TONGKAT CINTA, SELIPAN UANG dan FABEL AESOP

Selalu ada cerita menarik saat berbagi pengalaman, metode, plus minus dalam mendidik anak. 22 November 2014 , memperingati Hari Pahlawan, fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) menyelenggarakan acara bedah buku Sketsa Cinta Bunda karya Sinta Yudisia dan Sekolah Para Pencari Ilmu karya Hamdiyatur Rohmah Chalim. Dan, acara ini menjadi lebih spesial, dihadiri Yoon Sengui dari Korsel dan Begench Soyunov dari Turkmenistan.
Bu Sirikit Syah dan Dr. Andik Matulessy mencermati dua buku ini dari sisi ilmiah sementara pak Sengui dan pak Soyunov berbagi pengalaman seru seputar dunia pendidikan di negeri masing-masing.
Mau tahu?
yoon soyunov
TONGKAT CINTA
Kekerasan. Pukulan.
Kebiasaan ini sudah cukup lama ditinggalkan para orangtua mengingat kekhawatiran anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terpecah saat hidup dalam situasi traumatis. Namun, di beberapa belahan bagian dunia, pukulan tetap menjadi cara orangtua mengungkapkan cinta.
Agaknya, kita jangan bersikap antipati dulu bila mendapati pola asuh dengan metode memukul. Bukankah Rasulullah Saw sendiri mengajarkan agar ananda dipukul saat usia 10 tahun ketia tak mau sholat?
Memukul memang menjadi sangat tak baik dalam kondisi emosional atau kemarahan yang memuncak. Dalam beberapa hal, memukul menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Tidak semua orangtua di Korea menerapkan Tongkat Cinta, tetapi orangtua Yoon Sengui salah satu yang masih tetap mempertahankannya. Tongkat Cinta adalah beberapa jenis tongkat, yang berbeda ukuran tebalnya, biasanya terdiri dari 3 jenis ukuran. Tipis, lebih tebal, tebal. Yang paling tipis untuk kesalahan relatif ringan seperti tidak mengerjakan PR , berbohong. Yang tebal untuk kasus relatif berat seperti berkelahi dan memukul teman.

Tongkat Cinta digunakan dengan memperhatikan beberapa hal :
1) Telah terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak.
2) Tidak digunakan dalam keadaan emosi.
3) Hanya digunakan dalam usia perkembangan SD-SMP.
4) Yang memukul lebih baik sang Ibu

Dilarang memukul bila belum terjadi kesepakatan. Anak harus memahami bila ia melakukan satu keburukan, ia harus bertanggung jawab sesuai kesepakatan. Bila berbohong, lebih parah lagi. Biasanya, orangtua telah tahu kesalahan anak, namun mendorong anak untuk berani berkata jujur. Kisah unik Yoon Sengui boleh disimak.
“Yoon Sengui!” panggil mama (panggilan nama lengkap biasanya menunjukkan hal serius telah terjadi)
“Ya, Mama.”
“Apa PR mu selesai?”
“Sudah selesai.”
Mama mengulang dan mengingatkan, “berarti kamu sudah tahu hukumannya.”

Yoon Sengui gigit jari!
Ia akan menerima 2 jenis hukuman : pertama, karena PRnya belum selesai. Kedua, karena ia telah berbohong.
“Silakan ambil tongkat mana yang menurutmu sesuai dengan kesalahanmu.”
Yoon Sengui mengambil tongkat, memberikan kepada mama dan mama memukul kakinya dengan sungguh-sungguh. Pemukulan tidak terjadi di sembarang ruangan, tapi di ruang khusus tertutup yang tidak dapat dilihatorang banyak agar anak tak merasa malu. Ketika Sengui menangis, papa berdiam di pojok memberi isyarat agar ia bersabar. Usai acara hukuman, papa memeluknya, menghiburnya,
“…kamu tahu. Mama sangat mencintaimu.”

Malam hari, ketika Yoon Sengui tertidur, mama masuk ke kamar sembari bercucuran airmata dan mengoleskan balsem ke kaki putranya. Mama akan berkata bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikan Yoon Sengui.
Kelak, ketika dewasa, Sengui merasa hal positif dari pola pendidikan tersebut. Ia lebih disiplin dan tahu bertanggung jawab. Ketika SMA, mama tidak lagi menjadi sosok yang keras dan tegas; namun ganti sang papa menjadi sosok yang ditakuti. Papa tidak memukul. Sebab usia SMA dianggap telah mampu berpikir lebih jauh.

Mengapa ibu yang memukul?
Bila sosok ayah yang melakukan pemukulan, akan lekat sebagai sosok kuat perkasa di rumah yang melakukan penganiayaan. Sosok ibu yang lembut dan pengayom, lebih tepat dalam memberikan hukuman jera.
Tongkat Cinta, dijual bebas ditoko-toko. Harga satu paketnya relatif mahal, sekitar Rp.500.000. Mungkin, bagi sebagian besar orang hukuman ini sangat tidak manusiawi. Namun di Indonesia sendiri, hukuman menggunakan pukulan pernah dikenal. Ibu saya bercerita, ketika kecil anak-anak ramai belajar mengaji, sang guru membawa githik. Sebuah tongkat kecil yang akan beliau pergunakan untuk memukul ringan jemari anak-anak yang ribut sendiri dan tak mau belajar. Ibu beranggapan, pukulan itu tidak membekaskan pengalaman traumatis, bahkan menjadi pengalaman yang lucu serta berharga. Kemungkinan, guru ngaji saat itu melakukannya dengan penuh pengabdian, bukan pelampiasan emosi.
Nyaris terlupa, pukulan Tongkat Cinta tidak boleh dilakukan saat orangtua marah. Bila marah, orangtua harus meredamkan marah terlebih dahulu dan baru menghukum putra putri mereka setelah berjam-jam lepas dari kemarahan.

SELIPAN UANG
Menjadi hal yang lazim bagi anak-anak di seantero dunia untuk suka pada pekerjaan yang satu ini : membaca Komik!
Tidak semua orangtua suka anaknya membaca komik, termasuk orangtua dan kakek Yoon Sengui. Namun, kali ini hukumannya bukan Tongkat Cinta . Bukankah hal tersebut tidak ada dalam kesepakatan? Apa yang dilakukan kakek Sengui dan mama Sengui?

a. Kakek Sengui
Kakek Yoon Sengui menghadiahkan cucunya buku-buku bagus yang layak dibaca. Menrutunya , Yoon lebih baik membaca buku ilmu pengetahun daripada membaca komik! Tapi Yoon kecil tentu saja menolak. Kakek tak habis pikir.
“Yoon, kalau kamu membaca buku, kamu pasti akan menemukan hal berharga. Ketika menemukannya, ambillah!”
Yoon Sengui merasa, itu hanya akal-akalan kakek. “Sesuatu yang berharga” pastilah berupa ilmu pengetahuan. Ternyata, kakek menyelipkan…uang! Sekalipun awalnya saat membolak balik halaman demi mengharapkan uang, ternyata ada beberapa bab menarik yang akhirnya dibaca.

b. Mama Sengui
Mama Yoon Sengui tak suka putranya membaca komik. Bila Yoon membaca komik, mama akan memintanya menghafal semua dialog yang ada di buku komik.
Mama juga mengontrol buku bacaan Yoon. Setiap hari menjelang tidur, Yoon diminta menuliskan komentarnya tentang buku tersebut.
Yoon akan dimarahi bila komentarnya hanya,

Buku ini jelek.
Buku ini menarik.

Yoon harus menuliskan apa yang membuat buku itu menarik atau jelek, minimal 1 kalimat saja.

FABEL AESOP
Keluarga Yoon Sengui bukan orang berada, bahkan dapat dikategorikan miskin. Ayah dan ibunya harus bekerja keras mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun mama Yoon Sengui adalah orang yang luarbiasa. Mama berusaha membelikan buku meski mereka susah makan. Menjelang tidur, mama biasanya membacakan kisah-kisah Aesop.
Aesop adalah seorang budak berpenampilan sangat buruk hingga orang Yunani menjulukinya “Dewa tengah setengah tertidur ketika menciptakannya”. Namun kecerdasan dan kebijaksaan Aesop menjadikannya penasehat kaisar di kelak kemudian hari. Aesop lahir 630 SM di Amorium, Turki. Tulisan-tulisannya yang terkenal luas di seantero dunia adalah Aesop’s Fabulous Fable.

Kisah-kisah kebijaksanaan banyak tertuang dari fabel dengan tokoh unta, gajah, monyet, kura-kura dan beragam hewan lainnya. Kisah-kisah Aesop banyak dipilih orangtua saat mengajarkan pendidikan moral kepada anak-anaknya termasuk mama Yoon Sengui.
Saat SMA, Yoon Sengui telah membaca 3000 buku!
Pengalaman demi pengalaman yang menempa Yoon Sengui menjadikannya lebih bijak saat menjadi guru di SMP Young Hun Seoul dan SMA Demian Seoul.

KOMPETISI TURKMENISTAN
Begench Soyunov yang santun dan tenang menceritakan pola pendidikan di Turkmenistan yang mungkin akan membuat sebagian besar orang iri.
Tidak terdapat jenjang SD, SMP, SMA disana.
Jenjang pendidikan dasar mulai kelas 1 hingga kelas 11.
Kelas 1-3 hanya terdapat 1 orang guru (wali kelas) yang mengajarkan semua mata pelajaran. Sang guru harus dapat menguasai bahasa, matematika, ilmu alam. Barulah di kelas 4 hingga selesai nanti, anak-anak belajar dengan guru yang berbeda. Terdapat guru khusus bagi matematika, bahasa, biologi dan seterusnya.

Bila anak-anak keluar dari kelas 3…mereka mendapatkan hadiah laptop dari pemerintah!

Wah, senangnya! Alangkah bersemangatnya anak-anak belajar!
Di Turkmenistan, pendidikan mirip dengan pendidikan di Indonesia. Bedanya, sangat banyak diselenggarakan kompetisi-kompetisi semacam olimpiade kimia, fisika dsb. Anak-anak di Turkmenistan, diajarkan untuk selalu giat berkompetisi dan Turkmenistan termasuk yang unggul menjadi juara 1 dalam beberapa olimpiada ilmu pengetahuan tingkat dunia.
Kompetisi, memang menampilkan performa terbaik seseorang.
Rupanya, ini yang dibentuk oleh pendidikan di Turkmenistan!

7 thoughts on “TONGKAT CINTA, SELIPAN UANG dan FABEL AESOP

  1. Dua Buku Inspiratif Karya Mahasiswi Untag – Surya |   | |   | |   |   |   |   |   | | Dua Buku Inspiratif Karya Mahasiswi Untag – SuryaBiasanya, ketika dia nakal, maka sang ibu akan memanggilnya untuk meminta penjelasan atas kenakalannya. | | | | View on surabaya.tribunnews.com | Preview by Yahoo | | | |   |

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s