Kategori
Buku Sinta Yudisia Bulan Nararya Oase ROSE Sastra Islam TAKHTA AWAN The Road to the Empire ~RINAI~ Sinta Yudisia

Membincang buku kita : best seller, very fast moving, write off, dan gagal pasar

 

 

Setiap penulis, pasti berharap bukunya best seller atau laris manis di pasar.

Bila royalty 1 buku 10 % dan harga buku Rp.50.000 misalnya, maka penulis bisa dapat Rp.5.000 rupiah perbuku. Kalau buku terjual semua 3000 eksemplar, wah, dalam satu periode pembayaran royalty dapat Rp.15.000.000. Maka, penulis yang bukunya best seller biasanya dapat membeli laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil dan rumah. Dapat naik haji dan umroh, melakukan perjalanan keluar negeri dan seterusnya. Senang ya?

 

Kapan buku best seller?

Berbincang tentang best seller, tentu tidak mudah. Sebab best seller belum tentu sama dengan best quality. Ada buku-buku yang menang lomba, sangat bagus tema dan idenya, cantik diksinya, namun buku tersebut jeblok dipasaran. Penyebabnya macam-macam. Mulai cover yang kurang menarik, penulis yang kurang dikenal, promosi yang kurang gencar serta moment yang tidak pas.

 

psikologi-pengantin
Alhamdulilah, 3 bulan telah naik cetak yg kedua

Dalam perjalanan kepenulisan saya, tidak semua buku-buku best seller. Yang penjualannya best seller antara lain Lafadz Cinta, Pink, Rinai, The Road to The Empire dan Alhamdulillah sekarang Psikologi Pengantin.

 

Yang very fast moving saat baru terbit adalah The Road to The Empire.

Buku yang hingga kini masih diminati dan terus ditanyakan pembaca adalah Rose, Rinai, Bulan Nararya serial Takudar : Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to The Empire dan Takhta Awan. Buku anak-anak pun demikian seperti Janji Cici dan Ketika Upi Bertanya.

Apa sebab buku tersebut laris manis?

 

1.Karena covernya : Lafadz Cinta, Pink. (ada pembaca yang menyangka penulisnya adalah yang terpampang di cover. Hellooo….itu Karina Kapoor, plis. Penulisnya lebih cantik kwkwkwk)

2. Karena kisahnya yang spesifik : serial Takudar. Tidak setiap penulis menyukai setting Mongolia dan mengangkat tokoh yang jarang dikenal. Saya memang sudah lama jatuh cinta dengan Takudar ini, sejak menemukan buku warisan ayah berjudul The Preaching of Islam Thomas W. Arnold.

 

3.Karena kisahnya yang sederhana : Rose dan Lafadz Cinta. Rose dan Lafadz Cinta ini sebetulnya kisah cinta yang sederhana, setiap penulis insyaallah bisa menulisnya. Bandingnya dengan serial Takudar yang mungkin tidak setiap penulis bisa menuliskan setting Mongolia sebab memang tidak terlalu menyukai dataran China, gurun Gobi dan sejarah Jenghiz Khan.

cover-rinai1
Rinai : Palestina

4.Karena momentnya yang pas : Rinai bersetting Palestina. Novel ini tergolong lumayan ‘berat’ sebab berbau psikologi. Namun moment yang tepat, bersamaan dengan moment Palestina, novel ini cukup laris di pasar.

 

5.Karena dibutuhkan masyarakat : Psikologi Pengantin. Banyak anak muda dan pasangan baru yang butuh panduan psikologis tentang pernikahan dan bagaimana merawat hubungan agar tetap seperti pengantin baru. Sepertinya, kebutuhan pasar inilah yang membuat Psikologi Pengantin dapat naik cetak yang kedua dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbitnya.

 

Buku Write Off

Buku write off adalah buku yang ditarik dari pasaran karena sudah dianggap tidak layak jual (duh sediiih banget …hiks). Buku ini biasanya dikembalikan hak terbitnya kepada penulis dan penulis berhak untuk : merevisi naskah, menyerahkan pada penerbit lain, menerbitkan dalam bentuk e-book atau menerbitkan di blognya pribadi.

Sebetulnya, buku write off belum tentu berarti  buku kita jelek lho.

Buku ditarik dari pasaran kemungkinan momentnya kurang tepat, promosinya kurang gencar. Banyak buku write off yang dikembalikan ke penulis lalu penulisnya menjual via online dan buku tersebut malah laris manissss.

 

Bagaimana membuat buku best seller?

Manusia wajib berusaha. Allah Swt yang akan merumuskan akhir perjalanan kita, termasuk bagaimana nasib naskah-naskah yang ditulis dengan segenap pengorbanan. Nyaris, tidak ada penulis yang sembarangan ketika menuliskan sebuah karya, walau ia hanya selarik puisi.

Bila ingin buku best seller, ayo kita saling berbagi ilmu. Pengalaman saya di bawah, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan buat orang lain.

  1. Cover. Jangan main-main dengan cover. Orang Indonesia suka sekali dengan tampilan dan kemasan. Cover Lafadz Cinta, saat itu sedang booming cover buku menggunakan wajah seseorang. Kalau sekarang novel saya diterbitkan dengan cover wajah, mungkin orang tidak melirik. Diskusikan dengan editor, illustrator, apa cover yang menarik di pasaran. Penulis harus sering jalan ke toko buku dan melihat apa sih buku yang sedang digemari kalangan tertentu. Cover Pink pun demikian eye catching maka kumpulan cerpen Pink sangat laris saat itu.
  2. Judul. Ternyata, judul buku juga berpengaruh. Dari hasil diskusi dengan banyak orang, ternyata judul buku harus simple dan tidak multitafsir. Kitab Cinta Patah Hati, Cinta x Cinta, dan Psikologi Pengantin adalah buku-buku motivasi cinta yang saya tulis dengan mengumpulkan referensi psikologi puluhan bahkan ratusan. Namun , tidak semua buku itu diterima pasar dengan baik. Kata para pembaca, Cinta x Cinta menimbulkan multitafsir : ini apa sih isinya? Walaupun cover dan tampilan buku itu untuk remaja. Sementara Psikologi Pengantin jelas mengarah pada orang yang mau menikah, ingin menikah, atau baru menikah.
  3. Promosi. Rajin- rajinlah promosi di media sosial : blog, twitter, instagram, fanpage, facebook. Semoga, audience semakin sadar bahwa ada buku manis sedang terbit di pasaran. Setiap orang yang menanyakan buku ini coba ditanggapi, sekalipun hanya bertanya : berapa harganya? Ada di pasaran enggak? Walaupun kadang-kadang pembaca dan khalayak menanyakan hal-hal yang membuat penulis bersedih : ada diskon? Ada gratisan? 200 halaman buku baik novel atau non fiksi, ditulis setidaknya 1 bulan lebih. Ada yang 3, 6 bahkan 24 bulan! Malah ada yang bretahun-tahun! Betapa sedihnya ketika khalayak masih beranggapan buku terssebut seharusnya lebih murah dari Rp. 50.000. Tetapi, penulis sedang mengkomunikasikan karyanya dengan pembaca. Maka penulis harus bermental positif untuk meyakinkan khalayak : buku ini layak anda miliki sekalipun uang anda akan berkurang Rp.50.000
  4. Paket. Kalau buku sudah write off, ambil saja oleh penulis. Jual system paket. Biasanya , pembaca suka beli system paket sebab ongkos kirimnya sekalian. System paket juga mereduksi harga buku. Penulis senang, pembaca juga senang.
  5. Doa. Ini factor X yang tidak boleh dilupakan siapa saja. Hanya Allah Swt pemberi rezeqi. Bila rezeqi royalty belum milik penulis, mungkin rezeqi yang lain mengintip. Rezeqi menang lomba, rezeqi cerpen koran atau majalah, rezeqi mengisi acara dll. Mental positif akan membuka pintu rezeki, insyaAllah.

 

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan Kuliah Psikologi WRITING. SHARING. ~RINAI~ Sinta Yudisia

Novel Psikologi : Rinai , Sophia & Pink, Bulan Nararya

Rinai, Sophia & Pink , Bulan Nararya adalah novel dengan baluran ilmu Psikologi.
Mengapa Psikologi?
Sejak lama, usai membaca karya-karya Tom Clancy, Michael Crichton, Frank Thallis, maupun novel legendaris Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes; saya ingin membuat novel yang kuat pondasi ilmiahnya. Bila Tom Clancy detail tentang militer dan seluk beluk taktik spionase-nya, Crichton dengan sci-fi , Thallis dengan Psikologi Klinis yang sangat Psikoanalisa, Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes- Sir Conan Arthur Doyle yang jago di detektif; saya ingin menuangkan gagasan-gagasan dalam jalinan kisah fiksi.
Gagasan-gagasan ideologis tentu ada di benak setiap penulis.
Thallis membangkitkan lagi romantisme Psikoanalisa dengan apik. Psikoanalisa, yang mendapatkan tandingan Neo-Freudian, Behavioristik, Humanistik ; menjadi hidup kembali lewat kisah Thallis. Mungkin ia pengagum Freud. Yang pasti, Thallis berhasil menjadikan novel-novelnya sangat Freudian dan ia membawakannya dengan sangat ilmiah, cemerlang, menusuk bagi pecinta novel thriller. Saya yang tidak suka Freud pun menjadi penasaran dengan logika berpikir Psikoanalis Thallis.

Rinai

cover RINAI

Diawali dengan Rinai, yang Alhamdulillah masuk 50 besar novel terbaik Republika (2011/2012?) , bahasan yang saya angkat adalah tentang Intelligensi dan Agresivitas. Rinai diterbitkan oleh penerbit Indiva.
Rinai adalah salah satu novel yang bagi saya istimewa (rasanya, setiap novel karya kita sendiri pasti istimewa  ). Setting Palestina nya membuat saya selalu rindu tanah Anbiya. Memang, ketika Allah SWT memperkenankan saya menginjakkan kaki ke tempat istimewa tersebut, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kisah. Bila kisah perjalanan, mungkin akan cepat menguap. Tapi novel, semoga tetap abadi. Amiin.
Harapan saya, pembaca dapat turut merasakan keindahan Gaza, wangi zaitun dan tin nya, panas gurun Sinai, sulitnya menembus check point dan gerbang Rafah ; tentu saja, semoga mampu menghadirkan betapa heroiknya para pejuang Palestina. Radikal? Hm, rasanya tidak. Saya hanya mengangkat para pembela tanah air, orang-orang yang mengumandangkan Intifadhah, bertahan di jam malam dan selalu optimis dengan ketentuan Tuhan. Dan, bahasan psikologi dapat menjadi bahan informasi.
Agresif kah anak-anak Palestina , karena situasi perang?
Tidak.
Bodohkah anak-anak Palestina karena blokade sehingga ekonomi terhimpit sangat?
Tidak.
Ada situasi-situasi yang menimbulkan anomali.
Seharusnya anak-anak Palestina trauma, agresif, brutal, bodoh dan sederet stigma lainnya akibat kondisi buruk peperangan. Memang, beberapa mengalami trauma, dan kesedihan panjang. Tapi mereka bangkit. Berjuang. Berdiri. Berprestasi. Psikologi mencoba menjelaskan, menemukan jawaban, sekalipun tak menyangkal bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, anomali tetaplah ada.
Apa anomali bangsa Palestina?
Quran.
Inilah jawaban yang meniadakan agresi, menghapus kebodohan, menghilangkan trauma sekalipun rumusnya sudah sangat jelas B= P.E . Bahwa behavior dihasilkan dari person dan environment. Seharusnya secara psikologis Palestina hancur jauh-jauh hari. Kenyataannya, mereka tetp tegak berdiri sampai sekarang.
Intelligensi.
Agresivitas.
Quran, adalah faktor yang sangat mempengaruhi kedua hal tersebut di atas.

Sophia & Pink

Sophia & Pink

Sophia dan Pink adalah kisah remaja SMA.
Mengambil latar Surabaya, novel yang berbeda dengan novel-novel remaja lainnya yang biasa mengambil latar Jakarta. Sophia gadis yang dibesarkan sebagai anak tunggal, dikelilingi nenek yang super lincah dan tante yang cerewet. Bunda Sophia baik hati, sementara ayah Sophia menghilang karena cinta ke lain hati.
Sophia dalam perjalanan mencari cinta.
Ia ingin mencintai dan dicintai laki-laki, karena kehilangan sosok ayah. Sophia mencari pada diri pak Ragil, gurunya. Vandes, sahabatnya. Bito, kawan tunarungunya. Namun pencarian cinta Sophia belum tuntas. Sebab cinta memang menyisakan misteri.
Saat-saat bahagia Sophia bersama teman-teman hebohnya , gadis ini harus menghadapi kenyataan mengejutkan : Bunda divonis kanker payudara. Maka Sophia belajar memahami sakit bunda, bagaimana merawatnya pra dan pasca operasi. Sophia mulai belajar bahwa cinta tak harus berbalas, meski cinta pada ayahnya sendiri.
Dan, pencarian cinta Sophia megnhasilkan sahabat tak terduga: Pink.
Pink cewek cantik yang jadi pujaan sekolah. Tak seorangpun yang tahu, dibalik kecerdasan dan kecantikan Pink, ia gadis yang mengambil peran utama dalam keluarga. Mamanya gila, sendiri di rumah besar Pink juga belajar bagaimana memastikan mama minum obat, memastikan mama tak menyakiti diri sendiri.
Sophia dan Pink, gadis-gadis remaja yang bijak. Cinta pertama kepada siapa harus berlabuh adalah : Ibunda.
Sisi psikologis yang ditampilkan disini adalah kondisi Bito, kawan Sophia yang tunarungu. Tidak semua manusia dilahirkan normal. Beberapa menderita kelainan pendengaran sehingga harus menggunakan alat bantu dengar. Dalam bayangan banyak orang, menjadi orang abnormal + alat bantu = normal. Padahal, butuh waktu banyak bagi Bito untuk menyesuaikan diri dengan hearing aid nya.
Sophia, gadis remaja sibuk yang tak hanya berkutat sebagai ketua kelas, sibuk dengan urusan keluarga juga urusan sahabat-sahabatnya.
Sophia & Pink diterbitkan oleh penerbit DAR!Mizan, 2014.

Bulan Nararya
Bulan-Nararya
Bulan Nararya adalah juara III Tulis Nusantara yang diselenggarakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2013, diterbitkan oleh Indiva.
Tokoh utamanya seorang perempuan muda bernama Nararya yang kandas dalam membangun mahligai cinta bersama suaminya, Angga. Nararya sama sekali tak menyangka bahwa sahabat baiknya, Moza, menjadi tambatan hati Angga yang berikut.
Di sisi lain, Nararya menghadapi persoalan pelik di Klinik Kesehatan Mental tempatnya mengabdi. Perselisihan pendapat dengan bu Sausan membawa permasalahan pelik sebab Nararya sendiri dalam kondisi tertekan akibat Angga dan Moza. Nararya yang idealis ingin menghentikan pemakaian farmakologi dan mengadopsi satu sistem baru dalam psikologi : Transpersonal.
Tiga pasien Nararya masing-masing Yudhistira, si kecil Sania dan seorang residivis tanpa nama menjadi pelipur lara Nararya. Yudhistira yang berangsur sembuh, menghadapi konflik pula ketika sang istri mengajukan gugatan cerai. Sania yang sejak kecil mengalami penganiayaan fisik oleh keluarganya, akan ditarik paksa oleh ayahnya keluar dari klinik. Si residivis , lelaki tanpa nama yang dijuluki pak Bulan, acapkali menjadi hiburan kalau bukan gangguan.
Dalam konflik yang membuat Nararya mengalami banyak guncangan, seseorang berupaya meneror Nararya di klinik.
Dimulai ketika suatu malam, satu kubangan darah dan cabikan kelopak mawar, menggenang di depan pintu ruang kerja Nararya. Halusinasi? Atau seseorang memang menginginkannya celaka?

************

Intelligensi, agresivitas, hearing impairment, skizofrenia, transpersonal, adalah ranah psikologi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian memaknai dengan salah, menyikapi dengan salah, sebagian bijak dalam bersikap.
Psikologi, bagai dua sisi kegunaan pisau. Satu sisi merupakan pisau ilmiah yang mampu mejelaskan, memprediksi, mengontrol perilaku manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk individu atau makhluk sosial. Disisi lain masih merupakan ilmu yang beririsan dengan hubungan transendental, supranatural bahkan mungkin superstitious terutama bila berhadapan dengan penyandang skizofrenia atau anak indigo.
Apakah halusinasi murni kerusakan neurotransmitter sehingga orang salah menginterpretasi stimulus suara atau bayangan?
Ataukah halusinasi sesungguhnya kemampuan di luar nalar bahwa manusia mampu melihat dan merasakan sesuatu diluar hal yang nyata?
Apakah intelligensi dapat berubah? Apakah intelligensi dipengarui genetik, nutrisi dan lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini masih terus seru diperdebatkan, ditelaah dan diupayakan jalan keluarnya. Tulisan fiktif, akan membawa nuansa baru yang lebih cair dan ringan, untuk membawa situasi ilmiah ke tengah masyarakat dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, lebih legit untuk dinikmati, meninggalkan jejak kesan yang lebih mendalam.

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami Jurnal Harian Quran Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Jika Kau Pergi Ke Gaza, Palestina

Sekali saja, andai kesempatan itu datang, meminta kita datang ke Palestina, apa yang harus disiapkan?
Paspor visa, agar dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Sejumlah uang yang dapat dikonversikan ke mata uang asing, tak mungkin di negeri orang tak bawa uang saku. Logistik, agar tak kelaparan sepanjang perjalanan maupun di tempat tujuan. Pakaian sesuai musim, mengingat Palestina dapat mengalami cuaca ekstrim sangat panas atau sangat dingin. Baterai, sebab listrik hanya dijatah 3-5 jam oleh Israel. Alat komunikasi, siapa tahu keadaan terjepit dan kritis, harus mengontak pihak otoritas. Ohya, kamera. Mengabadikan perjalanan tak lengkap tanpa kesan visual. Sediakan kantong-kantong sisa di ransel dan koper, agar dapat membeli souvenir di toko-toko handicraft yang tersebar di sepanjang jalan di Gaza City. Harganya relatif murah. Kecuali jika ingin membeli abaya, perlu menyiapkan sekitar 200 shekel per gaun.
Cukupkah?
Rasanya cukup.
Tambahkan tim penerjemah yang mampu berbahasa Arab, bila hanya paham ana dan antum.
Jika perjalanan itu bertujuan menikmati eksotika Khan Khalili, Kairo atau biru safir Mediterrania el Arish, daftar di atas cukup. Namun bila anda berkehendak memasuki Palestina, ada hal-hal lain yang harus disiapkan.

Bon-bon, Gaza

1. Believe in Allah
Ini saran dari Rehab Shubair, Ministry of Women Affairs. Keadaan di Palestina betul-betul tak dapat diprediksi. Tak ada siklus rutin pasti sebagaimana kita bangun Shubuh, sholat, menyiapkan sarapan, berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah, pulang sore dan bercengkrama kembali, melepas penat dan begitu seterusnya. Merencanakan akhir pekan, merencanakan beli sesuatu di awal bulan. Berniat melakukan sesuatu di tahun depan.
Terjebak jam malam. Terjebak sirene peringatan sehingga rumah dan sekolah harus bergegas mengawasi jendela agar anak-anak menjauhi kaca –sniper mengincar bahkan hanya sekedar gerakan melongok .
Mereka yang kau cintai, belum tentu dapat kau cium dan peluk kembali, malam nanti.
Seorang anak mungkin tewas dalam perjalanan pulang sekolah. Seorang ibu mungkin tertembak ketika sedang ke pasar atau bekerja mencari nafkah tambahan. Seorang ayah mungkin terkena rudal ketika tengah menunaikan kewajiban.

