Kaca #1 (Kiat Cantik) : Tidur

Tag

Tidur yang cukup salah satu kunci kesehatan kulit.
Saya membuktikan sendiri, beberapa saat lalu. Ketika harus masuk rumah sakit dan kemudian banyak istirahat di rumah. Pasca dari rumah sakit, banyak istirahat, sering tidur. Kulit wajah terasa lebih segar dan sehat. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk membeli aneka ragam kosmetik, perbaiki pola tidur kita! Memang saat kerjaan menumpuk, bisa jadi tidur kurang. Saat ada waktu, lebih baik tidur daripada begadang menonton film.

la_sun_sleep_cuddle

Kias : Kata Inspirasi ~ Kebersamaan Palestina

Tag

,

Salah satu kamp pengungsi, Kamp Pantai (Beach Camp) di kota Gaza barat, dihuni lebih dari 81.000 orang, padahal luasnya kurang dari dua kilometer persegi. Meskipun demikian, jika anda mendengarkan dengan saksama, bahkan di kamp-kamp itupun anda bisa mendengar detak jantung bangsa Palestina.

Orang-orang harus memahami bahwa orang Palestina tidak hidup demi diri mereka sendiri. Mereka hidup untuk satu sama lain, saling mendukung. Semua yang kulakukan demi diriku dan anak-anakku, juga kulakukan untuk saudari-saudariku dan anak-anak mereka. Gajiku untuk seluruh keluargaku. Kami merupakan sebuah komunitas.

( I Shall Not Hate – Dr. Izzedin Abuelaish)

i shall not hate

Kias- Kata Inspirasi Penulis #1

#jumatinspirasi #menulis

“…kau tak terlalu mementingkan tokoh kecil. Sebuah roman harus mirip dengan jalanan penuh orang asing yang dilewati dua atau tiga orang yang benar-benar kita kenal, tak lebih dari itu. Coba lihat penulis lain, Proust misalnya. Dia pandai menggunakan tokoh kecil. Dia memakainya untuk mempermalukan dan merendahkan tokoh-tokoh utamanya. Dalam sebuah roman, tidak ada yang lebih berharga dari pelajaran kerendah hatian bagi para pahlawannya…”

(hal 24, Suite Francaise, Irene Nemirovsky – pemenang Prix Renaudot Award)

Pernik- Unik Pemilu 9 April : Saksi, Logistik, Preman Tobat dan Pelajar Mencoblos

Sekitar jam 23.00 malam tadi, saya keluar ke toko terdekat, lupa bahwa malam itu giliran mendapat jatah konsumsi untuk satpam kompleks .

Saya naik sepeda motor, melewati kelurahan Wonorejo dan terpesona, begitu ramainya kantor yang selama ini sepi. Ramai bukan karena ajang dangdut atau main kartu, tapi rinduh rendah suara percakapan, perdebatan, diskusi, bahkan rasa lapar yang menghinggapi hansip hingga para relawan masing-masing partai.

Situasi yang menurut saya menakjubkan, orang berduyun keluar dari rumah, menuju TPS dan menyaksikan penghitungan suara hingga mengawalnya ke kantor kelurahan. Bukan ajang hiburan joged semata, pentas musik atau pesta pernikahan, namun rakyat turut meramaikan kesempatan menjadi bagian penting dari masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Masing-masing partai punya cara unik sendiri.
Saya pribadi, mengajak anak-anak yang sudah SMA, Inayah dan Ayyasy untuk ikut aktif sekalipun mereka belum menjadi bagian dari pemerintahan. Setidaknya, adrenalin muda mereka terpacu : inilah saatnya Indonesia bangkit bermartabat, membuktikan pada dunia Pemilu damai dan jauh dari kecurangan.

1. SAKSI

Saksi bermacam-macam. Ada bapak dan ibu terpelajar, dengan pakaian rapi ala eksekutif. Ada juga pemuda dan mahasiswa dengan pakaian casual. Ada pula wajah-wajah muda pelajar pencoblos pemula yang bersedia jadi saksi.

Briefing pagi, koordinator mengingatkan,
“Jangan bertujuan sekedar mencari honor. Niarkan untuk ibadah. Kita ingin menjadi bagian dari perubahan dan kejujuran. Semoga langkah Bapak, Ibu, Adik-adik sekalian mendapatkan barakah Allah SWT.”
Kata “amin” yang diucapkan bersama serasa menggedor bilik jantung, memanaskan kelopak mata.
Bukan! Ini bukan saat menjadi radikal, fundamental, ajang perjuangan suci yang dapat berubah menjadi langkah-langkah emosional belaka. Ternyata, masih banyak orang yang menginginkan kejujuran di saat-saat kritis. Pencoblosan suara ini, salah satunya.

Ada kelucuan para saksi di TPS, tempat pemilihan suara. Agar tidak ada syak wasangka, setiap yang punya waktu usai Dzuhur segera berkeliling menuju TPS-TPS di kelurahan masing-masing. Saya pribadi usai mengantarkan logistik makan siang, pulang untuk sholat dan istirahat sebentar, kembali berkeliling. Di Grup WA-whatsapp banyak kehebohan.

“TPS X kosong! TPS W gak ada saksi kita!”
Segera meluncur.
Di TPS, alhamdulillah ada saksi cadangan yang menggantikan. Tapi para saksi utama kemana?

“Saya sholat, Bu. Tadi sudah bilang sama mas fulan untuk gantikan saya.”
“Bu…maaf saya haidh, ganti s***tex agak lama…tapi di TPS ada yang gantikan kok.”
Di suatu TPS, saya bertemu seorang saksi pengganti, yang celingukan, untungnya kami saling mengenal.

“Bu Sinta, kok saksi kita gak ada? Katanya cewek, masih muda, ini semua saksi sudah tua semua. Mana ya?”
Saya selalu menyimpan data nama, nomer telepon, tidak malas untuk mencatatnya. Prediksi hal-hal semacam ini sudah terbayang, meski saya bukan panitia inti.
Saya menelepon Ayu(samaran).
“Ayu, ini bu Sinta. Kamu dimana? Dicari saksi cadangan, mas Ali(samaran).”
“Oh saya di dalam bu, masuk saja…”
Di TPS X, terdapat aula kosong, dan Ayu tergeletak disana. Saya tanyakan ia kenapa?
Dengan malu-malu Ayu berkata,” Bu, saya izin sebentaaaar aja tiduran ya, ngantuk nih, habis saya juga lagi haidh. 30 menit boleh?”
Saya tertawa dan mengiyakan.
Kepada mas Ali saya katakan, “mas, Ayu mau tiduran 30 menit. Mas Ali jaga ya!”
Untung, mas Ali kooperatif .

Jangan pernah underestimate pada para saksi, sekalipun mereka ibu rumah tangga dan terlihat sangat sederhana, bahkan kampungan. Beberapa menunjukkan sikap luarbiasa! Meski ibu-ibu yang semula kita perkirakan tidak punya kapasitas mengawal suara.

Ibu Hani (samaran) ternyata sangat kritis dalam menghitung suara. Ia menentang keras ketika KPPS berkata, “saksi tidak perlu tahu jumlah pencoblos!” Bu Hani rela ngotot, disaat saksi-saksi yang lain diam saja, bahwa jika saksi tidak tahu persis jumlah suara pemilih, maka bagaimana dapat mencocokkannya dengan surat suara?

Ada lagi seorang ibu, sebut namanya bu Eni (samaran), yang keukeuh berkata bahwa penghitungan suara oleh PPS berbeda dengan catatannya. Penghitungan ulang dilakukan hingga 3X! Tentu saja bu Eni mendapat kritikan pedas dan caci maki dari saksi lain, tapi ia tetap bertahan dan berkata, “saya hanya ingin penghitungan yang jujur!” Alhamdulillah, memang terdapat selisih suara.
Mungkin saja tidak ada yang berniat buruk, semisal ingin menambah suara. Hanya, semua pihak sudah sangat lelah. Tapi sikap bu Eni luarbiasa untuk berani bersuara ketika data yang ia punya, berbeda dengan yang ada di PPS. Kadang, untuk bicara jujur, kita sungkan dan merasa,” ya udahlaaah, gak enak sama yang lain.” Padahal, sikap bu Eni pantas diapresiasi dan bukannya dicela.

2. LOGISTIK I

Sejak 05.30 saya sudah mengoprak anak-anak.
“Ayo bantuin Ummi! Jangan ada yang nonton televisi, jangan ada yang baca komik, jangan ada yang malas-malas. Bantu Ummi jemput logistik di bu Diana.”
“Trus, kita sarapannya apa, Mi?”
“Mikir sendiri ya, Ummi mau mikirin saksi hari ini. Kalian boleh masak sendiri, boleh beli.”
“Okeee!”

Berhubung semua mobil sudah habis terpakai, kami para relawan logistik memakai sepeda motor masing-masing. Sarapan pagi hingga sejumlah belasan dan puluhan, kami bawa, di gantungan sepeda motor, dipangku, di stang. Menuju titik-titik briefing. Ayyasy di depan, saya membonceng di belakang.
“Aku aja yang di depan,” kata Ayyasy. “Ummi naik sepeda motornya lama!”
Kami bolak balik mengantar sarapan pagi untuk saksi di titik briefing masing-masing kelurahan. Wajah-wajah sigap menanti sejak ba’da subuh. Arahan koordinator saksi didengarkan seksama. Setelah sarapan dan melepas hajat bagi yang memerlukan, jam 07.00 pagi saksi tiba di TPS masing-masing lengkap dengan kartu tanda pengenal.
Kami sampai di rumah berkeringat, kotor dan bau.
Di pintu, anak-anak menyambut.
“Ummiiii, kita sarapan apaaa?”
Ya ampun, anak-anak!

Untuk, para kakak sigap.
“Udah, aku aja yang belanja dan masak, Ummi mikirin yang lain! Ayo, Ummi dibuatkan minuman panas biar melek! Ummi mau makan apa? Mie telor?”
Aku terharu dan bahagia melihat anak-anakku yang besar mulai mampu mengambil alih. Meski, kalau si kakak sudah jadi komandan, maka…
“Hei! Kalian jangan enak-enak aja ya! Nonton! Baca! Lihat semua berantakan!”
“Ayo bereskan meja makan!”
“Ummiiii, kenapa aku yang disuruh-suruh sihhh sama mas, sama mbak?”
“Ummi! Mas bentak-bentak tuh!”
“Ummi! Mbak In main suruh-suruh aja!”
Kalau sudah heboh seperti ini, aku menginisiasi rapat darurat.
Kuabsen nama anak-anak satu-satu.
“Apa kalian tahu, dunia sedang mengamati pemilihan umum di Indonsia? Ayo jangan egois. Semua bersabar, banyak istighfar. Ummi mau mencoblos, mbak In juga. Jangan lupa Dhuha ya…”
Tenang. Reda sebentar. Lantunan istighfar. Wudhu untuk sholat Dhuha.
“Ummiiii!!!”
Hadehhh.

3. LOGISTIK II

Jam 09.30 usai mencoblos, aku bersiap-siap.
Kali ini , si kakak Inayah yang menjadi asistenku. Kami mulai mendatangi bu Diana, tim logistik, dan segera menyiapkan air mineral botol, nasi kotak dan snack. Dengan asumsi mendapat jatah untuk 10 TPS, jika 1 tempat butuh 10 menit maka total 100 menit. Belum kalau lokasi masih samar-samar. Rapat terakhir hari Selasa, semua makanan harus terdistribusi jam 11.00 siang.
Aku melakukan 2 kesalahan. Pertama, bensin habis, terpaksa harus ke pom bensin dan itu menambah jatah waktu keliling. Kedua, belum survey lokasi. Kepada koordinator, aku bertanya ancer-ancer lokasi.

Kucatat, kucoret-coret panduan, dan kami berangkat.
Dan, kritikan suamiku kali ini betul-betul mengena!
“Ummi harus belajar navigasi! Cari timur, barat, selata, utara! Itu akan memudahkan kita cari tempat!”
Berlindung atas nama perempuan, aku memang selalu mengandalkan suami untuk mencari daerah atau alamat baru. Minta antar hehe…tapi kali ini mana mungkin? Suamiku sedang sibuk berhari-hari dengan titik wilayahnya sendiri yang jauh dari lokasiku.

Maka aku bertanya pada hansip, mana TPS-TPS bagianku.
“Ngidul nggih…ngalor…wetan…kulon!”
Aku orang Jawa memang tapi lebih tahu kiri kanan dari pada timur barat selatan utara!
Inayah mengeluh,” ya ampun, ummi nggak sistematis banget sih…”
Tentu dia yang kepayahan, sebab harus memanggul konsumsi dan turun membagikan satu demi satu pada saksi. Aku minta maaf padanya dan mengakui itu kesalahanku meski tetap berdalih, “makanya Ummi minta keluar jam 09.30 untuk mengantisipasi kesasar.”

TPS-TPS yang kukunjungi demikian meriah. Masuk gang-gang kecil, berada nyaris di ujung Wonorejo dekat Bosem atau danau buatan zaman Belanda dulu, jalannya dinamakan jalan makadam alias jalan berbatu. Pulsa habis, baterai limit. Susah mengontak saksi untuk menanyakan dimana posisi mereka. Berbekal arahan hansip dan coretan dari koordinator saksi kami menyusuri jalan. Kadang, hansip sendiri tidak tau TPS lain yang dimaksud.
“Oh, pokoknya jalan aja terus Bu, nanti disana ada TPS juga kok.”

Jalan? Jalan kemana? Lewat mana dan gang berapa? Akhirnya aku berpesan pada Inayah tiap kali bertemu 1 TPS, menanyakan TPS yang berikut pada saksi. Misal TPS 15, kami akan bertanya dimana TPS 16. Misal TPS 21, kami akan bertanya lagi dimana TPS 22. Yah, meski arahan simple mereka kadang menjerumuskan.
“TPS 22? Oh, gampang kok Bu. Keluar dari gang ini, pokoknya nanti di pinggir jalan raya.”

Ow-ow, bapak itu penduduk asli. Kami bukan. Yang dimaksud keluar dari gang ini ternyata melewati gang bermacam-macam, berkelok-kelok, menembus jalan buntu, timur-barat-selatan-utara tidak terdeteksi. Berkali-kali kesasar, dan karena aku tak bisa memutar sepeda motor dengan otomatis, Inayah bolak balik harus turun.
Surabaya tengah ruaaarrrrbiasa panassss!!!
Di bawah terik matahari, kami berdua dehidrasi. Di tepi sungai, kami berhenti dan minta Inayah beli teh gelas dingin.
“Kamu mau digantikan Ayyasy, mbak In?”
Inayah menggeleng dan tertawa.
“Nggak usah! Aku senang sekali Mi, ikut serta. Rasanya heroik sekali!”
Apalagi, tiap kali mengantarkan konsumsi, saksi kami demikian sumringah dan gembira, membuat saksi dari partai lain bertanya-tanya.
“Kok dirumat nganti semono yo?” ( kok dirawat/dilayani sampai segitu ya?)
Kami berdua sampai di rumah kekeringan, kulit menghitam terbakar dan rasa haus mencekik. Inayah minta es krim sebagai penyuntik energi. Usai sholat Dhuhur, kelelahan akibat berputar-putar sedari pagi, aku tertidur sesaat.

4. LOGISTIK III

Aku tertidur sesudah sholat Asar.
Tubuhku demam. Memang sejak Senin, hujan deras mengguyur Surabaya dan aku terpaksa bermandi basah kuyup dibawah rahmat Allah SWT. Demam. Diare. SMS, message dari suamiku tak tergubris hingga menjelang pukul 17.00.
“TPS kompleks kita sudah hitung suara?”

Aku meloncat.
Ya ampun! Tadi siang, sesuadah menyerahkan logistik II, aku dan Ayyasy berkeliling menyambangi satu demi satu TPS yang saksinya ingin digantikan untuk ke kamar mandi, sholat atau mungkin kelelahan. Malah TPS kompleksku tidak terpikir. Kali ini, mengunjungi TPS 9 dan 10 di kantor RW ditemani anakku, Nisrina. Si kecil kelas 5 SD yang masih belum faham.
“Yang menang partai apa, Mi?” tanyanya.
“Ini masih dihitung suara, Sayang.”
Kami duduk, menunggu, aku memantau berita lewat whatsapp.
“Kok lama banget sih?” keluh Nis.
“Ya iyalah, itu dibuka, dihitung satu-satu.”
Berita terbaru terunggah di WA.
“Siap logistik malam ya!”

Aku segera mengontak tim, beberapa sudah tumbang karena kelelahan. Maka sekali lagi, aku meminta anakku jadi asisten.
“Kali ini malam ya, jadi Ayyasy yang ikut Ummi. Ummi naik motor, Ayyasy yang bagikan.”
Pengalaman tadi siang membagikan 10 TPS, alhamdulillah, lebih lancar. Meski, menginjak TPS ke 7 hujan deras mengguyur.
“Gimana Yasy? Kita berhenti?”
“Nggak usah Mi! Terus aja! Kasihan saksi!”
Alhamdulillah, dua anakku mulai merasakan tanggung jawab. Kami menembus hujan dan kuminta Ayyasy merapalkan doa-doanya di bawah curahan rahmat Allah SWT.
“Ya Allah…semoga aku menang lomba Tupperware tahun ini,” teriaknya.
“Amiiin!”
“Semoga abah ummi punya mobil!”
“Amiiin!”
Kata semoga,semoga,semoga dan harapan lain meluncur dari mulut dan hati kami. Menurut Ayyasy, ia senang sekali menemui saksi dan mendapatkan apresiasi.
“Tadi ada yang bilang macam-macam, Mi…wah enaknya, dianterin makanan dari pagi…wah, aku hampir aja beli makan malam. Alhamdulillah ya Mi…”
Di rumah, hingga malam tiba, anak-anak mengamati berita televisi, laporan di grup whatsapp. Suamiku baru pulang menjelang jam 03.00 dinihari. Kepada anak-anak yang masih berjaga kusampaikan, semoga mereka belajar dari sekarang bahwa seperti inilah upaya dan kerja keras kita dalam mengawal kebaikan.

5. PREMAN TOBAT

Tidak semua orang sanggup bersikap jujur saat Pemilu.
Saya tidak ingin menyalahkan siapapun, sebab masing-masing pihak punya alasan sendiri. Mungkin saja PPS sangat lelah, seperti kasus bu Eni. Mungkin juga ada yang mau potong kompas, seperti kasus bu Hani. Dalam gerakan massa seperti saat pencoblosan, sebagian orang merasa khawatir terhadap persepsi luas masyarakat. Dalam Psikologi Sosial dapat dinamakan Penonjolan, Kategorisasi, dan Skema.

Orang takut melihat warna dan simbol tertentu, sebab melambangkan keganasan.
Misal, orang takut melihat lelaki bertubuh tinggi tegap, rambut cepak, baju gelap. Skema terbentuk, ia reserse atau polisi yang sedang mengintai. Sehingga kita menjadi takut.
Orang takut melihat pakaian loreng, khawatir ia milter, sehingga kita akan bersikap hati-hati bila bertemu di jalan raya. Padahal ia hanya orang sipil biasa. Begitupun stiker yang tertempel di kendaraan : Marinir, Polisi, Brimob, Akpol, dll; membuat kategori menonjol dan kita jengah dibuatnya.

Saat pemilu pun demikian.
Para pemilih biasanya merasa khawatir, takut bila pilihannya menentang arus. Apalagi bila di kanan kiri, terlihat berseliweran orang-orang menggunakan simbol warna tertentu.
Preman tobat, menjadi salah satu pilihan.
Koordinator saksi berkata kepada preman yang sudah meninggalkan dunia hitam tersebut, “tujuan kita adalah mengamankan suara kita sendiri. Membuat para saksi berani bersikap. Sama sekali kita tidak perlu mengintimidasi.”

Kehadiran preman tobat ini bermanfaat di daerah rawan.
Apa daerah rawan? Terutama daerah yang biasanya dihuni buruh, orang-orang kampung dengan pendidikan rendah yang takut dengan sekali gertak. KPPS yang tunduk pada keinginan caleg tertentu akhirnya tidak berani macam-macam pada preman tobat.
Alhamdulillah, di daerah rawan, meski suara partai Islam di beberapa TPS tidak mendominasi, suara itu selamat sampai ke kelurahan. Para saksi tidak takut untuk bersuara, para pencoblos tidak khawatir akan intimidasi.

6. PELAJAR MENCOBLOS

Pemilu kali ini lebih meriah.
Di kompleks rumah saya, mulai terlihat wajah-wajah muda yang berangkat ke TPS bersama orangtua. Begitupun saya dan Inayah.
“Ummi mau coblos siapa?” tanya Inayah.
“Rahasia dong!” aku tak ingin ia hanya taklid buta padaku.
“Kalau aku pilih ustadz X, gakpapa ya?”
“Lho, kenapa kamu pilih ustadz itu?”
“Soalnya aku gak berharap ustadzah Y jadi, sebab ustadzah Y adalah guru favorit di sekolahku.”
“Terserah kamu, deh.”
Di depan TPS, kami melihat lembaran terpampang mulai DPD, Dapil 3 Kota Surabaya, Dapil 1 Provinsi, Dapil 1 Pusat. Kami melihat-lihat gambar. Berdiskusi sebentar. Melihat foto-foto yang terpampang.

“Ummi pilih siapa?” sekali lagi Inayah bertanya.
“Ummi pilih orang-orang yang Ummi kenal, yang Ummi sudah tahu kinerjanya. Pak ini bagus, Ummi pernah bantu resesnya. Bu ini Ummi kenal, kiprahnya sebagai ummahat dan pengusaha luarbiasa. Ustadz yang ini bagus, Ummi kenal.”
Kami mencoblos.
Mencelupkan kelingking ke tinta ungu.
Berjalan bergandengan ketika pulang, layaknya ibu dan anak.

“Bagaimana jika kita tidak menang?” tanya Inayah.
“Apa maksudmu kita tidak menang?” tanyaku ingin tahu.
Inayah sudah melihat betapa pontang pantingnya kami, dan itu cukup mewakili keluarga-keularga dai yang lain, meski apa yang kami lakukan masih sangat jauh dari yang dibutuhkan ummat.
“Yaaa, ternyata perolehan suara kecil,” jawab Inayah sedih.
“Kamu tentu sudah baca Kemenangan Shalahuddin di Perang Hattin 1187 karya David Nicole,” aku mengingatkan. “Ingat bagaimana Shalahuddin memenangkan Yerusalem? Itu kerja ringan dan sebentar kah?’
Inayah menggeleng.
“Bagaimana ia menaklukan satu wilayah demi satu wilayah kecil, membuat perjanjian dengan raja-raja kecil agar pasukannya bisa lewat dengan aman. Bagaimana ia memperhitungkan bahwa memanggul senjata besi dari Mesir ke Yerusalem sangat berat dan tidak efektif, maka Shalahuddin memastikan daerah yang di lalui pasukannya terdapat produsen bijih besi…”
Kami sering berdiskusi tentang beragam hal.
Tapi diskusi saja tidak cukup.
Kali ini Inayah mencoba belajar memilih, menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, ikut berlelah-lelah mewujudkan satu sikap integratif.

Karakter, tidak dibentuk satu-dua hari.
Butuh ditanamkan, dilatih, didisiplinkan, dipenuhi kognisinya. Kita ingin anak kita mandiri, punya sikap, berani, jujur, pandai dan mampu menjadi pemimpin yang solutif. Salah satu yang harus diupayakan adalah melibatkan anak-anak pada aktivitas sosial, apapun bentuknya. Kepada anak-anakku, aku mengajarkan mereka untuk menyambangi masjid, bersilaturrahiim dan mengenal banyak orang. Kepada anak-anak lelakiku, aku minta mereka ikut Karang Taruna agar tau permasalahan remaja. Kepada Inayah, aku menyarankan ia memperhatikan permasalahan 2-3 orang sahabatnya dan berpikir solusi apa yang diambil. Kepada Nisrina si kecil, aku mengajarinya berani bersuara terhadap kakak-kakak dan teman-temannya.

Anak-anak harus belajar terlibat organisasi agar mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, belajar memimpin dan dipimpin, belajar koordinasi, belajar menjadi tim yang kompak. Pemilu sehari kemarin, anak-anakku melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana tim gerak cepat menyiapkan lgositik dan membaginya, mengawasi TPS dan menjaga saksi, mengawal kertas suara.
Harapannya, bila anak-anakku ingin melakukan langkah-langkah baik dan jujur, mereka juga harus belajar bagaimana teknis-teknis pelaksanaannya mulai rancangan hingga eksekusi. 5 tahun ke depan, anak-anak kita yang akan memimpin negeri ini.

pemilu

Bingkisan Acara

“Yaaa, Ummi mau kemana?”
“Ummi mau cari barakahnya rizqi ya, Sayang.”
Menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, bagian dari ummat manusia, bagian dari kaum muslimin; ada tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa selamanya mengaku sebagai makhluk individu.
Maka, bila mendapat amanah da’wah, sebisa mungkin kutunaikan sebaik-baiknya. Tapi bagaimana membahasakan pada anak-anakku yang ketika itu masih kecil-kecil? Balasan surga masih terlalu abstrak bagi mereka, amar ma’ruf nahiy munkar juga belum begitu difahami. Barulah ketika mereka beranjak remaja, mereka faham ketika kuajarkan tentang kewajiban kaum muslimin.

tango-face-smile-md
Dalam acara da’wah, selalu kubahasakan bahwa dengan turut serta bahu membahu memikirkan dan menuntaskan masalah ummat, maka keluarga kami pun akan senantiasa mendapatkan rizqi dari Nya, rizqi yang penuh barakah. Jangan bayangkan rizqi da’wah itu dalam bentuk uang, dalam tiap kebaikan yang kami dapatkan, kuusahakan mengkorelasikannya dengan kebaikan Allah dan rizqi da’wah.
Misal, suatu saat anakku demam tinggi. Salah satu anakku ada yang sangat alergi obat. Maka, aku betul-betul bingung, apalagi saat itu suamiku sedang tugas jauh di luar kota. Cari info kesana kemari, maka rizqi da’wah itupun kudapatkan.
Seorang ikhwan memberi tahu, “ degan Ijo aja, bu Sinta. Anak-anak saya, juga begitu kalau demam.”
Ahya, alhamdulillah rizqi da’wah berupa informasi obat itu kudapat.
Pelajaran-pelajaran berharga dalam kehidupan, yang tidak mungkin di dapat di bangku sekolah atau kuliah, ku share kepada anak-anak agar mereka turut mencicipi nikmatnya rizqi da’wah.

Bingkisan acara
Setiap kali mengisi acara, selalu rizqi da’wah itupun menyertai.
Suatu ketika, aku mengisi acara di rumah susun. Sungguh tidak terbayang, mereka yang kesulitan itu akan membawakanku bingkisan buah, nasi dalam keranjang dan….serantang sayur. Sesampai di rumah, bahkan aku terharu di depan anak-anakku. Melihat potongan ayam demikian kecil, bihun sebagai lauk, dan nasi yang demikian keras.
“Lihat Nak,” ujarku. “Orang-orang itu sehari-hari makan susah. Jualan rujak, gorengan, malah ada yang ongkos jahit per tas Rp.100 rupiah. Tapi masih menyempatkan memasak seperti ini, dan nyangoni Ummi makanan kayak begini.”
Anak-anak ikut mengucapkan subhanallah, dan demikian mensyukuri cerita yang kuberikan betapa keseharian kami masih demikian luarbiasa.
Di lain ketika, aku mengisi pengajian di sebuah kampung.
Betapa kecil rumah-rumah mereka, betapa sesak bahkan untuk menyelenggarakan pengajian satu RT. Kadang, sungguh, aku sangat ingin menolak bingkisan mereka tapi lagi-lagi para ibu berkata, “ hanya ini yang bisa kami berikan.”
Ternyata bingkisan itu berisi 1 baju dan 1 tas, yang dijahit sendiri oleh seorang peserta pengajian!
Banyak sekali bingkisan acara, rizqi da’wah yang rasanya di betul-betul di atur olehNya.

Flash Disk hingga peralatan dapur
Tak kalah menariknya, bingkisan acara yang disiapkan ibu-ibu sebuah kompleks. Sekolah Ibu ternyata dibutuhkan pula ibu-ibu kalangan atas yang kesehariannya sibuk bergelut dengan karir sehingga mereka demikian antusias saat mengikuti Sekolah Ibu.
“Bu Sinta, ini kami beri bingkisan ya,” kata ibu pengasuh Sekolah Ibu.
Tentu bukan uang tapi….flash disk! Aku benar-benar merasa berterimakasih. Bagaimana tidak? Pelupa salah satu sifat yang membuat suamiku sering uring-uringan. Entah berapa jaket yang kuhilangkan karena lupa, tertinggal hingga tinggal satu jaket coklat yang kata suamiku, “ awas, kalau yang ini ketinggalan entah dimana, harus ambil ya!” Aku sering lupa meletakkan dompet, kacamata. Pulpen entah berapa yang raib, dan yang paling mengenaskan adalah flash disk. Maka hadiah flash disk sungguh sangat berharga.
Di lemari dapur subhanallah, tersimpan barang-barang bermanfaat yang kudapat dari bingkisan acara. Piring , mangkok, sendok, dan gelas adalah hadiah dari sabun, mie. Tapi masa’ menyuguhkan tamu pakai gelas hadiah kecap? Konon kurang etis. Alhamdulillah, selalu dapat hal bermanfaat dari da’wah seperti gelas cantik, nampan, teko.

Tikus, tikus,tikus
Tikus mungkin juga berevolusi.
Kami sementara ini masih membiarkan halaman belakang apa adanya, jadi makhluk berbulu itu sangat sulit dibendung. Apakah tikus sekarang menunjukkan inteligensi yang lebih tinggai dari dekade sebelumnya? Mungkin saja!
Tikus di rumah kami tidak menggigit sembarang barang. Plastik, dipilih-pilihnya juga. Ia akan membiarkan plastik murahan dan akan menggerigiti….tupperware! Kalau lupa menyisihkan barang-barang yang sudah dicuci masuk ke dalam rumah, maka esok hari biasanya tikus akan memakan tutup atau tepian wadah tupperware.
Dan, akibat penyakit pelupa, entah berapa barang dapur yang hangus terbakar hingga rantang, dan wadah-wadah alumunium sering berlubang.
Subhanallah, belum lama ini mengisi acara ibu-ibu, lagi-lagi dapat hadiah yang kubutuhkan, seperangkat canister tupperware. Kali ini, sangat hati-hati kujaga agar tikus tidak sembarangan menggerigiti.
Lalu, aku membutuhkan sebuah barang.
Mau tahu?

Gelas Besar!
Suamiku berasal dari Tegal.
Dan, kebiasaan terkenal kota ini adalah teh poci. Setiap pagi, saat kami masih di Tegal, ritual menyambut hari adalah merebus teh tubruk. Teh mendidih dituangkan dalam gelas, dan sarapan pagi bersama keluarga besar akan sangat nikmat ditemani bergelas-gelas besar teh panas, legit, manis dan kental.
Aku ingin sekali punya gelas besar.
Setiap hari, keluarga kami menyeduh teh dalam cangkir-cangkir yang terasa kekecilan untuk tradisi Tegal, gelas-gelas yang tidak cukup menampung selera. Sebesar-besarnya gelas hanya ukuran mug. Aku mencoba mencari gelas besar, tapi harus ke pusat barang pecah belah yang tidak sempat-sempat kukunjungi. Hanya kalau lewat supermarket, kucari gelas besar, tidak ketemu juga.
Dulu, Ummi di Tegal memang tidak pernah membeli gelas besar. Gelas-gelas besar bertelinga itu hadiah dari sabun colek yang sekarang sudah musnah di pasaran. Aku sampai bilang ke suamiku,
“mas, aku pingin cari gelas besar seperti yang di Tegal. Enak banget minum teh kayak gitu ya.”
Maklum, kalau sudah waktunya ngelembur, minuman panas adalah teman favorit termasuk teh panas!
Keinginan itu terpendam dan berlalu begitu saja.
Sampai suatu ketika aku diminta mengisi acara keputrian dan pulang seperti biasa, membawa bingkisan acara. Aku ingat, hari itu hari Sabtu. Kebetulan aku mengisi acara da’wah , dan suamiku juga memiliki acara da’wah sendiri. Anak-anak, menyambut riang bingkisan kue dan membuka kertas kado saat aku pulang siang itu.
Perlahan-lahan, putriku melepas selotip dan melepas lapisan kertas kado.
“Waaaah, gelasnya cantik sekali!” kata putriku.
Aku terbelalak. Ada tiga gelas bercorak daun centil warna pink. Bukan coraknya yang membuat tercengan tapi…ukurannya! Gelas itu kuletakkan tepat di tengah-tengah meja makan, menunggu suamiku pulang. Dan sore hari, ketika suamiku pulang, ia berseru heboh,
“…ya ampun, Mi! Kita kan pingin gelas kayak gitu??”
Aku tertawa.
Alhamdulillah. Bahkan hingga keinginan kecil sekalipun, Allah mendengarkan!

Setelah 17 Tahun Menulis : 2 M, Angka 0, Popularitas

Tag

, ,

Milad FLP ke 17 yang dilaksanakan di Surabaya kali ini, dimeriahkan dengan seminar, launching Rumah Cahaya, Launching 17 karya FLP, Launching website FLP.
17 tahun menjadi bagian dari literasi Indonesia, FLP ingin terus belajar dan berbagi tentang seribu satu kisah ajaib seputar dunia literasi.

FOTO PROFIL
tumpeng Milad FLP 17

Menulis, bukan pekerjaan yang memiskinkan.
Tengoklah pak Dukut Imam Widodo, meski beliau tidak menyebutkan angka pasti di depan bilangan 0, tetapi beliau mengatakan bahwa untuk 1 buku beliau dibayar sejumlah uang yang angka nominalnya memiliki jumlah 0 delapan. Wah berapa kira-kira? Bahkan, suatu ketika beliau dibayar dengan jumlah angka 0 sembilan!

Terkesima.
Itu perasaan yang muncul kala sebagai penulis, karya kita tersendat di ide, teknik menulis, bahkan berkali-kali tertolak di media massa dan tangan penerbit. Memang, manusia tak boleh iri pada keberuntungan orang lain tetapi kita ingin belajar bagaimana para penulis-penulis andal ini berkarya.

Dukut Imam Widodo
imam widodo-ahmad khusaini 2
Penulis ini membuat audiens histeris. Bagaimana tidak? Beliau membagikan buku-buku eksklusif macam Soerabaia Tempo Doeloe, Soerabaia the Old Time, Malang Tempo Doeloe dan alhamdulillah, saya pribadi mendapatkan Sidoarjo Tempo Doeloe . Masing-masing buku tersebut kurang lebih harganya @500.000!
Pak Dukut memberikan beberapa nasehat :
1. Penulis harus bisa “menjual diri”
2. Penulis jangan menerbitkan buku pakai uang sendiri
3. Sebagai penulis, jangan malas mencari referensi. Pak Dukut bahkan suka menulis detail-detail yang sulit sebagai satu tantangan. Beliau suka menulis bertema sejarah
4. Jangan khawatir kehabisan ide, sebab beliau melazimkan sholat malam dan berdoa ,” Gusti Allah, beri saya inspirasi.” Subhanallah, kata beliau, inspirasi yang datang membanjir sampai-sampai beliau kewalahan; lalu beliau menuliskan ide dalam kertas-kertas kecil.
5. Carilah teman “yang benar” bukan asal teman. Artinya, bila ingin menjadi penulis yang kompeten, berteman lah dengan teman-teman yang akan mendukung cita-cita ke arah itu, misal berteman dengan sesama penulis, wartawan, sastrawan, seniman, dll.

* Ada lelucon teman FLP , yang mengatakan. Yah, penulis FLP bisa saja penghasilannya 0 delapan atau sembilan, tapi di depan belum ada digit angkanya alias masih 0 yang panjang sekali. Atau penulis dengan dengan penghasilan 2 M! Bukan 2 milyar tapi 2 huruf “m” dengan akronim makasih mbak/makasih mas 
* Jangan iri dengan keberhasilan pak Dukut sebab perjuangan beliau mengumpulkan referensi dari satu kota ke kota lain, mengumpulkan berkas, manuskrip berusia ratusan tahun…subhanallah. Pantas bila sponsor tak ragu memberikan nikai cek dengan 0 delapan atau 0 sembilan.

Sirikit Syah
sirikit syah
Ibu lembut dari dua orang putra putri ini telah melanglang buana ke Iran, Amerika, Australia, dll sebagai sastrawan dan pakar media. Tulisannya yang sesekali bernada tegas, tetap memiliki unsur estetika tinggi.
You can’t judge a blank paper.

Demikian nasehatnya.
Bagaimana mungkin kita merasa minder, takut salah, takut dikritik, takut gagal dan tidak menang sementara yang dinilai hanyalah sebuah kertas kosong. Maka mulailah menulis dan bacalah tulisan itu. Sebelum kita menulis, maka tak ada apapun yang dapat dinilai dari kita.
Fiksi adalah refleksi dari hal nyata. Orang kadang tak mampu meresapi sebuah berita aktual terkait peperangan, issue agama, atau persoalan humanistik lainnya tetapi lewat fiksi, jauh lebih meresap. Tulisan-tulisan bu Sirikit demikian menohok. Salah satu contohnya, cerpen berjudul Ibu Kandung , refleksi keresahannya di tahun 80-90an saat issue bayi tabung merebak. Tulisan itu mempertanyakan : siapa ibu si jabang bayi sebenarnya?
Buku beliau Rambu-rambu Jurnalistik , Watch the Dog : Catatan Jurnalisme , menjadi buku referensi wajib bagi saya pribadi saat menulis artikel dan opini untuk media massa.

Zawawi Imron
zawawi imron
Penulis yang akrab dipanggil Abah ini , berhasil membuat peserta menitikkan airmata dengan puisinya Ibu. Sastra, di masa depan , adalah tulisan-tulisan yang membawa pada perenungan. Sudah masanya, menurut beliau, seorang penulis bukan hanya menulis demi materi belaka.
Abah Zawawi Imron adalah yang paling senior dari semua, paling sepuh, berjalan dengan tongkat. Melihat fisiknya, orang akan menduga betapa rapuh ia dan terbata dalam berkata-kata.
Namun, tidak, justru sebaliknya. Peserta dibuat terperangan dengan leluconnya, dibuat terkesima dengan muatan-muatan filosofis dalam kalimat-kalimatnya, dan terakhir dibuat terisak tersedu mengingat ibunda masing-masing ketika beliau membacakan puisi Ibu. Saya, bu Sirikit, mengusap mata usai beliau membawakan demikian bergemuruh puisi itu.
…….
Ibu, bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh, tempatku mandi, mencuci lumut
…..
Ibu, kalau aku ikut ujian, lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu Ibu, yang akan kusebut paling dahulu
……
(bahkan saat menuliskan, berkaca mata ini)

Sebagai anak muda, atau mengaku berjiwa muda, kalah rasanya dengan kekuatan beliau dalam berkata-kata. Namun, sama sekali bukan hanya sebab pengalaman beliau unggul. Beberapa filosofii berikut pantas terpatri dalam benak jiwa para penulis muslim.
* Kalau muda tidak mau berjuang, angkat takbir 4x. Innalillahi. Artinya, bila anak muda tidak mau bersungguh-sungguh, berjuang mencapai sesuatu, termasuk bersusah payah menulis dengan segala kepayahan, kesulitan, pengorbanan, ketabahan, daya juang; maka ibarat ia jenazah yang ditakbirkan 4x. Bagi yang merasa penulis muda, tak ada kata malas untuk mencoba dan terus berlatih mencapai apa yang terbaik
* Berpikirlah dengan jernih, agar kebaikan datang kepadamu. Hati yang bersih, sumber karya sastra.
* Tidak berpikir adalah haram!
* Quran bukan karya sastra tetapi energinya dalam dunia sastra bagai magma yang meledakkan. Quran membawa energi yang melebihi karya-karya sastra sepanjang masa.
* Uang, adalah konsekuensi logis ketika berbuat baik. Jangan takut dengan uang, ia pasti akan datang ketika kita telah berupaya dengan sebaik mungkin.

Helvy Tiana Rosa
Helvy-Tiana-Rosa-300x176
Bunda pendiri FLP ini memukau pula dengan ilmu dan puisinya.
Apa yang disampaikan bunda Helvy :
1. Tulisan dapat mengubah dunia, sebagaimana Uncle’s Tom Cabin
2. Toni Morrison berkata ; bila engkau berjalan-jalan ke toko buku dan tidak menemukan buku yang kau inginkan untuk dibaca, mengapa tak kau tulis sendiri
3. Penulis Toto Chan hanya menulis buku itu, tetapi menjadi duta PBB untuk anak-anak kemudian
Di luar seminar, bunda Helvy memberikan wejangan kepada teman-teman FLP

* Ada karya sastra serius, ada karya sastra populer. Apa bedanya? Sastra serius menyebabkan perenungan, sastra populer menimbulkan perubahan.
* Sudah saatnya FLP go international sehingga dibutuhkan kurator yang menangani khusus masalah penerjemahan karya-karya FLP.
* Sesungguhnya, istilah sastra serius atau sastra populer , hanya diperkenalkan bagi kalangan akademisi. Bagi insan umum, semua tulisan adalah karya sastra; Lupus _ Boim Lebon, Ayat-ayat Cinta – Kang Abik ; begitupun semua karya anak FLP adalah karya sastra

Sinta Yudisia
sinta n yeni n Rinai

Sebagai ketua umum FLP, kembali visi misi CAHAYA PELITA BERSAMA digaungkan kembali. Karena terbatasnya waktu, tidak dapat disampaikan 10 program unggulan FLP.
1. CA , rumah cahaya. Alhamdulillah dilaunching Rumcay Depok, Lampung, Aceh, Banjarbaru, Sumatera Utara. Tidak mungkin seorang penulis ingin karyanya dikenal tanpa peduli dunia literasi di sekelilingnya. Menulis, menulis, menulis terus; lalu siapa yang baca? FLP peduli dengan menumbuhkan minat baca di kalangan kanak-kanak, anak, remaja hingga dewasa sehingga program Rumah Cahaya menjadi program unggulan utama FLP periode ini.
2. HA, agen perubahan. Penulis FLP harus menyadari, dirinya adalah salah satu dari rangkaian besar dan terstruktur agent of change. Berbekal ajaran-ajaran ketulusan Zawawi Imron, profesionalitas Dukut Imam Widodo, refleksi isi Sirikit Syah, semangat kebersamaan Helvy Tiana Rosa ; maka penulis FLP senantiasa menjadi corong perubahan dimanapun ia berada.
3. YA , 100 karya pertahun. Gerakan perubahan, sesekali membutuhkan gebrakan yang massive. Penulsi-penulis FLP yang berjiwa muda akan selalu giat menulsikan gagasan-gagasannya baik dalam bentuk blog, twitter atau membuat buku antologi, buku fiksi-non fiksi yang terus menerus diterbitkan setelah melalui uji seleksi.
4. LI, portal literasi. Di era globalisasi, sekat-sekat wilayah bahwan negara menjadi demikian bias; FLP harus turut berkontribusi dalam gerakan kemajuan literasi. Bila produk karya selama ini mengandalkan hard copy, maka sudah waktunya buku-buku electronic book diperkenalkan, demikian pula karya-karya bagus dapat ditampilkan via media sosial dan mendapatkan tanggapan luas.
5. SA, soliditas organisasi. Adakah orang yang sukses sendirian? Presiden membutuhkan tim sukses, artis membutuhkan manager, seorang penulis pun tak dapat bergerak sendirian. Untuk mendukung karya-karyanya meluas, dikenal, dikonsumsi dan diapresiasi; dibutuhkan kerja bersama, berjamaah. Jaringan FLP yang meliputi penulis, pembaca, penerbit, distributor hingga penjual adalah matarantai yang terus menguat dari waktu ke waktu.

17 tahun FLP menulis dan berkarya bersama Indonesia.
Terus berbakti, berkarya , berarti.
Mengedepankan karya sastra yang santun , edukatif, memuat nilai-nilai Islami Universal. Karya santun adalah karya yang tidak mengunggulkan pribadi, dengan menjatuhkan oranglain, meninggikan diri dengan mencaci pihak lain. Sastra santun adalah sastra yang arif dengan kebaikan-kebaikan; tanpa mengurangi estetika dan kejenakaan, agar mudah menyentuh sisi manusiawi insani.
Go international?
Sudah waktunya.
Komunitas penulis muslim terbesar di Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia ini, insyaallah ke depan akan memimpin festival-festival literasi muslim tingkat dunia. Memimpin dunia perbukuan dengan karya prestatif dan kompetitif. Memimpin dunia dengan kerja-kerja profesional dan solid.
Tiba masanya, Indonesia menjadi mercusuar dunia.
Bangsa yang besar, tak akan mengabaikan refleksi filosofi dan pemikiran. Bangsa yang unggul, maju pula semua sektor kehidupan, termasuk seni sastra. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, Dhuha al Islam, masa puncak kejayaan Islam ditandai pula dengan melesat dan terhormatnya kedudukan para sastrawan penghasil puisi, prosa, maupun kritik sastra.
Jika Indonesia menjadi mercusuar dunia, maka –sebagaimana Zawawi Imron mengatakan- para prajurit nurani akan menjadi salah satu ujung tombaknya. Prajurit nurani adalah para penulis, dan FLP dengan khidmah dan bangga, akan menjadi salah satu ujung tombak mercusuar dunia.

Penulis Miskin & Hina

Tag

Apa definisi kesuksesan, kemenangan atas pertarungan hidup?
Rumah 500 m2 , mobil Alphard, umroh berkali-kali, keliling Eropa, berlibur ke mancanegara, memiliki perusahaan beromzet milyar atau triliyun?
Tanpa menafikan bahwa elemen di atas boleh saja jadi tolok ukur kesuksesan; rasanya terlalu sempit untuk memaknai capaian keberhasilan hanya dari persepsi materi.

Ada seorang supir taksi yang hidup di rumah sederhana, anak-anaknya tak mampu melanjutkan kuliah, tapi dengan sepenuh sadar supir taksi itu bekerja hanya demi upah kecil bagi hasil 20% yang halal. Ia tidak mau melaju di jalan-jalan tertentu tengah malam, sebab tempat tersebut biasa sebagai tempat transaksi seksual para pelanggan hotel bintang lima. Supir taksi tersebut berkeyakinan, ia harus memberikan asupan halal pada keluarga sekalipun konsekuenasinya mereka harus hidup prihatin.
Kisah lain, seorang supir taksi yang merasa harus melindungi keluarganya hari fitnah. Putrinya menjadi pramugari, selang tak beberapa lama ia meminta putrinya keluar sebab hati kecil sebagai ayah menolak, “aku tak ingin anak perempuanku pergi melanglang jauh-jauh, aku tak punya kemampuan mengawasi, pakaiannya pun aku tak suka.”
Apakah para supir taksi tersebut termasuk kategori orang-orang yang gagal? Insyaallah tidak. Kehidupan mereka mungkin tidak membaik secara ekonomi, tetapi secara ego strength , mereka mencapai resilience – daya tahan , daya lenting terhadap benturan.
rumi
Kesuksesan Penulis Muslim
Buku best seller, cetak ulang belasan atau puluhan kali, diterjemahkan ke beragam bahasa, diundang bedah buku kesana kemari…difilmkan, dimusikalisasikan. Ah, siapa penulis yang tak ingin seperti ini? Royalti mengalir lancar, tawaran menulis dan mengisi acara datang bertubi. Tiap kali melihat ATM…hmmmm.
Itukah satu-satunya tolok ukur penulis sukses?
Kalau demikian, maka deret penulis sukses terisi oleh nama-nama berikut : Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra, Azzura Dayana, Intan Savitri, Maimon Herawati, Habiburrahman el Shirazy, Gol A Gong, Boim Lebon, Benny Arnas, Mashdar Zainal, Ali Muakhir, Gegge Mapangewa.

Dimana tempat kita, para penulis pemula?
Atau para penulis yang bukan pemula (bukan pula senior sebab bukunya tak terbit-terbit)?
Sekian banyak menulis di blog, belum juga banyak pengunjungnya.
Sekian banyak kirim cerpen, belum satupun tembus (akhirnya hanya ditampilkan di blog pribadi atau website milik teman)
Sekian banyak ikut lomba, belum ada yang tembus.
Sekian banyak ikut antologi, hanya terjaring sesekali.

Makna Sukses dan Menang secara Hakikat
Dalam QS 48 : 1-2 , Allah SWT berfirman tentang kemenangan nyata yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Indikator kemenangan dan kesuksesan Nabi memang salah satunya berupa penaklukan-penaklukan Islam, baik yang terwujud saat beliau masih hidup atau sudah wafat. Tetapi kesuksesan yang dicapai oleh Nabi bukan sekedar penaklukan Arabia, benua Afrika, pasukan-pasukan yang merambah ke seantero dunia.
“Sungguh Kamu telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus.”
Ada tiga hal inti surat tersebut :
1. Ampunan
2. Kesempurnaan nikmat Allah  Islam
3. Petunjuk Allah

Lalu, apa korelasinya dengan seorang penulis?

Pencarian Sejati Para Penulis
Percaya atau tidak, orang-orang yang memiliki tingkat depresi tinggi konon kabarnya penulis, lalu artis. Hah? Bukannya menulis sebetulnya merupakan salah satu healing therapy?

Virginia Woolf, Charles Dickens, Leo Tolstoy, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Nagouib Mahfoudz dan yang lainnya sejatinya orang-orang yang sibuk mencari hakikat kehidupan. Dalam perenungan yang dalam, para penulis bisa menemukan jati dirinya, atau malah sebaliknya. Semakin tenggelan dalam dunia imajinasi yang menyeret mereka menjadi manusia bipolar, unipolar, atau bahkan skizofren!
Dalam sejarah Islam, tak ditemukan penulis yang berakhir mengenaskan.
Setiap penulis muslim haus ilmu, rakus akan pencarian makna. Betapa akhirnya, para penulis muslim macam Ibnu Sina, Sayyid Quthb, Muhammad Iqbal memulai penanya dengan keresahan akan Islam yang ditinggalkan dan ingin menyempurnakan dunia dengan ilmu yang mereka punya.
Rahmat dan ampunan Allah SWT, adalah harapan paling tinggi kaum muslimin. Dan bersamaan dengan goresan pena kita, yang berlembar-lembar, berat, memusingkan macam novel ataukah goresan ringan status di FB dan twitter, tak ada yang lain harapan selain menerima ampunan dan rahmatNya. Tentu , harapan royalti atau honor tetap mengiringi, tetapi bagi seorang penulis muslim tetap harapan yang terbesar adalah barakahNya di tiap tulisan, tercurahnya rahmat dan ampunanNya.

Maka, sangat baik bila penulis muslim mengiringi tulisan dengan dzikrullah termasuk istighfar. Masih ingatkah kisah tukang roti yang mengimpikan pertemuan dengan Imam Ahmad bin Hanbal, dan tukang roti itu punya kebiasaan membaca istighfar? Tak ada keinginan yang luput, sebab ia yakin dengan istighar doa terampuni, dan kesucian hati menjadi penyebab terkabulnya doa.
Sungguh , bagi penulis muslim ada harapan akan rahmat, ampunan, barakah dari Nya yang akan melingkupi setiap naskah, setiap kalimat, setiap kata dan huruf.
Itulah kemenangan sejati.
Meski tulisan itu tak tembus Kompas atau Republika, meski hanya terpampang di blog dan FB, meski pengunjung tak sampai 10 orang ; namun dari para pengunjung yang membaca merasakan hawa ketaatan. Merasakan siraman. Dan mencapatkan pencerahan, lebih daripada ketika mereka membaca buku-buku best seller.
Katakan, siapa yang sukses sebetulnya?

