RSS

Catatan Akhir Tahun 2011 (III) :~Gaza of Palestine, Arab Spring, & Predictor of Happiness

Arab Spring, atau gelombang Revolusi Arab diklaim terjadi Sabtu 18 Desember 2010. Gelombang ini menghentak mulai Tunisia dengan tergulingnya Zine el Abidin Ben Ali, bergolaknya Tahrir Square dan terlemparnya Mubarrak dari kursi kekuasaan, jatuhnya Libya dengan kematian Qadaffi yang mengenaskan.
Aljazair, Libanon, Sudan, Oman dan Saudi Arabia menyusul.
King Abdullah II memecat PM Rifai dan membubarkan kabinet, selang beberapa bulan kembali memecat PM Bakhit dan kabinet sebab rakyat tak puas dengan pemerintahan yang bergerak lamban. Presiden Bashir menyatakan tak akan mencalonkan diri lagi di Sudan 2015. Sultan Qaboos melakukan konsesi ekonomi dan memecat menteri yang tidak kompeten. Saudi Arabia menghelat pemilu 29 September 2011 –khusus lelaki- dan mencanangkan perempuan punya hak suara di tahun 2015.
Jika Arab Spring atau Arab Awakening disebut-sebut sebagai babak baru dunia Arab, dimanakah posisi Palestina? Menangkah Palestina ketika Mahmoud Abbas berhasil memasukkan Palestina sebagai bangsa yang terdaftar di PBB dan benderanya sudah berkibar di UNICEF?
Biarkan saja Palestina berjuang, sebagaimana bangsa Arab di sekelilingnya berjuang.

Muhammad Amin al Husayn
Di tengah pergolakan Palestina, mufti besar Al Aqsha 1937 berhasil menyelinap keluar al Aqsha dan bergabung dengan tokoh legendaris pejuang Palestina, Izzuddin al Qossam. Di sela-sela kesulitan bangsa Palestina, sang mufti senantiasa mengumandangkan pendapat bahwa bangsa Palestina harus mendukung sebuah bangsa nun jauh di seberang benua dan samudera. Bangsa yang sama terjajah, sama bergulat dengan kemiskinan dan penindasan. Bisa dipastikan syaikh al Husayn belum pernah melihat apalagi menginjakkan kaki ke Indonesia. Tetapi hatinya yang dipenuhi ikatan persaudaraan merasakan geletar kobar perjuangan dari negeri nun jauh.
Jika saja, beliau masih hidup saat ini.
Akankah mufti besar Palestina itu kecewa sebab pembelaannya terhadap Indonesia tak mendapatkan balasan yang sama? Jangankan mengingat Palestina, Indonesia tengah berkutat dengan indeks korupsi bernilai ”3” (bandingkan dengan Swiss, Demark, Singapur yang 9,…). Indonesia tengah mejadi pasar facebook ke 2 dan twitter ke 3 se dunia. Indonesia tengah berkiblat pada boyzband dan girlband K-Pop dan J-Pop.

Indonesia-Palestina Bersaudara
Tetapi tak setiap orang Indonesia tak peduli.
Arab Spring 18 Desember 2010, nyaris sebuah pengulangan dengan intifadhah yang diperkirakan meletus sebagai Intifadhah Pertama Desember 1987. Gelombang Intifadhah tidak hanya berhenti di satu titik tetapi meluas mejadi Intifadhah Kedua yang meletus sejak September 2000 hingga 2005.
Banyak orang berpendapat : mengapa harus peduli pada Palestina sementara banyak pula orang di Indonesia yang perlu dibantu? Kasus Mesuji dan sekian banyak sengeketa tanah, kecelakaan kapal, TKI & TKW, tawuran pelajar hingga mahasiswa yang protes membakar diri; tidakkah cukup sudah PR besar bangsa ini dan tak perlu sok peduli dan sok baik hati mengurusi bangsa lain?
Dalan hierarki Maslow, puncak tertinggi piramida adalah upaya-upaya aktualisasi, transedental atau bagaimana manusia peduli pada orang lain. Daniel Gilbert PhD dari Harvard University meneliti predictor of happiness. Pernikahan, anak, dan uang adalah syarat bahagia. Uang? Adalah bagaimana kita spent it untuk orang lain, bukan bagaimana cara menghabiskannya. Membantu orang lain, peduli pada orang lain sesungguhnya bukan perilaku sok baik hati tetapi salah satu kebutuhan tertinggi manusia yang merasa damai dan bahagia ketika posisinya sebagai manusia ternyata berarti bagi orang lain. Seorang altruist, bisa dipastikan lebih bahagia dari koruptor meski status kekayaan keduanya berbeda jauh.
Membantu Palestina, membantu orang-orang yang butuh kepedulian di sekitar kita dengan kapasitas yang kita miliki; sesungguhnya adalah memenuhi kebutuhan asasi diri kita sendiri untuk merasa mulia dan berharga.
Ada banyak lembaga di Indonesia yang menolehkan kepala ke arah Palestina. Salah satunya Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
BSMI telah berupaya membangung capacity building untuk rakyat Palestina dengan meyekolahkan dua dokter umum Palestina, Dr. Ameen Al Annajhwa dan Dr. Moin Al Shurafa. Pada (7/10) BSMI membawa dua lulusan ‘aliyah (sekolah menengah atas) sebagai penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dokter umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua warga Gaza penerima beasiswa pendidikan dokter umum tersebut adalah Mohammed Shabat (19) dan Abdelrahman Elnweiri (19). Keduanya memulai pendidikannya pada akhir Oktober 2011 dengan memasuki kelas Bahasa Indonesia selama enam bulan yang dilanjutkan dengan matrikulasi dan selanjutnya perkuliahan umum.
Ada banyak hal untuk menyatakan kepedulian pada Palestina.
Apa yang kita berikan mungkin tak selantang syaikh Al Husayn atau bagaimana para pemuda Mesir bernaung di kepanduan (sekitar tahun 1940-50 an) secara sukarela berangkat menuju el Arish untuk masuk ke Gaza. Kita mungkin pun lupa menyisihkan harta. Tetapi setidaknya jangan lupa menyisihkan waktu untuk berdoa, dana, menuliskan suara hati dan pikiran dalam blog masing-masing.

Anak & Perempuan Gaza
Jika,
suatu masa atas rizki Allah SWT sepasang kaki menginjakkan kaki ke Gaza.
Rasakan seolah kehadiran Muhajirin Anshor di sekeliling. Senyum tulus, bukan lip service. Hafalan Quran yang menjadi program pemerintah. Perempuan-perempuan yang berlatih setiap hari bagaimana menghadapi situasi perang, bagaimana cara menyelamatkan anak-anak dan menjauh dari jendela bila roket Israel mendadak menyerang. Perempuan yang tetap menjalani kodratnya sebagai gadis, mempelai, ibu; terus memburu kesempatann beasiswa dan senantiasa meng upgrade diri
Anak-anak Gaza adalah anak-anak dengan senyum terbaik di dunia. Tetap mampu tertawa meski kedua orangtuanya syahid, atau hidup sebatang kara. Tetapi bagaimana mereka mampu bertahan? Sebab kementrian Budaya memugar rumah-rumah yang hancur, menjadikannya Monumen Syahid. Kementrian Budaya senantiasa memberikan semangat kepada anak-anak yatim piatu bahwa orangtua mereka memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Palestina dan tak akan pernah dilupakan. Rumah yang hancur adalah saksi sejarah yang harus senantiasa dilestarikan.
Ada banyak anak-anak mengalami speech disorder, perempuan yang bisu tuli karena trauma peperangan. Tetapi mereka bangkit, mengasah skill, bersiap menjadi tulang punggung manakala lelaki di tengah keluarga tewas, sakit atau cacat seumur hidup.
Gaza adalah negeri yang terblokade. Gaza adalah negeri seribu luka.
Tapi Gaza adalah cuaca jernih dan malam yang tenang.
Apalagi kehidupan yang lebih baik daripada bertetangga, berteman, berdagang, dengan para penghafal Quran?

