Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Novel terakhirku terbit 2013, berjudul Bulan Nararya, diterbitkan oleh penerbit Indiva Solo.

bulan-nararya.jpg

Bulan Nararya, Indiva Publishing

Setelah itu, cukup lama hiatus dari menulis novel. Alasannya? Ada beberapa penyebab.  Yang pragmatis banget, fiksi Islami sedang lesu. Jadi, honor dari menulis novel, apalagi menunggu royalty nya, tak terlalu sepadan. Pernah mencoba menulis cerpen untuk media massa, namun hingga saat ini masih harus terus belajar dan mencoba, sembari berdoa agar keberuntungan berpihak. Alasan klise yang lain, kesibukan dan waktu yang sedemikian sempit. Menulis fiksi tidak mudah. Walau identik dengan mengkhayal, berimajinasi, berpikir kreatif; nyatanya menulis fiksi juga membutuhkan banyak referensi sebagaimana menuliskan non fiksi.

Energy menulis fiksi, beralih kepada buku motivasi.

 

Alhamdulillah, berikutnya muncul Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda, Cinta x Cinta dan Psikologi Pengantin. Semuanya terbit di Indiva (Solo). Lalu Mendidik Anak dengan Cinta, diterbitkan oleh GIP (Jakarta). Penjualan buku non fiksi terhitung lumayan. Pesanan online membanjir, royalty yang didapat Alhamdulillah lebih baik dari buku fiksi.

Kalau hanya  bicara royalty, rasanya enggan kembali menekuni fiksi.

Namun, suatu hari, seorang teman datang ke rumah. Ia membawa bertumpuk-tumpuk buku novel. Rasa rindu untuk menulis fiksi pun terbit. Rasa-rasanya, alasan royalty terlalu sederhana untuk meninggalkan dunia ini. Seorang penulis, seorang sastrawan, tidak selalu berorientasi materi. Kalau materi satu-satunya alasan manusia bahagia; maka Firaun dan orang-orang tajir dunia  adalah salah satu orang paling bahagia di dunia. Sayangnya, mereka tidak mengisi kuesioner psychological well-being nya Carol Ryff hehehe sehingga kita tidak tahu berapa kadar kebahagiaan mereka. Kalau alasan waktu, ah, sibuk mana aku dengan Dan Brown dan JK Rowling? Mereka bisa produktif menulis.

Maka, aku kembali menulis fiksi, dengan segala tantangannya.

Harus belajar ulang menemukan diksi-diksi baru, sebab fiksi harus mampu menyajikan diksi indah, walau bukan berarti mewah. Diksi tepat, halus, memukau; kadang ditemui di buku kamus KBBI atau dari puisi teman-teman sendiri. Aku kembali memelajari apa diksi yang tepat untuk menggambarkan kematian, cinta, rasa bahagia dan seterusnya.

Dan ups, bertahun lalu pernah kutuliskan bahwa ‘musuh’ sekaligus mitra para penulis adalah editor (aku pernah menulsikan secara khusus bahwa editor ini bisa jadi sangat kejam!). Mereka yang menilai karya kita pertama kali, membantainya, memberikan persepsi unik sebagai pembaca awal. Sebab para penulis selalu beranggapan karyanya telah sempurna! Hingga lupa, bahwa banyak celah terdapat dalam karya tulisnya.

Aku kembali belajar membuat novel anak dan novel remaja-dewasa.

Bukan hanya memelajari alur, penokohan, setting, dialog, footnote, anotasi dan seterusnya.

Tapi belajar mencari judul yang cocok untuk novelku. Termasuk  belajar, cover seperti apa yang cocok bagi pembaca Indonesia.

Berhasil?

Nanti dulu.

Insyaallah, 2017 ini ada beberapa novelku yang terbit baik novel anak dan novel remaja-dewasa. Bila novel itu sampai di tengah khalayak, maka percayalah : itu bukan pekerjaan sekali jadi. Itu adalah pekerjaan berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun- tahun.

Kadang, capek ketika editor mengkritik.

“Mbak, halamannya kurang.”

“Sudah baca novel ini? Yang ini dan ini? ”

“Kenapa memilih judul dan sub judul demikian?”

“Belum ada anotasinya.”

Dan banyaaaakkk lagi kritik yang lain J

Namun, seiring dengan kritik-kritik tajam tersebut, kita meningkatkan kualitas diri.

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Imam Syafii dan HAMKA mengingatkan, akan pentingnya belajar terus menerus, dalam segala aspek. Imam Syafii bahkan mengingatkan, mereka yang tidak mau belajar, bacakan saja takbir untuknya sebab  ia telah wafat sebelum ajal tiba.

Jadi, kalau aku tidakmau belajar bagaimana membuat novel yang baik dari waktu ke waktu, maka nasehat Imam Syafii itu bisa jatuh pada diriku sendiri.

Sebuah, buku adalah rangkaian proses.

Aku menikmati menjadi penulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Sejak buku pertama terbit hingga buku ke sekian, itulah proses menulisku. Itulah proses hidupku.

Tak ada proses dan hasil sempurna, kecuali kita tutup usia.

Doakan buku-buku ku bermanfaat bagi ummat sedunia, bagi keluargaku dan bagi diriku sendiri ya. Insyaallah novel anak yang akan terbit di Indiva berjudul Hantu Kubah Hijau dan Juru Kunci Makam. Keduanya bertema petualangan.

Cover Hantu Kubah Hijau. Kalau Polaris Fukuoka, masih cover belum fix, tayang di wattpad

Novel remaja-dewasa yang insyaallah akan terbit di salah satu lini Mizan berjudul Reem : apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu? Novel ini bersetting Maroko dan Spanyol. Khusus novel Reem, based on true story, meski ada alur cerita yang berkembang. Novel kedua adalah Polaris Fukuoka, bersetting Jepang.

Entah berapa kali aku membaca ulang naskahku sendiri baik Hantu Kubah Hijau, Juru Kunci Makam, Reem, dan Polaris Fukuoka. Memperbaiki yang typo, memperbaiki dialog atau setting yang kurang tajam, menghapus bagian tertentu serta menambahkan . Banyak hal-hal lucu saat menuliskan dan membaca ulang novel-novel tersebut. Sebelum pembaca memutuskan membeli novel-novel ini, simak terus cuplikan kisah dan behind the scene novel ya 🙂

 

 

 

 

Iklan

8 thoughts on “Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s