“Memaksa” Anak untuk Bersama

“Nanti bungkusin aja, Mi. Aku nggak ikut.”

Anakku menolak untuk bergabung akhir pekan, ketika kami ajak makan diluar. Alasannya masuk akal.

“Aku capek! Mau tidur aja. Lagian aku sudah sering keliling-keliling ke arah sana. ”

Wajar sih. Waktu kecil, anak akan menguntit kemana saja ayah ibunya pergi. Tapi setelah remaja, mereka punya kelompok sendiri. Punya agenda sendiri. Meski, mereka juga mengaku senang dan bahagia bila bisa berkumpul bersama.

Tapi, aku merasa waktu berkumpul harus tetap diselenggarakan. Entah mereka pada awalnya tidak setuju, menggerutu, mengomel, atau menolak dengan 1001 alasan. Berkumpul di rumah oke-oke saja; namun berjalan bersama-sama menikmati suasana di luar rumah; akan memiliki rasa berbeda. Lagipula, banyak yang harus dipelajari bersama anak-anak sepanjang menikmati kepadatan lalulintas, mengamati ragam tingkah polah manusia termasuk mengambil beragam hikmah yang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka si suatu akhir pekan, kami memutuskan makan di luar, walau ada yang wajahnya menggerutu karena tak ingin ikut.

 

Ayo, jauhi gadgetmu!

Kami makan bersama di sate Pak Seger pagi itu. Berhubung butuh waktu untuk membakar sate, yang tersaji lebih dahulu adalah minuman. Dan, tentu, fitur-fitur telepon pintar. Meski telah diingatkan kesepakatan untuk tidak membuka smartphone saat bersama seperti ini, tetap saja ada yang membandel. Aku memberi isyarat pada suami untuk tidak membuka HP nya, sebagaimana akupun menyimpan dan mengabaikan sekian banyak pesan untuk berkonsentrasi pada keluargaku.

2 anak cowokku tenggelam dalam ponselnya.

Anak-anak cewekku lebih fleksibel, mengikuti obrolan kami. Melihat 2 anak cowokku tenggelam di gadgetnya, aku mulai ambil tindakan. Tidak mungkin bilang : ayo, Ummi tadi bilang apa! Masukkan teleponmu ke saku! Dengarkan kalau orangtua bicara. Percuma saja kita pergi jauh-jauh dari rumah kalau semua tenggelam di chat line atau whatsapp!

Kucolek si Mas besar, Ayyasy namanya.

“Eh, kamu ingat nggak pernah ngeshare ke Ummi line today?”

maxresdefault

Pranks yang kadang lucu, kadang kebangetan

Si abang ini suka banget nge share life hacks, video prank, video motivasi sampai berita-berita aktual yang fenomenal atauapun hoax sekalipun.

Ayyas beralih dari ponsel, ganti menatapku.

“Kamu ngeshare ke Ummi berita line today, trus di bawahnya suka ada berita-berita menarik yang lain. Nah ada berita menarik tentang 5 dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Mokele Mbembe, Mahamba, Megalodon…sebagian ditemukan di Kongo.”

Si Mas mulai tertarik dengan pembicaraanku. Dia masih berkutat dengan HPnya tapi mulai mencari apa yang kubicarakan.

“Kayak apa sih Mokele Mbembe itu sebenarnya?” aku ingin tahu.

“Nanti, ya, sebentar,” si Mas masih berkutat dengan info-infonya di HP.

Mas yang lebih kecil, mas kedua, Ahmad namanya. Juga tenggelam di HP.

“Kamu lihat apa?” tanyaku.

“Sebentar Mi, aku lagi lihat robot-robot.”

Aku tahu, Ahmad begitu suka dengan dunia elektronik, otomotif, robot dan sejenisnya. Ia suka browsing tentang dunia tersebut. Namun bagaimanapun, ini acara keluarga. Ia harus terlibat dalam pembicaraan kami. Aku beralih dari pembicaraan mengenai Mokele Mbembe, berdiskusi dengan suamiku dan anak-anak perempuanku tentang kucing. Ahmad dan anak-anakku yang lain suka kucing. Kebetulan beberapa hari lalu kami habis melihat youtube tentang hewan cantik yang hampir punah.

“Eh, kita kan habis lihat clouded leopard, ya Mas? Asyiknya kalau kita bisa melihara hewan kayak gitu yaaa!”

Segera saja pembicaraan di tengah keluarga kami beralih pada kucing. Kucing merah Kalimantan, kucing bakau, blacan, clouded leopard, kucing kampung, dan sembarang jenis kucing. Anak-anak masih melihat satu dua kali pada ponsel mereka tapi mencari tahu tentang apa yang kami bicarakan.

Blacan, clouded leopard, kucing bakau

Aku bersyukur, nahkoda pembicaraan di meja makan hari itu akhirnya ada di tanganku!

Semua terlibat aktif dalam pembicaraan, bercanda, mengemukaan pendapat.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati kebersamaan.

Padahal pagi tadi sempat kupikir : biarlah sebagian anak-anak di rumah. Wong mereka memang nggak mau pergi. Nyatanya, mereka kadang-kadang harus dipaksa supaya tetap bersama keluarga. Televisi, gadget, internet, medsos; menjadi hobi anak-anak. Maka sebagai orangtua, kewajiban kita mengajarkan  batasan dan peluang.

 

 

Iklan

2 thoughts on ““Memaksa” Anak untuk Bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s