#Jodoh (1) : Perlukah Tes Kepribadian untuk Memilih Suami / Istri?

Kasus 1

Seorang gadis, sebut namanya Ina, menangis ketika tahu keadaan calon suaminya. Ia dan Anton (samaran) berniat menikah selepas Ina kuliah. Mereka satu almamater dan berkenalan di kampus, disibukkan dengan agenda masing-masing dan menyepakati akan segera ijab qabul setelah selesai kuliah. Beberapa kali Anton masuk rumah sakit dan Ina tidak terlalu menanggapi. Ina berpikir, orang masuk rumah sakit karena DB atau tipus adalah hal biasa. Tetapi suatu ketika saat Anton masuk rumah sakit, Ina mengutarakan kepada orangtua Anton keinginan untuk menjenguk. Orangtua Anton menolak dengan alasan putra mereka butuh istirahat. Ina curiga. Sebab tidak ada teman-teman Anton yang menjenguk dan ia pun tertolak. Ina mengupayakan berbagai cara untuk mencari tahu dan alangkah terkejutnya Ina ketika pada akhirnya menemukan fakta, calon suaminya dirawat beberapa kali di …rumah sakit jiwa. Berlinang air mata Ina. Ingin ia meninggalkan Anton tetapi di sisi lain, Ina merasa Anton adalah lelaki yang sangat baik. Tulus. Jujur. Apa adanya.

 

Kasus 2

Sebut namanya Ayu. Seorang pebisnis sukses dan memiliki keluarga yang bahagia. Anak-anaknya cerdas dan pintar, dikaruniai suami lelaki yang baik dan penyayang, Adi (samaran). Dari luar, tentu banyak yang iri pada Ayu. Tetapi Ayu menyimpan masalahnya sendiri. Bertahun-tahun dalam kehidupan mereka, ialah yang menjadi tulang punggung. Mencari nafkah, berjualan apapun hingga laris manis dikenal pelanggan, mampu membeli properti dan mobil yang diinginkan. Termasuk, ia membayar hutang-hutang keluarga, utamanya hutang sang suami. Adi lelaki sholih tetapi ia tidak cukup tangguh sebagai pencari nafkah. Dahulu, Ayu menerima pinangan Adi karena melihat keluarga Adi kakak-beradik. Mereka orang-orang tough dan pejuang keras. Adi sendiri sebetulnya lulusan Universitas bergengsi. Tetapi ternyata, dari keluarga besar Adi, dialah yang berbeda. Jauh di luar dugaan Ayu, Adi ternyata tak memiliki daya tahan sebesar saudara-saudaranya.

 

*********

muslim wedding 2
Pernikahan yang penuh misteri

Ina, pada akhirnya berketetapan hati untuk menerima suaminya yang skizofrenia. Penanganan ODS- orang dengan skizofrenia ( untuk menghormati mereka, maka tidak disebut ‘pengidap, penyandang, penderita’) telah mencapai kemajuan pesat. Farmakologi alias bantuan obat-obatan dibutuhkan sepanjang hayat. Karena Anton menunjukkan gejala yang mirip sepanjang tahun, maka akan dapat diprediksi kapan datangnya gangguan. Yang penting, situasi dan lingkungan harus terkontrol. Anton kemungkinan harus tinggal di kota yang tenang, jauh dari tekanan dan kebisingan.

Begitupun Ayu.

Setelah ia menyadari bahwa kepribadian suaminya berbeda dari saudara-saudaranya terdahulu, bahwa suaminya memiliki potensi sendiri yang mungkin dalam pandangan orang terstigma sebagai pemalas dan orang yang enggan bekerja keras; Ayu  dapat menerima dan perlahan mencoba memahami. Konflik dan perang dengan suaminya masih berlangsung sesekali, namun kognisi Ayu mulai dipenuhi pemahaman sedikit demi sedikit.

Ada pernyataan menggelitik dari seorang psikolog.