Ampunan dan Nikmat Sempurna
Sesudah ampunan dalam kesuksesan dan kemenangan Nabi, ada nikmat yang sempurna, yaitu Islam.
Mungkin analogi ini agak kelewatan, tapi saya bersyukur atas nikmatNya. Ketika kepepet, sholat malam, tilawah, sedekah, dzikir menjadi berlipat. Ibaratnya, dalam kondisi stress kita butuh katarsis dan pelepasan emosi paling dahsyat hanya saat munajat.
Saat kepepet butuh dana, ingin ikut lomba menulis, maka semakin mepetlah kita dengan Ilahi Robbi. Banyak berdzikir, sebisa mungkin membantu orang, sholat sunnah. Saat-saat “peperangan” menghadapi kesulitan kehidupan, Islam adalah nikmat yang luarbiasa.
Demikian banyaknya orang mengalami kebuntuan tanpa jalan Islam.
Ketika sukses merasa yakin itu ansich usahanya, ketiga gagal ia melabelkan kegagalan pada diri sendiri atau malah orang lain. Baik sukses atau gagal, ia selalu cemas. Sementara seorang penulis muslim, dengan nikmat kemenangan dan kesempurnaan Islam, selalu terus melaju dalam amal kebajikan walau sukses atau gagal dalam pandangan manusia. Ketika menang lomba atau tembus media, tidak lantas berhenti. Ketika dipuja dan dinobatkan sebagai penulis terbaik, tidak hanya berbangga. Pun, ketika dikritik pedas atau bukunya jeblok di pasaran tidak lantas ingin mengundurkan diri dari ranah kepenulisan. Ia terus melaju bersama keyakinan, bahwa Islam senantiasa menggaungkan amar ma’ruf nahiy munkar dengan cara yang kita bisa.
Ketika berhasil atau menang lomba/tembus media; insyaallah bukan kesombongan yang muncul, tetapi rasa syukur akan putaran rizqiNya.
Ketika gagal meraih impian, tiada kata putus asa, hanya prasangka baik bahwa Allah SWT sedang menunda, menyiapkan, membalas dan melipatgandakan berita bahagia.

Jalan Keluar Masalah
Adakah di antara kita yang semakin “bodoh” usai menulis?
Petunjuk, ilmu pengetahuan, peristiwa insight adalah pengalaman yang sangat mahal harganya. Manusia rela melakukan hal-hal diluar nalar untuk mencapai peak experience : keliling dunia, menyelam ke danau terdalam di dunia, naik ke puncak tertinggi.
Petunjuk bagi hidup manusia , adalah pencapaian luarbiasa.
Dalam cerita-cerita silat zaman dahulu, para petarung rela berbulan-bulan bertapa demi wangsit.
Demikianlah, kehidupan penulis adalah menjaring kebajikan satu demi satu, penggal demi penggal.
Salahs atu tanda kesuksesan, kemenangan sesuai QS 48 : 2, adalah teraihnya perunjuk berharga bagi kehidupan.

Menjadi penulis , kita sadar, tak ada sesuatupun yang instant. Tak ada keberhasilan hanya dengan angan-angan, kata-kata jika atau andai, ketiadaan schedule, apalagi minimnya ambisi. Bukankah petunjukNya ini sangat bermanfaat untuk mengasah karakter kepribadian kita yang semula santai, tanpa target, menjadi seseorang yang tough, resilient , punya target tertentu dalam hidup sembari terus melangkah mendekatkand iri padaNya?
Setiap usai menulis, rasanya bukan semakin kosong pikiran dan perasaan, tapi semakin berisi bejana. Memang, ada rasa letih, jenuh dan mungkin jengkel atas deadline serta tuntutan penulis. Bersamaan dengan hal tersebut, kecerdasan kita semakin meningkat. Saat harus menulis novel sejarah, kita harus membuka banyak buku referensi sejarah dan otobiografi. Saat us harus menulis artikel, opini, kita harus membuka berita-berita aktual dari koran atau berita online. Saat harus menulis kisah hikmah atau tema-tema keagamaan, kita harus membuka kitab-kitab para ulama, minimal tafsir Quran terjemahan Departemen Agama.
Usai menulis, kepandaian dan pengetahuan akan bertambah.
Itulah kemenangan, kesuksesan sejati seorang penulis muslim : mendapat ampunanNya, mendapatkan nikmat Islam, dan memperoleh petunjukNya dalam mencari solusi-solusi dalam kehidupan dunia yang berujung pada kebahagiaan di akhirat.

Jadi,
Penulis muslim, di strata mana pun mereka, baik pemula, madya ataupun andal, bukanlah penulis miskin yang hina. Engkau sesungguhnya penulis kayaraya yang bermartabat!

Sastra Islam (Jogja Muslim Festival)

Tag

,

Quran bukan karya sastra tapi membawa pengaruh besar pada dunia sastra.
Dalam sejarah, sejak Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, maka setiap orang membicarakannya. Membantah tentangnya. Mendiskusikannya. Menjelaskannya. Membelanya. Di kemudian hari, Quran disalin, diperbanyak. Sebagian berusaha meniru dan memalsukannya. Sebagian besar menghafalkan dan memelajari isinya, bersyair dengannya, membuat prosa dan sajak yang dipelajari dari cara Quran membuat rima.
childrens3
Maka , tak ayal lagi Quran membawa pengaruh amat sangat besar bagi sastra di dunia Islam dan merambah hingga seantero dunia. Bersama Quran pula, bagai diaspora menyebar talenta, intelektual, semangat belajar, menimba ilmu, menuliskan dan menyebarkan ideologi serta karya sastra. Bahasa Quran terserap menjadi bahasa-bahasa bangsa seperti Turki Utsmani, Farisi Firdawsi, Sanskerta menjadi Urdu, Bantu menjadi Hausa di Barat dan Sawahili di Timur (Afrika).
Warisan besar sastra Arab, sastra Islam ini menghubungkan dengan arus intelektual dunia, menumbuhkan kreativitas dan ratusan ribu atau bahkan jutaan karya tulis!
Beberapa jenis karya Islam yang dikenal adalah khutbah, risalah (esai atau surat) , maqamah ( kisah pendek tentang hero), qishshah (kisah pendek moralitas), qashidah (syair), maqalah ( esai berisi satu gagasan).

lossy-page1-220px-Scheherazade.tif
Ada beberapa periodisasi sastra Islam :
1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan (622 – 720 M)
2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 – 972 M)
3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 -1203 M)

Penjelasan :

1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan ( 622-720 M)
• Hadits, risalah, khutbah, surah Nabi
• Pepatah, perumpamaan, al Amtsal
• Khuthab : risalah, pidato, pesan, wasiat para khulafa urasyidin dan pemimpin awal

2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 -972 M)
• Abdul Hamid bin Yahya, ahli essay ( 766 – 750 M), memperkenanlkan simetri sastra. Abdul Hamid juga memperkenalkan para penulis untuk menuliskan setiap karya dengan komposisi awal basmalah, hamdalah, shalawat Nabi Saw
• Abu Amr Utsman al Jahizh (767 – 868 M) , tajam kritiknya, menulis 160- buku. Al Jahizh memperkenalkan : keselarasan ungkapan dengan makna, al bayan/penjelas, ringkas dan apa adanya , al iftinan / karya artistik
• Abu Hayyan at Tawhidi (987 M) ; memperkenalkan tulisan dari buku harian, pertemuan demi pertemuan, juga penggabungan filosofi dan gagasan sufi.

Untuk zaman Dhuha Al Islam , syair seperti puisi mendapat tempat yang berlum pernah terjadi sebelumnya. Penyair-penyair berkelimpahan harta dan kedudukan.
 Basysyar bin Burd (w.784M) , seorang anak haram budak, yang dibebaskan karena ke fasihannya.
 Al Hasan bin Hani Abu Nuwas (w.811 m) ; membebeaskan syair dari isi, artikulasi, gaya bahasa
 Ismail Abu al Al Atahiyah (w.827 M) , penjual pot bunga keliling yang menantang sekelompok anak muda yang sedang membaca syair, untuk menggubah 2 atau 3 bait
 Habib Abu tamam ( w.847 M) , penyedia air di masjid Fustath (Kairo Lama), berekalana ke Baghdad dan memperoleh kemasyhuran di sana.
 Da’bal al Khuzai (w.861 M), penyair yang ditakuti pangeran dan pejabat karena satirenya. Syairnya dapat menghancurkan reputasi
 Syair Sadif menyebabkan pemimpin Abbasiyah yang tengah berjaya memusnahkan istana Umayyah
 Syair Malik bin Thawq dan Rabiah menyebabkan pembatalan hukuman mati atas diri mereka

3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 – 1203 M)
• Muhammad bin Yahya as Shuli (w.947 M) , menulis disiplin sastra
• Ali bin abdul Aziz al Jurjani (w.1001 M) , menulis Al Wasathah sebagai perantara media pemerintah dan masyarakat
• Abu Hilal Al Askari ( w.1004 M) , menuliskan al Shina’atayn ( Dua Keahlian – keahlian Sastra dan keahlian Memerintah)
Pada zaman inilah Saj dan Badi mencapai puncak perkembangannya. Jenis karya di zaman ini :
- Korespondensi kekhilafahan
- Esai sastra
- Maqomat

*******
rumi
Pertengahan periode Abbasi ( dari kekhalifahan al Mutawakkil) hingga berdirinya Al Buwayhi (946 M), penyair tidak lagi mendapat perlindungan dari khalifah.
Baru ketika Turki Saljuq 1056 M, prestasi di semua bidang intelektual dan spiritual bangkit kembali.
o Hakim Abul Hakim Firdausi at Tusi , Ferdowsi ( 940 M – 1020 M) , Shahnameh
o Umar Khayyam – Ghiyāth ad-Dīn Abu’l-Fatḥ ʿUmar ibn Ibrāhīm al-Khayyām Nīshāpūrī (18 Mai 1048 – 4 Desember 1131) , Rubaiyat
o Jalaluddin Muhammad Rumi (1203-1274 M), Matsnawi
o Ibnu Batutah ( 25 Februari 1306 – 1369 M), Rihlah
o Ibnu Khaldun ( 27 Mei 1332 M – 19 Maret 1406 M) , Al Muqaddimah
o Kisah One Thousand and One Night Stories, Scheherazade / Shahrzad : Alibaba, Aladdin, Abu Nuwas, dll

**************

Pak Ahmad Thohari menyampaikan beberapa intisari penting substansi Sastra Islami :
1. Lillahi ma fissama wati wama fil ardh
Ayat ini banyak termaktub dalam al Quran ( seperti 2 : 284) ; segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah makhlukNya. Adalah milikNya. Pak Ahmad Tohari pernah diprotes dari kalangan pesantren terkait karyanya Ronggeng Dukuh Paruh. Kata mereka , “ngapain nulis kisah tentang Ronggeng? Kenapa nggak nulis kisah tentang santri aja?”
AT beranggapan, Ronggeng juga bagian dari lillahi maa fissama wati wa ma fil ardh , yang kehadirannya menjadi ayat bagi segenap manusia yang lain.
Penjelasan AT sedikit banyak mewakili perasaan saya pribadi, ketika menulis Existere dan saya beberapa kali diundang mengisi pengajian di lokalisasi. Beberapa orang mencibir sinis , “ngapain dakwah di lokalisasi? Kaya’ gak ada tempat lain buat didakwahi!”

2. Titik dzulumat dan titik Nuur.
Sungguh, penjelasan ini benar-benar memukau hati saya, sampai saya tulis dengan spidol hijau, saya ingat-ingat, saya sampaikan lagi ketika giliran saya mengisi. Dan tetap membekas hingga kini saya menuliskannya kembali.
Si Ronggeng ingin menjadi ibu rumah tangga. Ronggeng adalah perbuatan nista, ibu rumah tangga adalah perbuatan mulia.
Kehidupan sebagai ronggeng adalah kehidupan seseorang saat berada adalan titik dzulumah , sementara kehidupan sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan mulia yang berada pada titik nuur.
Proses seseorang untuk sadar, merangkak, tertatih, merambat, berjalan hingga berlari dari titik dzulumah hingga titik nuur ini adalah proses luarbiasa dari seorang manusia. Menjadi ekwajiban bagi penulis muslim untuk dapat menghadirkan kisah-kisah yang menginspirasi masyarakat agar tergerak untuk bangkit dari titik dzulumah menuju titik nur.
Bukankah itu salah satu kalimat terindah dalam Islam : minadzulumati ilaa nur?

FLP Medan : ukhuwah, naskah yang “FLP banget!” sampai kode etik

Tag

,

Selalu saja, setiap saya berkunjung ke suatu tempat, bertemu adik-adik FLP, rasanya semangat saya di-charge dan saya justru banyak menimba ilmu dari mereka. Berkaca. Bercermin. Menimba keikhlasan dan ketulusan adik-adik FLP yang belum dapat menikmati royalti, belum dapat menikmati honor menulis dan pembicara seminar. Belum dapat menikmati kebahagiaan travelling dan tetap berkutat pada dunia kecil FLP ranting, FLP cabang, FLP wilayah yang seringkali demikian sederhana serta serba terbatas.
Inilah hasil rangkuman diskusi kami, di rumah salah seorang pengurus. Seperti biasa, kelengkapan organisasi FLP ada di ketua, sekretaris, bendahara, kaderisasi. FLP wilayah Sumut juga memiliki Humas.
Ketua (Fadhli): mengorganisasi masalah dan orang-orang, harus mampu menfasilitasi para penulis produktif dan orang-orang yang masih belajar cara berorganisasi.
Sekretaris (Nurul dan Ririn) : masih harus belajar mem –filing arsip-arsip FLP. Sekretaris juga membantu kerja bendahara, terutama membuat proposal.
Bendahara (Fitri Amaliyah) : mencatat keuangan, mencari sumber-sumber dana juga. Fitri yang mahir membuat puisi juga membantu meng edit karya teman-teman.
Humas (Lailan) : silaturrahim dengan tokoh-tokoh sastra, dengan harian semacam Analisa dan Waspada, silaturrahim ke sekolah-sekolah.
Kaderisasi (Dewi) : mengkader kepenulisan anggota, mengontak anggota dan pengurus.
FLP Medan di Rumcay
Ada beberapa hal yang cukup unik menarik di FLP Medan :
1. FLP Ukhuwah Kaderisasi : Dewi mengakui ia belum mahir mengelola divisi kaderisasi. Apalagi jobdesk divisi kaderisasi adalah mampu mengkader atau menghasilkan anggota-anggota yang siap berkarya, berorganisasi, memiliki wawasan keislaman yang cukup. Dengan keterbatasan yang ada, kaderisasi menekankan pada satu hal simple tapi bermakna : FLP ukhuwah. Bagaimana antar anggota FLP memiliki ukhuwah yang erat, sehingga bila satu merasa sakit yang lainnya ikut merasakan. Mungkin hal kecil ini cukup menyentak, bahwa ukhuwah Islamiyah adalah salah satu hal yang mampu mengeratkan antar anggota FLP.

2. Karya : Fitri membantu mengedit karya-karya anggota. Beberapa di antaranya demikian bagus, tetapi ciri khas ke “FLP” annya nyaris kabur atau bahkan hilang sama sekali. Ciri ke “FLP” an yang dimaksud adalah nilai-nilai Islami. Seperti seseorang yang membuat novel tentang hubungan cinta sejenis. Diceritakan dengan amat sangat vulgar dan tidak memiliki ending persuasif ke arah kebaikan. Visi misi FLP sejak awal memang mencantumkan bahwa karya FLP harus memuat nilai Islam yang Universal. Apa yang menjadi kaidah dalam agama Islam, hendaknya menjadi rambu-rambu bagi penulis juga. FLP berkeinginan karya anggotanya mencerahkan ummat, memberikan manfaat baik moril maupun materil, membawa keberkahan. Karya yang mencerahkan akan membawa kebaikan bagi penulisnya juga, tentu saja.

3. Kode etik : usulan Fadhli menarik juga, bahwa FLP sebaiknya menyusun Kode Etik. Saya pribadi teringat Kode Etik Psikologi yang mencantumkan penjelasan tentang profesi psikologi, bagaimana hubungan psikolog dengan klien, apa saja ranah yang dapat digeluti psikolog, bagaimana hubungan antar psikolog dsb.
Kode Etik Penulis FLP dapat saja berisi tentang penjelasan profesi penulis, batasan-batasan, hak dan kewajiban, bagaimana hubungan penulis FLP dengan pihak luar, bagaimana menghormati sesama profesi penulis dan seniman, bagaimana mengatur hubungan antara anggota FLP.

4. Omong-omong Sastra : setiap bulan berkumpul komunitas sastra dari beragam jenis di Medan. FLP ikut bergabung dan duduk sarasehan di sana. Mungkin belum dapat menghasilkan pemikiran arus utama (mainstream) tetapi setidaknya dengan muncul dan ikut terlibat, akan turut memberikan sumbangsih.

5. Rumah Cahaya : rumcay Medan terletak di Sei Deli, di belakang gedung-gedung bertingkat, di kawasan yang lumayan kumuh. Rumcah lumayan representatif dalam jumlah ruangan sebetulnya, hanya situasinya memang memprihatinkan. Rumcay ini sumbangan dari seorang simpatisan FLP, boleh digunakan dalam jangka waktu tak terbatas. Ke depannya rumcay ini dapat lebih difungsikan. Dengan berbekal proposal dan kreativitas, rumcay dapat diperbaiki sehingga nyaman sebagai pusat kegiatan FLP Wilayah.

FLP Yogya : Jogja Muslim Festival

Tag

,

Ini salah satu FLP paling kreatif di Indonesia dan Dunia.
21 Desember menyelenggarakan Jogja Muslim Festival bersama dengan beragam komunitas seni yang lain seperti ANN – asosiasi nasyid nusantara. Salah satu pengurus FLP Yogya menjelaskan, bahwa Jogja Muslim Festival, diharapkan menjadi festival tahunan yang akan merangkum semua seni Islam. Di hari saya menyampaikan Sastra Islam bersama pak Ahmad Thohari, Jomfest menyelenggarakan pertunjukan teater hingga malam hari.
Sebagai kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar, Kota Pariwisata, atau Kota Budaya; wajar bila Jogja harus aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berbasis seni. FLP sebagai organisasi kepenulisan yang merupakan bagian dari seni sastra, menjadi penggagas dan penyelenggara acara.
Jogja Muslim Festival
Dalam talkshow Sastra Islam, pak Ahmad Thohari menyampaikan hal-hal yang sangat substansial terkait Sastra Islami. Perlu digaris bawahi, Sastra Islam dan Sastra Islami memungkinkan memiliki penafsiran yang berbeda. Sastra Islam boleh jadi lahir dari dunia Islam, tapi belum tentu Islami. Sastra Islami boleh jadi lahir dari penulis-penulis Islam atau tidak, tetapi memiliki nilai-nilai moral yang sangat sesuai dengan ajaran Islam yang Madaniyyah Universal.
Pak Ahmad Thohari menyampaikan beberapa intisari penting substansi Sastra Islami :

1. Lillahi ma fissama wati wama fil ardh
Ayat ini banyak termaktub dalam al Quran ( seperti 2 : 284) ; segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah makhlukNya. Adalah milikNya. Pak Ahmad Tohari pernah diprotes dari kalangan pesantren terkait karyanya Ronggeng Dukuh Paruh. Kata mereka , “ngapain nulis kisah tentang Ronggeng? Kenapa nggak nulis kisah tentang santri aja?”
AT beranggapan, Ronggeng juga bagian dari lillahi maa fissama wati wa ma fil ardh , yang kehadirannya menjadi ayat bagi segenap manusia yang lain.
Penjelasan AT sedikit banyak mewakili perasaan saya pribadi, ketika menulis Existere dan saya beberapa kali diundang mengisi pengajian di lokalisasi. Beberapa orang mencibir sinis , “ngapain dakwah di lokalisasi? Kaya’ gak ada tempat lain buat didakwahi!”

2. Titik dzulumat dan titik Nuur.
Sungguh, penjelasan ini benar-benar memukau hati saya, sampai saya tulis dengan spidol hijau, saya ingat-ingat, saya sampaikan lagi ketika giliran saya mengisi. Dan tetap membekas hingga kini saya menuliskannya kembali.
Si Ronggeng ingin menjadi ibu rumah tangga. Ronggeng adalah perbuatan nista, ibu rumah tangga adalah perbuatan mulia.
Kehidupan sebagai ronggeng adalah kehidupan seseorang saat berada adalan titik dzulumah , sementara kehidupan sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan mulia yang berada pada titik nuur.
Proses seseorang untuk sadar, merangkak, tertatih, merambat, berjalan hingga berlari dari titik dzulumah hingga titik nuur ini adalah proses luarbiasa dari seorang manusia. Menjadi ekwajiban bagi penulis muslim untuk dapat menghadirkan kisah-kisah yang menginspirasi masyarakat agar tergerak untuk bangkit dari titik dzulumah menuju titik nur.
Bukankah itu salah satu kalimat terindah dalam Islam : minadzulumati ilaa nur?

FLP Yogya
TEKNIS MENULIS dan KEBERHASILAN
AT menyampaikan, novelnya berjudul Kubah yang terbit 1980, mendapat penghargaan 1981 sebagai novel terbaik. Sebelumnya, AT senang menulis cerpen hingga berpuluh-puluh karya, disimpan saja. Beliau menyampaikan, saat menulis Kubah, berarti beliau telah mengasah diri dengan menulis puluhan cerpen meski itu tak diterbitkan.
Jadi, para penulis memang harus berlatih. Itu kuncinya!
FLP Yogya kali ini memiliki panglima Solli Murtyas. Anak-anak buahnya seperti Asti Ramdani, Santi, Lina, Rima, Taufik, Dwi, Rifki ( atau Rizki?) dll. FLP Yogya lah yang membuat modul Kaderisasi dan membuat buku raport anggota FLP. Modul Kaderisasi FLP Yogya telah dapat dinikmati oleh FLP cabang dan wilayah lain, direkomendasikan oleh BPP FLP Pusat sebagai salah satu buku panduan FLP yang memuat kekaryaan, organisasi dan keislaman.
Kembali ke Jogja Muslim Festival, semoga menjadi kegiatan tahunan yang semakin berkibar. FLP Yogyakarta menjadi lokomotif kebaikan yang produk-produknya akan senantiasa diikuti oleh teman-teman lain, memberikan manfaat luas bagi dunia seni, pendidikan, maupun disiplin ilmu yang lain.
Makalah saya tentang Sastra Islam dapat dilihat di http://sintayudisia.wordpress.com

Mari Berpolitik!

Tag

, , ,

Pernahkah anda mengajarkan si kecil berpolitik?
Bagaimana mungkin mengajarkan anak di bawah umur untuk memilih partai, anggota legislatif dan memahami cara politik bekerja! Tentu, bila makna politik dipersempit sebagai cara seseorang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, kita tak mungkin mengajarkan anak SD berpolitik.
time-young-voters

Perilaku seseorang tidak dibentuk hanya dengan sekali kejadian. Mengapa seorang anak takut kecoak dan berseru girang melihat kucing, apalagi gajah dan jerapah? Secara logika, jika takut melihat kecoak, maka akan semakin takut melihat binatang yang jauh lebih besar. Proses berpikir, adaptasi, modelling dan seterusnya membentuk perilaku hingga setelah dewasa pun, kita berseru jijik dan gemas melihat kecoak. Padahal cukup sekali injak, gepenglah ia.

Stereotip tentang polisi pun demikian.
Sejak kecil, ketika si anak susah makan, ibu akan berkata ,”awas, nanti Mama panggilkan polisi!”
Tak cukup hanya itu, si kecil menyerap demikian banyak informasi dari sekitar, ketika percakapan orang dewasa terjadi ,” pakai helm, biar gak ditilang polisi!” atau ,” ah, terobos lampu, gak ada polisi di perempatan jalan kok.”
Sosok polisi yang jahat, nakal, ditakuti menjadi terpatri dalam benak dan demikian sulit bagi kita mengubah citra polisi padahal masih banyak polisi yang baik dan jujur di tengah masyarakat.

Belajar Dialog
Suatu ketika si kecil menangis sesenggukan.
“Aku nggak mau ngomong lagi! Tiap kali berantem, mesti aku yang dimarahin! Aku mau diem aja!”
Rupanya, si kakak yang sudah pintar argumen berhasil menyudutkan si kecil hingga ia yang tak tahu harus bicara apa lagi, hanya bisa menangis. Ada kalimat berbahaya yang diungkapkannya, sebagai makhluk tertindas , “aku nggak mau ngomong lagi!”
Seolah-olah, dalam kondisi kalah dan tak berdaya, pilihan tidak bicara adalah jalan satu-satunya.
“Eh, Nis harus bicara.”
“Nggak mau!”
“Nanti tambah mangkel lho, tuh lihat, karena nggak mau ngomong air matanya jadi bercucuran begitu. Berarti hati Nis marah kan!”
“Nggak mau!”
“Mas tadi ngomong jelek ke Nis ya?”
“Nggak mau! Pokoknya nggak mau!”
“Sini peluk Ummi dulu,” aku menghapus airmatanya dan menenangkan di bahu.
“Aku dibilangin: telingamu buat apa sih? Dikasih tau nggak mau dengar…”

Dan mengalirkan cerita dari mulut si kecil yang bagi kita sangat amat sepele.
Tahukah anda, bahwa tahapan ini kita tengah mengajarkan si kecil berpolitik, sebagaimana kata Charles Blattberg yang mengatakan bahwa politik adalah merespon konflik dengan dialog?
Kita membiasakan di tengah keluarga bahwa yang kecil tak harus mengalah dan bersedia di tindas. Begitupun yang besar, tak boleh sewenang-wenang, boleh berlaku seenaknya sendiri meski ia berada di pihak yang benar.

Belajar Mendapatkan Sesuatu
Si kakak ingin burung hantu.
“Aku mau melihara burung hantu. Pokoknya aku kepingin banget! Aku dah bosan melihara ikan, Ummi.”
Tentu, ayahnya marah. Sebab kami pernah memelihara kelinci, kucing, hamster yang hasilnya…mati semua. Hanya ikan-ikan yang masih bertahan : koki, kuhli, ikan pedang, ikan gelas dsb yang perlahan juga wafat satu demi satu. Tapi alasan si kakak ,” dulu kan aku masih kecil, makanya hewan-hewan pada mati. Sekarang aku sudah besar. Aku mau melihara burung hantu. Seperti Soren, dalam Guardian of Gaa’hole!”

Kukatakan pada si ayah bahwa kita tak boleh mengebiri begitu saja keinginan seseorang. Justru kita harus bantu, sejauh mana ia mampu mewujudkannya, dengan cara yang realistis.
“Oke. Kamu boleh searching di internet, cari berapa harganya, apa makanannya, bagaimana cara memeliharanya.”
Si kakak rajin mencari di internet, kaskus dan bermacam-macam situs. Ia mendapatkan informasi berapa harga burung hantu sepasang, berapa harga jangkrik, berapa harga glove atau sarung tangan hantu. Si celepuk atau burung hantu ini hanya melek di malam hari, bisa disuapi di waktu malam. Jadi si kakak bisa merawatnya sepulang sekolah.
Semua informasi siap. Tempat membeli sudah diketahui.
“Jadi, kapan kita beli?” kata si kakak.

Itulah. Permasalahan terakhir adalah permasalahan budget. Harga 500 ribu lumayan mahal untuk memelihara hewan. Berbeda dengan koki mutiara yang hanya 25 ribu dapat beberapa buntal.
“500 ribu, Mas? Bagaimana kalau kita mencicil? Kamu menyisihkan dari uang sakumu?”
Kalau ia mau tidak jajan, jalan kaki, tidak boros uang, mungkin sebulan bisa menabung 50 ribu dan dalam setahun ke depan bisa membeli si Celepuk. Atau,
“perbanyak sholat. Banyak menghafal Quran. Ummi sering dapat rezeki mendadak lho dengan banyak berdoa.”

Anak-anak sering kuceritakan keajaiban doa safar, keajaiban sedekah, dan bagaimana ketika memohon bersungguh-sungguh; impian dapat terkabul. Impian yang kecil sekalipun.
Apa yang dipelajari kakak dalam proses membeli burung hantu itu adalah proses yang digambarkan Harold Laswell tentang politik : siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Kita mengajarkan anak-anak yang lebih besar untuk menghormati yang lebih kecil, mengajarkan mereka untuk bertahap memperoleh sesuatu. Tak ada yang instan, semua harus di program dengan baik, butuh step by step meraih apa yang diinginkan.

Belajar Memimpin, Belajar Dipimpin
Dua kakak telah duduk di bangku SMA.
Belajar organisasi, belajar interaksi. Pembentukan karakter di masa ini sungguh-sungguh punya relasi dengan dunia politik. Suatu ketika kami dipanggil sekolah karena ananda tidak mengumpulkan beberapa tugas. Masa sih? rasanya, putri kami termasuk orang yang perfect dalam urusan akademik.
Ternyata, si kakak putri punya tugas kelompok dan ia menjadi ketua. Akibat karakter perfectnya, ia tidak bisa mendelegasikan tugas.
“Soalnya si ini gak punya laptop, si ini gak ada bukunya, si itu bla bla bla…”
“Kak,” tegurku. “Sekalipun papermu nilanya 100 atau A, tapi kamu kerjakan sendiri, percuma. Biar saja teman-temanmu sulit baca referensi in English, hanya bisa copy paste, gak bisa bikin struktur kalimat yang bagus dan seterusnya; lalu nilai paper kalian hanya dapat 70 itu jauh lebih baik. Karena saat ini kamu sedang belajar berkelompok, bekerja sama. Kecuali kalau tugas individual, kerjakan ngotot dapat 100 ya nggak masalah.”
Di lain pihak, si kakak yang satunya, mau aja diminta mengerjakan beragam hal.
Urunan ini, urunan itu. Beli ini, beli itu. Kerjakan ini, kerjakan itu.
“Lha, kok kamu capek banget sih kayaknya di organisasi X.”
“Aku kan nggak bisa enak-enakan, meski aku cuma dapat seksi gak penting, Mi.”
“Tapi kamu harus bisa memilah, mana yang harus ditaati. Nggak semua permintaan kakak kelas dituruti kalau itu di luar budget, di luar kemampuan.”
Kukatakan, dalam rapat-rapat, si kakak jangan hanya jadi pendengar saja.
“Kamu sekali-sekali mengajukan pendapat, usul. Suatu saat, kakak yang harus bisa me- manage teman-teman. Jangan hanya bersedia jadi pelaksana. Makanya, ayo belajar berpikir.”

Belajar politik ala Confucius, bahwa politik berarti kecukupan makanan, kekuatan militer, mendapat kepercayaan rakyat. Terlibat dalam organisasi sejak masih SMP atau SMA dalam OSIS atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya, bertanggung jawab pada salah satu seksi, menjadi ketua panitia atau ketua organisasi berarti belajar politik ala Confusius – meraih kepercayaan orang lain , menjaganya.

Mendorong Anak-anak Berpolitik
Politik tidak hanya sekedar pencoblosan saat pemilu. Politik tidak hanya sekedar hingar bingar kampanye. Politik bukan cukup pasang baliho dan spanduk. Belajar politik, terutama bagi anggota keluarga dapat dilakukan dimana saja, dengan media apapun yang dimiliki.
Ketika menonton film Korea bersama anak-anak, itu adalah ajang politik keluarga. Kami terharu bersama, menangis menikmati penggal I am a King atau Masquerade; kisah tentang orang biasa yang memiliki wajah mirip dengan raja, lalu bertukar tempat karena satu insiden. Bagaimana raja dan putra mahkota yang pengecut, belajar banyak dari rakyat yang pura-pura menjadi raja. Seorang rakyat terkadang memiliki keberanian dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan. Saat berhadapan dengan menteri yang korup dan ditakuti, sang raja berkata,
“ …karena orang-orang seperti engkaulah, Joseon ditindas oleh kerajaan Ming!”

Menonton Tae Guk Ki , Berlin’s File , The Man From Nowhere atau serial the Great Queen Seondeok ; menikmati tayangan music Korea, melihat jajaran restoran Dim Sum di pinggir-pinggir jalan kami bertanya-tanya : bagaimana mungkin dalam jangka waktu tak kurang dari 20 tahun Korea Selatan merangsek seperti ini? Merajai dengan makanan, film, musik, budaya, barang elektronika dsb?
Budaya adalah produk masyarakat. Bersama budaya ada seni sastra, seni musik, seni teater dan drama, film, kuliner dll.
Saya berpesan kepada anak-anak,
“suatu saat kalian harus buat film serial sebagus the Great Queen Seondeok. Ada banyak peristiwa sejarah yang bisa difilmkan kolosal dan spektakuler , perang Badar dan perang Uhud, misalnya. Atau kisah Walisongo, perang kemerdekaan, perang Diponegoro dan sebagainya.
Kalian harus bikin grup musik yang mengangkat tema batik. Lihat, budaya Korea dengan oplas nya begitu diminati anak muda.”

Setiap pulang dari perjalanan, saya bercerita tentang daerah tersebut kepada anak-anak. Betapa di Gaza, Palestina yang terblokade, angkutan umum terdiri dari mobil bagus dan nyaman. Betapa Gaza berusaha mandiri dengan apa yang dimiliki, tidak melulu bergantung pada bangsa asing.
“Suatu saat nanti, Anak-anak, kalau kalian memimpin, semoga kalian membawa Indonesia lebih baik. Membawa Indonesia seperti yang diimpikan Sayyid Quthb : akan ada sebuah negeri yang menjadi mercusuar dunia. Negeri muslim yang kaya.”

Jadi, berpolitiklah dari sekarang.
Jangan bekukan politik hanya di era 5 tahunan, dalam kotak-kotak kepentingan. Jangan termakan propaganda dan tendensi media tertentu. Kita bangun politik mercusuar, dari rahim rumah-rumah kita. Anak-anak bangsa yang bijak bestari, berani bersuara, tangguh dalam pentas dunia, cerdik mengelola masalah, pandai menemukan solusi.

Menjelang 2014, bentuk persepsi anak-anak dengan informasi yang membangun character building. Jangan biasakan caci maki, jangan biasakan stigma. Katakan bila kita memilih seseorang, kita harus tahu kredibilitasnya, harus tahu apa program kerjanya. Mungkin anak-anak belum tahu betul tentang politik, sebagaimana filosofi politik ala Plato dan Aristoteles. Tapi kita bisa bangun pemahaman mereka tentang politik, sebagaimana Sultan Murad saat mendidik al Fatih, the Conqueror – tentang Konstantinopel.

Mari ajarkan anak-anak berpolitik.
“Nak, Indonesia ini kaya. Negeri ini milik kalian. Suatu saat nanti, ketika kalian besar, kalian yang akan mengelolanya. Maka, belajarlah dari Umar, saat memimpin ia masuk ke pasar dan blusukan hingga daerah-daerah. Belajarlah dari Abubakar. Belajarlah dari Shalahuddin al Ayyubi.”

Anak-anak kita belum faham betul tentang partai.
Tapi anak-anak mulai belajar untuk bersuara, menyatakan pendapat, berdialog dengan baik, tidak pragmatis. Dan, karakter kepemimpinan termasuk pemimpin politik, kita bangun di sini, dalam ruang-ruang rumah kita. Di Quran yang dihafalkan. Di meja makan. Di kamar. Di depan televisi. Di halaman-halaman buku yang dibaca dan didiskusikan bersama.

Poligami : Rijal yang Qowwam, Ketangguhan istri Pertama, Ketulusan istri Kedua

Tag

,

Masih ingat tentang keajaiban doa safar?
Setelah beberapa kali bertemu teman perjalanan yang kurang mengenakkan, akibat saya juga meremehkan doa safar, saya lalu bersungguh-sungguh berdoa setiap kali melakukan perjalanan keluar kota : semoga diberikanNya teman sholih dan sholihah. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa-doa. Di beberapa perjalanan, teman duduk saya orang-orang yang luarbiasa.
Beberapa sudah saya tuliskan secara singkat :
1. Pemuda sholih, kakak beradik hafidz
2. IRT pengusaha sukses
3. Tukang becak, cucunya hafidz
4. Seorang teman lama, istri ke-2
Kali ini, saya ingin melukiskan pengalaman istimewa yang subhanallah…betul-betul sebuah skenarioNya.

Jakarta , terdampar menunggu Shubuh
Moga bukan dislexia. Atau rabun. Atau apalah.
Akhir-akhir ini saya suka salah baca tulisan. Ikut lomba menulis, bolak balik lihat persyaratan, 1-5 halaman. Setelah dikirim, ternyata 5-10 halaman! Bolak balik salah lihat jadwal kuliah. Yang terparah, bolak balik lihat jadwal Jogja Muslim Festival, tertera pagi hari. Akhirnya mengiyakan panitia Medan untuk mengisi acara pagi hari berikutnya. Ternyata…, acara Jogja sore hari. Terpaksalah jadwal pesawat dicancel, diubah, dan terpaksa terdampar di bandara Soetta dari jam sebelas malam hingga Shubuh esok harinya.

Shubuh, setelah check in dan duduk di waiting room, wajah ini bertatapan dengan seorang perempuan berjilbab kuning. Dia dan saya sama-sama terdiam beberapa detik.

poli

Kami telah berpisah 15 tahun yang lalu! Setelah perasaan saya demikian lelah, harus berlomba dengan waktu, memikul ransel, dan yang paling menyebalkan menggerutu mengkritik diri sendiri yang berulang kali salah melihat simbol angka ; rupanya ada rahasia di balik semua kesalahan-baca-ini. Di balik tiket yang terpaksa berganti jam. Di balik jadwal yang amburadul berantakan. Di balik nafas ngos-ngosan memburu waktu di bandara Adi Sucipto, Soetta, Kualanamu.
Lalu kami berdua sama-sama terpekik, bersalaman, cipika cipiki dengan perasaan rindu membuncah.
Mari, kita simak kisah kasih 3 insan yang terpatri dalam cinta unik. Nama saya samarkan dengan Raffi, Yuni, dan Shara.

Bila cinta dalam ikatan dakwah
Shara seorang perempuan cerdas sholihah berputra satu. Suaminya meninggal di saat usianya masih demikian muda, kecelakaan yang mendadak. Aku masih ingat bagaimana Shara demikian tegar, sementara kami yang takziyah menangis tak henti-henti. Suami Shara seorang lelaki sholih, baik akhlaqnya, dai yang tiada duanya.
Bertahun-tahun kemudian aku mendapat undangan pernikahan Shara. Ia dilamar seorang lelaki berkedudukan, sebagai istri kedua. Konon, lelaki itu –Raffi- meminta istri pertamanya Yuni untuk mencarikan istri kedua. Yuni pun menemukan Shara dan mereka sepakat bertiga untuk mengikat diri dalam ikatan cinta yang sah, dalam naungan lazuardi dakwah.

15 tahun kemudian aku bertemu Shara.
Tentu, insting perempuanku berusaha ingin tahu. Aku menyebutnya Kakak.
“Kakak tinggal di…?”
“J.”
“Suami kak Shara dimana?”
“Ya di J juga dong dek,” Shara tertawa.
Kamis atu pesawat. Duduk berdampingan. Dan mengalirlah kisah indah yang demikian ingin kutuliskan secara khusus untuk sebanyak mungkin orang. Meski sebagai perempuan sampai kapanpun tak akan bisa menerima alasan poligami, kisah Raffi, Yuni dan Shara pantas untuk direnungkan.

Kunci poligami
Shara telah menyelesaikan studi S3nya. Kami bertukar nama, di depan namanya tertera gelar doktor. Ia seorang perempuan yang aktif, dengan segudang kesibukan. Aku yakin, pernikahan mereka tentu tidak seindah si cantik cerdik Shahrzad mengisahkan 1001 malam ke telinga raja Persia.
Pasti ada yang indah.
Pasti ada yang seru.
Pasti ada yang heboh.
Dan kita, sebagai perempuan, senang mendengar ksiah dramatis, melankolis, terutama sisi konflik yang meruncing kan?
Penasaran dengan kisah cinta segitiga, aku langsung bertanya. Beruntung, Shara sangat bijaksana melayani rasa ingin tahuku. Teori, selalu lebih simple daripada praktek. Teori, selalu jadi kambing hitam bila prakteknya bermasalah. Bagaimanapun, teori adalah penyederhanaan fakta di lapangan. Kisah Shara boleh jadi terdengar teoritis bagi sebagaian kalangan, tapi demikianlah yang dialami Shara.
Raffi mampu menjaga keharmonisan hubungan dengan Yuni dan Shara. Tentu ada friksi disana sini, masing-masing punya cara khas mengatasi masalah.

Raffi
Usianya terpaut 20 tahun dari Shara. Raffi adalah seorang lelaki yang matang. Dalam pandangan Shara, Raffi mampu menjadi qowwam bagi keluarga istri pertama dan kedua. Raffi mampu mendidik Yuni, sekalipun tidak mengabaikan sisi-sisi manusiawi Yuni yang mudah meradang saat berada di posisi istri pertama.
Raffi tahu, bahwa menikah untuk yang kedua kalinya , secara syariat tidak membutuhkan izin dari istri pertama. Lagipula, mana ada istri yang mengizinkan? Tapi Raffi memilih untuk tidak sembunyi-sembunyi, dengan alasan agama atau dakwah sekalipun. Raffi mendiskusikan secara terbuka dengan Yuni keinginannya untuk menikah lagi, di saat putra putri mereka telah berjumlah 5 dan kondisi keuangan keluarga sangat mapan. Raffi meminta Yuni yang memilihkan.

Bukan mudah mencari pasangan bagi Raffi dan Yuni.
Yuni mencari-cari dan akhirnya menemukan Shara, janda beranak satu yang tangguh. Raffi mendiskusikan terbuka dengan seluruh anggota keluarga, di saat anak-anak beranjak remaja. Alhamdulillah, semua terbuka untuk menerima Shara.

Yuni
Yuni adalah perempuan cerdas berpendidikan tinggi. Berdasar cerita Shara, ia perempuan yang sangat dominan. Dalam tahun-tahun pertama pernikahan Raffi dan Shara, Yuni benar-benar memegang kendali keluarga. Keuangan, pembagian hari, semua berada di tangan Yuni. Raffi lebih banyak berada di rumah Yuni, ketimbang di rumah Shara. Kadang, Yuni juga tidak bisa menghindari gesekan dengan Shara. Apalagi rumah mereka juga bertetangga.
Shara
Ketulusan dan upaya memahami, rupanya salah satu kunci Shara mampu menjaga stabilitas keluarga Raffi dan Yuni.
“Kakak tau, Sin,” ujarnya, “ kakak juga banyak belajar dari para istri yang dipoligami, bahwa tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit. Maka kakak ambil posisi mengalah, kakak lebih banyak mundur jika ada keputusan harus diambil suami istri.”
Shara mengalah dalam masalah hari. Shara mengalah dalam masalah keuangan. Untungnya, Shara punya penghasilan sendiri. Apalagi Shara menyadari, anak-anak Yuni berjumlah 5 orang dan semuanya membutuhkan perhatian moril dan materil.

Ketulusan, sikap mengalah Shara membuat Yuni juga melunak.
Di kemudian hari, Raffi bisa membagi hari antara Yuni dan Shara masing-masing setiap 2 hari. Ketika anak-anak Yuni mulai lulus kuliah, Shara meminta kepada Raffi dukungan materi kepada anak-anaknya (dari Raffi, Shara mendapatkan seorang putra). Yuni dan putra putrinya tak keberatan dengan permintaan ini.

Shara punya beberapa tips untuk mengatasi friksi saat menghadapi Raffi dan Yuni :
• Ketika landasan awal adalah niat ibadah kepada Allah SWT, niat karena dakwah, insyaAllah guncangan yang terjadi akan kembali mereda setelah masing-masing merenungkan niat awal kembali. Berbeda yang main kucing-kucingan. Sekalipun dalam agama dibenarkan, menurut Shara, musyawarah akan menimbulkan kebaikan. Terutama dampak bagi anak-anak.
• Jika Yuni menyakiti hati Shara, Shara tidak serta merta membalasnya. Di saat Shara berkunjung ke suatu daerah untuk urusan tugas atau dakwah, Shara selalu membelikan oleh-oleh untuk Yuni. Bila sakit hati Shara belum sembuh, Shara akan menitipkan buah tangan kepada Raffi dan mengatakan, “titip untuk kak Yuni ya.”
• Shara membiasakan menulis surat untuk Yuni, dalam kesempatan-kesempatan istimewa ataupun saat mereka punya masalah. Shara menuliskan “terimakasih telah berbagi kebahagiaan” atau “terimakasih telah berbagi cinta.” Shara sangat menghindari perkataan “terimakasih sudah mengizinkan bang Raffi…” . Sebab bagi Shara , kata MENGIZINKAN akan melukai perasaan Yuni. Yah, siapa yang mengizinkan? Atau bila mengizinkan, tentu dengan perasaan gundah, sakit yang luarbiasa dan kata-kata itu hanya akan menuding : nah, kamu kan udah ngijinin suami kamu nikah lagi.
• Shara senantiasa berkata pada anak-anak Yuni : Ummi memang bukan ibu yang melahirkan kalian, tapi kalian adalah anak-anak Ummi. Kelak, ketika Ummi meninggal maka anak Ummi A dan B hanya akan memiliki kalian sebagai saudara. Begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, anak-anak Yuni dan Shara bersaudara layaknya saudara kandung.

Saya yakin, tak mudah menjalani kehidupan sebagai Raffi, Yuni dan Shara.
Membayangkan suami kita berbagi dengan perempuan lain, tak sanggup rasanya. Tapi saya sungguh terkesan dengan ucapan Shara yang memuji suaminya.
“Kunci poligami memang ada di suami, Sin. Jika ia mampu menjadi sebenar-benar qowwam, sebenar-benar pemimpin yang bijak dan mampu membimbing keluarga; insyaallah akan baik. Meski semua ada kendala, insyaallah tetap teratasi.”

Saya, mungkin seperti anda , perempuan kebanyakan. Tak akan berpikir poligami. Namun semenjak bertemu Shara kembali, ada denyut lain dalam doa. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang seperti Raffi, Yuni dan Shara; menjaga setiap keluarga yang senantiasa berupaya berada dalam jalan kebaikan.

Jurus Sukses Penulis Pengejar Deadline!

Tag

Saya bukan pengejar deadline.
Meski, kalau dipaksa bisa, dengan hasil yang kurang memuaskan. Bulan Nararya adalah novel yang sudah saya tulis lebih dari 6 bulan yang lalu. Saya tulis, jadi novel, saya revisi. Saya tambahi sepanjang dalam perjalanan di kereta api. Begitulah. Dibongkar, diambil bagian yang tegang, cut. Taruh di depan. Yang ini diletakkan disini, yang ini dpindah kesini.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-your
Tapi cukup banyak pemenang lomba Tulis Nusantara yang mengerjakan karyanya mepet waktu dan….menang! Setidaknya masuk 50 besar hingga 10 besar. Saya betul-betul penasaran, bagaimana perjalanan cerita mereka? Bagaimana menaklukkan waktu? Bagaimana mendapatkan inspirasi, menyelesaikan cerita?

1. A menulis puisi, sembari menggendong, menyusui bayi, mengetik, menjelang deadline jam 00.00. Masuk 50 besar
2. B baru tau menjelang 5 hari penutupan, dikabari temannya. Masuk fiksi 3 besar
3.C awalnya gak berniat ikut, karena teman-temannya tidak ikut, ternyata masuk puisi 3 besar, dikerjakan menjelang deadline
4.D mengerjakan novel, melengkapinya di detik-detik terakhir, dibantu suami dan anaknya menyiapkan perlengkapan administratif, masuk 3 besar.

Bagaimana bisa?

Saya temukan jawabannya saat membedah buku Opera Langit, karya teman2 FLP Hadramaut, Yaman. Arul Chairullah menuliskan di buku hadiah, kata-kata mutiara.

“Bi qadri kaddi tuktasabu amaliy.”

Seberapa besar semangat nya di awal.
Begitulah kemuliaan yang didapat.

Saya tidak mengerti. Semangat?
Bukannya upaya?
Tapi sekali lagi baik Arul Chairullah maupun suhu saya, Gus Awy, menyampaikan bahwa maksud kata mutiara itu adalah semangat. Hm, benarkah?

Kalau diteliti memang benar adanya.

Ini dia cerita lengkapnya.
1. D, si penulis novel, melengkapi novelnya di detik-detik akhir menjelang jam 00.00. Rumah tinggalnya dekat kampus, jadi ada warnet dan rental di dekatnnya. Ia sudah menyelesaikan novel, melengkapi surat perjanjian. Bersiap mengirm, dan…lupa, bahwa harusnada scanning tanda tangan ! Menjelang beberapa menit kearah jam 00.00 , maka suaminya berlari ke rental, scanning tanda tangan, melengkapi syarat administratif dan alhamdulillah menang :)

2. C. membuat puisi yang indah. Menjelang deadline ia baru mnyempurnakan puisinya. Ia kehilangan beberapa imajinasi tentang diksi dan….ia meng SMS teman2nya satu demi satu :
* eh, benarkah kata ini pasangan katanya itu?
* apa nama daerah bagi aktivitas x?
Bayangkan! Saya mah gak kepikiran rajin meng SMS teman-teman untuk mencari makna diksi. Lihat kamus, gak dapat ya udah. Teman kita satu ini demikian sabar dan penuh semangat, bahkan meski mendekati jam-jam terakhir.

3. F, yang ini belum saya ceritakan sinopsisnya di awal. Kalau ia , menulis adalah panggilan jiwa. Setiap hari menulis, posting di blog. Jadi menjelang deadline, ia masih saja memiliki ide dan mampu menulis cepat akibat setiap hari memang terlatih utk menuliskan gagasan ke dalam tulisan. Iapun masuk 3 besar.

4. G. Ia adalah ibu yang luarbiasa. Perjuangannya, sungguh subhanallah. Ia memang selalu belajar, menelaah segala sesuatu, dan ikut lomba ini karena ingin mengungkapkan satu kebiasaan baik yg biasa dilakukan suku di wilayahnya. Ia juga biasa meng update status di facebook, menulis dengan baik. Ia berprinsip, jika kehilangan sesuatu, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik, minimal setara. Ia baru saja kehilangan satu peluang, dan Allah menggantinya dengan kemenangan.

Kata mutiara Arul saya pikir benar.
Para penulis tetap memelihara semangat hingga detik-detik terakhir.
Membayangkan ada seseorang yang berlari-lari mengejar scanner tanda tangan menjelang tengah malam. Membayangkan seorang ibu sembari menggendong bayi, menyusui, menulis.

Semangat sejak di permulaan. Semangat hingga di detik terakhir.
Itu rupanya kunci yang saya pelajari dari teman-teman Tulis Nusantara kali ini. Jadi, kalau anda karena kesibukan dan tidak sempat-sempat mencicil tulisan untuk lomba, baru tersedia waktu 3 hari menjelang hari H untuk menulis, jangan berputus asa. Tetaplah penuh semangat, sejak pengumuman lomba itu pertama kali ditayangkan.
Aku harus ikut!
Meski, kalau kita bicara rezeqi, tentu saja sudah ditakdirkan olehNya. Tapi boleh kan kita belajar dari orang lain dan menyerap kebaikan darinya?
Semangat!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 269 pengikut lainnya.