FLP & Penulis yang Sukses di Era Digital

Milad ke-20 FLP yang berlangsung di Bandung berjalan sukses, hangat dan meriah.

Parade penulis senior hingga junior di panggung, memberikan orasi 15 menit yang sangat memperkaya peserta yang hadir, termasuk  saya. Rasa-rasanya ilmu kepenulisan kita masih jauh dari cukup untuk menghadapi tantangan di era global.

Hadir di acara-acara FLP membuat saya semakin bersemangat untuk terus menulis, berorganisasi dan menambah wawasan keIslaman. Bagaimana tidak?

Di era digital, bukan hanya niat yang harus terus menerus diperbaharuai agar senantiasa ikhlas dan tawakal kepada Allah Swt. Kadang, niat baik kita tidak selalu bak  gayung bersambut dengan arus pasar. Akibatnya, tulisan (fiksi atau non fiksi) yang telah susah payah dituangkan tidak laku di pasaran. Bahkan, jeblok, begitu cepat write off. Padahal tulisan tersebut kita tulis susah payah dengan referensi yang  banyak sekali. Sementara mereka yang menulis asal-asalan, mengikuti selera pasar, terkesan menulis apa adanya justru laris manis. Menuai keuntungan material yang besar.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh seorang penulis?

Tanpa mengurangi niat awal dakwah bil qolam, senantiasa menebar kebaikan dan pencerahan dengan pena yang digoreskan, penulis-penulis FLP harus siap go international. Bukan hanya go local dan go national saja.

Simak apa saja yang disampaikan oleh para suhu dunia literasi ini. Jangan lupa untuk terus mengasah kemampuan dan tidak lupa, mental baja!

sinta, irfan,  pks.JPG

Sinta Yudisia, Irfan Hidayatullah dan buku Prejengane Kutho Suroboyo karya FLP Surabaya

Masyarakat Sastra (Irfan Hidayatullah)

FLP telah membentuk masyarakat sastra sendiri yang saling memengaruhi satu sama lain. Masyarakat sastra terdiri dari :

  1. Pembaca
  2. Penulis
  3. Penerbit
  4. Pasar
  5. Kritikus

FLP (Forum Lingkar Pena) awalnya adalah masyarakat pembaca. Setelah menjadi pembaca rutin dan kritis, timbullah keinginan untuk menciptakan karya sastra sendiri. Masyarakat pembaca ini lambat laun menjadi masyarakat penulis. Beberapa anggota FLP pun duduk di penerbitan seperti Ali Muakahir, Koko Nata, Benny Rhamdani. Rahmadiyanti Rusdi, Afifah Afra dan masih banyak lagi. Pasarnya sudah jelas, yaitu orang-orang yang suka membaca buku-buku dengan genre tertentu : genre yang mencerahkan, religius dan tidak meninggalkan gaya khas anak muda.  Dari lingkaran ini muncul pula kritikus sastra yang tumbuh dari kalangan aakdemisi dan sastrawan/ budayawan seperti Taufik Ismail, Joni Ariadinata, Irfan Hidayatullah, Topik Mulyana, dkk.

Masyarakat sastra ini sungguh luarbiasa sebab telah membentuk mata rantai ekosistem tersendiri yang akan saling memberdayakan satu sama lain. Penulis FLP insyaallah tidak akan mati, sebab telah memiliki pangsa pasar tersendiri. Meski demikian tetap saja, setiap penulis harus terus mengasah dirinya akan semakin berkualitas. Apa sumbangsih FLP selain dunia perbukuan? FLP juga memberikan kontribusi secara langsung maupunt idak alngsung kepada dunia sinema. Para penulis yang tergabung di FLP seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrahman el Shirazy dan banyak lagi rekan-rekan FLP yang giat mennulis scenario film; menjadikan dunia sinema tanah air semakin berwarna.

Industri film yang dikuasai Hollywood (Amerika), sesungguhnya cukup tersaingi oleh industry film dari negara-negara yang ingin maju ke pentas dunia. 5 negara yang menjadi kompetitor Hollywood adalah India, Perancis, Singapur, Korea Selatan dan Thailand. Pemerintah Perancis mensubsidi film-film Perancis agar dapat bersaing dengan film-film lain. Sementara India memasang strategi, para sineas disekolahkan di Amerika untuk kembali ke India membuat film sendiri yang tak kalah menarik dan mewah. Bollywood adalah salah satu industri film yang memiliki warna terendiri, tidak kalah dari Hollywood.

sinta,helvy,212

Helvy Tiana Rosa dan buku 212

Catatan untuk FLP (Helvy Tiana Rosa)

Bunda kandung FLP ini memberikan beberapa catatan penting terkait FLP setelahh memasuki usia 20 tahun. Point penting tersebut antara lain :

  1. Kaderisasi
  2. Kemampuan menguasai media
  3. Kemampuan “menjual diri”

Helvy TR mengutip ungkapan Jamal D. Rahman bahwa FLP telah mampu membuat lingkaran sendiri. Lingkaran itu adalah para pembaca, penerbit,  para penulis dan juga pasar. Lingkaran ini merupakan simbiosis mutualisme yang akan saling menguntungkan satu sama lain.

FLP harus mampu mengakder penulis-penulis baru dan tidak hanya memunculkan penulis senior. Penulis FLP harus terus mengasah diri untuk mampu menguasai media. Meski demikian, banyak penulis FLP yang bagus tidak mampu “menjual diri” karena rasa malu atau terlampau  tawadhu. Maka menjadi kewajiban organisasi untuk mampu memoles penulis-penulis berbakat ini agar mampu muncul ke permukaan.

sinta, maimon, pks, 212

Heboh menjelang foto bersama 🙂

Kiat Penulis Masa Kini (Benny Rhamdani)

Penerbit sesungguhnya terus membutuhkan penulis dan karya-karya mereka. Apa saja syaratnya agar mampu bersaing di era digital?

  1. Penulisnya terkenal
  2. Contentnya bagus

Yang dimaksud penulisnya terkenal bukan selalu penulis senior. Tetapi penulis yang rajin terus mempromosikan karya-karyanya di media sosial. Penulis yang rajin memposting bahwa ia sedang menulis buku berjudul dan bertema X. Penerbitan adalah industry content jadi contentnya tentu harus bagus.  Banayk contoh content yang menarik untuk dijual.

Puisi pendek yang dulu tidak laku, belakangan laku dijual. Buatlah quote-quote dari halaman tersebut untuk mempromosikan karya terbaru.

Ada juga penulis yang beralih profesi menjadi pekerja seni lettering yang karyanya terpampang di dinding –dinding rumah atau bangunan sebagai karya seni.

Penulis seharusnya menjadi trendsetter. Bukan follower.

Follower akan cepat laku namun juga cepat pudar. Sementara penulis trendsetter akan selalu establish, sayaratnya ia harus banyak membaca.

Bagi Benny Rhamdani, gadget tidak selalu bermakna negative bagi penulis bila ia tahu memanfaatkan. Ia bercerita, pernah menemui anak-anak muda yang seolah-olah tenggelam dalam gagdetnya namun sesunggunya tengah menulis di wattpad. Untuk media sosial jangan malu untuk memfollow seseorang agar dapat saling belajar dan saling mempromosikan.

MIlad FLP ke 20

Adib (ketua panitia), Roby (penulis junior FLP), Gol A Gong, 3 peserta yg beruntung, Annisa (bitread), Sinta Yudisia

Iklan

Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG

Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg

FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

Yogyakarta  : belajar dari kreativitas anak muda di Manga Festival!

