Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Hobby My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Suami-suami yang Kreatif di Era WFH

Bagi para istri, apakah sudah mengamati hobi apa saja yang semakin ditekuni suami di era covid ini? Begitupun para suami, apakah sudah mengamati apa saja potensi istri yang dapat dikembangkan di era covid?

—–

Suamiku memang punya darah seni. Waktu kecil, pandai menari dan membuat berbagai kerajinan seperti patung. Menggambar dan melukis adalah salah satu keahliannya. Di SMA, bakat suamiku tersalurkan ketika sering diminta jadi pengurus MADING atau majalah dinding. Tapi keahlian itu lama terkubur, belasan bahkan puluhan tahun tak pernah terasah lagi.

Saat covid, keahlian itu muncul lagi.

Saat Ramadan, aku kembali bersilaturrahim dengan teman-teman lama. Terutama teman semasa SD, SMP dan SMA. Ternyata, ada teman SMA yang punya hobi seperti suamiku! Wah, kaget juga. Sebab semasa SMA sepertinya darah seninya gak terlalu menonjol. Apalagi, temanku ini sampai buat akun di IG dan memposting semua kegiatan melukisnya di sana.

Bisa di follow di @poeps7374 , untuk temanku, Pupon Artiono. Sementara suamiku belum punya IG dan twitter, lebih banyak aktif di facebook Agus Sofyan. Baik suamiku dan Pupon, temanku, menekuni kembali bakat seninya di era covid. Saat WFH. Dan terutama kalau suamiku, saat jauh dari keluarga.

Ternyata, ada hikmah di balik pandemic. Salah satunya memunculkan kembali potensi-potensi terpendam manusia yang selama ini terkubur karena kesibukan dan rutinitas yang padat dan berulang. Tak ada kesempatan untuk merenungi sisi lain diri sendiri. Nyatanya, manusia seringkali punya lebih dari satu bakat! Alhamdulillah, sepanjang pandemic, suamiku sudah menghasilkan sekitar 12 lukisan. Pupon  sudah menghasilkan lebih dari 20 lukisan.

Melihat suamiku dan Pupon, ada kesamaan dalam mengolah karya seni :

  1. Menggunakan cat akrilik  dan minyak (suamiku), atau hanya cat akrilik ( Pupon)
  2. Otodidak
  3. Belajar dari youtube. Kalau suamiku sering buka channel youtube Michael James Smith
  4. Beli bahan online atau offline
  5. Dikerjakan di sela waktu. Satu lukisan sesungguhnya bisa selesai 2-3  jam. Tapi karena berselang-seling kerja, bisa berhari-hari
  6. Suka pemandangan alam
  7. Kesamaan yang lain : sama-sama gak PD untuk menjualnya!

Mungkin, karya seni ini terlihat biasa bagi orang kebanyakan. Tapi bagiku, istimewa. Bukan hanya karena Agus Sofyan suamiku dan Pupon Artiono kawanku di SMA, lho. Tapi ada hal-hal yang menakjubkan dari orang-orang yang menjadi kreatif di sela-sela pandemic :

  1. Seni lukis merupakan salah satu produk kesenian yang berfungsi untuk melembutkan hati manusia, baik bagi pelukisnya maupun penikmatnya
  2. Dengan melukis, bisa menumpahkan  banyak gejolak emosional.
  3. Portofolio, kalau suatu saat ingin  mengajukan Artis in Residence

Kesempatan untuk mengikuti residensi artis terbuka di banyak negara. Sekitar 82 negara menyelenggarakan residensi bagi para artis (seniman); ada yang berbayar. Ada juga yang free, bahkan kita mendapatkan beasiswa. Dan rata-rat yang banyak tersedia adalah beasiswa untuk visual art. Kukatakan pada suami, kumpulkan aja portofolio lukisan-lukisan. Siapa tahu suatu saat setelah pandemic, kami sama-sama bisa mengajukan beasiswa residensi artis di negara yang sama. Aku mengajukan beasiswa kepenulisan dan suamiku sebagai seniman visual art. Amiiin.

Kalau ada yang berminat untuk membeli lukisan Pupon, bisa kontak ke IG nya ya. Ia juga punya channel youtube https://www.youtube.com/channel/UCYcmR1rXBYJ3HIIBiHICgfw

Kategori
My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Rusyda (kematangan) yang Tertunda

Lama saya bertanya-tanya kepada diri sendiri : kenapa banyak ortu sekarang yang mengeluhkan anaknya nggak mandiri? Nggak dewasa? Padahal sudah umurnya. Sampai kemudian saya menemukan buku karya Dr. Khalil Ahmad Asyantut ini, Rumahku Sekolahku.

Bukunya tipis, tapi masyaallah.

Menjawab sebagian besar perang di benak saya yang mempertanyakan psikologi VS parenting Islami.

Makna rusyda

Rusyda berarti kematangan. Dr. Khalid menekankan bahwa orangtua harus membantu anaknya dalam segala aspek , hingga mencapai usia rusyda. Usia rusyda ini bisa jadi saat dia sekolah, dia bekerja, bahkan menikah. Setelah menikah, jangan pula dilepaskan sebab ada anak-anak yang belum rusyda setelah menikah!

Pernah dengan suami istri bertengkar gegara yang suami suka jejepangan dan istrinya penggemar berat KPop? Yah, begitulah anak muda zaman sekarang. Di masa saya dulu, hal-hal semacam itu nggak ada. Suami saya penggemar film action ala Rambo, saya suka film drama macam Ghost atau Dying Young (haha…ketahuan banget umur berapa!). Suami suka sepak bola, saya suka baca buku. Tapi ya udahlah, hepi-hepi sendiri aja dan gak usah berantem. Berantem sesekali, tapi gak jadi konflik tajam. Padahal saya nikah sama suami di kisaran usia 20-21.

Kenapa rusyda tertunda?

“Rusyda” berarti kematangan

Banyak aspeknya

Pertama, jauhnya anak dari pengalaman real. Kondisi lingkungan, tantangan zaman, pekerjaan ortu, dll menyebabkan pengaruh dalam kehidupan anak. Zaman saya dulu, namanya bepergian jauh ke rumah nenek , sendirian, udah biasa. Naik bis, naik kereta api. Ortu saya kerja di Denpasar Bali, nenek saya tinggal di Lempuyangan Yogya. Sejak SMP udah biasa tuh PP Bali- Yogya sendiri. Naik travel pernah, dst. Bgm sejak SMP udah tahu berinteraksi dengan supir yang galak, teman sebangku di bis yang penipu dan nyolong uang, tetiba bis diganti karena rusak; itu sudah biasa. Menderita dan berjuang secara real, sudah biasa.

Anak sekarang? Termasuk anak saya.

Takut diculik, takut digendam, takut dianiaya. Ke sekolah aja diantar. Betapa banyak teman anak saya yang bawa sepeda ke sekolah, digendam. Yah, akhirnya ortu trauma dan memutuskan antar jemput anaknya.

Bersosialisasi?

Well, anak sekarang (termasuk anak saya) banyak menghubungi temannya via gadget. Untung rumah saya depannya masjid, jadi anak-anak masih sering ketemu orang.

Kita dulu?

Mau main ke rumah teman untuk belajar bersama perlu berinteraksi dengan banyak orang : izin nenek, izin om tante , izin ortu. Belum lagi izin sama ortunya teman. Saya kenal lho sama ortu teman-teman SMA saya gegara sering main ke rumah teman.

Menyangkut point pertama, gak bisa disalahkan kalau sikap ortu protektif banget di zaman sekarang. Temannya siapa, main ke mana, gadgetnya isinya apa. Semua seperti bom waktu. Wajar ortu takut. Kadang, teman anak di dumay tidak sesuai foto profilnya. PPnya cowok ternyata cewek. Eh, begitu sebaliknya. Ngakunya mau ikut turnamen game, tapi siapa tau?  Bilangnya mau belajar tapi di rumah teman…who knows? Wajar ada ortu yg kelewat protektif banget banget.

Kedua, sikap protektif ortu.

Ketiga, sedikitnya kesempatan komunikasi dan interaksi.

Dulu, sekolah gak butuh modal. Kemana-mana jalan kaki, bersedepada, nyalin catatan teman atau paling banter fotokopi. Gak butuh pulsa, gak perlu beli flashdisk dan harddisk, gak butuh gadget dengan RAM besar. Sekarang, beda lagi. Hampir setiap anak butuh HP canggih, butuh laptop, butuh kuota. Dampaknya? Ortu memeras keringat banting tulang memenuhi kebutuhan dasar anak untuk sekolah. Akibatnya, waktu ortu untuk bersama anak lebih sedikit.

Ini fakta yang gak bisa diabaikan.

Apalagi bila tinggal di kota besar. Akibatnya, kesempatan diskusi, bertukar pikiran, bertukar cerita udah jarang banget. Dulu, bapak saya PNS pulang jam 2. Masih sempat jemput saya, ngajarin saya ngaji. Kalau ada kebutuhan sekolah yang mendadak harus dibeli kayak buku tulis dan sejenisnya, bapak mengantar. Saya inget banget, ketika SD, lagi musim dompet warna warni. Bapak yang nganter saya ke toko, dan membelikan itu.

Sekarang, meski suami dulu pernah tinggal satu kota, sampai rumah habis maghrib. Belum kalau macet, Isya baru sampai. Anak-anak juga demikian. Minggu baru sempat kumpul, itupun kalau gak ada kondangan dan acara lain.

Terus gimana?

Ya, kembali ke QS Iqro : baca. Belajar. Jadi ortu harus belajar, belajar, belajar terus. Bukan hanya anaknya aja yg sekolah kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kita juga harus belajar. Ketika perkembangan anak sejak kecil tidak mendapatkan pendampingan semestinya, wajar mereka lambat tumbuh dewasa. Rusdyanya terhambat. Kalau sudah begini, ortu jangan buru-buru bilang :

“Kamu kan udah SMA? Milih jurusan kuliah aja nggak ngerti? Bapak dulu kuliah di luar kota, daftar aja berangkat sendiri.”

“Kamu kan udah kuliah, harusnya ngerti dong, capeknya ortu!”

“Lho, kamu udah niat nikah. Masak nggak ngerti kalau nikah itu butuh persiapan banyak?”

“Kamu udah nikah. Udah jadi suami/istri. Masak gak tau apa kewajibanmu?”

Ada anak SMP yang udah dewasa dan mandiri. Tapi ada juga yang kuliah masih serba dilayani dan dikasih tahu. Ada yang sejak SMA udah bisa dilepas, tapi ada juga yang udah kerja dan nikah, masih aja bergantung pada ortu. Bergantung finansial, nasihat, bahkan eksekusi keputusan dalam perkara remeh.

Satu quote dr. Khalid yang indah tentang ortu yang telah memiliki anak yang menikah : tidak ikut campur tangan dalam urusan pribadi rumah tangga mereka. Tetapi ortu harus, membimbing anak-anak kepada kebaikan setelah menikah dan hubungan ortu tidak melemah setelah menikah.

Agaknya belia uingin menekankan bahwa sepanjang anak belum benar-benar rusyda, ortu adalah figure yang sangat dibtuhkan anak sepanjang hayat mereka.           Kitapun sampai seusia ini selalu menjadikan orangtua sebagai figure utama , bukan?

Hayo, antarkan anak-anak pada rusyda yang sesungguhnya. Dan jangan berkecil hati, karena kata dr. Khalid dan para pakar pendidikan Islam, banyak banget anak sekarang yang kematangannya mundur. Next saya bahas buku Dr. Jasim al Muthawwa’ ya, tentang Smart Islamic Parenting. Buku ini juga bagus, indah, menyentuh banget dan menjawab banyak pertanyaan saya pribadi seputar parenting Islami & psikologi Islami.

Pemesanan buku-buku Sinta ke Ibrahim 085608654369

Kategori
Hikmah Hobby Mancanegara My family Travelling WRITING. SHARING.

5 Tempat yang Ingin Kukunjungi Selama-Setelah Pandemic

Pasti kita merindukan banyak hal selama pandemic kan?

Aku sendiri merindukan perjalanan ke luar negeri, rindu pada interaksi dengan orang dari berbagai bangsa, rindu belajar bahasa baru dan mencicipi kuliner serta kultur budaya setempat.

Ini 5 tempat/ wilayah yang ingin kukunjungi

  1. Kabah – Mekkah
  2. Masjid Nabawi – Medinah
  3. Al Aqsho – Palestina
  4. Kalyan Mosque Bukhara , Bibi Khanym Samarkand (Uzbekistan)
  5. Qarawiyyin Mosque, Fez – Maroko

Kalau memungkinkan, ingin sekali umroh dan haji selama pandemic.

Kenapa? Karena lebih nyaman dan sepi, bisa konsen ibadah di Raudhah misalnya. Nggak berdesak-desakan. Tapi pemerintah Arab Saudi hingga sekarang belum mengizinkan jamaah datang dari luar negeri.

Uzbekistan

Banyak aspek kenapa aku ingin kemari. Kalau ngelihat biaya-biaya umroh plus, tujuan yang paling murah adalah Uzbekistan. Pingin sih umroh plus Spanyol tapi tentu butuh biaya lebih.

Bukan hanya masalah murah ya. Tapi Uzbekistan dikenal dunia dengan jalur Silk Road. Imam Bukhari juga berasal dari Bukhara, salah satu wilayah di Uzbekistan.

Maroko

Negara tetangga Spanyol dipenuhi situs sejarah yang memukau.

Sekali kemari, engkau pasti ingin lagi!

Bukan hanya Fez yang ingin kukunjungi. Tapi wilayah lain seperti Casablanca, Rabat, Tangier, Marrakesh.

Semoga Allah Swt mengijabahi, ya…

Apa yang bisa kulakukan saat ini adalah :

  1. Banyak berdoa, sampai aku punya daftar doa di buku khusus
  2. Menabung, walau uangnya sering kepakai juga kwkwkw
  3. Mencoba berinfaq, semoga dengan ini Allah Swt berikan jalan-jalan keajaiban.
  4. Mohon doa dari banyak orang
  5. Memanfaatkan momentum di bulan Ramadan

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#2 : Cepatlah memutuskan! Decide immediately!

Di rumah atau asrama haji? Hotel  atau rumah sakit? Obat tradisional atau farmakologi modern?

Aku sempat kebingungan pada awalnya apakah harus rawat inap ataukah cukup di rumah saja. Mengingat saturasi bagus, tak ada pilek, dan juga tak ada sesak nafas. Tapi kenapa tetiba harus segera dirawat?

FIT dan SEHAT BUKAN JAMINAN

Ketika suamiku dan putraku alhamdulillah berhasil menurunkan berat badan dengan pola hidup sehat, seluruh anggota keluarga ikut melakukannya. Menghitung kalori, memperbanyak sayur buah, workout. Kalau lagi malas, setidaknya pemanasan dan plank menjadi agenda rutin.

Suami terdeteksi positif di Banjarmasin 7 Maret 2021. Ia rajin bersepeda dan cardio tetapi memutuskan segera ke RS walau ada ruang isolasi di bapelkes atau hotel. Begitu dirawat, suami terus mendesak : “beneran nih gak ada yang butuh dirawat di Surabaya?” 10 Maret 2021 bertambah yang positif di rumah karena suami sempat pulang ke Surabaya.

Aku menolak. Kami sehat-sehat semua kok. Di rumah hepi-hepi, masak-masak, beberes rumah, menonton bahkan aku masih bisa mengisi beberapa acara. Bahkan, kami sempat periksa ke RS utk tes darah, rontgen sendirian dan alhamdulillah hasilnya baik-baik saja. Tak ada pneumonia, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lalu, buat apa dirawat di RS?

Pihak Puskesmas kooperatif mempersilakan kalau kami mau diisolasi ke hotel asrama haji. Semua gratis : penjemputan, swab, logistic, pengobatan.

“Ah, enakan di rumah.”

“Kalau bosen; bisa ngapa-ngapain kalau di rumah. Kalau gak di rumah, bingung mau ngapain.”

Begitu pendapat beberapa orang terkait pilihan isolasi mandiri (isoman). Alhasil, aku dan anak-anak yang akhirnya semua positif; bertahan di rumah. Perhatian dari teman-teman mengalir. Makanan, buah, obat, suplemen, hadiah-hadiah. Waaah!

MEDIS versus NON-MEDIS

Begitu banyak pihak yang perhatian dan memberikan saran. Deretan obat-obatan dikirimkan ke rumah mulai berbagai jenis madu, propolis, sari kurma, probiotik, qusthul hindi dan rangkaian pengobatan herba yang kurasa harganya mahal-mahal. Masyaallah…aku terharu sekali dengan perjuangan teman-temanku memperhatikan kami sekeluarga.

Begitupun, pihak puskesmas dan dokter memberikan rangkaian resep seperti azytromicin dan oseltavimir; juga berbagai jenis vitamin. Obat-obatan juga dikirimkan ke rumah. Namun, aku tidak punya latar belakang ilmu medis yang memadai. Paling dapat ilmu dari media sosial, situs kesehatan online, atau dari teman-teman dokter yang menerima keluhan via WA. Berbagai saran pun beragam jenisnya.

“Minum segera XXX. Caranya begini- begini.”

“Jangan minum XXX!”

“Minum probiotik jenis ini ya, tiap 2 jam sekali.”

“Wah, jangan minum probiotik. Kan lagi minum obat!”

Aku bingung , siapakah yang harus kuturuti?

Lalu tubuh kami mulai bereaksi terhadap covid. Hari ke-1,2,3 semua baik-baik saja. Tetiba di hari ke-4 dan seterusnya ; mulai ada yang tak beres.

  1. Suhu tubuh naik turun. Berbekal thermometer di rumah, suhu tubuh bisa turun naik tak menentu. Kadang 36,3. Lalu 36,7 . merembat ke 37,6 lalu turun lagi ke 36, naik lagi ke 38. Kalau minum paracetamol dan kompres, suhu turun
  2. Tidur gelisah. Tidur tak lagi nyenyak. Pindah-pindah tempat, bolak balik bangun
  3. Kehilangan selera makan. Kalau masih di rumah, banyak alternatif pengganti makanan. Selama gak doyan makan, setidaknya telur rebus dan minum susu menjadi alternatif asupan. Tapi makin lama, apapun jadi tak selera
  4. Lemas. Bagi yang pernah merasalan typhus dan demam berdarah (DB) pasti akan merasakan lemas yang spesifik.

Untuk emak-emak yang terbiasa otot kawat, tulang besi; sakit sering tak dirasa. Aku sering kena flu tapi cukup tidur full sehari dan makan apapun yang diinginkan; besoknya sudah membaik. Lemas sih, tapi gak banget. Sekarang? Lemasnya kelewatan. Sekedar angkat kertas aja nggak bisa!

Lho, kan wajar sakit covid begitu?

Semua orang juga kok, merasakan hal yang sama. Lemes, agak-agak demam, hilang nafsu makan, susah tidur. Yang penting saturasi bagus dan gak ada batuk yang buat sesak nafas, bukannya oke-oke aja tuh isoman di rumah?

PERHATIKAN CERMAT dari WAKTU ke WAKTU  

Cuma kita yang betul-betul tahu riwayat hidup, riwayat kesehatan, riwayat keanehan-keanehan yang dialami diri sendiri dan anggota keluarga. Sepertinya terlihat sama, tapi belum tentu demikian.

  1. Buatlah pilihan logis rasional, saat masih BISA memilih. Kalau udah sesak nafas, hilang kesadaran, demam kelewat tinggi; pilihan-pilihan bisa jadi sangat terbatas. Pilihan apa? Pilihan RS, misalnya. Mungkin kita mau milih RS yg lebih dekat rumah, yg ada kenalan, yg sudah ada jejak rekam medisnya krn sering periksa di sana. Kalau masih bisa milih, tentu akan enak. Tapi kalau udah kritis, tentu sulit milih-milih
  2. Ah, nanti juga demamnya turun. Ah, nanti juga nafsu makannya pulih. Nanti itu kapan? Dan apa benar bisa pulih dengan sendirinya atau sudah waktunya ditangani dengan serius oleh para ahli? Nanti-nanti bisa jadi kebablasan
  3. Kalau tinggal sendirian, atau tidak ada anggota keluarga terdekat yang dokter/perawat; mending segera ke RS. Suami saya sendiri di Banjarmasin. Saya sendiri, meski punya sahabat2 dokter tentu gak bisa terus menerus konsultasi di WA. Punya oximeter atau thermometer di rumah, gak cukup. Hanya perawat dan dokter di RS (atau petugas kesehatan lainnya) yang punya ilmu dan pengalaman terhadap situasi mendesak
  4. Saya dan dua putri saya masuk period time. Saya pribadi mengalami uterus bleeding krn haidh berkepanjangan dan jumlah di luar kewajaran. Karena perempuan haidh seringkali gak enak badan, who knows dg virus Covid ini makin menjadi-jadi situasi buruknya?
  5. Rumah sakit bikin tambah sakit. Well, ini bukan hotel dan sekarang bukan waktunya pesiar. Kalau di RS gak seenak di rumah, masuk akal sih. Tapi di RS sudah tersedia SDM dan segala macam perangkat yang disiapkan utk kondisi darurat. Di RS berkumpul para ahli di bidangnya yang keilmuan mereka didapatkan lewat jalur ilmiah. Kalau ilmu medis yang kupunya hanya sekedar baca-baca, kan?

