Jamuan Pak Walikota : Belimbing Dewa & One Day No Rice

Menenggak sari starfruit dewa, mengunyah kudapan anti-lemak, menghitung berat badan ideal dan impian bersama tentang Indonesia yang kuat dalam segala aspeknya adalah sedikit memory yang tertinggal- suatu senja di Depok.

Pertemuan dengan pak Walikota bukan sesuatu yang diagendakan.

Kami bertemu di pelataran masjid dan beliau mengundang saya serta Nurbaiti Hikaru, rekan FLP untuk ramah tamah saat kepadatan kantor telah mengurai usai sholat Asar. Sempat merasa tak enak hati, bukankah beliau orang nomer satu di Depok, super sibuk dengan sekian banyak agenda? Bertemu dengan seniman backpacker macam kami, seperti menggabungkan  Negara Angin dan Negara Api ( haha…lebay).

Perjalanan Surabaya-Jakarta-Depok  lumayan menguras tenaga. Macet membuat penghuni bumi Ibukota menyusut umurnya dan menguapkan raut muda di wajah. Keringat, penat, segudang agenda yang harus diselesaikan segera. Rasanya, selonjor sebentar, meregangkan otot dan menikmati sajian di ruang pak Walikota cukup menghibur.

Nurbaiti, Sinta, Pak Nur Mahmudi Ismail

Nurbaiti, Sinta, Pak Nur Mahmudi Ismail

Nasi

Anda melengkapi makanan yang satu ini dengan apa?

Sebagai manusia halfblood atau darah campuran, meski bukan hasil sinergi antara vampire-manusia; orangtua saya berasal dari pulau berbeda dan itu menyebabkan selera makan di tengah keluarga kami sangat variatif. Orang Yogya suka manis-manis : gudeg, ampyang, yangko, bakpia, geplak, ronde. Orang Sasak suka pedas-pedas : ayam taliwang, pelecing, serbuk.

Menikah dengan orang Tegal, lidah saya bertambah satu jenis variasi : ikan.

Ikut suami melitnasi Indonesia mulai tinggal di Medan dan terdampar di Surabaya sekarang, maka menu kari berbumbu hingga sayur mayur berkuah kacang atau dikenal sebagai pecel; mudah disantap oleh seantero anggota keluarga.

Syaratnya satu.

Nasi.

Apalagi pesan dari para pinisepuh terdahulu.

Sing penting segone. Yang penting nasinya. Lauknya apa aja, terserah.”

“Kalau nasinya Rojolele, nasi sebakul sama teri dan sambel; majuuu!”

“Beras kawak masih bisa dimakan, tapi dicampur sama C4.”

Pegawai negeri pasti mengalami masa-masa paling romantis ketika mendapatkan beras jatah. Orangtua dan mertua saya yang juga pegawai negeri pun mendapatkan beras jatah tersebut : boleh diambil, boleh dijual. Tapi beras ini jauuuuh dari Rojolele : apek, banyak batu, banyak gabah, berbatu-batu kecil dan…ehm, berkutu. Harus dibersihkan dengan diayak di tampah besar.

Semasa kecil saat di Yogya, Rojolele adalah jenis beras yang hanya dapat dikonsumsi orang-orang kaya karena rasanya yang pulen dan lezat. Masih jelas dalam ingatan ketika antri di warung, saya membeli beras Rp. 400 sekilo, sementara Rojolele Rp. 900.

Tapi sepertinya bukan hanya nasi saja yang menjadi makanan wajib keluarga.

Satu lagi.

Sambal.

Maka saya mengenal beragam cobek dan ulekan mulai sejak di Medan hingga tinggal di Surabaya sekarang. Cobek lonjong dengan ulekan batu mirip telur raksasa, cobek kayu yang biasanya dibeli di Lombok, atau cobek batu seperti yang biasa dikenal. Pendek kata; masyarakat Indonesia menempatkan sambal sebagai pasangan idaman dengan nasi.

Nasi dan sambal?

Sehidup semati.

Maka ketika harga cabe sempat melonjak menyamai sekilo emas (waktu itu emas Rp.100.000 dan harga cabe juga sama), saya sangat merana. Bagaimana mungkin menggantikan pedasnya dengan tomat, paprika atau merica?

Tak Makan Nasi?

 

Ada beberapa peristiwa menarik seputar nasi dalam kehidupan saya.

  1. Menjelang 1998 dan pasca kerusuhan , harga beras benar-benar mengalami penyesuaian baik perkilo atau perliter. Tidak ada lagi beras seharga Rp. 400 atau Rp.900. Harga beras mulai Rp.2000 hingga Rp.3000. Sungguh, sebagai ibu rumah tangga saat itu saya merasa sangat ngeri bila beras mencapai Rp. 5000. Apa-apaan ini? Bagaimana nanti sanggup membagi penghasilan suami yang juga tengah sekolah? Anak-anak masih kecil. Merinding, cemas dan takut rasanya membayangkan harga beras menurut bisik-bisik pedagang akan mampu menembus Rp.10.000

Masak sih…..

Beras yang dulu sekilo Rp. 400 jadi Rp. 10.000?

Berarti kepingan uang 100 perak menjadi tak punya arti lagi.

  1. Menikah dengan orang Tegal, membuat saya mengenal kultur yang berbeda. Tegal terdiri dari masyarakat petani, juga masyarakat nelayan. Membeli ikan segar di pasar atau bahkan di pelelangan ikan untuk mendapatkan ikan berkualitas premium, adalah hal biasa bagi kami. Meski keluarga suami tidak punya balongan tempat tambak ikan atau lahan sawah, teman-teman suami ataupun saudara banyak yang memilikinya. Kaget dan terheran-heran mendapati juragan padi, kayanya….MasyaAllah!

Apalagi bila memiliki selipan beras atau tempat serta mesin yang melepaskan bulir beras dari kulitnya. Wuaah, dapat dipastikan kaya 7 turunan. Kalau ada keturunan juragan beras yang miskin, mungkin ia keturunan ke 8.

  1. Sewaktu Habibie menjadi presiden, ada hal menarik dari pidato kenegaraan beliau lewat televisi. Masih ingat betul apa yang disampaikan oleh salah satu tokoh Islam favorit saya ini. Habibie mencanangkan gerakan puasa Senin Kamis untuk menghemat bahan pangan berupa beras. Angka pastinya lupa, namun bila seluruh masyarakat muslim Indonesia melakukan puasa Senin Kamis, negara akan lebih ringan dalam mengupayakan ketersediaan bahan pangan. Pidato Habibie disambut cemoohan saat itu . Ya. Bangsa Indonesia di masa Habibie masih jauh dari nilai-nilai Islami.
  1. Senja bersama pak Walikota Depok yang mendapat banyak penghargaan. Nasi menjadi salah satu diskusi kami. Betapa nasi yang selama puluhan tahun menjadi santapan lezat keluarga, harus diwaspadai. Penyakit diabetes, ketergantungan pada satu-satunya bahan pangan sehingga negera juga terpaksa mengimpor, termasuk ketidakmampuam individu yang berdampak pada policy negara untuk mengalihkan konsumsi.

Beras, Nasi atau Kenyang sih?

Bicara nasi beras butuh diskusi dan kalkulasi panjang.

Paradigma orang Jawa yang mengatakan, “durung mangan nek ora mangan sego.” Belum makan kalau belum menyantap nasi.

Makan bakso, mie, pizza, kolak singkong, pisang goreng, ditambah jus aneka rasa tetap saja belum makan! Akibatnya masyarakat Indonesia mengenal makan bukan hanya 3 makan utama : pagi siang malam. Cemilan juga penuh aneka rupa. Nasipun, komposisinya tidak seimbang.

Nasi sambal, teri atau ikan asin sudah cukup!

Padahal  makan nasi butuh sayur berlimpah dan protein memadai.

Akibat tak dapat menghindari nasi dari beras, Indonesia terpaksa mengimpor beras dari Vietnam ( 443,6), Thailand (238,4), India (150,5), China ( 8,624) , Pakistan (2,601). Angka tersebut dalam ribuan ton , Pembaca!

Impor!

Dari Vietnam yang merdeka sama-sama 1945.

India yang punya simbol keputusaasan : Bengali dan Kalkuta, masih disibukkan oleh gerakan separatis.

China yang punya penduduk 1 M.

Pakistan yang sering diguncang terror bom.

Jadi, Indonesia ada dimana dalam peta dunia?

Beras bagi era Soekarno, Soeharto dan pasca keduanya

Tulisan ini tidak membahas politik dan karya ilmiah secara mendalam.

Soekarno terkenal dengan pidato-pidato yang membangkitkan semangat nasionalisme namun juga menimbulkan banyak keresahan. Ibu saya, usia 74 tahun, masih ingat apa yang diteriakkan oleh Soekarno.

“Ganyang Malaysia!”

“Makan t***s!”

Semua dengan sudut pandang agar Indonesia sama sekali tidak bergantung pada kekuatan asing. Cukup sudah dijajah oleh Belanda dan Jepang; lebih baik mandiri dan percaya pada kekuatan sendiri meski pahit.

Namun rakyat Indonesia sudah sangat kelaparan. Propaganda Soekarno memang membangkitkan kecintaan pada tanah air sekaligus  kemiskinan yang mengancam keutuhan bangsa.

Soeharto memiliki kebijaksanaan yang memihak petani hingga kita mampu swasembada beras. Pada akhirnya,  ide-ide Seharto tentang intensifikasi, ekstensifikasi pertanian membutuhkan suntikan dana dari luar yang membuat kita terpuruk (lagi).

Jadi?

ODNR (One Day No Rice) yang digaungkan pemerintah Depok atas prakarsa Nur Mahmudi Ismail pernah digagas Habibie namun gaungnya belum cukup terlihat. Nur Mahmudi berusaha lebih mem’bumi’kan impian akan masyarakat yang mandiri dalam hal pangan. Setiap Selasa, pemerintah Depok berusaha disiplin dan terus mencanangkan gerakan mengganti nasi (beras) dengan bahan baku lain.

Ditilik lebih jauh, bahan pangan masyarakat Indonesia bukan hanya beras.

Jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, gembili, talas, gaplek, tiwul, gatot dan aneka ragam penghasil karbohidrat lainnya. Bertumpu hanya pada padi saja tidak bijak. Indonesia yang tidak lagi swasembada beras terpaksa impor.

Orang Yogya terbiasa mengkonsumsi gatot, tiwul, gaplek sebagai kudapan. Makanan yang sering dinisbatkan dengan golongan masyarakat tidak mampu ini seharusnya menjadi bahan pangan alternatif. Orang Madura dan Jawa Timur mengenal nasi jagung. Orang Sasak/Lombok mengenal baik bahan baku singkong dan ubi kayu. Pisang? Hampir di belahan manapun dari bumi Indonesia mengenal buah yang ranum dan bergizi tinggi ini.

Dalam buku ODNR buah pikir Nur Mahmudi Ismail, kerja mengenalkan kembali pada bahan pangan alternatif harus dilakukan bersama-sama. ODNR menggerakkan petani dan dan pedagang makanan, komunitas-komunitas, pengusaha. Sebagai walikota Depok, Nur Mahmudi menjadikan ODNR bagian dari program pemerintah. Bahan pangan alternatif juga harus terus diteliti, dikembangkan, disempurnakan agar masyarakat semakin menerimanya sebagai pengganti nasi.

Kerja Depok di bawah pimpinan Nur Mahmudi Ismail tidak hanya menggaungkan ODNR. Produk-produk bumi diolah seperti belimbing dewa yang disajikan dalam bentuk minuman jus siap saji. Ubi kayu atau singkong diolah menjadi MOCAF atau (modification cassava flour) bahan baku alternatif pengganti tepung terigu yang gandumnya tak dapat tumbuh di Indonesia.

Belimbing Dewa

Jus Belimbing Dewa

Masyarakat Indonesia yang tahun 2011 berjumlah 243 jtua jiwa, bila menghemat beras satu hari saja dengan gerakan ODNR; pemerintah menghemat 11,05 juta ton beras atau setara Rp. 80,65 triliyun rupiah. Produk beras juga terigu impor dapat dialokasikan kepada petani-petani lokal non beras sehingga terjadi harmonisasi antara kehidupan pedesaan dan kehidupan perkotaan.

Angka fantastis.

Harapan-harapan yang masih harus diuji dengan kesungguhan setiap elemen bangsa. Apakah ODNR gagasan Nur Mahmudi Ismail dapat terus bergulir?

Jika orang menjadi sadar soal alternatif-alternatif yang konstruktif, bersamaan dengan kemunculan mekanisme untuk merealisasikan alternatif-alternatif tersebut, perubahan positif akan mendapat dukungan yang luas.

Demikianlah pendapat Noam Chomsky, peraih Gold Medal for Peace with Justice 2011 ketika ditanya apakah ada cara untuk mengubah perilaku masyarakat bila telah  menerapkan pola yang salah.

Ingin langsing, sehat, lebih bugar?

Coba saja ganti menu nasi , sehari saja, dengan bahan pangan alternatif.

Boleh sukun, singkong, pisang, gadung, gembili, talas, jagung dst.

Kalau sudah lebih terbiasa, menu nasi seminggu dapat dikonversikan dengan menu yang lain. Hm, pantas saja para pegawai di lingkungan pemerintah kota Depok bertubuh bugar, berukuran standar dan tidak kelebihan kuota🙂

Sinta Yudisia

22 Agustus 2015

 

Referensi :

Chomsky, Noam. How the World Works. Bentang. 2015

Ismail, Nur Mahmudi. Revolusi Mindset ; One day No Rice. GIP. 2014

Majalah Tempo, terbit 27 April- 3 Mei 2015

3 thoughts on “Jamuan Pak Walikota : Belimbing Dewa & One Day No Rice

  1. Assalamu’alaikum, mbak Sinta…salam krnal, betul sekali, rasanya pengen juga ga pake nasi, karena ternyata banyak hal yg kurang baik ketika ‘nasi’ jdi paforite. Pernah denger katanya dulu makanan asli Indonesia bukan beras, tapi singkong dkk…lebih sehat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s