Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan Kuliah Psikologi WRITING. SHARING. ~RINAI~ Sinta Yudisia

Novel Psikologi : Rinai , Sophia & Pink, Bulan Nararya

Rinai, Sophia & Pink , Bulan Nararya adalah novel dengan baluran ilmu Psikologi.
Mengapa Psikologi?
Sejak lama, usai membaca karya-karya Tom Clancy, Michael Crichton, Frank Thallis, maupun novel legendaris Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes; saya ingin membuat novel yang kuat pondasi ilmiahnya. Bila Tom Clancy detail tentang militer dan seluk beluk taktik spionase-nya, Crichton dengan sci-fi , Thallis dengan Psikologi Klinis yang sangat Psikoanalisa, Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes- Sir Conan Arthur Doyle yang jago di detektif; saya ingin menuangkan gagasan-gagasan dalam jalinan kisah fiksi.
Gagasan-gagasan ideologis tentu ada di benak setiap penulis.
Thallis membangkitkan lagi romantisme Psikoanalisa dengan apik. Psikoanalisa, yang mendapatkan tandingan Neo-Freudian, Behavioristik, Humanistik ; menjadi hidup kembali lewat kisah Thallis. Mungkin ia pengagum Freud. Yang pasti, Thallis berhasil menjadikan novel-novelnya sangat Freudian dan ia membawakannya dengan sangat ilmiah, cemerlang, menusuk bagi pecinta novel thriller. Saya yang tidak suka Freud pun menjadi penasaran dengan logika berpikir Psikoanalis Thallis.

Rinai

cover RINAI

Diawali dengan Rinai, yang Alhamdulillah masuk 50 besar novel terbaik Republika (2011/2012?) , bahasan yang saya angkat adalah tentang Intelligensi dan Agresivitas. Rinai diterbitkan oleh penerbit Indiva.
Rinai adalah salah satu novel yang bagi saya istimewa (rasanya, setiap novel karya kita sendiri pasti istimewa  ). Setting Palestina nya membuat saya selalu rindu tanah Anbiya. Memang, ketika Allah SWT memperkenankan saya menginjakkan kaki ke tempat istimewa tersebut, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kisah. Bila kisah perjalanan, mungkin akan cepat menguap. Tapi novel, semoga tetap abadi. Amiin.
Harapan saya, pembaca dapat turut merasakan keindahan Gaza, wangi zaitun dan tin nya, panas gurun Sinai, sulitnya menembus check point dan gerbang Rafah ; tentu saja, semoga mampu menghadirkan betapa heroiknya para pejuang Palestina. Radikal? Hm, rasanya tidak. Saya hanya mengangkat para pembela tanah air, orang-orang yang mengumandangkan Intifadhah, bertahan di jam malam dan selalu optimis dengan ketentuan Tuhan. Dan, bahasan psikologi dapat menjadi bahan informasi.
Agresif kah anak-anak Palestina , karena situasi perang?
Tidak.
Bodohkah anak-anak Palestina karena blokade sehingga ekonomi terhimpit sangat?
Tidak.
Ada situasi-situasi yang menimbulkan anomali.
Seharusnya anak-anak Palestina trauma, agresif, brutal, bodoh dan sederet stigma lainnya akibat kondisi buruk peperangan. Memang, beberapa mengalami trauma, dan kesedihan panjang. Tapi mereka bangkit. Berjuang. Berdiri. Berprestasi. Psikologi mencoba menjelaskan, menemukan jawaban, sekalipun tak menyangkal bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, anomali tetaplah ada.
Apa anomali bangsa Palestina?
Quran.
Inilah jawaban yang meniadakan agresi, menghapus kebodohan, menghilangkan trauma sekalipun rumusnya sudah sangat jelas B= P.E . Bahwa behavior dihasilkan dari person dan environment. Seharusnya secara psikologis Palestina hancur jauh-jauh hari. Kenyataannya, mereka tetp tegak berdiri sampai sekarang.
Intelligensi.
Agresivitas.
Quran, adalah faktor yang sangat mempengaruhi kedua hal tersebut di atas.

Sophia & Pink

Sophia & Pink

Sophia dan Pink adalah kisah remaja SMA.
Mengambil latar Surabaya, novel yang berbeda dengan novel-novel remaja lainnya yang biasa mengambil latar Jakarta. Sophia gadis yang dibesarkan sebagai anak tunggal, dikelilingi nenek yang super lincah dan tante yang cerewet. Bunda Sophia baik hati, sementara ayah Sophia menghilang karena cinta ke lain hati.
Sophia dalam perjalanan mencari cinta.
Ia ingin mencintai dan dicintai laki-laki, karena kehilangan sosok ayah. Sophia mencari pada diri pak Ragil, gurunya. Vandes, sahabatnya. Bito, kawan tunarungunya. Namun pencarian cinta Sophia belum tuntas. Sebab cinta memang menyisakan misteri.
Saat-saat bahagia Sophia bersama teman-teman hebohnya , gadis ini harus menghadapi kenyataan mengejutkan : Bunda divonis kanker payudara. Maka Sophia belajar memahami sakit bunda, bagaimana merawatnya pra dan pasca operasi. Sophia mulai belajar bahwa cinta tak harus berbalas, meski cinta pada ayahnya sendiri.
Dan, pencarian cinta Sophia megnhasilkan sahabat tak terduga: Pink.
Pink cewek cantik yang jadi pujaan sekolah. Tak seorangpun yang tahu, dibalik kecerdasan dan kecantikan Pink, ia gadis yang mengambil peran utama dalam keluarga. Mamanya gila, sendiri di rumah besar Pink juga belajar bagaimana memastikan mama minum obat, memastikan mama tak menyakiti diri sendiri.
Sophia dan Pink, gadis-gadis remaja yang bijak. Cinta pertama kepada siapa harus berlabuh adalah : Ibunda.
Sisi psikologis yang ditampilkan disini adalah kondisi Bito, kawan Sophia yang tunarungu. Tidak semua manusia dilahirkan normal. Beberapa menderita kelainan pendengaran sehingga harus menggunakan alat bantu dengar. Dalam bayangan banyak orang, menjadi orang abnormal + alat bantu = normal. Padahal, butuh waktu banyak bagi Bito untuk menyesuaikan diri dengan hearing aid nya.
Sophia, gadis remaja sibuk yang tak hanya berkutat sebagai ketua kelas, sibuk dengan urusan keluarga juga urusan sahabat-sahabatnya.
Sophia & Pink diterbitkan oleh penerbit DAR!Mizan, 2014.

Bulan Nararya
Bulan-Nararya
Bulan Nararya adalah juara III Tulis Nusantara yang diselenggarakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2013, diterbitkan oleh Indiva.
Tokoh utamanya seorang perempuan muda bernama Nararya yang kandas dalam membangun mahligai cinta bersama suaminya, Angga. Nararya sama sekali tak menyangka bahwa sahabat baiknya, Moza, menjadi tambatan hati Angga yang berikut.
Di sisi lain, Nararya menghadapi persoalan pelik di Klinik Kesehatan Mental tempatnya mengabdi. Perselisihan pendapat dengan bu Sausan membawa permasalahan pelik sebab Nararya sendiri dalam kondisi tertekan akibat Angga dan Moza. Nararya yang idealis ingin menghentikan pemakaian farmakologi dan mengadopsi satu sistem baru dalam psikologi : Transpersonal.
Tiga pasien Nararya masing-masing Yudhistira, si kecil Sania dan seorang residivis tanpa nama menjadi pelipur lara Nararya. Yudhistira yang berangsur sembuh, menghadapi konflik pula ketika sang istri mengajukan gugatan cerai. Sania yang sejak kecil mengalami penganiayaan fisik oleh keluarganya, akan ditarik paksa oleh ayahnya keluar dari klinik. Si residivis , lelaki tanpa nama yang dijuluki pak Bulan, acapkali menjadi hiburan kalau bukan gangguan.
Dalam konflik yang membuat Nararya mengalami banyak guncangan, seseorang berupaya meneror Nararya di klinik.
Dimulai ketika suatu malam, satu kubangan darah dan cabikan kelopak mawar, menggenang di depan pintu ruang kerja Nararya. Halusinasi? Atau seseorang memang menginginkannya celaka?

************

Intelligensi, agresivitas, hearing impairment, skizofrenia, transpersonal, adalah ranah psikologi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian memaknai dengan salah, menyikapi dengan salah, sebagian bijak dalam bersikap.
Psikologi, bagai dua sisi kegunaan pisau. Satu sisi merupakan pisau ilmiah yang mampu mejelaskan, memprediksi, mengontrol perilaku manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk individu atau makhluk sosial. Disisi lain masih merupakan ilmu yang beririsan dengan hubungan transendental, supranatural bahkan mungkin superstitious terutama bila berhadapan dengan penyandang skizofrenia atau anak indigo.
Apakah halusinasi murni kerusakan neurotransmitter sehingga orang salah menginterpretasi stimulus suara atau bayangan?
Ataukah halusinasi sesungguhnya kemampuan di luar nalar bahwa manusia mampu melihat dan merasakan sesuatu diluar hal yang nyata?
Apakah intelligensi dapat berubah? Apakah intelligensi dipengarui genetik, nutrisi dan lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini masih terus seru diperdebatkan, ditelaah dan diupayakan jalan keluarnya. Tulisan fiktif, akan membawa nuansa baru yang lebih cair dan ringan, untuk membawa situasi ilmiah ke tengah masyarakat dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, lebih legit untuk dinikmati, meninggalkan jejak kesan yang lebih mendalam.

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner My campus UNTAG, My Campus

FAKULTAS PSIKOLOGI & KAMPUSKU, UNIV. 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA

Sinta Yudisia, KKN Untag
2007, pertama kami kami sekeluarga terlempar ke satu kota di wilayah Jawa Timur, Surabaya. Sama sekali tak pernah kubayangkan aku kembali harus merantau mengikuti suami yang setia pada Negara di KPP – Kantor Pelayanan Pajak. Setelah Medan, Jakarta, Yogya, Tegal yang demikian nyaman; penuh pertanyaan di benak aku bertanya : seperti apakah Surabaya?
Setahun sesudah kepindahan, seorang teman menawariku kuliah kembali.
Tentang perjalanan keilmuan, bagai seorang awak kapal yang senantiasa mengikuti keman arah angin berlayar. SMA, aku ingin sekali masuk ITB karena begitu tergila-gila dengan outerspace. Dengan meninggalnya ayah, cita-cita itu harus beralih. Aku harus ambil jalan pintas, kalau mau membantu Mamah. Alhamdulillah, aku diterima di STAN dan IESP – Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan UGM.
STAN, mungkin bukan impianku. Meski IP baik – selalu di atas 3 – aku merasa ini bukan duniaku. Aku menjelajahi lagi dunia keilmuan – ambil MIPA univ .Terbuka dan Ma’had al Ishlah. Semua tak terselesaikan ketika kemudian aku menikah dan satu persatu anak lahir. Aku merasa lebih baik mendampingi suami kuliah Ajun Khusus dan meneruskan D IV.
Bahkan sebelum menjadi penulis, aku adalah orang yang suka membaca.
Apalagi ketika menulis menjadi pilihan hidupku, sungguh, kehidupan para ulama yang senantiasa belajar dan mengajar kerap menghantui. Maka, seorang teman di Surabaya –Vina namanya- menawariku kuliah di kampus tak jauh dari rumah. UNTAG atau Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya. Rasanya hati melonjak gembira.


”Aku kuliah sastra ya, Mas?” pintaku pada suami.
Suamiku sepertinya keberatan.
“Psikologi aja , Mi. Bermanfaat untuk anak-anak.”

PSIKOLOGI, belajar apa?

Saat mengisi blanko pendaftaran, aku bahkan tak tahu Psikologi itu apa selain bahwa jurusan inilah yang diridhoi suamiku! Meski demikian aku tetap mencoba berpikir positif, siapa tahu nanti bisa kuliah sastra juga:-D.
Semester pertama, seperti mengingat kembali masa-masa awal di bangku STAN – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jurangmangu – Jakarta (sebetulnya masuk wilayah Tangerang, tapi lebih dekat ke Jakarta). Bahasa Indonesia, Agama, Bahasa Inggris, ISBD. Sengaja aku tak menggunakan transkrip nilai di STAN, lebih baik mengawali semua betul-betul dari awal agar api keilmuan yang memercik , menyala lebih sempurna.
Selain MKDU – Mata Kuliah Dasar Umum, semester I mulai diperkenalkan dengan Psikologi Umum dan Filsafat – Ibu yang melahirkan ranah psikologi. Semester demi semester berikutnya, aku semakin bergairah. Apa yang selama ini menjadi pertanyaan : apa yang dipelajari dari manusia? – sedikit demi sedikit terjawab sudah. Bagi rekan-rekan yang penasaran dengan Psikologi, silakan simak mata kuliah kami berikut sedikit penjelasannya :
Semester I : Agama, Bahasa Indonesia, ISBD, Bahasa Inggris, Filsafat Umum, Antropobiologi, Sosiologi, Psikologi Umum I, Statistik I
Semester II : Pendidikan Kewarganegaraan, Filsafat Manusia, Antropologi, Psikologi Umum II, Statistik II, Psikologi Faal I, Psikologi Perkembangan I, Psikologi Sosial I, Psiologi Kepribadian I
Semester III : Kode Etik Psikologi, Filsafat Ilmu & Logika, Psikologi Faal II, Psikologi Perkembangan II, Psi. Sosial II, Psi. Kepribadian II,, Psi. Pendidikan, Psi. Industri & Organisasi, Psi. Klinis, Psi. Motivasi, Psikodiagnostik I
Semester IV : Kesehatan Mental. Psi. Belajar, Metode Penelitian Kuantitatif, Psi. Eksperimen, Psikometri, Psi. Konseling, Psi. Komuikasi, Psikodiagnostik II – Observasi , Psi. Forensik
Semester V : Psi. Kognitif, Konstruksi Alat Ukur, Psi. Proyektif, Metode Peneltian Kualitatif, Psi. Abnormal, Tes Inventory, Psikoterapy, Teknik Konseling
Semester VI : Tes Inteligensi, Tes Grafis & Wartegg, Psikodiagnostik III – Interview, Dinamika Kelompok, Teknik Penyusunan Proposal & Skripsi, Desain Pelatihan
Semester VII : Tes Bakat Minat, Tes Roscharch, TAT/CAT (Thematic Apperception Test/ Children Apperception Test), Seminar Psikologi , IKD ( Ilmu Kealaman Dasar)

* Mata kuliah di atas sesuai dengan kardi (kartu studi) saya….. Bisa berbeda, sesuai dengan semester gasal/genap yang diambil, atau mata kuliah wajib yang merupakan prasyarat ke jenjang berikut.

PSIKOLOGI : cukup membaca buku saja?

Sebagian orang berpendapat, mempelajari manusia cukup lewat buku saja. Banyak trainer & motivator andal sama sekali tidak punya latar belakang psikologi. Toh mereka bisa berkomunikasi baik dengan audience.
Anggapan tersebut sama saja ketika kita berpikir, kalau sakit gigi cukup minum antibiotik ditambah pengurang rasa sakit. Ke dokter, paling-paling resepnya itu lagi. Banyak sekali buku parenting yang dijual di tengah pasar buku terkait ibu, anak, keluarga, suami dsb.
Pendapat tersebut tak ada salahnya, sepanjang buku-buku tersebut untuk memperkaya khazanah pribadi. Tetapi, di titik tertentu, orang yang memiliki kompetensi memadai diperlukan.
Apa sih kategori anak nakal? Cerdas? Trouble maker? Bagaimaa perkembangan saat ini misalnya indigo? Bagaimana dengan keluarga yang berantakan? Lelaki & perempuan dengan masa puber kedua?
Silakan simak catatan berikut .

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Mempelajari perkembangan manusia sejak fetus hingga masa empty nest- masa tua. Yang dipelajari tentu bukan fisiologi sekalipun hal tersebut pun dibahas secara singkat. Ibu-ibu dengan gangguan emosional yang parah di masa mengandung, besar kemungkinan memiliki anak dengan emosi serupa. Bila, di kemudian hari sang anak mengalami banyak hambatan perkembangan, biasanya akan dirunut ke belakang sejarah hidupnya baik dari auto -anamnesa maupun allo- anamnesa. Sejarah hidup yang dipelajari macam ini akan membantu semua pihak untuk bersikap lebih bijak dan tepat.
Psikologi perkembangan memakai teori Erik Erikson, Jean Piaget, Sigmund Freud, Noah Chomsky dan banyak lagi.
Psikologi tidak menggunakan kata ’pasti’ sebab kepribadian manusia sementara mengalami psikodinamika. ”Kecenderungan” lebih sering digunakan untuk mengungkap perilaku, personality/kepribadian, kecerdasan dll.
Belajar psikologi perkembangan, membuatku menyadari tingkah laku anak-anak; baik anak-anakku , anak temanku, anak-anak pada umumnya yang kutemui di jalan. Oh, anakku kurang ini di masa perkembangan balita, pantes saja dia begini….Oh, anakku sering kupupuk ini pas balita, pantas saja dia sekarang suka begitu….

PSIKOLOGI KLINIS
Inti dari mata kuliah ini adalah,
“ bagaimana yang sehat agar tetap sehat, yang sakit tidak bertambah sakit.”
Psi. klinis meliputi wilayah luas mulai anak, remaja, dewasa, gerontology, komunitas. Psi. klinis semacam pengantar bahwa dimanapun terdapat manusia dan komunitasnya; potensi maupun permasalahan akan dimungkinkan timbul. Apa yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan, minimal meminimalisasi hal-hal buruk dalam perilaku dan perkembangan psikis?

