Media Sosial Apa yang Wajib Dimiliki?

 

 

 

Aku punya facebook, twitter, instagram. Untuk blog punya wordpress, wattpad dan tumblr. Dulu punya frenster tapi sudah tidak terurus karena sudah ketinggalan zaman hehe. Dulu punya multiply, tapi perusahaan menutup multiply atau tepatnya, mengalihkan multiply untuk bisnis. Padahal multiply itu  media yang asik banget, lho! BBM  nggak punya, whatsapp dan line nyaris online sepanjang hari kwkwkwk.

Once upon  a time punya path, tapi karena HP yang agak kurang kompatibel, hang terus. Maka sudah tidak terurus, lupa password, dan entah ditautkan ke email mana dengan nomer HP berapa.

Emailjangan tanya.

Aku punya banyak email yang sampai-sampai lupa kata kuncinya. Akhirnya hanya 1 atau 2 email yang dipakai. Habis, kalau ikut lomba , sering harus menyertakan email. Supaya tidak tercampur-campur, buatlah email dadakan hehehe.

Facebook?

Ada Sinta Yudisia, Sinta Yudisia II dan fanpage @SintaYudisiaWisudanti.

Sepenting apa aku?

Kadang, saking inginnya eksis, kita (atau aku) ingin mengikuti perkembangan zaman. Apalagi demi mengikuti gaya anak-anak muda, terutama anak-anakku. Kata mereka ,”whatsapp gak terlalu keren, Mi. Kalau Ummi  mau sering ngisi remaja ya harus punya line.”

Okelah kalau begitu.

Hari gini gak punya whatsapp? Serasa hidup di zaman Flinstone. SMS sudah gak zaman, meski aku masih pakai SMS lho. Utamanya kalau lagi kontak suami, kok gak muncul centang birunya, alamat segera mengiriminya SMS. Posesif yak!

Whatsapp itu media yang buat tangan gatel untuk terus pegang HP. Mana grup buanyaakkk banget. Terus terang, aku jenis orang gak enakan. Mau keluar grup kok kayaknya sombong banget, sok sibuk, sok terkenal. Padahal apalah diri ini…

Alhasil ya sudahlah, aku ikut banyak grup di whatsapp meski sering kali hanya clear  chat. Habis, yang di broadcast nyaris sama dari satu grup ke grup yang lain. Apalagi nih, ada BC atau forward yang udah kadaluarsa bangettt. Alias sudah lewat setahun dua tahun! Eh, baru dikirim sekarang…

Meski bukan jajaran penting dalam pemerintahan, rasa-rasanya perlu juga mementingkan diri sendiri dengan punya banyak media sosial. Apa dampak dari perilaku ini? Jangan sampai gak bawa charger, gak nemu colokan dan habis kuota internet. Segala yang berbunyi kuota murah dipelototi : berapa giga? 3G atau 4G? Promosi berapa lama? Pra bayar pasca bayar?

Dengan ikut beragam grup, HP kalau nggak di silent dan di disconnect, bisa 24 jam menerima suara notifikasi.

 

Lebih produktifkah?

Untuk yang ini, rasanya sedih deh.

Terus terang, dengan harus banyak merawat media sosial, kadang terampaslah waktu untuk mengerjakan yang lain : menulis dan membaca. Ya, bagaimana tidak?

Aku tipologi orang yang gak terlalu suka BC atau forward. Lebih suka menulis versi sendiri. Jadi, kalau ada kasus-kasus yang mencuat di masyarakat, ingin menuliskan opini versi sendiri. Kalau mungkin, semua peristiwa ingin kutuliskan opiniku pribadi!

Kalau sudah begini, terbengkalailah beberapa target menulis buku motivasi dan novel. Sebab harus terus mengikuti berita yang ada di media cetak maupun media online. Media cetak itu masih stabil kecepatannya, jadi selama seminggu terus menayangkan hal yang sejenis, misal perihal banjir dan jalan rusak. Kalau medsos?

Hari ini Donal Trump. Beberpa menit Melania Trump. Lalu Baron. Lalu executive order (gak tau kenapa kalau dengan kata ini kok ingat film Transformer? Emang apa ya hubungannya?) lalu perempuan-perempuan yang ditiduri Trump mulai Carla Bruni sampai Sabatini. Terus ide-ide kontroversial Trump. Sampai kini, aku ingin sekali menuliskan tentang Trump tapi belum kesampaian. Sejak dulu, aku sering mengikuti kisah Trump. Mungkin, karena aku sebel banget yak, dia meninggalkan Ivana Trump, si pemain ski yang cantik.

Hiihi aku sendiri ingin menuliskan tentang sepak terjang Ivana yang dipanggil glamma. Glamour grandma. Di usia mirip usia ibuku dia menjalin cinta dengan laki-laki yang jauh lebih muda. Alasannya : aku tidak menemukan lelaki seusiaku yang memiliki semangat dan energy yang sama sepertiku. Ih, glamma genit! Aku dulu mengikuti Trump dari majalah dan koran lho…termasuk percintaannya dengan Marla Maples.

Yah, akhirnya aku harus mengerem diri.

Kalau ingin produktif menulis buku harus banyak baca. Baca jurnal, baca handbook, baca artikel ilmiah; itu bila menulis buku motivasi atau buku referensi parenting dan sejenisnya.

Kalau mau nulis novel ya harus banyak baca buku novel berkualitas, cerpen yang menang lomba , puisi-puisi yang menggugah.

Screenshot_2017-02-09-06-36-38 (2).png

tumblrku

Capek!

Terus terang, akhir-akhir ini rasanya capek banget ngurusi media sosial.

Ingin hiatus dulu (duile, kalau seniman hiatus menghasilkan karya. Kalau medsoser hiatus kira-kira menghasilkan apa?).

Alhasil, akhir-akhir ini mulai kembali menekuni pekerjaan yang kucintai, menulis. Itupun harus disambi menjadi konselor dan psikoterapis. Makan banyak waktu. Belum lagi, tiap kali menulis kasus-kasus menarik, kutuliskan di blog…(yaaa, ini juga bukan hiatus!) sebab , aku sering berpikir, sebuah kasus menarik dari klienku akan menjadi pengalaman berharga bagi banyak orang di luar sana.

Pada akhirnya, dari sekian banyak media sosial yang kupunya, paling-paling dalam seminggu hanya 1-2 yang terpelihara . Nanti gantian pekan depan, yang lain. Kalau pekan ini merawat facebook, biasanya bareng twitter; maka pekan berikutnya merawat blog. Nulis di blog bisa dibagi ke twitter. Intagram yang bagiku agak-agak terbengkalai. Sebab aku juga gak addict foto. Hampir selalu tiap acara ambil foto sih, tapi kalau angle nya gak bagus, mending disimpan di HP dan gak usah diposting ke instagram hahahah.

Tau sendiri kan? HP perempuan cepat penuh?

Soalnya, sekali pose bisa 3-4x klik! Gak akan pernah merasa puas dengan penampilan diri hanya dengan satu kali angle.

Akhir-akhir ini aku juga suka nulis di wattpad dan tumblr. Wattpad asik buat menuliskan halaman demi halaman novel yang sedang kususun. Sementara tumblr asik banget buat nge-blog, sesuai dengan tagline nya sebagai sarana microblogging. Ya, tapi entahlah sampai kapan mau aktif.

Padahal dulu zaman aku SMA, satu-satunya tempat yang bisa kutulis hanya diary. Itupun dikunci pakai gembok supaya orang lain gak ada yang bisa buka J

 

Iklan

8 thoughts on “Media Sosial Apa yang Wajib Dimiliki?

  1. Wah. Kebetulan sekali. Saya juga pernah tulis tema serupa beberapa waktu lalu. Ternyata bukan cuma saya yang capek ya 🙂
    Saya juga lagi istirahat dr bbrp medsos.
    Tinggal wa dan bbm utk keluarga dan teman.
    Trakhir sy instal telegram, itu juga krn perlu buat kerjaan.
    Dan benar saja. Saya jadi lebih sering ke wp buat mengalihkan kebiasan nulis status nggak jelas di path atau facebook. Alhamdulillah jd tulisan agak panjang kalau di wp. Hehehe.
    Loh tetap aja banyak ternyata medianya saya ya? Haha..

    Btw, salam kenal Mba Sinta.
    Dari Arifah Marhamah 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s