Alhamdulillah, berkesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dalam perjalanan ke Banjarmasin. Ada adik2 FLP yang luarbiasa semangat dan cita-citanya. adik2 FLP yang menjamu tamu dengan kesungguhan (semoga barakah ya dek….), ada mas Khalid MMU Banjarmasin yang rajin membantuku selama promosi buku di sana.

            Bertemu dengan para blogger yang mengkritikku habis-habisan J

            Apapun itu, kucatata sebagai kenangan indah perjalanan bedah bukuku.

            Pertanyaan-pertanyaan itu pasti bermanfaat buat banyak orang yang punya uneg-uneg serupa tapi barangkali sungkan mengungkapkannya : ^_^

            Buat mas Erfin dan mas Utuh, semoga silaturrahim kita tetap berjalan ya…meski laut, sungai memisahkan.

            Pertanyaan yang heboh :

  1. Apa sih hebatnya The Road to The Empire & Reinkarnasi? Apa yang menyebabkan buku itu layak dikoleksi?
  2. Apa latar belakang pendidikan anda sehingga berani bulis fiksi sejarah? Gak takut dikritik orang?
  3. Siapa penulis yang mempengaruhi karya2 Sinta?
  4. Kendala tantangan dalam menulis?
  5. Bagaimana jika tidak punya mood untuk menulis?

 

Jawaban :

saya balik nanya : mau jawaban joke atau serius?

OK, yang joke first (weleh, sok keinggrisan…)

  1. Karena kalau beli bukunya Dan Brown The Lost Symbol 125.000 kemahalan, beli buku The Road & Reinkarnasi dapat 2!
  2. Covernya bagus & mengkilap
  3. Layak dipamerkan di ruang tamu, sekalipun nggak dibaca
  4. Jarang penulis perempuan yang mau nulis sejarah. Capek!

 

Yang seriusnya :

Apa hebatnya The Road & Reinkarnasi?

Bagi yang mengikuti karya-karya saya sejak pertama muncul (Cadas Kebencian, Red Jewel of Soul, Armanusa dll) akan bisa melihat transformasi kepenulisan dan metamorfosa (…..halah). Bahkan saya sering bilang ke adik-adik : suatu saat kalian harus baca karya mb Sinta yang masih ditulis tangan dan diketik pakai mesin ketik. Supaya kaian tahu, bahwa menjadi penulis membutuhkan sebuah perjalanan panjang. Perjalanan panjang yang seru, penuh gairah, mengasyikkan! Sebab kita menjadi orang yang senantiasa belajar dan belajar.

            The Road to The Empire (TRTE) adalah proses panjang menuliskan Takudar. Sebelumnya Sebuah Janji dan The Lost Prince. Ternyata, saya masih merindukan menvisualisasikan tokoh Takudar. I love him, I miss him. Saya, kita, kami, kau, anda semua, membutuhkan figure yang dapat membangkitkan suatu semangat kepahlawanan yang sekian lama pudar. Aragorn, Robin Hood, Neo, Clarck Kent, Peter Parker adalah para pahlawan yang membela kebenaran tetapi mereka hanyalah tokoh fiktif.

            Takudar, adalah salah satu pahlawan Islam sebagaimana Salahuddin al Ayyubi, Imam Bonjol. Diponegoro dll.

            Saya mengumpulkan referensi sejak 2002 dan sampai sekarang tetap mengumpulkan referensi Mongolia. InsyaAllah sedang menggarap Takudar IV yang semoga, lebih meninggalkan kesan mendalam dibanding kisah-kisah sebelumnya.

            Pak Maman S. Mahayana adalah editor khusus untuk TRTE dan senantiasa membela Takudar (Jazakumullah Pak Maman…☻☺ ). Menurut beleiau, TRTE adalah sebuah karya sastra yang layak diperhitungkan.

            Mengenai Reinkarnasi,

            saya mengumpulkan referensi keris sejak 2004. Berburu kliping koran tentang situs-situs peninggalan Jawa. Internet, sudah pasti. Reinkarnasi sebetulnya gabungan antara novel Kekuatan Ketujuh dan sekuelnya. Berbicara tentang Ragil Mulyo yang punya kekuatan ghaib dan dipercaya sebagai Ratu Adil. Konsep tentang Ratu Adil sendiri banyak versinya ditengah masyarakat Jawa, begitupun konsep metafisik & supranatural.

            Reinkarnasi banyak mengupas budaya dan filosofi Jawa tetapi bisa difahami oleh msyarakat dari budaya lain. Jadi, tentu tak ada ruginya mengoleksi The Road to The Empire karena banyak persoalan budaya dan filosofis yang dapat dipelajari disitu.

            Tentang latar belakang pendidikan,

            sekarang saya kuliah di Psikologi, Universitas 17 Agustus, Surabaya.

            Jangan terkejut, bahwa keinginan untuk menuliskan novel berkualtias justru muncul karena saya seorang Ibu Rumah Tangga, bukan karena pernah kuliah di sini dan disitu. Bagi yang merasakan beratnya beban menjadi Ibu, pasti tahu betapa sulitnya menemukan sosok yang bisa dijadikan acuan oleh anak-anak kita. Rasulullah Saw dan para sahabatnya sudah tentu. tetapi siapa yang  masa kehidupannya lebih dekat ke masa sekarang? Yang masih mengibarkan bendera kemuliaan? Maka, saya terharu banget baca kisah Takudr sekilas di The Preaching of Islam Thomas W. Arnold. Suatu saat nanti (…janji saya di sekitar tahun 1990 an..) saya akan membuat novel berbasis tokoh Islam.

            Alhamdulillah sekarang sudah kuliah lagi dan berkecimpung dalam dunia kampus & literasi mengasah wawasan saya sebagai ibu, istri, anak, menantu, daiyah, dan banyak profesi yang harus dijalani manusia sebagai makhluk sosial. Sedikit banyak, kuliah psikologi mewarnai tulisan-tulisan saya yang berikut : insyaAllah novel tetnang Dolly yang dalam proses penyelesaian.

            Penulis yang mempengaruhi karya saya :

            secara tidak langsung saya terinspirasi oleh tulisan yang mencerahkan milik Hasan al Banna, Sayyid Quthb, syaikh Ahmad ar Rasyid, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim al Jauziyah.

            Penulis yang menginspirasi  Sir Muhammad Iqbal, Amin Malouf, Naguib Mahfouz, JRR Tolkien, CS Lewis, Torey Hayden, Jhon Shors. Penulis FLP yang saya sukai mb Helvy, mb Asma, mb Izzatul Jannah, mb Muthmainnah dan mb Afifah (kok…cewek semua). Tak lupa kang Irfan & kang Abik, Andrea Hirata juga.

            Pendek kata…banyak tulisan & penulis yang menginspirasi.

            Jangan dikata penulis karya orang-orang yang masih baru didunia penulisan tidak menginspirasi lho!

            Ketika saya menjadi juri lomba, setumpuk naskah saya simpan untuk dipelajari diksi, gaya bercerita, emosi, penalaran. Saya belajar dari banyak orang. Dari novel, artikel, opini hingga puisi. Semakin banyak belajar, semakin banyak bahan untuk menambal kekurangan diri. Kadang-kadang, bahkan dari adik-adik yang masih baru menulis mereka mengemukakan gagasan yang tak terpikirkan sebelumnya.

            Kendala dalam menulis :

            Kelelahan, kebosanan kemalasan.

            semua harus dilawan dengan banyak belajar.

            Imam Nawawi ketika sudah merebahkan kepala di bantal tiba-tiba teringat ; masih banyak yang harus ditulis, masih banyak yang harus diselesaikan. Lalu ia bangun lagi dan menulis.

            Saya pun belajar untuk begitu. Kadang badan capek sekali setelah aktivitas seharian tetapi ayo nulis…..nulis! Siapa tahu usiamu tidak sampai setahun lagi ! Masih banyak yang harus ditulis, masih banyak tokoh yang harus dibangunkan sosoknya!

            Menulis dengan mood memang paling menyenangkan.

            Tengah malam, fresh, body oke, badan sehat, mata nyalang, semangat membaja, otak segar, ditemani segelas kopi susu : mengetiklah !

            Tapi kapan kondisi 100% itu kita raih?

            Jarang sekali.

            Karena kesungguhan memang tidak bertunas ketika keadaan serba mudah. Kita justru harus mampu mencari celah di tengah kesibukan, kelelahan, ketergesaan, etumpuk pekerjaan menggunung yang Allah SWT berikan pada kita untuk mengetes apakah kita termasuk golongan orang besar atau orang kecil yang selalu mengeluh tak punya ini itu, tak punya waktu, tak punya semangat, tak punya ide dan kemampuan.

             Sinta Yudisia adalah ibu rumah tangga biasa, sama seperti jutaan ibu di belahan bumi manapun. Sama seperti perempuan lain yang pusing memikirkan cucian, masakan, tingkah polah anak-anak,  jadwal harian, tanggal tua akhir bulan. Sinta Yudisia adalah orang yang terbahak lihat Mr. Bean, gemas lihat The great Queen Seondeok, jingkrak kalau nonton trilogi Bourne, cemberut melihat koran tiap pagi : kok beritanya masih itu-itu lagi?

            Sedikit berbeda dengan perempuan lain,

            saya terlonjak kalau tengah malam. Ini sudah jam berapa?

            Saya seharian belum sempat menulis…….

      

            Rindu sekali tangan ini untuk menulis, setelah sekian pekan harus berkutat dengan makalah Psikodiagnostik dll. Rindu sekali menatap laptop yang teronggok di sudut kamar, tetapi fikiran harus terpusat pada Psikologi Faal dan teori-teori psikoanalis, behavior dan humanistic. Bahkan, ketika harus berangkat ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pejuang pena Banjarmasin yang luarbiasa, tas penuh berisi catatan-catatan kuliah.

            Rindu ingin menyelesaikan kisah Dolly yang tinggal finishing touch.

Rindu ingin melaporkan perjalanan luarbiasa ke Kalimantan Selatan.

Rindu ingin menyapa adik2 FLP Jatim.

Rindu ingin berkirim sms dan menjawab sms tapi…tak ada senjata lain selain bersabar.

            Alhamdulillah…, UAS selesai dan kembalilah tangan ini memainkan tugasnya kembali.

FLP…..

            adakah tulisan kuno masyarakat Banjarmasin?

            Adik2 FLP tak bisa menjawab. Mereka bilang, tulisan kuno masyarakat Banjarmasin mirip Arab gundul. Konon kabarnya penduduk yang mendiami wilayah ini adalah orang-orang Jawa kuno sehingga banyak bahasa adaptasi seperti ’ulun’ yg artinya ’saya’ ternyata bahasa Jawa Kuno (wuiih.. juga baru ngerti L)

            Lalu sang ketua panitia Angga menyampaikan, bahwa ternyata salah satu ciri masyarakat prasejarah adalah tak ada sisa kebudayaan tertinggal yang bisa dipelajari seperti tulisan. Berarti manusia yang tak meninggalkan jejak tulisan adalah manusia pra sejarah…^_^

            Jadi, sudah menjadi tanggung jawab, tantangan, kewajiban kaum muslimin untuk belajar membaca dan menulis senantiasa sebagaimana para ulama dulu slalu belajar, mengajar, belajar, mengajar. Meninggalkan jejak warisan berupa tulisan-tulisan yang hingga sekarang belum semua kita telaah.

            FLP wilayah Kalimantan Selatan dipimpin oleh seorang motivator yang energik, pak Khairani, yang pada tanggal 17 Januari bersamaku di gedung  dekat Deskranasda, jalan Sudirman, tepat di seberang sungai Barito yang luas! Selain aktif di FLP, bapak satu ini kepala sekolah SDIT dan motivator yang handal. Hm, minder juga ngisi bareng beliau J

            FLP Banjarmasin sendiri diisi oleh orang-orang yang aktif bak bola bekel (analoginya selain itu apa ya?). Ada Sri Murni, ketua FLP Banjarmasin, Ni’mah, Suha Wilya, Tiya, Yuli, Puput, Ruwaidah, Isfi dan masih banyak lagi yang wajah-wajah mereka lekat di ingatan. Selain aktif di FLP, mereka juga aktif di profesi masing-masing baik lembaga zakat, guru trainer, mahasiswa dll. Mereka juga aktif menulis dan tulisan2nya terpampang di media massa setempat. Kaget juga ternyata tulisan mereka sudah banyak. Bukannya terbalik tuh, mb Sinta yang harusnya berlajar dari kalian? Solanya kalau suruh nulis artikel atau opini…duh, kok susah banget, kebanyakan diksi yang panjang-panjang.

            Jangan bayangkan Banjarmasin seperti Jakarta atau Surabaya. Sekalipun termasuk salah satu kota besar di Kalimantan Selatan, banyak kendala yang jauh lebih berat tetapi tak menyurutkan langkah da’wah mereka.

            Tinggal di Banjarmasin selama 2 hari ternyata sangat kurang.

            Belum puas menikmati sungai-sungai yang sangat jarang kutemui di Jawa, apalagi Surabaya. Budaya yang kaya yang tak mungkin kita temui di tempat lain : orang-orang yang begitu bersahabat dengan sungai. Kakek nenek mengayuh gesit perahu melintasi sungai Barito, berbarter dagangan, mengisi waktu hidup mereka dengan pekerjaan halal hingga akhir hayat. Perahu tak semuanya menggunakan mesin, sebagian masih di kayuh tangan. Aku heran sendiri, bagaimana tangan-tangan renta itu begitu kokoh mengayunkan dayung, melawan arus sungai.

            Dimana-mana jembatan kayu.

            Dimana-mana rumah kayu.

            Sejuk sekali melihat bangunan yang terlihat kokoh, dingin, sejuk; rumah luas yang berdiri di atas sungai dengan lantai kayu Ulin. Masjid Sultan Suriansyah pun berdinding dan berlantai kayu; di Surabaya bangunan yang memakai kayu hanyalah jembatan di kali Keputih, rumah-rumah gusuran.

            Kalau aku sedang menyelesaikan novel dengan setting Tegal yang eksotis (ingat…Tegal bukanlah identik dengan Warteg Boyz- ok..ok..okelah kalo begitu!) dan dikawinkan dengan Surabaya; FLP Banjarmasin & Banjarbaru insyaAllah bisa menuliskan keindahan sungai-sungai dengan segala kehidupannya yang unik, kehidupan tradisional yang menentramkan, berbeda dengan hiruk pikuk Surabaya.

Oleh: sintayudisia | Desember 25, 2009

25 Desember, 15 tahun yang lalu…

  

Sang ayah Abd Rabbihi, memberikan nasehat kepada Jalal.

“Kunasehatkan kepadamu untuk tidak menikahi perempuan yang kaucintai,” kata ayahnya bersimpati. “ Dan, jangan mencintai perempuan yang kaunikahi. Puaslah sekedar mendapat teman dan kasih sayang, dan menjauhlah dari cinta. Cinta itu perangkap!”

(Harafisy – Naguib Mahfoudz)

            Kalimat ini menarik mata, kustabillo merah sebagai penanda bahwa suatu saat, akan kubaca, kubaca dan kubaca lagi.

            Menyedihkan apa yang dialami Abd Rabbihi, si tukang roti yang tinggal di flat bawah tanah, menikahi Zahira yang cantik jelita, cerdas, selalu memburu kekayaan. Ungkapan Abd Rabbihi yang merana karena ditinggalkan istrinya; sang kekasih hati berganti-ganti dalam buaian cinta dan pujaan dari Aziz yang pedagang kaya benih padi-padian, Muhammad Anwar pedagang kaviar, Nuh Al Ghurab sang pemimpin suku, Fuad  Abd al Tawwab, inspektur polisi.

            Abd Rabbihi kecewa akan cintanya yang mendalam pada Zahira, Zahira pun kecewa sepanjang hidupnya karena selalu memburu harta. Ketika pada akhirnya ia menjadi istri kedua Aziz, Muhamaad Anwar kalap membunuhnya.

            Begitukah cinta?

            Sesuram itukah cinta seperti kisah 7 turunan dalam Harafisy?

            Aku bersyukur membaca novel ini, memberikanku gambaran dan kesyukuran, bahwa Allah SWT Yang Maha Agung telah memberikan anugerah pada pernikahan kami.

            25 Desember 1994…..

PDHI di alun-alun dengan menu lontong sayur, kue sederhana dan minuman. Dengan gaun putih sederhana aku resmi menjadi istri Agus Sofyan. Aku menangis : terharu, bingung, bahagia, takut juga J Apa dia mencintaiku? Apa dia akan baik padaku? Apa ia sayang keluargaku?  Kami sama sekali belum mengenal, hanya bertukar biodata lewat ustadz masing-masing. Tetapi hanya bersandar pada Allah SWT, aku titipkan hidupku pada lelaki yang belum kukenal, yang satu jaminannya kupegang : kata ustadz ia pemuda baik dan sholih, insyaAllah.

            Bagi Elizabeth Hurlock pakar psikologi perkembangan, metode pernikahan kami adalah ancaman bagi pernikahan. Salah satu penyebab gagalnya pernikahan adalah masa pacaran yang singkat. Berarti yang pacaran 10 tahun sudah bisa dipastikan langgeng? Tentu tidak. Sebab pernikahan bukan hanya berbekal masa pacaran, pernikahan berbekal orientasi, motivasi dan juga pondasi.

            Pernikahan kami selama 15 tahun bukan bahtera yang berlayar di lautan tenang.

            The calm sea never made a strong sailor.

            Gelombang, badai, angin, hujan, mengiringi langkah kami seiring titipan amanahNya : Inayah, Ayyasy, Ahmad dan Nisrina.

            Ada masanya kami menangis.

            Ada masanya kami bertengkar dan berselisih.

            Ada masanya kami tak bertegur sapa.

            Ada masanya kami saling menyakiti.

            Tetapi,…

            Tak sampai tiga hari kami saling mendiamkan.

            ”Mas kemana saja?” tegurku suatu saat ketika tak mendapatinya seharian.

            ”Di masjid, tilawah.”

            Lalu aku menangis, meminta maaf dan keridhoaannya karena telah bersikap keras hati, iapun memeluk dan memaafkanku.

            Pernikahan ternyata tak hanya butuh penyesuaian selama 3, 5, 7 tahun. Tetapi sepanjang usia kita. Dulu aku menyesuaikan diri dengan suamiku yang bersikap keras, tegas, disiplin, teguh, tak kenal kompromi. Sekarang ia lebih luwes, tetapi kami harus sering bertukar pikiran bagaimana menghadapi anak-anak kami yang beranjak remaja.

            ”Abah nggak suka Inayah nonton musik!”

            Sikap kerasnya menurun pada putriku yang cerdas dan kritis. Inayah, sekarang sekolah di SMP negeri yang mau tak mau harus bergaul dengan teman-teman dari dunia yang sangat berbeda ketika dia di SDIT. Menurutku Inayah masih memelihara beberapa adab keislaman seperti tilawah di sekolah, jilbab lebar, berhemat, tak memiliki hape, sholat 5 waktu. Disamping itu kegemaran Inayah membaca membawanya pada sikap yang kadang membuatku dan suami tercengang.

            ”Masa aku nggak boleh nonton musik? Aku nggak pernah nonton tivi!”

            Betapa dag dig dug jantungku. Berada di titik tengah antara Inayah dan suamiku.

            Kubawa suamiku ke kamar, kuajak berdiskusi.

            ”Mas tahu? Inayah sedang dalam masa pubertas. Berat baginya mampu bertahan di sekolah dengan nilai2 yang kita tanamkan. Hargai ia, ajak diskusi banyak. Jangan langsung menerapkan tak boleh-tak boleh tanpa alasan jelas. Aku sefaham syariat harus ditegakkan, tapi memaksa – bukannya memberikan pemahaman- hanya akan membuatnya takut tapi tidak mengerti.”

            Kepada Inayah, kudampingi ia menonton televisi.

            “Kamu suka Rain, mbak In?”

            Inayah menggeleng.

            ”Aku nggak suka yang …terlalu cinta-cintaan trus agak mesum, Mi.”

            Ooh, aku mengangguk.

            Kudampingi ia menonton musik di Pro 2. Berisi tangga lagu Jepang, Cina dan Korea.

            “Ummi tahu kenapa aku suka lagu Jepang?” tanya Inayah.

            Aku menggeleng.

            “Aku suka lagu Jepang sejak suka baca Conan. Aku suka mempelajarai bahasanya, Mi.”

            Dan kuamati apa lagu kesukaan Inayah.

            Salah satunya Tanabata Matsuri (aku salahkah?). Dinyanyikan Duo Jepang, dengan penyanyi latar dan penari anak-anak. Bercerita tentang musim panas yang baru tiba.

            ”Kamu tahu In, Jepang inovatif sekali ya? Lagu tentang musim aja bisa begitu indahnya.  Indonesia baru bisa bikin lagu cinta melulu, sinetronnya juga begitu.”

            Kuajak Inayah memahami kenapa musik diharamkan, terutama musik yang melenakan. Kenapa ia tak boleh sembarangan nonton film saat teman-temannya menonton Twilight, New Moon, 2012, Avatar, Transformer. Pada akhirnya Inayah mengerti dan belakangan ia tak  lagi berkeras hati ketika kami tegur untuk tak terlalu berlena diri dengan musik ataupun film. Kami membolehkan menonton televisi seperti Upin Ipin, Rahasia Sunnah, Halal, Laptop si Unyil, Dunia Bawah Air, film pengetahuan dan berita tentunya.

            Begitulah sekelumit perjuanganku, perjuangan kami, menanamkan apa yang kami yakini kebaikannya kepada putra putri kami.

            15 tahun….

            Kuajak suami berdiskusi tentang aktivitas da’wahnya yang padat luarbiasa. Alhamdulillah aku kuliah lagi di psikologi sehingga tahu sedikit tentang psikologi perkembangan, tentang psikologi sosial dsb. Teori yang sekalipun masih mentah, setidaknya membuatku tahu bagaimana harus bersikap ketika suamiku berkeluh kesah tentang kesulitan yang dihadapi.

            Saat ia marah-marah kenapdaku dan anak-anak dengan emosi tinggi, kuajak ia menyendiri dan kutanyakan :

            ”Mas sedang stress ya? Ada tekanan apa?”

            Lalu ia bercerita tentang kantor, da’wah, dll.

            Aku menjadi pendengar yang baik, menelan semua ceritanya, memberikan sedikit nasehat dari ilmuku yang sedikit dan mengajaknya untuk melihat dari sisi positif. Kadang, seorang suami tak tahu harus bagaimana ketika menghadapai masalah. Kemarahan adalah salah satu jalan untuk membuka sumbat yang sudah penuh tak tertahankan.

            Aku tahu, semakin lama beban bukan semakin sedikit. Beban da’wah makin beragam dan variatif; anak-anak beranjak dewasa , membutuhkan penanganan yang jauh lebih rumit dibandingkan ketika kami masih hanya diributkan susu dan popok.

            15 tahun…

            untuk urusan domestik yang berkaitan dengan fisik, mungkin aku semakin mahir. Mencuci, memasak, dsb insyaAllah sudah trampil. Tetapi ruhani dan aqal tampaknya harus selalu mengembang dan mengembang.

            Aku harus memelihara diri agar segar dan cantik, sebab di usiaku yang sekarang, suami semakin matang, lingkungan kerjanya menawarkan 1001 kesenangan yang tak perlu diburu, justru datang sendiri.

            Aku harus lebih bijaksana, sebab kemarahan suami dapat berarti malapetaka bagi surga dunia kami.

            Aku harus lebih pandai, pintar, lembut, dalam mengutarakan pendapat yang benar agar suami tak merasa digurui dan disalahkan.

            Aku juga harus lebih bisa membuka diri dan berterus terang, menyadari bahwa suamiku bukanlah Abubakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat yagn dijamin masuk surga. Suamiku punya segudang kelemahan yang dengan aku disisinya, insyaAllah kami saling mengisi.

            Aku juga bukan Khadijah dan Aisyah, ilmu dan kepandainku jauh dari memadai tetapi itu bukan alasan untuk tak berusaha berbakti.

            Kesulitan dan kemudahan

            Tak akan terlihat mudah, segala sesuatu sebelum menempuh kesulitan.

            Kami membangun mahligai atas prinsip da’wah, bukannya tanpa halangan. Tetapi kesabaran selalu berbuah manis, dan Dia tak pernah buta apalagi mengabaikan hambaNya. Secara materi, tak perlu menyamakan suamiku dengan pegawai kantor pajak yang lain. Rumah, mobil, peralatan elektronik yang lengkap kami belum punya. Tetapi kami punya yang lebih dari itu.

            Sekarang aku bisa berbagi, berdiskusi dengan Inayah.

            Kami bicarakan apa permasalahan ummat, aku berpendapat begini , Inayah berpendapat begitu. Aku bersyukur, Alhamdulillah, Inayah tumbuh sebagai gadis remaja yang sekalipun masih manja, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga dan pemikiran yang jauh ke depan tentang agama. Ia suka membaca, suka menulis, mealahap koran dan buku setiap hari. Aku bahkan kesulitan menghadapi kritiknya tentang berbagai hal.

            Kami juga memiliki Ayyasy, anak kedua yang suka menggoda anggota keluarga hingga kaku dibuatnya, tetapi ia seorang yang cepat tersentuh dan disukai teman-teman.

            Kami juga memiliki Ahmad, yang begitu cepat pergi ke masjid dan suka mengaji, yang melankolis, demikian menyayangi kakak dan adiknya.

            Kami juga memiliki Nisrina yang centil dan lincah, bercita-cita menjadi dokter ustadzah. Nisrina yang tinggal satu atap denganku, sering bergumul satu ranjang denganku, suka menulis surat untuk abah umminya, dalam keadaan senang ataupun sedih. Jika ia marah menulis surat, jika ia bahagia juga menulis surat untuk kami. Kalau ia ingin memberi nasehat kepada kakak-kakaknya ia juga menulis surat.

            Alhamdulillah, Allah SWT memberi kami harta yang tak ternilai di usia pernikahan kami yang ke sekian.

            Suamiku, adalah anugerah yang tiada henti pula kusyukuri.

            Kami saling membangunkan di waktu malam, saling mengingatkan ketika waktu sholat tiba, saling mengingatkan jika salah satu menjadi bakhil, saling mengingatkan ketika merasa lelah dengan da’wah masing-masing. Aku sering minta taujih dan nasehatnya tentang materi agama yang belum kupahami.

            Pernikahan dan cinta kami bukan seperti anggapan Abd Rabbihi.

            Suamiku suka menggodaku ketika menonton televisi, sengaja mengusili anak-anak. Ketika melihat iklan sabun, shampoo atau yang lainnya, suamiku berkata

            ”Puber! Putih bercahaya…iih, cantik yaaa…”

            Aku cemberut.

            Anak-anak mengejarnya, menghadiahi pukulan.

            Jika Ayyasy atau Ahmad sedang makan atau mandi, mereka berteriak,

”Nis! Titip pukulan buat Abah! Pokoknya Ummi yang paling cantik.”

Ketika anak-anakku berkumpul di depan televisi dan melihat iklan cantik, mereka sontak berdiri, menutupi layar dan berkata,

”Jangan sampai Abah lihat!”

Hanya Inayah yang rasional.

”Sudahlah, Mi! Nggak usah cemburu. Abah itu cintanya hanya buat Ummi, emang sukanya Abah godain Ummi kok…”

Pada akhirnya aku tersenyum dan memang menyadari, suamiku sengaja menggoda semua orang. Aku yakin pada cintanya. Aku yakin pada cinta kami. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi bahtera sederhana, dengan awak kapal yang fakir dan lemah, dengan badai yang selalu siap menghantam, dengan perbekalan yang masih terus kami kumpulkan; menuju sebuah negeri impian yang jauh di sana. Jauh, dalam sebuah perjalanan panjang yang titik akhirnya pasti kami capai.

Semoga bahtera ini selamat hingga tujuan, menghantarkan para awaknya dalam keadaan selamat sentosa kembali pada sang Pemilik.

    

   

Jika bukan karena da’wah, Sinta Yudisia bukanlah siapa-siapa.

Hanya ibu rumah tangga biasa, seperti ribuan perempuan yang lain.

Bersama da’wah, Allah SWT membantuku menemukan jati diri sebagai ibu yang istimewa, perempuan yang special, penulis dan juga penjelajah tempat & waktu. Karena da’wah, dipermudahNya aku sampai ke Jakarta,  Jombang,  Malang, Solo, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Pamekasan, Sumenep, dan berikutnya Banjarmasin.

Da’wah di FLP memperkenalkanku dengan rekan-rekan pejuang dari Banjarmasin, pak Khairani (kembaran pak Tifatul Sembiring !), Murni dan Ni’mah. Murnilah yang mengundaku ke acara Salam Muharram : jalan cinta para Muslimah yang diadakan UNLAM, Banjarmasin.

Aku sampai di bandara Syamsudin Noor sekitar pukul 17.00 WITA.

Kalimantan, salah satu kekayaan Indonesia yang tak ternilai harganya baik hasil bumi maupun sejarah. Aku menempuh jalan yang coba kuingat : Banjarbaru, Veteran, masjid Sabilul Muhtadin yang masih tahap renovasi.

Kami menginap di hotel Palm, jalan S Parman. Padahal aku sudah wanti-wanti ke adik-adik agar tidak mengeluarkan biaya banyak untuk penginapan, menginap di kos-kosan pun jadi.  Aku mudah tidur di mana saja, malah susah tidur di kamar yang terlalu bagus.

Sebetulnya, pagi hari kami berencana ke Pasar Terapung tetapi karena panitia pastilah sangat sibuk, kami hanya bisa ke Masjid Sultan Suriansyah dan Makan Sultan Suriansyah. Foto-fotonya yang eksklusif aku sertakan J.

Antasari & Mayangsari

Dua tokoh ini dekat dengan masyarakat Banjarmasin.

Antasari adalah nama IAIN di sana, sekaligus pahlawan nasional yang terkenal.

Sultan Suriansyah semula penganut Hindu, dengan nama asli Ragabuana. Ia meninggal tahun 1546. Sang Sultan adalah penguasa Kerajan Kuin, beliaulah penganut Isam I dan dengan pengaruh beliau Islam menyebar ke seluruh  Kalimantan. Sultan hanya memiliki satu istri, Permaisuri Mayangsari. Permaisuri yang cantik sholihah ini menurunkan anak-anak yang banyak.

Tokoh terkenal lainnya adalah Syaikh Arsyad al Banjari, yang menyusun kitab terkenal Sabilul Muhtadin, semacam kitab fiqih.

Sepak terjang Sultan Suriansyah dalam menyebarkan Islam sungguh luarbiasa. Sayangnya , nyaris semua artefak yang mengaitkan perjuangan beliau dengan Islam musnah dalam masa peperangan melawan Belanda (konon kabarnya memang sengaja dimusnahkan Belanda agar jejak Islam sama sekali tak tercium lagi di Banjarmasin).

Orang Banjarmasin bertabiat lemah lembut.

Beberapa bahasanya sempat membuatku bingung.

Pian (anda), ulun (saya), pun (semacam ungkapan maaf).

Aku, Mona, Tia dan Murni berjalan-jalan mengikuti sungai Kuin Jerujuk. Masjid yang indah, masjid Sultan Suriansyah menjulang dengan ornamen yang unik (berbeda dengan ornamen Asta Tinggi Sumenep yang pernah kukunjungi). Banyak sekali tiang kayu dengan pahatan bunga dan daun, mungkinkah ini sebagai simbol kesuburan tanah mereka?

Salah satu yang istimewa dari kompleks pemakaman Sultan Suriansyah, dahulunya tempat ini merupakan istana lengkap dengan pemadian dan sumber air. Sekarang berdiri juga musem di sana terpampang di dinding lukisan para Sultan dan silsilah keluarga bangsawan. Kendi-kendi, guci, pakaian raja juga masih tersimpan lagi.

Pada pemakaman Sultan, terdapat 4 penutur sejarah yang mampu mengingat sejarah tentang Banjarmasin. Penutur kami adalah bapak Ahmad Fauzi. Kita tak akan menemui kesulitan jika ingin bertanya tentang segala sesuatu sejarah lama Banjarmasin, mereka juga tak menuntut bayaran. Infaq yang seikhlasnya saja.

Aku takjub juga menyaksikan jajaran rumah yang umumnya didominasi kayu, berdiri berjajar di sungai. Konon dulu airnya jernih, sekarang hiiiii…. Majis Sultan Suriansyah juga didominasi kayu termasuk lantainya. Memasuki areal masjid, aku terkagum-kagum dengan ornamen istimewa yang menghiasi seluruh penjuru termasuk pahatan kaligrafi.

Usai itu kami sarapan nasi kuning.

Acara bertempat di aula Dekranasda Pemprov Kalsel jalan Sudirman. Sekalipun sempat diguyur hujan deras, peserta sangat antusias. Wajah mereka yang berkerudung, jernih murni, kurasakan detak ketulusan yang terdengar hingga ke batinku. Mereka belajar, berjuang mencari ilmu.

Seperti biasa aku bawa doorprize.

Ada kisah istimewa terkait 3 doorprize terakhir.

Mereka diminta membuat simulasi tentang penggunaan waktu sehari-hari. Umumnya memang muslimah supersibuk dengan segudang kegiatan kampus dan dakwah, tetapi ada yang spesial, menurutku. Setumpuk kertas yang harus kunilai cepat-cepat rata-rata menggambarkan hal yang sama selama 24 jam. Yang istimewa :

      peringkat ke 3 (dapat buku Rival2 Istri & satu paket cantik pin-batasbuku-stiker) : suka mengontrol air & lampu, setiap hari berusaha membuat catatan kecil, kumpul dengan anak kost dll

      peringkat 2 (dapat buku lafaz Cinta & paket cantik) : punya kebiasaan istimewa kumpul dengan tetangga, walau sekedar berucap ’hai’

      peringkat 1 (dapat The Road to The Empire & paket cantik) :

bagiku, muslimah bernama Rizky Amelia ini istimewa. Sampai-sampai kuminta kertas tulisannya untuk kubawa pulang ke Surabaya. Ia menuliskan program kerjanya selama 24 jam dan agendanya diwaktu pagi dalam rentang waktu jam 5-7 pagi sebelum berangkat kuliah adalah :

membangunkan adik-adik

memandikan adik-adik

menyuapi adik-adik

memakaikan baju adik yang masih kelas 1 SD

menyapu rumah

lalu ia kuliah, bertanya pada dosen hal yg tak dimengerti

Siang hari menjemput adiknya dari sekolah

ia aktif pula berda’wah di kampus.

Rasa hatiku tak dapat kupungkiri, aku menangis, begitupun Rizky. Alangkah istimewanya gadis ini, membantu pekerjaan orangtuanya sekalipun setumpuk tugas kuliah menyita perhatin. Kupikir ia pastilah muslimah yang lembut, penyayang, trampil, tak hanya memikirkan diri sendiri, mau bertanggung jawab meringankan beban orangtuanya.

            Tentunya masih banyak muslimah hebat diluar sana, semoga suatu saat aku bertemu dengan mereka..

            Aku juga berkesempatan bertemu sebentar dengan FLP Banjarbaru.

            InsyaAllah, aku akan ke Banjarmasin lagi tanggal 17 Januari.

            Melanjutkan perjalanan.

            Menikmati kebahagiaan, manisnya persaudaraan, membawa misi dalam buku-bukuku. Banyak yang bertanya, terutama masalah kepenulisan.

Aku hanya bisa menjawab singkat, sebagaimana sebuah pepatah Mesir mengatakan : رِحْلِة الأَلْف مِيل تَبْدَأ بِخَطْوَة

riHlit il-alf miil tabda’ bixaTwa

“From small beginnings come great things” (literally, “The journey of a thousand miles starts with one step”)

Oleh: sintayudisia | Desember 18, 2009

FLP Sumenep & jalan-jalan ke Asta Tinggi

            

Pernahkah anda melakukan perjalanan da’wah dengan nikmat, santai, menyenangkan, terpenuhi segala fasilitas?

Suatu saat memang Allah SWT akan memberikan kemudahan, tetapi sebagaimana tabiat da’wah yang selalu dinaungi oleh kesulitan dan sedikitnya rijaaluda’wah (pejuang da’wah), begitupun da’wah kepenulisan di FLP.

Saya dan Vidi berangkat dengan travel dari Surabaya jam 15.00 kurang lebih. Dalam bayangan saya, travel adalah angkutan yang mengantar dan menjemput hingga sampai tempat tujuan dengan nyaman dan aman. Tapi travel yang ke Sumenep, Madura ini sangat special. Bukan L 300 atau avanza; tetapi sebuah colt biru tua tanpa AC. Dan…kami berkumpul bersama tabung-tabung besar minuman bersoda dan barang-barang lain. Tak apa, yang penting travel, jadi pasti sampai di tempat InsyaAllah.

Lalu kami mulai menjemput penumpang lain dalam kondisi Surabaya yang masyaAllah….panase puoll.

Lalu lewatlah kami jembatan Suramadu yang terkenal itu, salah satu kebanggan anak bangsa. dari sini kami bisa menikmati keindahan Selat selain pantai Kenjeran yang konon kabarnya bukan pantai tapi hutan bakau sehingga dipenuhi lumpur. Hm, ternyata laut biru, langit luas, titik segitiga kecil layar-layar kapal, jaring-jaring jembatan, adalah pemandangan yang indah dinikmati di kala senja. Dan sampailah kami di Bangkalan menjelang maghrib, disambut tanah merah : warna tanah khas Madura yang konon gersang adanya.

Bangkalan , Sampang, Pamekasan dan sampailah nanti ke wilayah Sumenep.

Hanya dipisahkan selat, hanya dipisahkan oleh jembatan Suramadu; Surabaya dan Madura sangat jauh perbandingannya. Jika sepanjang Kenjerean, Kedinding hingga Suramadu (dari arah Surabaya) pohon lampu menyala begitu banyaknya; tak demikian halnya di Madura. Demikian bersahaja wilayah ini; kita akan menemukan banyak orang lalu lalang dengan menggunakan sarung dan kopiah sekalipun naik sepeda motor. Pesantren juga tersebar kemana-mana. Kesedehanaan dan kesunyian yang jauh dari hiruk pikuk mengingatkan saya pada kota nun jauh di Jawa Tengah : Tegal, kota asal suami. rasanya, Tegal saja masih jauh lebih ramai.

Kami tiba di Sumenep jam 20.00 an; Subhanallah, disambut oleh keluarga mbak Ani yang berada di wilayah Kebonagung dengan hangat. Makan malam lengkap disiapkan. Beginikah kehidupan yang jauh dari situasi metropolis? Hangat, akrab, tulus?

Kami tidur nyenyak dan esok pagi, jalan-kalan ke Asta Tinggi, kompleks pemakaman para raja di Sumenep. Foto-fotonya saya lampirkan disini.

Adik2 FLP Sumenep pun luarbiasa bersemangat.

Rata-rata mereka bertanya bagaimana cara menulis dan mencari referensi , mengingat mereka tinggal di daerah yang tak memiliki akses lengkap. Bahkan di pesantren terkadang tak diperbolehkan internet, televisi koran masuk. Saya memahami, mungkin sang kiai berusaha melindungi para santri dari pengaruh buruk dunia luar. Sekalipun bagi mereka yang sangat haus pengetahuan kondisi ini mungkin membuat sedih. Bagaimanapun, tinggal di pesantren adalah sebuah kebahagiaan dan perjuangan tersendiri.

Oleh: sintayudisia | Desember 10, 2009

Liputan acaraku di Gramed Expo Surabaya 4 Des 2009

 

   

Bedah buku bersama mbak Asma Nadia memang acara yang special. Mbak Asma membedah buku Emak Ingin Naik Haji dan Muhasabah Cinta sementara saya membedah buku Reinkarnasi. Beberapa hal yang perlu dicatat dari apa yang disampaikan :

  1. Perjuangan EINH dari sebuah cerita menuju film merupakan sebuah perjuangan panjang yang menyita energi.  Bagaimana Aditya Gumay menemukan EINH, seperti diperjalankan Allah SWT menuju kesana sekalipun saat pintu ’terbuka’ ; bukan berarti perkara mudah.
  2. Film EINH bersaing ketat dengan 2012, yang menurut saya jauh lebih menggetarkan EINH. Sudah nonton 2012? Kecewa? Sama.  Tapi begitulah dunia media, karena yang digembargemborkan 2012 kesannya orang terpaku banget pada film itu.
  3. Muhasabah Cinta berisi kisah para perempuan menyelamatkan rumahtangga, melengkapinya dengan keindahan dan sentuhan khas perempuan. Saya juga nulis disitu J InsyaAllah tidak ada unsur mengghibah karena mbak Asma berusaha menyamarkan semua data diri dan tempat, kecuali jika penulisnya memang benar-benar mengijinkan.

  Tentang novel saya sendiri :

  1. Ada yang ekstrim banget nggak mau pergi ke bioskop kecuali jika….The Road to The Empire yang difilmkan. MasyaAllah, Subhanallah, mohon doa dari semua.
  2. Dari Lalu Fatah , FLP Unair bertanya : kenapa pingin The Road to The Empire difilmkan? Apa gak takut ternyata setelah difilmkan malah jadi jelek? Bagaimana menjaga semangat dan ketahanan agar mampu mencari referensi dengan detil?
  3. Ada yang bertanya ; saya pingin nulis tapi gak suka baca. Bagaimana?

 

 Tentang keinginan agar suatu saat novel difilmkan :

 tak semua orang suka membaca  apalagi novel seperti TRTE. Bukan saja berharap suatu saat tokoh Takudar divisualisasikan, tapi saya berharap suatu saat tokoh & pahlawan Islam dibuat komiknya seperti serial Sam Kok; dibuat kartunnya macam Avatar & Naruto. Pernah menonton serial Samurai X (Batusai)? Manga sejarah ini membuat tokohnya yang memiliki tanda silang di pipi begitu dikenang. Saya bayangkan, andai anak-anak kita diserbu dengan bacaan tentang hal-hal baik, insyaAlalh tumbuh kembang mereka akan optimal dan menjadi ulama seperti yang diinginkan para orangtua.

            Takut kalau tidak sesuai dengan novel aslinya? Iya juga sih. Semoga kalau suatu saat difilmkan pun, kita sebagai sumber daya kaum muslimin sudah amat sangat siap dengan segala perangkatnya. Mungkin novel itu akan difilmkan 10, 20 , 30 tahun lagi sebagaimana Lord of the Ring difilmkan setelah sang penulis wafat. Semoga, jika itu beanr adanya, maka sang penulis TRTE mendapatkan amal jariyah yang tiada putus, amiin ya Allah……

            Tentang energi untuk mengumpulkan referensi ; kuncinya hanya sabar, sabar, perkuat kesabaran. Semakin sabar, semakin baik hasilnya. Semakin tergesa semakin buruk pula.

            Suka nulis tak suka baca?

            Hmh…..bagaimana bisa menuang air kalau tekonya tak berisi? Menulis membutuhkan referensi di ruang-ruang pikiran. Bisa saja kita tak suka membaca, masih mungkin kok kalau punya semangat menulis. Tetapi suatu saat, pasti mentok banget. Saya pernah mengalaminya. Tidak bisa melaju maju, diam di tempat , ketika membuat cerita. Lalu obatnya adalah membaca : Aqidah Islam – Sayyid Sabiq, Khithah Da’wah Syaikh Muh. Ar Rasyid, koran, majalah anak-anak, novel, dsb. Lalu perlahan muatan diksi, kalimat, perbendaharaan cerita, setting, dialog, dan lainnya kembali terisi dengan hal-hal baru.

            Jadi, sekalipun tak suka menulis karena memang ini adalah hobi ( dan tuntutan da’wah tentunya…), membaca adalah kewajiban kaum muslimin!

Oleh: sintayudisia | November 19, 2009

Apa yang anda dapatkan dengan menulis

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

Oleh: sintayudisia | November 9, 2009

Apa yang kita dapatkan dengan menulis?

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

Oleh: sintayudisia | November 8, 2009

Minta doa dari semua untuk UTS 16 November

Alhamdulillah acara silaturrahim FLP Jatim dengan Cabang & Ranting kemarin, Sabtu 7 November, berjalan baik. Minta doa, tanggal 16 November mau UTS, semoga Ilmu yang berhasil diserap maksimal, dapat ditularkan kepada orang lain, dapat diaplikasikan. Doakan nilai mbak excellent.

 

Sekalin minta maaf jika pekerjaan mengedit dan membantu adik2 FLP untuk membaca naskah jadi tertunda ba’da ujian ya…

Oleh: sintayudisia | November 6, 2009

FLP Jatim & 7 November : Pahlawan Baru Kami

 

            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.

            Apa sih yang akan kami lakukan?

  1. Silaturrahim : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan ;-) Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga….and money of course. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun…Allah Maha Mencukupi.
  2. Konsolidasi :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal. Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua resource yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi winning team yang semakin menghasilkan karya & penulis (pejuang da’wah) cemerlang.
  3. Musyawarah : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.
  4. Sharing : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.
  5. Little Gift : kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan reward yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan reward yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa cost Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP
  6. Menguatkan semangat : tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.

 

 

Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.

Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.

Oleh: sintayudisia | November 5, 2009

Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

IMG_0314  IMG2623A  IMG2608A

9420_1250208617950_1311535629_732496_4202238_s[1]   IMG2629A

 

 

Alhamdulillah…Acara FLP Ciputat yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah, tanggal 10 Oktober 2009 berlangsung dengan meriah. Dihadiri sekitar 100 orang peserta, silih berganti berkejaran ingin bertanya.

Rasanya, sebuah anugerah tak terhingga dari Allah SWT sehingga novelku dibedah oleh dua orang pakar yang masing-masing ahli di bidangnya. Mas Jamal D. Rahman, sastrawan penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, dan kini mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada FIB-UI. Dia menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Pria kelahiran Sumenep, Madura ini kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam dan luar negeri, antara lain Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara Bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers’ Meet) di Kuala Lumpur (2001), festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004).

Apa Keunggulan Reinkarnasi?

Bagi Jamal D. Rahman; ada 3 novel yang mengupas tentang budaya Jawa :

1. Para Priyayi –Umar Khayam

2. Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

3. Karya Pramoedya A.Toer

Reinkarnasi menurut mas Jamal mengupas budaya Jawa dari sudut pandang yang lain! Penyebaran Islam di Nusantara memiliki kisah yang panjang dengan beragam hikmah. Di luar Jawa, setidaknya proses ‘Islamisasi’ itu tuntas-sempurna (kalau tidak bisa dikatakan telah selesai 80-90%, kuranglebih). Sementara Jawa hinggá kini masih belum tuntas, budaya Jawa yang berasimilasi dengan Islam masih demikian menunjukkan jati diri aslinya. Puasa mutih, sekaten, tikarat, dan masih banyak lagi adalah gambaran budaza Jawa yang telah berasimilasi dengan Islam tetapi masih menunjukkan betul aura aslinya.

Reinkarnasi, mengupas keindahan budaya & filosofi Jawa, mau tidak mau harus berinteraksi dengan pusaka, sejarah, mitologi yang notabene berinteraksi dengan dunia mistik dan alam ghaib. Di sisi lain Reinkarnasi pun ingin mengakhiri dimensi mistik dalam budaya Jawa.

Reinkarnasi : hanya untuk orang Jawa?

Tidak. Mas Jamal berpendapat, salah satu sisi negatif otonomi daerah adalah masig-masing daerah kemudian ’mengabaikan’ ciri khas budaya lain dan lebih cenderung mempelajari budaya sendiri. Hal ini berbahaya bagi negara kesatuan RI. Masuk akal juga, mengingat mempelajari budaya sendiri sudah sangat susah (karena sudah cukup lama ditinggalkan, dianggap tidak dinamis dan sesuai dengan kultur zaman ini), apalagi mempelajari budaya daerah lain! Membaca Reinkarnasi dapat menjembatani orang di wilayah manapun untuk memahami budaya Jawa dari kacamata sastra.

Ingat bukan, apa kegunaan sastra dalam kehidupan manusia? Sastra memperhalus sebuah makna/hakekat/peristiwa agar intisarinya dapat sampai dengan mudah kepada pembaca. Mempelajari budaya masa lampau mungkin terasa berat dan sudah tidak sesuai zaman alias jadul, hanya cocok untuk mbah-mbah. Prasasti, keraton, serat Kalatidha, Ranggawarsito…duh, susahnya mempelajari mereka. Dengan sastra –Reinkarnasi, misalnya- pesan sampai lebih mudah kepada anak-anak, remaja, dewasa, ibu, bapak, buruh, karyawan, mahasiswa, rakyat jelata, bansgawan….siapapun agar setiap manusia Indonesia kembali pada jatidiri bangsannya yang agung. Para pendahulu kita adalah orang-orang ksatria, pemberani, welas asih. Orangtua yang penyayang, anak-anak yang penuh hormat, para sesepuh yang bijaksana, pejabat yang mengayomi, pekerja yang mengabdi, guru yang mumpuni & ikhlas, murid yang ta’dzim. Pedagang yang jujur, pembeli yang santun, prajurit yang mulyo. Kemana perginya semua kearifan lokal ini? Ketika Islam demikian mudah berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya kita dimasa lampau, semua cair dan lebur; mudah teraduk & menyublim karena sama rasa. Sama bentuk. Sama sejati. Sama mulia, unggul, keutamaannya.

 Orang-orang non Jawa baik Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Bali, NTB semoga dapat memahami citaras keindahan , keunikan keluhuran budaya Jawa yang semakin memperkaya khazanah pengetahuan; semoga membangkitkan kecintaan pada negeri ini. Yakinlah; budaya Sumatra, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi dsb menyimpan ciri khas dan keunikan yang luarbiasa indah untuk dapat dipelajari.

Prof. Dr. Abdul Mujib M.Ag said….

Guru Besar Psikologi Islam ini adalah Dosen Mata Kuliah Psikologi Islam; Psikologi Kepribadian Islam; Psikologi Dakwah dan Psikoterapi Islam. Staf Pengajar pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Fak. Psikologi-Pendidikan Univ. Al Azhar Indonesia; Psikologi Univ. Paramadina; dan Pascasarjana Kajian Islam dan Psikologi PSTTI Univ. Indonesia. Pendidikan S1 Tarbiyah IAIN Malang; S2 Pendidikan Islam IAIN Padang; S3 Kajian Islam UIN Jakarta. Penulis beberapa buku dan jurnal ilmiah tentang Psikologi Islam. Kini menjadi Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi)

“saya appreciate dengan karya mbak Sinta,” ungkapnya.

 Beliau lebih menghimbau para peserta untuk berani tidak hanya mengupas karya, tapi juga mulai berkarya. Secara khusus pak Mujib memberikan wacana tentang Reinkarnasi dan memberi sekelumit Psikologi Islam. Saya sendiri baru tahu masalah lengkap Reinkarnasi di belahan dunia Timur dari beliau. Pendeknya, Reinkarnasi dikenal di seluruh agama Timur(kecuali Islam tentunya). Tentang Reinkarnasi ini insyaAllah saya kupas di tulisan yang lain.

Ilmu yang saya dapat….. tiap kali bedah buku, tiap kali mengisi acara, sayalah yang tambah kaya. Bayangkan, mendapatkan ilmu tentang ”Logika Cerita” dari mas Jamal D. Rahman, Reinkarnasi dan seluk beluk Psikologi Islam dari Prof.Dr. Abdul Mujib.

 ”Nih, saya beri inspirasi supaya kalian bisa menulis menyaingi Reinkarnasi,” jelas pak Mujib menjelaskan powerpoint. Beliau menyampaikan A-Z tentang ’kelahiran kembali’ dan sedikit tentang alam ruh. Wah, langsung sebuah ide cerita berkelebat….ide yang mungkin saja merupakan sekuel dari Reinkarnasi! (hmmm…ide ini rahasia, tetapi adik-adik FLP Ciputat pasti sudah mencatatnya!) Ternyata, kita bisa mengupas tema cerita tentang dunia supranatural dari sudut pandang yang menarik dan menambah wawasan : budaya Jawa, budaya daerah lain, sejarah, pusaka, alam ghaib (sekalipun ini harus dipadu dengan Quran & Sunnah). Jadi berbicara tentang dunia supranatural baik novel atau film tak melulu bicara mengenai pocong (1,2,3….), kuntilanak (1,2,3..), hantu jeruk purut, hantu sana sini, paku kuntilanak, pocong perawan, jelangkung dll yang sejenis.

Dunia supranatural bukan hanya setan gentayangan kan? Ada yang sangat berharga untuk dituliskan tetnang dunia supranatural : kedudukan alam ghaib, alam kubur, mimpi, alam barzakh dsb. Semuanya bisa diselaraskan dengan sudut pandang Islam yang mencerahkan. Ayo, siapa yang mau menulis tentang alam supranatural?

Oleh: sintayudisia | Oktober 7, 2009

Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya ;-)

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

Assalamu’alaikumwrwb.

 

rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta…

usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yang hangat karena silaturrahim, rupanya Allah SWT menagih sesuatu amalan kepada kita.

 

Seorang ustadz pernah menyampaikan di sholat tarawih :

“….saya, anda, kita semua itu bakhil! Pelit! Kikir! Nggak ada orang yang pada dasarnya suka berbagi dan memberi. Akui saja, nggak ada manusia itu yang nggak cinta sama hartanya. Tetapi sekali lagi, Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk menyucikan diri, menyucikan harta. Tahukah Anda bahwa ketika harta itu diinfaq kan, ia akan berkata 4 hal ; jauh sebelum harta itu sampai ke tangan si penerima :

aku fana, lalu kau kekalkan

aku sedikit, lalu kau banyakkan

aku kecil, lalu kau besarkan

aku dulu kau jaga, sekarang aku yang menjagamu.

 

 

            Teman-teman…

ucapan ustadz ini menggetarkan saya. Semoga kali ini tidak riya. Usai mendengar cerita beliau, saya sisihkan sedikit terutama kalau pas dapat lembar uang yang bagus. Diam-diam saya infaq kan. Nggak mesti jumlahnya, kadang 5 ribu kadang 10 ribu, kadang 50 ribu.

 

            Teman-teman,

ternyata memang harta itu berbicara. Allah Maha Kaya dan Maha Membalas. Inilah balasannya di ramadhan kemarin :

                  DP novel yg biasanya hanya berjumlah x tiba-tiba jadi 5x!

                  royalti sebuah novel yang lamaaaa saya tunggu tiba-tiba turun

                  menjelang Idul Fitri seorang teman meng sms : ”mbak, naskah mbak ada royaltinya tuh di antologi XX. Mbak ngirim 2 naskah kan?”

 

Subhanallah….

 

teman-temanku tercinta…

Sisihkan uang kita untuk saudara kita tercinta Nurkholis, FLP Aceh yang tertimpa musibah kecelakaan menjelang lebaran kemarin hingga koma dan harus diamputasi.

Sisihkan uang kita untuk saudara-saudara kita di Padang, Sumbar.

Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, berapapun.

Allah tahu isi kantung kita. Kalau kita tak mampu 10 ribu, toh kita masih punya seribu. Kalau yang seribu pun tak ada, ajaklah orang-orang sekeliling anda.

 

With Love…

Semoga sedekah kita selain diganti berlipat ganda, membuat kita dijauhkanNya dari musibah. Siapa yang dapat memastikan gempa tidak menimpa Surabaya, Jember, Malang, Jombang, atau kota-kota lain di Jawa Timur?

 

Kirimkan bantuan anda ke :

 

Aferu Fajar Nadari BCA  cab. Tangerang  6030115102                          (08179376664)

Rumanti Dyan Cahyani Bank Muamalat cab. Madiun 9148885499              (085649118656)   

Sinta Yudisia    BRI cabang Tegal 0101-01-009291-50-9                         (08563229782)

(Silakan pilih yang termudah)

 

Tolong konfirmasikan ke nomer handphone yang bersangkutan, jumlah dan peruntukannya (Sdr. Nurkholis atau Gempa Padang); insyaAllah akan dilaporkan secara transparansi & accountable.

Jazakumullah Khoiron Katsiron.

 

Wassalamwrwb

Oleh: sintayudisia | September 11, 2009

Berbuka bersama anak-anak para PSK & Mucikari

 DSC03508   DSC03517   DSC03525   DSC03541

Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.

Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.

            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.

            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.

            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.

            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.

            Anak-anak cantik.

            Anak-anak tampan.

            Anak yang molek.

            Anak siapa mereka?

            “Ayo, siapa nama nabi kalian?

            “Allaaaaah….”

            “Siapa nama malaikat?”

            “Rasuuuul…”

            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”

            “Lima rokaat!”

            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.

            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?

            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.

            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.

            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”

            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.

            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.

            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?

            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”

            Aku menelan ludah, kering.

            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.

            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.

            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”

            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”

            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”

            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.

            Aku senang bertemu pak Kartono.

            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”

            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (Against Child Trafficking). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.

            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.

            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.

            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”

            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.

            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”

            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.

            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.

            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.

            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!

            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.

            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”

            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?

            ”Siapa yang berpuasa?”

            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.

            ”Siapa sholat tarawih?”

            Sepi.

            ”Siapa sholat 5 waktu?”

            Tak ada yang bereaksi.

            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”

            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.

            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.

           

 

 

 

            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.

            Aku mengiyakan.

            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.

            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat & lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.

            “Nanda, rumah kamu di mana?”

            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori