakukan tindakan kelewat batas mestinya juga terjadi. Namun tidak ada pembantaian yan dikomandokan atas nama agama. Perang Ain Jalut antara Mamluk yang notabene muslim dibawah komando Baybar dan Qutuz, menang atas Kitbuqa dan pasukan Mongolia, terjadi demikian heroik. Berbeda ketika Mongolia menaklukan Baghdad, darah kaum muslimin memerahkan aliran sungai; maka peperangan Ain Jalut murni antar kekuatan bersenjata.

Kembali pada Islam dan Indonesia.

Islam tidak mengenal cleansing ethnic. Justru ketika berhadapan dengan kaum yang tidak mengenal Islam, kewajiban yang utama adalah berdakwah atas kaum tersebut. Jelas sekali dalam the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold; dakwah Islam lebih mengedepankan upaya persuasif.  Pedang atau senjata baru diangkat ketika telah terjadi peperangan di satu wilayah.

Seorang muslim Cina yang menyertai perutusan kaisar Cina ke Jawa sebagai juru bahasa 6 tahun sebelum wafatnya Maulana Ibrahin (1413) menyebut adanya orang-orang Islam di Jawa dalam bukunya Keterangan Umum tentang Pantai dan Lautan :the-preaching-od-islam

“Di negeri ini terdapat 3 golongan penduduk. Penduduk Islam yang datang dari Barat dan telah menjadi penetap, pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Kedua, orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap disini, pakaian dan makanan mereka juga baik-baik, banyak di antaranya yang masuk Islam serta taat melaksanakan amal ibadah agamanya. Ketiga, ialah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tak berpakaian, rambut tak disisir, kaki telanjang dan mereka sangat memuja roh. Negeri inilah yang dikatakan sebagai negeri serba roh didalam buku-buku Buddha.”

Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari pengaruh bangsa Arab, India, Cina dan wilayah Indocina. Persatuan telah terjalin berabad-abad lamanya di nusantara.

Indonesia, memaknai Bhinneka Tunggal Ika sebagai berbeda-beda tetapi satu. Walau Islam mayoritas dan agama yang lain minoritas, bukan berarti sah menindas agama yang berbeda. Walau keterikatan suku dan agama di Indonesia lebih dekat kepada Malaysia sebagai rumpun Melayu; Arab dan sebagian wilayah Afrika dengan ikatan aqidah; bukan berarti Indonesia menolak  warga benua Amerika, Eropa, Australia yang notabene bukan muslim.

Setiap yang ingin tinggal di Indonesia baik WNI atau WNA, muslim atau non muslim, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Satu sama lain harus menghormati, satu sama lain harus menghargai batas-batas.

Memang, adakalanya terjadi benturan interpretasi atau benturan kepentingan antar agama. Ucapan Natal misalnya, sebagian kaum muslimin mengharamkan dan sebagian yang lain masih melakukan. Namun teguran atas ucapan Natal lebih kepada kaum muslimin sendiri; tanpa perlu mencaci maki penganut Kristiani atau mencacai maki gereja serta pendeta/pastor.

Perbedaan pendapat terkait Isa as dan Yesus Kristus, atau bagaimana kaum muslimin memandang Maryam binti Imron dan bunda Maria; dibahas di kalangan kaum muslimin sendiri, di masjid atau majelis pengajian. Ataupun ketika ada dialog terbuka  membahas satu hal sensitif  (misal terkait masalah pemurtadan dan pindah agama) dilakukan oleh  pemuka agama masing-masing dalam dialog antar agama.

Akan sangat membingungkan ketika permasalahan lintas agama dibahas di ruang publik, bukan oleh pemuka agama, tidak ada orang kompeten yang mewakili dari agama yang bersangkutan. Indonesia, sebagai negara hukum pun akan berada dalam posisi sulit. Para ahli hukum berikut jajaran kepolisian akan berada dalam situasi serba tak nyaman, sebab ada benturan kepentingan.

Ingin menegakkan keadilan, lalu orang bersuara : apakah ini bukan masalah antar muslim non muslim? Ingin menegakkan kebenaran, lalu orang berpendapat : apakah ini bukan issue SARA, suku non Tinghoa versus Tionghoa?

Kita dapat merasakan beratnya beban polisi, beratnya beban negara, beratnya beban pemerintah. Jika memenangkan salah satu, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan. Dan kerugian mungkin tidak cukup terbilang dalam rupiah.

Masyarakat Indonesia mungkin mudah berteriak : polisi harus membela yang  benar, melayani masyarakat. TNI AD harus mengayomi rakyat Indonesia dan menjaga NKRI. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan interpersonal saja dapat berkembang demikian rumit ketika ada kepentingan-kepentingan terlibat didalamnya (hubungan mahasiswa-dosen, murid-guru, warga-ketua RT dapat sederhana dapat pula ruwet tanpa ujung). Hubungan bawahan-kepala kantor yang seharusnya hanya terbatas di lingkup kerja, harus berkembang menjadi hubungan harmonis antar teman, hubungan tepaselira bila berbeda agama, hubungan supportif bila ingin target kerja tercapai (hubungan supportif termasuk memberi perhatian, memberi bantuan finansial atau non material).

Apalagi, hubungan yang melibatkan institusi besar semacam negara, perusahaan raksasa, pemodal asing, militer bersenjata. Pasti akan jauh lebih banyak yang dipertimbangkan. Pasti akan jauh lebih rumit. Pasti akan menguras energi, emosi, perhatian, tenaga, biaya dan segala macam sumber daya.

 

Nurani bagi Pejabat dan Petinggi Militer

Sejarah, dapat menjadi panduan cemerlang bagi para pemimpin yang sedang dilanda gelisah resah dalam mengambil keputusan.

Kisah dibawah ini semoga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua.

Adalah seorang bernama Najmuddin Ayyub.

Ia seorang dizdar (pemimpin kastil) di Tikrit, menggantikan ayahnya Shadzi ibnu Marwan yang wafat. Shadzi ibnu Marwan memiliki dua putra : Najmuddin Ayyub dan Assaduddin Shirkuh. Perjalanan Shadzi dan dua putranya hingga tiba di Tikrit, Iraq, demikian berliku. Berhubung Shadzi adalah seorang pejabat dan politikus; ia memiliki hubungan rumit dengan banyak orang, banyak kepentingan. Shadzi memiliki hutang budi salah satunya kepada sahabatnya sendiri, Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz. Bihruz banyak membantu Shadzi bukan hanya urusan material namun juga non material. Bihruz bukan hanya berjasa pada Shadzi, namun juga pada dua putranya, Ayyub dan Shirkuh.

Najmuddin Ayyub-lah yang dapat tampil menjadi seorang negarawan yang cakap, bijak, berani mengambil keputusan.

Terjadi beberapa peristiwa penting yang membuat Najmuddin Ayyub harus mengambil keputusan sulit.

Pertama, ia seharusnya mengabdi utuh pada khalifah Abbasiyyah saat itu, Mustarshid Billah. Konflik tajam saat itu memunculkan peperangan antara Khalifah melawan Ghiyatsuddin Masud dan Imaduddin Zanki. Dalam pertempuran, pasukan Imaduddin Zanki terdesak hebat. Najmuddin Ayyub dapat saja menebas leher Zanki dan membawanya ke hadapan khalifah, dengan demikian kedudukannya akan semakin cemerlang, berwibawa dan melesat. Namun Ayyub justru memilih melindungi Zanki yang tertatih-tatih, melarikan diri lewat sungai Tigris menuju Mosul. Tindakan Najmuddin Ayyub menuai kecaman keras dari para petinggi dan pejabat kekhalifahan. Mujahidduddin Bihruz sangat murka dengan pembangkangan Najmuddin Ayyub. “Kamu mendapatkan musuh dalam gengggamanmu; mengapa kamu perlakukan dia dengan baik dan melepaskannya?!”

Kedua, bekas bendahara pemerintahan Saljuq, Azizuddin al Mastaufi, ditahan di Tikrit karena satu tuduhan. Al Mastaufi harus menjalani hukuman mati dan harus dibawa ke Baghdad. Najmuddin Ayyub menolak perintah tersebut sebab ia yakin, al Mastaufi sesungguhnya tak bersalah. Mujahiduddin Bihruz yang akhirnya menjemput al Mastaufi di Tikrit dan menghukum mati dirinya di Baghdad.

