Sintayudisia’s Diary

Catatan Perjalanan, Halte Perenungan

Hartaku : Anak-anak & Kliping koran Juli 8, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Karyaku, Kepenulisan, Referensi Fiksi — sintayudisia @ 3:16 pm
Tags:

Tak terasa sudah 2 tahun kami tinggal di Surabaya. Sebelumnya, kami tinggal di kota Tegal, suatu wilayah karesidenan di Jawa Tengah. 2 tahun yang lalu kami mengontrak, tahun ini masih mengontrak juga;-).

Banyak yang tanya, sudah 15 tahun nikah kok belum punya apa-apa? Suaminya kan kerja di kantor pajak? Dalam benak kebanyakan masyarakat, pegawai kantor pajak memang kaya-kaya. Rumahnya banyak, tanah bertebaran, mobil gonta ganti, jalan-jalan ke luar negeri, belum lagi barang elektronik yang dibeli ibarat beli semangkuk bakso.

Aku? Rumah masih mengontrak, mobil belum punya. Miskinkah aku? Kalau tolok ukurnya harta benda, mungkin ya. Tapi jika dilihat lebih jauh lagi, aku sangat kaya! Bayangkan, aku punya 4 orang anak yang sehat yang hingga kini masih diberikan oleh Allah SWT nikmat kebugaran dan kecerdasan. Ibuku pernah berpesan,”…suami kamu pegawai negeri. Nggak usah ngiler lihat punya orang lain. Yang penting investasi ke anak berupa kesehatan dan pendidikan. Kelak, anakmu itu yang akan menggantikan peran orangtuanya.” Selama 15 tahun menikah kami memang berpindah tempat beebrapa kali. Pertama kali di Medan sekitar tahun 1994-1998. Lalu suamiku ikut pendidikan ajun khusus akuntan di Jurangmangu, ditempatkan berikutnya di Yogyakarta. Kami tinggal di Yogyakarta kurang lebih 1 ½ tahun. Selanjutnya suamiku diterima pendidikan DIV di STAN, aku ikut pindah ke Jakarta. Usai pendidikan, berikutnya lalu penempatan di Tegal. Setelah 4 tahun di Tegal, kami pindah agi ke Surabaya sebab suamiku dimutasikan ke KPP Jagir Wonokromo. Kalau dihitung-hitung 5 kali kami boyongan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika tabungan mulai terkumpul, kami harus pindah ke tempat lain yang notabene menghabiskan banyak biaya. Biaya pindah rumah, pindah sekolah anak-anak, rumah kontrakan baru, dan biaya tetek bengek yang lain. Maka dari itu, jika dilihat dari kepemilikan harta kami nyaris tak punya apa-apa.

 Tetapi Alhamdulillah, Allah SWT memberikan 4 anak yang merupakan harta luarbiasa. Membesarkan anak itu bukan perkara murah lho. Mobil dan rumah mungkin bisa dibeli dengan tabungan 300-500 juta. Tapi anak butuh ’harga’ yang lebih dari itu. Biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya rekreasi, biaya pulang kampung, biaya baju-baju dsb yang tujuan utamanya meng up grade anak-anak agar kelak siap jadi generasi platinum. Begitulah, aku menganggap keluarga kami tak punya banyak harta.

 Tapi…. pas pindah rumah kontrakan baru, kok barangku buaaanyaakkk ya? Apa saja sih harta bendaku? Selain barang rumah tangga ala kadarnya, televisi sudah rusak tombolnya karena dipencet-pencet puluhan kali dalam sehari, VCD player, mesin cuci yang sudah usang, kulkas yang pintu freezernya ambrol akibat banyak tangan buka-tutup-buka-tutup. Dua sepeda motor, empat sepeda mini, mainan dinosaurus, laptop yang menemaniku sekian lama untuk menghasilkan karya-karya tulis. Meja, lemari, kursi, warisan dari orangtua. Baju-baju dan of course, buku-buku yang kami kumpulkan bertahun-tahun. tetapi yang membautku surprised adalah puluhan kotak yang berjajar bertumpuk di teras rumah menjelang kami move ke rumah baru. Ternyata, puluhan kotak-kotak yang membuat para tukang capek bukan main itu isinya adalah…..koran!! Yup, betul sekali. Sudah bertahun-tahun aku begitu mencintai dunia kliping mengkliping yang seolah tak tergantikan oleh kemudahan internet. Mengumpulkan berita hari demi hari membutuhkan kesabaran dan ketelitian tersendiri, dan hobbi yang mengasyikkan. Inilah berita yang kukliping sejak tahun 2000an :

1. Dunia Islam . Aku punya kliping banyak tentang Afghanistan, Iran Irak, Chechnya dan tentu saja…Palestina. Bahkan kukumpulkan berita dari beragam koran saat Israel menginvasi Palestina, berikut foto-foto dramatis yang membuatku bisa menangis. begitupun ketika Amerika menginvasi Afghanistan, Chechnya ketika berjuang melawan Rusia. Kliping ini mendasari kisah epikku ”Kamerad Mikail” dan ”Di Ujung Kota Jerash.” Kronologis pembunuhan Benazir Bhutto pun aku punya.

2. Berita Internasional Berita ini bermacam-macam. Kukumpulkan yang kuanggap menarik seperti hubungan bilateral antar negara, peristiwa-peristiwa perang, kejadian yang penting bagi sebuah negara seperti krisis ekonomi dan persaingan Obama Mc Cain di masa pemilu AS yang lalu. Tak lupa perjalanan wisata mancanegara mulai Petra, Vatikan, Den Haag hingga Mesir dll.

3. Berita Dalam Negeri Antasari, PSK, dunia pesantren, tsunami Aceh, Situ Gintung…warna-warni Indonesia. Tak lupa tempat-tempat indah di Indonesia seperti Lombok, Pulau Seribu. Rubrik Wisata atau Perjalanan di akhir pekan akan kusisihkan sebagai bahan tambahan referensi cerita, atau jika suatu saat nanti aku berkesempatan berkunjung ke luar negeri 

4. Kesehatan Ada koran yang menyuguhkan rubrik medika secara khusus, ada yang tergabung dalam rubrik iptek. Dari sini aku mengumpulkan artikel tentang lupus, sindrom kawasaki, kusta, alergi termasuk penemuan-penemuan terbaru di dunia paramedis.

5. Ilmu Pengetahuan Rubrik kecil Geoweek di akhir pekan rajin kukumpulkan. Beritanya singkat dengan gambar yang berwarna warni, menambah kahzanah pengetahuan. Artikel tentang atom ’partikel Tuhan’ hingga penemuan planet2 baru dan dunia jauh di luar tata surya termasuk artikel yang kugemari.

6. Keluarga Tips tentang karier, bagaimana menjadi orangtua yang baik, bagaimana menata rumah, memilih perabot (sekalipun belum bisa kubeli), resep-resep tradisional dan modern juga kusisihkan. Rubrik Muda dan Anak-anak yang berwarna-warni juga bagus untuk dibaca anakku atau aku sendiri

7. Kartun –kartun : Beni & Mice, kartun Suroboyoan dengan bahasa-bahasa unik (cak, ae, lapo, gak, mari),dsb.

8. Sastra meliputi cerpen, cerita bersambung, puisi-puisi, kritik dan artikel sastra.

9. Dan…..favorit klipingku adalah :

 Dialog Jumat ( Republika)

 Khazanah yang banyak mengupas ilmuwan muslim(Republika)

 Islamic Digest (Republika)

 Fokus dan Teropong (Kompas)

  Kehidupan (Kompas)

 Khusus Deteksi(Jawa Pos) dikliping anak gadisku Inilah harta berhargaku yang membuat rumahku penuh dan para tukang ngos-ngosan ketika pindah rumah! Jumlahnya sekitar 25 kardus!

 

Sedang bersiap untuk pindah rumah. Masih… Juli 4, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sintayudisia @ 12:57 am
Tags:

Sedang bersiap untuk pindah rumah. Masih kontrakan juga. semoga lebih barakah karena di depan masjid, lebih mudah menyuruh anak-anakku pergi ke sana

 

Bolehkah siswa SD dan SMP membaca The Road to The Empire? Juli 2, 2009

            Ketika beberapa waktu yang lalu JSIT SMPIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu- Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) se Jawa Timur akan menggelar olimpiade dengan salah cabang lomba “ lomba resensi” , panitia dan para guru bertanya-tanya apakah buku yang pantas dihadirkan untuk dibaca oleh para siswa SMP?

            Saya sendiri bukan panitia, tentu saja.

            Lalu seorang panitia menghubungi , menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah seorang juri resensi novel TRTE- The Road to The Empire . Tentu saja senang dan gembira novel tersebut akan diapresiasi. Tetapi beberapa waktu kemudian muncul keraguan, beberapa guru protes dengan muatan TRTE : apakah novel tersebut pantas untuk anak SMP?

            Penasaran dengan ’protes’ para guru, saya memburu teman FLP yang betul-betul anak sastra UNAIR . Kebetulan ia juga menjabat sebagai ketua FLP Surabaya, namanya Aferu Fajar Nadhari. Dengan Veroe –sapaan akrabnya-, saya banyak berdiskusi.

            Di luar negeri, novel sejarah ternyata dibaca bukan hanya oleh orang dewasa dan para peminat sastra saja. Remaja pun banyak menyukai genre fiksi ini, bahkan, anak-anak SD pun terbiasa membaca novel sejarah.

            Masa sih?

            Saya cari di internet memang belum menemukan jawaban pasti. Tetapi tentang minat baca bangsa Indonesia terutama anak-anak & remaja memang sangat memprihatinkan.

Secara membanggakan , Indonesia  dianggap menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Masyarakat di negara-negara maju,  kegiatan membaca sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

            Kembali pada novel sejarah, bolehkan siswa SD membaca The Road to The Empire? Semua tergantung dari pihak orangtua. Memang ada bagian yang kurang pantas diketahui anak-anak seperti ketika Arghun menodai Almamuchi sekalipun, saya pribadi mencoba sehalus mungkin menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut.

            Lalu kenapa harus terselip kasus penodaan?

            Jika kita membicarakan peristiwa perang yang kejam, maka disitu selalui disertai pelecehan terhadap anak-anak dan perempuan. Kasus Bosnia, Chechnya, Palestina, Vietnam dan masih banyak lagi gambaran peristiwa peperangan di dunia selalu diiringi pelecehan seksual. Bahkan di film Turtles Can Fly, peristiwa penodaan tersebut demikian tragisnya hingga si korban pada akhirnya memutuskan untuk commit suicide, meninggalkan bayi dan kakaknya yang cacat.

            Dalam TRTE tentu saya usahakan peristiwa itu muncul sehalus mungkin, bukan karena target pembacanya anak-anak & remaja, tetapi karena sebagai penulis saya merasa bertanggung jawab secara moril untuk tidak makin ’menjerumuskan’ tetapi ’mencerahkan’.

            Kalau dirasa anak SD belum mampu membaca TRTE, silakan saja dilewati. Tapi alangkah bagusnya jika para orangtua membaca dan kemudian menceritakannya dalam bentuk dongeng sebelum tidur. Menurut Kak Seto Mulyadi, saatnya kini para orang tua perlu memainkan peran untuk menumbuhkan kembali minat baca pada anak-anak.Caranya bisa dengan membacakan cerita dongeng kepada anak-anak baik pada saat menjelang tidur, atau pada waktu senggang. Menurut praktisi ’home schooling’ yang juga Ketua Umum Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia) ini, bercerita atau membacakan buku cerita untuk anak memiliki banyak manfaat.

Manfaat tersebut, di antaranya meningkatkan kemampuan konseptual, mendengar, berbahasa, berkomunikasi verbal dan memecahkan masalah.

Mengapa bacakan cerita sangat efektif ?

Otak manusia merupakan organ tubuh yang dipakai untuk belajar. Pondasi yang terbaik untuk belajar membaca adalah kata. Kata-kata merupakan materi yang penting dalam belajar membaca. Dua cara efisien untuk memasukkan kata-kata kedalam otak adalah melalui mata dan melalui telinga. Diperlukan waktu lebih lama oleh mata untuk bisa pergunakan membaca oleh anak, tetapi telinga dapat lebih cepat dipergunakan untuk membentuk pondasi belajar membaca.

Apa yang kita perdengarkan ditelinga anak berubah menjadi pondasi terbentuknya otak seorang anak. Deretan suara-suara yang mengandung arti yang masuk melalui telinga kecil seorang anak ternyata dapat membantu anak merangkai kata-kata yang dilihat kemudian hari ketika anak belajar membaca.

Alasan perlunya membacakan anak cerita sama dengan sama dengan alasan mengapa kita harus berkomunikasi dengan anak, yaitu to reassure, untuk mendekatkan diri dengan anak, untuk menghibur, untuk memberi informasi dan menerangkan, untuk meningkatkan keinginan tahu dan menginspirasi anak. Dengan membacakan cerita, anak juga memperoleh :
- Asosiasi membaca dengan hal-hal yang menyenangkan
- Pengetahuan
- Tambahan perbendaharaan kata
- Role model

Jika anak-anak kita yang masih SD tidak diperkenankan membaca langsung TRTE, saran dari kak Seto dapat digunakan. Menceritakan para pejuang Islam yang heroik, tak mudah patah semangat, berbudi luhur, berbakti pada orangtua dan mencintai sesama adalah nilai yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sedari bayi hingga kelak mereka dewasa nanti. Menceritakan bagaimana pahit perihnya Takudar menjalani hidup yang semula bergelimang kemewahan lalu kemudian harus hidup dalam kesulitan, semoga tertanam dalam benak anak-anak kita bahwa demikianlah hidup. Suatu masa gemerlap, suatu masa gelap. Anak-anak harus dikokohkan bahwa bagaimanapun besar badai menghadang, mereka harus tetap berada di jalan kebenaran.

Bagaimana dengan anak-anak SMP?

            JSIT SMPIT telah membuktikan bahwa anak-anak SMP ternyata bisa mengabsorpsi cerita sejarah dengan baik. Bukan hanya diminta meresensi, dalam babak final pun mereka diminta untuk tampil ke depan membawakan makalahnya disertai tanya jawab. Dengan tangkas mereka menjawab pertanyaan undian dari para juri yang menanyakan :

  • Siapakan Arghun?
  • Bagaimanakah sumpah Anda?
  • Dimanakah pertempuran antara Takudar dan Buzun?
  • Siapakah para sahabat Takudar, dsb.

Sempat timbul rasa was-was dari para juri –termasuk saya- jangan-jangan yang membaca gurunya, yang membuatkan makalahnya juga gurunya!

Setelah maju dan tampil ke depan, pertanyaan undian yang dipilih secara acak, tampaklah bahwa para siswa itu membaca betul-betul TRTE dari awal sampai usai. Ketika ditanya berapa lama mereka membacanya? Rata-rata menjawab : 5 hari!

Alhamdulillah. Semoga kegemaran dan semangat para siswa SMPIT di Jawa Timur yang mau melalap novel bergenre sejarah menandakan bahwa remaja kita sudah menyukai dunia literasi.

 

Lomba Resensi The Road to The Empire diundur 20 Juli 2009!Bersiap menanti Takudar yang berikut… Juni 30, 2009

Diarsipkan di bawah: Jurnal Harian, Karyaku, Kepenulisan, Lomba Resensi The Road to The Empire — sintayudisia @ 8:00 am

Lomba resensi yang seharusnya ditutup 30 Juni 2009 diperpanjang hingga 20 Juli 2009 . Diharapkan mereka yang mungkin ingin ikut tapi masih takut-takut, ingin ikut tapi belum dapat bukunya dapat punya waktu menarik nafas untuk kemudian bersiap mengikuti lomba. 

Banyak yang bertanya, nantinya Takudar itu akan menikahi siapa sih? Almamuchi, Karadiza, Tien Nien? Atau jangan-jangan malah menikahi Qaratai & Juz Jani?

Salah satu keuntungan penulis, dia bebas menentukan karakter dan jalan cerita tokohnya :-) . Tetapi tentunya penulis tidak asal begitu saja menentukan nasib cerita pelaku. Saya pribadi nggak suka dengan gaya cerita Cinderella, sang pangeran tampan bertemu puteri cantik lalu hidup happily ever after. Memang sih di tengah masyarakata senang melihat pemuda tampan berjodoh dengan gadis cantik, tapi begitukah hidup selamanya?

Bukankah ada Manohara yang cantik tapi berakhir duka?

Bukankah ada pesta meriah milyaran rupiah bak raja ratu tetapi kandas dalam keperihan?

Kadangkala seorang pangeran bahagia dalam pelukan perempuan sederhana ataupun perempuan cantik justru bahagia didampingi lelaki bersahaja yang sederhana, tak punya apa-apa. Sebab cinta tidak berbanding lurus dengan harta, tahta, fisik semata. Cinta juga tidak berbanding terbalik dengan kekayaan dan kekuasaan. Demikian kata pujangga tentang cinta :

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan. (‘Ali Ahmad Sa’id-Anonis)

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku”  (Ibn Arabi)

Tapi kisah tentang takudar bukan hanya berisi kisah romantisme cinta.

Takudar juga perjuangan, keperihan pengorbanan, fitnah, kesendirian dan kesepian, beratnya duduk di atas puncak kedudukan manusia. Tetapi aku juga ingin menuliskan tetnang makna persaudaraan yang tidak hanya diikat oleh darah dan sumpah “Anda”, persudaraan yang diikat oleh cita-cita mulia dan kesamaan sudut pandang. Aku ingin mengungkapkan bahwa di belantara manusia yang kadang lebih jahat dan kejam dari iblis sendiri, masih ditemukan manusia berhati luhur yang siap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

 

Apa yang diberikan Ustadz Fathi Yakan padaku? Juni 15, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Oase — sintayudisia @ 7:40 am

Fathi Yakan 1   fathi yakan

Apa yang diberikan Fathi Yakan padaku?

 

 

Suatu hari, saat di Medan tahun sekitar tahun 1996…..

Aku mengikuti suami yang ditempatkan di Medan usai lulus DIII Program Diploma STAN. Saat itu kami masih keluarga muda, aku tengah hamil anak pertama. Kami masih kurang pengalaman, masih sangat kurang pengetahuan kecuali semangat da’wah menggebu yang kami bawa sejak masih duduk di bangku kuliah di STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jurangmangu.

Shock Culture, mungkin begitu istilahnya.

Terkaget-kaget menemui orang Medan yang beraneka ragam : Batak, Melayu, Cina, India, Jawa-keturunan. Budaya kami bertolak belakang. Orang-orang Medan yang terbiasa berbicara keras hingga terdengar dari jarak beberapa meter (bahkan dari balik dinding rumah) berbeda dengan kami orang Jawa yang terbiasa alon-alon berbicara dengan lemah lembut, halus, berbicara dengan struktur kromo inggil.

Alhamdulillah kami diterima oleh masyarakat Medan. Waktu itu kami mengontrak di wilayah Tanjung Sari. Banyak hal yang membuat kami geli akibat bahasa yang sering tidak nyambung, bahasa Medan yang sedikit berbeda dengan bahasa kami sehari hari. Misalnya titi = jembatan, kereta = sepeda motor, kusuk = urut, tukang kusuk = tukang urut, semalam = kemarin, pusing = berkeliling, pajak = pasar.

”Suami bu Sinta kerja dimana?”

”Di pajak, bu.”

Mereka bayangkan suamiku bekerja sebagai penarik upeti atau tenaga kerja di pasar!

Pernah suatu ketika temaku mencari rumah kenalannya, ia bertanya kepada orang Medan dan menunjukkan alamt yang tertera.

”Oh, rumahnya di sebelah titi.”

Temanku mencari-cari mana sih orang yang bernama titi, ternyata titi itu jembatan!

“Bu Sinta belum punya kereta sendiri ya?”

Ya iyalah, mana sanggup aku beli kereta, kupikir kereta api. Waktu itu aku belum punya sepeda motor sehingga kalau ada keperluan sering pinjam ke teman sepeda motor roda dua, ternyata kereta itu bahasa lain untuk sepeda motor, maka timbul anekdot di Medan : kalau di Medan kereta tabrakan sama mobil, keretanya yang penyok.

 

Aku bahagia di Medan. Saudara kami banyak sekali, saudara dalam pengertian seaqidah dan seperjuangan da’wah. Kalau saudara sedarah tak ada sama sekali.

 

Tetapi kamipun pernah mengalami hari-hari menegangkan dan menyedihkan.

Entah mengapa, suatu ketika semua tetangga memusuhiku. Mereka diam, acuh tak acuh, memalingkan muka. Bahkan ketika aku mengajak bicara mereka seperti enggan dan sinis. Terbayang rasa tak nyamannya kan? Di tanah seberang, sendiri, jauh dari orangtua dan sanak saudara, tiba-tiba kami tak punya tetangga seorangpun yang mau menyapa. rasanya ingin melarikan diri saja. Tidak enak ketika berjalan atau belanja tak seorangpun menganggap kami ada.

 

Lalu datanglah seorang kawan bernama mbak Rita Pasaribu. Aku masih ingat senyum, wajah, gaya berpakaian dan caranya bicara. Subhanallah, temanku yang satu ini luarbiasa (semoga kau membaca tulisanku ini).

Mbak Rita berkunjung ke rumah, memberiku hadiah sepiring combro, singkong parut berisi adonan tempe yang pedas. Sembari berkunjung mbak Rita menyinggung masalah sikap tetangga yang sinis padaku, dengan hati-hati ia mengutarakan isi pikirannya.

”Bu Sinta pernah baca salah satu bukunya Fathi Yakan yang mengupas bab da’wah?”

Aku mengangguk sekalipun lupa kapan dan dimana, pun aku belum menangkap maksud mbak Rita yang sesungguhnya.

”Di buku itu ustadz Fathi Yakan memberi nasehat, intinya, dakwah itu disampaikan untuk kalangan intern dan ekstern. Intern ya orangtua, saudara, teman-teman, dsb. Ekstern untuk orang-orang di luar kita yang belum terlalu dikenal. Salah satunya tetangga. Tahu apa kunci dakwah ekstern?”

Aku menggeleng tak yakin.

”Kuncinya,” mbak Rita menambahkan,” orang harus ramah. Super ramah. Orang-orang di sini menganggap bu Sinta yang pendiam sebagai sombong.”

MasyaAllah.

Aku tersadar tiba-tiba.

Standarku sebagai orang Jawa adalah berbicara pelan, menahan diri, tak banyak tertawa, tersenyum simpul, banyak berbasa basi. Sementara orang Medan yang sebagian besar Batak sangat ekstrovert. Ketika mereka bertemu teman di kejauhan pun sudah berteriak-teriak, terkadang berbicara dari jarak jauh. Rupanya aku harus menyesuaikan diri.

”Woooiiii…..Buuuu!!!Apa kabar? Kemana semalam??? Ke pajak pagi? Pake sodako atau keretaaaa…??!!”

 

Begitulah.

Aku lalu silaturrahim ke tetangga. Meminta maaf pada mereka bahwa aku sering berdiam diri (padahal maksudku saat itu aku ingin bersikap sesopan mungkin, tidak berani gegabah bertindak dan berbicara, takut salah ucap) ternyata mereka lebih menyukai suasana keterbukaan dan kehangatan. Spontanitas. Kedekatan. Tak pakai basa basi. Ya bilang ya. Tidak bilang tidak. Sehingga jika kita bertemu orang Medan yang cemberut, memang begitulah suasana hatinya. Kalau mereka baik dan menganggap kita saudara memang itu kejujuran hati dan bukan sekedar basa basi.

 

Sejak saat itu, ungkapan bahwa ustadz Fathi Yakan memberikan nasehat bahwa da’wah ekstern sama dengan bersikap super ramah selalu melekat di benak dan ucapanku. Aku terbiasa tersenyum pada banyak orang terutama gerombolan ibu-ibu, menyapa orang yang kukenal di jalan , menyapa anak kecil yang lewat, menyapa tukang sayur dan tukang sampah, berbincang dengan tukang air dan tukang koran, berbincang dengan satpam . Aku bisa banyak diskusi dengan tukang becak, supir taksi, tukang parkir, adik-adik kampus.

 

Ustadz Fathi Yakan…sedikit ucapanmu mengubah cara da’wah dan hidupku.

Kau mungkin tak mengenalku tapi percayalah, aku tahu betul raut wajahmu yang penuh ghiroh namun meneduhkan. Minggu, 14 Juni 2009 kudengar kabar kepulanganmu menuju haribaan Ilahi. Ustadz yang menyampaikan berita itu menitikkan airmata, begitupun aku. Aku mencintaimu, mencintai da’wah yang kau serukan, mencintai caramu mengajak ummat pada kebaikan .

Aku berharap suatu masa nanti akan dipertemukan dengamu, dengan Hasan al Banna, dengan Sayyaid Quthb, dengan para salafus sholih. Aku berharap rasulullah Saw pun akan menyebut namamu sebagai salah seorang ummatnya.

 

Selamat jalan, ustadzku. Ustadz kami semua, ustadz milik semua golongan kaum muslimin yang saat ini terpecah belah oleh beragam fikroh.

Semoga tempatmu digantikan oleh orang lain yang lebih baik, lebih sholih, lebih faqih, lebih muharrik, lebih bijak. Semoga kedudukanmu tidak digantikan oleh ulama yang jauh dari agama.

 

Cintaku, cinta kami untukmu. Untuk seluruh ulama dan pejuang da’wah. Untuk seluruh kaum muslimin yang kami cintai, untuk seluruh generasi Robbani yang akan menjadikan bumi ini lebih makmur dengan tegaknya kalimatullah.

 

2 HALAMAN yang LUARBIASA !! Juni 3, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, FLP, Jurnal Harian, Karyaku, Kepenulisan, Lomba Resensi The Road to The Empire — sintayudisia @ 8:52 pm

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

 

Novel The Road to The Empire : karya Terjemahan? Juni 3, 2009

Aku bertemu beberapa orang yang berpendapat, the Road to The Empire bukanlah karya asli orang Indonesia. Mereka terkaget-kaget ketika tahu bahwa penulisnya malah anak FLP (……tahu sendiri kan, FLP sering tidak dianggap menghasilkan karya sastra :-) ).

Lebih kaget lagi ketika kisah perang seperti itu ditulis oleh perempuan, berjilbab pula?…he…he… Waktu aku mengisi di Kampus UNTAG, mahasiswi di sana tidak percaya yang menulis The Road to The Empire itu aku….aduh, bagaimana membuktikannya?:-)

Kiai Faizi dai AnNuqoyah , Guluk-guluk, Sumenep yang membedah bukuku di Pamekasan beberapa waktu lalupun sempat tidak percaya aku yang menulis ceritanya. Sinta Yudisia dipikir bukan orang muslim juga, mirip-mirip nama agama Hindu (Waktu ibuku hamil memang sangat gandrung dengan Dewi Sintanya Ramayana. Bahkan katanya kalau tidak kesampaian akan diberi nama Sintosina-nama sejenis obat di masa itu karena ibuku seorang apoteker). Nama Sinta Yudisia memang terdengar kurang muslimah ya?

Untungnya setelah bertemu denganku Kiai Faizi yakin bahwa memang akulah yang menulisnya sebab aku bisa menyampaikan , kenapa aku terobsesi betul untuk menuliskan sejarah Mongolia beserta para bangsawannya yang pernah memeluk agama Islam. Moga-moga setelah ini , Insyaallah aku mau menulis Takudar yang berikutnya, orang-orang tidak meragukan lagi bahwa itu asli tulisanku. Sinta Yudisia. Orang asli Indonesia, muslimah berjilbab, anak FLP juga. Aku cinta sekali pada negeriku sehingga ingin menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi bangsa dan negaraku, juga agamaku :-)

Jangan lupa ikuti Lomba Resensi Novel TRTE!

 

Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty! Mei 31, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Karyaku, Kepenulisan, My campus — sintayudisia @ 3:52 am

DSC00200  DSC00205   DSC00209  DSC00202

 

Bedah Buku Bedah Buku Hi, Prettty : Cantik dalam 30 hari! Mei 31, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Karyaku, My campus, resep cantik Sinta — sintayudisia @ 3:26 am

Alhamdulillah tanggal 30 Mei kemarin aku diundang kampusku sendiri , UNTAG, oleh departemen keputrian untuk bedah buku Hi Pretty.

Sebetulnya aku diminta unutk mengisi tema kemuslimahan, apakah kecantikan itu? Sesuai buku Hi Pretty, cantik itu 3 B : Brain, Behaviour, Beauty. Perempuan di katakana cantik bukan karena fisiknya sekalipun fisik memang memegang peranan cukup penting dalam pergaulan sosial.

Beauty is a characteristic of a person, animal, place, object, or idea that provides a perceptual experience of pleasure, meaning, or satisfaction. Beauty is studied as part of aesthetics, sociology, social psychology, and culture. As a cultural creation, beauty has been extremely commercialized. An “ideal beauty” is an entity which is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.

Perlu digaris bawahi, bahwa kecantikan memang identik dengan kultur seseorang. Orang Eropa dikatakan cantik ketika ia berambut pirang, bertubuh tinggi, berhidung mancung. Orang Afrika dikatakan cantik bila bertubuh segar, bergigi putih, dengan rambut hitam keriting. Orang Asia (termasuk Indonesia) punya kecantikan khas berupa tubuh mungil, kulit kecoklatan (warna caramel lho, kata orang Perancis!), rambut hitam bergelombang, retina hitam. Orang Indonesia pastilah aneh bila berambut pirang, dengan retina biru, kulit diputihkan sementara kontur wajahnya (hidung, bibir, pipi, dsb) sangat Asia. Ketika sebuah produk kecantikan mau diluncurkan di Indonesia, mereka melakukan survey panjang. Setelah dirunut histories bangsa Indonesia yang telah dijajah Belanda 250 tahun, perempuan Indonesia yang merasa cantik hanya 1 %! Sisanya tidak merasa cantik dan ingin merubah seluruh penampilan mereka.

 Beauty is in the eye of the beholder The classical Koine Greek for beauty : the ripe of fruit

Orang Yunani kuno beranggapan cantik adalah seperti buah matang. Jadi gadis yang dalam keadaaan matang itulah masa tercantik. Sesungguhnya cantik adalah consensus, kesepakatan tidak tertulis, tidak dapat diklaim begitu saja oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa cantik haruslah puith, ramping, berhidung mancung.

 The characterization of a person as “beautiful”, whether on an individual basis or by community consensus, is often based on some combination of Inner Beauty, which includes psychological factors such as personality, intelligence, grace, congeniality, charm, integrity, congruity and elegance, and Outer Beauty, (i.e. physical attractiveness) which includes physical factors, such as health, youthfulness, sexiness, symmetry, averageness, and complexion.

Sekarang cantik sering dikaitkan dengan hal-hal komersial. Padahal kecantikan sesungguhnya adalah kecantikan yang memancarkan kelebihan seseorang apa adanya. Apa salahnya dengan seorang gadis yang bertubuh pendek, bulat, tetapi ia menguasai banyak bahasa? Apa salahnya dengan gadis berjerawat batu tapi ia sangat suka terjun di kegiatan sosial? Apa salahnya dengan gadis bertubuh ceking, berhidung pesek, berbibir ndower tapi punya kemampuan persuasif yang bagus sehingga bisa jadi psikolog handal, dimanapun orang merasa nyaman di dekatnya? Tentunya, bukan berarti kita mengabaikan masalah fisik. Seorang muslimah haruslah tampil segar, bersih, menarik, sehat. Merawat wajah dan tubuh harus dilakukan sebab tubuh yang fresh juga akan membawa percaya diri yang besar.

 Di buku Hi Pretty terselip pesan bahwa merawat kecantikan ala tradisional Indonesia yang murah meriah dapat dilakukan dan memperoleh hasil maksimal. Contoh : memutihkan kulit. Aku sendiri sudah mempraktekan dan hasilnya Subhanallah. Ambil bengkoang, parut, peras, endapkan. Pada endapannya yang berupa saripati seperti bedak dioleskan ke wajah dan leher. Rasanya dingin dan segar. Wajah jadi terlihat terang dan noda-noda pun menipis lalu hilang, ketika dilakukan berulang. Tomat pun begitu. Tiap kali mencuci tangan jadi keriput, kuoleskan tomat yang diremas-remas, kulit jadi segar dan halus sekali. Menjadi cantik tidak harus mengeluarkan biaya besar lho. Peserta menanyakan hal2 sebagai berikut : bagaimana bisa PD? bagaimana cara bergaul dengan cowok? bagaimana memasang foto di facebook? (…ada yang gak connect dengan materi memang :-) )

Masalah PD, kita bisa melihat di cermin apa kelebihan kita. Pasti ada! Yang namanya Sinta Yudisia itu berkulit gelap tapi punya lesung pipi (….haha). Tidak mungkin Allah SWT tak menitipkan satu potensi dalam diri kita, kan?

 

Suntik Kecantikan : kulit indah & mulus! Mei 21, 2009

Diarsipkan di bawah: Catatan Perjalanan, mother's corner, resep cantik Sinta — sintayudisia @ 6:13 pm
Tags:

Beberapa waktu yang lalu , teman-teman kampusku yang cantik, sexi dan muluuus banget kulitnya menawariku injeksi alias suntik untuk kecantikan. Macam-macam yang ditawarkan pihak penyedia : suntik silikon, whitening, serum C maupun  kolagen. Kata mereka : gak ada efek sampingnya! Suamiku nggak pernah nuntut macem-macem, tapi yang namanya perempuan ingin selalu mencoba. Wah, jangan-jangan aku jadi secantik temanku ya? Memang wajah dan bodinya mulus tanpa cela!

