Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Standar

Why- mengapa seseorang dapat menjadi gila?
Setelah sebelumnya membahas what-apa dan who-siapa saja yang dapat menderita skizofren, timbul pertanyaan mengapa seseorang dapat mengalami skizofren dan yang lainnya tidak? Toh ada orang yang kehilangan pekerjaan, ongkang-ongkang kaki, merokok, jalan-jalan dan tetap no problem meski menjadi beban keluarga. Ada orang yang kehilangan pacar, malah bangkit dan bolak balik pacaran serta memutuskan hubungan dengan enteng; sementara di sisi lain seorang gadis putus cinta sekali sudah berakhir di RSJ? Ada orang yang menderita diabetes mellitus , tetap optimis serta melakukan diet, kehidupan karier –cintanya berjalan begitu dinamisnya.
Mengapa terjadi skizofren?

1. Genogram : rantai faktor genetik.
Beberapa sifat kepribadian dibentuk oleh genetik, lalu dibentuk oleh pola asuh, lingkungan, gizi dst. Bila orangtua pendiam, anak-anaknya beberapa akan pendiam juga. Bila orangtua mudah cemas, anakpun demikian. Kakek nenek, ayah ibu, yang memiliki bakat skizofren akan menurunkan pula bakat tersebut pada anaknya (tentang bagaimana mengatasi, akan dibahas lebih lanjut, dilengkapi kisah-kisah sejati)

2. Batas kemampuan
Setiap orang memiliki nilai ambang.a_busy_street_by_kaipu-d4co80o
Ada orang yang sanggup makan cabai 10 dengan tahu goreng 1, tanpa kepedasan. Ada orang yang hanya makan cabai 1, sudah setengah mati pedasnya. Ada anak yang di-bully-ing tetap cuek, sekolah, asyik beraktivitas sendiri. Ada anak yang dua hari saja bermusuhan dengan sahabatnya (padahal masih banyak teman yang lain) rasanya sempit dunia. Ada orang yang tidak punya uang tetap bisa menikmati suasana, ada orang yang begitu uang di dompet tinggal 100 ribu, cemas bukan main.

Masing-masing orang memiliki nilai ambang.
Rumitnya, fisik dapat terlihat. Semisal tensi tiba-tiba naik, orang mudah menyesuaikan diri dengan diet garam, misalnya. Lalu kapan kita tahu, bahwa rutinitas sehari-hari yang tampaknya sepele ternyata menggerogoti kemampuan jiwa untuk bertahan?
Kemarahan yang mudah meledak akibat hal sepele, insomnia berhari-hari, cemas berlebihan, gemetar bila menahan emosi adalah sedikit ciri-ciri bahwa psikis mulai harus diberikan kelonggaran.

3. Tidak ada dukungan
Menanggung segala beban sendiri, tampaknya menjadi keharusan yang dipikul masyarakat millenium dewasa ini. Saat ayah ibu sibuk dengan urusan pekerjaan, remaja yang tengah berkembang dalam ledakan hormonal dan emosi tak mendapatkan bahu sebagai tempat bersandar. Seorang ibu yang kelelahan dengan setumpuk kerjaan kantor dan rumah tangga, mendapati suaminya pun memiliki beban kerja yang tak kalah beratnya.
Situasi kota yang panas, padat, membuat orang bersegera ingin menyudahi urusan dan tak ingin terlibat masalah dengan banyak orang. Semakin sedikit menjalin pertemanan, semakin sedikit masalah. Tampaknya demikian. Padahal semakin sedikit berinteraksi dengan manusia lain, semakin rentan seseorang dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri.
lonely

4. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian A, B, C yang cenderung mengalami gangguan kepribadian menjadi salah satu penyebab munculnya skizofren. Sebagai contoh, tipe kepribadian A yang aneh dan eksentrik pada orang-orang yang paranoid terhadap sesuatu, membuat distorsi kognitif. Takut berbagi dengan orang lain, khawatir akan bocor, tersebar luas, alih-alih mendapat jalan keluar; akhirnya masalah hanya dipendam sendiri. Takut akan masa depan akibat pekerjaan yang belum tetap. Takut belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah matang.

Begitupun tipe B, salah satunya narsistik. Merasa bahwa dirinya yang paling unggul, paling cantik, paling pandai dan paling pantas terhadap posisi tertentu. Sehingga dalam ajang audisi kecantikan misalnya, bila peserta lain yang mendapatkan juara akan merasa juri tak adil. Atau merasa bila pekerjaan bukan dikerjaan oleh dirinya sendiri, akan berakhir berantakan.

Atau tipe C, salah satunya obsesif kompulsif. Tak pernah yakin, selalu ketakutan bila ada hal detail yang belum ditunaikan. Takut bahwa seantero warga kota pembawa kuman berbahaya sehingga jemari tangan dan seluruh badan mudah terkontaminasi, akibatnya menjaga kebersihan dengan sangat ekstrim.crying_face_by_angeli7-d68uvtn

5. Terlalu berlebihan
Terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, menjadi salah satu faktor pemicu. Baik terlalu mempermudah, atau melebih-lebihkan. Manusia memeiliki psikodinamika yang meliputi aspek emosi, kognisi, motivasi, sosial yang harus seimbang. Terlalu berlebihan menekankan pada salah satu akan menimbulkan kerapuhan disisi yang lain sehingga ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan oleh salah satu faktor, runtuhlah ketangguhan kepribadian.
Sebagai contoh, orang yang hanya mengedepankan aspek kognisi atau inteligensi, beranggapan semakin pandai, tinggi kedudukan seseorang; semakin kaya dan mudah hidupnya. Padahal dalam hidup banyak terjadi peristiwa tak terduga yang tak dapat diselesaikan dengan inteligensi. Orang sakit, tak akan banyak berfungsi inteligensinya, tetapi kehidupan sosial akan memberikan pengaruh. Bila kontak sosialnya baik, ia dijenguk, diringankan bebannya, insyaAllah akan segera sembuh.
Dalam usaha perekonomian misalnya, bukan hanya faktor relasi sosial dan inteligensi yang berpengaruh. Pasar banyak diatur oleh invisible hand, bila tiba-tiba collaps, maka aspek emosi yang berperan.

6. Nutrisi
Sebagian penyandang skizofren memang mengalami nutrisi yang kurang. Nutrisi ini bila dimulai sejak masa awal kehidupan, dapat mempengaruhi inteligensi dan kondisi syaraf-syaraf otaknya. Pasien-pasien di bangsal seringkali berasal dari wilayah-wilayah yang tandus, mengalami malnutrisi sejak masa pertumbuhan dan dilanjutkan dengan kesehatan yang serampangan di masa dewasa.

7. Inteligensi
Inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu, namun turut menyumbang dalam kasus skizofren. Pengidap skizofren umumnya memiliki inteligensi di bawah rata-rata meski akhir-akhir ini ditemui pula para sarjana, orang-orang dengan kecerdasan tinggi yang mengidap skizofren.
Mereka yang berinteligensi rendah, tak mampu mencari jalan keluar bila masalah menghadang. Saat dikeluarkan dari pekerjaan, berpikir bahwa pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan pendapatan. Padahal, dengan mengandalkan kecerdasan yang dikaruniakan Allah berapapun skornya, skill dan aspek-aspek yang lain, insyaAllah selalu tersedia rizki.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (1)

Standar

Seribu satu rasa saat menghadapi pasien-pasien dengan derajat kegilaan beragam : tertawa geli, sedih, prihatin dan berujung pada perenungan. Betapa bersyukurnya kita hingga detik ini dikaruniai Allah SWT kesehatan fisik dan mental yang utuh hingga tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan bahagia.Pro kontra tentang penyakit mental yang satu ini akan selalu ada. Tulisan ini hanya sekedar informasi, pengamatan, dan perenungan bagi kita semua.

Schizophrenia_by_cikolatali_waffle

Hingga kini, para ahli masih terus meneliti sebab dan terapi bagi penyandang skizofren. Masyarakat yang memiliki kerabat skizofren pun menangani dengan beragam cara : ruqyah, medis, ditelantarkan atau bahkan, dipasung. Untuk yang terakhir ini, masih ditemui orang-orang yang dipasung keluarganya dari 7, 12 hingga…20 tahun! Bila ditemukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, pasien pasung ini segera dirujuk ke Puskesmas terdekat lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Menghadapi pasien ex pasung sungguh memilukan hati. Mereka bisa buas, bagitu paranoia hingga disapa pun segera melompat melarikan diri, diam seribu basa seribu tindakan tanpa mau bereaksi, atau bahkan harus menjalani terapi jalan sebab mereka lupa rasanya bagaimana menjadi makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dapat bergerak dengan dua ekstrimitas bawah.
Skizofren disebut sebagai severe mental illnes, penyakit mental paling parah.
Ditandai dengan pecahnya kepribadian dan hilangnya reality testing ability, kemampuan untuk berpijak pada realitas. Penderita menjadi demikian impulsif, agresif, mudah mengamuk, dapat melukai orang-orang disekitar atau bahkan melukai diri sendiri. Bila kita salah menangkap maksud mereka, tak jarang mereka tiba-tiba menjadi demikian bertegangan tinggi. Mereka tidak mampu membedakan realitas kehidupan, apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar istrinya berselingkuh atau sebetulnya tengah pergi ke pasar. Apakah orang-orang tengah bercakap atau tengah membicarakan diri mereka, apakah anak-anak mereka sedang bermain atau tengah menggenggam pisau. Dan umumnya penderita mengatakan, “saya sehat! Kenapa harus dibawa kesini??!”

Satu ciri khas penderita skizofren : waham dan halusinasi.
Penderita skizofren umumnya mengalami waham, seperti merasa menjadi utusan Tuhan, menjadi Nabi, diberikan bisikan ghaib untuk melakukan tugas tertentu. Hal ini terkait pula dengan halusinasi, baik halusinasi auditori atau halusinasi visual. Halusinasi auditori, berarti penderita mendengar bisikan-bisikan ghaib untuk melakukan sesuatu. Bahayanya, bila bisikan ini memerintahkan mereka untuk bunuh diri atau membunuh anggota keluarga. Halusinasi visual, bila penderita merasa melihat bayangan-bayangan melintas, yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.
Pengalaman di bawah, mungkin dapat memberikan gambaran.
Seorang lelaki usia matang, mendatangi saya. Wajahnya santun, tubuhnya bersih, wajahnya tersenyum. Ia menyapa saya, dan kami bertukar nama.

“Saya tuh nggak papa mbak, sehat begini. Mbak bisa bayangkan, saya dibawa kemari hari Jumat. Pas saya mau adzan sholat Jumat. Saya sudah pakai sarung, pakai baju koko. Tahu-tahu di tengah adzan saya ditangkap begitu saja…masyaAllah! Benar-benar gak tau aturan, saya mau sholat…”
Bila hanya percakapan di penggal di sini, kita akan menyatakan penjemput adalah orang-orang tak beradab. Namun, ketika percakapan mengalir, barulah kita sadar bahwa ucapan penderita boleh jadi bias.
“Kita ini dikelilingi setan, Mbak.”
Hm, benar kan yang dikatakan bapak tersebut?
“Kita dikelilingi makhluk ghaib. Saya sering melihat makhluk ghaib dimana-mana. Di jalan, di kantor, di ruangan.”
Kita bahkan dapat menyangka bahwa si bapak terkena gangguan jin!
“Apa yang Bapak lakukan bila melihat makhluk ghaib?”
“Saya hancurkan, Mbak! Saya bisa menghancurkan makhluk ghaib.”
“Wah, hebat Pak! Bagaimana caranya?” saya tanya lagi.
“Dengan tangan kosong saja. Dipukul begitu saja. Baru-baru ini saya menghancurkan makhluk ghaib, berupa batu hitam bundar yang ada di dalam beton. Betonnya hancur Mbak!”
Barulah bila diamati, sekujur tangan dan kaki bapak tersebut bengkak, dihiasi luka-luka menganga yang mulai mengering.
“Banyak setam dimana-dimana. Di ruangan ini pun ada.”
“Ohya, dimana Pak?”
“Lihat! Saya paling ndak suka lantai warna hitam. Kenapa rumah sakit ini lantainya putih dan hitam. Yang hitam itu ada setannya.”
Saya mencoba mendengarkan kisahnya yang terus berputar sektiar makhluk ghaib.
“Mbak, saya begini ini karena dibuat orang. Ibu saya yang nyantet saya!”

Begitulah.
Waham, halusinasi, delusi, campur aduk menjadi satu.
Melalui observasi dan wawancara, sesungguhnya kita dapat membedakan mana orang yang masih mampu membedakan realitas dan sesuatu yang abstrak atau orang yang sudah tak mampu membedakan keduanya.

What : apa Skizofren itu?
Skizofren adalah penyakit jiwa yang parah, ditandai dengan pecahnya kepribadian, ketidak mampuan menangkap realitas dan ditandai dengan gejala waham, delusi, halusinasi.
Berhati-hatilah menyebut seseorang sebagai penderita ketidakwarasan atau gila, sebab stigma ini acapkali menempel seumur hidup.
Hanya karena seseorang mengamuk, membanting handphone, memecahkan piring, mencaci maki dengan umpatan –misuh, kata orang Jawa- , ngomel panjang pendek, ngomong-ngomong sendiri; atau bahkan ketika seseorang merasa melihat dan mendengar makhluk ghaib; kita lantas mencapkan penderita skizofren.
Siapa di antara kita yang belum pernah marah teramat sangat?
Mungkin, di puncak amarah akibat bertengkar dengan saudara, suami, atau rekan/atasan kerja; saking tidak mampunya mengatasi keruwetan pikiran, kita memecahkan apapun untuk melampiaskan kemarahan. Tentu, ini bukan solusi terbaik namun perilaku marah kelewat batas bukan satu-satunya tanda kegilaan.
Acapkali skizofren dan depresi tercampur aduk, sebab simptomnya mirip satu sama lain.
Yang perlu dipahami, waspadai gejala halusinasi yang berkepanjangan.
1504519shutterstock-96229181780x390
Tentang bagaimana menangani waham, halusinasi atau delusi, akan dibahas lebih lanjut dalam how atau bagaimana.
Skizofren terdiri dari beberapa jenis :
1. Skizofren katatonik – mematung
2. Skizofren hebefrenik – selalu bergerak, bericara, bertindak aktif
3. Skizofren paranoid – selalu ketakutan
4. Undifferentiated skizofren

Skizofrenia (Gila) : from What to How (2)

Standar

Who – siapa saja yang dapat menderita Skizofrenia?
Umumnya, pertanyaan yang kerapkali diajukan terhadap penderita adalah :
• Adakah keluarga yang mengidap penyakit skizofren sebelumnya?
• Apa yang dialami penderita selama ini, setidaknya 6 bulan terakhir?

Genogram
Biasanya, akan dirunut silsilah genetika. Adakah saudara sekandung yang mengalami hal sama? Beberapa kasus terjadi, bahkan kakak-adik di rawat secara bersamaan di RSJ. Genogram akan merunut hingga 3 tingkat.
Pertama, penderita dan saudara-saudara kandungnya.
Kedua, ayah ibu penderita, beserta saudara-saudara kandung ayah ibu.
Ketiga, kakek nenek penderita. Bila memungkinkan silsilah genetika saudara kandung kakek nenek.
Secara sederhana, mungkin jawabannya seperti ini, “ iya, memang kakeknya dulu juga pernah sakit seperti ini.”
Tapi jawaban yang terjadi mungkin demikian,” si X ini amat sangat keras wataknya, nggak pernah bisa mentolerir kesalahan orang. Makanya musuhnya banyak. X ini keras sekali wataknya, persis seperti kakeknya.”

potret-diri-Skizofrenia-2752014

Orang dengan tipe Kepribadian A, B, C?
Sebagian orang memiliki gangguan kepribadian yang dibagi dalam kelompok A, B, C. Belum tentu berujung pada skizofren , apabila seseorang mendapatkan daya dukung yang dibutuhkan.
Tipe A : paranoid, skizoid (isolasi sosial), skizotipal (perilaku, persepsi, keyakinan ganjil)
Tipe B : orang-orang yang terlalu dramatis, emosional, eratik . Masuk didalamnya antisosial, ambang, histrionik, narsistik
Tipe C : orang-orang yang celalu cemas dan ketakutan. Termasuk pula kepribadian menghindar, dependen, obsesif kompulsif.

Bukan berarti orang dengan kepribadian skizotipal berujung pada skizofrenia, sekali lagi, bila seseorang memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sepasang kakak adik memiliki kemampuan melihat hal yang ganjil (skizotipal). Mereka mengaku senantiasa dikuntit makhluk ghaib, bahkan ketika tidur tak jarang kakak adik ini bangun dengan posisi berpindah tempat. Bukan sekedar tidurnya, tapi ranjang dan segala isi kamar ikut berubah. Namun, karena berasal dari keluarga yang hangat, ibu yang menjadi tempat curhat, kakak adik ini survive dan akhirnya hilang sama sekali tipe skizotipalnya (lihat pada tulisan how-bagaimana nanti)
Contoh lain skizoid.
Umumnya, ini dialami kelompok minoritas, migran, tahanan politik. Maka, tak jarang yang terpaksa menginap di bangsal RSJ adalah kaum urban yang mengalami tekanan sosio kultural.
Seorang gadis mengalami skizoid, merasa terisolasi sosial dan memang ia suka mengisolasi diri akibat ayahnya tahanan politik. Namun, karena ia cerdas, ia tumpahkan semua rasa sepi dan pedih itu dengan berprestasi akademis setinggi-tingginya. Lambat laun, dengan prestasi akademisnya, ia semakin percaya diri dan orangpun tak terlalu ambil pusing dengan kiprah buruk ayahnya. Sekalipun ia skizoid dan suka mengisolasi diri, ia tetap merasa nyaman.
Namun, disisi lain, orang-orang A, B, C dapat mudah menjadi skizofren bila ia tak memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, seorang lelaki X selalu berusaha menghindari apapun yang menjadi tanggung jawabnya (tipe C). Ia tak pernah mencoba menanggung beban sebagai suami dan ayah, selalu mengeluh dengan kondisi, tak mau bekerja dengan gaji ala kadarnya, ingin kerja enak dengan penghasilan tinggi. Ketika kondisi keluarga semakin terhimpit, istri X akhirnya bangkit untuk bekerja. Kondisi ini mematahkan X dan ia makin lama makin terpuruk sebelum akhirnya terdampar di bangsal RSJ.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-yourHigh Tension Culture
Siapapun, bila tidak berhati-hati dapat mengalami depresi.
Depresi tidak selalu berujung skizofren. Namun bila semakin terpuruk, tak memiliki teman seorangpun, selalu menyendiri dan menjalani situasi ekstrim –berdiam di kamar gelap, merenung tanpa tujuan di malam-malam hari- halusinasi, delusi, waham dapat muncul.
Bisikan ghaib. Ajakan untuk melakukan hal buruk. Membunuh diri, atau membunuh yang lain. Dalam tubuh terdapat dua atau tiga orang yang tarik menarik melakukan sesuatu.
Tekanan luarbiasa pada masyarakat high tension culture membuat orang-orang dikejar kebutuhan untuk memiliki uang, gadget, kendaraan, pakaian, gaya hidup, penampilan, bersosialita yang tiada putusnya untuk dikejar. Bagi anak-anak remaja, melihat temannya memiliki motor atau pacar, rasa dada sesak. Bagi seorang ayah, melihat ayah yang lain memiliki mobil, rasanya sesak. Bagi seorang ibu yang setiap hari terbelit urusan dapur, melihat tetangga melenggang shopping dan ke Spa, rasanya sesak. Belum lagi masing-masing individu semakin sibuk dengan diri, semakin sibuk dengan urusan dan semakin sibuk dengan gadgetnya. Ayah ibu semakin mengejar kebutuhan ekonomi yang memang mendesak, hubungan keluarga renggang, masing-masing kelelahan dalam urusan sendiri dan lambat laun pribadi-pribadi rapuh ini akan retak sebelum pecah berkeping.
Mereka yang berpembawaan melankolis, antisosial, skizoid semakin tak punya teman bila berada dalam lingkungan yang individualis. Tentu saja, kita tak dapat menyalahkan laju zaman. Diperlukan skill yang lebih terasah untuk mengatasi budaya tegangan tinggi.
Akibatnya, orang-orang yang memilih tinggal di kota-kota besar lebih rawan ditimpa beragam gangguan kepribadian. Begitupun orang-orang yang tinggal di rural area, yang memutuskan untuk menjalani kehidupan kaum urban. Bila tak siap dengan tekanan dan kehidupan serba cepat, dapat berujung pada depresi berkepanjangan, dan bila dibiarkan tanpa perawatan dapat pecah kepribadian.

Minus
Kehidupan serba minus dapat membawa seseorang terpaksa menjalani rawat inap di bangsal RSJ. Minus skill, minus kesehatan, minus agama, minus pendidikan, minus dukungan. Dalam kasus minus kesehatan, tidak melulu orang-orang dari golongan ekonomi lemah. Banyak yang dari kalangan mapan, kesehatannya terganggu akibat pola hidup tak sehat.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memilih menghabiskan waktu dengan empat bungkus rokok sehari dan sebagai teman sempurna, bergelas-gelas kopi. Akibatnya, ia tak dapat tidur berhari-hari, kesehatannya memburuk, ketika serangan halusinasi datang.
Ada lagi seorang perempuan yang mengalami diabetes. Apa hubungannya dengan skizofren? Seiring dengan penyakit yang diderita, tubuhnya menyusut. Ia merasa tak cantik lagi, depresi berat, tak mampu melayani suami dan pada akhirnya muncul delusi bahwa suaminya berselingkuh.

Pasangan Da’wahku

Standar

Albert Einstein, menjalani kehidupan cinta bersama 3 perempuan : Marie Winteler, Mileva Maric dan Elsa. Membaca biografinya yang dituliskan Walter Isaacson; ada banyak yang bisa direnungkan tentang kisah masa kecilnya, perjuangannya di politeknik Zurich, kegilaannya pada cahaya dan gravitasi, militansi Yahudi serta tentu saja, perjalanan cintanya.
Ada yang unik dari pasangan cinta Einstein.
Marie Winteler sangat manis, baik paras maupun budi pekertinya. Awalnya Einstein jatuh cinta setengah mati, namun sifat manis Marie yang menghujaninya dengan surat dan hadiah-hadiah terasa membosankan untuk si anak bengal yang selalu melawan segala otoritas.

Berikutnya, Einstein jatuh cinta setengah mati kepada Mileva Maric yang ditentang habis seluruh keluarga Einstein. Mileva Maric bertubuh kecil, pincang, berwajah buruk hingga dijuluki si nenek sihir; ia teman sekelas Einstein di politeknik. Mileva pintar dan mampu mengimbangi Einstein. Berbeda dengan Marie yang menghujani dengan surat romantis, surat Mileva kepada Einstein dipenuhi teori elektrik dan matematika! Kecerdasan Mileva membuat Einstein terpikat. Beberapa sumber mengatakan, salah satu keberhasilan Einstein adalah berkat bantuan Mileva Maric yang rajin menyiapkan referensi dan mengetik makalah Einstein; tentu Maric bukan sekedar bertindak klerikal, ia juga pemikir.

Bersama Mileva, Einstein memiliki beberapa anak namun pernikahan mereka kandas akibat Einstein sangat dingin terhadap hubungan interpersonal. Hubungan dengan Hans Albert Einstein –putranya- seringkali memburuk.
Hati Einstein akhirnya berlabuh pada Elsa, yang mampu mengelola kehidupan Einstein sedemikian rupa, mulai hal-hal kecil hingga tampil di depan publik dan melakukan negosiasi.

Pasangan Hati
Einstein hanya satu dari sekian milyar manusia di muka bumi yang menjalani hidup, menemukan pasangan, lalu lebur kembali bersama tanah. Mendampingi orang seperti Einstein sungguh sulit, sebagai lelaki sekalipun ia bertanggung jawab, Einstein bukan suami yang didambakan banyak perempuan.
Namun, kisah cinta itu dapat diambil hikmahnya. Bukan karena romantisme, bukan karena kepintaran atau kecantikan, hubungan cinta dapat langgeng bertahan. Memang, romantisme dan kecerdasan pasangan adalah nilai plus; namun seringkali yang mampu mengikat sebuah pasangan adalah bila masing-masing menemukan apa yang dibutuhkan.

Mileva Maric sangat kecewa karena impiannya menjadi ilmuwan kandas seiring tubuhnya melemah akibat mengandung anak-anak Einstein. Mentalnya sakit dan hubungannya rusak, padahal kehidupan cinta mereka di masa kuliah benar-benar membuat orang terheran-heran. Elsa hanyalah orang kebanyakan, namun ia mampu mendampingi Einstein dalam saat sulit ketika ia tengah mematenkan beberapa karya ilmiah termasuk teori relativitas.
Pasangan hati, sungguh sulit dicari.
Terkadang harus gagal berkali-kali.
Namun ada yang sekali menemukan, langgeng hingga mati.

Sejatinya, manusia adalah makhluk yang harus terus belajar terhadap segala sesuatu. Belum tentu, pernikahan berarti menemukan pasangan hati. Namun, sayang sekali bila telah menikah masing-masing pihak tidak berusaha menemukan cara untuk mempertautkan hati lebih erat lagi. Ada banyak cara untuk mengeratkan pasangan hati.
Salah satu contoh kenalan saya, seorang karyawati kecil ini mungkin pantas ditiru. Meski, akibat suami terlalu mandiri, kadang saya terlupa.

“Mbak Sinta, kalau suami pulang dari kantor, siapkan minuman secara istimewa. Meski hanya segelas air putih. Meski segelas air putih, berikan tatakan alas dan tutup, pasti suami akan merasa sangat dihormati.”
Elsa tidak secantik Marie. Tidak secerdas Mileva. Pikirannya yang sederhana diungkapkan, “ aku tidak mengerti matematika kecuali tentang tagihan rumah tangga.”
Namun Elsa humoris, hangat, dan melayani Einstein dengan baik. Ketika Einstein harus bepergian, Elsa menyiapkan pakaian di koper bahkan menyiapkan uang-uang dan membaginya dalam amplop-amplop agar sesuai kebutuhan sang suami. Elsa memasak sup kacang dan sosis kesukaan Einstein, dan bila suaminya mondar mandir lupa diri akibat penelitian; Elsa akan mengantarkan makanan tersebut ke kamar. Dalam ruang kosmos Einstein yang tak terjamah, Elsa berusaha menjauhkan gangguan.

Pasangan Da’wahku
Untuk kesekian kali, kepergianku keluar kota didampingi suami.
Ia berseloroh, kuranglebih demikian, “nanti namaku dimasukkan jajaran pengurus FLP sebagai bagian transportasi yah!”
Di jalan, aku seringkali jatuh tertidur kelelahan, sementara suami berjaga, menyetir hingga tujuan. Sebagai ibu dan istri, kepergian keluar kota bukan sekedar angkat kaki. Di rumah, cucian hingga makanan butuh perhatian khusus. Apalagi anak-anak seringkali melaporkan sesuatu sesaat menjelang kepergian.
“Ummi, aku harus beli buku!”
“Nanti jemput aku yaaa…aku mau ada acara di sekolah.”
“Token listriknya habis nih.”
“Adik disuruh nyiram tanaman aja nggak mau tuh!”

Maka dengan sigap suamiku mengambil peran lain, disaat aku sibuk mencuci dan mengomando anak-anak.
“Jangan lupa masak nasi, lauk tinggal nggoreng. Ada martabak dan samosa di kulkas. Titip mesin cuci, Ummi lagi mbilas. Nanti tolong beli token. Jangan berantem. Jangan lupa sholat dhuha dan tilawah.”
Sekilas orang melihat bahwa kami pasangan kompak, Alhamdulillah.
Namun sampai di titik pemahaman seperti ini secara bersama-sama, bukan butuh sekali dua kali pembicaraan. Dengan kesibukan suami dan kuliah profesiku, suami berharap agenda-agenda lain tereduksi terutama agenda keluar kota. Sedikit demi sedikit, perlahan dan saling mendukung kukatakan, masing-masing kami memiliki peran da’wah yang tak dapat digantikan orang lain. Satu sama lain harus saling mengisi, mengoreksi, mengingatkan, mengorbankan kepentingan diri sendiri jika harus untuk mencapai harmonisasi.
Suami meminta ketrampilanku mengelola seluruh sumberdaya bila harus keluar rumah.

Di awal berperan dalam dunia da’wah, tentu kami lelah lahir batin. Benturan sesekali terjadi, dan kami berdiskusi untuk menemukan kata kunci : komitmen. Beban harus dibagi, anak-anak harus dipercepat kedewasaan agar orangtua tidak lagi ribet memikirkan tetek bengek rumahtangga.
Mendewasakan anak?
Owh, itu pembahasan yang butuh energi ekstra .
Saat ini yang kulakukan adalah menginjeksi kognisi mereka terus menerus, atau diistilahkan terapi Kognitif. Ketika suami protes kukatakan, “ saya masih menata ulang kognisi mereka Mas, perilaku masih belum. Bertahap ya…”
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit tercipta stabilisasi dan harmonisasi.
Seringkali aku berpikir, bila bukan karena terikat oleh komitmen da’wah, pernikahan akan cepat bubar ditengah jalan. Masalah ekonomi, keluarga besar, anak-anak, kepribadian individu yang terus tumbuh dan dinamis, karier dan 1001 masalah manusia dapat menjadi alasan pernikahan gulung tikar. Dengan komitmen da’wah, kesulitan dapat diurai , dicari titik temu dan dilakukan penyelesaian masalah.
Karenanya, sungguh tepat sabda baginda Rasulullah Saw yang bersabda, intinya : pilihlah pasangan karena kecantikan, harta, nasab atau agamanya. Tetapi pilihlah agamanya terlebih dahulu.
Agama, adalah ikatan yang paling kuat dibandingkan ikatan kesukuan, strata sosial, emosi atau hubungan kekerabatan. Dengan agama, sepasang suami istri akan menimbang baik buruk dari kacamata yang baku, yang disepakati, yang tidak akan menimbulkan perselisihan. Lebih mudah bagi pasangan menentukan sesuatu jika tolok ukurnya adalah agama. Semisal, istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, maka ia akan tetap menjadikan suami sebagai qowwam. Sesering apapun istri meninggalkan rumah dengan alasan da’wah, ia akan mentaati komitmen yang diajukan suami. Alasannya jelas : ridho suami akan menghantar pada ridho Allah SWT.
Bayangkan bila tanpa landasan agama, seorang istri yang memiliki karir tinggi akan merasa pantas memperlakukan rumah sama dengan perlakuannya terhadap bawahan di kantor.
Memilih pasangan, mempertahankan pasangan dan pernikahan dengan landasan da’wah serta agama akan lebih mudah dilakukan. Mungkin saja pasangan sudah tidak cantik dan tampan lagi, tapi agama mengajarkan sabar dan syukur. Apalagi, bila ditelusuri lebih lanjut, pasangan da’wah kita jauh lebih baik daripada orang-orang yang lalu lalang di mall setiap harinya. Pasangan da’wah akan membuat seseorang melakukan lompatan pemikiran jauh ke depan : buat apa sih pernikahan ini? Sekedar seksual? Sekedar “kemewahan” agar dengan bangga kita bisa menjawab pertanyaan ini :
 Sudah menikah?
 Suami/istri kerja dimana?
 Lulusan apa sih pasanganmu?

Einstein saja berkata, “istri bukanlah kemewahan yang didapatkan suami.”
Dengan kata lain, Einstein ingin mengatakan bahwa istri bukanlah sebuah attachment yang langsung melekat pada laki-laki begitu ia punya karir bagus, posisi, gaji mentereng. Pasangan hidup bukan sekedar kemewahan yang melekat dalam status agar kita berbangga mengatakan, “oh saya sudah menikah lho…malah sudah punya anak…suami/istri saya adalah….bla bla bla.”
Pasangan da’wah memang sulit ditemui, bahkan dibutuhkan kesungguhan untuk mendapatkannya. Sesudah diraih, butuh energi ekstra untuk memulasnya agar pernikahan yang semula memiliki landasan da’wah, tidak meluncur bagai bermain ski di lapisan es landai : dapat suami/istri aktivis da’wah, hidup enak, punya anak, cukup sudah.
Bagi anda yang belum memiliki pasangan da’wah, doa-doa kami akan selalu menyertai saudara/saudari agar Allah SWT memberikan jodoh mulia dari sisiNya sesegera mungkin; di waktu yang tepat dan dengan jalan yang diberkahi.
Bagi anda yang telah memiliki pasangan, marilah menjaga pasangan hati dan pasangan da’wah kita. Allah SWT telah memberikan rezeqi berlimpah dengan dimuliakanNya kita sempurna sebagai makhluk berpasangan. Bila ada kekurangan pada pasangan da’wah, maukah kita membantu menyempurnakannya?

Sinta Yudisia
Agustus 2014

karikatur-kita1400-04532330

Jilbab si Gila

Standar

Sebut namanya Muslimah.
Usia 30an, manis sekali, berpostur sedang. Sekilas, bila kita bertemu dengannya di keramaian, mungkin akan menyangkanya perempuan kebanyakan.
Saya pun sempat terkecoh pertama kali bertemu. Menyangkanya perempuan biasa, namun ketika kami berbicara lebih jauh, barulah tampak siapa Muslimah sebenarnya. Mata kosong, wajah dingin tanpa sentuhan emosi, raut wajah tanpa ekspresi. Sesekali bisa berdiskusi resiprokal, namun di titik tertentu memori-nya tak utuh, dan perbincangan tak akurat.

Tempat kami magang, adalah rumah sakit bagi orang dg diagnosis severe mental illness, pasien2 Psikotik Fungsional dg 5 kategori : Psikotik Akut, Skizofrenia, Skizoafektif, Gangguan Bipolar, Gangguan Waham Menetap.

Jangan bayangkan pasien psikotik sbg orang compang camping, lusuh bau spt yg ditemui di jalan2. Sebagian mereka pandai, speak in english, orator, pintar menyanyi. Wajah tampan cantik, atau wajah kacau balau , beragam jenis disini. Remaja, hingga lansia diterima sbg pasien rawat inap atau rawat jalan.
lossy-page1-220px-Scheherazade.tif

Terkadang, kami susah membandingkan pasien dengan perawat, DM, mahasiswa magang, perawat magang. Baju relatif berwarna mirip antara pasien dan paramedis : abu-abu, biru , hijau, coklat. Jika tidak jeli melihat, siapa terapist atau yg diterapi, nyaris sama.

Yang membedakan secara fisik, semua pasien, mengenakan baju sebatas siku dan celana sebatas lutut. Warna pakaian tergantung ruang inap. Misal ruang A warna merah, ruang B kuning dst.

Lalu apa istimewanya Muslimah?
Perempuan psikotik fungsional, kemungkinan skizofren katatonik, berada di ruang sebuah rumah sakit jiwa? Apa istimewanya Muslimah, yg sehari2 masih harus dalam kontrol ketat terapi, mengenakan pakaian khas, berada di bawah pengawasan kamera CCTV 24 jam sehari?
Muslimah, istimewa bagiku.
Dengan baju sepanjang siku, celana sebatas lutut -SOP klien rumah sakit jiwa yg sering kabur, melakukan tindakan impulsif -agar lebih mudah dikenali dan diamankan-; Muslimah mengenakan kain kerudung di atas kepala.

Rapi.
Tertutup.
Kain segiempat, dilipat dua menjadi segitiga, dipasang di atas kepala, menutupi rambut sempurna, tersemat peniti tepat di bawah leher agar kerudung tak meleset kemana-mana.

Ya, ia Muslimah si Gila.
Yang mungkin harus menkonsumsi obat2 typical atau atypical seumur hidupnya. Mungkin selamanya tak akan mencapai RTA-reality testing ability yg baik, selamanya tak mampu memiliki self -image positif, selamanya harus dibantu melakukan self-help.

Muslimah si Gila, di tengah perjuangannya menaklukan halusinasi, membedakan antara realitas & delusi, mengenakan jilbab.

Ketika kami berpisah hari itu, ia menatap kami dari balik pagar besi tinggi. Pemandangan aneh, seseorang mengenakan pakaian dengan panjang lengan sebatas siku dan celana selutut tetapi menggunakan jilbab.

Muslimah istimewa dimataku.
Ia, pengidap skizofrenia -atau yg sering diistilahkan gila- entah sadar atau tidak, berusaha mentaati perintah Allah SWT sebagai seorang perempuan. Mengenakan kerudung ketika bertemu non mahram.Bukan hal mudah menjalani hari2 bagi skizofren, menghadapi diri sendiri dan stigma orang lain. Mencoba taat padaNya dalam segala keterbatasan, sungguh mengharukan.

Apakah anda, juga saya, yg merasa normal tidak mau mentaati perintah Allah SWT utk mengenakan jilbab secara sempurna?

Sinta Yudisia, Agustus 2014

Sognando Palestina

Standar

*Randa Ghazy

(Randa Ghazy adalah seorang penulis belia 13 tahun asal Mesir. Orangtuanya senantiasa berkata bahwa anak-anak Palestina adalah saudara-saudaranya)

Pesan anak Palestina pada sahabatnya :

Aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menetap disini
Membaca sampai dunia berakhir
Tetapi dalam kenyataannya
Satu-satunya yang penting buatku adalah kalian
Dan, dirimu

anak palestina

Aku berpikir bahwa kau telah memberikan sebuah keluarga untukku
Kau, adalah keluargaku
Dan bahwa barangkali
Aku tak cukup lengkap mengutarakan padamu
Aku benar-benar menyayangimu

Suatu hari nanti
Bila kita tak akan bersama lagi
Aku tidak akan bisa berkata :
Terimakasih
Terimakasih atas segala yang kau lakukan padaku

Jika perang ditakdirkan usai
Jika kita ditakdirkan merebut kembali tanah ini
Jika kita sanggup melepaskan diri dari kekerasan
Aku senang sekali bisa berada di dekatmu dan berkata :
Kita telah berhasil!

Ketika kelak kau menjadi lelaki dewasa
Akan sangat sulit bagimu
Sangat sulit
Untuk membebaskan dirimu dan mengakui
Bahwa hatimu terbakar oleh perasaan yang begitu halus
Rasa yang melampaui kepedihan
Itulah Cinta

children of Gaza
Dibacakan dalam aksi solidaritas Palestina , Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

ORANG PALESTINA

Standar

*Harun Hashim Rasyid

(Harun Hashim Rasyid adalah penyair Palestina, lahir 1930 dan hidup di bawah penindasan Zionis Israel. Puisi-puisinya yang terkenal antara lain Kapal Kemarahan (Safinat al Gadhab), Orang-orang Asing (Al Ghuraba) dan masih banyak lagi. Salah satu yang terkenal adalah puisi berjudul Orang Palestina)

father n son in gaza

Orang Palestina aku
Orang Palestina namaku
Dengan tulisan terang
Di segala medan pertempuran
Telah kupahatkan namaku
Mengaburkan segala sebutan
Huruf-huruf namaku melekat padaku
Hidup bersamaku, menghidupi aku
Mengisi jiwaku dengan api
Dan berdenyut di urat-urat nadi

Orang Palestina aku
Itu namaku kutahu
Itu menyiksa dan menyusahkan aku
Mengejar dan melukai aku
Karena namaku Orang Palestina
Dan sesuka mereka,
Mereka telah membuat aku mengembara

Aku telah hidup sekian lama
Tanpa sifat tanpa rupa
Dan sesuka mereka
Mereka lontarkan padaku segala nama dan sebutan nista
Penjara-penjara dengan pintu-pintu lebar terbuka
Mengundang aku
Dan di segala pelabuhan udara di dunia
Diketahui nama dan sebutanku
Angin khianat membawa aku
Menghamburkan aku

Orang Palestina
Nama itu mengikuti aku, hidup bersamaku
Orang Palestina, itu tertakdir padaku
Melekat padaku, menggairahkan aku

Orang Palestina aku
Meskipun berkhianat mereka padaku dan pada tujuanku
Orang Palestina aku
Meskipun di pasaran mereka jual aku
Seberapa mereka suka, seharga ratusan juta
Orang Palestina aku
Meskipun di tiang gantungan mereka giring aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke dinding mereka ikat aku

Orang Palestina aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke api mereka lemparkan aku
Aku : apalah arti diriku?

Tanpa namaku, Orang Palestina
Tanpa tanah air dimana aku mengabdikan hidup
Dimana aku dilindungi dan melindunginya
Aku
Apalah arti diriku

Jawab, jawablah aku!

Perempuan Gaza di tepi Pantai

Perempuan Gaza bersama keledai di tepi pantai

Dibacakan pada Aksi Solidaritas Palestina, Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014