Gagal + Terlambat + Semangat = Hasil Positif

Apa yang harus dilakukan manusia saat target tak tercapai, pencapaian tak sempurna, hasil yang diupayakan pun tak sukses alias gagal?
Saya pernah mengalami masa-masa ketika ingin berhenti di satu titik. Beranggapan bahwa gagal ini mungkin pertanda harus berhenti, atau berganti haluan. Setelah semester demi semester kuliah Psikologi Alhamdulillah mendapatkan IP 4 atau 3, 8 , saya berpikir ; sebentar lagi cepat selesai. Cum laude. Lanjut S 2 dan yah, sikap pragmatis manusia : segera bantu-bantu suami bersikap produktif untuk biaya sekolah anak-anak .goodwork
Sebab suami sudah wanti-wanti ,” Ummi, kalau kuliah sudah mengorbankan banyak hal. Tenaga, uang, waktu. Harus maksimal hasilnya.”
Ketika beberapa kali saya dapat beasiswa sebagai mahasiswa teladan, suami bersyukur. Tapi ada suatu masa saat mengerjakan skripsi, benturan-benturan terjadi.
Mereka yang IP nya jauh di bawah saya, melaju demikian cepat.
1 semeter. 2 semester.
Saya terhambat.
Bukan karena malas, tidak pernah mengerjakan. Tetapi ada beberapa kendala teknis yang membuat saya bertanya pada Tuhan : bukankah saya berdoa setiap kali waktu istijabah, agar lulus tepat waktu sehingga efisien di sana sini?

Titik Tolak
Penelitian saya memang cukup simple, dengan subyek yang agak rumit.
Hubungan Communication Skill dengan Psychological Well-Being pada Tunarungu.
Banyak yang membahas ketrampilan berkomunikasi. Banyak pula yang membahas PWB atau disisi lain Subjective Well Being (SWB). PWB adalah skala untuk mengukur derajat kebahagiaan yang diteliti dan dirumuskan oleh Carol D. Ryff, professor psikologi dari Wisconsin University, USA.
Permasalahan mulai timbul ketika hal-hal sederhana yang saya bayangkan, cukup sulit dilapangan. Saya memiliki subyek cukup banyak tunarungu untuk anak-anak. Ternyata anak-anak belum dapat merasakan kebahagiaan secara riil, maka saya harus hunting subyek remaja-dewasa. Berurusan dengan birokrasi. Berhadapan orang-orang tipe “lama” yang enggan bekerja professional bila tidak diberi gratifikasi. Dan, kesulitan terbesar adalah harus menerjemahkan bahasa Ryff ke dalam bahasa tunarungu.

Saya belajar sedikit-sedikit signal language.
Kamu cantik. Terima kasih. Sama-sama. Siapa namamu. Pusing. Bingung. Assalamualaykum. Wa’alaykumsalam. Kamu harus rajin. Kamu tidak boleh bohong.

Lelah sekali.
Apalagi berkejar-kejaran dengan ujian akhir anak-anak, tahun ajaran baru, deadline tulisan. Kalau begini caranya…apa saya mundur saja ya? Bukankah cita-cita saya pada awalnya mandiri financial sebagai pengusaha, penulis; bukannya habis-habisan untuk penelitian macam ini? Meski, jauh di lubuk hati, terselip keinginan-keinginan yang melambung jauh tinggi. Betapa inginnya menjadi ulama ilmuwan macam Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang tulisan-tulisannya saay baca hingga sekarang sebagai pengobat dahaga pengetahuan dan pencarian. Tidakkah saya ingin seperti mereka?

Buku. Membaca.
Menjadi penawar letih.
Saat mempelajari kisah Sigmund Freud, tokoh psikoanalis yang dipuja sekaligus dihujat, cukup membuat merenung. Seorang Yahudi, dalam masa sulit antisemit, dikungkung kesengsaraan Perang Dunia I dan masa-masa tumbuhnya ilmu psikologi yang belum pasti ; Freud terus menerus aktif menulis The Psychopatology of Everyday Life (1901) , Three Essays on The Theory of Sexuality (1905) , Totem and Taboo (1913) , Introductory Lectures on Psychoanalys (1916), Beyond the Pleasure Principle (1920), The Ego and Id (1923), the Question of Lay Analysis (1926), The Future of An Illusion (1927), Moses adn Monotheism (1930). Freud rajin mengunjungi pasien, sejawat dan anggota masyarakat untuk memperkenalkan psikoanalis.
Para ulama dan cendekiawan muslim tentunya mengalami hal serupa : menemui kesulitan, kebuntuan baik saat meneliti ataupun saat menuangkan gagasan dalam tulisan. Semua itu tak membuat mundur apalagi menyerah.
Mempelajari semangat Ibnu Rusyd, Al Kindi, Al Farabi, Khwarizmi, Piri Reis, Ibnu Sina dan banyak lagi ulama cendekiawan terkemuka membuat kita menyadari bahwa halangan yang ada saat ini mungkin tak senilai bila dibandingkan dengan zaman dahulu. Sekarang lebih mudah mengunduh informasi jurnal , membaca buku elektronik, men-delete tulisan, meng copy, mencetak dan seterusnya.

Di titik ini saya tersadar, bahwa cita-cita besar mustahil hanya berhadapan dengan sandungan batu kerikil. Samudra, bukit dan gunung, bahkan tanjakan ke langit akan ditemui para pemimpi.

RahasiaNya
Alhamdulillah, selesai sudah strata satu.
Setelah sebelumnya sempat maju mundur saat mendaftar fakultas psikologi : apa saya tidak terlalu tua untuk memulai menimba ilmu secara serius? Mengingat selama ini mengikuti suami berpindah dari satu kota ke kota lain, sehingga tak dapat memusatkan pikiran tentang up-grading diri. Saat anak-anak beranjak besar, satu tekad kuat bangkit : ini saatnya saya menimba ilmu kembali. Tak perlu berkecil hati terhadap ucapan orang lain. Suatu saat, kita buktikan pada dunia bahwa tujuan menjalani semua ini adalah demi tujuan mulia. Secara pribadi saya ingin menuntaskan ilmu psikologi hingga ke titik terdepan, terpuncak : agar saya memiliki hujjah kuat dalam melayani ummat.
Kepada siapa ummat bertanya tentang konseling keluarga, anak-anak gifted atau special needs, kenakalan remaja, atau bahkan untuk kasus-kasus ekstrim traumatic ; jika bukan kepada ulama muslim yang memahami? Bila kita tak ambil bagian sebagai ilmuwan muslim, maka ummat akan diterapi dengan pendekatan-pendekatan psikoanalis, behavior, humanistic yang mungkin di dalamnya mengandung pola-pola terapi yang sangat tidak Islami.

Ke depan, mungkin 10 atau 20 tahun lagi, saya ingin membangun Islamic Crisis Center, suatu pusat rehabilitasi dan penelitian bersadar ilmu pengetahuan berbasis Quran. Turki pernah memiliki rumahsakit di abad 15, sebuah rumahsakit yang para dokter dan terapisnya mampu membedakan penyakit qalbu dan ruh ; mana yang mental disorder (schizofren, dll) dan mana yang gangguan setan (semacam exorcist dan sejenisnya). Pendekatan ilmiah, dengan terapi yang mengedepankan pendekatan spiritual berikut kedokteran modern yang terpercaya baik secara fisik maupun psikis. Ya, mengapa kita tidak kembali membangun Pusat semacam itu?
Saya juga ingin seproduktif Freud, Jean Piaget, dll dalam hal menulis sehingga keilmuan mereka senantiasa ditelaah, dikritisi, diperbaharui, disempurnakan sepanjang waktu.

Alhamdulillah, rahasiaNya yang saya syukuri terbaca kini.
Penelitian hubungan Communication Skill dan PWB pada tunarungu, terpilih sebagai salah satu penelitian menarik oleh kampus dan insyaAllah pada November mendatang saya mempresentasikan penelitian tersebut pada International Conference Psychology in Helath, Educational, Social and Organizational Setting di depan pakar-pakar psikologi dari mancanegara. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Langkah kecil ini, semoga awal dari sebuah tahapan langkah yang besar.
Batu-batu kerikil di masa lalu, rupanya Allah siapkan supaya saya lebih berhati-hati melangkah dan bersiap mengganti sandal dengan sepatu yang lebih kuat .

4 thoughts on “Gagal + Terlambat + Semangat = Hasil Positif

  1. Gambaran beratnya sebuah perjuangan, maju terus Mba InsyaAlloh ilmunya bisa bermanfaat untuk ummat, termasuk akang salahsatunya yang mempunyai seorang “anak istimewa” dengan Cerebral Palsy-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s