Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.
tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Diterbitkan oleh Sinta Yudisia| twitter @penasinta| IG : @sintayudisia

I am a writer and psychologist. A mother of 4 children, a wife of incredible husband. I live in Surabaya, and have published more than 60 books. What do I like the most? Reading and writing. Then, observing people.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: