Kategori
Catatan Perjalanan Gaza Kami Oase WRITING. SHARING.

Tanpa Surabaya, Indonesia telah menjadi Inggris : Energi Ilahiyah dalam  tabligh akbar Al Falah

 

 

Mata meleleh mendengar lantunan Quran surat al Maidah : 51-58 . Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberi peringatan sejak berabad lampau, tapi kita juga yang tidak memperhatikannya. Penutup acara hari itu diserahkan kepada ustadz Bachtiar Nasir , ketua GNPF MUI.  Apa yang disampaikan beliau benar-benar membuat tersentak.

Berikut adalah rangkuman dari apa yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir . Semoga menjadi perenungan untuk kita.

“Inggris negara sekutu terhebat di Perang Dunia II.  Tetapi oleh Surabaya Inggris,  benar benar dianggap sekutu (seukuran kutu).  Kapolri sesuungguhnya tidak pernah melarang aksi 212. Sore nanti tekanan terhadap kaum muslimin lewat kapolda dan kapolres dicabut. Perusahan organda,  bis-bis boleh menyewakan kendaraan ke Jakarta. Ummat Islam apalagi Surabaya,  semakin ditekan semakin nekat berbahaya. 10.000 orang Ciamis dilarang naik kendaraan maka sejak Senin akan jalan kaki.

Bachtiar Nasir bertanya : kalau gak boleh naik bis ke Jakarta mau naik apa?

Audiens menjawab : motor,  truk, kapal laut, booking pesawat.

Kata beliau, terlalu murah bagi orang Surabaya utk beli tiket
Saya jelaskan mulai yang kasat mata sampai yang menurut pandangan ulama. Demo empat November 3-5 x lipat dari 1998. 212 bisa lebih besar lagi.

Ada sebuah konspirasi jangka panjang. Kenapa ada yang  begitu perkasa di hadapan hukum. Ada pelumpuhan hukum sehingga hukum  tunduk pada pemodal yang menguasai pejabat. Uangnya sebetulnya sedikit. 6 ribuan trilyun uang ummat Islam  ada di Indonesia.

A*** akan dilindungi karena tidak punya niat jahat.
Kalau orang ngomong di muka umum, tidak ngelindur maka ia melakukan dengan sengaja. Kita sedang diadu domba.

Arswendo ditangkap pakai fatwa MUI. Dalam kasus A*** gak bisa pakai  fatwa MUI. Sebetulnya apa yang terjadi sehingga hukum lumpuh?
Gara gara investor politik menempatkan aktor politik untuk memaksakan kehendak. Yang menjadi pemimpin di negara ini adalah orang yang imannya setipis uang kertas.

Ini yang kasat mata.

Indonesia tidk jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kedua, penyimpangan tafsir Pancasila dan bhinneka tunggal ika. Bhinneka Tunggal Ika kalau minoritas boleh memimpin yang mayoritas muslim. Saya memberi tahu kepada pemimpin partai. Pemimpin ormas. Anda akan menajdi fossil pemimpin jika tidak bergabung  dengan kekuatan rakyat sekarang. Ada yang memaksakan Al Maidah berjalan sehingga  apa yang terjadi sekarang.

Ingin hukum jahiliyah berlaku. Tidak  ingin Ketuhanan yang Maha Esa.

Mau tuhannya kodok. Tembok. Terserah. Maka pejabat saat ini bertuhan pada pantat dan perut. Pemimpin yang hanya menjaga pantatnya saja alias kursinya saja. Ada yang ingin hukum jahiliyah di Indonesia. Bukan Islam. Mau lesbi, gay, LGBT, transgender gakpapa.

Ketiga, Sila 4 5 sudah tidak ada. Sila Persatuan Indonesia sudah tidak ada. Dibelah menjadi ultra tiongkok dan kapitalis. Tanda-tanda komunisme sudah ada. Indikator sudah kuat. Petinggi negeri banyak yang berpikir: daripada dijajah Amerika mending dijajah Cina. Sebab Amerika 80 : Indonesia 20. Kalau Cina 20 : Indonesia 80. Bohong! Teknologi. SDM,  semua dari  Cina!

Apa yang membuat ini meledak?

Semua bersumber dari siapa yang lebih bagus hukumnya selain hukum Allah? Ada hukum jahiliyah yang ingin ditegakkan, melawan para ulama yang ingin hukum benar- benar ditegakkan.

Presiden datang ke Prabowo. Datang ke SBY. Kira-kira apa hubungannya? Orang mengira ini masalah politik.

Bukan! Ini masalah Al Maidah 51!

Kita ke Jakarta mati belum tentu membela undang- undang masuk surga. Tapi membela Quran insyaallah masuk surga.

Yang terjadi adalah energi Ilahi Al Maidah. Hari ini insyaallah panas menjadi adem. Sebagaimana api diperintahkan menjadi dingin (dalam kasus Nabi Ibrahim as). Semoga panas hari ini menjadi energi jihad. Usai deadlock, saya tidak bisa bertemu presiden. Saya ingin bertemu presiden. Tapi gak tau presiden ada dimana.

Ketika deadlock, tiba-tiba ada mentri marah pada bawahannya. Bertanya,  mengapa tidak terjadi hujan petir (buatan). Jawabnya : Pak mentri, saya sudah 4 kali bolak balik menerbangkan pesawat untuk menaburkan garam, tapi tidak terjadi hujan.

Hari itu harusnya yang mati ribuan. Berdesak desak. Suasana itu lebih lelah dan lebih padat. Kanan pagar gedung. Kiri pagar gedung gedung.
Kemarin 411 ditembaki gas air mata. Harusnya gas air mata di tembak keatas. Israel begitu. Tapi kemarin tidak begitu. Harusnya ditembak ke atas.  Sekali saja. Ini kemarin berkali-kali. Orang-orang  sedang kekurangan oksigen.

Padahal, kalau ada orang nginjak rumput diteriakkan: hati- hati provokasi. Pasukan kebersihan ada 2000 orang. Tidak pernah ada demonstrasi seperti itu. Demonstrasi ini putih. Para pemimpin itu hanya eksis di medsos. Memiliki massa itulah politik sesungguhnya. Anda yang menagakan cacing dan mencacingkan naga, tunggu tanggal mainnya. Mereka mengatakan itu cuma gerakan politik.
Mereka mempersepsikan kita seperti cacing tapi menekan kita seperti naga.

Kalau anda gagal paham anda akan tergilas. Ini aksi damai sebab ini kita cinta damai. Saat itu gas air mata dosis tinggi ditembakkan bertubi-tubi.
Supaya mike tetap di tangan ulama yang berteriak : Bertahan. Duduk. Jangan melawan. Jangan lari.

Dengan izin Allah…

Bagaimana kita menang?

  1. Aksi damai
  2. Melawan dengan bertahan
  3. Pasti menang dengan bersabar

Kalau bukam karena Surabaya, Indonesia sudah jadi negara Inggris.

Jadi tadi pagi saya minta izin pada Habib Riziq untuk  ke Surabaya.
Jangan jadikan Yahudi Nasrani teman dekat  apalagi pemimpin.

Wahai orang-orang kafir, jangan bermimpi memimpin NKRI yang muslim. Natal orang muslim disuruh pakai topi Sinterklas, awas! Kami tidak mau aqidah kami dijajah di negeri sendiri.

Selama ini Islam terpecah belah. Saat ini semuanya bersatu karena energi Al Maidah. Selama ini seminar dll tidak bisa menyatukan.

Bagaimana kaum muslimin dapat menang :

  1. Ummat terikat pada fatwa ulama. Ummat Islam faham Quran sunnah karena ilmu ulama. Setelah Quran, Sunnah, kebawah seterusnya adalah domain para ulama.
  2. Pemimpin kita adalah para ulama. “ulil amri” tafsir pertama adalah ulama, bukan presiden! Siapa yang wajib diataati, didengar, dijaga, didekati, diajak hidup bersama adalah ulama. Kitaharus tunduk pada kepempimpinan habaib, kiai, ulama. Maka jaga juga lembaga ke-ulama-an.”