Untung, aku sempat menangguhkan keinginanku lalu mencari tahu dunia operasi plastik, implant dsb di internet. Aku banyak dapat info. Sedikit kusampaikan di bawah. Hati-hati ya!

 

 

Meski sudah banyak korban yang jatuh, orang ternyata belum jera juga untuk melakukan suntik silikon cair dan kolagen demi memburu kecantikan. Sebenarnya apa itu silikon cair dan kolagen serta bahayanya untuk anda ? Mungkin anda ingin terlihat cantik tetapi ternyata malah menjadi hancur. Karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada daerah yang ingin anda ubah.

Sebaiknya anda lebih berhati-hati lagi bila ingin terlihat cantik dengan mengubah bentuk tubuh seperti memancungkan hidung, mengisi dagu atau menghilangkan kerutan. Jika anda ingin melakukan hal tersebut, sebaiknya anda lakukan di dokter spesialis bedah plastik dan jangan ke salon kecantikan atau tempat praktek ilegal. Karena apapun yang disuntikkan ke dalam tubuh akan berdampak negatif atau positif. Sisi positif adalah diharapkan menjadi kenyataan tetapi sisi negatif reaksi yang timbul dapat berupa alergi atau salah lokasi penyuntikan sehingga menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.

Saat ini memang cukup banyak beautician atau ahli kecantikan dan dokter umum yang menjual jasa suntik silikon. Mereka mungkin bisa melakukan suntikan tapi mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan hasilnya. Pemerintah pun masih saja membiarkan orang-orang yang tidak punya hak untuk melakukan suntik silikon di berbagai salon.

Suntikan silikon di salon kecantikan, biasanya akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan pasien. Mungkin pasien tidak meninggal tapi hasilnya malah menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan seperti merah dan bengkak akibat suntikan tersebut. Akibatnya operasi tersebut dibongkar lagi dan diperbaiki sehingga anda dirugikan karena salon tersebut tidak mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi pada wajah anda.

Sebaliknya, kalaupun cairan yang disuntikkan itu benar kolagen maka dokter tidak akan menyuntikkannya ke payudara. Kolagen lebih cocok untuk jaringan kulit, bukan pada jaringan lemak. Sedangkan payudara itu sendiri terdiri dari jaringan lemak.

Pada payudara juga terdapat banyak pembuluh darah besar atau vena sehingga zat yang disuntikkan bisa langsung menerobos pembuluh darah dan menyumbat pembuluh darah. Sehingga tidak ada dokter yang mau menyuntik payudara dengan kolagen. Cara yang paling aman adalah melalui operasi dengan memasukkan kantung silikon jeli. Ini lebih mudah dikeluarkan jika ada masalah seperti reaksi alergi.

Oleh sebab itu anda harus dicek, apa betul cairan yang disuntikkan itu kolagen. Apalagi, kolagen yang asli harganya cukup mahal. Satu cc harganya bisa mencapai 80 hingga 100 dolar AS. Padahal, untuk memperbesar payudara diperlukan cairan kolagen sebanyak 200 cc, yang artinya perlu dana sekitar 40 ribu dolar atau sekitar Rp 360 juta. Dalam pemakaian yang cukup besar, tentu saja harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, kolagen biasanya dipakai untuk mengatasi kerutan kulit bukan untuk memperbesar payudara.

Selain mahal, kolagen juga memerlukan tempat penyimpanan khusus, yaitu pada suhu rendah dan konstan. Ini membuat banyak rumah sakit tidak sanggup menyediakan stok kolagen cair bagi pasien. Alhasil, untuk memberikan pelayanan suntikan kolagen tidaklah mudah dan murah.

Padahal banyak perempuan yang minta dibesarkan payudaranya dengan suntikan di salon kecantikan karena lebih murah, cepat dan tanpa harus perlu tindakan operasi. Tindakan operasi merupakan sesuatu yang menakutkan meski sampai sekarang belum pernah ada orang yang meninggal gara-gara menjalani bedah plastik.

Kolagen memang lebih alami karena diambil dari tunjang hewan (sapi) yang diproses menjadi berbentuk cair dan digunakan menjadi pengisi atau menambah volume bagian tubuh yang kurang. Para dokter biasanya menggunakannya untuk mengatasi kerutan di kulit wajah dengan jalan disuntik agar lebih rata. Bahan dasar kolagen mirip jaringan tubuh manusia sehingga bila disuntikkan ke dalam tubuh, sebagian akan diserap oleh tubuh. Tetapi sebulan setelah disuntikkan anda perlu dievaluasi dan selama dipergunakan dengan baik, kolagen sebenarnya cukup aman untuk tubuh. Apakah anda masih tertarik untuk menjalani hal ini ?

Sekalipun banyak yang sukses dengan implant dan injeksi , tak sedikit yang gagal!

Knots Landing actress Joan Van Ark's attempts to hold back the years with cosmetic procedures appears to have backfired[6]   kor3_1111850c