Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Artikel/Opini Hobby Kepenulisan KOREA My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Tokoh WRITING. SHARING.

Yiruma 이루마 : Korea bukan hanya K-Pop

Awalnya, mau buat video pendek buat ngisi acara parenting sama mengulas beberapa buku. Biasanya mengulas buku atau membuat uraian parenting dengan tulisan; kali ini agar audience gak bosan, aku coba buat video dengan Kinemaster. Pokoknya harus nyoba buat sendiri, karena kalau nggak nyoba, gak pernah tau salah di mana. Meski jelek, gakpapa. Yang jelek itu bisa diperbaiki. Tapi kalau nol sama sekali, malah gak bisa di upgrade.

Nah, gegara buat video inilah, aku butuh suara-suara latar di belakang. Entah lagu atau instrumentalia. Karena referensiku minim, selama ini tahunya instrumentalia ya model Beethoven, Mozart, atau Canon-D Pachbel. Paling kekinian Ievan Pollka yang lazim digunakan untuk Senam Pinguin.

Siapapun suka Beethoven- Fur Elise dan Mozart – Rondo Alla Turca, especially orang-orang macam diriku yang sudah senior hehehe. Tapi kan, kubuat video itu harapannya biar ditonton segala usia? Utamanya remaja dan young adult, gitu. Kalau ada latar instrumentalianya, ya yang indah dan ringan. Gak sangat spektakuler megah kayak Alla Turca.

Lalu cari-cari, entah gimana sampailah pada Yiruma. Kupikir dia orang Jepang. Namanya Yiruma gitu. Seperti Naruto, Tsubata, Noriko. Gitu-gitulah. Eeeh ternyata 이루마 atau  Yi-Ru- Ma. Marga Korea di depan yang popular adalah Kim dan Lee. Kalau Kim (atau Gim) , gak banyak berubah ketika diromanizasikan. Kalau Lee, itu yang banyak diubah agar mudah.

Aslinya adalah 이atau i. Kalau lidah Indonesia biasa aja bilang ‘i’ , tapi tidak dengan lidah luar negeri. Sehingga awalan 이 (i) dalam 이루마  (I-Ru-Ma) ini seringkali diubah menjadi Lee atau Yi. Jadi, nama asli Yiruma ini sebetulnya adalah I-Ru-Ma.

Kembali ke instrumentalia.

Yiruma ini bikin banyak orang komen di videonya. Ada yang bilang kalau jadi kepingin jadi pianist kayak Yiruma. Ada yang bilang kalau permainan musiknya sangat menyentuh. Ada yang bilang kalau di aitu asli Korea, jangan salah sangka kalau dia orang Jepang, ya! Ada beberapa instrumentalia Yiruma yang aku suka dan sudah (dan akan ) kupakai untuk video-videoku.

Mulai rutin buat video 🙂 Youtube Mendampingi Anak di Era Lokcdown
  1. River Flows in You
  2. Reminiscent
  3. May be, dll

Kalau Kiss  the Rain aku gak terlalu suka. Gegara udah keseringan dipakai buat acara motivasi ya kwkwkwk.

Setelah tau Yiruma ini, aku menyadari bahwa industry music Korea bukan hanya KPop yang banyak mempenetrasi pasar dengan lagu-lagu easy listening. Korea benar-benar menyiapkan sumber daya luarbiasa terkait entertainment, terutama seni musik. Selain menggarap anak-anak muda yang suka KPop, para remaja dan dewasa awal yang suka drakor dan film Korea; ternyata orang-orang serius pun menjadi target sasaran Korea dengan menyuguhkan musik-musik apik seperti karya-karya Yiruma 이루마.

Yiruma in header link

Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

‘Parasite’ Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Film Hobby KOREA Mancanegara Oase RESENSI

Parasite (기생충) pemenang festival Cannes 2019 : Berhati-hatilah Ketika Bicara

 

“Syukurlah, semalam hujan turun.”

Anda pernah mengucapkan ini?

Bukankah itu ucapan yang wajar?

Itulah yang dikatakan Mrs. Park yang cantik dan kayaraya lewat telepon ketika tengah ngobrol bersama temannya. Tetapi, ucapan itulah yang mengubah raut wajah tuan Kim, sopirnya yang baru saja selesai membantu Mrs. Park berbelanja dalam jumlah besar untuk pesta ultah si bungsu, Dasong.

Hujan bagi tuan dan nyonya Park adalah tidur di sofa empuk sembari berpelukan, sembari mengamati si kecil Dasong tidur di tenda yang berada di pekarangan luas nan indah, dari ruang tengah keluarga mereka yang cantik dan nyaman lewat sebuah jendela kaca besar pembatas dinding.

“Tendanya beli di Amerika,” begitu kata nyonya Kim.

Hujan semalam, bagi keluarga sopir Kim, adalah sebuah bencana besar. Hujan dan banjir ini digambarkan demikian  mencengangkan, memilukan, dan tentu saja –merepotkan.

“Hujan membuat air limbah menguap!!” jerit tetangga.

Hujan  membuat rumah petak tuan Kim, yang lebih rendah dari jalan raya, cepat menyapu barang-barang. Di Korea, flat paling bawah yang biasanya hanya mendapatkan sedikit sinar matahari dan seolah berada di bawah tanah, adalah flat berharga paling murah. Hujan membuat tuan Kim meneriaki putranya Ki Woo agar segera menutup jendela kecil rumah mereka agar rumah tidak tenggelam. Hujan membuat Ki Jung, putri tuan Kim harus menekan kuat-kuat tutup kloset, agar kotoran dalam kloset  tidak muncrat kemana-mana. Maklum, banjir akan membuat kloset meluap. Percayalah, melihat Ki Jung/ Jessica berjuang menutup kloset yang terus memuncratkan kotoran hitam keluar tiap kali riak gelombang banjir datang, perasaan kita campur baur antara jijik dan iba.

Situasi banjir di lingkungan kumuh ini demikian mencekam.

Hujan malam itu, membuat seluruh penghuni perkampungan kumuh terpaksa mengungsi.

Mereka tinggal di stadion. Berebut baju bekas dari sumbangan warga sekitar. Di saat yang sama, nyonya Kim tengah memilih-milih baju apa yang akan dikenakan di pestanya, dari ruang khusus miliknya yang menyimpang ratusan baju di almari-almari.

Bagi orang kaya, hujan adalah situasi yang demikian romantic. Bagi orang yang tak punya rumah, itu adalah bencana.

parasite - cannes.jpeg
Parasite, pemenang festival Cannes 2019

Kelebihan Parasite (기생충 : Gisaengchung)

Film ini disutradarai Bong Joon Ho dan ditulis juga olehnya. Sebagaimana film Korea pada umumnya yang gado-gado; film ini begitu kocak, konyol, horror, menyentuh dan juga, lumayan sadis di adegan pembunuhan. Adegan demi adegan kita diajak untuk semakin larut dalam kekonyolan, yang semakin lama semakin mencekam akan rahasia tersembunyi di tengah rumah megah tuan Park.

Korea mendapatkan Palme d’Or untuk tahun ini dan memang, Parasite pantas mendapatkannya. Ada beberapa pesan penting yang disampaikan secara mendalam oleh Bong Joo Ho.

 

  1. Kebohongan akan terus ditutupi oleh kebohongan lain.

Berbohong itu sangat addictive. Buat kecanduan. Awalnya bohong, menipu, memfitnah lalu bertambah serakah. Itulah yang dilakukan keluarga Kim. Kita akan bersimpati pada kehidupan mereka yang sangat miskin, tapi juga miris.

Awalnya Ki Woo/ Kevin berbohong. Lalu ia ingin semakin menipu keluarga Park. Maka ia berbohong demi saudarinya Ki Jung/ Jessica agar bisa diterima sebagai guru privat seni di tengah keluarga Park. Jessica lalu memfitnah supir keluarga itu agar bisa memasukkan ayahnya, tuan Kim sebagai supir. Tuan Kim, Kevin, Jessica akhirnya memfitnah housekeeper keluarga Park yang baik hati, Moon Gwang agar bisa memasukkan ibunya. 4 sekawan ini lalu bahu membahu dalam berbohong dan menipu demi mengeksploitasi keluarga Park.

 

  1. Berhati-hatilah dalam berucap

Kadang, manusia khilaf berkata-kata.

Sebagai orang kaya, tuan dan nyonya Park sebetulnya cukup baik hati. Hanya saja, mereka terbiasa memerintah dan menjadikan kepentingan pribadi mereka jauh lebih penting daripada kepentingan orang lain yang lebih rendah, termasuk pembantu dan sopir mereka.

“Syukurlah, semalam hujan.”

“Baunya tuan Kim, tukang masak dan Jessica sama,” kata Dasong.

“Orang-orang bawah tanah punya bau yang khas.”

“Tuan Kim punya bau, yang bisa menembus kursi sampai tercium dari bangku belakang,” kata tuan Kim kepada istrinya.

Banjir, bau busuk, baju jelek, kurang makan, bertahan hidup dari hari ke hari adalah keseharian manusia miskin yang tinggal di kampung kumuh. Mungkin, awalnya keluarga Kim senang menipu keluarga Park dan mereka berlagak seolah menjadi pemilik rumah megah tersebut. Lama-lama, komentar tuan dan nyonya Park yang sebetulnya biasa saja, menjadi tikaman yang luarbiasa menyakitkan.

parasite - keluarga miskin
Kemiskinan keluarga Kim yang digambarkan sangat apik, sumber Tribunnews

  1. Jangan mudah percaya pada orang lain

Kehidupan orang kelas bawah yang harus bertaham demi sesuap nasi, digambarkan sangat apik. Masyarakat marginal seringkali harus mempergunakan banyak cara agar bisa mendapatkan uang, termasuk berbohong dan menipu. Keluarga Kim digambarkan sebagai keluarga yang kompak dan tough, sebaliknya keluarga Park meski kayaraya sangat rapuh. Mengapa mereka mudah percaya pada  Kevin, Jessica, tuan Kim dan nyonya Kim? Nyonya Kim tidak bisa mengurus rumah dan memasak, sehingga ia harus punya housekeeper. Siapa yang bisa mengerjakan tugas rumah tangganya, akan ia percaya. Dahye dan Dasong punya kesulitan belajar. Nyonya Park tidak bisa mengajari putra putrinya, maka ia sangat membutuhkan guru les yang akan membantunya; itu sebabnya nyonya Park sangat tergantung pada Kevin dan Jessica. Tuan dan Nyonya Park sudah terbiasa dilayani. Hidup tanpa supir sangat tak nyaman. Maka ia sangat percaya pada tuan Kim. Melihat orang miskin mengeksploitasi orangkaya, sungguh sebuah parodi sarkasm. Biasanya orang kaya yang mengeskploitasi orang miskin, kali ini sebaliknya.

Seharusnya, kita tidak mudah percaya omongan, hasutan, fitnah yang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang. Sepertinya bagus buat kepentingan diri kita sendiri, tetapi kenyataannya sebaliknya.

parasite - nyonya Park.jpg
Parasite – Nyonya Park yang cantik dan naif

  1. Hidup tak perlu membuat rencana.

Ini perkataan yang mak jleeeeb bangettt.

Meski saya kurang setuju dengan pendapat tuan Kim.

Saat terkena bencana bajir limbah, tuan Kim, Kevin dan Jessica harus mengungsi dengan ratusan penghuni kumuh lainnya di stadiun.

“Ayah, apa kau punya rencana?” tanya Ki Woo.

“Tidak,” kata tuan Kim.

“Kenapa? Kau bilang, kau selalu punya rencana.”

“Percayalah Nak, hidup itu tidak seharusnya direncanakan. Sebab semua akan meleset dari rencana.”

Ooowwwwh.

Kita boleh tak percaya perkataan ini.

Tapi tuan Kim mengatakan kalimat itu dalam kondisi yang demikian pedih, membuat hati permirsa tercabik. Seolah, bagi orang miskin seperti mereka; tak perlu membuat rencana apapun dalam hidup.

Sebab, seringkali hidup tak terjadwal sesuai rencana.

parasite - kompaknya keluarga kim.jpg
Kompaknya kakak beradik Kim – Parasite

 

 

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Menerbitkan buku Novel Oase Single in Love Sirius Seoul TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

Teknik Menulis Dialog dalam Novel

Pernah membaca sebuah novel yang dialognya terasa kaku? Aneh bin ajaib dan rasanya buat pusing kepala?

Atau pernah membaca novel yang dialognya buat kita tidak mau berhenti membaca? Terasa menyentuh emosi atau bahkan membuat kita meradang?

Berikut beberapa tips singkat membuat dialog yang mengena dan akan membuat cerita mengalir lancar. Meski tema sederhana, ujung cerita bisa ditebak, dialog yang disusun dengan baik akan membuat pembaca tidak bosan menikmati buku. Dan, biasanya pembaca suka melopati deskripsi dan narasi, lho! Malah  penasaran dengan dialog tokoh-tokohnya dan sepanjang membuka ratusan halaman novel, yang dinikmati adalah dialognya!

 

Dialog

Dialog artinya percakapan dua arah. Maksud dua arah ini adalah :

  1. Antara orang dengan orang
  2. Antara orang dengan sekelompok orang
  3. Antara orang dengan dirinya sendiri (monolog)
  4. Antara orang dengan non-manusia (contoh : percakapan imajinatif dengan kucing, hantu, dsb)

 

 

Perlu digarisbawahi oleh pembaca ketika menulis novel. Novel bukanlah :

  1. Drama
  2. Percakapan sehari-hari seperti dunia nyata

 

Mari simak kisah berikut.

 

————————-

Orion bertemu dengan Triton.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Orion.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Triton.

“Apa kabar Triton?” sapa Orion.

“Baik, Om!”

“Kamu tambah gemuk?” canda Orion.

“Om juga tambah bulat!” cetus Triton.

——————————

 

Bagaimana rasanya menikmati dialog di atas? Seperti ada yang terasa kaku, janggal bukan? Lalu, di mana letak kejanggalannya?

Ya. Pada pembuka pertemuan antara Orion dan Triton. Dalam kehidupan sehari-hari, bila kedua orang bertemu, maka bisa jadi apa yang dilakukan Orion dan Triton itu benar. Saling bertukar salam, menyapa dengan keakraban , dan seterusnya. Dalam novel, kita harus bisa memilah dan memilih dengan “rasa” agar dialog-dialog yang muncul tidak semua ditampilkan. Pilih yang paling penting dan mewakili.

 

——————————————

Orion tiba-tiba muncul di depan pintu, selang sehari berikut.

Ia tak mengindahkan larangan Venna.

“Hollaaaa!”

“Om Iooooonnnn!!”

Fera merangkul pinggangnya. Gany bergelayut di belakang leher,  Triton menggelendot di kaki. Rintihan Orion yang mengaduh keberatan tak digubris. Mereka terjerembab ke sofa dan tertawa histeris bersama-sama.

“Om bawa es krim?”

“Bawa susu? Bawa yoghurt?”

“Belikan aku komik?”

“Kalian udah tambah gede-gede, ya!” Orion mengacak rambut semua keponakannya. Mengulurkan es krim ke masing-masing yang disambut dengan tawa riang.

 

————

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh

Apa yang berubah?

Percakapan ala naskah drama dan dunia nyata dihapus, digantikan percakapan imajinatif. Pembaca menikmati potongan dialog dan narasi/deskripsi singkat keadaan. Potongan dialog di atas adalah dialog antara Orion, si om multitalenta dengan tiga keponakannya yang heboh – Fera, Gany dan Triton dalam novel Single in Love yang insyaallah segera terbit Maret 2019 oleh penerbit KMO Indonesia.

 

 

Membuat dialog memang tak mudah. Kadang penulis harus mengedit jeli sebelum diedit ulang oleh editor bertingkat di penerbit, penulis harus re-read naskahnya, bahkan harus bongkar pasang agar dialog terkesan hidup dan ‘nyambung’ dengan keseluruhan cerita, terutama dengan karakter tokoh, deskripsi, narasi dan semua elemen fiksi.

 

Meski tak mudah, bukan berarti membuat dialog yang cantik mustahil dilakukan.

 

Saya pribadi harus mengkonsumi banyak buku, belajar otodidak untuk dapat menyusun dialog yang manis dan renyah untuk dikunyah pembaca. Beberapa buku yang menjadi  referensi untuk menyusun Single in Love, terutama terkait dialognya adalah :

  1. The Vegetarian – Han Kang
  2. Colorless Tsukuru Tazaki – Haruki Murakami
  3. 1Q84 – Haruki Murakami
  4. The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo
  5. 3 Tahun – Anton Chekov
  6. Dll

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di bawah ini adalah contoh beberapa dialog dari novel-novel saya.

 

Contoh dialog dalam novel Sirius Seoul

————–

 

“Aku yang menang,” ujar Yong Hae. “Tapi, kuakui kamu hebat. Setiap pagi kamu lari?”

Sofia tertawa. Ya, dia harus lari-lari kalau tidak ingin terlambat ke Joshi Daigaku dan kembali ke toko bunga. Jarak Fukuoka dan Kitakyushu bukan seperti Hongik ke Yeonhui. Belum lagi, dia harus angkat-angkat barang di Hanaya Florist.

“Apa permintaanmu?” Sofia bertanya. “Akan kutu­ruti asalkan masuk akal.”

“Aku tidak minta yang muluk. Cukuplah kamu me­nepati janji untuk menjaga Ninef.”

“Oke,” Sofia menunduk, memegang lututnya, me­narik napas. Mereka berdua memandang Ninef yang berada di titik seberang. “Aku benar-benar ingin me­naklukannya.”

“Mengapa?”

cover Sirius Seoul

 

Contoh dialog dalam Polaris Fukuoka

 

————–

Fasting, ha?” Nozomi mengangguk. “Di pergantian tahun, kami juga melakukan perenungan diri. Malam hari, tepat jam dua belas, kuil-kuil Buddha akan menggaungkan 108 lonceng, jumlah dosa yang diyakini dilakukan manusia.”

“Seratus delapan dosa?” Sofia mengulang.

“Seratus delapan. Ya.”

“Dalam agamaku, ada dosa-dosa besar. Ada dosa-dosa kecil,” Sofia menjelaskan. “Termasuk dosa besar adalah bila manusia tidak percaya adanya Tuhan.”

“Aku percaya adanya Tuhan,” Nozomi menyela.

“Bagus,” puji Sofia. “Ada dosa besar dalam agama kami yang entah, apakah termasuk dalam 108 dosa yang kamu sebutkan tadi.”

“Apa itu?”

Polaris Fukuoka

Semoga teman-teman bisa sama-sama belajar ya 🙂

Bagi teman-teman yang ingin pesan buku silakan kontak Vidi di 0878-5153-2589 atau Ahmad 0878-5521-6487. Form pengisian bisa di bit.ly/novelsingleinlove atau di bit.ly/SiriusSeoul

 

Terimakasih 🙂

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
Hobby Jepang KOREA Oase WRITING. SHARING.

Kalau Kamu Penggemar Hallyu           

                                                  

Sejak lama, aku mengamati hallyu dengan segala produknya, utamanya drakor dan KPop. Untuk drakor kita bahas next time ya, sebab aku ingin ngebahas KPop.

Aku termasuk cukup lama mengamati KPop, menjadi penggemarnya juga meski mungkin gak fanatic pada satu idol dan bergabung sebagai fans. Sejak  masa TVXQ/ DBSK lanjut ke generasi Wonder Girl, Suju, SNSD hingga kini masa Red Velvet, Twice, G(i)-dle, Momoland dan tentunya, Black Pink. Di rumah, kami membahas seru seputar KPop. Ada yang ngefans MonstaX, EXO, BTS, Seventeen. Wah, kalau di rumah ada yang pro ini, ada yang pro itu. Ada KPop yang jadi kesukaan kami bersama, seperti Akmu atau Akdong Musician. Selain lagunya keren, mereka juga kakak adik. Waktu audisi Akmu; tiga juri dari JYP, YG dan SM yang diwakili Boa sampai terpesona banget.

Kadang si bungsu bilang ketika debat sengit dengan kakak-kakaknya,

“Mbak jangan jadi haters, dong!”

“Aku bukan haters! Aku cuma gak suka!”

Lalu aku tengahi mereka dan mengajak dialog.

“Eh, masing-masing punya bias, gakpapa kan? Ngapain juga kalian ribut.”

Aku suka baca biografi, maka kalau ada buku biografi apapun, insyaallah kubeli. Mulai dari Mahathma Gandi sampai Elon Musk. Mulai Suju sampai BTS.

Buku2 Korea (1).JPG
Koleksi beberapa bukuku tentang Korea

Kalau anak muda lebih gandrung ke idol, mungkin aku lebih ingin lihat kenapa sih mereka bisa setenar itu? Tentu gak lepas dari peran pemerintah dan orang-orang di belakang SM, JYP, YG. Sekarang muncul pula manajemen yang tidak setenar “Big Three” tapi mampu membawa idolnya maju menggebrak. Sebut Big Hit yang menaungi BTS, Dublekick yang menaungi Momoland, Starship menaungi MonstaX dan Cube menaungi G(i)-dle.

 

 

~Suka duka KPop

Membaca berita tentang KPop dan membuka channel youtube-nya, aku dapat rasakan perjuangan para idol. Dapat merasakan suka duka dunia ini, termasuk ketika mereka mendapatkan tekanan dari pelatih, dunia luar, bahkan dari fansnya sendiri atau fans bias yang lain.

Ingatkan waktu Momoland ngehits dengan Boom-Boom? Selain Nancy yang dipuji-puji, ada YooE yang dijelek-jelekkan karena wajahnya yang dianggap gak cantik blas. Padahal bagiku YooE murah senyum dan ceria banget.

Baca BTS, aku ikut merasakan kepedihan Jungkook sebagai maknae yang usia 13 tahun harus pergi dari rumahnya dan menjalani pelatihan. 13 tahun itu kalau anak-anakku masih manja-manjaan sama Abah Umminya. Jungkook sering nangis, untungnya ada RM dan Suga-grandpa yang selalu mendampinginya.

 

Black Pink?

Aku sempat kaget karena formasi ini diisi Lisa dari Thailand.

Baik Jennie, Jisoo, Rose dan Lisa punya kelebihan masing-masing. Tapi tetap saja yang paling berat bebannya adalah Lisa. Dia harus belajar bahasa Korea dari 0, belajar kultur Korea dan bersabar menerima segala kritikan pedas.

Ada yang bilang Lisa bukan cewek asli, ia hanya tersenyum.

Ada yang bilang, Lisa selalu kebagian kostum  paling jelek diantara 3 rekannya, ia hanya tertawa.

Bahkan ada fans non-Lisa yang bagiku sangat keterlaluan : mengatakannya terlalu kurus, gak bakal menjadikannya pacar seumur-umur, dll; tapi Lisa tetap santai.

 

 

~Kelebihan KPop

Tak dapat dipungkiri KPop memang benar-benar mencengangkan. Hallyu jadi mewabah, dan orang berlomba ingin tahu tentang Korea. Orang-orang yang dikategorikan Ahjussi dan Ahjumma macam aku mungkin gak terlalu ngeh dengan KPop. Tapi demam Korea tetap saja terjadi. Itu memang keberhasilan pemerintah Korea membaca misi budaya mereka.

SM.JPG
Kiyowo ya? 🙂

Euny Hong dalam Korean Cool mengatakan bahwa inti dari keberhasilan Korea termasuk hallyu adalah ajaran Konfusianisme . Setiap idol tetap harus mengutamakan keluarga, berbakti pada orangtua, hoobae menghormati sunbae dan yang senior melindungi maknae.

Irene, leader di Red Velvet contoh yang manis terkait leadership.

Ia mengurus paspor teman-temannya, membagikan snack kepada teman-temannya, membetulkan rambut dan pita temannya, bahkan mencari kain untuk menutupi kaki temannya yang “terbuka” saat duduk pada acara show.

Ayah Suga-BTS bilang, “aku nggak tau kenapa banyak yang ngefans anakku. Apanya sih yang bikin dia kelihatan cakep?”

Suga hanya tersenyum malu menanggapi komentar ayahnya dan memberikan hormat kepadanya. Coba kalau kita dibilang gitu sama ayah sendiri, pasti akan ngambek dan bilang, “Ayah malu-maluin sih!”

 

 

~Apakah semua kultur KPop bisa ditiru?

Setiap bangsa punya karakter masing-masing yang harus dipelihara.

Ini kutekankan sekali pada anak-anakku, pada saat aku ngisi acara remaja dan parenting, juga pada tulisan-tulisanku termasuk novelku.

Cover Sirius Seoul dll
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem dengan setting beragam

Korea memelihara han, Jepang memelihara bitoku dan fugen jikkou; maka Indonesia pun harus memelihara karakter bangsanya sendiri.

Prinsip han sesuai dengan bangsa Indonesia, mirip-miriplah dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kita harus kuat menanggung derita, kesulitan, kesusahan, adversity demi mencapai sebuah tujuan besar.

Bitoku dan fugen jikkou pun demikian. Bersenyap-senyap, lalu kumandangkan kemenangan yang spektakuler dan dramatis. Istilah kita, tong kosong nyaring bunyinya. Jangan jadi tong kosong, tapi jadinya orang seperti padi yang punya isi.

