Skizofrenia (Gila) : from What to How (2)

Who – siapa saja yang dapat menderita Skizofrenia?
Umumnya, pertanyaan yang kerapkali diajukan terhadap penderita adalah :
• Adakah keluarga yang mengidap penyakit skizofren sebelumnya?
• Apa yang dialami penderita selama ini, setidaknya 6 bulan terakhir?

Genogram
Biasanya, akan dirunut silsilah genetika. Adakah saudara sekandung yang mengalami hal sama? Beberapa kasus terjadi, bahkan kakak-adik di rawat secara bersamaan di RSJ. Genogram akan merunut hingga 3 tingkat.
Pertama, penderita dan saudara-saudara kandungnya.
Kedua, ayah ibu penderita, beserta saudara-saudara kandung ayah ibu.
Ketiga, kakek nenek penderita. Bila memungkinkan silsilah genetika saudara kandung kakek nenek.
Secara sederhana, mungkin jawabannya seperti ini, “ iya, memang kakeknya dulu juga pernah sakit seperti ini.”
Tapi jawaban yang terjadi mungkin demikian,” si X ini amat sangat keras wataknya, nggak pernah bisa mentolerir kesalahan orang. Makanya musuhnya banyak. X ini keras sekali wataknya, persis seperti kakeknya.”

potret-diri-Skizofrenia-2752014

Orang dengan tipe Kepribadian A, B, C?
Sebagian orang memiliki gangguan kepribadian yang dibagi dalam kelompok A, B, C. Belum tentu berujung pada skizofren , apabila seseorang mendapatkan daya dukung yang dibutuhkan.
Tipe A : paranoid, skizoid (isolasi sosial), skizotipal (perilaku, persepsi, keyakinan ganjil)
Tipe B : orang-orang yang terlalu dramatis, emosional, eratik . Masuk didalamnya antisosial, ambang, histrionik, narsistik
Tipe C : orang-orang yang celalu cemas dan ketakutan. Termasuk pula kepribadian menghindar, dependen, obsesif kompulsif.

Bukan berarti orang dengan kepribadian skizotipal berujung pada skizofrenia, sekali lagi, bila seseorang memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sepasang kakak adik memiliki kemampuan melihat hal yang ganjil (skizotipal). Mereka mengaku senantiasa dikuntit makhluk ghaib, bahkan ketika tidur tak jarang kakak adik ini bangun dengan posisi berpindah tempat. Bukan sekedar tidurnya, tapi ranjang dan segala isi kamar ikut berubah. Namun, karena berasal dari keluarga yang hangat, ibu yang menjadi tempat curhat, kakak adik ini survive dan akhirnya hilang sama sekali tipe skizotipalnya (lihat pada tulisan how-bagaimana nanti)
Contoh lain skizoid.
Umumnya, ini dialami kelompok minoritas, migran, tahanan politik. Maka, tak jarang yang terpaksa menginap di bangsal RSJ adalah kaum urban yang mengalami tekanan sosio kultural.
Seorang gadis mengalami skizoid, merasa terisolasi sosial dan memang ia suka mengisolasi diri akibat ayahnya tahanan politik. Namun, karena ia cerdas, ia tumpahkan semua rasa sepi dan pedih itu dengan berprestasi akademis setinggi-tingginya. Lambat laun, dengan prestasi akademisnya, ia semakin percaya diri dan orangpun tak terlalu ambil pusing dengan kiprah buruk ayahnya. Sekalipun ia skizoid dan suka mengisolasi diri, ia tetap merasa nyaman.
Namun, disisi lain, orang-orang A, B, C dapat mudah menjadi skizofren bila ia tak memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, seorang lelaki X selalu berusaha menghindari apapun yang menjadi tanggung jawabnya (tipe C). Ia tak pernah mencoba menanggung beban sebagai suami dan ayah, selalu mengeluh dengan kondisi, tak mau bekerja dengan gaji ala kadarnya, ingin kerja enak dengan penghasilan tinggi. Ketika kondisi keluarga semakin terhimpit, istri X akhirnya bangkit untuk bekerja. Kondisi ini mematahkan X dan ia makin lama makin terpuruk sebelum akhirnya terdampar di bangsal RSJ.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-yourHigh Tension Culture
Siapapun, bila tidak berhati-hati dapat mengalami depresi.
Depresi tidak selalu berujung skizofren. Namun bila semakin terpuruk, tak memiliki teman seorangpun, selalu menyendiri dan menjalani situasi ekstrim –berdiam di kamar gelap, merenung tanpa tujuan di malam-malam hari- halusinasi, delusi, waham dapat muncul.
Bisikan ghaib. Ajakan untuk melakukan hal buruk. Membunuh diri, atau membunuh yang lain. Dalam tubuh terdapat dua atau tiga orang yang tarik menarik melakukan sesuatu.
Tekanan luarbiasa pada masyarakat high tension culture membuat orang-orang dikejar kebutuhan untuk memiliki uang, gadget, kendaraan, pakaian, gaya hidup, penampilan, bersosialita yang tiada putusnya untuk dikejar. Bagi anak-anak remaja, melihat temannya memiliki motor atau pacar, rasa dada sesak. Bagi seorang ayah, melihat ayah yang lain memiliki mobil, rasanya sesak. Bagi seorang ibu yang setiap hari terbelit urusan dapur, melihat tetangga melenggang shopping dan ke Spa, rasanya sesak. Belum lagi masing-masing individu semakin sibuk dengan diri, semakin sibuk dengan urusan dan semakin sibuk dengan gadgetnya. Ayah ibu semakin mengejar kebutuhan ekonomi yang memang mendesak, hubungan keluarga renggang, masing-masing kelelahan dalam urusan sendiri dan lambat laun pribadi-pribadi rapuh ini akan retak sebelum pecah berkeping.
Mereka yang berpembawaan melankolis, antisosial, skizoid semakin tak punya teman bila berada dalam lingkungan yang individualis. Tentu saja, kita tak dapat menyalahkan laju zaman. Diperlukan skill yang lebih terasah untuk mengatasi budaya tegangan tinggi.
Akibatnya, orang-orang yang memilih tinggal di kota-kota besar lebih rawan ditimpa beragam gangguan kepribadian. Begitupun orang-orang yang tinggal di rural area, yang memutuskan untuk menjalani kehidupan kaum urban. Bila tak siap dengan tekanan dan kehidupan serba cepat, dapat berujung pada depresi berkepanjangan, dan bila dibiarkan tanpa perawatan dapat pecah kepribadian.

Minus
Kehidupan serba minus dapat membawa seseorang terpaksa menjalani rawat inap di bangsal RSJ. Minus skill, minus kesehatan, minus agama, minus pendidikan, minus dukungan. Dalam kasus minus kesehatan, tidak melulu orang-orang dari golongan ekonomi lemah. Banyak yang dari kalangan mapan, kesehatannya terganggu akibat pola hidup tak sehat.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memilih menghabiskan waktu dengan empat bungkus rokok sehari dan sebagai teman sempurna, bergelas-gelas kopi. Akibatnya, ia tak dapat tidur berhari-hari, kesehatannya memburuk, ketika serangan halusinasi datang.
Ada lagi seorang perempuan yang mengalami diabetes. Apa hubungannya dengan skizofren? Seiring dengan penyakit yang diderita, tubuhnya menyusut. Ia merasa tak cantik lagi, depresi berat, tak mampu melayani suami dan pada akhirnya muncul delusi bahwa suaminya berselingkuh.

4 thoughts on “Skizofrenia (Gila) : from What to How (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s