 

Sinta Yudisia – Ordinary People

Ini adalah catatan sepanjang mengikuti acara. Mungkin saja ada yang terlewat atau ada yang salah. Laporan 27 November 2016 , tabligh akbar bersama GUIB JATIM.

 

Pak polisi yang cantik dan santun

Yang unik : pasukan sampah dan Punk Muslim

 

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang mother's corner Oase

Yogyakarta  : belajar dari kreativitas anak muda di Manga Festival!

 

 

Sungguh, ini dunia yang jauh sekali dari kehidupan keseharianku selaku emak-emak yang hidup di era Tommy Page, Backstreet Boys, Michael Learns to Rock. Masa ketika aku mengenal Tom Hanks pertama kali lewat film Big, jauh sebelum ia main di Saving Private Ryan dan serial karya novel Dan Brown : Da Vinci Code, Angel & Demon, Inferno. Masa ketika agen 007 masih diperankan Timothy Dalton.

15-16 Oktober 2016 bertempat di GOR Klebengan , Yogyakarta, diselenggarakan festival Manga. Berbulan-bulan sebelumnya, putri sulungku mewanti-wanti adik-adiknya supaya menyisihkan uang saku untuk naik kereta api ke Yogyakarta sekaligus mengunjungi nenek mereka dan memborong barang yang disukai di festival.

“Ummi harus lihat dunia literasi versi anak muda,” begitu kira-kira kata putriku.

Ya, mengapa tidak?

Aku harus tahu dunia yang dihuni anak-anakku. 2 diantara mereka mahasiswa, 1 SMA, 1 SMP. Pembicaraan mereka kadang tidak kumengerti : BTS, killua, mystic messenger dan entah apalah. Komik serial di rumahku yang kusukai adalah Yotsuba dan Black Butler. Selebihnya, pemahamanku nol besar.  Aku suka beberapa artis Jepang dan Korea. Sato Takeru, pemeran Rurouni Kenshin, sang Batosai; Takeshi Kaneshiro pemeran Zhuge Liang dalam Red Cliff 1 & 2. Beberapa film manga aku suka seperti Inuyasha, sekaligus menyukai soundtracknya seperti Change the World (V6),  I am (Hithomi Yaida), My Will (Dream), Dearest (Ayumi Hamasaki). Termasuk  Fukai Mori (Do as Infinity). Every Heart (BOA) membuatku mengenal penyanyi BOA dan menyukai lagunya seperti Eat You Up. Tetap saja pengetahuanku seputar dunia manga yang banyak didominasi produk Jepang, masih sangat minim. Beberapa tahun lalu aku rajin menelaah Korean wave dan Japanese wave, namun lagi-lagi, seleraku cepat usang. Suju, Shine, SNSD, Wonder Girls begitu cepat digantikan pemain baru yang lebih segar.

Maka, sembari mengantarkan anak-anakku ke acara festival, aku mencoba mengamati dunia anak muda yang sepatutnya juga diketahui para papi mami. Sayangnya, di acara kemarin aku hanya bertemu tak sampai sepuluh orang ibu-ibu seusiaku. Massa yang memadati acara festival mulai anak SD hingga mahasiswa.

 

Antrian panjang. Tiket dibuka jam 10.00 pagi tapi sejak jam 9 antrian sudah mengular. Harga tiket Rp.15.000 , ditukar dengan gelang kertas yang tidak lusuh oleh air. Pengunjung yang mengenakan gelang hijau boleh masuk area festival. Gelang ini jangan sampai rusak, sebab pengunjung harus membeli lagi. Harga Rp. 15.000 mungkin tak seberapa tapi antriannya bikin kebelet pipis!

 

sweta-mia-sinta-and-children
Sweta, Mia, Sinta, Nis, Ahmad, Ayyasy

Talkshow yang beraneka ragam. Aku tidak menghadiri acara talkshow dan workshop. Sebab hari Sabtu aku masih teler, anak-anak yang sudah bergerilya ke festival. Anak-anak mengikuti workshop menggambar komik yang didakan oleh Sweta Kartika. Pemuda yang satu ini memang keren habis! Bukunya, Grey & Jingga laris di pasaran. Juga Dreamcatcher, berbentuk komik. Hari Minggu, saat aku hadir, diselenggarakan workshop dubber – pengisi suara.

 

 

 

 

 

death-note-book-of-myth
Death Note Diary dan Book of Myth

Display yang colourfull. Ini dia yang disukai anak-anak muda. Stand yang digelar bukan hanya makanan takoyaki dan minuman es coklat. Stand-stand yang menjajakan barang-barang demikian beragam mulai stiker, gantungan kunci, kaos, tas ransel. Bahkan pernak pernik Death Note yang berupa buku harian termasuk pena berbulu hihihi. Berhubung tas ranselku rusak parah, aku membeli tas di pameran. Cari-cari yang agak feminin, dapatlah tas ransel berharga miring dengan konsep Attact on Titan.

 

book-of-myth-iminfection-tea-for-twoBuku-buku-buku-buku-buku!!! Buku-buku karya komikus Indonesia pun bertebaran! Aku dan anak-anakku membeli karya asli anak bangsa seperti Dreamcatcher karya Sweta Kartika,  Tea for Two karya Azisa Noor, Iminfection – Kompilasi Komik Islamic Mangaka Indonesia. Kalau gak lihat dana anggaran bulan ini, rasanya ingin beli semua buku di pameran.

Buku-buku yang sudah habis terjual (dan harus cetak ulang lagi!!) adalah Lotus : Hope and Despair, Antologi Divisi Literatur Gadjah Mada Bunka Taika. Juga, Book of Myth, Artwork Compilation karya sederet komikus muda yang kreatif.

Apa uniknya Lotus : Hope and Despair?

lotus

Pertama, ide ceritanya bagiku yang sudah emak-emak terasa berbeda banget. Dunia anak muda yang dipenuhi imajinasi, juga, salah satu yang membuatku merenung adalah sudut pandang mereka terkait keluarga dan ayah bunda. Ada kalanya, sudut pandang mereka demikian getir, pahit, penuh luka ketika membahas tentang ayah dan ibu. Jadi ingat tentang kasus-kasus perceraian yang kudampingi :”((

Kedua, cover yang eye catching, juga beberapa ilustrasi yang menarik di dalam. Meski karena dicetak terbatas, sepertinya cetak POD. Semoga ada penerbit mayor yang bersedia mencetak ya, Kids!

Sekarang yuk bahas tentang Book of Myths.

Asli, aku gak dibayar buat promosi buku ini. Tapi sejak pertama kali melihat covernya sudah tertarik. Dan buku ini isinya unik banget meski harus berhati-hati dibaca bagi mereka yang percaya banget tentang dunia magis ya.

Book of Myths berisi mitos-mitos yang ada di seluruh dunia seperti Medusa, Loch Ness, Nekomata, Mermaid, Yamata no Orochi, Bedawang Nala, Osiris, Hydra, dan masih banyak lagi. Dunia mitos Indonesia diwakili Bedawang Nala, Garuda, Raksasa, Nyi Roro Kidul. Dan, tahukan anda pembaca, seluruhnya full colour, full gambar, dengan narasi in English plus plus…..karya asli anak-anak bangsa Indonesia tercinta! Ups, baru tahu bahwa Ghoul itu sejenis jinn yang termaktub dalam Al Quran, tinggal di padang pasir. Hehehe…anak muda sekarang pasti tahu tentang Tokyo Ghoul kan?

Gak menyesal beli buku ini. Setidaknya, jadi tahu sekelumit cerita magis dan mistis dari berbagai negara.

Cosplay. Nah kalau ini, hanya gak bisa komentar banyak karena di masa mudaku dulu belum ada. Banyak sekali anak-anak muda berkostum aneka rupa yang mewakili tokoh anime kesukaannya. Gadis berseragam Jepang, pemuda menyerupai pelaut Black Pearl.

Ini sekelumit tulisan reportase tentang Manga Festival yang dalam waktu 2 hari meraup keuntungan lumayan plus pengunjung luarbiasa.

 

Mengapa Islamic (Book) Fair kurang diminati di Surabaya?

Di kota Pahlawan, Surabaya, tidak semua festival menarik minat pengunjung. Beberapa kali diselenggarakan bookfair dan bahkan diganti menjadi Islamic fair agar khalayak tidak terstigma dengan kata ‘buku’ ; tetap saja pengunjung jauh dari harapan. Dibandingkan dengan festival Manga, ada beberapa hal yang harus dicermati agar festival serupa yang digelar , dapat menarik minat banyak kalangan terutama generasi muda.

  1. Segmen usia produktif. Remaja dan dewasa awal, paling suka hiburan. Usia ini harus diperhatikan tanpa mengesampingkan usia matang di atas 40-an. Meski generasi muda minim finansial, biasanya mereka suka posting di media sosial. Alhasil, acara aakn dipromosikan gratis di twitter, facebook, instagram, dll.
  2. Acara variatif. Bedah buku dan talkshow mungkin dianggap acara wajib. Tapi perlu ada variasi lebih agar peminat muda meramaikan acara, misal workshop mengubah novel, cerpen, komik menjadi film. Atau workshop menggambar manga Islami. Atau bagaimana membuat mini video keren yang dapat diunggah di youtube serta menarik banyak likers. Atau bagaimana mem-boost followers.
  3. Hiburan. Anak muda suka banget musik. Di Manga Festival, live music tidak perlu menghadirkan bintang papan atas. Cukup band kampus yang butuh eksis, menyanyikan lagu-lagu request. Di Islamic fair, bagus sekali bila menghadirkan tim nasyid atau band kampus. Membawakan lagu-lagu keren seperti Best Day of My Life- American Authors, Sleeping Child – MLTR, 7 Years – Lukas Graham, Drag Me Down – One Direction, Heal the World – Michael Jackson. Lagu-lagu yang membangkitkan semangat anak muda untuk terus berkarya positif. Lagu-lagu Ungu, Opick, Gigi pun dikenal luas sebagai lagu religi yang diminati.
  4. Lomba kostum. Mirip cosplay, tapi menampilkan tokoh-tokoh kebangsaan yang penampilannya memang berbeda dari yang lain seperti Bung Karno, Panglima Sudirman, KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Pangeran Antasari, Walisongo dan seterusnya.
  5. Stand komunitas dan seniman kreatif. Di Manga Festival, bukan hanya disediakan stand milik perusahaan tertentu. Bahkan lebih banyak komunitas. Islamic (book) fair dapat menyediakan stand komunitas untuk lebih membuka jejaring dengan beragam elemen masyrakat seperti komunitas bola, komunitas pecinta sejarah, komunitas pecinta fotografi dll. Termasuk seniman yang akan menggelar karyanya seperti lukisan, batik, buku-buku indie dll.
  6. Lomba bertema ringan. Tidak harus lomba berat yang digelar seperti award untuk buku terbaik atau penulis favorit. Di Manga Festival ada lomba makan ramen. Di Islamic fair dapat diselenggarakan, lomba menceritakan buku yang telah dibaca . Misal peserta boleh menceritakan buku Api Sejarah karya Ahmad Masyur Suryanegara. Apa saja hebatnya buku itu, siapa penerbitnya, bagaimana cara membelinya, dll. Atau event dadakan. Siapa keluarga yang membawa seluruh anggotanya –bapak, ibu, anak-anak maka mendapat hadiah dari panitia. Atau siapa pasangan termuda hari itu, dapat hadiah. Misal mereka yang baru menikah di usia 21 tahun. Dan siapa pula pasangan tertua yang hadir, misal kakek nenek usia 65 tahun. Asyik kan?
  7. Promosi. Tak kalah penting. Promosi, promosi, promosi. Bila tak sanggup membayar radio dan televisi juga koran; gunakan saja akun media sosial yang nonstop memberitakan acara. Banyak lho acara-acara Islami yang sangat bagus tapi minim banget informasi.

 

Islamic fair dan Islamic book fair sangat bagus untuk menampilkan buku-buku referensi yang dibutuhkan msyarakat. Sekaligus membuka wacana-wacana kaum muslimin agar lebih bijak bersikap. Untuk itu harus banyak belajar dari festival lain yang sukses, seperti festival di Surabaya yang sebentar lagi akan diselenggarakan : Big Bad Wolf !!

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

Tips Penulis Mancanegara  

 

 

Penulis dan lukisan
Indonesia, Pakistan, India, Turki, Filipina

Bertemu dengan penulis mancanegara ketika menghadiri undangan Seoul Foundation for Arts and Culture Juli 2016 merupakan salah satu pengalaman berharga sebagai penulis. Diskusi dan bertukar pikiran dengan berbagai penulis dari berbagai belahan dunia, membuat saya banyak belajar tentang bagaimana mengasah kemampuan sebagai penulis.

Di bawah saya tuliskan rangkuman singkat hasil diskusi dengan penulis yang mewakili kiprah literasi di Negara masing-masing :

  1. Batkhuyag Purevkhuu

Beliau adalah seorang profesor berasal dari Mongolia yang menguasai secara fasih bahasa Russia. Sekalipun diskusi kami dalam bahasa Inggris cukup terkendala, beliau banyak memberikan filosofi hidup sebagai seorang penulis. Sebetulnya, Batkhuyag dapat berbahasa Inggris namun ia khawatir pengucapannya tak cukup lancar maka sepanjang acara resmi beliau senantiasa didampingi penerjemah perempuan, Enkhjargal.

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag
Batkhuyag, Sinta, PD

Bagi saya, ia mewakili bangsa Mongolia yang mengesankan. Saat sesi perkenalan diri, ia begitu bijak membuka pidato dengan mendoakan kami agar menjadi penulis yang semakin sukses di kemudian hari.

Batkhuyag menjelaskan, bagi bangsa Mongolia tak menguasai bahasa Inggris bukan hal yang memalukan. Mereka harus terlebih dahulu menguasai syair-syair asli Mongolia yang berjumpah puluhan ribu kata.

Sastra, membuat perjalanan hidup sebuah negara lebih bermakna. Batkhuyag pernah mengunjungi beberapa Negara dan ia sangat prihatin dengan Taiwan yang minim jejak budaya serta sastra. Nafas manusia berkejaran dalam uang dan materi.

Manusia, seharusnya tidak mengukur kesuksesan hidupnya hanya dari materi. Ada yang diperhatikan, dicapai, diraih di luar ukuran materi. Penulis, adalah salah satu profesi yang bertugas untuk mengingatkan manusia pada makna hidupnya. Sebab, kehidupan seorang penulis yang biasanya penuh komitmen, perjuangan dan kesederhaan mengalir dalam kata-kata yang ditulisnya.

 

  1. Sandra Roldan

Penulis cantik dari Filipina ini merupakan teman diskusi yang hangat dan menyenangkan. Ia punya tiga tips untuk menjadi penulis :

  1. Read and read
  2. Write
  3. Get another job!
Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra
Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra

Baik di Indonesia, Filipina, atau belahan manapun dari dunia ini; ilmu sastra tidaklah mendapatkan penghargaan materi berlimpah sebagaimana sains atau disiplin ilmu lainnya. Menjadi seorang penulis, berarti harus siap dengan kehidupan yang jauh dari standar kecukupan. Maka, alangkah baiknya bila sebagai penulis kita memperkaya diri dengan baca, baca, baca lagi. Menulis, menulis, menulis lagi. Lalu menopang hidup dari pekerjaan selain menjadi penulis. Sandra sendiri menjadi asisten profesor.

 

  1. Pankaj Dubey

Banyak ilmu unik  yang saya dapatkan dari penulis dan sutradara film ini.

Ketika membahas film, PD , panggilan akrab Pankaj Dubey mengatakan : Bollywood tak akan dapat mengejar Hollywood dalam hal teknologi. Ya! Bayangkan saja film James Bond, Bourne, Mission Impossible, atau science fiction macam Interstellar atau The Martian. Film horror nyapun membutuhkan kecanggihan rekayasa seperti Conjuring 1 dan 2, Mama dan Crimson Peak. Film-film imajinasi tak kalah seru mengusung teknologi : Mirror Mirror, Snow White & Huntsman, Haary Potter, Narnia dst.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Bollywood serta sastra India?

Storytelling. Bagaimana mengisahkan sesuatu dengan indah, mendayu, memukau.

Dan fiksi India lebih menggaungkan myths, mitos. Fiksi yang benar-benar fiksi. Khayalan. Tidak harus ada alur cerita yang masuk akal. Bagi PD, bila ingin menulis cerita yang serba masuk akal, tulislah buku motivasi. Fiction is fiction. Keunggulan sebuah fiksi adalah karena unsur-unsur mitos serta hal tak masuk akal yang masuk ke dalam cerita.

 

  1. Shaheen Akhtar.

 

Shaheen Akhtar adalah penulis Bangladesh yang mewakili suara perempuan. Bagi Shaheen kisah-kisah perempuan tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Shaheen memberikan saya sebuah buku luarbiasa Women in Concert, An Anthology of Bengali Muslim Women’s Writings, 1904-1938. Bagaimana perempuan menghadapi polemik hidup terkait busana muslim, kehidupan sosial politik, juga tantangan ekonomi.

Menulis cerita tentang perempuan dari sudut pandang perempuan, akan menjadi kisah istimewa bagi pembaca dunia.

women in concert, vegetarian, underwear
Women in Concert (Shaheen akhtar), The Vegetarian (Han Kang), Underwear (Kim Nan Il)
  1. Penulis-penulis Korea : Yun Dong Ju, Kim Nan Il, Go San Dol, Han Kang dll

Content.

Isi.

Dalam diskusi dalam ruang laboratorium di Yeonhui serta dalam perjalanan mengunjungi meonumen Yun Dong Ju; penulis-penulis Korea menekankan pada content atau isi tulisan. Tak akan ada publishing, promosi, resensi bila penulis tidak memiliki tulisan dengan isi berbobot. Content adalah bahan bakar. Dengan content, promosi dapat dinyalakan.

Maka, penulis-penulis Korea selalu berusaha menajamkan isi serta cara penulisan dalam setiap karyanya. Kim Nan Il menuliskan Underwear , dengan dialog-dialog yang ringan seputar kehidupan sederhana seorang penulis hingga perseteruan panjang Korea Utara-Korea Selatan. Han Kang menuliskan The Vegetarian , seorang perempuan yang mengubah gaya hidupnya dai penyantap segala menjadi seorang vegan. Peralihan gaya hidup ini menimbulkan kontroversi yang tiada habisnya di tengah keluarga hingga ia harus berhadapan dengan suami, adik, adik ipar serta dokter yang menvonisnya mengalami gangguan jiwa.

 

 

Setelah mendapatkan masukan dari penulis-penulis mancanegara di atas, anda ingin jadi penulis yang seperti apa?

 

Kategori
Catatan Perjalanan Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Liputan Sinta Yudisia di Chosun Ilbo (조선일보)

 

Alhamdulillah…senang sekali dapat diwawancarai oleh salah satu koran terkemuka di Korea, Chosun Ilbo (조선일보) atau Korean Daily.

Liputan acara Reading Concert di Baseurak Hall. 3 penulis yang diwawancarai adalah Sinta Yudisia (Indonesia), Batkhuyag Purekhvuu (Mongolia), Pankaj Dubey (India)

Sinta, PD, Batkhuyag at Seoul.jpg

입력 : 2016.07.04 03:00

‘아시아 문학 창작 워크숍’ 참석
5월부터 서울 머물며 수필 써… 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실려

아시아 문학이 서울을 향했다. 서울문화재단과 문학 계간지 ‘아시아’·한국작가회의가 초청한 아시아 대표 문인들이 1~3일 ‘아시아 문학 창작 워크숍’에 참석해 문학의 국경을 텄다. 이 중 지난 5월부터 서울 연희문학창작촌에 머물며 서울을 배경으로 한 수필을 완성한 몽골·인도·인도네시아 문인 3인을 만났다. 이 작품들은 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실린다.

초현대 도시 서울에서 작가들이 발견한 것은 오히려 영적(靈的) 기민함이었다. 몽골문화예술대 교수인 시인 겸 소설가 푸릅후 바트호약(41)은 “이곳 사람들은 본능적으로 비와 바람을 감지해내는 것 같다”고 했다. “늘 연희동 주택가에서 햇볕을 쬐던 할아버지가 있었는데, 정확히 날씨를 예측하곤 했어요. 마치 대기(大氣)와 대화를 하고 있는 것 같았습니다.” 지난해 인도네시아 ‘영감을 주는 작가’에 선정된 신따 위스단띠(42)는 “서울에선 다양한 영혼이 인정받는 느낌”이라고 했다. 무슬림인 그녀는 “동네마다 교회·성당이 있고, 도심 한복판(코엑스) 옆에 절(봉은사)이 있는가 하면, 이태원엔 이슬람사원이 있다. 여러 가치가 공존하고 있었다”고 말했다.

서울을 주제로 한 수필을 완성한 아시아 작가 3인이 1일 서울시청 시민청에 전시된 글귀 앞에 섰다. 왼쪽부터 신따 위수단띠, 판카즈 두베이, 푸릅후 바트호약. /장련성 객원기자

인도 뭄바이에서 온 소설가 판카즈 두베이(38)는 다양성 안에 도사린 폐쇄성을 짚었다. “서울은 분명 국제도시지만 아직도 외국인에 대한 경계가 느껴졌다”고 말했다. 이어 “한국 여성과 인도 남성의 결혼에 관한 글을 쓰고 있다”며 “혼인 과정의 갈등을 통해 진짜 다양성에 대해 질문하려 한다”고 덧붙였다.

초원과 대륙, 섬에서 온 작가들이 포착한 서울의 속도도 제각각이었다. 바트호약은 “서울의 발걸음은 울란바토르보다 훨씬 급했다. 사람들이 실시간으로 살아가고 있다는 생각을 했다”고 했다. 항구 도시 수라바야(Surabaya)에서 온 위스단띠는 서울의 교통망을 칭찬하면서 “지하철 2호선 당산~합정 구간의 창밖 풍경은 사랑하지 않을 수 없었다”고 말했다.

이들은 한국 문학에 높은 관심을 표했다. 특히 위스단띠는 윤동주 시인의 ‘하늘과 바람과 별과 시’를 한글로 발음하며 엄지를 치켜세웠다. 그녀는 “인도네시아에도 하이릴 안와르(Chairil anwar) 등 일제에 저항한 시인이 있지만 윤동주만큼 크게 조명되고 있진 않다”며 “한국의 문인 대접에 감명을 받았다”고 했다.

서울에서 보낸 1448시간의 여정. 이제 각자의 도시로 돌아가는 이 세 사람은 덕담을 잊지 않았다. “서울이 경제적 발전을 넘어 아시아 문학의 허브가 되길 바랍니다. 고향에 돌아가서도 서울이 선물한 문학적 영감을 이어갈 겁니다.”

 

  • Copyright ⓒ 조선일보 & Chosun.com

[출처] 본 기사는 조선닷컴에서 작성된 기사 입니다

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Mancanegara mother's corner Oase Rahasia Perempuan

#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

“Nak, ada uang?”

“Dek, sudah gajian?”

“Anak kita butuh sepeda motor.”

“Rumah kita mau disita.”

Beribu  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman –dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606
LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587
Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yang  mereka korbankan.

“Saya sadar saya salah, Mbak,” ungkap X. “Makanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagai  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.”

“Ibu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.”

“Suami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.”

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI  itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI  bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya  demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama seperti  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029
Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetap  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#22 Catatan Seoul : Tertarik Islam karena Mayat

Ibu Farida atau Moon Hyun Joo, cukup lancar berbahasa Indonesia. Beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia dan menjadi istri orang Indonesia.

Feby, bu Farida, Sinta
Feby , bu Farida (Moon Hyun Joo), Sinta

Bagi orang Korea, agama tidaklah penting.

Berbeda dengan Jepang , kuil dan candi ditemukan hampir di setiap kota. Maka di Korea Selatan, nyaris tak ada tempat peribadatan warga setempat yang menunjukkan ciri religiusitas. Ajaran khas Konfusianisme masih dipegang teguh terkait kesederhanaan dan kedisplinan namun ajaran agama yang merasuk di relung hati, tak banyak diyakini masyarakat Korea Selatan.

Setelah suaminya meninggal, ibu Farida atau Moon Hyun Joo merasa kehilangan pegangan. Ia mencari pegangan dari satu demi satu agama yang dipelajarinya. Ucapan bismillah dan alhamdulillah dilakukannya ketika mengendarai mobil.

Asean 8
Prof Koh Young Hun, Feby, Sinta

Lalu kami bertemu dengannya, ketika saya dan Feby menghadiri acara Profesor Koh Young Hun di gedung Asean Korea Centre, Press Centre, Junggu – Seoul City Hall. Kami lalu mencari tempat nyaman untuk diskusi.

 

 

 

 

ASean6
Menjelaskan tentang sastra Indonesia terkini di ASEAN KOREA CENTRE

 

Ada hal-hal yang membuat Moon Hyun Joo tertarik pada Islam :

Adzan

Setiap kali mendengar adzan, hatinya merasa sangat senang, bahkan beliau berkespresi sambil mengatakan, “hati saya senaaaaang….sekali setiap dengar adzan!” sembari tangannya melekat di dada. Seolah-olah menggambarkan ekspresi kebahagiaan luarbiasa tiap mengingat ucapan adzan yang magis. Ingat tulisan saya tentang muallaf  Maryam Itaewon ?

 

Prosesi penguburan.

Ketika suaminya meninggal, hanya selembar kafan yang menyelimuti. Moon Hyun Joo masih ingat, ia sempat marah dengan prosesi penguburan itu. Mengapa tidak ada barang yang boleh dibawa? Bahkan putrinya, Diana, ingin menyelipkan sebuah surat berisi ungkapan cinta kepada ayahnyapun tak diizinkan?

“Masa sih bawa sebuah surat aja nggak boleh?” kata Moon Hyun Joo.

Ada ungkatan unik darinya, “tapi entah mengapa ya, setelah kematian suami, kita seperti dilahirkan kembali. Kita seperti berada di kehidupan yang kedua. Setiap ajaran suami, setiap kata-katanya terngiang.”

Prosesi penguburan yang sederhana membekas di benak Moon Hyun Joo dan ia menyadari memang tidak ada yang perlu dibawa manusia ketika mati nanti. Bagi Moon Hyun Joo, hanya Islamlah satu-satunya ajaran yang ia kenal, memperlakukan mayat dengan cara sangat berbeda. Hampir semua agama yang dikenalnya dan saat ini ia coba untuk pelajari; memperlakukan mayat seperti manusia hidup. Didandani, diberikan bekal pakaian dan harta. Seolah-olah kehidupan di alam kubur menyerupai alam dunia yang serba berdimensi materi.

Islam berbeda. Islam mudah.

Begitu seorang manusia berstatus sebagai mayat, tak ada lagi bahan kecil berdimensi materi yang dapat menyertai, apalagi menyelamatkannya. Hanya entitas-entitas ruhani, ukhrawi dan keghaiban yang menyertai perjalanan rahasia manusia menemui TuhanNya.

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#21 Catatan Seoul : Identitas yang Paling Mudah

Bu Widya namanya. Posisi dan pengalaman beliau  tak dapat dijabarkan dengan curriculum vitae seperti biasa. Takdir sebagai pendamping suami membuatnya tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Ketika ditanya, beliau pernah tinggal di negara mana saja, beliau lupa. Sejak kakek nenek, orangtua, hingga beliau suami istri dan kakak adik serta putra putri beliau; melanglang ke berbagai negara. Amerika, Swiss, atau negara-negara Asia Afrika pernah beliau jajagi. Ketika pertemuan keluarga besar, tak lagi dapat dibedakan anak-anak atau cucu-cucu sekarang menggunakan tradisi yang mana. Apakah barat yang egaliter? Apakah timur yang santun dan pemalu? Apakah timur tengah yang sangat strict?

Bu Widya, diusianya yang paruh baya sangat cantik dan sederhana (sayangnya beliau tak bersedia difoto hehe). Gaun lengan panjang dan jilbab kain yang melilit kepala, tanpa beragam perhiasan mencolok bergemerincingan. Diskusi dengannya mengalir mudah di sela-sela buka puasa di Saetgang, KBRI senja itu.

makan di bu yanti
Islam adalah identitas yang paling simple

Satu ungkapan beliau yang simple namun menohok, ketika saya bertanya apakah anak-anak, cucu-cucu, keluarga besar yang tinggal di beragam negara tidak mengalami culture shock atau kejutan budaya?

“Ketika kami tinggal di beragam wilayah negara, atau kembali berkumpul, kami hanya mengenakan identitas Islam. Titik. Itulah identitas yang paling mudah untuk dikenakan.”

Wow.

Identitas Islam.

Betapa indah dan mudah. Ketika kita tinggal di barat yang serba terbuka, egaliter, permisif; Islam menjadi rambu-rambu yang membatasi namun mempersilakan manusia mengambil ilmu seluas-luasnya. Gaya barat yang berbicara terus terang, apa adanya, tak memperhitungkan kasta; tak masalah selama mereka menghormati kebebasan kita beribadah dalam segala aspeknya.

Ketika tinggal di Korea dan Jepang yang dikenal pekerja keras, berbahasa penuh filosofi dan kesantunan layaknya orang timur; tak masalah juga. Selama kita dapat mengikuti karakter bekerja dan belajar tanpa menanggalkan identitas utama.

DSC_1115
Maryam yg istiqomah berhijab

Mau makan roti tawar atau roti ish, mau ditawarkan soyu atau sake, mau sakura Jepang atau kaktus gurun Sahara; ketika waktunya Ramadan ya berpuasa. Ketika waktunya sholat, ya tegakkan. Ketika belanja, belajar, bekerja ya kenakan busana menutup aurat sesuai musim. Ketika menemukan halal haram ya pisahkan.

Tinggal di 4 musim?

Tak perlu bingung dengan baju bulu di musim salju, atau tank top dan hotpants di musim panas, baju musim semi atau musim gugur. Kenakan pakaian seperti biasa, yang menyerap keringat, yang lembut di kulit. Tinggal tambahkan jaket tebal bila musim dingin tiba dan jangan lupa kerudung yang menutup kepala bagi perempuan untuk segala musim. Model, bahan, corak, motif, keluaran butik Indonesia atau italia; terserah saja.

Tak ada benturan Amerika atau Jepang, Indonesia atau Maroko, Malaysia atau Korea; sepanjang indentitas Islam dikenakan. Ketika harus lentur mengikuti karakter budaya tertentu, wajarlah, apalagi bila minoritas berada di tengah mayoritas.

Terkesan pula dengan cerita teman-teman FLP Hong Kong yang semuanya bekerja sebagai BMI. Bagaimana mereka menjelaskan Ramadan kepada majikan.

“Oh, aku sarapan kok, Bos! Cuma lebih pagi. Makan malam seperti biasa. Hanya makan siang aja yang gak dilaksanakan.”

Penjelasan seperti itu membuat si bos mengangguk, dan tidak khawatir pekerjanya mati kelaparan. Identitas Islam tetap dapat dikenakan oleh buruh seperti BMI atau ibu-ibu pejabat seperti bu Widya.

Kalau suatu saat, kita mendapatkan kesempatan melanglang buana dan tinggal di berbagai negara; jangan lupa, identitas Islam adalah identitas yang paling mudah dikenakan.

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#20 Seoul Foundation for Art and Culture (3)

 

5) Seoul Creative Spaces, Sindang

Dari semua divisi, bagi saya ini yang paling menarik.

Kenapa? Pasar ini sepanjang 400 meter berisi karya seni. Sebab mata kita dimanjakan oleh beragam produk seni!

 

Pasar seni Sindang berada di bawah tanah (underground) sementara bagian atasnya dipakai untuk pasar tradisional biasa yang menjual beragam jenis barang.

Creative Spaces Sindang, memiliki 40 studio dan toko bagi seniman untuk berkreasi menciptakan sesuatu. Tali, kertas, kawat, lempeng logam dapat menjadi produk olahan seni yang luarbiasa cantiknya. Bahkan, ada studio mini animasi!

Kalau anak-anak saya kemari, pasti mereka senang sekali melihat studio animasi mini : bagaimana cara membuat patung orangnya.

Pengunjung bisa melihat dan belajar bagaimana membuat karya-karya seni tersebut. Mana gurunya cantik-cantik lagi hehe….

Ada kerajinan kertas.

 

 

Ada kerajinan kawat.

Ada kerajinan tali.

tali sindang.JPG
Kerajinan tali

 

 

Ada animasi.

Ada kerajinan yang terinspirasi dari putri kecil seniman yang kreatif! Semua coretan putrinya diolah lagi menjadi karya seni.

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#19 Seoul Foundation for Arts and Culture (2)

 

 

  • 3) Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu

 

Divisi ini lebih kepada kantor untuk menyeleksi siapa yang berminat untuk bergabung di SFAC. Sebagai bagian dari seni dan budaya, art space Seogyo punya ruang-ruang yang cantik!

 

  • 4) Seoul Theater Center, Jongno-gu

 

Seoul punya 100 teater!

Dan semuanya aktif. Tempo hari, saya sempat lewat di perhentian bus melihat beragam pamflet pertunjukan teater versi Korea Sweeney Todd!

Kategori
Beasiswa / Scholarship Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#18 Catatan Seoul :Seoul Foundation for Arts and Culture (1)

 

Anda harus baca ini!

Bagaimana segala seni dapat memacu kreativitas masyarakat, menjadikan kota jauh lebih indah, energik dan membuka peluang ekonomi.

Seoul, sebuah kota yang maju di wilayah Semenanjung Korea. Kota dengan kontur berbukit-bukit sehingga beberapa distrik memiliki jalan yang sangat curam. Dengan segala dinamikanya, Seoul menjadi salah satu kota yang sangat dinamis dan energik di dunia. Sebagai bagian dari masyarakat modern, Seoul juga mengalami permasalahan layaknya kota besar lain. Kepadatan penduduk, tekanan  kerja, persaingan karier dan akademis, biaya hidup, benturan budaya dan lain-lain.

Untuk dapat meredam segala sisi negatif sebuah kota besar, diperlukan alihan pelimpahan emosi negatif dari masyarakat. Karenanya, Seoul menciptakan ruang-ruang seni untuk dinikmati. Menimbulkan suntikan semangat baru, kelegaan, sudut pandang yang lebih kaya, ketenangan serta kebijaksanaan.

Apa saja ruang yang digagas oleh Seoul Foundation for Arts and Culture?

  1. Seoul Art Space Yeonhui for writers
  2. Seoul Dance Center, Seodaemun-gu
  3. Seoul Art Space Seogyo, Mapo-gu
  4. Seoul Theater Center, Jongno-gu
  5. Seoul Creative Spaces, Sindang

Yuk kita lihat satu –satu!

 

 

Untuk Yeonhui sudah saya tulis di Catatan Seoul . Silakan klik disini.

Tahun 2016, Yeonhui bekerja sama dengan ASIA journal magazine untuk mengundang penulis internasional. Alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu penulis internasional yang diundang. Ada 3 penulis : Sinta Yudisia – Indonesia, Pankaj Dubey – India dan Prof. Batkhuyag Purukhevuu Mongolia. Sebagai penulis yang diundang kami mendapatkan fasilitas : tiket PP, per diem selama tinggal, serta tempat tinggal gratis selama sebulan lebih.

Apakah anda sebagai penulis ingin tinggal di Seoul, gratis?

Sepanjang tahun, SAS Yeonhui membuka kesempatan seluas-luasnya bagi penulis puisi, cerita pendek, novel untuk tinggal di Yeonhui. Bila lulus screening, penulis dapat tinggal 1 bulan gratis di paviliun indah dan nyaman. Ingat, di Seoul lagi. Harga hotel mahal disini.

Apa saja yang dapat disiapkan?

  1. Aplikasi lamaran dapat dikirim ke yeonhui@sfac.or.kr
  2. Uang tiket PP. Untuk dapat tiket murah,cobalah rajin hunting tiket pesawat. Biasanya, pesawat yang berangkat hari Selasa/ Rabu lebih murah.Pesan juga tiket langsung untuk pulang pergi.
  3. Bawalah bahan baku makanan uk 2 minggu atau sebulan ke depan, demi menghemat pengeluaran. Lihatlah berapa kilo bagasi yang diizinkan pesawat. Jika dapat bagasi sekitar 40 kilo, kita dapat menyiapkan bahan makanan untuk sebulan!
  4. Jangan terlalu royal belanja. Ingat tujuan kita untuk mendapatkan pengalaman berharga. Tapi kalau memang tersedia dana belanja, silakan ke Insadong. Makanan halal tersedia di Itaewon.

 

  • 2) Seoul Dance Center, Seodaemun-gu

 

Divisi ini menyediakan juga international residency untuk penari dari mancanegara. Jadi, bagi yang ingin mendaftar untuk diundang kemari, silakan kirim aplikasi.

Divisi yang menyediakan international residency adalah Yeonhui dan Dance Center. Tidak semua divisi memiliki fasiltias tempat tinggal.

Dance center memiliki ruang-ruang yang menarik! Ruang tidur, communal kitchen, library serta ruang-ruang latihan.

Untuk mendapatkan kesempatan tinggal di international residency for dancing, silakan kirim email ke dancenter@sfac.or.kr atau lihat di https://www.facebook.com/seouldancecenter

(bersambung)

Kategori
Bulan Nararya Catatan Perjalanan Mancanegara Oase Sastra Islam

#17 Catatan Seoul : Profesor Koh Young Hun, Cinta Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)

 

 

Prof Koh Young Hun
Prof. Koh Young Hun & Sinta Yudisia

Saya bertemu Profesor Koh Young Hun, copy darat, baru tanggal 14 Juni 2016. Sebelumnya saya lebih banyak berinteraksi dengan beliau via telepon. Diskusi kami sangat menyenangkan, sebab beliau fasih berbahasa Indonesia.

 

Ada banyak hal yang membuat saya merenung akan pendapat-pendapat beliau. Semoga, hasil diskusi kami membuka mata khalayak, terutama penulis-penulis Indonesia serta para pembaca aktif yang selalu ingin belajar untuk meningkatkan wawasan serta memperluas kebijaksanaan.

Profesor Koh Young Hun adalah pengajar di HUFS atau Hankuk University of Foreign Studies   jurusan Malay Studies (www.hufs.ac.kr) . Beliau mengelola Koreana dan menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut untuk edisi bahasa Indonesia ( www.koreana.or.kr)

Selain itu Profesor Koh mengelola situs Indonesia Culture Center atau Pusat Budaya Indonesia yang berisi segala informasi tentang budaya Indonesia, dalam bahasa Indonesia dan Korea (www.indonesian.co.kr)

 

 

Indonesia = potensial selamanya?

Profesor Koh sangat mengagumi Indonesia. Sebagai negara timur, Indonesia dan Korea memiliki sejarah mirip. Indonesia merdeka 1945, Korea 1950. Kita sama-sama pernah dijajah Jepang. Perbedaannya adalah, karena perih oleh penjajahan Jepang, Korea ingin selalu mengalahkan Jepang dalam segala aspeknya. Semangat itu yang kurang muncul dari bangsa Indonesia. Seolah-olah kita lupa pernah dijajah Jepang dan mengalami kolonialisasi demikian pahitnya.

Kemalasan dan kebodohan masih mewarnai sebagian besar masyarakat Indonesia, pola hidup konsumtif juga. Korupsi, tentu tak ketinggalan. Korupsi akan selalu ada di setiap negara. Tetapi propaganda melawan korupsi harus juga terus berjalan. Slogan-slogan anti korupsi harus digalakkan misal : harta yang berasal dari korupsi tidak akan berkah bagi keluarga.

Profesor Koh prihatin bila sekarang ia mengatakan Indonesia negara potensial dan mahasiswanya sebagian sudah lulus, bekerja, mengajar juga; maka dosen-dosen tersebut yang memiliki rentang waktu 20-30 tahun dengan dirinya masih tetap mengatakan ‘Indonesia potensial’. Seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju dalam kurun waktu 30 tahun.

 

Sastra dan Pengaruh

Tak ada sastra yang baik dan buruk, menurut beliau.

Yang ada hanyalah sastra yang memberikan pegnaruh. Sebuah karya sastra menjadi luarbiasa apabila memiliki pengaruh dahsyat ke masyarakat. Saran beliau untuk penulis-penulis Indonesia, teruslah berkarya.

Saya ingat dalam pertemuan dengan penulis-penulis Korea beberapa waktu lalu di media library, seorang penulis Korea memberikan masukan bagus bahwa betapapun seorang penulis sekarang diharapkan mampu menjual karyanya agar best seller, seorang penulis harus aktif di media sosial dan seterusnya; penulis harus tetap berjuang untuk menulis dan memperhatikan content tulisan. Isi tulisan. Itu yang sangat penting. Saya tidak merasa bahwa tulisan-tulisan saya sudah memberikan pengaruh. Tapi benar sekali, isi tulisan sangat penting. Sebab bila tulsian kita dibaca orang, dan orang tersebut merasa memiliki kesamaan karakter atau alur cerita, ia dapat mencontoh bagaimana endingnya. Semoga karya saya Sedekah Minus membawa pengaruh baik bagi masyarakat internasional bagaimana memahami Islam lebih utuh. Bila, penulis tidak menuliskan isi yang baik dengan cara yang baik, dikhawatirkan kiprahnya di dunia sastra tak dapat bertahan lama (Novel Bunuh Diri?).

Saya pribadi berusaha untuk memasukkan value ke dalam tulisan. Seperti novel Bulan Nararya (Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA) adalah pergulatan psikoterapis dan ternyata, seorang psikolog atau terapis pun jangan dibayangkan lepas dari masalah. Orang harus berjuang sendiri untuk dapat bangkit dari masalahnya.

 

Terjemahan Karya Sastra

Saya mengusulkan ke Profesor Koh Young Hun agar kita sama-sama aktif menerjemahkan karya sastra kedua negara. Karya sastra Korea diterjemahkan ke Indonesia begitupun karya sastra Indonesia diterjemahkan ke Korea. Bukan hanya karya klasik semacam karya Pramudya Ananta Toer yang diterjemahkan, namun juga karya-karya populer yang ringan. Sekalipun ringan, bukan berarti tak memberikan pengaruh. Karya-karya FLP. Forum Lingkar Pena saya rasa sangat layak diterjemahkan ke bahasa Korea untuk memperkaya khazanah sastra di negeri ginseng ini.

* Saya dan Feby, mahasiswi Sastra Korea Modern SNU (Seoul National UNiversity)

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#16 Catatan Seoul : Osulloc 오 설 록, Cafe Teh Hijau Unik dari Jeju 제주Island

 

Untungnya program Seoul Art Space Yeonhui dan ASIA journal magazine ini  diadakan Ramadan. ASIA journal magazine ini yang telah memilih cerpen saya Sedekah Minus untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Korea. Kalau  tidak, wah, sulit rasanya menolak teh aneka rasa serta kue-kue yang lezat dipandang mata dan  sepertinya lezat dikunyah lidah.

Osulloc'squote
Filosofi Osulloc

Osulloc 오 설 록 cafe kali ini terletak tak jauh dari  Seoul Foundation for Arts and Culture divisi Teater. SFAC untuk pusat Teater terletak di 3 Daemyong-gil, Jongno-gu, Seoul. Ada 100 jumlah teater di sekitar Seoul dan mereka aktif menyelenggarakan pertunjukan berkualitas. Tak salah panitia mengajak para penulis untuk mencicipi kuliner mancanegara yang pantas dibanggakan Korea Selatan.

 

Osulloc tea and cake
Enak ! Tapi hati-hati dengan kehalalannya ya? Untung Ramadan 🙂

Osulloc 오 설 록 berasal dari kata sol yang berarti salju dan loc yang bermakna teh hijau. Jadi, menikmati teh hijau Jeju seperti menikmati kesegaran salju.

jajaran teh Osulloc
Jajaran teh Osulloc dg beragam rasa 

Untuk sampai ke Jeju 제주, butuh penerbangan 1 jam dan biaya tiket pesawat sekali perjalanan sekitar 50.000 won atau sekitar Rp. 600.000. PP sekitar 100.000 won. Pulau  Jeju 제주  dikenal sebagai pulau yang indah dengan gunung dan laut sehijau zamrud. Saya sendiri belum pernah kesana.

Apa yang unik dari pulau Jeju 제조 ?

Di Jeju island, banyak penyelam-penyelam ikan tradisional yang menyelam ke dalam laut untuk menangkap ikan serta ganggang, tanpa peralatan. Benar-benar penyelam alamai dan…..mereka adalah perempuan! Woman diver di pulau Jeju 제주 sangat tangkas dan berani.

Kembali ke cafe Osulloc, cafe ini sangat nyaman dan menarik dipandang. Ingin beli teh celupnya sebagai oleh-oleh tapi lumayan juga harganya. Selain menyajikan aneka ragam teh, Osulloc 오 술 록 juga menyajikan kue-kue.

Ah, jadi ingin buat cafe teh sendiri seperti Osulloc 오 설 록!

Kategori
Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

#15 Catatan Seoul : Apa saja Kegiatan Ramadan di Seoul?

 

Meski Ramadan di negeri orang pasti tidak sama dengan negeri sendiri, banyak hal unik yang dapat kita temui disana. Justru, tantangan untuk berpuasa lebih terasa sebab minoritas jumlah kaum muslimin menyebabkan masyarakat umum tidak menyadari kita tengah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Untuk muslimah, ada acara pertemuan muslimah muslim Indonesia sehari sebelum Ramadan. Materi tentang bagaimana tetap produktif di bulan Ramadan.

muslimah itaewon
Acara dengan muslimah Indonesia di Itaewon, menyambut Ramadan 1437 H

 

Acara yang meriah untuk anak-anak adalah Pesantren Ramadan di musholla Al Falah Yeungdongpo.  Kak Feby, Kak Annisa, Kak Adel, Kak Fathiya   dan kakak-kakak lain begitu heboh mengajar adik-adik.

Acara yang lain yang ditunggu-tunggu di bulan Ramadan adalah buka puasa bersama di KBRI yang terletak di Saetgang. Hari berikutnya, buka puasa di kediaman mbak  Yanti, suami mbak Yanti staf KBRI yang tinggal di apartemen Lotte Castle Ivy, di daerah Saetgang juga. Bertemu dengan sop, soto betawi, krupuk, sambal, siomay…..rasanyaaaaa!

Selanjutnya acara-acara kajian muslimah yang dilakukan via skype.

Selain itu, tentu muslim dan muslimah punya agenda masing-masing. Ada yang kerja, ada yang kuliah, ada yang menjadi ibu rumahtangga. Yang pasti, tinggal di negeri orang harus mampu mengatur pola waktu serta mengatur kesehatan agar tidak mudah sakit.

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Mancanegara Oase

14 Catatan Seoul : Maryam 마럄 Masuk Islam & Jin

Maryam 마럄 namanya.

Perbincangan kami harus dengan bahasa Korea sehingga saya butuh penerjemah dua arah. Untungnya ada Feby, mahasiswi sastra Kroea modern di SNU (Seoul National University). Diskusi kami direkam dengan kamera ponsel merek Sony (apaan lagi, gak ada pesan sponsor kok haha).

DSC_1115
Maryam & Sinta

Kata Maryam , ia masuk Islam setelah mendengar suara adzan  dari ponsel temannya. Airmatanya meleleh tiba-tiba. Ahya, jangankan Maryam. Kita yang muslim saja meleleh bila mendengar adzan atau  suara al Quran. Sejak mendengar adzan, Maryam tertarik dan pada akhirnya memeluk Islam.

Pertanyaannya, apa yang ia dapatkan dari Islam?

 

Hidup yang kembali tertata

Sejak kecil, hidup keluarga Maryam berantakan. Kakaknya lari dari rumah. Iapun juga demikian. Kehidupan mereka serba sulit dan miskin. Setelah masuk Islam, perlahan-lahan kehidupan keluarga mereka tersusun rapi kembali.

Kakak yang terpisah bertahun-tahun, kembali. Maryam merasa ini adalah anugerah Allah.

Tidak hanya itu.

Selama hidupnya, Maryam merasa diikuti dan ditempel oleh jin. Jin ini menurutnya yang membuat keluarganya miskin. Entah benar atau tidak, setelah masuk Islam jin itu pergi. Kehidupan Maryam pun berangsur membaik.

Bagi Maryam, kini solusi hanya satu. Allah dan hanya Allah. Sembahlah Allah dalam segala keadaan. Perkara jin, wallahu a’lam, ini adalah perkara ghaib yang mungkin sangat individual pengalamannya. Anda dan saya pasti pernah punya pengalaman dengan hal-hal supranatural. Kita hanya dapat berbagi cerita, tapi tak mungkin menjalani pengalaman yang sama. Jin, itu menurut sudut pandang Maryam.

Dibanding masyarakat Jepang, Korea lebih tidak memiliki sisi religius. Penjelasan dari tim panitia di Seoul Art Space Yeonhui ketika kami tanyakan, mengapa tidak banyak kuil atau candi di Korea? Mereka mengatakan bahwa masyarakat Korea tidak punya sisi religius yang mutlak. Kuil atau candi dapat ditemukan di gunung, tapi tidak di kota-kota terbuka apalagi kota besar.

Satu-satunya kuil yang bisa ditemukan mudah adalah kuil Bong-eun sa 붕 은 사.

Apapun alasan Maryam, ia merasa jauh lebih tenang kini.

Selamat menjalankan ibadah Ramadan, Maryam 마럄   🙂

 

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love Jurnal Harian Mancanegara Oase Pernikahan WRITING. SHARING.

#13 Catatan Seoul : Perkosaan hingga Cinta Pasca Menikah

Diskusi dengan tuan PD atau Pankaj Dubey ini dapat melebar kemana-mana. Mungkin, pembicaraan kami tertolong oleh bahasa Inggris. Saya ingin sekali banyak berdiskusi dengan Profesor Batkhuyag, sayangnya beliau hanya bisa berbahasa Russia dan Mongolia.

Yah, saya hanya bisa berucap : Zdravstvuite, menya zovut Sinta. Priyatno poznakomit’sya.

 

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag
Prof. Batkhuyag, Sinta dan PD

Diskusi dengan PD berkembang ketika ia menyampaikan tentang novelnya To Hell with Love, tentang bagaimana cinta berevolusi bahkan bagi pasangan yang telah menikah. Bagi PD, pasangan yang telah menikah dapat mengalami dua hal : growing up together or growing apart.

Tentang hal-hal cinta sesudah menikah, berpaling dari pasangan, perselingkuhan dan sejenisnya; adalah bahasan yang biasa. Sehingga ketika berdiskusi tentang fenomena tersebut di Indonesia dan India, kami menyimpulkan bahwa globalisasi yang membawa keterbukaan bagi setiap pihak, ada dampak positif dan negatifnya.

Ada yang menarik dari diskusi ini.

Sebab, studi kecil-kecilan untuk novel tersebut , PD menemukan banyak pasangan yang setelah lari, pisah, cerai (atau apalah namanya ) dari pernikahan terdahulunya; ternyata jatuh cinta lagi pada pasangan lamanya.

Ohya? Wah, ini menarik dan harus saya garis bawahi. Sebagai penulis dan psikolog, fakta pasangan-pasangan yang  tergoda orang lain memang tak dapat dipungkiri. Tapi pada akhirnya jatuh cinta pada pasangan lama dan sangat merindukan pernikahan yang terdahulu, itu sangat menarik.

Pada masyarakat yang tidak bersandar pada agama, temuan PD pantas digaungkan. Sebab, ternyata, pasangan lama atau  katakanlah, dengan siapa kita menikah pertama kali ternyata adalah pasangan yang demikian mengesankan. Mungkin ia lebih jelek, lebih miskin, lebih bodoh ; lebih inferior dari pasangan yang baru. Tapi bahwa cinta sejati dan tulus banyak terjadi pada saat pernikahan tengah merayap dalam kesulitan; tak terbantahkan. Kerinduan akan cinta tulus inilah yang memikat pasangan-pasangan yang kelelahan dengan kehidupan cintanya yang baru.

Bagi masyarakat muslim, temuan PD pantas untuk menguatkan sendi-sendi pernikahan kita.

Diskusi menarik kedua adalah tentang perkosaan.

Saya cetuskan terus terang bahwa, saya takut jika suatu saat datang ke India. Sebab berita perkosaan setahun lalu, tentang seorang gadis yang akhirnya koma dan tewas pasca diperkosa, sangat memiriskan hati. Sekarang, Indonesia tengah menghadapi hal yang sama. Bahkan, banyak pelajar dan pasangan hidup yang tinggal di luar negeri; takut kembali ke Indonesia.

Jawaban PD cukup bijaksana : kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan di jalan raya. Tak ada negeri yang benar-benar bebas perkosaan.

Dari diskusi tersebut , setidaknya saya kembali memiliki harapan bagi Indonesia.

Rasanya demikian takut untuk keluar ke jalan, pergi malam untuk beli obat atau  ke dokter; ancaman jambret dan perkosaan mengintai. Tapi benar kata PD, kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan. Yang paling penting adalah terus bersikap waspada, tidak memancing kejahatan, terus bekerjasama dengan beragam pihak dan tentunya tak lepas berdoa.

Meski di  Korea, Jepang, Hongkong yang dikenal aman; para mahasiswa dan pekerja perempuan kita terkadang  pulang malam; tetap saja kewaspadaan harus ditegakkan.

Dan, bukan berarti Indonesia yang tertimpa musibah berkali-kali;  menajdi negeri yang tak pantas ditinggali. Masih banyak orang, keluarga, anak-anak perempuan yang memiliki harapan dan impian untuk tinggal di negara Indonesia.