Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Mendampingi Anak-anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19

“Apa yang harus saya lakukan? Teman saya kehilangan orangtuanya yang wafat karena Covid. Kalau ortu sakit lama, tentu bisa menyiapkan diri. Tapi meninggal karena Covid, begitu cepat mendadak. Saya sendiri sering dilanda kecemasan, takut kehilangan orangtua saya.”

23 Juli 2021 mengisi acara kemuslimahan yang diselenggarakan PWK ITS. Mahasiswi penanya tsb, menangis. Ia yang sudah memasuki usia remaja akhir dan masuk ke dewasa awal saja merasa dag dig dug. Takut kehilangan orangtua. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

Apalagi anak yang masih SMA. SMP. SD, bahkan TK.

Tak terbayangkan rasanya.

Di hari-hari biasa, kehilangan orangtua akan menghadirkan simpati. Orang-orang mengulurkan tangan, membantu materi, menawarkan menjadi orangtua asuh. Bantuan finansial mengalir, dukungan dari banyak pihak didapatkan : guru-guru, pihak sekolah/kampus, saudara besar, tetangga, handai tolan.

Wafat karena covid?

Bahkan kematian demikian senyap. Pemakaman terasa asing. Anak yang kehilangan orangtua tak melihat orang-orang merawat jenazah orangtua mereka, memandikan, menyolatkan. Tak ada kerabat datang menghibur.

“Duh, ortunya wafat karena covid. Jangan-jangan anaknya juga positif. Gimana mau merangkul mereka? Mau memeluk?”

Bantuan finansial, tentu tak sama seperti hari-hari biasa. Masing-masing orang sedang kepayahan mengurus diri sendiri dan keluarganya. Apalagi jika ada yang sakit, mencari tabung oksigen sudah merupakan perjuangan spektakuler bagi sebuah keluarga.

Kehilangan orangtua karena covid sudah sangat memukul. Sejak divonis sakit, serangkaian protocol kesehatan memang harus diterapkan. Diisolasi, diasingkan, dipisahkan dari orang lain untuk menghindari penularan. Kontak fisik ditiadakan, bahkan kadang komunikasi terputus 100%. Apalagi bisa si pasien harus masuk kamar ICU, tanpa ada kerabat yang menemani. Karena kerabat yang lain juga tengah diisolasi. Ya Allah. Terbayang betapa bingungnya seorang anak yang tetiba menghadapi kenyataan ini.

Dua pekan lalu ia masih memiliki orangtua, lalu tetiba orangtuanya lenyap dibawa ke RS. Tak ada kabar berita, lalu pemberitahuan terakhir orangtua telah tiada. Hanya tersisa makam dengan nisan bertuliskan nama yang tak ingin dipercaya.

Vino bukan satu-satunya.

Saya sendiri mendampingi beberapa anak yang orangtua mereka wafat karena covid. Pikiran saya sebagai psikolog dan konselor terbelah-belah, tenaga pun terbagi-bagi. Namun, segala kendala tak boleh menjadikan kita lalai dari merumuskan langkah-langkah penting. Keputusan besar.

Anak-anak ini adalah asset bangsa. Orangtua mereka syahid dalam wabah (tha’un) dan jelas mereka anak-anak istimewa. Sebagai orangtua, psikolog, penulis dan bagian dari anggota masyarakat, saya terpikir beberapa hal.

  1. Layanan konseling psikologi online untuk anak-anak.

Anak-anak ini pasti kebingungan. Walau orangtua mewariskan harta besar, mereka tetap akan merasa sangat kehilangan. Layanan konseling psikologi yang khusus menangani anak-anak ini perlu segera diluncurkan. Para psikolog dan relawan yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak, bisa terlihat di sini.

Hotline , call center, layanan oleh lembaga zakat, layanan komunitas dll dapat menjadi bagian dari solusi ini.

2. Shelter psikologis.

Di barat dikenal foster family dan orphanage; bila tidak ada keluarga besar yang menampung.

Bila kita ingin mengadopsi konsep tersebut, memang perlu menimbang beberapa norma. Dalam Islam misalnya, dikenal konsep aurat sehingga tak bisa menitipkan anak pada foster family jika anak-anak mulai aqil baligh. Namun jika anak-anak belum aqil baligh, masih bisa dititipkan di foster family. Lalu, bagaimana jika kakak adik beda tahapan usia? Tentu ini perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kakak dan adik dipisahkan, karena mereka telah kehilangan orangtua.

