Sastra Islam (Jogja Muslim Festival)

Quran bukan karya sastra tapi membawa pengaruh besar pada dunia sastra.
Dalam sejarah, sejak Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, maka setiap orang membicarakannya. Membantah tentangnya. Mendiskusikannya. Menjelaskannya. Membelanya. Di kemudian hari, Quran disalin, diperbanyak. Sebagian berusaha meniru dan memalsukannya. Sebagian besar menghafalkan dan memelajari isinya, bersyair dengannya, membuat prosa dan sajak yang dipelajari dari cara Quran membuat rima.
childrens3
Maka , tak ayal lagi Quran membawa pengaruh amat sangat besar bagi sastra di dunia Islam dan merambah hingga seantero dunia. Bersama Quran pula, bagai diaspora menyebar talenta, intelektual, semangat belajar, menimba ilmu, menuliskan dan menyebarkan ideologi serta karya sastra. Bahasa Quran terserap menjadi bahasa-bahasa bangsa seperti Turki Utsmani, Farisi Firdawsi, Sanskerta menjadi Urdu, Bantu menjadi Hausa di Barat dan Sawahili di Timur (Afrika).
Warisan besar sastra Arab, sastra Islam ini menghubungkan dengan arus intelektual dunia, menumbuhkan kreativitas dan ratusan ribu atau bahkan jutaan karya tulis!
Beberapa jenis karya Islam yang dikenal adalah khutbah, risalah (esai atau surat) , maqamah ( kisah pendek tentang hero), qishshah (kisah pendek moralitas), qashidah (syair), maqalah ( esai berisi satu gagasan).

lossy-page1-220px-Scheherazade.tif
Ada beberapa periodisasi sastra Islam :
1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan (622 – 720 M)
2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 – 972 M)
3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 -1203 M)

Penjelasan :

1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan ( 622-720 M)
• Hadits, risalah, khutbah, surah Nabi
• Pepatah, perumpamaan, al Amtsal
• Khuthab : risalah, pidato, pesan, wasiat para khulafa urasyidin dan pemimpin awal

2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 -972 M)
• Abdul Hamid bin Yahya, ahli essay ( 766 – 750 M), memperkenanlkan simetri sastra. Abdul Hamid juga memperkenalkan para penulis untuk menuliskan setiap karya dengan komposisi awal basmalah, hamdalah, shalawat Nabi Saw
• Abu Amr Utsman al Jahizh (767 – 868 M) , tajam kritiknya, menulis 160- buku. Al Jahizh memperkenalkan : keselarasan ungkapan dengan makna, al bayan/penjelas, ringkas dan apa adanya , al iftinan / karya artistik
• Abu Hayyan at Tawhidi (987 M) ; memperkenalkan tulisan dari buku harian, pertemuan demi pertemuan, juga penggabungan filosofi dan gagasan sufi.

Untuk zaman Dhuha Al Islam , syair seperti puisi mendapat tempat yang berlum pernah terjadi sebelumnya. Penyair-penyair berkelimpahan harta dan kedudukan.
 Basysyar bin Burd (w.784M) , seorang anak haram budak, yang dibebaskan karena ke fasihannya.
 Al Hasan bin Hani Abu Nuwas (w.811 m) ; membebeaskan syair dari isi, artikulasi, gaya bahasa
 Ismail Abu al Al Atahiyah (w.827 M) , penjual pot bunga keliling yang menantang sekelompok anak muda yang sedang membaca syair, untuk menggubah 2 atau 3 bait
 Habib Abu tamam ( w.847 M) , penyedia air di masjid Fustath (Kairo Lama), berekalana ke Baghdad dan memperoleh kemasyhuran di sana.
 Da’bal al Khuzai (w.861 M), penyair yang ditakuti pangeran dan pejabat karena satirenya. Syairnya dapat menghancurkan reputasi
 Syair Sadif menyebabkan pemimpin Abbasiyah yang tengah berjaya memusnahkan istana Umayyah
 Syair Malik bin Thawq dan Rabiah menyebabkan pembatalan hukuman mati atas diri mereka

3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 – 1203 M)
• Muhammad bin Yahya as Shuli (w.947 M) , menulis disiplin sastra
• Ali bin abdul Aziz al Jurjani (w.1001 M) , menulis Al Wasathah sebagai perantara media pemerintah dan masyarakat
• Abu Hilal Al Askari ( w.1004 M) , menuliskan al Shina’atayn ( Dua Keahlian – keahlian Sastra dan keahlian Memerintah)
Pada zaman inilah Saj dan Badi mencapai puncak perkembangannya. Jenis karya di zaman ini :
– Korespondensi kekhilafahan
– Esai sastra
– Maqomat

*******
rumi
Pertengahan periode Abbasi ( dari kekhalifahan al Mutawakkil) hingga berdirinya Al Buwayhi (946 M), penyair tidak lagi mendapat perlindungan dari khalifah.
Baru ketika Turki Saljuq 1056 M, prestasi di semua bidang intelektual dan spiritual bangkit kembali.
o Hakim Abul Hakim Firdausi at Tusi , Ferdowsi ( 940 M – 1020 M) , Shahnameh
o Umar Khayyam – Ghiyāth ad-Dīn Abu’l-Fatḥ ʿUmar ibn Ibrāhīm al-Khayyām Nīshāpūrī (18 Mai 1048 – 4 Desember 1131) , Rubaiyat
o Jalaluddin Muhammad Rumi (1203-1274 M), Matsnawi
o Ibnu Batutah ( 25 Februari 1306 – 1369 M), Rihlah
o Ibnu Khaldun ( 27 Mei 1332 M – 19 Maret 1406 M) , Al Muqaddimah
o Kisah One Thousand and One Night Stories, Scheherazade / Shahrzad : Alibaba, Aladdin, Abu Nuwas, dll

**************

Pak Ahmad Thohari menyampaikan beberapa intisari penting substansi Sastra Islami :
1. Lillahi ma fissama wati wama fil ardh
Ayat ini banyak termaktub dalam al Quran ( seperti 2 : 284) ; segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah makhlukNya. Adalah milikNya. Pak Ahmad Tohari pernah diprotes dari kalangan pesantren terkait karyanya Ronggeng Dukuh Paruh. Kata mereka , “ngapain nulis kisah tentang Ronggeng? Kenapa nggak nulis kisah tentang santri aja?”
AT beranggapan, Ronggeng juga bagian dari lillahi maa fissama wati wa ma fil ardh , yang kehadirannya menjadi ayat bagi segenap manusia yang lain.
Penjelasan AT sedikit banyak mewakili perasaan saya pribadi, ketika menulis Existere dan saya beberapa kali diundang mengisi pengajian di lokalisasi. Beberapa orang mencibir sinis , “ngapain dakwah di lokalisasi? Kaya’ gak ada tempat lain buat didakwahi!”

2. Titik dzulumat dan titik Nuur.
Sungguh, penjelasan ini benar-benar memukau hati saya, sampai saya tulis dengan spidol hijau, saya ingat-ingat, saya sampaikan lagi ketika giliran saya mengisi. Dan tetap membekas hingga kini saya menuliskannya kembali.
Si Ronggeng ingin menjadi ibu rumah tangga. Ronggeng adalah perbuatan nista, ibu rumah tangga adalah perbuatan mulia.
Kehidupan sebagai ronggeng adalah kehidupan seseorang saat berada adalan titik dzulumah , sementara kehidupan sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan mulia yang berada pada titik nuur.
Proses seseorang untuk sadar, merangkak, tertatih, merambat, berjalan hingga berlari dari titik dzulumah hingga titik nuur ini adalah proses luarbiasa dari seorang manusia. Menjadi ekwajiban bagi penulis muslim untuk dapat menghadirkan kisah-kisah yang menginspirasi masyarakat agar tergerak untuk bangkit dari titik dzulumah menuju titik nur.
Bukankah itu salah satu kalimat terindah dalam Islam : minadzulumati ilaa nur?

One thought on “Sastra Islam (Jogja Muslim Festival)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s