Beberapa Puisi Gaza

Pahatan pada nisan seorang anak Gaza

Aku hidup, sehebat yang kubisa
Berhati-hatilah dengan langkahmu : pemakaman terbentang lebar
….
Namun kita tidak melabuhkan kebencian demi kebencian
Tapi berdoa, bahwa perdamaian tetap menjadi masa terbaik bagi kemanusiaan

Khalid Nusaibah

 

Catatan Akhir Tahun 2011 (II) Great Mother, Great Generation ~ catatan manis dari Trenggalek

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)

I remember my mother’s prayers and they have always followed me. They have clung to me all my life. ~Abraham Lincoln


Doa Ibu.
Ini bukan slogan yang menempel di gerobak bakso, mi ayam atau tahu tek ala Surabaya. Tetapi seorang Ibu betul-betul mampu mempengaruhi jalan hidup anak dan orang-orang di sekeliling. Anak yang ditelantarkan sang ibu akan menyumbang sejarah kelam macam Hitler, Jack the Ripper atau Marilyn Monroe. Ibu yang membimbing sang anak akan menghasilkan generasi macam Abdullah bin Zubair, Umar bin Abdul Aziz, Harun al Rasyid.
Tugas ibu di era millenium semakin penuh tantangan. Secara garis besar, ibu memiliki dua peran utama.

1. Makhluk Individu (ruh-jasad-aqal)
2. Makhluk sosial (anak, istri, ibu, teman & mas’uliyah yg lain)

• Semua dalam konteks ibadah kepada Allah SWT

Makhluk Individu
Tidak mungkin mengabaikan ibu sebagai makhluk individu. Bisa dibayangkan lapis kesabaran seorag ibu yang jarang sholat, tilawah, dzikir? Maka ibu harus punya watu di sela kesibukan bekerja untuk sholat dhuha, qilayul lain, membaca quran. Mereka yang punya kekuataan ruh tinggi berarti punya mental lebih stabil. Mental yang stabil tidak mudah goyah oleh intimidasi macam tangisan dan rengekan anak, pertikaian anak, permintaan-permintaan suami yang membutuhkan kesabaran serta setumpuk agenda perempuan lainnya.
Selain ketahanan ruhiyah, seorang ibu harus kuat fisik.
Tidak mungkin mengurus anak dan suami, mengerjakan perkerjaan lain dengan semangat klentrak klentruk akibat kurang asupan gizi. Pola makan, hidup sehat, kegembiraan diperlukan untuk mendapatkan kebugaran.
Aqal yang senantiasa terinjeksi ilmu-ilmu bermanfaat akan semakin mengokohkan figur ibu di tengah anak-anak dan keluarga. Bagaimana menjadi financial planner handal agar mampu mengelola harta suami? Bagaimana bisa menjadi teman diskusi enak bagi suami ketika membahas Vladimir Putin, pentas politik, hingga siapa Pep Guardiola, Alex Ferguson, atau Roberto Mancini? Bagaimana bisa menceritakan kepada anak-anak perihal global warming dan Indonesia 20 tahun ke depan? Tentu saja, bagaimana mengokohkan Quran dan Siroh Nabawiyah dengan bahasa yang mampu dicerna anak-anak dengan beragam level agar mereka merasakan kembali kebutuhan agama dengan kapasitas perkembangan mental dan IQ masing-masing.

Makhluk Sosial
Sebagai seorang individu, kita masih tetap menjadi anak bagi orangtua. Kita juga saudara perempuan, teman bagi sesama, anggota masyarakat. Tak mungkin mengeliminasi salah satu peran, meminimalisasi mungkin. Kedudukan manusia, dalam hal ini perempuan, bagai rantai kehidupan yang saling berkelindan satu sama lain. Kita akan menjadi istri yang baik manakala berhasil taat kepada orangtua suami. Kita akan mengambil hati suami manakala kita mampu menempatkan diri di tengah keluarga besar. Selain tanggung jawab dalam keluarga inti dan keluarga batih yang lebih besar; tak mungkin menghindari peran di tengah masyarakat.
Apa jadinya bila hanya mendekam terus di rumah, tak pernah ikut arisan PKK atau pengajian di masjid? Tetangga pasti akan senang bila kita mengambil posisi sebagai sekretaris atau bendahara sehingga beban struktural masyarakat dalam level RT, RW, masjid kompleks, dapat terbagi. Apalagi bila ternyata Allah SWT menitipkan kepada kita kesabaran, keahlian dan kecerdikan menjalani tugas seperti guru/dosen; paramedis, petugas penyuluhan, dsb. Pendek kata, perempuan semakin banyak tantangan dan harus semakin memiliki kehalian dan kekuatan ruh-fisik-aqal dalam menuntaskan problematika ummat.

Great Mother of Trenggalek
Ada kisah manis ketika 26 Desember lalu diundang ke Trenggalek.
Siapa yang pernah ke sana? Aih, kota kecil dengan pagar perbukitan, demikian nyaman dan tenang. Oleh-olehnya itu lho…kue manco dan kripik tempe yang gurih sekali. Makanan khas Trenggalek memang jenis kripik seperti kripik pisang, alen-alen.
Ada yang unik ketika LMI & Salimah meyelenggarakan semiar Thanks for Bunda. Biasanya, yang mendapat bingkisan adalah anak yatim. Tetapi kali ini….Bunda Yatim. Ahya, Bunda Yatim haruslah mendapatkan kegembiraan pula, sebab membesarkan anak yatim tidak sama dengan anak-anak dengan orangtua lengkap. Ada sebuah hadits Rasul Saw yang kuranglebih intinya demikian : bahwa di yaumil akhir, Rasul akan bersama para janda di yaumil akhir -bagai jari yang saling merapat- yang ketika ditinggalkan suaminya di masa muda masih segar dan cantik, tetapi memilih berkhidmah membesarkan anak-anaknya. Wallahu a’lam.
Ibu?
Coba simak perkataan seorang penyair berikut.

One good mother is worth a hundred schoolmasters. ~George Herbert
1 ibu yang hebat = 100 kepala sekolah!

Kalau 2011 belum berhasil menjadi Ibu Hebat, ayo semangat memperbaiki diri di 2012 untuk menjadi Ibu Hebat!

 

Catatan Akhir Tahun 2011 (I) Cerpen Pertamaku : Penulis Tanpa Modal

Bagaimana kalau seorang penulis tidak punya PC, laptop, tidak punya kertas & pulpen?
Jawabnya : bisa!
Kemarin, hari bongkar-bongkar stok lama koran yang sudah menggunung. Perlu diketahui, saya adalah pecinta kliping koran di era millennia. Meski internet sudah merajai, google tinggal pakai jari, tetap tak ada yang menandingi menyimpan koran. Alasannya sederhana, kalau klik google, kita sedang mencari apa yang memang kita butuhkan. Kalau membaca kliping koran, kita diingatkan pada peristiwa-peristiwa yang nyaris terlupa.
Ada kliping tentang bung Hatta, sampai beberapa seri. Warna kertasnya sudah menguning. Ada kliping tentang bencana di Indonesia mulai lumpur Lapindo, tsunami Aceh, juga gempa Padang. Ada kumpulan Dialog Jumat & Khazanah Republika yang sudah mengendap selama bertahun-tahun. Bahkan, beberapa bulan lalu baru saja membuang koran tahun 2000an. Ah sayang sekali….banyak berita bagus yang masih layak untuk direnungkan. Sayangnya, kapasitas rumah tak mencukupi.
Dan,
saya menemukan setumpuk kertas dalam kardus.
Isinya, masa-masa awal sebagai penulis dimana saya tidak punya modal sama sekali! Jangankan PC atau laptop. Tahun 2000an anak saya masih kecil-kecil sehingga tiap kali punya uang, nyaris yang terpikir pertama kali bagaimana beli susu, kacang hijau, mengganti baju yang tidak layak sekalipun hanya memburunya di pasar pagi. Kertas dalam bentuk buku sih ada, tapi tidak terpikir beli satu rim kertas HVS atau kertas buram. Tempat pensil nyaris tidak punya, sebab pulpen dan isinya seringkali berhamburan. Maklum, punya anak kecil
Keinginan menulis, tidak terhambat meski kita tak punya perangkat memadai.
Saya ingat sekali, saya menulis dengan kertas bekas dan pulpen yang hanya tinggal isinya. Kadang pakai pensil yang sudah tinggal seruas jari hehe….
Yang ada di foto ini ketika mau ikut lomba Annida.
Berhubung mau ikut lomba, maka saya beli kertas folio. Tulis tangan, lalu dibawa ke rental. Setelah di print, ada beberapa bagian yang salah, saya edit, dan saya bawa ke rental lagi.
Alhamdulillah, Jalinan Kasih yang Terkoyak, dengan setting masa DOM Aceh membawa saya sebagai juara II tingkat nasional LMCI Annida. Waktu itu , juara I nya tidak ada (kalau saya tidak salah ingat). Hadiah uang Rp.800.000 dan sepaket buku terbita Syaamil.
Jadi, penulis itu lebih dulu mengawali dengan niat, tekad, semangat belajar dan mencari ilmu, semangat berusaha. Apapun fasilitasnya, insyaAllah bisa jadi!
Waktu ambil hadiah di kantor Annida…wah, senangnya bisa ketemu dengan crew Annida yang rrruaaarr biasa. Salah satunya dengan mbak Rahmadianti alias mbak Dee yang kelak di kemudian hari menjadi editor buku-buku saya. Lewat dunia kepenulisan ini pertama kalinya pula berkenalan dengan teh Pipiet, mb HTR, mb Asma Nadia, mas Gol A Gong, mas Ali Muakhir, mas Boim Le Bon dll.
Di tahun 2011, ada beberapa karya yang selesai, baik terbit maupun dalam proses. Di antaranya TAKHTA AWAN, sekuel dari The Road to The Empire. EXISTERE alhamdulillah diterjemahkan di Malaysia. Ada cerpen dan artikel yang dimuat di Republika, atau di media lokal.
Apa target 2012?
Menyelesaikan Takudar III.
Menuntaskan kuliah.
Berburu referensi psikologi Islam terutama yang digagas oleh narasumber seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Misykawaih, Ibnu Sirrin dan masih banyak lagi. Ada beberapa target buku yang masih rahasia (hee..!) tetapi selalu, doa dari saudara-saudaraku adalah senjata terhebat kaum muslimin.

