Apa yang kita dapatkan dengan menulis?

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

Minta doa dari semua untuk UTS 16 November

Alhamdulillah acara silaturrahim FLP Jatim dengan Cabang & Ranting kemarin, Sabtu 7 November, berjalan baik. Minta doa, tanggal 16 November mau UTS, semoga Ilmu yang berhasil diserap maksimal, dapat ditularkan kepada orang lain, dapat diaplikasikan. Doakan nilai mbak excellent.

 

Sekalin minta maaf jika pekerjaan mengedit dan membantu adik2 FLP untuk membaca naskah jadi tertunda ba’da ujian ya…

FLP Jatim & 7 November : Pahlawan Baru Kami

 

            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.

            Apa sih yang akan kami lakukan?

  1. Silaturrahim : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan ;-) Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga….and money of course. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun…Allah Maha Mencukupi.
  2. Konsolidasi :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal. Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua resource yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi winning team yang semakin menghasilkan karya & penulis (pejuang da’wah) cemerlang.
  3. Musyawarah : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.
  4. Sharing : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.
  5. Little Gift : kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan reward yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan reward yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa cost Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP
  6. Menguatkan semangat : tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.

 

 

Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.

Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.

Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

Dari Bedah Buku REINKARNASI UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta : antara supranatural & sastra

IMG_0314  IMG2623A  IMG2608A

9420_1250208617950_1311535629_732496_4202238_s[1]   IMG2629A

 

 

Alhamdulillah…Acara FLP Ciputat yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah, tanggal 10 Oktober 2009 berlangsung dengan meriah. Dihadiri sekitar 100 orang peserta, silih berganti berkejaran ingin bertanya.

Rasanya, sebuah anugerah tak terhingga dari Allah SWT sehingga novelku dibedah oleh dua orang pakar yang masing-masing ahli di bidangnya. Mas Jamal D. Rahman, sastrawan penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, dan kini mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada FIB-UI. Dia menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Pria kelahiran Sumenep, Madura ini kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam dan luar negeri, antara lain Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara Bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers’ Meet) di Kuala Lumpur (2001), festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004).

Apa Keunggulan Reinkarnasi?

Bagi Jamal D. Rahman; ada 3 novel yang mengupas tentang budaya Jawa :

1. Para Priyayi –Umar Khayam

2. Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

3. Karya Pramoedya A.Toer

Reinkarnasi menurut mas Jamal mengupas budaya Jawa dari sudut pandang yang lain! Penyebaran Islam di Nusantara memiliki kisah yang panjang dengan beragam hikmah. Di luar Jawa, setidaknya proses ‘Islamisasi’ itu tuntas-sempurna (kalau tidak bisa dikatakan telah selesai 80-90%, kuranglebih). Sementara Jawa hinggá kini masih belum tuntas, budaya Jawa yang berasimilasi dengan Islam masih demikian menunjukkan jati diri aslinya. Puasa mutih, sekaten, tikarat, dan masih banyak lagi adalah gambaran budaza Jawa yang telah berasimilasi dengan Islam tetapi masih menunjukkan betul aura aslinya.

Reinkarnasi, mengupas keindahan budaya & filosofi Jawa, mau tidak mau harus berinteraksi dengan pusaka, sejarah, mitologi yang notabene berinteraksi dengan dunia mistik dan alam ghaib. Di sisi lain Reinkarnasi pun ingin mengakhiri dimensi mistik dalam budaya Jawa.

Reinkarnasi : hanya untuk orang Jawa?

Tidak. Mas Jamal berpendapat, salah satu sisi negatif otonomi daerah adalah masig-masing daerah kemudian ’mengabaikan’ ciri khas budaya lain dan lebih cenderung mempelajari budaya sendiri. Hal ini berbahaya bagi negara kesatuan RI. Masuk akal juga, mengingat mempelajari budaya sendiri sudah sangat susah (karena sudah cukup lama ditinggalkan, dianggap tidak dinamis dan sesuai dengan kultur zaman ini), apalagi mempelajari budaya daerah lain! Membaca Reinkarnasi dapat menjembatani orang di wilayah manapun untuk memahami budaya Jawa dari kacamata sastra.

Ingat bukan, apa kegunaan sastra dalam kehidupan manusia? Sastra memperhalus sebuah makna/hakekat/peristiwa agar intisarinya dapat sampai dengan mudah kepada pembaca. Mempelajari budaya masa lampau mungkin terasa berat dan sudah tidak sesuai zaman alias jadul, hanya cocok untuk mbah-mbah. Prasasti, keraton, serat Kalatidha, Ranggawarsito…duh, susahnya mempelajari mereka. Dengan sastra –Reinkarnasi, misalnya- pesan sampai lebih mudah kepada anak-anak, remaja, dewasa, ibu, bapak, buruh, karyawan, mahasiswa, rakyat jelata, bansgawan….siapapun agar setiap manusia Indonesia kembali pada jatidiri bangsannya yang agung. Para pendahulu kita adalah orang-orang ksatria, pemberani, welas asih. Orangtua yang penyayang, anak-anak yang penuh hormat, para sesepuh yang bijaksana, pejabat yang mengayomi, pekerja yang mengabdi, guru yang mumpuni & ikhlas, murid yang ta’dzim. Pedagang yang jujur, pembeli yang santun, prajurit yang mulyo. Kemana perginya semua kearifan lokal ini? Ketika Islam demikian mudah berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya kita dimasa lampau, semua cair dan lebur; mudah teraduk & menyublim karena sama rasa. Sama bentuk. Sama sejati. Sama mulia, unggul, keutamaannya.

 Orang-orang non Jawa baik Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Bali, NTB semoga dapat memahami citaras keindahan , keunikan keluhuran budaya Jawa yang semakin memperkaya khazanah pengetahuan; semoga membangkitkan kecintaan pada negeri ini. Yakinlah; budaya Sumatra, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi dsb menyimpan ciri khas dan keunikan yang luarbiasa indah untuk dapat dipelajari.

Prof. Dr. Abdul Mujib M.Ag said….

Guru Besar Psikologi Islam ini adalah Dosen Mata Kuliah Psikologi Islam; Psikologi Kepribadian Islam; Psikologi Dakwah dan Psikoterapi Islam. Staf Pengajar pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Fak. Psikologi-Pendidikan Univ. Al Azhar Indonesia; Psikologi Univ. Paramadina; dan Pascasarjana Kajian Islam dan Psikologi PSTTI Univ. Indonesia. Pendidikan S1 Tarbiyah IAIN Malang; S2 Pendidikan Islam IAIN Padang; S3 Kajian Islam UIN Jakarta. Penulis beberapa buku dan jurnal ilmiah tentang Psikologi Islam. Kini menjadi Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi)

“saya appreciate dengan karya mbak Sinta,” ungkapnya.

 Beliau lebih menghimbau para peserta untuk berani tidak hanya mengupas karya, tapi juga mulai berkarya. Secara khusus pak Mujib memberikan wacana tentang Reinkarnasi dan memberi sekelumit Psikologi Islam. Saya sendiri baru tahu masalah lengkap Reinkarnasi di belahan dunia Timur dari beliau. Pendeknya, Reinkarnasi dikenal di seluruh agama Timur(kecuali Islam tentunya). Tentang Reinkarnasi ini insyaAllah saya kupas di tulisan yang lain.

Ilmu yang saya dapat….. tiap kali bedah buku, tiap kali mengisi acara, sayalah yang tambah kaya. Bayangkan, mendapatkan ilmu tentang ”Logika Cerita” dari mas Jamal D. Rahman, Reinkarnasi dan seluk beluk Psikologi Islam dari Prof.Dr. Abdul Mujib.

 ”Nih, saya beri inspirasi supaya kalian bisa menulis menyaingi Reinkarnasi,” jelas pak Mujib menjelaskan powerpoint. Beliau menyampaikan A-Z tentang ’kelahiran kembali’ dan sedikit tentang alam ruh. Wah, langsung sebuah ide cerita berkelebat….ide yang mungkin saja merupakan sekuel dari Reinkarnasi! (hmmm…ide ini rahasia, tetapi adik-adik FLP Ciputat pasti sudah mencatatnya!) Ternyata, kita bisa mengupas tema cerita tentang dunia supranatural dari sudut pandang yang menarik dan menambah wawasan : budaya Jawa, budaya daerah lain, sejarah, pusaka, alam ghaib (sekalipun ini harus dipadu dengan Quran & Sunnah). Jadi berbicara tentang dunia supranatural baik novel atau film tak melulu bicara mengenai pocong (1,2,3….), kuntilanak (1,2,3..), hantu jeruk purut, hantu sana sini, paku kuntilanak, pocong perawan, jelangkung dll yang sejenis.

Dunia supranatural bukan hanya setan gentayangan kan? Ada yang sangat berharga untuk dituliskan tetnang dunia supranatural : kedudukan alam ghaib, alam kubur, mimpi, alam barzakh dsb. Semuanya bisa diselaraskan dengan sudut pandang Islam yang mencerahkan. Ayo, siapa yang mau menulis tentang alam supranatural?

Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya ;-)

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

Biarkan Harta Kita Bicara! (untuk Sdr. Nurkholis FLP Aceh & gempa Padang)

Assalamu’alaikumwrwb.

 

rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta…

usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yang hangat karena silaturrahim, rupanya Allah SWT menagih sesuatu amalan kepada kita.

 

Seorang ustadz pernah menyampaikan di sholat tarawih :

“….saya, anda, kita semua itu bakhil! Pelit! Kikir! Nggak ada orang yang pada dasarnya suka berbagi dan memberi. Akui saja, nggak ada manusia itu yang nggak cinta sama hartanya. Tetapi sekali lagi, Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk menyucikan diri, menyucikan harta. Tahukah Anda bahwa ketika harta itu diinfaq kan, ia akan berkata 4 hal ; jauh sebelum harta itu sampai ke tangan si penerima :

aku fana, lalu kau kekalkan

aku sedikit, lalu kau banyakkan

aku kecil, lalu kau besarkan

aku dulu kau jaga, sekarang aku yang menjagamu.

 

 

            Teman-teman…

ucapan ustadz ini menggetarkan saya. Semoga kali ini tidak riya. Usai mendengar cerita beliau, saya sisihkan sedikit terutama kalau pas dapat lembar uang yang bagus. Diam-diam saya infaq kan. Nggak mesti jumlahnya, kadang 5 ribu kadang 10 ribu, kadang 50 ribu.

 

            Teman-teman,

ternyata memang harta itu berbicara. Allah Maha Kaya dan Maha Membalas. Inilah balasannya di ramadhan kemarin :

                  DP novel yg biasanya hanya berjumlah x tiba-tiba jadi 5x!

                  royalti sebuah novel yang lamaaaa saya tunggu tiba-tiba turun

                  menjelang Idul Fitri seorang teman meng sms : ”mbak, naskah mbak ada royaltinya tuh di antologi XX. Mbak ngirim 2 naskah kan?”

 

Subhanallah….

 

teman-temanku tercinta…

Sisihkan uang kita untuk saudara kita tercinta Nurkholis, FLP Aceh yang tertimpa musibah kecelakaan menjelang lebaran kemarin hingga koma dan harus diamputasi.

Sisihkan uang kita untuk saudara-saudara kita di Padang, Sumbar.

Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, berapapun.

Allah tahu isi kantung kita. Kalau kita tak mampu 10 ribu, toh kita masih punya seribu. Kalau yang seribu pun tak ada, ajaklah orang-orang sekeliling anda.

 

With Love…

Semoga sedekah kita selain diganti berlipat ganda, membuat kita dijauhkanNya dari musibah. Siapa yang dapat memastikan gempa tidak menimpa Surabaya, Jember, Malang, Jombang, atau kota-kota lain di Jawa Timur?

 

Kirimkan bantuan anda ke :

 

Aferu Fajar Nadari BCA  cab. Tangerang  6030115102                          (08179376664)

Rumanti Dyan Cahyani Bank Muamalat cab. Madiun 9148885499              (085649118656)   

Sinta Yudisia    BRI cabang Tegal 0101-01-009291-50-9                         (08563229782)

(Silakan pilih yang termudah)

 

Tolong konfirmasikan ke nomer handphone yang bersangkutan, jumlah dan peruntukannya (Sdr. Nurkholis atau Gempa Padang); insyaAllah akan dilaporkan secara transparansi & accountable.

Jazakumullah Khoiron Katsiron.

 

Wassalamwrwb

Berbuka bersama anak-anak para PSK & Mucikari

 DSC03508   DSC03517   DSC03525   DSC03541

Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.

Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.

            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.

            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.

            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.

            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.

            Anak-anak cantik.

            Anak-anak tampan.

            Anak yang molek.

            Anak siapa mereka?

            “Ayo, siapa nama nabi kalian?

            “Allaaaaah….”

            “Siapa nama malaikat?”

            “Rasuuuul…”

            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”

            “Lima rokaat!”

            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.

            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?

            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.

            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.

            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”

            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.

            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.

            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?

            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”

            Aku menelan ludah, kering.

            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.

            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.

            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”

            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”

            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”

            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.

            Aku senang bertemu pak Kartono.

            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”

            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (Against Child Trafficking). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.

            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.

            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.

            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”

            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.

            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”

            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.

            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.

            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.

            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!

            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.

            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”

            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?

            ”Siapa yang berpuasa?”

            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.

            ”Siapa sholat tarawih?”

            Sepi.

            ”Siapa sholat 5 waktu?”

            Tak ada yang bereaksi.

            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”

            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.

            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.

           

 

 

 

            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.

            Aku mengiyakan.

            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.

            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat & lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.

            “Nanda, rumah kamu di mana?”

            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.

Mencari Ridho Manusia

Praying%20for%20rainCak Mukhlis dan Rodhiah, sepasang suami istri sederhana di sebuah kampung. Keduanya gemar melakukan sholat tarawih di masjid. Satu-satunya mukena milik Rodhiah hanyalah sebuah mukena warna merah yang sudah usang karena selalu dikenakan sepanjang lima tahun. Rodhiah senang bergegas pergi ke masjid sehingga selalu berada di shaf terdepan. Mukena merah, usang, tak pernah ganti, menjadi bisik-bisik tetangganya, kaum ibu yang memang selalu punya bahan untuk didiskusikan alias ngerumpi.

“Wis mukena-e abang, ning ngarep pisan.”

Begitulah bisik-bisik yang terdengar. Sudah warnanya merah usang, selalu tampil mencolok di depan.

Suatu hari, mukena yang hanya satu-satunya itu terkena kotoran tokek saat Asar. Dicuci pun tak kering. Akhirnya Rodhiah meminjam sarung dan baju Cak Mukhlis, ditambah kerudung agak panjang, jadilah ’seragam’ itu mukenanya sebagai penutup aurat sat sholat tarawih.

”Wah, bajunya aneh,” celetuk ibu-ibu dalam bisikan di belakang. Seperti biasa, Rodhiah mengambil tempat di shaf terdepan.

Selang beberapa hari, Cak Mukhlis mendapat arisan tak terduga yang dirahasiakannya dari sang istri.

Sebagai kejutan, ia memberikan semua uang arisan itu pada Rodhiah. Girang bukan main , Rodhiah ijin meminta sesuatu. “Mas, antar ke supermarket ya. Aku pingin beli mukena.”

Rodhiah yang sederhana tak berpikir beli ini itu saat punya uang agak banyak, yang ada dalam benaknya bagaimana punya mukena bagus untuk bertandang ke rumah Allah. Dengan uang arisan di tangan, Rodhiah menyisihkan untuk membeli mukena bagus sebagai ganti mukena merahnya yang memang sudah usang. Di Ramadhan itu, Rodhiah tak pernah ketinggalan berada di posisi terdepan.

”Paling beli di Wonokromo,” bisik seorang ibu.

”Atau di Pasar Turi.”

”Atau jangan-jangan kreditan?”

Ibu-ibu di belakang, berpasang-pasangan, berbisik dan bergunjing.

Rodhiah keheranan dengan perilaku para tetangga. Cerita ini ia sampaikan pada Cak Mukhlis.

„Kenapa ya Mas, ibu-ibu itu begitu? Aku pakai mukena jelek diomongin, pake mukena bagus juga diomongin.”

Cak Mukhlis merenung, memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan istrinya yang sholihah. Dari bibirnya muncul sebuah kisah.

“Dek, kamu pasti tahu Luqman al Hakim.”

Rodhiah mengangguk. Luqman al Hakim seorang luarbiasa yang namanya diabadikan dalam al Quran karena kebijaksanaan dan nasehat-nasehatnya , terutama perihal hubungan anak dan orangtua.

”Suatu ketika Luqman ingin memberi pelajaran berharga pada anaknya. Berangkatlah ia dan sang anak ke pasar dengan menuntun sebuah kuda.

Pertama, Luqman naik kuda, anaknya menuntun kuda. ”Orangtua yang tidak tahu belas kasih dengan anaknya,” omel orang-orang.

Kedua, Luqman turun menuntun kuda, anaknya menaiki kuda. ”Dasar anak tak tahu diri, tak tahu sopan santun. Masa’ orangtuanya di bawah sementara dia yang masih muda enak-enakan?” celoteh orang-orang di pasar.

Ketiga, Luqman dan anaknya naik bersamaan di punggung kuda. ”Kasihan kuda itu! Dasar dua orang yang tidak punya belas kasihan!” gerutu orang-orang.”

Keempat, Luqman dan anaknya turun , bersamaan menuntun kuda. ”Bodoh amat orang-orang itu. Punya kuda malah dituntun, bukan dinaiki!” bisik orang-orang.

Begitulah cerita tantang Luqman al Hakim, dek.”

Rodhiah masih belum menangkap hubungan kisah Luqman dengan mukena merahnya.

”Kamu tahu apa makna peristiwa itu?” tanya Cak Mukhlis. Rodhiah menggeleng. Cak Mukhlis melanjutkan dengan sabar dan tenang. Sama seperti Rodhiah, putra Luqman al Hakim pun tidak mengerti apa maksud ayahnya.

Luqman si bijak kemudian berkata,

”Hai anakku, kamu berperilaku buruk akan digunjing orang. Kamu berperilaku baik pun akan digunjing orang. Karena itu ingatlah! Siapa yang mencari ridho/pujian manusia, pasti tidak akan ketemu! Siapa yang mencari ridho Allah SWT, pasti akan mendapatkannya.”

Tergetar hati Rodhiah mendengarnya.

(Begitupun tergetar hati kami yang menghadiri sholat tarawih 11 Ramadhan 1430 H dan mendengar kisah ini dari sang muwajjih )

Bagaimana mendapat IP 4?

 

            Alhamdulillah, untuk semester 2 ini aku berhasil meraih IP 4 lagi.

            Untuk Psikologi UNTAG-Surabaya mendapat akreditasi A sehingga nilai yang kuperoleh insyaAllah gak main-main ;-) . Di semester dua ini banyak teman-teman yang nilainya jeblok, turun dari IP 3 ke 2 atau malah ke 1. Mereka pada bertanya2 ke aku yang sudah emak-emak : kok bisa sih?

 

            Rekan-rekan,

            seorang temanku ditest IQ nya dan ia punya skor 95, artinya di bawah normal. IP maksimumnya harusnya hanya 2,5 tetapi dua semester ini ia berhasil meraih IP 3. Kenapa? Karena ia berjuang mati-matian belajar sehingga mendapat hasil yang bagus.

           

            Bagaimana denganku?

            Dulu, IQ ku di test dan aku termasuk anak yang normal. Masih kuingat ketika mau masuk UGM dan STAN selepas dari SMA aku harus bekerja duakali lipat dibanding teman-temanku yang lain di SMA 3 Yogyakarta, Alhamdulillah aku bisa menembus UGM dan STAN yang sangat ketat persaingannya.

 

            Waktu suamiku penempatan di Surabaya setelah malang melintang ke Medan – Jakarta-Tegal-Yogya-Semarang, aku memutuskan harus kuliah lagi. Aku nggak boleh berhenti di satu titik, aku harus terus berjalan. Ilmu pengetahuan harus dicari sebagai bekal di dunia maupun akhirat. Orang yang berkecimpung lebih lama dalam kawah pengetahuan semoga lebih bijaksana.

 

            ”Aku masuk sastra atau psikologi ya?” tanyaku pada suami.

            ”Masuk sastra buat apa?”

            ”Yaa, kan sekarang dah nulis, biar punya ilmu yang mem back up kalau pas ngisi training atau talkshow.”

            ”Kayaknya mending psikologi aja,” saran suamiku. ”Bisa buat anak-anak.”

            Akhirnya aku masuk psikologi.

 

            Ternyata di psikologi bukan ilmu sosial murni. Aku sempat terkaget-kaget juga ketemu matematika yang momok bagiku sedari kecil. Statistik? Uh, enggak ya. Mana dosennya serem! Tapi….masak aku menyerah? Apa kata anak-anakku kalau aku dapat IP jelek? Ih, ummi pinternya nyuruh anak-anak belajar, sendirinya gak mau! Sebulan dua bulan aku masih keteter tapi berikutnya aku mulai menemukan pola. InsyaAllah ini bermanfaat buat yang lain juga ya :

 

  1. Terus terang awalnya ku ggak mempedulikan SKS. Bagiku semua ilmu sama pentingnya karena satu menunjang yang lain. Tapi buat strategi, okelah.
  2. Duduk paling depan. Pasti beda daya serapnya dengan yang duduk di deret 2, 3 apalagi paling belakang.
  3. Harus punya catatan steno sendiri yang merekam dosen berbicara

Aku membeli buku tulis –sekalipun agak mahal- yang perbijinya antara 15ribu-20 ribu. Buku2 ini bentuknya besar, spiral, tebal, dengan aroma wangi dan kertas lucu-lucu. Bukan looseleaf lho. Fungsinya untuk membangkitkan semangat. Misal :

  • Sampul pink dengan anak kecil dan kereta kuda dengan tulisan Sweet Dream untuk Psikologi Faal
  • The Wonderful Wizard of Oz  dengan sampul singa dan anak-anak, bertuliskan sebuah rangkaian kisah, kertas biru coklat untuk Psikologi perkembangan dsb
  1. Harus rajin membuka internet mencari tahu lebih dari yang dosen sampaikan. Beberapa mata kuliah memang butuh trik tertentu

     Filsafat : Cari tahu apa dasar2 pemikiran Rene Descartes, Comte, Nietzsche,dsb. Bandingkan dengan filsuf muslim seperti al Farabi, ibnu Sina, al Ghazali dsb. Semakin kaya pengetahuan, misal ketika dosen bertanya tak terduga  ”…kenapa Nietzche yang dibesarkan di lingkungan agamis, menguasai bahasa kitab suci Latin-Yunani-Ibrani; justru ketika menjadi filsuf ia berbalik atheis? Ketika kita punya perbandingan dengan filsuf lain, kita tahu jawabannya.

 

     Statistik : coba, coba dan coba. Buku catatanku tabal seukuran ½ folio. Tetapi aku mengerjakan soal-soal di kertas folio bergaris usuran besar, double. Aku mengerjakan sendiri Analisa Varian, Anava faktorial AB, Analisa Rancang Ulang, dst. Gak bisa? Cari buku di toko buku, baca berulang-ulang teorinya, spidol dengan stabillo lalu kerjakan lagi dan lagi.

 

 

Untuk satu teori misal Anava AB, aku bisa melatih diriku 5-10 kali sehingga luwes, nggak kaget saat menghadapi soal itu di ujian. Tak kalah penting melatih ketrampilan kita dengan kalkulator bagaimana cara memasukkan data. Ingat, tiap kalkulator punya cara berbeda. Lihat jam di rumah karena waktu pengerjaan ujian hanya 15 – 2 jam saja dengan soal yang…..pfhuuuuuhh! Jadi aku bilang ke adik2 yang pinjem catatan statistikku ….”dek, percuma pinjem catatanku kalau kamu nggak pernah latihan!”

 

     Psikologi Faal. Wah, belajar ilmu ini ibarat masuk kedokteran. Bagaimana nggak? Kita menghafalkan bahasa latin yang aneh bin ngeri di telinga. Tapi aku harus bisa! Berhubung dosenku dokter, pinter, tegas, kejam (…sebetulnya dia baik kok.. hanya disiplin buanggett!) aku harus punya tenaga ekstra di malam hari. Pekan kemarin menerangkan 12 pasang saraf cranial, aku harus mencari di internet seperti apa sih saraf cranial? Apa bedanya dengan 31 pasang saraf spinal? Dari mana keluarnya? Apa nama latinnya? Aku juga membuat jembatan keledai untuk mempermudah diriku sendiri

 

OLOPOCTRO TRIABFAVE GLOVAKRA ACCHYP

  1.  
    • olfactorius
    • opticus
    • oculomotorius
    • trochlearis
    • trigeminus
    • abducens
    • fascial
    • vestibocochlearis
    • glossopharyngous
    • Vagus & akar kranial
    • accesorius
    • hypoglossus

 

Begitupun dengan 48 area broadmann, saraf2 pada intumescencia lumbosakralis & servikalis, dst.

 

     Psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi umum, psikologi kepribadian yang banyak teori & pendapat para ahli mulai Sigmund Freud, CG Jung, Alfred Adler, Maslow, Wilhem Wundt, Ivan Pavlov, BF Skinner, Watson dst memang harus sering-sering dibaca & dipelajari.

 

 

MENJELANG UJIAN  (pas kuliah juga):

      berdoa mohon nilai sempurna

      mohon dibukakan hati & pikiran untuk mudah menerima pelajaran

      jangan lupa ibadah wajib & sunnah

      bikin catatan kecil2 berwarna warni seukuran telapak tangan yang bisa dibawa kemana-mana, catatan ini betul2 reminder yang hebat!

 

…….besoknya ujian aku memang nyaris nggak tidur malam…;-)..he..he…!!

 

Soalnya aku punya kelemahan, aku punya memori jangka panjang yang agak lemah dan memori pangka pendek yang lebih kuat. Jembatan keledai hafal tapi singkatannya apa ya? Jadi sepekan saat UAS aku memang nyaris nggak tidur karena mengulang apa yang sudah kupelajari sebelumnya.

Berhubung hampir semua mata kuliah sudah kubuat catatan2 kecil berwarna warni dengan gambar2 yang juga sudah kupelajari (khusus Faal) maka malam hari dan beberapa menit menjelang ujian aku tinggal mengingat. Oh, indera penglihatan dengan lapisan retina mulai dari lapisan epithelium sampai optic nervus fibre itu begini-begini. Oh, pendapat Ivan Pavlov dengan percobaan anjingnya begini-begini.

 

Jadi , kalau SKS (Sistem Kebut Semalam) atau SMS (Sistem Melek Semalam) yang memang baru malam itu buka buku, kupikir gak akan sukses sama sekali. SKS dan SMS ku sudah menyiapkan catatan kecil dan latihan2 sehingga malam itu aku tinggal menguatkan my short term memory

Berapa Tahun yang Dibutuhkan untuk jadi Penulis?

Berapa tahun dibutuhkan untuk berhasil dalam dunia kepenulisan?

‘Berhasil’ punya definisi bermacam-macam, secara materi cukup baik sandang, pangan, papan (plus kebutuhan lain yang tidak termasuk 3 itu tapi sangat mendesak : kendaraan, laptop, hape!, tabungan). Intinya, pencapaian materi.

Berhasil ada pula yang mengukurnya dengan waktu.

Pernikahan yang melewati angka 5, 7, dinyatakan berhasil (bagaimanapun ruwetnya ). Perusahaan yang melewati angka 5, 7 dinyatakan berhasil apalagi jika melewati angka 10-15 tahun, sebab konon kabarnya semua krisis termasuk krisis moneter berulang tiap satu decade. Pedagang yang bisa tetap eksis dan konsisten dengan produknya 5, 7 bahkan lebih juga akan menuai keberhasilan.

What about writer? Di titik mana ia menyatakan dirinya berhasil? Ketika bukunya best seller, terjual jutaan copy, bukunya laris manis? Ketika jumlah buku yang ditulisnya mencapai lebih dari 50 judul? Ketika bukunya difilmkan? Ketika bukunya meraih banyak penghargaan dan pujian dari para kritikus dan resensor?

Ada baiknya saya menceritakan histories kenapa saya menulis.

Manusia tidak boleh melupakan sejarah , belajar dari sejarah, mengevaluasi dari sejarah, bisa menimbang sejauh mana keberhasilan suatu kaum jika sudah dibandingkan dengan sejarah. Secara teknologi kita memang jauh lebih maju disbanding jaman untanya Rasul Saw tetapi secara moral kita bahkan meloncat memasuki zaman Nabi Luth, dan Nabi2 dengan kaum yang dibinasakan.

Baik, kembali pada histori menulis. Awalnya, saya jenuh menjadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah, saya punya ibu yang luarbiasa yang selalu bilang “…Sinta, kamu itu punya potensi! Jadi ibu rumahtangga nggak melulu hanya urusan domestic kan?” Saya suka menjahit dan memasak kue. Hampir semua baju Inayah –putri I saya- gaunnya saya buat sendiri. Tiap kali teman-teman lihat mereka bilang “ bagus banget! Mbak Sinta bikin butik saja.”

Saya bercita-cita punya usaha garment, konveksi, butik, termasuk mengembangkan kesukaan saya pada patchwork. Saya punya mesin jahit dan kepekaan untuk mengkombinasikan kain-kain. Selain hobi menjahit, saya juga hobi bikin kue. Kue-kue saya titipkan ke pasar dan menghasilkan penghasilan yang luamyan. Saya dan adik saya, Erisa Kurnia Nanda, berencana bikin toko roti muslimah berlabel hala karena kami sama-sama suka masak dan makan! Bikin butik apa toko roti ya? Baju apa kue? Pakaian atau makanan? Nanda tetap suka bikin kue , terkenal enak dan selalu laris manis di kalangan teman-teman dan tetangga. Ini dilakukannya sambil kuliah dan kerja, kadang dilakukan ketika malam larut. Sayapun juga begitu, bikin kue saat anak-anak sudah tidur.

Tapi…saat punya anak 3 saya repot bukan main. Gak bisa bikin baju, gak bisa bikin kuet.

Akhirnya ada mesin ketik nganggur, jadilah saya corat coret dan ketik mengetik. Tahu nggak cerita saya pada awalnya yang dikirim ke Annida dan dimuat?

 • Langkah Awal, cerita tentang gadis manja yang memulai usaha

 • Gaun Biru, cerita seorang ibu rumahtangga yang kepingin bikin gaun tapi gak punya duit akhirnya bikin dari bahan seprei

• Jalinan Kasih Yang Terkoyak , juara II LMCPI Annida, setting nya Aceh (saya pernah ikut suami di Medan),dsb cerita saya nggak jauh-jauh dari kue dan baju!

Mana yang lebih dahulu melaju, itu yang saya pilih!

Ternyata menulis membuat saya kembali mencintai hobi yang sempat agak lama tertinggal : membaca dan mengkliping koran. Akhirnya saya meninggalkan cita-cita membuat butik dan bakery, lalu beralih profesi jadi penulis.

ADA TANTANGANNYA?

Ups, tentu ada. Saya sudah merintis bisnis jahit menjahit cukup lama demikian pula modal bikin kue. Memulai menulis dari awal seperti belajar merangkak lagi. Pertanyaan yang muncul :

1. Saya mau menulis cerita apa? Anak , remaja, dewasa?

2. saya mau bikin cerpen atau novel, atau cerita bersambung?

3. saya mau kirim ke mana sih, media Islam, nasional atau mau diterbitkan oleh penerbit?

 ……………..dalam perjalanan menulis, ah, bikin kue langsung sorenya terima duit. Bikin tulisan, kapan terima duitnya? Sebetulnya saya bakat nulis nggak sih? Setahun, dua tahun nulis, masih mau diteruskan apa nggak? Apa saya banting stir lagi jadi pengusaha seperti yang dari dulu saya impikan?

YANG PERTAMA DITULIS ….. Kumpulan Cerpen! Kenapa? Karena cerpen-cerpen itu kalau tidak dimuat di majalah atau media massa, bisa dikumpulkan dan dikirim ke penerbit. Nakal ya! Lagipula, bikin cerpen aja banyak-banyak 15-20, nanti diedit dan dipilih penerbit. Sisanya (kadang sisa 5 atau 7) kita tambahin lagi cerpen2 dan dikirim ke penerbit lain. Kumpulan cerpen yang pertama Cadas Kebencian, buku favorit saya, diterbitkan MIZAN. Kumcer ini mengokohkan niat bahwa saya MUNGKIN ada bakat di dunia kepenulisan. Masih mungkin lho…saya masih belum yakin ternyata;-(

Lalu saya mulai kenal mbak Asma Nadia. Beliau memasangkan dengan mbak Izzatul Jannah di Gadis Diujung Sajadah. Saya juga mengirimkan Kuntum-kuntum Bunga, Alhamdulillah diterbitkan oleh FBA Press, penerbit di Jakarta yang sekarang sudah gulung tikar.

Kapan ya pertama kali nulis? Oya, 2002. Akhirnya saya getol nulis, kirim kesana kemari, ditolak. Ada yang diterbitkan dengan revisi dll. Tentang liku2 menulis…nanti saja ya. Nah, ternyata selama tahun-tahun perjalanan itu saya masih dikejar pertanyaan : aku ini benar-benar mau menghabiskan umur dengan jadi penulis atau apa sih? Aku ini sebetulnya mau nulis apaaaa? Maka jadilah kutu loncat.

Menulis Kumcer.

Menulis cerita remaja.

Menulis cerita anak

Menulis non fiksi

Menulis novel.

Menulis antologi, keroyokan bareng teman-teman.

DI TITIK MANA AKU SEKARANG? Aku bingung dengan dentitas kepenulisanku lalu bertemulah aku dengan FLP (anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia –kata Taufik Ismail). Aku bertemu teman2 FLP Yogya : Ganjar, Jazimah, Iwul, Prima, Lilo, bunda Kun, mbak Koes, Zen, Aries. Juga teman-teman FLP lain. Semoga Allah SWT memberkahi Ganjar yang menitipkan pesan yan gmembakar semangatku : ”……mbak Sinta kayaknya konsen aja di fiksi sejarah. Bagus tuh nulis di situ.” Aku memang habis memenangkan lomba GIP sebagai juara I, Singa-singa di Padang Kekuasaan yang terbit dengan judul Sebuah Janji. Ucapan Ganjar membakar semangatku. Pertemuan dengan adik2 FLP memacuku. Ooooh, ternyata jadi penulis itu penting ya? Aku mulai merasa luwes menulis setelah 3-4 tahun. Pertama kali pindah ke Surabaya, aku menemukan Lafaz Cinta di Toga Mas. Aku bangga dan bahagia sekali ketika melihat covernya yang spesial. Waaah, aku sekarang beneran jadi penulis ya ? (Itu lagi pikiran konyol!) Pertemuan dengan mbak Helvy di ITS memacu kembali adrenalinku. ”Sinta, Lafaz Cinta mbak Helvi rekomendasikan jadi bahan bacaan anak2 sastra. Tapi kok ceritanya masih dangkal ya? Padahal kamu masih bisa lebih tajam, lebih dalam menceritakan.”

LEBIH TAJAM, LEBIH DALAM, LEBIH BAGUS…ITU SEPERTI APA? Semoga Allah SWT memberkahi pula mas Dul Mizan (sekarang dah nggak disana). ”….mbak Sinta coba baca Perempuan Suci –Qaisra Shahraz dan Taj Mahal-John Shors. Pelajari.” Aku memburu buku itu di Islamic bookfair. Aku juga menemukan Samarkand- Amin Malouf dan buku-buku lain. Aku baca berulang-ulang. Aku tersesap. Aku terpana. Ow, jadi menceritakan tokoh itu seperti Jahanara dan Isa, seperti Umar Khayam ya? Ow, jadi setting tentang Benteng Merah itu penggambarannya seperti itu ya? Ow, ternyata karakter Umar Khayyam dan Hassan Sabah itu penggambarannya begitu ya? Ow, ternyata buat plot, alur itu begitu rumitnya ya? Ow, konflik Khondamir, Aurangzeb, Dara itu demikian tajam menikam dan meninggalkan jejak di benak pembaca ya? Ow, ….ternyata….aku masih jauuuuuh…dari seorang penulis! Aku masih pembelajar!! Armanusa, Lafaz Cinta, Rival-rival istri dsb ..BELUM APA-APA. Padahal aku sudah lebih dari 5 tahun menulis, sekarang sudah 7 tahun malah. Kapan sih aku benar-benar berhasil jadi penulis?

…………..7 TAHUN KEMUDIAN BEP : Break Even Point 3 tahun. Perusahaan normalnya 3 tahun BEP, artinya modal harus kembali 3 tahun paling lambat . Kalau tidak, namanya rugi. Harus ganti haluan, harus ganti usaha dan pasar, harus ganti produk. 3 tahun jadi penulis sudah jadi apa? Royaltinya banyak, bukunya banyak? 7 tahun dari aku mulai memutuskan untuk benar-benar menulis Alhamdulillah hasil karyaku sudah diterbitkan 40 judul kurang lebih. Tetapi dari semua, tidak semuanya masterpiece. Lafaz Cinta menurutku cukup bagus, berikutnya The Road to The Empire dan Reinkarnasi Alhamdulillah lebih mendapat banyak apresiasi dari teman-teman. Artinya, 2 karyaku yang beelakangan dinilai cukup bagus bagi khalayak. Dibandingkan 40 judul yang lain, TRTE & Reinkarnasi memang menguras semua energiku. Energi doa, energi berpikir, energi kantong (referensi butuh biaya besar), energi2 yang lain. Apa buu2 ku yang digarap seenaknya? Tidak juga. Tapi belajar memang butuh waktu. Belajar membutuhkan kesabaran. Di atas segalanya belajar membutuhkan keikhlasan.

Maka aku teringat dialogku dengan suamiku suatu hari

”Lafaz Cinta best seller, Mas. Aku diminta menulis yang semacam itu lagi. Bagaimana?” ”Menurut Inta bagaimana?” (suamiku sampai 15 tahun menikah masih suka memanggilku dengan nama kecilku –Inta)

” Inta pingin nulis Takudar yang ke 3, sekalipun yang ke 1-2 jeblok di pasaran.” ”Memang kenapa pingin nulis itu?”

Aku merenung, tiap kali diskusi ini bolak balik menangis.

”…soalnya Inta terkesan sekali sama Takudar, sama kaisar2 Mongolia yang muslim. Sama Iskandar Beg. Sama Thariq bin Ziyad. Pokoknya sama para pejuang muslim yang bijaksana dan mulia.”

 ”Ya sudah, kalau gitu nulis Takudar lagi aja, Takudar 3.”

”Tapi…yang ini belum tentu laku di pasaran. Kalau sekuel Lafaz Cinta pasti best seller lagi. Royaltinya lumayan. Mas gak papa Inta gak bisa menyumbang royalti buat keperluan rumahtangga kita?”

 “Sudahlah, pakai gaji Mas saja apa adanya. Menulis Takudar saja sebagai ladang da’wah.”

“Tapi….gak papa Mas? Menulis Takudar setahun, royaltinya belum tentu, di pasar belum tentu laku. Beranti kalau Inta menulis Takudar lagi siap-siap 3 tahun ke depan gak punya royalti memadai?”

“Iya..sudah gapapa. Nulis Takudar aja buat da’wah. Urusan nafkah biar Mas aja, Inta yang penting nulis.”

Begitulah embrio The Road to The Empire dan Reinkarnasi. Ditulis dengan keringat dan airmata. Airmata karena aku terlanjur mencintai Takudar, sang pejuang yang rela melawan arus demi mengobarkan kebenaran. Airmata karena saat aku menulis Takudar lewat tengah malam, aku berdoa pada Robbku : “….ya Allah, Kau Maha Tahu, aku menulis Takudar ini karena ingin menuliskan kebaikan. Ini bukan novel laris yang diminati banyak orang tetapi Engkau Maha Kaya. Bukan penerbit yang memberiku rezeki melalui royalti. Engkau yang Memberi Rezeki orang-orang yang berjuang di jalanMu. Aku minta rezeki padaMu, aku minta uang padaMu, aku minta bantuan dan kecukupan dariMu.”

Tiap hari aku berdoa : Ya Allah barakahilah The Road to The Empire. Barakahillah Reinkarnasi. Bantu aku menyelesaikan sebaik-baiknya naskah Existere yang tengah kutulis. Jadikan buku-buku hamba barakah, best seller, mencerahkan bagi siapa saja yang membacanya. Ya Allah, Bantu aku agar amanah sebagai istri, ibu, penulis, mahasiswa, ketua FLP Jawa Timur.

 Sekarang aku adalah pembelajar. Aku masih belajar sebagai seraong istri & ibu, aku masih belajar untuk jadi penulis yang baik, akumasih belajar untuk jadi manager yang baik, aku masih belajar menjadi manusia yang baik. Bukankah belajar itu dari buaian sampai liang lahat?

Ramadhan hari ke 5, 1430 H

Foto-foto Munas FLP II di Solo

 

rapat hingga tengah malam         

DSC03213
delegasi perempuan Jatim
delegasi perempuan Jatim

 

Foto-foto dari MUNAS FLP II di Solo, 14-16 Agustus 2009

DSC03220

Hartaku : Anak-anak & Kliping koran

Tak terasa sudah 2 tahun kami tinggal di Surabaya. Sebelumnya, kami tinggal di kota Tegal, suatu wilayah karesidenan di Jawa Tengah. 2 tahun yang lalu kami mengontrak, tahun ini masih mengontrak juga;-).

Banyak yang tanya, sudah 15 tahun nikah kok belum punya apa-apa? Suaminya kan kerja di kantor pajak? Dalam benak kebanyakan masyarakat, pegawai kantor pajak memang kaya-kaya. Rumahnya banyak, tanah bertebaran, mobil gonta ganti, jalan-jalan ke luar negeri, belum lagi barang elektronik yang dibeli ibarat beli semangkuk bakso.

Aku? Rumah masih mengontrak, mobil belum punya. Miskinkah aku? Kalau tolok ukurnya harta benda, mungkin ya. Tapi jika dilihat lebih jauh lagi, aku sangat kaya! Bayangkan, aku punya 4 orang anak yang sehat yang hingga kini masih diberikan oleh Allah SWT nikmat kebugaran dan kecerdasan. Ibuku pernah berpesan,”…suami kamu pegawai negeri. Nggak usah ngiler lihat punya orang lain. Yang penting investasi ke anak berupa kesehatan dan pendidikan. Kelak, anakmu itu yang akan menggantikan peran orangtuanya.” Selama 15 tahun menikah kami memang berpindah tempat beebrapa kali. Pertama kali di Medan sekitar tahun 1994-1998. Lalu suamiku ikut pendidikan ajun khusus akuntan di Jurangmangu, ditempatkan berikutnya di Yogyakarta. Kami tinggal di Yogyakarta kurang lebih 1 ½ tahun. Selanjutnya suamiku diterima pendidikan DIV di STAN, aku ikut pindah ke Jakarta. Usai pendidikan, berikutnya lalu penempatan di Tegal. Setelah 4 tahun di Tegal, kami pindah agi ke Surabaya sebab suamiku dimutasikan ke KPP Jagir Wonokromo. Kalau dihitung-hitung 5 kali kami boyongan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika tabungan mulai terkumpul, kami harus pindah ke tempat lain yang notabene menghabiskan banyak biaya. Biaya pindah rumah, pindah sekolah anak-anak, rumah kontrakan baru, dan biaya tetek bengek yang lain. Maka dari itu, jika dilihat dari kepemilikan harta kami nyaris tak punya apa-apa.

 Tetapi Alhamdulillah, Allah SWT memberikan 4 anak yang merupakan harta luarbiasa. Membesarkan anak itu bukan perkara murah lho. Mobil dan rumah mungkin bisa dibeli dengan tabungan 300-500 juta. Tapi anak butuh ’harga’ yang lebih dari itu. Biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya rekreasi, biaya pulang kampung, biaya baju-baju dsb yang tujuan utamanya meng up grade anak-anak agar kelak siap jadi generasi platinum. Begitulah, aku menganggap keluarga kami tak punya banyak harta.

 Tapi…. pas pindah rumah kontrakan baru, kok barangku buaaanyaakkk ya? Apa saja sih harta bendaku? Selain barang rumah tangga ala kadarnya, televisi sudah rusak tombolnya karena dipencet-pencet puluhan kali dalam sehari, VCD player, mesin cuci yang sudah usang, kulkas yang pintu freezernya ambrol akibat banyak tangan buka-tutup-buka-tutup. Dua sepeda motor, empat sepeda mini, mainan dinosaurus, laptop yang menemaniku sekian lama untuk menghasilkan karya-karya tulis. Meja, lemari, kursi, warisan dari orangtua. Baju-baju dan of course, buku-buku yang kami kumpulkan bertahun-tahun. tetapi yang membautku surprised adalah puluhan kotak yang berjajar bertumpuk di teras rumah menjelang kami move ke rumah baru. Ternyata, puluhan kotak-kotak yang membuat para tukang capek bukan main itu isinya adalah…..koran!! Yup, betul sekali. Sudah bertahun-tahun aku begitu mencintai dunia kliping mengkliping yang seolah tak tergantikan oleh kemudahan internet. Mengumpulkan berita hari demi hari membutuhkan kesabaran dan ketelitian tersendiri, dan hobbi yang mengasyikkan. Inilah berita yang kukliping sejak tahun 2000an :

1. Dunia Islam . Aku punya kliping banyak tentang Afghanistan, Iran Irak, Chechnya dan tentu saja…Palestina. Bahkan kukumpulkan berita dari beragam koran saat Israel menginvasi Palestina, berikut foto-foto dramatis yang membuatku bisa menangis. begitupun ketika Amerika menginvasi Afghanistan, Chechnya ketika berjuang melawan Rusia. Kliping ini mendasari kisah epikku ”Kamerad Mikail” dan ”Di Ujung Kota Jerash.” Kronologis pembunuhan Benazir Bhutto pun aku punya.

2. Berita Internasional Berita ini bermacam-macam. Kukumpulkan yang kuanggap menarik seperti hubungan bilateral antar negara, peristiwa-peristiwa perang, kejadian yang penting bagi sebuah negara seperti krisis ekonomi dan persaingan Obama Mc Cain di masa pemilu AS yang lalu. Tak lupa perjalanan wisata mancanegara mulai Petra, Vatikan, Den Haag hingga Mesir dll.

3. Berita Dalam Negeri Antasari, PSK, dunia pesantren, tsunami Aceh, Situ Gintung…warna-warni Indonesia. Tak lupa tempat-tempat indah di Indonesia seperti Lombok, Pulau Seribu. Rubrik Wisata atau Perjalanan di akhir pekan akan kusisihkan sebagai bahan tambahan referensi cerita, atau jika suatu saat nanti aku berkesempatan berkunjung ke luar negeri 

4. Kesehatan Ada koran yang menyuguhkan rubrik medika secara khusus, ada yang tergabung dalam rubrik iptek. Dari sini aku mengumpulkan artikel tentang lupus, sindrom kawasaki, kusta, alergi termasuk penemuan-penemuan terbaru di dunia paramedis.

5. Ilmu Pengetahuan Rubrik kecil Geoweek di akhir pekan rajin kukumpulkan. Beritanya singkat dengan gambar yang berwarna warni, menambah kahzanah pengetahuan. Artikel tentang atom ’partikel Tuhan’ hingga penemuan planet2 baru dan dunia jauh di luar tata surya termasuk artikel yang kugemari.

6. Keluarga Tips tentang karier, bagaimana menjadi orangtua yang baik, bagaimana menata rumah, memilih perabot (sekalipun belum bisa kubeli), resep-resep tradisional dan modern juga kusisihkan. Rubrik Muda dan Anak-anak yang berwarna-warni juga bagus untuk dibaca anakku atau aku sendiri

7. Kartun –kartun : Beni & Mice, kartun Suroboyoan dengan bahasa-bahasa unik (cak, ae, lapo, gak, mari),dsb.

8. Sastra meliputi cerpen, cerita bersambung, puisi-puisi, kritik dan artikel sastra.

9. Dan…..favorit klipingku adalah :

 Dialog Jumat ( Republika)

 Khazanah yang banyak mengupas ilmuwan muslim(Republika)

 Islamic Digest (Republika)

 Fokus dan Teropong (Kompas)

  Kehidupan (Kompas)

 Khusus Deteksi(Jawa Pos) dikliping anak gadisku Inilah harta berhargaku yang membuat rumahku penuh dan para tukang ngos-ngosan ketika pindah rumah! Jumlahnya sekitar 25 kardus!

Sedang bersiap untuk pindah rumah. Masih…

Sedang bersiap untuk pindah rumah. Masih kontrakan juga. semoga lebih barakah karena di depan masjid, lebih mudah menyuruh anak-anakku pergi ke sana

« Entri lama