Mari Berpolitik!

Pernahkah anda mengajarkan si kecil berpolitik?
Bagaimana mungkin mengajarkan anak di bawah umur untuk memilih partai, anggota legislatif dan memahami cara politik bekerja! Tentu, bila makna politik dipersempit sebagai cara seseorang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, kita tak mungkin mengajarkan anak SD berpolitik.
time-young-voters

Perilaku seseorang tidak dibentuk hanya dengan sekali kejadian. Mengapa seorang anak takut kecoak dan berseru girang melihat kucing, apalagi gajah dan jerapah? Secara logika, jika takut melihat kecoak, maka akan semakin takut melihat binatang yang jauh lebih besar. Proses berpikir, adaptasi, modelling dan seterusnya membentuk perilaku hingga setelah dewasa pun, kita berseru jijik dan gemas melihat kecoak. Padahal cukup sekali injak, gepenglah ia.

Stereotip tentang polisi pun demikian.
Sejak kecil, ketika si anak susah makan, ibu akan berkata ,”awas, nanti Mama panggilkan polisi!”
Tak cukup hanya itu, si kecil menyerap demikian banyak informasi dari sekitar, ketika percakapan orang dewasa terjadi ,” pakai helm, biar gak ditilang polisi!” atau ,” ah, terobos lampu, gak ada polisi di perempatan jalan kok.”
Sosok polisi yang jahat, nakal, ditakuti menjadi terpatri dalam benak dan demikian sulit bagi kita mengubah citra polisi padahal masih banyak polisi yang baik dan jujur di tengah masyarakat.

Belajar Dialog
Suatu ketika si kecil menangis sesenggukan.
“Aku nggak mau ngomong lagi! Tiap kali berantem, mesti aku yang dimarahin! Aku mau diem aja!”
Rupanya, si kakak yang sudah pintar argumen berhasil menyudutkan si kecil hingga ia yang tak tahu harus bicara apa lagi, hanya bisa menangis. Ada kalimat berbahaya yang diungkapkannya, sebagai makhluk tertindas , “aku nggak mau ngomong lagi!”
Seolah-olah, dalam kondisi kalah dan tak berdaya, pilihan tidak bicara adalah jalan satu-satunya.
“Eh, Nis harus bicara.”
“Nggak mau!”
“Nanti tambah mangkel lho, tuh lihat, karena nggak mau ngomong air matanya jadi bercucuran begitu. Berarti hati Nis marah kan!”
“Nggak mau!”
“Mas tadi ngomong jelek ke Nis ya?”
“Nggak mau! Pokoknya nggak mau!”
“Sini peluk Ummi dulu,” aku menghapus airmatanya dan menenangkan di bahu.
“Aku dibilangin: telingamu buat apa sih? Dikasih tau nggak mau dengar…”

Dan mengalirkan cerita dari mulut si kecil yang bagi kita sangat amat sepele.
Tahukah anda, bahwa tahapan ini kita tengah mengajarkan si kecil berpolitik, sebagaimana kata Charles Blattberg yang mengatakan bahwa politik adalah merespon konflik dengan dialog?
Kita membiasakan di tengah keluarga bahwa yang kecil tak harus mengalah dan bersedia di tindas. Begitupun yang besar, tak boleh sewenang-wenang, boleh berlaku seenaknya sendiri meski ia berada di pihak yang benar.

Belajar Mendapatkan Sesuatu
Si kakak ingin burung hantu.
“Aku mau melihara burung hantu. Pokoknya aku kepingin banget! Aku dah bosan melihara ikan, Ummi.”
Tentu, ayahnya marah. Sebab kami pernah memelihara kelinci, kucing, hamster yang hasilnya…mati semua. Hanya ikan-ikan yang masih bertahan : koki, kuhli, ikan pedang, ikan gelas dsb yang perlahan juga wafat satu demi satu. Tapi alasan si kakak ,” dulu kan aku masih kecil, makanya hewan-hewan pada mati. Sekarang aku sudah besar. Aku mau melihara burung hantu. Seperti Soren, dalam Guardian of Gaa’hole!”

Kukatakan pada si ayah bahwa kita tak boleh mengebiri begitu saja keinginan seseorang. Justru kita harus bantu, sejauh mana ia mampu mewujudkannya, dengan cara yang realistis.
“Oke. Kamu boleh searching di internet, cari berapa harganya, apa makanannya, bagaimana cara memeliharanya.”
Si kakak rajin mencari di internet, kaskus dan bermacam-macam situs. Ia mendapatkan informasi berapa harga burung hantu sepasang, berapa harga jangkrik, berapa harga glove atau sarung tangan hantu. Si celepuk atau burung hantu ini hanya melek di malam hari, bisa disuapi di waktu malam. Jadi si kakak bisa merawatnya sepulang sekolah.
Semua informasi siap. Tempat membeli sudah diketahui.
“Jadi, kapan kita beli?” kata si kakak.