Ia berharap, ada tes psikologi ketika sepasang calon suami istri akan menikah. Sebab menurutnya, tes psikologi sama pentingnya dengan imunisasi tetanus dan cek HIV Aids. Tes psikologi  akan memberi bekal bagi pasangan seperti apa kondisi belahan jiwa mereka.

 

Menilai Pasangan dalam Konsep Dunia Kuno

Sesungguhnya, menilai seseorang untuk masuk bursa kerja atau masuk bursa menantu/pasangan hidup telah dilakukan sejak zaman kuno. Kalau anda orang Jawa, pasti pernah dengan namanya weton. Weton ini mencakup hari lahir dan hari pasaran. Misal Senin Pon, Selasa Pahing, Rabu Legi dan macam-macam lagi. Orang Jawa yang memegang teguh aturan ini akan punya prinsip :  menikah harus hari ini, tidak boleh makan ini itu, dst. Secara pribadi saya kurang setuju dengan yang berbau khurafat atau takhayul. Namun tentang weton, saya melihatnya mirip zodiac.

Weton dan zodiac memprediksi tipe kepribadian seseorang. Namanya prediksi, tentu tidak mutlak 100% salah.

“Lho, katanya Aquarius tenang, kalem, menghanyutkan. Nyatanya dia keras dan gak bsia kompromi.”

“Ngakunya Leo! Pemimpin dan pendobrak, inisiator. Ternyata lahirnya doang yang Agustus, tapi nyalinya kayak anak kecil!”

Saya pernah bertanya tentang orang-orang yang saya kenal,  diprediksi wetonnya.

Sebut Tia dan Andi. Dua orang ini ternyata setelah ditelusuri memiliki weton yang keras. Harusnya mereka tidak menikah, tapi karena takdir  maka menikahlah. Orang-orang Jawa yang memegang filosofi Jawa dengan kuat mengatakan, orang seperti Tia dan Andi ini kalau tidak tirakat alias menahan diri dari segala godaan (godaan makan, godaan harta, godaan bicara, godaan marah dst) akan remuk redam rumah tangganya. Saya pikir ada benarnya. Sebab Tia dan Andi ini sama-sama keras kepala. Ampun dah kalau mereka sudah bertikai. Tidak ada yang bisa melerai selain diri mereka sendiri. Meminta Tia mengalah? Haduh, dia akan berkomentar bahwa dirinya sudah berkorban ini itu. Andi mengalah? Dia bilang sudah banyak mengalah sebagai laki-laki. Jadi? Syahwat Tia dan Andi dalam banyak hal belum dapat dikendalikan seperti syahwat bicara, dst. Istilah orang sekarang nyolot. Baik Tia atau Andi bisa berkata-kata yang membuat ubun-ubun berasap. Lha saya yang tidak seatap aja bisa panas kuping, apalagi mereka yang seatap seranjang saling melempar kata-kata tajam mendengar pilihan kata-kata mereka yang kelewat tajam.

Kejadian yang lain, sebut namanya Donna dan Rangga.

Sama seperti Tia dan Andi yang wetonnya tak selaras, Donna dan Rangga ini mendapat peringatan dari banyak kalangan bahwa pernikahan mereka akan penuh tantangan. Saya sependapat dengan para penasehat Jawa. Secara psikologis, Donna dan Rangga sama-sama anak mami yang sepanjang hidup mereka, sang Bunda mengambil alih peran kemandirian dan tanggung jawab. Alamak! Dua orang yang belum mandiri, manja, egois disatukan dalam satu mahligai. Yah, dapat ditebak Donna dan Rangga menjalani hari-harinya. Sampai-sampai seorang penasehat Jawa berkata : kalau keduanya tidak puasa Daud, pernikahan tersebut akan buyar.

muslim wedding 1.jpg
Indahnya mahligai

Menilai (Calon) Pasangan dari Sudut Pandang Psikologis

Menurut saya, tes kepribadian masih relevan untuk dilakukan bagi mereka yang ingin menikah; asal jangan tes inteligensi (kecuali bila sangat diperlukan). Sebab pernah terjadi kasus, sepasang calon pengantin akan menikah dan iseng-iseng mereka tes inteligensi. IQ si lelaki ternyata jauh di bawah perempuan dan calon mempelai itu lalu membatalkan rencana pernikahan mereka!