Kematian adalah hal biasa.
Syahid adalah cita-cita.
Tapi Palestina, juga Gaza, berisi manusia-manusia yang punya hati; menjerit bila sakit, menangis saat terluka, terisak jika kehilangan. Siapa diantara kita yang sanggup kehilangan sesuatu yang dicintai dengan cara mendadak dan cara paling menyedihkan? Tak ada.
Maka Ministry of Women, bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah menggaungkan pesan-pesan propaganda, bahwa bila rakyat Palestina ingin bertahan, mereka harus percaya Allah. Believe in Allah bukan lips service, sekedar slogan dan teriakan.
Believe in Allah menggaung dari dinding-dinding rumah, dari program harian rumah tangga, dari kurikulum sekolah, dari target pemerintah. Pemerintah menetapkan bahwa summer camp adalah waktu wajib bagi para pelajar untuk libur sekolah, mengikuti supercamp untuk mengasah leadership dan life skill, dan program sepanjang kurang lebih tiga bulan ini terutama menempa para pelajar menghafal Quran.
Quran adalah salah satu bentuk believe in Allah, tak ada tawar menawar lagi.

kantor, gaza
2. Al Waqiah
Ini adalah saran dari Abeer Barakah, seorang ibu muda cantik berputra putri 4 orang, dosen UCAS. Kehidupan di Gaza boleh jadi sangat rumit, di blokade bertahun-tahun. Pasokan barang terpaksa melalui smuggling tunnel, mulai genset, mobil sampai hewan Qurban. Mulai shampoo sampai jepit rambut. Mulai tabung gas hingga obat-obatan. Masih belum cukup rupanya, smuggling tunnel seringkali terpantau satelit dan dibombardir hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap.
2012, Gaza masih dapat bernafas lega ketika Rafah dibuka atas kebijakan presiden Mursi. Sekarang, Rafah kembali ditutup dan rakyat Gaza terengah-engah memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi Abeer, Allah Maha Kaya dan tidak terpasung hanya oleh blokade, hantaman rudal, smuggling tunnel atau sirene jam malam.
Ia melazimkan bacaan al Waqiah setiap hari demi jaminan rizqi dariNya. Karena itu, sekalipun kondisi sulit dan kelaparan menimpa hampir setiap kepala penduduk Gaza, mereka selalu bahagia akan datangnya rizqi Allah yang tak disangka-sangka. Cairnya beasiswa, bantuan dari negara tetangga macam Yordania atau Qatar. Dan tentu, bantuan dari Indonesia adalah salah satu jawaban atas al Waqiah yang istiqomah dilakukan.
Abeer Barakah, bahkan masih merasa belum cukup membeli tiket ke surga dengan sekedar tinggal di tanah para Anbiya. Ia dan suaminya mendirikan yayasan, memelihara anak-anak yatim, berpegang pada salah satu hadits Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih : Rasul dan penyantun para yatim bagaikan dua jari tak terpisahkan di surga.
Rindu padamu, Abeer. Miss you much, your family and all of Gaza people.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini mereka tak pernah lupa tempat kembali, tak pernah lupa bahwa tiket ke sana bukan semurah tiket masuk konser musik atau bioskop XXI.

gaza's people
3. An Anfaal dan At Taubah
Anda lelaki, seorang ayah atau pemuda?
Akan sangat malu bila belum menghafalkan 2 surat ini. Surat kebanggaan yang menjadi pelipur lara, penegak tulang belakang, pembusung dada bahwa kaum muslimin tak akan pernah terhina meski terpaksa mengais belah kasih, bergantung hidup sebesar 70% dari bantuan internasional.
Inilah surat yang menjadikan para pemuda boleh mendaftar sebagai prajurit Hamas.
Sekedar jago beladiri, tubuh tegap dan wajah sangar tak cukup. Sebab prajurit Palestina bukan berperang menggunakan drone atau melaju di atas pesawat-pesawat tempur, berlindung di balik tank-tank baja. Para pemuda harus siap menjadi prajurit kapanpun tugas negara memanggil. Mereka harus bergilir menjaga perbatasan, sewaktu-waktu terjebak perang yang pecah tiba-tiba, terkena peluru nyasar atau pecahan bom. Kekuatan mental dan ruhiyah menjadi syarat utama agar sanggup mengatasi rasa sakit fisik dan psikis.
Maka, jangan hanya terbakar emosi sesaat dan berniat mendaftar sebagai relawan perang di Palestina. Gaza tak pernah meminta bantuan pasukan perdamaian. Gaza tak pernah menghiba memohon gencatan senjata dengan Israel. Mereka merasa cukup dengan sumber daya manusia yang mereka miliki, yang tidak dimiliki negara manapun di dunia ini termasuk Indonesia. Prajurit penghafal Quran.
Yang Gaza harapkan adalah kepedulian warga muslim dunia, agar senantiasa mendoakan dan menyisihkan dana bagi operasional negara mungil yang bahkan tak boleh mencari ikan di perairan lautnya sendiri.

ministry of women affairs
4. Sabar
Sabar adalah syarat mutlak bagi seseorang yang berniat memasuki Gaza, Palestina.
Apalagi yang dibutuhkan bagi seseorang yang menunggu tanpa kepastian?
Pemeriksaan check point, tertolak di gerbang Rafah, perjalanan melelahkan via jalur darat, belum lagi diusir oleh tentara Mesir dari perbatasan. Tak ada bekal yang lebih baik kecuali sabar : baik dapat menerobos masuk ataupun tertolak. Beberapa relawan mengisahkan bahkan terpaksa gigit jari setelah tinggal berminggu-minggu di El Arish tak dapat menembus Rafah.
Bila berhasil memasuki Gaza, Palestina, bersabarlah. Belum tentu dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan sebab gerbang Rafah bukan terbuka-tertutup sesuai jam kerja. Inilah satu-satunya gerbang antar negara paling ajaib di dunia : tak ada jadwal tetap, tak ada hukum pasti, tak ada prosedur yang dapat dipelajari, tak ada orang dalam yang dapat ditembus. Hanya dapat dibuka sesuai kesepakatan dengan Israel dan Mesir yang saat ini tak berpihak pada tetangga muslimnya sendiri.
Tinggal di Gaza berarti harus bersiap-siap kekurangan air dan listrik, juga harus waspada terhadap kemungkinan tembakan-tembakan Israel yang lepas tanpa perjanjian.

5. Waspada
Tak perlu khawatir akan keamanan yang berasal dari warga Gaza. Insyaallah aman tidur malam meski tanpa mengunci pintu. Insyaallah tak ada pencopet sebab warga Gaza memiliki izzah. Jangankan mencopet, mengemis saja mereka enggan.
Yang harus diwaspadai adalah, demikian tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Siapa sangka, sesaat ketika mengajar, terdengar dentuman dan di waktu yang sama kita telah terlempar ke dimensi yang lain : alam barzakh?
Bukan berarti warga Gaza membabi buta menuju kematian dan tak lagi peduli pada perjuangan hidup. Mereka tetap bekerja, menuntut ilmu, bahkan hingga strata tiga. Mereka giat mencari beasiswa ke negeri jauh untuk diaplikasikan kembali ke Palestina. Mereka berlatih survival, bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya pecahan peluru. Hingga anak-anak, tahu bagaimana menghadapi tentara Israel meski hanya berbekal sebentuk batu.
Saya mungkin seperti anda dan jutaan manusia yang lain, menyangka bahwa kematian hanya akan menjemput nanti ketika usia menginjak angka 60 tahun ke atas. Kehidupan saat ini masih sangat layak dinikmati. Rancangan mingguan, bulanan bahkan tahunan ke depan menggambarkan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dimensi duniawi. Sangat sedikit mengingat kematian kecuali saat takziyah dan melewati areal pemakaman.

Di Gaza, Palestina, hidup terasa demikian aneh dan asing, namun juga menentramkan.
Udara pagi demikian segar, pasokan oksigen yang disiapkan tumbuhan zaitun dan tiin. Salam bertebaran, dengung Quran tiada henti. Wajah-wajah ramah teduh. Riuh rendah suara anak-anak sekolah, percakapan warga yang sama seperti warga lainnya dari belahan manapun di dunia ini. Hanya saja, warga negara ini tak gentar menghadapi kematian. Kepahitan tentulah ada, tapi mereka tak pernah takut hingga berniat meninggalkan Darul Ma’ad.
Mereka selalu waspada dengan kematian yang begitu dekat berteman dengan kehidupan.
Amat sangat waspada.
Hingga setiap langkah. Setiap jejak. Setiap nafas. Ditujukan bagi persiapan menuju keabadian.

Sekali lagi, Palestina dihantam kesulitan.
Para penjaga al Aqso, pengawal tanah kenabian, terbiasa menghadapi kelaparan dengan berpuasa dan berbuka hanya dengan segelas airputih. Mereka sanggup menghadapi persenjataan canggih dengan lemparan batu dan merakit roket-roket sederhana.
Tapi, apakah kita, hanya berdiam diri?
Atas nama kemanusiaan dan surga yang diimpikan, atas nama Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap keping rupiah dari kita adalah pertemuan dahsyat doa-doa mereka dengan cinta kaum muslimin. Setiap kepedulian kita adalah jalinan kuat dengan impian warga Gaza : ya Allah, jadikan saudara-saudara kami di Indonesia dapat menunaikan sholat di Al Aqso, kiblat pertama kaum muslimin.

Salurkan dana pada lembaga yang anda pilih.
Atau bersama Forum Lingkar Pena, FLP.
Organisasi Kepenulisan Muslim yang insyaallah terbesar di dunia, aktif dan konsisten menyebarkan nilai-nilai Islami yang Universal.
BSM (Bank Syariah Mandiri) cabang Dewi Sartika, Jakarta, no rekening 7033 101858, an Forum Lingkar Pena. Harap konfirmasi kepada Nurbaiti Hikaru 0815 72014615. Tweet ke @flpoke dan amati daftar donasi melalui website www://flp.or.id
Dana insyaallah sampai langsung kepada warga Gaza Palestina, melalui mitra FLP : BSMI dan KNRP insyaAllah

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia ~RINAI~ Sinta Yudisia

Pemenang Lomba Resensi #Rinai 2013

Terimakasih atas semua pihak yang telah berpartisipasi dalam mengikuti lomba resensi #Rinai 2013.Mohon maaf sebesar-besarnya atas jadwal pengumuman yang terlambat.