Pernah nonton lagu-lagu kocaknya nya dokter Henrik Widegren yang juga musisi? Never Google Your Symptoms adalah salah satu lagu favoritku yang mengajarkan jangan sembarangan cari ilmu via dunia maya. Boleh sebagai langkah awal, tapi segera serahkan pada ahlinya.

——-

QS An Nahl (16) : 43 :

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui

—–

Bagi yang tidak memilih RS dan obat-obat kimiawi; tentu juga tak salah, bila lebih memilih pengobatan tradisional atau herba. Di China dan Korea, pengobatan tradisional menjadi pilihan terpercaya masyarakat karena didukung oleh pemerintah serta keilmuan yang dikembangkan secara terus menerus. Sekarang, Tibbun Nabawi pun menjadi pilihan terpercaya masyarakat.

Untuk kondisiku, bisa jadi karena cukup kompleks maka pilihan RS menjadi pilihan yang harus disegerakan.

6. Berapa jumlah penderita covid di rumah? Kalau cuma 1-2 orang, sarana di rumah memadai, tentu masih bisa isoman. Orang-orang yg sehat bisa melayani yg sakit. Tapi utk kondisi kami sekeluarga, semuanya kena covid! Hanya ibuku yg berusia 80 th yg alhamdulillah negatif. Kalau aku memaksakan di rumah, bisa-bisa yang masih sehat overload pekerjaan dan over exhausted karena melayani yg udah pada lemah. Kalau ambruk semua? Wah!

Jangan takut untuk memutuskan segera dirawat di RS rujukan Covid 19, bila memang kita mencermati diri sendiri sudah mulai semakin menurun performanya.

——–

Hari ke-13 di RS

Hari ke-18 positif Covid 19

Alhamdulillah, kondisi kami semakin stabil dan sehat . Terimakasih atas semua doa-doa

➖➖➖➖➖

MY ENGLISH’S STORY :

Hurry Up!

You have to decide immediately : is it okay to stay at home, isolation at hotel or right away to hospital?

  1. Make a logical choice. We don’t have several choices in critical condition. So, if there’s still time to make a choice, do it
  2. Sometimes we say to ourselves : the fever will be over. Just take a rest, drink much water. But is it true? Don’t we need more help from doctors and nurses?
  3. If you’re live by yourself – there’s no body else and you don’t have any relative such as doctor or nurse that you can depend on ; please contact hospital and tell your latest condition
  4. I hate hospital. Hospital make me sick much more! Well, of course, hospital is not hotel and we’re not on vacation! But in hospital is available medical resources that could help patient in critical condition
  5. If in you’re family there’s just 1 or 2 people with covid, it’s okay to stay at home. The rest which is still healthy can assist you. But, if the whole family is suffering for Covid 19, hospitalization is the right choice
Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#1 Covid 19 – Virus Cerdas yang Memanipulasi Otak Manusia

Aku penyuka sayur. Pecinta buah. Gemar cemilan. Tak menolak madu dan sari kurma. Suka wangi-wangian. Yang terpenting, aku suka minum air putih.

Sampai kemudian Covid 19 menyeruak ke tengah keluarga kami, menginfeksi 6 orang, 4 di antara kami harus dirawat di RS. Terus terang, babak belur fisik dan psikisku menghadapi penyakit yang satu ini. Virus ini pintar memanipulasi otakku!

APAKAH OTAKKU BERKATA BENAR?

Aku dan 2 putriku dirawat di satu ruangan. Meski kondisi 2 putriku juga lumayan payah, mereka masih bisa tertatih membantuku. Kejadian demi kejadian aneh membuatku heran.

  1. Aku benci sekali putri bungsuku membantuku. Ia lucu, jenaka, cepat tanggap, ringan tangan. Tiap kali mendekati, rasanya aku ingin berteriak marah-marah. Kenapa aku ini? Lambat laun kusadari, ia memakali baju yang berbau wangi. Wangi khas pelembut dan pewangi pakaian. Aku benci semua pakaian yang kubawa dari rumah, jilbab, semua yang berbau wangi!
  2. Aku sangat suka sayur. Apalagi sayur yang disajikan warna warni merah, kuning, hijau. Hanya sebentar, karena berikutnya aku membenci semua jenis sayuran. Terutama aroma segarnya yang selama ini membuatku berselera menghabiskan nasi
  3. Kelengkeng is one of my favorite. Segar, manis. Dulu kuhabiskan 1 kg sendirian. Sekarang? Tebak saja.

Oke, baiklah. Kata orang-orang itu hanya masalah selera. Namanya orang sakit, mungkin gak suka masakan tertentu. Kupikir demikian. Lalu hal-hal lain yang aneh pun  terjadi.

4.Dari semua obat, ada 1 jenis obat (lebih tepatnya suplemen makanan) berbentuk permen yang sejak awal kusukai karena rasanya manis segar seperti permen mint. Selalu, suplemen bernama Rillus ini kuletakkan paling akhir di antara obat-obat yg lain. Dengan kasus wewangian dan sayur, aku mulai curiga : jangan-jangan Rillus ini nanti juga akan menerima kebencianku. Tepat! Baru tiga kali minum, aku benar-benar membenci benda bernama Rillus

Okelah.

It’s enough for food and medicine. Mungkin aku muak dengan semua obat, injeksi, infus, suplemen, antibiotic, antivirus dan sejenisnya. Mungkin aku butuh makanan selingan. Lalu suatu hari, aku benar-benar menyadari : ada yang salah dengan otak dan diriku.

5. Air putih. Aku memandang gelas berisi airputih. Minuman yang paling kusukai, lebih dari teh dan susu. Cairan ini sama sekali tak punya rasa, warna, bau. Netral! Lalu aku tetiba membenci gelas, botol, apapun tentang air putih! Aku gak mau minum air putih lagi. Heh, apa yang salah dengan diriku, otakku?

BAGAIMANA AKU MENGENDALIKAN OTAKKU?

Aku bersyukur, dokter dan perawat di RSHU ini sangat informatif dan kooperatif. Apapun keluhan kami, mereka memberikan penjelasan dan diskusi panjang lebar. Awalnya aku enggan menceritakan masalahku pada dokter spesialis paru yang mendampingi kami.

“Manja amat!”pikirku. “Aneh dan apa kata orang nanti?”

Tapi akhirnya kuutarakan dan sungguh mengejutkan apa yang beliau sampaikan.

“Memang ini fase terberat dari pasien-pasien saya,” jelas dokter. “Bagaimana virus ini mempengaruhi reseptor, terutama indera. Apapun yang dikatakan oleh virus ini ini : LAWAN!”

Di psikologi, kami  mempelajari bahwa indera, persepsi dan otak sangat berkaitan erat. Lisan kita mengucapkan sesuatu berulang, itu bisa menjadi skema otak, dan otak akan berjalan sesuai skema. Mata dan telinga pun demikian. Aku mulai mencermati, setiap kali aku bilang dan berpikir tentang sesuatu yang kuinginkan, maka sehari berikutnya otakku langsung berkata : itu hal yang kubenci!

Aku bawa buku-buku ke RS, sehari membaca, esoknya aku membenci semua bukuku.

Aku suka Maher Zain, sehari kudengarkan, esok sudah kubenci suaranya.

Aku sayur semacam acar, hanya sehari, berikutnya aku membenci rasa dan baunya.

Awal dirawat kami membawa beberapa bungkus pop mi, siapa tau butuh panas-panas. Malam hari, kumarahi putriku karena membuatnya, “jangan dekat-dekat Ummi! Benci baunya!”

Aku memesan makanan, esok hari bahkan hingga hari ini, makanan jenis itu sangat kubenci!

VIRUS YANG BERBEDA

Kupikir, aku akan tinggal di RS 3-4 hari seperti dulu ketika aku dan anak-anakku pernah dirawat karena tipus dan/atau demam berdarah. Masih kuingat, infus yang hanya sebentar lalu 3 hari setelahnya membaik lalu menyantap makanan apapun dengan lahap. Seperti raja ratu di RS karena apapun dilayani tinggal makan tidur.

Ini hari ke -11 kami dirawat di RS.

Tubuh kami membaik. Namun setelah beberapa hari belakangan aku menyadari kami harus bertempur habis-habisan dengan cara virus mengendalikan otakku. Tapi bagaimana aku bisa makan, minum, kalau otakku menolak memasukkan apapun ke tubuhku?

  • Kucemati diriku, otakku (mungkin dikendalikan virus) memproses informasi 24 jam. Ini hanya dugaanku ya. Maka, ketika aku memesan makanan pada orang rumah, “tolong Ummi dibuatkan oseng kacang,” maka masakan itu harus sudah selesai kumakan segera. Lebih dari itu, aku akan kadung membenci makanan tersebut dan sulit memakannya
  • Nasi. Aku benci betul jenis makanan ini. Maka nasi harus kupindah-pindah cara memakannya. Kadang di mangkuk plastik, di tutup, bahkan makan dg menutup mata!
  • Obat. Kupotong-potong jadi beberapa bagian agar tidak tampak bentuk aslinya
  • Air putih. Kupindah-pindah tempat minumku. Botol kecil , botol besar, gelas disposable, gelas bekas pudding.
  • Karena kucermati proses informasi mulai menengar, membahas, memakan, dll sekitar 24 jam; aku dan anakku membahas sekilas. “Besok mau makan apa?” Kami mengucapkan 1-2 kalimat masakan yang kami inginkan. Lalu diam. TIDAK MEMBAHASNYA LAGI. Misal ingin oseng terong, bahas sekali. Sampaikan ke orang di rumah. Lalu segera memakannya ketika masakan itu tiba di RS. Atau jika kami pesan gofood, tidak membahas masakan itu terlalu banyak. Sehingga otak ini tidak memproses informasi terlalu sering yang kemungkinan, virus itu membaca apa maksud kami.

