Mengapa Buku Cetak Ulang?

Banyak variable yang menyebabkan sebuah produk diminati dan laku di pasaran. Musik, film, fashion, juga dunia literasi dipenuhi berbagai elemen perkiraan yang akan menunjang laris-manisnya di pasaran atau justru tidak diminati sama sekali. Banyak penulis –termasuk saya- berharap bukunya masuk dalam jajaran best seller tingkat nasional, kalau bisa international.

Siapa tidak ingin memiliki karya melegenda seperti Leo Tolstoy atau Najib Mahfuz? Meski, dalam hati mengakui, karya kita mungkin belum dapat sejajar dengan karya-karya tersebut karena beragam sebab : ide, kemahiran mengolah kata, juga kemampuan penulis untuk mempersuasi pemikiran pembaca. Siapa membaca karya Dr. Najib Kailani yang berjudul “Panggilan Abadi” akan terinspirasi bagaimana menjadi pemuda yang berkecimpung di ranah dakwah. Siapa membaca “Haji Murat” Leo Tolstoy akan tergugah oleh semangat perjuangan dan pengorbanan nyawa di bawah sebuah rezim. Siapa membaca “Gadis Berbunga Kamelia” Alexander Duma Jr. akan tersadar, bahwa seorang pelacur pun mampu “meluruskan” hidup seorang pemuda untuk kembali kepada cinta ayah kandungnya. Siapa membaca “Samarkand” Amin Malouf akan terkesima, buah dendam Hasan Sabbah mampu membangkitkan sebuah mesin komunitas balas dendam yang sangat efektif untuk menjatuhkan lawan.

Karya kita, mungkin belum mampu semenggugah itu. Kita masih harus terus-terus-terus belajar dan berkarya hingga di satu titik, karya matang kita memiliki energy besar untuk merubah setiap yang bersentuhan dengannya.
Ada karya-karya best seller, meski biasa-biasa saja. Beberapa karya saya best seller atau laku di pasaran, meski kualitasnya belum sebanding Leo Tolstoy. Saya punya prediksi sendiri kenapa karya tersebut laris manis. Semoga, menjadi catatan penting buat penulis untuk melangkah.

1. Lafaz Cinta
Copy of Lafaz Cinta

Cover Karina Kapoor yang cantik, menjadi daya tarik. Sampai-sampai suatu saat, saya bertemu seseorang di took buku yg berminat pada Lafaz Cinta, karena menyangka penulisnya adalah si cantik yang terpampang di depan! Huaaa….senangnya . Di masa itu, judul novel dengan kalimat “…….Cinta” memang sedang jadi tren. Lafaz Cinta memang salah satu novel kesayangan saya (kalau dipikir2….saya sayang semua karya saya sendiri ..haha); meski bukan novel terbaik. Kisahnya sederhana, asalnya akan diberi judul ABC – Aku Bukan Cinderella tapi ditolak. Untung dilabeli Lafaz Cinta! Yang unik, saya dikira sudah menjelajah Belanda-Mekkah-Madinah karena novel tersebut. Amiiiin….

2. Pink
Pink

Kumpulan cerpen ini naik cetak berkali-kali (gak tau sampai berapa kali cetak). Isinya sangat remaja, tipis, tidak terlalu berat genre sastranya. Sepertinya, yang membuat kumcer ini laris manis adalah covernya yang berwarna merah jambu, dengan ilustrasi seorang gadis berambut panjang berparas manis – eye catching sekali!

3. The Road to The Empire
Cover depan

TRTE adalah sebuah karya seperti kalau kita menikmati olahan es krim : bekukan-blender-bekukan-blender-bekukan-blender lagi. Bolak balik masuk dapur laptop, diolah, dikritisi, direvisi. Hasilnya…Alhamdulillah. Meski airmata, keringat, lelah, sempat putus asa, semangat lagi , demikian seterusnya, novel ini menjadi karya terbaik fiksi IBF Award 2009. Yang menjadi pasal penyebab cetak ulang : saat itu genre historical fiction sedang naik daun, ditunjang tim promosi LPPH yang oke punya. LPPH sekarang sudah merger ke Noura Books. Cover TRTE yang tampak megah sepertinya mengundang pembeli untuk merogoh koceknya.

4. Rose

rose

Rose naik cetak ulang dalam jangka dua bulan. Banyak yang memuji novel ini berharga “murah” mengingat harganya yang hanya 32.000-38.000 (tergantung toko dan discount); tetapi kualitas kertas dan covernya bagus. Harga yang relative murah (bandingkan dengan TRTE 63.000; TA 69.000 !) menyebabkan Rose mudah diserap pasar. Kalangan pembaca kita memang kebanyakan pelajar & mahasiswa yang rata-rata masih berkantong tipis. Harga dibawah 50,000 tentu relative tak berat. Rose juga muncul di era genre perempuan, cerita Rose yang mudah diikuti juga menyebabkan orang tak harus berkerut-kerut kening seperti membaca TA -Takhta Awan

5. Rinai

cover RINAI

Insyaallah #Rinai akan naik cetak yang 3. Keseriusan penerbit Indiva menggarap Rinai memang patut diberikan selamat : Subhanallah dan MasyaAllah. Sejak awal, editor Mastris R. Kabun mengawal detil cerita. Kertas cover dan isi yang bagus dengan harga terjangkau (bayangkan 45.000! Itu belum discount kalau ada acara bisa 36.000-35.000. Bahkan pre order 30.000…alamak!) Rinai mudah diserap pasar karena harga yang masih di bawah 50.000. Ibaratnya, uang biru selembar, masih ada kembalian.
Indiva, juga meng arrange acara-acara seperti bedah buku di Ibnu Abbas, Baitul Quran, program paket dll. Indiva gencar promosi termasuk menembus Gramedia. Saya merasa sangat terbantu dengan tim marketing dan promosi Indiva sehingga Rinai makin dikenal banyak kalangan.
Moment Palestina juga hadir, bersama Rinai, sehingga novel ini menjadi renungan tepat untuk mereka yang ingin tahu Gaza- Palestina. Dapat disimpulkan, Rinai muncul di saat yang tepat, dengan hasil kerja keras seluruh tim penerbit Indiva.
Saya memang merasa Rinai adalah salah satu novel yg dibuat dengan semangat ganbatte! Kalau ingat proses pembuatannya…..hanya pujian kepada Allah SWT. Saya sempat sakit demam, radang tenggorok, tetapi dikejar deadline. Rinai, juga novel yang saya upayakan penulisannya diiringi dengan proses ruhiyah –qiyamullail, dhuha, tilawah. Mengingat Palestina adalah negeri pada Nabi, tentu tak pada tempatnya menulis sebuah kisah tentang Gaza dengan hati lalai. Tentunya, ada masa yang khilaf juga, masa bermalas-malas, masa segan dan frustrasi…tetapi memang, saya upayakan untuk Rinai, jauh lebih terjaga masalah bathiniyah nya.

Rinai, masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang harus diperbaiki.
Satu yang sangat saya syukuri : kali ini, tim Indiva memang sungguh membantu proses promosi sehingga sebagai penulis saya tidak kalang kabut menyelenggarakan acara, cari dana, cari pembicara, sounding kesana kemari, bikin pamphlet, menghubungi peserta dll. Saya berusaha memaksimalkan link yang saya punya, Indiva juga begitu. Kerjasama penulis, penerbit, toko, pembaca, komunitas, agaknya lebih maksimal pada pasca produksi Rinai.
Dan ….ada semangat Palestina di antara kita. Saya, tim Indiva dan semua yang merasa terikat dengan Palestina, seolah berusaha membantu mensukseskan novel ini.
Terimakasih untuk apresiasi, dukungan, kritik, doa-doa 

15 thoughts on “Mengapa Buku Cetak Ulang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s