Psikologi Da’wah (4) : Ulama, Ilmuwan, Dai yang Sastrawan

Kata.
Itulah senjata seseorang dalam menyampaikan buah pikiran. Bila serdadu bersenjatakan peluru, pelukis menggunakan kuas dan kanvas, seorang penulis memang menggunakan pensil, kertas, laptop, media social sebagai caranya menyampaikan sesuatu. “Sesuatu” yang merupakan rangkaian huruf, mengandung makna, intisari kalimat : kata.

Kata adalah senjata yang di saat tertentu memiliki kekuatan tak terbayangkan. Kata yang disampaikan seorang suami lewat SMS atau email, dapat bermakna thalaq. Kata yang diucapkan seorang lelaki dan wali, dapat menjadi penanda sahnya sebuah ikatan. Kata yang diucapkan seorang ibu, dapat menjadi doa dahsyat. Kata seorang anak, meski sederhana, mampu melipur lara orangtua.

Penulis, seseorang yang pekerjaannya mengolah kata, meletakkan pemikirannya sebagai artefak sejarah, sering dikategorikan sebagai sastrawan, meski hasil tulisannya mungkin masih jauh dari kategori “Canon”.
Orator, juga ahli mengolah kata, tetapi pemikirannya tak menjadi artefak sejarah yang diabadikan, meski ucapannya indah – jarang orang menyebutnya sastrawan (kecuali penyair, memang).

Adakah ulama, ilmuwan, dai yang sastrawan?

Bila anda pernah membaca tulisan Sayyid Quthb – Bidadari yang Hilang, menggambarkan hati seorang pemuda, saya yakin getaran itu akan muncul di jantung.

“Ia mencari pada gadis impian, sesuatu yang tidak ia miliki. Ia mencari bidadari Kairo yang kedua matanya terpejam. Ia mencari gadis yang hati dan tubuhnya perawan, dengan pakaian tradisional Mesir. Ia mencari gadis yang mempunyai kepekaan dan berperasaan halus. Dan yang utama, ia menginginkan gadis yang baik hati dan jiwanya bersih.
Salah jalankah dia, karena mencari bidadari suci di kota Kairo? Atau salah langkahkah ia sejak mula, karena menghendaki kehidupan berumah tangga, di zaman yang serba maju ini?” (Quthb, 1947)

Sayyid Quthb, ingin menyampaikan, bahwa dalam perjalanan. cinta seseorang, kesucian memegang peranan penting.

Simak tulisan Dr. Najib Kailani (1960), seorang dai yang menulis novel Panggilan Abadi.


“….bangsa yang kuat , maju , pandai dan licik berusaha membodohkan, memundurkan kelompok yang baru berkembang. Dampak negative dari perang benar-benar dirasakan manusia. Keberingasan sebuah Negara dapat merambat ke Negara tetangga. Sebuah bangsa musuh bangsa yang lain. Sehingga, masing-masing menjadi setan bagi yang lain. Semua itu karena sudah dihantui ambisi jahat, seperti terjadi di hutan belantara, keinginan untuk menguasai dan emngalahkan kelompok lain. Ketika itu arti kemanusiaan amat tidak berarti. Hati mulia dan mencintai perdamaian sudah tak ada.
Akan tetapi di tengah kabut yang menyelimuti dunia, masih ada secercah lentera kehidupan yang nyalanya bergoyang-goyang, menerangi sekelilingnya. Pelan-pelan nyalanya membesar dan menerangi semua sudut. Ya, bukankah Tuhan Maha Kuasa? Ia tak akan sekalipun melenyapkan harapan manusia.”

Panggilan Abadi berkisah tentang syaikh Anbah, pejuang yang sabar dan optimis, Abdul Azis Syalby seorang dermawan, Kholaf Abdul Mutajaly – lurah yang berdedikasi, bekas dedengkot orang kejam dan bengis. Juga tentang Ahmad, seorang pemuda teladan dan wakil generasi baru.

Dr. Najib Kailani menghasilkan beragam buku kesehatan sebab beliau seorang dokter : Fi Rihab, Al Thib An Nabawi, Al Shoum wa Shihah dll. Yang menakjubkan, beliau memenangkan banyak penghargaan untuk tulisannya baik kategori fiksi maupun non fiksi!
• 1957 mendapatkan penghargaan dari kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir untuk novel Al Thoriq Al Thowil
• 1958 mendapatkan penghargaan dari kementrian yang sama untuk novel Fi Al Dholam dan buku non fiksi Iqbal Al Syair Al Tsaair (1980, pemerintah Pakistan menganugerahi medali emas utk karya ini), Syauqi fi Rokbi Al Khalidin, al Mujtama al Maridh
• 1959 menerima medali emas untuk antologi cerpen Mau’iduna Ghodan dari festival Thoha Husain
• 1960 menang sayembara novel yg diadakan Lembaga Pemeliharaan Tertinggi Seni dan Sastra, atas novelnya Al Yaum Al Ma’ud. Novelnya Dumu’ul Al Amir mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Pengajaran
• 1972, novelnya Qotil Hamzah menang lomba yang diadakan Lembaga Bahasa Arab
Saya pribadi tak habis pikir, bagaimana cara beliau membagi waktu sebagai dokter, dai, penulis dan karya tulisnya memenangi sekian banyak penghargaan!

Di ranah ilmu pengetahuan psikologi, Jean Piaget, salah satu “suhu” Psikologi Perkembangan menghasilkan novel selain karya-karya ilmiah. Frank Thallis, psikolog klinis yang tampaknya sangat menyukai gagasan Sigmund Freud, menuliskan novel-novel thriller : A Death in Vienna, Vienna Blood.

Buya Hamka, dikenal sebagai ulama, politisi dan penulis sekaligus. Karyanya yang terkenal Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapan van Der Wijck.
Muhammad Natsir, sama seperti Buya HAMKA juga seorang ulama, politisi dan penulis. 1929, dua artikel yang ditulisnya dimuat dalam majalah Algemeen Indische Dagblad, yaitu berjudul Qur’an en Evangelie (Al-Quran dan Injil) dan Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Nabi). Kemudian, ia bersama tokoh Islam lainnya mendirikan surat kabar Pembela Islam yang terbit dari tahun 1929 sampai 1935. Ia juga banyak menulis tentang pandangannya terhadap agama di berbagai majalah Islam seperti Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Menurutnya, Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Tulisan, yang dihasilkan oleh seorang dai, ulama dan ilmuwan tentulah sangat berbeda. Tak perlu dibahas lagi betapa 4 imam madzhab, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Kindi, Al Farabi, Umar Khayyam, Jalauddin Rumi dan ratusan ilmuwan-ulama lain memberikan pencerahan pada perputaran dunia. Ilmu mereka diabadikan, dipelajari, diteliti, disanggah, diperbandingkan, digunakan, direvisi dan demikian seterusnya.
Tulisan atau karya sastra, sesungguhnya telah melewati serangkaian perjalanan panjang. Secara pribadi, ia adalah hasil sang penulis mengelola sekian banyak kendala : waktu, keilmuan, kritik. Di sisi lain, sebuah tulisan memaknai sebuah perenungan. Memang, boleh jadi perenungan itu mungkin dangkal dan terkesan sepihak; tetap saja ia lebih “panjang” dari kata yang begitu saja diucapkan lisan.

Theodor Hertzl mengawali sebuah mimpi zionisme dari tulisan Judenstaat dan Altneuland. Tulisannya menginspirasi kaum Yahudi untuk kembali ke tanah yang dijanjikan.

Dewasa ini, saat tak tahu menghadapi masalah, tulisan-tulisan Yusuf Qardhawi bagai mercusuar; demikian pula syaikh Ahmad Ar Rasyid.

Sekarang, media social telah menjadi bagian yang sangat diakrabi dalam kehidupan keseharian. Mengapa tak kita coba cara-cara para ulama dan ilmuwan di atas, bagaimana meng ekspresikan pikiran dan pengalaman sehari-hari yang bermakna? Memang, menulis membutuhkan kemauan besar. Sebab kita harus duduk, minimal limabelas menit, berbincang dengan pikiran dan nurani sendiri, mengumpulkan bacaan (bila informasi agak ilmiah). Bila sekedar pengalaman keseharian, rasany tak perlu referensi. Apa yang dirasakan (asal bukan alay
Lebay!) mungkin saja bermanfaat untuk orang lain.

Sebagai seorang ayah, mungkin anda punya pengalaman berharga bagaimana mencoba mendekati buah hati usai pulang kantor. Sebagai ibu, mungkin anda dapat menemukan kejutan : anakku sudah besar! Apa yang terlewatkan? Sebagai seorang anggota masyarakat, anda mungkin mengimpikan jalan raya yang teratur rapi (kemarin Surabaya hujan sore, macet cet cet- tak ada yang mau mengalah!). Sebagai seorang anak, mungkin anda punya harapan dan impian akan masa depan.

Sebagai dai, anda tentu ingin seperti Natsir dan HAMKA.
Sebagai ilmuwan, anda seharusnya lebih dari Freud!
Sebagai ulama, apalagi. Anda seharusnya menghasilkan yang setara dengan Di Bawah Lindungan Kabah atau Dirosah Islamiyah –Sayyid Quthb.

wri
Scripta Manent, Verba Valent. Tulisan abadi, lisan menguap

One thought on “Psikologi Da’wah (4) : Ulama, Ilmuwan, Dai yang Sastrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s