Penulis Miskin & Hina

Apa definisi kesuksesan, kemenangan atas pertarungan hidup?
Rumah 500 m2 , mobil Alphard, umroh berkali-kali, keliling Eropa, berlibur ke mancanegara, memiliki perusahaan beromzet milyar atau triliyun?
Tanpa menafikan bahwa elemen di atas boleh saja jadi tolok ukur kesuksesan; rasanya terlalu sempit untuk memaknai capaian keberhasilan hanya dari persepsi materi.

Ada seorang supir taksi yang hidup di rumah sederhana, anak-anaknya tak mampu melanjutkan kuliah, tapi dengan sepenuh sadar supir taksi itu bekerja hanya demi upah kecil bagi hasil 20% yang halal. Ia tidak mau melaju di jalan-jalan tertentu tengah malam, sebab tempat tersebut biasa sebagai tempat transaksi seksual para pelanggan hotel bintang lima. Supir taksi tersebut berkeyakinan, ia harus memberikan asupan halal pada keluarga sekalipun konsekuenasinya mereka harus hidup prihatin.
Kisah lain, seorang supir taksi yang merasa harus melindungi keluarganya hari fitnah. Putrinya menjadi pramugari, selang tak beberapa lama ia meminta putrinya keluar sebab hati kecil sebagai ayah menolak, “aku tak ingin anak perempuanku pergi melanglang jauh-jauh, aku tak punya kemampuan mengawasi, pakaiannya pun aku tak suka.”
Apakah para supir taksi tersebut termasuk kategori orang-orang yang gagal? Insyaallah tidak. Kehidupan mereka mungkin tidak membaik secara ekonomi, tetapi secara ego strength , mereka mencapai resilience – daya tahan , daya lenting terhadap benturan.
rumi
Kesuksesan Penulis Muslim
Buku best seller, cetak ulang belasan atau puluhan kali, diterjemahkan ke beragam bahasa, diundang bedah buku kesana kemari…difilmkan, dimusikalisasikan. Ah, siapa penulis yang tak ingin seperti ini? Royalti mengalir lancar, tawaran menulis dan mengisi acara datang bertubi. Tiap kali melihat ATM…hmmmm.
Itukah satu-satunya tolok ukur penulis sukses?
Kalau demikian, maka deret penulis sukses terisi oleh nama-nama berikut : Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra, Azzura Dayana, Intan Savitri, Maimon Herawati, Habiburrahman el Shirazy, Gol A Gong, Boim Lebon, Benny Arnas, Mashdar Zainal, Ali Muakhir, Gegge Mapangewa.

Dimana tempat kita, para penulis pemula?
Atau para penulis yang bukan pemula (bukan pula senior sebab bukunya tak terbit-terbit)?
Sekian banyak menulis di blog, belum juga banyak pengunjungnya.
Sekian banyak kirim cerpen, belum satupun tembus (akhirnya hanya ditampilkan di blog pribadi atau website milik teman)
Sekian banyak ikut lomba, belum ada yang tembus.
Sekian banyak ikut antologi, hanya terjaring sesekali.

Makna Sukses dan Menang secara Hakikat
Dalam QS 48 : 1-2 , Allah SWT berfirman tentang kemenangan nyata yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Indikator kemenangan dan kesuksesan Nabi memang salah satunya berupa penaklukan-penaklukan Islam, baik yang terwujud saat beliau masih hidup atau sudah wafat. Tetapi kesuksesan yang dicapai oleh Nabi bukan sekedar penaklukan Arabia, benua Afrika, pasukan-pasukan yang merambah ke seantero dunia.
“Sungguh Kamu telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus.”
Ada tiga hal inti surat tersebut :
1. Ampunan
2. Kesempurnaan nikmat Allah  Islam
3. Petunjuk Allah

Lalu, apa korelasinya dengan seorang penulis?

Pencarian Sejati Para Penulis
Percaya atau tidak, orang-orang yang memiliki tingkat depresi tinggi konon kabarnya penulis, lalu artis. Hah? Bukannya menulis sebetulnya merupakan salah satu healing therapy?

Virginia Woolf, Charles Dickens, Leo Tolstoy, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Nagouib Mahfoudz dan yang lainnya sejatinya orang-orang yang sibuk mencari hakikat kehidupan. Dalam perenungan yang dalam, para penulis bisa menemukan jati dirinya, atau malah sebaliknya. Semakin tenggelan dalam dunia imajinasi yang menyeret mereka menjadi manusia bipolar, unipolar, atau bahkan skizofren!
Dalam sejarah Islam, tak ditemukan penulis yang berakhir mengenaskan.
Setiap penulis muslim haus ilmu, rakus akan pencarian makna. Betapa akhirnya, para penulis muslim macam Ibnu Sina, Sayyid Quthb, Muhammad Iqbal memulai penanya dengan keresahan akan Islam yang ditinggalkan dan ingin menyempurnakan dunia dengan ilmu yang mereka punya.
Rahmat dan ampunan Allah SWT, adalah harapan paling tinggi kaum muslimin. Dan bersamaan dengan goresan pena kita, yang berlembar-lembar, berat, memusingkan macam novel ataukah goresan ringan status di FB dan twitter, tak ada yang lain harapan selain menerima ampunan dan rahmatNya. Tentu , harapan royalti atau honor tetap mengiringi, tetapi bagi seorang penulis muslim tetap harapan yang terbesar adalah barakahNya di tiap tulisan, tercurahnya rahmat dan ampunanNya.

Maka, sangat baik bila penulis muslim mengiringi tulisan dengan dzikrullah termasuk istighfar. Masih ingatkah kisah tukang roti yang mengimpikan pertemuan dengan Imam Ahmad bin Hanbal, dan tukang roti itu punya kebiasaan membaca istighfar? Tak ada keinginan yang luput, sebab ia yakin dengan istighar doa terampuni, dan kesucian hati menjadi penyebab terkabulnya doa.
Sungguh , bagi penulis muslim ada harapan akan rahmat, ampunan, barakah dari Nya yang akan melingkupi setiap naskah, setiap kalimat, setiap kata dan huruf.
Itulah kemenangan sejati.
Meski tulisan itu tak tembus Kompas atau Republika, meski hanya terpampang di blog dan FB, meski pengunjung tak sampai 10 orang ; namun dari para pengunjung yang membaca merasakan hawa ketaatan. Merasakan siraman. Dan mencapatkan pencerahan, lebih daripada ketika mereka membaca buku-buku best seller.
Katakan, siapa yang sukses sebetulnya?

Ampunan dan Nikmat Sempurna
Sesudah ampunan dalam kesuksesan dan kemenangan Nabi, ada nikmat yang sempurna, yaitu Islam.
Mungkin analogi ini agak kelewatan, tapi saya bersyukur atas nikmatNya. Ketika kepepet, sholat malam, tilawah, sedekah, dzikir menjadi berlipat. Ibaratnya, dalam kondisi stress kita butuh katarsis dan pelepasan emosi paling dahsyat hanya saat munajat.
Saat kepepet butuh dana, ingin ikut lomba menulis, maka semakin mepetlah kita dengan Ilahi Robbi. Banyak berdzikir, sebisa mungkin membantu orang, sholat sunnah. Saat-saat “peperangan” menghadapi kesulitan kehidupan, Islam adalah nikmat yang luarbiasa.
Demikian banyaknya orang mengalami kebuntuan tanpa jalan Islam.
Ketika sukses merasa yakin itu ansich usahanya, ketiga gagal ia melabelkan kegagalan pada diri sendiri atau malah orang lain. Baik sukses atau gagal, ia selalu cemas. Sementara seorang penulis muslim, dengan nikmat kemenangan dan kesempurnaan Islam, selalu terus melaju dalam amal kebajikan walau sukses atau gagal dalam pandangan manusia. Ketika menang lomba atau tembus media, tidak lantas berhenti. Ketika dipuja dan dinobatkan sebagai penulis terbaik, tidak hanya berbangga. Pun, ketika dikritik pedas atau bukunya jeblok di pasaran tidak lantas ingin mengundurkan diri dari ranah kepenulisan. Ia terus melaju bersama keyakinan, bahwa Islam senantiasa menggaungkan amar ma’ruf nahiy munkar dengan cara yang kita bisa.
Ketika berhasil atau menang lomba/tembus media; insyaallah bukan kesombongan yang muncul, tetapi rasa syukur akan putaran rizqiNya.
Ketika gagal meraih impian, tiada kata putus asa, hanya prasangka baik bahwa Allah SWT sedang menunda, menyiapkan, membalas dan melipatgandakan berita bahagia.

Jalan Keluar Masalah
Adakah di antara kita yang semakin “bodoh” usai menulis?
Petunjuk, ilmu pengetahuan, peristiwa insight adalah pengalaman yang sangat mahal harganya. Manusia rela melakukan hal-hal diluar nalar untuk mencapai peak experience : keliling dunia, menyelam ke danau terdalam di dunia, naik ke puncak tertinggi.
Petunjuk bagi hidup manusia , adalah pencapaian luarbiasa.
Dalam cerita-cerita silat zaman dahulu, para petarung rela berbulan-bulan bertapa demi wangsit.
Demikianlah, kehidupan penulis adalah menjaring kebajikan satu demi satu, penggal demi penggal.
Salahs atu tanda kesuksesan, kemenangan sesuai QS 48 : 2, adalah teraihnya perunjuk berharga bagi kehidupan.

Menjadi penulis , kita sadar, tak ada sesuatupun yang instant. Tak ada keberhasilan hanya dengan angan-angan, kata-kata jika atau andai, ketiadaan schedule, apalagi minimnya ambisi. Bukankah petunjukNya ini sangat bermanfaat untuk mengasah karakter kepribadian kita yang semula santai, tanpa target, menjadi seseorang yang tough, resilient , punya target tertentu dalam hidup sembari terus melangkah mendekatkand iri padaNya?
Setiap usai menulis, rasanya bukan semakin kosong pikiran dan perasaan, tapi semakin berisi bejana. Memang, ada rasa letih, jenuh dan mungkin jengkel atas deadline serta tuntutan penulis. Bersamaan dengan hal tersebut, kecerdasan kita semakin meningkat. Saat harus menulis novel sejarah, kita harus membuka banyak buku referensi sejarah dan otobiografi. Saat us harus menulis artikel, opini, kita harus membuka berita-berita aktual dari koran atau berita online. Saat harus menulis kisah hikmah atau tema-tema keagamaan, kita harus membuka kitab-kitab para ulama, minimal tafsir Quran terjemahan Departemen Agama.
Usai menulis, kepandaian dan pengetahuan akan bertambah.
Itulah kemenangan, kesuksesan sejati seorang penulis muslim : mendapat ampunanNya, mendapatkan nikmat Islam, dan memperoleh petunjukNya dalam mencari solusi-solusi dalam kehidupan dunia yang berujung pada kebahagiaan di akhirat.

Jadi,
Penulis muslim, di strata mana pun mereka, baik pemula, madya ataupun andal, bukanlah penulis miskin yang hina. Engkau sesungguhnya penulis kayaraya yang bermartabat!

11 thoughts on “Penulis Miskin & Hina

  1. Reblogged this on Diary Ummu Aisha Pisarzewska and commented:
    Tulisan bunda Sinta seperti menggambarkan beban pikiran saya selama tinggal di Polandia. Kalau saya tidak menulis maka hilang sudah semangat dan cita- cita saya. Mengingat setelah melahirkan saya mengalami yang namanya ” Baby Blues ” . Insha Allah akan saya tulis selengkapnya dalam catatan ” Baby Blues , Cinta Ibu Yang Di Uji” . Menulis bagi saya sudah bagaikan therapi pribadi. Sebagai seorang muslimah saya pantang berkunjung ke psikiater walaupun ibu mertua dan suami saya selalu menasihati. Apalagi ini di Polandia. Negara mayoritas Katolik. Bagaimana saya menjelaskan beban jiwa dan rasa sakit . Maka menulis catatan memoar adalah jalan yang Allah tunjukkan bagi saya untuk mengobati, meringankan walaupun tak akan pernah terlupa karena selamanya kenangan ini tinggal di hati dan akal. Terima kasih Bunda Sinta🙂

    • Mbak, bagus sekali kalai dibuat tulisan. Bagi link nya dong. Sbgmana Brooke Shield sempat merasa gagal dan merasa jahat : kok aku benci anakku sih? Padahal setelah melalui terapi , ia sadar, ada ibu2 yg mengalami hal sama akibat kelelahan, beban emosi dll

      • Iya Bunda .Alhamdulillah suda saya tulis dan sedang mencari penerbit🙂.Semoga ada yang mau menerbitkan tulisan saya ini :)Saya menulisnya dalam Dwilogi.Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau
        1Mengenang Masa ;.Suka Duka Menjadi Istri dan Calon Ibu Di Negeri Asing
        2.Mengenang Masa; Aisha Pisarzewska Terlahir Dan Dibesarkan

        Terima kasih Bunda Sinta atas dukungannya.Saya termasuk salah satuh penggemar tulisan Bunda sejak jaman SMP suka baca Annida🙂 dan beberapa buku antalogi ada tulisan bunda juga Bunda Afifah Afrah Amatullah🙂.SubhanAllah tidak menyangka dipertemukan lewat blog langsung sama penulisnya.Salam kenal bunda dari kami sekeluarga di Norwegia

  2. Intinya adalah Keikhlasan dan Ketulusan, Insya Allah Ikhtiar serta Tawakal dalam menghasilkan sebuah karya tulisan senantiasa diiringi keberkahan. Hingga selalu bersyukur ketika keberkahan itu mengiri kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s