Tes kepribadian ada banyak sekali.

Yang sederhana, untuk dapat memahami OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreebleness & neuroticm. Manakah yang lebih dominan, manakah yang lebih rendah? Tes kepribadian inipun sebaiknya berupa anjuran, bukan seperti cek HIV Aids atau imunisasi yang lain. Sebab, di Indonesia pemahaman tentang dunia psikologis masih belum sepenuhnya diterima.

Dari sini, calon suami atau istri bisa mendapatkan data yang mungkin suatu saat dibutuhkan. Bila ternyata dengan data tersebut dia bersedia menerima dengan segala konsekuensinya, Alhamdulillah. Kasus Ina dan Anton adalah salah satu kasus sangat ekstrim. Sungguh indah kata-kata Ina.

“Mengapa saya sok suci dan sok baik, sok pintar dengan menilai Anton? Memang dia ODS, tetapi sepanjang saya berhubungan dengan lelaki, Anton lah yang paling baik. Saya belum pernah menemukan lelaki sebaik dia. Dia jujur, tulus, apa adanya. Saya khawatir ketika meninggalkannya, justru tidak mendapat lelaki sebaik dia.”

bulan nararya
Bulan Nararya : novel psikologis dengan kisah seorang perempuan yang memiliki suami ODS

Memang, orang-orang seperti Anton ini memiliki kekurangan di bidang stabilitas mental. Namun seringkali, orang-orang seperti ini yang sangat baik hatinya. Hati mereka suci dan murni, tidak memiliki prasangka dan kebencian sama sekali. Ah, memang Allah memberikan satu kelebihan dibanding yang lain. Lagipula, sebagai orang terpelajar, Ina lalu banyak belajar tentang ODS dan cara penanggulangannya; termasuk rutinitas mengkonsumsi obat dan mempersiapkan rencana masa depan. Masyaallah…cinta yang indah ya? Mengingatkan saya pada novel Bulan Nararya.

Ketika telah memiliki data tentang gambaran kepribadian calon pasangan, atau mungkin ketika kita telah  menikah dan baru tahu tentang tes kepribadian ini; gunakan data ini secara bijak. Jangan sampai ketika tahu kekurangan (calon) pasangan maka kita serta merta mundur atau meninggalkan. Boleh jadi watak pasangan keras dan tidak mau kompromi; tetapi dia tipologi orang yang mudah didinginkan dengan sentuhan dan kelembutan. Boleh jadi pasangan seorang pencemas dan selalu punya pandangan negatif terhadap segala sesuatu; tetapi di sisi diri kita yang punya sifat optimis dan terbuka, si dia akan melejit potensinya.

Love and marriage.jpg
Cinta dan pernikahan

Ingat, Kepribadian BUKAN Inteligensi!

Ayu dan Adi, Tia dan Andi, Donna dan Rangga mungkin terkecoh . Lelaki pilihan hidup mereka adalah lelaki brillian di dunia kampus dan dunia kerja. Adi, Andi, Rangga adalah orang-orang dengan inteligensi jauh di atas rata-rata; terbukti dari kemampuan akademis mereka dan keahlian bisnis mereka.

Perempuan seperti Ayu, Tia, Donna ‘terkecoh’ bahwa orang dengan inteligensi tinggi pastilah orang yang dapat diandalkan. Ternyata belum tentu demikian. Orang dengan inteligensi atau IQ tinggi belum tentu memiliki kematangan pribadi, mampu bersikap dewasa, dapat mengambil keputusan tepat di situasi sulit, menjadi solution-maker di saat kritis dan sederet harapan kita yang melambung tinggi.

Kadang, orang dengan IQ tinggi justru memiliki relasi kurang baik dengan manusia lain. Kadang orang dengan IQ sedang atau bahkan di bawah rata-rata dapat memiliki hubungan hangat dan harmonis dengan sekitar. Pendek kata, ketika memilih pasangan, janglanlah silau oleh sesuatu yang terlihat sebagai pencapaian, prestasi, kehebatan dan seterusnya.

“Wah, pasanganku aktivis kampus. Pasti dia keren!”

“Dia jadi pembicara dimana-mana, tentu senang kalau jadi pasangan hidupnya.”

“Pengusaha muda, pintar, kaya. Siapa yang nggak mau jadi istrinya?”

Inteligensi atau IQ sering dapat tampil ke permukaan tetapi karakter seseorang dapat tersembunyi jauh di dasar perilaku keseharian dan baru terlihat gambaran sesungguhnya ketika seseorang telah seatap, serumah, semeja makan, seranjang. Ada kan, orang yang demikian hebat di kantor, disenangi atasan, rekan kerja dan anak buah; namun di rumah perilaku dan kata-katanya sangat kejam kepada istri/suami dan anak-anak? Yang tampil di luar rumah adalah persona dirinya yang terpoles rupawan, yang ada di rumah adalah citra dirinya yang sesungguhnya.

Tes kepribadian untuk melihat profil psikologis pasangan, tentu harus hati-hati diputuskan.

Tes kepribadian untuk merekrut karyawan atau manajer telah lazim dilakukan, sebab ketika tertolak, calon pekerja dapat mencari pekerjaan lain. Tetapi profil kepribadian seseorang dalam rangka memilih atau dipilih sebagai pasangan hidup, dapat menjadi stigma yang melekat sepanjang waktu. Apalagi bila kemudian orang dengan hasil profil negatif, ditolak untuk menjadi calon menantu atau calon istri/suami.

Saya pernah melakukan tes kepribadian kepada seorang gadis, sebut namanya Lusi. Hasil tes kepribadiannya sungguh ‘ajaib’ sebab jalan kehidupan di belakang Lusi demikian traumatik. Rasanya ngeri membayangkan gadis seenergik Lusi memiliki kisah hidup sedemikian rupa. Saya sampaikan kepada lelaki yang baru menikahinya.

“Tahukah anda seperti apa masa lalu Lusi?”

“Saya tahu dengan persis Mbak, karena itu saya siap menikahinya dengan segala konsekuensinya.”

Lelaki sholih ini, sebut namanya Sholih, memang mencoba menepati janjinya. Ia selalu bersiap ketika Lusi tiba-tiba mengalami tremor hebat dan pingsan di jalan terkena situasi traumatik. Salah satu yang disiapkan Sholih adalah ia telah mengatur jadwal pekerjaannya dan berkomunikasi dengan rekan-rekan sekerja bahwa sewaktu-waktu ia harus keluar mendadak dari kantor sebab Lusi membutuhkan bantuan dirinya. Sholih juga memiliki beberapa nomer telepon darurat yang akan selalu dikontak untuk memastikan Lusi baik-baik saja.

Tentu ssaja, tes kepribadian untuk memahami pasangan ini tak diperlukan bila kita betul-betul telah memahami dia dengan sebenar-benarnya. Kadangkala, ada sisi keraguan dalam diri, apakah dia persis sama seperti kesehariannya di luar rumah? Benarkah ia penyayang? Benarkah ia orang yang lembut dan seterusnya.

 

Insyaallah bersambung:)

 

 

 

3 respons untuk ‘#Jodoh (1) : Perlukah Tes Kepribadian untuk Memilih Suami / Istri?

Add yours

  1. Assalamualaikum mba Sinta,
    mau nanya, adakah rekomendasi pertanyaan pertanyaan tes kepribadian yg dapat diajukan untuk calon suami? Jika ada bukunya, boleh saya tau judulnya apa?
    terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: