Forum Lingkar Pena (FLP) : antara Literasi, Organisasi, Partai Politik

Tag

Salah satu film Ramadhan yang membekas selain film Umar bin Khathab di MNCTV adalah serial lepas di TVRI , serial Nabi Yusuf dan serial Maryam. Selama ini, tiap kali mendengar nama Yusuf disebut yang terlintas segera adalah wajahnya yang rupawan bak malaikat dan bagaimana wanita tergila-gila hingga tak sadar mengiris jemarinya hingga berlumuran darah, tak terkecuali Zulaikha, istri al Azis yang cantik jelita.
Sungguh, kisah Yusuf termaktub secara lengkap dalam QS: 12 sejak beliau bermimpi tentang sujudnya bintang bulan hingga perjalanan beliau di penjara, fitnah wanita, diangkatnya beliau sebagai bendahara Mesir dan pertemuan mengharukan Yaqub dengan putra terkasihnya.
Setiap perempuan hamil berangan-angan memiliki putra setampan Yusuf, sehingga nama Yusuf adalah nama paling populer yang dipersiapkan. Jarang sekali kita –setidaknya saya- mencermati bahwa kisah Yusuf sangat sarat makna. Kisah ini sempat kembali membuat tercengang, terpekur, tafakkur manakala Arab Spring meledak sejak protes self immolation Muhammad Bouazizi menggulung kekuasaan Zen Abidin Ben Ali, Tunisia. Semua penderitaan manusia – terhina, tertuduh, terisolasi, terpenjara, terfitnah sebagaimana Yusuf as bukan berarti Allah tak punya kuasa terhadap dirinya.
Dalam film Maryam, ada satu penggalan yang membuat kami sekeluarga menangis. Apakah karena fitnah terhadap Maryam dan Isa? Bukan. Tetapi bagaimana, begitu mahirnya kaum Yahudi membolak balik opini tentang Nabi, tentang ajaran kerasulan, bahkan tentang Tuhan Sekalian Alam!
Dikisahkan bahwa Nabi Zakaria yang sholih telah beranjak demikian tua. Istrinya hamil diusia tua, saat divonis mandul. Di sisi kisah lain, Zakaria yang sholih dan sederhana , mempercayai kesucian Maryam yang mengandung. Tetapi Zakaria, dengan sedikitnya pengikut, tak mampu meredam gejolak masyarakat yang menuduh Maryam sebagai pezina. Kesedihan Zakaria dan Maryam hanya dapat disandarkan padaNya. Pendeta Nathan, pemuka Yahudi, memberikan orasi demikian menakjubkan yang intinya sebagai berikut :
“Betapa malangnya Tuhan Zakaria dan Maryam! Tuhan yang selalu butuh pertolongan perempuan untuk mengungkatkan kenabian hambaNya. Pertama, istri Zakaria yang mandul dibuat hamil. Kedua, Maryam yang tak punya suami dibuat hamil. Apakah tak ada cara lain untuk menunjukkan kuasaNya selain mengambil pembuktian dengan perempuan?”
Film Maryam, menjadi film wajib tonton keluarga, memberikan makna yang jauh lebih dalam , bahwa peristiwa kenabian dan dakwah, adalah peristiwa mulia, luarbiasa, sarat hikmah yang akan menjadi petunjuk manusia di kemudian hari.

*************

Dalam kisah Yusuf as, kita mungkin teringat akan tukang roti dan tukang pemerah anggur yang berada satu penjara bersamanya. Tahukah, apa makna semua? Saya sendiri terkejut, saat terlambat menyadari, bahwa makna dari kisah tersebut adalah : setiap orang yang kita temui, sejatinya ditentukan olehNya. Orang-orang di jalan, sekolah, kampus, tempat kerja, pasar, tetangga, di dunia maya; mereka akan memiliki posisi kelak sebagaimana Yusuf as dan tukang roti beserta tukan pemerah anggur.
Setiap orang yang kita temui, membawa jalinan kisah tersendiri dalam hidup ini, bagi kita dan alam semesta.
Itulah yang saya rasakan bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Sama sekali tak pernah menyadari, kesukaan sedari kecil terhadap tulis menulis di buku harian, kesukaan membuat cerpen untuk radio, kesukaan membuat puisi dan cerpen; Tuhan memperjalankan saya bertemu teman-teman luarbiasa dalam dunia literasi. Bertemu pendiri FLP, mbak Helvy, mbak Asma Nadia, mbak Muthmainnah. Bertemu senior FLP seperti Teh Pipit, Mas Gola Gong, Mas Boim, mas Ali Muakhir. Bertemu rekan-rekan seperjuangan dalam dunia menulis seperti kang Abik, kang Irfan, mbak Intan, Mbak Afra; bertemu organisatoris andal macam mbak Rahmadiyanti Rusdi, Yons Ahmad, Nurbaiti, Lia Octavia, Adam Muhammad. Bertemu dengan pecinta literasi dari penjuru dunia mulai Canada hingga Sumenep. Bertemu teman-teman yang tanpa nama mereka disebutkan dalam catatan pena manusia, Malaikat Roqib Atid tak akan lupa mencatat bait-bait kehidupan mereka yang berdaya guna bagi masyarakat.

Sinta Yudisia, FLP Mesir

Bersama FLP, saya memahami betul apa literasi, sebuah dunia yang semula asing; bersama FLP semakin mengasah kemampuan organisasi. Bukan hanya sekedar mengejar-ngejar donasi, tetapi bagaimana dapat mandiri. Bagaimana dapat membuat proposal dan bernegosiasi. Bagaimana dapat merancang acara bedah buku. Bagaimana dapat mengelola FLP hingga berjalan dari tahun ke tahun.
Kisah hidup kita, orang-orang yang ditemui, perasaan sedih akibat terasing, berjalan sendiri, terkubur bersama impian-impian panjang, terpenjara dalam system yang tidak berpihak pada dunia literasi sehingga penulis harus berjuang membesarkan dirinya sendiri dan organisasi yang diasuhnya adalah sedikit dari catatan perjalanan yang –sedikitnya- menyerupai kisah Yusuf as.
Tapi terpikirkah, bahwa setelah masa-masa terpenjara, tiba bagi FLP menjadi bendahara terpercaya yang akan mengelola dunia literasi dengan segala keunikannya : jiwa muda penuh semangat, komunitas 100 cabang sedunia, visi misi Islami universal, tema-tema Islami yang jauh lebih melegenda dan lebih “Canon” ; lebih dari The Phantom of the Opera Gaston Leroux, The Lady of Camellias Alexander Duma Jr, Anthony Cleopatra Shakespear?
Di FLP, kita belajar literasi dan organisasi.
Saat menulis, kita makhluk solitaire, individu, bagai alien.
Saat buku terbit, kita adalah makhluk sangat sosial, dimana karya kita membutuhkan pengakuan, penghargaan dan tentunya reward atas segala jerih payah. Akan tiba masanya sebagaimana para ulama terdahulu, insyaAllah, penulis dibayar dengan emas seberat buku yang dihasilkannya.

*********************

Di FLP, penulis belajar banyak hal.
Menulis fiksi non fiksi. Fiksi dapat meliputi puisi, cerpen, cerbung, novelette maupun novel. Non fiksi, penulis belajar membuat opini, artikel, surat pembaca. Eileen Rahman, narasumber EXPERT di rubrik Karir Kompas, pernah menulis hal menarik. Dalam dunia global seperti sekarang, dinding pembatas seringkali tertembus oleh interaksi kecanggihan teknologi. Orang membawa pekerjaan ke rumah : penulis menulis sembari mengajari anaknya belajar, editor mengedit karya sembari memasak, illustrator menemani istri mengobrol. Orang membawa pekerjaan rumah ke kantor : ibu menanyakan kemajuan prestasi si anak lewat email kepada guru, ayah mengadakan janji dengan konselor saat memimpin rapat, ayah dan ibu mengadakan janji akhir pekan lewat media sosial yang terkontak dengan anggota keluarga yang lain.
Batas-batas itu semakin cair, meski tetap harus memperhatikan profesionalisme. Dunia maya, menguntungkan, sekaligus sekali waktu berbalik menyerang bagai boomerang.
Di FLP, banyak manusia tergabung. Yang pandai baca Quran, yang belum bisa baca Iqro. Yang punya twitter, yang belum bisa meng- email. Yang sudah punya buku, yang masih tersendat buat outline. Yang beranak banyak, yang masih jomblo keren. Yang Muhammadiyah, NU, salafi, jamaah tabligh atau dari jamaah lain. Yang partai X,Y, Z atau golput.
Seringkali dalam diskusi karya, teman-teman saling menyerang.
“Dakwah jangan masjid dan jilbab doang dong!”
“Yang pakai jilbab penulisnya aja, karyanya tetap harus universal.’
“Eh, kita kan nulis ada idealismenya?”
“Biarin karyaku nggak laku, yang penting dapat pahala.”
“Lho, penulis juga harus bicara entrepreneur, gak bisa kejual bukunya, gimana bsia bertahan di dunia literasi?”
“Literasi sudah masuk dunia hiburan, jadi harus menyesuaikan…”
Diskusi seru, hangat, kadang saling memojokkan.
Tapi di rumah ini, di FLP, dengan denyut literasi, kita menemukan cara menyatukan kembali langkah kita yang sesekali berlawanan arah. Bahwa kita mencintai negeri ini, bahwa kita ingin indeks pendidikan dan kualitas manusia Indonesia meningkat, salah satunya dengan kegemaran membaca. Apalagi jika diikuti dengan kesukaan menulis, alangkah bermartabatnya!
Jika ada orang yang berpikir pragmatis, bahwa ia bergabung dengan FLP supaya lekas tenar dan terbit buku, silakan. Jika orang berpikir bergabung di FLP agar memiliki skill di duunia kepenulisan, mengingat menulis dapat dilakukan siapa saja dan menjadi penghasilan passive income, silakan. Sepanjang tetap taat pada aturan, visi misi FLP.
Beberapa teman FLP memang demikian bergairah dengan ritme dakwah tertentu. Apalagi dunia literasi membutuhkan mental baja, daya tahan beton, daya lenting bagai pegas sehingga jika terinjak, justru melesat bebas ke angkasa! Di titik ini teman-teman biasanya membutuhkan penguatan ruhani, yang mereka dapatkan di majelis-majelis pengajian, di luar lingkaran FLP.
FLP sendiri sering dikaitkan dengan partai politik tertentu, melihat kinerja teman-teman.
Lebih banyak berjilbab, mengusung tema universalitas Islam, bekerja tanpa imbalan memadai; sering dianggap duplikasi atau analog dari partai X. Memang, ada teman-teman FLP yang berafiliasi kepada partai X dan sebagaimana kata Eileen Rahman, batas-batas pijakannya mencair. Selama ia professional, tak mengapa.
Di milis FLP sendiri, ada teman-teman yang bergitu bersemangat membahas partai dan admin dengan bijak memutus diskusi bila dianggap sudah lewat dari jalur literasi.
Siapapun kita, bila berada di ranah seni, sastra, literasi, maka tema yang diusung memang jauh lebih universal dibanding sekat kepartaian. Bila seseorang telah menisbatkan dirinya dengan partai tertentu, hendaknya ia jauh lebih menjaga diri, karena bila ia mencoreng nama baik maka rusak nama FLP sekaligus rusak nama afiliasinya.
Dalam produk tulisan sendiri, teman-teman FLP yang menyukai ranah nonfiksi akan mencoba gaya jurnalistik yang cover both side, tidak menyebarkan hate speech , tidak sekedar cloning dan copas, mencoba untuk menuliskan versi pendapatnya sendiri. Dalam tulisan, idealism penulis akan tampak jelas, terutama ranah non fiksi. Data dan fakta yang diajukan, akan merujuk pada lembaga dan seterusnya dapat ditelusuri. Teman-teman mahasiswa yang mulai melek politik akan mencoba menuliskan suksesi kampus, tema sosial semacam pronografi dan harga bawang merah bawang putih, hingga pesta demokrasi 2014. Semuanya belajar dengan gaya sendiri, versi visualisasi sendiri. Ada yang terlihat netral, ada yang terlihat sangat berpihak.
Di FLP, ranah literasi, kita mencoba membudidayakan menulis.
Menulis adalah tahapan yang lebih jauh dari membaca, sebab kita telah membaca, merenungkan, memaknai, menafsirkan ulang, menginterprtasi dan mencoba memproduksinya versi gaya alamiah kita sendiri.
FLP adalah payung besar yang menaungi siapapun yang bergiat di dunia literasi, tak peduli apapun afiliasinya. Mari bekerja sama atas hal-hal yang kita sepakati, dan menghargai apa yang menjadi titik perbedaan masing-masing.

Cinta & Pernikahan Tanpa Dakwah

Tag

, , ,

Suatu ketika putriku bertanya, “ Ummi nggak pernah berantem sama Abah?”
Bohong kalau kukatakan ,” nggak pernah sama sekali!”
Bagaimana mungkin dua orang yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, hidup seatap, mencoba senasib sepenanggungan, menghadapi aral melintang menghadang, satu demi satu anak lahir dan besar melalui tahap demi tahap perkembangan ; semua dihadapi adem ayem penuh senyum tawa tanpa sekalipun duka, marah, jengkel, gundah gulana?
Tentu pernah kami saling tersinggung, diam seribu bahasa, mencoba menjaga jarak, sebelum salah satu bersikap rendah hati meminta maaf terlebih dahulu. Tapi apa yang membuat sebuah pernikahan melewati tahun demi tahun, membentur tembok kesukaran, sesaat kapal oleng, dan kami tetap saling berpegangan tangan mencoba bertahan dalam badai?

Tujuan pernikahan

Kalau tujuan berpasangan hanya semata urusan biologis semata, sampai kapan bertahan? Terlebih secara fisik, baik lelaki dan perempuan tak akan mampu terus menerus memiliki hasrat besar. Lebih dari sekedar biologis, fisiologis; maka pernikahan tak hanya didasarkan urusan fisik semata. Wajah boleh ayu tampan setahun lima tahun ke depan, sesudah punya anak satu dua tiga dan seterusnya, digerus permasalahan hidup dan ekonomi; rupawan tak lagi bertahan.
Yang bertahan adalah brain , behavior.
Kemampuan otak mencerna sesuatu, mencoba cari jalan keluar dari setiap masalah; dan bagaimana berperilaku. Akan semakin lengkap dengan egostrength , kekokohan mental yang didasarkan pada prinsip-prinsip Robbani.
Maka, pernikahan yang bertahan adalah yang dimulai, dijalani dan insyaAllah kelak diakhiri dalam rangka pengabdian padaNya.

Obat pernikahan

Sinta Yudisia's family di Tulungagung
Berantem?
Berselisih?
Marah? Jengkel?
Jika bukan dalam landasan dakwah, entah bagaimana kami menjalani kehidupan rumahtangga yang selalu menghadapi satu demi satu aral menghadang. Suatu saat, kami berselisih, saya menangis. Cari-cari suami tidak ketemu, hingga ia pulang ke rumah dalam kondisi tenang. Ternyata,
“…aku seharian di masjid. Tilawah Quran.”
Oalaaaaah.
Mangkel, hehe…tapi bersyukur luarbiasa. Lha kalau suami lagi jengkel malah jalan-jalan ke mall, cucimata, nonton bioskop sendirian, ke café? Bisa-bisa pulang ke rumah tambah tak terkendali.
Maka, kebiasaan ibadah bisa menjadi obat pernikahan. Terbiasa baca Quran bersama, saling mengingatkan puasa sunnah, sholat malam bersama. Suatu saat, kalau sedang berselisih dan saling mendiamkan, masa’ melalui malam dengan sholat qiyamul lail sendiri-sendiri? Malu laaah…apalagi sholat shubuh masing –masing nggak saling menyapa. Rasanya gak oke!
Biasanya, amarah luntur saat menghadapi waktu ibadah yang berikut, seperti harus makan sahur; atau mengingatkan anak-anak untuk baca Quran. Alhasil, kekakuan reda, saling menyapa dan berbincang lagi.
Tak terbayangkan, bila tak terbiasa beribadah bersama-sama, berapa lama kemarahan mengeras dan bahkan tak mampu cair kembali?

Dakwah adalah obat

“Apa sih yang menjadi bahan berantem Abah Ummi?” anakku bertanya lagi.
Apa ya…? Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya, kami nyaris tak pernah bertengkar untuk urusan ekonomi, bahkan bila terpaksa harus bersabar kami saling mengingatkan untuk tetap banyak berdzikir, sedekah, memperbanyak ibadah. Toh, masih banyak orang yang lebih sederhana dan sepanjang usia harus bersabar.
Seingatku, kami berselisih untuk permasalahan-permasalahan dakwah, terkadang kami berbeda menyikapi. Seperti misalnya suami menegur, tamu-tamu yang datang ke rumah, terkadang kalau curhat bisa berlama-lama. Aku mau bilang apa?
“Lama amat ngobrolnya,” suami keberatan, sebab ia sering kelelahan usai beraktivitas, dan harap maklum ingin gantian dilayani makan, minum dll.
“Lha gimana lagi,” aku menjelaskan,” masa’ harus Ummi usir? Mending mereka curhat kemari kan Mas, timbang curhat ke lain tempat, ke teman-teman mereka yang malah gak ngasih solusi baik.”

Untuk hal ini, akhirnya kami mencapai kata sepakat, bahwa harus ada waktu yang dibagi untuk curhat-curhatan dengan waktu untuk keluarga. Sebab mau tak mau, kami harus memantau hafalan Quran anak-anak, memberikan diskusi kepada anak-anak terkait kisah ulama, tafisr, salafus sholih maupun iptek terkini. Dan biasanya, aku mengiyakan agenda curhat-curhatan saat suami tidak berada di rumah (khusus cewek), supaya ketika ia kembali pulang kami bisa saling memperhatikan.

Begitupun waktu yang tersisa bersama suami, berisi pembicaraan berharga.
“Ada agenda apa malam ini, Mas?”
“Ada rapat nih.”
“Sampai jam berapa?”
“Malam, gak tau jam berapa pulangnya.”
“Ohya udah, berarti aku siapkan kopi panas dan camilan, aku tunggu mas pulang sambil ngetik ya.”
“Oke.”
Di waktu lain,
“Ummi ada acara hari ini?”
Biasanya Jumat, Sabtu, Minggu agendaku malah padat. Maklum ibu-ibu hehe…
“Pagi aku ngisi di sini, siang di situ, malam juga ada. Besok minggu ke luar kota.”
“Ya ampuuuun,” kata suamiku. “Sibuk benerrrr!”
Aku nyengir.
“Ya udah, ntar tak antar jemput ya,” kata suamiku.
Itu artinya pulang ngisi acara kami berdua bisa bercanda di atas sepeda motor sambil menuju…wisata kuliner! Sekedar yang murah tak apa, makan soto dan es teh bersama.
Agenda dakwah kami nikmati bersama, kami syukuri, dan ternyata agenda –agenda dakwah itu yang menjadi obat pernikahan kami.
Aku bercerita pada putri sulungku, Inayah,
“…nggak kebayang ya mbak In, kalau Abah Ummi nggak dijalan dakwah. Paling berantemnya masalah duit, mobil, belum lagi kalau masing-masing jatuh cinta lagi sama orang lain, ada WIL/PIL, naudzubillah.”

Aura di rumah pun berbeda.
Ketika sibuk pilkada dan pemilu, anak-anak menyetel televisi, membaca koran, masing-masing memberikan argumennya terkait berita. Anak-anak punya pendapat tersendiri terkait Palestina, Mesir, dunia Islam, Amerika, Yahudi, harga bawang putih dan politik dagang sapi; juga siapa-siapa saja terkait kasus korupsi. Aku geli sendiri, merasakan aura dakwah berada di tengah pembicaraan kami.
“Ya, bayangkan saja, kalau Mesir kabinetnya 140 orang penghafal Quran, gimana gak tangguh?” kataku.
“Wah, coba kabinet kita kayak gitu,” sahut Inayah.
“Amiiin.”

Hari Sabtu, yang ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional melengkapi hari Minggu, sama sekali bukan hari libur bagi keluarga-keluarga dakwah.
“Ummi, aku pengajian jam 7!” Ahmad berseru.
“Aku jam 8!” Inayah menambahkan.
“Jam 9 , Mi,” Nisrina si kecil tak mau kalah.
“Masku lagi nggak bisa ngisi,” kata Ayyasy.
“Gimana ini? Ummi mau ngisi acara! Abah ada acara?”
“Nggak ada,” jawab suami, kalau pas nggak ada rapat. Maka Sabtu bukan hari libur bagi suami sebab ia mengantar jemput anak-anak pengajian, menggawangi rumah bila aku harus pulang sore hari, suami memasak makanan istimewa sehingga anak-anak merasa tetap menjadi bagian special bagi kami sekalipun bergantian Abah dan Ummi nya sering tidak di rumah.

Sepanjang jalan , rasanya aku bersyukur atas ritme ini, merasakan karuniaNya atas hari demi hari yang penuh gairah bersama dakwah.
Bila, ada perselisihan terkait dakwah, saat aku sebagai perempuan terkadang cemberut, rewel, ingin perhatian lebih, ingin dimanja, tak mau kompromi dengan agenda suami yang padat dan ia pulang ke rumah lelah. Suamiku –tipe lelaki rasional dan easy going- berkata,
“…aku ingin Ummi mendukung dakwahku. Bukankah itu juga yang kulakukan untukmu?”
Tak terbayangkan, bila dakwah tak menjadi bagian dari perjalanan cinta kami, juga pernikahan dan keluarga kami.

Surat Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Bani Umayyah, kepada pejabatnya

Tag

,

Tercatatlah Khalifah Umayyad, Umar II, yang tak jauh berbeda dengan khalifah kakek buyutnya, Umar I. Hati Umar II atau Umar bin Abdul Aziz demikian lemah lembut, bahkan ia memerintahkan para pejabatnya untuk bersikap lemah lembut pada non Muslim. Surat edarannya kepada para pejabatnya berbunyi :

“Berikan perhatian kepada kondisi (orang-orang yang bukan Islam), yang dilindungi dan perlakukanlah mereka dengan lembut. Bila ada di antara mereka mencapai usia tua dan tidak mempunyai sumber penghidupan, andalah yang harus mengurus keperluan hidupnya. Bila orang itu mempunyai saudara mintalah agar orang ini mengurusnya…”

Surat yang lain Khalifah Umar II berbunyi :

“Murnikan daftar-daftar yang ada dari pengadaan kewajiban yang tidak perlu (yakni pajak yang dikenakan secara tidak adil) ; dan pelajari arsip yang lama juga. Bila telah dilakukan tindakan yang tidak adil, baik terhadap orang yang beragama Islam maupun yang tidak beragama Islam, pulihkanlah haknya. Bila ada di antara orang yang menerima perlakuan tidak adil itu yang meninggal dunia, berikanlah haknya kepada ahli warisnya.”

#Rinai : antara FLP, Palestina, Psikologi

Tag

, , , , ,

Dibawah ini rangkuman wawancara dengan mbak Vika Wisnu, Sindo Trijaya FM, Kamis 28 Februari 2013 (maaf jika ada yang terlewat atau khilaf). Semoga bermanfaat ya 

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Vika, Rinai

Apa sih isi Rinai?
Fiksi documenter, tentang relawan perempuan yang berusaha memberontak kungkungan adat Jawa di belakang dirinya. Salah satu “rebellion” nya adalah dengan pergi ke kancah konflik. Juga merangkum kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza, Palestina; anak-anak di sana.

Rinai itu siapa?
Rinai adalah tokoh utama dalam novel “Rinai”. Sengaja memilih nama-nama yang sangat Indonesia sekali, kecuali untuk kisah-kisah ber setting asing (missal The Road to The Empire, Takhta Awan – tentu, harus nama Mongolia)

Bagaimana mendapatkan informasi tentang Palestina?
Kebetulan tahun 2010 berangkat ke Palestina bersama BSMI- Bulan Sabit Merah Indonesia. Saat itu gerbang Rafah belum dibuka seperti sekarang, masih di bawah kepemimpinan Husni Mubarak.

Bagaimana akses ke Kementrian Perempuan dan Kementrian Budaya?
Saat berada di Gaza, diundang ke kementrian tersebut. Di kementrian Budaya, bahkan disambut oleh seorang penyair yang bersenandung tentang Tanah Air dan Ibunda!

Apa goal dari buku Rinai?
Agar kita mencintai tanah air Indonesia. Mereka yang tanahnya sudah hancur saja, masih mencintai negaranya, apalagi kita yang diberikan olehNya tanah subur. Juga, agar kita mensyukuri betapa makmurnya Indonesia. Di Palestina, seringkali menyaksikan pohon dan bangunan hancur lebur, sementara di sini kita bisa menyaksikan beringin dan akasia rimbun.

Alangkah bahagianya bisa belanja di Indonesia pakai rupiah (jangan tanyakan kursnya pakai dollar!) sementara di Gaza masih pakai shekel, mata uang Israel. Bayangkan bila kita harus belanja di Indonesai pakai gulden atau yen! Sedih kan?
Kita juga belajar menghormati bendera merah putih, yang bisa berkibar di tanah air kita sendiri. Di Palestina, mereka berjuang agar bendera bangsanya bisa berkibar di tanah airnya sendiri.
Kita juga belajar dari Palestina, betapa mereka punya harga diri. Nggak gampang jadi pengemis, peminta-minta. Filosofi mereka : anda bisa miskin, boleh mengemis 1-2 bulan. Tapi kalau sampai bertahun-tahun mengemis, itu bukan miskin tapi pekerjaan! Di Gaza, kita akan menemukan anak-anak dengan kondisi fisik tidak lengkap, mereka masih berkeliling berjualan shai-teh.
Perempuan bersuaha eksis dengan bekerja, menghasilkan sesuatu dengan tangan mereka sendiri dan tak melulu mengandalkan bantuan orang. Mereka memang punya tradisi beranak banyak, tetapi meski kondisi perang, anak banyak, para perempuan tetap berambisi kuliah terus hingga S3!

Apa arti FLP bagi karya-karya anda?
FLP – Forum Lingkar Pena adalah organasisai yang tidak hanya berisi penulis tapi semua insan yang peduli pada dunia literasi. Ada pembaca, kritikus di sana. Teman-teman FLP –utamanya yang berbasis ilmu sastra atau FIB biasa mengkirtik karya saya : oh, tokoh anda kurang begini Mbak…setting, alur harusnya begini.

Sindo Trijaya FM, Sinta Yudisia

Bagi saya itu masukan yang luarbiasa, ketika karya kita dikritik!
FLP adalah organsiasi non profit yang telah memiliki sekitar 100 cabang dan ranting di Indoensia dan mancanegara. Kami baru saja ul ngtahun ke 16pada 22 Februari kemarin, insyaAllah akan menyelenggarakan Munas FLP di Bali Agustus 2013 nanti.
Di FLP selain belajar menulis kita juga belajar berorganiasi.

Siapa yang membuat anda terus berkarya?

Klise jawabannya : suami dan anak-anak. Anak saya adalah kritikus yang andal dan pedaaas!

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Inayah

Siapa penulis yang menginspirasi?
Kalau dari luar , Amin Malouf, Nagouib Mahfoudz. Dari Indonesia ada mba Helvy, mb Asma nadia, Mbak Afifah Afra (lho koq perempuan semua…?)
 Sebetulnya saya mau bilang kalau semua teman-teman FLP sangta menginspirasi saya, ingin menyebutkan nama satu demi satu tapi waktunya nggak cukup.

Apa aktivitas harian anda?
Pekerjaan utama adalah ibu dan istri, ingat ini adalah karir juga, bayarannya adalah cinta! Saya mengajar kelas menulis di SDIT al Uswah, masih menyelesaikan studi Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surbaya, mengisi training dan motivasi kepenulisan, menulis dll

Apa hambatan utama penulis?
Kemalasan!
Malas adalah musuh terbesar, tapi harus dilawan. Kalau lagi malas , saya biasanya baca buku-buku biografi seperti Helen Keller misalnya. Ia yang buta, bisu, tuli, harus berkomunikasi pakai alphabet manual saja tetap bisa menghasilkan buku. Kita yang lengkap jasmaninya apa lagi

Kisah-kisah dari Pintu Kubur

Rumah nenekku, hanya dipisahkan oleh pagar-pagar seng dengan sebuah areal pemakaman yang luas. Sejak kecil, bila pulang ke rumah nenek, aku tidak pernah takut – bahkan bila malam- untuk tinggal di rumah nenek. Perlu diketahui, ruman zaman dulu tidak seperti rumah zaman sekarang yang hanya berukuran 90, 100, 115 m2. Tetapi luaaas sekali. Halaman belakang rumah nenek yang luas dipenuhi tanaman pisang, mangga dan aneka ragam perdu.

liang kubur
Bagi sebagian orang, makam atau kuburan, terasa menakutkan.
Bagiku yang saat itu masih kecil, tidak. Tetapi aku terbiasa mendengar kisah-kisah yang luar biasa dari orang-orang, tentang orang yang memulai hari-hari mereka sebelum masa keabadian : hari transisi di alam kubur. Semoga , ini menjadi pelajaran untuk disimak.

Tulang Putih orang sholih
Kisah ini, mungkin mirip dengan puluhan kisah yang anda dengar : sebuah makam yang terpaksa dibongkar, karena penuh atau memang akan direnovasi oleh keluarga besar. Maka dibongkarlah sebuah kuburan tua. Semua yang meninggal sama, tinggal tulang belulang, kecuali sebuah mayat yang memang tinggal tulang , tetapi warna tulangnya sangat berbeda : berkilau seperti mutiara!
Selidik punya selidik, orang yang tidak pernah kukenal itu, konon kabarnya dikenal masyarakat sebagai salah satu orang sholih dan berakhlaq baik. Hm, bahkan, jejak usai kematiannya pun berbeda ya antara orang baik dan buruk?

Tulang hitam, Makam yang luas
Sebut namanya pak Untung. Ia orang yang sangaaaat baik, tak pernah marah. Tak pernah mencela. Sangat sabar, dengan semua ujianNya. Satu lagi, sangat suka menolong orang. Tak pernah ada orang yang minta pertolongan dan nasehatnya, tanpa mendapatkan jalan keluar. Sayang, pak Untung tak suka….sholat. Ia bahkan nyaris mengabaikan sholat Jumat, meski tercatat sebagai seorang muslim.
Maka, entah bagaimana, makamnya terpaksa digali.
Sungguh, makam pak Untung, terlihat demikian luas bagi orang-orang yang hadir, jauh lebih luas dari makam-makam yang biasa. Konon kabarnya, itu disebabkan pak Untung selalu melapangkan semua kesulitan orang yang datang padanya. Tetapi, …tulang pak Untung, berwarna hitam. Naudzubillahi min dzalik.

Jasad yang Utuh
Kisah tentang seorang lelaki, yang karena banjir, makamnya terpaksa dipindah. Subhanallah, jasadnya hanya kisut, dengan ujung-ujung jemari melengkung. Jasadnya tidak membusuk, kecuali seperti diawetkan seperti mummy. Pak Ali, sebut saja demikian namanya, ternyata semasa hidup selalu menjaga “kesucian”. Konon kabarnya, ia sangat berhati-hati bila beristinja’ (cebok) dan…..tak pernah mengghibah/ membicarakan orang lain. Subhanallah, masyaAllah….ingin ya seperti itu?

Ular di pemakaman
Mungkin, ini pelajaran berharga bagi saya pribadi untuk menjauhi sikap kasar, brutal, ugal-ugalan. Konon, pernah ditemukan seekor ular melingkar di makam, saat menunggu jasad yang mati untuk dikebumikan. Si mayat, dikenal sebagai orang yang sangat kasar, tak pernah bersikap lemah lembut pada orang lain, sehingga tak terhitung jumlah mereka yang mengelus dada karenanya. Naudzubillahi mindzalik.

Anjing melolong dan situasi mencekam
Suatu malam, anjing melolong di pemakaman.
Lolongannya panjang, melengking, tak berhenti-henti. Situasi pun malam itu mencekam, tak seperti biasanya. Aku yang masih kecil saat itu, bertanya pada tante.
“Kenapa ya , Tante…anjingnya seperti itu?”
“Biasanya, anjing melolong seperti itu, bila ada orang yang barusan meninggal,” kata tanteku, yang seumur hidupnya tinggal bersama di rumah nenek. “Dan….juga yang dimakamkan, bukan orang baik. Anjing-anjing itu seperti melihat sesuatu. Tante sendiri merasa aneh dan takut, bila di makam belakang, barusan dikebumikan orang yang sepanjang hidupnya dikenal tidak baik. Kalau orang sholih yang meninggal, rasanya gak ada perasaan takut.”

Orang yang tidak percaya kehidupan sesudah mati
Suatu ketika, ada seorang pemuda yang tidak pernah percaya agama, tak percaya hidup sesudah mati. Sebut namanya, Ari. Ari, berteman dengan Galuh, anak seorang juru kunci. Maka Galuh, suatu kali mengajak Ari bermain ke rumah yang bersebelahan dengan pemakaman.
“Kutunjukkan Bapakku menggali makam.”
“Koq digali?” Tanya Ari.
“Ya, kadang karena masa sewanya habis, atau harus ditumpuk, atau tanah itu punya keluarga besar, jadi kaplingnya harus dibagi-bagi.”
Ari mengikuti Galuh. Beberapa kali melihat makam terbuka.
“Lihat bedanya nggak?” Galuh bertanya .
Mulanya Ari tak terlalu melihat perbedaan, tetapi setelah seksama, dilhatnya macam-macam perbedaan. Galuh menjelaskan,
“…kata bapakku, semua mayat dimasukkan dalam kondisi sama. Semuanya membujur. Setelah dibongkar, masing-masing berbeda : ada yang berkumpul di kepala, di lambung, di kaki. Ada yang tetap utuh membujur kaku, seperti sedia kala.”
Ari bergidik, ketika Galuh menceritakan secara singkat sebuah hadits, yang meriwatkan secara panjang ucapan Rasulullah Saw tentang perjalanan orang dicabut nyawa hingga dimakamkan. Galuh menceritakan secara singkat, bahwa setelah mayat dikebumikan, ia betul-betul mati, tetapi bumi tidak mati. Bumi ganti berbicara dan menyambut mayat tersebut, persis seperti apa yang ia lakukan ketika masih berjaya berjalan di atas bumi.
Sejak itu, Ari lebih baik dalam menjalani agamanya.

(disadur ulang dari kisah-kisah nyata)

Menulis Tanpa FLP

flp logo
Banyak ragam komunitas sastra di Indonesia.
Di Surabaya atau Jawa Timur, berbilang puluhan hingga ratusan. Begitupun klub –klub menulis yang dapat diikuti via on line. Sekolah Menulis atau kursus menulis pun dapat dijumpai relative mudah. Pendek kata, tak ada hambatan untuk mempelajari teori menulis baik fiksi non fiksi, anak hingga dewasa. Sekolah menulis berbayar menyediakan cost bervariasi mulai harga puluhan ribu rupiah hingga jutaan, semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. User tinggal memilih sesuai kebutuhan.
Para penulis kreatif, bermunculan menggairahkan peta literasi Indonesia. Tunas muda sejak di bangku sekolah dasar, Alhamdulillah telah menghasilkan buku. Yang senior, telah menimang cucu pun berlomba dalam kebaikan, menggoreskan perenungan-perenungan hidup dalam sebuah aktivitas bernama menulis. Meski, perkembangan literasi di Indonesia masih jauh dari menggembirakan, pencapaian dan percepatannya masih kalah dibandingkan dunia entertaintment.
Menulis, bisa dilakukan semua orang. Menulis, adalah salah satu hasil belajar yang relative menetap, sebagaimana orang yang telah mampu membaca, bersepeda, berenang; maka kemampuannya tak akan hilang meski tak pernah digunakan bertahun kemudian. Makna “menulis” dan bekerja sebagai “penulis” memiliki arti yang lebih special bagi sebagian orang. Menulis tidak lagi sekedar mendekorasikan angka dan huruf, tetapi menulis lebih jauh adalah aktivitas, menghasilkan rangkaian kalimat yang mengemban tema : cinta, perjuangan, sejarah, imajinasi, agama, moralitas, dan seterusnya.
Maka kita akan memahami.

“Pekerjaanmu apa?”
“Saya penulis.”
“Oh? Wah, luarbiasa! Saya juga ingin bisa menulis seperti kamu!”
Sang penulis bukan sekedar orang yang bekerja clerical, sekedar mencatat pembukuan atau pengeluaran-pemasukan kas; tetapi seorang penulis dianggap lebih bijak dari yang lain, lebih memiliki motivasi, lebih mampu menularkan semangat, lebih berlari di depan beberapa langkah jauhnya. Bahkan, sekalipun ia masih kecil dan imut-imut, orang akan berdecak mengagumi kecerdasannya yang jika di kurs kan dalam angka intelegensi, diprediksi di atas nilai 100 atau 120.
Mampukah seorang penulis berhasil secara individu, melesat sebagai ambisi pribadi?
Mungkin saja.
Semakin banyak penulis yang lahir tanpa komunitas. Mereka membuat buku yang layak diterbitkan, dibaca banyak kalangan, dan laku.
Dimana peran FLP ketika itu?

FLP dan Komunitas Sosial

Silnas FLP  & Sinta Yudisia

Sebagai makhluk individu, manusia mampu meraih ambisi apapun seorang diri. Tetapi sebagai makhluk social, manusia tak mungkin hanya tinggal seperti bilangan biner, 1 dan 0. Manusia butuh interaksi, komunikasi, sosialisasi, bahkan sekali waktu manusia sangat butuh bersikap altruist. Manusia bahkan butuh sekali waktu melakukan aktivitas transcendental dan aktivitas kemanusiaan, yang akan melembutkan hatinya dan membuatnya merasa jauh lebih mulia dan lebih berharga dibanding hidup sendiri.
Menulis bisa dilakukan sendiri. Di malam hari, dalam situasi hening, dan percayalah, saat tengah konsentrasi menulis kita tak berharap ada orang lain di situ. Tetapi saat sedih naskah di tolak, buku terbit tanpa respon yang baik dari masyarakat, perjalanan menulis yang seolah stagnan, ketrampilan yang sepertinya tidak berkembang (hanya dari situ ke situ lagi); kita akan butuh teman-teman. Teman di mana? Kampus, mall, chatting? Tentu, teman yang punya denyut nadi sama. Mereka yang mencintai membaca. Mencintai menyisihkan uang untuk berburu buku. Mencintai informasi baru buku-buku terbit. Dianggap freak karena lebih suka menikmati buku ketimbang nonton film atau hunting tas terbaru.

Teman yang suka berlelah-lelah belajar menulis. Mengkaji apa itu teori fiksi, apa itu motivasi menulis, siapa Stephen King, Sartre, Harper Lee, JRR Tolkien, CJ Lewis dan bagaimana pengalaman hidup mereka menulis?
Maka,
Duduk di majelis FLP adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan.
Bukan saja karena disitu dibuka dengan basmalah dan shalawat Nabi, tetapi juga bertemu teman-teman yang selalu bergelora dalam jiwa muda. Dan, sangat menyenangkan, kita tidak hanya belajar menulis an sich, tetapi juga bagaimana belajar menjadi manager, mengelola keuangan, membesarkan organisasi, menjadi EO yang cakap.

Di FLP selain belajar berbagi, kita akan belajar saling mengingatkan.
“Duh, naskahku ditolak!”
“Eh, sudah coba penerbit ini belum?”
“Ada kontak personnya?”
“Kukasih alamat imelnya ya….”
Atau,
“Eh, sudah tau ada lomba femina, ada lomba Bobo?”
Atau,
“…..sabar ya, insyaAlalh suatu saaat kamu tembus deh di media. Hm, banyak-banyakin sholat malam dan istighfar dan sholawat, biar doamu tembus langit!”
Bagi saya, rasanya hidup jadi lebih berwarna menulis bersama FLP. Rasanya, tanpa komunitas, sulit konstan menulis seperti sekarang. InsyaAllah, FLP akan terus bersama bangsa Indonesia menuju masa depan yang bermartabat. Amiin.

Selamat Ulang Tahun, Forum Lingkar Pena, 22 Februari 1997 – 22 Februari 2013.
Meski terlambat, akan selalu ingat 

8 Keindahan Sastra Al Quran

Quran indah, sangat berseni? Saya tahu, tapi tak mampu menjelaskan secara detil mengapa ia indah. Membaca Atlas Budaya Islam karya sejoli syahid syahidah (insyaAllah) Ismail Faruqi dan Lois Lamya Faruqi, mau tak mau saya ingin menuliskannya secara ringkas dan membagikannya kepada anda.
Saya bukan sastrawan, hanya seorang penulis yang kata pak Maman S. Mahayana dalam “9 Jawaban Sastra”; seorang penulis berusaha menterjemahkan, merenungkan, menafsiran segala hikmah kehidupan dengan caranya sendiri yang unik (kurang lebih demikian). Dari 8 Seni Sastra dalam Quran, saya coba tambahkan pengalaman pribadi.

Coba simak hakikat keagungan dan keindahan sastra Quran!

400-04532330

1. Pertama

Quran bukan syair, bukan sajak.
Syair adalah bait-bait matra (jumlah, panjang, posisi suku kata) dan sajaknya (konsonan dan vokalisasi suku terakhir) identik.
Sajak adaah prosa yang kalimat dan frasenya ditandai dengan sajak diseluruh komposisinya.
Quran tidak menyerupai keduanya, tetapi memanfaatkan keduanya dengan leluasa untuk mengembankan tujuannya. Karena itu kategori baru harus ditentukan untuk menggolongkan Quran di luar syair dan prosa yaitu “ Al natsr al muthlaq” (mutlak bebas dari prosa)

2. Kedua

Quran tersusun dari kata dan frase yang sangat sesuai maknanya. Artikulasinya benar dan sempurna. Perubahan, bagaimanapun kecilnya , berarti perubahan yang lebih buruk. Tidak satu katapun boleh hilang, yang akan menghancurkan aliran dan makna ayat.

3. Ketiga

Kata-kata dan frase dalm Quran untuk satu ayat, atau satu bagian ayat, sebanding atau kontras sama sekali dengan kata dan frase ayat sebelumnya atau sesudahnya, baik dalam susunan maupun maknanya.
Aliran kata-katanya dengan demikian melahirkan tekanan dan harapan besar, serta ketenangan dan kedamaian. Kualitas komposisi Quran ini disebut “tawazun” atau keseimbangan, dan komposisi ini berlaku dalam bentuk maupun dalam kadungan teks.

(untuk point ini saya jadi merenung. Sempat bertanya-tanya mengapa ayat puasa 183-185, lalu sesudahnya ada 1 ayat – 186 tentang doa yang sangat berbeda dimana ayat 187 juga masih tentang puasa? Kalau mengkaji pendapat Faruqi, rasanya beliau benar. Ayat 186 tentang doa dan betapa dekatnya Allah SWT melahirkan “tekanan dan harapan besar”)

4. Keempat

Kata dan frase Quran mengungkapkan makna terkaya dan terkuat dalam bentuk tersingkat.

(ini saya rasakan betul ketika mencoba membaca arti – baru membaca arti, belum membaca tafsir dan asbabun nuzul- tentang ayat sedekah misalnya, mulai dari QS 2 :261 – 274. Sedekah termasuk dibahas secara panjang dan istimewa di al Baqarah, mencakup 14 ayat. Mulai balasan sedekah seperti satu biji yang berlipat menjadi tujuh tangkai, tiap tangkai ada seratus biji (2:261) atau seperti kebun di dataran tinggi yang bahkan hanya disirami embun saja berbuah lebat, apalagi hujan (2 : 265). Sedekah ini harus yang terbaik (2 : 267) tetapi dilarang menyakitkan hati si penerima ; missal denga berkata “….lha, elo lagi, elo lagi! Mintaaa melulu, apa gak ada usaha sama sekali?”

Sedekah bisa berupa perkataan yang baik dan pemberian maaf (2 : 263), tidak mesti materi. Quran menunjukkan sifat manusiawi insan, suatu saat ingin memperlihatkan/mengumumkan sedekah tidak apa-apa (2:271). Infaq, sedekah siang malam, sembunyi atau terang, semuanya dapat pahala (2 :274)

Dengan 14 ayat, sedekah bisa memiliki makna yang sedemikian luas dan dalam! Bahkan sedekah selain mencari ridho Allah, juga untuk meneguhkan hati seseorang (entah benar atau tidak, saya pernah menasehati teman yang tengah galau luarbiasa padahal ia sudah Qiyamullail, istikharah dan segala macam ibadah tapi tetap bingung dengan langkah yang diambil maka saya menyitir 2 : 275. Mungkin saja sedekah dapat memperteguh jiwanya saat mengambil keputusan pelik!)

5. Kelima

Tamsil dan kiasan Quran, konjungsi dan disjungsi konsep dan petunjuknya, mengandung daya tarik. Tamsil dan kiasan ini menimbulkan imajinasi yang begitu besar kekuatannya sehingga membuatnya terengah-engah karena terguncang dan terpesona.
Untuk kualitas Quran yang unik ini, ahli estetika sastra Arab menciptakan istilah “badi’”- kreatif secara sublime.

(pernah membayangkan “jannah/firdaus” seperti apa? Pernah membayangkan “malapetaka langit” seperti apa? – QS 2 : 59? Rasanya imaji kita menjadi terengah-engah dan terpesona oleh keindahan surgawi sekaligus tak berani membayangkan murkaNya…)

6. Keenam

Komposisi Quran selalu tepat, terjalin baik, disampaikan benar, seperti karya seni yang sempurna mutlak. Aliran dan susunannya sama sekali bebas kendala atau kelemahan-kelemahan.

7. Ketujuh

Gaya Quran kuat, empatik, tegas; juga lancar dan halus.
Orang yang membaca Quran merasakan jatuh menimpa dirinya seperti batu karang atau dengan kelembutan yang luarbiasa. Inilah yang disebut “husn al-iqa’” (keindahan yang menimpa kesadaran).
Apakah ia berbisaik seperti aliran yang tenang, menghantam seperti aliran deras, atau melompat dan menerjang dengan cepat seperti serbuan pasukan berkuda yang pasti iqa’- nya selalu sempurna

(sesekali saya malas baca Quran. Tapi kalau sudah dilawan keinginan itu, lalu timbul minat membaca Quran, rasanya gak mau berhenti. Bahkan, saat malam larut bisa tahan lama bercengkrama dengan Quran atau murojaah.
Tentang aliran yang menghantam seperti aliran deras, merasa tertimpa batu karang atau kelembutan yang luarbiasa; saya pernah merasa demikian tersayat sedih, menangis padahal tidak sedang membaca bab surga atau neraka. Saya membayangkan kepedihan Nabi Musa as : membawa bani Israil melawan Firaun, menyebrang laut Merah, memintakan Allah SWT agar menampakkan diriNya, memasuki negeri Palestina, memintakan hidangan-hidangan yang diminta, memukulkan batu agar keluar 12 mata air. Semua dilakukan Nabi Musa as demi kecintaannya pada Bani Israil tetapi balasan yang didapatkan dari ummatnya adalah penentangan, bahkan untuk seekor sapi betina.

Saya pernah bercerita pada anak-anak kami, bahwa kita bangga menjadi kaum muslimin. Ketika Nabi Muhammad Saw mencontohkan menyembelih Qurban, hingga sekarang, setiap kaum muslimin akan berjuang untuk membeli kambing Qurban. Meski harus menabung, meski harus berkorban uang dan harta. Tidak ada pertanyaan dan sanggahan, sebagai bukti ketaatan dan kecintaan pada Nabi Saw dan Nabi Ibrahim as yang mencontohkan. Juga bukti ketaatan, kepasrahan pada Allah SWT.
Kita tidak aka berdalih macam-macam sebagaimana kasus sapi betina.
Dan, saya teringat sebuah syair yang intinya kurang lebih :

“Para pelaku kebenaran akan sangat kesepian, sebab mereka berjalan seorang diri
Dan siapa yang paling tidak ditemani seperti para Nabi?”

Membayangkan Nabi Musa as yang sudah memperjuangkan ummatnya sedemikian rupa dan masih mendapatkan pembangkangan…ah, kisah itu ada di Quran al Baqarah 40-93.)

8. Kedelapan

Komposisi Quran tidak mempunyai struktur pengertian umum. Komposisi Quran menggabungkan bentuk sekarang, lampau, akan datang, dan kalimat perintah dalam halaman yang sama. Komposisi Quran bergerak dari pembicaraan orang ketiga yang bersifat melaporkan kepada orang kedua yang menerima. Dari deskriptif ke normative, dari pertanyaan ke seruan dan perintah. Komposisi Quran berulang, meski dalam setiap pengulangannya terkandung pesan yang berbeda.
Aliran Quran melahirkan momentum yang mengalahkan sikap keras kepala pendengarnya, kepicikan pendengarnya dengan serangan yang beraneka ragam dan pada akhirnya membawa pendengarnya ke tujuan Al Quran.

(sumber dari the Cultural Atlas of Islam, bab 19 : Seni Sastra, Ismail Faruqi – Lois Lamya Faruqi)
ismail faruqi

Menghafal Al Baqarah

Alhamdulillah, pada 19 Februari 2013 telah sampai menghafalkan al Baqarah hingga ayat ke 283. Lho, kan al Baqarah sampai ayat 286? Bagi yang suka membaca al ma’tsurot, mungkin akan terbiasa membaca al Baqarah 1-5, 255-257 , juga 284-286.
Legaaaa rasanya.
Selama 2 tahun lebih berjuang menghafalkan surah paling panjang dari Quran. Tentu, banyak bagian yang harus diulang, banyak bagian yang mirip, dan seringkali saat menambah hafalan….yang lama terhapus atau tercampur aduk! Tapi, percayalah, Quran adalah mukjizat. Sulit menghafal bukan berarti tidak mungkin kan? Beberapa pengalaman di bawah bisa dicoba.

childrens3

1. Maksiat VS Ma’shum.
Aduuuuh, aku masih banyak dosa. Gak bisa menghafal!
Kalau begitu, apa bedanya kredo ini dengan : aku gak khusyu’, gak bisa sholat? Khusyu gak khusyu’ ; sholat harus tetap jalan. Ghibah, dengki, kleptomani….seribu satu ”virus” mental, bukan lantas gak sholat malam kan?
Kalau saya lebih percaya yang begini.
Biar gak khusyu, tetap sholat wajib. Tetap dhuha. Tetap tahajjud. Kuantitas akan berbuah kualitas, insyaAllah.
Sudah banyak dosa gak coba menghafal Quran? Lha…kapan kita steril dosa kalau begitu?
Memang, kadang kalau lagi pemarah, suka ngomel, banyak dosa, bacaan Quran suka susah nempel bahkan menghilang. Tetapi lawanlah dengan istighfar, ta’awudz, doa….dan menakjubkan! Bagaimana Quran bisa membuat hati kita lebih ”sembuh ” dari sebelumnya.

2. Sediakan Quran disamping koran, majalah, novel, buku-buku
Interest, impression, interaksi harus dibangun.
Jujur, emang siapa yang gak suka mengkonsumsi gossip seleb? Gak suka baca meet the police – di Jawa Pos yang mengkritik habis gaya busana artis? Gak suka baca resensi film? Gak suka baca Sportaintment (hehe… saya suka baca rubrik ini baik yang di Republika atau Jawa Pos tapi tetap gak ”ngeh” apa beda Sir Alex Ferguson & Pep Guardiola dalam keahlian melatih? CR7, Fabregas, Totti, Lampard, Pamungkas? Yang mata langsung mendelik kalau melihat WAG’s. Oh, istrinya Maradona habis melahirkan, Balotelli suka gonta ganti pacar)
Ketika ada Quran di ruang tamu atau ruang baca, pasti ada perasaan nggak enak.
Dari tadi baca National Geographic, baca Cerpen Koran, baca headline ini itu. Masa buka Quran sebentaaar aja nggak sempat?

3. Memperbaharui Quran
Suka Quran yang lecek, banyak lipatan di sana sini, risletingnya sudah rusak, kumal….biar ehm, ketahuan sering dibaca? Hehe.
Gak boleh su’udzon melihat Quran orang yang licin atau mengkeret.
Ada kan orang yang suka baca Quran, dasarnya rapi, jadi gak ada bekas lipatan disana sini? Berhubung Quran suka hilang, ketinggalan disana sini , saya gonta ganti beli Quran. Harga Quran bervariasi mulai 50 ribuan. Sayang? Lha, edisi terbarunyaa Dunia Sophie Jostein Gaarner aja 90 ribu!
Quran sekarang macam-macam warna.
Ada edisi wanita, edisi keluarga, terjemahan per huruf, penjelasan asbabun nuzul. Tinggal pilih mana yang sesuai keinginan. Ternyata, punya Quran baru yang cantik, membuat mata lebih segar lho! Dan…anak-anak jadi suka rebutan Quran yang baru!
Tidak usah sayang beli Quran. Usahakan ada di tiap ruangan (kecuali kamar mandi & dapur). Usahakan bawa kemana-mana : ke kampus, antar anak sekolah, ke toko. Saya pribadi menyiapkan Quran di sepeda motor/ tas. Kalau pas di jalan murojaah ada yang lupa, dibuka sebentar pas sampai sekolah anak-anak, dibetulkan bacaannya dalam perjalanan kembali.

4. Baca artinya
Ada orang yang bisa menghafalkan Quran tanpa artinya. Saya malah pas mau beli Quran khusus buat penghafal, lho….terkejut. Koq gak ada artinya? Wah, saya susah menghafal kalau begitu. Meski gak ngerti banyak kosa kata bahasa Arab apalagi grammer, setidaknya ada hal-hal yang bisa dimengerti secara garis besar.
Oh, halaman 28-29 tentang puasa. 30-32 tentang haji. 36-39 tentang hukum2 pernikahan.
Biasanya, saya mengawali menghafal dengan membaca artinya. Misal sudah hafal halaman 30. Halaman 31 tentang apa sih? Eh, masih tentang haji….dan, ada doa sapujagadnya disitu! Waaah, ternyata ada di halaman ini ya : robbana atiina fiddunya hasanah, wafiil akhirati hasanah waqiina adzabannar.
Membaca arti, memberikan gambaran sekilas apa isi halaman tersebut.

5. Perhatikan awal kalimat dan letak halaman
Fa apa wa?
Ini di kanan atau kiri ya?
Akan tertolong untuk mengingat bahwa :
Wa matsalulladzi…. ada di kanan (45)  2 : 265
Wa maa anfaqtum….ada di kiri (46)  2 :270

6. Bagi ayat
Beberapa ayat karena panjnag, kosa katanya jarang ditemui (terutama bila terkait hukum) dibagi saja sesuai pemahaman. Untuk 282, saya membaginya menjadi 7 bagian, bagian arti pun dibagi 7 bagian

7. Ulangi waktu sholat : JANGAN HANYA pas tahajjud/qiyamullail saja
Kan nggak harus 1 halaman penuh untuk membaca surat pasca al fatihah?
Ambil 1-2 ayat, misal ayat-ayat yang kita pilih karena sukai atau justru ingin dihafal karena sulit.
Ulangi juga saat beraktivitas : mengetik, memasak, naik sepeda motor dan lain2. Gak harus semua, yang penting ada yang diingat dan diulang.

8. Menghafal kata demi kata (abaikan hukum tajwid dulu)
Kata anak-anak saya, di sekolah justru saat menghafal harus sekalin dengan tajwidnya. Bagi saya kok malah susah ya? Saya suka menghafal kata demi kata sampai lancar, baru ditambahkan hukumnya.
Misal : 282
”….kaatibun wa laa syahiidun …” sampai saya lancar, baru saya baca ”…kaatibuwwa laa syahiidun..”

BAGIAN-BAGIAN MANA YANG MUDAH TERLUPA dan SUSAH DIHAFAL?

1. ½ halaman akhir
Misal hal 38 ada ayat 234-237. Biasanya 234-235 hafal dengan baik. 236-237…..haduuuuh!

2. Akhir yang memiliki kemiripan .
Misal 219 ”…la’alakum tatafakarun ” ( kum apa hum yaa..?) dengan 221 ”..la’alahum yatadzakarun)

3. Beberapa ayat ini bagi saya butuh energi lebih untuk menghafal
• 196 : ayat pertama tentang masalah haji.
• 213 : tentang perselisihan, kata-katanya mirip
• 221 : menikahi perempuan/lelaki musyrik, kata-katanya mirip
• 229-230 : talaq, kata-katanya mirip
• 233 : ibu menyusui , susah pelafalannya, harus hati-hati
• 282 : ayat terpanjang!

Tapi Subhanallah..yang sulit ini, beberapa di antaranya justru lebih terpatri !

Forever Young Dakwah : Tawa, Lucu & Unik :-)

Tak selamanya seruan kebaikan identik dengan terorisme, perang, issue politik, skandal suap. Banyak hal-hal seru dan unik yang ditemui!

young
…..dakwah

1. Suami siaga, lelaki serba bisa

Banyak perempuan kepincut ustadz dan dai, bukan hanya para gadis. Ibu-ibu pengajian, baik yang sudah punya menantu atau yang berharap menantu rajin berbisik.
“Bapak itu rajin banget bantuin istrinya nyuci! Kemarin saya lihat dia bantuin njemurin di depan!”
Para ibu itu sedang membicarakan seorang lelaki dai (bukan suami saya!) yang terkenal dengan gerakan mencuci bersama. Waktu saya baru melahirkan aak pertama di Medan, jauh dari orangtua dan sanak saudara di Jawa, suami rajin ke warung belanja dan memasak. Ibu-ibu bengong.
“Mas bisa masak?”
Suami mengiyakan. Hingga hari ini, kebiasaan memasak itu tetap menjadi hobby dan ibu-ibu sering berkata,
“Waaah, bu Sinta! Suaminya pinter banget masak lho. Masak, bikin sop dikasih kayu manis, saya ketawa! Eeeeh, ternyata lain kali saya coba, enak banget.”
Saya bilang, kalau urusan memasak daging, suami memang ahlinya akrena ia suka benget mendown load dari mana-mana, mencoba beragam maincourse.

Yang saya heran, cerita suami pintar memasak beredar cepat di kalangan ibu ibu kompleks, teman kantor.
Padahal yang serupa suami saya banyak lhooo…pernah gak lihat ustadz naik sepeda motor, bonceng dua anaknya sembari menggendong si bayi dengan selendang, cari sarapan? Istrinya sedang berdakwah. So sweet!
Tak heran, ustadz dan dai memang selalu jadi incaran karena mereka hormat pada orangtua, sayang keluarga, cinta istri dan ngopeni anak-anak hingga muncul istilah LIPIA.
Lelaki Idaman Para Ibu dan Akhwat. Hahaha…

2. Bengkel, obeng dan perempuan

Gak cuma dainya yang luarbiasa. Ustadzahya juga keren. Bukan hanya gesit di dapur, nyuci baju, nyabutin rumput dan ngosek kamar mandi. Para ibu yang waktunya habis buat dakwah harus berpikir untuk gak tergantung suami.
Obeng? Kenal lah. Untuk mengutak atik setrika dan mesin cuci.
Bengkel? Nunggu suamiiii? Kapan kelarnya!

Berhubungan dengan satpam, tukang listrik, tukang air bahkan debt collector harus bisa. Seorang teman, ustadzah, yang tersngkut urusan waris menjadi sangat mahir untuk menghadapi polisi, jaksa bahkan para debt collector yang luarbiasa kasar. Saya sendiri, kalau ke bengkel sudah siap-siap bekal : minuman, buku-buku, catatan, pulpen, camilan. Berhubung di bengekel antri, lama, panas dan bising; para teknisi dan mekanis suka bengong lihat (geer !) sebab kita bisa menghabiskan waktu satu hingga satu setengah jam untuk berkutat dengan buku, aktif menjalin kontak sana sini via HP, merancang tugas dengan kertas dan pensil. Sore hari, motor sudah beres dan suami tidak diributkan dengan aduan mogok, aki kering, starter gak nyala.
Genteng bocor? Pompa air rusak? Ups, meski gak mengerjakan sendiri, para istri sigap mengontak tukang.

3. KB : Keluarga Besaaaaarr

Rumah kami hanya berisi 6 orang. Dengan 4 orang anak, rasanya masih sangat kurang, meski sebagian orang sudah bilang 4 anak itu banyak banget!
Kagum dengan para dai dan daiyah yang punya komitmen memiliki keluarga besar dengan segala tantagannya : financial, pendidikan, sosial, misi ke depan dsb. Tetapi, banyak yang berhasil mendidik anak-anak dalam keluarga besar. Ketakutan financial tak beralasan, pendidikan juga seiring sejalan, meski tentu saja kesulitan muncul di sana sini.

Memangnya yang punya anak tunggal tidak menemui kesulitan?
Walaupun, ketika si kecil merengek minta adik,
“….Ummi, temenku punya adik. Koq aku nggak?”
Kuajukan proposal ke anak-anak yang lain.
“Gimana kalau Ummi hamil dan punya anak lagi?”
“Enggaaaaak!” teriak si sulung.
Yah, harap maklum, ia pusing dengan tiga adik. Meski, seringkali bercerita betapa senangnya melihat teman-teman sekolahnya memiliki keluarga besar, beradik 5, 6, bahkan 9!

Harusnya, kita tidak terlalu pusing dengan urusan demografi. Jerman dan Jepang sudah khawatir dengan angka usia produktif. Punya anak banyak memang butuh kesiapan mental spiritual. Lucunya,
“Bu Ayu (samaran) melahirkan,” kabar bahagia tersebar.
“Anak kelima?” tanyaku.
“Bukan, ketujuh.”
Ups, aku salah hitung. Sedihnya, aku tidak bisa menghafal semua nama anak teman-temanku. Paling anak pertama, kedua , ketiga. Aku sendiri suka salah sebut memanggil anakku yang hanya 4 orang!
“Ahmaaaad!” seruku.
“Aku,Mi?”
“Eh bukan, maksud Ummi mas Ayyasy!”
Hehehe…slip tongue, maklum, keseringan ngomel.
InsyaAllah, selama orangtua sholih dan sholihah, Allah SWT menitipkan rizqi berlimpah pada si anak yang muncul meramaikan dunia!

4. Hadiah Rapat

Peci, lobe? Buku referensi? Baju koko?
Itu hadiah biasa saat rapat organisasi.
Akhir-akhir ini….
“Nih, hadiah buat Ummi,” ucap suamiku, membawa bingkisan usai rapat.
“Kue? Buah?”
Kadang usai rapat, masih tersisa logistic yang bisa dibawa pulang.
“Bukan,” suamiku menggeleng.
Aku membuka bingkisan. Jilbab.
“Kok?” aku mengerutkan kening. Beberapa kali menerima hadiah serupa.
“Iya, sekarang hadiahnya bukan baju koko , tapi jilbab.”
Yang rapat suami, yang dapat hadiah istri.
“Aaaaaaa,” serudukku, “ pinter nih Ustadz pemimpin rapat! Biar istrinya pada nggak ngerajuk ya saat suaminya rapat seharian di hari libur?”

Smart solution, ustadz, hehehe…bukan matre loh.
Tahaddu, tahabbu. Soalnya, para suami saking sibuknya dakwah, suka melupakan hadiah kecil untuk istri tercinta. Bukan pula berharap materi. Kebutuhan rumahtangga dan dakwah yang berkejaran, sering membuat perempuan melupakan kebutuhan berpenampilan baik 

5. Daster VS baju resmi

Teori lama ini sering dipakai : jangan pakai daster yang kau pakai di dapur, masuk ke kamar!
Teori dan praktek sering lupa bersalaman! Tetapi, ssst…ada ustadzah yang rrrrruaaarrbiasa yang berdandan seperti orang mau ngisi acara, justru pas suami di rumah.
Selalu ada tips-tips menarik dari para ustadzah kita bagaimana merawat cinta suami.

“Saya selalu mandi, menjelang suami pulang,” aku seorang ustadzah,” meski suami pulang jam duabelas malam. Biasanya suami SMS, sudah dekat rumah dan saya mandi. Kata suami, bila menemukan istrinya pulang dalam keadaan segar, rasanya hilang semua penat.”
Duh, saya terharu.
Tiap kali mendenngar bagaimana para ustadzah di tengah kesibukan dakwah mengabdi pada suami.

6. Diskusi Palestina

Diskusi keluarga adalah saat-saat penting mempertautkan hati anggota keluarga.
Pernah nonton film-film mafia macam Godfather? Keluarga bertemu, bertukar pikiran, berbagi cerita. Diskusi keluarga adalah tempat para dai dan daiyah berbagi wawasan dengan anggota keluarga yang lain. Diskusi bisa mulai tentang dinosaurus, ilmu pengetahuan terbaru versi National Geographic, berita-berita terkini hingga Palestina.
Hari ini, kami sekeluarga membahas buku Suad Amiry – Palestinaku dalam Cengkraman Ariel Sharon (Sharon & My Mother in Law).
Kami tertawa terbahak-bahak , membaca dan mendiskusikan kecerdasan orang Palestina menghadapi orang-orang Israel yang selalu disibukkan urusan occupation –pendudukan dan demografi.
Keluarga-keluarga dakwah menyadari arti pentingnya keluarga sebagai pondasi Negara. Maka, selalu ada waktu bersama keluarga, meski hanya berbincang di atas sepeda motor.

7. Masjid VS Anak-anak!

Siapa yang tidak ingin anaknya mencintai amal sholih?
Tentu, sebagai orangtua, ingin sejak dini memperkenalkan putra putrinya –terutama anak lelaki- kepada rumah Allah, masjid, sebagai tempat base camp paling utama. Tapi tantangan para keluarga dai bermacam-macam.
“Pak, kalau bawa anak, jangan di shof depan!”
“Anaknya ngompol, Paaak!!” rupanya ada yang terburu-buru Shubuh, lupa belum pakai pampers. “Nanti disiram masjidnya. Bukan di pel. Di S-I-R-A-M!”
“Anak Bapak itu, yang cewek, sukanya ngobrol di belakang pas sudah mulai sholat!”
Duh.
Rasanya kita ingat.
Waktu kecil dulu, sholat tarawih, isinya maiiiiin melulu. Cekikak-cekikik.
Tapi, orangtua sekarang mungkin lebih sensitive. Lagi pula, anak dai dan daiyah, karena kecerdasan mereka yang diatas rata-rata : selalu punya bahan pembicaraan dan cerewet minta ampun. Alhasil, masjid jadi ramai setengah mati. Masjid yang tadinya hanya berisi orang-orang tua, mulai ramai celoteh anak-anak yang bahkan masih bicara cedal minta adzan!
Tapi begitulah.
Perjuangan para dai untuk mengajukan diri menjadi imam, menjadi pengisi khutbah, kultum, mengelola Qurban dll akhirnya memiliki suara yang bisa didengar.
“Bapak-bapak takmir, daripada anak-anak nongkrong di playstation dan warnet, apa nggak lebih baik mereka main di masjid?”
Banyak pertentangan.
Alhamdulillah, belakangan banyak perkembangan.
Sekarang, bukan hal yang aneh melihat balita dan anak TK, SD berlarian di masjid.
Dengan peringatan.

“Siapa yang membawa anak kecil, harap bertanggung jawab menjaga kekhidmatan masjid. Dijaga dari najis. Bila mengompol, orangtua bertanggungjawab.”

8. Forever Young

Tahun demi tahun berganti. Kulit mulai tak secemerlang dulu, beberapa penanda usia muncul. Tapi, rasanya masih sekitar sweet seventeen atau awal duapuluhan.
Bukannya tua-tua keladi atau mengidap penyakit mental regressi.
Mungkin karena sering bergaul dengan anak muda, remaja, membuat para dai dan daiyah merasa berjiwa bergelora. Meski dakwah semakin spesifik, mengurus pengajian bapak-bapak atau ibu-ibu, tidak menafikkan setiap dai harus siap berinteraksi dengan kalangan manapun, termasuk anak dan remaja.
Pun, permasalahan dakwah menuntut up grade terus menerus.
Hafalan yang harus bertambah ( ini mencegah pikun), wawasan yang diperbahuri ( ini mencegah telmi), mengasah spesifikasi ( ini mengasah skill); membuat para dai dan daiyah selalu segar dan semangat.
Anda pernah melihat dai dan ustadz yang keluar loyo, gontai, klentrak klentruk?
Tidak.
Saya bahkan heran melihat ustadz yang usianya 50, 60, 70 masih demikian energik mengelola dakwah dengan segala dinamikanya. Dampaknya, situasi sosial, komunal , berimbas pada individu. Banyak keluarga dai yang tetap awet hingga pesta perak, emas. Energi yang di-regenerasi menyebabkan visi misi yang terus diperbaharui.
Akibatnya, tak ada kata bosan dalam meniti hidup hingga berniat mencoba hal-hal amazing yang nyeleneh. Tak ada kata bosan dalam berinteraksi dengan anak banyak. Tak ada kata bosan bertemu dengan pasangan yang telah menemani belasan, puluhan tahun. Tak ada kata bosan bertemu aneka ragam manusia dan persoalan-persoalan humanistic.
Bagaimana tidak awet muda, kalau rajin puasa? (Penuaan terus terjadi akibat reaksi oksidasi dalam tubuh. Reaksi ini bisa dikurangi dengan pembakaran lemak-lemak lewat puasa)
Bagaimana tidak awet muda, kalau rajin sholat malam? (sholat malam memperlancar aliran darah ke kepala, mengencerkan darah. Obat pengencer darah yang terlalu kental luarbiasa mahalnya!)
Bagaimana tidak awet muda, bila selalu bertemu hal-hal baru setiap hari? (dakwah selalu siap berinteraksi dengan hal-hal yag kadaluarsa atau yang tengah jadi trending news)
Dakwah membuat pelakunya tetap sesegar dulu, ketika masih mahasiwa
Stay young. Forever!

Testimoni & Resensi #Rinai

1. (0856xxxxxx, 21 Januari 2013, 03 :55 PM)

Assalamu’alaykum.
Bunda Sinta, SMS ini akan sangat panjang. Anggap saja sebuah email yang dipaksakan terkirim dalam bentuk short message. Novel Rinai baru saja saya tuntaskan 16 jam lalu. Novel kesekian yang saya baca diiringi sesuatu yang meraba hangat, keluar dari dua sudut mata. Kesekian kali, dari banyak kisah fiktif yang saya baca. Ya, fiktif.
Benar adanya ketika seorang sutradara film asing pernah mengatakan, “film ini adalah tipuan. Maka kita harus berhasil menipu penonton .“
Jelas, maksudnya tak lain seperti apapun film itu tidak nyata, maka para pembuat film harus menyusunnya sedemikian rupa, sehingga orang2 akan menganggap tipuan itu adalah kenyataan yang sedikit dipaksakan. Sebuah kemenangan besar ketika penonton akan dengan polos berkata, “kok bisa ya?” atau “Wah, ada ya yang kayak gitu?”

Padahal jelas, itu adalah visualisasi dari imajinasi penulis atau penyusun scenario.
Rinai.
Seperti itulah ia berhasil membuat saya tertipu, kalah telak. Hazeem, San’a, Montaser. Tiga orang yang pada akhirnya membuat saya mau tidak mau berharap memiliki anak2 dan suami seperti Hazeem, San’a dan Montaser. Cerdas, sederhana, penuh keyakinan tinggi, tenang. Ah, izzah Islam terpancar jelas melalui karakter mereka, sebagaimana yang Bunda tuliskan. Montaser, dengan nilai2 Islam yang dicontohkan Rasulullah, berhasil membuat saya sangat mengidam-idamkan calon suami kelak seperti ia. Sangat menghargai wanita, menjaga, melindungi. Begitupun cara warga Gaza menyambut tamu, memuliakan, sebagaimana baginda Rasul mencontohkan. Surga imbalannya, sudah lebih dari cukup. Segala sesuatu tidak berbau surga, lewat.

Saya menangkap semua pesan Bunda. Terlebih bagaimana ketegaran Hazeem. Itu yang membuat saya semakin semangat menghafal. Jika sewaktu2 saya mati, apa yang bisa saya bawa jika bukan amal sholeh?…

cover RINAI

2. (30 Januari 2013 05:42 PM by Benny Arnas)

Entah bagaimana, karakter Nora Effendi kok dapet banget yak!

3. (15 Januari 2013 07:27 PM by Wahyu Kurniawan, Amd)

Bonsoir Mbak Sinta.
Mbak, bukunya keren abis dari buku2 yg p’nah saya baca walaupun t’bitan dari luar negeri, padahal baru sampai halaman 45 bacanya. Critanya yg di kampus apa pengalaman mbak Sinta sendiri? Kalau tahu gini aku pesan buku banyak sekalian, he3x.

4. Syahrizal Bahtiar, FLP Jember ( 6 Februari 2013 04 :18 PM)

Subhanallah Mbak, ketika saya membaca Rinai, seolah2 saya sedang menonton acara televisi Al Jazeera yang menayangkan live tentang palestina. Punmembaca buku ini ibarat saya sedang duduk, memutar bolpoin, tatapan tajam, memperhatikan dosen saya yang menerangkan mata kuliah psikologi 

5. http://ridhodanbukunya.wordpress.com/2013/02/02/buku-buku-yang-habis-kubaca-januari-2013/

Rinai tak hanya berbicara Palestina dengan perang yang tak berkesudahan. Namun, ada tumpukan mutiara ilmu di dalamnya. Psikologi barat Freud VS Psikologi Islam Ibnu Khaldun, fakta anak-anak Palestina yang memiliki kecerdasan normal bahkan lebih dari biasanya walau dalam keadaan perang, juga ada kisah cinta yang tak harus memiliki Rinai yang mencintai Montaser yang memiliki Toyor Al-jannah. Dalam novel ini, bercampur satu semua itu menjadi sebuah kisah yang menarik pembaca untuk menyelesaikan hingga halaman terakhir.

6. http://timbunanresensi.wordpress.com/2012/10/20/rinai-by-sinta-yudisia/

Mengambil latar tempat di Gaza adalah salah satu yang membuat saya tertarik untuk membaca buku Rinai. Ditambah, ketika mengetahui bahwa kisah Rinai terinspirasi dari perjalanan penulis ketika berada di Khan Younis, Jabaliya, Deir Al Balah, Gaza City, maka keputusan untuk mengikuti event pre-order yang diadakan Penerbit Indiva di facebook-pun dilakoni. Sempat salah sangka, saat membaca blog penulis tentang gaya penceritaan epistori, bayangan awal saya adalah cerita akan berlangsung dengan model surat-menyurat seperti Life on the Refrigerator Door-Alice Kuipers tapi dalam bentuk surat bukan pesan di pintu lemari es. Jadi, saya mengira imajinasi pembaca dibangun dari aktivitas surat menyurat yang dilakukan sepanjang cerita. Ternyata epistori baru terasa ketika menjelang akhir antara Rinai dengan tokoh anonim, Aku. Meski begitu, saya menikmati membaca perjalanan Rinai Hujan yang dibalut dengan konflik psikologis dalam dirinya.

Menjadi anak perempuan di keluarga penganut adat Jawa yang kental ternyata menciptakan beragam tanya akan pengorbanan yang terlihat tidak adil, salah satunya ‘pemujaan buta’ terhadap laki-laki dalam keluarga. Jiwa berontak Rinai semakin kencang seiring dengan bertambahnya usia, bersamaan dengan tingkah Guntur, sang kakak, yang tidak tertolerir, ditambah lagi dengan Pak de Harun yang tidak kenal malu, terus meminta bantuan uang dari saudari-saudarinya, salah satu Bunda Rafika, ibu Rinai. Tapi, seluruh keluarga seperti berusaha ‘menutup mata’ dan memaklumi.

Keputusan mengambil kuliah di Surabaya, ternyata tak membuat Rinai menjadi tenang, pertanyaan pun masih menggelayutinya, apakah keputusannya adalah bentuk pemberontakan atau upaya melarikan diri dari keluarga yang menurut Rinai selalu menciptakan beban pikiran. Sosok Nora Efendi membuat Rinai kagum dengan dosennya yang tampak sebagai perempuan tangguh yang berani mengambil tindakan dan cerdas, kemudian muncul sifat membandingkan ketika bayangan Bunda Rafika hadir dengan sifatnya yang pengalah dan kerap memendam segala keluh. Dua sosok perempuan kuat dengan caranya masing-masing.
Tak berhenti di situ, mimpi Rinai yang kerap hadir di setiap malamnya dalam wujud Ular pun menambah ‘perang’ dalam kepalanya. Mimpi tentang ular seringkali dianggap sebagai pertanda munculnya jodoh, tapi kehadiran mimpi ini mencemaskan. Rinai mulai mempertanyakan orientasi seksualnya, menambah permasalahan yang berkemelut dalam batinnya.

Setengah buku pertama, rasanya cerita berjalan lama bagi saya. Bukan dalam taraf membosankan tapi ada rasa tidak sabar dengan ada apa saja dan apa yang bakal terjadi di Gaza. Selain, menuturkan tentang latar keluarga dan pergolakan pikiran Rinai, penulis juga memberikan wacana tentang psikologis lewat diskusi yang terjadi dalam ruang kelas atau obrolan sesama teman kuliah, santai dan mengalir, mungkin karena latar belakang pendidikan penulis yang juga psikologi.
Sepanjang perjalanan menuju Gaza, penulis menggambarkan tentang proses ketika berurusan dengan petugas; suasana Timur Tengah yang jauh berbeda dengan Indonesia; makanan khas Timur Tengah yang malah membuat rindu nasi dan sambal pedas kampung halaman; dan berbagai tempat-tempat yang dilewati sepanjang perjalanan menuju Gaza, di sanalah penulis menyajikan unsur traveling dalam cerita.

Misi kemanusiaan ke Gaza memuat konflik. Tak disangka, human relief for human welfare [HRHW] yang dibawahi Nora Efendi tak seidealis yang dibayangkan Rinai. Persepsi tentang orang dan anak-anak Gaza yang ‘diciptakan’ untuk sekadar menarik simpati agar kucuran dana dari donatur semakin meningkat, menyalahi nurani Rinai. Perasaan bersalah dan terkejut membuatnya mengambil tindakan “melawan”. Membaca bagian ini, memberikan saya gambaran tentang organisasi yang bergerak di dunia kemanusiaan, tanpa bermaksud menggeneralisir, ketika idealisme ‘kalah’ dengan realitas. Meski ada dua pandangan yang berseberangan, penulis tidak memihak, latar belakang dan alasan masing-masing disampaikan seperti ketika Nora berdebat dengan Taufik.
Tidak banyak buku yang mengangkat Gaza sebagai tema atau latar tempat, padahal butuh buku-buku seperti ini untuk terus mengingatkan pada manusia, terkhusus umat muslim, bahwa ada saudara kita yang sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Tidak hanya bergaung pada waktu-waktu tertentu, tapi selama penindasan terus terjadi.

cover RINAI
7. http://bawindonesia.blogspot.com/2013/01/resensi-buku-rinai.html

“Ilmu pengetahuan selalu mempunyai guru, di samping mempunyai prajurit sebagai penjaga. Sebagaimana psikologi merupakan anak kandung dari ilmu filsafat, para penjaga ilmu jiwa, beragam alirannya.” (hal.62)

Itulah kata-kata bertenaga yang saya petik dari novel Rinai. Novel ketebalan 400 halaman ini membuat saya mendalami ilmu psikologi secara eksplisit, terangkum dalam pengalaman tokoh utama yang bernama Rinai Hujan di daerah konflik Gaza. Gaya bahasa penulis yang serius, mengantarkan pembaca untuk memahami representasi mimpi, menemukan jati diri, dan menjunjung nilai kebenaran. Di sini, penulis membandingkan ideologi psikoanalisa oleh Sigmund Freud dan aliran Ibnu Khaldun.

“Ibnu Khaldun seorang ulama, ia bukan hanya peneliti. Tiap kali merumuskan bab demi bab, ia senantiasa menukil ayat Al Qur’an dan Hadist. Tidakkah selama di Gaza, Rinai melihat betapa Al Qur’an adalah kartasis hebat bagi jiwa yang sakit? Ibnu Khaldun mengobati dirinya sendiri sebelum ia mengeluarkan rangkaian obat bagi masyarakat. Rinai tahu, banyak orang tak akan semudah itu percaya pada Ibnu Khaldun. Sebab ilmunya terkubur bersama kaum muslimin yang menguburkan sikap ilmiahnya, menimbunnya dalam pertikaian dan kecintaan pada dunia, serta penghambaan pada ilmu bangsa lain yang belum tentu benarnya.” (hal.323)

Beberapa kali saya sempat terpukau oleh deskripsi penulis untuk menyisipkan wawasan di novel ini. Meski awalnya saya terjebak oleh sudut pandang cerita yang melompat, yakni dari sudut pandang orang pertama berganti haluan menjadi ketiga. Perjalanan alur cerita menjadi bersahaja ketika dijelaskan karakteristik budaya Indonesia dan Palestina secara bergantian. Novel ini cukup mengungkap rahasia anak-anak dan wanita Gaza dalam medan pertempuran. Seolah-olah Anda diajak penulis untuk menyelami kehidupan mereka, merasakan kepahitan dan kebangkitan emosi.

Jangan harap menemukan kisah picisan dalam novel ini. Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam memaknai sebuah cinta. Tentang bunga-bunga cinta yang tumbuh mekar dan mewangi meski tak harus memiliki. Ada konflik batin yang menurut saya belum berakhir sampai epilog cerita. Hal ini menimbulkan rasa penasaran untuk membaca kisah selanjutnya.
Rinai.
Sebuah novel fiksi yang patut untuk diapresiasi kepada penulis Sinta Yudisia berdasarkan inspirasi jejak rekamannya di bumi Gaza pada tahun 2010 silam. Yap. Sebuah perjalanan ke manapun itu bisa menjadi sumber cerita yang penuh hikmah dan manis tatkala diabadikan oleh pena.
Alhamdulillah, novel ini dikhatamkan menjelang pergantian tahun masehi dengan secercah harapan; ‘Setiap orang pasti memiliki potensi untuk dikembangkan. Kebiasaan untuk menulis secara berkesinambungan adalah sebuah ikhtiar untuk menjadikan diri semakin produkif. Mari, hasilkan karya positif untuk negeri tercinta. Apapun itu bentuknya :)
(An Maharani Bluepen 30 Safar 1434 H)

8. http://secangkirtehtarik.wordpress.com/2012/10/15/rinai-novel-sinta-yudisia/

Apa yang mendorong seseorang memutuskan membeli novel? Kalo saya, salah satunya adalah penulis novel tersebut. Saya penggemar Sinta Yudisia sejak novel “Lafaz Cinta” (sejak covernya belum ada tulisan “best seller”) dan sering menjadi pembeli awal karya-karyanya. Tidak semua novel Sinta saya suka genre-nya. Bukan berarti ngga bagus, ini hanya soal selera. Toh kepiawaian Sinta dalam menjalin cerita tidak meluntur di bermacam tema. Riset mungkin merupakan kunci dari kedalaman materi yang dibawakan dalam karya-karyanya.
Cerita boleh jadi fiktif, kali ini Sinta membawakan tema dengan setting berdasarkan pengalaman pribadi melangkah di bumi para nabi, tambahkan dunia psikologi yang juga dekat dengan kesehariannya.
Disclaimer, saya jarang bikin review. Di blog ini pun baru ada dua, sangat sedikit untuk ukuran orang yang mengaku suka membaca novel. Dibilang review, hmmm…bukan kapasitas saya mengkritisi ini itu, jadi tulisan ini hanya sebuah ekspresi subyektif semata.
***
Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dan pertama. Dengan cara bertutur epistolari (novel jenis ini yang pernah saya baca adalah teenlit “Princess Diary”) dan berbingkai (seperti “Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”) (istilah ini baru saya kenal dari blog penulis). Adalah Rinai Hujan, sang tokoh utama yang memiliki nama unik, akan membawa pembaca bertualang bersama rombongan relawan kemanusiaan menembus blokade Gaza, tertahan berhari-hari di Kairo dan perbatasan. Bergaul dengan sesama relawan Indonesia yang baru ditemui, berjuang mengepaskan diri dengan individu-individu dari tim lain. Bahkan berkonflik dengan timnya sendiri yang telah membawanya jauh dari tanah air.

Selama ini situasi di Gaza tidak pernah benar-benar saya pahami. Ya, saya tau negeri itu berkonflik. Maka yang terimaji di benak adalah baku senjata tanpa henti. Tidak terbayang ada situasi dimana mata uang negara sendiri dilarang beredar, namun aktivitas masyarakat —termasuk jual beli— berjalan normal. Dimana untuk memasuki perbatasannya saja tanpa kepastian akan diijinkan oleh otorita (saya bahkan tidak tau otorita ada di tangan Israel, Palestina atau pihak ketiga?), di sisi lain para relawan diajak berwisata.

Rinai ikut serta sebagai bagian dari tim psikolog, sehingga tentu saja novel ini akan menyinggung istilah-istilah dan pengetahuan yang berkaitan dengannya. Untuk bagian ini saya agak bosan karena otak saya yang cetek enggan diajak berpikir ilmiah . Mimpi Rinai tentang ular saya pikir digambarkan terlalu berlebihan, walau menjelang akhir Sinta mempunyai maksud mengapa demikian. Ada juga informasi remeh yang saya anggap cukup menarik, misalnya ternyata mengganti alat tes itu memerlukan proses panjang, tidak bisa sembarangan, pun alat tes tersebut tidak sesuai dengan kondisi testee (h. 205). Konflik cerita yang dibangun masih berkaitan dengan dunia psikologi, bisa dipahami pembaca se-awam saya dan menurut saya sangat menarik.

Beberapa hal yang saya catat dari novel ini, yaitu:
Tokoh dengan peran antagonis digambarkan dengan wajar, tak ada yang berlebihan bagai kisah syitnetron. Selalu ada yang bisa dipelajari dari karakter tokoh. Nora sudah pasti bukan favorit saya, saya tetap suka argumennya di h. 271 *walaupun itu kutipan juga, tapi kan tapi kan saya baru pertama tau di novel ini, jadi terkesan banget gitu loh*. Ia punya argumen kuat dalam mempertahankan apa yang diyakininya. Perdebatan dengan rekan seprofesinya itu sebenarnya banyak kita jumpai di realita.

Demikian pula tokoh protagonis, Rinai sendiri tidak selamanya diceritakan berhati putih-putih melati tentu disayang mama. Latar belakang keluarganya, memang bukan tentang kekerasan fisik, saya pikir kekerasan psikis (dalam hal ini patriarki yang kelewatan) pun bikin nyesek. Dalam penceritan latar belakang Rinai kelihatan alur cerita yang bergantian antara kronologis dan kilas balik.
Setiap kalimat punya makna. Misalnya deskripsi bahwa Rinai memindahkan diam-diam aksesori di genggamannya ke saku jaket (h.135). Apa maknanya pada cerita secara keseluruhan? Entahlah, mungkin tidak ada secara langsung. Saya hanya menebak bahwa itu reaksi kecil seseorang di dunia nyata terhadap sesuatu, bisa juga untuk memperjelas karakter tokoh. Uhmmm…gimana ya ngejelasinnya. Maksud saya gini, saya sering menceritakan sesuatu (dan kemungkinan kalo saya bikin cerpen atau novel) langsung yang penting-penting aja, tidak mempedulikan hal-hal kecil yang akan sangat wajar di realita. Nah, disini Sinta tidak melupakan detil semacam itu, tanpa menimbulkan kesan bertele-tele.

Selalu ada romantika dalam karya Sinta yang mengambil porsi yang pas. Tidak menye-menye menghabiskan seluruh cerita, namun tidak pula tempelan semata. Saya selalu jatuh cinta pada tokoh lelaki rekaannya (belum move on dari Takudar dan Salim ehhe..). Mungkin karena penggambaran yang ”…teguh dalam pendirian, menjadi qawwam dalam keluarga dan kelompoknya, berdiri di depan, mengambil keputusan…”. Gimana ngga meleleh coba yaaaa. Benar-benar saya persis seperti kata hati Rinai ”pemuda itu membuatnya ingin bersandar, berguru, bertanya tanpa rasa cemas”. Awwww….manis.

Hal lain:
Sering merasa upacara bendera itu seremonial, cuma berlelah tanpa makna? Palestina akan menggugah kesadaran, bahwa sementara Merah Putih bebas berkibar di seluruh teritori Indonesia, ada negara yang hari gini masih pake “hari gini” memperjuangkan tegaknya bendera di negeri sendiri. Kerap mengeluhkan kondisi negara begini begitu penuh cacat cela? Rakyat Palestina tidak sempat mengeluhkan keadaan negara mereka karena “kehidupan mereka sedikit lebih cepat dari kehidupan lain di belahan bumi lain”. Jika kita sedang berada di luar lingkaran, kita akan lebih obyektif memandang segala sesuatu. Lebih bersyukur akan apa yang dimiliki atau tidak dimiliki.

Ini memang bukan genre favorit saya yang sangat menyukai kisah klise berakhir bahagia. Karena kisah di novel happy ending memang harus berakhir, sedangkan di realita buku akan ditutup jika kita mati. Maka novel ini lebih terasa manusiawi dan nyata. Hidup terus berlanjut dengan segala konflik di dalamnya. Novel ini akan berakhir sekaligus berlanjut dalam perenungan.

Purnama Dakwah

Setiap orang pernah mengalami hal ini.
Menyisihkan uang setengah mati, kebutuhan primer dikesampingkan, hasrat membeli pun ditekan, demi keinginan untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Ketika barang tersebut berada di tangan, kita pun berperang dengan diri sendiri : diberikan atau tidak ya? Mengingat kebutuhan pribadipun mendesak. Ketika hati kecil memutuskan lebih baik berkorban demi orang lain, maka barang yang ingin kita infaq kan berpindah tangan pada pihak yang membutuhkan.

sweet house

Kejadian berikutnya?
Sebagaimana saya pernah memberi kepada orang lain, berusaha ikhlas dan si penerima –alih-alih berucap terimakasih –
“…aduh, kalau yang begini mending buat anakmu saja deh!”
“Kalau ngasih jangan cuma begini dong.”

Dua kali lipat. Atau, tiga kali. Atau malah beratus kali lipat ujian keikhlasan yang menampar kemudian, tidak hanya di awal niat. Ketika menjalankan, bahkan usai melakukan. Tanggapan orang, sungguh tak kira-kira.
Bila dibuat footnote, kebaikan yang kita lakukan, belum tentu berbuah penghargaan.
Lho, katanya harus ikhlas, dan ikhlas ukurannya hanya ridho Allah SWT?
Memang, tetapi jujur, bila dibenturkan pada sikap orang lain; kadangkala perih hati ini hingga sajadah dibuat basah kuyup menerima pengaduan. Kebaikan dalam skala kecil –individual- maupun skala besar –komunal- pastilah menemui duri-duri yang menoreh daging hati.

Ungkapan,
“partai dakwah sama saja!”
“Mencampurkan yang halal dengan yang haram, maka semuanya haram!”
“Saya selamanya tak berpolitik, lebih memilih membesarkan pesantren dan jauh dari unsure-unsur perebutan kekuasaan, hal-hal kotor.”
Ups,
Sesekali emosi meletup, dan ujung-ujungnya sebagai perempuan, airmata lumayan meredakan gejolak hati.

Wajah Unik

Tapi dakwah tak selamanya menyesakkan dada.
Malah sebaliknya, sepanjang menyusuri jalan berliku ini, kebahagiaan-kebahagiaan rasanya tak pernah absen menghampiri. Sekian banyak tuduhan atas dakwah yang kita usung, tetap saja hadir perkara-perkara yang menghibur.

Saya pribadi, untuk hal-hal tertentu tak pernah menyatakan berada dalam barisan satu partai X. Tapi, seringkali ketika tengah mengisi satu acara baik acara motivasi, kepenulisan atau parenting,
“Anda itu aktif di partai X sebagai pengurus apa mbak?”
Saya bengong, sebab situasinya sangat tidak homogen sehingga terpaksa saya jawab, “ maaf, saya simpatisan dek.”
Suatu saat di atas podium, saat tengah membawakan acara parenting dan hambatan-hambatan yang muncul, seorang audiens bertanya dengan keras, menyerang motif ideology yang saya bawa. Saya sempat terdiam dan tidak ingin membawa suasana memanas, anehnya seseorang justru berdiri dan membela,
“…anda tidak bisa bertanya demikian pada Bu Sinta. Ini acara parenting.”
Di lain waktu, ketika seorang teman akan mengadakan penelitian tentang perempuan dan kosmetika, dosen pakar klinis saya berkata,
“…kamu teliti saja tuh Sinta sama partainya. Saya salut sama perempuan-perempuannya yang berprestasi dan tidak tergerus zaman, mengikuti arus mode dan tren kosmetik.”
Saya bengong asli, untuk yang kesekian kali.

Ujung-ujungnya, saya bertanya pada seseorang, yang pernah membela saya mati-matian dari serangan.
“Apa sih yang menyebabkan orang mengaitkan saya dengan partai X? Padahal belum tentu kan? Saya nggak pernah lho bilang kalau saya berafiliasi ke partai X.”
Sertamerta, perempuan itu –sebut saya namanya bu Ayu- tertawa.
“Mbak Sinta itu pasti partai X.”
“Lho, koq anda menuduh begitu?”
“Sudah kelihatan koq dari wajahnya.”
Memang wajah saya seperti apa? Rok, blus, jilbab, bros, sepatu, sama seperti orang kebanyakan. Sesekali saya memakai lipglos, bila diperlukan.
“Wajah orang-orang partai X nggak bisa disembunyikan mbak,” kata bu Ayu. “Wajahnya ramah dan teduh.”

Ohya?
Saya jadi teringat kejadian belasan tahun silam, ketika berada di Medan. Kami biasa mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Semula, memang ada kecurigaan pengajian kami adalah aliran sesat tapi lama kelamaan, penduduk sekitar memahami bahkan menyayangi kami seperti saudara. Waktu itu, saya baru memiliki putri 1 orang ; teman-teman ada yang sudah berputra 3, 4 atau lebih. Yang membuat tetangga memuji pengajian kami dan malah ingin bergabung adalah perkara…..wajah!
“Aku mau ah ikut pengajiannya bu Sinta,” usul seorang ibu.
Alasannya sederhana.
“Muka ibu-ibunya sabar ‘kali, padahal anaknya banyak-banyak. Tak pernah aku dengar mereka marah-marah. Anak aku baru satu, aku sudah merepet seharian. Kayak mana sih, pengajian bu Sinta, bisa buat orang sabar?”
Wajah, muka, senyum kita.
Yang selama ini tak pernah terpikirkan, adalah hiburan untuk orang lain.

The Hapiness Family

Anda pasti dapat meraba “dapur”nya para pekerja dakwah.
Segalanya dimaknai Alhamdulillah. Gaji seratus ribu,sejuta, atau berapapun adalah Alhamdulillah wa syukurillah. Rumah ngontrak, baru bisa beli nyicil, Alhamdulillah. Sepeda motor, sepeda onthel, Alhamdulillah.
Anak-anak? Hm, bukan termasuk jajaran keluarga berencana. Dua anak (tidak) cukup. Keluarga kami hanya terdiri dari 4 orang anak. Ketika suatu saat putri kami, Inayah, bersekolah di SMP negeri, temannya bertanya
“Adik kamu berapa, In?”
“Tiga orang.”
Teman-temannya terpekik, “banyak bangeeeeet!!”
Inayah tertawa ketika menceritakan hal tersebut kepadaku,” gimana kalau teman-temanku tahu, temen Ummi ada yang anaknya 7, 9, bahkan 11 ya Mi?”

Keluarga dakwah adalah keluarga yang menjadi panutan. Orang-orang seringkali terkesima memandang ini : para suami sibuk tetapi masih sempat menggendong anak, menyuapi anak, antar jemput anak, mengajak anak-anak ke masjid. Para istri –sekalipun berprofesi di rumah- tak kurang sibuk mulai mengurusi arisan RT, berkiprah di yayasan dan organisasi, hingga aktif membina pengajian di mana-mana.
Sesekali memang, beberapa keluarga dakwah mengalami masalah, baik dalam hal financial atau hubungan interpersonal. Tetapi sebagian besar melihat, bahwa keluarga dakwah adalah milliu yang tidak didirikan dengan main-main. Lelaki dan perempuan diikat dalam cita-cita dakwah, membangun rumah dakwah step by step, memiliki anak dalam kerangka dakwah dan begitu seterusnya.

Tidak hanya di tengah masyarakat, dalam keluarga besar, seringkali keluarga dakwah menjadi panutan dan tempat keluarga besar merujuk bila terjadi masalah keluarga yang pelik.
Saya tak enak hati, mendengar pujian seorang tetangga yang senantiasa mengacungkan jempolnya tiap kali melihat kami sekeluarga ke masjid. Saya hanya bertanya dalam hati, apa yang ada dalam benak beliau, bahwa dalam barisan dakwah ini terdapat ribuan keluarga dakwah yang sama-sama pantas diacungi ibu jari?
Inayah, mulai dapat menyaring kejadian sehari-hari. Seringkali , lontaran ucapannya membutuhkan diskusi panjang.

“Apa yang membuat Abah Ummi tidak terpikir bercerai? Apa yang membuat Abah Ummi tidak selingkuh?”
Mungkin, ia menemukan kasus-kasus tersebut dalam dunia nyata maupun entertainment.
Penelitian tentang family therapy, romantic love yang mendasari hubungan lelaki perempuan memang tak usai di jelajah. Yang pasti, ketika keluarga kehilangan visi misi, pasti terombang-ambing. Sebuah keluarga muda masih punya visi misi membangun rumah, punya mobil, meniti karir, punya anak. Bila tercapai, what next?
“Kalau Ummi gak terlibat dakwah, gak tau deh,” ucapku jujur. “Pasti percakapan sehari-hari berkisar masalah financial, urusan cinta, kemungkinan WIL PIL. Hal yang terlalu kecil untuk dibicarakan, bila sebuah keluarga sudah mapan/settled. Tetapi pembicaraan dakwah tiada habisnya. Kita bicara masalah orientasi,masalah cita-cita besar, langkah hari ini dan seterusnya.”

Banyak sekali keluarga senior dakwah yang masih tetap romantic hingga sekarang, memiliki cucu, dan mereka tetap merasa sebagai pasangan tujuhbelas tahun. Barakah, bisa dikatakan demikian. Di sisi lain, dua orang lelaki perempuan yang masih merasa dalam satu ikatan demi mencapai visi misi ke depan, akan relative mampu bertahan sekalipun fitnah harta, wanita, tahta menghampiri.
Memiliki keluarga bahagia berbasis dakwah dan kebaikan, adalah harta mahal yang tak akan pernah anda dapatkan hanya dengan ikut bersesi-sesi smart parenting atau family therapy.

The Great Life

Pernah ikut acara motivasi oleh motivator paling representative?
Apa yang anda dapatkan?
Keinginan menggebu untuk berubah, punya perusahanaan multinasional, berpenghasilan M setiap bulan, punya karyawan ribuan dan seterusnya. Sepekan, sebulan, lalu perlahan cita-cita besar itu surut ke belakang didera banyak hambatan.

Bila anda, saat ini berada dalam kapal dan bahtera kebaikan dakwah, anda telah membayar Rp. O kepada ustadz/ustadzah juga kepada dakwah yang mendampingi, membimbing hingga ;
• Dari tak punya ambisi pribadi, memiliki ambisi (mendapat IP terbaik demi dakwah, memiliki perusahanaan dengan finansial kuat demi dakwah, memiliki pribadi cemerlang agar dapat mengorbitkan dakwah, memiliki keluarga kuat sebagai penopang dakwah)
• Memiliki time schedule mulai tahun pertama hingga tahun ke sepuluh, duapuluh, tigapuluh, dst
• Memiliki komunitas yang akan memantau langkah progress atau malah step backward
• Senantiasa termotivasi untuk berpetualang, menjelajah daerah baru
• Selalu termotivasi untuk bersaing dengan yang lain hingga kita selalu mengasah, meng up grade diri
• Memiliki network, jaringan yang luarbiasa
• Memiliki teman-teman yang memang “teman” bukan serigala berbulu domba; mereka selalu mengingatkan bila kita salah, membantu bila butuh
• Dari tak tahu apa-apa menjadi harus belajar banyak : pengusaha, orangtua yang hebat, pendidik spektakuler, pendobrak stagnansi, politisi dst.
• Sebutkan saja, apa yang sudah anda peroleh selama dalam kebaikan ini

Bila, anda berani membayar mahal untuk seroang motivator yang hanya bisa membimbing 2 hari; berapa sudah yang kita bayarkan dan juga dapatkan dari dakwah? Kitalah yang lebih menjulang, mengorbit ke angkasa bersama kebaikan

Fitnah Dakwah

Anda, telah menjadi seorang pengusaha penting.
Dan masih bermimpi hanya akan menghadapi pesaing ketika masih menjadi ritel atau membuka toko kelontong?
Dulu, kita hanya pegawai kecil, gaji ngepas, yang hanya cukup untuk makan anak istri. Lalu kita berdoa, supaya dibukakan pintu rezeki dan penjadi orang yang lebih “ diatas” sebab orang “dibawah” lebih tak mampu berbuat banyak. Menjadi pelaksana dan kepala seksi; beda imbalannya, beda tantangannya. Menjadi penonton bola dan pemain bola, beda imbalannya, beda tantangan dan cemoohannya. Menjadi pengusaha yang hanya punya karyawan 2 (satu anda, satunya lagi istri/suami), berbeda dengan pengusaha yang memiliki karyawan 100,1000 orang; berbeda imbalan dan juga tantangan-resikonya.

Berdakwah kepada anak kecil, mengajarinya mengaji di TPA, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada tetangga untuk menambahi acara arisan dengan sedikit sharing pengethuan, ketrampilan dan agama; memiliki tantangan.
Berdakwah kepada guru-guru sekolah negeri agar mencontohkan disiplin dan mencintai pengetahuan, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada pegawai negeri agar tak korupsi dan tak menyalahgunakan wewenang jabatan, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada pelaku bisnis agar memiliki etika, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada para pengelola negara agar menyelamatkan asset, memberikan layanan kepada rakyat banyak; memiliki tantangan.

Manakah yang lebih ringan atau sebaliknya, lebih liat tantangannya?

Karena tak memiliki ketrampilan, kapabilitas, keberanian, juga ambisi besar; kita akan merasa lebih baik berdakwah di ranah kecil. Kecil resikonya, kecil fitnahnya, kecil cemoohannya, kecil kemungkinan dipersalahkan ; meski kecil pula dampak kebaikannya. Was-was, sakit hati, tak siap mental maka banyak yang tak mau mengambil ranah-ranah besar sebagai kekuatan dakwah. Membiarkan peluang diambil alih oleh asing, biarkan anak keturunan kita merana mengemis, dan kita tak punya harga diri.

Tergelincir Dakwah

Tak makshum seseorang, kecuali Nabi.
Kita pasti bisa berbuat salah, begitupun pelaku dakwah. Kalau begitu, apa yang menjamin jalan ini tak salah?
Berpikir salah benar, berpikir hitam putih. Aku baik, kamu jahat. Kami surga, mereka neraka. Tak ada ambisi : mengapa kita tak masuk surga bersama-sama?

Dakwah mungkin akan menuai salah. Beberapa perhitungan tak tepat, beberapa pelaku ternodai. Lalu kita berhenti, mencela, sementara orang-orang salah tetap berambisi melangkah maju. Memang, kenapa kalau kita salah? Apa harga mati, bahwa kita tak bisa mencoba lagi?
Seorang anak, sama sekali tak boleh main internet, dengan alasan takut game online dan pronografi. Selamnya, orangtuanya mengatakan internet haram. Ia, memang terlindungi dari kecanduan. Tetapi alangkah sayangnya, bahwa bersama internet bukan hanya sekedar pornografi dan game online : ilmu pengetahuan yang luarbiasa bisa diakses, berita terkini, belajar membuat blog, bisnis online, dll.
Dalam dakwah, kita harus mencoba hal-hal baru dipandu para ahli syariat.

Dakwah dan politik, mustahil disatukan. Sebab politik selama ini selalu terangkai dengan feminism korupsi, birokrasi yang bisa dibeli, laporan keuangan yang tidak accountable, belum lagi gratifikasi sex. Selamanya , bila politik dirangkaian dengan domain keburukan, maka ia adalah cela.

Tetapi bagaimana bila politik adalah seperti saat kepemimpinan Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid?

Bahwa politik adalah layanan pendidikan hingga memunculkan ribuan ulama dan kaum cerdik cendikia. Bahwa politik adalah pengelolaan harta rakyat dan pemerintahan, hingga di masa paceklik masa Umar ra, kas punya simpanan dan tak harus impor apalagi mengemis! Bahwa politik adalah kekuatan militer hingga bersatunya Quthuz dan Baybar menaklukan Mongolia. Bahwa politik adalah perlindungan anak dan perempuan, terjaminnya masa depan bangsa.

Apakah untuk hal sepenting itu, dakwah tidak pantas memperjuangkannya?
Fitnah boleh muncul, tetapi bukan berarti berhenti di satu titik.
Atas barakah Allah SWT yang telah melimpahkan keluarga yang kuat, anak-anak yang banyak dan sehat, wajah yang senantiasa tersenyum (meski sekian banyak masalah menghadang). Atas barakah allah SWT bahwa kita tak ciut hanya di tempat ini tapi tetap memiliki ambisi-ambisi besar untuk kepentingan transcendental dan horizontal.
Mari.
Simak puisi Iqbal yang selalu menggentarkan.

“Abad ini adalah malaikat kematian untuk kalian
Dengan merawat ala pencari nafkah ia cekik jiwamu
Hatimu gemetar tatkala memikirkan perjuangan
Hidup adalah kematian bila ruh jihad tlah menghilang
Pendidikan membuatmu asing dari kegairahan bangsawan
Yang mendorong cendekiawan bersikap berani tak kenal gentar
Alam menganugerahimu ketajaman mata elang
Tapi perbudakan memberimu penglihatan seekor kelelawar.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 129 pengikut lainnya.