Ketiga, suatu ketika seorang perempuan melewati  benteng Tikrit sembari menangis. Ayyub dan Shirkuh melihatnya dan menanyakan sebab ia bersedih. Perempuan itu menjawab ia telah dilecehkan oleh isfahsalar (pimpinan tentara) beragama Nashrani. Shirkuh marah sekali hingga ia mengambil tombak dan menusuk sang isfahsalar. Atas perbuatannya, Najmuddin Ayyub terpaksa memenjarakan Shirkuh. Sesungguhnya, Ayyub sangat mencintai Shirkuh. Adik lelaki satu-satunya itu telah menemani hidupnya sejak mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit. Keduanya bahu membahu untuk masalah keluarga hingga pertempuran. Agar keadilan tidak timpang sebelah, Ayyub melaporkan kejadian tersebut kepada Mujahiduddin Bihruz.

Dapat diduga, Bihruz murka besar. Meski desas desus beredar, Shirkuh membunuh isfahsalar bukan hanya karena ia melecehkan si perempuan muslimah namun juga ia melecehkan agama Islam. Bihruz, yang telah menolong keluarag Shadzi sejak bertama kali mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit, merasa Najmuddin Ayyub tak tahu membalas terima kasih. Berkali-kali Ayyub membangkang perintah khalifah dan menyulitkan posisi Bihruz. Kali ini, Bihruz mengambil keputusan tak main-main : Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beriktu seluruh keluarga mereka, malam itu juga harus meninggalkan Tikrit. Bila tidak, mereka tak akan bernyawa lagi.

Malam kelam saat itu, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beserta keluarga mereka mengendap keluar dari benteng Tikrit. Pedih hati Ayyub. Bukan karena ia berkecil hati atas kerugian, kesusahan, kesulitan yang menghimpit keluarganya lantaran ia bersikukuh memilih kebenaran atas kebathilan. Tapi karena malam itu, istri Najmuddin Ayyub baru saja  melahirkan. Tubuhnya masih lemah, bayi lelaki di pelukannya merah dan mungil

Di bawah langit kota Tikrit yang dipenuhi gemintang.

Dihadang benteng-benteng sunyi yang menyaksikan sejarah jatuh bangun berulang. Disisi hati yang menangis antara ketakutan, kekhwatiran, namun juga keinginan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Di gang-gang sunyi gelap yang diintai oleh orang-orang khianat dan kemungkinan tertangkap. Najmuddin Ayyub menangisi takdirnya, menangisi bayi lelaki dalam dekapannya yang sekecil itu berada dalam pelarian. Seorang lelaki, pengikutnya, menghiburnya.

Ucapan lelaki itu ternyata dicatat oleh para sejarawan.

Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz yang berkuasa, pintar mencari posisi, kesayangan khailfah dan pejabat-pejabatnya; anak cucunya tak dikenal sebagaimana anak cucu sahabat yang ditolongnya, Shadzi ibnu  Marwan. Shadzi ibnu Marwan mewariskan keberanian, kejujuran, dan ketundukan pada Allah Swt kepada dua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh. Kelak, bayi lelaki merah yang baru saja dilahirkan, yang dilarikan diantara bintang gemintang Tikrit. Di antara bayang-bayang benteng yang tak mampu menahan langkah kaki pelarian menuju Mosul. Bayi lelaki itu mengharumkan nama kakeknya, Shadzi ibnu Marwan dan ayahnya, Najmuddin Ayyub.

Bayi pelarian Tikrit itu bernama, Shalahuddin al Ayyubi.

Bisakah pemimpin dan militer kita seperti Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi, ketika hatinya menyerukan kebenaran maka ia berani menyuarakan pendapat dan bertindak berdasarkan hati nurani?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Referensi :

Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. 1979. Penerbit Widjaya, Jakarta

De Graff, H.J. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI : Antara Historisitas dan Mitos. 2004. Tiara Wacana, Yogya

Alatas, Syed Alwi. Biografi Agung Salahuddin al Ayyubi. 2014. Karya Bestari, Malaysia

Jawa Pos, Sabtu 15 Oktober 2016. Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan : Bikin Penasaran Ban Ki Moon dan David Copperfield.

Jawa Pos, —-. Jejak 14 tahun Masjid Muhamamd Cheng Hoo, Simbol Peratuan dan Toleransi Bangsa : Siang untuk Jumatan, Sore Lapangan Basket

 

One thought on “Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi : bila pemimpin dan militer berupaya menegakkan kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s