Itulah. Permasalahan terakhir adalah permasalahan budget. Harga 500 ribu lumayan mahal untuk memelihara hewan. Berbeda dengan koki mutiara yang hanya 25 ribu dapat beberapa buntal.
“500 ribu, Mas? Bagaimana kalau kita mencicil? Kamu menyisihkan dari uang sakumu?”
Kalau ia mau tidak jajan, jalan kaki, tidak boros uang, mungkin sebulan bisa menabung 50 ribu dan dalam setahun ke depan bisa membeli si Celepuk. Atau,
“perbanyak sholat. Banyak menghafal Quran. Ummi sering dapat rezeki mendadak lho dengan banyak berdoa.”

Anak-anak sering kuceritakan keajaiban doa safar, keajaiban sedekah, dan bagaimana ketika memohon bersungguh-sungguh; impian dapat terkabul. Impian yang kecil sekalipun.
Apa yang dipelajari kakak dalam proses membeli burung hantu itu adalah proses yang digambarkan Harold Laswell tentang politik : siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Kita mengajarkan anak-anak yang lebih besar untuk menghormati yang lebih kecil, mengajarkan mereka untuk bertahap memperoleh sesuatu. Tak ada yang instan, semua harus di program dengan baik, butuh step by step meraih apa yang diinginkan.

Belajar Memimpin, Belajar Dipimpin
Dua kakak telah duduk di bangku SMA.
Belajar organisasi, belajar interaksi. Pembentukan karakter di masa ini sungguh-sungguh punya relasi dengan dunia politik. Suatu ketika kami dipanggil sekolah karena ananda tidak mengumpulkan beberapa tugas. Masa sih? rasanya, putri kami termasuk orang yang perfect dalam urusan akademik.
Ternyata, si kakak putri punya tugas kelompok dan ia menjadi ketua. Akibat karakter perfectnya, ia tidak bisa mendelegasikan tugas.
“Soalnya si ini gak punya laptop, si ini gak ada bukunya, si itu bla bla bla…”
“Kak,” tegurku. “Sekalipun papermu nilanya 100 atau A, tapi kamu kerjakan sendiri, percuma. Biar saja teman-temanmu sulit baca referensi in English, hanya bisa copy paste, gak bisa bikin struktur kalimat yang bagus dan seterusnya; lalu nilai paper kalian hanya dapat 70 itu jauh lebih baik. Karena saat ini kamu sedang belajar berkelompok, bekerja sama. Kecuali kalau tugas individual, kerjakan ngotot dapat 100 ya nggak masalah.”
Di lain pihak, si kakak yang satunya, mau aja diminta mengerjakan beragam hal.
Urunan ini, urunan itu. Beli ini, beli itu. Kerjakan ini, kerjakan itu.
“Lha, kok kamu capek banget sih kayaknya di organisasi X.”
“Aku kan nggak bisa enak-enakan, meski aku cuma dapat seksi gak penting, Mi.”
“Tapi kamu harus bisa memilah, mana yang harus ditaati. Nggak semua permintaan kakak kelas dituruti kalau itu di luar budget, di luar kemampuan.”
Kukatakan, dalam rapat-rapat, si kakak jangan hanya jadi pendengar saja.
“Kamu sekali-sekali mengajukan pendapat, usul. Suatu saat, kakak yang harus bisa me- manage teman-teman. Jangan hanya bersedia jadi pelaksana. Makanya, ayo belajar berpikir.”

Belajar politik ala Confucius, bahwa politik berarti kecukupan makanan, kekuatan militer, mendapat kepercayaan rakyat. Terlibat dalam organisasi sejak masih SMP atau SMA dalam OSIS atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya, bertanggung jawab pada salah satu seksi, menjadi ketua panitia atau ketua organisasi berarti belajar politik ala Confusius – meraih kepercayaan orang lain , menjaganya.

Mendorong Anak-anak Berpolitik
Politik tidak hanya sekedar pencoblosan saat pemilu. Politik tidak hanya sekedar hingar bingar kampanye. Politik bukan cukup pasang baliho dan spanduk. Belajar politik, terutama bagi anggota keluarga dapat dilakukan dimana saja, dengan media apapun yang dimiliki.
Ketika menonton film Korea bersama anak-anak, itu adalah ajang politik keluarga. Kami terharu bersama, menangis menikmati penggal I am a King atau Masquerade; kisah tentang orang biasa yang memiliki wajah mirip dengan raja, lalu bertukar tempat karena satu insiden. Bagaimana raja dan putra mahkota yang pengecut, belajar banyak dari rakyat yang pura-pura menjadi raja. Seorang rakyat terkadang memiliki keberanian dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan. Saat berhadapan dengan menteri yang korup dan ditakuti, sang raja berkata,
“ …karena orang-orang seperti engkaulah, Joseon ditindas oleh kerajaan Ming!”

Menonton Tae Guk Ki , Berlin’s File , The Man From Nowhere atau serial the Great Queen Seondeok ; menikmati tayangan music Korea, melihat jajaran restoran Dim Sum di pinggir-pinggir jalan kami bertanya-tanya : bagaimana mungkin dalam jangka waktu tak kurang dari 20 tahun Korea Selatan merangsek seperti ini? Merajai dengan makanan, film, musik, budaya, barang elektronika dsb?
Budaya adalah produk masyarakat. Bersama budaya ada seni sastra, seni musik, seni teater dan drama, film, kuliner dll.
Saya berpesan kepada anak-anak,
“suatu saat kalian harus buat film serial sebagus the Great Queen Seondeok. Ada banyak peristiwa sejarah yang bisa difilmkan kolosal dan spektakuler , perang Badar dan perang Uhud, misalnya. Atau kisah Walisongo, perang kemerdekaan, perang Diponegoro dan sebagainya.
Kalian harus bikin grup musik yang mengangkat tema batik. Lihat, budaya Korea dengan oplas nya begitu diminati anak muda.”

Setiap pulang dari perjalanan, saya bercerita tentang daerah tersebut kepada anak-anak. Betapa di Gaza, Palestina yang terblokade, angkutan umum terdiri dari mobil bagus dan nyaman. Betapa Gaza berusaha mandiri dengan apa yang dimiliki, tidak melulu bergantung pada bangsa asing.
“Suatu saat nanti, Anak-anak, kalau kalian memimpin, semoga kalian membawa Indonesia lebih baik. Membawa Indonesia seperti yang diimpikan Sayyid Quthb : akan ada sebuah negeri yang menjadi mercusuar dunia. Negeri muslim yang kaya.”

Jadi, berpolitiklah dari sekarang.
Jangan bekukan politik hanya di era 5 tahunan, dalam kotak-kotak kepentingan. Jangan termakan propaganda dan tendensi media tertentu. Kita bangun politik mercusuar, dari rahim rumah-rumah kita. Anak-anak bangsa yang bijak bestari, berani bersuara, tangguh dalam pentas dunia, cerdik mengelola masalah, pandai menemukan solusi.

Menjelang 2014, bentuk persepsi anak-anak dengan informasi yang membangun character building. Jangan biasakan caci maki, jangan biasakan stigma. Katakan bila kita memilih seseorang, kita harus tahu kredibilitasnya, harus tahu apa program kerjanya. Mungkin anak-anak belum tahu betul tentang politik, sebagaimana filosofi politik ala Plato dan Aristoteles. Tapi kita bisa bangun pemahaman mereka tentang politik, sebagaimana Sultan Murad saat mendidik al Fatih, the Conqueror – tentang Konstantinopel.

Mari ajarkan anak-anak berpolitik.
“Nak, Indonesia ini kaya. Negeri ini milik kalian. Suatu saat nanti, ketika kalian besar, kalian yang akan mengelolanya. Maka, belajarlah dari Umar, saat memimpin ia masuk ke pasar dan blusukan hingga daerah-daerah. Belajarlah dari Abubakar. Belajarlah dari Shalahuddin al Ayyubi.”

Anak-anak kita belum faham betul tentang partai.
Tapi anak-anak mulai belajar untuk bersuara, menyatakan pendapat, berdialog dengan baik, tidak pragmatis. Dan, karakter kepemimpinan termasuk pemimpin politik, kita bangun di sini, dalam ruang-ruang rumah kita. Di Quran yang dihafalkan. Di meja makan. Di kamar. Di depan televisi. Di halaman-halaman buku yang dibaca dan didiskusikan bersama.

8 thoughts on “Mari Berpolitik!

  1. Reblogged this on Pohon Gula and commented:
    Cara Bu Sinta Yudisia ini bisa jadi referensi untuk membangun kesadaran politik anak. Politik tidak hanya tentang event lima tahunan, baliho di sudut-sudut kota, atau koar-koar dengan bahasa mumbul dan ngotot di televisi. Jika kita arahkan ke ranah keluarga, politik juga tentang melatih keberanian si kecil (dalam hal ini yang dianggap lemah) di tengah keluarga untuk tidak harus mengalah dan bersedia (saja) di tindas oleh kakak-kakaknya (yang dianggap berkuasa), dan banyak hal lagi. Coba deh cek.
    Hmmm…
    Berarti pembelajaran politik masa kecilku gagal —

  2. Reblogged this on soliloquy and commented:
    Punya abi yang lulusan FISIP mau gak mau terikut dengan ketertarikannya dengan dunia politik. Di keluarga, sampai saat ini hanya saya dan eyang kakung yang bisa mengimbangin perbincangan politik abi. Mulai dari dalam hingga luar negeri. Politik saat itu hanya sebatas diskursus, bukan suatu pengalaman. Hingga saat kuliah saya mendapati sendiri bagaimana ‘kejam’nya politik. Sikut kanan tendang kiri injak bawah jilat atas. Saya pernah takjub dengan fenomena itu, bisa gitu ya mereka berbuat seperti itu. Lalu di tengah perjalanan itu, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa mau tidak mau kita harus berpolitik. Apolitis tidak akan membawa manfaat apapun. Cuman bagaimana mengajarkan politik yang baik kepada adek dan (calon) anak saya, saya masih belum mempunyai pandangan. Apa yang ditulis sama Bu Sinta setidaknya bisa jadi permulaan untuk suatu saat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s