Menulis Tanpa FLP

flp logo
Banyak ragam komunitas sastra di Indonesia.
Di Surabaya atau Jawa Timur, berbilang puluhan hingga ratusan. Begitupun klub –klub menulis yang dapat diikuti via on line. Sekolah Menulis atau kursus menulis pun dapat dijumpai relative mudah. Pendek kata, tak ada hambatan untuk mempelajari teori menulis baik fiksi non fiksi, anak hingga dewasa. Sekolah menulis berbayar menyediakan cost bervariasi mulai harga puluhan ribu rupiah hingga jutaan, semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. User tinggal memilih sesuai kebutuhan.
Para penulis kreatif, bermunculan menggairahkan peta literasi Indonesia. Tunas muda sejak di bangku sekolah dasar, Alhamdulillah telah menghasilkan buku. Yang senior, telah menimang cucu pun berlomba dalam kebaikan, menggoreskan perenungan-perenungan hidup dalam sebuah aktivitas bernama menulis. Meski, perkembangan literasi di Indonesia masih jauh dari menggembirakan, pencapaian dan percepatannya masih kalah dibandingkan dunia entertaintment.
Menulis, bisa dilakukan semua orang. Menulis, adalah salah satu hasil belajar yang relative menetap, sebagaimana orang yang telah mampu membaca, bersepeda, berenang; maka kemampuannya tak akan hilang meski tak pernah digunakan bertahun kemudian. Makna “menulis” dan bekerja sebagai “penulis” memiliki arti yang lebih special bagi sebagian orang. Menulis tidak lagi sekedar mendekorasikan angka dan huruf, tetapi menulis lebih jauh adalah aktivitas, menghasilkan rangkaian kalimat yang mengemban tema : cinta, perjuangan, sejarah, imajinasi, agama, moralitas, dan seterusnya.
Maka kita akan memahami.

“Pekerjaanmu apa?”
“Saya penulis.”
“Oh? Wah, luarbiasa! Saya juga ingin bisa menulis seperti kamu!”
Sang penulis bukan sekedar orang yang bekerja clerical, sekedar mencatat pembukuan atau pengeluaran-pemasukan kas; tetapi seorang penulis dianggap lebih bijak dari yang lain, lebih memiliki motivasi, lebih mampu menularkan semangat, lebih berlari di depan beberapa langkah jauhnya. Bahkan, sekalipun ia masih kecil dan imut-imut, orang akan berdecak mengagumi kecerdasannya yang jika di kurs kan dalam angka intelegensi, diprediksi di atas nilai 100 atau 120.
Mampukah seorang penulis berhasil secara individu, melesat sebagai ambisi pribadi?
Mungkin saja.
Semakin banyak penulis yang lahir tanpa komunitas. Mereka membuat buku yang layak diterbitkan, dibaca banyak kalangan, dan laku.
Dimana peran FLP ketika itu?

FLP dan Komunitas Sosial

Silnas FLP  & Sinta Yudisia

Sebagai makhluk individu, manusia mampu meraih ambisi apapun seorang diri. Tetapi sebagai makhluk social, manusia tak mungkin hanya tinggal seperti bilangan biner, 1 dan 0. Manusia butuh interaksi, komunikasi, sosialisasi, bahkan sekali waktu manusia sangat butuh bersikap altruist. Manusia bahkan butuh sekali waktu melakukan aktivitas transcendental dan aktivitas kemanusiaan, yang akan melembutkan hatinya dan membuatnya merasa jauh lebih mulia dan lebih berharga dibanding hidup sendiri.
Menulis bisa dilakukan sendiri. Di malam hari, dalam situasi hening, dan percayalah, saat tengah konsentrasi menulis kita tak berharap ada orang lain di situ. Tetapi saat sedih naskah di tolak, buku terbit tanpa respon yang baik dari masyarakat, perjalanan menulis yang seolah stagnan, ketrampilan yang sepertinya tidak berkembang (hanya dari situ ke situ lagi); kita akan butuh teman-teman. Teman di mana? Kampus, mall, chatting? Tentu, teman yang punya denyut nadi sama. Mereka yang mencintai membaca. Mencintai menyisihkan uang untuk berburu buku. Mencintai informasi baru buku-buku terbit. Dianggap freak karena lebih suka menikmati buku ketimbang nonton film atau hunting tas terbaru.

Teman yang suka berlelah-lelah belajar menulis. Mengkaji apa itu teori fiksi, apa itu motivasi menulis, siapa Stephen King, Sartre, Harper Lee, JRR Tolkien, CJ Lewis dan bagaimana pengalaman hidup mereka menulis?
Maka,
Duduk di majelis FLP adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan.
Bukan saja karena disitu dibuka dengan basmalah dan shalawat Nabi, tetapi juga bertemu teman-teman yang selalu bergelora dalam jiwa muda. Dan, sangat menyenangkan, kita tidak hanya belajar menulis an sich, tetapi juga bagaimana belajar menjadi manager, mengelola keuangan, membesarkan organisasi, menjadi EO yang cakap.

Di FLP selain belajar berbagi, kita akan belajar saling mengingatkan.
“Duh, naskahku ditolak!”
“Eh, sudah coba penerbit ini belum?”
“Ada kontak personnya?”
“Kukasih alamat imelnya ya….”
Atau,
“Eh, sudah tau ada lomba femina, ada lomba Bobo?”
Atau,
“…..sabar ya, insyaAlalh suatu saaat kamu tembus deh di media. Hm, banyak-banyakin sholat malam dan istighfar dan sholawat, biar doamu tembus langit!”
Bagi saya, rasanya hidup jadi lebih berwarna menulis bersama FLP. Rasanya, tanpa komunitas, sulit konstan menulis seperti sekarang. InsyaAllah, FLP akan terus bersama bangsa Indonesia menuju masa depan yang bermartabat. Amiin.

Selamat Ulang Tahun, Forum Lingkar Pena, 22 Februari 1997 – 22 Februari 2013.
Meski terlambat, akan selalu ingat 

2 thoughts on “Menulis Tanpa FLP

  1. zahra inayatul berkata:

    Assalamualaikum,mba sinta🙂
    saya mau nanya donk!tapi gk ada hubungannya sama artikel mba!hehehe
    mba,kpan novel lanjutan takhta awan mau terbit?sama itu yang jadi cover the road to the empire itu kenichi bukan mba?hahaha.makasih mba!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s