 

Menggagas Sekolah Pra Nikah (Republika, 21 Desember 2011~Sinta Yudisia)


Melihat angka perceraian yang fantastis sebesar 320.788 perkara di penghujung 2010 –sebagian besar memiliki usia pernikahan di bawah lima tahun-, pertanyaan muncul. Jika masing-masing keluarga memiliki dua atau tiga orang anak, berapa jumlah generasi muda ke depan yang memiliki mental tidak stabil akibat perpisahan orangtua di masa golden age? Bukan hanya perceraian, KDRT muncul bagai gunung es di permukaan : tampak menyembul sedikit dengan akar karang yang masih tersembunyi asal muasalnya. Ditambah ketidak cocokan dan perselingkuhan, cukuplah Indonesia mewariskan kehancuran dalam dua tiga dekade di masa depan.
Keluarga yang masih terikat sendi pernikahan pun belum menjamin akan mewariskan generasi yang jauh lebih baik dari orangtua mereka, mengingat minimnya pemahaman masyarakat terkait seluk beluk pendidikan anak, baik yang berbasis agama maupun pengetahuan aplikatif lainnya. Pernikahan sebagai gerbang terbentuknya keluarga yang merupakan intisari masyarakat dan pondasi sebuah Negara, lebih kepada seremonial formal yang semakin kehilangan makna dan fungsi. Diperkaya dengan pemberitaan media yang mengungkap sisi negatif kehidupan pribadi keluarga artis, semakin kokohlah kognisi buruk masyarakat awam bahwa begitulah pernikahan dan keluarga : mudah dibentuk, mudah pula digugurkan.

Anak-anak dan remaja yang tumbuh dalam keluarga bermasalah, dapat dipastikan memiliki ego strength yang rapuh. Mudah putus asa, mengekspresikan dengan cara yang keliru kebutuhan akan kasih sayang, juga melarikan diri pada sosok atau benda yang mampu memuaskan rasa haus afeksi.
Penyebab keretakan rumah tangga sangat beragam. Tahun 2010 penyebab pertama perceraian, sekitar 23,8% disebabkan permasalahan ekonomi. Urutan kedua sebesar 7,08% akibat perselingkuhan. Sisanya akibat kekerasan fisik 0,77%; akibat cemburu 3,52%; serta akibat lainnya seperti pernikahan lintas agama, pernikahan lintas Negara, nikah di bawah umur hingga menikah tanpa cinta.

Salah satu yang dapat diupayakan untuk memperbaiki kondisi masyarakat adalah memberikan edukasi dan pengetahuan memadai terkait seluk beluk pernikahan. Bukan hanya bagi mereka yang ingin menikah, tetapi bagi remaja yang memasuki masa akil baligh perlu pula diberikan pembelajaran. Mengapa remaja yang oleh Havigurst dikatakan ‘masa badai’ pun perlu mendapatka pengetahuan dini tentang berkeluarga? Sebagian besar permasalahan manusia berasal dari kognisi yang salah. Memahami cinta dan hubungan seksual secara terpisah dari konteks keluarga adalah salah. Remaja yang tidak punya pandangan menyeluruh tentang konsep keluarga akan beranggapan cinta dan hubungan intim hanyalah permainan masa muda, padahal bila terjadi sex pranikah dan menghasilkan keturunan, dapat dipastikan kualitas keluarga macam apa yang akan dihasilkan. Perceraian dan anak yang ditelantarkan kembali menghadang.

Pre marriage course sejak 1980 sudah digagas di barat menghasilkan sekitar limabelas ribu alumni dari satu lembaga kursus saja. Kabar membahagikan, sebesar 79% mereka yang menempuh pendidikan singkat ini berhasil menyelamatkan pernikahan. Orang mungkin bertanya-tanya, apa perlunya sekolah pranikah? Menikah adalah perilaku alamiah yang dapat dipelajari dari waktu ke waktu, dari nasehat rekan atau para tetua.
Mengambil analogi sebuah institusi, diperlukan lulusan strata satu hingga tiga untuk menangani derajat kesulitan yang berbeda. Masyarakat siap menyisihkan waktu dan dana seberapapun besarnya untuk menempuh pendidikan, demi dapat bekerja di institusi bergengsi dan mendapatkan penghasilan yang layak. Bukan hanya sekedar ijazah; pengetahuan dan ketrampilan yang didapat selama bertahun-tahun menempuh jalur akademis diharapkan mampu menghasilkan lulusan bertalenta. Pernikahan yang hampir dimasuki setiap manusia, adalah institusi yang digeluti sejak usia early adulthood atau masa dewasa awal hingga usia tua atau mati. Bayangkan, sebuah institusi yang dijalani selama lebih dari duapuluh lima tahun, dimasuki para pekerja yang sama sekali buta terkait institusi tersebut, menjalankan roda tugas hanya berdasarkan mitos, kearifan lokal, nasehat-nasehat yang terkadang jauh dari nilai akurasi dan kebenaran!

Pre marriage course atau Sekolah Pra Nikah mewadahi berkumpulnya para ahli yang diharapkan mampu memberikan solusi bagi kebuntuan pernikahan. Jika mengacu pada kurikulum di barat; pendidikan singkat atau kursus ini melibatkan kaum agamawan, dokter atau paramedis, financial planner, juga terapis. Para pakar di bidang tersebut akan membantu remaja atau usia dewasa awal , mempersiapkan ilmu memasuki gerbang pernikahan.

Peran agamawan sangat penting. Para ulama akan menguatkan sendi pernikahan dari sisi spiritualitas. Hubungan lelaki perempuan yang disahkan dalam akad yang suci selain melegalkan kenikmatan dan memberikan catatan pahala bagi curahan kasih sayang; pesan ilahiah tertitipkan. Sebuah generasi baru terbentuk, generasi yang diharapkan jauh lebih baik dari pendahulunya baik dari sisi fisik, akal maupun ruhani. Setiap permasalahan bila dikembalikan dan dikokohkan oleh nilai-nilai Qurani akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Anak, ekonomi, hubungan suami istri, hadirnya orang ketiga dan yang lainnya; akan senantiasa ditimbang sebagai amanah dan fitnah yag harus dihadapi penuh rasa optimis. Kesabaran mutlak diperlukan, hubungan transedental menjadi kunci. Tentu, bukannya menegasikan kemungkinan terburuk seperti perceraian. Kalaupun perceraian mejadi satu-satunya jalan keluar , setiap pihak terkait menempuh dengan cara ihsan sehinga anak –lagi-lagi- tidak menjadi korban.

Dokter tidak hanya menyampaikan bagaimana kerja alat reproduksi. Mereka dapat menyampaikan bagaimana kerja tubuh dan otak lelaki perempuan dapat berbeda. Mengapa otak lelaki dan perempuan merespon dengan cara yang sama sekali bertentangan terhadap obyek yang sama? Hormon, kromosom, ataukah neurotransmitter tertentu yang menyebabkan reaksi dua insan berlainan jenis ini tak sama? Pengetahuan tentang fisik manusia akan mampu memberikan pemahaman bahwa lelaki dan perempuan terkadang dapat berselisih faham akibat proses biologis tubuhnya. Pemahaman ini akan mengurangi stigma sebelumnya di tengah masyarakat bahwa lelaki cenderung tidak peduli sementara perempuan sangat cerewet. Stigma buruk yang diwariskan seringkali membentuk pemikiran stereotipe sehingga setiap orang cenderung menerima begitu saja dan tak memahami bahwa sesuatu dapat diubah hanya dengan cara meggeser sedikit arah sudut pandang.

Financial planner akan membantu mengurai kekusutan permasalahan perekonomian. Setiap tahun terjadi pernikahan sekitar dua juta pasangan dengan jumlah sekitar duaratuslimapuluh ribu menggugat cerai. Sebagian besar, sekitar 70% pengaju gugatan adalah pihak istri dengan aduan permasalahan ekonomi. Keyakinan rizqi di tangan Allah harus didukung upaya riil. Perencana keuangan akan memberikan softskill berupa kemandirian dan perilaku yang adaptif terhadap peluang-peluang ekonomi. Dengan indeks kemiskinan kota dan desa sebesar 13,33% di tahun 2010, perlu kewaspadaan tinggi bahwa permasalahan ekonomi akan merambat lebih jauh kepada persoalan sosial dan ketahanan keluarga.

Terapis yang terdiri dari psikolog, psikiater atau konselor memberikan masukan terkait modifikasi perilaku. Banyak perilaku yang buruk seperti merokok atau boros, egois atau suka berkata menyakitkan, dapat diubah dengan bimbingan yang terprogram. Seorang konselor pernikahan dibutuhkan sesuai tahap perkembangan manusia, termasuk pernikahan, dari waktu ke waktu. Konselor pernikahan khusus menangani segala hal yang diharapkan pasangan tentang pernikahan. Psikolog akan membantu lebih luas, terkait elemen-elemen yang biasanya mengikuti perjalanan hidup manusia seperti karir, keluarga, anak hingga permasalahan traumatis. Psikolog pendidikan akan membantu anak-anak dengan permasalahan akademis, psikolog klinis membantu manusia secara individu atau komunal agar tetap sehat secara mental, psikolog perkembangan akan membantu agar manusia mampu mencapai perkembangan optimal di tiap masa perkembangan. Psikiater akan membantu secara farmakologis bila salah satu anggota keluarga mengalami gangguan berat atau berkelanjutan seperti kecemasan akut, anak spesial hingga kasus ekstrim macam schizofren.

Para peneliti mengungkapkan predictor of happiness manusia ditentukan oleh cinta dan pernikahan, pekerjaan dan struktur kepribadian mereka sendiri. Myers di tahun 1999 melaporkan sebanyak kurang lebih 42% perempuan bahagia dengan menikah sementara lelaki lebih sedikit, 37%. Tetapi Daniel Gilbert, Phd dari Harvard University mengungkapkan, bahwa bukan hanya sekedar pernikahan yang membuat seseorang meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Pernikahan, anak dan uang merupakan kunci kebahagiaan. Lebih lanjut Gilbert memperjelas, happy marriage lah yang membuat hidup seseorang lebih bermakna, bukan sembarang pernikahan. Sementara tak semua anak mendatangkan kebahagiaan tetapi anak-anak yang dididik dengan cara pantas dan tepat serta uang yang dibelanjakan secara proporsional lah yang mampu membuat hidup seseorang jauh lebih bahagia.

Persoalan ekonomi, perselingkuhan akibat banyak faktor, kecemburuan atau kekerasan berikut sederet persoalan pernikahan bukanlah harga mati bagi ketok palu perceraian. Pendampingan bagi keluarga-keluarga yang telah menikah sangat perlu agar mereka mampu mencari jalan keluar yang akurat bagi setiap permasalahan. Tak cukup setelah menikah, sebelum menikah pun pemuda perlu dibekali dengan ilmu memadai terkait segala elemen yang menyangkut pembentukan keluarga. Ke depannya, Sekolah Pra Nikah diharapkan mampu menghasilkan pemuda-pemuda dengan wawasan cukup sehingga persoalan pernikahan bukan hanya sekedar permasalahan hubungan intim atau percekcokan keluarga, tetapi bagaimana keluarga-keluarga Indonesia mampu menghadirkan generasi unggul yang tangguh secara mental, siap menghadapi era perubahan cepat dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Robbaniyah dan Quraniyyah.

Sinta Yudisia
Penulis,
Mahasisiwi Psikologi Untag-Sby,
Kontributor Rumah Keluarga Indonesia & Sekolah Pra Nikah

Referensi :
1. Weiten, Wayne; Psychology Themes& Variation, 2007, University of Nevada, Las Vegas
2. http://bimasislam.kemenag.go.id/informasi/berita/93-dirjen-bimas-islam-sayangkan-perceraian-meningkat.html
3. http://www.bps.go.id/
4. www.apa.org.id
5. http://www.marriageeducation.com.au

 

Kaitkata:

Sinta Yudisia : Bedah Buku Takhta Awan & Kang Abik : Movie Seminar, Malang 3 Des 2011

 

Andrea Yates : Ibu yang Menewaskan ke 5 Anaknya Sendiri

Andrea Yates : Ibu yang Menewaskan ke 5 Anaknya Sendiri

Peristiwa ini telah terjadi 10 tahun lalu.
Mungkin banyak orang telah membaca kisahya berulang, mencoba memahami atau melupakan begitu saja ketika pada akhirnya tak memahami. Tetapi saya pribadi mencoba mencari tahu, apa yang sesungguhnya dialami perempuan cantik bernama asli Andrea Pia Kennedy itu? Kebetulan, saya juga harus presentasi Seminar Psikologi Klinis, mau tidak mau Andrea Yates menjadi salah satu bahan yang sangat penting untuk didiskusikan.

Ibu Membunuh : Mungkinkah?
Saya tidak memakai kata “membunuh” sebagai judul. Terlalu sadis rasanya. Sebagai sub judul, mohon maaf, terpaksa melakukannya.
Banyak orang bertanya2 apakah mungkin seorang perempuan –terlebih seorang ibu- kehilangan akal demikian rupa sehingga tidak memiliki belas kasihan sedikitpun ketika menghadapi anak-anaknya?
Mungkin tidak banyak kasus serupa Andrea. Namun cukup banyak ibu yang akhirnya tega memaki, mengancam, berteriak, mencubit, memukul, menghajar sang anak. Beberapa meninggalkan bekas luka serius, jika buka di fisik, secara psikis pastilah ada. Bahkan, menghilangka nyawa pun bisa.
Jangan katakan ….”aah, aku nggak mungkin begitu!”
Andrea Yates bahkan sejak bertemu Rusty Yates di awal kencan mereka berkata, ”aku nggak minum alkohol.” Sebab ia tak ingin seperti 2 kakaknya yang kecanduan.
Saya ingat suatu ketika menghadiri sebuah pengajian. Sang ustadz berkata tentang tahapan memperbaiki diri, keluarga, masyarakat dst. Di suatu titik sang ustadz berkata ” point pertama adalah Ishlahul Nafs – memperbaiki diri terus menerus dalam segala aspek. Jangan tinggalkan ini meski anda sudah memiliki keluarga, terjun kemasyarakat dan seterusnya. Ingat, berapapun lamanya anda ikut pengajian, betapapun hebatnya sebagai dai, anda tetap punya sifat basyariyah – manusia!”
Sungguh nasehat yang menyentak.
Setiap manusia, siapapun ia, bahkan ulama sekalipun apalagi kita tetap punya ciri khas manusiawi yang jika diabaikan, akan ada yang sangat tidak seimbang.
Sebagai seorang ibu , naudzubillahi mindzalik, kita tak ingin tragis seperti Andrea. Bahkan, kita mungkin akan memandang jijik, marah, benci, muak padanya yang tega membunuh anak-anak berusia 7, 6, 4, 1 tahun dan 6 bulan. Kita beranggapan ia pantas menjalani penderitaan yang sebanding.
Semua penegak hukum memandang sama. Juri, hakim, polisi, media.
Hingga penyelidikan tuntas yang melibatkan semua yang terkait dengan Andrea : Dora Yates, Jutta Kennedy, Russel Edison Yates, Dr. Eileen Strabranch, Dr. Mohammad Saeed, Michael Peter Woroniecki.
Ketika laporan 2000 halaman usai dikumpulkan.
Ketika Suzanne O Malley menuangkan kisah lengkap Andrea Yates dalam New York Times Magazine, O, The Oprah Magazine dan Dateline NBC ; dunia terhenyak.
Mereka terkesima , mencoba memahami dan menyelami, betapa selama 2 tahun Andrea Yates mencoba mati-matian melawan penyakit mental. Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya, berubah gelap mata.
Scizofren? Bipolar disorder? Psikosis? Halusinasi? Delusi?
Para ahli akhirnya bermuara pada satu penyakit yang dianggap wajar, tetapi bila diabaikan begitu saja, tak sederhana dampaknya.
Postpartum depression.
Penyakit yang mampu merenggut naluri keibuan.

Russel Edison Yates : suami yang baik atau buruk?
Tak banyak suami seperti Russel ”Rusty” Yates.
Demikian penyayang pada istri dan keluarga. Pada hari penguburan ke 5 anaknya, tak pelak, ia mendapatkan simpati massa yang besar. Betapa rasa kehilangan yang dialaminya kelewat sakit. Ia bahkan tak dapat berlama-lama mencucurkan airmata, sebab segera Rusty berpikir dan meminta tolong kepada para reporter, tokoh terkemuka yang menawarkan bantuan; siapa saja, agar bisa membantu mencarikan ia pengacara andal agar Andrea Yates terlepas dari hukuman mati.
”Percayalah, bukan aku yang paling menderita. Tapi Andrea.”
Simpati yang semula deras mengalir ke Rusty, sempat berubah mejadi kecaman keras seiiring penyidikan yang terus berjalan. Ia dianggap mengabaikan keselamatan, meremehkan penyakit, mengabaikan saran dokter. Kesalahan Rusty terhitung besar (setidaknya, mampu mengurangi hukuman Andrea dari eksekusi mati menjadi penjara seumur hidup).
Rusty, memang bersalah.
Tapi ia bukan sengaja melakukan kesalahan.
17 Juni 1999 ketika Andrea overdosis Trazodone dan harus dirawat hingga 24 Juni di The Methodist Hospital; Rusty sama sekali buta tentang penyakit mental. Ia tak memahami arti diagnosis ”penyakit depresi berat.”
Saksi paramedis yang terlibat dalam terapi Andrea berkata, Rusty sungguh luarbiasa. Ia rajin mengunjungi Andrea, bercakap-cakap, membelai rambutnya. Mengurus anak-anak & membawanya sekolah; membawa anak2 berkunjung ke rumah sakit. Selama 2 tahun kemudian, 4 kali Andrea masuk rumah sakit dan sepanjang itu pula ia harus pula rawat jalan. Rusty setia mendampingi sang istri, mencoba mengerti, tetapi pemahaman Rusty tak cukup untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa suatu saat, Andrea akan mampu membunuh 5 buah hati mereka.
Rusty bekerja di NASA.
Ia termasuk teknisi ”keramik”. Jangan anggap sepele kata ”keramik” sebab lapisan ini satu-satunya lapisan yang mampu menghantarkan pesawat ulang alink kembali ke bumi dengan selamat tanpa terbakar di atmosfer. Ketika Columbia gagal sebagai pesawat ulang alik bahkan menyebabkan tragedi yang luarbiasa; Rusty berada dalam tekanan pekerjaan yang tak terbayangkan.
Di saat yang sama, Andrea membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Suzanne O Malley mencatat betapa matematis Rusty, perbincangannya seringkali menggunakan kata angka , ”…..1 : 400; 1 : 10.000…..”. Lelaki itu belum memahami bahwa penyakit mental tak sama dengan bakteri yang dapat dibunuh dengan minum obat dosis tertentu. Andrea memang mengkonsusi obat, menerima injeksi. Tapi jauh di bawah permukaan, hati Andrea menjerit-jerit. Halusinasinya meliputi auditori dan visual. Belakangan, Rusty memang mengaku bersalah. Andaikan saja…..
Michael Peter Woroniecki
Karena saya tidak terlalu memahami ajaran christiani, saya tak akan terlalu banyak membahas cara Woroniecki. Ia salah satu guru spiritual Andrea, pendeta, pengkhotbah keliling. Beberapa masukannya memang kontroversial –sempat dianggap sebagai pemicu sikap di luar batas Andrea- tetapi sebetulnya, beberapa pendapat Woroniecki tak salah.
Woroniecki pernah berkata pada Rusty ”buat apa rumah besar jika tanpa cinta? Akan seperti kuburan.” Ia juga mengingatkan pasangan tersebut untuk kembali ke Tuhan, tetapi hanya Andrea yang menyambut. Rusty justru sempat bermasalah dengan Michael. Belakangan Rusty sendiri mengaku, andaikan ia ke gereja mungkin Andrea akan punya kesempatan bertemu ibu2 lain dan punya dunia yang lebih terbuka…

Riwayat Kehamilan
Andrea dan Rusty ingin keluarga besar.
1. 26 Februari 1994, Noah Jacob lahir
2. 15 Desember 1995, John Samuel lahir.
3. November 1996, keguguran.
4. 13 September 1997 Paul Abraham lahir.
5. 15 Februari 1999, Luke Davis lahir.
———————————————————————–
6. 30 November 2000, Mary Deborah, lahir.

Ketika Luke berusia 4 bulan, Andrea meminum 40-50 butir Trazodone 50 mg. Inilah pertama kalinya Rusty dikenalkan dengan penyakit mental. Andrea selamat, tetapi harus menjalani rawat inap karena didiagnosis depresi.
Dr. Eileen Starbranch, psikiater Andrea mewanti-wanti Rusty agar tak memiliki anak lagi sebab Andrea akan mengalami psikosis yang lebih parah bila harus hamil dan memiliki anak. Lolos dari Trazodone, Andrea ternyata mengulangi percobaan bunuh diri dengan pisau di Juli 1999, gagal. Ia menjalani rawat inap dan rawat jalan atas sakit mentalnya.
Agustus 1999, Eileen bahkan sepakat sekaligus melakukan evaluasi dengan James P. Thomson, Ph.D dan Arturo Rios, M.D untuk menentukan langkah bagi Andrea yang ”merupakan 1 dari 5 pasien terparah”.
ECT. Electroconvulsive therapy.
Menurut Eileen pastilah ada dampak lainnya dari terapi kejut ini, tetapi efek yang dramatis pun diharapkan dapat merubah perilaku psikosis Andrea. Sayangnya, Rusty tak setuju.

Saran, Pengobatan, Terapi yang dianjurkan Dr Eileen Starbranch & Dr. Mohammad Saeed
Dr. Eileen meresepkan Haldol, melarang hamil lagi, menganjurkan ECT.
Dr. Saeed menangani Andrea di Devereux, League City justru menghentikan haldol, menggantikan dengan risperdal meski kemudian menggantikan lagi dengan haldol (atas permintaan Rusty). Di tangan Dr. Saeed, Andrea Yates menjalani perawatan mental hingaa menjelang hari yang tak pernah diperkirakan. 4 Juni 2001 Dr. Saeed memerintahkan Andrea menghentikan haldol, dan tidak meresepkan obat antipsikotik lainnya.
Sama seperti Rusty, Woroniecki, Dr. Saeed menerima kecaman luarbiasa atas keputusannya membiarkan Andrea hidup tanpa obat sama sekali. Apalagi, dokter ini imigran Pakistan.
Ketika Suzanne O Malley di kemudian hari menyamar sebagai pasien Dr. Saeed, mengatakan ia menderita gangguan kecemasan parah; Dr. Saeed jauh dari yang diberitakan media massa. Ia dokter yang tidak hanya mengerti mendiagnosis obat; tetapi sangat memahami dampak-dampak negatif yang ditimbulkan. Kepada Suzanne Dr. Saeed sama sekali tak meresepkan obat, tak memberinya terapi tingkahlaku tetapi menyarankan : Suzanne, apakah anda mampu membuat daftar urutan prioritas sendiri? Jika ya, maka sesungguhnya anda mampu mengatasi kecemasan. Kecuali, jika anda membutuhkan bantuan saya untuk merumuskan mana peringkat kebutuhan dan anda tidak bisa, mari saya bantu. (kurang lebih demikian…)
Dr. Saeed tak meresepkan obat bagi Andrea.
Ia menyarankan Rusty untuk meluangkan waktu lebih banyak bagi Andrea.
Sayangnya, meski Rusty membeli rumah di Beachcomber Lane agar ia mudah menjenguk dari NASA, tak mudah meluangkan waktu. Columbia gagal. Misi senilai USD 1,5 Milyar (atau setara 1500 trilyun) terancam gagal .

