Bila Pernikahan Tidak Setara , Tidak se- Kufu, Berbeda Visi-Misi

Tentunya, harapan wajar saat mencantumkan nama di undangan pernikahan, nama yang tertera adalah Arjuna, ST dan Srikandi S.Psi. Dua-duanya sama-sama aktivis kampus, kompak dalam menjaga diri, bersaing dalam IP dan hafalan Quran, dikenal sebagai dai daiyah muda tangguh yang cemerlang. Memiliki nasab yang sama-sama membanggakan, paras keduanya pun indah dipandang.karikatur-kita1

Itukah yang dinamakan se-kufu, setara? Bahwa Arjuna dan Srikandi telah menemukan pilhan yang benar-benar sesuai bagi jalan hidup –terlepas jodoh adalah masalah takdir? Apa perlunya “kesamaan” dalam sebuah mahligai rumahtangga?

Bab 16. Kitab Nailul Author Jilid V : Tentang Kufu dalam Perkawinan.

3478. Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata : pernah ada seorang remaja putri datang menghadap Rasulullash Saw seraya berkata : Sesungguhnya ayahku telah menikahkan aku dengan anak saudara laki-lakinya agar bisa terangkat denganku kerendahan derajatnya. Abdullah berkata : lalu Nabi Saw menyerahkan persoalan (ini) kepada diri perempuan itu sendiri. Kemudian perempuan itu berkata : biarlah aku merelakan apa yang diperbuat oleh ayahku, hanya aku ingin memberi tahu kepada semua perempuan, bahwa sesungguhnya bagi para bapak tidaklah berhak memiliki wewenang sedikitpun dalam urusan (pernikahan anaknya). (HR Ibnu Majah)

34791. Dan hadits ini (juga ) diriwayatkan Imam Ahmad dan Nasai dari Buraidah dari Aisyah .
3479.b. Dan dari Umar ra, ia berkata : sungguh aku benar-benar melarang pernikahan perempuan-perempuan yang berketurunan mulia kecuali dengan laki-laki yang sekufu (dengan mereka)
3480.a. Dan dari Abi Hatim Al Muzani, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda, “ apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang kamu ridha (karena) agamanya dan akhlaqnya maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia, jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” Mereka bertanya “ya Rasulullah, jika hal itu memang ada? Ia menjawab, : apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya , maka nikahkanlah anakmu dengan dia : diucapkan tiga kali (HR Tirmidzi dan ia berkata : hadits ini Hasan Gharib)

3480.b Dan dari Aisyah, bahwa sesungguhnya Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams sedang ia termasuk orang yang ikut serta dalam perang Badar bersama Nabi Saw, mengangkat Salim sebagai anak angkatnya kemudian menikahkannya dengan anak perempuan saudaranya Al Walid bin ‘Utbah bin Rabi’ah sedang Al Walid adalah bekas hamba seorang perempuan Anshor. (HR Bukhari, Nasai, Abu Daud)
3480.c. Dan dari Hanzhalah bin abi Sufyan al Jumahhi dari ibunya, ia berkata : aku mengetahui saudara perempuan Abrdurrahman bin Auf dikawin oleh Bilal (HR Daraquthni)

Penjelasan :

Syarih rahimahullah berkata : “perkataan “orang yang kamu ridha karena agama dan akahlqnya” itu menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq sedang Imam Malik menegaskan, bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan kalangan Tabi’in seperti Muhammad bin Sirrin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman Allah SWT “ Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling taqwa kepadaNya (QS 49 : 13)
Ibnu Hajar al Asqalani berkata di dalam Fathul Bari : padangan tentang agama sebagai faktor kekufuan adalah sudah mutafaq alaih ( disepakati) sehinga tidak boleh seorang muslimah dikawin oleh laki-laki kafir. Al Khathabi berkata : unsur-unsur kekufuan sebagaiaman yang lazim dalam pembicaraan para ulama ada empat yaitu : agama, kemerdekaam – bukan hamba, keturunan, pekerjaan.
Dan di antara mereka memang ada yang menambahkan faktor bebas dari cacat bakan ada yang menyebut faktor timpang. Syarih (Imam Syaukani) berkata : dan dari keseluruhan faktor predikat yang dapat meningkatkan martabat seseroang paling tinggi secera mutlak adalah ilmu sebab Nabi Saw bersabda : “Ulama itu pewaris para Nabi.”
Perkataaan “ mengangkat Salim sebagai anak angkat dan menikahkannya dengan anak perempuan saudara laki-lakinya” itu menunjukkan bahwa kekufuan itu harus dengan kerelaan pihak yang lebih tinggi martabanya bukan tanpa kerelaan sama sekali, karena Nabi Saw pernah memberikan hal pilih (khiyar) kepada Barirah sebab suamainya tidak kufu dengannya.

Similarity Effect
Satu bab khusus di atas yang dinukil dari versi asli Nailul Author sedikit banyak memberikan gambaran tentang haruskah memilih pasangan cinta seseorang yang setara, sama, sekufu, atau dalam bahasa ilmiahnya similarity effect – efek kesamaan.Ada bebapa hal yang membuat seseorang tertarik : physical attractiveness, recicpocity effect, similarity effect, romantic ideals.
Dalam Islam dikenal kata se-kufu atau setara. Dan ternyata memang, para pakar psikologi sosial merupuskan hal serupa. Hal-hal yang termasuk similarity effect adalah : agama, ras, status sosial, system milai, sikap, usia, pendidikan maupun inteligensi, dll. Harapannya, dengan agama yang sama, status sosial yang sama dll, friksi yang timbul dari pernikahan 2 anak manusia ( plus pernikahan dua keluarga besarnya) dapat diminimalisasi (ingat, tak mungkin dihapus sama sekali).

Dalam hal ini, bukan berarti bahwa dengan perbedaan-perbedaan yang ada, dua orang lelaki perempuan tak mungkin dipersatukan sama sekali. Ketika membahas sebuah teori, kita harus faham bahwa teori adalah penyederhanaan fakta di lapangan. Dalam kenyataan, terkadang teori dapat berbeda dalam implementasi karena satu dan lain hal. Seperti contoh : kok ada orang yang nikah beda agama tetap serasi? Malah sama-sama memeriahkan hari raya masing-masing. Jika hanya ditinjau dari sisi psikologis, mungkin saja pasangan itu beda agama tetapi mampu mengatasi perbedaan system nilai, pendidikan, sikap usia dll. Tetapi dari segi syariah, tentunya banyak yang menjadi catatan. Apalagi, bila ternyata menghendaki keturunan yang sesuai dengan faham agama salah satu orangtua. Bias, pastinya timbul. Belum lagi dalam hal keberkahan dan keinginan untuk mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Nikah Beda Visi dan Misi
Tentu, bukan membahas takdir di sini. Tetapi bagaimana jika ternyata jodoh berasal dari orang yang sangat berbeda? Agama sama-sama muslim, namun si perempuan telah memiliki visi komprehensif tentang diinul Islam sementara yang lelaki belum. Atau sebaliknya. Similarity effect dapat diupayakan dan berlangsung disini. Bahwa perbedaan akan menimbulkan kejutan-kejutan. Sejak sebelum menikah komitmen seharusnya dibangun, buat Mou mungkin, itupun bisa jadi terjadi ketimpangan dalam perjalanan pernikahan. Awalnya suami mengizinkan istri berdakwah di luar, lama-lama ia tak setuju.
Bagaimanapun, di titik ini syariah Islam sangat perlu dijadikan patokan. Suami adalah qowwam, sehingga istri tak boleh main-main dalam hal ketaatan. Yang dapat ditindak lanjuti adalah pola komunikasi, kesabaran, terapi kognitif. Andai istri sibuk di luar, tetapi urusan rumah beres, kemungkinan suami tak akan keberatan. Siapa tahu, malah suami yang ikut merasakan keindahan Islam dan ingin bergabung memikul amanah dakwah.
Namun, dalam beberapa kasus juga terjadi , karena perbedaan visi misi, menyebabkan terhambatnya langkah dakwah seseorang. Lelaki yang seorang aktivis, menikahi perempuan yang belum faham Islam. Dalam perjalanan keduanya mengalami hal-hal yang tak disepakati, lalu suami memutuskan mundur dari lahan dakwah karena enggan memikul rasa malu akibat tak mampu mendakwahi istri sendiri.
Bagaimana bila lelaki dan perempuan berbeda visi misi dalam dakwah Islam?
Banyak sekali faham agama, organisasi agama, yang dipilih oleh muda mudi sesuai pilihan masing-masing. Ada yang menekankan sisi ruhiyah, ada yang menekankan sisi syariah, ada yang menekankan sisi siyasi, atau berusaha menggabungkan semua. Dalam probabilitas, tak mungkin manusia di dunia ini menemukan keseragaman di segala bidang. Teman kampus, teman kerja, mungkin juga teman hidup berasal dari organisasi agama yang berbeda, harakah atau jamaah yang berbeda.

Manusia dikatakan melepaskan usia remaja dan memasuki early adulthood di awal 20-an. Ditandai secara fisiologis dengan matangnya neurotransmitter di pre frontal belahan otak depan, yang berarti kemampuan melakukan tingkat tertinggi proses makhluk hidup : menimbang dan memutuskan.
Pertimbangkan segala konsekuensi dengan tetap selalu menjernihkan hati dalam munajat kepadaNya. Bagaimana bila pasangan hidup beda agama? Bagaimana bila tingkat pendidikan berbeda? Bagaimana bila dia dan aku memiliki latar belakang, pandangan hidup berbeda? Bahkan bila semua similarity effect dipenuhi, potensi friksi itu tetap ada.

Story Success Pernikahan yang “Berbeda”
Ada beberapa kisah sukses yang pantas disimak. Nama dan tempat disamarkan.
Sarah seorang perempuan pintar, sarjana, PNS, bekerja di isntansi bergengsi dengan penghasilan besar. Suaminya, Bagas hanya lulusan SMA, swasta bergaji kecil. Ketika menikah, otomatis orang melihat betapa berbeda jurang yang terbentang! Alhamdulillah, Sarah mencoba memahami agama tentang posisi perempuan. Ia tetap menghormati Bagas dan selalu mendorong suaminya untuk berkembang. Bagas memang berasal dari keluarga tidak mampu, akhirnya mampu menamatkan sarjana. Di titik ini, proses similarity effect tercapai dalam hal pendidikan. Setidaknya, Sarah dan Bagas kemudian merasa setara , tak ada yang berada di bawah level.

Wida, aktivis kampus. Menikah dengan lelaki biasa yang hanif, tetapi tak memahami kenapa perempuan harus ikut repot-repot berdakwah keluar, apalagi setelah menjadi ibu. Hanif melarang Wida aktif usai mereka menikah, tak boleh mengisi pengajian atau ceramah dengan alasan anak masih kecil-kecil. Wida mencoba taat, tetap berusaha menyenangkan suami, tak mempertajam situasi dengan terus mendebat dan menukil argumentasi tentang pentingnya dakwah bagi kaum muslimin. Melihat kesungguhan Wida mengelola rumahtangga, bertahun kemudian suaminya luluh. Meski masih harus mengurangi jadwal terbang, sang suami melihat istrinya bukan orang yang masa bodoh.

Mutia dari keluarga kaya, kakak dan adiknya sukses dalam kuliah dan menikah dengan orang kaya semua. Mutia berjodoh dengan Seto, lelaki lulusan sekolah kejuruan dengan penghasilan kecil dan hidup dari ketrampilan. Keduanya sama-sama aktivis dakwah. Intimidasi dari orangtua Mutia bukan main, bahkan saat Mutia telah melahirkan anak-anak ia terus menghadapi cercaan orangtua. Tetapi Mutia telah bertekad bahwa ia memang memilih jalan dakwah, meninggalkan kemegahan dan kekayaan orangtua, hidup sulit bersama suaminya yang sederhana. Tidak mudah menjadi Mutia, ia juga harus bekerja full time memenuhi kebutuhan keluarga. Alhamdulillah wa syukurillah, Mutia dan Seto sama-sama aktivis dakwah dan memahami onak duri dalam hidup adalah ujian dalam perjuangan. Belasan tahun kemudian Seto menuntaskan pendidikan sarjana, rumah kecil mereka telah menjadi istana mungil, anak-anak mereka tumbuh sehat. Dan, orangtua yang mulai menyadari bahwa Mutia dan Seto memiliki komitmen tangguh dalam membangun rumah tangga.
Terkadang memang, similarity effect tidak di dapat di awal pernikahan, tetapi dicari, dibangun, ditemukan setelah belasan tahun bahkan puluhan tahun membina rumahtangga.
Semua berpulang pada diri sendiri.
Seberapa kuat kita mampu mempertahankan cinta bersama pasangan pilihan sendiri?

Referensi :
Hammidy, Muammal , Imrom AM, Umar Fanany. Nailul Atuhor(terj), bab V. 1953. PT Bina Ilmu
Weiten, Wayne. Psychology : Theme and Variation. 2007. Cengage Learning Inc.
Yudisia, Sinta. Kitab Cinta dan Patah Hati. 2013. Indiva Publishing.

6 thoughts on “Bila Pernikahan Tidak Setara , Tidak se- Kufu, Berbeda Visi-Misi

  1. irfanmenulis berkata:

    mba sinta, tulisan ini boleh saya share di majalah BMT Tegal, untuk kolom keluarga?

    ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s