 

 

Sungguh, ini dunia yang jauh sekali dari kehidupan keseharianku selaku emak-emak yang hidup di era Tommy Page, Backstreet Boys, Michael Learns to Rock. Masa ketika aku mengenal Tom Hanks pertama kali lewat film Big, jauh sebelum ia main di Saving Private Ryan dan serial karya novel Dan Brown : Da Vinci Code, Angel & Demon, Inferno. Masa ketika agen 007 masih diperankan Timothy Dalton.

15-16 Oktober 2016 bertempat di GOR Klebengan , Yogyakarta, diselenggarakan festival Manga. Berbulan-bulan sebelumnya, putri sulungku mewanti-wanti adik-adiknya supaya menyisihkan uang saku untuk naik kereta api ke Yogyakarta sekaligus mengunjungi nenek mereka dan memborong barang yang disukai di festival.

“Ummi harus lihat dunia literasi versi anak muda,” begitu kira-kira kata putriku.

Ya, mengapa tidak?

Aku harus tahu dunia yang dihuni anak-anakku. 2 diantara mereka mahasiswa, 1 SMA, 1 SMP. Pembicaraan mereka kadang tidak kumengerti : BTS, killua, mystic messenger dan entah apalah. Komik serial di rumahku yang kusukai adalah Yotsuba dan Black Butler. Selebihnya, pemahamanku nol besar.  Aku suka beberapa artis Jepang dan Korea. Sato Takeru, pemeran Rurouni Kenshin, sang Batosai; Takeshi Kaneshiro pemeran Zhuge Liang dalam Red Cliff 1 & 2. Beberapa film manga aku suka seperti Inuyasha, sekaligus menyukai soundtracknya seperti Change the World (V6),  I am (Hithomi Yaida), My Will (Dream), Dearest (Ayumi Hamasaki). Termasuk  Fukai Mori (Do as Infinity). Every Heart (BOA) membuatku mengenal penyanyi BOA dan menyukai lagunya seperti Eat You Up. Tetap saja pengetahuanku seputar dunia manga yang banyak didominasi produk Jepang, masih sangat minim. Beberapa tahun lalu aku rajin menelaah Korean wave dan Japanese wave, namun lagi-lagi, seleraku cepat usang. Suju, Shine, SNSD, Wonder Girls begitu cepat digantikan pemain baru yang lebih segar.

Maka, sembari mengantarkan anak-anakku ke acara festival, aku mencoba mengamati dunia anak muda yang sepatutnya juga diketahui para papi mami. Sayangnya, di acara kemarin aku hanya bertemu tak sampai sepuluh orang ibu-ibu seusiaku. Massa yang memadati acara festival mulai anak SD hingga mahasiswa.

 

Antrian panjang. Tiket dibuka jam 10.00 pagi tapi sejak jam 9 antrian sudah mengular. Harga tiket Rp.15.000 , ditukar dengan gelang kertas yang tidak lusuh oleh air. Pengunjung yang mengenakan gelang hijau boleh masuk area festival. Gelang ini jangan sampai rusak, sebab pengunjung harus membeli lagi. Harga Rp. 15.000 mungkin tak seberapa tapi antriannya bikin kebelet pipis!

 

sweta-mia-sinta-and-children

Sweta, Mia, Sinta, Nis, Ahmad, Ayyasy

Talkshow yang beraneka ragam. Aku tidak menghadiri acara talkshow dan workshop. Sebab hari Sabtu aku masih teler, anak-anak yang sudah bergerilya ke festival. Anak-anak mengikuti workshop menggambar komik yang didakan oleh Sweta Kartika. Pemuda yang satu ini memang keren habis! Bukunya, Grey & Jingga laris di pasaran. Juga Dreamcatcher, berbentuk komik. Hari Minggu, saat aku hadir, diselenggarakan workshop dubber – pengisi suara.

 

 

 

 

 

death-note-book-of-myth

Death Note Diary dan Book of Myth

Display yang colourfull. Ini dia yang disukai anak-anak muda. Stand yang digelar bukan hanya makanan takoyaki dan minuman es coklat. Stand-stand yang menjajakan barang-barang demikian beragam mulai stiker, gantungan kunci, kaos, tas ransel. Bahkan pernak pernik Death Note yang berupa buku harian termasuk pena berbulu hihihi. Berhubung tas ranselku rusak parah, aku membeli tas di pameran. Cari-cari yang agak feminin, dapatlah tas ransel berharga miring dengan konsep Attact on Titan.

 

book-of-myth-iminfection-tea-for-twoBuku-buku-buku-buku-buku!!! Buku-buku karya komikus Indonesia pun bertebaran! Aku dan anak-anakku membeli karya asli anak bangsa seperti Dreamcatcher karya Sweta Kartika,  Tea for Two karya Azisa Noor, Iminfection – Kompilasi Komik Islamic Mangaka Indonesia. Kalau gak lihat dana anggaran bulan ini, rasanya ingin beli semua buku di pameran.

Buku-buku yang sudah habis terjual (dan harus cetak ulang lagi!!) adalah Lotus : Hope and Despair, Antologi Divisi Literatur Gadjah Mada Bunka Taika. Juga, Book of Myth, Artwork Compilation karya sederet komikus muda yang kreatif.

Apa uniknya Lotus : Hope and Despair?

lotus

Pertama, ide ceritanya bagiku yang sudah emak-emak terasa berbeda banget. Dunia anak muda yang dipenuhi imajinasi, juga, salah satu yang membuatku merenung adalah sudut pandang mereka terkait keluarga dan ayah bunda. Ada kalanya, sudut pandang mereka demikian getir, pahit, penuh luka ketika membahas tentang ayah dan ibu. Jadi ingat tentang kasus-kasus perceraian yang kudampingi :”((

Kedua, cover yang eye catching, juga beberapa ilustrasi yang menarik di dalam. Meski karena dicetak terbatas, sepertinya cetak POD. Semoga ada penerbit mayor yang bersedia mencetak ya, Kids!

Sekarang yuk bahas tentang Book of Myths.

Asli, aku gak dibayar buat promosi buku ini. Tapi sejak pertama kali melihat covernya sudah tertarik. Dan buku ini isinya unik banget meski harus berhati-hati dibaca bagi mereka yang percaya banget tentang dunia magis ya.

Book of Myths berisi mitos-mitos yang ada di seluruh dunia seperti Medusa, Loch Ness, Nekomata, Mermaid, Yamata no Orochi, Bedawang Nala, Osiris, Hydra, dan masih banyak lagi. Dunia mitos Indonesia diwakili Bedawang Nala, Garuda, Raksasa, Nyi Roro Kidul. Dan, tahukan anda pembaca, seluruhnya full colour, full gambar, dengan narasi in English plus plus…..karya asli anak-anak bangsa Indonesia tercinta! Ups, baru tahu bahwa Ghoul itu sejenis jinn yang termaktub dalam Al Quran, tinggal di padang pasir. Hehehe…anak muda sekarang pasti tahu tentang Tokyo Ghoul kan?

Gak menyesal beli buku ini. Setidaknya, jadi tahu sekelumit cerita magis dan mistis dari berbagai negara.

Cosplay. Nah kalau ini, hanya gak bisa komentar banyak karena di masa mudaku dulu belum ada. Banyak sekali anak-anak muda berkostum aneka rupa yang mewakili tokoh anime kesukaannya. Gadis berseragam Jepang, pemuda menyerupai pelaut Black Pearl.

Ini sekelumit tulisan reportase tentang Manga Festival yang dalam waktu 2 hari meraup keuntungan lumayan plus pengunjung luarbiasa.

 

Mengapa Islamic (Book) Fair kurang diminati di Surabaya?

Di kota Pahlawan, Surabaya, tidak semua festival menarik minat pengunjung. Beberapa kali diselenggarakan bookfair dan bahkan diganti menjadi Islamic fair agar khalayak tidak terstigma dengan kata ‘buku’ ; tetap saja pengunjung jauh dari harapan. Dibandingkan dengan festival Manga, ada beberapa hal yang harus dicermati agar festival serupa yang digelar , dapat menarik minat banyak kalangan terutama generasi muda.

  1. Segmen usia produktif. Remaja dan dewasa awal, paling suka hiburan. Usia ini harus diperhatikan tanpa mengesampingkan usia matang di atas 40-an. Meski generasi muda minim finansial, biasanya mereka suka posting di media sosial. Alhasil, acara aakn dipromosikan gratis di twitter, facebook, instagram, dll.
  2. Acara variatif. Bedah buku dan talkshow mungkin dianggap acara wajib. Tapi perlu ada variasi lebih agar peminat muda meramaikan acara, misal workshop mengubah novel, cerpen, komik menjadi film. Atau workshop menggambar manga Islami. Atau bagaimana membuat mini video keren yang dapat diunggah di youtube serta menarik banyak likers. Atau bagaimana mem-boost followers.
  3. Hiburan. Anak muda suka banget musik. Di Manga Festival, live music tidak perlu menghadirkan bintang papan atas. Cukup band kampus yang butuh eksis, menyanyikan lagu-lagu request. Di Islamic fair, bagus sekali bila menghadirkan tim nasyid atau band kampus. Membawakan lagu-lagu keren seperti Best Day of My Life- American Authors, Sleeping Child – MLTR, 7 Years – Lukas Graham, Drag Me Down – One Direction, Heal the World – Michael Jackson. Lagu-lagu yang membangkitkan semangat anak muda untuk terus berkarya positif. Lagu-lagu Ungu, Opick, Gigi pun dikenal luas sebagai lagu religi yang diminati.
  4. Lomba kostum. Mirip cosplay, tapi menampilkan tokoh-tokoh kebangsaan yang penampilannya memang berbeda dari yang lain seperti Bung Karno, Panglima Sudirman, KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Pangeran Antasari, Walisongo dan seterusnya.
  5. Stand komunitas dan seniman kreatif. Di Manga Festival, bukan hanya disediakan stand milik perusahaan tertentu. Bahkan lebih banyak komunitas. Islamic (book) fair dapat menyediakan stand komunitas untuk lebih membuka jejaring dengan beragam elemen masyrakat seperti komunitas bola, komunitas pecinta sejarah, komunitas pecinta fotografi dll. Termasuk seniman yang akan menggelar karyanya seperti lukisan, batik, buku-buku indie dll.
  6. Lomba bertema ringan. Tidak harus lomba berat yang digelar seperti award untuk buku terbaik atau penulis favorit. Di Manga Festival ada lomba makan ramen. Di Islamic fair dapat diselenggarakan, lomba menceritakan buku yang telah dibaca . Misal peserta boleh menceritakan buku Api Sejarah karya Ahmad Masyur Suryanegara. Apa saja hebatnya buku itu, siapa penerbitnya, bagaimana cara membelinya, dll. Atau event dadakan. Siapa keluarga yang membawa seluruh anggotanya –bapak, ibu, anak-anak maka mendapat hadiah dari panitia. Atau siapa pasangan termuda hari itu, dapat hadiah. Misal mereka yang baru menikah di usia 21 tahun. Dan siapa pula pasangan tertua yang hadir, misal kakek nenek usia 65 tahun. Asyik kan?
  7. Promosi. Tak kalah penting. Promosi, promosi, promosi. Bila tak sanggup membayar radio dan televisi juga koran; gunakan saja akun media sosial yang nonstop memberitakan acara. Banyak lho acara-acara Islami yang sangat bagus tapi minim banget informasi.

 

Islamic fair dan Islamic book fair sangat bagus untuk menampilkan buku-buku referensi yang dibutuhkan msyarakat. Sekaligus membuka wacana-wacana kaum muslimin agar lebih bijak bersikap. Untuk itu harus banyak belajar dari festival lain yang sukses, seperti festival di Surabaya yang sebentar lagi akan diselenggarakan : Big Bad Wolf !!

 

Membincang buku kita : best seller, very fast moving, write off, dan gagal pasar

 

 

Setiap penulis, pasti berharap bukunya best seller atau laris manis di pasar.

Bila royalty 1 buku 10 % dan harga buku Rp.50.000 misalnya, maka penulis bisa dapat Rp.5.000 rupiah perbuku. Kalau buku terjual semua 3000 eksemplar, wah, dalam satu periode pembayaran royalty dapat Rp.15.000.000. Maka, penulis yang bukunya best seller biasanya dapat membeli laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil dan rumah. Dapat naik haji dan umroh, melakukan perjalanan keluar negeri dan seterusnya. Senang ya?

 

Kapan buku best seller?

Berbincang tentang best seller, tentu tidak mudah. Sebab best seller belum tentu sama dengan best quality. Ada buku-buku yang menang lomba, sangat bagus tema dan idenya, cantik diksinya, namun buku tersebut jeblok dipasaran. Penyebabnya macam-macam. Mulai cover yang kurang menarik, penulis yang kurang dikenal, promosi yang kurang gencar serta moment yang tidak pas.

 

psikologi-pengantin

Alhamdulilah, 3 bulan telah naik cetak yg kedua

Dalam perjalanan kepenulisan saya, tidak semua buku-buku best seller. Yang penjualannya best seller antara lain Lafadz Cinta, Pink, Rinai, The Road to The Empire dan Alhamdulillah sekarang Psikologi Pengantin.

 

Yang very fast moving saat baru terbit adalah The Road to The Empire.

Buku yang hingga kini masih diminati dan terus ditanyakan pembaca adalah Rose, Rinai, Bulan Nararya serial Takudar : Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to The Empire dan Takhta Awan. Buku anak-anak pun demikian seperti Janji Cici dan Ketika Upi Bertanya.

Apa sebab buku tersebut laris manis?

 

1.Karena covernya : Lafadz Cinta, Pink. (ada pembaca yang menyangka penulisnya adalah yang terpampang di cover. Hellooo….itu Karina Kapoor, plis. Penulisnya lebih cantik kwkwkwk)

2. Karena kisahnya yang spesifik : serial Takudar. Tidak setiap penulis menyukai setting Mongolia dan mengangkat tokoh yang jarang dikenal. Saya memang sudah lama jatuh cinta dengan Takudar ini, sejak menemukan buku warisan ayah berjudul The Preaching of Islam Thomas W. Arnold.

 

3.Karena kisahnya yang sederhana : Rose dan Lafadz Cinta. Rose dan Lafadz Cinta ini sebetulnya kisah cinta yang sederhana, setiap penulis insyaallah bisa menulisnya. Bandingnya dengan serial Takudar yang mungkin tidak setiap penulis bisa menuliskan setting Mongolia sebab memang tidak terlalu menyukai dataran China, gurun Gobi dan sejarah Jenghiz Khan.

cover-rinai1

Rinai : Palestina

4.Karena momentnya yang pas : Rinai bersetting Palestina. Novel ini tergolong lumayan ‘berat’ sebab berbau psikologi. Namun moment yang tepat, bersamaan dengan moment Palestina, novel ini cukup laris di pasar.

 

5.Karena dibutuhkan masyarakat : Psikologi Pengantin. Banyak anak muda dan pasangan baru yang butuh panduan psikologis tentang pernikahan dan bagaimana merawat hubungan agar tetap seperti pengantin baru. Sepertinya, kebutuhan pasar inilah yang membuat Psikologi Pengantin dapat naik cetak yang kedua dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbitnya.

 

Buku Write Off

Buku write off adalah buku yang ditarik dari pasaran karena sudah dianggap tidak layak jual (duh sediiih banget …hiks). Buku ini biasanya dikembalikan hak terbitnya kepada penulis dan penulis berhak untuk : merevisi naskah, menyerahkan pada penerbit lain, menerbitkan dalam bentuk e-book atau menerbitkan di blognya pribadi.

Sebetulnya, buku write off belum tentu berarti  buku kita jelek lho.

Buku ditarik dari pasaran kemungkinan momentnya kurang tepat, promosinya kurang gencar. Banyak buku write off yang dikembalikan ke penulis lalu penulisnya menjual via online dan buku tersebut malah laris manissss.

 

Bagaimana membuat buku best seller?

Manusia wajib berusaha. Allah Swt yang akan merumuskan akhir perjalanan kita, termasuk bagaimana nasib naskah-naskah yang ditulis dengan segenap pengorbanan. Nyaris, tidak ada penulis yang sembarangan ketika menuliskan sebuah karya, walau ia hanya selarik puisi.

Bila ingin buku best seller, ayo kita saling berbagi ilmu. Pengalaman saya di bawah, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan buat orang lain.

  1. Cover. Jangan main-main dengan cover. Orang Indonesia suka sekali dengan tampilan dan kemasan. Cover Lafadz Cinta, saat itu sedang booming cover buku menggunakan wajah seseorang. Kalau sekarang novel saya diterbitkan dengan cover wajah, mungkin orang tidak melirik. Diskusikan dengan editor, illustrator, apa cover yang menarik di pasaran. Penulis harus sering jalan ke toko buku dan melihat apa sih buku yang sedang digemari kalangan tertentu. Cover Pink pun demikian eye catching maka kumpulan cerpen Pink sangat laris saat itu.
  2. Judul. Ternyata, judul buku juga berpengaruh. Dari hasil diskusi dengan banyak orang, ternyata judul buku harus simple dan tidak multitafsir. Kitab Cinta Patah Hati, Cinta x Cinta, dan Psikologi Pengantin adalah buku-buku motivasi cinta yang saya tulis dengan mengumpulkan referensi psikologi puluhan bahkan ratusan. Namun , tidak semua buku itu diterima pasar dengan baik. Kata para pembaca, Cinta x Cinta menimbulkan multitafsir : ini apa sih isinya? Walaupun cover dan tampilan buku itu untuk remaja. Sementara Psikologi Pengantin jelas mengarah pada orang yang mau menikah, ingin menikah, atau baru menikah.
  3. Promosi. Rajin- rajinlah promosi di media sosial : blog, twitter, instagram, fanpage, facebook. Semoga, audience semakin sadar bahwa ada buku manis sedang terbit di pasaran. Setiap orang yang menanyakan buku ini coba ditanggapi, sekalipun hanya bertanya : berapa harganya? Ada di pasaran enggak? Walaupun kadang-kadang pembaca dan khalayak menanyakan hal-hal yang membuat penulis bersedih : ada diskon? Ada gratisan? 200 halaman buku baik novel atau non fiksi, ditulis setidaknya 1 bulan lebih. Ada yang 3, 6 bahkan 24 bulan! Malah ada yang bretahun-tahun! Betapa sedihnya ketika khalayak masih beranggapan buku terssebut seharusnya lebih murah dari Rp. 50.000. Tetapi, penulis sedang mengkomunikasikan karyanya dengan pembaca. Maka penulis harus bermental positif untuk meyakinkan khalayak : buku ini layak anda miliki sekalipun uang anda akan berkurang Rp.50.000
  4. Paket. Kalau buku sudah write off, ambil saja oleh penulis. Jual system paket. Biasanya , pembaca suka beli system paket sebab ongkos kirimnya sekalian. System paket juga mereduksi harga buku. Penulis senang, pembaca juga senang.
  5. Doa. Ini factor X yang tidak boleh dilupakan siapa saja. Hanya Allah Swt pemberi rezeqi. Bila rezeqi royalty belum milik penulis, mungkin rezeqi yang lain mengintip. Rezeqi menang lomba, rezeqi cerpen koran atau majalah, rezeqi mengisi acara dll. Mental positif akan membuka pintu rezeki, insyaAllah.