Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah My family Oase Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Tuhan, Terimakasih Telah Beri Kami #Lockdown

Pernah di rumah lebih dari 2 minggu? Belum pernah, kan? Apalagi emak-emak. Seriing banget kita bilang

“Kapan libur, ya, kapaaan??”

Gegara capek anter anak sekolah pulang balik.

Gegara harus antar si kakak les dan si adek TPA.

Gegara harus ke pasar, urus ini itu, kondangan dan seterusnya. Bahkan, Sabtu Minggu itu sering banget jadi hari paling sibuk sedunia. Yang anaknya minta diantar beli bahan-bahan prakarya. Yang suaminya minta dimasakin special. Yang ada saudara hajatan. Tetangga kondangan. Acara RT RW dan lain-lain. Itu belum agenda kita pribadi ya? Namanya enak-emak adaaaa aja repotnya.

Sabtu Minggu kadang malah terpikir buat bikin seprei baru, atau baru keingat kalau barang-barang kecil di rumah udah nyaris lenyap : benang jarum, peniti, kaos kaki bulukan, pisau pada rusak. Akhirnya kalau akhir pekan disempatkan buat beli keperluan dapur dll yang kayaknya kecil tapi besar urusannya ketika pagi hari si anak teriak :

“Kancing baju seragamku lepas , Maaaa!”

Mau cuti?

Emak kagak pernah ada cutinya. Kalau suami sakit, masih ada istri yang pontang panting buatkan bubur. Buatkan agar-agar. Begitupun kalau anak-anak sakit. Kalau emak sakit; boro-boro tidur. Baru terpejam sebentar udah diganggu

“Ummi, ada tukang sayur. Mau belanja apa?”

Kata anak-anak, “udah Ummi istirahat. Biar kita yang ngerjakan.”

Nyatanya sampah numpuk, cucian numpuk. Mau nyalahin anak? Gak bisa juga.

“PRku banyak, Miii!”

Mau istirahat gegara badan meriang flu berat, eh suami tugas keluar kota. Jadilah kita ojek yang antar jemput anak. Pokoknya, jadi emak emang jihad fi sabilillah. Baru benar-benar bisa tertidur  ketika malam tiba. Atau di atas 00. Itupun kalau gak punya baby, lho ya. Kalau punya baby…jangan harap.

Lockdown

Datanglah hari anugerah sedunia. Semua harus di rumah. Gak ada urusan kantor. Gak ada urusan sekolah. Emang sih, harus mikir berkali-kali lipat untuk masalah ketahanan pangan dan keuangan yang menipis. Tapi Mak, ini juga bagian sangat penting dari diri kita.

Lockdown tubuh.

Lockdown pikiran.

Kapan terakhir kali seorang Emak bisa tidur lebih dari 30 menit?

Kapan terakhir kali seorang ibu bisa mengistirahatkan pikiran dari antar jemput, belanja ini itu, persiapan ini itu? Lelah juga lho, lahir batin.

Sekarang, semua di rumah. Suami. Anak-anak. Bukan kondisi ideal 100%.

Tapi 14 hari atau 2 pekan di rumah itu masa berlian banget buat kita jalin komunikasi, buat kita jalin kedekatan, buat jalin apa yang koyak dari hubungan kita gegara hidup ini kadang udah gak normal kecepatannya.

Percayalah.

Anak-anakku akhirnya capek kok main gadget, dan kita duduk melingkar ngobrolin ini itu. Becanda . saling menggoda. Anak-anakku nyerbu dapur, masak seadanya dan si Emak ini bisa duduk-duduk buat ngetik dan baca buku. Anak-anakku bikin agenda macam -macam di rumah dan aku bisa ngobrol dengan suamiku : berjam-jam.

Catat ya, Mak : berjam-jam!!

Baru kita ingat bahwa masa honeymoon dengan pasangan kita dulupun tak sempurna, dan sekaranglah honeymoon kedua. Jadi para Ibu, Bapak, anak-anak; nikmati masa lockdown fisik dan psikismu. Pasti ada yang pulih sesudah ini. Sesuatu yang sangat jauh di luar bayangan kita.

Kamu rinduh sekolahmu, yang selam ini kamu umpat karena membebanimu dengan PR.

Kamu rindu teman-teman sekolah yang selama ini kamu anggap duri karena sering ngebully.

Para bapak merindukan tempat kerja, yang selama ini dikeluhkan karena beban dan gaji yang sedikit.

