Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Tokoh Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.
tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Suami Istri Tokoh Tulisan Sinta Yudisia

Lelaki dengan Kharisma Alpha-Male

 

 

1

“Saya mau nikah dengannya, Mbak. Titik.”

“Tapi anda sudah bersuami?”

“Ya,  saya tahu itu. Tapi saya nggak bisa berhenti mikirin dia. Saya selalu kangen dia, nangis tiap kali ingat dia.”

“Mbak, lelaki yang anda inginkan sebagi suami itu bukan tipe setia.”

“Saya sudah siap!”

 

2

“Saya tertarik dengan lelaki lain.”

“Sudah istikharah, sholat malam?”

“Sudah.”

“Dan?”

“Yang muncul wajahnya. Bukan wajah suami saya. Berarti dia yang terbaik untuk saya.”

 

 

Maha Suci Allah yang menciptakan beragam jenis manusia agar kita merenung dan terus belajar sepanjang hayat. Awalnya saya masih harus banyak belajar (dan untuk seterusnya) tentang bab perselingkuhan. Untuk perkara cinta yang tidak bisa dijabarkan. Untuk masalah cinta yang tidak sesederhana seperti yang diucapkan Sapardi Djoko Damono “Aku ingin Mencintaimu dengan Sederhana.”

Sampai di suatu titik saya mengerti. Dan ingin berbagi untuk anda semua, para pembaca atau siapapun yang ingin tahu rahasia cinta. Semoga dengan ini kita semakin waspada terhadap diri sendiri, terhadap orang yang kita cintai, terhadap orang-orang yang kita kasihi.

 

Manusia Diberi Kelebihan

Ada orang-orang yang diberikan kelebihan. Ini tentu saja hak prerogatif Tuhan dan kita tak bisa menyangkal. Sebagian manusia sangat cantik, tampan rupawan. Sebagian biasa-biasa. Sebagian jelek, tak menarik, atau bahkan cacat, naudzubillahi mindzalik.

Begitupun, ada manusia yang diberikan kelebihan dalam hal kepandaian. Kepintaran. Kemampuan berbicara. Kemampuan mengorganisasi  dan seterusnya. Dan, ada manusia-manusia istimewa yang diberikan banyak kelebihan.

Aisyah ra diberikan nasab, kekayaan, orangtua seperti Abubakar Shiddiq juga kecantikan dan kepintaran. Mushab bin Umair diberikan ketampanan dan kesholihan. Ada pula orang seperti Napoleon Bonaparte yang tidak tampan tapi merupakan jenderal yang hebat. Begitupun Socrates merupakan filsuf terkemuka dengan fisik dan wajah buruk. Abraham Lincoln merupakan presiden dengan wajah tak terlalu menarik; dibandingkan JF Kennedy dan Bill Clinton yang tampan.

Kali ini bahasan saya tentang kaum lelaki.

Dan berikutnya insyaallah tentang kaum perempuan.

Ada lelaki yang diberikan kemampuan spesial.

Bukan hanya fisik menarik tapi juga keahlian dalam memimpin, berbicara, mengorganisasi, mempersuasi orang, meyakinkan orang. Dan mungkin juga menipu, memperdaya. Contoh negatif adalah Jack the Rapper yang sangat terkenal memperdayai korban-korbannya. Ia dikenal sangat menawan, tampan, mempesona hingga para perempuan jatuh hati dan rela memberikan cintanya meski harus berakhir kehilangan nyawa.

 

 

Di negeri kita, ada sosok lelaki seperti Bung Karno yang sangat istimewa. Ia pintar, tampan, sangat memikat hingga banyak perempuan jatuh hati padanya.

Bung Karno
Bung Karno

Para lelaki seperti ini dikatakan memiliki kharisma alpha-male.

Tidak semua orang hebat memiliki kharisma ini.

Saintis yang memiliki kharisma ini terbatas. Albert Einstein dan Elon Musk, salah seorang di antaranya. Di dalam kehidupan keseharian, kita jumpai pula para lelaki yang memiliki kharisma alpha-male.

Mereka umumnya good looking. Walau ada juga yang penampilan luarnya biasa-biasa saja.

Ketika berbicara membuat orang terkesima.

Kata-katanya menyihir. Hanya berbicara sebentar, orang tertarik dan mengiyakan.

Umumnya mereka juga berprestasi.

Elon Musk

Berhati-hatilah, Perempuan

Apakah Alpha Male ini nurture atau nature?

Apakah ia bentukan atau bawaan?

Biasanya alpha-male adalah anugerah dari Tuhan YME.          Merupakan bakat yang dari sononya sudah diturunkan. Saya punya seorang teman yang mampu memikat banyak perempuan, sampai perempuan bule pun terpikat padanya, ternyata ayahnya pun seorang alpha-male. Ayah teman lelaki saya inipun banyak punya affair dengen perempuan dan selalu diminati perempuan meski sudah tua. Untung saya bukan termasuk perempuan yang terpikat karena hati saya sudah ada yang punya #lebay .

Dalam pekerjaan dan relasi sehari-hari, para perempuan baik yang masih single atau sudah menikah; kemungkinan bertemu dengan lelaki tipe alpha-male. Kalau tidak berhati-hati; perempuan akan tergoda dan jatuh pada lubang cinta . Bahkan, kalau sudah bicara cinta, perempuan sama sekali mengabaikan rasio. Sampai-sampai punya suami yang jauh lebih ganteng, jauh lebih mapan, punya anak hebat pun tidak masuk hitungan. Tetapi memang demikian cara perempuan bersikap. Saya bukan feminis yang selalu membela perempuan, ya. Tapi memang watak dasar perempuan mudah tertipu dan terperdaya. Kalau nggak, tidak ada perempuan jadi korban iklan dan korban mode. Dunia tahu, perempuan itu mudah diombang ambingkan perasaannya maka para produsen produk apapun memanjakan perempuan. Dan anehnya, perempuan memang suka ditipu.

Dijanjikan putih dalam waktu seminggu, percaya. Dan tetap pakai produknya meski setahun tetap saja hitam tak cerah-cerah.

Diberi pujian, engkau adalah perempuan paling memikat yang aku kenal.”

Hellloo?

Anehnya, perempuan yang perasaannya melayang gak balik nanya : emang kamu sudah ketemu berapa perempuan? Memangnya aku perempuan ke berapa yang kamu rayu?

Umpan balik itu tidak pernah diucapkan perempuan dan justru sebaliknya, percaya 100%. Yah, memang ini sulitnya bertemu dengan lelaki tipe alpha-male.

Eh, dan ternyata ada lelaki tipe alpha-male ini yang gak ganteng-ganteng amat.

“Aku punya teman, Mbak,” kata seorang sahabt saya. “Cowok ini nggak ganteng blas. Tapi cewek-cewek dibuat patah hati dan anehnya, pacarnya selalu cewek yang cantik banget. Suatu saat aku coba amati jejaknya. Ternyata dia tipologi yang kalau sama oranglain perhatiannya penuh dan tulus banget. Pernah seorang teman cewek pas ulang tahun dibuatkan video ucapan selamat ultah, sembari dia ngajak anak-anak asuhnya dan mereka mengangkat tulisan dari huruf-huruf terbipsah dengan ucapan happy birthday.

Lah teman aja diperlakukanbegitu, apalagi ceweknya? Pantas aja dia banyak yang senang.”

Di waktu lain, ada teman lelaki saya yang cerita.

“Bu Sinta, saya gak tahu kenapa ya perempuan-perempuan suka sama saya. Padahal saya tuh nggak ngapa-ngapain lho…”

“Lah, emangnya Bapak biasanya ngomong apa ke teman perempuan?”

“Biasa aja sih. Saya biasanya nanya ‘apa kabar, Bu? Sehat? Gimana keadaan keluarga?’ Gitu aja. Tapi kebiasaan saya yang seperti itu sering disalah artikan.”

Nah.

Rupanya alpha male memang seperti ini. Ia bisa menyenangkan oranglain karena suka berbagi perhatian, tulus dan optimal ketika memberi perhatian.

 

Lelaki Alpha Male, Jaga Diri Anda!

Kalau anda menyadari punya gen alpha male, harus hati-hati.

Jadi jangan mentang-mentang punya kahrisma lantas tebar pesona kesana kemari. Colak colek lewat medsos. Sadarlah bahwa kelebihan anda itu harusnya diberikan bagi pasangan sah saja.

Ada seorang lelaki yang good looking. Saking cakepnya dia, sampai-sampai pramugari suka memperhatikan (apa hubungannya?). Tetapi lelaki ini selalu bilang ke orang-orang bahwa dia sudah menikah, sudah punya anak. Dan tiap kali ditanya mau kemana (kebetulan ia kerja diluar kota dan terpisah dari keluarga) ia selalu bilang kalau akan pulang ke rumah karena kangen keluarga.

Nah, ada juga seorang lelaki good looking yang sudah punya buntut banyak; berlagak masih single aja. Justru kalau anda tipe alpha male, maka harus berhai-hati membawa diri. Jangan sampai ucaan, tindakan, atau apapun reaksi membuat orang salah tanggap.

Saya punya seorang sahabat perempuan, kalau ini bukan tipe alpha male ya, karena dia betul-betul perempuan fenimin. Bukan maskulin. Dari semua teman saya , dia yang paling tidak cantik, meski bukan berarti jelek. Tetapi dia yang paling sering mendapat pernyataan cinta dari orang.

“Kenapa ya Mbak Sin, aku ini sering ditaksir orang? Padahal aku sudah bergamis dan berjilbab lebar? Aku khawatir ada yang salah.”

Setelah saya amati, sahabat saya ini memang supel. Murah senyum. Suaranya enak didengar, tawanya renyah.

Maka saya bilang : “ kalau begitu, adik jangan sering senyum dan mudah ketawa di depan laki-laki! Sebab suara tawamu itu memang renyah sekali.”

Akhirnya dia menyadari bahwa dirinya memang punya kelebihan di bidang hubungan interpersonal dan hal itu harus sangat dijaga ketika berinteraksi dengan lawan jenis.

Kembali pada alpha male.

Kalau sudah dari sononya memang memikat, masa harus dikekang sedemikian rupa?

Ya suka-suka sajalah!

Salah perempuan yang jatuh hati, kan?

Hm, sebetulnya memang buakn salah lelaki sepenuhnya. Maka perempuan harus mengedepankan hati dan rasio secara bersamaan ketika berhadapan dengan lelaki alpha male. Kalau tergoda coba pikirkan : memangnya dia mau nikahi aku? Memangnya dia mau bertanggung jawab? Memangnya benar-benar aku cintanya seorang, aku yang paling cantik? Kalau nanti aku meninggalkan suami dan anak-anak, apa sudah pasti dia akan menerimaku dengan tangan terbuka?

Biasanya, bila rasio seorang perempuan terus digunakan untuk menstabilisasi perasaan, maka yang muncul adalah perasaan netral. Yah, biarin aja dia ganteng dan menarik, sudah dari sononya. Belum tentu nikah sama dia anak-anaknya juga ganteng kayak bapaknya. Hehehe.

Dan para lelaki alpha male, ini ada sedikit tips dari para lelaki alpha male di penjuru dunia.

Menurut anda, apakah alpha male harus menikah dengan perempuan dahsyat, terkenal, cantik rupawan, kayaraya juga?

Eh, ternyata nggak lho. Mahathma Gandhi menikah dengan Kasturbai. Einstein akhirnya bercerai dengan Mileva Maric dan menikah dengan Elsa. Para lelaki hebat alpha male ini ternyata merasa tenteram ketika menikahi perempuan sederhana dan biasa-biasa saja.

Kata Mahathma Gandhi, Kasturbai adalah stabilisatornya. Orang yang memahaminya ketika di rumah. Meski pemuja Gandhi banyak, ia tidak bisa hidup tanpa Kastubrai.

Dan apa sebab Esintein setelah berpisah dari Mileva yang cantik, ilmuwan, sangat cerdas dan membantunya merakit sejumlah penelitian justru menikahi Elsa yang biasa-baisa?

“Aku menikahi perempuan yang mengatur pakaianku di dalam koper, ketika aku akan berangkat mengisi seminar atau simposisum. Aku menikahi perempuan yang bersedia mengetik makalah penelitianku dan dia juga bisa beberapa bahasa,” begitu kira-kira anggapan Einstein.

Para lelaki alpha male ini tahu betul, dirinya membutuhkan kestabilan di rumah, di belakagn kehidupan gemerlap mereka.

Jadi anda lelaki alpha male, sudahdkan anda tahu diri anda seperti apa dan pasangan macam apa yang paling cocok untuk anda? Jangan sia-siakan pasangan stabilisator yang terlihat biasa saja, tapi sebetulnya merupakan backbone-tulang punggung yang membuat anda bisa berdiri. Dan para perempuan yang terpikat alpha male, jangan terburu besar kepala atau melambung tak karuan. Belum tentu anda kok, tautan hatinya.

 

 

 

 

Kategori
Catatan Jumat Hikmah Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan

Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

talking to husband.jpg
Omongan penting apa gak penting?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

talking to husband 2.jpg
Mencoba bicara & taklukan takut

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

talking to husband 3.jpg
Suamiku, pahlawanku

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Muslimah : Celana Panjang, Rok atau Jubah?

Putriku membagi link sebuah diskusi hangat di media sosial tentang muslimah yang memakai celana panjang. Muslimah tersebut dikritik oleh senior dan teman-temannya karena  menggunakan pakaian yang dianggap tidak Islami. Aku sendiri bukan orang yang sangat faqih dalam hal agama, tapi berupaya menimba ilmu sedikit-sedikit dan menyempurnakannya.

Sebetulnya, bagaimana sih muslimah seharusnya berpakaian?

Apakah ia harus berupa jubah panjang, longgar, bewarna hitam, dengan jilbab menjuntai hingga melewati panggul? Ataukah boleh menggunakan atas bawah seperti rok SMA, seragam instansi resmi PNS, atau menggunakan celana panjang?

Aku tidak akan membahas detail tentang kajian Quran dan Hadits sebab memang kafaah ilmu pengetahuanku bukan disitu. Aku lebih ingin mengupasnya dari sudut pandang psikologi dan parenting, juga tentang human-development yang menyisir usia wajib berhijab : usia aqil baligh.

 

  1. Konsep Belajar

Busana muslimah, berhijab, berjilbab ; adalah sebuah langkah dalam sekian banyak rangkaian dalam agama Islam. Sebagai muslim dan muslimah kita wajib belajar tentang agama. Mulai belajar bagaimana membaca Quran dengan tartil, membaca tafsir, membaca hadits sampai memahami fiqih, shirah dan segala hal terkait agama ini.

Belajar mencakup pemahaman tentang proses, tujuan, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi tentang materi ajar yang dimaksud.

Belajar agama berarti meliputi proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi.

Aku ingat, bagaimana pertama kali dulu semasa SMA masuk kelas rohis dan mendapat pelajaran tentang busana muslimah. Terus terang aku tahu wajibnya busana muslimah dari teman-teman lain, belum membaca langsung ayat tersebut dari Quran. Maka aku mengalami tahapan belajar.

Celana kulot.jpg

Proses, tidak serta merta langung berjilbab saat itu. Sebab aku masih mengumpulkan informasi, masih tengok kanan kiri, masih lihat apakah sohib karibku pakai jilbab  atau enggak. Setelah sampai di satu titik : ya. Kayaknya aku harus pakai jilbab. Karena apa?

Karena pengalaman pribadi.

Seseorang terkadang sampai di titik agama, karena berbagai jalan yang berbeda. 1001 cerita orang pakai jilbab tak akan sama. Akupun demikian. Waktu itu, ayahku meninggal, meninggalkan kepedihan yang dalam. Maka aku hanya berpikir simple : masa’ aku nggak akan membahagiakan ayaku dengan menjadi gadis shalihah? Maka aku menggunakan jilbab agar ayahku tenang di alam baka. Barulah kemudian sedikit demi sedikit aku memahami wajibnya busana muslimah.

Langsung pakai rok?

No way.

Lha, enggak punya.

Aku anak pecinta alam, pegiat kempo dan suka nonton bioskop. Kebanyakan punya celana panjang. Kalau nunggu punya rok baru pakai jilbab, bisa jadi berthaun-tahun kemudian baru pakai jilbab! Saat itu kupikir, yang penting ada pakaian panjang, aku anggap itu jilbab.

Ada celana jins panjang, pakai aja.

Ada baju lengan panjang, entah itu sweater atau kemeja, pakai aja.

Ada sembarang kain yang bisa dipakai kerudung, pakai aja. Entah bahannya katun, linen, atau bahan plitat plitut yang butuh puluhan peniti hahahah. Pernah aku pakai jilbab yang entah apa nama bahannya. Pas di tempat les, bolak balik melorot ke belakang hingga rambutku menyembul semua!

Yang penting, pakai baju panjang, plus kerudung. Titik.

Itulah proses.

Barulah kemudian , ketika kuliah dan bisa menabung sedikit demi sedikit, aku beli jilbab yang pantas. Rok-rok dan blus, diberi tanteku dan mamaku yang modelnya…..alamak, encik-encik buuuuangetttt. Tuwek! Tapi yah, terima aja. Hitung-hitung nambah koleksi busana muslimah.

Maka aku faham, ketika sekarang melihat ada anak remaja putrid menggunakan beragam jilbab.

Jipon, jilbab poni yang masih memperlihatkan poni.

Jilbab lempar, yang ujung-ujungnya dilempar ke belakang.

Jilbab satu peniti, yang disemat di bewah leher, dan masih memperlihatkan kulit leher dan dada.

Dan jenis jilbab yang lain.

Apakah jilbab yang belum syari itu berdosa?

Wallahu’alam. Hanya Allah Swt yang tahu.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala ataukah dosa, ketika aku masih pakai celana panjang ketat dengan kemeja dan jilbab ala kadarnya ketika tak ada seorangpun saat itu yang bisa mendampingku pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala dan dosa, ketika aku masih bongkar pasang jilbab, karena tersudut teman-temanku semua belum pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah pahala dan dosa, ketika aku jatuh bangun bongkar pasang jilbab, belajar terus tentang Quran dan Hadits lalu mencari tahu apa dosanya orang tidak berkerudung?

Tetapi sekarang aku menyadari, tak ada manusia yang bisa baik sekali jadi. Langsung muslimah taat, keren, shalihah, ghadul basar, hafal quran, membasahi lisan dengan dzikrullah, menjadi pemateri dan motivator agama.

Akulah itu, yang pertama kali pakai jilbab cekikikan bersama teman-teman, hadir ke majlis taklim karena pemateri rohisnya mahasiswa yang keren.

Akulah itu , yang masih suka koleksi music dan kelayapan di bioksop, dengan jilbab tersemat di kepala.

Akulah itu, yang masih suka gossip sana gossip sini, meski sudah mulai ikut pengajian.

Tetapi berminggu, berbulan, bertahun kemudian; apa yang berubah.

Jilbab awut-awutan gak karuan, yang penting asal pakai entah syari entah tidak, mulai berubah lebih santun dan indah. Lebih menutup aurat. Dengan rok, blus panjang dan jilbab yang juga menutup dada. Kalau pakai lengan ¾, memakai deker. Awal kuliah, ketika pakai kulot atau celana, kuusahakan mengenakan kaos yang panjang bajunya hingga hampir lutut.

Bersamaan dengan busana muslimah itu, ahklakku membaik. Ilmu agamaku meningkat. Dan kebiasaan buruk seperti gak peduli pada orang, bicara sembarangan, bicara menyakitkan, boros, suka menghabiskan waktu untuk music dan nonton; berganti dengan aktivitas lain yang lebih produktif. Bukan berari aku sekarang jadi orang suci yang gak pernah bicara pedas atau gak pernah marah, sama sekali gak dengar music dan nonton film, ya!

Dulu kalau seminggu gak nonton film 2 atau 3 kali, rasanya suntuk. Sekarang santai aja. Sebab hiburan juga beragam, terutama baca buku. Baca biografi sangat mengasyikkan. Nonton film kalau dulu apa aja diembat, sekarang lihat reviewnya dulu. Rotten tomatoes bagus? Oke. Ada waktu? Oke. Udah download? Oke. Karena nonton di bioskop sudah gak sempat. Males hehehe.

Film-film seperti Spotlight dan Split yang sangat dekat dengan dunia menulis dan psikologi, menjadi film wajib tonton. Dan kutonton itu di rumah. Tak gak harus di bioskop, aku nunggu sampai bisa download gratis .

Proses itu sungguh panjang. Kalau dihitung-hitung hingga sekarang, kurang lebih 25 tahun lebih sudah aku berjilbab. Dan rasanya masih saja ada yang kurang dari proses beragama-ku.

Proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi. Proses, tujuan dan membentuk pengetahuan tentang agama , khususnya jilbab sudah kulalui.

Muslimah Fashion 2.jpgBerpikir strategis tentang jilbab?

Nanti gimana ya aku dapat jodoh.

Nanti gimana ya aku kerja kalau ditolak karena memakai kerudung.

Saat SMA aku bertanya pada teman-teman, boleh gak kalau pakai kerudung tapi kupingnya kelihatan? Mengingat foto saat itu harus memperlihatkan telinga. Untungnya, peraturan segera membolehkan ijazah pakai jilbab.

Aku sempat takut pakai jilbab karena takut mama marah.

Bagaimana cara mengatasi ‘berpikir strategis’? Aku minta saran teman. Sahabatku bilang,

“Sin, kalau aku, yang buat mamaku marah adalah sejak aku pakai jilbab aku tuh lamaaa banget kalau disuruh keluar. Maka kita harus pakai jilbab yang simple. Jangan ribet.”

Saat itu belum banyak jilbab kaos seperti sekarang. Maka kalau aku punya uang, aku segera beli jilbab bahan kaos bentuk segitiga, yang ada tali dua , bisa dililitkan cepat di belakang leher. Sisa kain yang menjuntai di kanan kiri tinggal diikat dan diberi peniti satu. Cepat. Itulah berpikir strategis, gimana biar aku bisa pakai jilbab dan tetap aman.

Metakognisi?

Jodoh, uang , karier, pekerjaan.

Itu juga yang dikhawatirkan sebagian besar muslimah. Itu juga yang menimpaku. Maka aku terus menerus bertanya pada diri sendiri : untuk apa pakai jilbab. Kalau karena Allah, masa’ Allah tidak akan memberikan jodoh untukku? Kalau karena Allah, masa’ Allah tak akan memberi rizki dan uang padaku? Selalu ada pertempuran dalam diri dan ini sungguh berat. Alhamdulillah, metakognisi dari belajar tentang jilbab berhasil kuraih. Aku harus terus belajar hingga akhir hayat, terkait sisi hidup yang lain.

 

  1. Bertahap

Pakaian muslimah seharusnya seperti yang telah diatur dalam agama.

Menutupi dada, tidak membentuk tubuh, tidak menyerupai laki-laki dalam segala aspeknya.

Konteks menyerupai laki-laki ini bisa banyak makna dan bersinggungan dengan banyak kultur.

Jubah, dikenal di kalangan Arab dikenakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki pun berjubah. Bahkan, laki-laki menggunakan kerudung di atas kepala untuk melindungi dari hawa panas. Maka di daerah Arab, perempuan diminta lebih panjang menggunakan kerudung di kepala, agar tidak menyerupai laki-laki.

Bagaimana dengan belahan bumi lain?

Ada kultur skandinavia yang memperlihatkan lelaki biasa pakai rok. Ada kultur Jawa dimana laki-laki juga biasa pakai kain panjang, jarik, seperti perempuan. Motif kain laki-laki dan perempuan pun bisa sama : parang rusak, wahyu tumurun, nogo kembar, sidho mukti. Dua-duanya dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Hanya saja, lelaki menggunakan beskap dan blangkon, perempuan kebaya. Bila perempuan muslimah ingin menggunakan batik dan kebaya, tinggal menutupkan kerudung ke kepala dan menyempurnakan dengan kaos kaki. Kebaya pun dibuat yang tidak terlalu membentuk tubuh.

Lalu bagaimana dengan celana panjang?

Ini dia yang hingga kini masih menimbulkan perdebatan.

Celana jins, awalnya dipakai para penambang Amerika untuk melindungi kulit dari cacing tambang yang ganas. Para penambang umumnya laki-laki, meski ada yang perempuan juga. Celana ini umumnya berbentuk celana monyet, dengan kantung di dada dan celana yang diberi tambahan hingga perut dan dada serta diberi semacam bretel di bahu kanan kiri.

Kalau dilihat dari sejarah, yang mengenakan celana panjang memang kebanyakan laki-laki.

Pangeran Antasari, Pattimura, Pangeran Diponegoro; foto-foto mereka menggunakan celana panjang. Tetapi wilayah Aceh seperti Cut Meutia dan Cut Nya Dien, menggunakan celana panjang juga dengan perbedaan di bagian busana atas.

Sekali lagi, aku bukan ahli terkait fiqih. Jadi, hanya mengupas dari sudut pandang ilmu yang aku tahu.

Maka, celana panjang, sepanjang ia tidak memperlihatkan aurat seperti paha dan panggul yang ketat; maka boleh-boleh saja. Asalkan menggunakan pakaian yang  lebar seperti tunik hingga lutut atau minimal paha. Kulot juga panjang dan lebar, lebih nyaman dipakai.

Kalau diminta memilih apakah celana panjang, rok dan jubah yang lebih baik?

Aku pribadi merasa salut dengan mereka yang menggunakan jubah. Terlihat lebih anggun dan lebih mawas diri; juga lebih tidak menampakkan aurat. Aku juga pakai jubah; meski tidak di segala kondisi. Bila mengisi acara di insitusi resmi, aku lebih memilih mengenakan rok dan blus. Utamanya batik, agar lebih memperlihatkan cirri khas Indonesia.

Tetapi aku juga tidak akan mengkritik para muslimah yang harus berkontribusi sebagai polisi, tentara, perawat, pekerja pabrik, petani, peternak, tukang sampah. Aku menjumpai seorang muslimah yang harus bekerja sebagai pemulung dan tukang sampah; maka ia mungkin merasa celana panjang cocok untuknya agar tidak mengganggu saat bekerja.

Ya, itu kan tuntutan pekerjaan!

Bagaimana kalau mahasiswa? Bukan tuntutan pekerjaan, atuh!

Alangkah baiknya mahasiswa kalau ia berjubah dan berjilbab panjang. Atau menggunakan rok dan blus panjang. Tetapi kalau ia memilih bercelana panjang karena sedang bertahap memantaskan diri; maka itu akan menjadi proses pembelajaran luarbiasa bagi dirinya. Ia mungkin akan mencibir teman-temannya yang memakai busana kurung mirip emak-emak; tapi ia pasti akan belajar menilai. Malah mungkin, ia masih pakai celana ngatung 7/8 yang memperlihatkan betis, pakai baju ¾  yang tipis melambai, pakai jilbab ala kadarnya yang masih memperlihatkan rambut mencuat keluar dari pori-pori jilbab.

Tak mengapa.

Ia sedang menjalani proses, berjalan menuju tujuan tertentu dan mengumpulkan pengetahuan. 3 atau 5 tahun dari sekarang ia mungkin akan berubah. Yang penting, para muslimah berhijab rapi tidak mudah untuk menjustifikasi seseorang hanya berdasarkan penampilan.

Don’t judge the book by it’s cover. Okay?

Eh, tempo hari aku jadi juri Kartini lho!

Aku ketemu dengan para muslimah muda yang keren abis. Bikin diri ini yang sudah senior jadi malu. Ada yang pakai jubah dan jilbab panjang ala sosialita. Ada yang pakai rok, jaket almamater dan jilbab ala aktivis rohis. Ada yang pakai celana panjang dan kaos. Tapi mereka perempuan muda yang rrruaaarrbiasa!

Be yourself and never stop learning.

Fashionable  dan cantik ya?

Yang masih pakai celana panjang, terus belajar. Yang masih pakai rok, terus belajar. Yang masih pakai jubah, terus belajar.

Sampai kapan?

Sampai malaikat Raqib Atid menutup kitab dan menyerahkan urusannya pada Izrail.

 

  1. Sederhana

Naaaaah, yang ini nih lebih cucok buat bahasan muslimah.

Sebab, mau pakai celana panjang, rok, atau juba; ada kebiasaan buruk mengintai. Hiks, kebiasaan apa itu? Sikap arogan, jealousy, egosentris. Lihat teman keren pakai baju a, kit aingin pakai A. Lihat sohib keren pakai jilbab B, kita nyari di online jilbab B. Lihat ustadzah di televise pakai jubah panjang dan jilbab panjang dengan motif menarik; kita juga harus punya.

Salah satu cirri khas muslimah yang harus menempel pada dirinya; entah apapun jenis busananya adalah sifat sederhana.

Pakai celana panjang dan blus syari; kalau tasnya harus hermes Kelly, hmh.

Pakai rok dan blus syari tapi lemarinya penuh baju dan gak pernah dikosongkan buat bakti sosial, hmh.

Pakai jubah dan jilbab panjang tapi harganya selangit, hmh.

Baju kurung Malaysia.jpg
Baju kurung ala Malaysia

Apa gak boleh bermewah-mewah? Apa standar orang kaya harus selalu sama dengan standar menengah ke bawah? Sudah terbiasa beli busana di Hong Kong dan distrik Gangnam; rasanya gatel kalau pakai kaos beli di minimarket. Wah, kalau sudah dari kakek neneknya kaya; orang memang tidak akan mudah mengubah gaya hidup. Tapi bukan hal itu yang menjadi titik tekan.

Gaya hidup Utsman bin Affan dan Umar bin Khatab, juga Ali bin abi Thalib beda. Mereka berbeda cara makan, tempat tinggal, gaya berbusana. Tapi mereka dijamin masuk surga lho.

Sederhana itu, berusaha untuk terlihat 2 atau 3 level di bawah standar kekayaan yang sebetulnya. Itu filosofis yang kudapat ketika bertemu seorang pengusaha muslim nan sukses di Indonesia dan Jepang. Kisah hidup beliau menginspirasi dua tokoh konyol di Polaris Fukuoka, seorang gadis bernama Sofia dan pamannya Hanif (promosi hahaha). Konon, orang Jepagn suka dengan gaya hidup 2-3 level di bawah standar kekayaan. Itu namanya orang kaya beneran. Bukan OKB atau kaya boongan.

Punya duit 1 juta, yah, beli baju yang harga 100-200 ribu. Jangan punya duit 1 juta tapi pinginnya baju sekelas 3 juta.

Sederhana itu dicontohkan Carlos Slim, Mark Zuckerberg. Makin kaya, makin gak kelihatan. Bukan makin kaya makin belagu. Kalau jadi muslimah kaya, kelihatan dari jejak sedekahnya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, bukan dari jejak upload statusnya ya.

Gakpapa tasnya Hermes Kelly, tapi infaqnya sebesar kapal perang.

Gakpapa busananya beli di Paris dan Korea, tapi infaqnya sebesar mobil Jaguar, Mustang dan Ferrari. Jangan dibalik. Tasnya Hermes Kelly, infaqnya senilai tas Tanggulangin. Busananya puluhan ribu Yen atau jutaan won; infaqnya sebesar odong-odong.

Sederhanalah dalam berbusana. Sebab itu akan membuat kita cantik. Hehehe, ini bukan menghibur diri sendiri ya?

  1. Tidak Berlebihan

Islam itu pertengahan.

Tidak belebihan, tidak kekurangan. Yang sedang dan biasa.

Gaya kasual pakai celana gunung yang longgar, dengan kaos loreng ala sate Madura, okelah. Tapi gak perlu segala gelang etnik dipakai mulai gelang kaki, gelang tangan, kalung tumpuk-tumpuk. Gelang kayu dan kelang karet okelah dijadikan satu. Dengan cincin tempurung penyu juga cantik, kalau kita jenis cewek yang enggan pakai perak dan emas. Jilbab dan topi baret, bisa jadi padanan, dengan vest ringan. Kadang, saking inginnya memadu madankan apa yang dipunyai di lemari; semua asesoris dikenakan. Padahal, pilih saja satu dua. Simple is beautiful.

Jubah cantik.jpg
Gaya sederhana yg chic

Bergaun pun harus sederhana.

Tidak selalu harus punya jilbab yang sewarna dengan motif bunga di baju. Bunga biru, jilbab harus biru. Bunga marun, jilbab harus marun. Bunga pink, jilbab harus pink. Padahal dengan punya jilbab hitam, coklat, krem dan merah tua; dapat mewakili semua busana yang ada. Rok pun usahakan punya yang dapat mewakili untuk banyak acara.

Kecuali kalau artis, presenter ya! Itu memang dunia yang butuh penampilan. Padahal banyak lho artis yang tetap sederhana.

Tahu Julia Stiles kan? Yang main di trilogy Bourne. Ohya, sekarang sudah sampai seri ke-5 hehe. Kata paparazzi, dia gak terlalu suka pesta sebab gak punya banyak koleksi gaun. Artis pun tidak harus punya baju sekontainer. Ratu Rania dari Yordania pun tidak terlalu suka mengkoleksi permata seperti para perempuan bangsawan lainnya. Konon, bila punya permata baru, yang lainnya akan diserahkan padap ihak keluarga atau negara. Yang sering dipakainya adalah mahkota kenegaraan.

 

  1. Jangan sampai bosan

Dalam beragama, hendaklah berada pada sisi tengah-tengah.

Sebab, Rasulullah Saw sendiri mengkhawatirkan apabila kita sangat keras pada diri sendiri; suatu saat sikap ekstrim itu akan menjadi sebaliknya. Permisif. Saking sederhananya dan ingin memelihara diri; sama sekali tidak pernah memakai perhiasan. Padahal Allah Swt pun suka bila hambaNya memperlihatkan sebagian dari kenikmatan yang diberikan olehNya.

Sikap tengah dalam agama membuat kita tidak bosan.

Kita ingin sederhana dalam berbusana, maka agar berhemat, memilih jubah dan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Tak mengapa menyisihkan uang, memberikan reward diri dengan membeli bros cantik atau kaos kaki yang nyaman dipakai.

Segala pilihan busana mulai celana panjang, rok, jubah; dipilih atas dasar ketaatan kepada Allah Swt. Hanya kita yang tahu, apa yang ada di lubuk hati terdalam. Kalau memilih memakai celana panjang; janganlah mengucap sumpah dengan mengatakan tak akan pernah memakai jubah yang seperti emak-emak. Sebab, siapa tahu suaminya kelak ingin istrinya mengenakan busana anggun. Yang mengenakan gaun pun, tak usah menyumpah-nyumpah mereka yang mengenakan celana panjang. Siapa tahu kelak berada dalam situasi yang menyebabkan ia harus menanggalkan gaun panjang dan menggantinya dengan pakaian yang lain.

Di tahun 2009, saya berkesempatan ke Palestina, Gaza.

Maka perempuan disana terbiasa mengenakan celana panjang, dan dilapisan luar mengenakan abaya. Tentu kita paham, kenapa ini dilakukan. Mereka siap lari dan menyelamatkan diri bila sewaktu-waktu bom jatuh di wilayah pemukiman.

Jadi, apa pilihan busana muslimahmu?

 

 

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Rahasia Perempuan WRITING. SHARING.

Kriteria Istri Kedua

 

 

Cantik.Muda. Berpendidikan.Berpenghasilan.

Demikian rata-rata kriteria perempuan yang akan dijadikan istri kedua, entah ia masih gadis ataupun janda. Berbeda dengan istri pertama yang sederhana, polos, lugu; biasanya istri kedua bertolak belakang dari istri pertama.

Benarkah?

silhouette_muslimah_by_maxzymus-d69der4-770x577.jpg

Polemik Poligami

Persoalan poligami akan selalu pro kontra, tak akan pernah ada kata sepakat, apalagi bila pendapat lelaki dan perempuan dibenturkan. Perempuan beranggapan lelaki mau enak sendiri, lelaki beranggapan  perempuan tidak memahami syariat. Persoalan semakin pelik jika poligami sudah melibatkan kontak emosi terlalu jauh : seorang suami yang tidak dapat curhat kepada istrinya lalu menemukan perempuan lain yang kebetulan cocok menjadi teman curhatnya. Atau, seorang suami menemukan istri yang selama ini diimpikannya, hal yang tidak didapatkannya dari istri pertama.

 

Secara alamiah, lelaki  memliki instink petualang, melebihi perempuan. Perempuan paling energik dan sangat bebas sekalipun, seiiring posisinya sebagai istri dan ibu pada akhirnya akan mengakhiri masa adventuringnya.  Mendekam di rumah menikmati fitrah sebagai  istri, ibu , pendidik, pengasuh, tukang masak dan seterusnya. Lelaki, walau bertanggung jawab terhadap kebutuhan nafkah keluarga; tetap memiliki semangat berpetualang.  Ada lelaki yang teap suka main bola, naik gunung, jalan-jalan, hang out dengan teman-temannya, nonton keluar. Walau ia seorang family man sekalipun, sisi adventuring itu tidaklah hilang.

 

Bila kebiasaan adventuring ini mendapatkan pelepasan semestinya, biasanya ia tidak membutuhkan lagi petualangan cinta. Misal, ia aktif di organisasi, yayasan, sibuk mengejar karir, terlibat aktif mengasuh anak-anak maka energinya akan tersalur. Namun  dalam kejenuhan dan keterdiaman, lelaki bisa memulai petualangan cinta.

 

Lha, apa hubungannya dengan poligami?

 

Poligami ala Rasulullah Saw dan orang-orang shalih.

Rasulullah saw menikah lagi setelah bunda Khadijah wafat. Pernikahan beliau rata-rata mengambil  janda yang sudah tua. Pernikahan dengan perempuan muda nan cantik antara lain terjadi terhadap  Aisyah dan Shofiyyah. Meski demikian, visi misi pernikahan beliau tidaklah bergeser dari kepentingan dakwah dan tentu sesuai syariah.

Sultan Murad menikahi Huma Khatun ( Ibunda Al Fatih) sebagai istri ketiga, juga karena alasan politik. Selain alasan politik, Sultan Murad mampu mengkondisikan istri-istrinya untuk taat kepada Allah.  Bacaan al Quran senantiasa menemani hari-hari mereka;begitupun pertempuran-pertempuran jihad mengisi hari-hari Sultan Murad.

 

Poligami sekarang

Sebetulnya, tidak ada keharusan lelaki harus menikah lagi dengan perempuan yang lebih tua. Harus janda. Beranak banyak. Jelek pula. Tidak ada satu ayatpun dalam Quran dan Hadits yang melarang lelaki menikahi perempuan disebabkan kelebihan-kelebihan yang ada padanya.Apakah haram menikahi perempuan pintar? Tidak. Apakah haram menikahi perempuan cantik? No. Apakah haram menikahi perempuan muda? Haram menikahi perempuan berpenghasilan dan kaya? Tidak dan tidak.

2 jalan

Silakan saja mencari istri pertama yang pintar, kaya, cantik, muda. Silakan mencari istri kedua yang seperti itu juga. Ketiga dan keempat juga dengan kriteria yang sama.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya adalah bila visi misi bergeser.

Dulu, menikah dengan istri pertama dalam kondisi serba kekurangan. Maklum, baru lulus kuliah. Penghasilan hanya berapa ratus ribu. Kontrakan rumah petak yang banjir  dan bau. Yang dicari adalah perempuan yang tahan banting : mau bagaimanapun rupa dan bentuknya. Mau bagaimanapun asal keluarga dan kondisi keuangannya.

Dua puluh tahun kemudian , atau lima belas tahun, atau malah baru sepuluh dan lima tahun;ketika kondisi keuangan membaik. Si pemuda culun yang sederhana dulu berubah menjadi lelaki yang gagah dan berkharisma.  Keuangan membaik dengan status mapan dan kedudukan terhormat : suami dengan istri dan sekian anak, rumah disini, kendaraan ini.

 

Ketika hasratnya untuk memiliki istri kedua muncul, biasanya ia tidak lagi memilih seperti istri pertama yang apa adanya. Setidaknya yang kedua hadir disaat posisinya mapan, maka ya, haruslah perempuan yang lumayan. Lumayan parasnya. Lumayan pendidikan dan keuangannya. Perkara istri pertama sakit hati dan anak-anak tak mengerti dengan pilihan sang kepala keluarga : itu urusan kesekian.

 

Membenci syariat?

Jika perempuan menolak poligami, jangan serta merta mengatakannya : nggak mau patuh ya sama perintah Allah? Nggak mau taat syariat ya? Mau menolak isi Quran?

Maka, meski hati patah dan sakit luarbiasa,  pilihan poligami terpaksa dijalankan. Apapun konsekuensinya. Kalau nanti istri pertama sakit-sakitan, dikira tidak ikhlas. Kalaupun menerima dengan hati lapang, sepanjang jalan pernikahan pastilah akan tumbuh beragam persoalan yang kadang-kadang, tertuding lagi perempuan. Ini gara-gara istri pertama gak mau mengalah. Ini gara-gara istri kedua ngelunjak.

 

Lelaki adalah Qowwam

Lelaki adalah peimpin bagi dirinya, istri, anak-anaknya. Keluarganya. Ummatnya. Pernikahan haruslah membangun mahligai yang sakinah mawaddah warrahmah. Seharusnya, lelaki yang memiliki logika lebih dari perempuan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.

 

Menikahi istri kedua berusia 25 tahun saat istri pertama 45 tahun, apa dampaknya? Bila istri pertama merelakan, apa yang harus disiapkan suami? Apa kesepakatan yang harus ditegakkan antara istri pertama dan kedua? Bagaimana tentang maisyah? Bila istri kedua memiliki pegnhasilan besar, seorang pengusaha atau wanita karir; bukan berarti kewajiban nafkah sang Qowwam teralihkan, bukan?

“Nanti pembagian nafkah bagaimana?” istri pertama bertanya cemas, mengingat kebutuhan anak-anak.

“Tenang, dia bepekreja dan berpenghasilan kok,” jawab suami, menjelaskan si kedua

Lantas, dimana sikap ke qowwamannya jika ia memilih istri yang mapan dan merasa tidak punya kewajiban menafkahi?

 

Tak Bisa Berbagi Hati

Rasulullah saw memang lebih mencintai Aisyah. Aisyah dan Shafiyyah pun pernah berselisih. Aisyah dan Hafsah pun pernah berselisih. Tak akan pernah persoalan hati dan emosi dapat ditimbang dengan rasio.

Meski, pengakuan beberapa lelaki menyatakan, cinta terhadap istri pertama dan kedua bukan seperti membagi hati ( seperti mencintai anak 1, 2, 3, 4 dst tetap sama besarnya) ; kecenderungan itu pastilah ada.

Cenderung terhadap istri pertama yang telah berkorban waktu, tenaga, hati, pikiran dan semua yang dimiliki. Atau cenderung terhadap istri kedua yang cenderung ‘baru’ : baru sebagai teman, baru sebagai kekasih, baru sebagai pasangan.

Percayalah, kecenderungan itu pasti muncul.

Siapkah laki-laki jujur dan menanggung konsekuensinya?

Beberapa berjanji, tak akan meninggalkan anak-anak ketika memiliki istri yang berikut; nyatanya tak selalu kondisi ekonomi stabil . Keharusan mencari nafkah bagi dua istri menyebabkan waktu semakin tersita. Dua dapur dan dua keluarga tentu membutuhkan lebih banyak supplai finansial. Belum lagi perselisihan yang menguras emosi. Antar kedua istri, antar kedua keluarga, antar anak-anak. Ujung-ujungnya, poligami yang disalahkan : tuh kan, anak-anaknya nakal. Keluarga morat marit. Bapaknya kawin lagi sih!

 

Lalu bagaimana?

Bila, memang poligami akan dilakukan, bisakah seorang suami menceritakan secara jujur apa yang nanti akan terjadi : keuangan, waktu, urusan ranjang, kecenderungan hati, anak-anak dan seterusnya?

Bila berkomitmen akan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi, bisakah ia menepati janji-janjinya?

Dan bila ingin seperti Rasulullah Saw, bisakah istri kedua adalah gadis-gadis yang sudah sangat matang dalam kesendirian. Janda-janda beranak banyak yang kurang mampu. Perempuan-perempuan tak cantik yang memang tidak dilirik laki-laki.

Bisakah sang istri pertama tetap perempuan yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih terhormat?

Atau mau jujur bahwa dalam petualangan kali ini,  pernikahan disimbolkan demikian : istri pertama untuk keprihatinan, istri kedua untuk bersenang-senang. Kalau demikian halnya, janganlah membawa nama sunnah rasulullah saw sebagai alasan poligami.

Sebab sunnah Rasulullah juga berbareng dengan kewajiban untuk menghargai ibu dari anak-anak; perempuan yang berbakti terhadap suami, istri yang sehari-hari menyisihkan seluruh kepentingan pribadinya untuk suami tercinta.

 

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Mancanegara mother's corner Oase Rahasia Perempuan

#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

“Nak, ada uang?”

“Dek, sudah gajian?”

“Anak kita butuh sepeda motor.”

“Rumah kita mau disita.”

Beribu  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman –dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606
LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587
Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yang  mereka korbankan.

“Saya sadar saya salah, Mbak,” ungkap X. “Makanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagai  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.”

“Ibu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.”

“Suami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.”

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI  itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI  bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya  demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama seperti  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029
Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetap  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.

 

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner Oase Rahasia Perempuan WRITING. SHARING.

Suami, Kestabilan dan  Refleksi Piala Penghargaan

 

 

Sinta & Sofyan di Anugerah Kartini 2016_2
Aku (Sinta Yudisia) dan suamiku, Agus Sofyan. 21 April 2106, Grand City Mall Surabaya : Penghargaan dari Aliansi Perempuan Indonesia

21 April 2016 beberapa hari lalu, saya mendapatkan penghargaan dari API (Aliansi Perempuan Indonesia) Membangun Bangsa sebagai salah satu orang berprestasi,  yang mewakili kiprah para perempuan di dunia jurnalistik dan kepenulisan. Bertempat di Grand City Mall, acara yang berlangsung Kamis dari jam 15.00-17.00 berlangsung khidmat.

Alhamdulillah wasyukurillah.

Di balik itu semua, peran suami,  anak-anak dan doa orang tua kami tentu berada di belakang semua ini.

Orang yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan terkait perihal-perihal penting dalam hidup seperti : undangan mengisi acara, terbitnya buku, peluang beasiswa, penghargaan dan kemenangan atas sesuatu tertuju pada satu orang. Suami. Ia orang yang sepertinya akan turut berbahagia, dan tentu saja menanggung konsekuensi.

Ya. Siapa lagi yang akan menderita dengan perginya istri mengisi acara kesana kemari, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan turut menanggung beban ketika istri mendapatkan peluang beasiswa atau panggilan ke mancanegara, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan bersabar menghadapi anak-anak, melihat rumah berantakan, cucian menumpuk ketika istri berkiprah di luar; bila bukan suami?

Kamis kemarin, tepatnya 21 April 2016, saya mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang jurnalistik atau kepenulisan dari Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa. Betapa bahagia ketika suami dapat mendampingi, tentu seizin atasannya untuk keluar kantor siang hari. Berada di sisi suami, duduk berdampingan, ketika ia mengambil gambar saat tangan menggenggam piala  rasanya inilah kemenangan bersama.

Sebagai ibu dan istri, tanpa sumbangsih peran suami, rasanya mustahil perempuan mencapai taraf memuaskan dalam kiprahnya.

 

Suami adalah Qawwam (Pemimpin)

Suamiku tidak sehebat Superman, Batman, Ironman, Captain America atau Thor. Ia juga belum menyerupai para sahabat Nabi Saw dalam beramal ibadah. Ia masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Buya Hamka atau Muhammad Natsir atau Sir Muhammad Iqbal. Orasi? Ia tak hebat-hebat amat, namun cukup membuatku dan anak-anak termanggut-manggut ketika menjelaskan perihal Quran dan Hadits.

Satu yang special dari suamiku dan kurasa, salah satu karakter yang sebaiknya melekat pada diri laki-laki : sikapnya mengambil peran sebagai pemimpin atau qawwam dalam keluarga. Bila bicara perihal sunnah, mungkin sebagai istri, aku lebih unggul dari suami : sholat malam, sholat dhuha, hafalan quran. Kuamati suami, ia selalu berusaha tegak dalam hal-hal prinsip, tanpa bisa ditawar. Sholat wajib tepat waktu dan ke masjid, selelah apapun, bahkan ketika malam hanya sempat terlelap sesaat. Sekali waktu ada yang luput, namun tidak menjadi kebiasaan.

Apa yang menjadi unggul dari sholat ke masjid?

Suamiku menjadi teladan langsung dan utama, untukku dan  anak-anak.

Tak ada excuse, tak ada kata no, tak ada tawar menawar untuk hal yang prinsip : sholat wajib. Bagi suamiku, yang wajib akan selalu berada di hierarki tertinggi, teratas, utama dan harus dinomersatukan.

Sholat wajib.

Usahakan tepat waktu.

Apapun, tak perlu pakai alasan.

Sepertinya hal sepele, namun membuatku dan anak-anak belajar mengatur hierarki dalam keluarga. Sebagus-bagusnya amalan sunnah, tak ada yang mengalahkan amalan wajib. Sehebat-hebatnya sebuah perkara, tak akan lebih mulia dari peran yang utama.

 

Sinta & Sofyan Wisuda MAgister_2
Inayah, Sinta Yudisia, Agus Sofyan : Wisuda Magister Psikologi Profesi, 20 Februari 2016

Hierarki kepentingan dan peran

Menempatkan perkara prinsip dalam hierarki yang semestinya, membuatku sempat maju mundur dalam menjalani berbagai peran. Peran ibu dan istri sudah luarbiasa padat, belum ditambah peran public. Sebagai penulis, psikolog dan guru; Sabtu dan Minggu dalam sebulan seringkali terjadwal padat.

Ibarat sholat wajib, suami memberikan batasan-batasan prinsip. Apa yang harus dikerjakan ibu dan istri, tak boleh ditinggalkan. Kalaupun ada keringanan karena pergi keluar kota atau keluar negeri, bukan melenggang kangkung.

Atas kebesaran hati suami yang mendukung setiap kiprah, aku juga tak ingin seenak udel mempermaikan peran. Sebelum pergi keluar kota atau keluar negeri, kuusahakan urusan makanan dan cucian beres. Bila harus catering, maka kususun menu selama sepekan. Cucian? Kuajak anak-anak berbagi peran. Bila mereka terlalu lelah, kuajarkan bagaimana mencuci dan memilah pakaian, sebelum dilempar ke laundry. Beres-beres rumah? Beragam ukuran tas plastic untuk beragam sampah kusiapkan. Pengumuman-pengumuman cantik terpasang di beberapa areal dinding; untuk mengingatkan masin-masing akan tugasnya.

Peran ibu dan istri masih kupegang dari jarak yang jauh. Mengontrol belajar, mengontrol makanan, mengontrol sholat dan ibadah anak-anak.

Suami memberikan izin bagiku untuk sesekali berkiprah membaktikan ilmu namun ia tegaskan; jangan sampai peran ibu dan istri terabaikan. Prinsip sholat wajib sebagai hierarki utama terpelihara di rumah kami : yang wajib, penting, fundamental, tetap harus didahulukan. Perkara-perkara sampingan dapat ditunda.

 

Qawwam adalah stabilisator

Suami dan istri saling menyeimbangkan. Bila suami gusar, istri menenangkan. Bila istri marah, suami bersabar. Bila suami kecewa, istri menghibur. Bila istri mengomel tak karuan, suami rela mendengarkan.

Sekali lagi, suami dan keluargaku bukan gambaran hebat-hebat amat yang ideal seratus persen. Namun, adanya poros dalam keluarga kami, membuat perputaran tetap dalam sumbunya. Kalaupun melenting jauh, tak akan terlepas lepas tanpa tarikan gravitasi. Seorang suami, ayah, adalah pemimpin keluarga. Ia menyeimbangkan ketika mulai terjadi pergeseran bahkan penyelewengan.

Segala izin, bersumber pada suami. Ialah yang akan menentukan, dengan segala hormat dan ketinggian martabat, bahwa keputusan penting ada di tangannya.

“Aku ingin kuliah sastra,” kata si sulung.

“Aku mau aplikasi beasiswa ke luarnegeri,” kata adiknya.

“Aku mau studi engineer tentang mesin-mesin besar,” kata nomer tiga.

