Pasangan Da’wahku

Tag

, ,

Albert Einstein, menjalani kehidupan cinta bersama 3 perempuan : Marie Winteler, Mileva Maric dan Elsa. Membaca biografinya yang dituliskan Walter Isaacson; ada banyak yang bisa direnungkan tentang kisah masa kecilnya, perjuangannya di politeknik Zurich, kegilaannya pada cahaya dan gravitasi, militansi Yahudi serta tentu saja, perjalanan cintanya.
Ada yang unik dari pasangan cinta Einstein.
Marie Winteler sangat manis, baik paras maupun budi pekertinya. Awalnya Einstein jatuh cinta setengah mati, namun sifat manis Marie yang menghujaninya dengan surat dan hadiah-hadiah terasa membosankan untuk si anak bengal yang selalu melawan segala otoritas.

Berikutnya, Einstein jatuh cinta setengah mati kepada Mileva Maric yang ditentang habis seluruh keluarga Einstein. Mileva Maric bertubuh kecil, pincang, berwajah buruk hingga dijuluki si nenek sihir; ia teman sekelas Einstein di politeknik. Mileva pintar dan mampu mengimbangi Einstein. Berbeda dengan Marie yang menghujani dengan surat romantis, surat Mileva kepada Einstein dipenuhi teori elektrik dan matematika! Kecerdasan Mileva membuat Einstein terpikat. Beberapa sumber mengatakan, salah satu keberhasilan Einstein adalah berkat bantuan Mileva Maric yang rajin menyiapkan referensi dan mengetik makalah Einstein; tentu Maric bukan sekedar bertindak klerikal, ia juga pemikir.

Bersama Mileva, Einstein memiliki beberapa anak namun pernikahan mereka kandas akibat Einstein sangat dingin terhadap hubungan interpersonal. Hubungan dengan Hans Albert Einstein –putranya- seringkali memburuk.
Hati Einstein akhirnya berlabuh pada Elsa, yang mampu mengelola kehidupan Einstein sedemikian rupa, mulai hal-hal kecil hingga tampil di depan publik dan melakukan negosiasi.

Pasangan Hati
Einstein hanya satu dari sekian milyar manusia di muka bumi yang menjalani hidup, menemukan pasangan, lalu lebur kembali bersama tanah. Mendampingi orang seperti Einstein sungguh sulit, sebagai lelaki sekalipun ia bertanggung jawab, Einstein bukan suami yang didambakan banyak perempuan.
Namun, kisah cinta itu dapat diambil hikmahnya. Bukan karena romantisme, bukan karena kepintaran atau kecantikan, hubungan cinta dapat langgeng bertahan. Memang, romantisme dan kecerdasan pasangan adalah nilai plus; namun seringkali yang mampu mengikat sebuah pasangan adalah bila masing-masing menemukan apa yang dibutuhkan.

Mileva Maric sangat kecewa karena impiannya menjadi ilmuwan kandas seiring tubuhnya melemah akibat mengandung anak-anak Einstein. Mentalnya sakit dan hubungannya rusak, padahal kehidupan cinta mereka di masa kuliah benar-benar membuat orang terheran-heran. Elsa hanyalah orang kebanyakan, namun ia mampu mendampingi Einstein dalam saat sulit ketika ia tengah mematenkan beberapa karya ilmiah termasuk teori relativitas.
Pasangan hati, sungguh sulit dicari.
Terkadang harus gagal berkali-kali.
Namun ada yang sekali menemukan, langgeng hingga mati.

Sejatinya, manusia adalah makhluk yang harus terus belajar terhadap segala sesuatu. Belum tentu, pernikahan berarti menemukan pasangan hati. Namun, sayang sekali bila telah menikah masing-masing pihak tidak berusaha menemukan cara untuk mempertautkan hati lebih erat lagi. Ada banyak cara untuk mengeratkan pasangan hati.
Salah satu contoh kenalan saya, seorang karyawati kecil ini mungkin pantas ditiru. Meski, akibat suami terlalu mandiri, kadang saya terlupa.

“Mbak Sinta, kalau suami pulang dari kantor, siapkan minuman secara istimewa. Meski hanya segelas air putih. Meski segelas air putih, berikan tatakan alas dan tutup, pasti suami akan merasa sangat dihormati.”
Elsa tidak secantik Marie. Tidak secerdas Mileva. Pikirannya yang sederhana diungkapkan, “ aku tidak mengerti matematika kecuali tentang tagihan rumah tangga.”
Namun Elsa humoris, hangat, dan melayani Einstein dengan baik. Ketika Einstein harus bepergian, Elsa menyiapkan pakaian di koper bahkan menyiapkan uang-uang dan membaginya dalam amplop-amplop agar sesuai kebutuhan sang suami. Elsa memasak sup kacang dan sosis kesukaan Einstein, dan bila suaminya mondar mandir lupa diri akibat penelitian; Elsa akan mengantarkan makanan tersebut ke kamar. Dalam ruang kosmos Einstein yang tak terjamah, Elsa berusaha menjauhkan gangguan.

Pasangan Da’wahku
Untuk kesekian kali, kepergianku keluar kota didampingi suami.
Ia berseloroh, kuranglebih demikian, “nanti namaku dimasukkan jajaran pengurus FLP sebagai bagian transportasi yah!”
Di jalan, aku seringkali jatuh tertidur kelelahan, sementara suami berjaga, menyetir hingga tujuan. Sebagai ibu dan istri, kepergian keluar kota bukan sekedar angkat kaki. Di rumah, cucian hingga makanan butuh perhatian khusus. Apalagi anak-anak seringkali melaporkan sesuatu sesaat menjelang kepergian.
“Ummi, aku harus beli buku!”
“Nanti jemput aku yaaa…aku mau ada acara di sekolah.”
“Token listriknya habis nih.”
“Adik disuruh nyiram tanaman aja nggak mau tuh!”

Maka dengan sigap suamiku mengambil peran lain, disaat aku sibuk mencuci dan mengomando anak-anak.
“Jangan lupa masak nasi, lauk tinggal nggoreng. Ada martabak dan samosa di kulkas. Titip mesin cuci, Ummi lagi mbilas. Nanti tolong beli token. Jangan berantem. Jangan lupa sholat dhuha dan tilawah.”
Sekilas orang melihat bahwa kami pasangan kompak, Alhamdulillah.
Namun sampai di titik pemahaman seperti ini secara bersama-sama, bukan butuh sekali dua kali pembicaraan. Dengan kesibukan suami dan kuliah profesiku, suami berharap agenda-agenda lain tereduksi terutama agenda keluar kota. Sedikit demi sedikit, perlahan dan saling mendukung kukatakan, masing-masing kami memiliki peran da’wah yang tak dapat digantikan orang lain. Satu sama lain harus saling mengisi, mengoreksi, mengingatkan, mengorbankan kepentingan diri sendiri jika harus untuk mencapai harmonisasi.
Suami meminta ketrampilanku mengelola seluruh sumberdaya bila harus keluar rumah.

Di awal berperan dalam dunia da’wah, tentu kami lelah lahir batin. Benturan sesekali terjadi, dan kami berdiskusi untuk menemukan kata kunci : komitmen. Beban harus dibagi, anak-anak harus dipercepat kedewasaan agar orangtua tidak lagi ribet memikirkan tetek bengek rumahtangga.
Mendewasakan anak?
Owh, itu pembahasan yang butuh energi ekstra .
Saat ini yang kulakukan adalah menginjeksi kognisi mereka terus menerus, atau diistilahkan terapi Kognitif. Ketika suami protes kukatakan, “ saya masih menata ulang kognisi mereka Mas, perilaku masih belum. Bertahap ya…”
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit tercipta stabilisasi dan harmonisasi.
Seringkali aku berpikir, bila bukan karena terikat oleh komitmen da’wah, pernikahan akan cepat bubar ditengah jalan. Masalah ekonomi, keluarga besar, anak-anak, kepribadian individu yang terus tumbuh dan dinamis, karier dan 1001 masalah manusia dapat menjadi alasan pernikahan gulung tikar. Dengan komitmen da’wah, kesulitan dapat diurai , dicari titik temu dan dilakukan penyelesaian masalah.
Karenanya, sungguh tepat sabda baginda Rasulullah Saw yang bersabda, intinya : pilihlah pasangan karena kecantikan, harta, nasab atau agamanya. Tetapi pilihlah agamanya terlebih dahulu.
Agama, adalah ikatan yang paling kuat dibandingkan ikatan kesukuan, strata sosial, emosi atau hubungan kekerabatan. Dengan agama, sepasang suami istri akan menimbang baik buruk dari kacamata yang baku, yang disepakati, yang tidak akan menimbulkan perselisihan. Lebih mudah bagi pasangan menentukan sesuatu jika tolok ukurnya adalah agama. Semisal, istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, maka ia akan tetap menjadikan suami sebagai qowwam. Sesering apapun istri meninggalkan rumah dengan alasan da’wah, ia akan mentaati komitmen yang diajukan suami. Alasannya jelas : ridho suami akan menghantar pada ridho Allah SWT.
Bayangkan bila tanpa landasan agama, seorang istri yang memiliki karir tinggi akan merasa pantas memperlakukan rumah sama dengan perlakuannya terhadap bawahan di kantor.
Memilih pasangan, mempertahankan pasangan dan pernikahan dengan landasan da’wah serta agama akan lebih mudah dilakukan. Mungkin saja pasangan sudah tidak cantik dan tampan lagi, tapi agama mengajarkan sabar dan syukur. Apalagi, bila ditelusuri lebih lanjut, pasangan da’wah kita jauh lebih baik daripada orang-orang yang lalu lalang di mall setiap harinya. Pasangan da’wah akan membuat seseorang melakukan lompatan pemikiran jauh ke depan : buat apa sih pernikahan ini? Sekedar seksual? Sekedar “kemewahan” agar dengan bangga kita bisa menjawab pertanyaan ini :
 Sudah menikah?
 Suami/istri kerja dimana?
 Lulusan apa sih pasanganmu?

Einstein saja berkata, “istri bukanlah kemewahan yang didapatkan suami.”
Dengan kata lain, Einstein ingin mengatakan bahwa istri bukanlah sebuah attachment yang langsung melekat pada laki-laki begitu ia punya karir bagus, posisi, gaji mentereng. Pasangan hidup bukan sekedar kemewahan yang melekat dalam status agar kita berbangga mengatakan, “oh saya sudah menikah lho…malah sudah punya anak…suami/istri saya adalah….bla bla bla.”
Pasangan da’wah memang sulit ditemui, bahkan dibutuhkan kesungguhan untuk mendapatkannya. Sesudah diraih, butuh energi ekstra untuk memulasnya agar pernikahan yang semula memiliki landasan da’wah, tidak meluncur bagai bermain ski di lapisan es landai : dapat suami/istri aktivis da’wah, hidup enak, punya anak, cukup sudah.
Bagi anda yang belum memiliki pasangan da’wah, doa-doa kami akan selalu menyertai saudara/saudari agar Allah SWT memberikan jodoh mulia dari sisiNya sesegera mungkin; di waktu yang tepat dan dengan jalan yang diberkahi.
Bagi anda yang telah memiliki pasangan, marilah menjaga pasangan hati dan pasangan da’wah kita. Allah SWT telah memberikan rezeqi berlimpah dengan dimuliakanNya kita sempurna sebagai makhluk berpasangan. Bila ada kekurangan pada pasangan da’wah, maukah kita membantu menyempurnakannya?

Sinta Yudisia
Agustus 2014

karikatur-kita1400-04532330

Jilbab si Gila

Tag

,

Sebut namanya Muslimah.
Usia 30an, manis sekali, berpostur sedang. Sekilas, bila kita bertemu dengannya di keramaian, mungkin akan menyangkanya perempuan kebanyakan.
Saya pun sempat terkecoh pertama kali bertemu. Menyangkanya perempuan biasa, namun ketika kami berbicara lebih jauh, barulah tampak siapa Muslimah sebenarnya. Mata kosong, wajah dingin tanpa sentuhan emosi, raut wajah tanpa ekspresi. Sesekali bisa berdiskusi resiprokal, namun di titik tertentu memori-nya tak utuh, dan perbincangan tak akurat.

Tempat kami magang, adalah rumah sakit bagi orang dg diagnosis severe mental illness, pasien2 Psikotik Fungsional dg 5 kategori : Psikotik Akut, Skizofrenia, Skizoafektif, Gangguan Bipolar, Gangguan Waham Menetap.

Jangan bayangkan pasien psikotik sbg orang compang camping, lusuh bau spt yg ditemui di jalan2. Sebagian mereka pandai, speak in english, orator, pintar menyanyi. Wajah tampan cantik, atau wajah kacau balau , beragam jenis disini. Remaja, hingga lansia diterima sbg pasien rawat inap atau rawat jalan.
lossy-page1-220px-Scheherazade.tif

Terkadang, kami susah membandingkan pasien dengan perawat, DM, mahasiswa magang, perawat magang. Baju relatif berwarna mirip antara pasien dan paramedis : abu-abu, biru , hijau, coklat. Jika tidak jeli melihat, siapa terapist atau yg diterapi, nyaris sama.

Yang membedakan secara fisik, semua pasien, mengenakan baju sebatas siku dan celana sebatas lutut. Warna pakaian tergantung ruang inap. Misal ruang A warna merah, ruang B kuning dst.

Lalu apa istimewanya Muslimah?
Perempuan psikotik fungsional, kemungkinan skizofren katatonik, berada di ruang sebuah rumah sakit jiwa? Apa istimewanya Muslimah, yg sehari2 masih harus dalam kontrol ketat terapi, mengenakan pakaian khas, berada di bawah pengawasan kamera CCTV 24 jam sehari?
Muslimah, istimewa bagiku.
Dengan baju sepanjang siku, celana sebatas lutut -SOP klien rumah sakit jiwa yg sering kabur, melakukan tindakan impulsif -agar lebih mudah dikenali dan diamankan-; Muslimah mengenakan kain kerudung di atas kepala.

Rapi.
Tertutup.
Kain segiempat, dilipat dua menjadi segitiga, dipasang di atas kepala, menutupi rambut sempurna, tersemat peniti tepat di bawah leher agar kerudung tak meleset kemana-mana.

Ya, ia Muslimah si Gila.
Yang mungkin harus menkonsumsi obat2 typical atau atypical seumur hidupnya. Mungkin selamanya tak akan mencapai RTA-reality testing ability yg baik, selamanya tak mampu memiliki self -image positif, selamanya harus dibantu melakukan self-help.

Muslimah si Gila, di tengah perjuangannya menaklukan halusinasi, membedakan antara realitas & delusi, mengenakan jilbab.

Ketika kami berpisah hari itu, ia menatap kami dari balik pagar besi tinggi. Pemandangan aneh, seseorang mengenakan pakaian dengan panjang lengan sebatas siku dan celana selutut tetapi menggunakan jilbab.

Muslimah istimewa dimataku.
Ia, pengidap skizofrenia -atau yg sering diistilahkan gila- entah sadar atau tidak, berusaha mentaati perintah Allah SWT sebagai seorang perempuan. Mengenakan kerudung ketika bertemu non mahram.Bukan hal mudah menjalani hari2 bagi skizofren, menghadapi diri sendiri dan stigma orang lain. Mencoba taat padaNya dalam segala keterbatasan, sungguh mengharukan.

Apakah anda, juga saya, yg merasa normal tidak mau mentaati perintah Allah SWT utk mengenakan jilbab secara sempurna?

Sinta Yudisia, Agustus 2014

Sognando Palestina

Tag

, ,

*Randa Ghazy

(Randa Ghazy adalah seorang penulis belia 13 tahun asal Mesir. Orangtuanya senantiasa berkata bahwa anak-anak Palestina adalah saudara-saudaranya)

Pesan anak Palestina pada sahabatnya :

Aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menetap disini
Membaca sampai dunia berakhir
Tetapi dalam kenyataannya
Satu-satunya yang penting buatku adalah kalian
Dan, dirimu

anak palestina

Aku berpikir bahwa kau telah memberikan sebuah keluarga untukku
Kau, adalah keluargaku
Dan bahwa barangkali
Aku tak cukup lengkap mengutarakan padamu
Aku benar-benar menyayangimu

Suatu hari nanti
Bila kita tak akan bersama lagi
Aku tidak akan bisa berkata :
Terimakasih
Terimakasih atas segala yang kau lakukan padaku

Jika perang ditakdirkan usai
Jika kita ditakdirkan merebut kembali tanah ini
Jika kita sanggup melepaskan diri dari kekerasan
Aku senang sekali bisa berada di dekatmu dan berkata :
Kita telah berhasil!

Ketika kelak kau menjadi lelaki dewasa
Akan sangat sulit bagimu
Sangat sulit
Untuk membebaskan dirimu dan mengakui
Bahwa hatimu terbakar oleh perasaan yang begitu halus
Rasa yang melampaui kepedihan
Itulah Cinta

children of Gaza
Dibacakan dalam aksi solidaritas Palestina , Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

ORANG PALESTINA

Tag

, ,

*Harun Hashim Rasyid

(Harun Hashim Rasyid adalah penyair Palestina, lahir 1930 dan hidup di bawah penindasan Zionis Israel. Puisi-puisinya yang terkenal antara lain Kapal Kemarahan (Safinat al Gadhab), Orang-orang Asing (Al Ghuraba) dan masih banyak lagi. Salah satu yang terkenal adalah puisi berjudul Orang Palestina)

father n son in gaza

Orang Palestina aku
Orang Palestina namaku
Dengan tulisan terang
Di segala medan pertempuran
Telah kupahatkan namaku
Mengaburkan segala sebutan
Huruf-huruf namaku melekat padaku
Hidup bersamaku, menghidupi aku
Mengisi jiwaku dengan api
Dan berdenyut di urat-urat nadi

Orang Palestina aku
Itu namaku kutahu
Itu menyiksa dan menyusahkan aku
Mengejar dan melukai aku
Karena namaku Orang Palestina
Dan sesuka mereka,
Mereka telah membuat aku mengembara

Aku telah hidup sekian lama
Tanpa sifat tanpa rupa
Dan sesuka mereka
Mereka lontarkan padaku segala nama dan sebutan nista
Penjara-penjara dengan pintu-pintu lebar terbuka
Mengundang aku
Dan di segala pelabuhan udara di dunia
Diketahui nama dan sebutanku
Angin khianat membawa aku
Menghamburkan aku

Orang Palestina
Nama itu mengikuti aku, hidup bersamaku
Orang Palestina, itu tertakdir padaku
Melekat padaku, menggairahkan aku

Orang Palestina aku
Meskipun berkhianat mereka padaku dan pada tujuanku
Orang Palestina aku
Meskipun di pasaran mereka jual aku
Seberapa mereka suka, seharga ratusan juta
Orang Palestina aku
Meskipun di tiang gantungan mereka giring aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke dinding mereka ikat aku

Orang Palestina aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke api mereka lemparkan aku
Aku : apalah arti diriku?

Tanpa namaku, Orang Palestina
Tanpa tanah air dimana aku mengabdikan hidup
Dimana aku dilindungi dan melindunginya
Aku
Apalah arti diriku

Jawab, jawablah aku!

Perempuan Gaza di tepi Pantai

Perempuan Gaza bersama keledai di tepi pantai

Dibacakan pada Aksi Solidaritas Palestina, Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Jika Kau Pergi Ke Gaza, Palestina

Tag

, ,

Sekali saja, andai kesempatan itu datang, meminta kita datang ke Palestina, apa yang harus disiapkan?
Paspor visa, agar dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Sejumlah uang yang dapat dikonversikan ke mata uang asing, tak mungkin di negeri orang tak bawa uang saku. Logistik, agar tak kelaparan sepanjang perjalanan maupun di tempat tujuan. Pakaian sesuai musim, mengingat Palestina dapat mengalami cuaca ekstrim sangat panas atau sangat dingin. Baterai, sebab listrik hanya dijatah 3-5 jam oleh Israel. Alat komunikasi, siapa tahu keadaan terjepit dan kritis, harus mengontak pihak otoritas. Ohya, kamera. Mengabadikan perjalanan tak lengkap tanpa kesan visual. Sediakan kantong-kantong sisa di ransel dan koper, agar dapat membeli souvenir di toko-toko handicraft yang tersebar di sepanjang jalan di Gaza City. Harganya relatif murah. Kecuali jika ingin membeli abaya, perlu menyiapkan sekitar 200 shekel per gaun.
Cukupkah?
Rasanya cukup.
Tambahkan tim penerjemah yang mampu berbahasa Arab, bila hanya paham ana dan antum.
Jika perjalanan itu bertujuan menikmati eksotika Khan Khalili, Kairo atau biru safir Mediterrania el Arish, daftar di atas cukup. Namun bila anda berkehendak memasuki Palestina, ada hal-hal lain yang harus disiapkan.

Bon-bon, Gaza

1. Believe in Allah
Ini saran dari Rehab Shubair, Ministry of Women Affairs. Keadaan di Palestina betul-betul tak dapat diprediksi. Tak ada siklus rutin pasti sebagaimana kita bangun Shubuh, sholat, menyiapkan sarapan, berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah, pulang sore dan bercengkrama kembali, melepas penat dan begitu seterusnya. Merencanakan akhir pekan, merencanakan beli sesuatu di awal bulan. Berniat melakukan sesuatu di tahun depan.
Terjebak jam malam. Terjebak sirene peringatan sehingga rumah dan sekolah harus bergegas mengawasi jendela agar anak-anak menjauhi kaca –sniper mengincar bahkan hanya sekedar gerakan melongok .
Mereka yang kau cintai, belum tentu dapat kau cium dan peluk kembali, malam nanti.
Seorang anak mungkin tewas dalam perjalanan pulang sekolah. Seorang ibu mungkin tertembak ketika sedang ke pasar atau bekerja mencari nafkah tambahan. Seorang ayah mungkin terkena rudal ketika tengah menunaikan kewajiban.

Kematian adalah hal biasa.
Syahid adalah cita-cita.
Tapi Palestina, juga Gaza, berisi manusia-manusia yang punya hati; menjerit bila sakit, menangis saat terluka, terisak jika kehilangan. Siapa diantara kita yang sanggup kehilangan sesuatu yang dicintai dengan cara mendadak dan cara paling menyedihkan? Tak ada.
Maka Ministry of Women, bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah menggaungkan pesan-pesan propaganda, bahwa bila rakyat Palestina ingin bertahan, mereka harus percaya Allah. Believe in Allah bukan lips service, sekedar slogan dan teriakan.
Believe in Allah menggaung dari dinding-dinding rumah, dari program harian rumah tangga, dari kurikulum sekolah, dari target pemerintah. Pemerintah menetapkan bahwa summer camp adalah waktu wajib bagi para pelajar untuk libur sekolah, mengikuti supercamp untuk mengasah leadership dan life skill, dan program sepanjang kurang lebih tiga bulan ini terutama menempa para pelajar menghafal Quran.
Quran adalah salah satu bentuk believe in Allah, tak ada tawar menawar lagi.

kantor, gaza
2. Al Waqiah
Ini adalah saran dari Abeer Barakah, seorang ibu muda cantik berputra putri 4 orang, dosen UCAS. Kehidupan di Gaza boleh jadi sangat rumit, di blokade bertahun-tahun. Pasokan barang terpaksa melalui smuggling tunnel, mulai genset, mobil sampai hewan Qurban. Mulai shampoo sampai jepit rambut. Mulai tabung gas hingga obat-obatan. Masih belum cukup rupanya, smuggling tunnel seringkali terpantau satelit dan dibombardir hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap.
2012, Gaza masih dapat bernafas lega ketika Rafah dibuka atas kebijakan presiden Mursi. Sekarang, Rafah kembali ditutup dan rakyat Gaza terengah-engah memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi Abeer, Allah Maha Kaya dan tidak terpasung hanya oleh blokade, hantaman rudal, smuggling tunnel atau sirene jam malam.
Ia melazimkan bacaan al Waqiah setiap hari demi jaminan rizqi dariNya. Karena itu, sekalipun kondisi sulit dan kelaparan menimpa hampir setiap kepala penduduk Gaza, mereka selalu bahagia akan datangnya rizqi Allah yang tak disangka-sangka. Cairnya beasiswa, bantuan dari negara tetangga macam Yordania atau Qatar. Dan tentu, bantuan dari Indonesia adalah salah satu jawaban atas al Waqiah yang istiqomah dilakukan.
Abeer Barakah, bahkan masih merasa belum cukup membeli tiket ke surga dengan sekedar tinggal di tanah para Anbiya. Ia dan suaminya mendirikan yayasan, memelihara anak-anak yatim, berpegang pada salah satu hadits Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih : Rasul dan penyantun para yatim bagaikan dua jari tak terpisahkan di surga.
Rindu padamu, Abeer. Miss you much, your family and all of Gaza people.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini mereka tak pernah lupa tempat kembali, tak pernah lupa bahwa tiket ke sana bukan semurah tiket masuk konser musik atau bioskop XXI.

gaza's people
3. An Anfaal dan At Taubah
Anda lelaki, seorang ayah atau pemuda?
Akan sangat malu bila belum menghafalkan 2 surat ini. Surat kebanggaan yang menjadi pelipur lara, penegak tulang belakang, pembusung dada bahwa kaum muslimin tak akan pernah terhina meski terpaksa mengais belah kasih, bergantung hidup sebesar 70% dari bantuan internasional.
Inilah surat yang menjadikan para pemuda boleh mendaftar sebagai prajurit Hamas.
Sekedar jago beladiri, tubuh tegap dan wajah sangar tak cukup. Sebab prajurit Palestina bukan berperang menggunakan drone atau melaju di atas pesawat-pesawat tempur, berlindung di balik tank-tank baja. Para pemuda harus siap menjadi prajurit kapanpun tugas negara memanggil. Mereka harus bergilir menjaga perbatasan, sewaktu-waktu terjebak perang yang pecah tiba-tiba, terkena peluru nyasar atau pecahan bom. Kekuatan mental dan ruhiyah menjadi syarat utama agar sanggup mengatasi rasa sakit fisik dan psikis.
Maka, jangan hanya terbakar emosi sesaat dan berniat mendaftar sebagai relawan perang di Palestina. Gaza tak pernah meminta bantuan pasukan perdamaian. Gaza tak pernah menghiba memohon gencatan senjata dengan Israel. Mereka merasa cukup dengan sumber daya manusia yang mereka miliki, yang tidak dimiliki negara manapun di dunia ini termasuk Indonesia. Prajurit penghafal Quran.
Yang Gaza harapkan adalah kepedulian warga muslim dunia, agar senantiasa mendoakan dan menyisihkan dana bagi operasional negara mungil yang bahkan tak boleh mencari ikan di perairan lautnya sendiri.

ministry of women affairs
4. Sabar
Sabar adalah syarat mutlak bagi seseorang yang berniat memasuki Gaza, Palestina.
Apalagi yang dibutuhkan bagi seseorang yang menunggu tanpa kepastian?
Pemeriksaan check point, tertolak di gerbang Rafah, perjalanan melelahkan via jalur darat, belum lagi diusir oleh tentara Mesir dari perbatasan. Tak ada bekal yang lebih baik kecuali sabar : baik dapat menerobos masuk ataupun tertolak. Beberapa relawan mengisahkan bahkan terpaksa gigit jari setelah tinggal berminggu-minggu di El Arish tak dapat menembus Rafah.
Bila berhasil memasuki Gaza, Palestina, bersabarlah. Belum tentu dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan sebab gerbang Rafah bukan terbuka-tertutup sesuai jam kerja. Inilah satu-satunya gerbang antar negara paling ajaib di dunia : tak ada jadwal tetap, tak ada hukum pasti, tak ada prosedur yang dapat dipelajari, tak ada orang dalam yang dapat ditembus. Hanya dapat dibuka sesuai kesepakatan dengan Israel dan Mesir yang saat ini tak berpihak pada tetangga muslimnya sendiri.
Tinggal di Gaza berarti harus bersiap-siap kekurangan air dan listrik, juga harus waspada terhadap kemungkinan tembakan-tembakan Israel yang lepas tanpa perjanjian.

5. Waspada
Tak perlu khawatir akan keamanan yang berasal dari warga Gaza. Insyaallah aman tidur malam meski tanpa mengunci pintu. Insyaallah tak ada pencopet sebab warga Gaza memiliki izzah. Jangankan mencopet, mengemis saja mereka enggan.
Yang harus diwaspadai adalah, demikian tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Siapa sangka, sesaat ketika mengajar, terdengar dentuman dan di waktu yang sama kita telah terlempar ke dimensi yang lain : alam barzakh?
Bukan berarti warga Gaza membabi buta menuju kematian dan tak lagi peduli pada perjuangan hidup. Mereka tetap bekerja, menuntut ilmu, bahkan hingga strata tiga. Mereka giat mencari beasiswa ke negeri jauh untuk diaplikasikan kembali ke Palestina. Mereka berlatih survival, bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya pecahan peluru. Hingga anak-anak, tahu bagaimana menghadapi tentara Israel meski hanya berbekal sebentuk batu.
Saya mungkin seperti anda dan jutaan manusia yang lain, menyangka bahwa kematian hanya akan menjemput nanti ketika usia menginjak angka 60 tahun ke atas. Kehidupan saat ini masih sangat layak dinikmati. Rancangan mingguan, bulanan bahkan tahunan ke depan menggambarkan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dimensi duniawi. Sangat sedikit mengingat kematian kecuali saat takziyah dan melewati areal pemakaman.

Di Gaza, Palestina, hidup terasa demikian aneh dan asing, namun juga menentramkan.
Udara pagi demikian segar, pasokan oksigen yang disiapkan tumbuhan zaitun dan tiin. Salam bertebaran, dengung Quran tiada henti. Wajah-wajah ramah teduh. Riuh rendah suara anak-anak sekolah, percakapan warga yang sama seperti warga lainnya dari belahan manapun di dunia ini. Hanya saja, warga negara ini tak gentar menghadapi kematian. Kepahitan tentulah ada, tapi mereka tak pernah takut hingga berniat meninggalkan Darul Ma’ad.
Mereka selalu waspada dengan kematian yang begitu dekat berteman dengan kehidupan.
Amat sangat waspada.
Hingga setiap langkah. Setiap jejak. Setiap nafas. Ditujukan bagi persiapan menuju keabadian.

Sekali lagi, Palestina dihantam kesulitan.
Para penjaga al Aqso, pengawal tanah kenabian, terbiasa menghadapi kelaparan dengan berpuasa dan berbuka hanya dengan segelas airputih. Mereka sanggup menghadapi persenjataan canggih dengan lemparan batu dan merakit roket-roket sederhana.
Tapi, apakah kita, hanya berdiam diri?
Atas nama kemanusiaan dan surga yang diimpikan, atas nama Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap keping rupiah dari kita adalah pertemuan dahsyat doa-doa mereka dengan cinta kaum muslimin. Setiap kepedulian kita adalah jalinan kuat dengan impian warga Gaza : ya Allah, jadikan saudara-saudara kami di Indonesia dapat menunaikan sholat di Al Aqso, kiblat pertama kaum muslimin.

Salurkan dana pada lembaga yang anda pilih.
Atau bersama Forum Lingkar Pena, FLP.
Organisasi Kepenulisan Muslim yang insyaallah terbesar di dunia, aktif dan konsisten menyebarkan nilai-nilai Islami yang Universal.
BSM (Bank Syariah Mandiri) cabang Dewi Sartika, Jakarta, no rekening 7033 101858, an Forum Lingkar Pena. Harap konfirmasi kepada Nurbaiti Hikaru 0815 72014615. Tweet ke @flpoke dan amati daftar donasi melalui website www://flp.or.id
Dana insyaallah sampai langsung kepada warga Gaza Palestina, melalui mitra FLP : BSMI dan KNRP insyaAllah

Ungkapan hati seorang Nenek 73 tahun mengenai sosok Capres Prabowo Subianto

Tag

, ,

Kekagumanku pada beliau bukan hanya sekarang, bahkan semenjak aku masih menjadi mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta.
Kusaksikan semenjak mengemban tugas sebagai prajurit sampai melesat menjadi Danjen Kopassus (yang sebelumnya bernama RPKAD, Pasukan Baret Merah yang saya banggakan itu) karena prestasi-prestasinya, sampai akhirnya menjadi Pangkostrad.
Sering prestasi yang beliau capai dikait-kaitkan dengan opini, “itukan karena beliau adalah menantu Presiden!!!”
Pada pandangan saya beliau adalah seorang gentlemen. Seorang yang selalu “ menggenggam” nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam situasi apapun.
Saya sangat bangga sebagai orang Indonesia yang saat itu memiliki pasukan TNI AD / Kopassus yang sangat ditakuti lawan-lawan negara.
Kekaguman saya semakin bertambah pada saat terjadi peristiwa kerusuhan di tahun 1998 , dimana beliau saat itu ada dalam arus pusaran peristiwa tersebut.
Sebagai menantu presiden ( yang sedang ada dalam akhir kekuasaan) dan sebagai prajurit, yang tugasnya sebagai pembela negara dan pemersatu bangsa (NKRI) dilemma itu tentu saja beliau alami sangat sulit.
Tapi lagi-lagi saya menyaksikan betapa dengan kokohnya beliau masih memegang nilai-nilai kebenaran itu , meski terfitnahkan dimana-mana.
Alhamdulillah saya tidak termakan oleh fitnah itu. Dan saya saat itu tetap yakin bahwa tujuan beliau adalah benar.
Tapi saya sangat sedih ketika beliau diberhentikan (dengan hormat) dari TNI AD. Hakekatnya bersalahkah beliau??? Kalau tindakan-tindakannya saat itu untuk menyelamatkan NKRI? Batinku bertanya.

Tentu saja dengan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Beliau hadapai pemberhentian tugas itu dengan tegak, tegar dan percaya diri bahwa beliau sekedar memperjuangkan kebenaran demi NKRI.
Lama aku tidak mendengar kabar beliau. Kabarnya , beliau ada di negeri orang karena penguasa negeri itu adalah sahabatnya (beliau banyak sahabat-sahabatnya).
Beberapa tahun kemudian, kusaksikan dilayar televisi, beliau diangkat menjadi ketua HKTI…aku bertanya : mantan Jenderal, mengurusi tani dan nelayan??? Alangkah mulianya dan merakyatnya beliau!!
Kemudian kusaksikan ada Partai Baru “GERINDRA” di bawah pemimpin beliau. Aku ingin ikut bergabung, tapi aku tahu diri, aku sudah bukan anak muda lagi.
Tapi aku sedih ketika pilpres tahun 2009; beliau “hanya” mencalonkan diri sebagai wakil; padahal saya yakin, beliau lebih hebat dari capresnya. Tapi sungguh ini sebuah hikmah bahwa saat itu yang terpilih adalah bapak SBY.
Dan sekarang beliau menyadari bahwa rakyat Indonesia membutuhkan beliau dan dengan sigapnya layaknya sikap seorang prajurit mencalonkan diri sebagai Presiden.

Bravo, Pak.
Tentu saja aku memilih capres no 1.
Semoga Allah meridhoi. Amin. Amin. Amin.

Siti , Nenek dari 10 cucu
Lulusan sarjana Farmasi 1973, Yogyakarta

Surat utk prabowo 1

Surat utk Prabowo

TOTTO CHAN : PERSEMBAHAN TULUS UNTUK SEORANG GURU

sintayudisia:

Tulisan yg bagus sekali ttg murid dan guru ♥♡♥

Originally posted on Nurbaiti-Hikaru's Blog:

Jika di Amerika ada kisah Anna Sullivan dan Hellen Keller, di Jepang ada Kobayashi Sensei dan Totto chan, di Indonesia ada kisah ‘Laskar Pelangi’, saya jadi menarik satu kesimpulan :

Sebuah buku, bisa mengubah hidup. Bahkan dunia.

-Dan seorang guru, bisa jadi adalah sumber inspirasinya-

(special for : Marutani Sensei)

*****

totto chan

Saya lupa, kapan tepatnya saya pertama kali membaca buku ‘Totto chan, gadis cilik di jendela’ (窓ぎわのトットちゃん). Kemungkinan saya membaca buku ini saat SD bersama kisah-kisah lain seperti Hellen Keller atau William Tell. Entahlah, saya benar-benar tidak ingat.

Sejak itu, kisah Totto chan mengendap dalam alam bawah sadar saya. Jika ditanya tentang Jepang pada saat itu, ingatan saya akan segera melayang ke buku legendaris ini.

Tulisan Tetsuko Kuroyanagi meski sederhana, jelas ditulis dengan penuh ketulusan dan kecintaan yang sangat besar kepada gurunya. Tak heran, buku ini mencetak rekor penjualan di Jepang, dan menjadi salah satu buku ‘the must have’…

View original 1.420 more words

Debat Ketiga Capres: Politik Internasional dan Keamanan

Originally posted on Perjalanan di Kaki Langit:

Debat calon presiden RI malam ini menghadirkan tema tentang politik internasional dan keamanan. Menarik mencermati bagaimana kedua calon presiden mengutarakan gagasan mereka, sebagai bagian dari evaluasi kita selaku warga masyarakat terhadap para calon pemimpin kita. Untuk kutipan pendapat saya sebelum debat (dimuat di ANTARA), silahkan klik ini. Untuk komentar lengkapnya, silahkan klik ini.

 

Di dalam visi dan misinya, Prabowo memberikan pernyataan singkat terkait politik luar negeri yang ia rencanakan:

“Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif, tegas dalam melindungi kepentingan nasional dan menjaga keselamatan rakyat Indonesia di seluruh dunia, dan meningkatkan peran serta Indonesia dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.”

Visi tersebut dalam hemat saya adalah visi yang standar bagi seorang calon Presiden RI. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Terlebih, penjabaran visi tersebut terserak ke beberapa bagian lainnya. Misal point perlindungan TKI masuk ke pembahasan Ekonomi Kerakyatan. Pengaturan demikian ini menimbulkan pertanyaan: “bagaimana semua itu akan…

View original 1.361 more words

Kaca #1 (Kiat Cantik) : Tidur

Tag

Tidur yang cukup salah satu kunci kesehatan kulit.
Saya membuktikan sendiri, beberapa saat lalu. Ketika harus masuk rumah sakit dan kemudian banyak istirahat di rumah. Pasca dari rumah sakit, banyak istirahat, sering tidur. Kulit wajah terasa lebih segar dan sehat. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk membeli aneka ragam kosmetik, perbaiki pola tidur kita! Memang saat kerjaan menumpuk, bisa jadi tidur kurang. Saat ada waktu, lebih baik tidur daripada begadang menonton film.

la_sun_sleep_cuddle

Kias : Kata Inspirasi ~ Kebersamaan Palestina

Tag

,

Salah satu kamp pengungsi, Kamp Pantai (Beach Camp) di kota Gaza barat, dihuni lebih dari 81.000 orang, padahal luasnya kurang dari dua kilometer persegi. Meskipun demikian, jika anda mendengarkan dengan saksama, bahkan di kamp-kamp itupun anda bisa mendengar detak jantung bangsa Palestina.

Orang-orang harus memahami bahwa orang Palestina tidak hidup demi diri mereka sendiri. Mereka hidup untuk satu sama lain, saling mendukung. Semua yang kulakukan demi diriku dan anak-anakku, juga kulakukan untuk saudari-saudariku dan anak-anak mereka. Gajiku untuk seluruh keluargaku. Kami merupakan sebuah komunitas.

( I Shall Not Hate – Dr. Izzedin Abuelaish)

i shall not hate

Kias- Kata Inspirasi Penulis #1

#jumatinspirasi #menulis

“…kau tak terlalu mementingkan tokoh kecil. Sebuah roman harus mirip dengan jalanan penuh orang asing yang dilewati dua atau tiga orang yang benar-benar kita kenal, tak lebih dari itu. Coba lihat penulis lain, Proust misalnya. Dia pandai menggunakan tokoh kecil. Dia memakainya untuk mempermalukan dan merendahkan tokoh-tokoh utamanya. Dalam sebuah roman, tidak ada yang lebih berharga dari pelajaran kerendah hatian bagi para pahlawannya…”

(hal 24, Suite Francaise, Irene Nemirovsky – pemenang Prix Renaudot Award)

Pernik- Unik Pemilu 9 April : Saksi, Logistik, Preman Tobat dan Pelajar Mencoblos

Sekitar jam 23.00 malam tadi, saya keluar ke toko terdekat, lupa bahwa malam itu giliran mendapat jatah konsumsi untuk satpam kompleks .

Saya naik sepeda motor, melewati kelurahan Wonorejo dan terpesona, begitu ramainya kantor yang selama ini sepi. Ramai bukan karena ajang dangdut atau main kartu, tapi rinduh rendah suara percakapan, perdebatan, diskusi, bahkan rasa lapar yang menghinggapi hansip hingga para relawan masing-masing partai.

Situasi yang menurut saya menakjubkan, orang berduyun keluar dari rumah, menuju TPS dan menyaksikan penghitungan suara hingga mengawalnya ke kantor kelurahan. Bukan ajang hiburan joged semata, pentas musik atau pesta pernikahan, namun rakyat turut meramaikan kesempatan menjadi bagian penting dari masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Masing-masing partai punya cara unik sendiri.
Saya pribadi, mengajak anak-anak yang sudah SMA, Inayah dan Ayyasy untuk ikut aktif sekalipun mereka belum menjadi bagian dari pemerintahan. Setidaknya, adrenalin muda mereka terpacu : inilah saatnya Indonesia bangkit bermartabat, membuktikan pada dunia Pemilu damai dan jauh dari kecurangan.

1. SAKSI

Saksi bermacam-macam. Ada bapak dan ibu terpelajar, dengan pakaian rapi ala eksekutif. Ada juga pemuda dan mahasiswa dengan pakaian casual. Ada pula wajah-wajah muda pelajar pencoblos pemula yang bersedia jadi saksi.

Briefing pagi, koordinator mengingatkan,
“Jangan bertujuan sekedar mencari honor. Niarkan untuk ibadah. Kita ingin menjadi bagian dari perubahan dan kejujuran. Semoga langkah Bapak, Ibu, Adik-adik sekalian mendapatkan barakah Allah SWT.”
Kata “amin” yang diucapkan bersama serasa menggedor bilik jantung, memanaskan kelopak mata.
Bukan! Ini bukan saat menjadi radikal, fundamental, ajang perjuangan suci yang dapat berubah menjadi langkah-langkah emosional belaka. Ternyata, masih banyak orang yang menginginkan kejujuran di saat-saat kritis. Pencoblosan suara ini, salah satunya.

Ada kelucuan para saksi di TPS, tempat pemilihan suara. Agar tidak ada syak wasangka, setiap yang punya waktu usai Dzuhur segera berkeliling menuju TPS-TPS di kelurahan masing-masing. Saya pribadi usai mengantarkan logistik makan siang, pulang untuk sholat dan istirahat sebentar, kembali berkeliling. Di Grup WA-whatsapp banyak kehebohan.

“TPS X kosong! TPS W gak ada saksi kita!”
Segera meluncur.
Di TPS, alhamdulillah ada saksi cadangan yang menggantikan. Tapi para saksi utama kemana?

“Saya sholat, Bu. Tadi sudah bilang sama mas fulan untuk gantikan saya.”
“Bu…maaf saya haidh, ganti s***tex agak lama…tapi di TPS ada yang gantikan kok.”
Di suatu TPS, saya bertemu seorang saksi pengganti, yang celingukan, untungnya kami saling mengenal.

“Bu Sinta, kok saksi kita gak ada? Katanya cewek, masih muda, ini semua saksi sudah tua semua. Mana ya?”
Saya selalu menyimpan data nama, nomer telepon, tidak malas untuk mencatatnya. Prediksi hal-hal semacam ini sudah terbayang, meski saya bukan panitia inti.
Saya menelepon Ayu(samaran).
“Ayu, ini bu Sinta. Kamu dimana? Dicari saksi cadangan, mas Ali(samaran).”
“Oh saya di dalam bu, masuk saja…”
Di TPS X, terdapat aula kosong, dan Ayu tergeletak disana. Saya tanyakan ia kenapa?
Dengan malu-malu Ayu berkata,” Bu, saya izin sebentaaaar aja tiduran ya, ngantuk nih, habis saya juga lagi haidh. 30 menit boleh?”
Saya tertawa dan mengiyakan.
Kepada mas Ali saya katakan, “mas, Ayu mau tiduran 30 menit. Mas Ali jaga ya!”
Untung, mas Ali kooperatif .

Jangan pernah underestimate pada para saksi, sekalipun mereka ibu rumah tangga dan terlihat sangat sederhana, bahkan kampungan. Beberapa menunjukkan sikap luarbiasa! Meski ibu-ibu yang semula kita perkirakan tidak punya kapasitas mengawal suara.

Ibu Hani (samaran) ternyata sangat kritis dalam menghitung suara. Ia menentang keras ketika KPPS berkata, “saksi tidak perlu tahu jumlah pencoblos!” Bu Hani rela ngotot, disaat saksi-saksi yang lain diam saja, bahwa jika saksi tidak tahu persis jumlah suara pemilih, maka bagaimana dapat mencocokkannya dengan surat suara?

Ada lagi seorang ibu, sebut namanya bu Eni (samaran), yang keukeuh berkata bahwa penghitungan suara oleh PPS berbeda dengan catatannya. Penghitungan ulang dilakukan hingga 3X! Tentu saja bu Eni mendapat kritikan pedas dan caci maki dari saksi lain, tapi ia tetap bertahan dan berkata, “saya hanya ingin penghitungan yang jujur!” Alhamdulillah, memang terdapat selisih suara.
Mungkin saja tidak ada yang berniat buruk, semisal ingin menambah suara. Hanya, semua pihak sudah sangat lelah. Tapi sikap bu Eni luarbiasa untuk berani bersuara ketika data yang ia punya, berbeda dengan yang ada di PPS. Kadang, untuk bicara jujur, kita sungkan dan merasa,” ya udahlaaah, gak enak sama yang lain.” Padahal, sikap bu Eni pantas diapresiasi dan bukannya dicela.

2. LOGISTIK I

Sejak 05.30 saya sudah mengoprak anak-anak.
“Ayo bantuin Ummi! Jangan ada yang nonton televisi, jangan ada yang baca komik, jangan ada yang malas-malas. Bantu Ummi jemput logistik di bu Diana.”
“Trus, kita sarapannya apa, Mi?”
“Mikir sendiri ya, Ummi mau mikirin saksi hari ini. Kalian boleh masak sendiri, boleh beli.”
“Okeee!”

Berhubung semua mobil sudah habis terpakai, kami para relawan logistik memakai sepeda motor masing-masing. Sarapan pagi hingga sejumlah belasan dan puluhan, kami bawa, di gantungan sepeda motor, dipangku, di stang. Menuju titik-titik briefing. Ayyasy di depan, saya membonceng di belakang.
“Aku aja yang di depan,” kata Ayyasy. “Ummi naik sepeda motornya lama!”
Kami bolak balik mengantar sarapan pagi untuk saksi di titik briefing masing-masing kelurahan. Wajah-wajah sigap menanti sejak ba’da subuh. Arahan koordinator saksi didengarkan seksama. Setelah sarapan dan melepas hajat bagi yang memerlukan, jam 07.00 pagi saksi tiba di TPS masing-masing lengkap dengan kartu tanda pengenal.
Kami sampai di rumah berkeringat, kotor dan bau.
Di pintu, anak-anak menyambut.
“Ummiiii, kita sarapan apaaa?”
Ya ampun, anak-anak!

Untuk, para kakak sigap.
“Udah, aku aja yang belanja dan masak, Ummi mikirin yang lain! Ayo, Ummi dibuatkan minuman panas biar melek! Ummi mau makan apa? Mie telor?”
Aku terharu dan bahagia melihat anak-anakku yang besar mulai mampu mengambil alih. Meski, kalau si kakak sudah jadi komandan, maka…
“Hei! Kalian jangan enak-enak aja ya! Nonton! Baca! Lihat semua berantakan!”
“Ayo bereskan meja makan!”
“Ummiiii, kenapa aku yang disuruh-suruh sihhh sama mas, sama mbak?”
“Ummi! Mas bentak-bentak tuh!”
“Ummi! Mbak In main suruh-suruh aja!”
Kalau sudah heboh seperti ini, aku menginisiasi rapat darurat.
Kuabsen nama anak-anak satu-satu.
“Apa kalian tahu, dunia sedang mengamati pemilihan umum di Indonsia? Ayo jangan egois. Semua bersabar, banyak istighfar. Ummi mau mencoblos, mbak In juga. Jangan lupa Dhuha ya…”
Tenang. Reda sebentar. Lantunan istighfar. Wudhu untuk sholat Dhuha.
“Ummiiii!!!”
Hadehhh.

3. LOGISTIK II

Jam 09.30 usai mencoblos, aku bersiap-siap.
Kali ini , si kakak Inayah yang menjadi asistenku. Kami mulai mendatangi bu Diana, tim logistik, dan segera menyiapkan air mineral botol, nasi kotak dan snack. Dengan asumsi mendapat jatah untuk 10 TPS, jika 1 tempat butuh 10 menit maka total 100 menit. Belum kalau lokasi masih samar-samar. Rapat terakhir hari Selasa, semua makanan harus terdistribusi jam 11.00 siang.
Aku melakukan 2 kesalahan. Pertama, bensin habis, terpaksa harus ke pom bensin dan itu menambah jatah waktu keliling. Kedua, belum survey lokasi. Kepada koordinator, aku bertanya ancer-ancer lokasi.

Kucatat, kucoret-coret panduan, dan kami berangkat.
Dan, kritikan suamiku kali ini betul-betul mengena!
“Ummi harus belajar navigasi! Cari timur, barat, selata, utara! Itu akan memudahkan kita cari tempat!”
Berlindung atas nama perempuan, aku memang selalu mengandalkan suami untuk mencari daerah atau alamat baru. Minta antar hehe…tapi kali ini mana mungkin? Suamiku sedang sibuk berhari-hari dengan titik wilayahnya sendiri yang jauh dari lokasiku.

Maka aku bertanya pada hansip, mana TPS-TPS bagianku.
“Ngidul nggih…ngalor…wetan…kulon!”
Aku orang Jawa memang tapi lebih tahu kiri kanan dari pada timur barat selatan utara!
Inayah mengeluh,” ya ampun, ummi nggak sistematis banget sih…”
Tentu dia yang kepayahan, sebab harus memanggul konsumsi dan turun membagikan satu demi satu pada saksi. Aku minta maaf padanya dan mengakui itu kesalahanku meski tetap berdalih, “makanya Ummi minta keluar jam 09.30 untuk mengantisipasi kesasar.”

TPS-TPS yang kukunjungi demikian meriah. Masuk gang-gang kecil, berada nyaris di ujung Wonorejo dekat Bosem atau danau buatan zaman Belanda dulu, jalannya dinamakan jalan makadam alias jalan berbatu. Pulsa habis, baterai limit. Susah mengontak saksi untuk menanyakan dimana posisi mereka. Berbekal arahan hansip dan coretan dari koordinator saksi kami menyusuri jalan. Kadang, hansip sendiri tidak tau TPS lain yang dimaksud.
“Oh, pokoknya jalan aja terus Bu, nanti disana ada TPS juga kok.”

Jalan? Jalan kemana? Lewat mana dan gang berapa? Akhirnya aku berpesan pada Inayah tiap kali bertemu 1 TPS, menanyakan TPS yang berikut pada saksi. Misal TPS 15, kami akan bertanya dimana TPS 16. Misal TPS 21, kami akan bertanya lagi dimana TPS 22. Yah, meski arahan simple mereka kadang menjerumuskan.
“TPS 22? Oh, gampang kok Bu. Keluar dari gang ini, pokoknya nanti di pinggir jalan raya.”

Ow-ow, bapak itu penduduk asli. Kami bukan. Yang dimaksud keluar dari gang ini ternyata melewati gang bermacam-macam, berkelok-kelok, menembus jalan buntu, timur-barat-selatan-utara tidak terdeteksi. Berkali-kali kesasar, dan karena aku tak bisa memutar sepeda motor dengan otomatis, Inayah bolak balik harus turun.
Surabaya tengah ruaaarrrrbiasa panassss!!!
Di bawah terik matahari, kami berdua dehidrasi. Di tepi sungai, kami berhenti dan minta Inayah beli teh gelas dingin.
“Kamu mau digantikan Ayyasy, mbak In?”
Inayah menggeleng dan tertawa.
“Nggak usah! Aku senang sekali Mi, ikut serta. Rasanya heroik sekali!”
Apalagi, tiap kali mengantarkan konsumsi, saksi kami demikian sumringah dan gembira, membuat saksi dari partai lain bertanya-tanya.
“Kok dirumat nganti semono yo?” ( kok dirawat/dilayani sampai segitu ya?)
Kami berdua sampai di rumah kekeringan, kulit menghitam terbakar dan rasa haus mencekik. Inayah minta es krim sebagai penyuntik energi. Usai sholat Dhuhur, kelelahan akibat berputar-putar sedari pagi, aku tertidur sesaat.

4. LOGISTIK III

Aku tertidur sesudah sholat Asar.
Tubuhku demam. Memang sejak Senin, hujan deras mengguyur Surabaya dan aku terpaksa bermandi basah kuyup dibawah rahmat Allah SWT. Demam. Diare. SMS, message dari suamiku tak tergubris hingga menjelang pukul 17.00.
“TPS kompleks kita sudah hitung suara?”

Aku meloncat.
Ya ampun! Tadi siang, sesuadah menyerahkan logistik II, aku dan Ayyasy berkeliling menyambangi satu demi satu TPS yang saksinya ingin digantikan untuk ke kamar mandi, sholat atau mungkin kelelahan. Malah TPS kompleksku tidak terpikir. Kali ini, mengunjungi TPS 9 dan 10 di kantor RW ditemani anakku, Nisrina. Si kecil kelas 5 SD yang masih belum faham.
“Yang menang partai apa, Mi?” tanyanya.
“Ini masih dihitung suara, Sayang.”
Kami duduk, menunggu, aku memantau berita lewat whatsapp.
“Kok lama banget sih?” keluh Nis.
“Ya iyalah, itu dibuka, dihitung satu-satu.”
Berita terbaru terunggah di WA.
“Siap logistik malam ya!”

Aku segera mengontak tim, beberapa sudah tumbang karena kelelahan. Maka sekali lagi, aku meminta anakku jadi asisten.
“Kali ini malam ya, jadi Ayyasy yang ikut Ummi. Ummi naik motor, Ayyasy yang bagikan.”
Pengalaman tadi siang membagikan 10 TPS, alhamdulillah, lebih lancar. Meski, menginjak TPS ke 7 hujan deras mengguyur.
“Gimana Yasy? Kita berhenti?”
“Nggak usah Mi! Terus aja! Kasihan saksi!”
Alhamdulillah, dua anakku mulai merasakan tanggung jawab. Kami menembus hujan dan kuminta Ayyasy merapalkan doa-doanya di bawah curahan rahmat Allah SWT.
“Ya Allah…semoga aku menang lomba Tupperware tahun ini,” teriaknya.
“Amiiin!”
“Semoga abah ummi punya mobil!”
“Amiiin!”
Kata semoga,semoga,semoga dan harapan lain meluncur dari mulut dan hati kami. Menurut Ayyasy, ia senang sekali menemui saksi dan mendapatkan apresiasi.
“Tadi ada yang bilang macam-macam, Mi…wah enaknya, dianterin makanan dari pagi…wah, aku hampir aja beli makan malam. Alhamdulillah ya Mi…”
Di rumah, hingga malam tiba, anak-anak mengamati berita televisi, laporan di grup whatsapp. Suamiku baru pulang menjelang jam 03.00 dinihari. Kepada anak-anak yang masih berjaga kusampaikan, semoga mereka belajar dari sekarang bahwa seperti inilah upaya dan kerja keras kita dalam mengawal kebaikan.

5. PREMAN TOBAT

Tidak semua orang sanggup bersikap jujur saat Pemilu.
Saya tidak ingin menyalahkan siapapun, sebab masing-masing pihak punya alasan sendiri. Mungkin saja PPS sangat lelah, seperti kasus bu Eni. Mungkin juga ada yang mau potong kompas, seperti kasus bu Hani. Dalam gerakan massa seperti saat pencoblosan, sebagian orang merasa khawatir terhadap persepsi luas masyarakat. Dalam Psikologi Sosial dapat dinamakan Penonjolan, Kategorisasi, dan Skema.

Orang takut melihat warna dan simbol tertentu, sebab melambangkan keganasan.
Misal, orang takut melihat lelaki bertubuh tinggi tegap, rambut cepak, baju gelap. Skema terbentuk, ia reserse atau polisi yang sedang mengintai. Sehingga kita menjadi takut.
Orang takut melihat pakaian loreng, khawatir ia milter, sehingga kita akan bersikap hati-hati bila bertemu di jalan raya. Padahal ia hanya orang sipil biasa. Begitupun stiker yang tertempel di kendaraan : Marinir, Polisi, Brimob, Akpol, dll; membuat kategori menonjol dan kita jengah dibuatnya.

Saat pemilu pun demikian.
Para pemilih biasanya merasa khawatir, takut bila pilihannya menentang arus. Apalagi bila di kanan kiri, terlihat berseliweran orang-orang menggunakan simbol warna tertentu.
Preman tobat, menjadi salah satu pilihan.
Koordinator saksi berkata kepada preman yang sudah meninggalkan dunia hitam tersebut, “tujuan kita adalah mengamankan suara kita sendiri. Membuat para saksi berani bersikap. Sama sekali kita tidak perlu mengintimidasi.”

Kehadiran preman tobat ini bermanfaat di daerah rawan.
Apa daerah rawan? Terutama daerah yang biasanya dihuni buruh, orang-orang kampung dengan pendidikan rendah yang takut dengan sekali gertak. KPPS yang tunduk pada keinginan caleg tertentu akhirnya tidak berani macam-macam pada preman tobat.
Alhamdulillah, di daerah rawan, meski suara partai Islam di beberapa TPS tidak mendominasi, suara itu selamat sampai ke kelurahan. Para saksi tidak takut untuk bersuara, para pencoblos tidak khawatir akan intimidasi.

6. PELAJAR MENCOBLOS

Pemilu kali ini lebih meriah.
Di kompleks rumah saya, mulai terlihat wajah-wajah muda yang berangkat ke TPS bersama orangtua. Begitupun saya dan Inayah.
“Ummi mau coblos siapa?” tanya Inayah.
“Rahasia dong!” aku tak ingin ia hanya taklid buta padaku.
“Kalau aku pilih ustadz X, gakpapa ya?”
“Lho, kenapa kamu pilih ustadz itu?”
“Soalnya aku gak berharap ustadzah Y jadi, sebab ustadzah Y adalah guru favorit di sekolahku.”
“Terserah kamu, deh.”
Di depan TPS, kami melihat lembaran terpampang mulai DPD, Dapil 3 Kota Surabaya, Dapil 1 Provinsi, Dapil 1 Pusat. Kami melihat-lihat gambar. Berdiskusi sebentar. Melihat foto-foto yang terpampang.

“Ummi pilih siapa?” sekali lagi Inayah bertanya.
“Ummi pilih orang-orang yang Ummi kenal, yang Ummi sudah tahu kinerjanya. Pak ini bagus, Ummi pernah bantu resesnya. Bu ini Ummi kenal, kiprahnya sebagai ummahat dan pengusaha luarbiasa. Ustadz yang ini bagus, Ummi kenal.”
Kami mencoblos.
Mencelupkan kelingking ke tinta ungu.
Berjalan bergandengan ketika pulang, layaknya ibu dan anak.

“Bagaimana jika kita tidak menang?” tanya Inayah.
“Apa maksudmu kita tidak menang?” tanyaku ingin tahu.
Inayah sudah melihat betapa pontang pantingnya kami, dan itu cukup mewakili keluarga-keularga dai yang lain, meski apa yang kami lakukan masih sangat jauh dari yang dibutuhkan ummat.
“Yaaa, ternyata perolehan suara kecil,” jawab Inayah sedih.
“Kamu tentu sudah baca Kemenangan Shalahuddin di Perang Hattin 1187 karya David Nicole,” aku mengingatkan. “Ingat bagaimana Shalahuddin memenangkan Yerusalem? Itu kerja ringan dan sebentar kah?’
Inayah menggeleng.
“Bagaimana ia menaklukan satu wilayah demi satu wilayah kecil, membuat perjanjian dengan raja-raja kecil agar pasukannya bisa lewat dengan aman. Bagaimana ia memperhitungkan bahwa memanggul senjata besi dari Mesir ke Yerusalem sangat berat dan tidak efektif, maka Shalahuddin memastikan daerah yang di lalui pasukannya terdapat produsen bijih besi…”
Kami sering berdiskusi tentang beragam hal.
Tapi diskusi saja tidak cukup.
Kali ini Inayah mencoba belajar memilih, menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, ikut berlelah-lelah mewujudkan satu sikap integratif.

Karakter, tidak dibentuk satu-dua hari.
Butuh ditanamkan, dilatih, didisiplinkan, dipenuhi kognisinya. Kita ingin anak kita mandiri, punya sikap, berani, jujur, pandai dan mampu menjadi pemimpin yang solutif. Salah satu yang harus diupayakan adalah melibatkan anak-anak pada aktivitas sosial, apapun bentuknya. Kepada anak-anakku, aku mengajarkan mereka untuk menyambangi masjid, bersilaturrahiim dan mengenal banyak orang. Kepada anak-anak lelakiku, aku minta mereka ikut Karang Taruna agar tau permasalahan remaja. Kepada Inayah, aku menyarankan ia memperhatikan permasalahan 2-3 orang sahabatnya dan berpikir solusi apa yang diambil. Kepada Nisrina si kecil, aku mengajarinya berani bersuara terhadap kakak-kakak dan teman-temannya.

Anak-anak harus belajar terlibat organisasi agar mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, belajar memimpin dan dipimpin, belajar koordinasi, belajar menjadi tim yang kompak. Pemilu sehari kemarin, anak-anakku melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana tim gerak cepat menyiapkan lgositik dan membaginya, mengawasi TPS dan menjaga saksi, mengawal kertas suara.
Harapannya, bila anak-anakku ingin melakukan langkah-langkah baik dan jujur, mereka juga harus belajar bagaimana teknis-teknis pelaksanaannya mulai rancangan hingga eksekusi. 5 tahun ke depan, anak-anak kita yang akan memimpin negeri ini.

pemilu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.