RI-1, Jatim-1, FLP-1 : Memilih Pemimpin yang Istimewa

“Kamu mencalonkan diri jadi walikota?” suatu saat dosen bertanya. Tentu saya kaget. Menurut beliau, foto saya terpampang dimana-mana. Eh? Benarkah? Ternyata, memang foto (mirip) saya terpampang di penjuru kota beberapa waktu lalu. Sama sekali tak ada niat menduduki jabatan politis, tetapi tiap kali pesta demokrasi berlangsung, saya bertanya-tanya pada diri sendiri saat menatap sekian banyak foto raksasa di baliho, spanduk diikuti nomer urut dan partai pengusung : andai saya jadi walikota, gubernur atau presiden kira-kira apa yang saya lakukan? Berantas korupsi, benahi ekonomi, buka lapangan kerja, jaga lingkungan, perangi trafficking, rebut perbatasan dengan negara tetangga ?

Belum sempat berpikir lebih jauh, saya sudah ambil sikap menyerah : aduh, jangan saya saja. Nggak kuat mikirnya. Biar saja urusan masyarakat dan ummat diurus oleh yang mampu. Mengurusi korupsi berarti berhubungan dengan aparat negara, militer, orang-orang kelas kakap, dlsb. Ah, saya mending ngurus diri sendiri aja, mengurus keluarga, cari uang yang cukup, infaq, sedekah, bersikap lurus. InsyaAllah, itu jalan ke surga juga.

Oke.
Saya tidak mampu menjadi pemimpin. Makanya tak terlalu ambil pusing dengan kurs rupiah terhadap dollar, inflasi, diaspora masyarakat Indonesia, korupsi pemimpin dan sekian banyak masalah njelimet mumet yang menelikung Indonesia. Tapi secara periodic, ada undangan kehormatan dari negara untuk hadir di acara istimewa : pencoblosan. Kali ini , tanggal 29 Agustus 2013, sebagai warga Jawa Timur saya dan anggota keluarga diundang hadir untuk sebentar memikirkan masalah negara, khususnya wilayah Jawa Timur. Apakah Bambang Dh-Said, Khofifah-Herman, atau incumbent Pakde Karwo-Gus Ipul?

Tentunya, di bilik suara, saya bisa saja main asal, tutup mata dan menghitung kancing. Tapi, apa saya akan melakukan hal yang sama seperti masyarakat di pelosok desa yang notabene tidak memiliki khazanah intelektual sama sekali tentang negara, informasi, pendidikan dan hal-hal actual lainnya? Sebagai orang yang mengenyam pendidikan, tentunya saya harus memberi dan berpikir lebih : 1 suaraku ini untuk siapa ya? Siapa yang track record nya baik? Apa kontribusinya bagi Jatim selama ini, apa pula prediksi kita terhadap kebijakan-kebijakannya ke depan?
Sekali waktu, secara periodic, kita diminta untuk memikirkan nasib bangsa dan negara ke depan. Jangan bersikap masa bodoh, sebab ini menyangkut orang-orang yang kita cintai – anak cucu kita sendiri. Salah memilih orang, habis sudah harta kekayaan negara, berarti anak cucu kita tak lagi bisa menikmati apa-apa di negara kaya gemah ripah loh jinawi ini.

Pemimpin Istimewa, adakah?
Mari lihat apa pendapat Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah. Salah satu mutiara Islam bernama lengkap Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah ini lahir di Harran, Syria, 12 [atau10] Rabiul Awwal 611 H. dalam bab Walayat (jabatan/kekuasaan), terdapat penjelasan masalah jabatan dan metodologi pengangkatan berdasar QS 4 : 58-59. Bab ini terdiri dari 4 pasal [2] :
1. Mengangkat yang paling layak & sesuai (Ashlah)
2. Memilih yang lebih utama (Afdhal)
3. Sedikitnya orang yang memiliki otoritas (Quwwah) dan Amanah sekaligus
4. Metodologi utk mengetahui yang layak dalam pengangkatan

1. Mengangkat yang paling layak & sesuai (Ashlah)
“Siapa saja yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, semntarara ia mendapatkan orang yang lebih layak dan sesuai daripada orang yang diangkatnya , maka dia telah berkhianat pada Allah dan RasulNya.”
Penjelasan dalam pasal ini cukup panjang yang intinya, seseorang diangkat sebagai pemimpin karena kelayakan (ashlah) ; bukan hanya karena keturunan, kekerabatan.

