Psikologi Da’wah (5) : Tuhan Para Pendosa

Apa yang akan kita lakukan bila seseorang berlumur dosa, masih melakukan sholat dan membaca Quran? Munafik. Percuma.

pondering-our-purpose_0
1. Sebut saja PSK ini bernama Lola.

Suatu ketika mendatangi kiai Ahmad (samaran). Tujuannya : meminta amalan agar “dagangan”nya laris. Tentu kiai Ahmad bimbang. Menolak? Rasanya tidak bijak juga. Kedatangan Lola sudah satu point positif tersendiri. Meski permintaannya tak wajar, kiai Ahmad merasa itu lebih baik daripada Lola mendatangi dukun , meminta susuk atau diminta ke gunung Kawi untuk bertapa.

Alhasil, kiai Ahmad meminta Lola banyak membaca sholawat Nabi, kalau bisa puluhan atau ratusan tiap hari dengan catatan, Lola harus sering berkonsultasi. Tentu Lola senang, amalannya gratis, konsultasinya gratis pula! Bayangkan jika masih harus beli kembang tujuh rupa, susuk mutiara atau ayam cemani yang bulu hingga darahnya hitam, habis berapa juta?

Lola pun membaca shalawat. Kiai Ahmad, hanya bisa mendoakan.
Suatu saat, Lola kembali datang. Wajahnya masam.

“Katanya suruh sholawat Kiai, kok malah tambah sepi?” keluh Lola.
Kiai Ahmad menjawab bijak,”mungkin sholawatnya kurang. Bagaimana kalau ditambah?”

Sholawat yang hanya puluhan dan ratusan, lalu ditambah jauh lebih banyak. Berbulan kemudian, kabar Lola tak terdengar.
Suatu ketika, Lola datang lagi. Kiai Ahmad berdebar. Bagaimana jika keluhannya sama? Atau bagaimana jika ia salah melangkah, justru “dagangan”nya betul-betul jadi laris?

Wajah Lola sumringah.
“Waaah, betul Kiai! Sholawatnya manjur!”
Kiai Ahmad kaget. Apa pasal?
“Habis banyak baca sholawat, memang pengunjung jadi sepi. Tapi kemudian ada lelaki baik yang melamar saya.”

2. Sebut namanya Bunga.

Bekerja juga sebagai PSK, pekerjaan yang semula jauh dari bayangan, apalagi Bunga sempat nyantri. Karena kehidupan Bunga sangat minus, ia merantau ke Surabaya dan entah bagaimana ceritanya, terjebak sebagai penjaja cinta. Bukannya Bunga tak berusaha, tiap kali ia “keluar”, orang-orang mencium gelagatnya dan ia dipaksa kembali lagi.
Bunga, tetap rajin sholat dan mengaji. Sesaat sebelum “bekerja” ia sholat sehingga temannya berkata,
“..lo gila ye! Mau kerja gini masih sembahyang? Munafik lo ah!”

Bunga menangis.
“Pekerjaanku memang brengsek,” sahut Bunga,” tapi sholatku, itu urusanku dengan Tuhanku. Bukan dengan kamu.”
Bunga bertanya pada seorang teman, sebut namanya Sholihah. Ia ceritakan semua kisahnya dan tentu saja dapat ditebak, apa ucapan Sholihah.
“Kamu tahu kan hukumnya?! Apa guna sholat dan ngaji? Kamu juga pernah nyantri kan?”

Bunga berduka. Ia tak ingin, sungguh tak ingin seperti ini. Semua gadis ingin seperti Sholihah. Dari keluarga baik-baik, cukup, orangtua yang peduli, tak pernah terjebak punya teman-teman yang menjerumuskan dalam dosa. Ia mencoba keluar dari kubangan, tapi tidak bisa. Ibunya di kampong membutuhkan biaya besar, ia sudah mencoba bekerja ke beberapa isntansi tapi jejaknya tercium oleh “geng”nya.

Sholihah, sebagai teman merasa galau. Ia berkonsultasi dengan seorang ustadz. Tak dinyana, ustadz menegurnya.
“Apa hak anda menjauhkan seseorang dari Tuhan?” begitu kurang lebih saran sang ustadz. “Kalau ia dilarang sholat dan mengaji, ia semakin jauh dari jalan kebaikan, sebagai seorang muslim, kewajiban anda mendoakannya dan terus menasehatinya. Bukan memberikan rasa pesimis dan tak ada jalan keluar!”
Maka Sholihah menyesal, ia kemudian terus mengontak Bunga.
Menanyakan kesehatannya, memberikan semangat optimis. Menjalin persahabatan dan pertemanan. Sesekali, mengirim pesan pendek berisi nasehat.

Lama tak terdengar kabar, Sholihah kadang merindukan Bunga yang seakan menghilang ditelan bumi. Suatu saat muncul SMS Bunga yang membuat Sholihah tersiak, isinya kurang lebih demikian,
“Bagaimana kabarmu, teman? Tahukah kau , bahwa perbuatan keji itu bisa disembuhkan. Cukup berdoa pada Allah agar dibukakan hati, dimudahkan tobat. Senantiasa mengingat adzab dan kematian. Barakallah. Terimakasih untukmu.”
Sholihah menangis.
Ia tak tahu Bunga ada dimana.
Tapi sungguh, ia merasa sangat tidak sempurna dihadapan Bunga yang telah menemukan Tuhannya. Ia tak sanggup membayangkan perjuangan Bunga menghadapi mucikari , “stakeholder”, dan teman-teman senasib yang pasti tak akan mudah melepaskannya begitu saja.

3. Sebut namanya Bunda Setia.

Suaminya pengusaha, pemabuk berat. Setiap hari, sepanjang puluhan tahun perjalanan pernikahan mereka, sang suami selalu pulang dalam keadaan muntah, mabuk. Jam berapapun ia pulang : 11, 00.00, atau jam 3 dinihari. Bukan sekali duakali Bunda Setia mengingatkan suaminya, minuman haram yang dimurkai Allah tersebut. Apalagi mereka telah memiliki putra-putra.

Segala upaya ditempuh Bunda Setia. Hasilnya nihil. Tetapi yang luarbiasa, Bunda Setia merahasiakan keadaan suami kepada anak-anaknya. Sepanjang tahun anak-anak hanya tahu ayah mereka pengusaha, kerja cari uang, pulang malam. Tak pernah sekalipun anak-anak tahu kebiasaan mabuk (meski, saya yakin, memergoki barang bukti tentulah sesekali ada. Yang pasti Bunda Setia tak pernah menceritakan kepada anak-anak dan keluarga besar).
Hingga tua, keadaan masih berjalan sama.
Seringkali, ketika pulang dini hari, suami Bunda Setia mabuk dan muntah, mengotori mukena yang digunakan untuk munajat malam. Karena anak-anak tidak tahu kondisi sebenarnya dari sang ayah, mereka tetap tumbuh normal menjadi anak baik dan berprestasi.

Adakah perubahan?
Menjelang sebulan kematian, suami Bunda Setia berubah total. Ia mau sholat, menghancurkan semua minuman keras yang tersimpan di lemari kantor. Sebulan itu pula, hanya kekhusyukan ibadah yang dijalani hingga wafatnya. Sungguh, Bunda Setia bersyukur bahwa ia bisa menjaga anak-anaknya dari kerusakan seorang suami pemabuk, dan mendampingi suaminya mengenal Tuhan menjelang wafat. Tentang dosa dan pahala, hanya Allah yang tahu.

Secara pribadi, kejadian-kejadian di atas menimbulkan perenungan saat kita merasa frutrasi mendakwahi orang-orang terdekat, teman, atau mungkin sekedar kenalan yang curhat lewat facebook.

• Seorang pendosa, bila masih merasa bersalah atas apa yang dilakukan dan ia berusaha sekuat tenaga mencari Tuhan, akan ia dapatkan apa yang dicari. Tapi pendosa yang merasa tak terbebani apa-apa, merasa tetap nyaman dan tak berusaha mencari Tuhan, ia akan jalan di tempat (wallahu a’lam, ini hanya kesimpulan saya pribadi. Artinya, bila saya sendiri suka mengghibah, malas bekerja dan tidak “insight” , tidak merasa itu salah dan tak harus diubah – akan begitu seterusnya. Hidayah milik Allah semata)

• Teman dekat, milliu, lingkungan sangat memberikan pengaruh sebagai supporting environment. Setidaknya, jadikan kita sebagai baterai positif tiap kali si pendosa bermasalah. SMS, diskusi lewat dunia maya, curhat telepon, apapun yang memungkinkan sebagai alternative milliu sehat; harus diupayakan para penyeru kebajikan.

3 thoughts on “Psikologi Da’wah (5) : Tuhan Para Pendosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s