Baik, virus Covid 19. You’re great!

Kamu makhluk Allah Swt. Kamu  membuat kami membenci apa yang baik, tapi disitulah letak perjuangan kami menaklukanmu.

——————–

Atas : hari Rabu, 17 Maret 2021, saat pertama aku dilarikan ke RS Husada Utama , Surabaya

Bawah : saat menerima transfusi plasma utk mempercepat kesembuhan

————————-

Sejak awal positif aku ingin menuliskan pengalaman penting ini, tapi mungkin, baru di hari ke-17 aku mulai mampu menggerakkan jari jemariku.

Hari ke-11 dirawat di RS

Hari ke -17 positif Covid 19

(Catatan Covid 19 ke-1)

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Referensi Fiksi WRITING. SHARING.

Kamu Lagi Jualan?

Sebagian orang, nyangka saya lagi jualan produk tertentu ketika mau buat seminar Healthy & Confident Minggu nanti 21-02-2021 bareng komunitas Ruang Pelita. Padahal enggak sama sekali!

Pertama, saya ingin share gimana Ayyasy bisa menurunkan BB hingga 20 kg lebih. Dia tadinya nduut banget, mudah sakit, mudah demam. Macem-macemlah. Dia ngerasa makin lama tambah melar dan tiap lebaran gak ada baju cukup. Insecure juga.

Diet? Aduuuh, kami hanya kuat sebentar. Karena terus terang kalau saya harus melek malam, capek ke sana ke mari, perut lapar bikin lemes.

Nutrisi tertentu? Bolehlah. Tapi lama-lama juga gak kuat di kantong.

Akhirnya, kita semua paham bahwa jalan orang masing-masing untuk mencapai keinginan. Ada yang sukses dengan diet karbo, diet keto, jadi vegan. Ada yang sukses dengan mengganti makanan melalui herba nutrisi tertentu.

Kami ingin share bila ternyata, kita harus mengubah mindset dan lifestyle. Gak drastic emang, gak instan. Sebab baik Ayyasy ataupun suami , baru 2 tahun kelihatan lebih ideal. Tetapi hasilnya perlahan, pasti, tubuh fit dan ketika mau cheating day, hasilnya gak nambah banyak.

Lanjut ke Ayyasy.

  1. Orang malas banget olah raga. Ayyasy mengawalinya dengan ngedance. Prinsipnya, dia pingin hepi saat workout. Dia ngikuti dance para idol Korea  dari berbagi youtube. Ketika tubuhnya udah luwes, dia masuk ke babak berikut
  2. Orang gemuk emang lamban, jadi malas2an. Makanya sesudah luwes bergerak, Ayyasy WO sungguhan.
  3. Mulai menghitung kalori. Kalau dulu apapun disikat, sekarang mulai mencermati. Oh, krupuk berapa kalori? Coklat berapa kalori? Es krim? Ayam goreng? Gak diet ketat banget, tapi biar ngitung kebutuhan kalori. Kalau sudah makan brownies 2 potong, ya jangan minum es teh lagi

Kedua, suami saya.

Lingkar perut suami sampai 100 lebih dan BB nya juga lebih dari 100. Rutin ke tukang pijit hampir tiap bulan karena adaaaa aja yg masalah. Punggungnya, lehernya, kakinya. Udah kayak kakek-kakek dah. Alhamdulillah setelah bisa memodifikasi hidupnya, suami turun 17 kg.

Saya?

Hahaha.

Saya ini kalau di rumah benar-benar kerja keras. Kalau gak makan karbo, rasanya gak kuat nyuci piring, nyuci baju, nyeterika. Ibaratnya, orang Jawa kalau nggak makan nasi, kayak kurang kenyang! Mau makan roti seberapapaun banyaknya, tetap kayak gak makan!

Tersindir dengan BB suami dan Ayyasy, sayapun bertekad memperbaiki diri.

Oke, semua berawal dari pikiran.

Mau langsing? Ya jangan liat mukbang melulu. Lihat para boyband bikin chocotang alamaaak…endezzzz! Liat idol makan corn dog, yummy. Pingin bikin juga. Maka kalau habis liat acara makan2, saya ganti nyari channel Suzanna Yabar atau Yulia Baltschun. Atau channel apapun yg menceritakan WO di rumah, cardio ringan dll. Lumayan, akhirnya tertancap di benak : ohya, cardio cuma 15 menit lho! Padahal saya bisa ngetik 3 jam di latptop! Masa 15 menit gak bisa?

Mindset kedua, ketiga, nanti aja ya.

Ayyasy itu dulu, sampai mahasiswa selalu ngeri kalau udah flu. Padahal cuma batuk pilek, kami harus sedia panadol ibuprofen dan segala jenis obat penghilang rasa nyeri lantaran dia gampang banget demam tinggi. Padahal cuma masuk angin. Setelah langsing, masyaallah, tubuhnya tahan banting. Sampai2 pernah ada acara naik gunung sama komunitasnya, tentornya udah bilang : Ini gak bakal ada yg kuat sit up 20. Ternyata dia kuat leg raises, push up , sit up lebih dari yang ditentukan

Selain bicara fisik, tentu, gimana tetap percaya diri walau body goals belum tercapai. Dan bagaimana mengasah potensi dari dalam diri, agar kita menjadi seseorang yang bersinar.

Silakan ya!

FYI, Ruang Pelita mengadakan rangkaian beberapa acara yang oke punya. Stay tune!

—————————————————-

🔸️🟠 Healthy & Confident :
Sehat & Membangun Self Image 🟠🔸️

➿➿➿
Ngerasa gak cakep? Kurang good-looking ? Insecure karena penampilan gak oke? Ngerasa selalu kurang dari orang lain?
➿➿➿

Waaah, kita berjodoh, donk. Acara ini cocok buat kamu, insyaallah!
Gimana merancang healthy lifestyle agar tubuhmu lebih fit.
Kecantikan & ketampanan adalah bonus dari sehat!
Sekaligus memupuk rasa percaya diri agar pesonamu lebih terpancar.
Bersama 3 pembicara keren yang akan membuatmu termotivasi!

1️⃣ Dokter Sania ~
🌺Dokter, Motivator
🌼 Healthy Lifestyle for Your Goodlooking
🔸Gimana hidup sehat agar fisikmu oke, sehingga penampilanmu juga keren

2️⃣ Bunda Sinta ~
🌸Penulis, Psikolog, Traveller
🍁 Confident in Every Season
🔸Membangun Rasa Percaya Dirimu agar Siap Menaklukan Dunia

3️⃣ Kak Ayyasy ~
🦅 Illustrator, Healthy Enthusiast🥇Cara Oke Menurunkan Berat Badan dan Membangun Self Image
🔹Berpengalaman dalam menurunkan BB 25 kg dengan cara sehat


⏳Ahad, 21 Februari 2021
⏰08.00-11.00
💡Link Zoom menyusul
👉HTM : 10K saja

Fasilitas :
🐥Ilmu aplikatif
👣Relasi pengembangan diri
🍪Doorprize : buku, pulsa, cookies sehat

✍️Pendaftaran :
bit.ly/healthyandconfident
▶️transfer ke BSI (bank syariah indonesia) 7129-62-4943 a.n Ahmad Syahid Robbani
CP 0878-5521-6487


Selamat bergabung!
Enjoy your amazing life ❤️🧡👍👍

Didukung oleh :
Ruang Pelita, Polaris Store, Goodcookies

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA My family Parenting Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Seminar rasa curhat : GAMING

📵 WEBINAR PENGASUHAN DAN GAME 📵

Gadget saat ini sudah menjadi barang yang lumrah. Pun dengan aktivitas game yang sering dimainkan didalamnya. Ayah Bunda khawatir? Apa saja aktivitas game? Mengapa mereka begitu betah? Bagaimana perasaan ananda ketika bermain game?

Apakah harus benar-benar mensterilkan anak dari gadget atau hanya butuh membangun ‘imunitas’?

Yuk kupas tuntas bareng ahlinya! Catat ya 🤩

⏰ Ahad, 7 Februari 2020
⏰ 19.00-21.30 WIB
🖥️ via Zoom Meeting

dibersamai orang-orang keren nih:
✨ Sinta Yudisia M. Psi, Psikolog (Psikolog, Penulis, Pemerhati Anak dan Remaja)
✨ Ingge S. Cahyadi (Boardgame Developer, Esport Enthusiast)

Mau kan ikut webinar rasa curhat? Bisa dengar dari sisi gamer dan tentu mengupas ilmu parenting : mengasuh dan mendampingi anak ditengah kemajuan zaman dan teknologi. Dan disinii tentunya akan banyak Ayah Bunda yang merasa satu nasib, sebeban sepenanggungan

💎HTM:
30K/orang
50K/2 orang

Pendaftaran:
WMDG_Nama_Alamat_NoWA
Kirim ke: wa.me/6281220008829 (Kak Una)
Seat terbatas. Grab it fast!

“Children who are treated as if they are uneducable almost invariably become uneducable.” — Kenneth Clark

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Film Mother Gamer : Cara Keren Ibu Mendekati Anak yang Hobi Gaming

Ben Pajamas seperti ibu-ibu zaman sekarang. Seperti saya juga : takut banget ketika anaknya pegang HP! Pasti nge-game, pasti nggak ngerjakan tugas sekolah. Pasti game itu yang bikin anak agresif. Itu yang dituduhkan bu Ben, ketika bolak balik memergoki anaknya , Ohm, pegang HP. Apalagi ketika tahu Ohm akan ikut turnamen esport.

Jelas, bu Ben tak akan pernah mengizinkan anaknya ikut turnamen game. Ohm anak brilian, selalu juara. Mau jadi apa dia kalau menghabiskan waktu dengan main game?

Thailand mencuri perhatian saya dengan film-film edukasinya seperti Bad Genius, The Billionaire. Kali ini Mother Gamer.

Awalnya saya khawatir nonton film ini. Khawatir gak paham sama dunia gaming. Tapi ternyata sinematografi film ini keren banget! Saya yang nggak ngerti apa-apa tentang dunia game, jadi tahu sedikit-sedikit istilah Jungler, Mid Lane, Solo Lane, Archer dan sejenisnya. Jadi tau juga turnamen game AOV – Arena of Valor.

Sedikit synopsis

Karena bu Ben benci gaming, ia membuat gerakan anti ponsel ke sekolah. Di satu sisi Ohm sangat mencintai dunia gaming dan terjadilan konflik ibu-anak yang heboh banget. Si ibu berusaha menggunakan segala otoritasnya agar Ohm gagal, dan di sini kita diperlihatkan sebuah fenomena.

Bukan game kadang yang membuat anak agresif. Tapi orang tua yang otoriter, diktator, power abusive membuat anak berontak dan di permukaan,  agresifitas itu disimpulkan dengan sebuah analisa tunggal : gegara game kamu agresif!

Film ini drama komedi.

Karenanya kelucuan mulai muncul ketika bu Ben dengan segala cara mencoba menghambat laju keberhasilan Ohm. Demi menggalalkan Ohm main game, bu Ben menyewa 5 anak untuk menjadi tim gamer. Ohm yang memiliki akun tenar Sonic Fighter bergabung di tim Higher sementara bu Ben membentuk tim game sendiri bernama Ohmgaga beranggotakan Kobsat (Jungler) , Maprang (Support), Guide (Carry), Max(Solo Lane), Bank(Mid Lane). Jangan kaget melihat nama akun-akun mereka ya! Maprang si Darkblood, Guide si Paladin406, Bank si True Hero.

Tetiba Guide dibajak Higher dan tim Ohmgaga kekurangan 1 pemain. Mau tak mau, bu Ben harus ikut main game.

Di situlah bu Ben mulai belajar.

Sebagaimana Ohm, si pandai yang egois di tim Higher. (Bukankah Ohm belajar egois dari ibunya?) Ibu anak ini belajar bahwa di dunia game, menjadi terbaik bukan satu-satunya cara memang. Bekerja sama dalam tim, rela berkorban, menyusun renacan, berhitung hingga detik per detik sangat penting untuk bisa memenangkan turnamen.

Singkat cerita, Ohm justru menang turnamen.

Bu Ben belajar banyak dari keiktusertaannya ikut turnamen AOV.

Yang mengharukan adalah ending cerita, ketika Ohm diwawnancarai : apa kamu senang dinobatkan sebagai MVP ? (most valuable player).

Ohm bilang, semua teamnya adalah MVP, bukan dia seorang (ia udah belajar gak jadi egois!) Dan ketika diwawancarai di televisi : siapakah MVP mu?

Ohm menjawab : MVP ku adakah ibuku.

So sweeeet!

Ya Allah!

Benar-benar hubungan ibu anak yang penuh prahara, egois, manipulasi, saling nipu satu sama lain. Lalu di titik tertentu ketika mereka mencoba untuk memahami dunia gaming itu seperti apa, si ibu mulai mencoba mengerti tentang dunia anaknya. Dan ternyata, Ohm ingin menang turnamen game itu bukan karena ia addiksi. Ia ingin ke Korea, menang uang dalam jumlah banyak dan mengajak ibunya main ski. Ohm dan bu Ben memang bukan orang kaya sehingga mereka selalu memimpikan punya uang cukup untuk biaya kuliah Ohm.

Hayo, para ibu. Para ayah!

Nonton film ini.

Saya gak minta anda untuk ikut turnamen game.

Tapi  asyik banget lihat sinematografi film ini.

Gimana bu Ben pertama kali memainkan k arakter Carry di AOV, bawaannya kalah melulu dan selalu diselamatkan oleh karakter Kobsat sebagai Jungler.

Dan ending dari cerita ini adalah : komunikasi dan mencoba memahami dunia anak kita sangat penting. Hanya dengan melarang dan mematikan rasa ingin tahu mereka, akan  memunculkan sikap pembangkangan. Bangunlah komunikasi dengan anak melalui kacamata mereka, sebab, dari kacamata anak seperti Ohm sebetulnya mereka ingin membuat orangtua bangga!

Kategori
ANIME Hikmah Hobby Jepang KOREA mother's corner My family Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Strategi Berkomunikasi dengan Remaja

Remaja : diperlakukan seperti anak kecil, diharapkan bisa bersikap dewasa.

Begitu bunyi salah satu quote tentang remaja, manusia  yang berada di rentang usia antara 12-18 tahun. Virginia Satir, pakar family therapy berkata, berbicara dan mencoba memahami remaja tak akan pernah cepat dan mudah. Mereka memiliki ciri khas menentang, lebih suka percaya teman, suka menyembunyikan sesuatu dari orangtua, mood swing dan sulit berkomunikasi dengan orang dewasa.

Aku suka menyelami dunia remaja.

Bagiku, remaja adalah makhluk rentan yang rapuh dengan potensi luarbiasa. Anak-anak pintar yang pemberontakannya sering dianggap sebagai kedurhakaan dan pembangkangan, padahal mereka sedang belajar menapaki jalan hidup kedewasaan. Mendekati dunia mereka, salah satu cara yang kutempuh. Musik, film, drama, komik, animasi, novel dan sejenisnya. Termasuk mencoba menulis di platform menulis online.

Kadang capeeee.

Ya, iyalah.

Dunia remaja sangat dinamis.

Rasanya jantung ini ikut berdegup-degup mengikuti alur dunia remaja. Misal, menelusuri jejak KPop. Ikut “ngenes” lihat para boyband atau girlband yang diperlakukan mistreatment oleh manager mereka. Duh, kasihan banget GOT7, Pristine, Stellar, 2PM dan sejenisnya. Duh, kasihan banget mereka yang masih muda-muda sudah harus diet superketat sebagai idol; belum lagi menjadi sasaran haters  lantaran kiprah di dunia entertainment.

Terhenyak jika menyaksikan akhir-akhir ini mendengar beberapa anggota boyband girlband mengalami gangguan psikologis cukup parah karena kejamnya industri hiburan. Pingin rasanya bisa memberi layanan konseling ke mereka, para idol yang rata-rata usianya belasan tahun! Anggota boyband girlband yang masih remaja, termasuk remaja kita, rawan mengalami gangguan psikologis karena berbagai factor : perseteruan dengan orangtua (keluarga), tekanan akademis, lingkungan, sosial media dan factor internal diri remaja yang memang sedang gelisah dengan lifecrisis.

Dunia remaja sangat dinamis.

Memfollow akun-akun IG dan twitter mereka, kadang geli dan tegang juga dengan berbagai macam kalimat-kalimat berseliweran. Abaikan EYD/PUEBI! Sudah tidak ada panduan huruf kapital, titik koma, batasan akronim. Kadang-kadang berseliweran kata-kata tak pantas dan menyaksikan para akun itu saling perang sendiri.

Dunia remaja sangat dinamis.

Yang lucu-lucu nyeleneh macam Istaka, atau lucu informatif macam Bintang Emon dan Hirotada Radifan. Kalau aku sedang mengamati anime, maka kubuka akun youtube Senior Anime atau Abdi Kos. Di IG sendiri, banyak akun informatif yang bagus-bagus kalau kita ingin mendalami jejepangan atau hallyu.

Apa bagusnya mengikuti dunia remaja yang dinamis?

Pertama, suasana riang dan lucu.

Terus terang, dunia orang dewasa kadang begitu berat, jenuh dan penuh pertikaian. Mengamati berita politik, ekonomi, pandemic; belum lagi saat mengurusi klien-klien sangat menguras tenaga. Mengikuti dunia remaja yang riang dan ringan, bisa membawa suasana hati ikutan happy. Akhirnya, jiwa kita kembali gembira dan bisa menghadapi persoalan-persoalan berat lagi.

Kedua, kreatifitas.

“Ngasih nasehat jangan overdosis dong, Mi,” celetuk anakku.

Rasanya  mangkel dengarnya. Tapi apa benar orangtua overdosis?

Setelah mengamati akun-akun anak muda, mereka sering buat postingan infografis yang ringan tapi bermakna. Tentang makna kebebasan dikaitkan dengan anime, tentang kehidupan sekolah dikaitkan dengan anime. Aku jadi belajar : oh, kenapa gak begitu cara kita menyampaikan kebaikan? Simple, singkat, santai. Tapi maknanya dalam.

Berarti, gayaku memberi nasehat kadang-kadang overdosis ya?

Maka, kalau anak-anakku bersitegang sering kusampaikan.

“Inget nasehat Levi buat Eren Jeager!” kataku.

Simple, singkat, santai. Selesai. Nggak perlu nasehat panjang-panjang yang overdosis.

“Diih, Ummi! Apa-apa dikaitkan AoT! Emang kenapa segitunya?”

“Kalau berkesempatan ke Jepang dan bisa ketemu; Ummi pingin tahu deh berapa IQ nya Hajime Isayama, Hiroyuki Sawano sama Linked Horizon. Pingin tau proses kreatif mereka juga.”

Karena lumayan intens mengamati Korea Jepang, beberapa orang menganggapku pengamat budaya pop culture. Kadang aku diundang untuk mengisi kajian parenting, atau kepenulisan, atau psikologi, atau motivasi; dalam kaitannya dengan budaya pop culture. Cukup banyak orangtua yang pada akhirnya tersadar, kami sama-sama overdosis ketika melakukan pendekatan ke anak-anak. Nasehat ini, perintah itu, ancaman  begitu, petunjuk begini.

Syukurlah, beberapa orangtua mulai mencoba gaya pendekatan berbeda untuk anak mereka. Anakku cerita.

“Ummi, temanku cerita. Mamanya keranjingan anime kayak Ummi!”

Hahahaha.

Aku mencontohkan pada anakku bagaimana mengatur waktu untuk menonton anime dan baca manga. Semua harus diatur. Kalau gak, habis waktu kita buat hiburan.

“Nak, Ummi jatah dari jam sekian sampai jam sekian buat baca komik online. Kalau gak dibatasi, maunya berjam-jam buka situs manga!”

Setelah pendekatan demi pendekatan, komunikasi yang terbangun, kedisiplinan masyarakat Jepang dan Korea yang bisa dijadikan contoh; anak-anakku mencoba untuk menjadwal pola sekeharian hidup  mereka. Buat apa gandrung Jepang Korea kalau gak mengambil manfaatnya? Kutekankan : “Lihat tuh anggota KPop, berapa jam sehari latihan? Bangchan (leader – Stray Kids) hanya 3 jam sehari tidur.”

