Sedekah Emosional atau Sedekah Proporsional?

Sumur Tsunami & Tulisan Allah (by Sinta Yudisia)

Sumur Tsunami & Tulisan Allah ( photo by Sinta Yudisia)

Sedekah harus proporsional, pakai perencanaan dan skala prioritas.

Benarkah ?

Suatu saat, terdapat artikel menarik sebuah majalah yang membahas tentang perencanaan keuangan. Salah satu pos yang ditentukan adalah dompet sosial, atau bagi  kaum muslimin dikenal alokasinya dengan sebutan ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf). Tulisan tersebut mengulas bahwa setiap pengeluaran hendaknya diperhitungkan seksama. Terkait dompet sosial, jangan sampai seseorang mengeluarkannya karena emosional belaka : kasihan, tidak tega, tiba-tiba, iba, tak sampai hati dan sejenisnya.

Pengalaman plus minus infaq/sedekah

Tentang balasan infaq/sedekah, tak diragukan lagi.

Al Baqarah 261- 274 membahas panjang lebar tentang infaq, sedekah dan bagaimana menjaganya agar amalan tersebut tidak menguap pahalanya karena kita sebut-sebut atau kita melakukannya diiringi kemarahan dan perkataan celaan.

Rasanya, ingin sekali memberikan sedekah atau infaq pada orang-orang semacam ini : tahu diri, tahu balas budi setidaknya berterima kasih, dan harta yang kita keluarkan betul-betul dipergunakan untuk kebutuhan primer serta positif. Kenyataannya, terkadang orang-orang yang kita bantu tidak memenuhi harapan tersebut. Bahkan, seringkali Allah SWT menguji kadar keikhlasan kita dengan kejadian berikut : orang yang dibantu balik mencela (boro-boro terimakasih), bergunjing di belakang punggung tentang sedekah kita dan digunakan untuk kebutuhan non primer!

Ah, sulitnya ikhlas.

Sulitnya beramal.

Sulitnya, beramal tepat sasaran!

Apakah kejadian ini pernah anda alami?

  1. Seseorang datang meminta tolong karena anaknya sakit. Belakangan ia minta tolong karena operasi, kontrakannya habis, dagangannya tak laku, anaknya mau masuk sekolah dan seterusnya. Anda membantu, insyaallah dengan niat ikhlas. Lama-lama timbul pertanyaan : benarkah alokasi dana yang di infaq kan? Apakah orang tersebut benar-benar meminjam uang sesuai kebutuhan terdesaknya?
  2. Seseorang meminta tolong ini itu. Sepertinya ia butuh pekerjaan tetap. Tapi ketika ditawarkan menjadi PRT, alasannya macam-macam : yang tidak bisa masaklah, yang tidak ada kendaraan, yang tak diizinkan suami dan seterusnya. Bagaimana cara mengatasi SDM semacam ini?
  3. Seseorang datang berkali-kali meminta bantuan. Alasannya demi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ketika disarankan agar ia memangkas pengeluaran dan mencoba hidup irit, orang tersebut berkata : kasihan anak-anak.

Bagaimana sebagai seorang muslim, kita tidak hanya masa bodoh dengan mengatakan

  • Yang penting aku sudah mengeluarkan hartaku, biar hartaku bersih.
  • Perkara dipakai hal yang buruk atau bohong, terserah dia
  • Nanti dia juga yang dibalas Allah SWT

Bukankah sebagai seorang muslim, seharusnya kita membantu orang lain hingga “tuntas”? Artinya, sedekah tersebut bukan hanya demi kepentingan kita supaya harta kita bersih, berlipat ganda, dan kita semakin kaya ; namun juga tersimpan beberapa perkara ukhuwah Islamiyah bahwa kita harus tahu kondisi saudara kita. Bila ia berbohong luruskan, bila ia malas maka pancing agar bekerja, bila ia kelewat batas maka perlu diingatkan?

Mari kita berbagi pengalaman positif dan nengatif kita beribadah dengan sedekah. Agar ibadah kita ternyata juga bermanfaat bagi orang lain.

Kapan sedekah dibalas oleh Allah SWT?

Saya mengumpulkan beberapa testimoni orang-orang yang mendapatkan balasan ajaib dari Allah SWT terkait sedekah mereka. Tentu ini hak prerogatif Allah SWT, namun tak ada salahnya kita belajar. Orang-orang tersebut mengaku sedekah bila :

  1. Benar-benar yang minta tolong adalah orang yang kelaparan dan melaporkan tak bisa makan
  2. Benar-benar digunakan sebagai biaya pendidikan (beli buku, seragam)
  3. Benar-benar digunakan untuk menolong seseorang dari jeratan hutang.

Cerita pertama, Ibu Sholihah (samaran) sering menolong orang. Ia bercerita suatu saat terjadi hal aneh, dalam kondisi tak punya uang, seorang saudara miskin –sebut saja mas Sabar- datang meminta bantuan uang. Saat itu bu Sholihah hanya punya Rp.4000 ( atau Rp40.000 ya?). Uang terakhir tsb diberikan. Tak berapa lama, bu Sholihah bersih-bersih lemari, merogoh-rogoh kertas dan amplop…jatuhlah uang sebesar 400 ribu! Beberapa waktu kemudian ketika bu Sholihah bertemu kembali dengan saudara miskin tsb, bu Sholiha bertanya,

“Mas Sabar, tempo hari saya sedekah, kok Allah SWT langsung ganti. Saya pingin tahu, sama mas Sabar dipakai apa sih?”

Pak Sabar menangis. Lelaki tua berpakaian lusuh itu mengusap airmata dan tersedu berkata, ”oalaaah Mbakyu…saat itu saya jalan kaki dari Kaliurang sampai Jogja, sampai sandalku tipis. Sepanjang jalan aku sholawatan. Anakku butuh uang buat beli buku. Aku juga bilang sama anakku,

“ Le, Bapak tak cari uang, entah bagaimana caranya. Kamu mnajat di masjid yo…”. Terus aku ke tempat mbakyu…”

Bu Sholihah dan pak Sabar sama- sama menangis karena merasa baik pak Sabar maupun bu Sholihah mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Contoh kedua, seorang perempuan muda, sebut namanya Dewi, masih bekerja serabutan. Dewi belum punya rumah , hanya punya sepeda motor, berjualan bisnis online pakaian dan tas yang baru cukup untuk biaya kost dan hidup sehari-hari. Hanya saja, Dewi ini punya kebiasaan menolong teman dan saudara. Suatu saat, Dewi dapat rezeki berhasil menjualkan tanah temannya dan ia mendapat fee makelar sehingga dapat membeli sebuah mobil .

Lho, kok bisa?

Mungkin ini jawabannya.

Seperti biasa, suatu saat Dewi terpaksa harus menyewa mobil dari temannya –Ahmad, samaran- karena keluarga besar berkunjung. Berhubung keluarga besar memerlukan alat transport untuk wira wiri karena banyaknya persoalan keluarga yang harus diatasi, Dewi menyewa mobil untuk mereka dari kantongnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dewi menyewa sebulan! Tak lama dari kerjadian tersebut, Dewi mendapatkan rezeki. Ternyata, keluarga besar Dewi tertolong dengan adanya mobil sewaan tersebut untuk mengurus tetek bengek masalah. Dan tak dinyana , Ahmad pun mengakui

“Mbak Dewi, tempo hari bisnis sewa mobil saya sepi. Saya sudah mau tutup. Mobil kreditan sudah mau disita. Ternyata mbak Dewi sewa sebulan, bisa buat nutup ini itu dan bisnis saya survive!”

Ternyata, ketika sedekah/infaq kita benar-benar menolong seseorang dari kehancuran, insyaallah saat itu diberikan balasan.

Lalu bagaimana ketika infaq kita tidak tepat sasaran?

Beberapa Solusi

  1. Sebisa mungkin kita silaturrahim ke tempat orang yang membutuhkan bantuan, agar hati makin mantap memberikan bantuan. Dengan tahu bukti fisik baik rumah dan keluarga, insyaallah hati jauh dari syak wasangka.
  2. Kadang tak semua bisa kita kunjungi karena keterbatasan waktu. Cek ricek apa yang diminta. Misal ia minta uang karena tak bisa makan, bagaimana jika diberikan bantuan beras, minyak, telur? Eh, ada lho orang yang ternyata tidak berkenan. Bilangnya lapar tak bisa makan, tapi ketika dibantu sembako, ia cemberut. Hm…
  3. Bila minta bantuan terkait sekolah, cek sekolahnya dimana. Kalau ternyata sekolah di sekolah bergengsi dan mahal, sepertinya harus bertindak tegas. Dalam kasus pak Sabar, putranya sekolah di SD negeri di desa.
  4. Ajak si peminta untuk mengurus surat-surat keterangan tidak mampu agar dapat dipergunakan untuk meringankan biaya sekolah, sakit atau bahkan meminta bantuan modal. Cukup banyak orang yang ternyata enggan mengurus surat keterangan tidak mampu dan merasa lebih nyaman minta ke orang dibanding usaha sendiri.
  5. Solusi 5, mari bahas di bawah.

Pentingnya Lembaga Zakat

Saya tidak bekerja di lembaga zakat.

Namun, sebagai seorang donatur, saya kerap bertukar pikiran dengan para petugasnya. Suatu saat, saya laporkan , apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang sering meminta berkali-kali tersebut? Bukannya ingin riya atau enggan sedekah, tapi itulah pentingnya ilmu.

“Ibu, memang sebaiknya dana dialokasikan ke lembaga zakat. Sebab biasanya lembaga zakat punya tim untuk verifikasi hingga eksekusi.”

Ah, benar juga ya…

Tapi kan lembaga zakat tidak bisa meng-cover semua? Bagaimana jika banyak orang yang belum dapat akses ke lembaga zakat karena tidak tahu, tidak punya surat-surat sah dan juga malu karena merasa tidak tahu harus bicara apa?

“Itulah yang harus dibantu. Ibu bisa bantu buatkan mereka proposal. Kami berprinsip, orang tak selamanya jadi mustahik, suatu saat harus jadi muzakki. Dalam kelompok-kelompok yang kami bina, kami menyarankan para mustahik belajar berinfaq meski 500 atau 1000.Ini agar mengubah perlahan mental peminta menjadi mental pemberi.”

Ada beberapa kejadian menarik ketika  membantu membuatkan proposal :

  1. Seorang tukang sayur bercerita bahwa harga-harga sayuran makin mahal, apalagi bila beli bumbu dan daging. Saya sendiri tak mampu membantu semua. Akhirnya , dengan bantuan proposal, tukang sayur tersebut dapat dana bantuan bagi
  2. Seorang janda dan buruh, awalnya mendapatkan bantuin rutin secara personal. Ketika saya minta ia untuk mengurus surat-surat ini itu bagi anak-anak yatimnya, ia mengucapkan terimakasih. Bahwa bukan hanya mendapatkan bantuan yatim, ia mendapatkan satu program X yang kebetulan diselenggarakan lembaga zakat dan satu perusahaan tertentu.
  3. Beberapa lembaga zakat lebih memilih memberikan barang produktif seperti mesin jahit, gerobak jual
  4. Meski berupaya profesional, ada juga seorang mustahik yang akhirnya hafal cara mengajukan proposal. Hingga ia bolak balik ke lembaga zakat A, B, C dan mendapatkan uang yang entah kemana uangnya L

Sedekah Emosional ~ Sedekah Proporsional

InsyaaAllah, dengan segala kelebihan rizqi yang Allah SWT berikan, setiap muslim ingin sekali melengkapi amal pahala dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Meski, seringkali secara tiba-tiba kita bertemu seseorang tak dikenal , hati seketika tersentuh dan timbul keinginan untuk membantunya tanpa pamrih. Kadang-kadang hati dapat begitu ikhlas, kadang hati jengkel karena ternyata tak mendapat respon yang diharapkan. Ujian keikhlasan itu adaaaa aja.

  1. Bersiaplah untuk tidak mendapatkan balasan, bahkan sekedar ucapan terimakasih
  2. Bersiaplah untuk diserang balik dan diumpat : yang bantuannya kurang, yang dituduh sedekah dengan barang yang jelek
  3. Bersiaplah untuk dimusuhi, karena orang lain tiba-tiba iri : kenapa aku gak dikasih?
  4. Bersiaplah untuk berjalan dalam rahasia Allah SWT. Kadang , balasan sedekah tak dapat diduga, tak dapat dinyana, tak dapat diraba. Saat keseulitan melanda, hati perih mengadu : Tuhan, apakah tak ada balasan bagi amalku termasuk sedekah sehingga saat kesulitan melanda serasa tertutup semua pintu? Ups…seringkali, kesulitan datang bergulung-gulung. Tapi ketika pintu kemudahan terbuka, bergulung-gulung, berlapis-lapis, berpangkat-pangkat juga datangnya🙂

Apakah akan sedekah proporsional atau emosional?

Sungguh, itu terserah masing-masing individu. Sebab perjalanan hakikat agama, seringkali tersembunyi, rahasia dan sangat individual sifatnya. Agama menetapkan syariat sebagai jalan; namun kapan seseorang mencecap manisnya balasan Allah SWT, itu tak dapat dijabarkan.

14 Ramadhan 1436 H/ 1 Juli 2015

Sinta Yudisia

13 thoughts on “Sedekah Emosional atau Sedekah Proporsional?

  1. Tulisan yang padat. Mbak SInta. Saya juga sedang berusaha untuk sedekah dengan segala keyakinan bahwa Allah akan membalasnya cepat atau lambat ^_^

  2. Siti Lutfiyah Azizah berkata:

    Mba, saya mau nanya donk. Kalau kita tau tanpa sengaja si A lakuin suatu hal karena niat bersedekah ke B. Nah, B nya ini ga sadar kalo bantuan yg dikasih itu dianggap sedekah ma A padahal A sama2 butuh. Ternyata di kemudian hari, B ini mencela dkk bantuan itu, dibilang kurang, dkk. Saya yg denger langsung aja miris banget denger hinaan B ke A. Kok kayak orang ga tau terima kasih, padahal saat A ngasih itu juga yg saya tau A sama butuhnya. Saya yg liat jadi greget sendiri, apalagi pas tau setelahnya B nya malah bersikap kaya gitu.
    Tepat ga ya kalau saya kasih tau B baik2 tentang motif A, tanpa saya kasih tau A, biar B tau diri dan mestinya sadar juga malu karena ternyata niat sedekah A, dan A juga ga perlu tau jadi motif dia tetep terjaga?

    • Addinu nashihah. Agama itu nasihat. Silakan memberi nasihat kepada B, tentu dg cara hikmah. Sembunyi2 jangan terang2an supaya ia gak merasa terhina.Pilih waktu yang tepat agar tidak emosional. Semangat yaaa:)

      P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s