Para emak merindukan tukang sayur yang selama ini disindir karena gak mau ditawar-tawar.

Dan…berapa banyak kaum muslimin yang rindu datang ke masjid, setelah sekian lama meraka merasa masjid terlalu bising menyuarakan adzan dan selalu berisik dengan nasehat-nasehat?

Tuhan..terimakasih, Kau beri kami #lockdown.

Kupikir awalnya ini hukmanMu

Ternyata ini adalah cara luarbiasa Engkau menyayangi kami. Agar kami berdiam di rumah sesaat sembari mensyukuri setiap hal kecil yang Kau berikan : masih ada keluarga di dalam rumah, masih ada beras untuk ditanak, bisa jamaah lengkap sekeluarga.

Sebelum #lockdown, keluarga kami tak pernah selengkap ini, Ya Allah.

Jadi Bapak Ibu, anak-anak sekalian. Nikmati masa #lockdown bahagia ini. Belum tentu 10 tahun ke depan, kita punya waktu libur  -sebenar-benar libur- selama beberapa pekan dengan komposisi anggota keluarga lengkap tanpa diributkan tetek bengek agenda di luar.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Header artikel ini diambil dari Republika tentang Corona

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Artikel/Opini Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting WRITING. SHARING.

🌱🌿🍁🌸 Goodwill Movement : 1 menyelamatkan 5 orang dan Berkelipatan! 🍁🌸🌿🌱

Hayooo, bergerak melakukan goodwill movement seperti yang digagas Trevor Mc Kinney, bocah 12 tahun dalam film Pay It Forward (2000). Kalau 1 orang mengajak 5 orang melakukan kebaikan, lalu masing-masing orang mengajak 5 orang lagi melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya; maka kebaikan akan cepat menggelinding bagai bola salju.

Apa yang harus digulirkan?

  1. Infaq/ sedekah untuk para pejuang garis depan pahlawan Covid-19. Berapa harga barang yang dibutuhkan untuk penanggulangan Covid 19? Baju pelindung disposable ( Hazmat Suit ) : Rp. 350.000-500.000 . Sarung tangan handscoon : Rp. 55.000-100.000
    Belum lagi masker, kacamata, dll. Padahal harus sekali pakai dan paramedis di lapangan bisa mencapai seribu orang. Terbayang beratnya beban pemerintah pusat dan daerah, bukan? Tentunya beban kita bersama juga.

Lee Min Ho, BTS, EXO, TWICE, Red Velvet bahkan sutradara Parasite Bong Joon Ho rame-rame berdonasi untuk mengatasi Covid 19. Banyak sudah institusi yang menggagas ini seperti lembaga zakat, lembaga profesi, masjid, gereja, dll. Kita tinggal men’colek’ teman dan mengarahkan . Setiap hari, ingatkan 5 orang saja minimal. Meski cuma Rp. 1000 rupiah, bayangkan yang terkumpul kalau seluruh kelurahan dan kecamatan ikut bergerak.

Berikut beberapa lembaga dan komunitas yang menyalurkan donasi untuk pahlawan garis depan Covid 19 , silakan dipilih 😊

👉🏻 IMANI Care , Bank Syariah Mandiri : 74141-741-77 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ Lembaga kesehatan
👉🏻 LMI (Lembaga Manajemen Infaq), Bank Syariah Mandiri : 708-2604-191 (kode donasi 83, misal Rp. 100.083) ➡ Lembaga ziswaf
👉🏻 Ruang Pelita (Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) :
Sinta Yudisia Wisudanti, Mandiri 142-00-1673-5556 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ komunitas

2⃣Alternative gerakan selama masa isolasi, karantina, restricted movement , lockdown :

👴🏽Tidak semua orang paham makna isolasi & karantina. Semisal, para orangtua yang tak familiar dengan gadget atau tak rajin nonton televisi; masih sering ke masjid. Siapkan kotak besar, tempat sajadah sekali pakai. Sajadah, mukena ; bisa langsung diletakkan ke situ untuk dicuci

🏎Tukang sayur, tukang bakso, tukang sampah dll. Selain mencari nafkah; mereka ternyata juga masih dibutuhkan para emak-emak yang terpaksa terisolasi di rumah. Berikan mereka vitamin C, masker kain. Ingatkan untuk sering cuci tangan. Ingatkan untuk jangan menggosok atau menggaruk areal muka. Memang ini tidak maksimal, tapi lebih baik daripada kita tidak membantu sama sekali, bukan?

👻Setiap warga sedang stress saat ini. Dari pejabat negara hingga pejabat rumah tangga. Setiap hari, sempatkan mengirim 1 meme lucu/ kisah lucu untuk menghibur. Tertawa itu sehat lho.

🤲🏻Dan, jangan lupa setiap hari, kirimkan doa khusus bagi 5 saudara kita minimal (sebut namanya secara lengkap, syukur-syukur dengan pasangan + anggota keluarganya). Minta 5 teman untuk mengirim doa ke 5 teman lagi, begitu seterusnya.

📞Selama wabah ini, tanyakan kepada 5 orang teman/tetangga. Apa yang menjadi hajat mereka? Siapa tahu mereka butuh sesuatu. Dan kita juga butuh sesuatu. Sebutir telur, atau 5 sendok gula pasir akan sangat membantu ketika toko-toko tutup. Japri, ya. Siapa tahu ada yang sungkan di grup. “Ih, masa minta bawang merah sih? Masa minta paracetamol? Gula? Garam?”

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#sebarkebaikan

#tanamkebaikan

#gerakankebaikan

Supported by :
🕵🏻‍♀🕵🏻 Ruang Pelita – Surabaya
Kiky: 0856-0612-5200
Putri: 0822-2183-849

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Tokoh Topik Penting

Hikmah Coronavirus ( Covid – 19)

Lockdown. Death toll. Banned. Precaution. Pandemic.

Melihat berita-berita luar negeri dan dalam negeri ngeri rasanya. Kondisi di hampir semua negeri sama. Saya tak akan menambahi kepanikan dan stress. Justru ingin melihat hikmah di balik terjadinya pandemic yang tak pernah diperkirakan akan terjadi di awal 2020  yang penuh harapan ini. Memang, bila diperhitungkan secara ekonomis banyak sekali kerugian yang diderita. Sektor pariwisata, perhubungan baik darat-laut-udara, perdagangan, pendidikan, dsb. But, there’s always blessing in disguise, right? Selalu ada hikmah di balik musibah.

  1. Waktu lebih banyak di rumah.  Masih teringat jelas kasus NF, remaja yang membunuh anak perempuan 5 tahun. Kekeringan psikologis dalam keluarga dapat menyebabkan penyakit yang tak kalah dengan Covid-19. Anak-anak yang libur sekolah, mahasiswa yang dihimbau pulang ke kampung halaman, larangan untuk banyak berada di luar ruangan; menyebabkan mau tak mau orang berada di dalam rumah. Ini saatnya untuk konsolidasi keluarga. Ngobrol, curhat, bercanda. Hal ini bisa menyirami kembali kekeringan psikologis. Saling bertatapan, mendengarkan cerita, akan dapat menyebabkan cinta dan kasih sayang bersemi kembali.
  2. Kesadaran kesehatan. Sebelum ini, begitu banyak orang meremehkan hal-hal baik terkait kesehatan. Orang rela begadang nonton dan nongkrong. Rela capek-capek jalan-jalan. Lebih suka makan junk food daripada makan sayur buah. Sekarang; orang memburu sayur dan buah. Lebih memperhatikan waktu istirahat. Ini adalah kecenderungan hidup yang lebih baik
  3. Kesadaran diri. Apakah kita menyadari bahwa tubuh sudah lelah, agak demam, sedikit nyeri di sana sini? Tuntutan hidup di kota metropolis dan kebutuhan finansial, kadang membuat kita mengabaikan alarm kecil tubuh. Nanti kalau betul-betul ambruk, baru sadar. Banyak teman saya dan teman suami yang tahu-tahu….meninggal karena jantung, stroke, bahkan kanker! Begitu tidak berharganya tubuh kita sehingga terus diforsir untuk memenuhi kebutuhan eknomi. Sekarang, kita akan mencoba amanah terhadap titipan Tuhan ini. Tenggorokan kering, kepala pening, nyeri sendi; pertanda sudah waktunya istirahat. Dan, seiiring tubuh diistirahatkan, pikiran insyaallah istirahat. Kontemplasi dan perenungan bisa berjalan. Berapa banyak orang yang kondisinya sakit, punya waktu untuk berpikir bisa menemukan rumusan bijak dan menyarankan pada orang lain ,”Kalau sudah sakit seperti ini, uang nggak ada harganya. Yang saya pikirkan istri dan anak-anak.”

4. Kembali ke alam. Anda nggak suka jamu? Biasanya lelaki dan bapak-bapak jarang suka. Dengan kasus coronavirus, orang mulai memperhatikan kekayaan alam negeri sendiri : empon-empon. Sebagai orang Yogya (Jawa Tengah), minum jamu kunir asem, beras kencur, temulawak sudah biasa. Sebagai warga Surabaya (Jawa Timur) , sering banget menemukan anak minum sinom. Minuman ini biasa dijual di mana-mana : di kantin, rumah makan, pasar, pinggir jalan, kemasan dll. Segala tingkatan usia minum. Tapi ternyata nggak semua orang suka rasanya. Sekarang, nyaris setiap warga Indonesia mencoba mencicipi berbagai minuman yang berasal dari empon-empon. Dicampur madu juga oke. Bukankah minuman ini lebih baik daripada konsumsi minuman kemasan yang banyak mengandung zat aditif dan gula?

  1. Berhemat sumber daya. Kita tidak tahu sampai kapan pandemic Covid-19 akan berjalan. Selama ini, kita merasa alam akan terus melayani tanpa habis. Membuang air, makanan, minuman, bahan bakar; sudah biasa kita lakukan. Sekarang, kita akan belajar untuk hidup hemat dengan apa yang ada. Makan apa yang ada, tidak perlu ikut heboh menumpuk sembako yang akan menimbulkan keriuhan. Makan masak sendiri dengan bahan-bahan yang mampu di dapat dari sekitar.
  2. Kesadaran kematian. Kesadaran tentang kematian tidaklah selalu buruk. Ketika orang menyangka waktunya lebih banyak, ia akan berfoya-foya dengan harta dan waktu. Saat menyadari hidupnya dekat kematian, ia akan lebih banyak disibukkan oleh sesuatu yang berguna. “Ketakutan pada kematian disebabkan ketakutan pada hidup. Mereka yang hidup penuh manfaat siap mati kapan saja, “ demikian kata Mark Twain.

Sekarang , kita benar-benar berhitung terkait waktu rahasia yang kita miliki. Oke, konon kabarnya Covid-19 fatal untuk orangtua, anak-anak, orang yang sudah punya riwayat penyakit. Who knows? Siapapun kita, mulai mencoba hidup baik dan tidak main-main dengan kematian. Kematian bukan untuk menimbulkan kepanikan, tapi kewaspadaan.

  • Kerendah hatian. Sebelum ini, mungkin kita merasa menguasai segala sesuatu. Toh, zaman sudah canggih. Teknologi, komunikasi, kesehatan, transportasi, dsb membuat kita lupa bahwa sepanjang sejarah manusia; manusia sebetulnya bukan makhluk superior sama sekali. Kita bisa dikalahkan oleh belalang, tikus, air, api, dan salah satunya oleh virus. Kerendah hatian membuat kita lebih memilih sikap dan perilaku mulia; utamanya terhadap sesama manusia. Sikap rendah hati membuat kita sekarang mau mendengar nasehat orang lain, mau bekerja sama dengan pihak lain, mau menahan diri, mau melihat dunia dari perspektif berbeda.

Tuhan tidak sedang bermain dadu. God does not play dice. Albert Einstein merumuskan demikian. Tuhan bukan Dzat iseng yang menggulirkan sesuatu tanpa perhitungan. Ia Maha Menghitung hingga sekecil-kecilnya. Pasti, sudah disiapkan scenario berharga bagi ummat manusia hingga hal ini terjadi. Kemiskinan membuat orang berjuang keras untuk menjadi sukses. Peperangan membuat orang menyadari betapa sakitnya menjadi korban dan berupaya mencari jalan bagi perdamaian. Derita sakit membuat kita mencoba untuk hidup melawan ketakutan : bagaimana bertahan dan melalui semua dengan upaya sebaik-baiknya.

Saya? Alhamdulillah. Anak-anak akhirnya harus berkumpul bersama dan kami punya  waktu lebih banyak untuk mengobrol, merancang masa depan, saling menasehati.

Kalau anda?

(Gambar fitur header diambil dari

https://news.detik.com/berita/d-4929528/tentang-empon-empon-yang-disebut-bisa-tangkal-virus-corona-di-indonesia)