Kedispilinan dan kerja keras Jepang dan Korea ini harus menjadi salah satu nilai yang perlu dicontoh oleh remaja kita. Semoga, dengan semakin harmonisnya hubungan orangtua-remaja; anak-anak merasakan kehangatan rumah dan mereka berkenan untuk curhat apapun kepada orangtua.

“Kita butuh 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup. Kita butuh 8 pelukan sehari untuk menjalani hidup. Kita butuh 12 pelukan sehari untuk tumbuh berkembang.” ~ Virginia Satir

Strategi berkomunikasi dengan remaja :

  1. Banyak menghabiskan waktu bersama mereka
  2. Ubah gaya pendekatan
  3. Humor
  4. Beri nasehat, tapi jangan overdosis

*Catatan singkat berbagai perjumpaan mengisi acara parenting terkait komunikasi remaja & pop culture

Kategori
Hikmah My family Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Film Parenting yang Bagus untuk Ditonton Akhir Tahun

Film-film ini sebetulnya bukan produksi 2019-2020. Beberapa udah beberapa tahun lalu tapi layak ditonton. Ingat ya, ini film parenting. BUKAN film keluarga. Kebanyakan kita berpikir kalau film parenting bisa ditonton sama anak-anak. Beda! Meski pemainnya anak-anak tetapi konflik dan dialognya banyak dewasa. Oke, bisa ditonton anak-anak yang sudah remaja asal dengan pendampingan karena ada beberapa diskusi tentang seksualitas di sana.

  1. Captain Fantastic
  2. Tully
  3. Please Stand By
  4. Dangal
  5. Searching
  6. Gifted
  1. Captain Fantastic

Tokohnya yang main jadi Aragorn di Lord of the Ring. Film ini bahkan buat suami saya sampai terharuuuu banget. Jarang-jarang bapak-bapak bisa terharu kwkwkwk. Kisahnya tentang seorang ayah yang membesarkan 6 orang anaknya sendiri, karena istrinya bunuh diri akibat post partum depressi hebat.

Diskusi tentang bunuh diri sang ibu saja sudah menjadi “highlight”  yang harus diperhatikan, kalau film ini mau ditonton anak-anak.

Kelebihannya?

Wah, film ini keren banget.

Ben Cash (Viggo Mortensen) membesarkan anak-anaknya di alam. Mirip homeschooling ya. Anak-anak kalau makan harus berburu, memasak sendiri. Sehari-hari mereka berlatih bela diri, membaca buku, bermusik. Jauh dari hingar bingar internet dan makanan junkfood. Anak-anak Ben menguasai 6 bahasa, mereka mengkonsumsi buku-buku berat dan mampu mendiskusikannya.

Salah satu diskusi menarik adalah ketika Ben dan salah satu putrinya membahas novel Lolita. Ada banyak diskusi antara ayah -anak yang sangat menarik di film ini. Termasuk kenapa nama anak-anak mereka tak ada kembarannya : Bodevan, Kielyr, Rellian, Vespyr, Zaja, Nai. Diskusi tentang kapitalisme, agama, bagaimana menjelaskan tentang seksualitas bisa menjadi masukan (meski gak mesti ditiru ya!).

No kissing, no one stand night.

Kenapa gak boleh ditonton anak-anak?

Karena diskusinya dan ada salah satu adegan ketika Ben yang naturalis-anti kapitalis, keluar dari bus caravannya tanpa baju sama sekali.Film ini bagus banget ditonton suami istri. Utamanya para bapak-bapak agar lebih menjiwai konsep pendidikan berkarakter.

2. Tully

Bagi ibu yang lagi hamil dan punya anak-anak kecil, film ini layak tonton.

Dibintangi si cantik Charlize Theron yang berperan sebagai ibu hamil tua. Marlo Moreau menjalani kehidupan yang penuh tantangan dengan anak kecil-kecil : Sarah dan Jonah (berkebutuhan khusus). Ketika Mia si bayi lahir, Marlo benar-benar kerepotan dan sangat lelah.

Saudara Marlo, Craig, yang hidup berkecukupan dan sangat mencintai kakaknya; menawarkan nanny untuk membantu Marlo. Tapi Marlo menolak. Ia tidak tahu bagaimana harus membayar shadow teacher dan nanny. Selama ini, Jonah sekolah di sekolah terbaik karena Craig menjadi donatur besar di sana.

Marlo sebetulnya memiliki suami yang penyayang, Drew. Tapi layaknya laki-laki ya, gak ngerti gimana capeknya punya baby. Malam hari, kalau Marlo naik ke tempat tidur karena sangat capek, Drew justru aktif membunuh zombie-zombie di video gamenya. Ala laki-laki bangettt hahahah.

Lalu muncullah Tully, si nanny. Kita sempat mikir : ”wah, ada adegan selingkuh nih antara Tully dan Drew. Sebab Tully sering mancing-mancing tentang Drew.”

Tapi enggak sama sekali. Endingnya yang twist bikin nyeseeeeek.

Ada satu quote di film ini yang akhirnya kami pakai di keluarga. Adegan ketika Marlo mengalami kecelakaan dan Drew nyaris kehilangan istrinya. Drew memeluk Marlo. Alih-alih mengucapkan “I Love You” , Drew justru berkata “I Love Us.” Marlo pun menjawab dengan perkataan sama : I Love Us.

Hayo Bapak Ibu, yang punya anak kecil atau baby-baby. Supaya ngerti perjuangan para ibu di malam hari, wajib tonton film ini. Gambaran gimana stresnya Marlo mulai ngurusi pampers sampai nyedot ASI, detail bangettt. Kita bisa merasakan capeee jadi ibu, ya?

3. Please Stand By

Film ini dibintangi si cantik Dakota Fanning yang berperan sebagai Wendy, penyandang autism. Dulu ketika kecil, Wendy dan kakaknya Audrey, dibesarkan oleh ibu single parent. Sebagai seorang kakak, Audrey sangat menyayangi dan mengerti adiknya yang berkebutuhan khusus. Namun setelah Audrey dewasa dan menikah, ia tak lagi dapat mendampingi adiknya. Apalagi si ibu telah meninggal.

Wendy sangat terobsesi dengan Star Trek. Ia bercita-cita menjadi penulis scenario. Perjuangan Wendy yang tinggal di rumah khusus bagi penyandang kebutuhan khusus untuk dapat mandiri dan mencapai cita-citanya, menjadi titik utama film ini.

Tidak ada adegan ranjang atau diskusi dewasa di dalamnya. Cocok juga untuk ditonton remaja. Sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, terutama anak special needs, perlu sekali melatih pola hubungan komunikasi yang hangat dan indah seperti yang dilakukan Audrey pada Wendy.

Anak-anak seperti Wendy pada akhirnya mampu mandiri dan menemukan jati diri ketika dikelilingi orang-orang yang peduli seperti Audrey serta pengasuh homecare bernama Scottie.

4. Dangal

Dangal adalah film India yang bolak balik kami tonton.

Mengisahkan Poghat Singh, seorang mantan pegulat yang bercita-cita ingin memberikan medali emas bagi negaranya. Ia ingin sekali mewariskan kemampuan gulat dengan melatih anak-anaknya. Apa daya, 4 anaknya perempuan semua!

Tapi ternyata, Gita dan Babita punya bakat gulat seperti sang ayah. Poghat mengetahuinya ketika Gita dan Babita berhasil mengalahkan cowok-cowok yang mengganggu mereka. Sejak saat itu rambut panjang keduanya dipangkas, hari-hari dipenuhi latihan berat, demi agar kedua gadis itu memiliki tubuh dan stamina yang pantas bagi pegulat.

Seorang ayah yang memiliki impian besar dan mampu mewariskan impian itu kepada anak-anaknya; sungguh sebuah motivasi spesial bagi orangtua yang mungkin masih bingung gimana cara mengarahkan anak-anak sekarang yang mungkin agak-agak manja.

Banyak dialog yang masih terpatri di ingatan. Salah satunya kekhawatiran istri Poghat. Siapa nanti yang akan memilih Gita dan Babita yang menjadikan gulat sebagai jalan hidup?

“Nanti, bukan laki-laki yang memilih-milih putri kita. Tapi Gita dan Babita yang memilih-milih sendiri para lelaki itu.”

Ibaratnya, Poghat ingin menepis anggapan sang istri yang mengkhawatirkan : ada nggak sih lelaki yang mau beristri pegulat? Jangan-jangan nanti Gita dan Babita selalu tersingkir dari pilihan. Poghat menegaskan : putri-putri mereka akan tumbuh menjadi orang berkualitas sehingga banyak lelaki akan melamar dan putri merekalah yang akan menyeleksinya!

Kisah Poghat Singh ini juga saya masukkan dalam buku saya 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ya.

5. Searching

Saya udah pernah posting ini secara khusus di FB dan blog saya. Jadi gak akan mengulas lagi. Cuma ingin menekankan bahwa film ini bagus banget buat para ayah yang gaptek ketika berhadapan dengan putrinya yang tetiba menghilang, dan si ayah mencoba mencari keberadaan putrinya lewat teman-teman dunia mayanya di facebook dan tumblr.

6. Gifted

Kalau punya anak Gifted, perlu tonton film yang satu ini.

Dibintangi oleh si Kapten Amerika, Chris Evans. Kakak perempuannya meninggal bunuh diri, meninggalkan seorang anak perempuan bernama Mary Adler. Saat Mary berusia 7 tahun dan sangat cerdas matematika serta mampu menyelesaikan soal-soal sulit setingkat mahasiswa, sang nenek berambisi menjadikannya anak yang bersinar dengan kecerdasannya yang luarbiasa.

Frank, merasa bahwa keinginan itu terlalu berlebihan.

Perjuangan Frank untuk ‘memanusiakan’ Mary Adler si jenius yang masih anak-anak ini bisa menjadi contoh bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak sangat pintar tanpa mengabaikan sisi humanis mereka.

#filmparenting #parenting #orangtua #goodmovie

Kategori
ANIME Hikmah Jepang KOREA Manga Musik My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Topik Penting WRITING. SHARING.

Beda budaya Jepang dan Korea apa sih?

Ketika saya bolak balik ngisi acara tentang Korean Wave, beberapa remaja yang nyenggol, “Bun, sekali-sekali bahas Jepang, dong!”

Dua negara ini bertetangga, seperti Indonesia dan Malaysia. Dua negara ini pernah berseteru dan sekarang berkompetisi dengan keunggulan masing-masing. Bagi para orangtua, budaya Korea dan Jepang sekilas terlihat sama. Ada musiknya, ada dramanya, filmya, juga boyband girlband. Tapi bila ditelusuri lebih jauh, banyak sekali perbedaan yang mengacu pada keunikan masing-masing.

Karena bahasannya pasti panjang, saya coba persingkat aja ya.

  1. Musik

Musik Korea dan Jepang sangat berbeda walau ada yang sama.

Korea :

Kita mengenal KPop yang mendunia. Yang tenar tentu boyband dan girlband. Selain berbentuk grup, ada juga yang solo dan grup band. Boyband sebut saja BTS, Exo, Stray Kids, NCT, Seventeen dsb. Girlband Blackpink, Red Velvet, Twice, dll. Ciri khasnya mereka bisa menyanyi, menari dan ada visual yang menarik.

BTS, EXO

Penyanyi solo yang bagus dari Korea juga banyak : BoA, IU, Taeyon, Gaho, Shawn.

Grup band yang mulai dikenal adalah Lucy dll. Grup band ini lebih mengandalkan kemampuan main musik seperti gitar, bass, biola, dsb

Jepang :

Musik Jepang sangat beragam mulai yang berbentuk girlband – boyband, solo sampai yang grup band. Penyuka musik Jepang mungkin akan sulit berpindah ke musik Korea karena musik Jepang sangat unik : vocaloid, moe-moe, ballad, rock metal, pop, dsb. Rock nya sendiri ada yang  modelnya theatrical seperti Linked Horizon. Mengupas satu aja, misal, vocaloid bisa panjang banget. Orangtua yang belum kenal apa itu vocaloid, coba cari Hatsune Miku. Lagunya amat sangat dikenal, terutama anak-anak TK dengan senam Pinguin. Tahu kan?

Linked Horizon

Menariknya, musik Jepang sangat dikenal dunia bersamaan dengan anime. Penyanyi dan grup band yang mengisi soundtrack anime bukanlah artis sembarangan. Inuyasha, Bleach, Naruto, Sailormoon , Attack on Titan…adalah sedikit film yang bisa saya sebut di mana musik-musiknya menjadi karya seni yang luarbiasa.

Cobalah simak Jiyuu no Tsubasa, Guren no Yumiya dan Shinzou wo Sasageyo.

Sangat cocok didengar agar kita punya nasionalisme terhadap negeri kita tercinta, utamanya kalau kita sudah merasa negeri ini kayak distrik Shiganshina yang diserang Titan kwkwkwk.

2. Film

Korea :

Film-film Korea justru lebih menyentuh realita. Kalaupun ada yang fantasi kayak Along with The God, tidak terlalu absurd. Begitu bagusnya Korea buat film berdasar realita sampai-sampai banyak banget film bertema patriotism yang laris manis di pasaran. Coba, mana ada film tentang perang kemerdekaan yang bisa box office kayak punya Korea? Mau yang setting tradisional seperti The Admiral, War of the Arrow dll. Atau mau agak modern seperti Age of Shadow, The Spy Gone North, My Way, Tae Gu Ki, dll. Sudah nonton Parasite kan? Nah begitulah bagusnya Korea buat film berdasarkan dunia realita.

Tae Guk Ki, Parasite

Jepang :

Jepang suka buat film absurd walaupun film tentang realitas seperti Shoplifter menang Cannes 2013.

Horror Jepang alamaaak, ngeri. Ring, Juon, dsb. Jangan nonton kalau emang nggak kuat jantungnya. Film Jepang banyak yang aneh-aneh, baik bertema humor kayak Ninja Kids atau Gintama. Ataupun yang thriller macam Coldfish atau Noriko’s Dinner Table. Kalau mau lihat film Jepang, simak benar-benar reviewnya.

Film-film Jepang yang dikenal di Indonesia dan cukup aman disimak seperti Kenshin, 13 Assasin, The Grave of Fireflies.

3. Anime

Korea :

Animasi Korea belum dikenal luas seperti punya Jepang. Beberapa animasi Korea mulai dikenal dunia seperti Larva, Tower of God, God of High School, dsb. Walaupun sebagian pengerjaannya masih digarap Jepang.

Animasi Korea, mirip seperti film-filmya dan dramanya, sangat menyentuh dunia realita. Korea ketika menggarap produk seni berdasar kisah realitas sehari-hari patut diacungi jempol.

Larva, Tower of God

Jepang :

Bicara anime Jepang, tak bisa cukup satu dua halaman. Jepang menjadikan animasi sebagai salah satu produk unggulan negrinya dan pemasukan devisa yang besar. Pantas saja anime Jepang benar-benar digarap serius. Studio animasi Jepang tak terhitung banyaknya : Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon, Ghibli, dll.

Anime Jepang digarap sangat apik dan seringkali merupakan adaptasi dari manga atau komiknya. Attack on Titan, Death Note, Bloody Monday, Fullmetal Alchemist dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi produk seni parallel : manga – anime – movie/ live action – teater. Black Butler misalnya. Konsep teatrikalnya juga sangat mengesankan, sebagaimana manga – anime – movienya.

AOT arah jarum jam ( 1, 2, 3 )

Untuk anime, bisa dikatakan belum ada yang mengalahkan Jepang. Walau negara-negara lain seperti Korea dan China sudah mulai menembus pasar dunia dengan animasi dan komiknya.

4. Manga (Jepang) atau Manhwa  (Korea)

Korea :

Komik Korea baik yang versi cetak atau online (webtoon) tak diragukan lagi dikenal luas di kalangan masyarakat dunia. Yang laris manis di pasar, biasanya dibuatkan drama serial atau movienya. Cheese in the Trap, Lookism, Itaewon Class, Stranger from Hell adalah beberapa webtoon terkenal Korea yang sudah diadaptasi ke dalam bentuk film serial.

Penggambaran komik Korea dan Jepang terasa sekali penggambaran tokoh-tokohnya. Sama seperti film, drama dan sejenisnya; Korea Jepang seperti dunia realita vs dunia imajinasi. Produk visualnya pun begitu.

Jepang :

Komik Jepang sangat terkenal di negerinya. Umumnya, para mangaka  atau komikus, berjuang untuk menembus majalah komik seperti Shonen Jump Weekly. Di Indonesia, anak-anak sangat mengenal komik Jepang seperti Conan, Naruto, Black Butler, Attack on Titan, Death Note dst.

Black Butler, Death Note

Perlu diketahui orangtua, komik tidak selalu diperuntukkan bagi anak-anak. Banyak komik-komik Korea dan Jepang yang peruntukkannya bagi orang dewasa sehingga adegan cintanya pun boleh jadi tidak lazim ditemui di Indonesia.

Produk visual Jepang sangat detil bahkan untuk unsur ornament, renda, dsb. Lihatlah Black Butler, bagaimana Yana Toboso menggambar detil pakaian bangsawan Eropa padahal itu cuma komik lho…

Anima & manga Jepang juga sangat dikenal karena building a new world : dunia yang sama sekali belum pernah ada! Dunia Naruto, dunia Attack on Titan, adalah dunia baru yang membuat kita terinpirasi oleh sistem persenjataannya, sistem militer, politik, teknik berterung dll.

5. Idol dan artis

Korea :

Artis Korea terutama idolnya, justru dibuat sedekat mungkin dengan fans. Sampai-sampai ada istilah fanservice. Kita bisa tahu sedetil mungkin kehidupan anggota EXO atau Red Velvet. Kebiasaan di dorm, trainingnya, bapak ibunya siapa, makanan kesukaannya apa, sampai hari ini dia lagi ngapain. Hal sedetil-detilnya bisa diketahui lengkap dengan googling dan buka youtube.

Begitu dekatnya fans dengan idol, sampai-sampai fans seringkali turut campur terlalu dalam ke kehidupan si artis. Masih ingat Chen Exo yang dihujat habis-habisan gegara ia menikah, kan? Nah, kalau Korea , idol sudah menjadi milik masyarakat sehingga sampai kehidupan kamar dan masa lalunya jadi konsumsi publik.

Jepang :

Artis Jepang sangat menjaga privasi. Boro-boro tahu kehidupan pribadinya. Kadang, seumur-umur yang muncul adalah nama samaran. Bahkan, gak mudah mendapatkan info pribadi di internet. Saya pingin tahu siapa Yana Toboso, mangaka Black Butler aja, susah setengah mati. Googling gak dapat-dapat. Saya suka lagu-lagunya KOKIA, karena dia sering menyanyi dengan tema binatang : beruang, paus, singa, zebra dsb (sweet songs!) tapi gak begitu banyak yang didapat.

Artis Jepang sangat tertutup.

Maka ketika Haruma Miura, pemeran utama Attack on Titan meninggal, kita bertanya-tanya : kok bisa? Tak seorang pun tahu informasi kehidupannya. Beda dengan kematian Sully anggota f(x) yang mati bunuh diri, kita bisa tahu penyebabnya yang berasal dari komentar-komentar jahat.

Haruma Miura , Sully

Nah, itulah sekilas beda budaya Korea Jepang yang akan saya simak insyaallah Sabtu, 10 Oktober 2020 bersama Sinar Cendekia Boarding School, Telaga Sindur

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Topik Penting WRITING. SHARING.

Film Cuties (Mignonnes) : Seperti Itukah Keluarga (Muslim) Modern?

Tanyakan pada diri sendiri setelah menonton cuplikan trailer Cuties : seperti itukah gambaran keluarga muslim? Lebih luas lagi, apakah semua keluarga modern pun menyetujui apa yang Amy (tokoh utama, 11 tahun)  lakukan? Cuties tayang di Sundance Film Festival dan rencananya akan edar di Netflix mulai September tahun ini, ditulis dan disutradarai oleh Maimouna Deocoure. Debut Maimouna, langsung menuai kecaman dunia! Bahkan posternya saja langsung dihujat!

Cuties bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Amy yang terlahir di tengah keluarga muslim Senegal, imigran di Perancis. Lahir di tengah keluarga muslim yang taat (well…orang akan mengatakan konservatif, orthodox, fundamentalis) membuat Amy tertekan. Amy dipaksa untuk berpakaian, bertingkah laku dengan cara orang muslim yang seharusnya. Padahal ternyata Amy ingin ikut kontes tari modern. Di sinilah konflik dan kritik pedas terhadap film produksi Netflix bermunculan .

Cuties diharapkan akan menjadi film coming of age yang mengesankan. Film coming of age adalah film-film yang menggambarkan masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang sering digambarkan sebagai masa penuh konflik, namun juga masa sangat dinamis dan kreatif. Tak lepas pula petualangan-petualangan mendebarkan dalam proses pencarian jati diri. Banyak film coming of age yang laris di pasar : Little Women dan Flip berawal dari buku legendaris. Shazam yang bertema superhero, Princess’s Diary yang melambungkan nama Anna Hathaway dan Parents’s Trap yang melambungkan Lindsay Lohan. Alih-alih menjadi film manis yang mencuri perhatian pemirsa, Cuties justru melukai wajah keluarga muslim dan wajah orangtua keluarga modern pada umumnya.

  1. Gambaran keluarga muslim. Banyak keluarga muslim konservatif. Tapi banyak keluarga muslim yang moderat. Kenapa yang konservatif (plus si ibu memukul/menampar anak ketika anak membangkang bab pakaian) yang diangkat? Apalagi keluarga imigran, Senegal, black moslem , sangat kaku ; benar-benar stereotype keluarga muslim. Memang banyak keluarga yang masih konservatif dan memegang teguh prinsip, tapi untuk dipertentangkan dengan sudut pandang Amy kecil, rasanya kurang bijak. Apalagi penggambaran ibu menampar wajah Amy. Saya banyak mengenal keluarga muslim konservatif, tapi untuk memukul anak di wajah; rasanya digambarkan terlalu berlebihan. Alangkah lebih baik bila dimunculkan perdebatan-perdebantan sengi tantara ibu-anak khas keluarga pada umumnya.
  2. Pilihan tarian. Amy dan teman-teman perempuannya Angelica, Coumba,  Jess, Yasmine, membentuk grup The Cuties untuk kontes menari. Dunia musik dan menari memang dekat dengan anak muda, terutama anak-anak seperti Amy dkk yang beralih dari kanak ke remaja. Tapi tarian twerking? Dengan kostum mini sangat ketat – hotpants dan croptop? Baiklah, kita ingin menampilkan anak gadis di tengah keluarga muslim yang memberontak terhadap nilai yang belum dipahaminya sebagai jalan hidup. Sutradara bisa memilihkan tarian yang lebih “sopan” , dinamis, atraktif untuk anak-anak usia 11 tahun seperti Amy dkk.

Melihat Amy dan teman-teman gadis kecilnya melakukan tarian ala orang dewasa, rasanya risih sekali. Jika dalam kontes menari, Amy dkk ditampilkan mementaskan tarian yang lebih anak-anak dengan kostum yang lebih sesuai untuk usia mereka; maka film ini lebih layak untuk ditonton.

3. Benturan budaya. Islam dan modern dibenturkan sedemikian jeleknya. Tentu, banyak reviewers film yang membela dan sebaliknya, banyak youtubers yang menghujat Cuties. Adegan Amy harus mengenakan busana panjang untuk pesta pernikahan ayahnya yang akan menikah untuk kedua kali ; benar-benar tampak tak manusiawi! Seolah dunia menari twerking dengan kostum pendek itu jauh lebih manusiawi bagi kondisi psikologis Amy dibandingkan dia harus jadi pengiring pengantin untuk pernikahan ayahnya yang kedua! Tidak adakah setting lain yang bisa dipilih? Misal, ayah dan ibu Amy yang hidup sangat sederhana sebagai imigran Senegal di Perancis; sulit untuk membiayai les menari, mendaftar kontes dan menyewa kostum. Uang itu kalaupun ada lebih baik untuk tabungan kuliah Amy kelak.

4. Gambaran keluarga. Kenapa harus keluarga muslim yang menjadi deskripsi keluarga Amy? Tampilkan saja keluarga pada umumnya, tak peduli Jewish or Christian.  Kita akan melihat respon keluarga-keluarga di dunia. Apakah setiap keluarga modern akan mengizinkan anak seusia Amy, 11 tahun , menari dengan gerakan twerking di depan orang dewasa dengan kostum seperti itu? Sangat disayangkan bahwa penulis dan sutradaranya sendiri adalah Maimouna Deocoure yang seharusnya membawa pesan positif yang universal terkait kehidupan kaum muslimin.

5. Rating. Film Cuties kategori TV- MA (mature accompanied/ mature audiences). Berarti untuk orang dewasa, tapi pemainnya anak-anak 11 tahun dengan konstum dan tarian dewasa! Beberapa kritikus dengan pedas menyatakan bahwa film itu mengajak pada sebuah orientasi seksual yang menjadikan anak-anak sebagai pemuas nafsu.

Saya pikir, wajar bila dunia marah terhadap film ini. Sebetulnya, wajar saja banyak gadis kecil yang berpikir & bermimpi , “hei, seperti apa sih rasanya jadi perempuan dewasa?” Mereka membayangkan dalam gaun, kosmetik, sepatu ala orang dewasa. Tapi seorang sineas harus mampu memilah mana yang pikiran, perasaan, perilaku yang harus dimunculkan ke layar lebar. Film akan membawa banyak pengaruh bagi penontonnya.

Bahkan negeri-negara penganut liberalism sekulerisme sendiri merasa jengah terhadap film yang menampilkan gadis cilik dengan kostum ‘sangat terbuka’ dengan tarian yang lebih pantas diperagakan oleh dan untuk orang dewasa. Apalagi keluarga muslim, rasanya perlu ambil suara.

Kalau film ini ditujukan untuk anak-anak, aneh saja adegan dan dialog yang dimunculkan.

Kalau film ini ditujukan untuk dewasa, aneh saja dengan pemainnya yang masih anak-anak dan beradegan demikian.

Beberapa petisi sudah diunggah untuk meminta film ini turun dari layar Netflix. Anda berminat ikut?

https://www.change.org/p/parents-of-young-children-petition-to-remove-cuties-from-netflix/psf/promote_or_share

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Parenting WRITING. SHARING.

Bagaimana Mengelola Emosi Negatif ?

Ada aja yang buat orangtua naik pitam saat pandemic dan anak2 belajar di rumah :

  • Yang lagi belajar daring, trus ada anak-anak tetanggan manggil : “Main yuuuuk!” lalu si anak serta merta melempar tugas daringnya dan lari ke luar.
  • Ada anak yang kayaknya pegang gadget, belajar daring….eeeeh, ternyata nyambi-nyambi. Nyambi stalking idol, nyambi gaming, nyambi lihat postingan IG. Alhasil , tugas daring gak selesai-selesai. Guru pusing, ortu apalagi.

Emosi manusia ada yang positif dan negatif. Gak semua emosi negatif itu buruk, justru kadang merupakan alarm, ada yang gak beres dengan diri kita dan lingkungan kita. Wajar orangtua marah ketika lihat anak-anaknya gak beres dengan urusan kemandirian, tanggung jawab dan pelajaran daring. Tapi, bagaimana dengan hadits Rasulullah yang terkenal ?

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”

Bukankah itu berarti orangtua gak boleh marah?

Kalau kita lihat hadits tersebut bila dikaitkan dengan hadits2 yang lain bagaimana cara Rasulullah Saw mengajarkan mengelola marah dengan cara : diam (stay calm) , berganti posisi (relaksasi) , mengambil air wudhu (aktivitas distraksi)  maka Rasulullah Saw tidak hanya melarang marah dan membuat orang hanya memendam perasaannya saja. Tapi justru beliau mengajarkan cara mengelola dan menyalurkannya agar marah itu terkendali, dan kalau pun keluar dalam skala yang proporsional.

Dan kalau marah suatu saat meledak (namanya manusia, kadang ada kondisi yang tidak tertahan dan tidak dapat dikontrol) Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk banyak istighfar dalam segala kondisi. Disamping hadits-hadits lain tentang bagaimana mengikuti perbuatan yang buruk dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ada kisah menarik seorang ibu yang selalu marah, naik pitam setiap kali pulang kerja. Salah satu yang biasa dilakukan untuk melampiaskan marah adalah dengan mengumpat kasar kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, alhamdulillah, dia berhasil mengatasi kondisi tersebut. Bagaimana caranya?

  1. Mencermati kapan marah – biasanya jam 5 sore, menjelang pulang kerja
  2. Kenapa marah – campur aduk pikiran antara tugas kantor yang belum selesai dan pekerjaan rumah yang menghadang
  3. Bagaimana marah – mengumpat kata-kata kasar walau  tidak main tangan
  4. Keinginan berubah – sangat ingin berubah tapi bingung gimana caranya

Biasanya, setelah seseorang dapat mendeskripsikan masalahnya dengan detil, dia mulai bisa melihat bagaimana cara mengatasinya. Ibu tsb gimana?

  1. Jam 4 sore mulai membereskan pekerjaan. Memberikan motivasi diri bahwa pekerjaan yang belum selesai disimpan saja utk besok. Jam 16.30 mulai emgnhadirkan wajah anak-anak, foto-foto mereka, dan kelucuan. Aura rumah mulai terasa jam 16.30
  2. Kenapa marah – mulai tereduksi ketika menjelang pulang kantor tidak lagi memikrikan pekerjaan kantor. Bayangan rumah pun diganti . bukan lagi anak yang belum mandi, gak mau mau sendiri, rumah berantakan. Berganti kelucuan, spontanitas anak-anak, riuh rendahnya mereka
  3. Mulai memilih kata-kata marah yang lebih positif (ibu tsb termasuk yg temperamental jadi harus berubah bertahap). Misal, tidak lagi bilang “kalian susah banget diatur! Jam segini belum mandi!” tapi diganti dengan à “Iiih, siapa yang jam segini masih bau kecut? Coba udah mandi, pasti tambah ganteng!”

Buat para Ibu yang jadi Guru, semangaaattt!

Yang penting, sebagai orangtua kita harus terusss sama-sama belajar. Yang murid belajar daring efektif, yang guru belajar daring efektif, yang orangtua belajar segala hal agar semua berjalan efektif 😊

Diselenggarakan oleh KOPI (Komunitas Orangtua Pintar Indonesia ) yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di Surabaya