PSIKOLOGI ABNORMAL
Psi. Abnormal membahas semua perilaku menyimpang seperti depressi, gangguan mood, anxiety, perilaku bunuh diri, voyeurism, fethishisme, dsb. Seringkali, perasaan menjadi merinding tiap kali melihat begitu banyak masalah kejiwaan yang menimpa masyarakat modern, terutama masyarakat metropolis.
Salah satu yang ditengarai menimpa jutaan warga AS (tak terkecuali Indonesia) adalah MPD – Multiple Personality Disorder. Jika kita pernah membaca 24 wajah Billy dan Sybill , begitulah kira-kira.

PSIKOLOGI KONSELING, TEKNIK KONSELING
Kuliah psikologi, meski tidak selalu harus menjadi terapis, diperlukan pengetahuan untuk bisa membantu orang lain. Konseling berbeda denga sekedar curhat. Konselor diharapkan mampu mengarahkan, setidaknya mendampingi, klien untuk bertanggung jawab pada pilihan hidupnya sendiri.
Seringkali hal ini bertentangan dengan hati nurani.
Bagaimanapun konselor tidak bisa mengambil alih tanggung jawab klien selaku manusia utuh. Semisal, seorang suami yang datang ke konselor dan berharap ia bisa tetap mempertahankan WIL serta rumahtangganya. Konselor tak berhak men judge : anda harus setia pada istri. Ya kalau ternyata sang suami mau, kalau tidak? Seorang konselor mendampingi hingga orang tersebut siap mengambil pilihan. Mau terus berselingkuh? Silakan tanggung sendiri akibatnya, termasuk kehilangan istri dan anak-anak.
Seorang terapis pernah bercerita, ia menangani kasus perempuan amat cantik yang dianiaya suami. Terapis tersebut menawarkan bantuan, bahkan jika dirasa perlu dibawa ke ranah hukum. Tetapi perempuan tersebut menolak,
“suami saya lah yang mensupply seluruh kebutuhan hidup, termasuk perjalananan saya ke luar negeri.”
Rupanya perempuan tersebut tidak bisa membendung hasratnya untuk shopping rutin ke luar negeri. Jika itu pilihannya, maka terapis ‘hanya’ memberikan panduan bagaimana bisa mengatasi rasa sakit.

PSIKODIAGNOSTIK
Inilah mata kuliah yang membuat pusing, ngos-ngosan tetapi sungguh, memberikan ilmu yang luarbiasa. Dulu dikenal sebagai PD I- VIII, sekarang lebih disebut dengan alat yang digunakan. Misal tes Ro (Tes Rorscharch), tes TAT/CAT, tes Inteligensi, dll.
Psikodiagnostik adalah suatu ilmu, alat , yang digunakan psikolog untuk dapat memperkirakan kecenderungan klien baik IQ, kepribadian, bakat dan minatnya.
Misalnya tes Inventory yang banyak menggunakan pernyataan verbal sebagai ungkapan. Tes ini banyak digunakan dalam perekrutan seperti EPPS, 16 PF, Pauli, SOV. Hasil tes dapat menunjukkan kecenderungan si testee yang sangat bermanfaat apakah ia akan menduduki level assisten, manager, dsb ? Apalagi bila dilengkapi tes bakat minat.

STATISTIK , PSIKOMETRI
Angka-angka adalah hal yang akrab dengan dunia psikologi. Bagi para peneliti, statistik dan psikometri adalah hal yang wajib dikuasai. Hal ini penting ketika akan melakukan eksperimen atau penelitian lain. Adakah hubungan antara konsumsi timbal bagi kecerdasan ? Bagaimana hubungan antara pasien HIV dengan pemahaman mereka akan agama ? Aadakah hubungan kemampuan berkomunikasi pada penderita pendengaran (hearing loss) dengan kemampuan mengendalikan emosi?

DOSEN-DOSEN KAMI
Nyaris semua dosen kami pandai berinteraksi dengan orang lain, tampil sebagai sosok yang mempesona. Pakaian rapi, sophisticated, ramah. Seringkali kami berbisik di belakang : ih, bu ini cantik banget, bu ini manis banget. Kupikir, karena mereka diminta tampil untuk memberikan solusi bagi permasalahan orang lain, mereka juga harus mampu memperlihatkan – dibalik semua masalah pribadi yang pastinya ada- bahwa mereka adalah sosok kuat dan bertalenta.
Untuk mengarungi badai kehidupan, bukan hanya sosok tangguh yang dibutuhkan. Diperlukan kejelian, kemampuan memahami masalah, berdamai dengan masalah, mungkin menikmati masalah. Dalam konsep Islam, itulah yang dinamakan sabar.

PSIKOLOGI UNTUK LELAKI ATAU PEREMPUAN?
Herannya, tokoh psikologi yang muncul ke permukaan begitu banyak laki-laki. Lelaki tidak menjadi feminin ketika ia masuk fakultas psikologi. Banyak dosen lelaki kami yang tetap maskulin. Mereka hanya terlihat lebih mampu mengendalikan diri.
Untuk perempuan, psikologi sangat cocok digeluti. Bukan hanya sebagai ilmu yang dipakai untuk menterapi diri pribadi, tetapi juga untuk anak, suami, keluarga, masyarakat, pendidik dan seterusnya.

KAMPUSKU, UNTAG
Rasanya bersyukur sekali bahwa Allah SWT memperjalankan aku kemari.
Banyak hal positif kutemukan, ilmu baru yang membuatku lebih mawas diri.
Untag terletak di Semolowaru 45 Surabaya, 15 menit dari rumahku. Kampusku sederhana, dengan uang SPP perbulan yang terjangkau. Beberapa tampilan fisik mulai berubah mulai taman yang diperindah, bangunan-bangunan di tepi jalan seperti toko buku, gerai PMI, bank Jatim, Pos, klinik juga ministore. Di toko buku, aku senang sekali melihat-lihat kumpulan jurnal psikologi yang dijual Rp. 50,000per judul/ volume. Sesekali kalau ada uang aku membeli sebagai tambahan pengetahuan.
Beberapa kali aku mewakili kampus mengikuti Psychodebate, dan lolos ke putaran berikutnya meski belum sampai babak final. Di Psychodebate kami diminta mengupas masalah yang sedang berkembang seperti PSK, homeschooling, videogame, dll.
Ada kantin di belakang kampus yang menjadi tempat rehat buat kami kalau lapar saat kuliah hingga siang, atau harus mengejar urusan praktikum.
Ada masjid Baitul Fikri di sebelah parkiran yang menjadi tempat rehat dan sholat magrib saat harus kuliah malam.
Ada lab. psikologi tempat kami berlatih menguasai bermacam alat psikodiagnostik, tempat kami melakukan roleplay, mengetes testee, berdiskusi dengan para asistan lab hingga malam.
Ada para dosen tempat kami terkadang curhat masalah pribadi dan mereka mendengarkan penuh perhatian.

Sekarang, aku berada di semester VII, baru saja menyelesaikan KKN.
Rasanya waktu berlalu begitu cepat, masih banyak yang ingin kupelajari dan kunikmati di kampus. Apapun itu, aku merasa sedih harus memikirkan bahwa sebentar lagi harus meninggalkan Untag, meninggalkan dosen-dosen yang kucintai. Tetapi hidup tak berhenti di masa lalu, tak menetap di masa sekarang. Hidup melangkah ke masa depan.

But time growing old, teaches all things ~ Aeschylus
Lost time is never found again ~ Benyamin Franklin

Sinta Yudisia
Fak. Psikologi Univ. 17 Agustus 1945, Surabaya

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner

Jatuh Cinta (Lagi) bukan Pada Pasanganmu

Beberapa teman akhir-akhir ini curhat tentang kisah cinta mereka, baik yang sudah menikah atau masih dalam tahap penjajagan. Mengapa urusan cinta (atau hati) mampu meresahkan mereka yang berusia 15 tahun, 25, 35, atau 45 tahun bahkan 55 dan 65 tahun?
Jatuh Cinta memang tampak sepele tetapi emosi yang satu ini memang demikian istimewa, sebab demikianlah fitrah manusia yang dapat tertarik dengan lawan jenisnya.

Jatuh Cinta
Perlu diingat.
Setiap orang bisa jatuh cinta; remaja SMP atau orangtua, bahkan mereka yang telah menikah selama belasan atau puluhan tahun. Proses emosi dan chemistry rumit ini melibatkan hormon, otak, proses sensori persepsi, pengalaman, value dan banyak sekali elemen rumit. Makanya, kalau ditanya, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia?
”Pokoknya aku cinta, titik. Nggak bisa menjelaskan. Bukankah itu true love?”
Maka, tiap kali memikirkannya, yang ada hanya detak jantung yang berdegup lebih cepat. Merasakan kesenangan, kebahagiaan. Memikirkannya tersenyum, tertawa, berbicara, melintas; menciptakan atmosfer kebahagiaan yang sulit dideskripsikan.
Begitu rumitkah cinta?
Atau begitu sederhana?
Jangan sepelekan perasaan cinta terhadap lawan jenis, sebab ia bisa menghinggapi siapa saja, mereka yang berkomitmen teguh dalam Islam pun suatu saat akan mengalami resah saat bertemu seseorang, lawan jenis yang memukau pikiran dan perasaan. Entah sosok, keberanian, caranya mengemukakan pendapat, kewibawaan, kecantikan yang sederhana, atau sosok keibuannya.
Fall in love saat masih remaja hingga dihinggapi virus puppy love masih dimaafkan; tetapi bagaimana bila jatuh cinta lagi pada orang yang bukan pasangannya? Solusi apa yang diperlukan?
Bagi yang belum pernah jatuh cinta mungkin akan berkomentar, gitu aja kok masalah?
Dalam novel Harafisy (Nagouib Mahfouz) dikisahkan dalam bab awal, betapa Asyur, anak asuh Syaikh Afra Zaydan yang memayunginya dengan sayap kebaikan tumbuh sebagai pemuda perkasa yang polos dan sholih serta baik hati. Sekalipun kebaikan hatinya sering diartikan kedunguan oleh Darwis Zaydan, Asyur berusaha tabah dan teguh. Namun hatinya terombang ambing saat terpaksa tinggal bersama tuan Zayn al Naturi dan memelihara kuda serta ternaknya : Zaynab, putri sulungnya yang melintas sesekali saat akan berangkat berdagang. Asyur , berusaha melebur rasa tetapi ia tak kuasa menolak saat tanpa sengaja matanya dan mata Zaynab bertemu.
Bisa dibayangkan betapa resah seseorang yang hanya terlahir sebagai harafisy, seorang papa kelana dan jatuh cinta pada putri tuannya?

Rational Emotif Albert Ellis
Klinisian yang satu ini memilih cara rasional yang menghantam emosi saat menterapi orang yang mengalami permasalahan.
Memilih cara berbeda dengan Carl Roger dengan CCT (client centered therapy) yang lembut memperlakukan klien, Albert Ellis memilih cara konfrontatif. Untuk permasalahan cinta, saya lebih menyukai cara RE Albert Ellis. Sebab perasaan yang terombang ambing, bila dihanyutkan, akan semakin terbawa. Cinta terhadap lawan jenis seharusnya tidak hanya melibatkan perasaan atau emosi semata, tetapi di titik tertentu rasio harus dilibatkan pula. Mengapa? Sebab cinta memang bicara perasaan, tetapi dampak cinta itu menyangkut kehidupan realita orang yang bersangkutan, teman-teman, keluarga, pekerjaan, bahkan masa depannya.
Cara Albert Ellis dengan Rational Emotif mungkin kira-kira begini.
T (therapist) & K (klien).
K : saya jatuh cinta lagi dengan perempuan di kantor. Ia cerdas, enak diajak diskusi. Pengetahuannya lumayan. Kalau dibilang cantik, biasa aja. Lebih cantik istri saya. Hanya ya….beda. Sebut saja istri saya Nina, teman saya Leni
T : anda tertarik padanya karena ia berbeda dengan istri. Leni enak diajak diskusi.
K : ya…begitulah. Ah , saya masih cinta istri saya. Kami dikaruniai dua anak yang lucu. Usia pernikahan kami baru enam tahun. Tidak ada masalah dalam hubungan cinta saya dan Nina. Semua baik-baik saja, mulai dari masalah kamar hingga keuangan. Friksi tentulah ada. Sesekali orangtua saya atau orangtua Nina memang bikin kesal, tapi nggak seberapa. Tapi….
T : ya…?
K : Leni beda. Apalagi Leni punya masalah dengan tunangannya yang hingga kini masih menggantung kapan mereka sesungguhnya mau menikah. Leni sering curhat. Awalnya saya hanya mendengar, lama-lama simpati, dan saya suka cara Leni mengatasi masalah. Easy going, berusaha ceria, menganggap setiap orang pasti punya masalah juga. Empati Leni tinggi.
T : intinya, Leni dan Nina beda.
K : mungkin begitu ya?
T : anda sudah memutuskan.
K : belum. Untuk itulah saya kemari.
T : jadi anda bertanya apa yang terbaik.
K : ya…
T : tidak ada yang terbaik.
K : lho kenapa?
T : kalau itu datangnya dari saya. Anda harus memutuskan sendiri. Menikahi Leni, misalnya.
K : bagaimana dengan Nina? dia…pasti sakit hati.
T : jadi anda berharap bisa dapat Leni, Nina juga, dan tidak ada yag sakit hati? Anda berharap semua kejadian akan berjalan baik-baik saja dengan apa yang telah anda lakukan, dengan apa yang anda putuskan? Anda harus sadar, buat list, kalau mau Leni maka akan kehilangan Nina dan 2 anak, mungkin pekerjaan. Orangtua, dukungan teman, kredibilitas.
K : saya tidak mau kehilangan Nina dan 2 anak saya! Pekerjaan yang sudah saya rintis sekian lama!
T : tapi itu kenyataannya bila anda tetap mempertahankan Leni. Leni bukan Nina! Dia mungkin tidak bisa memberi 2 anak, tidak bisa mendampingi anda seperti Nina.
K : bagaimana dengan …poligami, misalnya?
T : oke. Jadi kapan tepatnya anda akan menikahi Leni. Tak perlu izin ke Nina kan?
K :…..saya belum tau.
T : jadi anda juga belum tahu bagaimana caranya berpoligami. Sudah bilang ke Leni?
K : sempat ada pembahasan ke arah situ.
T : bagus, kalau begitu segera saja libatkan Leni dan Nina…

……………………..
Begitulah kira-kira cara Rational Emotif.
Anda bisa memprediksi apakah lelaki itu pada akhirnya memperistri Leni. Ia yang masih muda, katakanlah sekitar 30 an tahun, sedang dalam masa early adulthood dengan ledakan energi. Benturan dengan realitas setidaknya membuat dirinya berpikir, mau dikemanakan cinta dan perasaanku terhadap Leni, bila ternyata tak ada solusi? Membayangkan poligami yang terus dikawal oleh therapis, bukan keputusan mudah. Menyiapkan 2 rumah, membagi penghasilan, membagi hari, mencoba membayangkan konflik yang muncul; cinta tak selalu berurusan dengan emosi semata. Di titik tertentu, ketika rasio dilibatkan, perasaan mulai tawar menawar.

Teknik Jatuh Cinta
Banyak orang bisa memaksakan diri ’jatuh cinta’ saat terpaksa. Sebut saja terpaksa menikah dengan jodoh pilihan orangtua/ ustadz, terpaksa menggeluti pekerjaan X meski minatnya tak disitu. Seorang gadis pernah dites bakat minat, semua mengarahkan pada Literary atau kecenderungan sastra. Orangtuanya mengarahkan agar ia menjadi paramedis, sebab paramedis lebih banyak memiliki lapangan pekerjaan. Meski awalnya tak suka, lama-lama ia mencintai dunia kerja berbau karbol dan perlahan meninggalkan impiannya menjadi penulis atau editor. Ia mencintai dunia kerjanya sekarang, dan berniat melanjutkan studi di bidang yang sama.
Cinta dapat ditumbuhkan.
Bagaimana menghilangkannya?
Selain rational emotif Albert Ellis yang terus menggiring pikiran dan emosi seseorang untuk siap berbenturan dengan realita, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Kita tidak bicara skala cinta Rubin, mana ada orang jatuh cinta mau di tes psikologi untuk membuktikan seberapa dalam cintanya? Tetapi bila berniat menghilangkan cinta pada seseorang yang bukan pasangan, ada beberapa teknik yang saya coba rangkum dari berbagai sumber . Sebut saja X, orang yang bukan pasangan.
1. Ikat diri dengan rasa bersalah, bawa foto pasangan atau barang kenangan kemanapun, terutama saat di kantor atau bertemu orang yang sedang disukai (X)
2. MSG, musik klasik, love song akan menguatkan perasaan. Bila bersama orang X, hindarkan makan dengan kadar MSG tinggi seperti bakso, mie ayam. Hindarkan pula memutar musik klasik atau love song. Putarlah lagu –lagu yang bersemangat
3. Banyak aktivitas
4. Berdoalah, semoga anda dan X dapat menjadi saudara atau sahabat sejati, tanpa fitnah
5. Membaca Quran. Ingat, cinta adalah emosi. Bacaan quran, mampu menenangkan gelombang otak hingga membuat reaksi kimiawi tak berlebihan, terutama hormon2 yang mungkin bekerja berlebihan saat bertemu X
6. Carilah nasehat bijak, cari pula note-note tentang pernikahan yang banyak tersebar.

Maka simak pendapat Albert Ellis yang kurang lebih demikian.
~ berpikir & bertingkah laku irrasional adalah keadaan alami yang menimpa kita semua ( termasuk jatuh cinta) maka cobalah menantang gagasaa irrasional yang menyebabkan gangguan perilaku~
Ujilah gagasan. Lihatlah, betapa irrasionalnya

(saran untuk teman-teman yang sedang jatuh cinta lagi. Semoga menjadi solusi. Kalaupun Rational Emotif Albert Ellis masih belum pas, semoga ada terapi lain)
Sinta Yudisia
Fak Psikologi Untag

Kategori
Catatan Perjalanan Kuliah Psikologi mother's corner Oase Psikologi Islam

MEMANIPULASI TES PSIKOLOGI

Sudah pernah menjalani tes psikologi?
Bagi adik-adik SMU, biasanya sekolah mengadakan beragam tes minat bakat. Tes IQ juga dilakukan di sekolah-sekolah; ada yang mulai SD. Bagi rekan-rekan yang melamar pekerjaan, biasanya juga menjalani serangkaian psikotest.
Pertanyaannya sekarang : bisakah tes psikologi dimanipulasi agar menghasilkan hasil yang baik atau pur-pura baik – faking good?

Seorang teman bertanya apa yang harus dilakukan, kunci-kunci jawaban bila harus menjalani psikotest. Ia berkata, setiap tahun perusahaannya melakukan tes tersebut, terutama ketika mnyeleksi jenjang manager. Teman ini ingin sekali lolos, ia ingin diberitahu bagaimana agar hasil tesnya baik.

EGO INVOLVEMENT
Ego involvement adalah penekanan sangat penting yang diberikan tester sebelum test berlangsung. Apa sih ego involvement? Tester akan memberikan masukan bahwa semua ini demi kepentingan testee (orang yang ditest); bukan kepentingan perusahaan apalagi biro psikologi. Mengetahui hasil tes yang sesungguhnya adalah tujuan alat test tersebut dibuat, bukan hasil fiktif demi kepentingan sesaat. Banyak sekali kunci-kunci dijual tentang psikotest, tetapi apakah berfaedah untuk testee?
Sebuah perusahaan pernah membutuhkan assisten manager. Syaratnya hanya cerdas. Ketika ditanya, apakah tidak membutuhkan kriteria lain? Dikatakan tidak. Perusahaan X tampaknya tidak cukup percaya pada tes psikologi dan hanya mengandalkan kecerdasan. Maka seorang karyawan cerdas bernama A diterima. Belakangan A dirawat di Rehabilitasi Mental. A bukannya tak cerdas, sangat brillian malah. Tetapi ia ternyata tak bisa bekerja di bawah tekanan. Ketahanan kerjanya tak cukup baik, apalagi dibawah deadline waktu dan semburan negatif atasan. A stress berat, belakangan ia diketahui memiliki serangkaian karakter bermasalah. A bahwa harus dirawat beberapa waktu tetapi pada akhirnya sembuh. Syarat kembalinya ke kantor X tersebut : jangan di bawah atasan yang dulu. Di bawah atasannya kini yang lebih kooperatif, A melejitkan potensi.
Kita pembohong, tidak konsisten, tidak mampu berkomunikasi, tidak cukup punya nalar, emosional, agresif dlsb; takutkah untuk mengetahui sisi ”gelap” diri kita yang sesungguhnya? Demikian takut untuk melihat kebenaran hingga menutupinya dengan topeng, berpura-pura baik agar lolos tes?
Melihat hasil tes psikologi yang sesungguhnya, sangat penting bagi diri sendiri. Kalau hasil tes menunjukkan kita orang yang tidak teliti, tidak punya daya tahan kerja yang baik, sementara minat ingin ke bidang-bidang yang membutuhkan kecermatan tinggi, sangat berbahaya bila memaksakan diri. Kelak; perasaa jenuh, putus sa bahkan depresi akan menghinggapi bila hasil tes yang sesungguhnya ternyata direkayasa. Tetapi bila hasil tes tersebut menjadi data dan fakta yang digunakan demi up grading, alangkah baiknya!
Bila hasil test menujukkan kita orang yang cepat lelah, di sisi lain merupakan orang yang agresif; maka kita akan menghindari bekerja dalam tekanan tinggi yang menyebabkan daya tahan cepat terkuras. Orang yng sangat lelah cenderung sensitif, tegangan emosinya tinggi.
Ego involvement, berarti testee diminta bersungguh-sungguh, berupaya jujur agar hasil tes dapat optimal dan mencerminkan sebenar-benar kemampuan.

PERSIAPAN TEST

Seorang rekan bertanya, apa yang harus dilakukannya dalam tes Wartegg?
”Katanya, kalau bertemu garis lengkung harus begini, ketemu titik harus begitu, ketemu garis harusnya jangan demikian ya Mbak?”
Ups.
Okelah, mungkin ada beberapa kunci yang dijual bebas dipasaran sehingga alat tes tertentu tidak valid lagi. Benarkah demikian?
Beberapa orang sudah berkali-kali mengerjakan tes Pauli atau Kraepelin, tetapi bagaimana hasilnya?
Simak kisah testee bernama samaran Bayu.
Ia mengaku berkali-kali mengerjakan tes Pauli, untuk kesekian kali di tes lagi. Ternyata, meski mengenal tes tersebut berkali-kali, tetap saja apa kondisi dirinya saat itu mempengaruhi. Bayu yang sedang sangat lelah, tertekan, menunjukkan hasil tes Pauli yang demikian.
Lain lagi dengan Lola (samaran). Gadis cerdas, ber IQ 122. Tetapi untuk mengerjakan tes Kraepelin yang sangat sederhana, sebagian besar skornya meunjukkan kategori kurang sekali!
Apa yang salah dengan Bayu dan Lola?
Bayu : terlalu lelah, tertekan. Ia yang sudah berkali-kali mengerjakan tes Pauli yang hanya menjumlahkan angka 1 digit dari atas ke bawah, nyaris tak menghasilkan skor dengan kategori baik. Seharusnya, untuk tes apapun, fisik dan mental harus dipersiapkan. Tidur cukup, makan cukup, tinggalkan sejenak persoalan di belakang (kecuali untuk beberapa tes proyektif yang memang diperuntukkan untuk menggali permasalahan saat ini).
Lola : gadis cerdas ini cenderung meremehkan hal kecil. Kebetulan, ia juga pernah mengerjakan tes yang katanya ,”…mirip banget dengan yang ini.” Ia terlihat santai, cuek, dan tak terlalu menggubris instruksi. Tes Kraepelin yang mirip tes Pauli akhirnya gagal di tangannya. Lola juga mengenakan gelang di tangan kanan, sesuatu yang harusnya dilepaskan saat tes sebab sangat mengganggu proses motorik. Semua perlengkapan (termasuk perhiasan, alat elektronik) yang mungkin mengganggu sebaiknya dilepas saja. Dan, perhatikan instruksi. Sebab ini menentukan kualifikasi, apakah anda orang yang mengerti rule atau tidak. Secerdas apapun orang, bila tak mau mengikuti rule dalam permainan, ia akan tercampak.
Belajar dari Bayu dan Lola rasanya cukup bagi kita bahwa persiapan fisik dan mental adalah bekal paling berharga, bukan bocoran jawaban test

PERHATIKAN WAKTU

Hal ini berkaitan dengan instruksi.
Apa yang dikatakan tester? Waktu tidak terbatas, waktu sangat terbatas, waktu terbatas tetapi cukup? Soal harus dikerjakan semua?
Tidak ada yang aneh dalam tes psikologi. Anda tidak harus menggambar rancangan 3 dimensi yang rumit, atau mengarang sebuah cerita novel untuk test TAT/CAT. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, jujurlah dan cobalah untuk waspada terhadap waktu yang ditegaskan oleh tester.
Waktu penting untuk banyak hal.
Anda akan terlihat sebagai orang yang cepat merespon, lambat merespon bila ternyata tidak sesuai waktu yang ditentukan. Jangan terburu-buru juga, jadilah apa adanya. Terburu-buru yang mengabaikan ketelitian juga tak akan bagus.

BE YOURSELF
Awalnya, saya tak terlalu percaya tes psikologi (padahal saya kuliah di sini)
Ternyata, kasus menghebohkan Andrea Yates (naudzubillahi mindzalik…) yang membunuh 5 anaknya sediri di tahun 2001, salah satu tes yang digunakan untuk merekam profile kepribadiannya adalah TAT.
Tes-tes sederhana yang akan dilalui pada tes bakat minat, tes pekerjaan, tes IQ hanyalah serangkaian tes seperti kalau mengerjakan soal evaluasi ujian. Tidak usah takut! Jadilah diri sendiri dan cermati profile yang muncul nanti. Saran dari psikolog tentu jauh lebih berharga bagi pengembangan kapasitas diri daripada berlaku faking good/faking bad yang akhirnya menyembunyikan jatidiri sesungguhnya.
Seberapa lama bisa memakai topeng?

Next : mengenal berbagai tes psikologi, InsyaAllah…

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner My family Psikologi Islam

Anak yang tak punya apa-apa : tak punya motivasi, tak punya cita-cita, tak mau sekolah dan tak mau bekerja

 Anak yang tak punya apa-apa : tak punya motivasi, tak punya cita-cita, tak mau sekolah dan tak mau bekerja

            Sebuah kasus nyata, saat dosen sedang membahas dinamika kelompok.

            Contoh terkecil adalah keluarga, dimana konsep-konsep behavioristik sederhana berlaku : reinforcement (perkuatan), modeling (meniru), identifikasi.

            Maka kami terpaku ketika sang dosen bercerita sebuah kasus, nyata, nama & tempat disamarkan.

            Sebut namanya Andre ( seperti nama seorang tokokhku di Existere …J) dan Soni. Andre sekitar 20 tahun, adiknya sekitar SMU. Anak pejabat bank , hidup kaya, serbar berkecukupan. Yang mengherankan, Andre tak punya semangat apa-apa. Tak mau sekolah, mogok kuliah, nggak mau kerja. Kerjanya main melulu, menjual apapun yang ada di rumah. Andre nggak peduli, kalau mau ke suatu tempat naik pesawat PP, tinggal minta, tanpa tujuan jelas.

Kategori
Catatan Perjalanan da'wahku Kuliah Psikologi Oase Psikologi Islam

Islamic Psychoterapy – Al Ilaj An Nafs

 Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar kata Psikologi? Orang gila, tes IQ, Psikoanalisa Freud yang nyeleneh, atau apa?

Awalnya, ketika ingin kuliah lagi di sastra, Suami tidak membolehkan. “Ngapain, Mi? Kalau Psikologi kan bagus buat ilmu mendidik anak-anak.”

Begitulah, setengah terpaksa saya duduk di sana, belajar tentang sejarah Psikologi dan ‘nenek moyang’ Psikologi : Filsafat ( Filsafat Umum, Filsafat Manusia, Filsafat Ilmu & Logika).

Semester I dan II, masih belum tahu mau kemana sekalipun IP Alhamdulillah, 4. Semester III dan IV terus berjalan. Lama-lama semakin penasaran, pun saya tak hanya menelan apa yang diberikan dosen. Literatur lain dari para ulama muslim, kliping koran, jurnal-jurnal psikologi saya coba fahami dan telaah. Belajar, belajar dan terus mencoba mengkaji.

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner Oase

Lumayan, Nggak apa-apa, Terserah

Apa itu yang menjadi respon anak kita?
Kadang-kadang? Sering?
Kalau sering, hati-hatilah.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak adalah pribadi rentan yang sangat membutuhkan perhatian istimewa. Itulah sebabnya Klinis Anak saat ini dimasukkan dalam Psikologi Perkembangan (meski masih terdapat beberapa perbedaan pendapat). Menangani anak-anak yang memiliki gangguan emosional, jauh lebih sulit daripada menghadapi orangtua yang stress.
Orangtua saat masuk angin, pusing, lapar, sakit apapun bisa bilang, ”Mama lagi capek, mau tidur dulu.”
Atau ketika orangtua sedang punya masalah, dengan blak-blakan berkata, ”Papa lagi banyak pikiran! Kalian jangan ribut! Tenang sedikit kenapa sih?”
Anak-anak tak bisa melakukannya.

Mereka sakit fisik mungkin masih bisa ngomong. Tapi apa mereka bilang kalau punya beban di hati?
”Nisrina lagi banyak pikiran Miiii..jadi jangan bentak-bentak aku!!”
Memangnya ada anak yang bisa ngomong begitu?
Tentu saja tidak.
Mereka menyerap, menyimpan, memendam, mengubur rasa sakit ketika dimarahi, disindir, tidak diperhatikan, diabaikan oleh lingkungan . Mereka berpikir tapi tak bisa menemukan jalan keluar melihat pertengkaran orangtua, melihat kekurangan orangtua, melihat beban orangtua.

Sesuatu yang mereka simpan baik-baik dalam diri yang paling dalam, pada akhirnya akan membentuk suatu dinding-dinding atau sekat. Kurt Lewin mengakatakan central cell yang membedakannya dengan peripheral cell. Central cell demikian rahasia, tersimpan paling dalam, tak mudah didobrak oleh apapun bahkan oleh waktu dan pengalaman.

Sigmun Freud, tokoh terkenal aliran psikoanalisa lebih dahsyat lagi mengatakan, kerusakan 5 tahun pertama nyaris tidak bisa disembuhkan! Jadi, berhati-hatilah, jika punya putra putri usia balita.
Erikson masih punya kata ’ampun’. Ia membagi tahapan usia manusia menjadi 8 tahap :
I. Basic trust vs basic mistrust (0-1 th)  kepercayaan
II. Autonomy vs shame & doubt (1-3 th)  kemandirian/otonomi
III. Initiative vs guilt (3-6 th)  inisiatif
IV. Industry vs inferiority (6-12 th) ketekunan, kreativitas
V. Identity vs role identity (12-20 th)  identitas
VI. Intimacy vs isolation (20-30 th)  keintiman
VII. Generativity vs stagnation (30-65 th)  kemapanan, kepedulian
VIII. Ego integrity vs ego despair (> 65 th)  integritas

Di tahapan usia masing2 ada keunikan, tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dilalui. Karena satu dan lain hal, tahap II tak bisa dilalui dengan baik. Mungkin orangtua terlalu sibuk, orangtua masih dibebani ekonomi sulit dsb. Maka tahap II ini akan menjadi ’hutang’ di tahap perkembangan yg berikut.

Katakanlah, kita memiliki 4 orang anak (seperti saya  ). Dengan jarak 2 tahunan, otomatis anak pertama pasti akan mengalami kekurangan perhatian dengan 3 adik yg menyusul berikutnya. Saat seharusnya ia mulai bersikap mandiri, penuh inisiatif…..ternyata malah ngambekan, gak dewasa, suka berantem sama adik-adik, dsb tingkah laku yang mengakibatkan ia menerima tudingan,
”Kok kamu nggak bisa ngalah sama adik sih Mbak? Kamu kan udah gede..”
Nah, itulah harga yang harus kita bayar : kita harus melipatgandakan kesabaran, ketelatenan ekstra , kejelian untuk melihat bahwa ada sesuatu yang terlewat dari masa anak-anak mereka.
Ketika mempelajari teori Erik Hamburger Erikson ini, saya merenung tiba-tiba, mungkinkah saya melewati apa yg seharusnya kami berikan pada anak-anak? Logis saja, kaum muslimin tentu ingin memiliki generasi yang banyak, sebab generasi yang banyak ini kelak akan dibanggakan Rasulullah Saw. tetapi kadang kita lupa mengasah kemampuan, mengasah ilmu dan kesabaran sehingga banyaknya anak menjadikan kita lupa bahwa kita juga harus punya komitmen : menjadi ibu yang sabar, pintar dan terus menerus meningkatkan kualitas.

Pengalaman seorang teman ini mungkin bisa dijadikan renungan.
Anaknya, sebut saja bernama Yassir, masuk ke pesantren bersama kakaknya. Orangtuanya tak menyangka suatu saat Yassir melarikan diri, sembunyi di sebuah masjid, tak ingin balik ke pesantrennya. Padahal ayah ibunya sepasang orangtua yang cukup moderat, bukan tipologi otoriter.
Usut punya usut, begitulah ciri kepribadian Yassir. Ketika ditanya sebuah pilihan, apa saja –masalah yang besar seperti urusan sekolah hingga yang kecil-kecil macam makanan- selalu jawabannya hanya 3 : terserah, nggak apa-apa, lumayan.
Gimana makanannya, Sir ? Lumayan.
Kamu mau masuk pesantren? Terserah.
Kamu capek? Nggak apa-apa.
Kurang lebih begitulah respon Yassir.

Mendengar cerita ini bukan main terkejutnya saya! Sebab…anakku yang ketiga, Ahmad Syahid Robbani, adalah yang paling baik perilakunya di antara anakku yang lain. Ahmad ini paling bagus ibadahnya, paling kuat hafalannya. Bahkan demam tinggi pun masih minta ke masjid. Tetapi setelah peristiwa putra temanku, Yassir, aku kembali introspeksi apakah sebetulnya Ahmad itu tipologi yang demikian pasrah.
”Ahmad kok demam?”
”Iya.”
”Kuat sekolah?”
”Terserah Ummi.”
”Kuat ke masjid?”
”Terserah Ummi.”
”Ahmad mau makan apa?”
Ia angkat bahu.
Dibandingkan Inayah, Ayyasy, Nis yang lebih vokal dan ekstrovert….Ahmad memang yang paling pendiam.
Dan…..
Aku merasa nyaman tentram ketika melihat Ahmad mudah ’diapa-apakan’!
Ya Allah….peristiwa Yassir menyadarkanku. Jangan keenakan punya anak yang mudah diapa-apakan. Jangan-jangan ia tak berani unjuk suara karena takut dimarahi orangtuanya, keburu dicap anak paling sholih sehingga hal itu jadi beban untuk dirinya saat berbuat salah!
Aku berusaha memperbaiki diri dengan ilmu yang kupunya.
”Ahmad mau kemana?”
Ini ajakanku di akhir pekan.
”Terserah.”
Kupegang ia, kuhadapkan ke arahku, wajah kami berhadapan.
”Ummi nanya, Ahmad pinginnya kemana.”
Ia angkat bahu.
”Pingin ke kebun binatang? Atau makan di luar?”
Ia tak bereaksi. Menatapku.

Apa itu yang menjadi respon anak kita?
Kadang-kadang? Sering?
Kalau sering, hati-hatilah.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak adalah pribadi rentan yang sangat membutuhkan perhatian istimewa. Itulah sebabnya Klinis Anak saat ini dimasukkan dalam Psikologi Perkembangan (meski masih terdapat beberapa perbedaan pendapat). Menangani anak-anak yang memiliki gangguan emosional, jauh lebih sulit daripada menghadapi orangtua yang stress.
Orangtua saat masuk angin, pusing, lapar, sakit apapun bisa bilang, ”Mama lagi capek, mau tidur dulu.”
Atau ketika orangtua sedang punya masalah, dengan blak-blakan berkata, ”Papa lagi banyak pikiran! Kalian jangan ribut! Tenang sedikit kenapa sih?”
Anak-anak tak bisa melakukannya.
Mereka sakit fisik mungkin masih bisa ngomong. Tapi apa mereka bilang kalau punya beban di hati?
”Nisrina lagi banyak pikiran Miiii..jadi jangan bentak-bentak aku!!”
Memangnya ada anak yang bisa ngomong begitu?
Tentu saja tidak.
Mereka menyerap, menyimpan, memendam, mengubur rasa sakit ketika dimarahi, disindir, tidak diperhatikan, diabaikan oleh lingkungan . Mereka berpikir tapi tak bisa menemukan jalan keluar melihat pertengkaran orangtua, melihat kekurangan orangtua, melihat beban orangtua.
Sesuatu yang mereka simpan baik-baik dalam diri yang paling dalam, pada akhirnya akan membentuk suatu dinding-dinding atau sekat. Kurt Lewin mengakatakan central cell yang membedakannya dengan peripheral cell. Central cell demikian rahasia, tersimpan paling dalam, tak mudah didobrak oleh apapun bahkan oleh waktu dan pengalaman.
Sigmun Freud, tokoh terkenal aliran psikoanalisa lebih dahsyat lagi mengatakan, kerusakan 5 tahun pertama nyaris tidak bisa disembuhkan! Jadi, berhati-hatilah, jika punya putra putri usia balita.
Erikson masih punya kata ’ampun’. Ia membagi tahapan usia manusia menjadi 8 tahap :
I. Basic trust vs basic mistrust (0-1 th)  kepercayaan
II. Autonomy vs shame & doubt (1-3 th)  kemandirian/otonomi
III. Initiative vs guilt (3-6 th)  inisiatif
IV. Industry vs inferiority (6-12 th) ketekunan, kreativitas
V. Identity vs role identity (12-20 th)  identitas
VI. Intimacy vs isolation (20-30 th)  keintiman
VII. Generativity vs stagnation (30-65 th)  kemapanan, kepedulian
VIII. Ego integrity vs ego despair (> 65 th)  integritas

Di tahapan usia masing2 ada keunikan, tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dilalui. Karena satu dan lain hal, tahap II tak bisa dilalui dengan baik. Mungkin orangtua terlalu sibuk, orangtua masih dibebani ekonomi sulit dsb. Maka tahap II ini akan menjadi ’hutang’ di tahap perkembangan yg berikut.
Katakanlah, kita memiliki 4 orang anak (seperti saya  ). Dengan jarak 2 tahunan, otomatis anak pertama pasti akan mengalami kekurangan perhatian dengan 3 adik yg menyusul berikutnya. Saat seharusnya ia mulai bersikap mandiri, penuh inisiatif…..ternyata malah ngambekan, gak dewasa, suka berantem sama adik-adik, dsb tingkah laku yang mengakibatkan ia menerima tudingan,
”Kok kamu nggak bisa ngalah sama adik sih Mbak? Kamu kan udah gede..”
Nah, itulah harga yang harus kita bayar : kita harus melipatgandakan kesabaran, ketelatenan ekstra , kejelian untuk melihat bahwa ada sesuatu yang terlewat dari masa anak-anak mereka.
Ketika mempelajari teori Erik Hamburger Erikson ini, saya merenung tiba-tiba, mungkinkah saya melewati apa yg seharusnya kami berikan pada anak-anak? Logis saja, kaum muslimin tentu ingin memiliki generasi yang banyak, sebab generasi yang banyak ini kelak akan dibanggakan Rasulullah Saw. tetapi kadang kita lupa mengasah kemampuan, mengasah ilmu dan kesabaran sehingga banyaknya anak menjadikan kita lupa bahwa kita juga harus punya komitmen : menjadi ibu yang sabar, pintar dan terus menerus meningkatkan kualitas.

Pengalaman seorang teman ini mungkin bisa dijadikan renungan.
Anaknya, sebut saja bernama Yassir, masuk ke pesantren bersama kakaknya. Orangtuanya tak menyangka suatu saat Yassir melarikan diri, sembunyi di sebuah masjid, tak ingin balik ke pesantrennya. Padahal ayah ibunya sepasang orangtua yang cukup moderat, bukan tipologi otoriter.
Usut punya usut, begitulah ciri kepribadian Yassir. Ketika ditanya sebuah pilihan, apa saja –masalah yang besar seperti urusan sekolah hingga yang kecil-kecil macam makanan- selalu jawabannya hanya 3 : terserah, nggak apa-apa, lumayan.
Gimana makanannya, Sir ? Lumayan.
Kamu mau masuk pesantren? Terserah.
Kamu capek? Nggak apa-apa.
Kurang lebih begitulah respon Yassir.
Mendengar cerita ini bukan main terkejutnya saya! Sebab…anakku yang ketiga, Ahmad Syahid Robbani, adalah yang paling baik perilakunya di antara anakku yang lain. Ahmad ini paling bagus ibadahnya, paling kuat hafalannya. Bahkan demam tinggi pun masih minta ke masjid. Tetapi setelah peristiwa putra temanku, Yassir, aku kembali introspeksi apakah sebetulnya Ahmad itu tipologi yang demikian pasrah.
”Ahmad kok demam?”
”Iya.”
”Kuat sekolah?”
”Terserah Ummi.”
”Kuat ke masjid?”
”Terserah Ummi.”
”Ahmad mau makan apa?”
Ia angkat bahu.
Dibandingkan Inayah, Ayyasy, Nis yang lebih vokal dan ekstrovert….Ahmad memang yang paling pendiam.
Dan…..
Aku merasa nyaman tentram ketika melihat Ahmad mudah ’diapa-apakan’!
Ya Allah….peristiwa Yassir menyadarkanku. Jangan keenakan punya anak yang mudah diapa-apakan. Jangan-jangan ia tak berani unjuk suara karena takut dimarahi orangtuanya, keburu dicap anak paling sholih sehingga hal itu jadi beban untuk dirinya saat berbuat salah!
Aku berusaha memperbaiki diri dengan ilmu yang kupunya.
”Ahmad mau kemana?”
Ini ajakanku di akhir pekan.
”Terserah.”
Kupegang ia, kuhadapkan ke arahku, wajah kami berhadapan.
”Ummi nanya, Ahmad pinginnya kemana.”
Ia angkat bahu.
”Pingin ke kebun binatang? Atau makan di luar?”
Ia tak bereaksi. Menatapku.
”Nanti gantian, kan biasanya mb Inayah ke toko buku. Mas Ayyasy juga suka buku. Mas Ahmad juga suka. Tapi, apa pingan ke toko buku lagi?”
Inayah dan Ayyasy bersorak,
“…………hore!Toko buku! Toko buku!”
Aku menatap anakku yang lain.
”Biar Ahmad yang memutuskan.”
Ahmad tampak ragu-ragu. Aku sendiri menanti dengan sabar, sebab ……….begitulah ia, lama memutuskan dan berbicara sehingga kami orangtuanya yang cepat menyimpulkan : oh , kalau begitu begini saja!
”Ahmad pingin beli lego, Mi.”
Ia menyebutkan mainan seharga sepuluh ribu rupiah yang ada di toko dekat rumah.
Aku bernafas lega.
Jadi, untuk anak seperti Ahmad dan Yassir, apa kita mau sedikit bersabar menggali kemauan mereka yang sesungguhnya bukan hanya berkisar seputar : terserah, lumayan, nggak apa-apa ?
”Nanti gantian, kan biasanya mb Inayah ke toko buku. Mas Ayyasy juga suka buku. Mas Ahmad juga suka. Tapi, apa pingan ke toko buku lagi?”
Inayah dan Ayyasy bersorak,
“…………hore!Toko buku! Toko buku!”
Aku menatap anakku yang lain.
”Biar Ahmad yang memutuskan.”
Ahmad tampak ragu-ragu. Aku sendiri menanti dengan sabar, sebab ……….begitulah ia, lama memutuskan dan berbicara sehingga kami orangtuanya yang cepat menyimpulkan : oh , kalau begitu begini saja!
”Ahmad pingin beli lego, Mi.”
Ia menyebutkan mainan seharga sepuluh ribu rupiah yang ada di toko dekat rumah.
Aku bernafas lega.
Jadi, untuk anak seperti Ahmad dan Yassir, apa kita mau sedikit bersabar menggali kemauan mereka yang sesungguhnya bukan hanya berkisar seputar : terserah, lumayan, nggak apa-apa ?

