Psikologi Da’wah (2) : Eksistensi dan Regresi

Silakan silang multiple choice di bawah ini, pilih salah satu yang anda anggap paling tepat.
1. Siapa orang yang paling mudah diajak berinteraksi :
a. Orangtua
b. Saudara (kandung/ipar/sepupu)
c. Pasangan
d. Teman kerja (instansi/komunitas)
e. Tetangga
f. Diri sendiri

2. Lama intensitas menjalin komunikasi, berdasarkan jawaban di atas :
a. 2 minggu
b. 1 bulan
c. 6 bulan
d. 1 bulan
e. Lebih dari 1 tahun
f. Lebih dari 10 tahun

Well, I think you should be very honest to yourself!

Jika boleh berkata jujur, ada obyek da’wah yang ternyata berada dalam lingkaran terdekat. Orangtua sudah oke, tetangga mengenal kebaikan kita, relasi acung jempol pada prestasi. Adik kakak sangat bergantung pada kita : materi atau non materi.
Lalu muncullah pihak yang sangat membutuhkan da’wah.
Apa?
Suami? Istri? Anak-anak?

Celakanya lagi, ternyata obyek da’wah yang lupa tersentuh adalah yang begitu dekat.
Interaksinya berjalan lebih dari setahun, lebih dari sepuluh tahun, tiap pekan, bahkan berjalan seumur hidup. Ada pihak yang terlupakan tersentuh obyek da’wah, yang ternyata amat sangat sulit ditaklukan bagai gunung granit menjulang. Kita telah berjalan mengelilingi gunung itu, mendakinya mungkin, mengeruk sebongkah demi sebongkah agar sampai di puncak; tetap belum tertaklukan.
Siapa obyak da’wah yang lebih sulit untuk difahami dan ditaklukan, selain diri sendiri?

1. Memahami Eksistensi
2. Piramida Maslow
3. Regresi

1. Memahami Eksistensi

Eksistensi sering diterjemahkan sebagai “keberadaan”. Seseorang meski ia ada secara fisik dan materi, belum tentu dianggap ada oleh orang sekelilingnya. Boleh jadi karena ia enggan muncul, tidak pernah terlihat prestasinya, atau memang orang tidak membutuhkan siapa dia.
Cogito Ergo Sum adalah kredo terkenal dari Rene Descartes. Aku berpikir, maka aku ada.
Tampaknya, hal ini relevan dengan kondisi manusia. Bukankah Allah SWT berkali-kali menyebutkan la’alakum ta’qilun –agar kamu mengerti (2 : 242) ; la’alahun yatadzakarun- agar mereka mengambil pelajaran (2 :221) ; yubayyinuha liqaumi ya’lamun – diterangkan kepada orang2 yg berpengetahuan (2 :230).

pondering-our-purpose_0

Konsep bahwa kita harus berpikir, menelaah, merenungkan, mencari jawaban, berpikir lagi, bahkan setelah tercapai kognisi harus metakognisi ; tampaknya menjadi intisari keberadaan manusia.
Mungkin , sebagian manusia beranggapan eksistensi dapat dicapai dengan materi, ketenaran atau hal yang serupa dengannya. Jawabannya ya, tapi tentu tak lama.

Di dunia entertainment, dalam ranah music, sering dikenal One Hit Wonder. Seseorang yang melejit hanya karena satu hit lagu saja. Contoh ini sudah banyak terjadi.
Di tahun 80-90, remaja hysteria bila bertemu Tommy Page (Shoulder to Cry On). Sekarang, ketika bintang Justin Beiber sempat terang benderang, sinarnya mulai redup dihantam K-Pop dan J-Pop. Lagu keroyokan dengan wajah mulus dan koreografi andal, dihantam lagi dengan tampilan kocak PSY – gangnam Style. Gelombang itu kini berganti dengan One Direction, grup music British yang melejit dengan What Makes You Beautiful & One Thing. One Direction, dipuja dan diperingatkan : akankah menjadi One Hit wonder? Dikenal sekali, bersinar, bak komet dan meteor di langit yang disambut sorak sorai sebab membawa cahaya kemilau di langit malam; sensasional terang benderangnya tapi cepat menghilang di balik cakrawala?

Sebagai pelaku kebaikan, kita sangat tak ingin eksistensi kita menjadi One Hit Wonder, One Man Show. Tak mengapa nama tak muncul di media, disebut orang, tetapi kebaikan yang mengalir bak film Pay It Forward.

Di tengah hedonis Hollywood, juga para pelaku kebaikan dan dakwah, film ini pantas direnungkan. Kisah seorang anak (diperankan Haley Joey Osment) yang menggulirkan ide sangat sederhana : berbuatlah kebaikan pada 3 orang dan mintalah kepada masing-masing orang tersebut agar berbuat kebaikan kepada 3 orang juga. Begitu seterusnya.

Kita ingin eksistensi kita betul-betul ada, maka berpikirlah. Merenung. Aku harus bagaimana? Aku mau apa? Aku mau kemana? Apa jadwalku hari ini? Siapa aku 10 tahun ke depan?
Membenahi diri sendiri, tampaknya menjadi asset penting bagi para pelaku da’wah agar ia tidak terseret eksistensi sementara. Enggan aktif di organisasi bila mendapat peran sie konsumsi. Enggan aktif di rohis, bila hanya terus mendengarkan nasehat (kapan dong gilliranku bicara?). Enggan berkiprah di lini manapun, bila hanya kebagian peran figuran.

Siapa sih yang tidak megnawali kerja besar dengan berperan sebagai figuran?
Channing Tatum berperan sebagai figuran di Lemony Snicket : Unfortunate Adventure. Shiah Lebouf berperan kecil di I Robot. Evo Morales, sebelum menjadi presiden Bolivia berperan sebagai pengacara dengan gaji ala kadarnya membela petani kecil hingga ia dikenal sebagai coca lawyer.
Lakukan hal-hal kecil demi eksistensi, lalu melangkahlah ke hal besar.

Kalau, sepanjang hidup hanya mendapat peran kecil selalu, menjadi figuran, tak pernah beranjak dari sie konsumsi dan transportasi?
Kita mungkin pernah mendengar sebuah cerita tentang orang yang biasa-biasa saja.

“dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C dan D, menikah dengan nona Mediacore, memiliki anak Averagement Jr dan Baby Medicore. Memiliki masa pengabdian tak baik selama 40 tahun, memegang berbagai posisi tak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko atau memanfaatkan peluang. Dia tidak pernah mengasah bakat dan selalu pasif. Hidup selama 60 tahun tanpa tujuan, rencana , kemauan, keyakinan atau tekad. Pada nisannya tertulis :

Disinilah makam
Mr. Averagemen dilahirkan 1901
Meninggal 1921, dikebumikan 1964
Dita tidak pernah mencoba sesuatu
Harapan kehidupannya terlalu sedikit
Kehidupan tidak berarti baginya “

Ow sedihnya.
Atau anda mau mendengar cerita yang ini?
Tak ada yang berani melawan gelombang kekuatan Jenghiz Khan di akhir abad XII. Sultan Muhammad II, penguasa Khwarizmi yang selalu dikelilingi biduanita kalah memalukan, para ulama dan penduduk dihabisi. Tak ada yang berani menentang aneksasi Mongolia.

Seorang pemuda bangsawan, dari garis selir yang senantiasa dicibir, hanya punya beberapa gelintir pasukan mencoba menghadang Jenghiz Khan. Ia bertahan mati-matian hingga sang jenderal, Temur berkata :
“Jaladdin, anda tak dapat menyelamatkan semua. Rakyat telah pergi mengungsi.”
Jaladdin kalah. Pemuda itu selalu dicibir oleh Ibu Suri Torghun dan Sultan Muhammad II sebagai “anak selir yang tidak punya apa-apa”
Tahukah anda apa yang dikatakan Jenghiz Khan, penakluk yang kekuatannya dianggap melebihi Adolf Hitler, saat melihat Jaladdin yang gagah berani?

“Demi Langit Biru! Aku akan menukar empat anakku (Ogoday, Chagatay, Jujiy dan Tuluy) untuk dpat memiliki seorang keturunan seperti Jaladdin!”
Averegement figuran dalam hidup ini. Jaladdin figuran juga.
Tapi sepertinya eksistensi mereka berbeda. Anda pilih yang mana?

2. Piramida Maslow

Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi 5 tingkat (belakangan menjadi 7 tingkat). Dari bawah : 1.physiological needs – 2.safety needs – 3.love needs- 4.esteem needs – 5.self actualization needs. (6 & 7 adalah kebutuhan social dan transcendental)
1-4 adalah kebutuhan yang muncul karena “kekurangan”. 5 adalah kebutuhan yang muncul karena “berkembang”.
Pertanyaannya :
• Apakah hierarki itu mutlak?
• Bisakah kita menjalankan semua kebutuhan itu bersamaan?
• Tidak bisakah kebutuhan itu dibalik?
Sebab, bila menunggu semua kebutuhan dasar terpenuhi lalu barulah kita melangkah kepada watak social dan transcendental; aduh, lamanya! Tetapi hierarki ini memang terjadi secara alamiah. Biasanya demikian.

Tapi, bukankah kita ingin menjadi yang tidak biasa, setelah memahami makna eksistensi?
Maka boleh saja, menjadi kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan kita secara vertical transcendental – kebutuhan kita kepada Allah SWT. Bahkan ketika kita lapar, kebutuhan rasa aman belum terpenuhi, cinta belum mendapatkan; sebagai muslim justru keinginan transcendental itulah yang utama. Berikutnya adalah social. Meski masih lapar, banyak hal wajib yang belum tercukupi, rasanya kita juga ingin berbagi kepada sesama.
Hierarki Maslow ini bisa dibolak balik bila berkenaan dengan diri pribadi (ingat, kita paling sulit mendakwahi diri sendiri). Tapi jangan dibolak balik ketika berhadapan dengan orang lain!
Bertemu tukang becak yang tinggal di kos-kosan kumuh, ia yang kebutuhan fisiologisnya belum terpenuhi, apalagi keamanan dan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang; bisakah kita menuntutnya transcendental dan social.
“Pak becak, makanya sampeyan banyak sedekah biar rejekinya mengalir! Sampeyan sabar ya, hidup itu ujian!”
Gubrak!
Eksistensi kita sebagai pelaku kebaikan yang “berpikir” akan dianggap miring.

“Gak salah nih ustadz, nyuruh sabar sama orang yang hidupnya sudah susah bertumpuk-tumpuk.?!”
Memang menyuruh sabar baik, tapi ada bahasa lain yang dapat dipakai, “ Pak becak, adakah yang bisa kami bantu? Kalau butuh modal, kami dapat membantu untuk menghubungkan sampeyan dengan BMT terdekat.”
Konsep sabarnya sama, caranya beda!

3. Regresi

Kita telah memilih yang terbaik dalam hidup.
Eksistensi sebagai pelaku kebaikan, bahkan memilih menjadi penyeru kebaikan.
Tetapi, mungkinkah suatu saat, eksistensi itu pudar perlahan? Bagai nebula-kabut awan yang meledak menjadi supernova, membentuk bintang gilang gemilang, membesar menjadi bintang putih yang berubah nyala menjadi merah, lalu perlahan mengecil, mengerdil? Tak cukup hanya menjadi bintang kerdil yang cahayanya lamat. Ia menjadi bintang kerdil yang memangsa segala. Bahkan beralih rupa menjadi blackhole –lubang hitam yang akan menelan setiap materi, bahkan cahaya.
Itukah kita?
Yang dahulu dikenal eksistensinya sebagai pelaku dan penyeru cahaya –berubah menjadi bintang kerdil bahkan black hole mengerikan?

regression

No ! Never! But, is it possible?
Sangat mungkin.
Perlu diketahui, stagnan adalah musuh manusia. Manusia tak pernah tetap. Manusia terus berubah. Meski perubahannya adalah mencari titik equilibrium, titik dimana ia merasa nyaman dan aman.
Regersi memang dikenal di madzhab psikoanalis, ditentang oleh Humanistik dan Behavioris; tetapi mau tak mau, kita mempercayai istilah ini.
• Tua-tua keladi
• Wah, nakalnya telat.

Apa yang sebetulnya terjadi pada orang, yang kembali ke masa dulu, kalau tidak dibilang ia kembali ke masa jahiliyah bahkan saat belum mengenal Islam dan organisasi dakwah?
Itulah regresi. Masa seseorang dapat kembali menjadi seperti dulu, seperti kanak dan remaja, seperti sediakala. Jatuhkah ia? Tersesatkah?
Bila anda mengenal Michael Jackson, ialah contoh tepat regresi. Seseroang yang kehilangan banyak dimasa kecil/remaja, kelak akan “menagih” saat dewasa dan saat memiliki kendali (uang, kuasa). Dulu, sangat miskin, lalu menjadi pejabat. Dengan uang di tangan ia akan regresi. Dulu tak bisa membeli mobil-mobilan ,sekarang akan mengkoleksi mobil.
Dulu, remaja jelek tak kira-kira, tak pernah ada cewek yang bersedia menjadi pacar. Setelah beristri, matang, mapan, mampu merawat diri; tibalah saat bersenang-senang dan mereguk nikmat yang dulu belum pernah dicicipi. Itulah regresi.
Ada masanya, kita menagih apa yang dulu sempat hilang di masa lalu.
Tidak pacaran, bukan karena pemahaman, tapi karena takut ustadz dan teman pengajian. Kelak, ia akan regresi bila tiba kesempatan tak ada orang yang dapat mengendalikan. Shoum sunnah bukan karena mencontoh Nabi, tapi karena tak punya uang, dan begitulah contoh menjadi aktivis. Kelak, makan tak kira-kira, tak cukup hanya sekedar 4 sehat 5 sempurna. 6 mahal, 7 bergengsi,8,9,10 dst.
Maka, berhati-hatilah pada regresi, bila anda tiba di suatu masa dimana dunia ada di tangan. Tidak mesti tergelincir, bila tahu cara menghadapi.

Kecil kurang kasih sayang orangtua? Ajaklah pasangan bicara, selalu punya waktu spesial untuk bermanja-manja sebab pasangan kali ini akan menjadi orangtua-sahabat-kekasih; jadi, tak perlu cari orangluar untuk melengkapi.

Kecil kurang mainan? Beli rumah, sedekahkan. Beli apertemen, sedekahkan. Beli mobil, jual lagi, sedehkah (kegilaan shopping seringkali bukan karena ingin “memiliki” tapi karena ingin “menghilangkan/menghabiskan” uang yang dipunya. Jadi kalau sudah beli, ya sedekahkan saja)

Kecil dianiaya, diperintah-perintah? Lalu menjadi orang yang powerfull, untouchable? Ups, No! Kita menjadi pejabat saat kecil melarat, lalu hilang sensitivitas pada orang lain? Mengapa tidak mencoba mencontoh kaum hippies yang kaya raya, lalu sesekali menanggalkan pakaian, berpakaian ala kadarnya, untuk melihat : apa reaksi orang saat melihat tubuh kita tanpa materi? Maka, akan ditemukan teman sejati. Eh, si A ternyata hanya bermanis rupa. Eh, si B ternyata hanya mendekat bila ada maunya. Subhanallah, ternyata si X adalah kawan sejati, ia adalah teman yang selalu mengingatkan.
Bersiaplah regresi. Pahami waktunya. Kendalikan diri.

Sebab kita tak ingin menjadi bintang kerdil, apalagi blakchole yang bahkan menolak cahaya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s