Shelter psikologis bisa berupa Yayasan anak yatim, Yayasan dhuafa atau sejenisnya. Bukan hanya memperhatikan pasokan fisik tetapi juga sangat memperhatikan kebutuhan psikis anak-anak.

Bagi yang ingin tahu seperti apa foster family, saya sarankan menonton film Shazam. Film superhero yang berbeda, karena salah penekanan film ini adalah bagaimana hubungan anak dan orangtua dalam foster family.

3. Dukungan materi

Ada banyak kehilangan dari seorang anak yatim/ piatu. Kebutuhan gizinya, kebutuhan akademiknya bisa terbengkalai. Belum lagi bila si anak ingin sesuatu seperti ingin beli mainan, ingin beli jajan dan kebutuhan sekunder/tersier yang seolah tak penting namun dibutuhkan.

Kebutuhan materi ini juga perlu diperhatikan kita bersama agar anak yatim/piatu tidak kehilangan hak-haknya. Tentu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara donator dengan kondisi riil di lapangan.

4. Dukungan immateri

Dukungan ini sangat penting dan sering kali melelahkan.

Anak yang menangis dan meratapi orangtuanya terus menerus, bahkan yang histeria dant trauma, tentu membutuhkan pendampingan khusus yang menyita waktu dan energi. Bagi berbagai institusi (Yayasan, lembaga zakat, komunitas) perlu membuat SOP agar dapat mendampingi anak-anak ini secara berkesinambungan. Seringkali, perhatian tertumpah di awal-awal waktu saja karena rasa simpati yang begitu besar. Rasa iba akan kehilangan orangtua dan melihat anak-anak ini seperti anak ayam kehilangan induk.

Seiring berjalannya waktu, perhatian kita pupus oleh agenda lain padahal kebutuhan anak-anak ini terhadap pendampingan justru semakin besar. Apalagi jika anak-anak memasuki masa remaja, atau masuk usia sekolah; masa-masa krisis kepribadian yang dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.

5. Pembentukan relawan

Kondisi saat ini tak mungkin hanya ditangai satu pihak. Pemerintah akan kewalahan menghadapi berbagai macam dampak pandemic. Ekonomi dan kesehatan yang membutuhkan fokus utama, sudah pasti harus ditangani pemerintah. Anak-anak terlantar seharusnya ditangani negara. Tapi bagaimana bila pemerintah tak cukup punya akses sampai warga paling pelosok, atau warga yang tidak terdata? Psikiater, psikolog, kementrian sosial boleh jadi kewalahan oleh gelombang kasus dan juga burn out.

Relawan-relawan yang merupakan “darah segar” dapat diberdayakan. Mereka bisa jadi pelajar, mahasiswa, fresh graduate, lansia yang masih sehat dan produktif. Orang-orang difabel yang fisiknya terbatas namun memiliki kemampuan untuk mendampingi dengan kesabaran, atau bahkan para veteran covid 19 yang pernah mengalami trauma parah lalu bangkit dan sekarang ingin berbagi kekuatan.

Saya membentuk komunitas Ruang Pelita sejak tahun 2011.

  Akronim dari Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi. Selama ini fokus di berbagai acara untuk anak muda yang bertema kekoreaan dan jejepangan. Selama pandemic, Ruang Pelita turut membantu menggalang dana untuk masker, APD, mengumpulkan ponsel bekas. Kali ini menggalang dana untuk #bantuoksigen

Mungkin, tidak banyak yang bisa kami berikan.

Tapi komunitas-komunitas kecil seperti kami yang banyak tersebar di berbagi penjuru Indonesia insyaallah bisa membantu pemerintah untuk mengatasi gelombang pandemic dengan segala dampaknya. RuangPelita ke depannya juga ingin mendirikan shelter psikologis yang dapat mendampingi anak-anak yang trauma karena covid.

Pandemic covid 19 tidak hanya menyisakan tantangan besar di dunia kesehatan dan ekonomi secara global. Permasalahan psikologis merebak di mana-mana. Banyak sekali tenaga kesehatan yang depresi bahkan trauma menghadapi pasien seiring tingginya angka kematian.

Bagaimana dengan anak-anak?

Mereka kerap diabaikan, namun kelompok paling rentan ini sesungguhnya kelompok yang sangat membutuhkan uluran tangan. Dengan tulisan ini saya berharap banyak pihak akan saling bersinergi untuk membantu anak-anak yatim/piatu Covid 19 agar sembuh dari trauma dan bangkit menyongsong masa depan.

#covid19 #coronavirus #survivorcovid19 #penyintascovid19 #helpchildrenofcovid19 #helpchildren

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19