Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Nonfiksi Sinta Yudisia Oase WRITING. SHARING.

Apa Bakatmu?

Lama sekali, aku ingin menuliskan buku terkait bakat dan minat anak. Semua bersumber ketika aku sendiri terlambat memahami tentang potensi diriku.

Sejak kecil aku suka berkhayal : menjadi ratu, pasukan paskibraka, penyanyi, wonder woman dan banyak lagi. Sama sekali tak terpikir bahwa kemampuan mengkhayal itu perwujudan dari kreatifitas membuat cerita baru berdasarkan informasi yang sudah ada. Meski sudah suka menulis diary sejak SD, nyatanya aku malah masuk kelas Fisika ketika SMA. Saat itu, kelas di SMA dibagi A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Dulu masih ada kelas A4 (bahasa) tapi jarang juga tersedia. Karena saat itu multiple intelligence belum dikenal, orangtua dan lingkungan mendorongku masuk kelas Fisika. Kata mereka, aku pintar.

Anehnya, aku masuk kelas Fisika tetapi kuliah di Ekonomi Akuntansi. Bayangkan! Sangat jauh panggang dari api hehehe.

Semakin hari aku malah nggak mengerti dengan keinginan dan cita-citaku. Kenapa makin lama nggak suka dengan sains? Gak suka ekonomi? Ketika usiaku menjelang 30 tahun aku coba-coba buat cerpen dan berhasil! Aku ikut beberapa lomba tingkat nasional dan Alhamdulillah, menang. Ketika itulah aku baru mulai sadar : “Oh, aku punya bakat nulis, ya?”

Tidak pernah terpikir menulis menjadi sumber pemasukan.

Setelah 10 tahun menulis aku semakin yakin bahwa menulis adalah duniaku. Apalagi ketika tes minat RMIB, kecenderunganku ke arah aesthetic dan literasi. Klop dah.Terus terang aku terlambat mengetahui minat dan bakatku. Andai sejak kecil aku sudah tahu bahwa bakat minatmu menjadi seorang seniman, aku mungkin akan kuliah di ISI atau masuk fakultas sastra.

Anak-anak : Mereka harus berkembang lebih baik

Sekarang, aku tak ingin kejadian yang sama terulang.

Jujur, awalnya aku masih terperangkap dalam paradigma lama : anak-anakku harus masuk sekolah yang jurusannya sains. Nanti mereka bisa enak memilih. Toh nggak papa kuliah ekonomi bila berasal dari kelas MIA, bukan?

Tetapi, anak-anak ternyata menderita ketika mereka dipaksa masuk kelas sains padahal dalam diri mereka mengalir jiwa altruist, jiwa seniman, jiwa kebebasan. Perlahan, aku mulai belajar dari sana sini. Kebetulan aku kuliah psikologi saat sudah menjadi ibu, jadi aku mulai dapat membaca walau masih kabur, tentang potensi anak-anakku.

Aku melalap berbagai jurnal.

Artikel.

Majalah.

Buku Indonesia dan Inggris.

Karya antologi putri-putri kami. Kiri : ada karya Arina. Kanan : ada karya Nisrina

Pada akhirnya, aku menyelesaikan membuat buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ini, sebuah buku yang sudah kuimpikan lama sebagai bentuk curahan perasaan dan pikiranku tentang bagaimana menemukan bakat terpendam anak-anak. Alhamdulillah, putri-putriku suka menulis. Tetapi bakat saja tanpa motivasi besar seperti mobil mewah tanpa bensin!

gundam and my family.JPG
Salah satu putra kami memiliki kesukaan merakit gundam

Kupikir semua anakku berdarah seni. Tetapi ada satu orang anakku yang baru kuketahui usia onsetnya, mahir merakit sesuatu saat SMP. Ia suka menabung dan membeli Gundam/ Gunpla.

Semoga buku ini bermanfaat bagi para orangtua di luar sana yang cemas, ingin tahu, kesal, marah; karena tak kunjung menemukan potensi anak-anak mereka yang sebetulnya memiliki innate talent atau hidden talent rrruaaarrrbiasa!

PO 15 Rahasia.jpg
Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Ada Apa dengan Cinta = Cinta x Cinta (1)

Cinta sesuatu yang legit untuk dibahas.
Sweet like chocolate. Mulai anak SD yang baru menebak-nebak apa itu jatuh cinta, anak SMP yang kenal cinta monyet, anak SMA yang sumpah sehidup semati (meski rela hidup bersama tapi enggan mati bareng), anak kuliah yang mulai berpikir nikah. 20, 30, 40 tahun sampai usia aki nini; cinta tetap nikmat dibahas.
Itu sebabnya, saya pribadi suka menulis tentang cinta.
Novel cinta seperti Bulan Nararya, Rinai, Rose, Lafaz Cinta, Sophia & Pink. Non fiksi cinta seperti Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda dan insyaallah yang akan segera terbit Cinta x Cinta = Agar Masa Remajamu Nggak Sia-sia.

Cinta
Cinta tak pernah habis dibahas 🙂

Sejak Kapan Manusia Kenal Cinta?
Bayangkan!
Emosi dasar manusia terbentuk di limbic system , sejak ayah bunda melakukan coitus dan berkembang di 25 hari pertama. Baik ayah bunda kemungkinan besar tidak sadar, sedang ada bakal manusia yang mulai terbentuk cikal bakalnya di dinding rahim.
Calon baby yang di detik-detik tersebut berlimpah cinta, ayah bunda rajin bermunajat cinta pada sang Khaliq dan mengungkapkan rasa saling mengasihi sepanjang waktu, akan membentuk limbic system ini dengan bahan baku cinta.
Tapi bila si bunda cemas, apalagi bila kehamilan nggak diinginkan, terlebih (naudzubillah…) married by accident; hari-hari dipenuhi heartbeat bak pacuan mobil : hamil gak hamil gak hamil gak. Celaka, hamil! Maka limbic system dipenuhi bahan baku kebencian sejak awal.

Anak-anak dan Cinta
Anak TK dan SD sekarang juga bicara tentang cinta, lho!
Banyak anak TK dan anak SD yang cerita kepada sang bunda ingin pacaran, jatuh cinta pada teman satu kelas. Setelah ditelusuri, anak-anak ini masih campur aduk antara cinta, admire, sayang, berteman, bersahabat, kagum. Gara-gara sinetron cinta yang bertebarandi televisi mengumbar kata cinta, anak-anak meng analogikan setiap perasaan senagnnya kepada anak lain yang berstatus lawan jenis dengan “jatuh cinta.”
Remaja lain lagi.
Hormon yang juga sedang mengucur, otak bagian prefrontal yang belum matang, stimulus lingkungan yang dipenuhi film-film romansa yang banyak menyajikan adegan ehm-ehm seperti trilogi Twilight dan Fifty Shades of Grey membuat remaja mengartikan cinta lebih dahsyat dari orang-orang dewasa : cinta tidak cukup berkirim puisi atau kata-kata manis. Cinta harus lebih dari itu!

Jatuh Cinta
Jatuh cinta itu rasanya….???

Remaja dan Cinta
Akibat myelin sheath yang belum sempurna menyelubungi sel-sel neuron, pre frontal cortex remaja tak matang hingga usia 20 an tahun. Itu sebabnya remaja suka mengambil perilaku beresiko. Cinta harus diekspresikan lewat sentuhan fisik yang bila out of control, melakukan intercourse yang hanya boleh dilakukan suami istri. Masa muda yang seharusnya diisi hal-hal dinamis seputar akademik, prestasi, hoby, pencarian identitas diri dan mengarungi dunia seluas-luasnya; terpaksa terpuruk.
Gakpapa kan berhubungan asal tidak hamil?
Jalur basic instinct, termasuk perilaku sexual, sudah terbentuk di otak lebih dahulu dibanding jalur-jalur pemenuhan instink yang lain seperti kebutuhan makan, dll. Akibatnya, seseorang yang terkena adiksi pornografi akan sulit mengekang keinginannya untuk tidak lagi mengkonsumsi kecuali timbul azzam yang luar biasa besar. Kebiasaan menonton pornografi softcore, lambat laun menjadi hardcore.
Begitupun perilaku sexual.
Tidak hamil tidak menjamin remaja berhenti melakukan.
Bila terlanjur melakukan, baik cowok atau cewek akan mencoba terus petualangan cinta ini hingga seakan tak berkesudahan bagai rantai setan, naudzubillah. Belum lagi bila emosi ikut terlibat : tak mau kehilangan, terlalu sayang, atau justru keinginan membalas dendam pada lawan jenis sehingga setiap kali menjalin cinta maka akan berakhir dengan seksual intercourse, naudzubillah.

Ayo,Bicara Cinta

Love sweet if
Love is sweet, if…

Sebab energi yang meleda-ledak pada remaja, mari bicara cinta yang sehat.
Boleh kok jatuh cinta, apalagi pada lawan jenis. Itu tandanya manusia normal. Coba perhatikan syair Arab kuno yang berisi petuah bagi orang yang jatuh cinta.

Segala peristiwa, berasal dari pandangan
Banyak orang masuk neraka, sebab dosa yang kecil
Bermula pandangan, lalu senyum, lantas beri salam
Kemudian bicara, berikutnya berjanji, sesudahnya adalah pertemuan

Bagaimana mengantisipasi cinta agar tetap dapat menajlani aktivitas sehari-hari dan tidak terjatuh pada perilaku nista?
1. Kenali diri jika sedang jatuh cinta.
2. Jaga pandangan. Jangan sembarang jelalatan.
3. Bila harus bertemu karena kerja kelompok atau tugas organisasi, JANGAN hanya berdua!
4. Jangan berani-berani bertemu berdua tanpa izin orangtua
5. Jauhi tempat romantis yang hanya akan memicu emosi untuk menyentuh dan melakukan hal yang lebih jauh
6. Katakan pada diri sendiri : aku masih muda. Aku masih muda. Aku masih muda. Banyak hal yang harus dilakukan, bukan hanya bercinta.

Selanjutnya, simak buku Cintax Cinta = Biar Masa Remajamu Nggak Sia-sia ya!

Cinta x Cinta
Cinta x Cinta yang membahas bagaimana mengubah energi Cinta, Indiva Publishing