Skizofrenia (Gila) : from What to How (1)

Seribu satu rasa saat menghadapi pasien-pasien dengan derajat kegilaan beragam : tertawa geli, sedih, prihatin dan berujung pada perenungan. Betapa bersyukurnya kita hingga detik ini dikaruniai Allah SWT kesehatan fisik dan mental yang utuh hingga tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan bahagia.Pro kontra tentang penyakit mental yang satu ini akan selalu ada. Tulisan ini hanya sekedar informasi, pengamatan, dan perenungan bagi kita semua.

Schizophrenia_by_cikolatali_waffle

Hingga kini, para ahli masih terus meneliti sebab dan terapi bagi penyandang skizofren. Masyarakat yang memiliki kerabat skizofren pun menangani dengan beragam cara : ruqyah, medis, ditelantarkan atau bahkan, dipasung. Untuk yang terakhir ini, masih ditemui orang-orang yang dipasung keluarganya dari 7, 12 hingga…20 tahun! Bila ditemukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, pasien pasung ini segera dirujuk ke Puskesmas terdekat lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Menghadapi pasien ex pasung sungguh memilukan hati. Mereka bisa buas, bagitu paranoia hingga disapa pun segera melompat melarikan diri, diam seribu basa seribu tindakan tanpa mau bereaksi, atau bahkan harus menjalani terapi jalan sebab mereka lupa rasanya bagaimana menjadi makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dapat bergerak dengan dua ekstrimitas bawah.
Skizofren disebut sebagai severe mental illnes, penyakit mental paling parah.
Ditandai dengan pecahnya kepribadian dan hilangnya reality testing ability, kemampuan untuk berpijak pada realitas. Penderita menjadi demikian impulsif, agresif, mudah mengamuk, dapat melukai orang-orang disekitar atau bahkan melukai diri sendiri. Bila kita salah menangkap maksud mereka, tak jarang mereka tiba-tiba menjadi demikian bertegangan tinggi. Mereka tidak mampu membedakan realitas kehidupan, apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar istrinya berselingkuh atau sebetulnya tengah pergi ke pasar. Apakah orang-orang tengah bercakap atau tengah membicarakan diri mereka, apakah anak-anak mereka sedang bermain atau tengah menggenggam pisau. Dan umumnya penderita mengatakan, “saya sehat! Kenapa harus dibawa kesini??!”

Satu ciri khas penderita skizofren : waham dan halusinasi.
Penderita skizofren umumnya mengalami waham, seperti merasa menjadi utusan Tuhan, menjadi Nabi, diberikan bisikan ghaib untuk melakukan tugas tertentu. Hal ini terkait pula dengan halusinasi, baik halusinasi auditori atau halusinasi visual. Halusinasi auditori, berarti penderita mendengar bisikan-bisikan ghaib untuk melakukan sesuatu. Bahayanya, bila bisikan ini memerintahkan mereka untuk bunuh diri atau membunuh anggota keluarga. Halusinasi visual, bila penderita merasa melihat bayangan-bayangan melintas, yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.
Pengalaman di bawah, mungkin dapat memberikan gambaran.
Seorang lelaki usia matang, mendatangi saya. Wajahnya santun, tubuhnya bersih, wajahnya tersenyum. Ia menyapa saya, dan kami bertukar nama.

“Saya tuh nggak papa mbak, sehat begini. Mbak bisa bayangkan, saya dibawa kemari hari Jumat. Pas saya mau adzan sholat Jumat. Saya sudah pakai sarung, pakai baju koko. Tahu-tahu di tengah adzan saya ditangkap begitu saja…masyaAllah! Benar-benar gak tau aturan, saya mau sholat…”
Bila hanya percakapan di penggal di sini, kita akan menyatakan penjemput adalah orang-orang tak beradab. Namun, ketika percakapan mengalir, barulah kita sadar bahwa ucapan penderita boleh jadi bias.
“Kita ini dikelilingi setan, Mbak.”
Hm, benar kan yang dikatakan bapak tersebut?
“Kita dikelilingi makhluk ghaib. Saya sering melihat makhluk ghaib dimana-mana. Di jalan, di kantor, di ruangan.”
Kita bahkan dapat menyangka bahwa si bapak terkena gangguan jin!
“Apa yang Bapak lakukan bila melihat makhluk ghaib?”
“Saya hancurkan, Mbak! Saya bisa menghancurkan makhluk ghaib.”
“Wah, hebat Pak! Bagaimana caranya?” saya tanya lagi.
“Dengan tangan kosong saja. Dipukul begitu saja. Baru-baru ini saya menghancurkan makhluk ghaib, berupa batu hitam bundar yang ada di dalam beton. Betonnya hancur Mbak!”
Barulah bila diamati, sekujur tangan dan kaki bapak tersebut bengkak, dihiasi luka-luka menganga yang mulai mengering.
“Banyak setam dimana-dimana. Di ruangan ini pun ada.”
“Ohya, dimana Pak?”
“Lihat! Saya paling ndak suka lantai warna hitam. Kenapa rumah sakit ini lantainya putih dan hitam. Yang hitam itu ada setannya.”
Saya mencoba mendengarkan kisahnya yang terus berputar sektiar makhluk ghaib.
“Mbak, saya begini ini karena dibuat orang. Ibu saya yang nyantet saya!”

Begitulah.
Waham, halusinasi, delusi, campur aduk menjadi satu.
Melalui observasi dan wawancara, sesungguhnya kita dapat membedakan mana orang yang masih mampu membedakan realitas dan sesuatu yang abstrak atau orang yang sudah tak mampu membedakan keduanya.

What : apa Skizofren itu?
Skizofren adalah penyakit jiwa yang parah, ditandai dengan pecahnya kepribadian, ketidak mampuan menangkap realitas dan ditandai dengan gejala waham, delusi, halusinasi.
Berhati-hatilah menyebut seseorang sebagai penderita ketidakwarasan atau gila, sebab stigma ini acapkali menempel seumur hidup.
Hanya karena seseorang mengamuk, membanting handphone, memecahkan piring, mencaci maki dengan umpatan –misuh, kata orang Jawa- , ngomel panjang pendek, ngomong-ngomong sendiri; atau bahkan ketika seseorang merasa melihat dan mendengar makhluk ghaib; kita lantas mencapkan penderita skizofren.
Siapa di antara kita yang belum pernah marah teramat sangat?
Mungkin, di puncak amarah akibat bertengkar dengan saudara, suami, atau rekan/atasan kerja; saking tidak mampunya mengatasi keruwetan pikiran, kita memecahkan apapun untuk melampiaskan kemarahan. Tentu, ini bukan solusi terbaik namun perilaku marah kelewat batas bukan satu-satunya tanda kegilaan.
Acapkali skizofren dan depresi tercampur aduk, sebab simptomnya mirip satu sama lain.
Yang perlu dipahami, waspadai gejala halusinasi yang berkepanjangan.
1504519shutterstock-96229181780x390
Tentang bagaimana menangani waham, halusinasi atau delusi, akan dibahas lebih lanjut dalam how atau bagaimana.
Skizofren terdiri dari beberapa jenis :
1. Skizofren katatonik – mematung
2. Skizofren hebefrenik – selalu bergerak, bericara, bertindak aktif
3. Skizofren paranoid – selalu ketakutan
4. Undifferentiated skizofren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s