Berikut pemenangnya :

Juara I
http://coretanyanti.wordpress.com/2013/06/27/rinai-novel-tentang-gaza-yang-dibalut-ilmu-psikologi/

Juara II
Devi Novianawati (Klaten)

Juara III
Enni Sumarwanti (Sulawesi Selatan)

Selamat kepada para pemenang!
Untuk pengiriman hadiah kepada pemenang, silakan kirim biodata lengkap lewat email : sintayudisia@gmail.com

cover RINAI

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai : antara FLP, Palestina, Psikologi

Dibawah ini rangkuman wawancara dengan mbak Vika Wisnu, Sindo Trijaya FM, Kamis 28 Februari 2013 (maaf jika ada yang terlewat atau khilaf). Semoga bermanfaat ya 

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Vika, Rinai

Apa sih isi Rinai?
Fiksi documenter, tentang relawan perempuan yang berusaha memberontak kungkungan adat Jawa di belakang dirinya. Salah satu “rebellion” nya adalah dengan pergi ke kancah konflik. Juga merangkum kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza, Palestina; anak-anak di sana.

Rinai itu siapa?
Rinai adalah tokoh utama dalam novel “Rinai”. Sengaja memilih nama-nama yang sangat Indonesia sekali, kecuali untuk kisah-kisah ber setting asing (missal The Road to The Empire, Takhta Awan – tentu, harus nama Mongolia)

Bagaimana mendapatkan informasi tentang Palestina?
Kebetulan tahun 2010 berangkat ke Palestina bersama BSMI- Bulan Sabit Merah Indonesia. Saat itu gerbang Rafah belum dibuka seperti sekarang, masih di bawah kepemimpinan Husni Mubarak.

Bagaimana akses ke Kementrian Perempuan dan Kementrian Budaya?
Saat berada di Gaza, diundang ke kementrian tersebut. Di kementrian Budaya, bahkan disambut oleh seorang penyair yang bersenandung tentang Tanah Air dan Ibunda!

Apa goal dari buku Rinai?
Agar kita mencintai tanah air Indonesia. Mereka yang tanahnya sudah hancur saja, masih mencintai negaranya, apalagi kita yang diberikan olehNya tanah subur. Juga, agar kita mensyukuri betapa makmurnya Indonesia. Di Palestina, seringkali menyaksikan pohon dan bangunan hancur lebur, sementara di sini kita bisa menyaksikan beringin dan akasia rimbun.

Alangkah bahagianya bisa belanja di Indonesia pakai rupiah (jangan tanyakan kursnya pakai dollar!) sementara di Gaza masih pakai shekel, mata uang Israel. Bayangkan bila kita harus belanja di Indonesai pakai gulden atau yen! Sedih kan?
Kita juga belajar menghormati bendera merah putih, yang bisa berkibar di tanah air kita sendiri. Di Palestina, mereka berjuang agar bendera bangsanya bisa berkibar di tanah airnya sendiri.
Kita juga belajar dari Palestina, betapa mereka punya harga diri. Nggak gampang jadi pengemis, peminta-minta. Filosofi mereka : anda bisa miskin, boleh mengemis 1-2 bulan. Tapi kalau sampai bertahun-tahun mengemis, itu bukan miskin tapi pekerjaan! Di Gaza, kita akan menemukan anak-anak dengan kondisi fisik tidak lengkap, mereka masih berkeliling berjualan shai-teh.
Perempuan bersuaha eksis dengan bekerja, menghasilkan sesuatu dengan tangan mereka sendiri dan tak melulu mengandalkan bantuan orang. Mereka memang punya tradisi beranak banyak, tetapi meski kondisi perang, anak banyak, para perempuan tetap berambisi kuliah terus hingga S3!

Apa arti FLP bagi karya-karya anda?
FLP – Forum Lingkar Pena adalah organasisai yang tidak hanya berisi penulis tapi semua insan yang peduli pada dunia literasi. Ada pembaca, kritikus di sana. Teman-teman FLP –utamanya yang berbasis ilmu sastra atau FIB biasa mengkirtik karya saya : oh, tokoh anda kurang begini Mbak…setting, alur harusnya begini.

Sindo Trijaya FM, Sinta Yudisia

Bagi saya itu masukan yang luarbiasa, ketika karya kita dikritik!
FLP adalah organsiasi non profit yang telah memiliki sekitar 100 cabang dan ranting di Indoensia dan mancanegara. Kami baru saja ul ngtahun ke 16pada 22 Februari kemarin, insyaAllah akan menyelenggarakan Munas FLP di Bali Agustus 2013 nanti.
Di FLP selain belajar menulis kita juga belajar berorganiasi.

Siapa yang membuat anda terus berkarya?

Klise jawabannya : suami dan anak-anak. Anak saya adalah kritikus yang andal dan pedaaas!

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Inayah

Siapa penulis yang menginspirasi?
Kalau dari luar , Amin Malouf, Nagouib Mahfoudz. Dari Indonesia ada mba Helvy, mb Asma nadia, Mbak Afifah Afra (lho koq perempuan semua…?)
 Sebetulnya saya mau bilang kalau semua teman-teman FLP sangta menginspirasi saya, ingin menyebutkan nama satu demi satu tapi waktunya nggak cukup.

Apa aktivitas harian anda?
Pekerjaan utama adalah ibu dan istri, ingat ini adalah karir juga, bayarannya adalah cinta! Saya mengajar kelas menulis di SDIT al Uswah, masih menyelesaikan studi Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surbaya, mengisi training dan motivasi kepenulisan, menulis dll

Apa hambatan utama penulis?
Kemalasan!
Malas adalah musuh terbesar, tapi harus dilawan. Kalau lagi malas , saya biasanya baca buku-buku biografi seperti Helen Keller misalnya. Ia yang buta, bisu, tuli, harus berkomunikasi pakai alphabet manual saja tetap bisa menghasilkan buku. Kita yang lengkap jasmaninya apa lagi

Kategori
Cinta & Love Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Happy Palestine’s (not Valentine’s) Day

happy palestine's day

Kategori
Testimoni & Resensi #Rinai ~RINAI~ Sinta Yudisia

Testimoni & Resensi #Rinai

1. (0856xxxxxx, 21 Januari 2013, 03 :55 PM)

Assalamu’alaykum.
Bunda Sinta, SMS ini akan sangat panjang. Anggap saja sebuah email yang dipaksakan terkirim dalam bentuk short message. Novel Rinai baru saja saya tuntaskan 16 jam lalu. Novel kesekian yang saya baca diiringi sesuatu yang meraba hangat, keluar dari dua sudut mata. Kesekian kali, dari banyak kisah fiktif yang saya baca. Ya, fiktif.
Benar adanya ketika seorang sutradara film asing pernah mengatakan, “film ini adalah tipuan. Maka kita harus berhasil menipu penonton .“
Jelas, maksudnya tak lain seperti apapun film itu tidak nyata, maka para pembuat film harus menyusunnya sedemikian rupa, sehingga orang2 akan menganggap tipuan itu adalah kenyataan yang sedikit dipaksakan. Sebuah kemenangan besar ketika penonton akan dengan polos berkata, “kok bisa ya?” atau “Wah, ada ya yang kayak gitu?”

Padahal jelas, itu adalah visualisasi dari imajinasi penulis atau penyusun scenario.
Rinai.
Seperti itulah ia berhasil membuat saya tertipu, kalah telak. Hazeem, San’a, Montaser. Tiga orang yang pada akhirnya membuat saya mau tidak mau berharap memiliki anak2 dan suami seperti Hazeem, San’a dan Montaser. Cerdas, sederhana, penuh keyakinan tinggi, tenang. Ah, izzah Islam terpancar jelas melalui karakter mereka, sebagaimana yang Bunda tuliskan. Montaser, dengan nilai2 Islam yang dicontohkan Rasulullah, berhasil membuat saya sangat mengidam-idamkan calon suami kelak seperti ia. Sangat menghargai wanita, menjaga, melindungi. Begitupun cara warga Gaza menyambut tamu, memuliakan, sebagaimana baginda Rasul mencontohkan. Surga imbalannya, sudah lebih dari cukup. Segala sesuatu tidak berbau surga, lewat.

Saya menangkap semua pesan Bunda. Terlebih bagaimana ketegaran Hazeem. Itu yang membuat saya semakin semangat menghafal. Jika sewaktu2 saya mati, apa yang bisa saya bawa jika bukan amal sholeh?…

cover RINAI

2. (30 Januari 2013 05:42 PM by Benny Arnas)

Entah bagaimana, karakter Nora Effendi kok dapet banget yak!

3. (15 Januari 2013 07:27 PM by Wahyu Kurniawan, Amd)

Bonsoir Mbak Sinta.
Mbak, bukunya keren abis dari buku2 yg p’nah saya baca walaupun t’bitan dari luar negeri, padahal baru sampai halaman 45 bacanya. Critanya yg di kampus apa pengalaman mbak Sinta sendiri? Kalau tahu gini aku pesan buku banyak sekalian, he3x.

4. Syahrizal Bahtiar, FLP Jember ( 6 Februari 2013 04 :18 PM)

Subhanallah Mbak, ketika saya membaca Rinai, seolah2 saya sedang menonton acara televisi Al Jazeera yang menayangkan live tentang palestina. Punmembaca buku ini ibarat saya sedang duduk, memutar bolpoin, tatapan tajam, memperhatikan dosen saya yang menerangkan mata kuliah psikologi 

5. http://ridhodanbukunya.wordpress.com/2013/02/02/buku-buku-yang-habis-kubaca-januari-2013/

Rinai tak hanya berbicara Palestina dengan perang yang tak berkesudahan. Namun, ada tumpukan mutiara ilmu di dalamnya. Psikologi barat Freud VS Psikologi Islam Ibnu Khaldun, fakta anak-anak Palestina yang memiliki kecerdasan normal bahkan lebih dari biasanya walau dalam keadaan perang, juga ada kisah cinta yang tak harus memiliki Rinai yang mencintai Montaser yang memiliki Toyor Al-jannah. Dalam novel ini, bercampur satu semua itu menjadi sebuah kisah yang menarik pembaca untuk menyelesaikan hingga halaman terakhir.

6. http://timbunanresensi.wordpress.com/2012/10/20/rinai-by-sinta-yudisia/

Mengambil latar tempat di Gaza adalah salah satu yang membuat saya tertarik untuk membaca buku Rinai. Ditambah, ketika mengetahui bahwa kisah Rinai terinspirasi dari perjalanan penulis ketika berada di Khan Younis, Jabaliya, Deir Al Balah, Gaza City, maka keputusan untuk mengikuti event pre-order yang diadakan Penerbit Indiva di facebook-pun dilakoni. Sempat salah sangka, saat membaca blog penulis tentang gaya penceritaan epistori, bayangan awal saya adalah cerita akan berlangsung dengan model surat-menyurat seperti Life on the Refrigerator Door-Alice Kuipers tapi dalam bentuk surat bukan pesan di pintu lemari es. Jadi, saya mengira imajinasi pembaca dibangun dari aktivitas surat menyurat yang dilakukan sepanjang cerita. Ternyata epistori baru terasa ketika menjelang akhir antara Rinai dengan tokoh anonim, Aku. Meski begitu, saya menikmati membaca perjalanan Rinai Hujan yang dibalut dengan konflik psikologis dalam dirinya.

Menjadi anak perempuan di keluarga penganut adat Jawa yang kental ternyata menciptakan beragam tanya akan pengorbanan yang terlihat tidak adil, salah satunya ‘pemujaan buta’ terhadap laki-laki dalam keluarga. Jiwa berontak Rinai semakin kencang seiring dengan bertambahnya usia, bersamaan dengan tingkah Guntur, sang kakak, yang tidak tertolerir, ditambah lagi dengan Pak de Harun yang tidak kenal malu, terus meminta bantuan uang dari saudari-saudarinya, salah satu Bunda Rafika, ibu Rinai. Tapi, seluruh keluarga seperti berusaha ‘menutup mata’ dan memaklumi.

Keputusan mengambil kuliah di Surabaya, ternyata tak membuat Rinai menjadi tenang, pertanyaan pun masih menggelayutinya, apakah keputusannya adalah bentuk pemberontakan atau upaya melarikan diri dari keluarga yang menurut Rinai selalu menciptakan beban pikiran. Sosok Nora Efendi membuat Rinai kagum dengan dosennya yang tampak sebagai perempuan tangguh yang berani mengambil tindakan dan cerdas, kemudian muncul sifat membandingkan ketika bayangan Bunda Rafika hadir dengan sifatnya yang pengalah dan kerap memendam segala keluh. Dua sosok perempuan kuat dengan caranya masing-masing.
Tak berhenti di situ, mimpi Rinai yang kerap hadir di setiap malamnya dalam wujud Ular pun menambah ‘perang’ dalam kepalanya. Mimpi tentang ular seringkali dianggap sebagai pertanda munculnya jodoh, tapi kehadiran mimpi ini mencemaskan. Rinai mulai mempertanyakan orientasi seksualnya, menambah permasalahan yang berkemelut dalam batinnya.

Setengah buku pertama, rasanya cerita berjalan lama bagi saya. Bukan dalam taraf membosankan tapi ada rasa tidak sabar dengan ada apa saja dan apa yang bakal terjadi di Gaza. Selain, menuturkan tentang latar keluarga dan pergolakan pikiran Rinai, penulis juga memberikan wacana tentang psikologis lewat diskusi yang terjadi dalam ruang kelas atau obrolan sesama teman kuliah, santai dan mengalir, mungkin karena latar belakang pendidikan penulis yang juga psikologi.
Sepanjang perjalanan menuju Gaza, penulis menggambarkan tentang proses ketika berurusan dengan petugas; suasana Timur Tengah yang jauh berbeda dengan Indonesia; makanan khas Timur Tengah yang malah membuat rindu nasi dan sambal pedas kampung halaman; dan berbagai tempat-tempat yang dilewati sepanjang perjalanan menuju Gaza, di sanalah penulis menyajikan unsur traveling dalam cerita.

Misi kemanusiaan ke Gaza memuat konflik. Tak disangka, human relief for human welfare [HRHW] yang dibawahi Nora Efendi tak seidealis yang dibayangkan Rinai. Persepsi tentang orang dan anak-anak Gaza yang ‘diciptakan’ untuk sekadar menarik simpati agar kucuran dana dari donatur semakin meningkat, menyalahi nurani Rinai. Perasaan bersalah dan terkejut membuatnya mengambil tindakan “melawan”. Membaca bagian ini, memberikan saya gambaran tentang organisasi yang bergerak di dunia kemanusiaan, tanpa bermaksud menggeneralisir, ketika idealisme ‘kalah’ dengan realitas. Meski ada dua pandangan yang berseberangan, penulis tidak memihak, latar belakang dan alasan masing-masing disampaikan seperti ketika Nora berdebat dengan Taufik.
Tidak banyak buku yang mengangkat Gaza sebagai tema atau latar tempat, padahal butuh buku-buku seperti ini untuk terus mengingatkan pada manusia, terkhusus umat muslim, bahwa ada saudara kita yang sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Tidak hanya bergaung pada waktu-waktu tertentu, tapi selama penindasan terus terjadi.

cover RINAI
7. http://bawindonesia.blogspot.com/2013/01/resensi-buku-rinai.html

“Ilmu pengetahuan selalu mempunyai guru, di samping mempunyai prajurit sebagai penjaga. Sebagaimana psikologi merupakan anak kandung dari ilmu filsafat, para penjaga ilmu jiwa, beragam alirannya.” (hal.62)

Itulah kata-kata bertenaga yang saya petik dari novel Rinai. Novel ketebalan 400 halaman ini membuat saya mendalami ilmu psikologi secara eksplisit, terangkum dalam pengalaman tokoh utama yang bernama Rinai Hujan di daerah konflik Gaza. Gaya bahasa penulis yang serius, mengantarkan pembaca untuk memahami representasi mimpi, menemukan jati diri, dan menjunjung nilai kebenaran. Di sini, penulis membandingkan ideologi psikoanalisa oleh Sigmund Freud dan aliran Ibnu Khaldun.

“Ibnu Khaldun seorang ulama, ia bukan hanya peneliti. Tiap kali merumuskan bab demi bab, ia senantiasa menukil ayat Al Qur’an dan Hadist. Tidakkah selama di Gaza, Rinai melihat betapa Al Qur’an adalah kartasis hebat bagi jiwa yang sakit? Ibnu Khaldun mengobati dirinya sendiri sebelum ia mengeluarkan rangkaian obat bagi masyarakat. Rinai tahu, banyak orang tak akan semudah itu percaya pada Ibnu Khaldun. Sebab ilmunya terkubur bersama kaum muslimin yang menguburkan sikap ilmiahnya, menimbunnya dalam pertikaian dan kecintaan pada dunia, serta penghambaan pada ilmu bangsa lain yang belum tentu benarnya.” (hal.323)

Beberapa kali saya sempat terpukau oleh deskripsi penulis untuk menyisipkan wawasan di novel ini. Meski awalnya saya terjebak oleh sudut pandang cerita yang melompat, yakni dari sudut pandang orang pertama berganti haluan menjadi ketiga. Perjalanan alur cerita menjadi bersahaja ketika dijelaskan karakteristik budaya Indonesia dan Palestina secara bergantian. Novel ini cukup mengungkap rahasia anak-anak dan wanita Gaza dalam medan pertempuran. Seolah-olah Anda diajak penulis untuk menyelami kehidupan mereka, merasakan kepahitan dan kebangkitan emosi.

Jangan harap menemukan kisah picisan dalam novel ini. Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam memaknai sebuah cinta. Tentang bunga-bunga cinta yang tumbuh mekar dan mewangi meski tak harus memiliki. Ada konflik batin yang menurut saya belum berakhir sampai epilog cerita. Hal ini menimbulkan rasa penasaran untuk membaca kisah selanjutnya.
Rinai.
Sebuah novel fiksi yang patut untuk diapresiasi kepada penulis Sinta Yudisia berdasarkan inspirasi jejak rekamannya di bumi Gaza pada tahun 2010 silam. Yap. Sebuah perjalanan ke manapun itu bisa menjadi sumber cerita yang penuh hikmah dan manis tatkala diabadikan oleh pena.
Alhamdulillah, novel ini dikhatamkan menjelang pergantian tahun masehi dengan secercah harapan; ‘Setiap orang pasti memiliki potensi untuk dikembangkan. Kebiasaan untuk menulis secara berkesinambungan adalah sebuah ikhtiar untuk menjadikan diri semakin produkif. Mari, hasilkan karya positif untuk negeri tercinta. Apapun itu bentuknya :)”
(An Maharani Bluepen 30 Safar 1434 H)

8. http://secangkirtehtarik.wordpress.com/2012/10/15/rinai-novel-sinta-yudisia/

Apa yang mendorong seseorang memutuskan membeli novel? Kalo saya, salah satunya adalah penulis novel tersebut. Saya penggemar Sinta Yudisia sejak novel “Lafaz Cinta” (sejak covernya belum ada tulisan “best seller”) dan sering menjadi pembeli awal karya-karyanya. Tidak semua novel Sinta saya suka genre-nya. Bukan berarti ngga bagus, ini hanya soal selera. Toh kepiawaian Sinta dalam menjalin cerita tidak meluntur di bermacam tema. Riset mungkin merupakan kunci dari kedalaman materi yang dibawakan dalam karya-karyanya.
Cerita boleh jadi fiktif, kali ini Sinta membawakan tema dengan setting berdasarkan pengalaman pribadi melangkah di bumi para nabi, tambahkan dunia psikologi yang juga dekat dengan kesehariannya.
Disclaimer, saya jarang bikin review. Di blog ini pun baru ada dua, sangat sedikit untuk ukuran orang yang mengaku suka membaca novel. Dibilang review, hmmm…bukan kapasitas saya mengkritisi ini itu, jadi tulisan ini hanya sebuah ekspresi subyektif semata.
***
Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dan pertama. Dengan cara bertutur epistolari (novel jenis ini yang pernah saya baca adalah teenlit “Princess Diary”) dan berbingkai (seperti “Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”) (istilah ini baru saya kenal dari blog penulis). Adalah Rinai Hujan, sang tokoh utama yang memiliki nama unik, akan membawa pembaca bertualang bersama rombongan relawan kemanusiaan menembus blokade Gaza, tertahan berhari-hari di Kairo dan perbatasan. Bergaul dengan sesama relawan Indonesia yang baru ditemui, berjuang mengepaskan diri dengan individu-individu dari tim lain. Bahkan berkonflik dengan timnya sendiri yang telah membawanya jauh dari tanah air.

Selama ini situasi di Gaza tidak pernah benar-benar saya pahami. Ya, saya tau negeri itu berkonflik. Maka yang terimaji di benak adalah baku senjata tanpa henti. Tidak terbayang ada situasi dimana mata uang negara sendiri dilarang beredar, namun aktivitas masyarakat —termasuk jual beli— berjalan normal. Dimana untuk memasuki perbatasannya saja tanpa kepastian akan diijinkan oleh otorita (saya bahkan tidak tau otorita ada di tangan Israel, Palestina atau pihak ketiga?), di sisi lain para relawan diajak berwisata.

Rinai ikut serta sebagai bagian dari tim psikolog, sehingga tentu saja novel ini akan menyinggung istilah-istilah dan pengetahuan yang berkaitan dengannya. Untuk bagian ini saya agak bosan karena otak saya yang cetek enggan diajak berpikir ilmiah . Mimpi Rinai tentang ular saya pikir digambarkan terlalu berlebihan, walau menjelang akhir Sinta mempunyai maksud mengapa demikian. Ada juga informasi remeh yang saya anggap cukup menarik, misalnya ternyata mengganti alat tes itu memerlukan proses panjang, tidak bisa sembarangan, pun alat tes tersebut tidak sesuai dengan kondisi testee (h. 205). Konflik cerita yang dibangun masih berkaitan dengan dunia psikologi, bisa dipahami pembaca se-awam saya dan menurut saya sangat menarik.

Beberapa hal yang saya catat dari novel ini, yaitu:
Tokoh dengan peran antagonis digambarkan dengan wajar, tak ada yang berlebihan bagai kisah syitnetron. Selalu ada yang bisa dipelajari dari karakter tokoh. Nora sudah pasti bukan favorit saya, saya tetap suka argumennya di h. 271 *walaupun itu kutipan juga, tapi kan tapi kan saya baru pertama tau di novel ini, jadi terkesan banget gitu loh*. Ia punya argumen kuat dalam mempertahankan apa yang diyakininya. Perdebatan dengan rekan seprofesinya itu sebenarnya banyak kita jumpai di realita.

Demikian pula tokoh protagonis, Rinai sendiri tidak selamanya diceritakan berhati putih-putih melati tentu disayang mama. Latar belakang keluarganya, memang bukan tentang kekerasan fisik, saya pikir kekerasan psikis (dalam hal ini patriarki yang kelewatan) pun bikin nyesek. Dalam penceritan latar belakang Rinai kelihatan alur cerita yang bergantian antara kronologis dan kilas balik.
Setiap kalimat punya makna. Misalnya deskripsi bahwa Rinai memindahkan diam-diam aksesori di genggamannya ke saku jaket (h.135). Apa maknanya pada cerita secara keseluruhan? Entahlah, mungkin tidak ada secara langsung. Saya hanya menebak bahwa itu reaksi kecil seseorang di dunia nyata terhadap sesuatu, bisa juga untuk memperjelas karakter tokoh. Uhmmm…gimana ya ngejelasinnya. Maksud saya gini, saya sering menceritakan sesuatu (dan kemungkinan kalo saya bikin cerpen atau novel) langsung yang penting-penting aja, tidak mempedulikan hal-hal kecil yang akan sangat wajar di realita. Nah, disini Sinta tidak melupakan detil semacam itu, tanpa menimbulkan kesan bertele-tele.

Selalu ada romantika dalam karya Sinta yang mengambil porsi yang pas. Tidak menye-menye menghabiskan seluruh cerita, namun tidak pula tempelan semata. Saya selalu jatuh cinta pada tokoh lelaki rekaannya (belum move on dari Takudar dan Salim ehhe..). Mungkin karena penggambaran yang ”…teguh dalam pendirian, menjadi qawwam dalam keluarga dan kelompoknya, berdiri di depan, mengambil keputusan…”. Gimana ngga meleleh coba yaaaa. Benar-benar saya persis seperti kata hati Rinai ”pemuda itu membuatnya ingin bersandar, berguru, bertanya tanpa rasa cemas”. Awwww….manis.

Hal lain:
Sering merasa upacara bendera itu seremonial, cuma berlelah tanpa makna? Palestina akan menggugah kesadaran, bahwa sementara Merah Putih bebas berkibar di seluruh teritori Indonesia, ada negara yang hari gini masih pake “hari gini” memperjuangkan tegaknya bendera di negeri sendiri. Kerap mengeluhkan kondisi negara begini begitu penuh cacat cela? Rakyat Palestina tidak sempat mengeluhkan keadaan negara mereka karena “kehidupan mereka sedikit lebih cepat dari kehidupan lain di belahan bumi lain”. Jika kita sedang berada di luar lingkaran, kita akan lebih obyektif memandang segala sesuatu. Lebih bersyukur akan apa yang dimiliki atau tidak dimiliki.

Ini memang bukan genre favorit saya yang sangat menyukai kisah klise berakhir bahagia. Karena kisah di novel happy ending memang harus berakhir, sedangkan di realita buku akan ditutup jika kita mati. Maka novel ini lebih terasa manusiawi dan nyata. Hidup terus berlanjut dengan segala konflik di dalamnya. Novel ini akan berakhir sekaligus berlanjut dalam perenungan.

Kategori
Jurnal Harian Kepenulisan Perjalanan Menulis ROSE ~RINAI~ Sinta Yudisia

Mengapa Buku Cetak Ulang?

Banyak variable yang menyebabkan sebuah produk diminati dan laku di pasaran. Musik, film, fashion, juga dunia literasi dipenuhi berbagai elemen perkiraan yang akan menunjang laris-manisnya di pasaran atau justru tidak diminati sama sekali. Banyak penulis –termasuk saya- berharap bukunya masuk dalam jajaran best seller tingkat nasional, kalau bisa international.

Siapa tidak ingin memiliki karya melegenda seperti Leo Tolstoy atau Najib Mahfuz? Meski, dalam hati mengakui, karya kita mungkin belum dapat sejajar dengan karya-karya tersebut karena beragam sebab : ide, kemahiran mengolah kata, juga kemampuan penulis untuk mempersuasi pemikiran pembaca. Siapa membaca karya Dr. Najib Kailani yang berjudul “Panggilan Abadi” akan terinspirasi bagaimana menjadi pemuda yang berkecimpung di ranah dakwah. Siapa membaca “Haji Murat” Leo Tolstoy akan tergugah oleh semangat perjuangan dan pengorbanan nyawa di bawah sebuah rezim. Siapa membaca “Gadis Berbunga Kamelia” Alexander Duma Jr. akan tersadar, bahwa seorang pelacur pun mampu “meluruskan” hidup seorang pemuda untuk kembali kepada cinta ayah kandungnya. Siapa membaca “Samarkand” Amin Malouf akan terkesima, buah dendam Hasan Sabbah mampu membangkitkan sebuah mesin komunitas balas dendam yang sangat efektif untuk menjatuhkan lawan.

Karya kita, mungkin belum mampu semenggugah itu. Kita masih harus terus-terus-terus belajar dan berkarya hingga di satu titik, karya matang kita memiliki energy besar untuk merubah setiap yang bersentuhan dengannya.
Ada karya-karya best seller, meski biasa-biasa saja. Beberapa karya saya best seller atau laku di pasaran, meski kualitasnya belum sebanding Leo Tolstoy. Saya punya prediksi sendiri kenapa karya tersebut laris manis. Semoga, menjadi catatan penting buat penulis untuk melangkah.

1. Lafaz Cinta
Copy of Lafaz Cinta

Cover Karina Kapoor yang cantik, menjadi daya tarik. Sampai-sampai suatu saat, saya bertemu seseorang di took buku yg berminat pada Lafaz Cinta, karena menyangka penulisnya adalah si cantik yang terpampang di depan! Huaaa….senangnya . Di masa itu, judul novel dengan kalimat “…….Cinta” memang sedang jadi tren. Lafaz Cinta memang salah satu novel kesayangan saya (kalau dipikir2….saya sayang semua karya saya sendiri ..haha); meski bukan novel terbaik. Kisahnya sederhana, asalnya akan diberi judul ABC – Aku Bukan Cinderella tapi ditolak. Untung dilabeli Lafaz Cinta! Yang unik, saya dikira sudah menjelajah Belanda-Mekkah-Madinah karena novel tersebut. Amiiiin….

2. Pink
Pink

Kumpulan cerpen ini naik cetak berkali-kali (gak tau sampai berapa kali cetak). Isinya sangat remaja, tipis, tidak terlalu berat genre sastranya. Sepertinya, yang membuat kumcer ini laris manis adalah covernya yang berwarna merah jambu, dengan ilustrasi seorang gadis berambut panjang berparas manis – eye catching sekali!

3. The Road to The Empire
Cover depan

TRTE adalah sebuah karya seperti kalau kita menikmati olahan es krim : bekukan-blender-bekukan-blender-bekukan-blender lagi. Bolak balik masuk dapur laptop, diolah, dikritisi, direvisi. Hasilnya…Alhamdulillah. Meski airmata, keringat, lelah, sempat putus asa, semangat lagi , demikian seterusnya, novel ini menjadi karya terbaik fiksi IBF Award 2009. Yang menjadi pasal penyebab cetak ulang : saat itu genre historical fiction sedang naik daun, ditunjang tim promosi LPPH yang oke punya. LPPH sekarang sudah merger ke Noura Books. Cover TRTE yang tampak megah sepertinya mengundang pembeli untuk merogoh koceknya.

4. Rose

rose

Rose naik cetak ulang dalam jangka dua bulan. Banyak yang memuji novel ini berharga “murah” mengingat harganya yang hanya 32.000-38.000 (tergantung toko dan discount); tetapi kualitas kertas dan covernya bagus. Harga yang relative murah (bandingkan dengan TRTE 63.000; TA 69.000 !) menyebabkan Rose mudah diserap pasar. Kalangan pembaca kita memang kebanyakan pelajar & mahasiswa yang rata-rata masih berkantong tipis. Harga dibawah 50,000 tentu relative tak berat. Rose juga muncul di era genre perempuan, cerita Rose yang mudah diikuti juga menyebabkan orang tak harus berkerut-kerut kening seperti membaca TA -Takhta Awan

5. Rinai

cover RINAI

Insyaallah #Rinai akan naik cetak yang 3. Keseriusan penerbit Indiva menggarap Rinai memang patut diberikan selamat : Subhanallah dan MasyaAllah. Sejak awal, editor Mastris R. Kabun mengawal detil cerita. Kertas cover dan isi yang bagus dengan harga terjangkau (bayangkan 45.000! Itu belum discount kalau ada acara bisa 36.000-35.000. Bahkan pre order 30.000…alamak!) Rinai mudah diserap pasar karena harga yang masih di bawah 50.000. Ibaratnya, uang biru selembar, masih ada kembalian.
Indiva, juga meng arrange acara-acara seperti bedah buku di Ibnu Abbas, Baitul Quran, program paket dll. Indiva gencar promosi termasuk menembus Gramedia. Saya merasa sangat terbantu dengan tim marketing dan promosi Indiva sehingga Rinai makin dikenal banyak kalangan.
Moment Palestina juga hadir, bersama Rinai, sehingga novel ini menjadi renungan tepat untuk mereka yang ingin tahu Gaza- Palestina. Dapat disimpulkan, Rinai muncul di saat yang tepat, dengan hasil kerja keras seluruh tim penerbit Indiva.
Saya memang merasa Rinai adalah salah satu novel yg dibuat dengan semangat ganbatte! Kalau ingat proses pembuatannya…..hanya pujian kepada Allah SWT. Saya sempat sakit demam, radang tenggorok, tetapi dikejar deadline. Rinai, juga novel yang saya upayakan penulisannya diiringi dengan proses ruhiyah –qiyamullail, dhuha, tilawah. Mengingat Palestina adalah negeri pada Nabi, tentu tak pada tempatnya menulis sebuah kisah tentang Gaza dengan hati lalai. Tentunya, ada masa yang khilaf juga, masa bermalas-malas, masa segan dan frustrasi…tetapi memang, saya upayakan untuk Rinai, jauh lebih terjaga masalah bathiniyah nya.

Rinai, masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang harus diperbaiki.
Satu yang sangat saya syukuri : kali ini, tim Indiva memang sungguh membantu proses promosi sehingga sebagai penulis saya tidak kalang kabut menyelenggarakan acara, cari dana, cari pembicara, sounding kesana kemari, bikin pamphlet, menghubungi peserta dll. Saya berusaha memaksimalkan link yang saya punya, Indiva juga begitu. Kerjasama penulis, penerbit, toko, pembaca, komunitas, agaknya lebih maksimal pada pasca produksi Rinai.
Dan ….ada semangat Palestina di antara kita. Saya, tim Indiva dan semua yang merasa terikat dengan Palestina, seolah berusaha membantu mensukseskan novel ini.
Terimakasih untuk apresiasi, dukungan, kritik, doa-doa 

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Tanya dan Fakta seputar Palestina : Rangkuman Diskusi sepanjang Bedah Buku #Rinai 23 Nov 2012- 2 Des 2012

Membahas Palestina , baik Tepi Barat atau Jalur Gaza, memunculkan polemic tiada habis. Ideologi, agama, aqidah, hingga kepentingan politik dan ekonomi mewarnai. Tetapi membincang Palestina, rasa yang sama muncul mulai anak-anak, remaja hingga golongan dewasa. Tanpa bermaksud memperuncing friksi, inilah rangkuman perjalanan Bedah Buku #Rinai yang banyak diwarnai diskusi seru dan kisah-kisah menarik

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)
3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)
6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)
10. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)
11. Tentang Nasionalisme (ICMI, Jatim)

Simak hasil diskusi kami, semoga bermanfaat.

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
Perjalanan ke Palestina bukan main melelahkan. Tim BSMI 2010 saat itu harus menembus Rafah di era rezim Mubarok. Sejak di Indonesia persiapan barang-barang, fisik, tekanan mental untuk “tidak bisa menembus Rafah” yang berarti tidak berhasil memasuki Palestina, sudah harus disiapkan. Check point berkali-kali, asykar Mesir (saat itu) seringkali tidak ramah. Juga, visa kami yang sempat jadi bulan-bulanan di Rafah Mesir. Secara singkat ini rutenya.
* Surabaya – Jakarta : pesawat
* Jakarta –Singapur (transit) – Abu Dhabi (transit) – Cairo : pesawat
* Cairo-Ismailiyah-Sinai-El Arish-Rafah : mobil
* Rafah Mesir – Rafah Palestina : bis, beberapa menit saja
* Khan Younis- Deir al Balah- Gaza City- Jabaliya : mobil dinas

Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah
Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah

Sekilas, seperti perjalanan biasa-biasa. Di atas SQ yang membawa tim selama belasan jam, persendian serasa kaku, panggul dan tulang ekor panas bukan main. Belum lagi melintasi Sinai yang berjam-jam terdiri atas padang pasir keemasan membara : nafas serasa tersengal tak sanggup menahan panas manguar!

2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)

Inteligensi kaum Yahudi , kerapkali dianggap hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang istimewa macam bangsa Palestina. Konon, pemuda Gaza mampu merakit apapun menjadi bom : sayur, kopi, sampo, dsb. Dalam situasi terjepit, sebagaimana bangsa kita dulu yang mampu menjadikan bamboo runcing sebagai senjata, warga Gaza tak hilang akal menjadikan apapun sebagai senjata.
Tapi, jangan tanyakan bagaimana merakitnya, asli saya tidak tahu!
Saya bukan teknisi, tapi calon psikolog, insyaAllah. Jadi lebih faham bagaimana manusia bisa dirakit, daripada merakit senjata. Bukan orientasi membuat bom itu yang menjadi focus utama, tetapi bagaimana mampu tetap sekolah, meraih prestasi akademis, hidup berkorban dan berjuang, selalu punya tujuan mulia, selalu peduli sesama; nilai-nilai itu yang saya bagi terutama kepada peserta anak-anak dan remaja.

3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)

Bermain, bercanda  & suka difoto :)
Bermain, bercanda & suka difoto 🙂

Sama saja seperti anak-anak lain.
Senang main bola, main perang-perangan tapi kalau bermain peran prajurit Qossam VS Yahudi, rata-rata tidak mau jadi tentara Israel, haha. Suka permen dan es krim, suka bermanja-manja pada orangtua, pakai topeng Batman juga. Bedanya, sejak kecil mereka sangat dekat dengan Quran.
Menjadi penghafal Quran, bukan hanya keinginan orangtua belaka yang mendamba anak sholih, tapi tampaknya pemerintah menyadari anak-anak adalah asset Negara sehingga kurikulum menghafap Quran masuk dalam system pendidikan ; bersinergi dengan kementrian lain termasuk Ministry of Women Affairs.

4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
Salah satu yang sangat menginspirasi sepulang dari Palestina adalah sinergi antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah melayani, rakyat percaya. Beberapa kisah dibawah, cukup mewakili.
* Ministry of Culture
Ketika rumah-rumah hancur akibat serangan rudal Israel, tugas kementrian budaya adalah memugar rumah tersebut sebagai warisan sejarah dan budaya. “Ini rumah Asy Syahid fulan….”. Perlakuan pemerintah terhadap kejadian ini setidaknya membuat anak-anak yang ditinggal syahid orangtuanya merasa bangga, merasa bahwa pengorbanan mereka menjadi yatim piatu tidak sia-sia. Negara menghargai dan anak-anak tersebut dipelihara, tidak terlantar menjadi anak jalanan.
* Ministry of Women Affairs
Kementrian perempuan melatih perempuan-perempuan memiliki ketrampilan sehingga mampu mandiri secara financial. Ditinggalkan suami/ayah sebagai tulang punggung keluarga, menyebabkan tugas pencari nafkah beralih kepada kaum perempuan.
Tidak hanya focus pada perempuan, kementrian perempuan bersama kementrian-kementrian lain menjadwalkan program menghafal Quran tiap kali summer camp, sehingga anak-anak menambah hafalam Quran secara signifikan dalam 2-3 bulan.
* Militer/tentara
Peran militer memberikan rasa aman pada rakyat. Sejak HAMAS memerintah, masyarakat merasa aman melepas putri kecil mereka belanja sendiri ke supermarket. Prostitusi dan drug abuse terhapus, minuman keras juga tidak merajalela. Malam hari, pasukan Qossam menjaga hingga ke gang-gang kecil sehingga rumah-rumah dibiarkan tidak terkunci dan situasi tetap aman. Yang mengharukan, prajurit Qossam terbiasa puasa Senin Kamis. Malam hari, para ibu atau warga lain menyiapkan makan sahur; menghantarkan ke pos-pos penjagaan :’)
* Angkutan umum
Pejabat dibiasakan naik Fiat tahun 70an yang mungkin pabriknya sudah tidak memproduksi lagi. Tetapi rakyat disiapkan angkutan warna kuning cerah, berAC, baru, sehingga warga merasa aman menggunakan kendaraan umum, tidak terpicu untuk memiliki mobil pribadi karena angkutan umum yang tidak nyaman.

5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)

“We believe in Allah,” itu kata Mrs. Rehab Shubair. Itu yang diajarkan para ibu kepada anak-anaknya dengan percaya pada Allah SWT, percaya pada janji Quran.
Anak-anak biasa diajarkan menghafal Quran di rumah, terutama surat pendek, sehingga di summer camp , mereka telah memiliki dasar untuk masuk ke tahap berikut menghafal , ibarat tahap advance & intermediate. Selain itu, para ibu mengajarkan bagaimana harus beradaptasi dengan situasi darurat seperti menjauhi jendela saat bumi terasa bergetar, dsb.

6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
Doa yang tiada putus, terutama di waktu istijabah, Bukan hanya buat Palestina tapi juga buat Rohingya, Mesir dan belahan manapun dari bumiNya yang terdapat kaum muslimin. Menyisihkan dana, berjuang lewat pena, lewat media social (tetapi juga harus berhati-hati)

7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
Ada sebuah cerita menarik seorang guru di Surabaya. Ia mengisahkan perang di Palestina, tanpa bermaksud menebar kebencian. Ternyata, anak-anak mampu menangkap cerita. Suatu saat, mereka diminta presentasi tentang Negara-negara dunia, sembari memperlihatkan bendera Negara yang b ersangkutan. Sampai pada Negara Israel, sang murid menginjak-injak bintang David.
Menceritakan Palestina kepada anak-anak di masa sensitive perkembangan, memang harus berhati-hati. Anak-anak sangat perasa, imajinatif, mudah cemas dan panic. Di usia TK –SD, kemampuan operasional formal belum berkembang sempurna dimana mereka dapat berpikir abstrak dan menghubungkan ABC dst. Memperlihatkan foto-foto berdarah, anak-anak terluka dengan organ tubuh tak utuh lagi dapat menyebabkan trauma.
Saya pribadi, di Kelas Menulis SDIT Al Uswah mengajarkan terutama 2 hal :
* Bagaimana anak-anak Palestina tetap bersemangat sekolah meski kepedihan mendera. Tetap sekolah di bawah desing peluru, di bawah ancaman bom sewaktu-waktu, terancam terkena peluru nyasar.
* Bagaimana anak-anak Palestina menyadari harga orangtua yang harus dihormati dan dicintai. Mereka berangkat sekolah mungkin masih menyalami orangtua, memeluk dan mencium mereka, ketika pulang besar kemungkinan orangtua syahid atau kakak yang tiba-tiba tewas.
Ternyata, mengisahkan tentang semangat sekolah dan kecintaan pada orangtua, sangat membekas pada diri anak-anak. Kelak, di usia yang lebih matang, sekitar SMP akhir atau SMA, foto-foto yang lebih real dapat kita perlihatkan. Itupun harus melihat jika anak-anak tidak sedang dalam trauma tertentu. Mereka yang tengah bermasalah berat dengan orangtua dan lingkungan akan menjadi sensitive, terimpuls melakukan hal negative ketika melihat foto-foto miris.

8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
Etiskah meng unggah foto-foto kekejaman Israel, foto anak-anak atau remaja dengan luka mengenaskan? Foto para perempuan yang terluka parah? Menurut bu Sirikit Syah, pakar media, ada 2 aliran besar jurnalistik. Pertama, sangat menjaga “kesopanan” artinya memilih betul foto-foto yang relative bisa “diterima” semua pihak. Kedua, yang jujur apa adanya, sekalipun menimbulkan efek tertentu –kengerian, muak, jijik, amarah.

Sekarang pun muncul Jurnalisme Perasaan. Dulu, jurnalis diminta meliput cover both-side; artinya ia harus menceritakan secara fair dari dua sisi. Misal, RS Asy Syifa hancur, yang diwawancarai harus pihak Palestina dan Israel. Peraturan itu tak berlaku kini. Jurnalis boleh melaporkan cover one-side, bahkan dengan nilai subyektif. Ia berhak melaporkan kondisi Gaza hanya dari kacamata Palestina, tanpa perlu mewawancarai pihak Israel; mengingat mewawancarai Israel juga menimbulkan kesulitan tertentu dan ada kemungkinan ketidak jujuran muncul.

9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)

Perang Israel VS Palestina kali ini diramaikan dengan perang media social. Ungkapan-ungkapan pedas menyakitkan kaum muslimin : mana Tuhan kamu? Toh Palestina tetap terjajah, Israel menang!
Sejarah mengajarkan , Tuhan kerapkali menunda kekalahan dan kemenangan untuk menimbulkan dampak yang jauh lebih dramatis. Kisah Firaun Musa yang legendaries buktinya, atau Qarun dan Musa.
Qarun yang semula sholih, setelah kayaraya berbalik memusuhi Musa bahkan ingkar tiap kali diingatkan masalah berbagi harta pada kaum miskin. Tak cukup sampai disitu, Qarun beralih menyembah Sobek, dewa Buaya penguasa Nil. Suatu ketika, Qarun minta adu kekuatan. Ia memanggil Sobek, memintanya menenggelamkan Musa. Hasilnya nihil. Musa berdoa pada Allah SWT dan Qarun ditenggelamkan beserta hartanya yang berlimpah.
Darimana kita tahu Israel sebetulnya menderita kekalahan, setidaknya kekalahan mental?
* Tentara Israel dikenal memakai pampers, tak berani turun kencing ketika menyerang darat. Mereka tetap di dalam tank, khawatir tangan-tangan mungil penggenggam batu melempar kearah mereka
* Suburnya rahim perempuan Palestina, mampu melahirkan anak-anak kembar. Ratio penduduk Gaza, meski seringkali dimusnahkan, semakin beranjak naik dari tahun ke tahun
• 2000: 1.120.000
• 2001 : 1.167.000
• 2002: 1.200.000
* Homoseksual di Israel merajalela, dengan dalih HAM. Homoseks tak melahirkan anak, bukan? Akibatnya penduduk Yahudi menyusut
* Banyak pemuda Israel lari keluar negeri, tak mau ikut wajib militer. Berbeda dengan pemuda Palestina yang bertekad mempertahankan tanah air, bahkan sekalipun mereka sukses di Negara manapun (Amerika, Jerman, dll) mereka tetap kembali ke Gaza
* Ancaman Israel untuk mampu menghancurkan Gaza tak didukung kekuatan personil. Sangat sedikit warga Israel yang siap maju ke medan perang, maka Israel meminta bantuan internasional. Pernahkah kita mendengar Palestina meminta bantuan dikirimkan tambahan pasukan? Tidak.

10. Tentang nasionalisme Palestina (ICMI , Jatim)

selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah
selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah

Setiap warga Palestina memasang bendera hitam-putih-hijau dengan segitiga merah di tiap rumah, ditambah lukisan atau pahatan Al Aqsha. Kita baru memasang bendera ketika diperintahkan pak RT. Banyak yang perlu diprihatinkan dari Indonesia, sehingga mereka yang ke luar negeri dan mendapatkan kehidupan yang nyaman, enggan berbalik ke Indonesia. Tak bisa disalahkan juga, kita ingat bagaimana kasus IPTN menyebabkan 2000 insinyur terbaik Indonesia terkatung dan akhirnya memilih ke luar negeri karena pemerintah sendiri tak memberikan penghargaan layak.
Bagaimana rakyat mencintai tanah air mereka, Palestina, memang akrena masalah ideology , aqidah dan ibadah. Tetapi tak dapat disangkal, pemerintah di Gaza pun memberikan pelayanan yang baik sehingga rakyat dapat memberikan loyalitas dan jiwa nasionalismenya untuk bahu membahu berperang bersama Negara saat dibutuhkan.

11. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)

Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina
Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina

Mengingat perempuan menjadi salah satu tulang punggung Negara, perempuan harus disiapkan sejak dini dengan bekal pendidikan dan ketrampilan. Banyaknya lelaki (suami, ayah, anak) yang syahid menjadikan perempuan maju ke garda depan. Belum lagi bila, lelaki di tengah keluarga sengaja dibuat cacat, agar beban perempuan bertambah. Tanpa persiapan apa-apa, perempuan tak akan sanggup memikul ekonomi dan segala macam kesulitan. Memang, Negara membantu, tetapi akan sangat baik bila bantuan Negara didukung kesiapan SDM sehingga terjalin kerjasama to take and to give. Bila memungkinkan, perempuan Gaza sekolah setinggi-tingginya, bahkan mengambil beasiswa ke luar negeri dan kelak kembali membangun Negara. Mereka diberikan kesempatan bekerja yang sama : dosen, salon, pegawai, dokter, perawat, guru, koki dsb.

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai di ICMI Jawa Timur 1 Des 2012

BB #Rinai bersama Bu Sirikit pakar media, cak Mail ketua ICMI Jatim & rekan2 ICMI muda
BB #Rinai bersama Bu Sirikit pakar media, cak Mail ketua ICMI Jatim & rekan2 ICMI muda
Ariashinta,  aku, Bu Herdiana, Bu Santi, Bu Aliya
Ariashinta, aku, Bu Herdiana, Bu Santi, Bu Aliya

bersama Inayah, Ika, wina, Aulia, Asril dan Novan
bersama Inayah, Ika, wina, Aulia, Asril dan Novan
Berdiskusi tentang Palestina dg berbagai referensi yg ada
Berdiskusi tentang Palestina dg berbagai referensi yg ada
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai & Hijab Class SKI FEB UNAIR 30 N0v 2012 : cantik & syari !

saat acara hijab class, sambil mencoba gaya jilbab, menikmati #Rinai
saat acara hijab class, sambil mencoba gaya jilbab, menikmati #Rinai
Hijab, Jilbab dan tetap cantik. Banyak gaya : sportif, casual, elegan. yg penting syari :)
Hijab, Jilbab dan tetap cantik. Banyak gaya : sportif, casual, elegan. yg penting syari 🙂
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai, Cerita Gaza di UNAIR, Masjid Nuruzzaman 29/11/’12

Sore hari 29/11/’12 di selasar masjid Nuruzzaman bercerita sedikit ttg Gaza
Rinai, one of my favourite novel that I’ve written 🙂
Menyimak Rinai & Gaza. Selalu, ingin kembali ke Palestina. Tapi, siapkah?
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan ~RINAI~ Sinta Yudisia

BB #Rinai di Baitul Quran Sragen 23/11/’12

Santri Putri Baitul Quran & #Rinai
Sinta Yudisia, Afifah Afra, santri putri baitul Quran Sragen
santri putra Baitul Quran & #Rinai
pesantren di keindahan lereng Lawu
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan ~RINAI~ Sinta Yudisia

Bedah Buku #Rinai & galang dana Gaza Palestina di Pesantren Ibnu Abbas, Klaten 24/11/’12

berbagi motivasi dg santri Ibnu Abbas

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia ~RINAI~ Sinta Yudisia

Worthy Life with Writing, #Rinai, FLP Jember 28 Okt 2012