Republika,Senin 19 Nov 2012 “Gaza,Relawan, Legiun Cyber”

Gaza, Relawan, Legiun Cyber

Sinta Yudisia
Penulis, Relawan BSMI, tinggal lima hari di Khan Younis- Gaza 2010

Kantor PM Ismail Haniyah sekarang sudah hancur lebur, terkena rudal Israel


Masih segar dalam ingatan peristiwa Cast Lead di akhir 2008 yang menyatukan hati seluruh kaum muslimin dunia untuk turut meng counter tindakan aneksasi kolonial paling tak masuk akal dalam sejarah millelium modern. Israel menjatuhkan bom yang jelas-jelas dilarang dalam konvensi Jenewa – bom fosfor. Bom ini bukan hanya meninggalkan jejak mengerikan di langit, menghanguskan tubuh manusia hingga beberapa hari uap panas masih mengepul dari daging yang melelehi tulang, yang lebih utama : bom fosfor menjadikan Jabaliyah tanah beracun hingga tumbuhan mati, tanah sulit ditanami.

Di awal tahun Hijriyah 1434, kaum muslimin dikejutkan oleh kematian Ahmad Jabari, komando Izzuddin al Qossam, sayap militer HAMAS. Pembunuhan salah satu tokoh penting di jajaran HAMAS ini memang sudah diisyaratkan oleh Shaul Mofaz, mantan kepala staf militer Israel (Republika 14/11/12). Ahmad Jabari dan Ismail Haaniyah, disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang akan merapuhkan Palestina, khususnya Gaza, bila dilenyapkan.
Situasi politik menjelang pemilu 22 Januari tahun depan, menjadi alasan PM Beyamin Netanyahu dan menteri pertahanan Ehud Barak untuk mencari muka di kalangan rakyat dengan menghantam musuh paling oposisional. Menjadikan Suriah, Tunisia, atau bahkan Mesir sekalipun sebagai musuh; tak sedramatis ketika menjadikan Palestina sebagai sasaran serangan. Selalu, bila tindakan keras dan arogan terhadap musuh Israel mengemuka, sang pemilik keputusan diperkirakan mendapatkan simpati dan suara yang melonjak.

Joe Sacco, pemenang American Book Award 1996 untuk karya yang berjudul Palestine; selama tiga bulan tinggal berkeliling di Gaza, Nablus, dan Tel Aviv merangkum pendapat tentang pendudukan dari kaca mata Palestina dan Israel. Penduduk Israel mengaku lelah terus menerus dipojokkan harus meminta maaf atas tindakan pendudukan. Sacco pun merasa Tel Aviv demikian dekat dengan kehidupan beradab ala masyarakat Barat : pasaraya, pantai Mediterrania, masalah keseharian. Berbeda dengan Palestina yang demikian suram. Tetapi warga Israel pun menyebut Kampung Arab Silwan yang bersebelahan dengan pemukiman Yahudi dengan perbandingan sebuah desa yang indah dan pemukiman yang tak pada tempatnya. Sebagaimana Raja Shehadeh dalam Palestinian Walks, Notes on Vanishing Landscape menyebutkan, warga Palestina senang memelihara kebun zaitun dan tiin sementara Israel merampas bukit-bukit dan memahatnya melingkar dengan bangunan-bangunan pemukiman, bagai sabuk tak beraturan.

Tindakan Israel tentang pemukiman, pendudukan, aneksasi, blokade, menyelisihi perjanjian membuat geram banyak pihak. Reaksi keras muncul dari warga Israel sendiri yang menolak serangan ke Gaza awal Muharram ini, dan tentu saja kaum muslimin yang menggelar sekian banyak aksi di dunia maya. Hashtag beragam muncul di twitter : SavePalestine, prayforgaza, savegaza dan masih banyak lagi. Lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan bersegera menggalang dana. Berita-berita keadaan terkini Gaza mengalir cepat lewat media sosial. Relawan yang bergerak dari nurani kemanusiaan terdalam, bergerak tanpa dukungan biaya ataupun seruan pemerintah. Dimanapun bencana kemanusiaan muncul –bencana alam, tragedi kemanusiaan dan perang- akan selalu muncul sekelompok orang yang bahu membahu membantu saudaranya sesama manusia, entah dari belahan bumi manapun.

Legiun tanpa nama atau dikenal sebagai Hactivist ikut memberikan suara dukungan bagi Gaza. Didukung kepiawaian mereka dalam IT, kelompok ini menjadi prajurit cyber yang handal disaat media lain tersendat memberitakan kondisi kritis terkini. Hactivist adalah sebutan bagi sekelompok orang –mirip prajurit sehingga disebut legiun- yang mampu menembus keamanan dunia maya. Sasarannya bukan finasial tetapi cenderung politis; kehadirannya dibenci, tapi juga dinanti. Tindakan Hactivist yang terkenal antara lain mengumumkan dukungan terhadap Wikileaks dan meluncurkan serangan terhadap Amazon, PayPal, MasterCard, Visa dan PostFinance pada Desember 2010. Hactivist melakukan operasi Robin Hood pada November 2011 : mencuri data kartu kredit untuk didonasikan pada kaum papa. Sasarannya Chase, Bank of America dan Citibank. Untuk saat ini, salah satu Hactivist yang memberitakan menit per menit kondisi Gaza adalah akun dengan sebutan AnonymousPress. Rajin meng update informasi, memberi panduan bagaimana cara berkomunikasi saat listrik diputus oleh Israel –lewat komunikasi radio yang sudah sangat lama ditinggalkan-, juga mengunggah foto-foto. Akibatnya mereka juga mendapatkan sumpah serapah dari kelompok pro Israel yang mengatakan bahwa HAMAS bersikap pengecut dan melanggar kode etik dengan menampilkan foto anak-anak dalam kondisi mengenaskan.

Everything is fair in love and war, kredo itu boleh jadi dipegang Israel. Apapun halal dilakukan bila menyangkut perang melawan Palestina. Joe Sacco melaporkan pandangan mata bagaimana tentara Israel menginterogasi anak Palestina tanpa mengindahkan hukum kemanusiaan konvesi Jenewa : para serdadu berteduh sementara sang anak harus berdiri di tengah hujan, basah kuyup kedinginan dalam todongan senjata dan interogasi. Bila Palestina membalas, itu kejahatan. Bila Israel menyerang, itu pertahanan. Cast Lead 2008-2009 digelar dalam keadaan jauh dari kondisi fairness, imbang dan bermartabat. Gaza terblokade, listrik sulit, pasokan makanan dan obat minim. Satu-satunya yang membuat masyarakat bertahan adalah kepercayaan mereka kepada Tuhan dan syukurlah, kepada pemerintahan.

Pasca Cast Lead, Gaza bangkit cepat. UCAS, salah satu universitas di Gaza City mampu membangun kembali bangunan enam tingkat dengan menggunakan batu, semen, besi-besi yang hancur. Tambak ikan berkolam-kolam di Asdaa land, diikuti produksi susu. Kebun zaitun dan tiin terpelihara; begitupun timun, tomat dan jeruk. Perempuan-perempuan disiapkan untuk terdidik dan terlatih sehingga kelak mampu tampil, bila diharuskan. Nyaris setiap keluarga di Palestina harus merelakan anggota lelaki, tulang punggung keluarga untuk terpenjara, cacat atau terbunuh. Warga Gaza, termasuk anak-anak memiliki ambisi besar untuk mampu menghafalkan Quran di usia muda. Jangan heran bila di masjid-masjid Gaza, imam masjid seorang remaja tujuh belas tahun, bercelana jins, diizinkan memimpin sholat disebabkan hafalannya 30 juz sempurna. Warga Gaza juga tak kalah cerdas dibanding orang Yahudi yang sering diakui keunggulan inteligensinya; bukan saja karena para ibu sangat concern masalah asupan makanan anak, pemerintah sangat memperhatikan pendidikan dan pembangunan perpustakaan-perpustakaan, dan tentu saja – hafalan Quran yang diakui mampu meningkatkan kualitas memory, suatu metode yang dipercaya meningkatkan kapasitas IQ.

Israel boleh jadi mengerahkan kemampuan fisik terbaiknya – tentara, peralatan perang, sekutu, media massa. Tetapi peperangan, tidak selalu dimenangkan kuantitas. Perang Badar dan pertempuran Thalut-Jalut adalah salah satu bukti, kualitas kelompok kecil dapat menumbangkan dominasi lawan. Perang Vietnam di era tujuh puluhan, menampar malu wajah Amerika yang harus angkat kaki melawan pasukan Vietkong. Rusiapun tak sanggup terus menerus berkonfrontasi dengan suku Cossack, Chechnya. Gaza, terbukti mampu bertahan dan bangkit dengan kemampuan terbaik.

Dukungan para relawan yang terus bergelombang, baik moril dan materil, menjadi bahan bakar bagi Palestina untuk terus bertahan; sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa bukan hanya Israel yang memiliki sekutu. Sekutu Palestina mungkin dianggap lebih lemah, tapi ikatan nurani dan kemanusiaan seringkali berlangsung jujur, berkesinambungan; berbeda dengan sekutu Israel yang hanya dilandasi kepentingan finasial dan politis.

Prajurit cyber bersiap menghadang tindakan merugikan Israel dengan terus memberikan informasi dyadic ; bagaimana para relawan dapat terus mengakses informasi terkini untuk disebarluaskan demi kepentingan penggalangan bantuan dan bagaimana Palestina dapat secara teknis mengatasi kendala informasi dibantu para Hactivist. Bila Israel masih merasa menang, ada baiknya kita merenungkan akhir Yitzhak Shamir, Perdana Menteri ketujuh. Saat Shamir menjabat sebagai menteri luarnegeri, dengan Menachem Begin sebagai perdana menteri, ia diduga terlibat dalam pembantaian keji Shabra Shatila 1982 di kamp pengungsi Libanon. Tahun 2004, Shamir menderita Alzheimer parah yang membutuhkan dana pengobatan tak sedikit. Pemerintah Israel berlepas tangan dari pemberian bantuan dana kesehatan, Shamir hidup memilukan hingga ajal menjemput 2012.

Akan selalu ada invisible hand, untuk memberikan akhir yang pantas bagi tiap pemain.

(versi asli sebelum diedit ^_^)

3 thoughts on “Republika,Senin 19 Nov 2012 “Gaza,Relawan, Legiun Cyber”

  1. Hi! I know this is kinda off topic but I was wondering if you knew
    where I could find a captcha plugin for my comment form?
    I’m using the same blog platform as yours and I’m having trouble finding one?
    Thanks a lot!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s