RSS

Sex untuk Anak-anak

Suatu ketika, putri saya pertama mengalami sakit yang amat sangat saat datang bulan. Adiknya yang masih duduk di kelas 3 SD bertanya banyak hal.
”Mi, apa orang haidh mesti sakit? Aku nanti gimana…”
“Ummi nggak sakit kok kalau haidh. Nis gak usah takut!”
Melihat putri pertama saya, Arina terus meringis, Nis juga terus berkomentar.
”Jangan-jangan Mbak mau melahirkan….”ujarnya serius.
Saya tertawa.
”Mbak nggak melahirkan Nis, kan nggak ada bayi di perutnya. Belum punya suami kan?”
Nis terus mengejar.
”Ada koq orang yang nggak punya suami hamil”
”Nis, hanya bunda Maryam yang hamil tanpa suami.”
”Memang hamil harus punya suami, Ummi?”
”Lho, ya iya….”
”Itu, anak SMP bisa hamil tapi nggak punya suami!”
Hmmm, saya ekstra berpikir. Keterdiaman saya nggak membuat Nis berhenti.
”Kalau pacaran bisa hamil, padahal bukan suaminya, kenapa Mi?”
”Ya karena berdekat-dekatan….,” jawab saya hati-hati.
”Pegangan tangan bisa hamil, Mi?” tanyanya.
”Enggak sih..”
”Kalau ciuman?”
”Enggak juga…”
”Kalau tidurnya dekat-dekat?”

Nah.
Kalau nanti saya jawab iya, cukupkah?
Sementara kami di rumah punya satu ruang tengah tempat agenda bersama : bercanda, nonton tivi, baca buku dimana ada kasur besar di gelar dan kami biasa tidur-tiduran bersama. Kalau nanti kakak adik tidur berjajar dan Nis teriak,”awas jangan tidur dekat-dekat, ntar hamil lho…”; bagaimana?
Jika merujuk pada perkembangan kognitif versi Jean Piaget dimana operational konkret 7-11 tahun dan operational formal 11-15 tahun; wajar bahwa Nis yang masih kelas 3 SD (usia 10 tahun) masih belum mampu berpikir abstrak, mengembangkan pikiran korelasional atau yang berbau idealisme. Tetapi Neo –Piagetian membantah tahapan perkembangan kognitif ini dan mengatakan remaja kadang-kadang belum tuntas berpikir operational konkrit tetapi anak-anak bahkan mulai mampu berpikir abstrak.
Perkembangan zaman setidaknya memacu anak-anak tidak kaku berada dalam tahapan-tahapan perkembangan seperti yang diteliti para pakar sebelumnya. Bahkan, anak-anak kemungkinan mulai meraba ke arah abstrak tentang Tuhan, alam semesta, atau mungkin hubungan seksual. Pengetahuan seksual yang masih minim membuat mereka meng korelasikan hal itu sebagai – ayah ibu, hamil, berdekatan, suami istri.
Lalu, bagaimana menjelaskan?
Untuk tahu tahapan perkembangan anak mungkin butuh studi khusus seperti psikologi. Bagi anda yang cukup sibuk, pegang teguh dua hal ini :

1. Dialog , Lev Vigotsky pakar psikologi yang banyak membahas bahasa, mengatakan salah satu tahap perkembangan yg penting adalah melalui dialog. Bangun terus dialog agar kognisi anak-anak terus berkembang.
2. Pendekatan ilmiah
, biasakan menggunaka pendekatan ilmiah dengan bahasa sederhana. Misal, jangan gunakan kata-kata ,” hamil karena adik di perut diterbangkan burung bangau.” Saya pribadi terhadap anak yang cukup besar (6 SD) mengatakan ketika ia bertanya sex : mas belum belajar anatomi tubuh manusia ya? Ntar kalau SMP mulai belajar, mas akan lebih tahu deh. Soalnya memang harus tahu anatomi tubuh…

Semoga berhasil:-)

 

Profile Sinta Yudisia, Dialog Jumat Republika 18 Mei 2012

 

Dusta Putih, Cantik Merona, Aura Quran

Dalam Child Development, Elizabeth Hurlock mengutip pendapat Helson tentang kreativitas pada anak-anak. Anak yang kreatif menunjukkan minat dan pengalaman dalam bidang imajinatif, melukis, mengarang cerita atau bermain sandiwara.
Di sisi lain Torda berpendapat bahwa kreativitas bukan hanya bergantung pada potensi bawaan khusus tetapi juga pada mekanisme mental.
Ekspresi kreativitas pada masa kanak ditandai dengan Animisme, Bermain Drama, Teman Imajiner dan White Lies atau Dusta Putih. Dari semuanya, tampaknya Teman Imajiner dan Dusta Putih paling memancing diskusi seru. (Animisme adalh kecenderungan untuk menganggap benda mati seperti hidup , misal anak jatuh, ia akan menyalahkan lantai yang nakal).
Dusta Putih bukan berbohong seperti yang dikenal bagi orang dewasa.
Dusta Putih dianggap sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, sementara berbohong adalah untuk melindungi diri dengan memanipulasi atau menipu orang lain. Banyaknya Dusta Putih berasal dari melamun, dimana anak melamunkan menjadi pahlawan penakluk, pahlawan yang menderita atau melamun menderita penyakit (Hurlock,1978)
Berbicara mengenai white lies atau dusta putih, anehnya dipercaya sebagai salah satu senjata pula dikalangan orang dewasa bahwa di dunia ini terdapat salah satu langkah penyelamatan situasi dengan berbohong, berdusta demi kebaikan. Padahal seharusnya, teman imajiner dan dusta putih sudah tidak dilakukan lagi usai masa kanak & anak, kecuali dalam beberapa situasi yang sangat mendesak. Dalam agama diperbolehkan dusta ketika akan memperbaiki hubungan suami istri, dalam peperangan. Tidak dalam kondisi sehari-hari yang jauh dari kondisi genting.
Terkait dusta putih, bagaimana jika sebagai orang dewasa kita harus menjelaskan sesuatu pada anak-anak hal yang mungkin sedikit di luar jangkauannya?
Sedikit pengalaman ini mungkin bisa menjadi bahan sharing.
Dunia kita dikepung informasi yang seringkali tidak masuk akal, misal kecantikan perempuan ditampilkan dalam postur tubuh sangat langsing dan kulit putih pucat. Padahal mustahil orang Asia yang berkulit coklat akan mampu meng amplas kulitnya sewarna mutiara. Apakah lalu perempuan Asia tidak cantik? Generalisasi kadang-kadang membuat anak-anak berpikiris sempit dan mereka menjadi resah. Putri saya, sempat merasa tak cantik sebab ia bukan mewakili cermin di televisi : cantik merona.
Sebagai seorang ibu, tentu tak terima. Setiap ibu pasti menganggap anaknya paling tampan dan cantik. Tetapi bagaimana mengatakan hal itu sebagai suatu hal alamiah tanpa berbohong pada anak-anak? Sekalipun anggota keluarga bukan televisi minded, ketika menoton berita berseling iklan, informasi itu masuk juga ke memory anak-anak. Kalau saya mengatakan ,” kamu cantik sekali,” kepada putri saya yang pertama, dengan santai ia menjawab.
”Ya iyalah Mi….anak Ummi sendiri!”
Ia sudah bisa berpikir rasional di usianya yang remaja. Mungkin wajahnya biasa, tetapi di mata saya sebagai ibu, ia akan tampil cantik saat rapi berkerudung, saat sholat malam dan kesukaannya membaca yang di atas rata-rata memang menampilkan kemampuan berdiskusi.
Si kecil yang masih 3 SD, membutuhkan trik khusus.
”Mi, temanku si X banyak teman-temannya, ” keluhnya. ”X cantik sekali sih…”
Memang, si X ini seorang gadis kecil yang cantik, putih bersih kulitnya dengan mata berbinar dan bibir merona. Persis seperti stereotipi iklan televisi.
Kalau saya katakan putri saya jauh lebih cantik dari X, atau sama cantiknya seperti X, dustakah? Kalau saya katakan bahwa kulitnya yang coklat, sama indahnya dengan kulit putih, dustakah?
Kami berdua lalu bercermin.
Dengan wajah saling menempel, saya amati wajahnya yang masih ranum dan muda.
”Tuh, Nis lebih cantik dari Ummi,” pujiku.
”Ya iya laaah,” mulutnya mengerucut. ” Ummi lebih tua, aku lebih muda.”
Gubrak! Hehe…saya ternyata sudah tua ya?
”Bukan itu,” kugelengkan kepala. ” Tahu nggak kalau orang Perancis dan orang Australia suka dengan kulit warna karamel seperti kita sampai menjemur diri , sampai ada yang kena kanker kulit?”
Putriku mengamati diri kami seksama.
Kami bercermin dan kukatakan,
”….Nis jauh lebih cantik dari Ummi,” pujiku tulus.
”Kenapa bisa, Mi?”
”Soalnya hafalan Quran Nis jauh lebih banyak dari Ummi.”
”Lho, Ummi kan hafal Al Baqarah (juz 1), sementara aku baru juzamma?”
”Iya, tapi seusia Nis, Ummi belum hafal Quran sebanyak itu. InsyaAllah kalau Nis lebih besar, akan jauh lebih banyak hafalan Qurannya. Dan tau nggak, orang yang banyak hafalan Qurannya punya aura khusus di wajahnya sehingga ia terlihat bersinar cantik merona?”
Apa yang saya jelaskan ternyata membekas.
Sekarang, tiap kali Nis berkaca, ia sesekali berkata,
”Aku lebih cantik dari Ummi.”
”Kenapa emangnya?” saya memancing.
”Soalnya hafalan Quranku lebih banyak dari Ummi.”
Saya tidak sedang menerapkan white lies disini. Dusta Putih tetap harus dipilih sangat hati-hati, dan jangan lakukan ketika sedang membangun konsep diri yang menjadi dasar – amat sangat basic- bagi kepribadian anak manusia kita. Pilihlah alasan rasional, berbasis aqidah dan akhlaqiyah. InsyaAllah mujarab

 

Profile Sinta Yudisia di tabloid NOVA no 1263/XXV, 7-13 Mei 2012

Sinta Yudisia di tabloid NOVA no.1263/XXV 7-13 Mei 2012

Sinta Yudisia : menulis dengan passion ^_^ ( tabloid NOVA 7-13 Mei 2012, 1263/XXV)

 

Biarkan Anak Bercerita tentang Indahnya Quran

Beberapa waktu lalu di Kelas Menulis kami, SDIT Al Uswah diadakan lomba menulis antar anggota, disepakati tema yang diangkat bersumber dari Quran. Anak-anak dipersilakan menceritakan kembali surat-surat yang mengesankan bagi mereka dari Quran; pengalaman menarik yang terkait dengan surat yang dimaksud, atau apa yang tergambar di benak mereka ketika surat itu dilantunkan dan dipelajari.
Hasilnya?
Menakjubkan.
Banyak cerita lucu, unik, yang tak terbayangkan.
Tapi, berhubung hadiah yang disediakan sekolah terbatas; dipililah 3 pemenang untuk tiap level kelas. Selamat menikmati kisah indah Quran versi anak-anak 

*********************

Amira, kelas V, juara I

Aku suka sekali surat An Nisa. Do you now why? Karena An Nisa itu menceritakan tentang WANITA. Aku juga suka surat yang lain, tapi An Nisa itu paling istimewa. Allah sangat memuliakan wanita. Mana ada surat Ar Rijal? Nggak ada kan? Di surat An Nisa itu terkandung tentang hukum2, larangan memakan riba, ciri orang bertakwa, kematian haya akan terjadi dengan izin Allah, makna kesuksesan yang sesungguhnya, perintah untuk bertakwa dan memelihara hubungan kekerabatan, perintah untuk memelihara harta anak yatim, balasan bagi mereka yang kikir, ampunan Allah dan surga bagi orang-orang yang bertakwa, anjuran menafkahkan sebagian harta yang dicintai dan larangan mengambil yahudi sebagai teman kepercayaan. Itulah ciri surah An Nisa. Alhamdulillah…ternyata al Quran itu kaya dengan surat-surat yang bermakna.

Rifcha, kelas V, juara II

Aku suka sekali surat al Waqiah karena surat ini bercerita tentang hari kiamat. Nanti ketika hari kiamat kita digolongkan menjadi 3 golongan yaitu golongn kanan dan golongan kiri. Golongan kanan itu sangat mulia, kalau golongan kiri adalah golongan yang sengsara.
Kalau kita termasuk golongan kanan nanti, di hari kiamat kita berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun buahnya dan air yang mengalir terus menerus dan kasur yang tebal lagi empuk. Enakkan jadi golongan kanan. Kalian mau kan jadi golongan kanan. Aku aja mua masa kalian gak mau sich….?
Tetapi kalau golongan kiri kita sengsara karena kita disiksa dengan angin yang sangat panas dan air mendidih dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan, pokoknya gitu dech….
Kalau kalian mau tahu selengkapnya baca aja surat al Wqiah.
Kesimpulannya : aku mau menjadi golongan kanan bukan golongan kiri.

Aisyah, Kelas V, Juara III

Aku suka dengan surat al Kautsar. Karena al Kautsar adalah salah satunya itu nama adikku. Aku juga suka karena surat itu berarti bsersyukur kepada Allah SWT. Setelah adikku lahir, keluargaku mendapat nikmat yang banyak. Keluargaku bisa beli mobil, rumah yang mungkin menurutku besar. Dan aku bersyukur karena aku sudah berada di rumah yang besar (tidak sombong). Selain itu , biasanya aku kalau sholat membaca surat ini. Ayat terakhir dari surat ini adalah ”Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang tgerputus.” Jadi aku tidak akan membenci siapapun supaya tidak terputus.

Naila, Kelas IV, Juara I

Assalamu’alaikum. Teman-teman, tahu enggak surat yang paling kusukai? Biar enggak kelamaan, langsung aku kasih tahu saja ya? Ini dia yang daftar surah-surah yang paling kusukai :
- Al Waqiah
- Al Ikhlas
Tahu aja deh, teman-teman, aku tuh sebenarnya suka sih sama semua surah al Quran. Tapi kata bunda Sinta yang PALING aja ya!
Nah, sekarang langsung aku ceritakan kenapa sih, aku sangat suka kedua surat di atas? Satu-satu (aku sayang ibu….lho?) dulu ya….Mulai dari yang pertama yaitu al Waqiah. Aku suka al Waqiah karena al Waqiah banyak cerita apa aja tentang hari kiamat. Terus dari surat itulah aku tahu bahwa manusia itu dibagi menjadi tiga golongan. Yakni golongan kanan, golongan kiri, dan orang-orang (golongan) yang paling dahaulu beriman.
Al Waqiah juga sangat detail menceritakan surga neraka. Sampai-sampai al Waqiah menceritakan dipan-dipannya. Sampai diceritakan cara mereka duduk. Ada surga, pasti ada neraka. Lewat al Waqiah Allah menceritkan keadaan di neraka.
Sekarang, berganti Al Ikhlas ya. Aku suka al Ikhlash karena katanya bunda Sinta banyak orang setelah membaca /mendengarkan surat al Ikhlash menjadi masuk Islam! Subhanallah…Itulah salah satu mukjizatNya yang diturunkanNya lewat al Quran.

Annisa, Kelas IV, Juara II

Aku sangat suka dengan surah yang menceritakan tentang bintang yaitu An Najm, ayat 1-3.
- Demi bintang yang terbenam
- Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru
- dan tidaklah yang dia ucapkan (al Quran) menurut keinginannya
Alasan kenapa aku memilih surah An Najm yang mempunyai arti bintang : Bintang adalah ilmu pengetahuan dan aku sangat ingin mempunyai ilmu pengetahuan tentang bintang.

Lathifah, kelas IV, juara III
Surat al Lahab menceritakan tentang Abu Lahab yang durhaka kepada Allah SWT. Dan Allah akan memasukkan Abu Lhab ke dalam ”Neraka yang bergejolak”. Serta merta istrinya yang penyebar fitnah. hartanya dan apa yang dia miliki tidak akan bisa menolongnya.
Sungguh dia akan disiksa pada api yang siap menunggunya. Dan sungguh dia akan kesakitan setengah mati. Maka itu janganlah durhaka kepada Allah. Dan apabila ada manusia yang durhaka, pasti dia akan dibalas oleh Allah yang Maha Kuasa.

Titi, Kelas 3, Juara I
Kalian tahu mengapa surat An Naas, Al Falaq dan Al Ikhlas surat kesukaanku? Karna setiap kali mau tidur aku disuruh untuk membaca surat ini. Dialognya begini :
Aku : Ma, aku mau tidur
Mama : Iya, baca surat An Naas, Al Falaq dan Al Ikhlas dulu ya
Aku : Iya….Ma, ini lagi kubaca lho…
Mama : Habis itu langsung baca doa mau tidur ya..
Aku : Iya,iya, ya Ma…
Akhirnya aku ngantuk tapi tidak bisa. Aneh ya tapi aku bisa bangun pagi. Kalau nggak membaca nggak bisa bangun pagi (biasanya). Selain aku menyukai surat ini untuk bisa bangun pagi, aku suka karna artinya tentan Allah keesaan Allah. Hanya itu yag aku tahu pokoknya I AL QURAN.

Qonita, Kelas 3, Juara II
1. Aku suka sekali dengan Surat Yunus. Karena aku suka dengan kisah-kisah nabi, rasul dan tentang petualangan. Kenapa aku suka Surat Yunus karena cerita itu merupakan nabi yang dimakan oleh paus yang sangat besar.
2. Aku juga suka Surat Al Zalzalah. Karena menceritakan tentang hari kiamat. Memang aku tidak tahu kiamat itu seperti apa dan bagaimana. Setahuku kiamat adalah planet-planet yang berbenturan misalnya Saturnus bebernturan dengan Pluto. Venus berbenturan dengan Bumi. Pokoknya kacau balau
3. Oia….aku juga suka surat-surat yang semuanya ada di al Quran tetapi yang paling kusukai adalah surat al Haqqah. Karena menceritakan tentang hari kiamat. Memang aku tidak berani menghadapi kiamat. Tetapi aku terpaksa menghadapi kiamat.

Diena Shaliha, Kelas 3, Juara III

Pada waktu kecil, Yusuf sangat dibenci sama kakak-kakaknya, karena Yusuf sangat disayang sama ayahnya. Yusuf juga mempunyai adik yang bernama Bunyamin. Dia juga dibenci oleh kakaknya. Pada waktu pagi hari Yusuf diajak oleh kakaknya pergi lalu mereka izin dulu sama ayah nya.
”Ayah bolehkah aku mengajak Yusuf jalan-jalan di padang pasir, bolehkah Yah?”
”Boleh saja.”
Lalu mereka jalan menuju ke sumur dan kakak-kakaknya mencari kambing untuk disembelih dan untuk menjadi bukti. Setelah pulang kakak-kakaknya pura-pura menangis.
”Eh kalian dimana Yusuf?”
”Yusuf telah dimakan oleh serigala.”
Ayahnya pun kaget,” apaaa?”
Ayahya[un menangis setiap hari sampai-samai ayahnya buta.
Pada saat orang-orang sedang mengambil air di sumur, lalu orang-orang kaget. Pada saat itu dia tinggal di istana. Istana itu mempunyai putri yang sangat cantik. Pada saat itu Yusuf berjalan lalu putrinya menarik bajunya sampai sobek.

**********************

Kisah-kisah di atas sekilas terdengar biasa bagi mata telinga orang dewasa. tetapi saya pribadi merasa takjub, bahwa anak-anak menyimpan memori dan kesannya tersendiri tentang makna Quran. Kisah-kisah hikmah yang disampaikan lewat lisan orangtua, guru, atau siapapun membekas cukup dalam. Meninggalkan jejak di sanubari; suatu saat tercetus dalam bentuk inspirasi, pola pemikiran dan juga perilaku. Sebagian terkesan bahwa Quran menceritakan banyak kisah-kisah cerita ajaib, sebagian terkesan bahwa Quran menyimpan ilmu pengetahuan, sebagian memang memiliki pengalaman spiritual pribadi terkait surat-surat tertentu. Tunas -tunas kebaikan yang ditanamkan rumah, sekolah atau lingkungan kadang tak tampak seperti apa tumbuhnya. Sesekali, barulah, terlihat bahwa pohon kebaikan perlahan meghasilkan buah kebaikan pula, InsyaAllah. Sangat mengharukan membaca satu demi satu tulisan anak-anak. Betapa mereka bangga menjadi anak muslim sebab memiliki Quran, betapa mereka berusaha menghafalkan ayat demi ayat Quran dan mereka bahagia ketika lolos ujian sertifikasi tahfidzul Quran. Ow, masih banyak lagi kisah menarik lainnya.
Kadang, ketika membaca tulisan anak-anak didik di Kelas Menulis, tanpa sadar; saya sebetulnya yang banyak belajar dari kebijaksanaan murni mereka.

 

Mahar Perempuan Indonesia Terlalu Murah?

Kisah cinta dan pernikahan, selalu punya sisi unik –dan tragis- untuk dilukiskan. Kita sering mendengar betapa indahnya, betapa biasa dan normalnya, atau betapa menyedihkan kisah sepasang lelaki dan perempuan memadu kasih hingga akhir hayat atau bahkan hanya berselang bulan dan tahun.
Ada banyak kisah hikmah yang bisa diteladani, bahwa married is a gambling begitu pepatah barat dikenal. Pernikahan sama dengan judi. Tidak ada yang pasti, tidak ada yang tahu siapa akan menang, siapa akan kalah. Sebagian orang berkata, agama tolok ukur utama. Cukup banyak orang yang ternyata tidak mampu bertahan, padahal lelaki dan perempuannya sama-sama sholih. Sebagian beranggapan, komunikasi yang utama. Cukup banyak yang bertahan dalam pernikahan, komunikasinya bagus, tetapi emosi cintanya kering kerontang tanpa passion sama sekali. Ada yang bercerai disebabkan perselingkuhan, tak hadirnya anak , atau ketidakpuasan macam-macam.Lalu sebenarnya, di mana titik pernikahan mengalami keretakan, atau dimana titik perbaikan bisa dimulai?

Perceraian menyakitkan

Sepasang lelaki perempuan bercerai, karena putra mereka mengalami gangguan mental. Keduanya sepakat berpisah, sebab khawatir anak-anak yang berikut kemungkinan mengalami kelainan genetik. Keduanya sama-sama masih sendiri. Sang ibu ingin berkonsentrasi pada tumbuh kembang anaknya yang pastilah, menguras energi demikian besar. Pertanyaannya, kenapa harus berpisah bila hingga sekarang keduanya juga tak cari pendamping baru? Toh bisa tetap dalam ikatan pernikahan dan menjalani kesepakatan , tak akan punya anak lagi bila memang takut, salah satu membawa gen dengan kromosom rapuh.
Seorang perempuan A bercerai dari suaminya, sebab sang suami pemabuk berat. Meski, bertahun kemudian, perempuan tersebut mengaku ia menyesal berpisah. Di tangan istrinya yang baru, lelaki bekas suaminya sembuh dari ketergantungan alkohol dan mampu menjadi suami serta ayah yang baik. Andai dulu, ia bersabar mendampingi, mungkin saja hasilnya tak seperti sekarang (perempuan A itu sangat cantik, dan hingga sekarang belum punya pendamping kecuali berkali bertemu lelaki iseng yang entah kapan berniat serius)
Seorang perempuan S, sangat cantik, menikah dengan pria asing. Pernikahan yang membahagiakan sebetulnya, tetapi kontrak-kontrak dalam pernikahannya serasa tak masuk akal. Tak boleh punya anak? Pelaporan kekayaan? Agama sendiri-sendiri? Wah…
Banyak peristiwa hikmah yang membuat kita merenung, melihat bagaimana sepasang manusia berusaha menyempurnakan setengah agama. Sebagian berhasil berjalan kokoh di mahligainya, menghasilkan anak-anak cerdas berkepribadian. Sebagian berjalan langgeng di atasnya, dengan salah satu korban babak belur, dan syukurlah, anak-anak masih selamat. Sebagian bertahan dalam mahligai hingga akhir hayat, tetapi keduanya remuk redam, dan anak-anaknya meski selamat lahir batin harus melanjutkan hidup dengan catatan kepribadian yang harus terus menerus dipantau. Sebagian memilih berpisah. Sebagian memilih sendiri.

Siapa korban?

Setiap elemen keluarga menjadi korban ketika perpisahan terjadi. Meski dikatakan …”lelaki mah enak!”; bukan berarti bekas suami sama sekali tak merasakan sakit. Jika dulu, perselingkuhan dilakukan kaum Adam, sekarang kaum Hawa pun terkadang melakukan hal sama. Dampaknya, sang suami merasa terhempas. Begitupun sebaliknya.
Perpisahan, bagaimanapun kondisi sebuah keluarga, selalu menghadirkan rasa sepi dan sakit yang sembuhnya butuh terapi cukup lama. Kehilangan pasangan menempati urutan teratas dalam jenis ancaman post traumatic disorder, baik kematian atau perceraian. Sama saja, apakah perempuan atau lelaki, mengalami rasa sakit luarbiasa.

Angka perceraian

Departemen agama melansir angka yang luarbiasa tentang perceraian.
Bisa permasalahan ekonomi, beda pendapat, anak-anak dll.
Pertanyaannya : bagaimana perceraian bisa mudah terjadi? Tak satupun keluarga yang sama sekali tak punya masalah. Di usia pernikahan di atas 10 tahun, dimana dua petarung sama-sama kelelahan mengahdapi urusan anak-anak, ekonomi, keluarga besar, karier, masalah sosial dan juga adaptasi karakter; hadirnya orang ketiga yang hanya sesaat mungkin memberikan angin segar perubahan. Meski bukan selingkuh (sebab selingkuh biasanya melibatkan aktivitas fisik) tetapi sekedar flirting, floating, drifting away; ancaman perceraian atau perpisahan bisa terjadi.
Daftar penyebab perpisahan sangat beragam, mencengangkan, mungkin menggelikan.
Sekali lagi, kenapa pernikahan mudah berakhir perceraian?
Tidak bisakah ditunda 6 bulan, 12 bulan untuk merenung? Cukup banyak pasangan yang usai bercerai, mereka menyesal telah berpisah dan merasa, pasangan hidup mereka yang berikut belum tentu sebaik yang pertama dulu. Andai….

Mahar?

Menggelitik juga ketika seorang teman mengemukakan salah satu pendapat, kenapa perempuan Indonesia atau pernikahan mudah terancam bubar. Agama adalah syarat utama pemilihan pasangan. Sebab, seorang lelaki sholih akan menjadi qowwan yang baik, seorang perempuan sholihah akan tangguh menghadapi gelombang kehidupan. Terus? Setelah bekal-bekal pernikahan macam kemampuan perempuan (memasak, mengelola rumah tangga, managemen keuangan, mendidik anak dll ); saling meng up grade diri, terus menerus berkomunikasi dan introspeksi;….masihkan pernikahan sama dengan judi yang dianggap tak dapat diramalkan berapa prosentase keberuntungan?
”Mahar perempuan harus tinggi,” ucapnya.
Excuse me?
”Mahar yang tinggi akan membuat lelaki berpikir dua kali sebelum menceraikan istri dan main-main dengan perempuan lain.”
Bukankah Rasulullah Saw menyebutkan bahwa sebaik perempuan adalah yang paling mudah maharnya? Ya…meski Umar ra pun pernah ditegur oleh seorang perempuan, ketika beliau akan menetapkan jumlah mahar maksimal.
Terus terang, ucapan teman X tadi bukan kali pertama. Saya sudah mendengar beberapa kali perlunya mahar jangan ’terlalu murah’. Sebagian teman menyitir pendapat Umar ra, sebagian bahkan menyitir pendapat yang ekstrim dan vulgar…yang maaf, saya tidak sampai hati menuliskannya di sini .
Tetapi, ketika seorang sahabat shalihah yang berkata, bahwa ia berkali-kali gagal menikah. Ia insyaAllah, ketika mengenal laki-laki langsung berniat tulus harus mencari pasangan hidup dan bukan sekedar iseng, dan sahabat shalihah inipun luarbiasa cantiknya; saya betul-betul jadi merenung.
Alexandria, salah satu kota di Mesir dikenal dengan perempuan cantik yang dikatakan sebagai the most beautiful woman in this world, bisa menetapkan standar mahar 80.000 pounsterling! Rasulullah Saw sebagai lelaki terhormat pun membawa mahar 700 ekor unta bagi bunda Khadijah ra.
Saya pribadi, tak menetapkan standar mahar tinggi.
Alhamdulillah, Allah SWT memberikan seorang suami yang hingga kini dan nanti (insyaAllah, amiiin…) menjadi qowwam bagi kami sekeluarga. Saya juga punya anak-anak perempuan, dan tidak berharap nantinya mereka akan punya standar mahar tinggi. Tetapai melihat para sahabat –baik lelaki atau perempuan- yang bercerai –meski perceraian itu salah satu pintu halal- timbul tenggelam pertanyaan di benak. Adakah suatu upaya efektif yang mencegah orang bercerai, bertahan beberapa waktu untuk merenung, memberikan kesempatan pada pasangan, anak-anak, orangtua mungkin, atau situasi untuk berubah?
Seorang teman, lelaki berkata,
”…saya membayar mahar tinggi untuk istri. Ia teman hidup saya. Saya tidak terlalu setuju perempuan memasang standar rendah. Mahar itu milik istri! Bisa disimpan kelak, ketika suatu saat pernikahan usai karena kematian atau perceraian. Mahar itu bisa ia simpan sebagai modal, atau sekedar kenang-kenangan dari seorang lelaki yang sangat menghargainya…”
Wah, saya salut padanya. Meski juga tak seberapa setuju.
Kita harus melihat kemampuan lelaki kan? Kalau ia dari kalangan sederhana?
”Justru itu,” ia bersikeras,” supaya kaum lelaki bergiat cari nafkah. Sekarang, banyak perempuan dituntu bekerja karena lelakinya nggak mau banting tulang!”
Ow.
Hm, begitu ya?
Saya hanya berasumsi lain.
Andai mahar perempuan tinggi, bisakah mencegah seorang lelaki berselingkuh? Setidaknya ia berpikir, ” istriku ini mahal lho harganya. Atau kalau aku mau kawin lagi, berapa duit yang harus aku kumpulkan?”
Andai mahar perempuan tinggi, bisakah mencegah seorang perempuan berpaling? ”Dulu suamiku sudah memberiku mahar besar, belum tentu nanti ada lelaki yang mau meminangku dengan ’harga’ setinggi itu.”
Tapi andai mahar perempuan tinggi, bisa-bisa banyak pemuda menunda menikah dan hal itu berpotensi memunculkan perzinahan,” nikah mahal amat! Kalau ngebet, tinggal ke Dolly bayar 200 ribu selesai!”
Terlepas polemik masalah mahar harus tinggi atau rendah, saya juga punya satu pendapat yang sedikit berbeda dengan pendapat para peminang perempuan Alexandria.
Bila, seorang pemuda mau mengumpulkan uang entah dinar atau poundsterling hingga puluhan ribu dollar demi kecantikan eksotis perempuan Alexandria yang bermata bintang, berkulit susu, bertubuh tinggi sempurna.
Berapa yang seharusnya dibayar oleh seorang pemuda untuk mendapatkan seorang gadis muslimah yang taat, qonitat, hafidzot, sholihat, shoimat? Berapa yang harus dibayarkan oleh seorang pemuda ketika ia memburu seorang muslimah sejati, daiyah, yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkontribusi positif bagi ummat? Berapa yang harusnya dibayarkan lelaki ketika ia menyempurnakan setengah agama, dan juga mendapatkan orang yang akan memelihara dunia akhiratnya?
Sangat mahal tentu. Dan kalau ia tak bisa membayar dengan mahar mahal berbentuk materi, sang pemuda harus bisa membayarnya dalam bentuk menjadi qowwam, pelindung, penyayang yang pantas dan tentunya berjanji untuk setia memikul ujian.
So sweet.

 

Asyik & seru nya menghafal Quran!

Quran for teens? Hmm, gimana ya…
Selama ini Quran identik dengan syaikh, ustadz, emak, babeh, atau yang udah kepala empat ke ataaas banget. Kayaknya, Quran nggak cocok buat yang masih muda atau berjiwa muda. Susah banget menghafal Quran, serasa kalau membacanya…duh, jadi pendosa dan pencemas banget akan bagaimana hari akhirat nanti.

Padahal, Quran itu sebetulnya sudah bisa diakrabi sejak…..kita masih jadi janin di kandungan lho. Apalagi saat kanak, anak, remaja, dewasa bahkan kakek nenek; Quran adalah sahabat sejati sebagai penawar hati. Coba simak.

• 28 minggu di rahim bayi sudah bisa relaksasi, mengingat, mengenali suara ibunya. Jadi waktu kita berenang-renang 7 bulan di perut ibu, kita sudah bisa merasakan ketenangan ketika mendengar ibunda membaca Quran!
• 33 minggu bayi sudah bisa bermimpi. Ketika bunda membacakan Quran dan menceritakan indahnya surga, kita bermimpi bahwa kita akan berjalan-jalan di sana bersama ayah dan bunda. Asyiknya…amiiin

Bagaimana masa kanak-kanak? Wah, teori tentan masa kanak dan anak bertumpuk banget. Yg pasti, 5 tahun yg dikenal sebagai Golden Age dimana berat otak tumbuh 90% , anak-anak harus dikenalkan dengan beragam dunia. Tahu nggak kalau salah satu komponen kecerdasan yg diujikan dalam tes IQ Stanford Binet adalah uji memory. Hm, salah nggak sih kalau sejak awal anak-anak diajarkan menghafal Quran supaya memorinya terasah dan itu berarti meningkatkan pula kapasitas IQ nya…

Remaja?
Bagaimana ya….kan lagi seneng-senengnya menghafal ”….nobody, nobody but you!” atau ”ooo….Love like this so Love”….(wah, lagunya siapa tuh?)
Gimana dengan yang lagi jatuh cinta atau patah hati?
Sebuah penelitian terhadap 8000 remaja (Santrock, 2007), menyebutkan remaja yg jatuh cinta sering mengalami depresi. Dalam 3 hari situasi hati bisa berubah-ubah mulai senang, cemas, hanyut, hampa….sampai bunuh diri. Naudzubillahi mindzalik. Jadi, kalau hati lagi kebat kebit jatuh cinta karena hormon pubertasnya lagi bekerja…coba deh simak Quran untuk menstabilkan emosi.

Patah hati?
Pernah dengar pepatah, Breakin up will purify your heart? Artinya, patah hati akan memurnikan hatimu. Hati yg patah, sakit, sangat kecewa karena ulah manusia pada akhirnya akan memurnikan hati kita bahwa cinta yang sesungguhnya adalah…..cinta pada Yang Menurunkan Quran.

Menghafal Quran? Gimana yaaa…..

Jangan berpikir kalau menghafal Quran itu sesuntuk, sejutek, se senewen yang dibayangin kalau kita menghadiri pengajian yasinan yang isinya kakek-kakek dan nenek-nenek lho…Quran tidak hanya dinikmati untuk manula saja. Ada banyak kesenangan dan rasa seru yang didapat ketika kita menghafal Quran. Berikut beberapa tips untuk merasakan kegembiraan bersama Quran

1. Kalau lagi bete, hampa, nggak mau ngerjain apa-apa, coba deh pegang Quran. Rasanya ada sesuatu yang lain. Kalau lagi sediiiih, cobalah tertidur dengan quran di atas kepala atau dalam genggaman, tapi hati-hati ya….

2. Punya Quran jangan cuma satu. Ssst, ini tipsnya seorang muallaf lho! Katanya, untuk membuktikan kalau Quran itu benar2 kalam Ilahi, ia harus bisa meresap ke hati manusia. Ternyata, muallaf tersebut mengaku kalau menghafalkan Quran mudah. Ia berkata punya beberapa quran yg ditaruh di ruang tamu, ruang tengah, ruang makan (tentu ingat bagaimana harus bersikap hormat pada Quran ya…) sehingga sewaktu-waktu bisa membuka kalau pas lagi kepingin menghafal

3. Quran jangan cuma satu. Hehe…itu tips saya. Saya punya yg warna biru beludru (hadiah sih…), punya warna coklat, abu-abu, kecil, gede. Fungsinya juga buat penghilang bosan…kalau lagi bosan sama warna coklat, pegang yang beludru. Lagipula, Quran sekarang modelnya banyaaak sekali. Lha, novel detektif aja sampai berseri-seri, masa Quran cuma satu, bulukan, mana sobek-sobek lagi? Aduuuh….jangan dong.

4. Disiplin boleh….tapi jangan kaku. Ingat, kita lagi menumbuhkan happiness with Quran. Kalau pagi emang lagi repot banget, jangan dipaksakan. Ntar malah emosi. Menghafal quran koq sambil emosian? Kalau lagi senggang pas mau tidur, coba baca & hafalkan. 1 ayat saja. Kalau senggang pas mau bobo siang, silakan. Kalau pas waktu dhuha, ya monggo….pendek kata; coba cari waktu senggang yang nyaman.

5. Di waktu sholat wajib, ulang hafalan. Gak perlu panjang, cukup 1-2 ayat. Gak perlu nunggu sholat malam kan? Justru, kalau misal menghafal Al Baqarah, bisa dipotong ayatnya. Artinya, misal mau baca ayat tentang shoum, ada 3 ayat. Gak panjang, gak sampai 1 halaman.

6. Ingat-ingat hafalan saat kita beraktivitas, pilih saja aktivitasnya. Pas masak, lagi menyisir rambut anak, lagi di atas sepeda motor.

7. Seru banget kalau pas menghafal kebolak-balik. Itulah kenapa penghafal Quran tajam otaknya! Ayat ini, terakhirnya ’aliim atau ’adziim ya? Yasy urun, atau tasy urun? Ya’lamun atau ta’lamun? Otak kita belajar untuk melihat secara visual tetapi secara imagery. Hati-hati, yg 144 ya’lamuun, yg 149 ta’lamuun! Otak belajar memvisualkan kalau ya’lamuun ada di halaman 22, posisi agak ke bawah. Ta’lamuun ada di 23, posisi tengah. Faham kan kenapa, penghafal Quran firasatnya tajam, instingnya terasah, hatinya peka, ke pikun annya tertunda? Sebab otaknya belajar untuk bekerja dengan cara sebagaimana sepasang mata bekerja : menangkap stimulus, melihat, mempersepsi, menyimpan. Bahkan ketika matanya tertutup, otaknya tetap mampu bekerja dan hatinya mampu membaca…..duh, semoga kita bisa jadi penghafal Quran ya…amiiiin

8. Seru banget kalau menghafal quran lalu :

* menemukan sebuah ayat :….lha…ini ayat yang selama ini sering didengar kalau pas bulan ramadhan. Alhamdulillah….duh, senengnya dah sampai ayat puasa.

* waah, ini ayat yang menjawab kegelisahanku. Misal, kenapa doaku gak terkabul ya? Oh, aku dah sampai ayat tentang doa (2 :186)…oh, jadi itu jawabannya. Pada hakekatnya, manusia senang bereksplorasi dan senang ketika menemukan jawaban dari pengalamannya sendiri. Jadi, kalau kita menemukan ayat yang dibutuhkan, rasa pas banget…

* sihir itu apa sih? Magic itu apa sih? Kayaknya pernah dengar deh tentang hikayat malaikat yang jadi manusia. Oh, ada tuh di kisah Harut dan Marut (2 : 102) Jadi senang karena mengetahui sejarah dunia

Menghafal Quran bukan hanya buat persiapan di akhirat.
Buat di dunia pun, membaca Quran membuat kita merasa nyaman, tenang, dan itu membawa dampak pada self esteem dan performance. Pasti, insyaAllah

 

Para Penikmat Novel ~ROSE~

 

Fiksi di Jurnalicious SMA 1 Talun Blitar, 1 April 2012

yang beruntung mendapatkan doorprize, salah satunya ~ROSE~ Sinta Yudisia

 

IKONISASI BUNGA MAWAR dalam ~ROSE~ karya SINTA YUDISIA

http://langitshabrina.multiply.com/journal/item/160/Ikonisasi_Bunga_Mawar_dalam_Novel_Rose_Karya_Sinta_Yudisia

Judul Buku: Rose
Penulis: Sinta Yudisia
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm
Tebal : 320 hlm
Harga : Rp32.000,-
ISBN : 978-602-8277-46-4
Lini : Novel

Novel ini dijuduli Rose yang mewakili Mawar sebagai tokoh utama. Sebenarnya dalam konstruksi budaya Barat dan Timur tentu berbeda antara Rose dan Mawar. Walaupun dalam kamus Rose dan Mawar menunjuk pada konsep yang sama, cara pandang orang Barat terhadap rose dan cara pandang orang Indonesia terhadap bunga mawar tentu berbeda. Tidak akan ada yang sama persis dalam cara kedua suku bangsa memandang sebuah konsep. Nampaknya penggunaan judul Rose berkaitan dengan strategi marketing. Yang paling pasti, konsep yang sama antara Rose dan Mawar adalah bunga merah yang tetap indah walaupun diselimuti duri.

Novel bersampul bunga mawar ini bercerita tentang pembentukan karakter Mawar dalam keluarganya yang taman bunga. Keluarga ini disebut taman bunga karena tokoh-tokoh yang menjadi keluarganya dalam cerita ini diikonkan dengan bunga-bunga: Kusuma, Dahlia, Cempaka, Mawar, Melati, dan Yasmin. Membaca Rose seperti membaca kisah sebuah taman yang ditinggal pergi oleh tukang kebunya. Sosok ayah dalam keluarga Mawar meninggal. Mereka harus menjalani ujian hidup tanpa kepala keluarga. Seperti halnya taman bunga, takada lagi yang menyiram, takada lagi yang memupuk. Ayah sebagai sumber kekuatan mereka meninggal. Perlu banyak penyesuaian, pelipatgandaan kekuatan mental dalam keluarga Mawar. Ujian demi ujian memperlihatkan bagaimana konflik dan tokoh-tokoh di sekitar Mawar membentuk karakternya.

Tidak dapat dielakkan lagi, membaca novel yang menggunakan nama tokoh sebagai judul berarti sedang membaca sajian tentang detail karakter tokoh tersebut. Pertanyaan yang akan muncul: mengapa dia begini? Siapa yang menyebabkan dia mengambil keputusan itu? Apa yang akan dia lakukan menghadapi ini? Akhirnya pembaca akan tertarik pada karakter tokoh utama dan tokoh-tokoh di sekitarnya. Karakter tokoh utama dapat dibaca melalui tuturan pengarang, konflik yang ada dan bagaimana ia menyelesaikannya. Karakter mawar juga dapat dilihat dari bagaimana ia menghadapi tokoh lain dan bagaimana tokoh lain memandangnya.

Bunga Mawar dan Karakter Tokoh Mawar

“Bunga Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter,” (wikipedia.co.id).

Ikonisasi adalah cara untuk menjelaskan tanda yang bentuk fisiknya memiliki kaitan erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya (Sudaryanto, 1989). Ikonisasi kerap dijadikan cara pengarang untuk mengambil inspirasi karakter tokoh-tokoh novelnya. Dalam novel ini bunga mawar dan bagian-bagiannya menandai detail tokoh mawar secara fisik maupun karakter. Tokoh Mawar diikonkan dengan bunga mawar merah. Paling tidak, itulah yang dapat kita lihat pada sampul depannya. Warna merah adalah penanda keberaniannya.

“Terlalu!” umpat Mawar “Dari maghrib gak pulang-pulang. Ngomongin apa sih? Kalau hujan begini tambah malam lagi pulangnya!” (hlm. 13). “Biarin! Biar tahu rasa, tuh, cowok kalau sudah waktunya balik. Dihalusin gak bisa, mending kasarin aja sekalian. Daripada bertele-tele malah bikin perasaan jadi nggak karuan, bikin dosa!” (hlm. 13).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan karakter pemberani, tegas, dan keras tokoh Mawar. Saat itu, Cempaka, kakaknya sedang diapeli oleh beberapa laki-laki hingga larut malam. Karena mengganggu kenyamanan di rumah, Mawar membuat keributan agar membuat lelaki-lelaki itu tidak nyaman dan pergi. Karakter tegas dan keras ini juga dikuatkan oleh tokoh lain yaitu mama atau Kusuma,

“Iya, maaf kalau keadaan rumah agak mengganggu,” sahut Mama lembut. “Maklum rata-rata anak mama berwatak keras. Keturunan ayahnya barangkali.” (hlm.14).

Bunga mawar berduri, untuk melindungin dirinya sendiri. Duri ini tidak menghilangkan keindahan yang ada pada bunga mawar. Ia terlihat indah tapi tidak sembarang orang berani memetiknya. Ikonisasi duri pada mawar ini digambarkan dalam maskulinitas yang ia miliki. “Mawar sendiri bukannya tak cantik. Hanya saja, dulu ayah begitu mendambakan anak lelaki. Begitu terobsesinya sehingga putri ketiganya dididik cara laki-laki. Gesit, keras, rasional, berpikir praktis,” (hlm. 21). “Hanya aku yang jika diganggu teman akan membalas dengan lemparan tempat pensil atau sepatu,” (hlm. 31).

Ikonisasi duri pada bunga mawar juga terdapat pada kekuatan karakter tokoh Mawar. Mawar mental dalam menghadapi konflik-konflik dalam kisah ini. Hal ini terdapat dalam percakapan tokoh Rasyid dan Intan. “Mawar orang yang tangguh. Dia pantang menyerah. Sekalipun saat itu tomboy dan metal, dia bisa menjaga diri.” “Aku nggak ngerti bagaimana orang seperti Mawar justru tahan banting terhadap permasalahan.” “Karakter,” Rasyid menambahkan. “Dia seorang pembelajar. Ingin mencari tahu jawaban, jalan keluar dari setiap masalah. Kukira itu yang membuatnya survive.” (hlm. 231).

Selain memiliki duri yang dapat melindungi dirinya sendiri, mawar juga tanaman semak yang memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter, (wikipedia.co.id). Ikonisasi pada bagian ini tidak boleh luput dari perhatian kita. Tokoh mawar dalam novel ini diikonkan dengan mawar langka, spesial, dan jarang ditemui. Mawar langka ini merambat di tanaman lain sampai 20 meter dan melindunginya dengan duri-duri yang menempel pada batangnya. Begitupun tokoh Mawar pada novel ini. Ia menanggung beban untuk mengembalikan kehormatan keluarganya. “Membantu Mama, melindungi keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja mengurus ayam adalah hal yang dipilihnya sendiri. Ia takmenyesal bersusah payah. Sama sekali tak sempat berpikir pamrih atau menonjolkan diri di hadapan siapapun untuk mengatakan: akulah yang paling berkorban untuk keluarga. Ia menyayangi semuanya termasuk cempaka,” (hlm. 211). Mawar berhenti kuliah, memilih beternak ayam untuk menambah penghasilan keluarga. Ia membiayai kuliah Melati, adik bungsunya dan merelakan Melati mendahuluinya menikah.

Tegar di antara Dua Melati

Mawar adalah pusat. Itulah yang bisa ditangkap dari konflik yang ada pada novel ini. Dari sekian banyak konflik yang dialami tokoh Mawar, sebenarnya novel ini hanya menyuguhkan dua konflik besar. Dua konflik ini berkaitan dengan dua melati: tokoh Melati dan Yasmin. Dua tokoh ini pun diikonkan dengan bunga Melati. Dalam bahasa Indonesia, Yasmin berarti melati. Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Melati putih (Jasminum sambac) yang harum melambangkan kesucian dan kemurnian. Bunga ini merupakan suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa dan Sunda (wikipedia.co.id).

Tentang kesucian dan kemurnian, bunga melati diikonkan pada tokoh Yasmin. Walaupun ia adalah anak yang lahir dari hubungan yang tidak senonoh antara Cempaka dan Fani, Yasmin tetap suci dan tidak bersalah. Tokoh mawar bersikeras meminta Cempaka untuk tidak menggugurkannya. Tentang ini tokoh Mawar berujar, “Ia memberiku firasat aneh. Berkali-kali mbak cempaka berusaha membunuhnya dengan minum jamu dan segala makanan berbahaya. Ingat waktu kita menolongnya ketika terjatuh di kos-kosannya dulu?” Melati mengangguk. “Hingga Mbak Cempaa mengalami pendarahan. Seakan-akan Yasmin ditakdirkan dengan kekuatan Allah untuk bertahan terhadap segaka serangan. Anak ini kuat Mel. Semoga kelak ia kuat menghadapi semua kebusukan hidup,” (hlm. 220-221).

Kekuatan tokoh Yasmin ini memberi kekuatan kepada Mawar untuk bertahan membersarkannya. Ini juga menjadi konstruksi karakter yang dilakukan tokoh lain terhadap tokoh utama. Yang satu menguatkan yang lain, dapat kita istilahkan demikian. Kehadiran Yasmin membuat Mawar yang awalnya tomboy berubah 180% menjadi keibuan. Perubahan ini menjadi bukti bahwa konflik dapat membangun karakter tokoh utama menjadi lebih baik.

Melati kedua adalah Melati, adik bungsu Mawar. Melati diikonkan sebagai suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa. Bunga melati yang kecil menjadi ikon tokoh Melati yang bungsu. Hiasan rambut pengantin menjadi ikon konflik kedua yang menimpa tokoh Mawar. Adik bungsunya, Melati meminta izin untuk menikah lebih awal, mendahuluinya. Kepada ibunya Mawar berujar, “Jujur, awalnya Mawar pun sempat kaget dan nggak percaya. Tapi, setelah berpikir jernih, Mawar ikhlas. Kita akan tenang, kan, Ma, melepas orang yang kita cintai ke tangan laki-laki yang salih dan bertanggung jawab?” (hlm. 251).

Dua konflik utama ini membentuk karakter utama pada tokoh Mawar yaitu ikhlas. Satu demi satu konflik ia hadapi untuk membangun keikhlasan dalam dirinya. Perjalanan kehidupannya menggambarkan bahwa ikhlas itu tidak karbitan. Ikhlas lahir dari kemampuan seseorang untuk mengatasi setiap masalah satu demi satu yang ditakdirkan Tuhan. Ikhlas itu manusiawi dan tidak akan melahirkan kata “mengapa?” pada setiap takdir dan ujian apapun.

“Sejak dahulu, Mawar tidak pernah kecewa dan membenci kehidupan yang memiliki corak beragam. Ia tak pernah iri kepada cempaka yang memiliki kecantikan sempurna, takpernah iri pada Dahlia, takpernah iri pada Melati yang seakan mendapatkan kesempatan hidup jauh lebih baik darinya. Ia takpernah merasakan Yasmin adalah baian penghambat kehidupannya sebagai perempuan,” (hlm.292).

Kepasrahan dan keberserahan dalam menghadapi satu demi satu ujiannya membuat Mawar mereguk kenikmatan ikhlas. Keikhlasan ini yang akhirnya menjadi ikon dari aroma bunga mawar yang harum ketika mekar. Pada episode akhir, Mawar menikah dengan Ito, sahabatnya semasa kuliah. Ujian demi ujian seperti pupuk dan air yang menyirami bunga mawar membuatnya semakin mekar merekah, dan dihinggapi kumbang. Tokoh mawarpun demikian. Pada akhir episode, Rasyid datang untuk mewakili Ito melamarnya. Mawar menikah dengan Ito dan lengkaplah kebahagiaan mereka. Seperti novel-novel FLP lainnya, kisah ini berakhir bahagia.

Yang Agak Mengganggu

Bagian yang agak menggangu dalam novel ini adalah kesibukan pengarang mengenakan satu demi satu tokohnya di awal. Seolah mengenalkan karakter tokoh di awal cerita merupakan fardu ain bagi seorang pengarang. Satu demi satu diary tokoh dideretkan. Seolah diberi tugas, setiap tokoh menceritakan karakter masing-masing atau pandangannya terhadap karakter tokoh lain. Tokoh Dahlia ditugasi bercerita tentang karakternya sendiri. Tokoh Cempaka ditugasi menceritakan dirinya, Ayah, dan Mama. Tokoh Mawar ditugasi menceritakan karakternya dan karakter saudara-saudaranya. Tokoh Melati ditugasi menceritakan kebungsuannya dan apa yang ia rasakan. Padahal semua itu dapat dilihat dari konflik yang membangun kisah.

Khatimah

Setelah membaca lengkap buku ini, saya jadi teringat Dr. Wina Meilinawati, Ketua Program Studi Sastra Kontenporer Pascasarjana FIB Unpad yang mengatakan bahwa setiap karya sastra selalu mengaitkan dirinya pada sesuatu. Sesuatu itu bisa ayat pada kitab suci, mitos, atau apapun. Pesan terdalam dari perjalanan hidup tokoh Mawar merangkup makna ayat Al Quran: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 2). Novel ini relatif tipis, hanya 318 halaman. Untuk pembaca yang tidak terlalu akrab dengan novel, Rose tidak terlalu menyesakkan dada. Ia relatif ringan dibandingkan dengan karya-karya Sinta Yudisia yang mayoritas bernuansa sejarah. Selain itu, novel ini sangat berpihak pada perempuan yang memiliki segudang aktivitas. Tokoh-tokohnya yang tidak terlalu banyak dan mudah diingat membuat mahasiswa, ibu rumah tangga, atau para perempuan yang sibuk di kantor dapat membacanya pada satu waktu, menyelanya dengan pekerjaan, lalu melanjutkannya di waktu lain tanpa takut lupa alur ceritanya. Seperti kata Roland Barthes, setelah karya lahir, pengarang telah mati. Dengan demikian pembaca bebas memaknai karya berdasarkan pembacaannya masing-masing. Selamat membaca.

 
 

Sinta Yudisia, Metropolis Jawa Pos, Rabu 21 Maret 2012

 

Cerita Anak & Al Baqarah

Waktu masuk kelas tahfiz dan ustadz kami mewajibkan untuk menghafal dari juz 1, saya betul-betul kecut.
Juz 1?
Yang panjang itu?
Yang isi ceritanya tentang sapi betina, hukum jual beli, dll?
Ampun deh, saya nggak sanggup…
Tapi bagaimana lagi, masak tiap pekan mau bilang, “…maaf ustadz, saya belum hafal. Susah betul!”

1 tahun berlalu
Alhamdulillah. Horee…segala puji hanya milik Allah SWT . Dengan bangga saya bisa bilang ke anak-anak. “Ummi sudah hafal lho juz 1…sekarang masuk juz 2. Kalian bagaimana?”
Rasanya ada kebanggaan, rasa otoritas juga ketika menagih hafalan anak-anak : ayo, ayo setor hafalan! Nanti kalau anak-anak tanya…lha, emang Ummi hafalannya sampai mana? Sungguh, menurunlah figur populer saya sebagai ibu di mata anak-anak. Dengan menghafal Quran seperti ini, anak-anak tampakya melihat saya cukup punya otoritas ketika saya menagih hafalan mereka.
Menghafalkan juz 1 memang gampang-gampang susah. Susahnya kalau persepsi kita bilang itu susah. Gampangnya….seperti sebuah cerita panjang yang berkesinambungan.

Menjaga hafalan
Waktu favorit menjaga hafalan saya di dapur dan jalanan, waktu mengantar / menjemput anak2 sekolah. Naik sepeda motor, wajah tertutup slayer (jadi tak terlihat kalau mulut komat kamit) , bersembunyi di dalam helm.
Saya sempat berpikir, suatu saat akan buat penelitian klinis psikologi.
Mengapa saat menghafalkan, melafalkan, murojaah Quran; gerak refleks dan instink kita jadi tajam ya? Bagi yang tinggal di Surabaya tahu sendiri lah kemacetan dan bernafsunya orang-orang di perempatan Ir. Soekarno (jembatan MERR II C) , perempatan Bratang, perempatan Jagir. Saat orang jelalatan menghitung angka mundur lampu lalulintas, atau bersiap meng gas selaju mungkin kendaraannya saat lampu beranjak hijau, saya bisa tenang di atas sadel. Menghafalkan al Baqarah.
Anehnya, saya termasuk orang yang pengugup dan takut setengah mati kalau dipepet sepeda motor, apalagi disalip jarak dekat. Orang-orang sudah sedemikian nekatnya kalau mau potong jalan pintas! Saat saya melafalkan Quran, kesalip, sedikit tergoncang, alhamdulillah semua gerak tubuh refleks terkoordinasi untuk tetap stabil memegang stang.
Penjelasan psikologis ilmiahnya bagaimana ya?
Karena kalau saya lagi malas menghafal Quran, melaju di atas sepeda motor begitu-begitu aja, pikiran melayag entah kemana, disalip anak SMP naik sepeda motor…bisa dipastikan oleng dan saya akan memilih menepi banget menelusuri jalur sebelah kiri.

Al Baqarah itu…
Ada hewan-hewan unik dalam al Baqarah. Sapi, kera, binatang melata. Saya sempat berpikir juga; apa dampaknya bagi anak-anak muslim bila tes CAT- Children Apperception Test, jenis hewan yang digunakan bukan sembarang hewan macam beruang dsb tetapi hewan2 yg ada dalam Quran? Pastilah Allah SWT mewahyukan beragam jenis hewan di Quran dengan alasan-alasan yang sangat kuat.
Untungnya lagi, menghafalkan al Baqarah membuat kita punya bahan cerita banyak dan sangat meyentuh buat anak-anak!

Suara Ibu paling Merdu
Percayalah.
Meski sebagai ibu kita nggak balak lolos AFI, Suara Indonesia, Galaxy Superstar, Mama Mia, Indonesia Idol…bagi anak-anak suara ibu adalah melodi paling merdu. Pernah kan menyanyikan lagu Ilir-ilir, InsyaAllah , Rindu Rasul atau apalah jenisnya di hadapan anak kita? Pernahkah mereka bilang,”…..stop! Stop, Miii! Anda belum beruntung dalam audisi kali ini, silakan ulangi lain waktu…..”
Enggak kan?
Yang ada, kita diminta untuk menyanyi dan berdendang lagi sampai anak-anak tertidur.
Maka, sungguh…suatu kebahagiaan saat ngeloni anak, membelai rambut mereka, menyuruh mereka berwudhu dulu, bersama membaca 3 surat terakhir al Quran, maka kemudian kita menghadiahkan hadiah paling indah bagi anak-anak malam itu.
Meski tidak tiap malam, saya sempatkan untuk bisa mendampingi anak-anak menjelang mereka terpejam.
One night.
„Nis, mau Ummi bacain apa dari al Baqarah?”
Nis berpikir, sambil mengantuk berat.
”Sapi betina, kisah Firaun, doa nabi Ibrahim, pesan nabi Yaqub pada anaknya…atau tentang penciptaan langit bumi?”
”Ya! Ya! Itu aja Mi….yg penciptaan langit bumi.”

“Inna fii kholqissawamati wal ardhi wakhtilafil laili wan nahaar…”(2 : 164)

Saya tirukan bentuk alam sementa, isyarat malam dan siang, hujan, hewan melata, hembusan angin. Nis memandang takjub. Menjelang matanya terpejam,
”….bacakan sisanya esok ya Mi…”

Ow, Al Baqarah…
Ternyata tak sesulit yg kuperkirakan.

Doa untuk Anak & Kisah para Nabi

Usai sholat, mau ke sekolah, atau bila ada kesempatan berharga, saya usahakan mendoakan anak-anak dengan memegang kepalanya.
”Sini deh…mau nggak Ummi bacakan doa Nabi Ibrahim untuk anak-anaknya?”
Ya.
Siapa anak muslim yang tidak kenal Nabi Ibrahim dan kisah legendarisnya yang tiap tahun diperingati saat Idul Adha? Siapa anak muslim yang tidak mengenal romantisme indah Nabi Ibrahim dan kasih sayangnya pada Ismail? Maka anak-anak biasanya berebut ke arah saya ketika saya berkata, ”…hayooo, siapa mau Ummi doakan?”

”Robbana waj’alna muslimaini laka wamin dzurriyatinaa ummatamuslimatalak, wa arina manasikana wa tub ’alayna..innaka anta tawwaburrahim” (2 :128)

Ketika Anak Bertanya Kematian

Hal paling sering ditanyakan orangtua adalah ketika anak bertanya tentang perpisahan (anak saya pernah bertanya masalah perceraian…) termasuk di dalamnya gambaran mengenai kematian. Saya sendiri sedih bila berhadapan dengan pertanyaan ini, tapi ketika suatu saat anak saya berlinangan air mata menanyakan hal tersebut termasuk ia meragukan apakah bisa memegang teguh Islam saat besar dan kami tiada nanti.

”Am kuntum syuhadaa – a idz hadhoro ya’qubal mautu idz qola libaniihi maa ta’buduna mimba’di….” (2 :133)

”Sayang..tau nggak waktu nabi Yaqub mau meninggal? Yang ditanyakan ke anak-anaknya : besok kalian menyembah siapa?
Abah Ummi ini miskin, nggak punya apa-apa, berbeda dengan Allah Yang Maha Kaya. Belum tentu kalian jadi orang sukses kalau bergantung sama Abah Ummi. Tapi Allah Maha Kaya. Kalau kalian bergantung sama Allah …insyaAllah, kelak jadi orang yang kalian inginkan…
Lihat tuh nabi Yaqub…”

Sekarang, kalau anak-anak tanya yang aneh-aneh, saya suka berpikir…apa ya jawabannya dari al Baqarah? Ini karena saya memang baru menghafalkan sebagian dari surat tersebut. Mungkin, kalau saya sudah hafal 30 juz, saya bisa bercerita banyak lagi.

 

Perempuan Cantik Palestina (Gaza part 1)

“Andai hidung Cleopatra sedikit lebih pendek, wajah dunia tak akan berubah.”

Blaise Pascal (1623-1662) ternyata tidak hanya merumuskan segitiga Pascal yang terkenal. Ia pun menuliskan tentang bagaimana kecantikan Cleopatra membius banyak lelaki pada zamannya.

Sejarah mencatat, dunia terkadang takluk di bawah kecantikan perempuan. Benua Afrika memiliki sejarah legendaris berkenaan dengan kedudukan perempuan berikut paras rupawan mereka. Nefertiti, permaisuri Akhenaten; Cleopatra VII dari dinasti Ptolemaic yang disebut-sebut menjadi pemikat Julius Caesar dan Mark Anthony; Queen Farida Safinaz Zulfikar – istri I raja Farouk.

Perempuan tercantik di dunia, salah satunya berasal dari Alexandria, Mesir. Bukan hanya kebetulan Cleopatra VII dan Safinaz Zulfikar pun berasal dari kota tersebut.

Kecantikan, seolah menjadi syarat mutlak bagi perempuan era modern untuk menampilkan ciri khas kepribadiannya. Tengok saja idola anak muda zaman sekarang yang menggandrungi grup musik asal Korea dan Jepang, dimana sebagian besar mereka berwajah mulus cantik tanpa cela. Bahkan grup band lelaki.

Persyaratan menjadi anggota grup penyanyi tersebut : bersuara indah, bertubuh proporsional, cantik sempurna secara fisik, dan bersedia operasi plastik. Tren operasi plastik tampaknya mewabah di Asia Timur, tak peduli memakan korban nyawa seperti Wang Bei, artis China yang demikian cantik dan terpaksa kehilangan nyawa di meja operasi akibat kegagalan dokter saat membiusnya.

Indonesia, mulai memasuki gejala mempercantik fisik secara operasi plastik, tak peduli harga yang harus dibayar.
Seharusnya, kita belajar mempercantik diri seperti perempuan-perempuan Palestina. Layaknya kaum hawa, perempuan Palestina biasa mengolesi wajah mereka dengan minyak zaitun, minyak yang dipercaya terbaik merawat kekenyalan kulit dan mempertahankan kemudaannya.

Saat berada di Cairo, mata terbelalak menatap kecantikan gadis-gadis Mesir yang lalu lalang di tengah cuaca panas terik. Wajah aristokrat, kulit putih bercahaya, mata indah dan kontur wajah sempurna! Pantaslah salah satu kota di Mesir, Alexandria, dinobatkan sebagai penghasil gadis tercantik dengam mahar termahal : minimal 80.000 dollar! Itu belum termasuk biaya apartemen dan pernikahan. Tentu, jumlah uang itu mewakili betapa kecantikan gadis Alexandria pantas menjadi buah bibir.
Subhanallah, Maha Sempurna Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Menurut kisah yang beredar, salah satu yang memelihara kecantikan wanita Mesir adalah mereka senang mengkonsumsi susu sejak kecil sehingga kehalusan kulit terjaga.

Bagaimana dengan perempuan-perempuan Gaza?
Kecantikan kaum hawa Gaza, tak kalah menakjubkan.
Tetapi sungguh, kecantikan mereka berbeda dengan perempuan-perempuan di negeri lain. Kesederhanaan, ketekunan, kecerdasan, ketangguhan tampak dalam perilaku keseharian. Rehab Shubair, Ittimad Tarbawi, Abeer Barakat, Lina Ameer, Noha Sabhan adalah segelintir perempuan Palestina yang kami temui. Sorot mata mereka menunjukkan kesungguhan dalam menapaki masa depan. Tutur bahasa sopan dengan intonasi tegas. Tanpa polesan make up apapun, mereka tampil cantik dalam balutan abaya dan scarf warna warni. Polesan luar tampaknya tak mendominasi meski sekali waktu, dalam acara pernikahan gadis-gadis tampil lebih attraktif dalam dandanan dan pakaian.

Di Mesir, perempuan muslimah tetap mengenakan busana menutup aurat namun dalam corak dan model yang jauh lebih glamour, mengenakan perhiasan-perhiasan dan sebagian bermake up tebal; hal yang tidak dijumpai pada perempuan Palestina. Bukan dogma fundamentalis yang melarang perempuan tabarruj berlebihan, tetapi lebih kepada karakter perempuan Palestina yang suka bersikap sederhana serta lebih mengedepankan kecerdasan intelektual serta kekuatan pancaran cahaya ruhani.

Di tengah perempuan Palestina, pembicaraan adalah seputar bagaimana tetap mengurus keluarga secara baik sembari meningkatkan kapasitas diri. Di sisi lain, membahas ummat dan masyarakat menjadi agenda penting. Abeer Barakat sendiri menyatakan ia memiliki yayasan yatim piatu sekalipun kondisi keluarga mereka tak berlebih sangat. Memiliki yayasan yatim piatu sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat, di samping Abeer bercita-cita kelak menjadi teman dekat Rasulullah Saw di surga seperti dua jari yang tak terpisahkan. Noha Sabhan sendiri tak main-main dengan aktivitasnya : tengah hamil besar dan tetap mengurus pengajian. Hari-hari biasa murid pengajiannya mencapai 100-150 orang, di musim panas bisa dua kali lipat!

Efisiensi waktu, menjadi penting bagi perempuan Palestina.
Mereka membagi waktu sebaik mungkin untuk beragam kegiatan dan tak tersisa untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Televisi, agaknya juga dimaksimalkan bagi perkembangan mental keluarga.

Menikmati kecantikan perempuan Mesir dan Palestina tentu berbeda. Ada gelora metropolis di Cairo, menyaksikan tawa canda raut rupawan para duplikat Cleopatra. Di Gaza; ramuan kecantikan adalah kesungguhan dan kesederhanaan, sholat malam dan hafalan Quran, kepatuhan pada suami dan pengembangan diri, mengurus anak-anak dan peduli masyarakat. Selain minyak zaitun yang juga biasa dikenakan Cleopatra sebagai pemelihara kecantikan; perempuan Gaza memelihara pesona diri mereka dengan tidak mengkonsumsi junk food atau makanan instant.
Telur rebus, tomat, timun, yoghurt adalah makanan keseharian.

