Leisure Republika 13 Nov 2012 – Bila Harus Berpisah

~ versi sebelum di edit :-)~

Bercerita dan Menjawab dari Quran

Ada banyak pertanyaan anak-anak yang sangat sulit dijawab. Bukan karena pertanyaan ilmiah sehingga membutuhkan data dan fakta akurat, tetapi justru karena pertanyaan yang begitu sederhana.
”Bagaimana nanti kalau Ummi Abah bercerai? Kalau Ummi Abah meninggal?”
Meski tak sekalipun berharap bercerai –naudzubiilahi mindzalik- tak mungkin kami berkata,” Ummi nggak akan pernah cerai dari Abah!” atau,” Ummi Abah akan hidup sampai tua!”
Informasi tentang bercerai, berpisah, kematian dan lain-lain; selain didapat dari media massa, televisi yang jarang kami nyalakan, juga dari teman-teman sekolah yang mengalami kejadian macam itu. Diberondong pertanyaan sulit, membuat kami bingung dan tentu ingin menjawab. Apalagi anak-anak kadang mengulang pertanyaan tersebut dengan mata berkaca : kesedihan tampak bahkan hanya dengan memikirkannya!
Alhamdulillah, selama setahun terakhir saya ikut kelas menghafal Quran. Tak tanggung-tanggung, ustadz al hafidz yang masih sangat muda, meminta kami menghafalkan dari juz 1 alias al Baqarah dan seterusnya. Awalnya sangat berat. Al Baqarah? Alamak, panjangnyaaa! Tapi beliau menyemangati. Masa’ dari dulu juz 30, 29, 28 tak ada perkembangan? Ternyata, menghafal dari juz 1 memiliki keasyikan tersendiri. Banyak cerita-cerita hikmah yang selama ini lewat begitu saja. Nah, bekal hafalan inilah yang ternyata menjadi jawaban mujarab bagi pertanyaan ’aneh-aneh’.
Ketika pertanyaan kematian kembali menghampiri, anak-anak terlihat gelisah dan sedih. Al Baqarah 133 menjadi jawaban, sembari menceritakan kisah tentang nabi Yakub as yang tertera. Bahwa menjelang kematian, nabi Yakub memanggil anak-anaknya dan berpesan tentang kebaikan.
”Jadi seperti anak-anak nabi Yakub, gak masalah orangtua meninggal. Masih ada Allah. Allah Maha Kaya. Bisa mengabulkan semua cita-cita.”
Suatu saat si kecil menangis. Ia merasa dikucilkan dan teman-temannya tak adil. Sembari menangis tersedu, saya biarkan ia menceritakan seluurh kejadian, menumpahkan beragam perasaan kesal dan benci.
”Aku benciii! Kenapa teman-temanku begitu?”
”Yuk, Ummi bacakan al Baqarah 186!”
”Apa itu?” ia sesenggukkan.
”Bahwa Allah itu dekat, dekaaat sekali. Kalau Nis sedih, Allah dekat banget, dan mendengarkan doa Nis. Ummi juga sering mengulang ayat ini biar gak sedih lho…”
Setiap kali merasa galau, si kecil saya bacakan ayat tersebut. Atau ketika ada masalah ini itu, anak-anak saya nukilkan ayat yang sudah saya hafalkan. Jawaban dari Quran ternyata mujarab!

7 thoughts on “Leisure Republika 13 Nov 2012 – Bila Harus Berpisah

  1. Istri saya, juga menginginkan Alika (4 bulan) kelah menjadi hafidzoh. Karena itu istri ingin memasukkannya ke pesantren sejak SD. Saya masih diam saja menanggapinya ^_^

  2. Wah, masyaAllaah, banyak-banyak sharing tentang parenting dong mbak sinta, saya jadi tersemangati ini untuk belajar tahsin dan insyaAllaah hafalan lagi🙂
    kapan mau mengunjungi FLP Jogja mbak ?🙂

      • wahh,mampir Jogja ya mba? berarti tgl 24 baru sampe Jogja? alamat ga bisa ketemu deh😦
        saya FLP Jogja mba, angkatan 12. Tapi sabtu tgl 24 itu saya berangkat pindahan ke Banjarmasin. Kalo memungkinkan mau transfer ikut FLP sana, mbok kapan-kapan ke Banjarnasin juga mbak😀

        Beberapa waktu lalu saya baca majalah, Nova kalo ga salah. Waktu itu suami nunjukin saya berita tentang mbak Sinta🙂 (suami saya jeli kalo baca berita tentang profil para penulis,hehe)
        kalo ga salah suami mbak sinta kerja di pajak juga ya? kebetulan suami saya juga mbak, itulah kenapa saya ngikut ke Banjarmasin🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s