2. Memilih yang lebih utama (Afdhal)
Ternyata memilih yang layak, sesuai, tepat itu sangat sulit. Mungkinkah pemimlihan pemimpin diabaikan? Tentu tidak. Jalan keluarnya adalah, dalam setiap penugasan jabatan (manshab), jika itu diterapkan dengan seleksi yang ketat (ba’da al-ijtihad at-tam), dan pilihannya (akhdzuha) dalam penugasan walayat kepada yang memenuhi criteria (bihaqqiha), maka yang melakukan seleksi penugasan jabatan itu telah melaksanakan dan menepati amanatnya dan telah menunaikan kewajiban di bidangnya.

Seseorang yang memiliki wewenang agar tahu siapa yang lebih layak (ashlah) dalam menempati suatu tugas (fi kulli manshab) harus memahami bahwa walayat memiliki dua pilar (ruknani) yaitu otoritas (al quwwah) dan amanat.
Kekuatan/otoritas/al quwwah dalam setiap wewenang harus sesuai konteksnya misal kepemimpinan perang berarti harus tahu siasat perang, pemerintahan dan hukum harus memahami hukum-hukum.
Amanat memiliki 3 khishal (karakter) : khouf/ takut kepada Allah SWT, tidak memperjual belikan ayat-ayatNya dengan ahrga murah, tidak memiliki rasa takut terhadap manusia.

3. Sedikitnya orang yang memiliki otoritas (Quwwah) dan Amanah sekaligus
Sangat sedikit orang yang memiliki 2 ruknani tersebut, yaitu kuat sekaligus amanah. Salah satu solusinya, telah dapat dilihat di zaman khulafaur rasyidin. Abubakar ra yang lemah lembut mengangkat Khalid bin Walid yang keras sebagai panglima perang (sekalipun beberapa watak Khalid dicela oleh Abubakar), sementara dimasa Umar bin Khathab ra, Khalid dicopot . Umar yang keras lebih memilih Abu Ubaidah ibn Jarrah yang lemah lembut sebagai panglima perang.

4. Metodologi untuk mengetahui yang layak dalam pengangkatan
Prinsip mendasar dari sub-bab ini adalah untuk mengetahui yang paling sesuai. Hal ini akan dapat terealisasi bila mengetahui tujuan wewenang kekuasaan (walayat) serta cara untuk mencapainya. Jika tujuan dan sarana penunjang telah difahami secara baik, maka sempurnalah masalah itu.

Kriteria Pemimpin
Pemimpin harus memiliki kualifikasi-kualifikasi Islami seperti pengetahuan, kompetensi, kejujuran, etika sosial, etika pribadi[5]. pengetahuan dan kejujuran telah diketahui maknanya. Apa maksud kompetensi?

Kompetensi adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu secara berhasil dan efisien. Dalam penjelasan lain, kompetensi adalah gabungan antara skill, knowledge , ability atau ketrampilan, pengetahuan dan kemampuan. Skill berkaitan dengan ketrampilan, latihan terus menerus, pengalaman yang terus diasah, Knowledge adalah kapasitas intelektual, kognitif yang terus diisi dan dikembangkan. Ability terkait dengan sifat-sifat terpendam/potensi, level performance, proses kognitif yang lebih kompleks; penggabungan IQ, intuisi, kemampuan melihat peluang dll.

Bagaimana dengan etika?
Ethics. Defining “ethics”: norms for conduct that distinguish between acceptable and unacceptable behavior[11]. Etika adalah norma perilaku yang membedakan apakah sebuah perilaku diterima atau tidak. Umumnya orang memiliki pemahaman sama tentang etika tetapi akan berbeda pada interpretasi dan aplikasi tergantung value dan pengalaman hidup masing-masing.

Seorang pemimpin hendaklah memiliki kuranglebih cirri-ciri seperti di atas, bahwa ia memiliki kompetensi, etika sosial dan pribadi yang dapat diterima masyarakata, terlebih lagi etika mulia dalam Islam, memiliki kejujuran dan pengetahuan sesuai bidang yang menajdi amanatnya.

