Rendah Hati atau Rendah Diri ?

Tag

,

Salah tingkah rasanya bila orang memuji : wah hebat ya! Tulisanmu bagus! Anda luarbiasa!
Tak sanggup mendengar kata-kata pujian tersebut, sebab di belakang kesuksesan seseorang –termasuk saya- ada suami, anak-anak, keluarga, teman-teman, dosen, dan sekian banyak guru-guru kehidupan yang menghantarkan kita menuju kesuksesan. Maka, setiap pujian rasanya seperti sentakan tak pantas. Kita belum apa-apa.

lowself

Saya memilih menolak untuk dipuji; selain takut riya, ujub, sum’ah…rasanya masih banyak orang yang pantas mendapatkan penghargaan. Tulisan masih jauh dari sempurna. Prestasi biasa saja.

Suatu ketika, tibalah masa ujian praktek. Salah satu tahapan sebelum layak mendapatkan gelar Psikolog Klinis adalah melakukan case conference di suatu rumah sakit Jiwa terkemuka di Surabaya, di depan para dosen, pembimbing, Psikolog dan Dokter Jiwa. Bagaimanapun saya berusaha sebaik-baiknya, tetap terasa demikian kecil. Rasanya ada yang salah, meski kami tak tidur nyenyak berhari-harimenyantap sekian banyak jurnal, buku referensi dan buku sakti PPDGJ & DSM V. Rasanya ada yang kurang, meski seteliti mungkin membuat assessment. Rasanya ada yang keliru, meski secermat mungkin melakukan intervensi dan Psikoedukasi. Rasanya, tak pantas lulus dengan nilai terbaik meski berkali-kali pembimbing memberikan selamat bahwa presentasi saya sangat bagus dan meyakinkan hingga ia mengirim pesan singkat, “…terimakasih atas kerja kerasnya!”

Saya berkonsultasi kepada salah satu dosen kami, seorang doctor yang sangat berpengalaman di bidang klinis. Di luar dugaan, argumentasi saya dipatahkan dengan tegas. Ia, yang biasanya demikian lembut dan santai, tiba-tiba berubah menjadi demikian…marah. Mungkin tidak marah, tapi balik mengkiritk saya dengan tajam.

low-self-esteem
Percakapan kami kurang lebih demikian.
“Saya rasanya belum yakin dengan semua,” saya mengeluh.
“Lho, apanya yang belum yakin?” ia menyelidik
“Scoring, assessment, intervensi, evaluasi…semua…”
“Berarti selama ini kita bimbingan nggak ada hasilnya?”
“Oh…bukan begitu , Bu…,” aku terkejut sekali.

“Atau anda meragukan kami sebagai dosen, pembimbing dan semua institusi ini?”
“Bukan! Bukan begitu…”
“Hm, terus apa?” bu dosenmenatapku penuh selidik.
“Saya merasa…ada yang salah…kurang…ada celah…”
“Celah itu yang harus ditutup, tiap kali kita belajar dan maju ujian seperti ini!” tegasnya.
“Tapi…saya merasa sangat jelek…saya takut salah…”
“Anda merasa tidak mampu? Berarti anda tidak professional dan silakan kembali ke bangku kuliah S1!”
Terkejut. Tertampar. Terhenyak. Termenung.

“Siapa yang bisa mengelak dari salah?” ujar dosen menjelaskan. “Setiap orang bisa salah. Apalagi anda yang sedang belajar dan belum bergelar Psikolog. Tapi apa yang harus anda tekankan pada diri sendiri, anda harus yakin ketika melangkah. Ketika menegakkan diagnosis. Sekian banyak ujian yang harus dilalui adalah tahapan untuk menutup celah. Apa celah anda selama ini?”

Saya merenung.
“Saya…orang yang senang memperhatikan hal besar, tapi sering mengabaikan hal kecil. Saya merasa dapat menggali assessment dari tes WAIS, Rho, Wartegg, dsb…saya merasa observasi dan interview adalah hal sepele. Ternyata, saya mendapatkan gambaran utuh tentang klien dan keluarganya dari observasi dan interview.”
“Nah, itu jawaban dari celah yang telah anda dapatkan!”
Saya terdiam.
“Berarti…saya nggak boleh merasa rendah diri, nggak pantas, terus merasa salah?”
“Anda harus yakin berdiri di atas kebenaran ketika bersikap professional. Profesional dengan ilmu yang telah dipelajari, dengan pengalaman yang telah dijalani.”

images
Tanpa keyakinan, tanpa sikap professional, tanpa merasa utuh dan pasti dengan pijakan serta jalan yang dilalui; bagaimana bisa meyakinkan apalagi mempengaruhi orang di luar sana?
Itulah gambaran diriku.
Saya sering ingin merasa rendah hati karena tidak ingin dipuji, ternyata itu refleksi rendah diri. Dan rendah diri berarti kita tidak professional dengan ilmu dan pengalaman yang telah kita miliki, kita jalani selama ini. Manusia bisa saja salah. Psikolog, dokter, penulis, polisi, hakim , presiden dan seterusnya. Apakah ketika seorang dokter melakukan diagnosis yang berbeda-beda pada pasiennya; ia serta merta dianggap malpraktek?

Dokter A berkata ia alergi, dokter B berkata ia ISPA, dokter C berkata batuk biasa, dokter D mengatakan radang paru-paru. Mungkin analogi ini salah, tapi tak ada yang menuntut semua dokter melakukan malpraktek. Mereka dituntut malpraktek ketika tidak melakukan langkah sesuai prosedur, missal melakukan operasi tanpa izin keluarga pasien atau pasien tak tahu efek samping obat.

Seorang Psikolog A boleh jadi mendiagnosa seorang anak hiperaktif, psikolog B ADHD, psikolog C autis, psikolog D hanya mengatakan gangguan perkembangan biasa , psikolog E mengatakan anak tersebut hanya mencari perhatian orangtua.

Apakah semuanya tidak professional? Ketika mereka melakukannya sepenuh dedikasi, sesuai ilmud an pengalaman yang dimiliki, maka semuanya tetap dalam koridor profesionalisme.

Demikian pula terhadap semua profesi kita, antara lain penulis. Janganlah rendah diri ketika orang bertanya, “ apa sih kehebatan novel anda? Apa yang ingin anda jual dari tulisan anda?”

Dan Brown, memiliki pemikiran brillian ketika suatu hari mendengar para professor seni menjelaskan lukisan the Last Supper. Ia berkhayal tentang spionase, tentang rahasia di balik simbol-simbol. Seluruh mahasiswa di kelas itu, berpuluh-puluh orang mengkaji tentang the Last Supper. Semuanya paham tentang lukisan tersebut. Tetapi Dan Brown tak mundur untuk menuliskan novel yang controversial tersebut. Sebab ia berpendapat, “ hanya orang di ruangan ini yang tahu makna the Last Supper dari professor Seni. Jutaan orang dil luar sana belum mengetahuinya!”

Jangan takut berkarya.
Jangan takut melangkah.
Jangan takut salah , meski harus jujur dan memperbaiki diri.
Bersikaplah professional.
Dan buang rendah dirimu!

TONGKAT CINTA, SELIPAN UANG dan FABEL AESOP

Tag

Selalu ada cerita menarik saat berbagi pengalaman, metode, plus minus dalam mendidik anak. 22 November 2014 , memperingati Hari Pahlawan, fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) menyelenggarakan acara bedah buku Sketsa Cinta Bunda karya Sinta Yudisia dan Sekolah Para Pencari Ilmu karya Hamdiyatur Rohmah Chalim. Dan, acara ini menjadi lebih spesial, dihadiri Yoon Sengui dari Korsel dan Begench Soyunov dari Turkmenistan.
Bu Sirikit Syah dan Dr. Andik Matulessy mencermati dua buku ini dari sisi ilmiah sementara pak Sengui dan pak Soyunov berbagi pengalaman seru seputar dunia pendidikan di negeri masing-masing.
Mau tahu?
yoon soyunov
TONGKAT CINTA
Kekerasan. Pukulan.
Kebiasaan ini sudah cukup lama ditinggalkan para orangtua mengingat kekhawatiran anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terpecah saat hidup dalam situasi traumatis. Namun, di beberapa belahan bagian dunia, pukulan tetap menjadi cara orangtua mengungkapkan cinta.
Agaknya, kita jangan bersikap antipati dulu bila mendapati pola asuh dengan metode memukul. Bukankah Rasulullah Saw sendiri mengajarkan agar ananda dipukul saat usia 10 tahun ketia tak mau sholat?
Memukul memang menjadi sangat tak baik dalam kondisi emosional atau kemarahan yang memuncak. Dalam beberapa hal, memukul menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Tidak semua orangtua di Korea menerapkan Tongkat Cinta, tetapi orangtua Yoon Sengui salah satu yang masih tetap mempertahankannya. Tongkat Cinta adalah beberapa jenis tongkat, yang berbeda ukuran tebalnya, biasanya terdiri dari 3 jenis ukuran. Tipis, lebih tebal, tebal. Yang paling tipis untuk kesalahan relatif ringan seperti tidak mengerjakan PR , berbohong. Yang tebal untuk kasus relatif berat seperti berkelahi dan memukul teman.

Tongkat Cinta digunakan dengan memperhatikan beberapa hal :
1) Telah terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak.
2) Tidak digunakan dalam keadaan emosi.
3) Hanya digunakan dalam usia perkembangan SD-SMP.
4) Yang memukul lebih baik sang Ibu

Dilarang memukul bila belum terjadi kesepakatan. Anak harus memahami bila ia melakukan satu keburukan, ia harus bertanggung jawab sesuai kesepakatan. Bila berbohong, lebih parah lagi. Biasanya, orangtua telah tahu kesalahan anak, namun mendorong anak untuk berani berkata jujur. Kisah unik Yoon Sengui boleh disimak.
“Yoon Sengui!” panggil mama (panggilan nama lengkap biasanya menunjukkan hal serius telah terjadi)
“Ya, Mama.”
“Apa PR mu selesai?”
“Sudah selesai.”
Mama mengulang dan mengingatkan, “berarti kamu sudah tahu hukumannya.”

Yoon Sengui gigit jari!
Ia akan menerima 2 jenis hukuman : pertama, karena PRnya belum selesai. Kedua, karena ia telah berbohong.
“Silakan ambil tongkat mana yang menurutmu sesuai dengan kesalahanmu.”
Yoon Sengui mengambil tongkat, memberikan kepada mama dan mama memukul kakinya dengan sungguh-sungguh. Pemukulan tidak terjadi di sembarang ruangan, tapi di ruang khusus tertutup yang tidak dapat dilihatorang banyak agar anak tak merasa malu. Ketika Sengui menangis, papa berdiam di pojok memberi isyarat agar ia bersabar. Usai acara hukuman, papa memeluknya, menghiburnya,
“…kamu tahu. Mama sangat mencintaimu.”

Malam hari, ketika Yoon Sengui tertidur, mama masuk ke kamar sembari bercucuran airmata dan mengoleskan balsem ke kaki putranya. Mama akan berkata bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikan Yoon Sengui.
Kelak, ketika dewasa, Sengui merasa hal positif dari pola pendidikan tersebut. Ia lebih disiplin dan tahu bertanggung jawab. Ketika SMA, mama tidak lagi menjadi sosok yang keras dan tegas; namun ganti sang papa menjadi sosok yang ditakuti. Papa tidak memukul. Sebab usia SMA dianggap telah mampu berpikir lebih jauh.