Haldol , Risperdal atau ECT ?
Haldol adalah obat psikotik berjenis haloperidol yang langsung bekerja di lymbic system, otak manusia. Terutama digunakan untuk pasien dengan penyakit mental parah seperti skizofren atau yang memiliki penyakit dengan simptom macam borderline personality disorder, agresivitas, psikosis akut, delirium/kegilaan.
Bagai dua sisi mata uang, haloperidol bukannya tak memiliki efek buruk.
Dalam jangka panjang mengakibatkan tremor, kecemasan, depressi bahkan keinginan kuat untuk bunuh diri.
Itulah sebabnya Dr. Saeed memilih Risperdal yang sama2 dapat digunakan untuk skizofren dan bipolar disorder; dengan efek samping ”hanya” menaikkan tekanan darah, hiperpigmentasi,tremor.
Bagaimanapun hebatnya Haldol, Risperdal, ECT; semua terapis mengakui bahwa farmakologi bukan satu-satunya pendekatan bagi penderita penyakit mental. Biopsikososial akan memberikan kesembuhan yang jauh lebih optimal saat pasien mendapatkan perawatan biologis, psikologis juga sosial.

666 & Halusinasi auditori-visual
Woroniecki memang lantang mengkritik sistem dan mengatakan ” semua sistem satanic.” Di kepala orang normal sistem setan dapat berarti pemerintahan yang korup, kaum agamawan yang justru tidak lurus. Bagi pengikut Woroniecki yang lain, mereka mendirikan homeschooling.
Bagi Andrea yang ”sakit” ; sistem setan bermakna lebih.
”Aku ini keturunan setan,” keluh Andrea, ketika menyadari anak-anaknya tidak patuh. Padahal wajar, bukan, anak kecil seperti itu?
”Aku ini ibu yang buruk,” begitu Andrea menganggap dirinya.
Padahal, ia sanggup memikul beban hamil hampir setiap tahun dan merawat anak-anak dengan tangannya sendiri; memutuskan menjadi ibu rumahtangga dan menuruti apapun kata Rusty
Andrea berkali-kali menggaruk kepala hingga berdarah, mencari tanda triple 6. Ia mendengar suara-suara setan yang mengatakan bahwa ia ibu yang buruk yang akan menghantarkan anaknya pada neraka. Dua kali percobaan bunuh diri gagal, baik minum trazodone atau menggunakan pisau; Andrea melihat lewat kacamata lain : anak-anaknya harus diselamatkan dari seorang ibu yang jahat.
Halusinasi, delusi, ilusi bukan peristiwa yang muncul begitu saja atau dialami oleh mereka yang dianggap para pemuja setan atau orang yang bisa ”melihat lebih”. Dengan tekanan di luar batas, beberapa orang mulai mengaburkan antara mimpi dan nyata, antara ghaib dan terang, antara ya dan tidak.
Setiap kita, pernah terbersit pikiran buruk.
Berniat pergi sejauh-jauhnya ketika suami dan anak-anak sempat tak kompak, ingin berlibur sendiri tak diganggu, merasa diri paling kesepian atau malang. Jika perasaan itu hinggap sekali-sekali, setahun sekali, tidak dalam waktu yang reguler; semua masih wajar. Siapa sih yang tidak pernah bertengkar dengan suami, dengan anak, dengan mertua atau teman dan atasan? Siapa yang pernah mengalami semua kesulitan seolah membuat perjanjian di waktu sama : sejumlah tagihan, anak-anak sakit, suami sibuk, tubuh lelah, salah faham dengan saudara, orangtua memarahi, teman-teman mengoreksi tindakan kita yang salah?
Hanya saja ketika orang memiliki predisposisi –kecenderungan – tabah atau rapuh; di situlah titik perbedaan. Predisposisi diakui sebagai hereditas –menyangkut sistem syaraf dan karakter. Ada yang tahan banting, ada yang mudah tumbang.
Mereka yang mudah tumbang; dilengkapi dengan psikososial : kelelahan mental bertubi tanpa penyelesaian, sosial yang tidak medukung. Maka farmakologi hanya menunda saja, suatu masa, bom akan meledak pada waktunya.

Tanpa Keinginan
Rusty menggambarkan Andrea sebagai perempuan ”tanpa keinginan”.
Meski di awal Andrea sudai memulai start yang bagus dengan tidak mengkonsumsi alkohol, perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Saat remaja Andrea pernah bullimia dan pernah berkata pada rekannya ingin bunuh diri. Ketika ia pernah bertanya pada Rusty, seperti apa kondisi dirinya tiap kali dirawat?
”Tetapa seperti kamu apa adanya, hanya jauh lebih pendiam,” jawab Rusty.
Rusty belum menyadari, catatan remaja Andrea seharusnya menjadi perhatian lebih. Lelaki itu memandang dengan caranya sendiri.
Mereka awalnya memiliki rumah bus yang mungil.
Tetapi Rusty lalu memindahkan keluarga tercintanya dengan membeli rumah luas dengan 7 kamar. Ia tak menangkap betapa kelelahannya Andrea mengurusi semuanya sendiri, memiliki anak-anak dengan kelahiran rapat (sempat keguguran pula); seringkali hanya tertidur 3 jam sehari.
Rusty belum memahami bahwa obat-obatan hanya mengobati sementara waktu, tetapi sebagai pasangan; mereka diharuskan punya komitmen lebih. Saat seperti ini Woroniekci menjadi guru spiritual bagi Andrea. Meski tak menyetujui pendapat Woroniecki; Rusty menyesali , andai ia dan Andrea punya waktu untuk ke gereja bersama; Andrea akan sempat bergaul dengan ibu-ibu lain. Andrea akan sempat bersosialisasi dan tidak hanya terpuruk dalam pekerjaan rumahtangga dan kelelahan dengan perasaan bersalah membesarkan anak sendirian.

Postpartum depression
Belakangan, depresi pasca melahirkan ini mulai ramai dibicarakan sebab mengancam hidup sang ibu dan orang di sekelilingnya; tergantung bagaimana ia mempersepsikan makna. Sindrom baby blues ini mudah difahami bagi perempuan.
Saya tak akan membela Andrea sebab membunuh tetaplah membunuh.
Dalam hal ini, ilmu saya tentang agama dan hukum tak cukup untuk membuat kesimpulan apa yang tepat bagi Andrea usai ia melakukan hal terkutuk itu. Saya mengambil pendekatan psikologis, sebab pertanyaan psikologis adalah seperti ini : ketika sebuah kejadian (buruk) terjadi, ”saya” ada di mana? Saya boleh jadi seorang anak, seorang pasangan, seorang orangtua, seorang teman, seroang sahabat, seroang orang lain, seorang penegak hukum, seorang politisi, seorang agamawan, dst.
Ketika Andrea Yates dinyatakan postpartum depression oleh Dr. Eileen; dimanakah Rusty, Woroniecki, Dora Yates, Jutta Kennedy? Dimanakah Noah, John, Paul, Luke, Mary? Dimanakah proyek NASA dengan misi 1500 Trilyun nya?
Rusty Yates tak mampu memberikan waktu sebanyak yang dibutuhkan, sebab proyek NASA demikian membutuhkan tenaga. Woroniecki dan Rachel istrinya menjadi teman Andrea berbagi, yang sayangnya, petuah Woroniecki di artikan salah oleh Andrea. Di sekeliling Andrea dipenuhi anak-anak yang lucu , menggemaskan. Anak-anak yang sangat menguras energi.
Punya seorang bayi?
Kehamilan 9 bulan yang melelahkan –mual, muntah, punggung sakit- tapi tetap harus makan demi sang anak; kelahiran yang meski ajaib, tetap menyakitkan. Semua belum selesai, makhluk mungil ini adalah raja sebab ia makan, minum dan buang air sesuka hati. Perempuan denga fisik dan mental kuat, insyaAllah sanggup melewati hari-hari berat dengan bahagia. Bahkan belum genap setahun, sudah hamil lagi. Melihat riwayat kehamilan Andrea, tampaknya setiap tahun hamil.

Ibu, Bukanlah Pekerjaan Mudah dan Murah
Merenungi Andrea, kita akan belajar memahami bahwa menghasilkan sebuah ibu yang tangguh bukan pekerjaan mudah. Nilainya, bahkan lebih mahal dari pesawat space Shuttle senilai 1500 trilyun.
Janganlah mengatakan , ” alaaaah, cumi nyuci sama masak, berbenah rumah. Ngurus anak doang.”
Mengurus anak, bukan hal mudah.
Andrea masih mampu mengurus keluarga, meski bolak balik masuk rumah sakit mental. Ketika tubuh dan psikisnya tak sanggup, ia hancur.
Seorang istri dan ibu juga tak hanya dapat dipenuhi dengan materi. Diberi mesin cuci, rumah, peralatan serba elektronik; rumah besar. Tujuannya agar ia bisa sempurna menjalankan tugas keibuan tanpe mengeluh.
Lalu dimanakah suami? Seorang ayah?
Rusty Yates, meski stress dengan tekanan Columbia yang hancur, aka berbeda dengan tekanan yang dialami seorang ibu dengan 5 anak kecil : menangis bergantian, bertengkar, membongkar rumah usai dibersihkan. Belum lagi jadwal makan, sekolah, buang air. Cucian perabotan, pakaian. Saya sendiri tak membayangkan pekerjaan rumah Andrea setiap hari di saat mentalnya yang sakit terus bertumpu pada penilaian : kamu ibu buruk, kamu yang salah, kamu keturunan setan….
Sebagai muslimah, kita bersyukur.
Dengan mata berlinang kita dapat bermunajat ke hadapan Allah SWT, membaca Quran. Tetapi ingat, Rasulullah saw pun berkata bahwa ibadah jangan selalu ekstrim. Di saat kebosanan melanda, carilah suami dan tumpahkan keluh kesah. Jika suami tak ada, carilah teman. Ingat, teman yang nyata. Sebab teman dunia maya tak selalu seperti yang diharapkan. Tentunya, teman yang baik dan mampu mejaga martabat kita.
Jika pikiran buruk terus melanda, yakinlah kita tak akan berakhir seperti Andrea.
Seburuk apapun kita sebagai ibu, masih tersedia peluang untuk memperbaiki diri.
Menjadi ibu tak mudah, apalagi jika Allah SWT menitipkan penyakit lain : penyakit asma, peyakit darah rendah , penyakit diabetes. Apalagi jika diikuti ”penyakit” lain : penyakit agresif dan mudah marah; penyakit mudah menyalahkan diri sendiri, penyakit tak mudah memaafkan, penyakit ”ringan tangan” kepada anak-anak.
Setiap penyakit tersedia obat.
Penyakit fisik, maupun jiwa; selalu ada cara untuk menyembuhkan.
Jika suami khilaf, tak memiliki waktu untuk berbagi cobalah tegur perlahan dengan megnatakan bahwa kita rindu waktu berduaan dengannya. Katakan kita ingin diperhatikan, ingin didengarkan keluh kesah yang meski sepele, akan memberi kekuatan.
Para suami, sebaiknya meluangkan waktu 15-30 menit untuk mendengar, hal-hal remeh : si adik memecahkan gelas lagi, tangan yang luka saat mencuci dan mengiris bawang, baju yang tak kering-kering saat musim hujan. Jika tak bisa tiap hari, seminggu sekali setidaknya harus tersedia waktu untuk mendengarkan keluhkesah istri.
Percayalah.
Sepasang telinga, mata dan hati suami jauh lebih mengobati daripada electrocompulsive therapy, haloperidol atau risperidone.

 
10 Comments

Posted by pada November 14, 2011 in Oase

 

Kaitkata:

Review Takhta Awan (Sinta Yudisia) oleh Suci Ays

http://www.facebook.com/#!/notes/suci-ays/trtte-tahta-awan/10150321538621836

{TRTTE] Tahta Awan
oleh Suci Ays pada 17 Oktober 2011 jam 11:06
Buku kedua dari trilogi “The Road To the Empire” ini masih berkisah tentang Pangeran Mongol Muslim pertama. Cerita bagaimana asal mula keislamannya ada pada buku pertama. Yang belum baca rekomended banget buat dibaca.

Setelah kemenangan atas perang melawan adik kandungnya Arghun Khan di Cekung Turpan, Akhirnya Takudar pangeran Kesatu Mongolia naik Tahta dengan gelar Takudar Muhammad Khan. Bukan hal yang mudah baginya memimpin Mongol dengan gelar keislamannya, banyak kalangan yang meremehkan. Bayang – bayang Arghun Khan yang memimpin Mongol dengan tangan besi kerap membuatnya dibanding – bandingkan dengannya.

Ia banyak membuat perubahan dalam kepemerintahan, ia juga berusaha mengubah pola kehidupan rakyatnya agar mulai memperhitungkan pertanian. Kedekatannya dengan utusan dari wilayah muslim pun menimbulkan kecemburuan suku – suku mongol. Ia dituding lebih suka berlama – lama dengan utusan muslim dan membaca kitab.

Keputusannya untuk membiarkan Arghun Khan tetap hidup pun dianggap sebagai bentuk kelemahannya, Ia tak dapat bertindak tegas. Ia kerap datang sendiri menemui saudaranya dipenjara Bayarkhuu, menolak usulan pejabat negara dan bangsawan agar Arghun Khan yang datang menemuinya dengan kawalan ketat. Tidak, Takudar tak ingin Arghun mendapat simpati dari orang – orang yang masih setia kepadanya.

Di Madrasah Babussalam Rasyiduddin sahabat Takudar putra dari syeh Jamaluddin mengiriman pesan singat kepada ssahabat – sahabatnya untuk berkunjung ke Syakhrisyabz. Sudah saatnya mereka mengunjungi sahabat mereka sang kaisar Mongolia, Kaisar Takudar Muhammad Khan. Sudah enam bulan lamanya ia tak bisa berkomunikasi dengan Kaisar.

Dilain pihak, orang – orang yang tidak suka akan kepemimpinan Takudar tengah menyusun rencana kudeta atas kaisar untuk membawa Arghun Khan kembali pada tahtanya. Han Shiang Janda mendiang Albuqa Khan panglima sekaligus tangan kanan Arghun khan dan mendiang ayah Arghun Kaisar Tuqluq Timur Khan manjadi orang dibalik rencana tersebut.

Dihari ketika kaisar pergi berburu, rencana pembunuhan kaisar pun dilaksanakan, namun Kaisar berhasil diselamatkan oleh prajurit Kasik, tentara elit pelindung Kaisar. Ceritapun kembali bergulir, Takudar berada dalam pelarian. Sungguh ironis, ia dudu dalam tahtanya hanya selama setahun.

Kedatangan Rasyiduddin dan kawan – kawannya ke Ulanbataar berakhir dengan kekecewaan, mereka diusir bahkan sebelum menginjakkan kaki di benteng perbatasan. Mendengar tentang apayang telah terjadi pada Takudar, Rasyiduddin menyusuri wilayah yang kira – kira akan dilalui Takudar dalam pelarian.

Namun dalam usaha pencariannya ia bertemu Tomorbataar bekas panglima kepercayaan Takudar yang kini membelot kepada Arghun Khan. Dalam buku pertama “The Road To The Empire” ketika Rasyiduddin ditawan dan disiksa Arghun Khan, aku menggumankan doa dalam hati, jangan mati, please jangan mati, Mbak Sinta jangan dimatiin Rasyiduddinnya. Kini saat – saat pertempurannya melawan Tomorbataar mata ku telah basah, rasanya sudah terbaca kisah selanjutnya.

Dibuku ini juga dikisahkan tentang perjalanan syeih Habiburrahman menemui syeikh Edebali, meskipun ia tak dapat menemui syeikh Edebali, Syeikh Habiburrahman mendapatkan pesan Syeikh Edebali yang ditujukan kepada para pemimpin. Setelah membaca puisi Syeikh Edebali mata Syeikh Habiburrahman basah mengingat selama ini Takudar memimpin Mongolia sendiri tanpa ada sahabat yang menemani. Kini ia ingin menghabiskan sisa hibupnya mendampingi Takudar sebagaimana Syeikh Edebai setia mendampingi Osman Ghazi pemimpin Anatolia dengan ilmu dan bashirahnya. Ia ingin segera menemui kaisar. Namun ia tidak sadar bahwa semua sudah terlambat. Tahta Mongolia sudah tidak berada dalam tangan Takudar.

Hari ini pasti tiba, harap cemas Taudar menanti sosok Sahabat seperjuangannya. Rasyiduddin.
Masih banyak yang ingin ditulis tapi mata ku sudah basah dan hidung ku pun mampet. Pandangan kabur oleh cairan bening yang tak dapat ku hentikan.

Tahta Awan, Sinta Yudisia. Menurut ku seperti buku – buku Mbak Sinta Yudisia sebelumnya (refer to Reinkarnasi dan Existere) kerap terasa lambat diawal membuat pembaca sedikit bosan diawal, namun tak ingin berhenti membaca karena penasaran dengan kisah selanjutnya. Banyak cerita diawal yang akhirnya kulewatkan demi memuaskan rasa ingin tahu. Namun kesan terlalu cepat berakhir ketika masuk ending novel tidak akan ditemui dalam kedua buku The Road To The Emire dan Tahta Awan. Kedua Novel ini terasa berhenti disaat yang tepat.

Rada kecewa dengan adanya Sneak Peak buku ketiga trilogi TRTTE, terlalu banyak Spoiler untuk ukuran Sneak Peak. Gara – gara Sneak Peak perasaan ingin segera membaca buku ketiga jadi kendor, semoga saja dalam buku ketiganya masih menyimpan misteri dan kejutan – kejutan yang tak disangka – sangka.

Overall buku ini tidak hanya rekomended untu dibaca namun juga didiskusikan, secara banyak sekali beredar novel – novel sejarah Islam namun ceritanya seolah menyudutkan Islam itu sendiri. Sempat berdiskusi dengan Mbak Sinta Yudisia dalam acara Launching FLP Sidoarjo Ramadhan kemarin tentang fenomena ini.

Dan setelah membaca TRTTE dan Tahta Awan rasanya ingin kembali menemukan novel sejarah Islam yang ditulis dengan jujur, tak ingin sakit hati seperti saat membaca “Taj Mahal” terulang lagi.

Suci
Ental Sewu 18 Sep. 11 23.26
Masih berusaha bernafas dengan hidung sebelah yang mampet

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 26, 2011 in Oase

 

Juara I Lomba Essay Palestina 2011

Alhamdulillah, essay Palestina : Seberapa Jauh Kita Harus Peduli ( Sinta Yudisia) terpilih sebagai juara I lomba essay yg diadakan oleh KAZI -Kajian Zionis Interbasional- FLP Depok 2011.

Palestine, our second homeland!

 

Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :Sisi Positif (dan Negatif) Menulis -MIggu 18/09/11

 

Bedah Buku Takhta Awan di Probolinggo :

Sisi Positif (dan Negatif) Menulis

 

            Adakah sisi negative seorang penulis?

            Tentu ada.

            Saat menulis , dikejar deadline, ide pas lagi muncul….wah, nevermind pekerjaan lain. Malas keluar rumah, ngobrol sama tetangga. Maunya bercengkrama dengan laptop melulu. Bukan hanya itu. Kondisi fisik menurun, malam-malam berlalu tanpa istirahat, pembuluh darah membengkak baik di kaki maupun di bagian (maaf : belakang). Meja kerja berantakan, tak menjawab SMS apalagi telefon yang masuk.Ada yang mau main ke rumah? Aduuh, jangan dulu deh. Lagi dikejar deadline, ntar editor ngamuk atau pendaftarann lomba tutup!

            Selalu ada sisi negative meski tak sama.

            Tetapi banyak pula sisi positif.

Read the rest of this entry »

 

Siapakah Agus Sofyan, di balik FLP Jawa Timur?

 

Aneh rasanya, jika saya pada akhirnya tidak memperkenalkan sosok yang satu ini, setelah saya menuliskan tentang Lutfi Hakim alias Adam Muhmmad. Sungguh, bukan kampanye premature atau penggalanganmassa. Saya sering merasa sangat berterima kasih kepada para Maskulin di FLP : ustadz Fathoni, ustadz Syukur Mirhan, Aferu Fajar, Faishal, Syahrizal, Faris Khoirul Anam, Mashdar Zainal, Lukman Hadi, Muhsin, mas Bahtiar, mas Haikal…(mohon maaf jika ada yg lupa). Kalau kaum Feminin di FLP sangat banyak, bahkan FLP sempat dijuluki Forum Lingkar Perempuan. Maka kaum Maskulin di FLP ibarat penguat sendi2 FLP alias masih ada tenaga untuk dimintai angkut-angkut barang atau antar jemput kesana kemari :-D

            Suatu saat, ada acara ke yogya.

            Seorang teman muslimah pernah bertanya bertahun lalu : ”…suami mbak gakpapa mbak pergi jauh tanpa anak-anak sama sekali?” begitulah kira-kira.

            Tanpa diminta, sang muslimah tersebut bercerita bla-bla-bla tentang suaminya.

Enaknyaaaaa….

            “Wah, pak Agus tuh setia banget ya, nganter jemput bu Sinta.”

            “Aku mau juga punya suami kayak gitu!”

Read the rest of this entry »

 

Bedah Buku Takhta Awan di Perpustakaan Kota, 16 Juli 2011

           

 

Suhu Beladiri :Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan

 

Suhu Beladiri :

Salah Satu Pembicara Bedah Buku Takhta Awan

   
Siapa pembicara dalam acara bedah buku Takhta Awan?

            Mungkin teman-teman penulis, pembaca dan rekan-rekan FLP belum mengenal Mas Mochamad Amien, atau lebih sering dipanggil mas Amien. Mungkin juga bertanya, mengapa pembicara kali ini jauh dari dunia literasi?

            Mas Amien salah satu guru (atau biasa dunia kang-ouw memanggil ‘suhu’) dalam beladiri asliIndonesia, silat. Keahlian beladirinya menyebabkan beliau melanglang mancanegara dan kelilingIndonesia.China,Tajikistan,Uzbekistan, benua Eropa. Selain kelilingIndonesiatentunya. Mas Amien pernah cukup lama berkecimpung sebagai wartawan, bergabung bersama salah satu televisi swasta terkenal. Ia pengamat sejarah, terutama yang berkaitan dengan sejarah beladiri, terutama beladiri yang diusung para pendekar muslim.

 Return of The Condor Heroes & Kitab Zodam

Read the rest of this entry »

 

FLP Mengajari, Mendidik, Membantuku Menjadi Penulis Seperti Sekarang

FLP Mengajari, Mendidik, Membantuku Menjadi Penulis Seperti Sekarang

            

Seperti yang sudah lazim diketahui orang. Bakat 1 %, sisanya kerj keras. Menjadi penulis pun begitu. Banyak orang bertanya : saya gak punya bakat tapi suka nulis, bagaimana caranya? Sama seperti para penulis lain, saya pun kebingungan. Gimana sih cara nulis yang baik, yang bisa tembus media, yang memberi kesan mendalam pada pembaca? Saya emang suka nulis, tapi kan cuma diary. Trus corat coret di kertas atau buku bekas. Waktu itu masih ada majalah Annida. Rasanya pasti…..bangga kalau nama kita dan cerpen tertera di situ. Bangga bahwa dalam hidup ini, jejak kita, pemikiran, memberi manfaat buat orang lain. Harap-harap cemas, saya rajin mengirim ke Annida baik cerpen ataupun lomba. Alhamdulillah menang 2x, beberapa cerpen pun dimuat. Lalu sesudahnya? Timbul pertanyaan-pertanyaan. Mending nulis kumpulan cerpen atau kirim cerpen-cerpen ke majalah/media? Mending nulis puisi? Mending nulis novel? Mending nulis non fiksi atau fiksi? Sebetulnya…..saya itu bisanya nulis apa siiiiih?

Akhirnya…bergabunglah di FLP. FLP, tempat saya bergabung karena disitu berisi para penulis capable, ternyata memberi banyak pembelajaran.

Pembelajaran pertama.

Read the rest of this entry »

 

Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!

Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Rezeki? Sstt, Coba Hafalkan Quran!

   

            Memory ini cukup lama mengendap, sayangnya tidak kutuliskan, hingga sanad dan siapa yang meriwayatkan aku lupa. Tetapi inti ceritanya insyaAllah masih terekam jelas. Dialog dan alur cerita, aku luweskan agar lebih mudah dimengerti.

 1. Ibu dengan 7 anak yang menghafal Quran, rezeki tak disangka!

Read the rest of this entry »

 

“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!

“Kekejaman” Editor : TAKHTA AWAN!

Januari 2011 naskahku selesai.

Dan ….cukup lama, sang editor membedah karyaku.

“Mbak…sudah baca Orchid Empress?”

Belum, jawabku.

“Baca ya…,” sarannya,” sangat emosional.”

Januari. Februari. Maret.

Read the rest of this entry »

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.