Pujian dan Keunggulan Pemimpin
Banyak hadits tentang haramnya aroma surge bagi pemimpian yang tidak amanah. Nash-nash ini memang menakutkan dan seharusnya sungguh ditakuti bagi pemimpin. Tetapi sayang, bila orang-orang baik justru menjadikan nash ini sebagai perisai dan tak mau menerima amanah. Terkadang menerima amanah bukan sekedar merasa tak mampu, takut, tetapi juga keengganan untuk harus berlajar ekstra, menimba pegnalaman lebih, belajar lebih lagi dari banyak orang, pendek kata keengganan menjadi pemimpin terkadang disebabkan seseorang enggan melakukan effort lebih. Menjadi pemimpin berarti berkurangnya waktu untuk keluarga, waktu untuk bersenang-senang, apalagi me-time.

Tentunya, surat Dr. Mohammad Beltagy pada Asma memperlihatkan pada kita betapa sibuknya seorang pemimpin. Saat Asma megnatakan, bahwa ketika ia tengah bersama sang ayah pun, ayahnya sibuk mengurus segala sesuatu tentang ummat.

The last time we sat together at Rabaa Al Adawiya square you asked me “even when you are with us you are busy” and I told you “it seems that this life will not be enough to enjoy each other’s company so I pray to God that we enjoy our companionship in paradise.12”

Memang, menjadi pemimpin sangat berat, bahkan di dunia menghadapi banyak ancaman dan musuh, terlebih di akhirat menghadapi ancaman tak dapat mencium bau surga, apalagi memasukinya. Demikian pula, nyaris tak tersedia waktu cukup uuntuk diri sendiri dan orang-orang tercinta.
Tetapi hal ini bukanlah untuk menjadikan orang-orang terbaik dari ummat, yang paling kompeten dan bagus agamanya, justru menjauh. Simak beberapa hal di bawah ini :
• Musnad Imam Ahmad bin Hanbal , dari Nabi Saw bersabda yang artinya : “makhluk yang paling dicintai Tuhan adalah Imam yang adil dan yang paling dibenci Allahadalah kepala negara yang dzalim
• Satu hari bagi pemimpin yang adil lebih baik daripada beribadah 60 tahun (dlm siyasah syariyyah)

Tidak ada istilah Rijaluddin1?
Sejak zaman Nabi Saw, 4 khalifah, hingga Harun al Rasyid, tidak dikenal istilah-istilah terpisah seorang pemimpin dari rakyatnya. Adalah Abu Yusuf, kepala mahkamah di masa Harun Al Rasyid yang mulai menyematkan “ahli fiqih” sebagai penanda orang-orang berilmu dengan orang biasa. Pada awalnya, tidak ada istilah mufti, mursyid, faqih,syaikhul Islam dll. Abu Ubaidah, Umar, Abubakar, Khalid sama saja dengan Abu A, Abu B, Abu C. Tidak ada yang membedakan. Demikian pula, pada awalnya tidak ada istilah yang membedakan antara “Yang Mulia” dengan “rakyat jelata”, sebab masing-masing hanya berbagi tugas saja, bukan menjadi golongan yang terpisah secara status.

Di masa sekarang, istilah yang dimaksud “rijaluddin” itu mungkin tersemat di depan nama seperti ustadz, kiai, presiden, haji yang akhirnya membuat orang merasakan perbedaan tingkat padahal di masa salafus shalih tidak ada beda antara amirul mukminin dengan gubernur dan rakyat jelata. Umar ra sedang bekerja memimpin negara, di saat yang lain Abu Ubaidah sedang memimpin perang, dan yang lainnya berjualan di pasar sementara perempuan mengurus rumah. Tidak ada perbedaan tingkat, hanya perbedaan jenis pekerjaan.(As Sibai, 1983)

Beberapa Contoh Pemimpin
Tidak semua orang dilahirkan sebagai raja, demikian pepatah China. Memang, tidak semua orang dapat menduduki kursi kepemimpinan. Tetap saja, ada orang-orang yang memiliki cirri khas ketika ia memimpin. Beberapa di bawah mungkin memiliki karakteristik unik saat memimpin dan mewariskan idealism.

1. Hasan al Banna ; pendiri Islamic Brotherhood atau Ikhwanul Muslimin ini membawa ideology yang awalnya dicemooh.
Ia beranggapan bahwa Islam bukan hanya sekedar mecnakup ibadah-ibadah ritual, tetapi juga harus meresap ke seluruh sendi-sendi kehidupan manusia seperti seni, pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, undang-undang, bahkan pemerintahan. Salah satu yang khas dari gaya kepemimpinannya ialah , al Banna berhasil mengorganisasikan orang, mendorong mereka untuk berbuat.

Apa yang dilakukan al Banna kira-kira seperti ungkapan Walt Disney : “Anda dapat bermimpi, berkreasi, mendesain dan membangun tempat paling indah di dunia, namun dibutuhkan orang-orang untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan”[3]. Al Banna mengubah teori-teori dalam buku menjadi kenyataan bahwa melakukan segala sesuatu berlandaskan Islam bukanlah menjadi terbelakang, inferior, atau tak bermakna tetapi justru mengambil Islam sebagai pedoman adalah langkah yang melampaui jauh ke depan, superior, dan memberikan makna bagi kemanusiaan.

2. Mohandas K. Gandhi
First they ignore you, then they laugh at you, then thye fight you, then you win[7]. Quote ini sebetulnya bukan asli perkataan Gandhi tetapi sering dinisbatkan pada perjuangannya , prinsip nonviolent resistance. Setiap kali menghadapi kekejaman dan kebrutalan, Gandhi menghadapinya dengan unwaveringly peaceful defiance – tantangan damai pembangkangan. Ia berpuasa, mengenakan baju tenunan sendiri – semua sebagai bentuk pernyataan spiritual dan politik. Gandhi yakin bahwa pemberontakan atau perlawanan dengan cara damai lebih memberikan inspirasi; hal yang diikuti oleh Martin Luther King Jr, Nelson Mandela dan Aung San Suu Kyi.

3. Evo Morales
Juan Evo Moraley Ayma, anak petani miskin suku Indian Aymara yang berani menentang arogansi Amerika. Ketika terpilih sebagai presiden Bolivia Morales memotong gajinya sendiri, memangkas gaji anggota senat 50% dan mendistribusikannya untuk proyek sosial dan gaji guru. Ia menasionalisasi perusahaan minyak dan gas bumi, redistribusi lahan di Bolivia dan meluncurkan kebijakan land reform untuk petani miskin. Langkahnya menasionalisasi perusahaan minyak dan gas bumi tentu mendapat tantangan berat dari negara yang di sebut Evo Morales – Si Setan, USA.

4. Steve Jobs
1977, Apple diambang kehancuran. Dengan celana jins dan kaos turtle neck, Jobs berkonsolidasi dengan karyawannya dan mengatakan bahwa mereka tidak boleh gagal, “…orang dengan passion akan mengubah dunia lebih baik.”[3]
Steve Jobs adalah orang dengan ide-ide berani yang semula ditentang oleh banyak pihak. Ketika Jobs ingin menghadirkan computer di tiap rumah – saat itu computer seukuran lemari hanya ada di kantor-kantor- , para penyandang dana mengatakan : mengapa kau ingin menghadirkan kaviar para orang yang cukup mengkonsumsi biscuit dan keju?
Jobs hanya berpikiran sederhana : ia ingin memanfaatkan tekonologi yang difahaminya untuk memudahkan urusan manusia –tentu dengan tidak megnabaikan keuntungan ekonomis. Jobs berhasil membawa Apple seperti sekarang, dan setelah kematiannya, dunia kehilangan innovator terbaiknya.
5. Dll

Memilih FLP-1

helvy tiana rosa
intan savitri
Sebagai sebuah organanisasi kepenulisan terbesar di dunia, setiap anggota dan pengurus FLP akan bertemu perhelatan akbar 4 tahun sekali. Ini bukan cuma kerja panitia, kerja humas dan ketua umum saja tetapi menjadi kerja dari setiap personal yang memahami bahwa dakwah literasi sebagai bagian agama ini adalah sesuatu yang harus dijaga.

Indah sekali penjelasan Sayyid Quthb dalam Tafsir fii Dzilalil Quran tentang QS 2 : 133 tentang Nabi Yaqub as saat sakaratul mautnya memanggil anak-anaknya dan bertanya,” …apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab : kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, Tuhan yang Satu….”
Sayyid Quthb, sang dai sastrawan dan penulis yang menginspirasi menjelaskan apa makna ayat tersebut.

Perkara besar apa yang ingin ditinggalkannya, hingga ia dapat pergi tenang dan puas? Peninggalan apa yang hendak diwariskannya kepada putra-putranya, selamat sampai ke tangan mereka, dan mereka terima dengan suatu proses verbal yang ditulis secara terperinci? Aqidah, itulah wasiatnya. Itulah harta peninggalan. Itulan masalah besar. Itulah problema. Ini adalah amanah, harta peninggalan, warisan.
Maka, mereka mengakui agama ini dan mereka mengingatnya. Mereka menerima warisan itu dan akan memeliharanya. Mereka memberikan kepastian kepada ayah mereka yang sedang sekarat dan menenangkannya. Demikianlah wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya dan itu tetap terpelihara hingga anak-anak Ya’qub[8]. Ketika mereka mengatakan dengan tegas bahwa mereka adalah “muslimun” maka mereka akan menjaga amanah, harta peninggalan, warisan ini.

Agama yang harus dijaga. Dakwah yang harus terpelihara.
FLP yang harus terus bergerak untuk Indonesia dan Dunia.
Pada Munas FLP-3 di Bali 30 Agustus – 1 September 2013 mari kita fahami dan jaga, bahwa perhelatan ini bukan sekedar acara akbar , foto-foto belaka tetapi menjadi ajang estafet dakwah sebagaimana Ibrahim berpesan pada anak-anaknya, dan Yaqub saat sakaratul mautnya : FLP adalah harta , amanah, warisan berharga milik Indonesia dan dunia yang harus dijaga sebaik-baiknya. Mari rumuskan langkah-langkah FLP ke depan, menyatukan langkah, mengurangi perbedaan, melapangkan dada dan berjuang demi Indonesia yang bermartabat. Siapapun yang terpilih sebagai FLP-1, ia bukan sekedar menyematkan gelar atau status “rijaluddin” seperti yang diungkapkan Dr Musthafa As Sibai, tetapi ia sesunggunya tengah membangun diri sebagai “muslimun” sebagaimana yang dijanjikan anak-anak Yaqub, bahwa menerima amanah dan menjaganya adalah bukti mukmin sejati.

Referensi :
1. Dr. Musthafa As Sibai, Agama dan Negara, Media Dakwah, 1983
2. Ibnu Taimiyah, Siyasah Syariyah, Risalah Gusti, 2005
3. Carmine Gallo, Rahasia Inovasi Steve Jobs, Esensi Erlangga Group, 2010
4. Hempri Suyatna, Evo Morales : Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika, Hikmah, 2007
5. Dr.S. Waqar Ahmed Huseini, Sistem Pembinaan Masyarakat Islam, Pustaka Salman Institute, 1983
6. Syekh Ibnu Taimiyah, Pedoman Islam Bernegara, Bulan Bintang, 1977
7. Life’s Legends, 20 Who Shook the World, Life Magazine, Supplement to TIME, November 2011
8. Sayyid Quthb, Tafsir Al Quran : Fi Zhilalil Quran , Al Hidayah, 1993
9. http://oxforddictionaries.com/definition/english/competence
10. http://www.thefreedictionary.com/competence
11. Lohman, David F, Issues in the Definition and Measurement of Abilities diperoleh dari http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.202.7356&rep= rep1&type=pdf
12. http://www.niehs.nih.gov/research/resources/bioethics/whatis/
13. http://www.middleeastmonitor.com/news/africa/7007-letter-from-dr-mohamed-beltaji-to-his-martyred-daughter

2 thoughts on “RI-1, Jatim-1, FLP-1 : Memilih Pemimpin yang Istimewa

  1. Betul Mbak, saya suka dan setuju banget sama qoute ini, “FLP adalah harta, amanah, warisan berharga milik Indonesia dan dunia yang harus dijaga sebaik-baiknya. Mari rumuskan langkah-langkah FLP ke depan, menyatukan langkah, mengurangi perbedaan, melapangkan dada dan berjuang demi Indonesia yang bermartabat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s