Mengapa ibu yang memukul?
Bila sosok ayah yang melakukan pemukulan, akan lekat sebagai sosok kuat perkasa di rumah yang melakukan penganiayaan. Sosok ibu yang lembut dan pengayom, lebih tepat dalam memberikan hukuman jera.
Tongkat Cinta, dijual bebas ditoko-toko. Harga satu paketnya relatif mahal, sekitar Rp.500.000. Mungkin, bagi sebagian besar orang hukuman ini sangat tidak manusiawi. Namun di Indonesia sendiri, hukuman menggunakan pukulan pernah dikenal. Ibu saya bercerita, ketika kecil anak-anak ramai belajar mengaji, sang guru membawa githik. Sebuah tongkat kecil yang akan beliau pergunakan untuk memukul ringan jemari anak-anak yang ribut sendiri dan tak mau belajar. Ibu beranggapan, pukulan itu tidak membekaskan pengalaman traumatis, bahkan menjadi pengalaman yang lucu serta berharga. Kemungkinan, guru ngaji saat itu melakukannya dengan penuh pengabdian, bukan pelampiasan emosi.
Nyaris terlupa, pukulan Tongkat Cinta tidak boleh dilakukan saat orangtua marah. Bila marah, orangtua harus meredamkan marah terlebih dahulu dan baru menghukum putra putri mereka setelah berjam-jam lepas dari kemarahan.

SELIPAN UANG
Menjadi hal yang lazim bagi anak-anak di seantero dunia untuk suka pada pekerjaan yang satu ini : membaca Komik!
Tidak semua orangtua suka anaknya membaca komik, termasuk orangtua dan kakek Yoon Sengui. Namun, kali ini hukumannya bukan Tongkat Cinta . Bukankah hal tersebut tidak ada dalam kesepakatan? Apa yang dilakukan kakek Sengui dan mama Sengui?

a. Kakek Sengui
Kakek Yoon Sengui menghadiahkan cucunya buku-buku bagus yang layak dibaca. Menrutunya , Yoon lebih baik membaca buku ilmu pengetahun daripada membaca komik! Tapi Yoon kecil tentu saja menolak. Kakek tak habis pikir.
“Yoon, kalau kamu membaca buku, kamu pasti akan menemukan hal berharga. Ketika menemukannya, ambillah!”
Yoon Sengui merasa, itu hanya akal-akalan kakek. “Sesuatu yang berharga” pastilah berupa ilmu pengetahuan. Ternyata, kakek menyelipkan…uang! Sekalipun awalnya saat membolak balik halaman demi mengharapkan uang, ternyata ada beberapa bab menarik yang akhirnya dibaca.

b. Mama Sengui
Mama Yoon Sengui tak suka putranya membaca komik. Bila Yoon membaca komik, mama akan memintanya menghafal semua dialog yang ada di buku komik.
Mama juga mengontrol buku bacaan Yoon. Setiap hari menjelang tidur, Yoon diminta menuliskan komentarnya tentang buku tersebut.
Yoon akan dimarahi bila komentarnya hanya,

Buku ini jelek.
Buku ini menarik.

Yoon harus menuliskan apa yang membuat buku itu menarik atau jelek, minimal 1 kalimat saja.

FABEL AESOP
Keluarga Yoon Sengui bukan orang berada, bahkan dapat dikategorikan miskin. Ayah dan ibunya harus bekerja keras mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun mama Yoon Sengui adalah orang yang luarbiasa. Mama berusaha membelikan buku meski mereka susah makan. Menjelang tidur, mama biasanya membacakan kisah-kisah Aesop.
Aesop adalah seorang budak berpenampilan sangat buruk hingga orang Yunani menjulukinya “Dewa tengah setengah tertidur ketika menciptakannya”. Namun kecerdasan dan kebijaksaan Aesop menjadikannya penasehat kaisar di kelak kemudian hari. Aesop lahir 630 SM di Amorium, Turki. Tulisan-tulisannya yang terkenal luas di seantero dunia adalah Aesop’s Fabulous Fable.

Kisah-kisah kebijaksanaan banyak tertuang dari fabel dengan tokoh unta, gajah, monyet, kura-kura dan beragam hewan lainnya. Kisah-kisah Aesop banyak dipilih orangtua saat mengajarkan pendidikan moral kepada anak-anaknya termasuk mama Yoon Sengui.
Saat SMA, Yoon Sengui telah membaca 3000 buku!
Pengalaman demi pengalaman yang menempa Yoon Sengui menjadikannya lebih bijak saat menjadi guru di SMP Young Hun Seoul dan SMA Demian Seoul.

KOMPETISI TURKMENISTAN
Begench Soyunov yang santun dan tenang menceritakan pola pendidikan di Turkmenistan yang mungkin akan membuat sebagian besar orang iri.
Tidak terdapat jenjang SD, SMP, SMA disana.
Jenjang pendidikan dasar mulai kelas 1 hingga kelas 11.
Kelas 1-3 hanya terdapat 1 orang guru (wali kelas) yang mengajarkan semua mata pelajaran. Sang guru harus dapat menguasai bahasa, matematika, ilmu alam. Barulah di kelas 4 hingga selesai nanti, anak-anak belajar dengan guru yang berbeda. Terdapat guru khusus bagi matematika, bahasa, biologi dan seterusnya.

Bila anak-anak keluar dari kelas 3…mereka mendapatkan hadiah laptop dari pemerintah!

Wah, senangnya! Alangkah bersemangatnya anak-anak belajar!
Di Turkmenistan, pendidikan mirip dengan pendidikan di Indonesia. Bedanya, sangat banyak diselenggarakan kompetisi-kompetisi semacam olimpiade kimia, fisika dsb. Anak-anak di Turkmenistan, diajarkan untuk selalu giat berkompetisi dan Turkmenistan termasuk yang unggul menjadi juara 1 dalam beberapa olimpiada ilmu pengetahuan tingkat dunia.
Kompetisi, memang menampilkan performa terbaik seseorang.
Rupanya, ini yang dibentuk oleh pendidikan di Turkmenistan!

Being Young and Muslim ~ Linda Herrera & Asef Bayat

Tag

Buku ini merupakan kumpulan 22 jurnal ilmiah , berisi penelitian tentang pemuda-pemuda muslim dengan range usia antara 19-29 tahun. Menariknya, penelitian ini dilakukan di negara-negara seperti Palestina, Mesir, Indonesia, Mali, Gambia, Perancis, Belanda, Amerika, Iran, Saudi Arabia, Maroko dan Jerman.
2 Jurnal merupakan penelitian di Indonesia :
1. The Drama of Jihad : The Emergence of Salafi Youth in Indonesia
2. Music VCDs and the New Generation : Negotiating Youth, Femininity and Islam in Indonesia

IMG_20141116_142404

Jurnal pertama meneliti perkembangan ke Islaman di Indonesia pasca 1997.
Beberapa perangkat di tengah masyarakat khususnya pemuda yang perlahan menjadi motor perubah adalah halqas ( religious study circles), dauras ( a type of workshop) , mentoring Islam (Islamic Courses), Studi Islam Terpadu (Integrated Study of Islam).
Peneliti ini beranggapan para ideolog yang meletakkan dasar pemikiran di Indonesia adalah Hasan Al Banna, Abul A’la al Mawdudi, Sayyid Quthb, Mustafa As Shibai, Ayatollah Khomeini , Murtada Mutahhari dan Ali Shariati. Situasi yang menyebabkan menjadi pre-kondisi tumbuhnya pengaruh transnational Islamic movement : the Ikhwan al Muslimin (Islamic Brotherhood), the Hizb al Tahrir (the Party of Liberation) dam the Tablighi Jama’at (Da’wa Society).
Bila jurnal pertama meneliti bagaiana kristalisasi jihad, hijrah menjadi semangat bagi para pemuda untuk lebih memperjuangkan Islam, jurnal lainnya berbicara pada sisi berbeda.

Jurnal kedua, menarik untuk dicermati bagaimana peneliti , Suzanne Naafs, langsung melakukan riset di salah satu kota Islam di Indonesia : Padang. Padang dianggap sebagai kota dengan latar belakang kultural sangat tercelup kebiasaan-kebiasaan Islami.
Bagaimana pemuda Padang dapat lebur ke Islamannya menjadi lebih cair dari para pendahulunya?
Pemuda, sangat terhubung dengan fashion, musik dan entertainment.
Naafs meneliti bahwa VCD sangat berpengaruh pada perombakan budaya secara besar-besaran. Pertama, pop Indonesia, pop Minang dan pop dangdut menginvasi areal-areal luas dari masyarakat seperti bis kota, angkot, toko dan pusat perbelanjaan. Kedua, icon remaja. Saat Naafs meneliti, Agnes Monica menjadi representasi gadis muda yang berkiprah di dunia entertainment dan melaju go international. Lagu-lagu pop dan icon seperti Agnes Monica, menembus sasaran para pemuda yang sangat gandrung pada dunia fashion, musik dan hiburan; sehingga ciri-ciri tradisional lebur ke arah ciri yang disebut modern.

MENGAPA PEMUDA MUSLIM?
Penelitian di belahan negara lain tak kalah menarik.
Internet di Palestina, politik di Maroko, dunia Sufi bagi pemuda di Mali, hingga para pemuda muslim menjalani hidup di Brooklyn, Amerika.
Kebijakan, akademis, politik sangat memperhatikan perkembangan pemuda. Pemuda-pemuda muslim dianggap sebagai object , victims and agent of change. Sekalipun para pemuda muslim seringkali menjadi objek perusakan, korban, namun dunia juga berharap banyak pada para pemuda muslim. Para tumpuan ini diharapkan dapat mengatasi unemployment, inequality, konflik sipil dan regional, HIV dan AIDS, drugs, ektrimis maupun perang antar geng.
Terkadang, bahkan pemerintah tak memiliki cukup kesanggupan untuk meregulasi, mendukung, memengaruhi para pemuda.
Herrera dan Bayat menuliskan di akhir buku, betapa dunia sangat berharap banyak pada pemuda muslim. Suatu kelompok khas yang memiliki historical basic dan envision the future.
Ya.
Para pemuda muslim kita, yang diharapkan mampu mengubah dunia ke arah dunia yang lebih baik, sebab para pemuda muslim memiliki spesifikasi khas : pergerakan yang cepat, involvement in networks, experience micro events that allow ideas to translate into actions.
Selamat datang , Pemuda-pemuda Muslim.
Di pundakmu harapan dunia baru!

Fakta Unik Bulan Nararya

Tag

,

bulan-nararya1.jpg

1. Nararya artinya “yang mendapat kemuliaan.” Dalam bahasa Sansekerta, Nararya adalah nama lelaki. Tapi dalam bahasa Jawa, Nararya adalah nama perempuan.

2. Beberapa klinik rehabilitasi mental memang mirip klinik bu Sausan : beraroma misterius!

3. Bulan Nararya seringkali ditulis di malam hari, agar penulis mendapat feel menulis cerita menyeramkan.

4. Saat mengantuk menulis novel, ada lagu-lagu yang membuat terjaga. Salah satunya…Maher Zain!

5. Apa nama si residivis yang gila? Statistik menunjukkan, banyak anggota LP yang lambat laun menderita skizofrenia akibat beragam tekanan hidup. Bulan, adalah benda di alam semesta yang misterius. Maka, dipilihlah nama pak Bulan.

6. Yudhistira, tokoh utama, orang dengan skizofrenia memiliki hobi melukis. Melukis termasuk salah satu Art Therapy yang sangat baik bagi penderita depresi dan skizofrenia.

7. Kisah cinta Yudhistira dan Diana adalah rekaan, namun terinspirasi dari kisah nyata. Orang-orang yang tetap setia pada pasangan sekalipun mereka divonis….gila!

8. Klinik Mental ( rasanya lebih baik dari menyebutnya Rumah Sakit Jiwa) memang menyajikan beragam kelucuan yang membuat perut kita terkocok. Bukan oleh kebodohan atau pembodohan, tapi justru memperlihatkan betapa orang-orang skizofrenia ini jujur dan polos hatinya.

Novel Psikologi : Rinai , Sophia & Pink, Bulan Nararya

Tag

, ,

Rinai, Sophia & Pink , Bulan Nararya adalah novel dengan baluran ilmu Psikologi.
Mengapa Psikologi?
Sejak lama, usai membaca karya-karya Tom Clancy, Michael Crichton, Frank Thallis, maupun novel legendaris Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes; saya ingin membuat novel yang kuat pondasi ilmiahnya. Bila Tom Clancy detail tentang militer dan seluk beluk taktik spionase-nya, Crichton dengan sci-fi , Thallis dengan Psikologi Klinis yang sangat Psikoanalisa, Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes- Sir Conan Arthur Doyle yang jago di detektif; saya ingin menuangkan gagasan-gagasan dalam jalinan kisah fiksi.
Gagasan-gagasan ideologis tentu ada di benak setiap penulis.
Thallis membangkitkan lagi romantisme Psikoanalisa dengan apik. Psikoanalisa, yang mendapatkan tandingan Neo-Freudian, Behavioristik, Humanistik ; menjadi hidup kembali lewat kisah Thallis. Mungkin ia pengagum Freud. Yang pasti, Thallis berhasil menjadikan novel-novelnya sangat Freudian dan ia membawakannya dengan sangat ilmiah, cemerlang, menusuk bagi pecinta novel thriller. Saya yang tidak suka Freud pun menjadi penasaran dengan logika berpikir Psikoanalis Thallis.

Rinai

cover RINAI

Diawali dengan Rinai, yang Alhamdulillah masuk 50 besar novel terbaik Republika (2011/2012?) , bahasan yang saya angkat adalah tentang Intelligensi dan Agresivitas. Rinai diterbitkan oleh penerbit Indiva.
Rinai adalah salah satu novel yang bagi saya istimewa (rasanya, setiap novel karya kita sendiri pasti istimewa  ). Setting Palestina nya membuat saya selalu rindu tanah Anbiya. Memang, ketika Allah SWT memperkenankan saya menginjakkan kaki ke tempat istimewa tersebut, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kisah. Bila kisah perjalanan, mungkin akan cepat menguap. Tapi novel, semoga tetap abadi. Amiin.
Harapan saya, pembaca dapat turut merasakan keindahan Gaza, wangi zaitun dan tin nya, panas gurun Sinai, sulitnya menembus check point dan gerbang Rafah ; tentu saja, semoga mampu menghadirkan betapa heroiknya para pejuang Palestina. Radikal? Hm, rasanya tidak. Saya hanya mengangkat para pembela tanah air, orang-orang yang mengumandangkan Intifadhah, bertahan di jam malam dan selalu optimis dengan ketentuan Tuhan. Dan, bahasan psikologi dapat menjadi bahan informasi.
Agresif kah anak-anak Palestina , karena situasi perang?
Tidak.
Bodohkah anak-anak Palestina karena blokade sehingga ekonomi terhimpit sangat?
Tidak.
Ada situasi-situasi yang menimbulkan anomali.
Seharusnya anak-anak Palestina trauma, agresif, brutal, bodoh dan sederet stigma lainnya akibat kondisi buruk peperangan. Memang, beberapa mengalami trauma, dan kesedihan panjang. Tapi mereka bangkit. Berjuang. Berdiri. Berprestasi. Psikologi mencoba menjelaskan, menemukan jawaban, sekalipun tak menyangkal bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, anomali tetaplah ada.
Apa anomali bangsa Palestina?
Quran.
Inilah jawaban yang meniadakan agresi, menghapus kebodohan, menghilangkan trauma sekalipun rumusnya sudah sangat jelas B= P.E . Bahwa behavior dihasilkan dari person dan environment. Seharusnya secara psikologis Palestina hancur jauh-jauh hari. Kenyataannya, mereka tetp tegak berdiri sampai sekarang.
Intelligensi.
Agresivitas.
Quran, adalah faktor yang sangat mempengaruhi kedua hal tersebut di atas.

Sophia & Pink

Sophia & Pink

Sophia dan Pink adalah kisah remaja SMA.
Mengambil latar Surabaya, novel yang berbeda dengan novel-novel remaja lainnya yang biasa mengambil latar Jakarta. Sophia gadis yang dibesarkan sebagai anak tunggal, dikelilingi nenek yang super lincah dan tante yang cerewet. Bunda Sophia baik hati, sementara ayah Sophia menghilang karena cinta ke lain hati.
Sophia dalam perjalanan mencari cinta.
Ia ingin mencintai dan dicintai laki-laki, karena kehilangan sosok ayah. Sophia mencari pada diri pak Ragil, gurunya. Vandes, sahabatnya. Bito, kawan tunarungunya. Namun pencarian cinta Sophia belum tuntas. Sebab cinta memang menyisakan misteri.
Saat-saat bahagia Sophia bersama teman-teman hebohnya , gadis ini harus menghadapi kenyataan mengejutkan : Bunda divonis kanker payudara. Maka Sophia belajar memahami sakit bunda, bagaimana merawatnya pra dan pasca operasi. Sophia mulai belajar bahwa cinta tak harus berbalas, meski cinta pada ayahnya sendiri.
Dan, pencarian cinta Sophia megnhasilkan sahabat tak terduga: Pink.
Pink cewek cantik yang jadi pujaan sekolah. Tak seorangpun yang tahu, dibalik kecerdasan dan kecantikan Pink, ia gadis yang mengambil peran utama dalam keluarga. Mamanya gila, sendiri di rumah besar Pink juga belajar bagaimana memastikan mama minum obat, memastikan mama tak menyakiti diri sendiri.
Sophia dan Pink, gadis-gadis remaja yang bijak. Cinta pertama kepada siapa harus berlabuh adalah : Ibunda.
Sisi psikologis yang ditampilkan disini adalah kondisi Bito, kawan Sophia yang tunarungu. Tidak semua manusia dilahirkan normal. Beberapa menderita kelainan pendengaran sehingga harus menggunakan alat bantu dengar. Dalam bayangan banyak orang, menjadi orang abnormal + alat bantu = normal. Padahal, butuh waktu banyak bagi Bito untuk menyesuaikan diri dengan hearing aid nya.
Sophia, gadis remaja sibuk yang tak hanya berkutat sebagai ketua kelas, sibuk dengan urusan keluarga juga urusan sahabat-sahabatnya.
Sophia & Pink diterbitkan oleh penerbit DAR!Mizan, 2014.

Bulan Nararya
Bulan-Nararya
Bulan Nararya adalah juara III Tulis Nusantara yang diselenggarakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2013, diterbitkan oleh Indiva.
Tokoh utamanya seorang perempuan muda bernama Nararya yang kandas dalam membangun mahligai cinta bersama suaminya, Angga. Nararya sama sekali tak menyangka bahwa sahabat baiknya, Moza, menjadi tambatan hati Angga yang berikut.
Di sisi lain, Nararya menghadapi persoalan pelik di Klinik Kesehatan Mental tempatnya mengabdi. Perselisihan pendapat dengan bu Sausan membawa permasalahan pelik sebab Nararya sendiri dalam kondisi tertekan akibat Angga dan Moza. Nararya yang idealis ingin menghentikan pemakaian farmakologi dan mengadopsi satu sistem baru dalam psikologi : Transpersonal.
Tiga pasien Nararya masing-masing Yudhistira, si kecil Sania dan seorang residivis tanpa nama menjadi pelipur lara Nararya. Yudhistira yang berangsur sembuh, menghadapi konflik pula ketika sang istri mengajukan gugatan cerai. Sania yang sejak kecil mengalami penganiayaan fisik oleh keluarganya, akan ditarik paksa oleh ayahnya keluar dari klinik. Si residivis , lelaki tanpa nama yang dijuluki pak Bulan, acapkali menjadi hiburan kalau bukan gangguan.
Dalam konflik yang membuat Nararya mengalami banyak guncangan, seseorang berupaya meneror Nararya di klinik.
Dimulai ketika suatu malam, satu kubangan darah dan cabikan kelopak mawar, menggenang di depan pintu ruang kerja Nararya. Halusinasi? Atau seseorang memang menginginkannya celaka?

************

Intelligensi, agresivitas, hearing impairment, skizofrenia, transpersonal, adalah ranah psikologi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian memaknai dengan salah, menyikapi dengan salah, sebagian bijak dalam bersikap.
Psikologi, bagai dua sisi kegunaan pisau. Satu sisi merupakan pisau ilmiah yang mampu mejelaskan, memprediksi, mengontrol perilaku manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk individu atau makhluk sosial. Disisi lain masih merupakan ilmu yang beririsan dengan hubungan transendental, supranatural bahkan mungkin superstitious terutama bila berhadapan dengan penyandang skizofrenia atau anak indigo.
Apakah halusinasi murni kerusakan neurotransmitter sehingga orang salah menginterpretasi stimulus suara atau bayangan?
Ataukah halusinasi sesungguhnya kemampuan di luar nalar bahwa manusia mampu melihat dan merasakan sesuatu diluar hal yang nyata?
Apakah intelligensi dapat berubah? Apakah intelligensi dipengarui genetik, nutrisi dan lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini masih terus seru diperdebatkan, ditelaah dan diupayakan jalan keluarnya. Tulisan fiktif, akan membawa nuansa baru yang lebih cair dan ringan, untuk membawa situasi ilmiah ke tengah masyarakat dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, lebih legit untuk dinikmati, meninggalkan jejak kesan yang lebih mendalam.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Tag

,

Why- mengapa seseorang dapat menjadi gila?
Setelah sebelumnya membahas what-apa dan who-siapa saja yang dapat menderita skizofren, timbul pertanyaan mengapa seseorang dapat mengalami skizofren dan yang lainnya tidak? Toh ada orang yang kehilangan pekerjaan, ongkang-ongkang kaki, merokok, jalan-jalan dan tetap no problem meski menjadi beban keluarga. Ada orang yang kehilangan pacar, malah bangkit dan bolak balik pacaran serta memutuskan hubungan dengan enteng; sementara di sisi lain seorang gadis putus cinta sekali sudah berakhir di RSJ? Ada orang yang menderita diabetes mellitus , tetap optimis serta melakukan diet, kehidupan karier –cintanya berjalan begitu dinamisnya.
Mengapa terjadi skizofren?

1. Genogram : rantai faktor genetik.
Beberapa sifat kepribadian dibentuk oleh genetik, lalu dibentuk oleh pola asuh, lingkungan, gizi dst. Bila orangtua pendiam, anak-anaknya beberapa akan pendiam juga. Bila orangtua mudah cemas, anakpun demikian. Kakek nenek, ayah ibu, yang memiliki bakat skizofren akan menurunkan pula bakat tersebut pada anaknya (tentang bagaimana mengatasi, akan dibahas lebih lanjut, dilengkapi kisah-kisah sejati)

2. Batas kemampuan
Setiap orang memiliki nilai ambang.a_busy_street_by_kaipu-d4co80o
Ada orang yang sanggup makan cabai 10 dengan tahu goreng 1, tanpa kepedasan. Ada orang yang hanya makan cabai 1, sudah setengah mati pedasnya. Ada anak yang di-bully-ing tetap cuek, sekolah, asyik beraktivitas sendiri. Ada anak yang dua hari saja bermusuhan dengan sahabatnya (padahal masih banyak teman yang lain) rasanya sempit dunia. Ada orang yang tidak punya uang tetap bisa menikmati suasana, ada orang yang begitu uang di dompet tinggal 100 ribu, cemas bukan main.

Masing-masing orang memiliki nilai ambang.
Rumitnya, fisik dapat terlihat. Semisal tensi tiba-tiba naik, orang mudah menyesuaikan diri dengan diet garam, misalnya. Lalu kapan kita tahu, bahwa rutinitas sehari-hari yang tampaknya sepele ternyata menggerogoti kemampuan jiwa untuk bertahan?
Kemarahan yang mudah meledak akibat hal sepele, insomnia berhari-hari, cemas berlebihan, gemetar bila menahan emosi adalah sedikit ciri-ciri bahwa psikis mulai harus diberikan kelonggaran.

3. Tidak ada dukungan
Menanggung segala beban sendiri, tampaknya menjadi keharusan yang dipikul masyarakat millenium dewasa ini. Saat ayah ibu sibuk dengan urusan pekerjaan, remaja yang tengah berkembang dalam ledakan hormonal dan emosi tak mendapatkan bahu sebagai tempat bersandar. Seorang ibu yang kelelahan dengan setumpuk kerjaan kantor dan rumah tangga, mendapati suaminya pun memiliki beban kerja yang tak kalah beratnya.
Situasi kota yang panas, padat, membuat orang bersegera ingin menyudahi urusan dan tak ingin terlibat masalah dengan banyak orang. Semakin sedikit menjalin pertemanan, semakin sedikit masalah. Tampaknya demikian. Padahal semakin sedikit berinteraksi dengan manusia lain, semakin rentan seseorang dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri.
lonely

4. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian A, B, C yang cenderung mengalami gangguan kepribadian menjadi salah satu penyebab munculnya skizofren. Sebagai contoh, tipe kepribadian A yang aneh dan eksentrik pada orang-orang yang paranoid terhadap sesuatu, membuat distorsi kognitif. Takut berbagi dengan orang lain, khawatir akan bocor, tersebar luas, alih-alih mendapat jalan keluar; akhirnya masalah hanya dipendam sendiri. Takut akan masa depan akibat pekerjaan yang belum tetap. Takut belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah matang.

Begitupun tipe B, salah satunya narsistik. Merasa bahwa dirinya yang paling unggul, paling cantik, paling pandai dan paling pantas terhadap posisi tertentu. Sehingga dalam ajang audisi kecantikan misalnya, bila peserta lain yang mendapatkan juara akan merasa juri tak adil. Atau merasa bila pekerjaan bukan dikerjaan oleh dirinya sendiri, akan berakhir berantakan.

Atau tipe C, salah satunya obsesif kompulsif. Tak pernah yakin, selalu ketakutan bila ada hal detail yang belum ditunaikan. Takut bahwa seantero warga kota pembawa kuman berbahaya sehingga jemari tangan dan seluruh badan mudah terkontaminasi, akibatnya menjaga kebersihan dengan sangat ekstrim.crying_face_by_angeli7-d68uvtn

5. Terlalu berlebihan
Terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, menjadi salah satu faktor pemicu. Baik terlalu mempermudah, atau melebih-lebihkan. Manusia memeiliki psikodinamika yang meliputi aspek emosi, kognisi, motivasi, sosial yang harus seimbang. Terlalu berlebihan menekankan pada salah satu akan menimbulkan kerapuhan disisi yang lain sehingga ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan oleh salah satu faktor, runtuhlah ketangguhan kepribadian.
Sebagai contoh, orang yang hanya mengedepankan aspek kognisi atau inteligensi, beranggapan semakin pandai, tinggi kedudukan seseorang; semakin kaya dan mudah hidupnya. Padahal dalam hidup banyak terjadi peristiwa tak terduga yang tak dapat diselesaikan dengan inteligensi. Orang sakit, tak akan banyak berfungsi inteligensinya, tetapi kehidupan sosial akan memberikan pengaruh. Bila kontak sosialnya baik, ia dijenguk, diringankan bebannya, insyaAllah akan segera sembuh.
Dalam usaha perekonomian misalnya, bukan hanya faktor relasi sosial dan inteligensi yang berpengaruh. Pasar banyak diatur oleh invisible hand, bila tiba-tiba collaps, maka aspek emosi yang berperan.

6. Nutrisi
Sebagian penyandang skizofren memang mengalami nutrisi yang kurang. Nutrisi ini bila dimulai sejak masa awal kehidupan, dapat mempengaruhi inteligensi dan kondisi syaraf-syaraf otaknya. Pasien-pasien di bangsal seringkali berasal dari wilayah-wilayah yang tandus, mengalami malnutrisi sejak masa pertumbuhan dan dilanjutkan dengan kesehatan yang serampangan di masa dewasa.

7. Inteligensi
Inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu, namun turut menyumbang dalam kasus skizofren. Pengidap skizofren umumnya memiliki inteligensi di bawah rata-rata meski akhir-akhir ini ditemui pula para sarjana, orang-orang dengan kecerdasan tinggi yang mengidap skizofren.
Mereka yang berinteligensi rendah, tak mampu mencari jalan keluar bila masalah menghadang. Saat dikeluarkan dari pekerjaan, berpikir bahwa pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan pendapatan. Padahal, dengan mengandalkan kecerdasan yang dikaruniakan Allah berapapun skornya, skill dan aspek-aspek yang lain, insyaAllah selalu tersedia rizki.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (1)

Tag

,

Seribu satu rasa saat menghadapi pasien-pasien dengan derajat kegilaan beragam : tertawa geli, sedih, prihatin dan berujung pada perenungan. Betapa bersyukurnya kita hingga detik ini dikaruniai Allah SWT kesehatan fisik dan mental yang utuh hingga tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan bahagia.Pro kontra tentang penyakit mental yang satu ini akan selalu ada. Tulisan ini hanya sekedar informasi, pengamatan, dan perenungan bagi kita semua.

Schizophrenia_by_cikolatali_waffle

Hingga kini, para ahli masih terus meneliti sebab dan terapi bagi penyandang skizofren. Masyarakat yang memiliki kerabat skizofren pun menangani dengan beragam cara : ruqyah, medis, ditelantarkan atau bahkan, dipasung. Untuk yang terakhir ini, masih ditemui orang-orang yang dipasung keluarganya dari 7, 12 hingga…20 tahun! Bila ditemukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, pasien pasung ini segera dirujuk ke Puskesmas terdekat lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Menghadapi pasien ex pasung sungguh memilukan hati. Mereka bisa buas, bagitu paranoia hingga disapa pun segera melompat melarikan diri, diam seribu basa seribu tindakan tanpa mau bereaksi, atau bahkan harus menjalani terapi jalan sebab mereka lupa rasanya bagaimana menjadi makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dapat bergerak dengan dua ekstrimitas bawah.
Skizofren disebut sebagai severe mental illnes, penyakit mental paling parah.
Ditandai dengan pecahnya kepribadian dan hilangnya reality testing ability, kemampuan untuk berpijak pada realitas. Penderita menjadi demikian impulsif, agresif, mudah mengamuk, dapat melukai orang-orang disekitar atau bahkan melukai diri sendiri. Bila kita salah menangkap maksud mereka, tak jarang mereka tiba-tiba menjadi demikian bertegangan tinggi. Mereka tidak mampu membedakan realitas kehidupan, apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar istrinya berselingkuh atau sebetulnya tengah pergi ke pasar. Apakah orang-orang tengah bercakap atau tengah membicarakan diri mereka, apakah anak-anak mereka sedang bermain atau tengah menggenggam pisau. Dan umumnya penderita mengatakan, “saya sehat! Kenapa harus dibawa kesini??!”

Satu ciri khas penderita skizofren : waham dan halusinasi.
Penderita skizofren umumnya mengalami waham, seperti merasa menjadi utusan Tuhan, menjadi Nabi, diberikan bisikan ghaib untuk melakukan tugas tertentu. Hal ini terkait pula dengan halusinasi, baik halusinasi auditori atau halusinasi visual. Halusinasi auditori, berarti penderita mendengar bisikan-bisikan ghaib untuk melakukan sesuatu. Bahayanya, bila bisikan ini memerintahkan mereka untuk bunuh diri atau membunuh anggota keluarga. Halusinasi visual, bila penderita merasa melihat bayangan-bayangan melintas, yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.
Pengalaman di bawah, mungkin dapat memberikan gambaran.
Seorang lelaki usia matang, mendatangi saya. Wajahnya santun, tubuhnya bersih, wajahnya tersenyum. Ia menyapa saya, dan kami bertukar nama.

“Saya tuh nggak papa mbak, sehat begini. Mbak bisa bayangkan, saya dibawa kemari hari Jumat. Pas saya mau adzan sholat Jumat. Saya sudah pakai sarung, pakai baju koko. Tahu-tahu di tengah adzan saya ditangkap begitu saja…masyaAllah! Benar-benar gak tau aturan, saya mau sholat…”
Bila hanya percakapan di penggal di sini, kita akan menyatakan penjemput adalah orang-orang tak beradab. Namun, ketika percakapan mengalir, barulah kita sadar bahwa ucapan penderita boleh jadi bias.
“Kita ini dikelilingi setan, Mbak.”
Hm, benar kan yang dikatakan bapak tersebut?
“Kita dikelilingi makhluk ghaib. Saya sering melihat makhluk ghaib dimana-mana. Di jalan, di kantor, di ruangan.”
Kita bahkan dapat menyangka bahwa si bapak terkena gangguan jin!
“Apa yang Bapak lakukan bila melihat makhluk ghaib?”
“Saya hancurkan, Mbak! Saya bisa menghancurkan makhluk ghaib.”
“Wah, hebat Pak! Bagaimana caranya?” saya tanya lagi.
“Dengan tangan kosong saja. Dipukul begitu saja. Baru-baru ini saya menghancurkan makhluk ghaib, berupa batu hitam bundar yang ada di dalam beton. Betonnya hancur Mbak!”
Barulah bila diamati, sekujur tangan dan kaki bapak tersebut bengkak, dihiasi luka-luka menganga yang mulai mengering.
“Banyak setam dimana-dimana. Di ruangan ini pun ada.”
“Ohya, dimana Pak?”
“Lihat! Saya paling ndak suka lantai warna hitam. Kenapa rumah sakit ini lantainya putih dan hitam. Yang hitam itu ada setannya.”
Saya mencoba mendengarkan kisahnya yang terus berputar sektiar makhluk ghaib.
“Mbak, saya begini ini karena dibuat orang. Ibu saya yang nyantet saya!”

Begitulah.
Waham, halusinasi, delusi, campur aduk menjadi satu.
Melalui observasi dan wawancara, sesungguhnya kita dapat membedakan mana orang yang masih mampu membedakan realitas dan sesuatu yang abstrak atau orang yang sudah tak mampu membedakan keduanya.

What : apa Skizofren itu?
Skizofren adalah penyakit jiwa yang parah, ditandai dengan pecahnya kepribadian, ketidak mampuan menangkap realitas dan ditandai dengan gejala waham, delusi, halusinasi.
Berhati-hatilah menyebut seseorang sebagai penderita ketidakwarasan atau gila, sebab stigma ini acapkali menempel seumur hidup.
Hanya karena seseorang mengamuk, membanting handphone, memecahkan piring, mencaci maki dengan umpatan –misuh, kata orang Jawa- , ngomel panjang pendek, ngomong-ngomong sendiri; atau bahkan ketika seseorang merasa melihat dan mendengar makhluk ghaib; kita lantas mencapkan penderita skizofren.
Siapa di antara kita yang belum pernah marah teramat sangat?
Mungkin, di puncak amarah akibat bertengkar dengan saudara, suami, atau rekan/atasan kerja; saking tidak mampunya mengatasi keruwetan pikiran, kita memecahkan apapun untuk melampiaskan kemarahan. Tentu, ini bukan solusi terbaik namun perilaku marah kelewat batas bukan satu-satunya tanda kegilaan.
Acapkali skizofren dan depresi tercampur aduk, sebab simptomnya mirip satu sama lain.
Yang perlu dipahami, waspadai gejala halusinasi yang berkepanjangan.
1504519shutterstock-96229181780x390
Tentang bagaimana menangani waham, halusinasi atau delusi, akan dibahas lebih lanjut dalam how atau bagaimana.
Skizofren terdiri dari beberapa jenis :
1. Skizofren katatonik – mematung
2. Skizofren hebefrenik – selalu bergerak, bericara, bertindak aktif
3. Skizofren paranoid – selalu ketakutan
4. Undifferentiated skizofren

Skizofrenia (Gila) : from What to How (2)

Tag

,

Who – siapa saja yang dapat menderita Skizofrenia?
Umumnya, pertanyaan yang kerapkali diajukan terhadap penderita adalah :
• Adakah keluarga yang mengidap penyakit skizofren sebelumnya?
• Apa yang dialami penderita selama ini, setidaknya 6 bulan terakhir?

Genogram
Biasanya, akan dirunut silsilah genetika. Adakah saudara sekandung yang mengalami hal sama? Beberapa kasus terjadi, bahkan kakak-adik di rawat secara bersamaan di RSJ. Genogram akan merunut hingga 3 tingkat.
Pertama, penderita dan saudara-saudara kandungnya.
Kedua, ayah ibu penderita, beserta saudara-saudara kandung ayah ibu.
Ketiga, kakek nenek penderita. Bila memungkinkan silsilah genetika saudara kandung kakek nenek.
Secara sederhana, mungkin jawabannya seperti ini, “ iya, memang kakeknya dulu juga pernah sakit seperti ini.”
Tapi jawaban yang terjadi mungkin demikian,” si X ini amat sangat keras wataknya, nggak pernah bisa mentolerir kesalahan orang. Makanya musuhnya banyak. X ini keras sekali wataknya, persis seperti kakeknya.”

potret-diri-Skizofrenia-2752014

Orang dengan tipe Kepribadian A, B, C?
Sebagian orang memiliki gangguan kepribadian yang dibagi dalam kelompok A, B, C. Belum tentu berujung pada skizofren , apabila seseorang mendapatkan daya dukung yang dibutuhkan.
Tipe A : paranoid, skizoid (isolasi sosial), skizotipal (perilaku, persepsi, keyakinan ganjil)
Tipe B : orang-orang yang terlalu dramatis, emosional, eratik . Masuk didalamnya antisosial, ambang, histrionik, narsistik
Tipe C : orang-orang yang celalu cemas dan ketakutan. Termasuk pula kepribadian menghindar, dependen, obsesif kompulsif.

Bukan berarti orang dengan kepribadian skizotipal berujung pada skizofrenia, sekali lagi, bila seseorang memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sepasang kakak adik memiliki kemampuan melihat hal yang ganjil (skizotipal). Mereka mengaku senantiasa dikuntit makhluk ghaib, bahkan ketika tidur tak jarang kakak adik ini bangun dengan posisi berpindah tempat. Bukan sekedar tidurnya, tapi ranjang dan segala isi kamar ikut berubah. Namun, karena berasal dari keluarga yang hangat, ibu yang menjadi tempat curhat, kakak adik ini survive dan akhirnya hilang sama sekali tipe skizotipalnya (lihat pada tulisan how-bagaimana nanti)
Contoh lain skizoid.
Umumnya, ini dialami kelompok minoritas, migran, tahanan politik. Maka, tak jarang yang terpaksa menginap di bangsal RSJ adalah kaum urban yang mengalami tekanan sosio kultural.
Seorang gadis mengalami skizoid, merasa terisolasi sosial dan memang ia suka mengisolasi diri akibat ayahnya tahanan politik. Namun, karena ia cerdas, ia tumpahkan semua rasa sepi dan pedih itu dengan berprestasi akademis setinggi-tingginya. Lambat laun, dengan prestasi akademisnya, ia semakin percaya diri dan orangpun tak terlalu ambil pusing dengan kiprah buruk ayahnya. Sekalipun ia skizoid dan suka mengisolasi diri, ia tetap merasa nyaman.
Namun, disisi lain, orang-orang A, B, C dapat mudah menjadi skizofren bila ia tak memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, seorang lelaki X selalu berusaha menghindari apapun yang menjadi tanggung jawabnya (tipe C). Ia tak pernah mencoba menanggung beban sebagai suami dan ayah, selalu mengeluh dengan kondisi, tak mau bekerja dengan gaji ala kadarnya, ingin kerja enak dengan penghasilan tinggi. Ketika kondisi keluarga semakin terhimpit, istri X akhirnya bangkit untuk bekerja. Kondisi ini mematahkan X dan ia makin lama makin terpuruk sebelum akhirnya terdampar di bangsal RSJ.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-yourHigh Tension Culture
Siapapun, bila tidak berhati-hati dapat mengalami depresi.
Depresi tidak selalu berujung skizofren. Namun bila semakin terpuruk, tak memiliki teman seorangpun, selalu menyendiri dan menjalani situasi ekstrim –berdiam di kamar gelap, merenung tanpa tujuan di malam-malam hari- halusinasi, delusi, waham dapat muncul.
Bisikan ghaib. Ajakan untuk melakukan hal buruk. Membunuh diri, atau membunuh yang lain. Dalam tubuh terdapat dua atau tiga orang yang tarik menarik melakukan sesuatu.
Tekanan luarbiasa pada masyarakat high tension culture membuat orang-orang dikejar kebutuhan untuk memiliki uang, gadget, kendaraan, pakaian, gaya hidup, penampilan, bersosialita yang tiada putusnya untuk dikejar. Bagi anak-anak remaja, melihat temannya memiliki motor atau pacar, rasa dada sesak. Bagi seorang ayah, melihat ayah yang lain memiliki mobil, rasanya sesak. Bagi seorang ibu yang setiap hari terbelit urusan dapur, melihat tetangga melenggang shopping dan ke Spa, rasanya sesak. Belum lagi masing-masing individu semakin sibuk dengan diri, semakin sibuk dengan urusan dan semakin sibuk dengan gadgetnya. Ayah ibu semakin mengejar kebutuhan ekonomi yang memang mendesak, hubungan keluarga renggang, masing-masing kelelahan dalam urusan sendiri dan lambat laun pribadi-pribadi rapuh ini akan retak sebelum pecah berkeping.
Mereka yang berpembawaan melankolis, antisosial, skizoid semakin tak punya teman bila berada dalam lingkungan yang individualis. Tentu saja, kita tak dapat menyalahkan laju zaman. Diperlukan skill yang lebih terasah untuk mengatasi budaya tegangan tinggi.
Akibatnya, orang-orang yang memilih tinggal di kota-kota besar lebih rawan ditimpa beragam gangguan kepribadian. Begitupun orang-orang yang tinggal di rural area, yang memutuskan untuk menjalani kehidupan kaum urban. Bila tak siap dengan tekanan dan kehidupan serba cepat, dapat berujung pada depresi berkepanjangan, dan bila dibiarkan tanpa perawatan dapat pecah kepribadian.

Minus
Kehidupan serba minus dapat membawa seseorang terpaksa menjalani rawat inap di bangsal RSJ. Minus skill, minus kesehatan, minus agama, minus pendidikan, minus dukungan. Dalam kasus minus kesehatan, tidak melulu orang-orang dari golongan ekonomi lemah. Banyak yang dari kalangan mapan, kesehatannya terganggu akibat pola hidup tak sehat.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memilih menghabiskan waktu dengan empat bungkus rokok sehari dan sebagai teman sempurna, bergelas-gelas kopi. Akibatnya, ia tak dapat tidur berhari-hari, kesehatannya memburuk, ketika serangan halusinasi datang.
Ada lagi seorang perempuan yang mengalami diabetes. Apa hubungannya dengan skizofren? Seiring dengan penyakit yang diderita, tubuhnya menyusut. Ia merasa tak cantik lagi, depresi berat, tak mampu melayani suami dan pada akhirnya muncul delusi bahwa suaminya berselingkuh.

Pasangan Da’wahku

Tag

, ,

Albert Einstein, menjalani kehidupan cinta bersama 3 perempuan : Marie Winteler, Mileva Maric dan Elsa. Membaca biografinya yang dituliskan Walter Isaacson; ada banyak yang bisa direnungkan tentang kisah masa kecilnya, perjuangannya di politeknik Zurich, kegilaannya pada cahaya dan gravitasi, militansi Yahudi serta tentu saja, perjalanan cintanya.
Ada yang unik dari pasangan cinta Einstein.
Marie Winteler sangat manis, baik paras maupun budi pekertinya. Awalnya Einstein jatuh cinta setengah mati, namun sifat manis Marie yang menghujaninya dengan surat dan hadiah-hadiah terasa membosankan untuk si anak bengal yang selalu melawan segala otoritas.

Berikutnya, Einstein jatuh cinta setengah mati kepada Mileva Maric yang ditentang habis seluruh keluarga Einstein. Mileva Maric bertubuh kecil, pincang, berwajah buruk hingga dijuluki si nenek sihir; ia teman sekelas Einstein di politeknik. Mileva pintar dan mampu mengimbangi Einstein. Berbeda dengan Marie yang menghujani dengan surat romantis, surat Mileva kepada Einstein dipenuhi teori elektrik dan matematika! Kecerdasan Mileva membuat Einstein terpikat. Beberapa sumber mengatakan, salah satu keberhasilan Einstein adalah berkat bantuan Mileva Maric yang rajin menyiapkan referensi dan mengetik makalah Einstein; tentu Maric bukan sekedar bertindak klerikal, ia juga pemikir.

Bersama Mileva, Einstein memiliki beberapa anak namun pernikahan mereka kandas akibat Einstein sangat dingin terhadap hubungan interpersonal. Hubungan dengan Hans Albert Einstein –putranya- seringkali memburuk.
Hati Einstein akhirnya berlabuh pada Elsa, yang mampu mengelola kehidupan Einstein sedemikian rupa, mulai hal-hal kecil hingga tampil di depan publik dan melakukan negosiasi.

Pasangan Hati
Einstein hanya satu dari sekian milyar manusia di muka bumi yang menjalani hidup, menemukan pasangan, lalu lebur kembali bersama tanah. Mendampingi orang seperti Einstein sungguh sulit, sebagai lelaki sekalipun ia bertanggung jawab, Einstein bukan suami yang didambakan banyak perempuan.
Namun, kisah cinta itu dapat diambil hikmahnya. Bukan karena romantisme, bukan karena kepintaran atau kecantikan, hubungan cinta dapat langgeng bertahan. Memang, romantisme dan kecerdasan pasangan adalah nilai plus; namun seringkali yang mampu mengikat sebuah pasangan adalah bila masing-masing menemukan apa yang dibutuhkan.

Mileva Maric sangat kecewa karena impiannya menjadi ilmuwan kandas seiring tubuhnya melemah akibat mengandung anak-anak Einstein. Mentalnya sakit dan hubungannya rusak, padahal kehidupan cinta mereka di masa kuliah benar-benar membuat orang terheran-heran. Elsa hanyalah orang kebanyakan, namun ia mampu mendampingi Einstein dalam saat sulit ketika ia tengah mematenkan beberapa karya ilmiah termasuk teori relativitas.
Pasangan hati, sungguh sulit dicari.
Terkadang harus gagal berkali-kali.
Namun ada yang sekali menemukan, langgeng hingga mati.

Sejatinya, manusia adalah makhluk yang harus terus belajar terhadap segala sesuatu. Belum tentu, pernikahan berarti menemukan pasangan hati. Namun, sayang sekali bila telah menikah masing-masing pihak tidak berusaha menemukan cara untuk mempertautkan hati lebih erat lagi. Ada banyak cara untuk mengeratkan pasangan hati.
Salah satu contoh kenalan saya, seorang karyawati kecil ini mungkin pantas ditiru. Meski, akibat suami terlalu mandiri, kadang saya terlupa.

“Mbak Sinta, kalau suami pulang dari kantor, siapkan minuman secara istimewa. Meski hanya segelas air putih. Meski segelas air putih, berikan tatakan alas dan tutup, pasti suami akan merasa sangat dihormati.”
Elsa tidak secantik Marie. Tidak secerdas Mileva. Pikirannya yang sederhana diungkapkan, “ aku tidak mengerti matematika kecuali tentang tagihan rumah tangga.”
Namun Elsa humoris, hangat, dan melayani Einstein dengan baik. Ketika Einstein harus bepergian, Elsa menyiapkan pakaian di koper bahkan menyiapkan uang-uang dan membaginya dalam amplop-amplop agar sesuai kebutuhan sang suami. Elsa memasak sup kacang dan sosis kesukaan Einstein, dan bila suaminya mondar mandir lupa diri akibat penelitian; Elsa akan mengantarkan makanan tersebut ke kamar. Dalam ruang kosmos Einstein yang tak terjamah, Elsa berusaha menjauhkan gangguan.

Pasangan Da’wahku
Untuk kesekian kali, kepergianku keluar kota didampingi suami.
Ia berseloroh, kuranglebih demikian, “nanti namaku dimasukkan jajaran pengurus FLP sebagai bagian transportasi yah!”
Di jalan, aku seringkali jatuh tertidur kelelahan, sementara suami berjaga, menyetir hingga tujuan. Sebagai ibu dan istri, kepergian keluar kota bukan sekedar angkat kaki. Di rumah, cucian hingga makanan butuh perhatian khusus. Apalagi anak-anak seringkali melaporkan sesuatu sesaat menjelang kepergian.
“Ummi, aku harus beli buku!”
“Nanti jemput aku yaaa…aku mau ada acara di sekolah.”
“Token listriknya habis nih.”
“Adik disuruh nyiram tanaman aja nggak mau tuh!”

Maka dengan sigap suamiku mengambil peran lain, disaat aku sibuk mencuci dan mengomando anak-anak.
“Jangan lupa masak nasi, lauk tinggal nggoreng. Ada martabak dan samosa di kulkas. Titip mesin cuci, Ummi lagi mbilas. Nanti tolong beli token. Jangan berantem. Jangan lupa sholat dhuha dan tilawah.”
Sekilas orang melihat bahwa kami pasangan kompak, Alhamdulillah.
Namun sampai di titik pemahaman seperti ini secara bersama-sama, bukan butuh sekali dua kali pembicaraan. Dengan kesibukan suami dan kuliah profesiku, suami berharap agenda-agenda lain tereduksi terutama agenda keluar kota. Sedikit demi sedikit, perlahan dan saling mendukung kukatakan, masing-masing kami memiliki peran da’wah yang tak dapat digantikan orang lain. Satu sama lain harus saling mengisi, mengoreksi, mengingatkan, mengorbankan kepentingan diri sendiri jika harus untuk mencapai harmonisasi.
Suami meminta ketrampilanku mengelola seluruh sumberdaya bila harus keluar rumah.

Di awal berperan dalam dunia da’wah, tentu kami lelah lahir batin. Benturan sesekali terjadi, dan kami berdiskusi untuk menemukan kata kunci : komitmen. Beban harus dibagi, anak-anak harus dipercepat kedewasaan agar orangtua tidak lagi ribet memikirkan tetek bengek rumahtangga.
Mendewasakan anak?
Owh, itu pembahasan yang butuh energi ekstra .
Saat ini yang kulakukan adalah menginjeksi kognisi mereka terus menerus, atau diistilahkan terapi Kognitif. Ketika suami protes kukatakan, “ saya masih menata ulang kognisi mereka Mas, perilaku masih belum. Bertahap ya…”
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit tercipta stabilisasi dan harmonisasi.
Seringkali aku berpikir, bila bukan karena terikat oleh komitmen da’wah, pernikahan akan cepat bubar ditengah jalan. Masalah ekonomi, keluarga besar, anak-anak, kepribadian individu yang terus tumbuh dan dinamis, karier dan 1001 masalah manusia dapat menjadi alasan pernikahan gulung tikar. Dengan komitmen da’wah, kesulitan dapat diurai , dicari titik temu dan dilakukan penyelesaian masalah.
Karenanya, sungguh tepat sabda baginda Rasulullah Saw yang bersabda, intinya : pilihlah pasangan karena kecantikan, harta, nasab atau agamanya. Tetapi pilihlah agamanya terlebih dahulu.
Agama, adalah ikatan yang paling kuat dibandingkan ikatan kesukuan, strata sosial, emosi atau hubungan kekerabatan. Dengan agama, sepasang suami istri akan menimbang baik buruk dari kacamata yang baku, yang disepakati, yang tidak akan menimbulkan perselisihan. Lebih mudah bagi pasangan menentukan sesuatu jika tolok ukurnya adalah agama. Semisal, istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, maka ia akan tetap menjadikan suami sebagai qowwam. Sesering apapun istri meninggalkan rumah dengan alasan da’wah, ia akan mentaati komitmen yang diajukan suami. Alasannya jelas : ridho suami akan menghantar pada ridho Allah SWT.
Bayangkan bila tanpa landasan agama, seorang istri yang memiliki karir tinggi akan merasa pantas memperlakukan rumah sama dengan perlakuannya terhadap bawahan di kantor.
Memilih pasangan, mempertahankan pasangan dan pernikahan dengan landasan da’wah serta agama akan lebih mudah dilakukan. Mungkin saja pasangan sudah tidak cantik dan tampan lagi, tapi agama mengajarkan sabar dan syukur. Apalagi, bila ditelusuri lebih lanjut, pasangan da’wah kita jauh lebih baik daripada orang-orang yang lalu lalang di mall setiap harinya. Pasangan da’wah akan membuat seseorang melakukan lompatan pemikiran jauh ke depan : buat apa sih pernikahan ini? Sekedar seksual? Sekedar “kemewahan” agar dengan bangga kita bisa menjawab pertanyaan ini :
 Sudah menikah?
 Suami/istri kerja dimana?
 Lulusan apa sih pasanganmu?

Einstein saja berkata, “istri bukanlah kemewahan yang didapatkan suami.”
Dengan kata lain, Einstein ingin mengatakan bahwa istri bukanlah sebuah attachment yang langsung melekat pada laki-laki begitu ia punya karir bagus, posisi, gaji mentereng. Pasangan hidup bukan sekedar kemewahan yang melekat dalam status agar kita berbangga mengatakan, “oh saya sudah menikah lho…malah sudah punya anak…suami/istri saya adalah….bla bla bla.”
Pasangan da’wah memang sulit ditemui, bahkan dibutuhkan kesungguhan untuk mendapatkannya. Sesudah diraih, butuh energi ekstra untuk memulasnya agar pernikahan yang semula memiliki landasan da’wah, tidak meluncur bagai bermain ski di lapisan es landai : dapat suami/istri aktivis da’wah, hidup enak, punya anak, cukup sudah.
Bagi anda yang belum memiliki pasangan da’wah, doa-doa kami akan selalu menyertai saudara/saudari agar Allah SWT memberikan jodoh mulia dari sisiNya sesegera mungkin; di waktu yang tepat dan dengan jalan yang diberkahi.
Bagi anda yang telah memiliki pasangan, marilah menjaga pasangan hati dan pasangan da’wah kita. Allah SWT telah memberikan rezeqi berlimpah dengan dimuliakanNya kita sempurna sebagai makhluk berpasangan. Bila ada kekurangan pada pasangan da’wah, maukah kita membantu menyempurnakannya?

Sinta Yudisia
Agustus 2014

karikatur-kita1400-04532330

Jilbab si Gila

Tag

,

Sebut namanya Muslimah.
Usia 30an, manis sekali, berpostur sedang. Sekilas, bila kita bertemu dengannya di keramaian, mungkin akan menyangkanya perempuan kebanyakan.
Saya pun sempat terkecoh pertama kali bertemu. Menyangkanya perempuan biasa, namun ketika kami berbicara lebih jauh, barulah tampak siapa Muslimah sebenarnya. Mata kosong, wajah dingin tanpa sentuhan emosi, raut wajah tanpa ekspresi. Sesekali bisa berdiskusi resiprokal, namun di titik tertentu memori-nya tak utuh, dan perbincangan tak akurat.

Tempat kami magang, adalah rumah sakit bagi orang dg diagnosis severe mental illness, pasien2 Psikotik Fungsional dg 5 kategori : Psikotik Akut, Skizofrenia, Skizoafektif, Gangguan Bipolar, Gangguan Waham Menetap.

Jangan bayangkan pasien psikotik sbg orang compang camping, lusuh bau spt yg ditemui di jalan2. Sebagian mereka pandai, speak in english, orator, pintar menyanyi. Wajah tampan cantik, atau wajah kacau balau , beragam jenis disini. Remaja, hingga lansia diterima sbg pasien rawat inap atau rawat jalan.
lossy-page1-220px-Scheherazade.tif

Terkadang, kami susah membandingkan pasien dengan perawat, DM, mahasiswa magang, perawat magang. Baju relatif berwarna mirip antara pasien dan paramedis : abu-abu, biru , hijau, coklat. Jika tidak jeli melihat, siapa terapist atau yg diterapi, nyaris sama.

Yang membedakan secara fisik, semua pasien, mengenakan baju sebatas siku dan celana sebatas lutut. Warna pakaian tergantung ruang inap. Misal ruang A warna merah, ruang B kuning dst.

Lalu apa istimewanya Muslimah?
Perempuan psikotik fungsional, kemungkinan skizofren katatonik, berada di ruang sebuah rumah sakit jiwa? Apa istimewanya Muslimah, yg sehari2 masih harus dalam kontrol ketat terapi, mengenakan pakaian khas, berada di bawah pengawasan kamera CCTV 24 jam sehari?
Muslimah, istimewa bagiku.
Dengan baju sepanjang siku, celana sebatas lutut -SOP klien rumah sakit jiwa yg sering kabur, melakukan tindakan impulsif -agar lebih mudah dikenali dan diamankan-; Muslimah mengenakan kain kerudung di atas kepala.

Rapi.
Tertutup.
Kain segiempat, dilipat dua menjadi segitiga, dipasang di atas kepala, menutupi rambut sempurna, tersemat peniti tepat di bawah leher agar kerudung tak meleset kemana-mana.

Ya, ia Muslimah si Gila.
Yang mungkin harus menkonsumsi obat2 typical atau atypical seumur hidupnya. Mungkin selamanya tak akan mencapai RTA-reality testing ability yg baik, selamanya tak mampu memiliki self -image positif, selamanya harus dibantu melakukan self-help.

Muslimah si Gila, di tengah perjuangannya menaklukan halusinasi, membedakan antara realitas & delusi, mengenakan jilbab.

Ketika kami berpisah hari itu, ia menatap kami dari balik pagar besi tinggi. Pemandangan aneh, seseorang mengenakan pakaian dengan panjang lengan sebatas siku dan celana selutut tetapi menggunakan jilbab.

Muslimah istimewa dimataku.
Ia, pengidap skizofrenia -atau yg sering diistilahkan gila- entah sadar atau tidak, berusaha mentaati perintah Allah SWT sebagai seorang perempuan. Mengenakan kerudung ketika bertemu non mahram.Bukan hal mudah menjalani hari2 bagi skizofren, menghadapi diri sendiri dan stigma orang lain. Mencoba taat padaNya dalam segala keterbatasan, sungguh mengharukan.

Apakah anda, juga saya, yg merasa normal tidak mau mentaati perintah Allah SWT utk mengenakan jilbab secara sempurna?

Sinta Yudisia, Agustus 2014

Sognando Palestina

Tag

, ,

*Randa Ghazy

(Randa Ghazy adalah seorang penulis belia 13 tahun asal Mesir. Orangtuanya senantiasa berkata bahwa anak-anak Palestina adalah saudara-saudaranya)

Pesan anak Palestina pada sahabatnya :

Aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menetap disini
Membaca sampai dunia berakhir
Tetapi dalam kenyataannya
Satu-satunya yang penting buatku adalah kalian
Dan, dirimu

anak palestina

Aku berpikir bahwa kau telah memberikan sebuah keluarga untukku
Kau, adalah keluargaku
Dan bahwa barangkali
Aku tak cukup lengkap mengutarakan padamu
Aku benar-benar menyayangimu

Suatu hari nanti
Bila kita tak akan bersama lagi
Aku tidak akan bisa berkata :
Terimakasih
Terimakasih atas segala yang kau lakukan padaku

Jika perang ditakdirkan usai
Jika kita ditakdirkan merebut kembali tanah ini
Jika kita sanggup melepaskan diri dari kekerasan
Aku senang sekali bisa berada di dekatmu dan berkata :
Kita telah berhasil!

Ketika kelak kau menjadi lelaki dewasa
Akan sangat sulit bagimu
Sangat sulit
Untuk membebaskan dirimu dan mengakui
Bahwa hatimu terbakar oleh perasaan yang begitu halus
Rasa yang melampaui kepedihan
Itulah Cinta

children of Gaza
Dibacakan dalam aksi solidaritas Palestina , Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

ORANG PALESTINA

Tag

, ,

*Harun Hashim Rasyid

(Harun Hashim Rasyid adalah penyair Palestina, lahir 1930 dan hidup di bawah penindasan Zionis Israel. Puisi-puisinya yang terkenal antara lain Kapal Kemarahan (Safinat al Gadhab), Orang-orang Asing (Al Ghuraba) dan masih banyak lagi. Salah satu yang terkenal adalah puisi berjudul Orang Palestina)

father n son in gaza

Orang Palestina aku
Orang Palestina namaku
Dengan tulisan terang
Di segala medan pertempuran
Telah kupahatkan namaku
Mengaburkan segala sebutan
Huruf-huruf namaku melekat padaku
Hidup bersamaku, menghidupi aku
Mengisi jiwaku dengan api
Dan berdenyut di urat-urat nadi

Orang Palestina aku
Itu namaku kutahu
Itu menyiksa dan menyusahkan aku
Mengejar dan melukai aku
Karena namaku Orang Palestina
Dan sesuka mereka,
Mereka telah membuat aku mengembara

Aku telah hidup sekian lama
Tanpa sifat tanpa rupa
Dan sesuka mereka
Mereka lontarkan padaku segala nama dan sebutan nista
Penjara-penjara dengan pintu-pintu lebar terbuka
Mengundang aku
Dan di segala pelabuhan udara di dunia
Diketahui nama dan sebutanku
Angin khianat membawa aku
Menghamburkan aku

Orang Palestina
Nama itu mengikuti aku, hidup bersamaku
Orang Palestina, itu tertakdir padaku
Melekat padaku, menggairahkan aku

Orang Palestina aku
Meskipun berkhianat mereka padaku dan pada tujuanku
Orang Palestina aku
Meskipun di pasaran mereka jual aku
Seberapa mereka suka, seharga ratusan juta
Orang Palestina aku
Meskipun di tiang gantungan mereka giring aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke dinding mereka ikat aku

Orang Palestina aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke api mereka lemparkan aku
Aku : apalah arti diriku?

Tanpa namaku, Orang Palestina
Tanpa tanah air dimana aku mengabdikan hidup
Dimana aku dilindungi dan melindunginya
Aku
Apalah arti diriku

Jawab, jawablah aku!

Perempuan Gaza di tepi Pantai

Perempuan Gaza bersama keledai di tepi pantai

Dibacakan pada Aksi Solidaritas Palestina, Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Jika Kau Pergi Ke Gaza, Palestina

Tag

, ,

Sekali saja, andai kesempatan itu datang, meminta kita datang ke Palestina, apa yang harus disiapkan?
Paspor visa, agar dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Sejumlah uang yang dapat dikonversikan ke mata uang asing, tak mungkin di negeri orang tak bawa uang saku. Logistik, agar tak kelaparan sepanjang perjalanan maupun di tempat tujuan. Pakaian sesuai musim, mengingat Palestina dapat mengalami cuaca ekstrim sangat panas atau sangat dingin. Baterai, sebab listrik hanya dijatah 3-5 jam oleh Israel. Alat komunikasi, siapa tahu keadaan terjepit dan kritis, harus mengontak pihak otoritas. Ohya, kamera. Mengabadikan perjalanan tak lengkap tanpa kesan visual. Sediakan kantong-kantong sisa di ransel dan koper, agar dapat membeli souvenir di toko-toko handicraft yang tersebar di sepanjang jalan di Gaza City. Harganya relatif murah. Kecuali jika ingin membeli abaya, perlu menyiapkan sekitar 200 shekel per gaun.
Cukupkah?
Rasanya cukup.
Tambahkan tim penerjemah yang mampu berbahasa Arab, bila hanya paham ana dan antum.
Jika perjalanan itu bertujuan menikmati eksotika Khan Khalili, Kairo atau biru safir Mediterrania el Arish, daftar di atas cukup. Namun bila anda berkehendak memasuki Palestina, ada hal-hal lain yang harus disiapkan.

Bon-bon, Gaza

1. Believe in Allah
Ini saran dari Rehab Shubair, Ministry of Women Affairs. Keadaan di Palestina betul-betul tak dapat diprediksi. Tak ada siklus rutin pasti sebagaimana kita bangun Shubuh, sholat, menyiapkan sarapan, berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah, pulang sore dan bercengkrama kembali, melepas penat dan begitu seterusnya. Merencanakan akhir pekan, merencanakan beli sesuatu di awal bulan. Berniat melakukan sesuatu di tahun depan.
Terjebak jam malam. Terjebak sirene peringatan sehingga rumah dan sekolah harus bergegas mengawasi jendela agar anak-anak menjauhi kaca –sniper mengincar bahkan hanya sekedar gerakan melongok .
Mereka yang kau cintai, belum tentu dapat kau cium dan peluk kembali, malam nanti.
Seorang anak mungkin tewas dalam perjalanan pulang sekolah. Seorang ibu mungkin tertembak ketika sedang ke pasar atau bekerja mencari nafkah tambahan. Seorang ayah mungkin terkena rudal ketika tengah menunaikan kewajiban.

Kematian adalah hal biasa.
Syahid adalah cita-cita.
Tapi Palestina, juga Gaza, berisi manusia-manusia yang punya hati; menjerit bila sakit, menangis saat terluka, terisak jika kehilangan. Siapa diantara kita yang sanggup kehilangan sesuatu yang dicintai dengan cara mendadak dan cara paling menyedihkan? Tak ada.
Maka Ministry of Women, bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah menggaungkan pesan-pesan propaganda, bahwa bila rakyat Palestina ingin bertahan, mereka harus percaya Allah. Believe in Allah bukan lips service, sekedar slogan dan teriakan.
Believe in Allah menggaung dari dinding-dinding rumah, dari program harian rumah tangga, dari kurikulum sekolah, dari target pemerintah. Pemerintah menetapkan bahwa summer camp adalah waktu wajib bagi para pelajar untuk libur sekolah, mengikuti supercamp untuk mengasah leadership dan life skill, dan program sepanjang kurang lebih tiga bulan ini terutama menempa para pelajar menghafal Quran.
Quran adalah salah satu bentuk believe in Allah, tak ada tawar menawar lagi.

kantor, gaza
2. Al Waqiah
Ini adalah saran dari Abeer Barakah, seorang ibu muda cantik berputra putri 4 orang, dosen UCAS. Kehidupan di Gaza boleh jadi sangat rumit, di blokade bertahun-tahun. Pasokan barang terpaksa melalui smuggling tunnel, mulai genset, mobil sampai hewan Qurban. Mulai shampoo sampai jepit rambut. Mulai tabung gas hingga obat-obatan. Masih belum cukup rupanya, smuggling tunnel seringkali terpantau satelit dan dibombardir hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap.
2012, Gaza masih dapat bernafas lega ketika Rafah dibuka atas kebijakan presiden Mursi. Sekarang, Rafah kembali ditutup dan rakyat Gaza terengah-engah memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi Abeer, Allah Maha Kaya dan tidak terpasung hanya oleh blokade, hantaman rudal, smuggling tunnel atau sirene jam malam.
Ia melazimkan bacaan al Waqiah setiap hari demi jaminan rizqi dariNya. Karena itu, sekalipun kondisi sulit dan kelaparan menimpa hampir setiap kepala penduduk Gaza, mereka selalu bahagia akan datangnya rizqi Allah yang tak disangka-sangka. Cairnya beasiswa, bantuan dari negara tetangga macam Yordania atau Qatar. Dan tentu, bantuan dari Indonesia adalah salah satu jawaban atas al Waqiah yang istiqomah dilakukan.
Abeer Barakah, bahkan masih merasa belum cukup membeli tiket ke surga dengan sekedar tinggal di tanah para Anbiya. Ia dan suaminya mendirikan yayasan, memelihara anak-anak yatim, berpegang pada salah satu hadits Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih : Rasul dan penyantun para yatim bagaikan dua jari tak terpisahkan di surga.
Rindu padamu, Abeer. Miss you much, your family and all of Gaza people.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini mereka tak pernah lupa tempat kembali, tak pernah lupa bahwa tiket ke sana bukan semurah tiket masuk konser musik atau bioskop XXI.

gaza's people
3. An Anfaal dan At Taubah
Anda lelaki, seorang ayah atau pemuda?
Akan sangat malu bila belum menghafalkan 2 surat ini. Surat kebanggaan yang menjadi pelipur lara, penegak tulang belakang, pembusung dada bahwa kaum muslimin tak akan pernah terhina meski terpaksa mengais belah kasih, bergantung hidup sebesar 70% dari bantuan internasional.
Inilah surat yang menjadikan para pemuda boleh mendaftar sebagai prajurit Hamas.
Sekedar jago beladiri, tubuh tegap dan wajah sangar tak cukup. Sebab prajurit Palestina bukan berperang menggunakan drone atau melaju di atas pesawat-pesawat tempur, berlindung di balik tank-tank baja. Para pemuda harus siap menjadi prajurit kapanpun tugas negara memanggil. Mereka harus bergilir menjaga perbatasan, sewaktu-waktu terjebak perang yang pecah tiba-tiba, terkena peluru nyasar atau pecahan bom. Kekuatan mental dan ruhiyah menjadi syarat utama agar sanggup mengatasi rasa sakit fisik dan psikis.
Maka, jangan hanya terbakar emosi sesaat dan berniat mendaftar sebagai relawan perang di Palestina. Gaza tak pernah meminta bantuan pasukan perdamaian. Gaza tak pernah menghiba memohon gencatan senjata dengan Israel. Mereka merasa cukup dengan sumber daya manusia yang mereka miliki, yang tidak dimiliki negara manapun di dunia ini termasuk Indonesia. Prajurit penghafal Quran.
Yang Gaza harapkan adalah kepedulian warga muslim dunia, agar senantiasa mendoakan dan menyisihkan dana bagi operasional negara mungil yang bahkan tak boleh mencari ikan di perairan lautnya sendiri.

ministry of women affairs
4. Sabar
Sabar adalah syarat mutlak bagi seseorang yang berniat memasuki Gaza, Palestina.
Apalagi yang dibutuhkan bagi seseorang yang menunggu tanpa kepastian?
Pemeriksaan check point, tertolak di gerbang Rafah, perjalanan melelahkan via jalur darat, belum lagi diusir oleh tentara Mesir dari perbatasan. Tak ada bekal yang lebih baik kecuali sabar : baik dapat menerobos masuk ataupun tertolak. Beberapa relawan mengisahkan bahkan terpaksa gigit jari setelah tinggal berminggu-minggu di El Arish tak dapat menembus Rafah.
Bila berhasil memasuki Gaza, Palestina, bersabarlah. Belum tentu dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan sebab gerbang Rafah bukan terbuka-tertutup sesuai jam kerja. Inilah satu-satunya gerbang antar negara paling ajaib di dunia : tak ada jadwal tetap, tak ada hukum pasti, tak ada prosedur yang dapat dipelajari, tak ada orang dalam yang dapat ditembus. Hanya dapat dibuka sesuai kesepakatan dengan Israel dan Mesir yang saat ini tak berpihak pada tetangga muslimnya sendiri.
Tinggal di Gaza berarti harus bersiap-siap kekurangan air dan listrik, juga harus waspada terhadap kemungkinan tembakan-tembakan Israel yang lepas tanpa perjanjian.

5. Waspada
Tak perlu khawatir akan keamanan yang berasal dari warga Gaza. Insyaallah aman tidur malam meski tanpa mengunci pintu. Insyaallah tak ada pencopet sebab warga Gaza memiliki izzah. Jangankan mencopet, mengemis saja mereka enggan.
Yang harus diwaspadai adalah, demikian tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Siapa sangka, sesaat ketika mengajar, terdengar dentuman dan di waktu yang sama kita telah terlempar ke dimensi yang lain : alam barzakh?
Bukan berarti warga Gaza membabi buta menuju kematian dan tak lagi peduli pada perjuangan hidup. Mereka tetap bekerja, menuntut ilmu, bahkan hingga strata tiga. Mereka giat mencari beasiswa ke negeri jauh untuk diaplikasikan kembali ke Palestina. Mereka berlatih survival, bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya pecahan peluru. Hingga anak-anak, tahu bagaimana menghadapi tentara Israel meski hanya berbekal sebentuk batu.
Saya mungkin seperti anda dan jutaan manusia yang lain, menyangka bahwa kematian hanya akan menjemput nanti ketika usia menginjak angka 60 tahun ke atas. Kehidupan saat ini masih sangat layak dinikmati. Rancangan mingguan, bulanan bahkan tahunan ke depan menggambarkan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dimensi duniawi. Sangat sedikit mengingat kematian kecuali saat takziyah dan melewati areal pemakaman.

Di Gaza, Palestina, hidup terasa demikian aneh dan asing, namun juga menentramkan.
Udara pagi demikian segar, pasokan oksigen yang disiapkan tumbuhan zaitun dan tiin. Salam bertebaran, dengung Quran tiada henti. Wajah-wajah ramah teduh. Riuh rendah suara anak-anak sekolah, percakapan warga yang sama seperti warga lainnya dari belahan manapun di dunia ini. Hanya saja, warga negara ini tak gentar menghadapi kematian. Kepahitan tentulah ada, tapi mereka tak pernah takut hingga berniat meninggalkan Darul Ma’ad.
Mereka selalu waspada dengan kematian yang begitu dekat berteman dengan kehidupan.
Amat sangat waspada.
Hingga setiap langkah. Setiap jejak. Setiap nafas. Ditujukan bagi persiapan menuju keabadian.

Sekali lagi, Palestina dihantam kesulitan.
Para penjaga al Aqso, pengawal tanah kenabian, terbiasa menghadapi kelaparan dengan berpuasa dan berbuka hanya dengan segelas airputih. Mereka sanggup menghadapi persenjataan canggih dengan lemparan batu dan merakit roket-roket sederhana.
Tapi, apakah kita, hanya berdiam diri?
Atas nama kemanusiaan dan surga yang diimpikan, atas nama Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap keping rupiah dari kita adalah pertemuan dahsyat doa-doa mereka dengan cinta kaum muslimin. Setiap kepedulian kita adalah jalinan kuat dengan impian warga Gaza : ya Allah, jadikan saudara-saudara kami di Indonesia dapat menunaikan sholat di Al Aqso, kiblat pertama kaum muslimin.

Salurkan dana pada lembaga yang anda pilih.
Atau bersama Forum Lingkar Pena, FLP.
Organisasi Kepenulisan Muslim yang insyaallah terbesar di dunia, aktif dan konsisten menyebarkan nilai-nilai Islami yang Universal.
BSM (Bank Syariah Mandiri) cabang Dewi Sartika, Jakarta, no rekening 7033 101858, an Forum Lingkar Pena. Harap konfirmasi kepada Nurbaiti Hikaru 0815 72014615. Tweet ke @flpoke dan amati daftar donasi melalui website www://flp.or.id
Dana insyaallah sampai langsung kepada warga Gaza Palestina, melalui mitra FLP : BSMI dan KNRP insyaAllah

Ungkapan hati seorang Nenek 73 tahun mengenai sosok Capres Prabowo Subianto

Tag

, ,

Kekagumanku pada beliau bukan hanya sekarang, bahkan semenjak aku masih menjadi mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta.
Kusaksikan semenjak mengemban tugas sebagai prajurit sampai melesat menjadi Danjen Kopassus (yang sebelumnya bernama RPKAD, Pasukan Baret Merah yang saya banggakan itu) karena prestasi-prestasinya, sampai akhirnya menjadi Pangkostrad.
Sering prestasi yang beliau capai dikait-kaitkan dengan opini, “itukan karena beliau adalah menantu Presiden!!!”
Pada pandangan saya beliau adalah seorang gentlemen. Seorang yang selalu “ menggenggam” nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam situasi apapun.
Saya sangat bangga sebagai orang Indonesia yang saat itu memiliki pasukan TNI AD / Kopassus yang sangat ditakuti lawan-lawan negara.
Kekaguman saya semakin bertambah pada saat terjadi peristiwa kerusuhan di tahun 1998 , dimana beliau saat itu ada dalam arus pusaran peristiwa tersebut.
Sebagai menantu presiden ( yang sedang ada dalam akhir kekuasaan) dan sebagai prajurit, yang tugasnya sebagai pembela negara dan pemersatu bangsa (NKRI) dilemma itu tentu saja beliau alami sangat sulit.
Tapi lagi-lagi saya menyaksikan betapa dengan kokohnya beliau masih memegang nilai-nilai kebenaran itu , meski terfitnahkan dimana-mana.
Alhamdulillah saya tidak termakan oleh fitnah itu. Dan saya saat itu tetap yakin bahwa tujuan beliau adalah benar.
Tapi saya sangat sedih ketika beliau diberhentikan (dengan hormat) dari TNI AD. Hakekatnya bersalahkah beliau??? Kalau tindakan-tindakannya saat itu untuk menyelamatkan NKRI? Batinku bertanya.

Tentu saja dengan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Beliau hadapai pemberhentian tugas itu dengan tegak, tegar dan percaya diri bahwa beliau sekedar memperjuangkan kebenaran demi NKRI.
Lama aku tidak mendengar kabar beliau. Kabarnya , beliau ada di negeri orang karena penguasa negeri itu adalah sahabatnya (beliau banyak sahabat-sahabatnya).
Beberapa tahun kemudian, kusaksikan dilayar televisi, beliau diangkat menjadi ketua HKTI…aku bertanya : mantan Jenderal, mengurusi tani dan nelayan??? Alangkah mulianya dan merakyatnya beliau!!
Kemudian kusaksikan ada Partai Baru “GERINDRA” di bawah pemimpin beliau. Aku ingin ikut bergabung, tapi aku tahu diri, aku sudah bukan anak muda lagi.
Tapi aku sedih ketika pilpres tahun 2009; beliau “hanya” mencalonkan diri sebagai wakil; padahal saya yakin, beliau lebih hebat dari capresnya. Tapi sungguh ini sebuah hikmah bahwa saat itu yang terpilih adalah bapak SBY.
Dan sekarang beliau menyadari bahwa rakyat Indonesia membutuhkan beliau dan dengan sigapnya layaknya sikap seorang prajurit mencalonkan diri sebagai Presiden.

Bravo, Pak.
Tentu saja aku memilih capres no 1.
Semoga Allah meridhoi. Amin. Amin. Amin.

Siti , Nenek dari 10 cucu
Lulusan sarjana Farmasi 1973, Yogyakarta

Surat utk prabowo 1

Surat utk Prabowo

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 345 pengikut lainnya.