Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!

Iklan

2 thoughts on “Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s