Kategori
Catatan Perjalanan Kuliah Psikologi UNTAG, My Campus

Minta doa dari semua untuk UTS 16 November

Alhamdulillah acara silaturrahim FLP Jatim dengan Cabang & Ranting kemarin, Sabtu 7 November, berjalan baik. Minta doa, tanggal 16 November mau UTS, semoga Ilmu yang berhasil diserap maksimal, dapat ditularkan kepada orang lain, dapat diaplikasikan. Doakan nilai mbak excellent.

 

Sekalin minta maaf jika pekerjaan mengedit dan membantu adik2 FLP untuk membaca naskah jadi tertunda ba’da ujian ya…

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner My campus Oase

Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner My family Oase

Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya 😉

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kuliah Psikologi My campus

Bagaimana mendapat IP 4?

 

            Alhamdulillah, untuk semester 2 ini aku berhasil meraih IP 4 lagi.

            Untuk Psikologi UNTAG-Surabaya mendapat akreditasi A sehingga nilai yang kuperoleh insyaAllah gak main-main ;-). Di semester dua ini banyak teman-teman yang nilainya jeblok, turun dari IP 3 ke 2 atau malah ke 1. Mereka pada bertanya2 ke aku yang sudah emak-emak : kok bisa sih?

 

            Rekan-rekan,

            seorang temanku ditest IQ nya dan ia punya skor 95, artinya di bawah normal. IP maksimumnya harusnya hanya 2,5 tetapi dua semester ini ia berhasil meraih IP 3. Kenapa? Karena ia berjuang mati-matian belajar sehingga mendapat hasil yang bagus.

           

            Bagaimana denganku?

            Dulu, IQ ku di test dan aku termasuk anak yang normal. Masih kuingat ketika mau masuk UGM dan STAN selepas dari SMA aku harus bekerja duakali lipat dibanding teman-temanku yang lain di SMA 3 Yogyakarta, Alhamdulillah aku bisa menembus UGM dan STAN yang sangat ketat persaingannya.

 

            Waktu suamiku penempatan di Surabaya setelah malang melintang ke Medan – Jakarta-Tegal-Yogya-Semarang, aku memutuskan harus kuliah lagi. Aku nggak boleh berhenti di satu titik, aku harus terus berjalan. Ilmu pengetahuan harus dicari sebagai bekal di dunia maupun akhirat. Orang yang berkecimpung lebih lama dalam kawah pengetahuan semoga lebih bijaksana.

 

            ”Aku masuk sastra atau psikologi ya?” tanyaku pada suami.

            ”Masuk sastra buat apa?”

            ”Yaa, kan sekarang dah nulis, biar punya ilmu yang mem back up kalau pas ngisi training atau talkshow.”

            ”Kayaknya mending psikologi aja,” saran suamiku. ”Bisa buat anak-anak.”

            Akhirnya aku masuk psikologi.

 

            Ternyata di psikologi bukan ilmu sosial murni. Aku sempat terkaget-kaget juga ketemu matematika yang momok bagiku sedari kecil. Statistik? Uh, enggak ya. Mana dosennya serem! Tapi….masak aku menyerah? Apa kata anak-anakku kalau aku dapat IP jelek? Ih, ummi pinternya nyuruh anak-anak belajar, sendirinya gak mau! Sebulan dua bulan aku masih keteter tapi berikutnya aku mulai menemukan pola. InsyaAllah ini bermanfaat buat yang lain juga ya :

 

  1. Terus terang awalnya ku ggak mempedulikan SKS. Bagiku semua ilmu sama pentingnya karena satu menunjang yang lain. Tapi buat strategi, okelah.
  2. Duduk paling depan. Pasti beda daya serapnya dengan yang duduk di deret 2, 3 apalagi paling belakang.
  3. Harus punya catatan steno sendiri yang merekam dosen berbicara

Aku membeli buku tulis –sekalipun agak mahal- yang perbijinya antara 15ribu-20 ribu. Buku2 ini bentuknya besar, spiral, tebal, dengan aroma wangi dan kertas lucu-lucu. Bukan looseleaf lho. Fungsinya untuk membangkitkan semangat. Misal :

  • Sampul pink dengan anak kecil dan kereta kuda dengan tulisan Sweet Dream untuk Psikologi Faal
  • The Wonderful Wizard of Oz  dengan sampul singa dan anak-anak, bertuliskan sebuah rangkaian kisah, kertas biru coklat untuk Psikologi perkembangan dsb
  1. Harus rajin membuka internet mencari tahu lebih dari yang dosen sampaikan. Beberapa mata kuliah memang butuh trik tertentu

     Filsafat : Cari tahu apa dasar2 pemikiran Rene Descartes, Comte, Nietzsche,dsb. Bandingkan dengan filsuf muslim seperti al Farabi, ibnu Sina, al Ghazali dsb. Semakin kaya pengetahuan, misal ketika dosen bertanya tak terduga  ”…kenapa Nietzche yang dibesarkan di lingkungan agamis, menguasai bahasa kitab suci Latin-Yunani-Ibrani; justru ketika menjadi filsuf ia berbalik atheis? Ketika kita punya perbandingan dengan filsuf lain, kita tahu jawabannya.

 

     Statistik : coba, coba dan coba. Buku catatanku tabal seukuran ½ folio. Tetapi aku mengerjakan soal-soal di kertas folio bergaris usuran besar, double. Aku mengerjakan sendiri Analisa Varian, Anava faktorial AB, Analisa Rancang Ulang, dst. Gak bisa? Cari buku di toko buku, baca berulang-ulang teorinya, spidol dengan stabillo lalu kerjakan lagi dan lagi.

 

 

Untuk satu teori misal Anava AB, aku bisa melatih diriku 5-10 kali sehingga luwes, nggak kaget saat menghadapi soal itu di ujian. Tak kalah penting melatih ketrampilan kita dengan kalkulator bagaimana cara memasukkan data. Ingat, tiap kalkulator punya cara berbeda. Lihat jam di rumah karena waktu pengerjaan ujian hanya 15 – 2 jam saja dengan soal yang…..pfhuuuuuhh! Jadi aku bilang ke adik2 yang pinjem catatan statistikku ….”dek, percuma pinjem catatanku kalau kamu nggak pernah latihan!”

 

     Psikologi Faal. Wah, belajar ilmu ini ibarat masuk kedokteran. Bagaimana nggak? Kita menghafalkan bahasa latin yang aneh bin ngeri di telinga. Tapi aku harus bisa! Berhubung dosenku dokter, pinter, tegas, kejam (…sebetulnya dia baik kok.. hanya disiplin buanggett!) aku harus punya tenaga ekstra di malam hari. Pekan kemarin menerangkan 12 pasang saraf cranial, aku harus mencari di internet seperti apa sih saraf cranial? Apa bedanya dengan 31 pasang saraf spinal? Dari mana keluarnya? Apa nama latinnya? Aku juga membuat jembatan keledai untuk mempermudah diriku sendiri

 

OLOPOCTRO TRIABFAVE GLOVAKRA ACCHYP

  1.  
    • olfactorius
    • opticus
    • oculomotorius
    • trochlearis
    • trigeminus
    • abducens
    • fascial
    • vestibocochlearis
    • glossopharyngous
    • Vagus & akar kranial
    • accesorius
    • hypoglossus

 

Begitupun dengan 48 area broadmann, saraf2 pada intumescencia lumbosakralis & servikalis, dst.

 

     Psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi umum, psikologi kepribadian yang banyak teori & pendapat para ahli mulai Sigmund Freud, CG Jung, Alfred Adler, Maslow, Wilhem Wundt, Ivan Pavlov, BF Skinner, Watson dst memang harus sering-sering dibaca & dipelajari.

 

 

MENJELANG UJIAN  (pas kuliah juga):

      berdoa mohon nilai sempurna

      mohon dibukakan hati & pikiran untuk mudah menerima pelajaran

      jangan lupa ibadah wajib & sunnah

      bikin catatan kecil2 berwarna warni seukuran telapak tangan yang bisa dibawa kemana-mana, catatan ini betul2 reminder yang hebat!

 

…….besoknya ujian aku memang nyaris nggak tidur malam…;-)..he..he…!!

 

Soalnya aku punya kelemahan, aku punya memori jangka panjang yang agak lemah dan memori pangka pendek yang lebih kuat. Jembatan keledai hafal tapi singkatannya apa ya? Jadi sepekan saat UAS aku memang nyaris nggak tidur karena mengulang apa yang sudah kupelajari sebelumnya.

Berhubung hampir semua mata kuliah sudah kubuat catatan2 kecil berwarna warni dengan gambar2 yang juga sudah kupelajari (khusus Faal) maka malam hari dan beberapa menit menjelang ujian aku tinggal mengingat. Oh, indera penglihatan dengan lapisan retina mulai dari lapisan epithelium sampai optic nervus fibre itu begini-begini. Oh, pendapat Ivan Pavlov dengan percobaan anjingnya begini-begini.

 

Jadi , kalau SKS (Sistem Kebut Semalam) atau SMS (Sistem Melek Semalam) yang memang baru malam itu buka buku, kupikir gak akan sukses sama sekali. SKS dan SMS ku sudah menyiapkan catatan kecil dan latihan2 sehingga malam itu aku tinggal menguatkan my short term memory