Kau Harus Hidup! You Have to Live! (a poem for Egypt)

Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya, Jumat 16 Agustus 2013

Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya

Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya

Kau harus hidup!
Ibu mendoakanku
Bukan karena aku tua, dan kau anakku tercinta

Kau harus hidup!
Ayahku berkata
Bukan karena aku tua, dan karena engkau adalah mataku

Kau harus hidup!
Abangku berkata, melindungi tubuhku agar selamat
Bukan hanya karena kita sedarah dan kau adikku

Kau harus hidup!
Bukan karena aku istrimu
Sekalipun, aku demikian mencintaimu

Aku harus hidup!
Kukatakan pada diriku berulangkali
Kulihat ayahku tewas
Ibuku tewas
Abangku tewas
Juga istriku tewas

Seluruh kesaksianku berada dalam kameraku

Aku harus hidup!
Bukan hanya karena aku putra kesayangan ibu
Tapi aku putra dari negeri ini

Aku harus hidup!
Bukan karena aku mata ayahku
Tapi aku adalah mata dunia

Aku harus hidup!
Bukan karena aku suadara dari abangku
Tetapi aku adalah saudara bagi kemanusiaan

Aku harus hidup!
Bukan karena cinta istriku
Tetapi karena aku menikahi kejujuran, lebih dari menikahi dirinya

Aku harus hidup!
Sebesar keinginanku untuk mati saat ini, berada bersama orang-orang yang kucintai
Sebesar rasa sakit yang membunuhku

Tapi aku harus hidup
Untuk menceritakan pada dunia
Kebiadaban, kenistaan ini

Kupersembahkan:
Pada rakyat, jurnalis, seluruh kru berita
Yang telah memeluk dahsyat kematian
Meninggalkan orang-orang yang dicintai
Merasakan keperihan fisik dan emosional yang demikian dalam
Untuk tetap menceritakan pada dunia apa yang terjadi
You’re not alone, Egypt!

Puisi Karya Ganjar Widhiyoga, mahasiswa program doktoral Hubungan Internasional di New Castle, Inggris
(didedikasikan utk rekan2 wartawan, jurnalis, kamerawan & semua yg gugur dlm tragedi kemanusiaan)

Foto2 dapat dilihat di

IMG_3945.jpg

“You have to live,”
She prayed for me.
“Not because I am old,
and you are my beloved son.”

“You have to live,”
He said to me.
“Not because I am blind,
and you are my eyes.”

“You have to live,”
He pushed me into safety.
“Not because you are my blood
and my brother.”

“You have to live,”
She shielded me.
“Not because you are my love,
eventhough I love you enough.”

I have to live!
I told to myself repeatedly.
When I saw my father died,
when I saw my mother died,
when I saw my brother died,
when I saw my beloved wife died…

All I witnessed behind my camera.

I have to live!
My mother had prayed for me.
Not because I am her son,
but because I am
the son of this land.

I have to live!
My father had said that to me.
Not because I am his eyes,
but because I am
the world’s eyes.

I have to live!
My brother had guarded me.
Not because I am his brother,
but because I am
the brother of humanity.

I have to live!
My wife had sacrificed herself for me.
Not because she loved me,
But because I am married to truth
Even before I met her.

I have to live,
I whispered to myself.
As much as I want to die
and be with those that I love…
As much as this pain
is killing me…

But I have to live…
Just to tell the world
about this massacre.

A tribute to:
All citizens, journalists and news crews
who have embraced the danger of death,
left their loved ones,
and are feeling terrible physical and emotional pains
to open the world’s eyes.
You have to live!

Kepada Presiden Mursi

Salam sejahtera untukmu, Mr. Presiden, beserta segenap keluarga dan orang-orang yang tetap berusaha menapaki jalanNya dalam kebaikan. Shalawat untuk Nabiku tercinta, teladan dalam amanah dakwah yang panjang berliku, dengan tangga tertinggi surga. Shalawat pula untuk keluarga Nabi yang sederhana, para tabiin, salafus shalih, dan orang-orang yang senantiasa percaya pada janji Allah.
Imam President Mohammed Mursi

Apa kabarmu, Tuan? Selama 10 hari terakhir Ramadhan hidupku disibukkan oleh semangat ibadah, itikaf, tilawah Quran, berinfaq shadaqah dan ah, tentu saja. Riuh rendah suasana lebaran yang menjadi budaya bangsa Indonesia : silaturrahim, sungkem dan mencium ayah ibu, menengok kerabat dekat, bercanda dengan keponakan dan handai tolan. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia berjumlah 280 juta, kami juga disibukkan oleh harga daging sapi yang melonjak hingga 120ribu/kg, cabai, tiket angkutan dan padat merayap jalanan saat mudik – balik.
Dan, bertemu bersama keluarga, kembali diskusi-diskusi meriah merebak. Mulai perkembangan anak-anak, pencapaian karir, hingga kondisi negara.

Presiden Mursi,
Sungguh, tak layak. Kata orang, tak baik mengungkap keburukan keluarga sendiri, membuka aibnya pada orang luar. Aku tak ingin membuka aib keluargaku, bangsaku, pada orang lain. Tapi bagiku, kau bukan “orang lain”, Mr. President.
Di negaraku, sejak lama aku merasa menjadi anak angkat, anak tiri, atau tak punya siapa-siapa sebagai tempat mengadu. Sejak kecil, remaja, mulai menikah hingga dewasa; permasalahan yang dihadapi bangsaku serasa tak melangkah maju : ekonomi sulit, kriminalitas, sensitivitas antar suku, kesenjangan antara borjuis proletar. Waktu kecil, tiap kali lebaran aku harus berdesakan bersama sekian ribu pengantri kereta api untuk mudik; sekarang memang lebih baik. Tetapi jalanan dipenuhi kendaraan pribadi sementara kendaraan umum masih jauh dari memadai; baik kenyamanan maupun keamanan. Maka uang lebaran kami habis oleh harga-harga membumbung.
Andai saja, bukan karena takut kepada Allah SWT dan keinginan untuk berbakti pada orangtua, sungkem pada mereka, dan keinginan menyambung silaturrahim ; rasanya enggan menjadi bagian dari keruwetan lebaran.

Presiden Mursi,
Sepanjang melaju dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah, betapa makmurnya negeri kami Indonesia. Kanan kiri dipenuhi sawah, hutan jati, kebun tebu, tembakau. Sungai-sungai mengalir. Di alas Mantingan, masyarakat menjual ikan-ikan yang didapat dari kolam air. Alas Roban tak seseram dulu, jalur perbukitan dibelah. Kanan kiri dipenuhi penjaja kelapa hijau, dan rest area yang menyediakan makanan hangat. Sepanjang Ramadhan dan lebaran, sungguh kami tak kekurangan makan. Apapun bisa didapat di Indonesia. Daging sapi, ayam, beras, buah-buahan. Makanan tradisional hingga franchise Amerika, dapat dipilih mudah. Asalkan punya uang.

Presiden Mursi,
Indonesia demikian makmur. Pepatah berkata, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Ibaratnya, melempar kayu, pohonpun tumbuh. Bukan sekedar kolam air, tetapi danau susu.
Maka, aku sangat terbiasa hidup enak. Apa-apa ada.
Sulit rasanya hidup susah. Antri sedikit, malas. Jalan ke tong sampah, malas. Jatuh bangun berdagang , malas. Berpikir 20 tahun Indonesia ke depan, malas. Rasanya, negeri surgawi ini terlalu kaya, sehingga 7 turunan cukup menghidupi anak-cucu-cicit. Mungkin itulah dapat dimaklumi kenapa orang-orang di negeri ini ingin jalan pintas, serba cepat, potong kompas. Maka jangan heran, di negeri kami mulai artis hingga pejabat, terbiasa mencapai karir dengan cara kilat; tak peduli seperti apa kualitas karirnya.
Aku sendiri, pada awalnya adalah anak muda dengan idealism tinggi.
Ingin mengubah negeri ini, menjadi lebih baik. Langkah-langkah bertahap mulai perbaikan individu, keluarga, masyarakat, lalu negara dan semesta.

Nasehat al Banna dan Syaikh Ahmad ar Rasyid

Presiden Mursi,
Kadang aku kecewa dengan diriku. Dalam tahapan ini, nasehat syaikh Ahmad ar Rasyid, sang dai muharrik sungguh menyentak, menikam. Aku merasa diriku demikian baik, dan akan sanggup memikul segalanya sendiri. Tetapi syaikh ar Rasyid menasehati,
“…akan selalu dibutuhkan dai-dai, pejuang muda. Sebab para pejuang tua, telah kelelahan disebabkan oleh perkara-perkara manusiawi.”

Ya. Manusiawi. Atau duniawi?
Betapa saat muda kami selalu berdiskusi tentang bagaimana mengubah negeri ini. Angkutan negeri, pasar-pasar, sekolah, system perkonomian, pemilihan kepala daerah, kepala pemerintahan. Hal-hal kecil kami bahas, bahkan bagaimana menyalurkan bantuan jilbab dan bahan makanan ke pelosok banjir.
Perkara-perkara manusiawi lambat laun memperlambat laju kami. Ekonomi yang belum mapan, karir yang belum beranjak, biaya hidup yang melonjak, juga permasalahan keluarga. Maka langkah lelah kami menjadi terseok oleh perkara-perkara yang dulu jauh diluar jangkauan pikiran kami. Keinginan membeli rumah, membeli mobil, membeli baju baru, investasi, dan beragam kepentingan ekonomi yang campur baur antara keinginan dan kebutuhan. Kami, masih menyandang predikat dai. Masih berkinginan menapakai jalan kebaikan. Tapi ah, mengapa sangat sulit kini untuk ikut merasakan keletihan dan perjuangan yang biasa dilalui para Nabi dan Rasul?

Lalu, muncullah engkau, Mr. President.
Maka teringatlah kami oleh nasehat Hasan al Banna yang intinya, seorang manusia tak boleh putus asa oleh dirinya sendiri, meski telah melakukan kesalahan, bahkan mungkin maksiat dan dosa. Seorang dai tak boleh berhenti, meski mungkin ia pernah tersangkut, tersandung, tercebur, ternodai oleh “persoalan, kesibukan, kelemahan manusiawinya.”
Aku teringat tulisan Abbas Assisi, penulis Bersama Kafilah Ikhwan.
Dalam kalimat pengantarnya yang demikian mencengangkan, sungguh tergedor hati kami.
“Bahwa setiap manusia, setiap bagian dari bumi, adalah asset-asset Islam yang harus dipelihara.”
Bukan dihancurkan. Dirobohkan. Diruntuhkan. Diratakan tanah. Ditinggalkan. Diasingkan. Tetapi dipelihara. Dibangun. Dikelola. Dimanfaatkan. Dilindungi. Bagi setiap ummat manusia di dunia, tak peduli apa ras dan agamanya, apa status dan kedudukannya.

Presiden Mursi, dimanapun kau berada,
dalam benteng, tembok atau pembaringan.
Dirimu, hadir bagai pasokan stamina yang mengusap kelelahan kami. Bagai gambaran janji yang sempat kami ingkari. Bagai seteguk air di oase kering perjalanan kehidupan. Saat kami kelelahan dalam jalan dakwah. Atas sedikitnya pengikut, atas kurangnya fasilitas, atas kesulitan-kesulitan yang menghadang.
Maka kau dan Ikhwanul Muslimin memberikan pelajaran berharga bagi jalan dakwah, jalan kebaikan di Indonesia.

Mesir dengan Gurun Sinai yang keemasan panas membara, aroma padang pasir dengan uap mematangkan paru-paru, mendidihkan pembuluh darah. Maka kami di Indonesia, berada di dua musim tak ekstrim, dikelilingi hutan, sungai dan suasana curah hujan yang basah. Mesir, dengan militer berkokang senjata, lautan darah, terbantainya putra putri terbaik negeri; Ikhwanul Muslimin tetap menganggap setiap anak negeri Mesir adalah saudara kandung. Maka kami di Indonesia, tak boleh beranggapan mereka yang berbeda partai, organisasi massa, berbeda suku sebagai orang yang bukan saudara lagi.
Mesir, dengan kemenangan Ikhwanul Muslimin lebih dari 50%, dengan terpilihnya presiden penghafal Quran seperti dirimu; ternyata masih menempuh jalan panjang dakwah, jalan liku kemenangan. Perihnya kesabaran. Maka kami disini, yang baru mampu memperlihatkan sedikit wangi aroma dakwah; tak boleh gegabah, congkak dan merasa dakwah telah sampai pada puncak tertinggi.

Mr.President Mursi, wherever you are,
Singkat nian perkenalan ini. Belum lama kami demikian bahagia akan hadirnya dirimu. Sosok ramah, wajah teduh, suara tenang dan aura penuh kharisma. Kami rindu hadirmu, seperti kedatanganmu di Indonesia saat gempa Aceh melanda. Alangkah indah bila dirimu dapat hadir ke Indonesia, berjabat tangan dengan presiden negeri kami sembari memberikan wejangan-wejangan berharga tentang bagaimana seorang pemimpin harus welas asih kepada rakyat negerinya. Alangkah indah bila dirimu dapat hadir ke Indonesia, memberikan semangat kemandirian, bahwa menjadi bangsa yang besar dan bermartabat tak harus tunduk pada negara superpower namun justru harus mampu menentukan arah sikap bangsa, sesuai karakter kepribadian yang dimiliki.

Presiden Mursi,
Sempat terdengar issue kau telah wafat. Anehnya, bahkan hanya sekedar issue, hati kami telah tercabik. Apalah lagi bila suatu saat kau benar-benar menghadapNya. Hingga saat ini bangsa kami, Indonesia, juga presiden kami belum menentukan pendapat terhadap Mesir dan dirimu. Kami masih menunggu. Masih mengamati. Masih menimbang. Melihat kanan kiri. Mencari sekutu.
Tetapi Mr.President, tidak semua warga masyarakat Indonesia tidak peduli padamu, pada Mesir dan Ikhwanul Muslimin. Ada di antara kami yang tetap mengingatmu dalam doa-doa, mengumpulkan tanda tangan untuk petisi, menuliskan berita-berita terkini tentang Mesir lewat media sosial. Meski bibir para pejabat negara tak menyebut namamu dalam rapat-rapat cabinet, percayalah, ribuan , ratusan ribu atau bahkan jutaan masyarakat Indonesia mengingat Mrusi dan Mesir dalam benak serta doa.

Presiden Mursi,
Untuk sementara Indonesia tak dapat membantu apa-apa.
Meski demikian kami ingin sekali mengucap terima kasih atas segenap upayamu. Menjadi dirimu sangat tak mudah. Menjadi presiden Mesir, tentu taruhannya lebih dari sekedar harta dan jabatan. Harta benda, keluarga, bahkan dirimu telah kau serahkan bagi kejayaan ummat. Kau menjadi bunga dakwah, dengan segala keperihan, sakit dan pedih yang tak dapat dipikul oleh sembarang manusia.

Presiden Mursi, meski kami tak dapat menyumbangkan apa-apa, meski tak tahu diri kami meminta.
Bertahanlah. Bersabarlah. Lipat gandakan kesabaran.
Bagi kami, dirimu lebih dari sekedar Presiden.
Kau bunga dakwah kami. Kau titik terang Venus di hamparan malam yang hanya memendarkan cahaya bintang redup. Kau panglima dan pewaris Nabi. Kau peletik api semangat para dai. Kau dan segenap perjuangan Ikhwanul Muslimin adalah cermin perjalanan panjang dakwah kebajikan. Bahwa dirimu dan sepak terjangmu, bukanlah gambaran Firaun dalam campuran monarki, otoritarian, absolutism. Bahwa yang kau tawarkan, adalah kembalinya kejayaan ummat bila mengacu pada Quran Sunnah yang telah lama ditinggalkan di belakang. Tetapi rupanya, bukan hanya musuh-musuhmu yang tak percaya. Bahkan kaum muslimin, sebagian meragukan visi misi dakwahmu.

Muhammad Mursi, Presiden Mesir, Presiden di hati kaum muslimin.
Kami tak dapat mengirimkan pesawat tempur dengan skuadron terbaik, atau kapal induk perang, atau pasukan perdamaian untuk mendukung dirimu. Mencari tahu keberadaan dirimu. Kelak, suatu saat bila kemenangan kembali datang kepadamu, maafkanlah aku. Maafkan bangsa kami, rakyat Indonesia.
Jika tak ada sesuatupun yang dapat kami berikan kepadamu sebagai pertolongan. Maka usai dzikrullah, shalawat Nabi, dan doa bagi kaum muslimin. Kami serahkan urusan dirimu, Ikhwanul Muslimin dan rakyat Mesir pada pemilik 99 Nama.

Pada Allah yang Aziiz, Jabbar. Sang Maha Perkasa, Maha Gagah.
Pada Allah yang Qowiyy, Matiin. Sang Maha Kuat, Maha Kokoh.

Dan jika ternyata kau telah syahid, bersama barisan para syuhada yang memperjuangkan kalimatullah, tengoklah padaku yang berlari kelelahan mencari wajah Nabiku. Sebut namaku. Satu di antara puluhan juta orang yang mencintai, mendoakanmu.

Sinta Yudisia
15 Agustus 2013/ 8 Syawal 1434H

Saya, Mursi dan Ikhwanul Muslimin

Apa yang membuat kita bisa demikian peduli pada Mesir, pada Muhammad Mursi padahal sama sekali tak ada “hubungan dekat” antara kita dan mereka?

Saya mengenal nama Ikhwanul Muslimin sekitar tahun 1990an. Waktu remaja saat itu, kehidupan pribadi dan keluarga tengah dilanda kemelut hebat. Saat penuh ujicoba, manusia biasanya lebih dekat kepada Tuhan. Ketika itu, pengajian tasawwuf menjadi pilihan. Saya bisa menghabiskanw aktu berjam-jam di jamaah tasawwuf, berdzikir dengan mata terpejam dan airmata berlinangan hingga tersedu-sedu. Bahan bacaan saya saat itu sangat beragam. Mulai kita tasawwuf , kitab klenik sampai sebuah buku yang saya lupa judulnya dan berapa halaman. Tapi tokohnya saya sangat-sangat ingat : Zainab Al Ghazali. Entah mengapa, sosoknya yang terdzalimi seketika menggantikan idola saya yang saat itu masih berputar-putar di Tommy Page dan Richard Marx ( A Shoulder to Cry On ; Right Here Waiting).

Tommy Page yang keren dan cool, Marx yang romantic man kok rasanya jadi kalah jauh pamor dengan Zainab Al Ghazali. Diam-diam, saya jadi mencari tahu, siapa sih Zainab Al Ghazali. Dan hingga saat ini, ia salah satu tokoh perempuan idola saya. Meski, antara saya dan Zainab al Ghazali tak terjalin hubungan darah, ia tak kenal saya, ia pun mana sempat memberikan bantuan ke saya. Kenapa saya mencintainya ya?

Ikhwanul Muslimin
Saya tak membahas masalah sejarahnya. Itu sudah diketahui banyak orang. Saya juga tak ingin membelanya mati-matian, emosional, apalagi sampai sekedar asal cuap. Pada awalnya, saya beranggapan dakwah politik hanya sekedar kamuflase. Di tasawwuf dulu, bukankah manusia terbaik adalah yang hatinya senantiasa ingat Allah, senantiasa berdzikir dan dimanapun ridho padaNya? Yang terbaik, apakah bukan mereka yang senantiasa melazimkan dzikir kemana-mana. Saat itu saya merasa menjadi manusia terbaik, sebab saya bisa dzikir sepanjang hari, baik hati maupun lisan. Bila diingat, tentu tak salah. Tapi pengajian tasawwuf saat itu membuat saya salah langkah (bukan tasawwuf itu yang salah).
Nilai saya jeblok. Ah, itu kan memang kehendak Allah.
Saya nggak punya uang. Ah, memang itu maunya Allah.
Saya nggak bisa membantu orang. Ah, nanti Allah yang akan bantu dia. Sungguh, keterdiaman saya membuat merasa menjadi orang terbaik di dunia ini. Apalagi saya sanggup dzikir sepanjang hari sembari beraktivitas. Seiirnig waktu, saat benturan hidup tak tertahankan. Seorang saudara terjebak narkoba. Seorang saudara jobless, hingga terpaksa menjadi preman. Pergaulan bebas, sehingga beberapa sahabat dekat hamil di luar nikah. Tetap saat itu saya berpikir, “ ini kan kehendak Allah? Orang berdosa, orang beribadah adalah kehendak Allah. Kita hanya berdzikir.”

Tetapi, ratapan seorang ibu janda yang berurai airmata di depan saya karena putranya bolak balik di penjara karena kasus narkoba, bolak balik jadi penjahat karena nggak punya kerja menohok. “Aku sudah berdoa, aku sudah bekerja, aku sudah berupaya…tapi apa bukan salah pemerintah sehingga narkoba tersedia dimana-mana? Apa bukan salah pemerintah kalau anakku nggak bisa dapat kerja?” Saat itu hatiku tertohok mendengarnya. Ah, dzikir. Dzikir saja, bu. InsyaAllah ini kehendak Allah.

Lama-alam aku berpikir, apa aku bukan orang apatis ya? Apa aku bukan orang yang malas berusaha, belajar , cari uang dan selalu mengandalkan : ah ini kehendak Allah. Apa aku bukan jenis orang yang kejam ya, karena tiap kali orang minta bantuan aku bilang : belum rezeki anda ya, aku nggak ada dana (karena aku nggak mau kerja, nggak mau belajar/kuliah, sibuk dzikir seharian)…padahal jujur, aku anak pintar intelgensi dan pintar bekerja. Aku bisa bekerja keras untuk punya uang banyak, dan bisa untuk membantu orang lain.

Lalu, aku mulai mengenal buku-buku pergerakan. Apa itu Ikhwanul Muslimin? Konsepnya yang syumuliyah membuat jiwa remajaku yang bertanya sekian banyak hal seolah mendapatkan sinyal : narkoba, pemerintah, kemiskinan, kehendak Tuhan, kehendak manusia dll. Perlahan aku mulai bertanya-tanya : siapa Ikhwanul Muslimin ini? Maka, bertahun kemudian aku menajdi pengagum gerakan ini.

Ya. Berkecimpung dalam politik memang kotor. Tapi apakah kita rela seluruh jajaran petinggi, pejabat negara, pemegang keputusan adalah orang-orang bejat? Bukankah seharusnya dijabat orang-orang baik?

Tapi politik itu kotor. Ya. Lalu menunggu sampai mereka mau memberikannya pada kita? Secara logika mana mungkin seorang mafia menyerahkan bisnis kartelnya pada polisi jujur. Maka, terkagum-kagum pada kiprah Ikhwanul Muslimin yang memulainya dari dakwah sosial, pendidikan, dan merambah ranah politik dengan cara-cara elegan.

Pemerintahan yang notabene adalah kumpulan perusahaan, kumpulan asset, kumpulan sumber daya, kumpulan kepentingan; siapa yang harus mengendalikannya? Tentu orang-orang yang amanah. Dan, hingga saat ini masih terkagum-kagum dengan sepak terjang Ikhwanul Muslimin yang berisi beragam manusia : yang intelek hingga buruh, pengusaha hingga pelajar, anak-anak hingga orangtua. Semuanya bergerak dengan orbit yang sama : membangun dunia yang lebih baik. Dan…siapa sih yang tidak terpana melihat orang-orang cerdas, sukses dalam karir, sukses dalam rumah tangga….penghafal Quran dan dai pula? Ups, runtuh sudah skema dalam pola pikir kita bahwa kesuksesan itu identik dengan kebrutalan, main sikat, main tindas, main rampas. Kemenangan bisa diraih dengan cara sportif, fair, transparan.

Everything is fair in love an war tampaknya tak berlaku bagi Ikhwanul Muslimin. Meski tercambuk berdarah-darah, Ikhwanul Muslimin mampu memenangkan kompetisi tanpa kecurangan apalagi kekerasan. Masih ingan kan konsep Swadeshi nya Mahathma Gandhi? Dengan anggun dan elegan, Ikhwanul Muslimin memenangkan hati rakyat.
“Aku memenangkan hati manusia dengan bersikap mulia, “ demikian kurang lebih saran Shalahuddin al Ayyubi.

Mursi
Lelaki ini sebelumnya tak kukenal. Apalagi ia yang mengenalku. Apa sih kontribusi Mursi dalam hidupku? Tak pernah beli bukuku, memberi sumbangan royalty, apalagi memberikan jasa-jasa yang lain.

Saya dan suami, sering bertemu orang aneh. Kami sepakat, hati tidak bisa ditipu. Bertemu tukang becak, supir taksi, satpam ; ah, kenapa jatuh cinta ya? Oh, ternyata ia orang baik. Bertemu pejabat ini itu, aduh…kok hati rasa gerah ya? Oh, ternyata memang mereka punya udang di balik batu. Kadang, kita memakai hati sebagai intuisi untuk mengenal manusia.

Muhammad Mursi. Apa kita pernah bertemu, bertatap muka? Tidak. Tapi saya tak bisa memungkiri bahwa hati ini terlanjur jatuh cinta pada Mr.President. Jatuh cinta pada hafalan Qurannya. Jatuh cinta pada istrinya yang menyambangi para janda. Jatuh cinta pada pilihannya pada Hisyam Kandil sebagai PM -dulu. Jatuh cinta pada keputusan-keputusannya. Jatuh cinta pada sikapnya terhadap Rafah, Gaza.

Memang siapa yang merekayasa itu semua? Mursi tak pernah memberi kita apa-apa. Ikhwanul Muslimin juga tidak. Mesir? Apa pernah menggelontorkan bantuan untuk Indonesia agar terlepas dari hutang? Tidak juga. Tapi, kenapa bisa kita mencintai Mesir, Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Palestina dan rakyat Mesir? Karena , meski kita manusia yang sehari-hari berkubang dosa. Suka bermaksiat. Suka menggunjing. Suka mencemooh dan mengejek kegagalan orang. Jauh di lubuk manusia terdalam, terdapat sebuah titik.

Imam Ghazali menyebutnya “titik hati” yang secara elektris bergetar saat dekat dengan Tuhan. Mungkin, titik hatik kecil kit, noktah putih itu. Yang masih menyisakan dzikir padaNya. Tak bisa memungkiri bahwa di balik semua sifat keburukan manusia yang kita punya, di relung terdalam nurani, ada getaran cinta murni yang muncul tiap kali bertemu sesuatu yang juga murni dan jernih. Maka kita menangis ketika Uje wafat (meski tak kenal). Maka kita terketuk menyantuni anak yatim (meski kita tak kenal). Maka kita terketuk membantu korban bencana (meski tak kenal). Dan noktah putih kecil dalam hati ini, jatuh cinta tanpa disadari kepada orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali. Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Mesir.

Memangnya, ada pihak yang pernah memaksa kita untuk mencintai Mursi? Tidak. Tetapi apakah orang kecil seperti saya. Rakyat jelata yang masih dilanda kesulitan beraneka ragam, dilanda kerusuhan kriminalitas dan kesenjangan ekonomi; tidak pantas jatuh cinta pada Presiden penghafal Quran yang terus berjuang dalam kebaikan seperti Mursi? Apa saya tidak semakin mencintai Mursi , ketika seorang Syaikh Gaza di Ramadhan ini menjadi imam masjid kami bercerita : “ jika Mesir kuat, kuatlah Palestina. Begitupun sebaliknya. Bersama Mursi, kami kuat. Mursi, setiap hari selalu bertanya : bagaimana kabar al Aqsho hari ini?”

Apakah salah, bila tanpa kita sadari, jatuh cinta pada pemimpin seperti Mursi?