Kategori
Cinta & Love KOREA Pernikahan Suami Istri WRITING. SHARING.

Menikahi Oppa Korea (1) : Romantisme, Wajib Militer dan Cowok 4 Musim

Jungkook atau Jin? Baekyun atau DO?

Bunga, coklat, makan malam dengan candle light.

Pilih cowok Korea dengan tipe idol, aktor atau musisi?

Hm, romantis!

——-

Kisah unik sebagai relawan LMI membuatku bertemu kembali via dumay dengan kak Anna Kusumah yang yeppeoyo & daebak! Kami pernah bertemu  di Seoul dulu dan Ramadan ini jadi kesempatan kami untuk telpon-telponan, mengobrol seru tema yang hype di kalangan cewek : enak nggak sih nikah sama Oppa Korea? Mengingat kak Anna sudah bertahun-tahun menikah dengan pria Korea bermarga Jang.

Sebagai orang Indonesia yang Pancasilais, kak Anna merasa ia harus mempertahankan prinsip-prinsip sebagai warga negara Indonesia. Salah satunya prinsip beragama. Maka ia tekankan betul buat para cewek agar jangan meninggalkan jati diri bangsa Indonesia ketika menikahi oppa Korea : tetaplah memegang 5 sila tersebut. Untuk mempersingkat, nama kak Anna dan Oppa Jang jadi kak A dan Oppa J ya.

Kenapa menikah dengan Oppa Jang?

Kak Anna dulu bekerja di Korea. Awalnya, bahasa hanguko-nya gak terlalu bagus. 2 bulan masa kerja habis, Oppa Jang masuk ke perusahaan tempat kak Anna bekerja. Oppa J sudah sekitar 6-7 bulan banyak belajar perbandingan agama. Ia jenis cowok yang suka baca. Penjelasan agama apapun ia baca termasuk Islam. Oppa J bertanya-tanya Islam kepada kak A.

“Bahasa Korea saya gak terlalu bagus saat itu. Jadi menjelaskan Islam juga agak kesulitan,” jelas kak A. Akhirnya kak A mengajak oppa J ke Itaewon untuk banyak bertanya pada imam masjid di sana.

Masa kontrak habis, kak A balik ke Indonesia. Persahabatannya dengan oppa J semula dipikir berakhir di situ. Oppa J ternyata rajin belajar seminggu sekali ke Itaewon, termasuk Jumat datang ke masjid. Eh, oppa J ternyata sering menelepon kak A. Ujung-ujungnya, oppa J meminta kak A menjadi istrinya.

“Saya ingin mempertahankan keislaman saya,” kata oppa J. “Hanya dengan menikahi kamu, saya bisa mempertahankan keyakinan saya.”

So sweet, yaaa.

Di Indonesia, kak A tentu bingung, dong. Ia merasa agamanya juga masih tipis, gimana caranya?

Kak A terus sholat istikharah dan memohon pada Allah. Bila memang berjodoh, maka berikan kemampuan untuk membimbing suaminya kepada Islam dan diri pribadi juga diberikan kekokohan menjalankan syariat. Qodarullah mereka berjodoh dan menikah.

Kak Anna dan suami, Abdullah Jang Hyong Ki

Seperti Apakah Oppa Korea?

Kak A mewanti-wanti bahwa cowok Korea tidak sama persis dengan yang digambarkan di drama dan movie. Hati-hati lho sama film! Namanya juga fiksi. Yang romantis, lembut, baik, perhatian, ramah, pengertian  tentu ada sebagaimana cowok-cowok Indonesia. Tapi jangan bayangkan semua kayak gitu lho yaaaa.

Apa gambaran umum oppa Korea menurut kak A?

  1. Wajib militer. Menurut kak A, sistem ini gak ada di Indonesia. Jadi, bakalan beda banget membentuk karakter. Cowok yang masuk wajib militer pasti berbulan-bulan mengikuti disiplin ketat dan perilaku itu akan terbawa sekian % dalam kehidupan sehari-hari. Wajar kalau mereka tegas dan keras
  2. Empat musim. Menurut kak A, mereka yang tinggal di 4 musim akan beda dengan 2 musim. Di negara manapun, orang yang tinggal di 4 musim harus berpacu dengan waktu karena kondisi geografis. Disiplin ketat, keras kemauan, menjadi ciri khas para oppa.
  3. Tertutup. Korea cukup lama mengalami trauma peperangan. Apalagi negara yang menjajah mereka merupakan tetangga sebelah. Akibatnya, cukup lama Korea menarik diri dari pergaulan internasional dan menutup diri baik secara sistem negara maupun karakter warga negaranya.
  4. Pendidikan & rumahtangga adalah tugas perempuan. Beban dan tanggung jawab sebagai perempuan baik istri ataupun ibu sangat besar di Korea. Apalagi jenis masakan yang disajikan juga beragam. Jadi, jangan terlalu berharap lelaki akan banyak membantu tugas istri.
  5. Lelaki nomer satu. Menurut kak A, dulu lelaki dan perempuan jalan tidak biasa berdampingan. Lelaki harus berada lebih di depan dan mereka harus selalu dinomersatukan. Mereka beranggapan bahwa istri harus taat pada suami with no excuse. Ini tentu selaras dengan prinsip Islam. Namun menurut kak A, bila mendapatkan oppa yang sangat keras, ini akan sangat sulit.
  6. Pekerja keras. Well, ini membanggakan sih. Tapi kita harus tahu kerja keras model Jepang dan Korea. Bagi yang suka nonton tentu paham, kalau lelaki pekerja di Korea nggak bisa pulang jam 5 sore. Mereka harus banyak bertemu rekan kerja usai ngantor.

Kalau oppa J termasuk kategori yang ramah dan pengertian, apalagi setelah banyak mempelajari Islam. Jadi kak A ini termasuk gadis yang beruntung!

Ada lho misalnya, oppa Korea yang melarang istrinya keluar rumah. Gak boleh ke mana-mana dan harus taat, bahkan untuk kursus bahasa Korea aja gak boleh ( untuk pernikahan mix marriage). Perbedaan karakter dan budaya antara Indonesia -Korea seringkali memunculkan perselisihan rumit dalam rumah tangga mix marriage yang ujung-ujungnya terjadi KDRT. Siapa yang salah? Rumit juga mengurainya.

Pernikahan yang awalnya berdasar rasa suka dan cinta tapi tanpa niat kuat – tanpa keinginan untuk mempelajari latar belakang budaya masing-masing –  akan membuat friksi yang awalnya bersifat emosional berkembang menjadi pertikaian fisik. Kak A sekarang banyak banget mendampingi perempuan-perempuan mix marriage yang mengalami kendala ketika menikah dengan para oppa. Kiprah kak A ini luarbiasa lho. Banyaaak bangettt. Sampai-sampai, kak A ini di tahun 2019 mendapatkan gelar sebagai warga negara kehormatan Korea Selatan.

Wah, oppa J pasti bangga banget dong mempersunting kak A!

Udah, dulu ya. Lanjut besok insyaallah tentang tema menikahi oppa Korea. Akan kita ulas apa aja prestasi kak A yang sangat membanggakan hingga bisa dapat penghargaan sebagai warga negara kehormatan.

다음에 봐요.

Da-eume bwayo. See you next time!

————-

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #4

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Cinta & Love Hikmah Hobby Kaca - Kiat Cantik Pernikahan Rahasia Perempuan Suami Istri WRITING. SHARING.

Ini Cara Hemat Suami Membuat Istri Cantik!

Siapa gak ingin punya istri kinclong?

Kulit kencang, glowing, awet muda?

Ternyata ada resep dari halaman rumah sendiri yang bisa dipakai, lho. Ssst, ini ada kisah seorang suami muda yang sayang banget sama istri dan putrinya lalu berbagi pengalamannya kepadaku. Mau tau nggak?

—–

Perjalanan ajaibku menjai relawan LMI di Ramadan 14412 H terus berlanjut dengan kata kunci : silaturrahim. Aku menelusuri kontak di HP dan sampaikan kepada seorang adik kelasku bernama W. Orangnya lucu, nyentrik, baik hati. Ia tak segan ikut menyumbang jika aku buat acara galang dana atau hadir di acara seminarku. Kalau lihat latar belakang pekerjaannya, orang sama sekali gak bakal nyangka W akan sangat telaten terhadap keluarganya.

Aku mengirimkan template ZISWAF lalu terjadilah obrolan panjang. Biasanya obrolan seputar perangko, tempat wisata dan sejenisnya. Kali ini ia memperlihatkan potongan-potongan lidah buaya yang membuatku melongo penasaran. Inti percakapan seperti ini.

“Nyobain ini, Mbak. Dikupas, diambil isinya. Nanti dicampur sama susu, kulitnya jadi kayak Cleopatra. Aku biasa buatkan ini untuk para princess ku.”

Whaaat?

Suami masak, ada. Suami rajin nyuci, ada. Suami belanja, ada. Suami rajin membuat kosmetik alamiah untuk istri? Wah, keren nih. Terus terang, hatiku sering galau melihat para suami saat ini. Ada yang susah komunikasi sama istri, ada yang sering berantem sama anak sendiri, ada yang kalau konflik lebih sering melarikan diri dari rumah.  Apalagi melihat berita di koran yang naudzubillah…sering hati ini menangis. Mendengar cerita W, tentu sangat menghibur. Di dunia ini insyaallah masih banyak suami dan ayah yang sayang keluarga!

Karena bagiku ilmu ini baru –aloe vera + susu –, maka aku lanjut nanya-nanya. Biasanya aku cuma pakai resep tradisional susu + jeruk lemon yang bisa membuat wajah cerah dan kencang. Kata W, aloe vera + susu bisa dipakai untuk kulit seluruh tubuh, leher, wajah bahkan rambut. Bila ada jerawat, tambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Kepo juga aku! Kok bisa lelaki tahu sampai sebegitunya?

“Kakakku dulu cewek, jadi suka bikin-bikin kayak gitu. Jadi aku tau perawatan kulit,” jelas W.

Punya sisters banyak manfaatnya ya?

Para cowok jangan merasa sebel kalau punya saudara perempuan : ojek gratis, bodyguard gratis, kurir gratis. Punya saudara perempuan jadi nambah bekal ilmu dan pengalaman kelak  kalau punya istri.

Nah, nggak selesai sampai disitu. W ini bahkan memelihara bekicot dan lendirnya bisa dipakai untuk perawatan kulit wajah. Katanya, salon termahal pun nggak bisa menandingin efektifitasnya. Hahaha, iya deh! Percaya! Aku memang pernah beli produk masker pas di Seoul dulu dan isi masker tersebut tertulis terbuat dari sejenis bekicot/ siput. Hari gini beli apa-apa lewat online bisa, masih ada juga ya seorang suami yang rela merawat istri dan putrinya dengan perawatan tradisional hasil karya sendiri? Sampai-sampai rela memelihara bekicot di kandang dan rajin ngasih makan tiap hari. Tapi dipikir-pikir emang istri W cantik banget, dah.

Tuh kan, Para Suami!

Kalau dengar istri pingin cantik, jangan keburu diomelin karena harga meni pedi dan face treatment mehong! Coba deh para suami seperti mas W yang telaten. Udah istrinya tambah kinclong, hemat pulak, tambah disayang. Betul gak, Mas W? Buat para istri yang sudah disayang suami, jangan lupa juga balik menyayangi suami, ehm.

———

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #2

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Zakat fitrah 36K, fidyah 40K, Kel.dhuafa 200K, bingkisan lebaran 150K, iftar 20K, wakaf Quran 75K, wakaf Zakato Tower (bebas), infaq umum (bebas), & berbagai macam jenis wakaf yg bisa dipilih sesuai harapan muzakki

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja https://pay.imoneyq.com/laz/lmi/XW1VX

Kategori
Cinta & Love Hikmah Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Galang dana bencana

Dampak bencana tidak selesai dalam jangka waktu 1-2 hari.

●○•————•○●

■Beban ekonomi.
■Ketahanan pangan.
■Memburuknya kesehatan.
■Trauma psikologis.

🏘🏚🏠🏡🏘
Belum lagi masalah keluarga ditambah terhambatnya pendidikan anak karena banyak faktor. Kondisi pandemik sangat memukul banyak kalangan, apalagi situasi alam yang kurang bersahabat.

👩‍🦰👩‍🦱👩👵👵👩‍🦳👩‍🦱

Ibu-ibu adalah pelayan keluarga dan seringkali menjadi tulang punggung ekonomi. Kesehatan fisik dan psikis mereka dapat terancam di tengah situasi saat ini. Demikian pula anak-anak, yang masih membutuhkan dukungan banyak pihak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka.

👶🧒👦👨‍🦳🧑

“Small acts, when multipled by million people, can transform the world.”
✍ Howard Zinn ✍

Sumbangsih kecil kita, adalah aksi besar bagi dunia✊✊✊

Yuk, ikut galang dana bersama Lembaga Manajemen Infaq di aksi Ganala (siaga bencana alam).

Silakan klik kitabisa.com/yukgotongroyong

Ada banyak quote-quote istimewa terkait sedekah dan membantu orang lain. Apapun yang hilang dari diri kita, jika diniatkan untuk disedekahkan insyaallah akan kembali lagi .

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Cinta & Love PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

— NGOBROL & CURHAT —

✨ “It’s Okay Not to Be Your Valentine ” ✨

Fenomena muda-mudi di kota-kota besar, khususnya di hari Valentine, seringkali dijadikan momen untuk menunjukkan rasa cinta kepada orang terkasih.

Beragam cara ekspresi perhatian yang diberikan dengan saling berkirim ucapan, memberi hadiah, nge’date’, bahkan kencan yang mengarah pada pergaulan bebas.

Psstt… ini kah yang namanya Life Style?

Sesuai nggak sih dengan budaya & norma kita?

“Tapi.. kan sekali-kali boleh dong gaul sesama anak muda di momen itu?”

Boleh kan mengekspresikan rasa cinta kita?

Yuk.. dikepoin:
Apa sih Cinta?
Apa bedanya dengan dengan kasih sayang?
Siapa aja yang bisa kamu berikan cintamu?
Gimana sih cara menyatakannya dengan tepat?

Kuy kuy kita ngobrol dan curhat dengan Bu Sinta dan Bu Santya di acara yang asyik ini!

Ada doorprize menarik juga loh 💖❤️

✨ MARK THE DATE ✨
📅 Hari : Sabtu, 06 Februari 2020
⏰Jam : 08.00 – 12.00 WIB
▶️Via Zoom Meeting

👨 Narasumber 1
Sinta Yudisia, S.Psi., M.Psi., Psikolog

  • Penulis, Psikolog
  • Marriage Counselor, Trainer

👩 Narasumber 2
Santya Anggraini, S.Psi., Psikolog, M.E.I

  • Psikolog Klinis, Alumni Psikologi UNPAD
  • Direktur Biro Psikologi Santya Gresik dan Malang
  • Psikolog Klinis di Klinik Psikologi RS Semen Gresik Gresik.

REGISTER HERE ‼️
📎 https://bit.ly/SeminarValentine
— peserta terbatas!

🎟️ HTM :
Rp 50.000/org
Dapatkan Diskon 50% dari harga normal menjadi :
Rp 25.000
Dengan Persyaratan Berikut :

  1. Follow IG @psikolog.sa
  2. Like dan repost postingan ini di story, lalu mention ke @psikolog.sa
  3. Bagikan postingan ini ke 2 grup whatsapp

🎟️ Pembayaran :
[No. Rek BCA 7900299553 a.n Santya Anggraini]

☎️ Info & Konfirmasi kegiatan :
Yusril Izza
0813-3477-5841 (WA)

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Parenting WRITING. SHARING.

Bagaimana Mengelola Emosi Negatif ?

Ada aja yang buat orangtua naik pitam saat pandemic dan anak2 belajar di rumah :

  • Yang lagi belajar daring, trus ada anak-anak tetanggan manggil : “Main yuuuuk!” lalu si anak serta merta melempar tugas daringnya dan lari ke luar.
  • Ada anak yang kayaknya pegang gadget, belajar daring….eeeeh, ternyata nyambi-nyambi. Nyambi stalking idol, nyambi gaming, nyambi lihat postingan IG. Alhasil , tugas daring gak selesai-selesai. Guru pusing, ortu apalagi.

Emosi manusia ada yang positif dan negatif. Gak semua emosi negatif itu buruk, justru kadang merupakan alarm, ada yang gak beres dengan diri kita dan lingkungan kita. Wajar orangtua marah ketika lihat anak-anaknya gak beres dengan urusan kemandirian, tanggung jawab dan pelajaran daring. Tapi, bagaimana dengan hadits Rasulullah yang terkenal ?

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”

Bukankah itu berarti orangtua gak boleh marah?

Kalau kita lihat hadits tersebut bila dikaitkan dengan hadits2 yang lain bagaimana cara Rasulullah Saw mengajarkan mengelola marah dengan cara : diam (stay calm) , berganti posisi (relaksasi) , mengambil air wudhu (aktivitas distraksi)  maka Rasulullah Saw tidak hanya melarang marah dan membuat orang hanya memendam perasaannya saja. Tapi justru beliau mengajarkan cara mengelola dan menyalurkannya agar marah itu terkendali, dan kalau pun keluar dalam skala yang proporsional.

Dan kalau marah suatu saat meledak (namanya manusia, kadang ada kondisi yang tidak tertahan dan tidak dapat dikontrol) Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk banyak istighfar dalam segala kondisi. Disamping hadits-hadits lain tentang bagaimana mengikuti perbuatan yang buruk dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ada kisah menarik seorang ibu yang selalu marah, naik pitam setiap kali pulang kerja. Salah satu yang biasa dilakukan untuk melampiaskan marah adalah dengan mengumpat kasar kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, alhamdulillah, dia berhasil mengatasi kondisi tersebut. Bagaimana caranya?

  1. Mencermati kapan marah – biasanya jam 5 sore, menjelang pulang kerja
  2. Kenapa marah – campur aduk pikiran antara tugas kantor yang belum selesai dan pekerjaan rumah yang menghadang
  3. Bagaimana marah – mengumpat kata-kata kasar walau  tidak main tangan
  4. Keinginan berubah – sangat ingin berubah tapi bingung gimana caranya

Biasanya, setelah seseorang dapat mendeskripsikan masalahnya dengan detil, dia mulai bisa melihat bagaimana cara mengatasinya. Ibu tsb gimana?

  1. Jam 4 sore mulai membereskan pekerjaan. Memberikan motivasi diri bahwa pekerjaan yang belum selesai disimpan saja utk besok. Jam 16.30 mulai emgnhadirkan wajah anak-anak, foto-foto mereka, dan kelucuan. Aura rumah mulai terasa jam 16.30
  2. Kenapa marah – mulai tereduksi ketika menjelang pulang kantor tidak lagi memikrikan pekerjaan kantor. Bayangan rumah pun diganti . bukan lagi anak yang belum mandi, gak mau mau sendiri, rumah berantakan. Berganti kelucuan, spontanitas anak-anak, riuh rendahnya mereka
  3. Mulai memilih kata-kata marah yang lebih positif (ibu tsb termasuk yg temperamental jadi harus berubah bertahap). Misal, tidak lagi bilang “kalian susah banget diatur! Jam segini belum mandi!” tapi diganti dengan à “Iiih, siapa yang jam segini masih bau kecut? Coba udah mandi, pasti tambah ganteng!”

Buat para Ibu yang jadi Guru, semangaaattt!

Yang penting, sebagai orangtua kita harus terusss sama-sama belajar. Yang murid belajar daring efektif, yang guru belajar daring efektif, yang orangtua belajar segala hal agar semua berjalan efektif 😊

Diselenggarakan oleh KOPI (Komunitas Orangtua Pintar Indonesia ) yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di Surabaya

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Cinta & Love Hikmah Jepang Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

🍒Zoom Wedding : Nikah Kala Pandemic💑

Kelas Pranikah di kala coronavirus melanda ini memang unik. Rizqi Allah Swt gak pernah bisa ditebak, kapan datangnya. Termasuk jodoh. Ketika mengisi kelas pranikah yang biasanya membahas tipe kepribadian calon pasangan, penyesuaian diri dan komunikasi positif dengan keluarga pasangan; bahasan-bahasan menarik muncul.

♥ Mungkinkah menyelenggarakan pernikahan kala pandemic?
♥ Konsepnya seperti apa?
♥ Apakah tidak lebih baik pernikahan tersebut diundur?

Nah, ternyata banyak yang sudah disiapkan rizqi jodoh oleh Allah Swt, maju mundur menikah lantaran pandemic. Ada yang ditentang orangtua karena berharap pesta pernikahan dihadiri lebih banyak orang, jadi nunggu pandemic berakhir. Ada yang menginginkan kalau pernikahan itu diundur saja, nunggu situasi reda.

Kalau kita lihat sisi positifnya nikah kala pandemic:
1. Efektif dan efisien : hemat waktu, tidak harus antri tempat yang kadang mengakibatkan pernikahan ditunda lebih lama gegara cari tempat sewa acara yang representative. Juga hemat-hemat lainnya🌳

2. Hemat biaya. Gak perlu sewa gedung, sewa hotel untuk kerabat, sewa berbagai macam barang, dll. Bisa diselenggarakan di rumah karena yang hadir tetangga dan ring-1 keluarga inti🌱

3. Tidak ada tabdzir atau hal yang terbuang , terutama hal makanan. Ingat tulisan saya ketika sepulang umroh dan bertemu mahasiswi Ummu Quro? Jamaah Haji Indonesia pernah menjadi jamaah terkaya dibanding jamaah haji dari manapun! Tapi karena terbiasa boros dalam hal apapun, kita sekarang seperti ini. Salah satu sesi paling membuang adalah ketika sesi makan prasmanan. Buanyaaaak bangettt buang makanan!🍄

4. Tidak ada “kewajiban balas jasa”. Mufti Menk pernah memberikan nasehat terkait pernikahan di wilayah timur (termasuk Indonesia) dimana biasanya pengunjung membawa bingkisan berupa hadiah atau amplop. Kelak ketika si pengunjung punya hajat serupa, ada semacam kewajiban tak tertulis bahwa orang-orang harus melakukan hal serupa. Padahal tidak benar demikian. Yang dinantikan dari tamu yang hadir adalah doa-doa mereka. Sementara pihak penjamu menyediakan makanan sesuai kadar kemampuan. Tidak perlu berlebihan. Tapi namanya orang ya, kadang ngerasa gak enak kalau cuma menjamu sedikit. Nanti apa kata orang. “Masak nikah cuma makan soto?” Akhirnya, membengkaklah biaya hajatan sementara tamu juga lebih focus ke makanan daripada mendoakan mempelai 🌿

5. Lebih sakral, syahdu, bermakna. Akan jadi kenangan indah sepanjang masa ketika seseorang menikah di tengah situasi pelik. Kadang pesta pernikahan begitu hebohnya dengan arus tamu keluar masuk, antrian makanan dan souvenir, music dan sesi foto non-panggung. Ajang reuni sekalian kan? Saat pernikahan digelar sederhana, mempelai bisa meresapi nasehat dari penghulu dan perwakilan tetua kedua mempelai. Terasa sekali kepasrahan kepada Allah. Terasa maut demikian dekat. Terasa bermakna penyatuan dua jiwa.🍂

6. Trus gimana dong memberitakan pernikahan, menyiarkan pernikahan? Keluarga besar dan sahabat-sahabat bisa ikut? Bisa dengan teknologi google meet, zoom atau sejenisnya. “Yah..gak seru sih!” Emang lebih seru ketika tatap muka. Tapi kan dalam pernikahan yang kita cari keberkahannya? Bukan sekedar keseruan pesta dan foto-foto yang bisa disebar. Lagian, gak akan terulang lagi di masa yang akan datang kala pandemic berakhir kita nikah via zoom-zooman lhooo🍁

Nah, tanpa mengabaikan protocol kesehatan, kalau memang waktunya sudah tiba; segerakan saja pernikahan. Gak perlu nunggu pandemic usai yang itu berarti akhir tahun 2020, atau malah 2021. Nanti si dia keburu disambar orang, lho!
Kalaupun terpaksa harus ada pesta pernikahan, tetap pakai masker, gunakan hand sanitizer, jangan berkelompok dan segera bubar begitu memberikan doa dan bingkisan. Biasanya WO di kala pandemic menyelenggarakan makanan dalam bentuk nasi kotak.

Selamat berbahagia, ya 😊

Catatan lainnya menyusuk yaaa

Catatan mengisi kajian Pranikah di Kmi Kagawa Kagawa, 27 Juni 2020 dan Salimah Banjarmasin, 28 Juni 2020

Kategori
Artikel/Opini Cinta & Love Hikmah Karyaku My family Oase Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Referensi Fiksi Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Aku Pernah Merasakan Keajaiban Surat Al Kahfi💔

Pernahkah dikhianati oleh sahabat sendiri?
Ditipu hingga belasan bahkan puluhan juta?
Aku pernah merasakannya. Salah seorang yang kuanggap teman baikku, sahabatku, ternyata menipu sebuah institusi hingga puluhan juta rupiah padahal aku yang memperkenalkan teman baikku pada institusi tersebut. Sudah kulacak bukan hanya lewat whatsapp bahkan kudatangi hingga ke apartemennya di Jakarta. Tapi ia lenyap menghilang begitu saja. Ternyata bukan hanya menipuku, ia juga menipu banyak sekali teman-temanku yang lain.

💔😭
Terus terang, aku tak sampai hati mencaci-maki dan mendoakan yang jelek-jelek, mengingat ia single parent sejak lama. Aku masih berprasangka baik bahwa ia terjebak hutang piutang dan masalah besar sehingga harus menipu sana sini. Meski dari beberapa temanku sudah keluar kata-kata sumpah serapah dan mendoakan ia sejelek-jeleknya, aku hanya bisa berharap suatu saat ia sadar dan mengembalikan semua uang yang dilarikannya. Ia sudah membuat derita banyak orang, tentulah hidupnya sekarang juga sangat menderita; gak usahlah ditambahi lagi dengan doa yang jelek untuknya. Aku tak pernah percaya ada orang yang bisa hidup bahagia di atas derita orang lain! Mungkin ia bahagia dan tertawa, tapi yakinlah hanya sebentar saja.

🧐🧐
Kita pasti pernah mengukur diri sendiri, bukan?
Kalau telat bayar infaq apalagi zakat; ada saja musibah menimpa. Aku pernah menunda-nunda infaq; sepeda motorku bocorlah. Rusaklah. Pompa air meledak. Anak sakit. Pokoknya, keluar uang lebih banyak. Ketika kurenungkan; sayang-sayang uang buat infaq akhirnya malah keluar banyak.
Persepsiku, bakhil infaq saja sudah diperingatkan olehNya. Apalagi memakan uang orang lain , terlebih uang institusi ZISWAF, tentulah merasakan banyak peringatan dari Allah Swt.
Hari-hari awal aku sadar kalau ditipu, rasanya dunia runtuh.
“Masa’ sih? Dia kan sering main ke rumah? Dia kan pernah nginap di rumah? Kami dekat, sering ngobrol. Apa kebutuhannya, kita bantu.”