Berpuasa, bukan hal yang aneh dilakukan. Giat beraktivitas, hanya memakai khadimah yang dibayar 24 dollar sehari sekali dalam seminggu. Menghabiskan waktu dengan bersosialisai dan berorganisasi, turut berpartisipasi dalam kerja-kerja pemerintah membangun ummat. Pantas saja, mereka tetap ramping dan cantik tanpa harus sedot lemak apalagi operasi plastik.

 

{Ulasan Novel} ~ROSE~ Sinta Yudisia oleh Fauziyyah Arimi

Membaca fiksi dengan tokoh utama yang membawa serta konflik berlapis-lapis dalam kehidupannya dan menjadi alasan perjuangan yang panjang, mungkin bukan hal yang langka. Bila pernah membaca ‘Ketika Mas Gagah Pergi..dan Kembali’ terselip cerita tentang Ita. Cerita yang menghadirkan Ita dengan kesedihan berlapis-lapis -yang sepertinya secara nyata-, kita akan berpikir bahwa mustahil lapis demi lapis kesedihan atau konflik itu sanggup terselesaikan dengan tuntas. Novel ini pun, demikian. Awalnya menggantungkan pertanyaan itu lewat sinopsis di sampul belakangnya.


Bagaimana bisa Mawar berpikir untuk menanggung anak hasil hubungan diluar pernikahan kakaknya? Lalu memutuskan berhenti kuliah, merintis usaha untuk membantu kakak sulungnya mempertahankan kesejahteraan keluarga? Pun ketika telah matang dan kondisi keluarga membaik, Mawar memilih untuk mendukung adiknya menikah karena memang telah dilamar oleh laki-laki bermartabat. Bagaimana ia tidak mempersoalkan gunjingan ‘perawan tua’ sementara ibunya justru bersedih dan sebenarnya tak ingin ia dilangkahi menikah oleh si bungsu. Dan ketika telah beberapa tahun ia membesarkan Yasmin hingga menjadi anak yang baik dan pintar, bagaimana caranya ia bisa rela menanggapi keinginan kakaknya yang hendak merebut Yasmin dari sisinya?

Bagian awal novel ini, kurang saya nikmati. Karena belum terasa mengalir saat membaca dua episode awal. Tapi itulah, permulaan memang tidak selalu mudah. Selanjutnya, tulisan mba Sinta mengamini antisipasi saya. Bahwa karyanya memang kaya. Tidak ada sudut pandang tokoh yang terlampau dominan, tapi hal tersebut tidak membuat rasanya setengah-setengah. Lalu narasi latar yang tata kalimatnya memikat, indah. Alurnya tidak begitu lambat, tidak pula terlalu cepat. Mungkin tema yang diangkat, sekilas serupa sinetron zaman sekarang. Tetapi toh novel ini tidak dramatis yang lebay, tapi dramatisnya natural. Dramatis yang bisa diterima nalar.

Perubahan menjadi lebih baik yang terjadi pada Mawar, pada Melati maupun keluarganya, tidak instan. Dan itulah, asyiknya. Kita mengalir menyaksikan bertumbuhnya mereka. Pertumbuhan yang tidak mudah. Mawar bukan seorang yang terus lempeng dan lapang. Bahwa satu dua kali bahkan ia bertanya letak keadilan Allah terhadap keluarganya. Ada juga saat dia bertanya sendiri, benarkah tindakan-tindakan yang diambilnya? Transformasinya pun tidak sebentar. Tapi karakternya yang begitu kuat mengalahkan melankolisme akut yang mungkin akan melanda kita bila ada di posisi Mawar.

Sejak pertengahan novel, airmata saya meluruh. Mba Sinta berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Sementara saya terus saja iri pada Mawar yang berkarakter nalaria (istilah mba Sinta). Karena saya tahu persis kelemahan perempuan yang berkarakter melankolis. Bahwa orang berkarakter nalaria lebih memiliki potensi berpikir positif dan cepat bangkit. Lalu saya ingin menjadi seperti Mawar. Mungkin itu juga akan diinginkan pembaca lain.

Mawar bukan tokoh yang beranjak cemerlang secara materiil tapi ia beranjak kaya dalam hatinya hingga tercermin dalam transformasi dirinya. Kedewasaannya menajam, akhlaknya semakin cantik. Segambreng permasalahan yang menghampirinya, seperti pasir-pasir yang ia simpan dalam cangkangnya yang mulanya membuat ia kesakitan tapi kemudian balik menghadiahinya dengan mutiara. Bagaimana bisa tidak iri?

Ketika akhirnya Mawar mendapatkan pasangan, kisahnya tidak seperti Cinderella yang menemukan pangeran berkuda. Mungkin hal ini mematahkan kebiasaan cerpen dengan tema bernada sama, tapi itu nilai relevannya. Lalu tidak semua karakter berhasil mencapai titik balik dan beralih menjadi dominan protagonis. Dan begitulah, tidak selalu mudah memelihara ‘kebenaran’ yang telah Allah titipkan.

Satu hal yang sangat kental, novel ini menyuguhkan rupa pengorbanan. Tak perlu disesali, tak perlu diratapi, karena nantinya pengorbanan tersebutlah harga bagi pendewasaan diri.

Rose, adalah fiksi yang dipikirkan dengan matang. Diniatkan untuk mencerahkan. Begitu kan, mba Sinta? :-P

Ah ya, banyak kuotasi yang bersepakat dalam nalar dan begitu diterima oleh hati. Seperti:

“Tetaplah mencari ilmu tentang kebenaran hingga ia berpijak diatasnya dengan teguh. Sampai nanti kita sudah salih pun, tetaplah belajar. Karena hidayah itu secara sunnatullah harus dipelajari dan dipelihara.” –halaman 167

“..Tapi, semakin kamu mencari jawaban diluar agama, semakin akan hancur hidup kita. Kita akan semakin terbentur-bentur pada persoalan yang makin tak terurai karena kusutnya.” –halaman 171

“Kata orang, berdoa adalah katarsis. Mencurahkan semua beban hingga tanpa sisa kepada pendengar, tanpa interupsi. Siapa lagi pendengar yang mampu menampung segala tanpa bertanya (kecuali Allah)?” –halaman 246

Bahkan ada kalimat filosofis tentang anak-anak: “Anak-anak tak pernah merasa lelah, tak pernah menyimpan keburukan di hati, tak pernah merasa dieksploitasi. Anak-anak adalah rancangan alami siklus kehidupan. Permata yang menghiasi rantai kebosanan kehidupan orang-orang dewasa, zamrud yang memberikan pendar kecantikan. Aroma wangi yang menyempurnakan bunga tercipta.” –halaman 70

Baiklah teman, akhirul kalam, Selamat Membaca :-)

 

WAJAH UNIK :-)

Tertuduh? Tidak juga.
Hanya merasa aneh.
Dalam suatu acara forum kepenulisan nasional, seorang peserta tiba-tiba bertanya,
”…mbak aktif di partai X ya?”
Saya melongo.
Tidak menyangka mendapat pertanyaan yang ‘melenceng’dari dunia kepenulisan.
“Oh,” setelah menenangkan diri beberapa saat,”….saya simpatisan kok dek.”
Ia tampak penasaran dan saya segera menutup pembicaraan. Hm, sorry sista, this is not the right place to talk about it.

Fragmen berikutnya dengan beberapa dosen.
Suatu saat dalam diskusi hangat seputar politik, agama, kuliah dan lain-lain, tiba-tiba pak dosen bertanya,
“Kamu kenal sama Ahmad Jabir?”
Saya tertegun, sempat tersedak sebentar.
Nama itu pasti mengacu sesuatu. Demi menghormati institusi civitas akademika, saya berujar,
”….saya kenal istrinya, Pak.”
Tentu saja. Rumah tinggal kami tak berjauhan! Lagipula, swear, saya lebih kenal istrinya….
Moment yang lain ketika di kelas Teknik Konseling.
Dosen pakar klinis kami sedang membahas beragam persoalan seru seputar club swing, sekte keagamaan, sophacholic ketika tiba-tiba ia melontarkan usulan penelitian.
”Kamu teliti saja perempuan partai X. Tuh, konsultasi sama Sinta.”

Ada apa? Saya bertanya-tanya. Perasaan, pakaian dan perilaku saya usahakan secair mungkin. Ketika teman-teman membahas Jessie J – Price Tag ; ketika remaja membahas Suju, Shinee, T-ara, SNSD, saya usahakan mengikut. Film terbaru pun oke. Buku, berita, ayo…

Fragmen terakhir
Suatu saat, ketika satu stage dengan ustadz Faudhil Adzim.
Biasalah; pertanyaan seputar pernikahan, parenting yang….lagi-lagi, menyerempet masalah politik. Saya jawab, wah, ini bukan forumnya. Kan kita sedang membahas dunia anak-anak?
Usai acara, seorang ibu mendekat. Ia berkata sudah sangat lama ingin bertemu, setelah sebelumnya hanya mengenal lewat tulisan-tulisan. Kami cepat akrab. Ia bercerita tentang suami, anak-anak, usahanya, rekan-rekan bisnisnya, hobbynya. Ujungnya…
”Mbak Sinta pasti orang partai X,” tuduhnya, pasti.
Ha?
Saya melongo.
Koq bisa?
”Memang saya kelihatan gimana, Mbak?” akhirnya, setelah fragmen demi fragmen, rasanya penasaran juga ingin tahu mengapa saya ’tertuduh’ begitu.
Ia tertawa.
”Yaaa…pokoknya kelihatan beda…”
”Beda gimana?”
”Wajahnya itu lho…..”
Betul-betul nggak faham. Melihat saya kebingungan, ibu pengusaha itu meneruskan.
”…dari wajahnya kelihatan Mbak, kalau mbak mewakili mana. Saya tahu koq. Wajah orang partai X biasanya ramah dan tersenyum lebar. Itu yang bikin beda.”
Oooo.
Ada yang mau comment?

* Today, give a stranger one of your smiles. It might be the only sunshine he sees all day. ~ Jackson Brown, Jr.*

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.