Beberapa kultur KPop mulai menuai kritik, bahkan dari fansnya sendiri dan dari masyarakat Korea. Misal, ketika suatu ketika Momoland tampil dengan rok sangat pendek sehingga beberapa personilnya terlihat canggung dan harus berkali-kali membetulkan rok.

Fans nya marah.

“Kami menyukai Momoland karena lagunya yang energik! Bukan karena tampilan sexynya.”

Budaya industri pun mulai menuai kritik keras.

Salah satunya Black Pink.

Apa yang kita sukai dari KPop?

Kesatuan, kekompakan, kerjasama.

Miss A, bubar karena salah satu personilnya, Suzy mendapatkan porsi lebih dalam karirnya dan itu difasilitasi oleh JYP. Suzy main dalan “Dream High” , lalu karienya makin bersinar sendirian. Akibatnya, 3 member yang lain tenggelam lalu menghilang. 4 Minutes pun demikian ketika HyunA bersinar sendirian, lalu member yang lain perlahan lenyap dari peredaran.

Jennie mengeluarkan lagu Solo.

Para netizen bersuara keras dan mulai mengkritik bahwa Black Pink bukan “Jennie and Friends”. Black Pink adalah kekompakan, kerjasama dan harmoni.

Banyak yang menyukai Black Pink, banyak pula yang mengkritiknya. Bukan hanya di Indonesia tapi di seantero dunia termasuk di Korea sendiri. Bagiku itu hal biasa, sebab memang demikian seharusnya selebritas. Ia pasti dipuja dan harus siap menerima kritik.

Sinta di SMTown
Aku di SM Town. Ada foto Suju, Exo dan Shinee

~Mencontoh Idol

Kalau aku menyukai seseorang, aku akan mencoba melihat sisi positif dan mencontohnya. Kalau suka Lisa, cobalah bersikap seperti dirinya yang cool dan tenang.

Ingatkan waktu netizen kompak mencela Jennie karena sikapnya yang kurang sopan kepada Lisa? Waktu ditanya, hadiah ultah apa yang akan diberikan pada Lisa, Jennie bilang, “aku akan menghadiahi tamparan di wajahnya.”

Guyon sih. Tapi tetap saja bagi sebagian orang keterlaluan, apalagi fans Lisa. Tapi Lisa begitu santai dan tidak terpancing.

Contohlah Lisa ketika menerima kritik dan dan serangan ; tetap tenang, tersenyum. Wajarlah bila ada yang tidak menyetujui penampilan Black Pink, sebab itu pun terjadi pada fans Momoland. Jangan mudah marah, berkata kasar, apalagi membabi buta.

Fans justru harus bersikap bijak.

Aku bukan fans fanatic BTS. Tapi ada salah satu idolnya, Namjoon/Rapmon yang sangat fenomenal di dunia psikologi. IQnya 148! Kemampuannya hanya dimiliki 1% orang di seantero dunia. Apa dia sombong? Nggak. Malah dia mencontohkan banyak hal baik : suka baca buku (Haruki Murakami, bo!), ngemong sama anak buahnya, dan selalu dapat diandalkan. Kapan-kapan kutuliskan tentang RM ya.

Pasti idolmu, idol kita, idol siapapun pernah menerima kritik.

Ayo, kita jadi fans yang bijak.

Jangan sampai idol kita justru dianggap sebagai sumber masalah. Kritik mengkritik itu biasa. Tanggapi dengan kepala dingin, bijak dan dewasa. Kalau para idol KPop itu begituserius  menjalankan ajaran Konfusianisme dengan baik, apakah kita nggak ingin menjalankan peri kehidupan bangsa Indonesia yang ramah, santun dan sopan?

 

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase

Sirius Seoul dan pembaca

Senangnya, ketika buku kita terdistribusi ke berbagai segmen pembaca. Semoga Sirius Seoul membawa manfaat luas bagi pembaca di tanah air hingga ke pelosok penjuru dunia 🙂

Kategori
Hikmah Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Buku, Empek-Empek, Bros ~ Kunci Menulis (1) : Konsisten

 

 

Apa persamaan buku, empek-empek dan bros?

Seorang sahabatku, mbak Yulyani namanya, bertahun-tahun membuat empek-empek. Memilih ikan sendiri, menguliti ikan, memisahkan daging ikan dari durinya, menggiling daging lalu dicampur dengan tepung sagu dan bla-bla-bla sampai jadi empek-empek yang menurutku terenak di lidah. Kuah cukonya? Wuah, jangan tanya. Aku kalau beli empek-empek Yenna, mesti beli tambahan kuah cuko. Anak-anakku akan makan kuah itu dengan teman krupuk, pilus, mie, atau apa aja yang bisa dicampur.

Kalau dengar mbak Yulyani cerita tentang empek-empeknya, aku bengong. Kok bisa orang secantik itu betah di dapur?

“Saya memang suka masak, Dek,” itu ungkapnya.

Memangnya orang cantik nggak boleh identik dengan dapur?

Empek-empek.JPG
Keripik ikan endesss punya mbak Yulyani

Pendek kata, bisnis empek-empeknya luarbiasa. Dari bisnis itu sekarang melebar menjadi keripik ikan yang rasanyaaaa…aduh, gak berhenti cheating-day. Bikin gagal diet hahaha. Pokoknya, endesss. Dari bisnis empek-empek ini, beliau merambah usaha yang lain seperti garmen. Apa hubungannya? Konon kabarnya, pengusaha pandai melirik pasar. Jadi, ketika bisnis empek-empek sukses, mbak Yulyani melihat pangsa pasar pakaian yang sangat besar. Branding Carmey-nya melesat. Dan bukan itu aja. Beliau juga motivator andal yang mampu menggerakkan orang. Kalau habis ketemu mbak Yulyani, bawaannya gak betah duduk. Pingin bikin ini, pingin buat itu, pingin jualan ini. Anakku yang pernah ikut pelatihannya bilang,

“Ummi, kata bunda Yulyani, kita boleh jadi apa aja. Mau jadi guru, dosen, pegawai negeri, anggota dewan dan lain-lain, boleh. Tapi semua profesi itu harus diiringi dengan jadi pengusaha. Aku pingin kayak bunda Yulyani.”

Begitu.

Nah, kalau bros?

2007 saat pindah pertama kali ke  Surabaya, aku tahu ada toko pakaian kecil dekat rumah. Namanya daerah Pandugo. Tokonya bernama Ashanty ( ini bukan punya Anang dan istrinya, lho). Pemiliknya, suka membuat handmade bros dan dijual ke teman-temannya. Brosnya cantik, unik dan beda dengan yang lain. Pokoknya gak ada kembarannya, deh! Lambat laun, dari bros ia buat dompet, tutup toples, tempat tissue dan seterusnya. Lalu buka stand kalau ada bazaar.

Terus?

Bros Ashanty.JPG
Cantik-cantik ya?

Nah, karena pesanan makin banyak, akhirnya kulihat toko Ashanty ini buka pengiriman barang : JNE (aku nggak promosi yaaa). Awalnya kecil, dan gak banyak dikenal. Di sekelilin Rungkut ada Pos, Tiki, JNE, Wahana. JNE punya Ashanty semula hanya punya 1 karyawan yang mendobel  sebagai karyawan jaga toko Ashanty butik yang jual pernak perik bros. Lama-lama, nambah 2, 3 karyawan.

Kenapa? Karena JNE Ashanty buka Senin- Minggu. Jam 08.00- 20.00. Jadi fleksibel banget buat emak-emak kayak aku yang kadang ngos-ngosan bagi waktu. Kalau kirim paket buku termasuk novelku yang baru , Sirius Seoul, aku pakai JNE Ashanty selain pos dan wahana, sesuai permintaan pelanggan.

Terus?

Berhubung orang lalu lalang ke JNE dan toko handmade, maka Ashanty gelar lapak di depan toko…lapak kue. Kue-kue titipan orang-orang. Risoles, sus, lumpia, cucur, gethuk,  aneka minuman dan segala macam. Ashanty membidik para orangtua yang pasti, paginya gak sempat masak dan kepingin beli jajan sehat untuk anak-anak yang sekolah.

Sekarang, Ashanty semakin banyak menambah bisnisnya seperti tour and travel dan buka toko kue. Asyik banget ya kalau dengar success story nya? Aku aja ngiler. Padahal siapa yang tahu perjuangan sukses di belakang Ashanty butik.  2007 Ashanty hanya toko kecil. Sekarang, masyaallah…

 

Kunci Menulis (1) : Konsisten

Aku lihat, mbak Yulyani dan toko butik Ashanty punya ciri mirip dengan penulis :

konsistensi.