🏴‍☠️🏴‍☠️
Tidak percaya bahwa seorang sahabat baik bisa menipu sedemikian rupa!
Kalau dibilang nangis, sudah lewat. Marah, ngamuk; sudah nggak bisa dilakukan. Saking getirnya hanya bisa mengucap istighfar. Semoga aku sekeluarga dapat ganti rizqi lebih baik, semoga Lembaga ZISWAF yang ditipunya semakin banyak donatur, dan semoga ia sekeluarga diluruskan kembali oleh Allah Swt.

💗💕🕌🕋
Saat-saat sedih itulah, aku memperbanyak sholat sunnah dan baca Quran. Entah mengapa salah satu surat favoritku adalah al Kahfi. Suatu saat, saking sedihnya aku tertidur. Dalam mimpi, aku melihat ibuku memakai mukena, memelukku dari belakang.
“Al Kahfi,” bisiknya di telingaku.


Aku terbangun.
Terheran.
Bukankah aku sering baca al Kahfi? Bukankah aku senang dengan surat al Kahfi? Meski tak dibilang sangat menguasai tafsirnya; aku tahu isi surat al Kahfi tentang pemuda Kahfi, kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir, juga kisah Dzulkarnain beserta Yajuj Majuj.

💤💤
Kenapa aku mimpi ibuku, mengenakan mukena, memelukku dan berbisik al Kahfi? Aku mengikuti makna mimpiku, sebab kata Ibnu Khaldun, mimpi yang teringat terus saat bangun tidur tanpa susah payah diingat merupakan ilham Tuhan. Aku membaca al Kahfi berikut artinya. Aku lupa, entah saat itu Jumat atau tidak.

1️⃣8️⃣ : 8️⃣8️⃣
Kubaca satu demi satu artinya, hingga sampai ke ayat yang ke- 88

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā
Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” ( 18 : 88)
Entah mengapa mataku dan hatiku terpaku pada ayat ini. Kucari-cari tafsirnya, yang kuingat adalah, bahwa setiap berbuat kebaikan kita akan mendapat balasan. Dan kita bisa meminta balasan pada Allah Swt sebesar kebaikan yang kita pernah lakukan.

Aku berdoa pada Allah, seolah pamrih dengan kebaikan yang pernah kulakukan meski sedikit. Aku tahu, kebaikanku, amalku, pahalaku jauh dari layak. Untuk membayar nikmatNya saja tak akan pernah mampu kulakukan. Tetapi, entah mengapa saat itu aku ingin menagih padaNya. Mungkin, menagih hiburan atas kejadian buruk.

Setelah kejadian itu, betapa banyaknya nikmat Allah Swt yang dicurahkan kepadaku. Banyak sekali nikmat-nikmat rahasia yang tak dapat kuperinci satu persatu. Mulai dari novel-novelku yang alhamdulillah lancar terbit, lolos di SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture) dll.

Ohya, karena demikian terkesan oleh surat al Kahfi, secara special surat ini kucantumkan di salam novel 💗Reem💗 yang diterbitkan Pastelbooks, lini Mizan di tahun 2017. Sudah baca, belum? 😊

( renungan di masa pandemi corona virus / covid 19)

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri WRITING. SHARING.

#HikmahCorona 3️⃣: Menelusuri Memori Anak-anak👶👧👧👶

Waktu di rumah saja, membuatku sempat untuk menata barang-barang yang selama ini hanya ditumpuk begitu saja di dalam kardus. Aku menemukan baju anak-anak ketika mereka masih begitu kecil : rok ukuran sekitar 30 cm, saat putriku baru bisa merangkak. Kaos bergambar Power Ranger, Ben Ten, Naruto, dll. Ada baju TK, baju SD, baju SMP. Kaos dan celana mungil yang membuatku terpana dan tertawa, betapa cepatnya waktu berlalu. Anak-anakku yang sekarang sudah jauh lebih besar tubuhnya dariku dulu pernah begitu kecil dan rapuh. Terbayang saat mereka menggelendot di kaki dan menangis saat butuh dukungan.

Kuperlihatkan sebuah baju seragam, dengan tulisan nama anakku di dada.
“Nak, ini kamu waktu SD dulu. Memori apa yang masih membekas?”

Aku bahagia membongkar kenangan masa lalu anak-anakku. Aku gembira, bercampur aduk rasa haru dan sukacita. Tapi tidak demikian dengan anakku. Wajahnya sendu.
“Terus terang, aku nggak punya kenangan manis,” ungkapnya.
Terkejut. Itu reaksiku. Sebab kupilihkan sekolah terbaik bagi anak-anakku.

“Tapi…guru-gurumu begitu baik. Apa kamu nggak bisa menyebutkan salah satu guru yang membuatmu terkesan?”
“Kalau itu ada,” ia mengaku. Ia sebutkan nama beberapa guru yang kutahu, memang demikian telaten menghadapi murid-murid, terutama anakku.

“Teman-temanmu?” aku memancing.
Ia menggeleng dan kembali mengulang ucapannya bahwa tak ada teman yang mengesankan. Ya, mungkin sudah pernah kubahas bahwa beberapa anakku pernah mengalami kasus bullying sementara aku sebagai orangtua terlambat mengetahui. Namun, setelah tahun-tahun berlalu, apakah luka itu masih menganga? Ternyata memang masih meninggalkan bekas. Utamanya saat ada barang atau kejadian yang mengingatkan pada kasus masa lampau. Misal saat aku beberes seperti ini.

Aku meletakkan pekerjaanku.
Berusaha untuk menyelami jiwa anakku yang sekarang tenggelam dalam ingatan masa kecilnya , yang menurutnya pahit untuk dikenang.
“Nak, kamu masih dendam pada temanmu?”
“Aku sudah pernah membalas dendam pada temanku,” ia mengaku.
Aku menahan nafas. Membayangkan ia mengamuk dan memukul temannya.

“Tapi ternyata membalas dendam tidak menyelesaikan masalah,” ia menyimpulkan.
“Jadi kamu masih dendam?”
“Kan aku sudah bilang, balas dendam gak membuatku puas,” ia terlihat jengkel.
“Terus gimana kamu memaafkan temanmu?”
“Aku berusaha melupakannya. Aku nggak mau mengingat-ingat lagi.”

💔💔Aku dan anakku berusaha untuk menjembatani masa lalu itu meski ada luka, perih, kemarahan, kekecewaan, kebencian. Ada perkataannya yang mengejutkan ketika aku melemparkan pertanyaan.
“Bagian mana dari masa kecilmu yang paling menyedihkan?”
Aku berpikir dia akan mengungkapkan kasus pembully-an, atau mungkin ketika guru-gurunya tidak menyadari telah terjadi kasus perundungan. Maklum, anakku ini termasuk berinteligensi tinggi dan memiliki nilai jauh di atas rata-rata terutama untuk mata pelajaran sulit.

“Dulu, aku sekolah sampai sore. Aku nggak punya waktu banyak dengan Abah Ummi.”
Kadang, kita merasa ketika anak sekolah sampai sore, sebagian besar kewajiban orangtua telah terpenuhi. Apalagi di rumah, orangtua akan kembali mengingatkan apa saja tugas di rumah seperti mata pelajaran yang harus diulang serta pelajaran untuk esok hari. Orangtua lupa, semakin sedikit waktu untuk bermain bersama anak-anak.
“Nak, kamu kan pinter. Kamu sering dibanggakan guru. Kamu sering ikut olimpiade. Apakah ini nggak meninggalkan kenangan manis bagimu?”

Dia terdiam.
💯🅰️“Ummi, nilai akademis itu tidak bisa dibandingkan dengan interaksi antar manusia,” sahutnya bijak.
Meski juara, meski dapat nilai 100, meski paling menonjol; namun jika tidak ada interaksi manis dengan orangtua, guru, antar teman – semua itu tidak akan menjadi jejak mengesankan dalam ingatan. Demikianlah kira-kira.

✍️Aku belajar banyak dari anakku hari itu.
Selalu saja, aku belajar banyak dari mereka.
Kadang, sebagai orangtua merasa kalau anak cerdas dan pintar pasti mampu mengatasi setiap permasalahan. Bahkan ketika dibully pun akan bisa mengatasi masalah, karena dengan kecerdasan ada self esteem yang tetap kuat dimiliki. Ada self respect lantaran berprestasi. Meski dikucilkan masih bisa bilang: “ah, aku kan punya kelebihan kepintaran dibanding teman-temanku.”

Nyatanya tidak demikian.
Beberapa hal yang kusimpulkan :
♥ Saat anak jarang di rumah karena sekolah sepanjang hari, kita berarti kehilangan masa-masa manis bersama mereka. Dan entah bagiamana caranya, waktu emas itu harus ditebus. Lockdown seperti ini salah satunya
♥ Jangan anggap anak pintar mampu mengatasi semua. Seringkali, anak pintar mengalami kesulitan bersosialisasi dan kita harus mendampingi mereka agar mendapatkan teman yang sesuai

Semoga kamu semakin dewasa dan bijak dengan segala bekal perjalanan kehidupan yang serba pahit manis ya, Nak ♥

#GoodwillMovement
#lawancoronavirus
#lawancovid19
#family #keluarga
#parenting #orangtua
#dirumahsaja

Kategori
Cinta & Love Hobby mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri Topik Penting WRITING. SHARING.

🍅🥬🌶#HikmahCorona 2️⃣ : Menanam Sendiri Sayur & Buah🍋🍉🍆

Selama ini sayur mayur, cabe, tomat, bawang selalu beli.
Padahal duluuu banget, pas aku kecil; ibu senang menanam-nanam apa aja di pekarangan rumah. Jangan bayangkan rumahku besar ya. Perumnas dengan tipe 21. Hanya ada sedikit lahan di depan. Lahan sedikit di belakang ketika belum ada uang untuk membangun dapur.

Ibu suka melempar apa aja ke tanah. Bahkan, Perumnas (perumahan nasional) rumahku dulu, bekas tanah pertanian. Masih berlumpur, batakonya banyak kalajengking hihi. Bisa nanam padi sedikit. Ada bawang merah. Sisa bahan dapur dibuang begitu aja , terutama tomat, cabe rawit dan cabe merah.

🍅🌶Aku ingat, kalau sudah lihat buah cabe atau tomat yang masih hijau itu, seneeeng banget. Kuelus. Kutimang. Dan ketika masak dari hasil pekarangan sendiri, luarbaisa bahagia. Lagipula lebih sehat, bukan?

Semenjak corona virus dan tukang sayur kadang jarang datang, kami mulai lihat-lihat di internet tentang hidroponik dan cara menanam sayur mayur sendiri. Anak-anakku mencoba menanam ini itu. Ada yang tumbuh, ada yang mati. Biarlah. Biarkan mereka mencoba. Mencoba menanam selada, besoknya sudah digondol tikus. Oh, berarti harus dilindungi pakai baskom. Mencoba menanam serai di bekas botol kaca yang gak ada lubangnya. Mencoba menanam bawang putih. Ada yang akarnya bisa langsung bertunas, ada yang mati karena terlalu banyak air atau tak cocok media.

🌶Sekarang, benih cabainya sudah mulai tumbuh.
Anak-anakku harus belajar dan menghargai negeri sendiri : Indonesia negara yang sangat kaya. Kalau lihat di youtube, orang harus mengupayakan gimana caranya biji bisa bersemai, bertunas dan tumbuh; di negeri kita cukup dibuang di pekarangan!

🥬🥒🥦Dan, setelah lihat di internet; betapa kita bisa bertanam sayur mayur sendiri meski dengan pekarangan terbatas! Hayuuuk, bertanam di rumah mungil kita.

#GoodwillMovement
#lawancoronabersama
#lawancovid19
#ayobersama
#ayolebihbaik
#keluarga #family
#parenting #orangtua

#lockdown #dirumahsaja

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting WRITING. SHARING.

Quaden Bayles : Bagaimana Jika Anak Kita adalah Si Pembully?

Kasus Quaden Bayles benar-benar mengiris hati. Seorang anak usia 9 tahun,  penyandang dwarfisme, tinggal di Brisbane Australia menangis pilu menghadapi bullying tiap hari.

“Stab me!!”

“Kill me!!”

Ia menangis histeris.

Si ibu, yang telah berjuang lama menghadapi bullying terhadap anaknya terpaksa mengunggah video itu dan menuntut keadilan. Ia merasa sudah cukup wacana-wacana tentang bullying tetapi mana bukti pembelaan terhadap korban bullying? Apalagi si kecil Bayles mengidap kelainan sehingga fisiknya sangat berbeda dengan anak seusia. Video Bayles mendapat banyak perhatian dunia, termasuk Hugh Jackman pun memberikan dukungan keprihatinan terhadap kasus Bayles.

Anak saya pernah menjadi korban bullying dan juga pelaku bullying. Bila melihatnya sekarang yang berprestasi, kooperatif, cukup punya banyak teman dan mampu berkolaborasi dengan orang seusia,  lebih tua atau lebih muda; tak ada yang menyangka ia dahulu adalah korban bullying dan kemudian menjadi pelaku bullying yang kasar.

Dukungan terhadap korban bullying mungkin sudah banyak dibahas. Tetapi bagaimana menghadapi anak yang melakukan bullying? Ibu Quaden Bayles menjerit meminta pertolongan dari siapa saja yang bisa memberikan nasihat. Ia bahkan berkata, nyaris putus asa : “Stop memberiku advis yang bagus. Aku butuh lebih dari sekedar nasihat! Aku butuh tindakan nyata!!”

Di bawah ini adalah apa yang pernah kami lalui sebagai orangtua dengan anak yang pernah dibully dan pernah membully anak lain. Kasus setiap anak mungkin berbeda tapi semoga apa yang kami hadapi dapat menjadi pelajaran.

  1. Korban dan pelaku. X pernah menjadi korban bullying dalam waktu lama di sekolahnya. Ia disudutkan karena cara bicaranya yang ‘berbeda’ dan beberapa hal terkait fisik. Awalnya ia hanya terdiam, menangis, memendam perasaan hingga matanya berkaca-kaca dan dadanya terlihat berguncang. Lambat laun setelah ia menemukan keberanian, ia melawan anak-anak.  Sedihnya, ganti ia yang membully teman-temannya. X memukul teman-temannya.
  2. Sikap guru. Pihak sekolah memanggil kami orangtuanya. Langkah pertama ini sungguh bijak, sebab yang harus datang adalah ayah ibunya. Bukan ibunya saja atau ayahnya saja. Suami saya minta izin dari kantor dan kami menghadap pihak berwenang di sekolah. Saya ingat, saat itu kami ditemui oleh pihak otorita sekolah dan guru yang sering menangani X. Sebut saja bu guru Aisyah. Ada perkataan bu Aisyah yang membuat saya demikian sedih dan terpukul, tetapi saya rasa itu adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil saat itu.

“Bu Sinta, kami sudah mencoba mendekati X dengan berbagai cara. Tapi sepertinya masih kurang mempan. Ia masih sering memukul teman-temannya. Saya minta izin -dengan sangat terpaksa- saya akan memukul X. Di kaki atau tangannya, tidak di areal berbahaya. Supaya X memahami bahwa kena pukul itu menyakitkan.”

Kami tidak menerapkan pukulan di rumah. Kemungkinan, X tidak tahu seperti apa sakitnya dipukul! Saya bersyukur, bu Aisyah memanggil kami dan meminta persetujuan kami. Awalnya suami saya marah dan tidak setuju. Tetapi saya menenangkannya.

“Sebelum memukul anak kita, sekolah meminta izin pada orangtuanya dulu. Saya pikir itu bijaksana,” kata saya. “Kalau sekolah mau ambil sikap otoriter dan tak peduli, sudah pasti X dipukul langsung tanpa perlu minta izin pada kita.”

Akhirnya kesepakatan tersebut diambil.

Tentu, si X pun diberi peringatan terlebih dahulu oleh bu Aisyah. Lain kali dia memukul temannya di tangan atau kaki (kebetulan X tidak memukul di area berbahaya) , bu Aisyah akan membalasnya dengan pelan. Ini karena teman-teman X sama sekali tak ada yang berani menghadapi kegarangan X.

Alhamdulillah, bu Aisyah tidak perlu mengambil sikap memukul itu sering-sering. Sebab ternyata, para guru dan pihak sekolah terus mencari cara menghadapi bullying termasuk yang dilakukan anak saya, X. Seorang guru yang memukul tanpa sebab, memang tak dibenarkan. Tapi saya pikir, bu Aisyah sudah mencoba segala cara dan saya menghormati keputusannya. Yang sangat penting, keputusan beliau didiskusikan pada kami dan kami diajak mempertimbangkan baik buruknya. Saya tidak meminta sekolah atau guru memukul anak-anak, tetapi saya hanya menceritakan pengalaman pribadi yang ternyata sangat membantu X yang garang untuk lebih memahami bahwa memukul itu menyakitkan! Mungkin, karena kami orangtua nya tidak tega untuk memukul anak sendiri, kehadiran seorang guru dapat membantu.

Kami dapat saja berpikir, “X masih anak-anak. Wajar kan berkelahi? Wajar kan kalau memukul, menjambak, menyakiti? Mana ada anak-anak yang gak pernah berkelahi?”

Tetapi, itu yang ada dalam benak saya. Apa yang ada di benak orangtua lain, ketika anaknya disakiti? Kalau anak saya dipukul anak lain, pasti saya pun ingin ada keadilan. Kalaupun keadilan tidak sepenuhnya bisa ditegakkan, pasti kita ingin ada tindakan.

3. Mencari teman sebaya. X membaik perilaku garangnya yang suka memukul anak lain, karena bu Aisyah dan guru lain mencari cara untuk ‘menaklukan’ X. Salah satunya mencari sahabat yang bisa menasehati. Saya tahu, X tidak banyak punya teman saat itu. Atau bisa dikatakan ia common enemy karena kegarangannya, meski X sangat pintar  sains dan matematika. Guru pada akhirnya berhasil membujuk AL (samaran) untuk menjadi sahabat X. AL awalnya enggan berkawan dengan X. Ya, siapa yang mau berteman dengan anak pemarah dan pembuat onar? Tapi AL memang punya sifat bijak dan terkenal lemah lembut. AL kemana-mana membuntuti X dan mencoba memberikan nasehat ala anak-anak.

Ada satu kejadian yang saya ingat diceritakan X dan guru.

Momen penting ketika X mencapai titik balik.

X, sebagai pembully, bukanlah sosok yang dicintai. Ia ditakuti, tapi sesungguhnya tak punya teman. Suatu saat, X menyendiri.  AL mendekati, lalu mengajak bicara. Kalau saya ingat ini, betapa berterimakasihnya kami pada AL yang rela bersikap bijak dan dewasa di masa anak-anaknya demi mendampingi X.

“Sebetulnya semua guru dan teman itu sayang kamu, X. Hanya saja kamu suka memukul. Padahal bu Aisyah itu sayang sekali sama kamu. Bu Aisyah sampai nangis memikirkan kamu.”

X tiba-tiba berlinangan airmata, ketika tahu gurunya bisa menangisi dirinya. Tanpa sadar mata X meleleh. Dua sahabat itu berjanji mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik. Esok harinya, X benar-benar berhenti memukul!

4. Komite orangtua. Saya panik. Saya sedih.  Saya tertekan. Sekaligus merasa bersalah. Tiap kali datang ke sekolah menjemput, selalu ada anak yang melapor ke saya, “Bundaaa! X mukul si A.” Besoknya, “Bundaaa, X mukul si B. “ Selalu ada laporan begitu nyaris tiap hari. Rasanya wajah ini panas tertampar tiap kali mendengar laporan itu. Tetapi, saya beruntung dan bersyukur sekali pada saat angkatan X, komite orangtua dipenuhi para orangtua yang baik hati dan hangat. Tidak ada orangtua yang menuding, menyindir, memboikot, atau marah-marah ke saya.

Saya minta maaf pada para ibu karena anak-anaknya kena pukul X. Mereka berkata, “nggakpapa, Bu. Namanya anak-anak.”

Saya nggak tahu  lip service atau tidak. Nyatanya, saya tidak lantas malu untuk ikut acara parenting dan komite  sekolah. Hal itu membuat saya lebih semangat dan terbuka untuk menerima masukan. Ketika X bersalaman kepada orangtua bila bertemu saat pulang sekolah, seringkali para orangtua justru mendoakan X ,”X yang sayang sama teman, ya. X anak pintar.”

Saya yakin, doa dari guru dan para orangtua yang mendoakan X kebaikan turut memberikan perubahan dalam diri anak saya.

5. Pihak berwenang dan ahli. Kali ini bukan X, tetapi salah satu anak kami yang lain yang menjadi korban bullying. Sebut namanya Y.  Singkat cerita, Y dan teman-temannya menjadi korban bully sekelompok anak. Tak boleh ke kamar mandi, tak boleh jajan, tak boleh lewat kalau kelompok tertentu sedang ada di sana. Komita orang tua berembug dan berunding. Didatangkanlah pihak kepolisian ke sekolah. Tujuannya bukan mengancam atau menakuti-nakuti. Ternyata masih banyak anak yang tidak paham bahwa bullying dapat masuk ranah kriminalitas. Begitu pihak kepolisian datang, memberikan ceramah dan arahan ke anak-anak, banyak anak tercerahkan bahwa perilaku mereka yang seperti nya bercanda, mengganggu, mengejek anak lain hingga kelewatan itu bila ditarik garis disiplin bisa menyebabkan mereka kena delik kriminalitas. Ternyata, anak-anak perlu diberi penjelasan lebih mendetil tentang apa saja bullying dan ancaman bagi pelaku.

Dari kisah di atas saya mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Orangtua
  2. Anak-anak
  3. Guru
  4. Sekolah/institusi
  5. Pihak berwenang/ahli

Harus bekerja sama bahu membahu untuk menangani kasus bullying. Jangan lagi ada kasus Nadila almarhumah, atau Quaden Bayles. Anak- anak pelaku bullying juga perlu diberi arahan tegas. Sebuah video dari Korea yang mengambil social experiment tentang anak perempuan yang mengaku dibully dan mendatangi orang-orang di taman; memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah hubungan antar manusia dapat dibangun.

Ada banyak potongan menarik dari adegan tersebut. Bagi saya, yang menarik adalah salah satunya, ketika si gadis SMA tersebut mendapatkan ‘korban’ social experiment anak-anak mahasiswa.

“Dik…kami dulu juga pernah membully teman dan adik kelas kami,” aku mereka.”Aku rasa saat itu aku sangat tidak dewasa. Aku menyesal sekali. Sayang sekali, nggak ada yang ngasih tahu aku. Kalau aku kembali ke masa itu, aku ingin bersikap baik.”

Bukan hanya korban bullying yang perlu didampingi hingga mereka memiliki resiliensi. Pelaku bullying juga harus didampingi dengan kasih sayang dan ketegasan, penjelasan dan informasi, pemberikan kesempatan dan juga ancaman serta sangsi bila mereka masih terus bertindak di luar batas. Saya bersyukur X pernah diberikan batasan dan ketegasan (meski belum tentu orangtua sepakat anaknya boleh dipukul). Pukulan dan nasehat dari bu Aisyah, dampingan dari sahabat AL, dukungan komite orangtua menjadikan X yang korban bullying dan pelaku bullying dapat menstabilkan kepribadiannya yang semula agresif menjadi lebih matang dan berkembang optimal.

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
Cinta & Love mother's corner Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Surga yang Disegerakan : Belajar dari Kepergian Ananda Rozien

Terbayangkah kehilangan orang yang sangat dicintai : anak, pasangan, orangtua?

Rasanya tak sanggup membayangkan.

Apalagi, bila kehilangan itu begitu tiba-tiba.

Saya ingat, ketika bapak meninggal tahu 1992. Mama begitu tegar mengurusi beliau saat sakitnya, wira wiri ke rumah sakit. Saat itu belum ada ojek online seperti sekarang, jadi mama mengantar bapak ke rumah sakit naik dokar dulu, baru naik bemo. Belum lagi wira wiri RS-rumah. Meski lelah lahir batin ketika bapak wafat, mama tetap merasa kehilangan. Meski sudah menduga bapak akan wafat karena beliau menderita sakit komplikasi, mama tetap terpukul.

Ya, meski bapak sakit lama, ketika beliau wafat, rasa kehilangan tetap sangat menyiksa. Bapak yang sudah sakit lama, yang sudah memberitakan kabar kematiannya jauh-jauh hari, tetap meninggalkan jejak menyakitkan ketika beliau pergi. Apatah lagi kepergian orang –orang tercinta yang mendadak.

 

Pertemuan Tak Dikira

 

Saya mengenal bu Indira tak terduga. Ketika mengisi acara parenting di Ukhuwah Banjarmasin  Sabtu 16 November 2019, esoknya saya dijadwalkan mengisi di Banjarbaru 17 November. Saya dijemput sepasang suami istri yang luar biasa. Kami mengobrol sepanjang jalan dengan hangat dan penuh gurauan.

Lalu tiba-tiba muncul percakapan yang membuat jantung seperti tercerabut dari rongganya.

“Mbak Sinta tahu siswa Husnul Khatimah yang wafat tempo hari?”

Ya, saya ingat.

Beberapa waktu lalu, tersebar kabar demikian ramai di grup whatsapp & telegram (6/7 September 2019), tentang wafatnya seorang santri Husnul Khatimah dengan cara di luar kebiasaan : ia meninggal tertikam seorang preman.

“Itu putra saya,” kata bu Indira.

Rozien, almarhum.png
Almarhum ananda Rozien

Saya nyaris tak bisa berkata-kata. Lutut lemas.

Saya berhadapan dengan seorang ayah dan ibu yang kehilangan anaknya dengan cara tiba-tiba!

Saya harus bilang apa? “Sabar ya.” Alangkah klise kata-kata itu. Bahkan ketika saya berucap “sabar”, belum tentu mampu sabar seperti mereka.

Saya hanya bisa berulang-ulang mengucapkan dzikrullah, terkaget-kaget atas pertemuan serba tak terduga. Dan cerita dari sang ibunda, mengalir demikian indahnya.

 

Ananda yang Luarbiasa

Ia adalah seroang pemuda yang luarbiasa. Menempuh studi di HK karena ingin jadi penghafal Quran. Menjelang kelulusan, ia ingin masuk fakultas kedokteran di luarnegeri. Tak ada firasat apapun ketika umminya di Banjarbaru hari itu ingin menjenguk putranya, Rozien.

Anehnya, Rozien mengatakan hal-hal yang ketika itu terasa biasa saja, namun ketika tiada tampak seperti sebuah isyarat.

“Ummi, hari ini entah mengapa aku bahagia sekali.”

Umminya tentu tak merasa apapun. Hanya saja, wajah Rozien tampak demikian bercahaya dan berseri-seri ketika mereka berkomunikasi via video call.

“Ummi, hari ini aku mau pulang sama Ummi, ya.”

Padahal saat itu belum jadwal libur santri, sang ummi tentu menganggap itu sebagai kelakar.

Rozien syahid insyaallah setelah mengalami luka-luka akibat ditikam senjata tajam oleh seorang preman. Sang ummi yang tegar luar biasa, di hari kematiannya tentu ingin sekali memberikan kabar kepada suaminya, abi Rozien. Qadarullah, abi sedang sibuk sehingga tak terkontak. Pada akhirnya, abi terkontak lewat video call.

“Abi, anak kita…,” kata bu Indira antara sedih dan bingung. “Anak kita sudah tiada.”

Si Abi, yang tak kalah sabarnya berkata : “Ummi , matikan video callnya. Abi akan sholat dulu.”

Abi dan ummi dari Rozien, mendapatkan ujian kesabaran yang langsung ke jantung hati : cepat, tak terduga, tak dapat menawar lagi.

Sang ummi, dengan sangat bijak kemudian berkata pada abi, “Abi nggak perlu ke Jakarta. Rozien akan pulang dengan Ummi. Sebagaimana permintaan Rozien menjelang akhir hayatnya – ‘Rozien ingin pulang bersama ummi –hari ini.’”

Rozien dibawa ke pesantren HK, dan qadarullah, semua santri menyolatkannya tepat jam 3 malam. Hari baik, waktu terbaik. Bahkan yang memandikannya adalah para ustadz-ustadz yang hafidz Quran.

Bunda Indira dan almarhum ananda Rozien.jpg
Beribu pelajaran dari kematian anak sholih : Muhammad Rozien

Surga yang Disegerakan

Quote ini saya ambil dari percakapan dengan  mbak Indira. Sebuah quote yang indah; surga yang dipercepat oleh Allah datangnya. Ia bisa datang lewat tangan orangtua kita yang membutuhkan perawatan, bisa datang lewat orang yang meminta sedekah, bsia datang lewat anak-anak yang membutuhkan uluran tangan dan didikan dari orang tua. Juga bisa datang atas musibah yang tak terduga datangnya.

Bagi orang luar seperti kita, yang tak mengalami pahitnya kehilangan orang yang dicintai, mungkin hanya dapat mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Memeluk saudara kita saat takziyah, mendekapnya erat, membantunya baik materi- non materi. Hati kita ikut merasakan goncangan, hampa, kesedihan dan entahlah lukisan apa yang tergambar di benak dan perasaan.

Namun tetap saja, seberat-berat kesedihan kita; tak ada yang paling berat kecuali yang mengalaminya sendiri.

Saya dikejutkan lagi oleh seorang sahabat, Cahya Naurizza yang kehilangan putranya, Ghaza. Ghaza yang lucu, baru berusia 7 tahun, pergi dengan cara demikian tiba-tiba.

Rasa hati saya sebagai seorang ibu remuk redam, tak bisa membayangkan betapa pedih hati sang bunda. Apapun yang ada di rumah pasti akan mengingatkan pada keberadaan ananda : baju, makanan kesukaan, tempat tidur, sudut-sudut kebersamaan. Meski ikhlas, air mata pastilah tumpah ketika mengenang si buah hati.

Surga yang disegerakan.

Saya tak hendak mengatakan  ‘sabarlah’. Karena kesabaran dalam diri para bunda-bunda luarbiasa ini sudah mencapai implementasi, bukan sekedar teori. Tetapi, segala kepedihan itu selalu selaras dengan hadiah yang disiapkan dengan penuh rahasia. Entah apa rahasia itu. Tapi pasti, sebuah hadiah yang luarbiasa nilainya. Apakah lagi ia  disiapkan oleh Allah  Rabbul Izzati.

Indira & Sinta
Pertemuan tak terduga dengan bu Indira di Banjarmasin & Banjarbaru (dok.pribadi)

Sebetulnya, banyak sekali yang ingin saya tuliskan, utamanya tentang ananda Rozien. Ia adalah permata hati orangtuanya, dan akan selalu demikian. Hanya saja…ah, sulit sekali menuliskannya. Saya butuh upaya dan keberanian untuk menuangkan kalimat demi kalimat; sebab jujur, rasa perih dan kehilangan turut menghantui. Tak terbayangkan bukan, bagaimana sang bunda dan ayahanda menghadapi hari demi hari?

Insyaallah, suatu hari nanti, kita akan bisa membaca kisah Rozien secara lengkap. Ketika hati-hati ini sudah lebih siap untuk menerima kehilangan. Cinta itu memang selalu punya dua sayap; sayap harap dan ragu. Sayap cinta dan luka. Sayap bahagia dan duka.

 

Para bunda sahabat-sahabatku, surga itu telah disegerakan bagimu.

Semoga, hati-hatimu tetap dalam kebahagiaan dan ketenangan dalam bimbingan Ilahi Robbi.

 

#jumatbarakah

#kisahikmah

#anakshalih

#ayahbunda

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Salah Paham dengan Pasangan ( bag. 1)

Pernah nggak sih menangkap pesan yang berbeda dari apa yang dilontarkan suami/istri?

“Adek di rumah ngapain?”

Itu pertanyaan singkat suami ketika sore pulang ke rumah.

Pertanyaan yang membuat airmata meloncat dan menjawab panjang lebar :

marriage-relationships-couple-marriages-married_couple-miscommunication-spelling_error-bwhn1956_low.jpg
Marriage error-relationship

“Aku tuh belum sempat seharian istirahat sama sekali! Cucian baju masih numpuk-numpuk karena beberapa hari banyak acara. Setrikaan gak ada yang urus. Mau ke laundry gak sempat. Belum lagi cucian piring! Kenapa nggak masak? Itu rice cooker bahkan masih direndam! Coba deh, Mas kalau akhir pekan sekali-kali di rumah. Ngerasain apa yang aku rasakan. Jangan main bola, keluar sama teman-teman. Nanti akan merasakan beratnya ngerjakan semua pekerjaan rumah. Enak kalau ke kantor, masih sempat duduk , buka facebook, minum kopi!”

Suami melongo, mencoba sabar. Meski jengkel keluar juga pertanyaan, “kan aku tadi cuma nanya : adek di rumah ngapain? Lha kok…?!”

Setelah mengusap airmata, menarik nafas panjang, menenangkan diri.

Barulah pikiran perempuan bekerja.

Lha iya, sih. Tadi suami kan cuma nanya : di rumah ngapain?

 

Indera dan Persepsi

Panca indera itu pintu masuknya persepsi alias pemikiran, pertimbangan, kesimpulan, sudut pandang, cara pandang. Informasi yang masuk lewat indera akan diolah otak dulu. Kalau otak perempuan lagi capek, ya gitu deh.

Pertanyaan suami : “Adek di rumah lagi ngapain?”

Kedengarannya  : ”adek di rumah ngapain aja sih? Kok seharian urusan ruang tamu sampai dapur gak beres-beres. Di kantorku ada banyak perempuan bekerja yang sambil ngasuh anak, urus suami juga. Mereka bisa tuh bagi waktu. Adek seharian di rumah tapi nggak ada makanan, cucian piring dan baju numpuk nggak karuan.”

Padahal belum tentu ini yang ada di pikiran suami!

Begitupun, suami bisa melakukan kesalahan yang sama.

Ketika istri nanya, “Mas, pegang HPnya masih lama?”

Karena pikiran suami lagi jutek, eneg, empet dengan banyak agenda; jawaban yang keluar adalah : “Aku tuh lagi rapat online, Dek. Aku nggak pernah ganggu lho kalau kamu pegang HP. Aku ngertiin kamu lho kalau kamu lagi buka medsos! Lagian aku nggak sering-sering kayak gini. Lebih seringan kamu!”

conversation false.png
False communication

Nah!

Istri pun senewen.

Nanya 1 kalimat. Jawabannya 5 kalimat! Kalimat negatif lagi.

Kalau soal matematika kayak penjumlahan, perkalian, pangkat , eksponen!

Padahal kalau situasi adem, atau orang luar yang kayak lihat sinetron ini paling-paling bilang : harusnya dijawab gini yaaa, Bapak Ibu Terhormat .

+ Suami : “Adek, di rumah ngapain?”

~ Istri : “Seharian tidur. Aku capek banget beberapa hari ini. Beli makan di luar aja ya. Rasanya badanku udah mulai meriang, panas dingin , mau sakit.”

+Suami (jatuh iba) : “Ya ampun…kamu kasihan banget. Udah kubelikan, mau makan apa?”

Itu bayangan penonton!

Atau seharusnya demikian…

~ Istri : “Mas, pegang HPnya masih lama?”

+Suami : “Bentar lagi. 2 menit lagi. Habis itu kutaruh. Aku juga kangen kamu.”

Jiaaah.

#gombal

 

Tapi begitulah hidup.

Mau tahu gimana mengatasi kendala komunikasi.

couple misunderstanding.jpg
Misunderstanding

Pertama

Penonton selalu lebih pintar dari pemain.

Menilai suami istri yang lagi bertikai lebih mudah, daripada kita menjalani pertengkaran itu sendiri. Ih, harusnya si istri sabar sedikit, kek. Atau : dasar lelaki! Maunya menang sendiri.

Demikianlah yang namanya komunikasi. Pasti ada salah-salahnya. Pasti ada buntu-buntunya. Pasti ada sumbatan-sumbatannya. Dan yang paling bisa melihat korelasi itu semua biasanya penonton. Penonton bisa jadi orangtua, kakak adik, teman, konselor dan seterusnya.

Kenapa penonton lebih  pintar?

Karena melihat gambaran utuh.

Kalau dengar suami istri bertengkar, kita seperti melihat televisi. Tayangan slide maju mundur. Dan kita bisa menilai : Naah, ini ini bagian kalimat yang buat suami tersinggung. Ini bagian gesture suami yang buat istri marah.

Tapi pemain, pelakon? Belum tentu.

Karena dia tidak mendapatkan gambaran utuh informasi.

Makanya jawabannya pun tidak tepat. Nilainya separo/ gak komplit/ malah negatif, alias jawaban yang cacat.

 

Suami : “Adek di rumah ngapain?”

Si istri hanya melihat sekilas bayangan suami yang keningnya berkernyit, dahinya berkerut, wajahnya penuh tanya. Seolah suami mempertanyakan keseluruhan aktivitasnya. Padahal suaminya barangkali sedang menumpahkan perhatian : ngapain aja Say seharian di rumah? Aku ingin tahu aktivitasmu lho selama kutinggal dari pagi sampai sore.

Begitu juga istri ketika bertanya HP.

“Mas, masih lama pegang HP?”

Wajah istri yang bertanya-tanya ingin tahu seolah interview, interpretasi, lebih parah interogasi! Padahal bisa aja sebetulnya –andai dijabarkan- si istri akan menambahkan : “Kalau masih lama ku tinggal dulu aja. Aku ngurusi setrikaan bentar. Nanti kalau udah gak pegang HP, barulah kutemani makan sembari ngobrol-ngobrol.”

 

#senikomunikasi

#pasangan

#suamiistri

Kategori
Cinta & Love mother's corner My family Oase Pernikahan Remaja. Teenager Suami Istri

Pelukan Skin–to-Skin yang Menjadi Obat

 

 

“Ummi, keloni,” rengek si bungsu ketika beberapa waktu lalu sakit.

“Lho, Ummi udah tidur di sampingmu.”

“Tapi belum dikeloni.”

“Ummi sejak tadi tidur di samping kamu, Say.”

“Pokoknya keloni!”

Aku memeluknya dari belakang, merasakan tubuhnya yang panas karena demam tinggi.

Beberapa bulan lalu kami gantian sakit. Dua anakku gejala DB, yang dua lagi flu berat. Disusul suamiku sakit dan yang terakhir  ambruk adalah aku. Emak-emak biasanya terkapar terakhir; ketika semua sudah tumbang, si ibu masih tegar. Giliran yang lain sembuh, tubuhku mulai merasakan sakit.

 

Anehnya, semua anakku yang sudah besar-besar ( 3 sudah kuliah, yang bungsu di SMA) merengek hal yang sama.

“Ummi, keloni…”

Bukannya aku tak mau, tapi bisa dibayangkan repotnya bagaimana! Saat anak sakit; semua butuh dilayani. Makan minum nggak bisa sendiri, otomatis aku suapin. Mandi harus pakai air panas. Bahkan karena sangat lemas, si bungsu pun harus aku mandikan. Makan harus disediakan. Obat harus dituangkan, disuapin. Sedikit-sedikit merengek.

 

Mother and son lay in bed together

“Ummi, sini.”

“Ummi suapin.”

“Ummi temanin.”

Dan yang buat kepala pusing, kalau mereka ingin tidur entah pagi, siang, sore atau malam maka rengekannya adalah, “Ummi…keloni.”

Keloni adalah istilah Jawa. Bukan sekedar berada di samping anak, tetapi menjulurkan tangan memeluk tubuh si anak. Tangan ibu memeluk leher, atau dada, atau pinggang. Pokoknya, posisi anak seperti dipeluk

Awalnya, aku benar-benar jengkel ketika anakku rewel. Apa mereka nggak ngerti? Umminya capek setengah mati! Semua agenda aku tunda. Konsultasi via whatsapp pun harus dijadwal ulang. Cucian baju menumpuk, cucian piring apalagi. Karena khawatir ada gejala typhus, hampir gak ada alat makan yang digunakan bersamaan. Duh, benar-benar hari yang memeras tenaga sampai ke tulang-tulang.

 

 

“Nak, Kamu bisa keloni Ummi?”

Aku tumbang dengan demam lebih dari 39 derajat.

Benar-benar terkapar. Sholat duduk. Obat turun panas biasa tak mempan. Handuk kompresan tak banyak pengaruh. Seluruh persendian ngilu. Kepala sakit luarbiasa, telinga seperti ditusuk. Aku sangat gelisah. Tak ada tempat tidur yang nyaman. Dari kamarku, pindah ke kamar anak-anak. Pindah ke ruang tengah. Pindah ke ruang tamu. Kalau bisa tertidur sekejap, itu sudah sangat lumayan.

Anehnya, aku mulai merengek kepada anak-anak.

“Kalian bisa keloni Ummi?”

Suamiku sudah memelukku, tapi ia juga harus segera berangkat ke kantor. Tinggal anak-anakku. Sejak pagi sampai malam; anakku giliran memelukku. Mengeloni umminya. Tidak cukup hanya ada di sampingku, salah satu anakku harus merangkulkan tangannya ke leherku atau ke pinggangku. Aku harus menggenggam tangan mereka , baru bisa tertidur sesaat.

 

Aku sendiri heran : manjakah aku? Apa karena aku sakit dan selama ini melayani mereka, sekarang seolah aku ganti minta dilayani, diladeni, dimanjakan?

 

 

Obat Kecemasan

Ternyata aku tidak manja, hehehe.

Seorang neurolog pernah memberi nasehat pada seorang klienku yang selalu mengkonsumi obat-obat seperti Sanax dan Alprazolam. Klienku ini memang memiliki riwayat panjang kehidupan yang keras, sekarang sering tak bisa tidur. Apalagi kalau dengar masalah anak-anaknya.

Neurolog tersebut tentu tak ingin meresepkan obat selalu, karena bagaimanapun , ketergantungan itu tak baik. Ada sarannya kepada klienku yang membuatku terkesan.

“Ibu kalau bisa jangan tidur sendiri. Ibu tidurnya ditemani, ya. Sebab, kalau orang sangat pencemas, bahkan waktu tidurpun butuh ditemani.”

Orang pencemas tak bisa tidur tenang. Sebentar-sebentar bangun, oleh mimpi buruk atau oleh kecemasannya sendiri. Ketika ia melihat ada seseorang yang tidur di sampingnya, ia akan berangsur tenang.

 

Panas dan Cemas Bersamaan

Mungkin, itu analogi sakitku.

Saat demamku tinggi, sakitku tak bisa dikatakan rasanya, ada kecemasan luarbiasa yang melanda pikiranku : nanti bagaimana baju kerja suamiku? Bagaimana aku menyiapkan keperluan anak-anakku? Bagaimana klien-klienku? Bagaimana janji-janjiku? Dan kecemasan paling besar yang megnhantui adalah : bagaimana kalau sakitku ini membawaku mati?

Tanpa sadar, sakitku membawa cemas luarbiasa. Meski semua kegiatan sudah diundur, tak dapat dipungkiri, rasa bersalah dan tanggung jawab mengiringi.

Ketika sakitku rasanya sudah tak tertahankan, aku minta suamiku membacakan surat-surat Quran. Matsurot. Anakku menyetelkan rekaman doa matsurot juga saat menemaniku. Dan mereka bergantian memelukku, menciumiku, menggenggam tanganku, menyisiri rambutku. Pendek kata, tubuhku harus dipegang-pegang oleh suami dan anakku.

Maka kemudian perlahan aku bisa tertidur.

Dan seiring kecemasanku menghilang, aku bisa tidur, dan kesehatanku pulih.

Bukan hanya seorang bayi yang butuh pelukan.

Orang dewasa, siapapun dia, ketika sakit fisik dan psikis, ternyata membutuhkan pelukan skin to skin dari orang-orang yang dicintainya.

Aku mulai membiasakan kembali pelukan skin to skin. Ketika anak-anakku pulang dari kampus dan sekolah; entah apa yang mereka alami. Mungkin konflik dengan dosen, teman, atau orang di jalan. Mungkin mengalami bully-ing. Mungkin mengalami frustrasi karena target tak sesuai harapan. Mungkin mengalami kejadian tak mengenakkan sehingga muncul kemarahan dan kecemasan. Biasanya aku cukup cium pipi kanan kiri, sekarang lebih intens. Memeluk, mengusap tangan, menggenggam jemari. Kepada suamiku juga. Siapa tahu, di balik aktivitas sehari-hari yang melenakan, tersembunyi kecemasan yang kronis.

 

Mother and son lay in bed together

https://www.scarymommy.com/lying-down-with-your-kids-until-they-fall-asleep-is-not-bad-habit/

https://muslimdunyaa.com/best-islamic-love-quotes/