FLP Medan : ukhuwah, naskah yang “FLP banget!” sampai kode etik

Selalu saja, setiap saya berkunjung ke suatu tempat, bertemu adik-adik FLP, rasanya semangat saya di-charge dan saya justru banyak menimba ilmu dari mereka. Berkaca. Bercermin. Menimba keikhlasan dan ketulusan adik-adik FLP yang belum dapat menikmati royalti, belum dapat menikmati honor menulis dan pembicara seminar. Belum dapat menikmati kebahagiaan travelling dan tetap berkutat pada dunia kecil FLP ranting, FLP cabang, FLP wilayah yang seringkali demikian sederhana serta serba terbatas.
Inilah hasil rangkuman diskusi kami, di rumah salah seorang pengurus. Seperti biasa, kelengkapan organisasi FLP ada di ketua, sekretaris, bendahara, kaderisasi. FLP wilayah Sumut juga memiliki Humas.
Ketua (Fadhli): mengorganisasi masalah dan orang-orang, harus mampu menfasilitasi para penulis produktif dan orang-orang yang masih belajar cara berorganisasi.
Sekretaris (Nurul dan Ririn) : masih harus belajar mem –filing arsip-arsip FLP. Sekretaris juga membantu kerja bendahara, terutama membuat proposal.
Bendahara (Fitri Amaliyah) : mencatat keuangan, mencari sumber-sumber dana juga. Fitri yang mahir membuat puisi juga membantu meng edit karya teman-teman.
Humas (Lailan) : silaturrahim dengan tokoh-tokoh sastra, dengan harian semacam Analisa dan Waspada, silaturrahim ke sekolah-sekolah.
Kaderisasi (Dewi) : mengkader kepenulisan anggota, mengontak anggota dan pengurus.
FLP Medan di Rumcay
Ada beberapa hal yang cukup unik menarik di FLP Medan :
1. FLP Ukhuwah Kaderisasi : Dewi mengakui ia belum mahir mengelola divisi kaderisasi. Apalagi jobdesk divisi kaderisasi adalah mampu mengkader atau menghasilkan anggota-anggota yang siap berkarya, berorganisasi, memiliki wawasan keislaman yang cukup. Dengan keterbatasan yang ada, kaderisasi menekankan pada satu hal simple tapi bermakna : FLP ukhuwah. Bagaimana antar anggota FLP memiliki ukhuwah yang erat, sehingga bila satu merasa sakit yang lainnya ikut merasakan. Mungkin hal kecil ini cukup menyentak, bahwa ukhuwah Islamiyah adalah salah satu hal yang mampu mengeratkan antar anggota FLP.

2. Karya : Fitri membantu mengedit karya-karya anggota. Beberapa di antaranya demikian bagus, tetapi ciri khas ke “FLP” annya nyaris kabur atau bahkan hilang sama sekali. Ciri ke “FLP” an yang dimaksud adalah nilai-nilai Islami. Seperti seseorang yang membuat novel tentang hubungan cinta sejenis. Diceritakan dengan amat sangat vulgar dan tidak memiliki ending persuasif ke arah kebaikan. Visi misi FLP sejak awal memang mencantumkan bahwa karya FLP harus memuat nilai Islam yang Universal. Apa yang menjadi kaidah dalam agama Islam, hendaknya menjadi rambu-rambu bagi penulis juga. FLP berkeinginan karya anggotanya mencerahkan ummat, memberikan manfaat baik moril maupun materil, membawa keberkahan. Karya yang mencerahkan akan membawa kebaikan bagi penulisnya juga, tentu saja.

3. Kode etik : usulan Fadhli menarik juga, bahwa FLP sebaiknya menyusun Kode Etik. Saya pribadi teringat Kode Etik Psikologi yang mencantumkan penjelasan tentang profesi psikologi, bagaimana hubungan psikolog dengan klien, apa saja ranah yang dapat digeluti psikolog, bagaimana hubungan antar psikolog dsb.
Kode Etik Penulis FLP dapat saja berisi tentang penjelasan profesi penulis, batasan-batasan, hak dan kewajiban, bagaimana hubungan penulis FLP dengan pihak luar, bagaimana menghormati sesama profesi penulis dan seniman, bagaimana mengatur hubungan antara anggota FLP.

4. Omong-omong Sastra : setiap bulan berkumpul komunitas sastra dari beragam jenis di Medan. FLP ikut bergabung dan duduk sarasehan di sana. Mungkin belum dapat menghasilkan pemikiran arus utama (mainstream) tetapi setidaknya dengan muncul dan ikut terlibat, akan turut memberikan sumbangsih.

5. Rumah Cahaya : rumcay Medan terletak di Sei Deli, di belakang gedung-gedung bertingkat, di kawasan yang lumayan kumuh. Rumcah lumayan representatif dalam jumlah ruangan sebetulnya, hanya situasinya memang memprihatinkan. Rumcay ini sumbangan dari seorang simpatisan FLP, boleh digunakan dalam jangka waktu tak terbatas. Ke depannya rumcay ini dapat lebih difungsikan. Dengan berbekal proposal dan kreativitas, rumcay dapat diperbaiki sehingga nyaman sebagai pusat kegiatan FLP Wilayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s