Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Sebagian penulis menginginkan novel , cerpen, atau tulisannya diangkat ke layar lebar. Sebagian berkata, tidak ingin demikian. Sebab, bagaimanapun, novel yang bagus tidak identik dengan naik ke layar lebar. Best seller tidak selalu best quality. Apapun itu, mari kita belajar bersama-sama bagaimana sebuah novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

• Novel dan film sama-sama produk kreatif, karenanya tidak ada parameter baku tentang nilai bagus atau tidak. Sebagaimana matematika yang merupakan ilmu pasti, sastra dan film termasuk ranah non sains sehingga sangat subyektif sifatnya.

Bulan Nararya

Bulan Nararya

• Novel merupakan produk yang pendek proses produksinya. Seorang penulis, seorang editor, seorang ilustrator, percetakan, dan penerbit plus tim distribusi sudah dapat menghasilkan sebuah novel yang terpajang di Gramedia. Film , tidak. Satu adegan dapat membutuhkan 30 orang crew. Maka bayangkan bila film itu selesai dibuat, berapa jumlah tenaga yang terlibat.

Pembuatan film yg rumit

Pembuatan film yg rumit

Dulu, orang yang punya uang banyak dapat membuat film. Sekarang, ada beberapa pertimbangan mengapa novel yang satu dapat difilmkan, sementara novel yang satunya lagi dengan sekian banyak penghargaan dan pujian, malah tidak daapt difilmkan.

Di bawah ini beberapa pertimbangan apakah novelmu layak difilmkan? Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan beberapa rekan perfilman.

1. Penonton.

Sebagus apapun novel, ketika akan diangkat ke layar lebar maka pertanyaan pertama dan terpenting yang muncul adalah : SIAPA yang mau nonton? Film sejarah, film agama, film edukasi tentu sangat bagus untuk ditonton. Memberi wawasan kognitif baru, memberikan model positif. Tapi apakah ada yang mau nonton?

Maka target penonton menjadi target awal pembuatan film.
Misal, film James Bond atau Fast & Furious, juga film hantu. Awalnya mudah ditebak, tengahnya teriak-teriak, akhirnya gampang disimpulkan. Tapi yang suka nonton banyak. Mulai pasangan yang kasmaran, karena film action dan horror buat si cewek cari pelukan; sampai anak-anak remaja yang memang hobbi petualangan. Ditambah Hollywood minded banget, jadi deh. Kalau suka nonton film James Bond (saya nonton beberapa kali mulai yang aktornya Timothy Dalton, Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan, Daniel Craig) adegannya selalu sama! Kejar-kejaran di awal, cewek sexi yang gak nyambung sama jalan cerita, yang kalau cewek itu di delete pun nggak memengaruhi jalan cerita.

Bandingkan dengan Trilogi Bourne yang keren, keren banget karena Julie Stiles memerankan Nikki, cewek pengurus logistik untuk setiap prajurit yang ditugaskan sebagai mata-mata. Akting keren, setting keren, alur kuat.

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Selain remaja yang jadi sasaran produk, anak-anak juga. Maka film anak-anak laris di pasaran karena anak biasanya nonton sama ibu bapak, teman-teman atau guru. Film anak-anak seperti Petualangan Sherina, Harry Potter dll tentu ditonton bersama-sama termasuk ditonton bersama guru atau rekan sekolah. Masih ingat film Janur Kuning? Penontonnya anak-anak sekolah dan guru-guru sehingga meski film edukasi ini lumayan membosankan, tetap saja untung.

Jadi, kalau novelmu ingin difilmkan, coba tanya pada diri sendiri dan teman-teman : kira-kira target penonton siapa ya? Mereka ini yang akan beli tiket, nonton, meramaikan bioskop dan stakeholder menarik keuntungan.

3 hari film sepi penonton, maka poster akan diturunkan.
Butuh biaya besar agar poster tetap di tempat hingga pekan pertama dan kedua. Orang biasanya “ngeh” ketika poster itu nangkring hingga lebih dari 1 minggu.
Membuat film bagus dengan budget tinggi yang menang penghargaan sudah cenderung ditinggalkan, kecuali oleh insan kreatif yang idealis. Rata-rata executif produser ingin untung, minimal balik modal.

2. Budget

Budget aman 2,5 M rupiah, sudah termasuk promosi 500 juta dan sewa artis. Film nya juga akan tayang di bioskop 21 atau XXI. Punya uang lebih banyak, lebih save lagi, 5 M misalnya.
Budget ini adalah urusan produser. Produser yang mengatur uang akan lari kemana dan kemana. Bila keuangan telah dibagi pos-posnya, maka produser harus ketat dan konsisten. Ayat-ayat Cinta kang Abik misalnya, memindahkan setting Mesir ke Semarang dengan trik-trik tertentu agar kesan Timur Tengahnya dapat namun budget tidak membengkak.

Film juga dapat dibuat dengan dana minim di bawah 500 juta, 100 juta, 50 juta. Tapi tentu dengan artis yang belum terkenal, tak dapat tayang di bioskop, kualitas yang tak dapat dijamin.

3. Triangle System : Produser, Sutradara, Penulis Skenario

Produser : produser dan Executif Produser berbeda. Executif produser hanya punya uang dan tahu untung. Invest, selesai. Produser film mencari dana, mengelola budget. Segala urusan budgeting di produser, maka produser adalah think thank film. Kalau dana mepet apa yang harus dipangkas? Setting atau alur? Maka , ketika festival film, anugerah sebagai best film akan didapat oleh produser. Produser satu-satunya orang yang berhak berkata : ini film saya!

Sutradara : sutradara adalah orang yang mengubah cerita menjadi bentuk visual. Butuh ketrampilan, sense, artistik yang tinggi untuk menerjemahkan novel atau cerita ke dalam bentuk film.
Film Lord of Ther Ring 1-3 mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, Return of The King adalah film indah yang masih saja dikritik penggemar karena dainggap kurang mengadaptasi novel ke film. Padahal…ckckck, Peter Jackson dan crewnya menyabet belasan piala Oscar!

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Penulis Skenario : penulis skenario dan penulis novel berbeda. Penulis skenario adalah orang yang membuat dialog, setting, membuat panduan bagi semua crew termasuk aktor aktris agar berada dalam alur untuk membuat satu film dengan rasa tertentu.

Bila telah mendapatkan 3 unsur ini, maka produksi film dapat mulai dijalankan. Namun bila belum mendapatkan produser, sutradara dan penulis skenario; termasuk pertimbangan potensi penonton yang disebutkan di awal; sebuah novel belum dapat diadaptasi ke layar lebar.

11 thoughts on “Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s