Jakarta dan Surabaya era 2050 : Ketika Gletser Antartika Barat Mengancam Kota-kota Pesisir

“Anak cucu kalian, mungkin tidak akan lagi bisa tinggal di rumah ini,” saya jelaskan pada anak-anak .
“Kenapa, Mi?” anak-anak heran. “Bukannya rumah ini investasi kita untuk masa depan?”
“Ya. Tapi kita tinggal di kota pesisir. Kalau air laut naik lagi, kota-kota pesisir terendam air.”

 
Lingkungan hidup, seringkali menjadi bahasan kesekian dari keluarga kami.
Politik, sosial, kriminalitas, media sosial; adalah hal-hal yang ramai dibicarakan orang-orang diluar sana. Tetapi masalah emisi bahan bakar fosil dan mencairnya es di semenanjung Antartika; membuat ummat manusia harus segera waspada. Tetap ingin tinggal di bumi atau migrasi ke planet lain, seperti Decepticon dan anak buahnya di film Transformer?

 

Benua Antartika, Salah Satu Penanda Kestabilan
Tak terbayangkan wilayah Antartika ini seperti apa, sebab seumur hidup sebagai orang Indonesia; saya dan anak-anak serta keluarga besar tinggal di wilayah hangat khatulistiwa. Hanya ada musim hujan dan musim kemarau; dengan musim buah-buahan yang ranum bergantian sepanjang tahun. Sayur mayur dan segala lauk pauk, pendek kata 4 sehat 5 sempurna tak pernah kesulitan. Sebab Tuhan menganugerahi kita sumber daya alam yang kayaraya. Ibaratnya, diblokade pun, Indonesia akan tetap selamat. Tak seperti negara-negara lain yang minim sumberdaya.

 
majalah-national-geographic-indonesia-juli-2017Indonesia insyaAllah tidak akan mengalami dingin esktrim seperti Ontario, Kanada yang pernah mengalami cuaca hingga -41℃ atau di Yakutsk, Siberia Rusia yang mencapai suhu ekstrim -51℃. Namun apakah Indonesia benar-benar aman dari kepungan permasalahan dunia hanya karena keberuntungan letaknya?

 
National Geographic Indonesia edisi Juli 2017, melaporkan kondisi Antartika saat ini yang bukan hanya mengancam kutub tapi juga berimbas pada seluruh benua di dunia termasuk Indonesia.

Pine Island, Larsen C

Pantauan dari tahun 2015-2016 tercatat , Paparan Es Apung Pine yang menopang gletser besar; runtuh. Es yang terlepas seluas 580 km2 mengalir ke laut Amundsen. Air laut yang hangat melemahkan kolong-kolong paparan es. Runtuhnya Paparan Es Apung Pine ini bukan yang terakhir, sebab garis retakan yang lain mulai muncul.
Paparan Es Apung Pine adalah bagian dari gletser yang bersumber dari Antartika Barat. Gletser Pine ini bersumber dari kubah es besar bernama Lapisan Es Antartika Barat yang memiliki tebal 3 km dan luas 3x pulau Sumatera.

 

 

Bila dibayangkan, Antartika Barat serupa gunung Semeru yang tinggi dengan kaki-kaki gunung yang menyerupai jari jemari manusia. Lapisan Es Antartika Barat memiliki banyak ‘jari-jari’ berupa gletser. Gletser ini sangat banyak jumlahnya : gletser Pulau Pine, gletser Thwaites, gletser Smith, gletser Frost, gletser Frost, gletser Bond dll. Masing-masing gletser bisa memiliki luas sekitar 3x pulau Sumatera. Bila Antartika timur meleleh, permukaan laut naik 53,3 meter. Bila ditambah Antartika Barat leleh maka kenaikan bertambah 4,3 meter dan total 57,6 meter permukaan air laut meninggi.

 

Bila es ini terlepas, terpecah, hanyut ke laut maka permukaan laut akan naik dan menenggelamkan pantai di seluruh dunia. Pegunungan es, sesungguhnya hanya mencuat sedikit di permukaan, lebih besar massa dan volumenye di bawah permukaan. Apa yang di bawah permukaan, lebih rentan terhadap air laut yang memanas.

 

Paparan Es Apung Pine memang yang paling dramatis sebab menipis 45 meter dari 1994-2015 (sekitar 20 tahun saja). Bentuknya yang menyerupai semenanjung sehingga ketika lepas, seakan hukuf ‘k’ dari pulau Maluku terpotong sumbu vertikalnya separuh. Namun, yang sangat mengkhawatirkan adalah Gletser Thwaites, yang bila mencair dapat mengganggu kestabilan sebagian besar Lapisan Es Antartika.

 

Jika Semua Meleleh
Laut akan naik setinggi 57,6 meter dan mungkin kita akan mengalami banjir seperti kisah Nabi Nuh a.s. Walau butuh waktu berabad-abad untuk mencairkan gletser Antartika, diperkirakan permukaan air laut naik 1 meter sebelum 2100. Artinya apa? Itu adalah kurun masa anak dan cucu kita hidup!
Gletser-gletser penting yang menjorok ke laut telah runtuh, Pine adalah salah satu yang dramatis. Gletser Totten yang juga seluas 3x Sumatera mengalami kerusakan yang mirip, sebab gletser ini sudah mulai kehilangan es.

Banjir pesisir : London, New York, ilustrasi Liberty tenggelam

Gletser Thwaites dalam kondisi mengkhawatirkan dan mencemaskan para ilmuwan.
Mengapa?
Sebab gletser Pulau Pine dan Thwaites bersebelahan. Ibarat jari, Pulau Pine dan Thwaites seperti kelingking dan jempol. Bila kelingking dan jempol hilang; daratan Antartika Barat yang mirip tiga jari di tengah-tengah bisa lekas terlepas.

Ayo, Peduli
Industri tumbuh pesat di negara maju. Sementara hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia ada di negara berkembang seperti Indonesia. Mencari siapa yang salah hanya akan melingkar-lingkar seperti pertanyaan apakah telur atau ayam yang ada lebih dulu.

Salah negara industri atau negara berkembang?

Pabrik dan pengguna motor

Negara industri menyiapkan kendaraan bermotor, kendaraan bermotor dilempar ke Indonesia, rakyat Indonesia bergantung pada kendaraan dan bahan bakar fosil. Begitu seterusnya. Apakah Jepang, Korea, Cina yang memproduksi mesin-mesin itu yang salah? Tidak juga, sebab industri muncul ketika ada kebutuhan. Mustahil kemana-mana tanpa kendaraan bermotor sekarang, termasuk kereta api dan pesawat. Apakah Indonesia yang salah, karena terlalu banyak penduduknya? Belum tentu, sebab penduduk adalah asset bangsa dan negara juga. Kebutuhan rakyat harus dipenuhi sebab rakyat yang sehat dan kuat dalam segala sektor (kesehatan, pendidikan, ilmu, ekonomi, dsb) berarti menjayakan negara.

 
Bila demikian, kunci dari semua adalah membatasi konsumerisme hingga batas cukup, tidak berlebih apalagi berfoya-foya. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar kaum muslimin selalu hidup di tengah-tengah. Tidak kekurangan, tidak berlebihan.
Dan ingatlah nasehat Mahathma Gandhi.
“Selama masih ada orang tamak, berapapun kekayaan alam tak akan pernah cukup.”

Lakukan apa yang kita bisa! 10 tanaman penjernih ala NASA dan hemat energi per individu

Sebagai rakyat, kita membatasi penggunaan kendaraan bermotor, plastik,sampah dan lebih memperbanyak penghijauan di sekeliling areal rumah. Membatasi AC, listrik serta makanan olahan. Pemerintah pun lebih memperhatikan sarana transportasi agar masyrakat tidak harus punya kendaraan pribadi. Bila tersedia bis dan kereta yang nyaman, rakyat tidak harus beli mobil dan sepeda motor pribadi, bukan?

Bila kita tidak saling peduli satu sama lain, maka bumi akan berubah menjadi planet yang lebih buruk dari asal Decepticon. Tidak perlu menunggu 2100, 2050 atau lebih awal lagi kota-kota besar di pesisir pantai termasuk Jakarta dan Surabaya akan menjadi wilayah tak layak huni. tentu, kita tak ingin mewariskan dunia yang kacau balau kepada anak cucu tercinta.

 

 

 

 

 

Iklan

13 thoughts on “Jakarta dan Surabaya era 2050 : Ketika Gletser Antartika Barat Mengancam Kota-kota Pesisir

  1. Salah satu pelestarian lingkungan adalah jangan bakar sampah. Tapi mengingat pengelolaan sampah di bantar gebang saja amburadul. TPA di bantar gebang tapi org yg tinggal di daerah itu malah sampahnya dibakar sendiri . karena ga ada koordinatornya. Ironis memang. Itu pe-er yg entah kapan selesainya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s