“Aku masih bingung,” kata si bungsu. “Jadi dokter, penulis atau sejarawan?”

Maka qawwam akan mengambil keputusan penting dengan segala pertimbangan.

Begitupun ketika aku melaporkan ,” Mas, aku akan mengisi keluar kota tanggal sekian.”

Ia menjawab,” gak capek? Gak keseringan keluar kota?”

Sebagai poros, suami akan menjaga agar semua anggota keluarga tetap dalam orbitnya.

Sekali lagi, perkataan suami tak akan memiliki makna sama sekali bila ia bukan merupakan qawwam bagi keluarga kami. Perkataannya, pemikirannya, pandangannya, keputusannya adalah arah penting bagi kebijakan keluarga.

 

Suami dan kesempatan istri berprestasi

Rasanya malu sekali, bila terlontar ucapan bahwa apa yang kita capai semata-mata hanya karena kepintaran dan kehebatan diri pribadi. Mungkin aku punya sejuta diksi indah untuk dituliskan dalam sebuah novel, namun tanpa izin suami untuk meninggalkan sejenak beberapa pos pekerjaan, aku tak akan punya waktu khusus sehari dua hari untuk berkonsentrasi pada tulisan. Biasanya, bila deadline tulisan tiba, aku akan meminta izin pada suami untuk benar-benar full di depan laptop.

Ketika tulisan itu mendapatkan penghargaan, bukankan ada peran suami di dalamnya?

Terlebih, ketika sedang konsentrasi pada ujian akhir profesi psikologi…nyaris tak terkatakan bagaimana tekanan akademis. Ujian praktek dan thesis kejar mengejar; klien tak semua kooperatif, laporan termasuk verbatim yang luarbiasa membuat mata berair karena panas dan tangisan. Ups….betapa tak mungkin semua itu dilalui tanpa ada toleransi seorang suami.

Qawwam kita.

Sang pemimpin.

Yang rela menanggung beban dan derita ketika istri maju ke depan, mengasah potensi.

Maka, bila kemudian aku terpilih mewakili sekian banyak perempuan luarbiasa di negeri ini untuk menerima penghargaan di Hari Kartini 2016; sungguh, ini bukan hanya bicara tentang kiprah perempuan. Ini adalah prestasi para suami yang tersenyum lapang dada ketika istrinya tergopoh keluar rumah , mengisi pelatihan. Ini adalah kerja keras suami untuk dapat juga sedikit-sedikit membantu kerja domestic istri : memasak, membereskan rumah, mencuci.

Penghargaan untuk perempuan berprestasi, adalah penghargaan untuk sebuah keluarga yang mencoba untuk bahu membahu mengatasi tantangan zaman.

Penghargaan untuk perempuan, adalah penghargaan pula untukmu para suami, yang rela menjadi lokomotif peradaban dengan selalu melaju di depan. Menjadi imam. Menjadi teladan. Menjadi pemimpin. Menjadi pendamping istri dengan segala suka duka.

 

 

Untuk suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukunganmu

Sinta Yudisia

 

 

 

 

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Perjalanan Cinta & Love mother's corner Rahasia Perempuan

Poligami : Rijal yang Qowwam, Ketangguhan istri Pertama, Ketulusan istri Kedua

Masih ingat tentang keajaiban doa safar?
Setelah beberapa kali bertemu teman perjalanan yang kurang mengenakkan, akibat saya juga meremehkan doa safar, saya lalu bersungguh-sungguh berdoa setiap kali melakukan perjalanan keluar kota : semoga diberikanNya teman sholih dan sholihah. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa-doa. Di beberapa perjalanan, teman duduk saya orang-orang yang luarbiasa.
Beberapa sudah saya tuliskan secara singkat :
1. Pemuda sholih, kakak beradik hafidz
2. IRT pengusaha sukses
3. Tukang becak, cucunya hafidz
4. Seorang teman lama, istri ke-2
Kali ini, saya ingin melukiskan pengalaman istimewa yang subhanallah…betul-betul sebuah skenarioNya.

Jakarta , terdampar menunggu Shubuh
Moga bukan dislexia. Atau rabun. Atau apalah.
Akhir-akhir ini saya suka salah baca tulisan. Ikut lomba menulis, bolak balik lihat persyaratan, 1-5 halaman. Setelah dikirim, ternyata 5-10 halaman! Bolak balik salah lihat jadwal kuliah. Yang terparah, bolak balik lihat jadwal Jogja Muslim Festival, tertera pagi hari. Akhirnya mengiyakan panitia Medan untuk mengisi acara pagi hari berikutnya. Ternyata…, acara Jogja sore hari. Terpaksalah jadwal pesawat dicancel, diubah, dan terpaksa terdampar di bandara Soetta dari jam sebelas malam hingga Shubuh esok harinya.

Shubuh, setelah check in dan duduk di waiting room, wajah ini bertatapan dengan seorang perempuan berjilbab kuning. Dia dan saya sama-sama terdiam beberapa detik.

poli

Kami telah berpisah 15 tahun yang lalu! Setelah perasaan saya demikian lelah, harus berlomba dengan waktu, memikul ransel, dan yang paling menyebalkan menggerutu mengkritik diri sendiri yang berulang kali salah melihat simbol angka ; rupanya ada rahasia di balik semua kesalahan-baca-ini. Di balik tiket yang terpaksa berganti jam. Di balik jadwal yang amburadul berantakan. Di balik nafas ngos-ngosan memburu waktu di bandara Adi Sucipto, Soetta, Kualanamu.
Lalu kami berdua sama-sama terpekik, bersalaman, cipika cipiki dengan perasaan rindu membuncah.
Mari, kita simak kisah kasih 3 insan yang terpatri dalam cinta unik. Nama saya samarkan dengan Raffi, Yuni, dan Shara.

Bila cinta dalam ikatan dakwah
Shara seorang perempuan cerdas sholihah berputra satu. Suaminya meninggal di saat usianya masih demikian muda, kecelakaan yang mendadak. Aku masih ingat bagaimana Shara demikian tegar, sementara kami yang takziyah menangis tak henti-henti. Suami Shara seorang lelaki sholih, baik akhlaqnya, dai yang tiada duanya.
Bertahun-tahun kemudian aku mendapat undangan pernikahan Shara. Ia dilamar seorang lelaki berkedudukan, sebagai istri kedua. Konon, lelaki itu –Raffi- meminta istri pertamanya Yuni untuk mencarikan istri kedua. Yuni pun menemukan Shara dan mereka sepakat bertiga untuk mengikat diri dalam ikatan cinta yang sah, dalam naungan lazuardi dakwah.

15 tahun kemudian aku bertemu Shara.
Tentu, insting perempuanku berusaha ingin tahu. Aku menyebutnya Kakak.
“Kakak tinggal di…?”
“J.”
“Suami kak Shara dimana?”
“Ya di J juga dong dek,” Shara tertawa.
Kamis atu pesawat. Duduk berdampingan. Dan mengalirlah kisah indah yang demikian ingin kutuliskan secara khusus untuk sebanyak mungkin orang. Meski sebagai perempuan sampai kapanpun tak akan bisa menerima alasan poligami, kisah Raffi, Yuni dan Shara pantas untuk direnungkan.

Kunci poligami
Shara telah menyelesaikan studi S3nya. Kami bertukar nama, di depan namanya tertera gelar doktor. Ia seorang perempuan yang aktif, dengan segudang kesibukan. Aku yakin, pernikahan mereka tentu tidak seindah si cantik cerdik Shahrzad mengisahkan 1001 malam ke telinga raja Persia.
Pasti ada yang indah.
Pasti ada yang seru.
Pasti ada yang heboh.
Dan kita, sebagai perempuan, senang mendengar ksiah dramatis, melankolis, terutama sisi konflik yang meruncing kan?
Penasaran dengan kisah cinta segitiga, aku langsung bertanya. Beruntung, Shara sangat bijaksana melayani rasa ingin tahuku. Teori, selalu lebih simple daripada praktek. Teori, selalu jadi kambing hitam bila prakteknya bermasalah. Bagaimanapun, teori adalah penyederhanaan fakta di lapangan. Kisah Shara boleh jadi terdengar teoritis bagi sebagaian kalangan, tapi demikianlah yang dialami Shara.
Raffi mampu menjaga keharmonisan hubungan dengan Yuni dan Shara. Tentu ada friksi disana sini, masing-masing punya cara khas mengatasi masalah.

Raffi
Usianya terpaut 20 tahun dari Shara. Raffi adalah seorang lelaki yang matang. Dalam pandangan Shara, Raffi mampu menjadi qowwam bagi keluarga istri pertama dan kedua. Raffi mampu mendidik Yuni, sekalipun tidak mengabaikan sisi-sisi manusiawi Yuni yang mudah meradang saat berada di posisi istri pertama.
Raffi tahu, bahwa menikah untuk yang kedua kalinya , secara syariat tidak membutuhkan izin dari istri pertama. Lagipula, mana ada istri yang mengizinkan? Tapi Raffi memilih untuk tidak sembunyi-sembunyi, dengan alasan agama atau dakwah sekalipun. Raffi mendiskusikan secara terbuka dengan Yuni keinginannya untuk menikah lagi, di saat putra putri mereka telah berjumlah 5 dan kondisi keuangan keluarga sangat mapan. Raffi meminta Yuni yang memilihkan.

Bukan mudah mencari pasangan bagi Raffi dan Yuni.
Yuni mencari-cari dan akhirnya menemukan Shara, janda beranak satu yang tangguh. Raffi mendiskusikan terbuka dengan seluruh anggota keluarga, di saat anak-anak beranjak remaja. Alhamdulillah, semua terbuka untuk menerima Shara.

Yuni
Yuni adalah perempuan cerdas berpendidikan tinggi. Berdasar cerita Shara, ia perempuan yang sangat dominan. Dalam tahun-tahun pertama pernikahan Raffi dan Shara, Yuni benar-benar memegang kendali keluarga. Keuangan, pembagian hari, semua berada di tangan Yuni. Raffi lebih banyak berada di rumah Yuni, ketimbang di rumah Shara. Kadang, Yuni juga tidak bisa menghindari gesekan dengan Shara. Apalagi rumah mereka juga bertetangga.
Shara
Ketulusan dan upaya memahami, rupanya salah satu kunci Shara mampu menjaga stabilitas keluarga Raffi dan Yuni.
“Kakak tau, Sin,” ujarnya, “ kakak juga banyak belajar dari para istri yang dipoligami, bahwa tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit. Maka kakak ambil posisi mengalah, kakak lebih banyak mundur jika ada keputusan harus diambil suami istri.”
Shara mengalah dalam masalah hari. Shara mengalah dalam masalah keuangan. Untungnya, Shara punya penghasilan sendiri. Apalagi Shara menyadari, anak-anak Yuni berjumlah 5 orang dan semuanya membutuhkan perhatian moril dan materil.

Ketulusan, sikap mengalah Shara membuat Yuni juga melunak.
Di kemudian hari, Raffi bisa membagi hari antara Yuni dan Shara masing-masing setiap 2 hari. Ketika anak-anak Yuni mulai lulus kuliah, Shara meminta kepada Raffi dukungan materi kepada anak-anaknya (dari Raffi, Shara mendapatkan seorang putra). Yuni dan putra putrinya tak keberatan dengan permintaan ini.

Shara punya beberapa tips untuk mengatasi friksi saat menghadapi Raffi dan Yuni :
• Ketika landasan awal adalah niat ibadah kepada Allah SWT, niat karena dakwah, insyaAllah guncangan yang terjadi akan kembali mereda setelah masing-masing merenungkan niat awal kembali. Berbeda yang main kucing-kucingan. Sekalipun dalam agama dibenarkan, menurut Shara, musyawarah akan menimbulkan kebaikan. Terutama dampak bagi anak-anak.
• Jika Yuni menyakiti hati Shara, Shara tidak serta merta membalasnya. Di saat Shara berkunjung ke suatu daerah untuk urusan tugas atau dakwah, Shara selalu membelikan oleh-oleh untuk Yuni. Bila sakit hati Shara belum sembuh, Shara akan menitipkan buah tangan kepada Raffi dan mengatakan, “titip untuk kak Yuni ya.”
• Shara membiasakan menulis surat untuk Yuni, dalam kesempatan-kesempatan istimewa ataupun saat mereka punya masalah. Shara menuliskan “terimakasih telah berbagi kebahagiaan” atau “terimakasih telah berbagi cinta.” Shara sangat menghindari perkataan “terimakasih sudah mengizinkan bang Raffi…” . Sebab bagi Shara , kata MENGIZINKAN akan melukai perasaan Yuni. Yah, siapa yang mengizinkan? Atau bila mengizinkan, tentu dengan perasaan gundah, sakit yang luarbiasa dan kata-kata itu hanya akan menuding : nah, kamu kan udah ngijinin suami kamu nikah lagi.
• Shara senantiasa berkata pada anak-anak Yuni : Ummi memang bukan ibu yang melahirkan kalian, tapi kalian adalah anak-anak Ummi. Kelak, ketika Ummi meninggal maka anak Ummi A dan B hanya akan memiliki kalian sebagai saudara. Begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, anak-anak Yuni dan Shara bersaudara layaknya saudara kandung.

Saya yakin, tak mudah menjalani kehidupan sebagai Raffi, Yuni dan Shara.
Membayangkan suami kita berbagi dengan perempuan lain, tak sanggup rasanya. Tapi saya sungguh terkesan dengan ucapan Shara yang memuji suaminya.
“Kunci poligami memang ada di suami, Sin. Jika ia mampu menjadi sebenar-benar qowwam, sebenar-benar pemimpin yang bijak dan mampu membimbing keluarga; insyaallah akan baik. Meski semua ada kendala, insyaallah tetap teratasi.”

Saya, mungkin seperti anda , perempuan kebanyakan. Tak akan berpikir poligami. Namun semenjak bertemu Shara kembali, ada denyut lain dalam doa. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang seperti Raffi, Yuni dan Shara; menjaga setiap keluarga yang senantiasa berupaya berada dalam jalan kebaikan.

Kategori
Oase Psikologi Islam Rahasia Perempuan

Psikologi Da’wah (5) : Tuhan Para Pendosa

Apa yang akan kita lakukan bila seseorang berlumur dosa, masih melakukan sholat dan membaca Quran? Munafik. Percuma.

pondering-our-purpose_0
1. Sebut saja PSK ini bernama Lola.

Suatu ketika mendatangi kiai Ahmad (samaran). Tujuannya : meminta amalan agar “dagangan”nya laris. Tentu kiai Ahmad bimbang. Menolak? Rasanya tidak bijak juga. Kedatangan Lola sudah satu point positif tersendiri. Meski permintaannya tak wajar, kiai Ahmad merasa itu lebih baik daripada Lola mendatangi dukun , meminta susuk atau diminta ke gunung Kawi untuk bertapa.

Alhasil, kiai Ahmad meminta Lola banyak membaca sholawat Nabi, kalau bisa puluhan atau ratusan tiap hari dengan catatan, Lola harus sering berkonsultasi. Tentu Lola senang, amalannya gratis, konsultasinya gratis pula! Bayangkan jika masih harus beli kembang tujuh rupa, susuk mutiara atau ayam cemani yang bulu hingga darahnya hitam, habis berapa juta?

Lola pun membaca shalawat. Kiai Ahmad, hanya bisa mendoakan.
Suatu saat, Lola kembali datang. Wajahnya masam.

“Katanya suruh sholawat Kiai, kok malah tambah sepi?” keluh Lola.
Kiai Ahmad menjawab bijak,”mungkin sholawatnya kurang. Bagaimana kalau ditambah?”

Sholawat yang hanya puluhan dan ratusan, lalu ditambah jauh lebih banyak. Berbulan kemudian, kabar Lola tak terdengar.
Suatu ketika, Lola datang lagi. Kiai Ahmad berdebar. Bagaimana jika keluhannya sama? Atau bagaimana jika ia salah melangkah, justru “dagangan”nya betul-betul jadi laris?

Wajah Lola sumringah.
“Waaah, betul Kiai! Sholawatnya manjur!”
Kiai Ahmad kaget. Apa pasal?
“Habis banyak baca sholawat, memang pengunjung jadi sepi. Tapi kemudian ada lelaki baik yang melamar saya.”

2. Sebut namanya Bunga.

Bekerja juga sebagai PSK, pekerjaan yang semula jauh dari bayangan, apalagi Bunga sempat nyantri. Karena kehidupan Bunga sangat minus, ia merantau ke Surabaya dan entah bagaimana ceritanya, terjebak sebagai penjaja cinta. Bukannya Bunga tak berusaha, tiap kali ia “keluar”, orang-orang mencium gelagatnya dan ia dipaksa kembali lagi.
Bunga, tetap rajin sholat dan mengaji. Sesaat sebelum “bekerja” ia sholat sehingga temannya berkata,
“..lo gila ye! Mau kerja gini masih sembahyang? Munafik lo ah!”

Bunga menangis.
“Pekerjaanku memang brengsek,” sahut Bunga,” tapi sholatku, itu urusanku dengan Tuhanku. Bukan dengan kamu.”
Bunga bertanya pada seorang teman, sebut namanya Sholihah. Ia ceritakan semua kisahnya dan tentu saja dapat ditebak, apa ucapan Sholihah.
“Kamu tahu kan hukumnya?! Apa guna sholat dan ngaji? Kamu juga pernah nyantri kan?”

Bunga berduka. Ia tak ingin, sungguh tak ingin seperti ini. Semua gadis ingin seperti Sholihah. Dari keluarga baik-baik, cukup, orangtua yang peduli, tak pernah terjebak punya teman-teman yang menjerumuskan dalam dosa. Ia mencoba keluar dari kubangan, tapi tidak bisa. Ibunya di kampong membutuhkan biaya besar, ia sudah mencoba bekerja ke beberapa isntansi tapi jejaknya tercium oleh “geng”nya.

Sholihah, sebagai teman merasa galau. Ia berkonsultasi dengan seorang ustadz. Tak dinyana, ustadz menegurnya.
“Apa hak anda menjauhkan seseorang dari Tuhan?” begitu kurang lebih saran sang ustadz. “Kalau ia dilarang sholat dan mengaji, ia semakin jauh dari jalan kebaikan, sebagai seorang muslim, kewajiban anda mendoakannya dan terus menasehatinya. Bukan memberikan rasa pesimis dan tak ada jalan keluar!”
Maka Sholihah menyesal, ia kemudian terus mengontak Bunga.
Menanyakan kesehatannya, memberikan semangat optimis. Menjalin persahabatan dan pertemanan. Sesekali, mengirim pesan pendek berisi nasehat.

Lama tak terdengar kabar, Sholihah kadang merindukan Bunga yang seakan menghilang ditelan bumi. Suatu saat muncul SMS Bunga yang membuat Sholihah tersiak, isinya kurang lebih demikian,
“Bagaimana kabarmu, teman? Tahukah kau , bahwa perbuatan keji itu bisa disembuhkan. Cukup berdoa pada Allah agar dibukakan hati, dimudahkan tobat. Senantiasa mengingat adzab dan kematian. Barakallah. Terimakasih untukmu.”
Sholihah menangis.
Ia tak tahu Bunga ada dimana.
Tapi sungguh, ia merasa sangat tidak sempurna dihadapan Bunga yang telah menemukan Tuhannya. Ia tak sanggup membayangkan perjuangan Bunga menghadapi mucikari , “stakeholder”, dan teman-teman senasib yang pasti tak akan mudah melepaskannya begitu saja.

3. Sebut namanya Bunda Setia.

Suaminya pengusaha, pemabuk berat. Setiap hari, sepanjang puluhan tahun perjalanan pernikahan mereka, sang suami selalu pulang dalam keadaan muntah, mabuk. Jam berapapun ia pulang : 11, 00.00, atau jam 3 dinihari. Bukan sekali duakali Bunda Setia mengingatkan suaminya, minuman haram yang dimurkai Allah tersebut. Apalagi mereka telah memiliki putra-putra.

Segala upaya ditempuh Bunda Setia. Hasilnya nihil. Tetapi yang luarbiasa, Bunda Setia merahasiakan keadaan suami kepada anak-anaknya. Sepanjang tahun anak-anak hanya tahu ayah mereka pengusaha, kerja cari uang, pulang malam. Tak pernah sekalipun anak-anak tahu kebiasaan mabuk (meski, saya yakin, memergoki barang bukti tentulah sesekali ada. Yang pasti Bunda Setia tak pernah menceritakan kepada anak-anak dan keluarga besar).
Hingga tua, keadaan masih berjalan sama.
Seringkali, ketika pulang dini hari, suami Bunda Setia mabuk dan muntah, mengotori mukena yang digunakan untuk munajat malam. Karena anak-anak tidak tahu kondisi sebenarnya dari sang ayah, mereka tetap tumbuh normal menjadi anak baik dan berprestasi.

Adakah perubahan?
Menjelang sebulan kematian, suami Bunda Setia berubah total. Ia mau sholat, menghancurkan semua minuman keras yang tersimpan di lemari kantor. Sebulan itu pula, hanya kekhusyukan ibadah yang dijalani hingga wafatnya. Sungguh, Bunda Setia bersyukur bahwa ia bisa menjaga anak-anaknya dari kerusakan seorang suami pemabuk, dan mendampingi suaminya mengenal Tuhan menjelang wafat. Tentang dosa dan pahala, hanya Allah yang tahu.

Secara pribadi, kejadian-kejadian di atas menimbulkan perenungan saat kita merasa frutrasi mendakwahi orang-orang terdekat, teman, atau mungkin sekedar kenalan yang curhat lewat facebook.

• Seorang pendosa, bila masih merasa bersalah atas apa yang dilakukan dan ia berusaha sekuat tenaga mencari Tuhan, akan ia dapatkan apa yang dicari. Tapi pendosa yang merasa tak terbebani apa-apa, merasa tetap nyaman dan tak berusaha mencari Tuhan, ia akan jalan di tempat (wallahu a’lam, ini hanya kesimpulan saya pribadi. Artinya, bila saya sendiri suka mengghibah, malas bekerja dan tidak “insight” , tidak merasa itu salah dan tak harus diubah – akan begitu seterusnya. Hidayah milik Allah semata)

• Teman dekat, milliu, lingkungan sangat memberikan pengaruh sebagai supporting environment. Setidaknya, jadikan kita sebagai baterai positif tiap kali si pendosa bermasalah. SMS, diskusi lewat dunia maya, curhat telepon, apapun yang memungkinkan sebagai alternative milliu sehat; harus diupayakan para penyeru kebajikan.

Kategori
Cinta & Love mother's corner My family Rahasia Perempuan

Apa Nama Rumah Kita?

Membaca buku dan novel sejarah, rasanya tergelitik juga untuk ikut memberi nama pada rumah tinggal dan kamar-kamar. Betapa romantisnya nama istana Alhambra atau Taj Mahal yang dipersembahkan Shah Jahan kepada istrinya tercinta, Mumtaz; dikelilingi oleh benteng yang dikenal sebagai Benteng Merah. Di Mesir, terdapat benteng bernama Shalahuddin Citadel, rupanya untuk mengenang pahlawan pertempuran Hattin 1187.

sweet house

Untuk rumah , demi memberikan semangat dan imajinasi serta cita-cita lebih, nama apa yang tepat?
“Firdaus Da’wah,” usulku pada anak-anak.
“Koq…kayak gak enak di telinga sih, Mi?”
Terus terang, saya juga tidak seberapa faham kaidah bahasa Arab, asal terdengar bermakna saja . Tetapi sepanjang belum menemukan nama baru, ngoto saja bahwa rumah kami di Surabaya bernama “Firdaus Da’wah.”

“Yuk, kita kasih nama kamar kita masing-masing,” ajakku.
Kamar anak lelaki kuberi nama Gua Ashhabul Kahfi.
Tapi,
“..tolong kamar kalian jangan bener-bener kayak gua!”
“Wah, nanti siapa yang jadi anjingnya dong?” kelakar Ayyasy.
“Bagaimana kalau prajurit Thalut atau Fiah Qolilah?” aku menyitir QS 2 : 249.

Sampai hari ini belum sepakat juga nama kamar anak lelaki. Tampaknya mereka masih sibuk memilih nama tokoh sejarah yang benar-benar heroic bagi anak lelaki.
Untuk kamar anak perempuan, kami mencoba At Tijaroh, berhubung putri pertama kami sedang getol mencoba berbisnis.
Tapi,
“…duh, kok kurang manis namanya,” protes putriku.

Baiklah. Sebetulnya belum ada nama yang disepakati untuk istana kami, juga kamar-kamar peraduan. Tampaknya, perlu difikirkan secara serius nama istana rumah kita agar setiap penghuninya merasa berkesan bahwa rumah yang sedang ditinggali bukan sekedar kotak tetapi calon sebuah tempat nun jauh disana, sebuah istana abadi tempat manusia kembali.

Kategori
Cinta & Love mother's corner My family Rahasia Perempuan

Mahar yang Hilang

Masih adakah di antara anda yang menyimpan baik-baik mahar, hadiah pernikahan, atau baju-baju saat masih pengantin baru?
“Ummi, sajadahnya ketinggalan di masjid,” putriku berkata memelas.
Deg.
Waduh, saat itu padahal sudah pagi, hari kesekian bulan Ramadhan, sementara semalam kami tarawih bersama-sama. Jamaah ratusan. InsyaAllah tidak ada yang perlu dicurigai sebagai pencuri, tapi masjid kami sering didatangi orang dari berbagai penjuru wilayah sekitar kelurahan dan kecamatan. Mungkin saja mereka juga tak sengaja mengambil sajadah, lalu memang tak terjadwal sholat kembali ke masjid kami. Atau mungkin putriku menjatuhkannya entah dimana (usai tarawih biasanya bermain petak umpet di taman, masih mengenakan mukena lengkap)

“Ayo dicari!” pintaku, sedikit marah.
Kenapa harus sajadah yang itu?
Memang, sajadah di rumah kami banyak, hadiah dari teman-teman yang berangkat haji. Tapi sajadah mahar, salah satu favorit. Empuk, dingin, warnanya kuning tua dan hitam. Sajadah yang mungkin ada di rumah tiap kaum muslim, sajadah seribu ummat. Hehe….tapi yang ini ada sejarahnya.

Tiap ke masjid kami cari, kami lihat di lemari penyimpanan alat sholat, tetap tidak ketemu.
Yah, akhirnya ikhlaskan saja. Meski,
“tahu nggak sih, itu maharnya Abah ke Ummi?!”
“Maaf ya Mi…,” putriku merasa bersalah, matanya berkaca.
Toh ia tidak sengaja. Tapi, kenapa sajadah itu yang hilang? Kemarin-kemarin bawa beragam sajadah yang jauh lebih cantik, lebih bagus, lebih halus, nggak hilang?
karikatur-kita1

Memang, barang-barang pernikahan kami mulai usang.
Daster yang kupakai di awal pengantin baru, ada dua. Satu biru bunga-bunga,satu coklat. Yang coklat sudah kupotong, kubuat menjadi rok. Sebab, tampaknya tubuhku berkembang dengan baik, hehe..Yang biru sudah sobek sana sini, dijahit, sobek lagi. Akhirnya kucuci, kusimpan dalam plastic, kuselipkan di lemari.

Mukena, adalah mahar lain dari suamiku tercinta. Ini pilihan special ibu mertua, sebuah mukena kuno yang langsung dipakai dari atas ke bawah, lengkap dengan lengan hingga menutup telapak tangan. Dihiasi bordir cantik, dan bahannya dingin. Kupakai selalu, kecuali saat haidh dan perlu dicuci. Sedihnya, setelah 18 tahun, pagi ini usai Dhuha, kulihat sudah demikian tipis. Tentu tak melengkapi syarat sahnya sholat bila dipakai terus. Ada banyak mukena di rumah, tetapi mukena mahar, adalah yang paling kusukai. Selain nyaman dipakai, sepertinya melengkapi memori indah kebersamaan keluarga kami dari hanya 2 orang menjadi 6 orang.
Mukena maharku, sepertinya harus segera dicuci, disimpan dalam plastic, dan disimpan di lemari.

Sama seperti usia yang semakin usang, barang-barang di sekeliling rumah kita pun lapuk dimakan usia. Tetapi, meski mahar pernikahan kita sudah tak layak pakai, tidak demikian kan dengan cinta kita pada pasangan? Cinta dapat tumbuh dan berkembang seperti kaktus, yang bahkan bisa tumbuh di cuaca ekstrim sekalipun. Pernikahan kita mungkin saja melalui beragam cuaca tak bersahabat, tapi seperti kaktus dan lumut yang bisa menyemai dimana saja, cinta kita pada pasangan pun begitu.

Eh, tapi gak ada salahnya minta mahar baru kan? (Peace!)

Kategori
Cinta & Love da'wahku mother's corner Oase Psikologi Islam Rahasia Perempuan

Psikologi Da’wah (2) : Eksistensi dan Regresi

Silakan silang multiple choice di bawah ini, pilih salah satu yang anda anggap paling tepat.
1. Siapa orang yang paling mudah diajak berinteraksi :
a. Orangtua
b. Saudara (kandung/ipar/sepupu)
c. Pasangan
d. Teman kerja (instansi/komunitas)
e. Tetangga
f. Diri sendiri

2. Lama intensitas menjalin komunikasi, berdasarkan jawaban di atas :
a. 2 minggu
b. 1 bulan
c. 6 bulan
d. 1 bulan
e. Lebih dari 1 tahun
f. Lebih dari 10 tahun

Well, I think you should be very honest to yourself!

Jika boleh berkata jujur, ada obyek da’wah yang ternyata berada dalam lingkaran terdekat. Orangtua sudah oke, tetangga mengenal kebaikan kita, relasi acung jempol pada prestasi. Adik kakak sangat bergantung pada kita : materi atau non materi.
Lalu muncullah pihak yang sangat membutuhkan da’wah.
Apa?
Suami? Istri? Anak-anak?

Celakanya lagi, ternyata obyek da’wah yang lupa tersentuh adalah yang begitu dekat.
Interaksinya berjalan lebih dari setahun, lebih dari sepuluh tahun, tiap pekan, bahkan berjalan seumur hidup. Ada pihak yang terlupakan tersentuh obyek da’wah, yang ternyata amat sangat sulit ditaklukan bagai gunung granit menjulang. Kita telah berjalan mengelilingi gunung itu, mendakinya mungkin, mengeruk sebongkah demi sebongkah agar sampai di puncak; tetap belum tertaklukan.
Siapa obyak da’wah yang lebih sulit untuk difahami dan ditaklukan, selain diri sendiri?

1. Memahami Eksistensi
2. Piramida Maslow
3. Regresi

1. Memahami Eksistensi

Eksistensi sering diterjemahkan sebagai “keberadaan”. Seseorang meski ia ada secara fisik dan materi, belum tentu dianggap ada oleh orang sekelilingnya. Boleh jadi karena ia enggan muncul, tidak pernah terlihat prestasinya, atau memang orang tidak membutuhkan siapa dia.
Cogito Ergo Sum adalah kredo terkenal dari Rene Descartes. Aku berpikir, maka aku ada.
Tampaknya, hal ini relevan dengan kondisi manusia. Bukankah Allah SWT berkali-kali menyebutkan la’alakum ta’qilun –agar kamu mengerti (2 : 242) ; la’alahun yatadzakarun- agar mereka mengambil pelajaran (2 :221) ; yubayyinuha liqaumi ya’lamun – diterangkan kepada orang2 yg berpengetahuan (2 :230).

pondering-our-purpose_0

Konsep bahwa kita harus berpikir, menelaah, merenungkan, mencari jawaban, berpikir lagi, bahkan setelah tercapai kognisi harus metakognisi ; tampaknya menjadi intisari keberadaan manusia.
Mungkin , sebagian manusia beranggapan eksistensi dapat dicapai dengan materi, ketenaran atau hal yang serupa dengannya. Jawabannya ya, tapi tentu tak lama.

Di dunia entertainment, dalam ranah music, sering dikenal One Hit Wonder. Seseorang yang melejit hanya karena satu hit lagu saja. Contoh ini sudah banyak terjadi.
Di tahun 80-90, remaja hysteria bila bertemu Tommy Page (Shoulder to Cry On). Sekarang, ketika bintang Justin Beiber sempat terang benderang, sinarnya mulai redup dihantam K-Pop dan J-Pop. Lagu keroyokan dengan wajah mulus dan koreografi andal, dihantam lagi dengan tampilan kocak PSY – gangnam Style. Gelombang itu kini berganti dengan One Direction, grup music British yang melejit dengan What Makes You Beautiful & One Thing. One Direction, dipuja dan diperingatkan : akankah menjadi One Hit wonder? Dikenal sekali, bersinar, bak komet dan meteor di langit yang disambut sorak sorai sebab membawa cahaya kemilau di langit malam; sensasional terang benderangnya tapi cepat menghilang di balik cakrawala?

Sebagai pelaku kebaikan, kita sangat tak ingin eksistensi kita menjadi One Hit Wonder, One Man Show. Tak mengapa nama tak muncul di media, disebut orang, tetapi kebaikan yang mengalir bak film Pay It Forward.

Di tengah hedonis Hollywood, juga para pelaku kebaikan dan dakwah, film ini pantas direnungkan. Kisah seorang anak (diperankan Haley Joey Osment) yang menggulirkan ide sangat sederhana : berbuatlah kebaikan pada 3 orang dan mintalah kepada masing-masing orang tersebut agar berbuat kebaikan kepada 3 orang juga. Begitu seterusnya.

Kita ingin eksistensi kita betul-betul ada, maka berpikirlah. Merenung. Aku harus bagaimana? Aku mau apa? Aku mau kemana? Apa jadwalku hari ini? Siapa aku 10 tahun ke depan?
Membenahi diri sendiri, tampaknya menjadi asset penting bagi para pelaku da’wah agar ia tidak terseret eksistensi sementara. Enggan aktif di organisasi bila mendapat peran sie konsumsi. Enggan aktif di rohis, bila hanya terus mendengarkan nasehat (kapan dong gilliranku bicara?). Enggan berkiprah di lini manapun, bila hanya kebagian peran figuran.

Siapa sih yang tidak megnawali kerja besar dengan berperan sebagai figuran?
Channing Tatum berperan sebagai figuran di Lemony Snicket : Unfortunate Adventure. Shiah Lebouf berperan kecil di I Robot. Evo Morales, sebelum menjadi presiden Bolivia berperan sebagai pengacara dengan gaji ala kadarnya membela petani kecil hingga ia dikenal sebagai coca lawyer.
Lakukan hal-hal kecil demi eksistensi, lalu melangkahlah ke hal besar.

Kalau, sepanjang hidup hanya mendapat peran kecil selalu, menjadi figuran, tak pernah beranjak dari sie konsumsi dan transportasi?
Kita mungkin pernah mendengar sebuah cerita tentang orang yang biasa-biasa saja.

“dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C dan D, menikah dengan nona Mediacore, memiliki anak Averagement Jr dan Baby Medicore. Memiliki masa pengabdian tak baik selama 40 tahun, memegang berbagai posisi tak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko atau memanfaatkan peluang. Dia tidak pernah mengasah bakat dan selalu pasif. Hidup selama 60 tahun tanpa tujuan, rencana , kemauan, keyakinan atau tekad. Pada nisannya tertulis :

Disinilah makam
Mr. Averagemen dilahirkan 1901
Meninggal 1921, dikebumikan 1964
Dita tidak pernah mencoba sesuatu
Harapan kehidupannya terlalu sedikit
Kehidupan tidak berarti baginya “

Ow sedihnya.
Atau anda mau mendengar cerita yang ini?
Tak ada yang berani melawan gelombang kekuatan Jenghiz Khan di akhir abad XII. Sultan Muhammad II, penguasa Khwarizmi yang selalu dikelilingi biduanita kalah memalukan, para ulama dan penduduk dihabisi. Tak ada yang berani menentang aneksasi Mongolia.

Seorang pemuda bangsawan, dari garis selir yang senantiasa dicibir, hanya punya beberapa gelintir pasukan mencoba menghadang Jenghiz Khan. Ia bertahan mati-matian hingga sang jenderal, Temur berkata :
“Jaladdin, anda tak dapat menyelamatkan semua. Rakyat telah pergi mengungsi.”
Jaladdin kalah. Pemuda itu selalu dicibir oleh Ibu Suri Torghun dan Sultan Muhammad II sebagai “anak selir yang tidak punya apa-apa”
Tahukah anda apa yang dikatakan Jenghiz Khan, penakluk yang kekuatannya dianggap melebihi Adolf Hitler, saat melihat Jaladdin yang gagah berani?

“Demi Langit Biru! Aku akan menukar empat anakku (Ogoday, Chagatay, Jujiy dan Tuluy) untuk dpat memiliki seorang keturunan seperti Jaladdin!”
Averegement figuran dalam hidup ini. Jaladdin figuran juga.
Tapi sepertinya eksistensi mereka berbeda. Anda pilih yang mana?

2. Piramida Maslow

Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi 5 tingkat (belakangan menjadi 7 tingkat). Dari bawah : 1.physiological needs – 2.safety needs – 3.love needs- 4.esteem needs – 5.self actualization needs. (6 & 7 adalah kebutuhan social dan transcendental)
1-4 adalah kebutuhan yang muncul karena “kekurangan”. 5 adalah kebutuhan yang muncul karena “berkembang”.
Pertanyaannya :
• Apakah hierarki itu mutlak?
• Bisakah kita menjalankan semua kebutuhan itu bersamaan?
• Tidak bisakah kebutuhan itu dibalik?
Sebab, bila menunggu semua kebutuhan dasar terpenuhi lalu barulah kita melangkah kepada watak social dan transcendental; aduh, lamanya! Tetapi hierarki ini memang terjadi secara alamiah. Biasanya demikian.

Tapi, bukankah kita ingin menjadi yang tidak biasa, setelah memahami makna eksistensi?
Maka boleh saja, menjadi kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan kita secara vertical transcendental – kebutuhan kita kepada Allah SWT. Bahkan ketika kita lapar, kebutuhan rasa aman belum terpenuhi, cinta belum mendapatkan; sebagai muslim justru keinginan transcendental itulah yang utama. Berikutnya adalah social. Meski masih lapar, banyak hal wajib yang belum tercukupi, rasanya kita juga ingin berbagi kepada sesama.
Hierarki Maslow ini bisa dibolak balik bila berkenaan dengan diri pribadi (ingat, kita paling sulit mendakwahi diri sendiri). Tapi jangan dibolak balik ketika berhadapan dengan orang lain!
Bertemu tukang becak yang tinggal di kos-kosan kumuh, ia yang kebutuhan fisiologisnya belum terpenuhi, apalagi keamanan dan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang; bisakah kita menuntutnya transcendental dan social.
“Pak becak, makanya sampeyan banyak sedekah biar rejekinya mengalir! Sampeyan sabar ya, hidup itu ujian!”
Gubrak!
Eksistensi kita sebagai pelaku kebaikan yang “berpikir” akan dianggap miring.

“Gak salah nih ustadz, nyuruh sabar sama orang yang hidupnya sudah susah bertumpuk-tumpuk.?!”
Memang menyuruh sabar baik, tapi ada bahasa lain yang dapat dipakai, “ Pak becak, adakah yang bisa kami bantu? Kalau butuh modal, kami dapat membantu untuk menghubungkan sampeyan dengan BMT terdekat.”
Konsep sabarnya sama, caranya beda!

3. Regresi

Kita telah memilih yang terbaik dalam hidup.
Eksistensi sebagai pelaku kebaikan, bahkan memilih menjadi penyeru kebaikan.
Tetapi, mungkinkah suatu saat, eksistensi itu pudar perlahan? Bagai nebula-kabut awan yang meledak menjadi supernova, membentuk bintang gilang gemilang, membesar menjadi bintang putih yang berubah nyala menjadi merah, lalu perlahan mengecil, mengerdil? Tak cukup hanya menjadi bintang kerdil yang cahayanya lamat. Ia menjadi bintang kerdil yang memangsa segala. Bahkan beralih rupa menjadi blackhole –lubang hitam yang akan menelan setiap materi, bahkan cahaya.
Itukah kita?
Yang dahulu dikenal eksistensinya sebagai pelaku dan penyeru cahaya –berubah menjadi bintang kerdil bahkan black hole mengerikan?

regression

No ! Never! But, is it possible?
Sangat mungkin.
Perlu diketahui, stagnan adalah musuh manusia. Manusia tak pernah tetap. Manusia terus berubah. Meski perubahannya adalah mencari titik equilibrium, titik dimana ia merasa nyaman dan aman.
Regersi memang dikenal di madzhab psikoanalis, ditentang oleh Humanistik dan Behavioris; tetapi mau tak mau, kita mempercayai istilah ini.
• Tua-tua keladi
• Wah, nakalnya telat.

Apa yang sebetulnya terjadi pada orang, yang kembali ke masa dulu, kalau tidak dibilang ia kembali ke masa jahiliyah bahkan saat belum mengenal Islam dan organisasi dakwah?
Itulah regresi. Masa seseorang dapat kembali menjadi seperti dulu, seperti kanak dan remaja, seperti sediakala. Jatuhkah ia? Tersesatkah?
Bila anda mengenal Michael Jackson, ialah contoh tepat regresi. Seseroang yang kehilangan banyak dimasa kecil/remaja, kelak akan “menagih” saat dewasa dan saat memiliki kendali (uang, kuasa). Dulu, sangat miskin, lalu menjadi pejabat. Dengan uang di tangan ia akan regresi. Dulu tak bisa membeli mobil-mobilan ,sekarang akan mengkoleksi mobil.
Dulu, remaja jelek tak kira-kira, tak pernah ada cewek yang bersedia menjadi pacar. Setelah beristri, matang, mapan, mampu merawat diri; tibalah saat bersenang-senang dan mereguk nikmat yang dulu belum pernah dicicipi. Itulah regresi.
Ada masanya, kita menagih apa yang dulu sempat hilang di masa lalu.
Tidak pacaran, bukan karena pemahaman, tapi karena takut ustadz dan teman pengajian. Kelak, ia akan regresi bila tiba kesempatan tak ada orang yang dapat mengendalikan. Shoum sunnah bukan karena mencontoh Nabi, tapi karena tak punya uang, dan begitulah contoh menjadi aktivis. Kelak, makan tak kira-kira, tak cukup hanya sekedar 4 sehat 5 sempurna. 6 mahal, 7 bergengsi,8,9,10 dst.
Maka, berhati-hatilah pada regresi, bila anda tiba di suatu masa dimana dunia ada di tangan. Tidak mesti tergelincir, bila tahu cara menghadapi.

Kecil kurang kasih sayang orangtua? Ajaklah pasangan bicara, selalu punya waktu spesial untuk bermanja-manja sebab pasangan kali ini akan menjadi orangtua-sahabat-kekasih; jadi, tak perlu cari orangluar untuk melengkapi.

Kecil kurang mainan? Beli rumah, sedekahkan. Beli apertemen, sedekahkan. Beli mobil, jual lagi, sedehkah (kegilaan shopping seringkali bukan karena ingin “memiliki” tapi karena ingin “menghilangkan/menghabiskan” uang yang dipunya. Jadi kalau sudah beli, ya sedekahkan saja)

Kecil dianiaya, diperintah-perintah? Lalu menjadi orang yang powerfull, untouchable? Ups, No! Kita menjadi pejabat saat kecil melarat, lalu hilang sensitivitas pada orang lain? Mengapa tidak mencoba mencontoh kaum hippies yang kaya raya, lalu sesekali menanggalkan pakaian, berpakaian ala kadarnya, untuk melihat : apa reaksi orang saat melihat tubuh kita tanpa materi? Maka, akan ditemukan teman sejati. Eh, si A ternyata hanya bermanis rupa. Eh, si B ternyata hanya mendekat bila ada maunya. Subhanallah, ternyata si X adalah kawan sejati, ia adalah teman yang selalu mengingatkan.
Bersiaplah regresi. Pahami waktunya. Kendalikan diri.

Sebab kita tak ingin menjadi bintang kerdil, apalagi blakchole yang bahkan menolak cahaya!

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love mother's corner Rahasia Perempuan

Orang Sholih & Pelaku Sejarah yang Berbakti pada Orangtua

Ketika diminta mengisi beberapa acara dalam rangka Hari Ibu, salah satu referensi yang dibutuhkan adalah kisah orang-orang besar berinteraksi dengan orangtua mereka. Sungguh, membaca kisah orang-orang ini membuat hati tergetar, saya panggil anak-anak dan mengisahkan kisah ini kembali di depan mereka. Bukan dengan harapan mereka membalas jasa kami sebagai orangtua, tetapi agar anak-anak belajar bagaimana menghargai orangtua. Para ulama, orang sholih, dan orang-orang yang tercatat melegenda dalam sejarah ternyata memperlakukan orangtua mereka secara istimewa.

mother n daughter

Mengapa berbuat baik pada orangtua melekat pada pribadi orang mulia?
Sebab salah satu karakter paling manusiawi yang melekat pada diri individu adalah berterimakasih pada orang yang memberikan jasa/layanan pada mereka. Bila, sikap berterimakasih ini tidak melekat bahkan pada orang yang paling berjasa, bagaimana mereka dapat berinteraksi secara social dengan baik?
Simak kisah-kisah berikut.
1. Zainal Abidin ; kisah ini yang paling banyak diceritakan. Zainal Abidin menolak makan bersama sang ibu dalam satu meja. Ketika ditanya mengapa? Ia menjawab,” saya takut melukai perasaan ibu, bila tangan saya terlanjur mengambil makanan yang sudah didahului oleh tatapan matanya. Bagi saya seperti durhaka.”

2. Muhammad bin Sirrin ; ia selalu bercakap-cakap seperti biasa bila berhadapan dengan tamu-tamunya, dengan suara yang pantas, wajar dan lantang. Tiba-tiba, suaranya bisa menjadi lirih seperti berbisik-bisik bila berbicara dengan sang ibu. Suatu saat ada orang bertamu kepadanya, dan melihatnya sedang berbicara dengan sang ibu, ia bertanya, “ apakah Ibn Sirrin sakit?”
Kerabatnya menjawab,” ia memang berbicara seperti itu bila kepada ibunya, seolah ibunya adalah penguasa yang agung.”

3. Hudzail dan ibunya Hafsah bin Sirrin; Hafsah sangat mudah menggigil saat musim dingin datang. Hudzail, selalu menyiapkan kayu bakar yang dipotongnya sendiri. Tak lupa, Hudzail mengelupaskan kulit-kulit batang pohon, sebab bila dibakar di dalam rumah, asapnya akan memerihkan mata. Bila Hafsah sholat, Hudzail akan menyiapkan tungku di belakang punggungnya sehingga sang ibu sholat dengan tenang dan dalam udara yang hangat

4. Mis’ar bin Kidam ; meski seringkali mengisi pengajaran di masjid-masjid, Mis’ar berusaha mendampingi sang ibu yang senang beribadah di masjid. Sebelum mengajar, Mis’ar menghamparkan sajadah bagi ibunya untuk sholat lalu ia pergi meneui murid-muridnya. Usai mengajar, ia akan menghampiri ibu, melipatkan sajadahnya dan mendampinginya kembali pulang.

5. Fadhl bin Yahya ; (ini adalah salah satu kisah favorit saya yang pertama kali membacanya terasa demikian tergetar, menahan tangis. Tiap kali menceritakan kembali, serasa demikian mengharubiru). Yahya adalah seorang lelaki yang tidak bisa berwudlu kecuali dengan air hangat. Suatu ketika, mereka hidup di masa kekhalifahan yang represif. Fadhl bin Yahya dan ayahnya dijebloskan dalam penjara, tentu tanpa kebutuhan hidup yang memadai. Tak ada pasokan kayu bakar untuk memasak atau menghangatkan tubuh. Yang disediakan sipir penjara adalah beberapa botol air dan penerangan obor di atas yang temaram. Tahukah anda apa yang dilakukan Fadhl bin Yahya? Ia akan berdiri sepanjang malam sejak isya hingga subuh, mengulurkan botol air di depan penerangan, agar saat subuh tersedia air hangat bagi sang ayah untuk berwudlu.

6. Jenghiz Khan adalah salah satu yang tercatat dalam sejarah sebagai penghancur besar, upaya genocide nya disamakan dengan Hitler. Tetapi apa yang menjadi sumber kejayaannya dan dunia Islam hancur tercerai berai? Ketika menaklukan Khwarizmi, Sultan Muhammad II adalah seorang pemimpin yang sama sekali tak bisa menjadi teladan. Ia menghabiskan waktu berpesta, dikelilingi biduanita dalam tarian erotis, dan selalu membangkang Torghun, ibunya. Di sisi lain, Jenghiz Khan demikian santun dan hormat pada sang ibu, Hoelun. Setiap kali akan berangkat ekspedisi, Jenghiz Khan akan menemui ibunya,” izinkan aku ke barat. Akan kupersembahkan penaklukan untukmu. Agar tak ada lagi yang menistakan klan kita, perempuan-perempuan kita. “
Dalam sebuah upaya penaklukan ke Khwarizmi, Jenghiz Khan memandang ibunya berdiri menghantar kepergiannya, terus, hingga kereta perang yang diperanginya tak lagi dapat melihat sosok tua sang ibu.
Di hari kematian ibunya, Jengiz Khan sangat berduka, mengurung diri, mengenang seluruh masa sulitnya bersama sang ibu.

7. Evo Morales, presiden Bolivia yang berani bertentangan dengan Amerika dan memilih memakai pakaian tradisional meski dalam acara kenegaraan dan pertemuan internasional; berasal dari keluarga miskin suku Indian Aymara. Anak Dionosio Morales Choque dan Maria Mamani. Terlahir sebagai satu dari tujuh bersaudara, Evo Morales terbiasa membantu ayah ibunya bercocok tanam. Pada usia 12 tahun, Evo membantu ayahnya, Dionosio menggembalakan Ilama selama sebulan lamanya dari Oruro ke Damansara. Pada 1980, topan El Nino menghancurkan 70% lahan pertanian Orinco dan 50% ternak. Maria, ibu Evo Morales sangat berduka, kehidupan mereka semakin sulit. Evo, turun tangan menjadi petani koka dengan kapak dan parang hingga setiap hari tangannya terluka. Sang ayah menjual benang blu kambing dan ilama, membelikan sang putra bola danseragam ,sangat memperhatikan kesukaan Evo Morales dalam sepakbola. 1983, sang ayah meninggal, dan Evo Morales merasa sangat terpukul kehilangan seseorang yang selalu menjadi penyuntik semangat hidupnya

Kategori
Cinta & Love mother's corner Quran Kami Rahasia Perempuan

Ayah, Jangan Korupsi (SMS seorang anak)

Abah jangan iri temennya Abah karena mereka punya mobil, rumah mewah, HP bagus, jam tangan bagus, dan lain-lainnya. Sebetulnya Abah bisa beli kayak punya temennya Abah. Pikirkan, Abah kan tujuannya kan bukan untuk membeli barang kayak gitu, tapi mensejahterakan keluarganya. Emangnya temennya Abah anaknya kayak kita. Sekolah di SDIT, SMPIT Al Uswah, SMP 6. Mungkin enggak kan?

Abah jangan berpikir untuk korupsi, jangan berpikir untuk keluar dari kantor Pajak. Kalau Abah korupsi, emangnya hidup kita dijamin bisa bahagia?????? Mungkin kita jauh lebih sengsara. Kita pasti selalu diikuti dengan rasa takut dan bersalah. Karena Abah dan Ummi kan orang yang sholeh. Emangnya temennya Abah yang korupsi bisa dijamin hidupnya lebih bahagia??????

Ayyasy

(SMS anakku, sekitar 2 tahun lalu yg masih kusimpan. Tertanggal 16 Nov 2010, 10.20 AM. Saat itu keluarga kami terpisah jauh. Kami di Surabaya, suami di Jakarta dan tidak setiap pekan bisa pulang)

Kategori
Cinta & Love mother's corner Rahasia Perempuan

Ibu & Presiden

Aku mendengar doa-doa ibuku. Doa2nya selalu menyertai hidupku (Abraham Lincoln)
Ibuku adalah wanita tercantik. Sukses hidupku adalah berkat didikan fisik, intelektual, dan moral darinya (George Washington)
HAPPY MOTHER’S DAY UNTUK SEMUA IBUNDA TERCANTIK 🙂