Orang mungkin akan nanya-nanya kalau buat empek-mepek atau bros : emang laku?

Nanti kalau jual ada yang mau? Kalau nggak laku, malu banget kali ya? Trus modalnya gak balik? Trus kalau ketahuan tetangga sama teman…alamak, mau ditaruh di mana mukaku? Apalagi kalau orang cuma nanya, gak jadi beli. Mending nanya, ini mah cuma melengos. Bla bla bla. Banyaklah alasan kita.

 

Mbak Yulyani dengan empek-empek Yenna dan toko Ashanty mengajarkan pada kita bahwa konsisten melakukan sesuatu, insyaallah akan berbuah positif di tahun ke-3, 5 dan seterusnya. Di tahun ke-10 dan seterusnya, semakin membuahkan hasil.

Begitupun menulis.

Ketika konsisten menulis 1 halaman, 2 halaman, 3 halaman maka akan selesai 100 halaman. Dari 1 buku antologi menjadi 2, 3, 4 buku antologi. Pada akhirnya akan menjadi buku solo dan seterusnya. Kapan menikmati hasil royalty dan honor dimuat di media? Mungkin di tahun ke-3, 5 atau 10.

Konsisten berjalin kuat dengan kesabaran.

“Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu, “ Al Baqarah  (2) : 45

Ayat ini benar banget!

Kalau nggak sabar dalam menjalani sesuatu,maka nggak akan ada hasilnya. Nggak akan ada buahnya. Nggak akan ada nikmatnya.

Cover Sirius Seoul dll.jpg
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem

Koreografer Korea yang menyiapkan penari untuk penari latar boyband atau girlband, melatih trainee secara konsisten bisa sampai 20 jam sehari. Mbak Yulyani, konsisten mencoba membuat keripik ikan sampai habis 200 kg tepung! Dan akhirnya beliau menemukan resep yang ciamik banget.

Kamu mau jadi pengusaha dan pebisnis seperti mbak Yulyani atau toko Ashanty, atau jadi penulis dunia seperti Najib Mahfudz dan JK Rowling?

Konsisten adalah salah satu kuncinya.

Mbak Yulyani pernah memberiku nasehat, “kalau usaha baru sedikit, baru sebentar, sudah menyerah dan mau pindah ke bidang lain; kapan menuai hasil?”

Iya, juga. Jualan kue, 2 minggu udah capek dan malu. Ganti jualan minuman. 1 minggu gak ada hasil, pindah percetakan. Sebulan gak ada hasil, pindah ke tour travel. Kapan bisnis itu diberikan kesempatan merangkak, berdiri, berlari kalau kita sendiri gak mau menyirami?

Penulis pun demikian. Buat 1, 2, 3 cerpen dan dikirim ke media, ditolak; sudah bilang ,” kayaknya aku nggak bakat.”

Buat 1 novel, terbit, pasar nggak merespon bagus, udah mundur, “kayaknya menulis bukan duniaku.”

Lalu kapan tulisan-tulisan kita bisa terasah semakin bagus, memikat, mempesona dan mencerahkan kalau penulisnya tak ingin konsisten dalam kesabaran?

Keabaran itu bukan hanya ketika mengumpulkan niat, menyelesaikan tahap satu sampai tahap tuntas pekerjaan tersebut, tetapi juga sabar ketika orang tak satupun menoleh ke arah karya yang sudah kita torehkan susah payah. Mbak Yulyani dan butik Ashanty sudah menjalani itu semua. Kamu dan aku mau nggak jadi orang konsisten yang akan menuai hasil memadai di satu waktu?

 

#siriusseoul  #polarisfukuoka #kitakyushu #jepang #korea #novel #remaja #friendship #lovestory

#adventure

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Hikmah Karyaku KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Sirius Seoul Suami Istri

Cinta : sejati, selingkuh, sejenis.

Lagu cinta apa yang paling kamu suka?

Waktu masih zaman SMP SMA dulu, aku paling suka lagu Nikka Costa.

nikka costa
Nikka Costa

It’s my first love

Seems that I am too young

He doesn’t even know

Wish that I could show him what I’m feeling

 

Mengingat cinta, seperti membuat rasa penuh bunga bermekaran. Udara semerbak, bulan bersinar terang, semua orang tersenyum. Manusia bergerak dalam slow motion. Persis seperti ketika Pia jatuh cinta pada Rancho di 3 Idiots! Geli-geli sendiri bila ingat kita pernah jatuh cinta dengan teman sekelas, kakak kelas, teman lain fakultas atau bahkan yang usianya jauh lebih tua : asisten dosen atau guru/dosen!

Para filsuf punya sejuta kata-kata sihir untuk menggambarkan cinta.

“Yang jatuh cinta, tidak akan merasakan gravitasi,” kata Einstein.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,” kata Sapardi Djoko Damono.

Ribuan kata mutiara menjadi penghias buku harian, catatan sekolah, diktat kuliah, quote manis yang diunggah ke media social sembari membuat versi pic-art nya. Setiap kali membayangkan wajah orang yang membuat hati berdesir, rasanya dunia dipenuhi mimpi indah. Duh, kapan ketemu dia, ya? Duh, andaikan bisa ketemu sebentar, berduaan sebentaaar aja. Kalau boleh waktu berhenti sesaat ketika ada kesempatan berdua dengannya.

70808107-with-love-black-silhouette-vector-hand-drawn-illustration
With love

Cinta, dianalogikan seperti coklat. Legit, manis, lezat, memikat. Kata cinta, memunculkan satu persepsi yang sama di benak hampir setiap orang : gambar jantung hati.

Begitu banyak kisah di dunia ini yang menggambarkan kekuatan cinta. Nabi Ibrahim as sukses karena cinta Sarah dan Hajar. Nabi Muhammad Saw sukses karena cinta Khadijah ra. Buya Hamka sukses karena dukungan Siti Raham.  Einstein sukses karena didampingi Mileva Maric. Mahathma Gandhi sukses karena dukungan Kasturbai. BJ Habibie sukses karena dukungan luarbiasa dari bunda Ainun.

Pertanyaannya : apakah cinta yang demikian indah itu, merupakan anugerah atau ujian?

 

Cinta : awalnya anugerah

Bayangkan dunia tanpa cinta!

Tidak ada anak-anak, tidak ada keindahan, tidak ada produk-produk ekonomi, tidak ada kegairahan hidup.

Konon, ekonomi digerakkan karena cinta. Lho, ini bukan sok filosofis. Segala produk yang bersumber dari ‘cinta’ menuai untung : film, musik, makanan, kosmetik, otomotif, elektronik, pariwisata dll. Film romance disukai. Music yang mengandung unsur cinta, digandrungi. Makanan seperti coklat, meraup profit luarbiasa. Café-café yang menawarkan sudut romantisme, laku keras. Kosmetik yang menjanjikan perempuan/ lelaki akan lebih dicintai karena fisik yang makin menarik; laku keras. Otomotif yang menggambarkan mobil bisa dikendarai berdua, atau bisa dikendarai sekeluarga; laris manis. Elektronik yang bisa memudahkan seseorang menghubungi kekasihnya di seberang sana, terjual habis.

 

Konon kabarnya, cinta itu dari Tuhan.

Sementara, kebencian dari setan.

Jadi, segala sesuatu yang menimbulkan rasa cinta, berawal dari Tuhan. Cinta pada orangtua, cinta pada pasangan jiwa, cinta pada anak-anak, cinta pada sesama manusia dan seterusnya. Kebencian adalah perwujudan dari nafsu syaithoni, sehingga kebencian pada manusia adalah wujud terkutuk.

Kalau cinta dari Tuhan, apakah semua bentuk cinta merupakan pesan Ilahiyah?

Bagaimana jika manusia merasakan cinta –yang konon dititipkan olehNya- dan cinta itu tertuju pada subyek-subyek yang bertentangan dengan garis hukumNya? Apakah itu anugerah, ujian; ataukah kita salah memaknai salah satunya?

7070 love cats-800x800.jpg
Love

Misal, jatuh cinta pada suami/ istri orang.

Bukankah manusia tak bisa merekayasa hati, sehingga bisa punya kecenderungan sesuai pilihan benaknya? Lalu salah siapa ketika tiba-tiba seorang manusia jatuh cinta pada orang lain sementara dirinya sudah terikat janji, dan orang yang membuatnya jatuh hati juga telah terikat sumpah setia?

Bagaimana pula, bila manusia jatuh cinta pada sosok seperti : saudara kandung ( insest), anak kecil (pedofil) , cinta kepada rekan sesama jenis (homo/lesbi), tokoh anime, idol, dll ?

 

Nasihat Victor Frankl

Si penemu logoterapi yang menerbitkan karya legendaris Man’s Search for Meaning mengatakan: patung Liberty di pesisir Timur Amerika harusnya dilengkapi dengan patung Responsibility di pesisir Barat.

Ya, seringkali manusia yang dianugerahkan fisik, ruh dan akal sempurna tidak siap untuk membangun patung Responsibility.

Siapkah kalau berselingkuh dan merebut pasangan orang lain? Siapkah dengan pasangan yang kecewa dan anak-anak yang berantakan; serta kelak, teman selingkuhan itu berpotensi akan berselingkuh pula dengan orang lain? Belum lagi cibiran social dan banyak hukuman social yang harus dipikul. Yang dibayangkan adalah indahnya cinta bersama orang yang tengah menjadi tambatan hati.

Siapkah menikah dengan Idol yang super ganteng atau super cantik?

Hal-hal yang dilakukan sasaeng terhadap idol K-pop mereka terkadang sungguh di luar batas. Cinta seorang fan kepada Taecyeon (2 PM), Baekhyun (EXO), Jonghyun (CNBlue), Taeyang & G-Dragon (Bigbang); perlu direnungkan. Sasaeng rela melukai diri dan menuliskan surat menggunakan darah haidh kepada sosok yang sangat digandrungi dan dicintai.  Apakah ketika pada akhirnya bisa berpacaran dan menikah dengan Taeyang atau G-Dragon; maka kebahagiaan akan menaungi? Bagaimana pula jika jatuh cinta pada salah satu tokoh anime seperti Kamen Rider, atau pemerannya, Satou Takeru? Tokoh-tokoh rekaan penulis cerita yang tidak ada di dunia nyata dan diharapkan benar-benar ada di dunia nyata.

Demikian pula, cinta yang dianggap sebagai preferensi seksual seperti cinta pada anak kecil, cinta pada saudara kandung dan cinta pada sesama jenis. Benarkah patung Responsibility sudah kita bangun, berdampingan dengan patung Liberty?

 

Cinta : Anugerah sekaligus Ujian

Cinta pada uang wajar, namanya manusia. Itu anugerah. Dengan cinta pada uang, maka manusia giat bekerja dan hal itu menimbulkan perputaran roda ekonomi dan gairahnya kehidupan seantero dunia mulai kehidupan rumah tangga hingga kehidupan bernegara.

Cinta yang di luar batas, itu yang harus dikendalikan dengan patung Responsibility. Kalau cinta terlalu hebat pada uang hingga menabrak batas haram  apakah sudah siap dengan Responsibility? Yang penting cinta uang, dapat uang, pakai uang. Padahal, Resposibility yang harus ditanggung adalah : kehidupan tidak berkah, pasangan yang tidak setia, anak-anak yang pembangkang, rumah yang tidak nyaman ditinggali, mobil yang selalu sial, teman-teman yang oportunis dst. Saat manusia mencintai uang berlebihan; ia inginnya tetap bebas merdeka memilih semuanya termasuk : dapat pasangan baik, anak-anak  penurut dan berprestasi, hidup tanpa kendala.

Tidak ada manusia yang berkata.

“Aku milih cinta uang saja. Nggak papa pasangan nggak setia, anakku jadi amburadul, temanku pengkhianat semua. Yang penting duitku banyak.”

Nggak, kan?

Manusia ingin semua.

Liberty ya iya, Responsibility-nya tidak dikalkulasi.

Cinta pun demikian.

Cinta yang sah, antara suami istri pun adalah anugerah, pada awalnya.

Tapi kalau suami atau istri tidak bisa membangun patung Responsibility, bagaimana jadinya? Hanya cinta saja, tidak diikuti komitmen. Seperti salah satu skala dari 8 skala Zick Rubin tentang macam-macam pola cinta. Cinta yang hanya cinta melulu tanpa komitmen, tanpa punya visi misi, hanya akan nabrak sana sini. Istri yang cinta setengah mati sama suaminya, bisa jadi obsessive luarbiasa. Suaminya nggak boleh kemana-mana, nggak boleh reuni, nggak boleh meeting di luar kota. Pun nggak boleh mengunjungi orangtua, nggak boleh lagi dekat sama kakak adiknya, nggak boleh puunya hobi, nggak boleh senang-senang sendiri.

Cinta pada uang, pada jabatan, pada kedudukan, pada suami atau istri, pada anak-anak awalnya merupakan anugerah. Tapi bila manusia tidak bisa mengelolanya dengan baik; akan menjadi fitnah.

Bila Liberty tidak dibarengi Responsibility, manusia hanya mau memilih hal yang mudah, enak, memikat, tanpa mau menimbang bahwa semua punya tanggung jawab. Konsekuensi. Perhitungan.

 

Cinta yang Perlu Dipertimbangkan

Cinta pada suami atau istri orang.

Cinta pada teman sejenis.

Cinta pada anak di bawah umur.

Awalnya, mungkin anugerah.

Ah, cinta dan sayang pada suami/istri orang, awalnya karena rekan bisnis. Bukankah mencintai saudara itu ajaran agama yang mulia? Bukankah memberi perhatian & hadiah, adalah bagian dari persahabatan?  Bukankah kata Rasulullas Saw : tahaddu tahabbu, memberi hadiahlah agar kalian saling mencintai?

Lalu suami atau istri orang yang tadinya hanya sahabat, tempat berkonsultasi, rekan bisnis, rekan organisasi, rekan sejawat lama-lama menjadi rekan sehati. Pertimbangkanlah, bahwa Tuhan Maha Melihat.

Maha Menghitung.

“Aku jatuh cinta pada teman sekelasku di kelas Magister. Ia begitu pintar dan mempesona. Aku telah punya istri dan anak-anak. Tetapi bayangan temanku yang memikat, begitu mendominasi. Aku sering menangis di masjid, sembari membaca Quran. Ya Allah…aku nggak mau ini. Kenapa hatiku tergoda untuk berselingkuh?

Aku tahu hatiku sakit. Karena kutahu istriku demikian baik. Maka aku rajin ke masjid, baca Quran dan kuminta teman-teman menasehatiku. Lambat laun hatiku menjadi netral. Tiap kali melihat temanku di kelas Magister, aku merasa bersalah. Aku menyayanginya dan menghormatinya sebagai teman sekarang. Betapa, beruntungnya aku punya istri yang setia melayaniku di rumah.”

Demikianlah pengakuan seorang lelaki.

Cinta pada teman sejenis.

Ah, bukankah ini boleh?

Ia yang merupakan teman, sahabat, sosok yang selalu ada ketika kita sekolah dan kuliah. Ketika kerja. Ia yang sigap mendengarkan keluh kesah. Ia yang tidak pernah mematikan koneksi internet dan mau jam berapapun dianggu. Ia bahkan rela menyisihkan uangnya demi kepentingan kita. Tidakkah sahabat semacam ini adalah belahan jiwa yang sesungguhnya?

Mencintai teman sejenis, sungguh tidak terlarang, ketika masih dalam batas persahabatan. Tetapi ketika melampaui batas persahabatan, tidakkah perlu mengobati hati kita yang tengah terluka itu seperti sosok lelaki si pembaca Quran di masjid dalam kisah di atas?

“Aku selalu jatuh cinta pada perempuan, meski aku juga perempuan. Tetapi ketika aku berjilbab, aku belajar agama, aku tahu Tuhan melarangku dmeikian. Aku menangis. Hatiku sakit. Aku jatuh cinta pada sahabatku. Dan apapun bisa kulakukan, kalau mau. Ya siapa yang mencurigai dua anak gadis yang tinggal satu kamar? Orang lebih curiga cowok cewek tinggal seatap.

Tetapi, aku rasa Tuhan tidak mengizinkan ini.

Maka aku berjuang setengah mati mencoba mencintai lelaki.

Aku maskulin, maka aku mencoba lebih feminine. Dan aku mencoba untuk memikirkan lelaki, jatuh cinta pada lelaki dan membayangkan kelak suamiku lelaki. Ternyata kau bisa jatuh cinta pada seorang lelaki temanku! Horeee! Alhamdulillah. Aku nggak mau pacaran, tetapi hatiku bahagia. Ternyata aku pun bisa jatuh cinta pada lawan jenis.

Semua tergantung bagaimana cara kita mengelola hati.”

 

Cinta, ah…

Aku yakin, kita semua pernah mengalami cinta rahasia.

Cinta yang tidak seorangpun boleh tahu. Hanya antara diri kita dan Tuhan saja.

Entah itu jatuh cinta pada teman sekelas, pada kakak kelas, pada pacar orang lain, pada tunangan orang lain, pada pasangan hidup orang lain. Pada anime, idol, atau sahabat sejenis. Perempuan dan perempuan, lelaki dan lelaki.

Cinta itu indah, apapun bentuknya.

Cinta itu pada akhirnya akan membuat ketagihan, ingin memiliki (dalam kadar tertentu menjadi obsessive), ingin mencicipi, ingin bersama berdekatan dan seterusnya dan seterusnya. Sebagai manusia dewasa kita dapat mengkhayalkan, bahwa bagian dari cinta adalah eros. Nafsu. Itulah bagian dari cinta. Bila nafsu ini tidak dikendalikan, ia bagaikan naga dengan mulut api yang akan menghanguskan segala.

Jatuh  cinta pada pasangan orang, perlu dikendalikan agar kita tidak hanya mencecap Liberty dan tunggang langgang dari Responsibility.

Jatuh cinta pada Idol, K-Pop, tokokh anime; harus segera dikendalikan agar diri  bisa segera berpihak pada realita. Sejelek-jeleknya pasangan hidup, masih lebih mending yang real daripada yang imajinatif.

Jatuh cinta pada rekan sejenis, perlu dipertimbangkan. Ditelaah, direnungkan. Diluruskan. Meski DSM V sudah tidak mencantumkan cinta sejenis sebagai bagian dari disorder.

Siapkah kita membangun patung Responsibility menghadapi segala kendala kehidupan, ketika memilih cinta yang tidak biasa? Celaan manusia, hinaan orang, hukuman social, tidak berarti apa-apa. Tetapi manusia tak akan sanggup menghadapi keputusanNya.

Seorang kiai berkata kepada santrinya.

“Hati-hati ya, Nduk, Le, ketika berbuat dosa. Segera mohon ampun. Nanti kamu nggak kuat bayarnya.”

Medengar nasehat itu, hatiku tercabik.

Kita bukan orang suci.

Hanya Nabi yang ma’shum.

Kita juga tidak berhak menghakimi dan melabeli orang, kecuali memang ia memiliki keahlian sebagai halim peradilan,hakim agama atau professional di bidang keilmuan yang terkait. Tetapi perkataan pak Kiai itu patut direnungkan. Perkataan yang sama dengan nasehat Victor Frankl.

Ketika kita melakukan satu tindakan Liberty, kuatkan membayar Responsibility nya?

———————

Tentang cinta sejenis, kutuliskan dalam novel Lafaz Cinta dan Seksologi Pernikahan Islami. Cinta romansa dengan setting Korea dan K-Pop kutuliskan dalam Sirius Seoul.

 

 

 

 

Kategori
Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase

Sirius Seoul: Nol & Zero, bag. 3

 

Mari, lakukan pendekatan kepada Paman. Harus berbaik-baik dengan beliau untuk mendapatkan izin secara mulus pergi ke negeri tetangga.

Kadang, Sofia ingin menggoda Paman dan menanya­kan apakah tidak ada yang menyibukkan dirinya selain pekerjaan? Pada Sabtu dan Minggu pun, Paman masih bekerja.

“Om Hanif harus jaga kondisi,” Sofia berlagak manis suatu ketika. “Sekali-sekali istirahat, enggak akan rugi, kan? Om menghabiskan waktu dengan kerja, kerja, kerja. Enggak capek, apa?”

“Enggak. Biasa aja.”

“Tapi, yang lihat, capek, Om,” Sofia manyun.

“Kamu yang capek?”

“Begitulah.”

“Kamu capek emang ngapain aja? Cuma kuliah, jaga toko. Main akhir pekan.”

“Cumaaa …?”

“Om dulu seusia kamu merintis bisnis sambil kuliah. Sampai tidur di meja dapurnya orang, saking capeknya. Makan sering kali nunggu sisa restoran, biar irit. Kamu gitu juga?”

“Enggak, sih ….”

“Jadi, jangan cepat ngeluh capek. Pengorbananmu belum apa-apanya.”

Hadeh.

Jangan bicara masalah pengorbanan dan rasa le­lah dengan Paman. Omelannya bisa sampai satu mega giga terabyte. Paman sebetulnya bukan makhluk tanpa perasaan seperti para elf alias peri yang hidup di negeri dongeng.

“Om kerja keras pengin menyenangkan nenek kamu,” ujar Paman tanpa maksud menyombongkan.

Nah, ini yang membuat Sofia melting.

“Memang, Om mau ngasih apa ke Nenek?” Sofia ingin tahu.

“Pengin ngajak Nenek ke sini. Tinggal di sini.”

“Tante Nanda pasti enggak boleh.”

“Om tahu,” Paman mengaku, “pasti si Nanda enggak bakal mengizinkan. Yah, Om pengin ajak nenek kamu naik haji. Om kerja keras biar Nenek bisa segera haji. Yang terdekat, Om ingin ngajak nenekmu umrah sambil jalan-jalan ke Turki.”

Sugoi! Om keren. Nenek punya tabungan, kok, Om.”

“Maksudmu?”

“Ya, aku cuma mau bilang kalau Nenek punya tabungan.”

“Kok, kamu tahu?”

“Nenek sering ngajari aku sebagai anak gadis harus rajin nabung. Zaman old dulu, waktu bank belum seperti sekarang; anak gadis suka nabung dengan cara beli perhiasan. Beli cincin, anting, liontin. Gitu-gitulah. Kata Nenek itu buat tabungan.”

Ha, jadi enggak boros kayak kamu, ya?”

“Bukan begitu!” Sofia sewot. “Nenek itu rajin nabung. Uang yang dikirim Om sama yang dikasih Tante Nanda, biasanya disimpan. Hanya sebagian buat keperlu­an sehari-hari. Buat Nenek reuni sama teman-temannya, jalan ke mana. Selebihnya, ditabung.”

“Ya, sudah. Berarti bagus itu, Nenek banyak tabungannya.”

“Artinya, cukuplah kalau buat Nenek jalan ke Jepun sini atau buat ongkos umrah.”

“Jadi?”

“Ya, Om enggak usah memforsir diri.”

Ha, balik lagi ke situ?”

“… yyya, maksudku, Om harus jaga kondisi, gitu, lho!”

“Perhatian banget kamu.”

“Ya, iyalah,” Sofia menepuk dada. “Makanya, Om segera punya istri, biar ada yang tambah perhatian.”

Paman terkekeh.

Sampai di sini, Sofia sering tergelitik untuk menanyakan tentang Gyeong Hui dan Ninef, orang-orang pada masa lalu yang pernah memiliki tempat khusus dalam kehidupan Paman.

“Om enggak pengin nikah?”

“Nantilah kalau Nenek sudah haji.”

“Yah, sudah lumutan, Om. Sudah jadi prasasti. Fo­sil!” Sofia mengejek. “Habis umrah aja.”

“Lagian, siapa yang mau sama Om?” Paman meren­dah di hadapannya.

Sofia mengamati sang paman.

Paman memang tidak seperti anak belasan tahun yang masih segar bugar. Namun, bukan berarti kehilangan pesona sama sekali.

“Ngapain kamu lihat-lihat Om?” Paman menegur.

Sofia tergelak, “Om masih ganteng. Gabungan Satou Takeru dan Gong Yoo.”

Hahaha!” Paman tergelak.

“Ya, hanya perlu dihilangkan double chin sama sedikit buncit di perut. Selebihnya, masih oke. Paman masih pantas melamar anak orang.”

Kalau sudah di titik ini, Paman biasanya tidak berlama-lama.

“Sudahlah, Om lagi banyak urusan. Kerjaan. Kamu juga harus jadi seperti nenekmu. Apa nasihat Nenek tadi? Anak gadis harus banyak nabung emas, buat ke­pentingan masa depan. Jangan habis buat shopping dan nonton melulu.”

Belum jadi tua seperti Nenek, rasanya kulit menyusut mengerut seperti nenek-nenek.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol

*****

Gong Yoo , Satou Takeru 

gong yoosatou takeru

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero bag. 2

 

Sofia mengunyah perlahan telur scrambled yang dicampur beragam sayuran. Dia harus bersegera menye­lesaikan makan siang bila tidak ingin kehilangan waktu shalat zuhur. Jie Eun masih setia dengan makan siang yang membuatnya tidak berlemak: dada ayam, irisan timun, rebusan sejenis ubi. Entah mengapa, dia yang terlihat paling lahap menghabiskan makan siang.

“Aku sebenarnya ingin mengambil beberapa program. Kita ada pelatihan untuk menjadi guru pada musim panas,” Sofia menjelaskan. “Juga, relawan untuk Festival Hua Fu di departemen anak.”

Natsuyasumi atau musim panas adalah masa liburan panjang. Banyak mahasiswa memanfaatkan masa ba­hagia ini justru dengan mengambil pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan kampus, atau diadakan oleh kakak-kakak tingkat yang telah lulus untuk merekrut adik-adik tingkat menjadi karyawan di berbagai instansi kelak.

Masa ini juga masa paling tepat bagi para mahasiswa yang hidup di perantauan untuk bekerja arubaito atau paruh waktu. Karena liburan resmi, bahkan instansi pemerintah pun bersedia merekrut pegawai berstatus gakusei atau mahasiswa. Mahasiswa asing sekalipun.

Jeda perkuliahan juga menjadi waktu paling tepat untuk mendapatkan relawan bagi kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan begitu musim panas usai. Rata-rata, perkuliahan dimulai pada musim semi April, terpotong musim panas, aktif kembali pada musim gugur yang sering kali ditandai dengan banyaknya matsuri atau festival. Festival-festival bukan hanya diselenggarakan di setiap prefektur yang memelihara cita rasa tradisional berusia ribuan tahun, tetapi juga di kampus-kampus demi mengusung nilai-nilai unik yang ditawarkan civitas academica.

Rancangan Hanaya Florist
Rancangan Hanaya Florist

“Kamu ingin mendaftar sebagai relawan?” Rei men­delik.

“Kupikir, bekerja di belahan bumi mana pun masih lebih menarik daripada berada di toko bunga pamanku,” Sofia terkekeh.

Hm, sepertinya aku mau arubaito di toko pamanmu,” Rei menggumam.

“Wah, itu bagus!” seru Sofia. “Percayalah, pamanku seperti malaikat bagi karyawannya. Dia hanya berbeda perlakuan terhadapku. Mungkin karena aku bandel.”

Rei dan Umeko tertawa.

“Tapi,” Sofia memandang makan siangnya yang mulai dingin, “memikirkan musim panas diisi dengan bekerja, training, menjadi relawan; rasanya aku lekas menua. Apakah tidak bisa kita liburan seutuhnya?”

Jie Eun yang sedari tadi hanya mengamati mulai angkat suara.

“Kalian tidak ingin ke Korea sesekali? Dekat, kan, dari sini?” Jie Eun bertanya ringan.

Ungkapan Jie Eun membuat ketiga temannya menghentikan aktivitas seketika. Ya. Mengapa tidak? Bukankah Korea hanya sedikit di atas Fukuoka? Pasti menyenangkan bisa melihat belahan lain dari dunia se­

lain Joshi Daigaku, apartemen, dan toko bunga. Ups, pasti menyenangkan sejenak menjauh dari tekanan Paman.

“Kalian bisa ke SM Town, pergi ke teater, atau ke Pulau Jeju.”

“Maksudmu, SM Entertaintment?” Sofia menahanna­pas. “Suju, TVXQ, Bigbang, EXO, BTS, SNSD, Blackpink, Red Velvet?”

“Bigbang bukan SM, Sofia.”

Whatever,” Sofia menepuk-nepuk mulut, tanda kelepasan bicara, “maksudmu, kita bisa ke sana dan berfoto, beli barang keren di flagship stores?”

“Kalau tujuanmu belanja barang, bisa kuantar ke toko Line di Itaewon,” Jie Eun tertawa. “Tapi, pastikan apa tujuanmu ke Korea.”

Rei dan Umeko berpandangan. Sofia memandang Jie Eun bergairah.

“Aku rasa, penawaranmu membuatku semangat menghabiskan makanan.”

cover Sirius Seoul
Masukkan keterangan

“Kalian bisa tinggal di rumahku,” Jie Eun menawar­kan. “Bukan rumah mewah, tapi kurasa cukup menyenangkan untuk menghabiskan musim panas. Kita bisa bersepeda di sepanjang Sungai Han, menikmati makanan khas yang terkenal seperti bulgogi dan bibimbap. Menon­ton konser. Kalau kalian suka, kita bisa melihat titik perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu mengasyikkan untuk penyuka sejarah seperti Sofia.”

Kotak makan Sofia segera tandas.

“Aku harus segera shalat. Jie Eun, kamsahamnida. Aku rasa, aku ingin sekali menghabiskan liburanku di negerimu.”

“Suatu kehormatan bagiku memperkenalkan Korea kepada kalian,” Jie Eun tersenyum manis.

Rei dan Umeko melempar pandang sembari tertawa riang.

Ajakan Jie Eun yang tampaknya hanya sekadar per­cakapan sekilas, membuat suasana siang hari itu terasa dipenuhi pelangi.

 

*****

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling WRITING. SHARING.

Seperti apa sosok Sofia di novel Sirius Seoul?

 

 

Aku teringat sepenggal percakapanku dengan Profesor Robin Kirk, pakar cerita anak yang juga ikut residensi penulis di Seoul Juli 2018 tempo hari.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ketika menulis novel untuk remaja, terlebih settingnya Jepang dan Korea?”

cover Sirius Seoul
Cover Sirius Seoul. Cantik , ya? 🙂

Kuceritakan bahwa anak muda Indonesia  menggemari Jepang dan Korea. Film-filmnya, animasi, komik, drama, musik, kuliner dan seterusnya. Banyak pertanyaan muncul di hatiku : kok bisa ya buat film sekeren itu padahal plot dan settingnya sederhana? Oh, ternyata ada kekuatan di karakter tokohnya. Kok bisa ya K-pop sekeren itu? Oh ternyata mereka tahan banting, masuk karantina bertahun-tahun sebelum debut. Filosofi han sudah mendarah daging dalam diri mereka. Yang mau sukses, harus sabar dan tahan banting.

Sosok di Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul, masih sama. Sofia, si anak yatim piatu yang merantau ke Fukuoka, nebeng hidup dan kerja di pamannya yang super galak tapi baik hati. Di Sirius Seoul, Sofia menghabiskan liburan musim panasnya di Seoul, menikmati konser boyband dan mengunjungi tempat-tempat eksotis sembari mencari jejak sepupunya yang belum pernah dikenalnya, Ninef.

Sofia yang kesasar ketika naik bis di Seoul (kiri) . Sofia dan Ninef saling bertukar cerita (kanan)

 

 

Seperti apa sosok Sofia?

  1. Energik
  2. Suka berdebat terutama dengan si Om
  3. Karena gak punya ayah, agak-agak gimana kalau ketemu cowok . Kata si Om ,”kamu jangan genit kalau ketemu cowok!”
  4. Suka makan telur. Sampai-sampai Jie Eun, Rei dan Umeko bosen lihat menu makan Sofia.
  5. Punya jiwa altruist tinggi. Kali aja dia punya kepribadian tipe A- Agreeableness, salah satu dari Big Five Personality ya?
  6. Suka pakai baju batik. Karena batik itu melambangkan budaya Indonesia yang cantik banget.
  7. Rajin kalau lagi mood
  8. Bisa tidur masih pakai jilbab dan kaos kaki kalau udah kecapekan hahaha…
  9. Kalau lagi malas, mirip banget sama Gudetama, tokokh telur dalam kartun Jepang!
  10. Bodynya atletis –bukan tipis- , maklum angkut-angkut barang di toko si Om. Lari kesana kemari dari apatonya di Fukuoka dan kampusnya di Kitakyushu. Apalagi si Om nggak suka dengan karyawan yang klemar klemer, banyak alasan
  11. Wajahnya manis, tapi jangan dibayangkan seperti Jie Eun yang mirip Rose – Blakcpink atau adiknya , Yi Kyung yang mirip Jisoo.
  12. Suka nolong orang, tapi suka ngutang ke si Om dan tantenya, Nanda yang judes tapi kindhearted.

 

Selebihnya baca sendiri aja yaaa

 

(meski Sofia masih amat sangat gaul, gak bisa lepas dari IG dan boyband girlband pujaannya; diam-diam dia terus belajar mencari jati diri. Satu yang ingin kutampilkan di novel Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul : betapa istimewanya gadis Indonesia karena mereka dikenal mandiri, baik hati dan suka menolong . Jadi, banggalah jadi gadis dan perempuan Indonesia!)

 

Mohon  doa di hari baik, bulan baik ini, agar novel Sirius Seoul lancer terbit. Barakah dan bermanfaat bagi masyarakat luas, pembaca menemukan pencerahan, serta keunggulan Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia.