Ekstrim Kiri, Ekstrim Kanan : Kemana anak IQ 130/lebih harus bersekolah?

Pernahkah anda mengetes berapa IQ putra putri anda?
Baiklah. Sebut saja angkanya. gifted-300x162

90-109 : Rata-rata
110 – 119 : Di atas rata-rata, atau pandai
120-129 : Sangat pandai
130 ke atas : Genius

Orang tua umumnya deg-degan ketika mendengar kata tes IQ. Tes IQ bukan suatu vonis yang harus ditakuti, mirip hukuman mati atau kemoterapi kanker stadium lanjut. Berapapun data angka yang tertulis dalam tes IQ, entah dites dengan Tes Stanford Binet, Tes WISC, atau bila sudah memasuki remaja dapat dengan tes WAIS atau IST; angka itu adalah fakta yang harus dikelola dengan bijak.
Apakah bila IQ dibawah 90 adalah masa depan suram? Tidak.
Seorang anak lelaki ditest, menghasilkan angka 85 yang artinya di bawah rata-rata. Ia sering diejek oleh teman-temannya , “ih, kamu bodo ya!” Anak lelaki ini bertekad untuk menaklukan “85” dan ternyata ia berhasil lulus S2 dengan baik, sekarang menjadi salah satu dosen pakar pendidikan.

Suatu sekolah, pernah menganalisis data siswa siswinya yang masuk ke fakultas kedokteran. Mereka ternyata rata-rata memiliki IQ “hanya” 100 -110, kategori pandai yang sangat biasa, bukan pandai yang ekstrim. Ternyata, guru tersebut mengakui, siswa dengan IQ tersebut rata-rata penuh semangat, rajin belajar dan tekun yang membawa mereka pada hasil optimal.
Pertanyaannya : bila menemukan diri anda atau IQ ananda berada dalam kisaran 130, apakah yang harus dilakukan?

“Horeeee! Anakku genius!”
Dan sejak angka 130 itu ada ditangan, maka orangtua bersemangat melabeli sang anak dengan sebutan si genius yang bisa menguasai apapun mata pelajaran –terutama yang berkaitan dengan numeric- ; mengabaikan fakta lain.
Ketika anda tahu golongan darah anda O, maka itu bukan berarti satu-satunya fakta yang dimiliki. Apakah ada genetic diabetes dan obesitas? Apakah ada riwayat kanker? Bagaimana asam urat, kolesterol dll? Dibutuhkan anamnesa lain bagi seorang dokter untuk memutuskan jenis penyakit sekaligus bentuk kuratif.
Angka 130 masih harus terus didalami, bagaimana bakat dan minatnya. Bagaimana daya dukung orangtua dan fasilitas yang tersedia. Bagaimana kesiapan lingkungan dan sekolah untuk membentuk anak dengan IQ 130 lebih. Dan, apakah pemerintah melindungi tunas-tunas bangsa unggul macam ini?

Gifted Children, Superior Category. Apa maknanya?
Dengan IQ 130 lebih, seorang anak biasanya dikategorikan superior, genius, gifted. Tetapi, perlu digaris bawahi dari pengertian ini.
National Association for Gifted Children, merekomendasikann keputusan Marland Report to Congress 1972 tentang definisi gifted :
Students, children, or youth who gove evidence of high echievement capability in areas such as intellectual, creative, artistic, or leadership capacity, or in specific academic fields, and who need services and activities not ordinarily provided by the school in order to fully develop those capabilities.

IQ 130, yang hanya mencerminkan kondisi pas-pasan dari seseorang, akan menjadi ancaman bagi individu tersebut. Bedasarkan penelitian, anak dengan IQ130 ke atas seringkali menjadi anak yang mudah patah semangat, malas, enggan bergaul, enggan menjalin relasi baik dengan guru. Akibatnya, prestasi mereka sama saja dengan anak dengan IQ 100. Individu macam ini, tidak akan terdeteksi sebagai gifted , sebab IQ tingginya tidak memberikan cerminan yang spesifik dan istimewa.
Maka kita sebagai orangtua, justru harus bekerja ekstra keras, ekstra hati-hati, ekstra luarbiasa merawat anak ber IQ 130 sebab dalam banyak kasus, anak-anak ini menjadi anak-anak yang rawan masalah.

Freak 130!
Inilah anak yang sering tidur di kelas, enggan mendengarkan guru, meremehkan pelajaran, meremehkan teman-teman, merasa lingkungan menyudutkan dan tidak dapat mengikuti kecepatan alur berpikir mereka. Inilah anak trouble maker sebab sangat suka membantah dan punya cirri khas : lack of social competence! Anak 130 biasanya –malangnya- minim kompetensi sosial sehingga mereka acuh tak acuh, egois, mau menang sendiri.

Semakin remaja, kompetensi sosial yang kurang ini bisa menjadi ajang kekerasan, atau ajang self destructive. Putus asa, cepat menyerah, adalah cirri yang biasa menempel si 130 ini.
Maka, anda akan melihat orang-orang dengan IQ superios, genius atau gifted sangat mahir sebagai penjahat, mahir memanipulasi atau justru terpuruk dalam jurang kehancuran.

Lihatlah kisah menakjubkan dan mengiris hati ini.
William James Sidis, seorang lelaki yang konon, memiliki IQ tertinggi di dunia, 254. Sumber lain menyebutkan IQ nya mungkin mencapai rentang hampir 300! Ia seorang Yahudi Ukraina. Ayahnya, Boris Sidis, Ph.D,M.D, seorang genius pula, menguasai 27 bahasa sementara William James Sidis menguasai 40 bahasa! Ibunya, Sarah Mandelbaum Sidis, M.D, lulusan Boston University. William James Sidis lulus bachelor of arts di usia 16 tahun, cum laude. Ia masuk Harvard di usia 11 tahun. Pada usia 8 tahun, Sidis mengarang buku Book of Vendergood yang mencakup bahasa Latin, Yunani, Jerman, Perancis.
WJ Sidis hidup selibat dan beranggapan tak ada seorang perempuan yang pantas untuknya.

Kehidupan William James Sidis menjadi polemic abadi hingga kini di kalangan pendidik, psikolog, media. Para pendidik menganggap ambisi Boris dan Sarah untuk menyekolahkan WJ Sidis di usia muda di jenjang sangat tinggi sebagai salah satu pencetus gangguan mentalnya. Sekalipun WJ Sidis mampu mengajar 3 kelas matematika sekaligus : trigonometri, geometri Euclidean, geometri non Euclidean. WJ Sidis juga dijuluki, peridromophile, orang yang tergila-gila mempelajari system transportasi; kehidupan sosial Sidis tak berkembang baik.

Media, turut menyumbang keterpurukan Sidis dengan selalu mengagungkannya, memujanya sehingga ia makin terisolir sebagai individu normal. Para psikolog terus meneliti kecerdasan Sidis, mengatakan bahwa inteligensi memang diturunkan , disisi lain menjadi pisau yang mencabik kehidupan seseorang bila tak diimbangi kompetensi sosial.
WJ Sidis meninggal di usia muda 46 tahun karena pendarahan otak. Hubungan dengan orangtuanya tak harmonis. Sebuah kisah menyebutkan, Boris meminta maaf atas semua kesalahannya. WJ Sidis hingga akhir hidupnya beranggapan, ayahnya telah merampas setiap kebahagiaan kehidupan. Meski Boris Sidis menyesali apa yang tidak diharapkan dalam pencapaian sang putra, WJ Sidis tampaknya tak mudah memaafkan orangtuanya.

Jumlah Anak Gifted
Di Amerika, populasi anak gifted sekitar 3 juta anak, atau 5-7% dari populasi (catatan 1972). Kemungkinan hal itu akan lebih berkembang lagi. Di Indonesia belum ada data yang pasti.

Apa yang Harus Dilakukan?
NAGC menyebutkan, no one perfect programe for teaching gifted student. Tetapi, pelayanan yang kontinum (continuum services) harus dilakukan pihak-pihak terkait untuk anak-anak ini.
Pelayanan kontinum atau berkesinambungan ini harus melibatkan administrator, guru, orangtua dan murid dalam menu edukasi yang penuh penghargaan. Macam layanan dapat berupa:
• Akomodasi di kelas regular
• Tugas paruh waktu di kelas regular atau special
• Grup full time dengan anak-anak dengan kecakapan yang sama
• Akselerasi
• Pendaftaran ganda minat, dll
• Layanan yang disesuaikan lokal siswa , disini saya pikir, content religi dan sosial dapat dimasukkan seperti program menghafal Quran dll

Perlu kembali diingatkan bahwa guru, orangtua harus menjadi tim yang proaktif dan solid dalam menangani anak-anak gifted. Guru harus terus mengikuti pelatihan yang akan meningkatkan kecakapan dalam mengelola anak-anak gifted, begitupun orangtua harus lebih kooperatif memandang masalah dan solusi. System pembelajaran harus menjadi magnet bagi anak-anak ini.

Ekstrim Kanan, atau Ekstrim Kiri?
Pemerintah saat ini menghimbau sekolah inklusi untuk memasukkan dua orang anak ABK yang sesuai dengan kemampuan sekolah dalam kelas pembelajaran. Banyak sekali yayasan bagi anak-anak dengan kondisi ekstrim kiri (suatu letak yang berada di sisi kiri kurva normal), dan orang rata-rata merasa iba dan berbelas kasih kepada anak-anak “ekstrim kiri”.
Anak-anak ekstrik kanan, di Indonesia belum mendapatkan tempat yang sesuai.

Boleh jadi, mereka bahkan tak menuai belas kasih tetapi menuai cacai maki akibat perilaku mereka yang meresahkan. Ya, terkadang sebagai orangtua atau guru, rasanya kesal dan marah sekali menghadapi anak sok tahu, pemalas, enggan memperhatikan dan punya hubungan buruk dengan teman-teman. Padahal, si menyebalkan itu ternyata anak gifted yang haus akan arahan.
Usai mengikuti ICP Hesos- international conference on psychology in health, education, social, organization setting, rasanya mimpi saya bertambah banyak 

Awalnya, saya ingin membuat Islamic Crisis Center yang akan menampung lansia, skizofren, orang-orang “ekstrim kiri”. Sekarang, mimpi saya bertambah lagi, ingin membuat sekolah untuk anak-anak gifted. Sekolah yang ramah, yang memahami bahwa dibalik keunggulan inteligensi mereka yang luarbiasa, dibalik ketidak pekaan terhadap sesama, dibalik kompetensi sosial yang payah, ada sikap luarbiasa yang ada pada anak-anak 130 ini : mereka cepat belajar, cepat menangkap. Sentuhan hati untuk mereka, semoga membuat anak-anak special ini tidak menjadi trouble maker lagi, tetapi anak-anak dengan kompetensi sosial yang lebih baik, siap menjadi pemimpin dan pencari solusi.

Rangkuman ke #2 #ICPHesos , 21-23 November 2013

20 thoughts on “Ekstrim Kiri, Ekstrim Kanan : Kemana anak IQ 130/lebih harus bersekolah?

  1. Mohon maaf diluar topik Bunda, kami sedang mencari Reseller & Dropshipper Pakaian Bayi dan Anak
    Kami menawarkan berbagai produk dengan harga sangat sangat bersaing.

    Silahkan Bunda kunjungi Online Shop Baju Bayi dan Anak kami di:
    web: bajubajubayi.blogspot.com
    facebook : Baju Baju Bayi

  2. bundanya agi berkata:

    assalamu alaikum, bunda Sinta, salam kenal.
    senang sekali menemukan tulisan ini.
    saya adalah seorang ibu dari 2 anak laki-laki. usia mereka sekarang 7 th dan 4,5th.

    Anak pertama saya memiliki cerita yang sama dengan tulisan bunda. Dari kecil dia memang terlihat lebih cepat perkembangannya dalam bidang linguistiknya, logis matematisnya maupun penangkapannya. Secara perilaku sepertinya tidak ada masalah dengan dia, tapi dia termasuk orang yang tertutup dan kaku jika berhadapan dengan orang yang tidak terlalu di kenalnya.

    Ini menjadi masalah pada saat dia masuk ke SD. Awalnya dia bisa mengikuti kegiatan sekolah. Setelah satu semester mulai turun keinginan untuk bersekolah, sampai akhirnya dia tidak mau sekolah. (mogok sekolah 4 bulan). awalnya dia tidak menyebutkan alasan kenapa tidak mau sekolah. walaupun dengan berbagai macam bujukan, sampai akhirnya dia katakan bahwa “bosen sekolah, mau belajar di rumah aja” . Ada kekhawatiran tentang ini sehingga akhirnya saya bawa ke seorang psikolog.

    Dari hasil Ternyata dia termasuk anak yang superior high dengan iq > 130 tetapi untuk kemampuan sosialnya kurang.

    Barangkali bunda sinta dapat berbagi cara mendidik anak seperti ini, agar dia tetap dapat menjalani kehidupannya secara normal.

  3. terima kasih atas tulisannya, anak saya kemarin tes masuk SD dan ternyata itu adalah tes IQ karena anak saya mendapatkan hasil test dari psikogama yogya dengan IQ 130-131..

  4. wening berkata:

    Bunda… solusi apa yg bisa diberikan utk anak saya. Usianya saat ini 11 th jalan 12 des nanti.
    Saat ini smp kelas 1. Kemarin baru tes IQ hasilnya 152. Waktu kelas 4 sd. Tes IQnya 128.
    Anaknya cuek kali dikelas. Belajar suka2. Bahkan kurang peduli lingkungan. Tapi cukup mau berteman dan punya banyak teman dari game online. Hanya saja sedikit egois. Dan perfeksionis. Dr hasil tes dia termasuk melankolik. Bgmana cara mengarahkannya agar menjadi anak yg benar2 sesuai dg IQnya? Terima kasih.

  5. anggita berkata:

    Bun…putriku sekarang kls 6 sd.pernah test iq saat usia 6 th dengan angka 142.tp sejak kls 5 kemarin jd malas sekolah hub.dgn temen2nya kurang gaul dan prestasi belajarnya menurun ditambah setelah mendpt menstruasi jd suka membangkang kadang suka merusak brg saat keinginannya tdk terpenuhi. Bagaimana solusi dan cara mengatasinya.trimakasih atas jawabannya

    • Maaf lama banget jawabnya. butuh diskusi panjang sebetulnya. Biasanya bunda, anak dg IQ tinggi lack of social competence, kurang kompetensi sosialnya. Biasanya anak2 ini imajinasinya melesat, sementara teman2nya gak bisa mengikuti.

      Ajak ananda sering2 bersosialisasi, misal ikut ke masjid, acara arisan, kumpul2 dll. Butuh upaya memang, harus pandai membujuk dan berkomunikasi dg bahasanya.

      Semangaaat!!!:)

  6. Budi Utama berkata:

    kami tes iq sudah lama. tahun 1995 dengan nilai 125. Apakah besar kemungkinana hal ini akan menurun ke putra putri kami? dan bagaimana cara untuk lebih meningkatkan nilai (tuk putra putri kami)?

  7. shinichikudo3456 berkata:

    Saya PACMANONIM
    Saya murid kls 6 di suatu sekolah dasar
    Saat saya duduk di kls 4 sekolah saya menggelar ‘test IQ’

    Dan Owww yeahh! 136 adalah yg tertinggi..
    Dan PACMANONIM yg memilikinya! \( ^o^)/

    Tentunya saya tidak setuju dg “Freak 130!” paragraf 1 dan 2 walaupun ada sedikit benarnya..
    Dan saya sangat berharap “pelayanan yang kontinum (continuum services) harus dilakukan pihak-pihak terkait untuk anak-anak ini.” benar benar akan ada..

    Tapi setelah membaca paragraf terakhir, saya menjadi lega..
    Wew, lanjutkan mimpi kakak, dan kalo tercapai invite saya >,<
    =D

  8. shinta berkata:

    Assalammualaikum wr.wb, anak sy 11 thn IQ 147, dia orangnya justru bergaul habis dg siapapun..di kompleks, di sekolah, dia dikenal semua orang krn supel dan ramah, tp dia slengean bgt orangnya, agak kurang tanggungjawab dg barang2nya, sy sekolahin di sklh yaϞg nggak hrs pAke seragam, dan tdk hrs pake. sepattu, belajarnya lesehan..krn dia tdk menyukai hal2 yaϞg formil…(Ada bbrp kali sy liat di sklh dia nyeker/tanpa alas kaki) he he..skrg smp klas 1, mohon arahannya…trimakasih..

    • Wa’alaykumsalamwrwb.

      Mbak Shinta…lama saya gak buka WordPress.

      Alhamdulillah, masyaallah IQ 147!
      Luarbiasa pula ananda mampu bergaul dg baik.

      Coba amati, apakah ananda suka sains atau sosial? Mulai pupuk bakat2nya.

      Suka bergaul?
      Coba leskan bahasa. Siapa tahu ananda calon diplomat andal!

      Salam sayang buat ananda ya….jangan lupa iringi doa Mbak.

    • Terkait kebiasannya yang suka berantakan, coba bantu ananda :

      🐦 pasang pamflet pengumuman yang menarik di dinding “letakkan buku di rak usai membaca”

      🐦siapkan kotak2 utk menyimpan barang dg warna tertentu. Biru utk kaos kaki, merah utk alat tulis, kuning utk pernak pernik seragam (dasi,topi dll)

  9. jeremy berkata:

    Barusan tes iq pake b inggris nyoba nyoba di web resmi eh dpt nilai ny 130 di tulisan ny smart :v emg bnr si bu kadang emosional saya itu susah di kendailin kyk ada blood lust ny gitu dan juga emg males sih heheh

  10. Lisna Fitriyani berkata:

    IQ sy lebih dari 130 tp saya anak yang mudah bergaul namun sangat pemalas, dan saya anak yang bodoh dalam hal matematika dan penghafalan, sehingga saya masih tidak percaya kalau saya gifted. Apakah EQ dan IQ saya seimbang? kenapa IQ saya tidak sesuai dengan kemampuan belajar saya? apakah ada penjelasannya? terimakasih

    • Lisna yang shalihah,
      terimakasih sudah menyapa🙂

      130 termasuk sangat cerdas. Biasanya, anak yang memiliki IQ tertentu dibarengi beberapa sifat unik, dianggap gifted.

      IQ masih mengukur kemampuan umum. Biasanya, bila kita bingung, beberapa tes disarankan seperti tes bakat.

      Boleh jadi Lisna memang kurang dalam hal arithmetic dan memory, tapi di verbal fluency Lisna unggul. artinya, Lisna memang kurang berbakat disisi eksak namun sangat berbakat di bidang sosial.

      Apakah Lisna punya kesukaan menggambar, musik, punya energi lebih untuk melakukan sesuatu? atau adakah hobby spesifik yang sangat diminati?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s